Beranda > Belajar Nasehat, bidah, tahlilan > Tahlilan dalam Pandangan Ulama 4 Mazhab

Tahlilan dalam Pandangan Ulama 4 Mazhab


BERIKUT INI ADALAH FATWA-FATWA DARI ULAMA 4 MADZHAB MENGENAI SELAMATAN KEMATIAN

I. MADZHAB HANAFI

  • HASYIYAH IBN ABIDIEN

Dimakruhkan hukumnya menghidangkan makanan oleh keluarga mayit, karena hidangan hanya pantas disajikan dalam momen bahagia, bukan dalam momen musibah, hukumnya buruk apabila hal tersebut dilaksanakan. Imam Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits dengan sanad yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah, beliau berkata: “Kami (para sahabat) menganggap kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka merupakan bagian dari niyahah”. Dan dalam kitab al-Bazaziyah dinyatakan bahwa makanan yang dihidangkan pada hari pertama, ketiga, serta seminggu setelah kematian makruh hukumnya. (Muhammad Amin, Hasyiyah Radd al- Muhtar ‘ala al-Dar al-Muhtar (Beirut: Dar al-Fikr, 1386) juz II, hal 240)

  • AL-THAHTHAWY

Hidangan dari keluarga mayit hukumnya makruh, dikatakan dalam kitab al- Bazaziyah bahwa hidangan makanan yang disajikan PADA HARI PERTAMA, KETIGA, SERTA SEMINGGU SETELAH KEMATIAN MAKRUH HUKUMNYa. (Ahmad bin Ismain al-Thahthawy, Hasyiyah ‘ala Muraqy al-Falah (Mesir: Maktabah al-Baby al-Halaby, 1318), juz I hal 409).

  • IBN ABDUL WAHID SIEWASY

Dimakruhkan hukumnya menghidangkan makanan oleh keluarga mayit, karena hidangan hanya pantas disajikan dalam momen bahagia, bukan dalam momen musibah. hukumnya bid’ah yang buruk apabila hal tersebut dilaksanakan. Imam Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah, beliau berkata: “Kami (para sahabat) menganggap kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka merupakan bagian dari niyahah”. (Ibn Abdul Wahid Siewasy, Syarh Fath al-Qadir (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 142)

II.MADZHAB MALIKI

  • AL-DASUQY

Adapun berkumpul di dalam rumah keluarga mayit yang menghidangkan makanan hukumnya bid’ah yang dimakruhkan. (Muhammad al-Dasuqy, Hasyiyah al- Dasuqy ‘ala al-Syarh al-Kabir (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 419)

  • ABU ABDULLAH AL-MAGHRABY

Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayit dan berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut dimakruhkan oleh mayoritas ulama, bahkan mereka menganggap perbuatan tersebut sebagai bagian dari bid’ah, karena tidak didapatkannya keterangan naqly mengenai perbuatan tersebut, dan momen tersebut tidak pantas untuk dijadikan walimah (pesta)… adapun apabila keluarga mayit menyembelih binatang di rumahnya kemudian dibagikan kepada orang- orang fakir sebagai shadaqah untuk mayit diperbolehkan selama hal tersebut tidak menjadikannya riya, ingin terkenal, bangga, serta dengan syarat tidak boleh mengumpulkan masyarakat. (Abu Abdullah al-Maghraby, Mawahib al-Jalil li Syarh Mukhtashar Khalil (Beirut: Dar al-Fikr, 1398) juz II, hal 228)

III.MADZHAB SYAFI’I

  • AL-SYARBINY

Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayit dan berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut, hukumnya bid’ah yang tidak disunnahkan. (Muhammad al-Khathib al-Syarbiny, Mughny al-Muhtaj (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 386) Adapun kebiasaan keluarga mayit menghidangkan makanan dan berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut, hukumnya bid’ah yang tidak disunnahkan. (Muhammad al-Khathib al-Syarbiny, al-Iqna’ li al-Syarbiny (Beirut: Dar al-Fikr, 1415) juz I, hal 210)

  • AL-QALYUBY

Guru kita al-Ramly telah berkata: sesuai dengan apa yang dinyatakan di dalam kitab al-Raudl (an-Nawawy), sesuatu yang merupakan bagian dari perbuatan bid’ah munkarah yang tidak disukai mengerjakannya adalah yang biasa dilakukan oleh masyarakat berupa menghidangkan makanan untuk mengumpulkan tetangga, baik sebelum maupun sesudah hari kematian.(a l- Qalyuby, Hasyiyah al-Qalyuby (Indonesia: Maktabah Dar Ihya;’) juz I, hal 353)

  • AN-NAWAWY

Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayit berikut berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut tidak ada dalil naqlinya, dan hal tersebut merupakan perbuatan bid’ah yang tidak disunnahkan. (an-Nawawy, al-Majmu’ (Beirut: Dar al-Fikr, 1417) juz V, hal 186) IBN HAJAR AL-HAETAMY Dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dari pada penghidangan makanan oleh keluarga mayit, dengan tujuan untuk mengundang masyarakat, hukumnya bid’ah munkarah yang dimakruhkan, berdasarkan keterangan yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah. (Ibn Hajar al-Haetamy, Tuhfah al-Muhtaj (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 577)

  • AL-SAYYID AL-BAKRY ABU BAKR AL-DIMYATI

Dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dari pada penghidangan makanan oleh keluarga mayit, dengan tujuan untuk mengundang masyarakat, hukumnya bid’ah yang dimakruhkan, seperti hukum mendatangi undangan tersebut, berdasarkan keterangan yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah. (al-Sayyid al-Bakry Abu Bakr al-Dimyati, I’anah at-Thalibien (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 146)

  • AL-AQRIMANY

Adapun makanan yang dihidangkan oleh keluarga mayit pada hari ketiga, keempat, dan sebagainya, berikut berkumpulnya masyarakat dengan tujuan sebagai pendekatan diri serta persembahan kasih sayang kepada mayit, hukumnya bid’ah yang buruk dan merupakan bagian dari perbuatan jahiliyah yang tidak pernah muncul pada abad pertama Islam, serta bukan merupakan bagian dari pekerjaan yang mendapat pujian oleh para ulama. justeru para ulama berkata: tidak pantas bagi orang muslim mengikuti perbuatan-perbuatan yang biasa dilakukan oleh orang kafir. seharusnya setiap orang melarang keluarganya menghadiri acara-acara tersebut. ((al-Aqrimany hal 314 dalam al-Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel ‘Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal.285)

  • RAUDLAH AL-THALIBIEN an makanan oleh keluarga mayit dan pengumpulan masyarakat terhadap acara tersebut, tidak ada dalil naqlinya, bahkan perbuatan tersebut hukumnya bid’ah yang tidak disunnahkan. (Raudlah al-Thalibien (Beirut: al- Maktab al-Islamy, 1405) juz II, hal 145)

Adapun penghidang

  1. MADZHAB HAMBALI
  • IBN QUDAMAH AL-MUQADDASY

Adapun penghidangan makanan untuk orang-orang yang dilakukan oleh keluarga mayit, hukumnya makruh. karena dengan demikian berarti telah menambahkan musibah kepada keluarga mayit, serta menambah beban, sekaligus berarti telah menyerupai apa yang biasa dilakukan oleh orang-orang jahiliyah. dan diriwayatkan bahwa Jarir mengunjungi Umar, kemudian Umar berkata: “Apakah kalian suka berkumpul bersama keluarga mayat yang kemudian menghidangkan makanan?” Jawab Jarir: “Ya”. Berkata Umar: “Hal tersebut termasuk meratapi mayat”. Namun apabila hal tersebut dibutuhkan, maka diperbolehkan, seperti karena diantara pelayat terdapat orang-orang yang jauh tempatnya kemudian ikut menginap, sementara tidak memungkinkan mendapat makanan kecuali dari hidangan yang diberikan dari keluarga mayit. (Ibn Qudamah al-Muqaddasy, al-Mughny (Beirut: Dar al-Fikr, 1405) juz II, hal 214)

  • ABU ABDULLAH IBN MUFLAH AL-MUQADDASY

Sesungguhnya disunahkan mengirimkan makanan apabila tujuannya untuk (menyantuni) keluarga mayit, tetapi apabila makanan tersebut ditujukan bagi orang-orang yang sedang berkumpul di sana, maka hukumnya makruh, karena berarti telah membantu terhadap perbuatan makruh; demikian pula makruh hukumnya apabila makanan tersebut dihidangkan oleh keluarga mayit) kecuali apabila ada hajat, tambah sang guru [Ibn Qudamah] dan ulama lainnya).(A bu Abdullah ibn Muflah al-Muqaddasy, al-Furu’ wa Tashhih al-Furu’ (Beirut: Dar al-Kutab, 1418) juz II, hal 230-231)

  • ABU ISHAQ BIN MAFLAH AL-HANBALY

Menghidangkan makanan setelah proses penguburan merupakan bagian dari niyahah, menurut sebagian pendapat haram, kecuali apabila ada hajat, (tambahan dari al-Mughny). Sanad hadits tentang masalah tersebut tsiqat (terpercaya). (Abu Ishaq bin Maflah al-Hanbaly, al-Mabda’ fi Syarh al-Miqna’ (Beirut: al-Maktab al-Islamy, 1400) juz II, hal 283)

  • MANSHUR BIN IDRIS AL-BAHUTY

Dan dimakruhkan bagi keluarga mayit untuk menghidangkan makanan kepada para tamu, berdasarkan keterangan riwayat Imam Ahmad dari Shahabat Jarir. (Manshur bin Idris al-Bahuty, al-Raudl al-Marbi’ (Riyadl: Maktabah al-Riyadl al-Hadietsah, 1390) juz I, hal 355)

  • KASYF AL-QANA’

Menurut pendapat Imam Ahmad yang disitir oleh al-Marwadzi, perbuatan keluarga mayit yang menghidangkan makanan merupakan kebiasaan orang jahiliyah, dan beliau sangat mengingkarinya…dan dimakruhkan keluarga mayit menghidangkan makanan (bagi orang-orang yang sedang berkumpul di rumahnya kecuali apabila ada hajat, seperti karena di antara para tamu tersebut terdapat orang-orang yang tempat tinggalnya jauh, mereka menginap di tempat keluarga mayit, serta secara adat tidak memungkinkan kecuali orang tersebut diberi makan), demikian pula dimakruhkan mencicipi makanan tersebut. Apabila biaya hidangan makanan tersebut berasal dari peninggalan mayit, sedang di antara ahli warisnya terdapat orang (lemah) yang berada di bawah pengampuan, atau terdapat ahli waris yang tidak memberi izin, maka haram hukumnya melakukan penghidangan tersebut. (Kasyf al-Qina’ (Beirut: Dar al-Fikr, 1402) juz II, hal 149)

  • IBN TAIMIYAH

Adapun penghidangan makanan yang dilakukan keluarga mayit (dengan tujuan) mengundang manusia ke acara tersebut, maka sesungguhnya perbuatan tersebut bid’ah, berdasarkan perkataan Jarir bin Abdillah: “Kami (para sahabat) menganggap kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka merupakan bagian dari niyahah”. (Ibn Taimiyah, Kutub wa Rasail wa Fatawa Ibn Taimiyah fi al-Fiqh (Maktabah Ibn Taimiyah) juz 24, hal 316)

Akhirnya, semoga tulisan ini bermanfaat, bila ada kesalahan mohon maaf dan koreksinya. Sampaikanlah kepada saudara-saudara kita sebagai upaya untuk memperbaiki umat Islam ini

Anwar Baru Belajar

Di rujuk kepada tulisan:

Catatan Satu Hari, Satu Ayat Qur’an. Dengan editing dan penambahan literatur.

http://www.facebook.com/note.php?saved&&suggest&note_id=119997524710098#!/note.php?note_id=402269969650&id=203164362857&ref=mf

Keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama [ NU ] Tentang Tahlilan, Menyediakan Makanan Kepada Penta’ziyah

http://www.facebook.com/notes/anwar-baru-belajar/keputusan-muktamar-nahdlatul-ulama-nu-tentang-tahlilan-menyediakan-makanan-kepad/143673375675846

 

________________________________________________

Catatan Tepi untuk direnungi:

Termasuk dalam kategori hukum yang manakah Tahlilan [selamatan Kematian] ?

Klasifikasi hukum dalam Islam secara umum ada 5 (lima) kalau tidak termasuk; Shahih, Rukhsoh, Bathil, Rukun, Syarat dan ‘Azimah.(Mabadi’ awaliyyah, Abd Hamid Hakim)

1. Wajib : Apabila dikerjakan berpahala, ditinggalkan berdosa.

2. Sunnah/Mandub : Apabila dikerjakan berpahala, ditinggalkan tidak apa-apa.

3. Mubah : Tidak bernilai, dikerjakan atau tidak dikerjakan tidak mempunyai nilai.

4. Makruh : Dibenci, apabila dikerjakan dibenci, apabila ditinggalkan berpahala.

5. Haram : Dikerjakan berdosa, ditinggalkan berpahala.

Pertanyaan :

1. Apakah Tahlilan [yang dimaksud :Selamatan Kematian] di dalamnya terkandung ibadah ?

2. Termasuk dalam hukum yang mana Tahlilan tersebut ?

Jawab :

1. Karena didalamnya ada pembacaan do’a, baca Yasin, baca sholawat, baca Al Fatikhah, maka ia termasuk ibadah. Hukum asal ibadah adalah “haram” dan “terlarang”. Kalau Allah dan Rasulullah tidak memerintahkan, maka siapa yang memerintahkan ? Apakah yang memerintahkan lebih hebat daripada Allah dan Rasulullah ?

2. Jika hukumnya “wajib”, maka bila dikerjakan berpahala, bila tidak dikerjakan maka berdosa. Maka bagi negara lain yang penduduknya beragama Islam, terhukumi berdosa karena tidak mengerjakan. Ternyata tahlilan, hanya di lakukan di sebagian negara di Asia Tenggara

Wajibkah Tahlilan ? Ternyata tidak, karena tidak ada perintah Allah dan Rasul untuk melakukan ritual tahlilan (Selamatan Kematian : red)

Sunnahkah Tahlilan ? Ternyata ia bukan sunnah Rasul, sebab Rasulullah sendiri belum pernah mentahlili istri beliau, anak beliau dan para syuhada.

Nah…..berarti hukumnya bukan Wajib, juga bukan Sunnah.

Kalau seandainya hukumnya Mubah, maka untuk apa dikerjakan, sebab ia tidak mempunyai nilai (tidak ada pahala dan dosa, kalau dikerjakan atau ditinggalkan). Sudah buang-buang uang dan buang-buang tenaga, tetapi tidak ada nilainya.

Jadi, tinggal 2 (dua) hukum yang tersisa, yaitu Makruh dan Haram. Makruh apabila dikerjakan dibenci, apabila ditinggalkan berpahala. Haram : Dikerjakan berdosa, ditinggalkan berpahala.

Jadi….sekarang pilih yang mana ?

Masih mau melakukan atau tidak ?

oleh Anwar Baru Belajar pada 03 Oktober 2010 jam 11:55

  1. muhammaddohan
    Mei 25, 2013 pukul 2:47 pm

    Assalamu’alaikum. Wr. Wb.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Kalimat Tahlil itu diantaranya adalah, mengucapkan Lailahaillallah.
    Menurut hemat saya, baik organisasi Muhammadiyah, NU, FPI, dll., semua organisasi Islam di dunia ini, membolehkan Tahlilan.

    Terimkasih mas,.
    Kalimat tahlil adalah dzikir yang paling agung, bahkan jin dan manusia diciptakan untuk merealisasikan kalimat tauhid ini, dan barangsiapa yang meninggal kata terakhirnya adalah Laa ilaaha illallah, maka dia akan masuk surga,.

    Jadi tahlil ibadah yang sangat agung, dan merupakan kunci kebahagiaan

    Akan tetapi ada beberapa orang yang bertanya, termasuk saya, diantaranya adalah tentang cara melakukannya. Mengapa harus 3 hari setelah orang meninggal, 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari. Kenapa tidak 13 hari?, atau 26 hari?.

    Apakah Qu’ran dan Hadist mengajarkan itu?.
    Nah, inilah yang menjadi masalah, tidak ada satu dalilpun baik dari alquran atau hadits yang menjelaskan pelaksanaan ritual tahlilan kematian ini,. bahkan yang ada, justru penetapan hari tersebut ada di kitab agama hindu, silahkan baca disini ulasannya

    Ada KUIS TAHLILAN Juga, barangsiapa bisa mendatangkan SATU DALIL SAJA tentang ritual tahlilan dihari ke 7,10,40, dst, maka akan mendapatkan hadiah menarik, dari IPHONE, Hingga rumah siap huni,. silahkan baca disini kuisnya

    TAHLILAN menurut WALISANGA, silahkan baca disini

    Selain itu, kalimat Tahlil untuk memperingati kematian Almarhum yang dilakukan juga menggunakan lisan yang sama, titik, dan koma yang sama!!!, saya jadi ingat ketika menyanyikan lagu wajib Indonesia Raya yang dipimpin oleh seorang pemandu lagu!!!, juga menggunakan lisan yang sama, titik, dan koma yang sama. Apakah hal itu juga di ajarkan oleh Al’quran dan Hadist? . Mohon pencerahannya Pak.

