Ancaman Orang Yang Berdusta Atas Nama Nabi
……….. ”Man kadzaba a’laiya muta’ammidan palyatabawwa maq’adahu minannaar”.
Dari Abi Hurairah, ia berkata. Telah bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam”Barang siapa yang berdusta atasku (yakni atas namaku) dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya (yakni tempat tinggalnya) di neraka”.
Hadits shahih dikeluarkan oleh Imam Bukhari (1/36) dan Muslim (1/8) dll.
Dari Abi Hurairah, ia berkata. Telah bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, ”Barangsiapa yang membuat-buat perkataan atas (nama) ku yang (sama sekali) tidak pernah aku ucapkan, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka”.
Hadits shahih dikeluarkan oleh Ibnu Majah (No. 34) dan Imam Ahmad bin Hambal (2/321)
Dari Salamah bin Akwa, ia berkata. Aku telah mendengar Nabi SAW bersabda : ”Barangsiapa yang mengatakan atas (nama)ku apa-apa (perkataan) yang tidak pernah aku ucapkan, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka”.
Hadits shahih riwayat Imam Bukhari (1/35) dll, hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad (4/47) dengan lafadz yang sama dengan hadits No. 1,4,5,6 & 8.
”Tidak seorangpun yang berkata atas (nama)ku dengan batil, atau (ia mengucapkan) apa saja (perkataan) yang tidak pernah aku ucapkan, melainkan tempat duduknya di neraka”.
Sanad ini shahih atas syarat Bukhari dan Muslim.
Dari Anas bin Malik, ia berkata. Sesungguhnya yang mencegahku menceritakan hadist yang banyak kepada kamu, (ialah) karena Rasulullah SAW telah bersabda : ”Barangasiapa yang sengaja berdusta atasku (yakni atas namaku), maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka”.
Hadits shahih dikeluarkan oleh Bukhari (1/35) dan Muslim (1/7) dll.
Dari Amir bin Abdullah bin Zubair dari bapaknya (Abdullah bin Zubair), ia berkata. Aku bertanya kepada Zubair bin ‘Awwam : ”Mengapakah aku tidak pernah mendengar engkau menceritakan (hadits) dari Rasulullah SAW sebagaimana aku mendengar Ibnu Mas’ud dan si fulan dan si fulan..? Jawabnya : Adapun aku tidak pernah berpisah dari Rasulullah sejak aku (masuk) Islam, akan tetapi aku telah mendengar dari beliau satu kalimat, beliau bersabda : ”Barangsiapa yang berdusta atas (nama) ku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka”.
Hadits shahih, dikeluarkan Bukhari (1/35), Abu dawud (No. 3651) dan Ibnu Majah (No. 36 dan ini lafadznya) dll.
Dari Abdullah bin Amr, ia berkata. Sesungguhnya Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda : ”Sampaikanlah dariku meskipun satu ayat, dan ceritakanlah tentang Bani Israil dan tidak ada keberatan (yakni berdosa), dan barangsiapa yang berdusta atas (nama) ku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya (yakni tempat tinggalnya) di neraka”.
Hadits shahih, dikeluarkan oleh Bukhari (4/145) dan Tirmidzi (4/147 di Kitab Ilmu) dan Ahmad (2/159), 202 & 214) dll.
- Yang telah diketahui kebenaran dan kesahihannya oleh Syara’ dari perkara-perkara yang baik. Maka inilah yang dimaksud dengan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam diatas.
- Yang telah diketahui kebatilan dan kedustaannya oleh Syara’. Maka tidak boleh kita ceritakan, kecuali untuk menjelaskan kebatilan dan dustanya.
- Yang tidak atau belum diketahui benar dan dustanya. Maka tidak boleh kita imani atau dustai, dan menceritakannya-pun tidak ada faedah sama sekali. (baca Tafsir Ibnu Katsir 1/4).
Dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata. telah bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. ”Janganlah kamu berdusta atas (nama)ku.! karena, sesungguhnya barangsiapa yang berdusta atasku, maka hendaklah ia memasuki neraka”.
Hadist shahih, riwayat Bukhari (1/35), Muslim (1/7), Tirmidzi (4/142 Kitabul Ilmi), Ibnu Majah (No. 3) dan Ahmad.
Dari Mughirah (bin Syu’bah) radliyallahu ‘anhu, ia berkata, Aku telah mendengar Nabi SAW bersabda : ”Sesungguhnya berdusta atasku tidaklah sama berdusta kepada orang lain (selainku), maka barangsiapa yang berdusta atas (nama)ku dengan sengaja, hendaklah ia mengambil tempat tinggalnya di neraka”.
Hadist shahih riwayat Bukhari (2/81), Muslim (1/8) dan Ahmad (4/252).
Dari Watsilah bin Asqa’, ia berkata. telah bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. ”Sesungguhnya dari sebesar-besar dusta ialah, seorang menda’wahkan / mengaku (berbapak) kepada yang bukan bapaknya (yakni menasabkan diri kepada orang lain yang bukan bapaknya), atau (ia mengatakan) telah diperlihatkan kepada matanya apa yang (sebenarnya) matanya tidak pernah melihat (yakni ia mengaku telah bermimpi dan melihat sesuatu tetapi sebenarnya bohong).
Dalam riwayat yang lain di jelaskan, atau (ia mengatakan), telah diperlihatkan kepada kedua matanya dalam tidur (mimpi) apa yang tidak dilihat oleh kedua matanya (yakni ia mengaku telah bermimpi sesuatu padahal dusta), atau ia mengatakan atas (nama) Rasulullah SAW apa yang beliau tidak pernah sabdakan”.
Hadits shahih, riwayat Bukhari (4/157) dan Ahmad (4/106) dan riwayat yang kedua, dari jalannya.
Dari Abi Bakar bin Salim dari bapaknya (yaitu Salim bin Abdullah bin Umar) dari kakeknya (yaitu Abdullah bin Umar), ia berkata. Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda. ”Sesungguhnya orang yang berdusta atas (nama)ku akan dibangunkan untuknya satu rumah di neraka”.
Hadist shahih, dikeluarkan oleh Imam Ahmad bin Hambal di musnadnya (2/22, 103 & 144) dan sanadnya shahih atas syarat Bukahri dan Muslim.
- Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam sering menyampaikan dan mengulang-ulang sabdanya tersebut.
- Perhatian yang besar para sahabat dalam memelihara, dan menjaga betul-betul sabda Nabi SAW dan segala sesuatu yang disandarkan orang kepada beliau SAW. Sehingga mereka saling berpesan dan berwasiat dan meriwayatkannya sesama mereka. Kemudian mereka menyampaiakannya kepada Tabi’in dan Tabi’in menyampaikannya kepada Atba’ut Tabi’in dan seterusnya tercatat dan terpelihara dengan baik dan rapi di dewan-dewan Imam-imam Sunnah. Sehingga sepanjang pemeriksaan saya -hampi-hampir- tidak ada satupun Imam dari Imam-imam ahli hadits melainkan meriwayatkannya di kitab-kitab hadits mereka. Dari Amirul Mu’minin fil hadits Al-Imam Bukhari sampai Imam Ibnul Jauzi radiiyallahu ‘anhum wa jazaahumullahu ‘anil Islam khairan.
- Ketinggian derajadnya dalam kesahihan dan kemutawatirannya dan mencapai tingkat teratas dalam martabat hadits-hadits mutawatir.
- Kebesaran maknanya yang meliputi beberapa faedah dan sejumlah qaidah dan menutup pintu kerusakan-kerusakan yang besar dalam Agama ini, disebabkan berdusta atas nama Nabi SAW.