    Kalau ada dalilnya dari alquran atau hadits, maka saya juga akan melakukannya mas,. karena ibadah itu nunggu dalil, jika ada dalilnya maka dikerjakan, jika tidak ada dalilnya maka tinggalkan,.. BUKAN KERJAKAN DULU BARU CARI-CARI DALIL…

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

  2. Adiw We
    April 30, 2013 pukul 6:21 am

    Bermanfaat sekali artikelnya mas, mudah2an selalu istiqomah menulis artikel yang bermanfaat bagi umat

  3. tiyang alit
    Desember 10, 2012 pukul 1:23 pm

    coba dilihat disini

    http://madrasahmassahar.blogspot.com/2011/02/tahlilan-dan-taziyah-dalam-pandangan.html

    Terimakasih tiyang alit,.
    saya sudah membaca link tersebut, dan tidak didapati adanya perintah ritual tahlilan kematian 7hari,10,40,100,dst,..

    Yang ditampilkan di link tersebut adalah dalil2 tentang keutamaan berdoa, mendoakan orang yang sudah meninggal, dan anjuran berta’ziyah,
    Tidak ada sama sekali anjuran ritual tahlilan, rasulullah tidak mengerjakannya, para sahabat juga tdk ada, demikian para imam ahlussunnah dan para ulama,

    Kalau ada dalil anjuran tuk ngadain ritual tahlilan kematian, tentu para sahabat sudah melakukannya mas, saya juga akan melakukannya, tanpa malu-malu,..

  4. Syfa
    November 29, 2012 pukul 5:16 pm

    Aku pengikut nu…….n menurutku….. Para ulama yg ada di NU sdh mbeberkan sgl rujukan tntang tahlilan……..

    Terimakasih mas/mba
    Kalau saya bukan pengikut ormas manapun, saya hanya berusaha mengamalkan islam menurut pemahaman para sahabat, sebab para sahabatlah yang dibina langsung oleh Rasulullah, dan merekalah yg paling mengetahui apa itu ajaran islam yang betul-betul diajarkan oleh Rasulullah,
    Seandainya ritual tahlilan kematian itu diajarkan oleh rasulullah, tentu para sahabat sudah mengamalkannya , dan saya pun insya Allah akan mengamalkannya juga,
    Pertanyaannya, siapakah yang lebih memahami islam, para sahabat,atau para ulama anda tersebut??

    Rasulullah sering ditinggal mati keluarganya, seprti ditinggal istrinya (khadijah)atau anaknya(ibrahim) pamannya (hamzah) dan para sahabatnya (banyak sekali) tapi rasulullah tidak pernah sekalipun mengadakan ritual tahlilan,
    Demikian pula ketika rasulullah wafat, tidak ada satupun sahabat yang melakukan ritual tahlilan,.
    Imam syafii pun tidak pernah melakukan ritual tahlilan, demikianpula imam bukhari,muslim, tidak melakukannya,
    Abdul Qadir jailanipun tidak melakukan ritual tahlilan,.

    Pertanyaannya, sebenarnya mengikuti tradisi siapakah ritual tahlilan tersebut??

    Petanyaan Buat anda……………= orang islam itu siapa????

    Defenisi Islam
    Secara etimologi, Islam berarti tunduk dan menyerah sepenuhnya kepada Allah Azza wa Jalla. Adapun secara terminology, disebutkan :

    الإِ سلامُ: اَلإِستِسلاَمُ للهِ بِالتَوحَيدِ وَاالإِنقِياَدُ لَهُ بِالطَّاعَةِ وَالبَرَاءَةُ مِنَ الشِّركِ وَأَهلِه

    Islam adalah patuh dan tunduk kepada Allah dengan cara mentauhidkan, mentaati dan membebaskan diri dari kemusyrikan dan ahli syirik. [Syarh Tsalatsatil Ushul, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, hlm. 68-69]

    الإسلام والاستسلام , menurut bahasa artinya الإنقياد . Yaitu patuh dan tunduk. Sedangkan menurut syari’at, yaitu menampakkan ketundukan dan memperlihatkan syari’at serta berpegang teguh dengan yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan hal tersebut, terpelihara dan tercegahlah darah dari segala yang dibenci.

    Orang yg mengkafirkan sesama islam itu hukumnya apa???

    Hukumnya terlarang dalam islam, kafir-mengkafirkan itu urusan yang sangat besar,bukan urusan sepele,
    Pertanyaanya, siapa yang mengkafirkan sesama umat islam, kalau diindonesia ada lho, diantaranya ldii, dan para pelaku pemikiran khawarij yg melakukan bom bunuh diri, mereka mempunyai pemikiran seperti itu,

    Kalau anda menuduh saya mengkafirkan sesama kaum muslimin, silahkan tunjukan buktinya, semua postingan saya nukil di blog ini, silahkan tinggal copas saja bukti saya mengkafirkan sesama orang islam,.. silahkan mba, mas,

    Saran = hormati pebedaan…….. Bagimu aliranmu n bagiku aliranku………………….

    Islam itu satu, tidak bermacam-macam aliran, yaitu islam dengan pemahaman para sahabat,.. itu yg diwajibkan kaum muslimin untuk mengikutinya, sebagaimana surat attaubah ayat 100 dan annisa ayat 115

    Tidak semua perbedaan harus ditoleransi, ada yang dianggap perbedaan, padahal itu bukanlah perbedaan, tapi penyimpangan atau perpecahan,silahkan baca ulasannya disini

    Jalankan ibadah mnurut fhm masing2 tnpa sling mngjafirkan 1 sm lain………….

    Siapa yg saling mengkafirkan? ini tuduhan dusta, silahkan buktikan, mana buktinya kalau kita mengkafirkan kelompok lain?

    Agar perstuan umat islam tercapai

    Tidak akan pernah tercapai persatuan dalam islam, jika kaum muslimin tidak mau mengikuti pemahaman para sahabat, dan kaum muslimin akan selalu berselisih, mereka akan mengikuti pemahaman kelompoknnya masing-masing, ormasnya masing-masing,atau jamaahnya masing-masing,. sehingga musuh-musuh islam akan dengan mudah menguasai kaum muslimin, bahkan, ada kaum muslimin yg dimanfaatkan oleh orang-orang kafir untuk menggembosi islam dari dalam, na’udzubillahi min dzalik,

    • Amin
      Desember 29, 2012 pukul 2:03 pm

      penulis blog ini mungkin usianya dah ratusan taun hidup sejak jaman sahabat, jadi penulis mengikuti sahabat. Kalo saya hidup di jaman sekarang saat sahabat sudah meninggal, jadi saya belajar ilmu Rosul dan sahabat dari para ulama yang ada sekarang.
      mengenai tahlilan, memang mungkin jaman Rosul ndak ada, tapi mari dilihat dulu apa saja yang dilakukan dalam tahlilan. dalam ritual tahlilan dibacakan ayat suci Alquran, dzikir, sholawat, dll, apa dulu Rosul tidak melakukan itu? tahlilan hanyalah sebuah nama, tapi semua isinya adalah apa2 yang dulu dilakukan Rosul. Jangan liat sesuatu hanya dari covernya.

      Terimakasih mas amin,
      Mungkin anda perlu melihat dan mendengarkan video ini, ceramah singkat yang bisa membukakan mata hati anda, agar amal anda dan kaum muslimin tidak sia-sia

      • airin mantong na
        April 25, 2013 pukul 10:43 am

        Agama islam ini sudah sempurna jd tidak blh dikurang n tidak boleh kita tambah tambah.

  5. ilham
    November 20, 2012 pukul 5:14 pm

    good job! good job! good job! saya senang artikelnya, saya senang komentar2nya; saya senang jawaban komentar2nya. Anda benar2 baik mas. Teruskan dakwahnya.

    Sebenarnya saya memang dari kecil tidak mengamalkan tahlian. Ayah saya mengajarkan itu. Dan saya semakin mantep.

    Sekali lagi tulisan anda dan komentar2 yang nyeleneh benar2 membuat saya senang. Semoga ilmu ini bisa barokah dan bisa menjadi salah satu dari 3 amal yang tak terputus dari anda.

    Terimakasih mas ilham atas suportnya, saya hanya menukil dari website yg sdh ada, bukan tulisan saya, kecuali komentar2 yg mungkin saya sampaikan berdasarkan logika, agar mereka paham, sebab jika menggunakan dalil, tdk mudah mereka pahami,.
    Mudah2an Allah kabulkan doa anda ,. Jazakallahu khairan

  6. desi
    September 4, 2012 pukul 2:24 pm

    saya dulu belajar di pesantren,pemahamanya tidak jauh beda dengan anda,setelah saya pergi keluar kota dan bekerja saya liat banyak hal yang menyimpang dari islam.saya ingin sekali memberikan penjelasan seperti anda tapi saya tidak bisa saya baru bisa mengamalkanya buat diri sendiri.
    tetap semangat buat anda,untuk menunjukan kebenaran itu tidak mudah.

    Alhamdulillah atas nikmat hidayah ini, dikenalkan dengan ajaran yang betul-betul diajarkan oleh Rasulullah, dan mengamalkannya, bukan mengamalkan ajaran yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah,..

    Betul mba, mendakwahkan hal yang bertentangan dgn tradisi yang sudah turun temurun sangatlah susah, kecuali dengan pertolongan Allah saja,.. paling tidak ilmu itu bisa kita amalkan untuk diri kita sendiri saja dulu, sambil secara pelan2 kita mendakwahkan kepada mereka dengan cara yang hikmah,.. sebab kita juga ingin agar bisa bertemu di telaga rasulullah,.. tapi jika kita melakukan perbuatan bidah, itu salah satu penyebab kita diusir dari telaga rasulullah, sebab kita mengamalkan amalan yg tidak ada contohnya dari Rasulullah,.. na’udzubillahi min dzalik,

    Mudah-mudahan Allah menunjuki kita dan kaum muslimin semua agar bisa istiqamah diatas ajaran rasulullah dan para sahabatnya,.. amiin..

  7. Mahfudz Mughni
    Agustus 25, 2012 pukul 5:20 pm

    Assalamu’alaikum….

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    mohon maaf sebelumnya.

    saya maafkan mas mahfudz, taqabbalallahu minna wa minkum, mudah2an mas mahfudz dalam kondisi sehat walafiat, amiin

    setelah saya membaca percakapan2 di atas yang begitu panjangnnya yaa walaupun belum semua saya baca…saya sangat sekali kagum terhadap semua pertanyaan dan jawaban dlm percakapan tersebut,

    tapi saya heran kenapa percakapan tersebut hanya membahas satu topik saja yatu tentang bidah mengenai tahlilan, kenapa tidak membahas bid’ah yang lain.. padahalkan bidah yg ada di masyarakat itu bkan hanya tahlilan saja..

    Saya juga heran mas mahfudz, artikel tentang tahlilan itu saya nukilkan dari pendapat2 ormas yang ada, bukan tulisan karangan saya sendiri, silahkan saja dilihat rujukannya.
    Dan saya juga heran,kenapa postingan tentang tahlilan ini menempati urutan tertinggi, sehingga terkesan itu-itu terus yg muncul, jadi bukan disengaja postingan ttg tahlilan itu ada terus, tapi karena postingan tersebut yang seringkali dibaca oleh pengunjung blog saya,jadi tulisan tentang tahlilan itu selalu nangkring di postingan best reader, padahal postingan tsb saya posting beberapa tahun yg lalu, lihat di tanggalnya tertulis tanggal 23 oktober 2010 , awalnya malah artikel tsb jadi satu artikel,cuma karena terlalu panjang jadi saya pecah menjadi beberapa bagian,

    Dan untuk bidah-bidah yang lain sudah banyak yg saya posting mas mahfudz, silahakan saja lihat di daftar isi postingan disini

    Uraian tentang bidah dan seluk beluknya bisa dilihat disini

    dan saya punya pertannyaan untuk minta di jelaskan :
    yang saya tahu Bid’ah itu terbagi menjadi 2 yaitu
    1. bid’ah hasanah
    2. bid’ah dholaalah
    tapi kenapa hal ini tidak di bahas….
    Mohon penjelasannya….

    Hal tersebut sudah dibahas mas, mungkin mas mahfudz belum membaca postingan tersebut,
    Yang mengatakan semua bidah adalah sesal itu Rasulullah,
    Jika dibelakang hari ada yang berkata bidah itu terbagi dua, siapa yang kita pegang ucapannya, apakah orang yang belakangan,atau rasulullah?
    Tentu Rasulullah yang kita pegang, itu sebagai konsekwensi dari syahadat Wa asy haduanna muhammadan rasuulullah,

    Adakah bidah hasanah? baca disini penjelasannya

    jadilah perintis sunnah hasanah, bukan bidah hasanah, baca ulasanya disini

    Apa sih bahaya bidah? baca disini

    Terimakasih

    Sama-sama mas, mudah-mudahan bisa saling nasehat menasehati dalam kesabaran dan taqwa,..

    Wassalamu’alaikum…

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

  8. M. Rozy
    Agustus 10, 2012 pukul 2:47 pm

    intinya, tahlil bid’ah, dan berdasarkan hadits pasti masuk neraka?. padahal yang masuk neraka kan orang kafir?, berarti sama saja mengkafirkan orang yang baca syahadatain.
    kalo hadits bid’ah dipake sembarangan, berarti yang taraweh 20 rakaat di Masjid al Haram dan masjid nabawi, semua masuk neraka? sungguh pemahaman yang sangat sempit ! padahal Islam itu kata nabi mesti luwas dan luwes

    Memangnya orang islam tidak bisa masuk neraka mas?
    Banyak kok orang-orang yang shalat tapi diancam neraka,
    Banyak orang yang berpuasa tapi diancam dengan neraka,

    Yang masuk neraka itu bukan orang kafir saja mas,
    Cuma ada bedanya,.. kalau orang kafir itu masuk neraka dan kekal didalamnya, tapi orang islam yang berdosa itu masuk neraka , akan tetapi tidak kekal di neraka,

    Demikian halnya orang-orang yang melakukan perbuatan bidah, jika mereka tidak taubat sampai akhir hidupnya, maka akan diadzab dengan neraka,

    Orang islam itu tidak ma’sum, terbebas dari kesalahan, kecuali Rasulullah,

    Jadi jangan menganggap orang islam itu pasti tidak masuk neraka,.. hanya orang kafir saja,

    Bukankah banyak orang islam yang menjadi koruptor, maling,pemabok,pelacur, dan maksiat-maksiat lainnya?

    Orang islam yang melakukan perbuatan bidah juga banyak,.. dan bidah itu lebih buruk dari maksiat,.. tentu ini lebih layak lagi utk diadzab dalam neraka,

    Janganlah sempit dalam berpikir, dan jangan merasa aman dari siksa allah, walaupun kita sdh beragama islam

    • M. Rozy
      Agustus 13, 2012 pukul 10:49 pm

      JADI BENER UMAT ISLAM YANG JUTAAN ITU, YANG SHOLAT TARAWEH DI MASJID AL HARAM DAN NABAWI ITU, YANG BANYAK ULAMANYA ITU, YANG TEMPAT WAHABI ITU, YANG SHOLATNYA 20 RAKAAT ITU YANG DIANGGAP BID’AH DENGAN HADITS BID’AH ITU, SEMUANYA AKAN MASUK NERAKA ? TERMASUK UMAR BIN KHOTTOB YANG PERTAMA MEMBUAT BID’AH ITU JUGA MASUK NERAKA ?
      INNAA LILLAAHI WAINNAA ILAIHI ROOJI’UUN…..

      Ngga nyambung mas,.. baca nih, tentang rakaat tarawih disini, jangan nyimpulin sendiri dong,.. komentar dan kesimpulan anda diatas itu anda sendiri yang mengatakan, bukan saya,..

      Jika anda menyimpulkan seperti itu, saya hanya bisa mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi raji’uun…. musibah,..

      • M. Rozy
        Agustus 16, 2012 pukul 10:05 am

        mengenai shalat taraweh ini, amirul mukminin Umar bin Khaththab – radhiyallahu ‘anhu – berkata: “ni’mal bid’atu hadzihi” sebaik-baik bid’ah adalah hal ini.
        jadi jangan sembarangan menghukumi sesuatu dengan hadits “kullu bid’ah dholalaalah wakullu dholaalah finnaar”
        jangan karena Umar yang buat bid’ah maka itu mustahab, kenapa tahlil dianggap sesat ???
        hadits tentang bid’ah jelas shoheh, tapi coba dikaji konteks dan asbabul wurud hadits tersebut, insya Allah kita tidak sembarangan menvonis sesat orang….

        Mas Rozy, gini lho,..
        Shalat tarawih di jaman rasulullah ada atau tidak? ADA,
        Shalat tarawih di jaman rasulullah dilakukan secara berjamaah atau sendiri-sendiri? DILAKUKAN SECARA BERJAMAAH DENGAN SATU IMAM,
        Kenapa Rasulullah meninggalkan shalat tarawih? sebab wahyu masih turun, sehinnga ditakutkan shalat tarawih itu menjadi wajib,.. dan Rasulullah sangat sayang terhadap umatnya,.. tidak ingin memberatkan umatnya,..

        Dijaman Umar, shalat tarawih dilakukan sendiri-sendiri, dalam satu masjid, dengan imam masing-masing,..
        Kemudian Umar berinisiatif mengumpulkan mereka, dan menjadikan satu imam saja,sebagaimana dulu Rasulullah juga melakukan seperti itu,..
        Apakah apa yang dilakukan oleh Umar adalah bidah??? TIDAK, KARENA JAMAN RASULULLAH JUGA DILAKUKAN SEPRTI ITU,.
        Apakah lalu shalat tarawih itu menjadi wajib?? TIDAK, SEBAB RASULULLAH SUDAH MENINGGAL, DAN WAHYU SUDAH TERPUTUS,..

        Jadi dalam segi apa BIDAH tersebut? Bidah itu adalah ajaran yang baru, dan tidak ada contohnya dari Rasulullah,.. sedangkan Umar adalah mengembalikan apa yang ada pada jaman rasulullah,..

        Perkataan umar adalah dalam segi bahasa, bukan bidah secara istilah,..

  9. budi
    Agustus 1, 2012 pukul 5:34 pm

    Lalu bagaimana hukumnya mendo’akan orang tua yang sudah meninggal dengan membacakan surat Yasin?

    Doakanlah orang tua kita dalam shalat kita, dalam sujud kita, dalam ruku, ketika berdoa sebelum salam,
    Banyak sekali waktu-waktu yang mustajab tuk berdoa.
    Segala kebaikan yang dilakukan oleh seorang anak, orangtua ikut kebagian pahalanya secara otomatis, tanpa perlu dihadiahkan kepada orang tua, sebab anak merupakan hasil usaha orangtua,

    Tentang membacakan surat yasin secara khusus utk mendoakan orang tua yang sudah meninggal, ini tidak ada contohnya dari rasulullah, jadi wajib ditinggalkan cara berdoa seperti itu,

    Seorang anak membaca alquran, surat apapun, insya Allah orang tua kebagian pahalanya,

    Tentang amalan surat yasin, silahkan baca disini

    • iger
      Agustus 14, 2012 pukul 2:50 pm

      “Doakanlah orangtua kita dalam shalat kita, dalam sujud kita, dalam ruku, ketika berdoa sebelum salam,”

      ane baru tau berdoa dalam keadaan shalat, setau ane sesudah shalat,

      mohon penjelasannya..

      Kita bisa mendoakan orangtua,dan siapa saja dalam shalat, yaitu setelah membaca doa ruku,atau setelah membaca doa sujud, dan setelah membaca doa tasyahud sebelum salam,

      Mudah-mudahan bisa paham dgn penjelasannya

  10. budi
    Agustus 1, 2012 pukul 5:27 pm

    Artikel yang sangat bagus. Mengupas tuntas ajaran yang selama ini saya cari jawabannya. Alhamdulillah.

  11. Rachman
    Juli 20, 2012 pukul 3:44 pm

    sejatinya tidak ada satupun orang ato ormas yng berani terang2an mengatakan kalo tahlil itu bid’ah…

    yng ada mereka hanya mengkaburkan dengan dalil-dalil yang diartikan menerut paham mereka sendiri yang belum tentu penafsirannya itu benar…. ,

    sehingga menggiring masyarakat untk mengambil kesimpulan sendiri……jujur saja…ada g’ ulama yng mengharamkan tahlilan….

    Mengapa musibah bertubi-tubi melanda indonesia??
    Diantaranya karena tidak ada yang melarang perbuatan kesyirikan, bidah,
    Itu salah satu penyebab terbesar musibah yang melanda di indonesia,

    Tidak ada ulama yang melarang tahlilan? betul, karena di indonesia tidak ada ulama,

    Dan tahlilan hanya ada di indonesia,singapura,malasyia,

    Tidak ada tahlilan di negeri arab sana, sebagai negeri asal agama islam ini,
    Wajar, tidak ada ulama yang menjelaskan haramnya tahlilan,..

    Tahlil adalah dzikir yang mulia, jika dilakukan dengan cara-cara yang diajarkan oleh Rasulullah,
    Tahlilan adalah ritual setelah kematian dengan dimasukannya bacaan-bacaan tahlil ke dalamnya,.. ini adalah pelecehan terhadap tahlil yang mulia.,

  12. Anto
    Juni 9, 2012 pukul 9:21 am

    Tambahan dari Imam Syafi’i, belaiu berkata: “Aku membenci al-ma’tam, yaitu proses berkumpul (di tempat keluarga mayat) walaupun tanpa tangisan, karena hal tersebut hanya akan menimbulkan bertambahnya kesedihan dan membutuhkan biaya, padahal beban kesedihan masih melekat.” (As-Syafi’i, al-Umm (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1393) juz I, hal 279)

    Ibnu Hajar Al-Haitami berkata: “Dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dari pada penghidangan makanan oleh keluarga mayit, dengan tujuan untuk mengundang masyarakat, hukumnya bid’ah munkarah yang dimakruhkan, berdasarkan keterangan yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah.” (Ibnu Hajar al-Haitamy, Tuhfah al-Muhtaj (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 577)

    Asy-Syairazi berkata: “Tidak disukai/dibenci duduk-duduk (di tempat ahli mayit) dengan alasan untuk ta’ziyah karena sesungguhnya yang demikian itu muhdats sedangkan muhdats adalah bid’ah.” (Asy Syairazi, di kitabnya Muhadzdzab yang kemudian disyarah oleh Imam Nawawi dengan nama Al Majmu’ Syarah Muhadzdzab)

    Al-Ghazali berkata: ”Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit.” (Al-Ghazali, Al Wajiz Fighi Al Imam Asy Syafi’i I/79)

    Syaikh Nawawi Al-Bantani (ulama besar dari Banten, salah satu peletak dasar-dasar pesantren di Indonesia)
    “Shadaqah untuk mayit, apabila sesuai dengan tuntunan syara’ adalah dianjurkan, namun tidak boleh dikaitkan dengan hari ketujuh atau hari-hari lainnya, sementara menurut Syaikh Yusuf, telah berjalan kebiasaan di antara orang-orang yang melakukan shadaqah untuk mayit dengan dikaitkan terhadap hari ketiga dari kematiannya, atau hari ketujuh, atau keduapuluh, atau keempatpuluh, atau keseratus dan sesudahnya hingga dibiasakan tiap tahun dari kematiannya, padahal hal tersebut hukumnya makruh. Demikian pula makruh hukumnya menghidangkan makanan yang ditujukan bagi orang-orang yang berkumpul pada malam penguburan mayit (biasa disebut al-wahsyah), bahkan haram hukumhukumnya biayanya berasal dari harta anak yatim.” (an-Nawawy al-Bantani, Nihayah al-Zein fi Irsyad al-Mubtadi’ien (Beirut: Dar al-Fikr) hal 281).

    Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari (ulama besar dari Kalimantan Selatan, peletak dasar-dasar pesantren di Indonesia)
    “Makruh lagi bid’ah bagi yang kematian memperbuat makanan yang diserukannya sekalian manusia atas memakannya, sebelum dan sesudah kematian seperti yang sudah menjadi kebiasaan di masyarakat.” (Muhammad Arsyad Al Banjari, Kitab Kuning Sabilal Muhtadin (versi Arab Melayu), bahasa Arab halaman 87 juz 2 atau bahasa Indonesia halaman 741 alinea terakhir Buku Jilid 2, Bab Jenazah)

    Syaikh Ahmad Abdurrahman Al Banna, di kitabnya : Fathurrabbani Tartib Musnad Imam Ahmad bin Hambal (8/95-96) berkata: “Telah sepakat imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad-pen) atas tidak disukainya ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak yang mana mereka berkumpul di situ berdalil dengan hadits Jarir bin Abdullah. Dan zhahirnya adalah haram karena meratapi mayit hukumnya haram, sedangkan para Shahabat telah memasukkannya (yakni berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit) bagian dari meratap dan dia itu (jelas) haram. Dan di antara faedah hadits Jarir ialah tidak diperbolehkannya berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit dengan alasan ta’ziyah/melayat sebagaimana dikerjakan orang sekarang ini. Telah berkata An Nawawi rahimahullah, ‘Adapun duduk-duduk (dirumah ahli mayit) dengan alasan untuk ta’ziyah telah dijelaskan oleh Imam Syafi’i dan pengarang kitab Al Muhadzdzab dan kawan-kawan semadzhab atas dibencinya (perbuatan tersebut).’ Kemudian Nawawi menjelaskan lagi, “Telah berkata pengarang kitab Al Muhadzdzab : Dibenci duduk-duduk (di tempat ahli mayit) dengan alasan untuk ta’ziyah. Karena sesungguhnya yang demikian itu adalah muhdats (hal yang baru yang tidak ada keterangan dari agama), sedang muhdats adalah ” Bid’ah.”

    Perlu dipahami juga oleh kaum muslimin, maksud imam syafii mengatakan makruh, itu adalah perkara yang diharamkan, bukan seperti makruh yang artinya bukan sesuatu yang haram,

    Dan hal ini bukanlah sesuatu yang aneh bagi orang-orang yang belajar tentang ushul fikih, tentang maksud dari perkataan imam syafii, atau ulama-ulama lainnya tentang maksud kata-kata makruh,..

  13. Agus Mustofa
    Juni 1, 2012 pukul 8:14 pm

    Mas definisi Bid’ah itu apa???????

    “Bid’ah adalah suatu metode di dalam beragama yang di ada-adakan menyerupai syariat, dengan maksud untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala sedangkan tidak ada padanya dalil syar’i yang shahih dalam asal atau tata cara pelaksanaannya.” (Al I’tisham: 1/37, dinukil dari ‘ilmu Usul Bida’, 24)

    Definisi bidah, silahkan baca disini artikel lengkapnya

  14. sobri
    Mei 4, 2012 pukul 11:29 am

    Subhanalloh….

  15. by, aguero
    April 24, 2012 pukul 10:09 am

    ane sebagai orang awam dalam ilmu agama…hanya berfikir akan rusak ukhuwah kita sesama muslim…

    Wah, hebat ya, orang awam bisa memprediksi kalau ukhuwah akan rusak jika kita ada yang menjelaskan tentang kebidahan,.. ya, betul ini adalah anggapan orang awam,..

    apabila kita tetap bersikeras mengatakan bid”ah ini bid”ah itu,sedangkan kita tidak pernah peduli terhadap ajaran 2 yang membahayakan keimanan umat islam,,,contoh : Ahmadiyah…yang semakin leluasa menyebarkan ajaran nya…

    tuk apa juga kita perdebatkan masalah yang g’penting tuk di perdebatkan…

    justru masalah kebidahan penting untuk dijelaskan, Rasulullah saja setiap mau khutbah jumat, beliau selalu mengingatkan tentang bahaya bidah,.. dan yang mengatakan semua bidah itu adalah sesat, adalah RAsulullah, apakah Rasulullah telah salah dalam berdakwah?

    Apakah itu ngga penting??

    selama kita masih meyakini ALLAH SWT yang patut kita sembah,dan BAGINDA NABI BESAR MUHAMMAD SAW sebagai contoh suri tauladan kita dalam kehidupan di dunia ini,,,dan AL QURAN sebagi panduan tuk jalani kehidupan ini.

    NAH, justru jika Rasulullah sebagai suri tauladan kita, tentunya kita tidak akan berani mengamalkan kebidahan,.. bukan terbalik, ngaku cinta rasul, Rasulullah jadi tauladan, tapi bidah jalan terus,..

    karna masih banyak permasalahan oleh umat islam yang akan kita hadapi nti.masalah uu kesetaraan gender yang akan di sah kan nti,uu miras yang belum lama ini di cabut….pelacuran di mana 2,perjudian,aborsi,uu mengenai hak anak di luar nikah,yang semua ini sudah banyak keluar dari jalur 2 islam…saran saya cukup tsunami terjadi di aceh,gempa di sumatra jangan sampai bencana itu datang ke jakarta karna ke kufuran masyarakat jakarta akan ajaran 2 islam.

    Jika kita cerdas, kunci dari masalah2 diatas adalah, kembali kepada ajaran Rasulullah , buang bidah, tegakkan sunnah,..
    Bukan tidak mengingatkan kaum muslimin dari bidah,.. atau meremehkan kebidahan.. justru kebidahan adalah salah satu sumber turunnya musibah,..

  16. gadis manis
    April 23, 2012 pukul 5:01 am

    saya putuskan tuk meninggalkan tradisi mana kala pada thun 2004 saya bertemu dengan orang india yang beragama hindu dan kemudian saya becerita kalo di negeri kami ada ritual selamatan pada hari 3,7,40, 100,1000,

    lalu ia juga berkata klo ia juga merayakannya

    lalu saya mulai mempertanyakan apakah syafi’i merayakan ini dan sebagian muslim tak pernah tahu makna ritual tesebut?

    bhkan saya tanya kepada umat islam yang lain termasuk ibu ,nenek tapi nggak ada yang tahu ?

    saya putuskan tuk meninggalkan amalan itu dan sampai sekarang saya masih mencari tahu tentang tujuan dan makna ritual itu sebab umat islam mengamalkan tradisi nenek moyang tanpa tahu tujuannya?

    Ibadah itu, nunggu dalil, baru dikerjakan,.. bukan mengerjakan dulu baru cari-cari dalil,..
    Tradisi nenek moyang bukanlah dalil, bahkan ini salah satu warisan jahiliyah, mengikuti tradisi nenek moyang, bukan mengikuti dalil yang shahih dari Rasulullah,

    Janganlah dipusingkan dengan keingintahuan tentang tujuan dan makna ritual yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah, itu hanya buang-buang waktu dan energi saja,

    Kita telah dicukupkan dengan ajaran2 yang diajarkan Rasulullah, itu saja,.. dan islam sudah sempurna, tidak boleh dikkurangi, atau ditambahi,..

    Mudah-mudahan Allah tetapkan kita dibawah hidayah dan petunjuknya…

  17. mamun
    April 17, 2012 pukul 7:02 am

    yuk semuanya kalo ada dalil yang shahih dari Nabi maka itulah tuntunan kita,

    kalo kita ga mau ikut tuntunannya, siapa lagi yang akan kita ikuti….?????????

    Betul, yukk…. ikuti dalil yang shahih dari nabi saja

  18. April 7, 2012 pukul 5:17 pm

    Izin share ya…

  19. April 7, 2012 pukul 5:12 pm

    Klu boleh kasih saran,biar g capek n gampang bacanya bgmn klu postingan panjang spt ini dbuat bbrp judul/bagian(1,2,3..)…

    jazakallahu khairan,.. usulan yang bagus

  20. rasit
    April 6, 2012 pukul 6:02 am

    “Akan tetapi di masyarakat kita selamatan kematian/tahlilan telah dianggap melebihi kewajiban- kewajiban agama.

    Orang yang meninggalkannya dianggap lebih tercela daripada orang yang meninggalkan sholat, zakat, atau kewajiban agama yang lain.”

    Ya, itulah akibat beragama mengikuti budaya nenek moyang, bukan mengikuti ajaran Rasulullah, akibatnya seperti itu, budaya dianggap seolah-olah agama, dan ajaran agama malah ditinggalkan,.. ini musibah…

  21. kang isa
    April 3, 2012 pukul 4:56 pm

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

    salam Akhi, mau tanya bagaimana penjelasannya menurut Akhi tentang muhammadiyah.?

    wassalam,

    Tentang muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan mendirikan muhammadiyah tujuannya untuk mendakwahkan dakwah salaf, karena beliau terpengaruh dengan dakwahnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang ingin memurnikan dakwah islam seperti yang diajarkan Rasulullah kepada para sahabatnya, akan tetapi seiring pergantian kepemimpinan ormas muhammadiyah ini, maka timbul kebijakan yang melenceng dari tujuan KH Ahmad Dahlan selaku pendiri Muhammadiyah, diantaranya dibentuknya Majlis Tarjih sehingga seolah2 majlis ini adalah sebuah hukum, semua harus mengikuti HPT (himpunan Putusan Tarjih) walaupun bertentangan dengan Ajaran Rasulullah. Dimasa KH Ahmad Dahlan tidak ada yang namanya Majlis Tarjih atau HPT, karena apa yang didakwahkan KH Ahmad Dahlan adalah apa2 yang diajarkan oleh Rasulullah, menurut pemahaman para sahabat, ingin memurnikan islam seperti islam yang diamalkan oleh para sahabat.

    Untuk mengetahui tentang muhammadiyah, sudah saya posting disini, silahkan dibaca

    Jazakallahu Khairan , wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

  22. syifa
    April 2, 2012 pukul 11:59 am

    alhamdulillah tulisan yg mencerahkan

  23. udin
    Maret 29, 2012 pukul 11:53 am

    jazakalloh khoiron….
    atas ilmunya yg sangat bermanfaat ini
    oh ya saya panggilnya pak ustad atau pak admin nih …
    he…he..he…

    admin aja deh, jazakallahu khairan,

  24. hariyono
    Maret 29, 2012 pukul 4:32 am

    jangan menganggap dirimu suci. yang selamatan jangan mencela yang tidak selamatan sebaliknya, yang tidak selamatan jangan mencela yang selamatan. begitu indahnya islam.. siapa yang benar biar allah yang menilai.

    Tidak boleh menganggap diri suci, itu namanya mentazkiyah diri sendiri, dan hal tersebut terlarang dalam islam,

    Bedakan antara mencela, dan menjelaskan ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah,.. masa menjelaskan tentang perbuatan yang itu tidak diajarkan oleh rasulullah, dan diamalkan oleh orang-orang belakangan, kok disebut mencela? kalau pandangannya seperti ini, sia-sia dong ajaran Rasulullah, diajarkan tapi tidak diamalkan, malah mengamalkan apa-apa yang bukan dari Rasulullah,..

    Orang-orang yang menjelaskan tentang ajaran-ajaran Rasulullah, dan menjelaskan tentang apa-apa yang tidak diajarkan oleh Rasulullah, mereka adalah orang-orang yang sayang kepada kaum muslimin, tidak ingin mereka terjerumus ke dalam neraka karrena perbuatan yang menyelisihi ajaran Rasulullah,

    Dan orang-orang yang membiarkan kaum muslimin terus menerus terjerumus ke dalam perbuatan yang menyelisihi ajaran Rasulullah, orang-orang tersebut bukanlah orang yang mempunyai belas kasihan kepada kaum muslimin,.. membiarkan saudaranya terjerumus kedalam neraka karena amalan bidahnya,…

    Janganlah sebut saudaramu yang merasa sayang dan kasihan kepada saudaranya, tidak mau saudaranya terjerumus kedalam neraka karena amalan bidahnya,..

    siapa lagi kaum muslimin yang perduli, kalau kita ngga perduli, menjelaskan ajaran-ajaran yang memang tidak diajarkan oleh Rasulullah, akan tetapi diamalkan oleh sebagian besar kaum muslimin…

    renungkanlah,..