Maka hendaklah ia mengambil untuk dirinya satu tempat tinggal (yakni di neraka). Dikatakan : Seorang mengambil tempat, (yakni) apabila ia mengambilnya sebagai tempat tinggalnya (tempat menetap atau rumahnya). Maka sabda Nabi SAW. ”Hendaklah ia mengambil tempat tinggalnya di neraka”. bentuk perintah yang maknanya kabar, atau bermakna mengancam, atau maknanya mengejek dan marah, atau mendo’akan pelakunya yakni semoga Allah menempatkannya di neraka”. (Al-Fath 1/211 dan syarah Muslim 1/68).
- Ketetapan tentang qa’idah dusta bagi Ahlus Sunnah. (akan datang penjelasannya).
- Sangat besar pengharaman dusta atas nama beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan merupakan kekejian dan kebinasaan yang sangat besar.
- Tidak ada perbedaan tentang haramnya berdusta atas nama Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam baik dalam masalah-masalah ahkam (hukum-hukum) atau bukan, seperti ; tarhib dan nasehat-nasehat dan lain-lain. Maka semuanya itu adalah haram dan sebesar besar dosa besar dan seburuk-buruk perbuatan menurut ijma’ kaum muslimin.
- Haram meriwayatkan hadits maudlu’/palsu atas orang yang telah mengetahui kemaudlu’annya atau berat sangkaan bahwa hadits tersebut maudlu’. Maka barangsiapa yang meriwayatkan satu hadits yang ia ketahui atau berat sangkaannya bahwa hadits itu palsu dan ia tidak menjelaskan kepalsuannya, maka ia termasuk kedalam ancaman hadist di atas dan tergolong orang-orang yang berdusta atas nama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Diringkas dari syarah Muslim 1/69-71 dan baca juga Al-Fath 1/210-214 & 7/310.
”Ketahuilah ! Sesungguhnya menurut madzhab Ahlus Sunnah bahwa dusta itu ialah : Mengkabarkan tentang sesuatu yang berlainan (bebeda/menyalahi) keadaannya. Sama saja apakah engkau lakukan (dusta itu) dengan sengaja atau karena kebodohanmu (tidak sengaja), akan tetapi tidak berdosa kalau karena kebodohan (tidak sengaja) dan berdosa kalau dilakukan dengan sengaja”. (baca juga syarah Muslim 1/69).
”Sesungguhnya dusta itu ialah : Mengkabarkan tentang sesuatu yang berlainan dengan keadaannya”.
- Bahwa berdusta atas nama Rasullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebesar-besar dusta yang pernah dilakukan oleh manusia, sesudah berdusta atas nama Allah Jalla Jalaa Luhu, bahkan berdusta atas nama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sama dengan berdusta atas nama Allah Jalla wa’ala.
- Berdusta atas nama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak sama dengan berdusta kepada orang lain (selain Nabi SAW), kalau berdusta kepada orang lain telah berdosa (dosa besar menurut Ulama), maka bagaimana pandanganmu terhadap orang yang berbohong atas nama ‘’seseorang” yang perkataan dan perbuatannya menjadi syariat dan diikuti oleh manusia ..? Dengan sendirinya si pendusta ini telah membuat syariat baru yang bukan syariat Nabi SAW meskipun memakai nama beliau SAW. Kemudian kebohongannya itu tersebar di permukaan bumi dan terus berkelanjutan yang diturut banyak manusia sampai hari qiamat. Dengan demikian terjadilah kerusakan yang sangat besar pada Agama dan dunia seperti timbulnya ajaran-ajaran syirik, khurafat-khurafat dan bid’ah-bid’ah,dsb.
- Tidak mengkafirkannya, tetapi pelakunya telah mengerjakan sebesar-besar dosa besar dan seburuk-buruk perbuatan. Demikian pendapat jumhur menurut Imam Nawawi.
- Tegas-tegas mengkafirkan orang-orang yang berdusta dengan sengaja dan mengetahui kedustaannya atas Nabi SAW. Telah berkata Imam Ibnu Katsir : ”Sebagian Ulama ada yang mengkafirkan orang yang sengaja dusta dalam hadits Nabi dan diantara mereka ada yang mewajibkan harus dibunuh”. (Ikhtisar Ulumul Hadits : 102).