  25. Irhamullah El-mas'udy
    Maret 17, 2012 pukul 5:07 pm

    Syukran atas Ilmunya. Semoga kita bisa mengambil faedahnya.

  26. anis mujiono
    Maret 7, 2012 pukul 3:54 pm

    kalian tahu KHAWARIJ? sepertinya wahabi atau salafi pantas dikatakan KHAWARIJ. karena mereka radikal. doktrin-doktrin wahabi sangat radikal. hanya memahami syareat saja.

    Kasihan sekali anda, mau tahu apa itu khawarij? baca disini , tidak ada syareat, hakekat dan makrifat, itu semua hanya bualan orang-orang sufi,.

    Rasulullah saja yg sudah dijamin masuk surga, beliau malah sangat rajin beribadah hingga kakinya bengkak-bengkak,.. kalau orang sufi, kalau sudah tingkat hakekat itu malah boleh mabok, berzina, makanya ngga aneh, ada pesantren sufi di daerah tasikmalaya, dimana santri-santri perempuannya di zinai oleh pimpinan pesantren tersebut,

    padahal para pemimpin ijtihad seperti imam 4 dan ulama’-ulama salaf telah memperingatkan kita semua agar tidak hanya mendalami perkara syareat. ilmu tasawuf itu penting guna membentuk pribadi-pribadi yang santun dan berhati lembut. saya tidak perlu menuliskan pesan para imam ijtihad tentang wasiat mereka agar bertasawwuf. karena sudah jelas.

    Bagaimana imam syafii menghukum orang yang belajar tasawuf? orang tersebut diarak keliling kampung sambil dipukul dengan pelepah kurma,.. Imam syafii aja sangat keras menghukum orang yg belajar tasawuf, kok orang-orang yang ngakunya pengikut imam syafii kok doyan ilmu tasawuf ya??

    dan perlu diketahui, wahabi itu tidak bermadzhab.

    Salafi bukan madzhab, dan tidak bermadzhab kecuali kepada hadits rasulullah yang shahih, dengan pemahaman para sahabat, itulah madzhab yg dipegang oleh salafi

    mereka mengambil dalil dan diikutkan sesuai akal sendiri.

    itu isapan jempol belaka, tak kenal, maka tak sayang,, kasihan orang-orang yg spt ini

    mereka tidak tahu betapa pentingnya bermadzhab dengan salah satu madzhab 4 yang sudah dikodifikasi semua ulama salaf di zamannya dan seterusnya. hampir semua imam- imam dahulu mengikuti madzhab.

    Ke 4 imam, semuanya bermadzhab salaf, dan tidak ada satu imampun yang menyuruh kaum muslimin tuk taklid buta kepada pendapat keimam tersebut,.. bahkan mereka berkata, jika ada hadits shahih,itulah madzhabku

  27. Ainul Hakim
    Maret 3, 2012 pukul 12:25 am

    NYELENEH BANGET PERKATAAN KARNA AKALMU,

    DALAM AGAMA ITU GUNAKAN DALIL (Al-Qur’an dan Hadist),
    krn selain keduanya itu MENGIGAU,
    dan hati-hati dlm stiap perkataanmu,

    ”tiada suatu ucapan yang diucapkanya melainkan didekatnya malaikat pengawas yang slalu hadir”
    . Qs. Qaaf : 18.

    Allahu a’lam

    Betul, gunakan dalil, alquran dan assunnah menurut pemahaman para sahabat,

  28. asha
    Februari 16, 2012 pukul 4:39 am

    blog wahabi yang hina}}}

    trimakasih atas sanjungannya, baca nih dialog antara syiah,aswaja dan wahabi,

    • anis mujiono
      Maret 7, 2012 pukul 3:15 pm

      apa anda yakin bahwa pemahamanmu tentang Alqur’an dan hadits benar?

      Sangat yakin, Pemahaman alquran dan sunnah menurut pemahaman para sahabat adalah yang paling benar,

      apa dasarnya? silahkan baca surat attaubah ayat 100 ,baca tafsirnya, silahkan bisa dilihat di tafsir ibnu katsir,
      Bagi yang tidak mau mengikuti pemahaman para sahabat, Allah mengancamnya dengan neraka, silahkan baca surat annisa ayat 115, baca tafsirnya,

      sedangkan pemahaman sunni, aswaja, atau NU salah?
      Mas, saya mau nanya, apa definisi sunni, aswaja, atau NU?

      Apakah Abu Bakar, Umar, Utsman, juga Ali, dan seluruh ulama ahlus sunnah ikut NU atau ngga?

      NU berdiri tahun berapa? sedang islam menurut pemahaman para sahabat sdh ada berabad-abad lamanya sebelum NU lahir,

      Mana yang lebih layak tuk di ikuti??

      Jika masih punya akal yang jernih, jawablah dengan jujur mas,..

      wah, hebattt. orang baru lahir kemaren sore sudah mengaku- ngaku paling benar… apa menurutmu orang sunni,aswaja, NU tidak punya ulama???

      Jika orang-orang yg ngaku sunni,aswaja, atau org NU betul2 mengikuti ulama ahlussunnah, bukan mengikuti kebijakan ormas nya, maka tidak akan membuat kebijakan2 yg menggelincirkan kedalam perbuatan yang menyelisihi ajaran Rasulullah.

      apakah para cucu keturunan Rasulullah (habib, sayyid, syarif) yang sangat suka acara maulid nabi kalian anggap tukang bid’ah???

      Emang ada jaminan kalau keturunan Rasulullah itu maksum? terbebas dari kesalahan??
      Tidak ada sama sekali,.. Fatimah saja yang putri Rasulullah langsung, jika berbuat maksiat, Rasulullah tidak bisa menolongnya, Jika fatimah mencuri, maka Rasulullah yang akan memotong tangan fatimah,

      gimana dengan orang yang sekedar ngaku2 keturunan Rasulullah,..

      ngga ada istimewanya ada hubungan nasab keturunan dengan rasulullah, jika perbuatannya menyelisihi ajaran Rasulullah,..

      wahai wahabi salafi, ketahuilah, Rasulullah meninggalkan kepada umatnya berupa Qur’an, hadits, dan para cucu keturunan beliau. supaya umat islam tetap berada di jalan jama’ah ( jalan Rasulullah dan para sahabat). para sahabat sangat cinta kepada cucu-cucu Rasulullah. kenapa kalian (wahabi) begitu benci dengan mereka???

      Siapa yang membenci cucu rasulullah?
      Justru pertanyaan kepada anda, kenapa anda tidak mengambil quran dan sunnah menurut pemahaman jama’ah( jalan rasulullah dan sahabat??)

      golongan anda mengaku paling pas dengan pemahaman sahabat. tapi bagi NU, orang wahabi sangat jauh dengan pemahaman sahabat. jadi janganlah wahabi atau salafi mencela amalan yang dilakukan oleh orang-orang NU.

      NU lahir ditahun berapa, para sahabat hidup di jaman berapa,..

      Makanya jangan taklid kepada ormas deh mas,.. ngga ada manfaatnya,

      justru nasihat Rasulullah, kita disuruh meninggalkan kelompok-kelompok yg ada, dimana tiap2 kelompok itu bangga terhadap apa yang ada padanya,.. bukti, gimana sikap NU thd muhammadiyah? sama-sama ormas,

      Agama islam itu bukan ormas kang,.. Rasulullah diutus bukan untuk mendirikan NU, bukan tuk ndirikan muhammadiyah, persis, dll

      Akibat taklid terhadap ormas, ya banyk orang-orang spt anda,. kasihan …. deh,..

  29. Pelajar yang masih teramat Bodoh
    Februari 1, 2012 pukul 4:34 am

    terimakasih telah berkomentar disini

    kalau menelaah tulisan di atas, bisa2 Orang islam di dunia ini termasuk kategori pengamal bid’ah semua. entah itu NU, Muhammadiyah, dll di seluruh dunia yang mengamalkan pembacaan Qur’an.

    Apakah Rasulullah melakukan tahlilan? Apakah Abu bakar melakukan tahlilan? Apakah Umar,utsman,ali melakukan tahlilan?
    apakah imam abu hanifah,malik,syafii, ahmad melakukan tahlilan? Apakah imam bukhari,muslim, dan ulama-ulama ahlussunnah lainnya melakukan tahlilan? JAWABANNYA,.. TIDAK,.. lalu, ritual tahlilan itu ajaran siapa?

    karena jika ditelusuri berdasar dalil tulisan diatas maka dapat disimpulkan membaca qur’an termasuk bid’ah …. mengapa? Rosulullah SAW, buta huruf tidak bisa membaca. dan mushaf Qur’an yang sekarang ada ini, tidak dijumpai dijaman Rosulullah SAW.
    Apakah makna bidah? perlu anda ketahui, makna bidah itu adalah apa-apa yang tidak diajarkan oleh Rasulullah dalam urusan agama,

    Rasulullah memang tidak bisa baca tulis, sehingga alquran dibacakan oleh malaikat jibril, lalu Rasulullah menghafalnya, dan menyampaikan kepada para sahabat, dan para sahabat menghafalnya, jadi ini bukan kebidahan,
    Jika bidah adalah menurut penilaian anda seperti diatas, itu penilaian siapa? sebutkan rujukan anda, apakah itu penilaian anda sendiri?

    Alquran adalah wahyu dari Allah, membacanya adalah ibadah, bukan bidah, tapi menempatkan bacaan alquran tidak pada tempatnya, ini bisa terjatuh kedalam kebidahan,.. contoh: membaca alquran di kuburan, membaca alquran ketika kematian, membaca alquran untuk kesaktian, dan lain-lain,

    Adakah Allah SWT dan Rosulullah SAW menyuruh membukukan Qur’an? terus gimana dong… masuk kedalam hukum yang mana nih pembukuan Qur’an oleh Sayidina Ustman?

    Silahkan baca postingan di link ini

    pertanyaan dari catatan tepi

    mohon pencerahan kepada para Ahli2

    Kita disuruh mengikuti pengamalan para sahabat, silahkan baca surat attaubah ayat 100
    pembukuan alquran dilakukan oleh para sahabat, jadi itu bukan perbuatan kebidahan

  30. jankung
    Januari 29, 2012 pukul 4:27 am

    Terimakasih telah berkomentar,

    menurut ane : tdk semua yg tidak pernah dilakukan oleh Rosululloh itu salah, dan tidak semua yang diajarkan ustad/kyai/ulama’ itu tdk benar,,

    Mas, saya mau nanya, kalau ada ahli benerin motor, disuruh ngebenerin komputer kira-kira gimana mas?
    Apakah bisa?
    tentu komputernya akan menjadi tambah rusak, karena itu bukan bidangnya

    Itu urusan dunia mas, apalagi urusan agama,.. urusan agama lebih berat mas, resikonya dunia akherat, kalau di dunia mungkin masih mudah tuk mempertanggungjawabkannya, tapi kalau sudah diakherat, kemana lagi, tidak ada kesempatan tuk balik ke dunia lagi,

    Jadi dalam hal agama, tentu orang yang mengetahui tentang hal itu,.. Agama yg mensyariatkan Allah, kemudian mengutus rasulullah sebagai penyampai kepada manusia,.. nah, jadi jangan mengatakan menurut ane,.. emang siapa anda?? Rasulullah sudah menyampaikan, bukan anda sebagai penyampainya,..

    jadi bukan menurut ane, atau menurut ustadz/kyai,.. tapi menurut rasulullah,

    contoh apakah pernah dsebutkan d alQur’an atau hadis yang menjelaskan tentang tatacara sholat yg dimulai dengan niat dan diakhiri dgn salam… apakah kita harus meninggalkan apa yg diajarkan oleh selain Rosulloh? tentu tidak,

    Nah, kalau diayat, ada perintah shalat,.. dan allah telah mengajarkan tatacara shalatnya kepada rasulullah,
    Apakah ajaran yang disampaikan oleh rasulullah itu keluar dari pribadi rasulullah? bukan, itu adalah wahyu allah juga, karena allah menurunkan alquran, dan yang semisal dengannya tuk menjelaskan alquran tersebut,..
    dan dalam alquran juga kita diperintahkan tuk mentaati rasulullah, apa yg disuruh oleh rasulullah kerjakan, dan apa yg dilarang, tinggalkan,.. itu perintah allah dalam alquran,..

    Bukankah kita disuruh berpegang kepada alquran dan sunnah??
    Tidak boleh berpegang kepada alquran saja, karena akan tersesat orang yg hanya berpegang kepada alquran,

    dalam ushul fikih disebutkan bahwa ilmu manusia itu bersifat dzon bukan sesuatu yg pasti benar.. kemudian ajaran islam yang murni itu yang bagaimana? apakah ajaran yg hanya sesuai dgn alQur’an dan Hadis?

    yang benar dan murni adalah, ajaran islam yang berdasarkan alquran dana sunnah, menurut pemahaman para sahabat, generasi yang dibina langsung oleh Rasulullah,
    Dan kaum muslimin wajib mengikuti pemahaman tersebut,.. karena mustahil kita bisa mengetahui islam tanpa melalui perantara para sahabat,

    lalu bagaimana dgn ajaran madzahibul arbaah yg kemungkinan fatwa/pendapatnya juga mempertimbangkan kondisi pribadi orang di zaman dan d tempat tersebut (seperti adanya qaul qadim dan qaul jadid)..

    Imam yang empat, mereka berusaha mengumpulkan apa2 yg disampaikan oleh para sahabat, sebab hadits2 belum terkumpul sebagaimana jaman sekarang,.. mereka berijtihad,.. ijtihad mereka yang sesuai dengan sunnah rasulullah kita ambil, dan apa yg menyelesihi sunnah rasulullah kita tolak ,
    kita tidak boleh taklid kepada mereka, sebagaimana mereka juga melarang kita utk taklid kepada mereka,..
    mereka menyuruh kita untuk taklid kepada sunnah rasulullah yg shahih, hadits yang shahih

    Dan imam yang empat tidak ma’sum, terbebas dari kesalahan, makanya mereka ada qaul qadim dan qaul jadid,.. bisa jadi ada hadits yg belum sampai kepada mereka, sehingga mereka mengatakan dgn qaul qadim, dan setelah sampai kepada mereka hadits yg shahih, mereka merubah ijtihadnya, dan menjadi qaul jadid

    Mereka berijtihad, jika salah mereka dapat 1 pahala, jika benar dapet 2 pahala

    Dan mereka tidak malu tuk merubah ijtihad mereka, jika ada dalil yg shahih

    oleh karena menurut saya itu tahlilan itu baik walaupun bukan ajaran dari Rosululloh langsung, karena yang dikubur itu bukan hewan tp manusia yang masih membutuhkan doa dari anak dan saudaranya,,

    Yang namanya ibadah, kembalinya kepada contoh, sebab amalan ibadah yg tidak ada contohnya, itu sia-sia belaka, bukan pahala yg didapet, malah dapet

    dosa,

    Rasulullah meninggal tidak diadain tahlilan, abu bakar meninggal,umar,utsman, ali,.. tidak ada tuh yang tahlilan,..
    Jaman Rasulullah banyak sekali sahabat yang meninggal, ketika perang uhud,perang badar, dan peperangan2 lainnya,.. tidak ada satupun yang ditahlili,

    Apakah kita menganggap lebih baik dari rasulullah?
    Apakah kita menganggap lebih baik dari Abu bakar,umar,utsman,ali??

    imam abu hanifah,malik,syafii,ahmad,bukhari,muslim, dan ulama2 lain juga gak pada tahlilan,.. dan tidak ada murid2nya yg mentahlili mereka ketika meninggalnya,..

    seharusnya yang dikomentari akhi2 itu bukan tahlilannya tp jamuan yang berlebihan sehingga merepotkan
    bagi keluarga yang sedang berduka….

    Bukan kalimat tahlilnya yg dipermasalahkan, sebab kalimat tahlil itu bagus, tapi yg dipermasalahkan adalah TAHLILAN (ritual tahlilan)
    kita diperintahkan mengucapkan tahlil tiap hari, bukan pas setelah kematian seseorang,

  31. habib
    Januari 26, 2012 pukul 4:49 am

    nuhun kang atas komentarna,

    lamun ceuk sia perkara anu euweuh ti ROSULNA eta bid’ah maka sia ge ahli BID’AH naha ROSUL pernah make calana?

    tos ngertos maksudna bidah ncan?

    Rosul make internet??
    Rosul make mobil/motor?

    Taros ka urang nu make internet, Aya nte urang make internet supaya asup ka surga? supaya nambah takwa? make internet teh supaya Allah ridha ka urang tea,… nte aya kang,…
    Taros kau urang nu ngangge mobil atawa motor, Aya nte urang make mobil/motor supaya asup ka surga? supaya nambah takwa? nte aya kang,

    Taros ka urang nu ngayakeun tahlilan, naon teh pendorongna ngayakeun tahlilan?? jawabna pasti supaya asup ka surga ku marga tahlilan tea,..

    Eta bedana bidah jeung non bidah teh,..

    Ari celana, aya rasulullah nganjurkeun celana nu leres, ya eta ulah dihandapeun mata kaki,.. sebab eta teh dilarang,..
    punten yeuh, basa sunda abdi nte sae,.. maklum, sanes urang sunda, abdi aslibumiayu,.

    Jawab goblog

    Tos dijawab kasep,.. ulah kasar atuh kang,.. akhlak kang habib kok siga kiye,.. era atuh kang,..

  32. Abu ihsan
    Januari 15, 2012 pukul 2:13 pm

    Alhamdulillah,ALLAH yg telah memberikan petunjuk dan telah meneguhkan agama ini dgn para penyeru dakwah tauhid,tdk akan memudharatkan sedikitpun orang2 yg mencela mereka.semoga ALLAH senantiasa menambahkan taufiq dan kebaikan untuk saya dan anda.

    Alhamdulillah, mudah-mudahan Allah memberikan hidayah taufik kepada kaum muslimin semua,..

  33. jaelan..
    Januari 14, 2012 pukul 5:56 pm

    ustad…saya baca komen2nya….anda sy juluki ustad copy paste…..
    qiqiqiqiqi………………………………………………………………………………

    Jazakallahu khairan atas sebutannya,
    Alhamdulillah, senang sekali dengan sebutan tersebut,.. karena kita juga disuruh copy paste kok, tentu copy pastenya dari sumber yang jelas itu shahih dari Rasululllah,..
    Jika kita copy paste dari sumber yang tidak jelas, rasulullah tidak mengajarkannya, maka itu mendapat ancaman dari Rasulullah, dianggap sebagai berdusta atas nama Rasulullah,..

    Dan lebih selamat itu adalah dengan jalan copy paste, bukan dari diri sendiri, emangnya siapa kita?
    Kan lebih enak copy paste,
    Jangan merasa hina karena copy paste,

    Ajaran islam itu semuany copy paste, tidak boleh buat-buat sendiri,

    Copy dari ajaran islam yang diajarkan Rasulullah kepada para sahabatnya, jika kita ingin selamat,..

    jika anda membuat statement sendiri, atau mengcopy dari sumber yang tidak jelas, walaupun itu seorang tokoh, akan tetapi berseberangan dengan ajaran Rasulullah,.. maka tanggung jawabnya berat kelak di akherat,..

    Lebih selamat, copy paste saja,…

  34. jaelan..
    Januari 14, 2012 pukul 5:53 pm

    Saya sendiri juga mengambil pelajaran dari kisah saya sendiri ketika awal2 mengenal dakwah salaf, padahal saya tidak menyuruh orang lain mengikuti saya, saya hanya mempraktekan untuk diri sendiri saja, kala itu saya shalat dengan menggerak-gerakan jari,.. lalu saya divonis sesat…

    ——————————————————————————————————

    xixixixixi…..jari digerak2kan….kram ya ustad….hihihihi…

    Jazakallahu khairan atas komentarnya,
    Saya hanya mengingatkan saja, bahaya lho mengolok-olok syariat Rasulullah, bahkan itu perkara yang bukan kecil, bisa menyebabkan pelakunya batal keislamannya, jika pelakunya tidak bertaubat,
    Takutlah akan firman allah:
    أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
    “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah 9: 65-66)

    Mudah-mudahan Allah menunjuki kita dari mengolok-olok ajaran Rasulullah,

  35. ahmad
    Januari 12, 2012 pukul 9:37 am

    saya masih suka tahlilan kumaha abi w nya

    nuhun tos komentar di dieu,.. muga-muga Allah masihkeun hidayah taufik ka akang, tos jentre penjelasanana, rek nonton videona oge aya kang,.. ritual eta teh sanes ajaran islam, eta teh ayana di kitab agama hindu & budha,.. mantan pendeta hindu tos ngajelaskeun di dieu..

    • Zurianto
      Januari 14, 2012 pukul 4:54 pm

      Meninggalkan kebiasaan emang berat, apalagi yg udah jadi tradisi.
      Sampaikanlah yg haq itu sekalipun satu ayat.
      Rasulullah adalah sebaik-baik contoh sprti yg Allah sampaikan dalam firmannya.

      Maha benar Allah dengan firmannya. Semoga Al-quran tetap menjadi pedoman tertinggi kita setelah hadits. Perbedaan hendaknya mengerucut kepada dalil yg paling tinggi yaitu Al-quran.

      Menerima kebenaran dari silemah lebih baik daripada bersembunyi dibelakang pesohor bathil.

      Jazakallahu khairan atas komentarnya,

  36. abi thalhah
    Januari 12, 2012 pukul 7:32 am

    panjang sekali…. sampe pedes mata ana baca artikel ini….

    Iya akh, sabar bacanya,… jangan kalah sama yang tahlilan,… lebih lama, tapi betah-betah saja,..

  37. Randy, Abu Ahdy
    Januari 12, 2012 pukul 5:17 am

    intinya sih kalau pun ilmu ana udh cukup atau udah bisa, tetep saja mereka keras apalg mereka jumlahnya bnyk, yg ada memang ana yg dikucilkan…
    itulah bagian dari sulitnya menegakkan sunnah, terutama di zaman ini yang mana Islam banyak tapi orang yang mengerti sunnah adalah orang yang Ghuraba

    Ya, sabar menghadapi kenyataan hidup di lingkungan yang seperti itu,
    Berdoalah untuk kebaikan mereka,.. jangan putus asa,..
    Kita hanya menyampaikan, dan yang memberikan hidayah taufik adalah Allah,..
    Selama kita bersikap hikmah dalam berdakwah, insya allah, perubahan ada,..

    Coba anda beli buku 14 contoh sikap hikmah dalam berdakwah, baca resensinya disini

  38. (randy) Abu Ahdy
    Januari 12, 2012 pukul 1:34 am

    Subhanalloh Akhi, ana belum bisa baca semuanya panjang banget. ini ilmi akh, semoga kita ditunjukkan jalan yang lurus…
    tapi dibalik semua ini ana sedih, ana berada dilingkungan yang bahkan keluarga ana juga masih seperti itu…
    berharap semoga diberi kekuatan untuk bisa mendakwahi mereka…
    mudah2an ada kesempatan buat ane share atau ngobrol walau hanya lewat email…
    Jazakallahu Khairan Katsira,

    Paling tidak buat sendiri dulu akh,.. antum bersabar saja hidup dilingkungan seperti itu,.. jangan grusa-grusu, jika belum punya ilmu cara mendakwahi mereka, jangan antum lakukan,.. sebab nanti yang timbul anda sendiri dimusuhi, sebab dianggap lain sendiri,.. dakwah perlu kepada ilmu, perlu kepada hikmah,.. antum belajar saja dulu,… tentang akidah yang benar, dan jangan yang antum dakwahkan itu masalah tahlilan ini,… ada yg lebih penting,..

    Tinggal dimana akh,. barangkali bisa ngasih saran, kirim email ke aslibumiayu@yahoo.co.id saja,

    Wassalamu ‘Alaykum

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

  39. Mukah
    Januari 10, 2012 pukul 6:06 am

    عَنْ بْنِ عَبَّاسٍ أنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ إنَّ أمِّي تُوُفِّيَتْ أَفَيَنْفَعُهَا إنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَإنَّ لِيْ مَخْزَفًا فَُأشْهِدُكَ أَنِّي قَدْ تَصَدَّقْتُ بَهَ عَنْهَا. رواه الترمذي

    Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya ada seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah SAW, Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, apakah ada manfaatnya jika akan bersedekah untuknya?” Rasulullah menjawab, “Ya”. Laki-laki itu berkata, “Aku memiliki sebidang kebun, maka aku mempersaksikan kepadamu bahwa aku akan menyedekahkan kebun tersebut atas nama ibuku.” (HR Tirimidzi).

    Terima kasih telah meninggalkan komentar disini

    Betul, karena amal baik yang dilakukan seorang anak, maka pahalanya akan mengalir kepada kedua orangtuanya, walaupun sang anak tidak menghadiahkannya, demikian pula jika ada seorang murid yang melakukan amal kebajikan, maka pahalanya juga akan mengalir kepada gurunya, walaupun sang murid tidak menghadiahkan pahala ke gurunya,.. sebab itu sih otomatis,

    Dalil diatas tidak ada isyarat tuk perayaan ritual tahlilan,
    Rasulullah ketika ada sahabat yang meninggal, beliau tidak merayakan ritual tahlilan,
    Ketika Rasulullah meninggal, para sahabat tidak mengadakan ritual tahlilan,.
    Ketika Abu bakar meninggal, maka sahabat yang lain juga tidak mengadakan ritual tahlilan..
    Berarti ritual tahlilan itu ritualnya siapa ya??

    سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِى مَاتَتْ افَيَنْفَعُهَا اِنْ تَصَدَّقْتَ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ
    “Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi SAW; Ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah mati, apakah berguna bagi saya, seandainya saya bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; yaa berguna untuk ibumu.” (HR Abu Dawud).

    Penjelasannya sama dengan yang diatas

    Syaekhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah (tokoh wahabi anutan Muhammadiyah) dalam Kitab Majmu’ Fatawa jilid 24, berkata: “Orang yang berkata bahwa do’a tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik, pahalanya tidak sampai kepada orang mati,” mereka itu ahli bid’ah, sebab para ulama’ telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfa’at dari do’a dan amal shaleh orang yang hidup.

    Tokoh wahabi? kapan Ibnu taimiyah lahir, dan kapan syaikh muhammad bin abdul wahhab lahir, lucu ya, baca sejarah dong, masa ibnu taimiyah disebut tokoh wahabi?
    Sebelumnya saya mau nanya, anda tahu ibnu katsir ngga dengan kitab tafsirnya? Kitab tafsir beliau banyak dipelajari oleh kaum muslimin, bagaimana menurut anda, dan apakah anda tahu, siapa ibnu katsir? beliau adalah murid syaikhul islam ibnu taimiyah,

    Mas, atau mba, siapa yang mengatakan doa kaum muslimin tidak bermanfaat bagi orang yang sudah mati?
    siapa yang mengatakan bahwa mayat tidak mendapat manfaat dari amal shalih kaum muslimin,

    Apakah syaikhul islam ibnu taimiyah menganjurkan ritual tahlilan?? sebenernya ini pokoknya,.. tidak ada satu orang ulama ahlussunnahpun yang mengajarkan tuk ngadain ritual tahlilan kematian,…

  40. Al Faruq
    Januari 7, 2012 pukul 5:38 am

    Bahas tentang sejarah Wahabi donk!!!

    Jazakallahu khairan atas komentarnya,
    mau baca tentang wahabi?
    Sudah ada, silahkan klik link ini,

  41. waliband
    Januari 2, 2012 pukul 1:13 am

    sobatku sebenarnya yg salah bukanlah para wali atau kanjeng sunan kalijaga. beliau sudah benar dalam menyampaikan dakwahnya.

    Betul? beliau yang mencmpuradukan ajaran hindu kedalam islam,

    yg salah adalah generasi berikutnya yg dimasuki oleh Christiaan Snouck Hurgronje (coba baca di Wikipedia).

    Orang belanda tahu, cara mengalahkan islam adalah dengan cara merusak islam dari dalam, merusak ajaran-ajarannya, sehingga mereka mempelajari islam, dan pura-pura masuk islam, sehingga bisa menyebarkan pemahamanya yg bukan dari islam, sehingga dengan cara seperti itu, islam dengan mudah dikalahkan,.

    silahkan baca postingan terbaru tentang asal muasal tahlilan, disini

  42. habib habaib
    Januari 2, 2012 pukul 12:38 am

    tahlilan itu baik.
    Terima kasih telah berkomentar disini,

    Tahlil itu baik, dan diajarkan oleh Rasulullah kalau tahlilan itu tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah

    agama wahabi itu agama yg salah sahabatku. bertobatlah dan peluklah agama yg benar dan cocok di sini. yaitu Islam NU.

    Agama wahabi, alwahhab adalah salah satu nama allah, wahabi artinya pengikut Allah, jadi harusnya anda juga jadi wahabi,

    Apakah Rasulullah seorang NU, apakah Abu Bakar ikut NU, apakah para sahabat ikut NU?
    Imam syafii juga ngga kenal apa itu NU, gimana saya disuruh tobat dan ikut NU? lucu ya, tolong sebutin dalilnya kalau islam yang benar itu adalah islam NU?
    Bukankah kita disuruh mengikuti cara beragamanya para sahabat, silahkan anda buka quran dan tafsirnya, surat attaubah ayat 100 dan annisa ayat 115,

    atau jadilah islam yg liberal. islam yg damai. seperti islamnya gus musafa bisri atau ulil absar abdala. itulah islam yg adem laksana dinginnya hembusan angin di pagi hari …. :)

    Itu disebut islam yang damai? Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun…

    • Abdulloh
      Maret 2, 2012 pukul 4:14 pm

      Bismillah..
      Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kepadaku…,
      sehingga aku bisa bertobat dari menyembah kuburan “para wali”…
      Semoga Allah azza wa jalla mengampuni diriku dan menerima taubatku
      Amin

      Semoga Allah meneguhkan kita diatas hidayahnya, diatas alquran dan assunnah menurut pemahaman para sahabat

      Mudah-mudahan Allah memberikan hidayah kepada kaum muslimin yang berusaha tuk mencarinya,.. hidayah itu sangat mahal, dan merupakan kenikmatan yang tiada taranya dibandingkan harta sepenuh dunia,..

  43. khozin
    Desember 29, 2011 pukul 11:00 pm

    benar itu baik……mengaku benar sendiri itu jelek.

    Terima kasih telah berkomentar dan sudi mengunjungi blog ini,

    Mengaku benar sendiri itu pasti jelek, karena dia hanya mengaku benar menurut dirinya sendiri,
    Berbeda halnya jika mengikuti kebenaran yang diajarkan oleh Rasulullah, yang diamalkan oleh didikan beliau langsung yaitu Rasulullah,

    Hendaknya dibedakan antara mengikuti ajaran Rasulullah yang diamalkan oleh para sahabat dan perbuatan mengaku benar sendiri,

    Janganlah karena amalan kita berbeda, bahkan tidak pernah dikerjakan oleh para sahabat,tidak diajarkan oleh Rasulullah, lalu dengan mudah mengatakan orang yang memberikan penjelasan tentang amalan tersebut sebagai orang ang mengaku benar sendiri,..

    mudah-mudahan Allah menunjuki kita semua,.. sekali lagi jazakallahu khairan atas komentarnya,

  44. Khoziah
    Desember 29, 2011 pukul 12:21 am

    maaf saudarku yang sya hormati,mf agk sdikit komentar jika melihat sebuah permaslahan tahlil jngn bersumber sebelah mata, lihat lah sumber kesemuanya yang berkaitan tentang tahlil, di ibaratkan kita meliaht mobil jngn depannya aj, tapi lhat semuanya, seperti depan saming kanan, kiri dan belakang agar saudara melhatnya sempurna.
    masalah tahlil sdikit komentar saudara.
    kata tahlil berasal dari suku kata arab هيلل يهيلل هيللا وهيللة artinya membaca tahlil atau membaca kalimat لاإله الا الله (kitab al-mu’jam alwasith II.1004), dan yang dimaksud adalah zikir dengan mengucapkan kalimat لاإله الا الله sebagaimana disebutkan dlm hadits jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata sesunggunhnya nabi bersabda :yang artinya sebaik-baik zikir adalah mengucap lafal لاإله الا الله Hdits riwayat Tirmizi (shahih Tirmizi III/174.

    Jazakallahu khairan telah sudi meninggalkan komentar dan membaca blog sederhana ini,
    Yang dipermasalahkan disini bukanlah kalimat tahlilnya, sebab tahlil dengan ucapan لاإله الا الله adalah dzikir yang paling utama, akan tetapi yang menjadi masalah adalah tatacaranya, yang mana itu tidak diajarkan Rasulullah sama sekali, yaitu dikaitkan dengan ritual setelah kematian, sebab ritual seperti itu adalah dari ajaran hindu,sebagaimana anda bisa baca disini

    AWAL MULA ADANYA MAJLIS ZIKIR (Tahlil)
    majlis zikir atau juga disebut majlis telah ada sejak zaman نبي صلى الله عليه وسبم, sejk syariat islam diturunkan dianjurkan pula untuk memperbanyak zikir kepada Allh, baik secara sendiri-sendiri atau secara berjama’ah. dzikir yg dilakukan secara berjama’ah itulah yng dimaksud majlis zikir atau yang saat ini ada yang memberi nma majlis tahlil.semua itu terdapat sejumlah ayt dan hadits, yang menganjurkan agar ummat islam memperbanyak dzikir, bertahlil, bertasbih, bertakbir dan bertahmid kepada Allah SWT diantaranya Allah berfirman : hai orang-orang beriman, berzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknyadan bertasbihlah memuji-Nya pagi dan petang (al-Ahzab ::41-42), ada pula dalam surat annisa ayat 103 da surat al-Ahzab ayat 53.

    HAKIKAT MAJLIS TAHLIL
    pada dasarnya majlis tahlil adalah sebuah nama atau sebutan bagi sbuah acra dzikir dan do’a bersama. dikatakan majlis dzikir sebab sejumlah orng berkumpul bersma-sama untuk munajat kepada Allah dengan berzikir kepada-Nya.membaca kalimah seperti membaca tahmid, takbir, tahlil,tasbih, shalawat Nabi dan lain sebgainya. dan perlu di ingt bahwa dikatakan Majliz tahlil atau tahlilan sebab sejumlah orng yang berkumpul bersama untuk munajat kepada Allah dengn berzikir kepada Allah, dengan memperbnyak kalimah “TAUHID”.

    Dzikir jama’i tidak pernah diperintahkan, tidak pernah dianjurkan, dan tidak pernah dituntunkan oleh Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. Jika ada yang mengatakan dzikir jama’i itu ada contohnya dari beliau, mari kita tanya diri kita masing-masing:

    “Pernahkah beliau Yasinan?!”…
    “Pernahkah beliau Tahlilan?!”…
    “Pernahkah beliau Nariyahan?!”…
    “Pernahkah satu saja dari para sahabat beliau -yang jumlahnya mencapai ratusan ribu itu- melakukan hal tersebut?!”, dst…

    Jika beliau -shollallohu alaihi wasallam- dan para sahabatnya tidak pernah mencontohkannya, lalu dari mana mereka mengambil cara-cara itu?!..