-
Tidak diterima dan ditolak selama-lamanya meskipun ia telah taubat dengan taubat yang shahih. Demikian madzhab (pendapat) Imam Ahmad bin Hambal dan Ulama-ulama besar yang sefaham dengan beliau.
-
Diterima riwayatnya apabila ia telah taubat dengan taubat yang shahih. Dan Imam Nawawi telah membantah faham diatas (madzhab Imam Ahmad) dengan beberapa hujjah. (baca : Syarah Muslim 1/69).
”Kaum Zindiq telah memalsukan (hadits) atas (nama) Rasulullah SAW sebanyak empat belas ribu hadits”.
”Demi Allah ? Sesungguhnya aku telah memalsukan pada kamu sebanyak empat ribu hadits (palsu), aku haramkan padanya yang halal dan aku telah halalkan (perkara) yang haram”.
- Hadits-hadits palsu yang mengajak dan mengajarkan kepada syirik dengan macam-macam cabangnya.
- Hadits-hadits palsu tentang bid’ah-bid’ah Agama dengan segala tingkatannya.
- Hadits-hadits palsu yang menganjurkan kepada maskiat-maksiat.
- Hadits-hadits palsu yang memperbodoh dan melemahkan umat terutama tentang jihad fi-sabilillah.
- Hadits-hadits palsu yang merusak akal, adab dan pergaulan, dll.
”Perhatikanlah hadits itu dari siapa kamu mengambilnya ! Karena sesunggunya kami dahulu apabila berpendapat dengan satu pendapat, maka kami jadikan ia (pendapat kami itu) sebagai satu hadits (yakni kami palsukan mejadi hadits)”.
”Sesungguhnya hadits-hadits ini adalah Agama, maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambil Agama kamu.! Karena sesungguhnya kami dahulu apabila condong kepada satu urusan (maksudnya faham yang setuju dengan bid’ahnya) niscaya kami jadikan ia sebagai satu hadits (kami palsukan menjadi hadits)”.
Mereka buat hadits-hadits palsu tentang targhib dan tarhib dan nasehat-nasehat dan lain-lain. Mereka tidak merasa keberatan bahkan membolehkan dengan mengharap ganjaran dari Allah Jalla Jalaa Luhu .!? Kemudian mereka berkata. Kami tidak berdusta untuk merusak (nama atau Syari’at) Nabi shalallahu alaihi wasallam tetapi untuk kebaikan beliau ..!?
-
Mereka susun perkataan sendiri, lalu mereka sandarkan kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam.
-
Atau mereka ambil perkataan-perkataan ahli hikmah, orang-orang shalih, atau cerita-cerita Israiliyat dan lain-lain.
-
Atau Hadits yang dlo’if sanadnya, kemudian mereka susun dan hiasi (yakni mereka palsukan) menjadi shahih sanadnya.
-
Pengakuan dari pemalsu itu sendiri, seperti beberapa contoh diatas (baca juga Al-Madkhal (halan 53) Imam Hakim).
-
Terdapat keganjilan dan rusak maknanya.
-
Bertentangan dengan apa yang telah tsabit dari Al-Kitab dan As-Sunnah, dll.
”Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan peringatan ini (Al-Qur’an), dan sesungguhnya Kamilah yang akan menjaganya”. (Al-Hijr : 9).
sumber : http://jilbab.or.id/archives/34-ancaman-berdusta-atas-nama-rasulullah-shallallaahu-alayhi-wa-sallam/







wahabiyunnn….Hancurkann…Sok Al-Qur’an & Al-Hadits…isinya kosong…cuma baca terjemahan..wakakaka…jauh Man…Islam apa ini….kalau bukan ahlinya lebih baik diam…jangan mengacau…dasar…