    Siapakah yang menciptakan model dan susunan ibadah seperti itu?!..

    Ataukah kita juga berhak menciptakan model ibadah sendiri, sesuai selera kita?!..

    Kalau kita tidak boleh, mengapa ada yang boleh menciptakan model ibadah baru seperti itu?!..

    Lalu siapa yang memberi license (surat ijin) kepada mereka untuk menciptakan model ibadah baru itu?!..

    Apakah mereka lebih tahu tentang agama ini, melebihi para sahabat?!…

    Cobalah kita renungi masalah ini, dengan obyektif, jujur, dan apa adanya…

    Dalam Hdits riwayat Imam muslim disebutkan bahwa Nabi SAW, bersabda :”tidak akan datang kiamat sehingga tidk ada lagi yang berdengn membaca Allahu-Allahu” di muka bumi ini. HR. Muslim (Shahih muslim I/73 dan tanwirul Qulub hl 511)

    Hadits diatas sama sekali bukan perintah untuk berkumpul-kumpul lalu membaca dzikir secara bersama-sama, sebab hal itu sudah diingkari oleh sahabat Rasulullah, yang dibina langsung oleh rasulullah, para ulama saja seperti imam syafii, imam ahmad, atau imam bukhari dan ulama-ulama lainnya tidak ada yg mempraktekannya,.. bahkan ritual tersebut hanya ada di indonesia,.. lucu sekali kan,..

    Dalam HADITS Riwayat IMAM MUSLIM Disebutkan :adalah Nabi bersabda :
    “tidk berkumpul suatu kaum (umat islam)pada suatu majlis yng di isi dengan berdzikir kepada Allah, melainkan para Malaikat meliputinya dan menurunkan rahmat kepada mereka dan orng yang ikut di dalm majlis dzikir tersebut di sisi Allah. (H.R Muslim)
    dalam kitab Al-Adzkar, Imam Nawawi Mengatakan :
    “ketahuliah, sebagaimana dzikir itu sunnah, sunnah pula duduk dalam kalangan atau lingkaran majlis dzikir bersama orng-orang berdzikir, sebab banyak DALIL-DALIL yang menyatakan sunnahnya dzikir berjama’ah” (Al-Azkar h. 8)
    saudaraku yang di muliakan Oleh Allah, bnyajk dalil yang mengenai Tahlil.
    jikalah saudara punya kitab shahih Muslim dan kitab Imam Nawawi silahkan saudara buka. semua saya cantumkan halaman dan sumbernya. terimaksh saudara, semoga ada manfaatnya.

    Jazakallahu khairan telah menukilkan hadits-hadits Rasulullah, dan hendaklah kita berusaha tuk melaksanakan hadits tersebut,..

    Dan dari semua hadits diatas tidak ada perintah tuk melakukan dzikir berjamaah, juga pelaksanaannya berhubungan dengan hari kematian, baik 3hari,10hari, dst.. karena itu berasal dari agama hindu, silahkan lihat pengakuan orang hindu, dan dari kitab-kitab agama hindu yang ada di video ini,

    Perlu diketahui pula, makna dzikr itu tidak terbatas dengan kalimat dzikr, majlis dzikr juga bukan maknanya majlis dzikr bersama, akan tetapi bermakna majlis ilmu, majlis yang mengkaji tentang ilmu agama islam, jadi berkumpulnya orang-orang untuk taklim, mengikuti kajian islam, itu disebut sebagai majlis dzikr, mudah-mudahan pemaparan ini bisa memberikan pencerahan kepada kita semua,..

  45. ceng jj
    Desember 27, 2011 pukul 3:41 pm

    pihak yg membid’hkan dan yg dibid’ahkan keduanya sama sama relatif kebenarannya. yg mutlak hanyalah Allah.

    Terima kasih telah berkomentar disini, dan sudi mampir di blog yang sederhana ini,

    BETUL kata anda, kebenaran yang mutlak hanyalah milik Allah,
    Ada pertanyaan, bukankah Allah sudah mengutus Rasulullah,
    Bukankah Rasulullah sudah menyampaikan risalahnya?
    Apakah anda berani mengatakan Rasulullah tidak menyampaikan risalah yang Allah turunkan?
    Rasulullah sudah menyampaikan semua ajaran Rasulullah, berdasarkan surat almaidah ayat 3
    Kebenaran ajaran islam bukanlah suatu yang relatif kebenaranya,. akan tetapi kebenaran yang pasti, yang mutlak jika itu memang ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah,
    Ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah itulah yang disebut sunnah, ajaran yang mutlak kebenaranya,
    Ajaran yang dibuat-buat sendiri oleh manusia, itulah bidah dan itu bukan sama sekali kebenaran, akan tetapi kejelekan,

    yg paling indah adalah saling menghargai perbedaan paham dalam persatuan dan kesatuan dan perdamaian. jangan pada ngadu dalil, kayak anak kecil aja. gak lucu ah…

    sangat mustahil tercipta persatuan dan kesatuan serta perdamaian , sementara keyakinan mereka terpecah belah, bahkan mempunyai keyakinan yang salah. jangan dengan dalih saling menghargai perbedaan paham,
    Jika terjadi persatuan dengan saling menghargai perbedaan, itu adalah persatuan yang semu, kelihatanya saja bersatu, padahal hatinya bercerai berai,

    Justru mengikuti perbedaan, itulah sikap anak kecil, yang suka ikut-ikutan, belum punya pendirian , berbeda halnya sikap orang yang dewasa dan berilmu,.. mereka melandasi perbuatan mereka diatas ilmu,

    Lucu sekali yah, .. emang,. baca lagi komentar anda, insya allah sangat lucu,..

    Mudah-mudahan Allah menunjuki kita semua,..

  46. emyu GRM
    Desember 4, 2011 pukul 3:38 pm

    karena gengsi mungkin yang menyebabkan “mereka” bertahan dan enggan menerima kebenaran yang sebenar benar nya.

    Hidayah itu mahal, tidak semua orang bisa mendapatkan hidayah,.. makanya kita patut bersyukur bisa mendapatkan hidayah ini, sehingga menerima dan menjalankan apa yg diajarkan Rasulullah, dan meninggalkan apa yg tidak diajarkan oleh Rasulullah, mudah-mudahan Allah memberikan hidayah kepada mereka, sehingga mereka rujuk kepda kebenaran yg datang dari Rasulullah,

    • Azzam wallayali
      Agustus 10, 2012 pukul 2:03 am

      Banyak alasan sehingga orang enggan menerima kebenaran,
      1.Takut dikucilkan dilingkunganya yg masih tahlilan
      2.Takut dihujat dan dicela
      3.Takut dijauhkan dari pergaulan
      4.Takut saat keluarganya ada yang meninggal tidak ada yang datang untuk menguburnya
      5.Takut kehilangan jabatan dan kedudukan dimasyarakat
      6.Takut kehilangan pundi-pundi dan sumber penghasilan dari dari setiap mengisi pengajian
      7.Takut kehilangan penghormatan dari manusia dll.

  47. rayhan
    November 22, 2011 pukul 2:19 pm

    membuat bingung orang awam…

    Biar ngga bingung, belajar mas,. dari sumber yang jelas, bukan belajar dari sumber yg tidak jelas asalnya darimana, atau ajaran-ajaran hasil modifikasi manusia yang tidak ada sumbernya dari ajaran Rasulullah,

  48. arul
    November 22, 2011 pukul 7:37 am

    bagus artikelnya……..
    sudah lama saya cari penjelasan yang seperti ini.

  49. hariyantoari
    November 16, 2011 pukul 7:55 pm

    Masya Allah. Artikelnya baguuuuuuuuuuus sekali .Insya Alloh akan sangat bermanfaat. Izin ling ya.

    silahkan,..

  50. tonni
    November 4, 2011 pukul 2:33 pm

    teruslah tegak berjuang di jalan ALLAH saudaraku…mudah2an kita termasuk orang yg istiqomah…

  51. tonni
    November 4, 2011 pukul 2:30 pm

    tetaplah tegak berjuang di jalan ALLAH saudaraku…..mudah2an kita termasuk orang yg istiqomah…

  52. Ahmad FaQih
    Oktober 30, 2011 pukul 11:03 am

    Mudah2n manhaj salaf menjadi manhaj negara ini, aaaaamiiin…

    amiin…

  53. lukman noviansyah
    Oktober 28, 2011 pukul 7:28 pm

    assalammua’laikum WR.WB

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

    boleh ga mas saya curhat soal kisah cinta saya dengan wanita yang sangat saya sayangi tapi hubungan saya tidak direstui oleh kedua orang tuanya dikarenakan perbedaan ajaran Islam, dimana saya tidak menjalankan ritual seperti tahlilan karena saya berada dilikungan yang anti dengan tahlilan, sehingga mereka tidak mersetui hubungan kita..
    tetapi saya masih bertahan dan terus minta pengertian dari mereka.
    saya ingin menydarkan meraka kalau yang merka lakukan itu adalah sesat tapi karena kekurangan ilmu yang saya miliki jadi saya hanya bisa berusaha dan ngotot ingin mendapat restu dari mereka.

    pertanyaannya : apakah saya terlalu egois dengan hal ini..

    silahkan kirim pertanyaan anda kesini

  54. Muhamad Ikhsan Ikhsan
    Oktober 20, 2011 pukul 3:09 am

    benar kata ulama,rusaknya agama di sebabkan 2 golongan,
    1orang BODOH TP TEKUN IBADAH [NASORO DAN PENYEMBAH KUBUR},DAN ORANG PINTAR TP TIDAK BERIMAN,{YAHUDI DAN ORENTALIS}

  55. Oktober 20, 2011 pukul 3:05 am

    benar kata ulama,rusaknya agama di sebabkan 2 golongan,
    1orang BODOH TP TEKUN IBADAH,DAN ORANG PINTAR TP TIDAK BERIMAN,

  56. Muhamad Ikhsan Ikhsan
    Oktober 20, 2011 pukul 2:30 am

    setelah saya membaca forum ini, saya sangat heran dg cara pandang orang “pemuja kubur,mereka itu sangat keterlaluan BODOHNYA..!!!!!!!!!!!{sangat irasional}

    mereka ibarat keledai yang tidak bisa membedakan antara emas dan batu yang ada di punggungnya.

    mereka lbh mengutamakan sabda kiyainya dari pada kolam alloh dan hadis nabi,padahal dalil dari al quran sudah sangat sangat jelas,bahkan orang yang tak belajar agama saja langsung paham dg maksud al quran itu,tp gak apa ,kita bisa ambil higmahnya,karna dg adanya mereka kita bisa latihan sabar untuk mendakwai mereka,karna alloh menciptakan setan juga untuk kebaikan manusia juga{berjihad menjadikan musuh yg nyata dg mereka}tanpa adanya penyembah kubur,tentunya juga gak akan ada ibadah menegakan sunah.

    BENAR KATA ULAMA,RUSAKNYA AGAMA INI DIKARENAKAN 2 GOLONAN,1ORANG BODOH YANG RAJIN IBADAH,DAN ORANG PINTER TP TIDAK BERIMAN…………….

  57. muhsinin
    Oktober 8, 2011 pukul 6:33 am

    “Patokan kebenaran itu bukan beliau (Zainuddoin MZ),. tapi adakah Rasulullah melaksanakan ritual tahlilan??
    Apakah Abu bakar mengadakan ritual tahlilan? Umar,utsman, juga Ali juga tidak mengadakan ritual tahlilan,..
    Imam yang empat, juga para ulama ahlussunnah, tidak ada satupun yang mengadakan ritual tahlilan,..”

    So: kenapa Anda atau umat Islam pemilu untuk milih presiden, DPR dst.. adakah rasulullah juga melakukannya?

    Rasulullah sudah menggambarkan dalam haditsnya, bahwa nanti akan ada penguasa yg tidak mengikuti ajaran rasulullah, termasuk dalam pemilihan pemimpin,… jadi ngga bingung mas, jika ada kejadian seperti itu,..

    akan tetapi rasulullah juga mengajarkan untuk mentaati pemimpin, jika sudah terpilih, terlepas pemilihannya syari atau tidak,..

    adakah pada jaman rasululloh orang yang mengajarkan ilmu digaji? adakah di jaman Rasulullah naik haji/umroh harus bayar di/lewat bank yang jelas pakai riba?

    Seandainya para dai itu memahami ajaran agama islam menurut pemahaman para sahabat, tentu mereka akan memahami ajaran islam yang mulia, dan memahami bahaya mengajarkan ilmu dengan tujuan dunia,.. dan juga memahami bahayanya riba,…

    saya kira kita harus fair, bahwa Rasulullah tidak hanya mengajrkan syariah tetapi juga muamalah dan sebagainya. Jangan kemudian kita mengkafirkan/memvonis seseorang telah bid’ah pada satu persoalan yang beda dengan kita, tetapi di sisi lain kita membenarkan bahkan membela di sisi lain seperti soal pemilu, gaji orang yang jual ilmu dsb….
    mohon komentarnya

    Sekali lagi, tolong sebutkan dimana saya, atau orang lain yang mengkafirkan seseorang,.. sebab ini bagi saya sih hanya tuduhan dusta belaka,…

    Seandainya kita semua kembali kepada ajaran islam menurut pemahaman para sahabat, niscaya tidak ada kebingungan sebagaimana pertanyaan anda, “membela di sisi lain seperti soal pemilu, gaji orang yang jual ilmu dsb….”

    Jaman dahulu juga ada pemimpin yang dzalim, bahkan membunuhi para ulama, membunuhi rakyatnya, akan tetapi para sahabat yang masih hidup kala itu, diantaranya ibnu umar, tidak memberontak melawan penguasa tersebut,.. karena ingat akan petunjuk rasulullah dalam menyikapi penguasa yg dzalim,..

  58. VR46
    September 30, 2011 pukul 8:01 am

    Artikel yang panjang ,memang seharusnya agak panjang,tetapi bermanfaat ustazd…izin copy, ustazd pernah berkunjung ke blog nya yang suka tahlilan,marhabanan?

    tolong pernah ke blog mana saja?

    silahkan copy, dan sebarkan,.. jazakallahu khairan,.. blog mana aja, pakai http://www.yufid.com , lalu masukan kata kuncinya,.. mau seharian juga tidak selesai berkunjung ke web/blognya,..

  59. محمد سهلان رشيدى
    September 26, 2011 pukul 10:51 am

    puanjang buanget…
    …agaknya perlu digalakkan kajian “Ushulul Bida”…
    …atau “Haqiqatul Bid’ah” nya Al-Suyuthy…
    satu lagi… resep untuk semangat menulis sepanjang itu apa ya?
    ممتاز، جزاكم الله خيرا

    Bukan artikel tulisan saya, itu copas saja, alhamdulillah, sarana mencari ilmu sangat banyak, dan mudah, apalagi dengan adanya internet,..

    Resepnya, tentu dengan rajin dan bersemangat dalam mempelajari islam ini, menurut pemahaman para sahabat,..

  60. Rachmat
    September 24, 2011 pukul 4:23 am

    Assalamu’alaikum,

    wa’alaikumussalam warahmatullah,

    terima kasih atas artikel yang Anda tulis sangat gamblang dan bermanfaat.

    Mohon penjelasan bagaimana cara menanggapi tudingan wahhabi sesat ketika saya berusaha menyanggah hal2 bid’ah yang mereka lakukan.

    Tidak usah berbantah-bantahan dengan mereka, apalagi kita belum punya ilmu, lebih baik kita belajar tentang manhaj salaf ini,
    Biarlah mereka mengatakan apapun, wajar, karena mereka mengatakan hal itu karena kebodohan tentan apa itu manhaj salaf, jika ilmu dan hidayah sampai kepada mereka, insya allah, mereka sendiri akan menyesal, dan sdh banyak kejadian seperti itu,..

    LInk artikel tentang wahabi, bisa klik disini

    Demikian pula ketika saya menjelaskan sejarah gerakan yg dimotori oleh Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Saya kesulitan dalam berbantah-bantahan dengan mereka karena dangkalnya ilmu saya.

    Tinggalkanlah berdebat jika belum mempunyai ilmu,..

    Mohon penjelasan pula bagaimana pandangan salafus salih terhadap tasawuf.

    tentang tasawuf, bisa dibaca disini

    Kemudian karena saya termasuk baru dalam mempelajari tentang salaf, mohon saran hal-hal apa yang harus saya pelajari dan rujukan-rujukan apa saja yang harus saya ambil dalam mempelajarinya mengingat pula saya berasal dari kalangan awam dan bukan dari kalangan santri.

    Dimana anda tinggal? Jika di jakarta, sangat banyak tempat2 kajian dakwah salaf, bisa didengarkan di radio rodja, 756 AM, dan alhamdulillah, dakwah salaf sudah menyebar ke seluruh pelosok indonesia, demikian juga majalah, ada majalah assunnah,alfurqan,almawaddah,majalah sakinah,elfata, juga beberapa stasiun radio dakwah,..

    Meskipun awam saya tidak akan membiarkan diri saya awam dan kemudian taqlid dalam segala hal tanpa mengetahui dalil yang mengatur suatu urusan.

    Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas penjelasan yang Anda sampaikan.

    Tulisan diatas adalah copas dari blog saudara kita semanhaj,. bukan tulisan saya

    Semoga perjuangan Anda dalam menyampaikan kebenaran mendapat kemudahan dari Allah Subhannahu wa ta’ala. Amin.

  61. bebas
    September 20, 2011 pukul 11:20 pm

    “Kalau Allah dan Rasulullah tidak memerintahkan, maka siapa yang memerintahkan ? Apakah yang memerintahkan lebih hebat daripada Allah dan Rasulullah ?” …

    Allah swt dan baginda Nabi Muhammad saw juga tidak pernah menyuruh untuk “membukukan” Al-qur’an al karim, tapi Ustman ibn Affan r.a melakukannya … kenapa Anda ga protes??

    Kata siapa Rasulullah tidak menyuruh tuk menuliskan alquran? Ketika jaman Rasulullah, para sahabat sudah menuliskannya,

    Apa yang dilakukan para sahabat, dan tidak ada para sahabat yang mengingkarinya, maka itu adalah ijma para sahabat, dan itu menjadi sunnah Rasulullah juga,… sebab kita disuruh oleh Allah untuk mengikuti Rasulullah, juga mengikuti para sahabat,..

    Para sahabat saja yang hidup sejaman dengan utsman tidak protes, lalu kenapa kita protes??, sungguh jauh sekali kita dibanding para sahabat,

    Para ulama saja tidak ada yg memprotes perbuatan utsman bin affan, tolong sebutkan ulama ahlussunnah yg memprotes perbuatan utsman bin affan,…

    Kalau para ulama yg ilmunya tinggi saja tidak ada yg memprotes, kok kita yang jauh sekali ilmunya dibanding para ulama berani memprotes? tahu diri lah,….

  62. abu fathima
    September 20, 2011 pukul 6:03 pm

    ahsanta

  63. jj
    September 20, 2011 pukul 1:29 am

    apakah shalat di kubur Bid’ah

    Rasulullah membolehkan kita shalat dimana saja, kecuali di dua tempat, di kamar mandi, dan di kuburan,. sudah sangat jelas larangan ini, jadi shalat di kubur, itu suatu bidah yang mungkar,

  64. ilham tri murdo
    September 15, 2011 pukul 3:40 am

    mau tanya usatad….jika bacaan tahlil untuk kegiatan ruwahan atau kegiatan lain, misal ada pengajian kemuadian diawali atau diakhiri dengan tahlilan ? gimana ?

    Semuanya adalah perbuatan bidah,.
    Kata Rasulullah, semua bidah adalah sesat, dan kesesatan tempatnya dineraka,..
    Rasulullah sudah mengajarkan, jika kita menutup suatu majlis, maka ditutup dengan doa kafaratul majlis,.

    Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah.. wallahu a’lam.

  65. Nirwan
    September 1, 2011 pukul 5:44 pm

    Comment lagi nih…… Jika pada Ummat ini banyak kekeliruannya dalam ber agama maka…ayo…turun kelapangan door to door,,,bukan hanya mengecam dalam tulisan saja..apa – apa Bid`ah,,,

    mas, kaum muslimin yg gimana yang turun door to door? ngga semua mas, dakwah juga perlu dengan ilmu, harus ngerti ilmu dalam berdakwah, sehingga bisa dakwah dengan hikmah,..

    seperti yang dlakukan Rosullulloh dengan Sahabatnya…

    Betul, wajib mengikuti pemahaman sahabat rasulullah,..

    jika beliau dirumah saja mengecam ummat saja maka agama ini gak sampai kesini….

    Jangankan Rasulullah atau sahabat yang kesini mas,.. ulama seperti Imam syafii aja ngga pernah ke indonesia, tapi disini banyak tuh yg ngaku sebagai pengikutnya, walaupun banyak amalanya menyelisihi apa yang diajarkan oleh imam syafii,..

    juga yang dilakukan para Wali yang ditulis dalam Rubrik di atas… mereka bekerja bukan ompng doang…..keluar dari rumah da`wahkan Agama dengan mengorbankan harta …diri dan Waktu….. APAKAH INI BID`AH JUGA?

    Karena Ilmu, maka tidak harus keluar rumah pun, maka ilmu akan tersebar luas ke muka bumi ini mas,..

    ngerti arti bidah atau ngga see??

    • hariyantoari
      November 16, 2011 pukul 8:24 pm

      Seandainya saja di jaman Rosululloh sudah ada internet.Pasti Rosulululloh bikin web site.

      Secanggih apapun jaman ini, mau ada internet, handphone, atau apapun, tidak akan pernah menyamai jaman Rasulullah, jangankan jaman Rasulullah, menyamai jaman imam syafii, atau imam ahmadpun tidak,..

      Tetap masa Rasulullah itu adalah masa yg paling bagus, walaupun belum ada internet,pesawat terbang,dan teknologi lainnya,..

      Jaman dulu belum ada flashdisk atau mp4 yg buat merekam, imam syafii bisa merekam di dalam otaknya, sehingga beliau tidak mencatat waktu hadir di majlis imam malik, sementara orang lain mencatat,

      Dulu ulama mencatat di otak mereka, demikian juga para sahabat, banyak dari mereka yg tidak bisa baca tulis, akan tetapi mereka menyimpan di dalam hafalan mereka,… sungguh, jaman Rasulullah masih jauh lebih canggih daripada jaman yg penuh teknologi spt sekarang ini,…

  66. Nirwan
    September 1, 2011 pukul 5:34 pm

    Ass.WW.

    jangan pelit kalau nulis salam, ini koreksi pertama,.. jika tidak mau nulis lengkap, ya ngga usah nulis disingkat-singkat seperti contoh diatas,..

    Baca Al- Qur`an Apaka Bid`ah?
    BerZikir kepada Allah …Apakah Bid`ah
    Bersholawat kepada Rosululloh Apakah Bid`ah
    Berdo`a kepada Allah SWT apakah Bid`ah……………………… itu semua yang dibaca dalam Tahlil

    sangat mudah tuk jawab pertanyaan diatas<

    mas, misalkan ada orang yang shalat maghrib 5 rakaat,. dengan bacaan yang bagus, dan khusyu, apakah boleh?

    Jika dilarang, orang tersebut akan menjawab, anda melarang shalat? padahal yang dibaca adalah ayat alquran, jumlah rakaatnya lebih banyak, sehingga baca quranya juga lebih banyak,.. kok anda melarang saya shalat?

    itu untuk menjawab pertanyaan anda,..

  67. asli tasik
    Agustus 22, 2011 pukul 4:28 am

    hufh.. lelah juga baca ini artikel beserta koment koment nya…
    dengan pemikiran sederhana, sepertinya memang masih banyak yang mengganggap TAHLILAN sebagai ritual, dan ini memang bidaah.. ane sepakat.
    tapi sepertinya ga sedikit juga yang sudah mulai “meluruskan” niat dalam melaksanakan TAHLILAN… karena berkumpul bersama sambil berdoa dan mengaji bersama sama tanpa niat melakukannya sebagai ritual, mudah2an msh ditoleransi…

    Yang dipermasalahkan adalah bukan niatnya,… tapi cara atau ritual itu sendiri,..

    NIAT yang BAIK, harus dengan cara yang baik pula, yaitu cara-cara yang diajarkan oleh Rasulullah, dan diamalkan oleh para sahabatnya,…

    seandainya RITUAL TAHLILAN itu BAIK, niscaya kita telah keduluan sama para sahabat yang begitu rakus terhadap ajaran Rasulullah…

    Urusan ibadah, wajib ada dalilnya,..

    Jika ritual tahlilan ada dalil yang shahih dari Rasulullah,.. niscaya saya sendiri juga akan melakukannya, dan mendakwahkannya,…

    TANPA MALU-MALU….

  68. hasan
    Agustus 21, 2011 pukul 2:30 pm

    masalah qunut subuuh

    مَا زَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْنُتُ فِى الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا

    Terus-menerus Rasululloh Shollallohu ‘Alayhi wa Sallam berqunut di dalam shalat fajar (shubuh) hingga berpisah dengan dunia (wafat). [HR. Ahmad no. 12196, HR. Ad-Daruquthniy no. 1711 dari Abu Bakar An-Naysaburiy dari Abul Az-har dari 'Abdur Rozzaq dari Abu Ja'far Ar-Roziy dari ar-Robi' bin Anas dari Anas bin Malik]

    Hadits di atas juga dishahihkan oleh Imam an-Nawawi dalam Majmu’ Syarh Muhadzdzab (III:504).

    حديث صحيح رواه جماعة من الحفاظ وصححوه وممن نص علي صحته الحافظ أبو عبد الله محمد بن علي البلخى والحاكم أبو عبد الله في مواضع من كتبه والبيهقي ورواه الدار قطني من طرق بأسانيد صحيحة

    Beliau berkata, “Hadits tersebut shahih dan diriwayatkan oleh sejumlah hafizh (penghafal hadits yang hafal lebih dari 100 ribu hadits) dan mereka menshahihkannya. Di antara yang menshahihkannya adalah al-Hafizh Abu Abdillah Muhammad bin Ali al-Balkhiy, Al-Hakim Abu Abdillah dalam beberapa judul kitabnya dan Imam Bayhaqiy. Hadits itu diriwayatkan juga oleh ad-Daruquthniy dari berbagai jalan (sanad) dengan isnad-isnad yang shahih.”

    Ada yang mengatakan bahwa hadits ini dha’if karena ada Abu Ja’far ar-Roziy. Ketahuilah bahwa Abu Ja’far itu dha’if dalam meriwayatkan dari Mughiroh saja, sebagaimana dikatakan oleh para imam ahli hadits yang menganggap bahwa Abu Ja’far itu tsiqah (dapat dipercaya). Mereka yang mentsiqohkannya diantaranya adalah Yahya bin Ma’in dan Ali bin al-Madiniy. Al-Hafizh ibnu Hajar dalam Taqriibut Tahdziib mengatakan bahwa Abu Ja’far itu dapat dipercaya (ثقة), jujur (صدوق). Hafalannya buruk hanya khusus dalam meriwayatkan dari Mughiroh saja. Hadits ini tidak diriwayatkan Abu Ja’far dari Mughiroh. Tetapi dari ar-Rabi’ bin Anas dari Anas bin Malik, sehingga haditsnya shahih.

    SEMUA HADITS TENTANG QUNUT SHUBUH TERUS-MENERUS ADALAH LEMAH

    Oleh
    Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
    Bagian Pertama dari Enam Tulisan 1/6

    MUQADDIMAH
    Masalah qunut Shubuh terus-menerus adalah masalah yang sudah lama dan sudah sering dibicarakan orang, sejak dari zaman tabi’in sampai kini masalah ini masih saja ramai diperbincangkan oleh para ulama, ustadz, kyai dan orang-orang awam.

    Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa qunut Shubuh itu sunnah, bahkan ada pula yang berpendapat bahwa qunut itu bagian dari shalat, apabila tidak diker-jakan, maka shalatnya tidak sempurna, bahkan mereka katakan harus sujud sahwi.

    Ada pula yang berpendapat bahwa qunut Shubuh itu tidak boleh dikerjakan, bahkan ada pula yang berpendapat bahwa qunut Shubuh itu bid’ah. Masalah-masalah ini selalu dimuat di kitab-kitab fiqih dari sejak dahulu sampai hari ini.

    Oleh karena itu, saya tertarik untuk membawakan hadits-hadits yang dijadikan dasar pegangan bagi mereka yang berpendapat qunut Shubuh itu sunnah atau bagian dari shalat, setelah saya bawakan pendapat para ulama-ulama yang melemahkannya dan keterangan dari para Shahabat ridhwanullahu ‘alaihim jami’an tentang masalah ini.

    Sebelumnya, saya terangkan terlebih dahulu beberapa kaidah yang telah disepakati oleh para ulama:

    1. Masalah ibadah, hak tasyri’ adalah hak Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    2. Pokok dasar dalam pelaksanaan syari’at Islam adalah al-Qur-an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sah, menurut pemahaman para Shahabat radhi-yallahu ‘anhum.

    3. Hadits-hadits dha’if tidak boleh dipakai untuk masalah ibadah atau untuk fadhaa-ilul a’maal, dan ini meru-pakan pendapat yang terkuat dari para ulama.

    4. Pendapat para ulama dan Imam Madzhab hanyalah sekedar penguat dari nash-nash yang sudah sah, dan bukannya menjadi pokok.

    5. Banyaknya manusia yang melakukan suatu amalan bukanlah sebagai ukuran kebenaran, maksudnya: Jangan menjadikan banyaknya orang sebagai standar kebenaran, karena ukuran kebenaran adalah al-Qur-an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sah.

    Di dalam al-Qur-an Allah berfirman:

    “Artinya : Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah ber-dusta (terhadap Allah).” [Al-An’aam: 116]

    “Artinya : Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”[Ar-Ruum: 30]

    HADITS-HADITS TENTANG QUNUT SHUBUH DAN PENJELASANNYA

    HADITS PERTAMA

    مَازَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا .

    Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Senantiasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berqunut pada shalat Shubuh sehingga beliau berpisah dari dunia (wafat).”

    Hadits ini telah diriwayatkan oleh: Imam Ahmad[1], ‘Abdurrazzaq[2], Ibnu Abi Syaibah[3], secara ringkas, ath-Thahawi[4], ad-Daruquthni[5], al-Hakim, dalam kitab al-Arba’iin, al-Baihaqi[6], al-Baghawi[7], Ibnul Jauzi[8].

    Semuanya telah meriwayatkan hadits ini dari jalan Abu Ja’far ar-Razi (yang telah menerima hadits ini) dari Rubaiyyi’ bin Anas, ia berkata: ‘Aku pernah duduk di sisi Anas bin Malik, lalu ada (seseorang) yang bertanya: ‘Apakah sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah qunut selama sebulan?’ Kemudian Anas bin Malik menjawab: ”…(Seperti lafazh hadits di atas).”

    Keterangan:
    Walaupun sebagian ulama ada yang meng-hasan-kan hadits di atas. Akan tetapi yang benar adalah bahwa hadits ini derajatnya dha’if (lemah), hadits ini telah dilemahkan oleh ulama para Ahli Hadits:

    Imam Ibnu Turkamani yang memberikan ta’liq (ko-mentar) atas Sunan Baihaqi membantah pernyataan al-Baihaqi yang mengatakan hadits itu shahih. Ia berkata: “Bagaimana mungkin sanadnya shahih? Sedang perawi yang meriwayatkan dari Rubaiyyi’, yaitu ABU JA’FAR ‘ISA BIN MAHAN AR-RAZI masih dalam pembicaraan (para Ahli Hadits):

    1. Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam an-Nasa-i ber-kata: ‘Ia bukan orang yang kuat riwayatnya.’

    2. Imam Abu Zur’ah berkata: ‘Ia banyak salah.’

    3. Imam al-Fallas berkata: ‘Ia buruk hafalannya.’

    4. Imam Ibnu Hibban menyatakan bahwa ia sering mem-bawakan hadits-hadits munkar dari orang-orang yang masyhur.”

    [Lihat Sunan al-Baihaqi (I/202) dan periksa Mizaanul I’tidal III/319.] [9]

    5. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata: “Abu Ja’far ini telah dilemahkan oleh Imam Ahmad dan imam-imam yang lain… Syaikh kami Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata kepadaku, ‘Sanad hadits ini (hadits qunut Shubuh) sama dengan sanad hadits (yang ada dalam Mustadrak al-Hakim (II/ 323-324): Tentang ma-salah Ruh yang diambil perjanjian dalam surat 7 ayat 172, (yakni firman Allah Subhanahu wa Ta’ala):

    “Artinya : Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan (keturunan anak-anak Adam) dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Rabb-mu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (ke-Esaan Allah).’”[Al-A’raaf: 172]

    (Yakni) hadits Ubay bin Ka’ab yang panjang yang di-sebutkan di dalamnya: Dan ruh Isa ‘alaihis salam termasuk dari (kumpulan) ruh-ruh yang diambil kesaksiannya pada zaman Adam, maka (Dia) kirimkan ruh tersebut kepada Maryam ‘alaihas salam ketika ia pergi ke arah Timur, maka Allah kirimkan dengan rupa seorang laki-laki yang tampan, maka dia pun hamil dengan orang yang mengajarkan bi-cara, maka masuklah (ruh tersebut) ke dalam mulutnya. Jadi, yang dimaksud adalah Isa dan yang mengajak bicara ibunya adalah ‘Isa, bukan Malaikat, padahal menurut ayat yang mengajak bicara adalah Malaikat, dalam surat Mar-yam ayat 19, Allah berfirman:

    “Artinya : Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Rabb-mu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” [Maryam: 19]

    Yang mengajak bicara bukan ‘Isa, sebab hal ini mus-tahil dan hal ini merupakan kesalahan yang jelas.

    [Periksa: Zaadul Ma’aad (I/276), tahqiq: Syaikh Syu’aib al-Arnauth, cet. Mu-assasah ar-Risalah, th. 1412 H]

    Syaikhul Islam Ibnul Qayyim berkata: “Maksud dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ialah: Bahwa Abu Ja’far ‘Isa bin Mahan ar-Razi adalah orang yang sering memba-wakan hadits-hadits munkar. Yang tidak ada seorang pun dari Ahli Hadits yang berhujjah dengannya ketika dia menyendiri (dalam periwayatannya).”

    Saya katakan: “Dan di antara hadits-hadits itu ialah hadits qunut Shubuh terus-menerus.”

    6. Al-Hafizh Ibnu Katsir ad-Damsyqiy asy-Syafi’i dalam kitab tafsirnya juga menyatakan bahwa riwayat Abu Ja’far ar-Razi itu mungkar.

    7. Al-Hafizh az-Zaila’i dalam kitabnya Nashbur Raayah (II/132) sesudah membawakan hadits Anas di atas, ia berkata: “Hadits ini telah dilemahkan oleh Ibnul Jauzi di dalam kitabnya at-Tahqiq dan al-‘Ilalul Muta-nahiyah, ia berkata: Hadits ini tidak sah, karena se-sungguhnya Abu Ja’far ar-Razi, namanya adalah Isa bin Mahan, dinyatakan oleh Ibnul Madini: ‘Ia sering keliru.’”

    8. Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany rahimahullah, seorang Ahli Hadits zaman ini berkata: “Hadits Anas munkar.” [10]

    Kemudian al-Hafizh al-Baihaqi telah membawakan beberapa syawahid (penguat) bagi hadits Anas, sebagai-mana yang dikatakan oleh al-Hafizh al-Baihaqi sendiri dalam kitab Sunanul Kubra dan Imam an-Nawawi dalam kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab. Dan riwayat-riwayatnya adalah sebagai berikut:

    HADITS KEDUA

    قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأ َبُوْبَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَان رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ (وَأَحْسَبُهُمْ قَالَ: رَابِع) حَتَّى فَارَقَهُمْ.
    أخرجه الدارقطني والبيهقي وقال: لا نحتجّ بإسماعيل ولا بعمرو

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah qunut, begitu juga Abu bakar, Umar, Utsman sampai meninggal dunia.

    Hadits ini telah diriwayatkan oleh: ad-Daruquthni[11], dan al-Baihaqi[12], kemudian ia berkata: “Kami tidak dapat berhujjah dengan Isma’il al-Makki dan ‘Amr bin Ubaid.”

    Keduanya telah meriwayatkan hadits yang kedua ini dari jalan Isma’il bin Muslim al-Makki dan Ibnu Ubaid (yang keduanya telah terima hadits ini ) dari al-Hasan al-Bashri (yang telah terima hadits ini) dari Anas (bin Malik).

    PENJELASAN PARA AHLIS HADITS TENTANG PARA PERAWI HADITS KEDUA DIATAS

    1. Isma’il bin Muslim al-Makki, ia adalah seorang yang lemah haditsnya, berikut ini keterangan para ulama jarh wat ta’dil tentangnya:

    – Abu Zur’ah berkata: “Ia adalah seorang perawi yang lemah.”
    – Imam Ahmad dan yang lainnya berkata: “Ia adalah seorang munkarul hadits.”
    – Imam an-Nasa-i dan yang lainnya berkata: “Ia seorang perawi yang matruk (seorang perawi yang ditinggalkan atau tidak dipakai, karena tertuduh dusta).”
    – Imam Ibnul Madini berkata: “Tidak boleh ditulis haditsnya …”.

    [Periksa Mizanul I'tidal I/248 no. 945, Taqribut Tahdzib I/99 no. 485]

    2. Amr bin Ubaid bin Bab (Abu ‘Utsman al-Bashri), adalah seorang Mu’tazilah yang selalu mengajak manusia untuk berbuat bid’ah.

    – Imam Ibnu Ma’in berkata, “Tidak boleh ditulis haditsnya.”
    – Imam an-Nasa-i berkata: “Ia matrukul hadits.”

    [Periksa Miaznul I'tidal III/273 no. 6404, Taqribut Tahdzib I/740 no. 5087]

    3. Hasan bin Abil Hasan Yasar al-Bashri, namanya yang sudah masyhur adalah Hasan al-Bashri.

    Al-Hafizh adz-Dzahabi dan al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Ia adalah seorang Tabi’in dan seorang yang mempunyai keutamaan, akan tetapi ia banyak me-mursal-kan hadits dan sering melakukan tadlis. Dan dalam hadits di atas, ia memakai sighat ‘an.”

    [Periksa Mizaanul I’tidal (I/527), Tahdziibut Tahdzib (II/ 231), Taqriibut Tahdziib (I/202 no. 1231), cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah]

    Dari keterangan di atas, dapat kita simpulkan bahwa hadits yang kedua di atas itu derajatnya dha’ifun jiddan (sangat lemah).

    Sehingga hadits tersebut tidak dapat dijadikan penguat (syahid) bagi hadits Anas yang pertama di atas. Dan seka-ligus tidak dapat juga untuk dijadikan sebagai hujjah.

    Seandainya saja sanad hadits itu sah sampai kepada Hasan al-Bashri, itupun belum bisa dipakai hadits terse-but, apalagi telah meriwayatkan darinya dua orang perawi yang matruk!?

    [Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]
    _______
    Footnote
    [1]. Dalam kitab al-Musnad (III/162).
    [2]. Dalam kitab al-Mushannaf (III/110).
    [3]. Dalam kitab al-Mushannaf (II/312).
    [4]. Dalam kitab Syarah Ma’anil Atsar (I/244).
    [5]. Dalam kitab as-Sunan (II/39).
    [6]. Dalam kitab Sunanul Kubra (II/201).
    [7]. Dalam kitab Syarhus Sunnah (III/124).
    [8]. Dalam kitab al-‘Ilalul Mutanahiyah (I/441) no.753, dengan lafazh sebagai berikut:

    أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى مَاتَ

    “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut pada shalat Shubuh sampai beliau wafat.”

    [9]. Lihat juga kitab Tarikh Baghdad XI/146, Tahdzibut Tahdzib XII/57.
    [10]. Lihat kitab Silsilah Ahaadits adh-Dha’iifah no. 1238.
    [11]. Dalam kitab as-Sunan: II/166-167 no. XIV/1679 cet. Darul Ma’rifah.
    [12]. Dalam kitab Sunanul Kubra: II/201

  69. jangkrik cangkruk
    Agustus 14, 2011 pukul 3:58 pm

    Anda membenci bid’ah? Aku tegaskan bangga menjadi ahli bid’ah

    Bidah itu membutakan hati,. mau bukti?
    Yang mengucapkan kata-kata diatas itu salah satu buktinya,..

    Rasulullah setiap khutbah jumat mengingatkan akan bahaya bidah ini,.. kok ada umatnya yang malah bangga menjadi ahlu bidah??

  70. Riswan Muhammad
    Agustus 14, 2011 pukul 3:24 am

    mudah2n anda yang menganggap bid’ah ibadah dapat sadar …

  71. Riswan Muhammad
    Agustus 14, 2011 pukul 3:22 am

    meskipun panjang tapi saya suka artikelnya..mudah2n ini bisa menambah ilmu dan pengetahuan mengenai bid’ah2 yang di anggap ibadah oleh masyarakat kita ..buat mas abdullah semoga anda sadar bahwa anda bahwa anda telah ada di jalan yg salah …semoga Allah memberikan petunjuk kepadamu

  72. trilegowo
    Agustus 11, 2011 pukul 8:54 am

    internet,naik motor,naik pesawat,pakek hp itu kebudayaan orang kafir brow,juga kebudayaan orang kafir,,islam melarang itu,kita harus keras dan berperang terhadap kafir,,nah loe malah ikut2an pakek,internet,motor,pesawat gak ada dalam syar’i dan jaman Rasulallah swt,,,semua muslim pada sesat dong karena mengikuti kebiasaan dan buatan orang kafir,,ntar loe kalau mau naik haji pakek onta noh,gak usah pakek hp jg yg buatan orang kafir karena itu haram,,ya kan mas bro????????

    Betul bro, tinggal kita make internetnya jangan seperti orang kafir bro, mereka internet kan buat bikin web porno, dan web rusak lainnya,.. naik motor juga jgn spt orang kafir bro, kalau org kafir kan naik motor ngga nutup aurat, malah berpose diatas motor ngga nutup aurat,.. naik pesawat juga jgn spt org kafir bro,.. pake hape juga jgn niru spt org kafir bro,.. jadi kebanyakan bro nih,…

    Tetaap jaman rasulullah lebih canggih bro,..ketika mau perang, kaum muslimin baru teriak takbir saja musuh sdh dibikin gentar,..

    bayangin, sebelum perang, musuh dah dibikin gentar, padahal rasulullah dan sahabat ada di gurun pasir, belum ada satelit bro,..

    intinya, secanggih apapun jaman ini, tdk akan ngalahin jaman Rasulullah, walaupun masih naik unta.

  73. cah pethuk
    Agustus 10, 2011 pukul 1:04 pm

    wah marem tenan maca ik!!!! aku wong bodho mas ,masih belajar aja masih jalan di tempat dr dl masih “alif” aja !! Gini mas minta tlng gmna caranya menyikapi dan bersikap di masyarakat yang mayoritas tahlilan&yasinan menjadi keutamaan ? kalo kita d undang ?

    Kalau ada acara itu, lebih baik kita menghindar saja, dengan berbagai alasan saja, kan acara tahlilan ngga setiap hari, lagian, itu kan acara maksiat, walaupun mereka nganggapnya baik..

    trus klo mendoakan orng tua yg udah meninggal gimana mas

    Mendoakan orang tua yg sudah meninggal bisa dimana saja, kapan saja, dan tidak harus dengan tahlilan,..
    Doakanlah orang tua dalam shalat kita, dalam tahajud kita, ketika sedang diijabahnya doa, seperti antara adzan dan iqamah, berdoalah utk orang tua,.. saat sujud dalam shalat, sebelum salam ketika tahiyat,..

    Dan bukan dengan cara tahlilan…

  74. adi
    Juli 21, 2011 pukul 5:25 am

    mas maap kalo keluar dari topik tapi pliss saya butuh banget penjelassannya apa maksud dari hadist ini
    ”Barangsiapa meninggalkan tempat (selubang) rambut dari mandi janabah yang tidak dibasuh, maka akan diberlakukan begini begini di neraka.” (HR Abu Dawud)

    saya tidak tahu ada dikitab apa hadits tersebut? nomer berapa haditsnya?

    apa ada hubungannya sama rambut yang rontok saat haidh wajib dicuci?

    Ngga ada rambut yg rontok saat haidh wajib dicuci,.. tidak ada perlakuan khusus terhadap rambut yang rontok, dibuang saja, atau dipendam didalam tanah tuk menghindari hal-hal yang bisa merugikan, seperti digunakan oleh dukun tuk menyihir,

  75. irvan budi s
    Juli 20, 2011 pukul 4:34 am

    alhamdullialah saya senang dengan artikel ini…mudah mudahan para ahli bidah bisa tobat………………

  76. irvan budi s
    Juli 20, 2011 pukul 4:32 am

    alhamndullilah sya senang dengan artikel ini………….mudah mudahan para ahli bidah bisa sadar,,,,dan kembali kepada sunnah…..

  77. ucoxzasmeddanru
    Juli 15, 2011 pukul 4:11 pm

    Dirumah Almarhum KH. Zainuddin MZ dilaksanakan tahlilan selama 40 hari ….. Nah eta kumaha

    Patokan kebenaran itu bukan beliau,. tapi adakah Rasulullah melaksanakan ritual tahlilan??
    Apakah Abu bakar mengadakan ritual tahlilan? Umar,utsman, juga Ali juga tidak mengadakan ritual tahlilan,..

    Imam yang empat, juga para ulama ahlussunnah, tidak ada satupun yang mengadakan ritual tahlilan,..

    Tentu, apa yang dilakukan Rasulullah, itulah kebenaran..

  78. anto
    Juli 5, 2011 pukul 6:36 am

    Saya setuju, terima kasih penjelasn detilnya…..

    Tolong dibantu bid’ah sekarang yang ada disekitar apa saja, supaya kita tidak terjerumus ?

    Silahkan pelajari apa itu sunnah, dengan sendirinya akan mengetahui mana yang termasuk bidah,..
    Datangilah kajian-kajian yang menjelaskan tentang sunnah, kalau tidak sempat, bisa dengerin radio,..
    atau lewat website, diantaranya http://www.radiorodja.com , atau http://www.kajian.net

    jika anda tinggal di jakarta, bisa simak radio rodja di 756khz AM bukan FM

  79. kukuh setya pribadi
    Juli 2, 2011 pukul 4:03 am

    Assalamualaikum…….syukron yaa akhi……di tunggu artikel yang lainnya……..

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,..
    afwan,..

  80. Abdullah
    Juni 30, 2011 pukul 8:00 am

    +Sekali lagi saya katakan Salafy tidak akan pernah bisa patahkan HujjahNya NU.Karena kami NU mempunyai kemampuan bertahan dan menyerang…..belajar lagi kitab-kitab para ulama biar lu ngerti dan paham benar dengan Agamamu.PAHAM.

    Kata siapa mas,.
    Sekarang malah kita membantah NU dari kitab-kitab rujukan NU sendiri,.
    ada i’anatut thalibin, itu kitab paforit di pesantren NU, ada safinatun najah, itu juga kitab rujukan NU,..
    mbok ya buka dong mas kitabnya,.. jangan ngandelin otot saja,. tapi otak,

    KATA GUSDUR, janganlah jadi NU ORGANISASI, tapi jadilah NU KITABI,..
    biasanya kan ucapan gusdur lebih diikuti, tuh nasehat gusdur seperti itu,..

    Sudah banyak kok orang NU tulen yg masuk salaf, mau tahu, nih, dengerin disini:
    Lulusan tambak beras jadi ustadz salafi

    Kronologis pindah ke salafi

  81. Juni 21, 2011 pukul 10:57 am

    aneh bin ajaib….yasinan alias membaca surat yasin di katakan perbuatan setan…

    ngga aneh mas, surat yasin adalah surat yang mulia,.. tapi menjadi dihinakan oleh pelaku yasinan… dan itu lebih dicintai setan…

    yang aneh bukan surat yasinnya mas, tapi pelaku yasinannanya, kurang kerjaan…

    Surat Yasin adalah Firman Allah.Jadi kalau yasinan perbuatan setan berarti membaca Al Qur’an juga perbuatan setan dong….aneh…sekalian aja nulis…di larang membaca Al Qur’an…

    Salah mas, ngga begitu logikanya, sebagaimana tahlil, tahlil adalah dzikir yang mulia, tapi ketika menjadi ritual tahlilan…. maka kalimat mulia itu menjadi dihinakan oleh pelaku tahlilan….

    dan sekali lagi, setan lebih demen kepada model2 seperti ini,…

    Jadi yg kita larang,… jangan yasinan…. jangan tahlilan…. begitu mas,.. mudah2an paham…

    • Kahar Syahrim
      Juli 18, 2011 pukul 4:28 pm

      seperti halnya ayam, tidak ada yang mengatakan ayam itu haram akan tetapi ayam itu haram jika cara penyembelihannya tidak sesuai syariat islam, sama halnya surah yasin yang di jadikan ritual(wajib) dalam tahlilan,.

      Betul, surat yasin adalah surat yang mulia, tapi jika cara mengamalkannya sebagaimana ritual yasinan, maka itu pada hakekatnya adalah menghinakan surat yasin tersebut,..

      • diyansyah
        Februari 28, 2012 pukul 11:56 pm

        eling mas eling eling eling,,,,,,….wis wiss wis wis ……..ojo koyo ngono terus….pora men wis lah…yasinan ya mono ora yasinan ya rono karep kaerepmu…tapi toh opo sih wis podo bener toh ibadahe dewe kabeh….

        mabok ya monggo, ora mabok ya luwih apik, kaya kuwe mas? wong mabok yen ditakoni, kuwe dosa apa ora, jawabane,… kuwe dosa, trus ora kepengin anake ge dadi tukang mabok,..

        takoni sing yasinan, kuwe dosa apa ora? …. ibadah koh diarani dosa, piye toh,… malah diajarna nang anake, nang bojone, karo wong rame-rame,..
        mulane, setan kuwe luwih demen karo wong sing berbuat bidah mas,.. daripada maring wong sing berbuat maksiat contone mabok, melacur,.. sebab wong-wong sing maksiat mau, kuwe sadar, yen pekerjaane kuwe dosa,.. suatu saat mungkin arep tobat,.. beda yen wong yasinan,.. dadi wong sing biasa ngamalna bidah kuwe susah tobate,.. wong ibadah koh disuruh tobat,.. piye toh mas,..

        ayam di potong ra sesuwai syariat islam dadi haram yo mas yo ..lho yasinan opo dadi harame yen baca ne bebarengan toh mas…opo toh rosulullah ngaramna baca surat yasin bebaringan toh mas……kalaupun jaremu hina yo bene lah…sing penting ra haram….tinggal di renunungi dewek dewek aakmu .

        mulane ora apik ya karena haram,.. kabeh bidah ya haram dikerjakna,. boro-boro olih pahala, malah olih dosa, karo lagi ngelecehna alquran karo ajaran Rasulullah,..

        perlu mas ngerti,.. asal hukum ibadah kuwe haram dikerjakna sadurunge ana dalil sing mrentah,..

        dadi yen yasinan kuwe ibadah, endi dalile mas,.. haditse endi,..

        dudu nggolet hadits sing melarang endi,.. kuwe mah salah.,.

        tiaphari2 ne..tingkah laku lan ibadahmu…bener2 koyo uripe koyo rosulallah ora…ngono kuwi bae kan enak toh mase..

        lha iya, yasinan kuwe ya ora kaya tuntunan Rasulullah,.. Rasulllah ora pernah yasinan nggal malem jumat,.. ora pernah bareng-bareng karo sahabat maca yasinan bareng-bareng,..
        justru dina jumat atawa malem jumat sing diajarna ding rasulullah maca surat alkahfi,
        kiye haditse
        Hadits pertama:

        مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ

        “Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada malam Jum’at, dia akan disinari cahaya antara dia dan Ka’bah.” (HR. Ad Darimi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6471)

        Hadits kedua:

        مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

        “Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470)

        Inilah salah satu amalan di hari Jum’at dan keutamaan yang sangat besar di dalamnya. Akankah kita melewatkan begitu saja [?]

        yen surat yasin, kiye

  82. Endang Yudistira
    Juni 17, 2011 pukul 11:00 am

    JIKA TAHLILAN, KENDURI ORANG MATI, 7 HARI, 40 HARI ATAU 100 HARI ITU ADALAH SUNNAH.. PASTI SUDAH DITERANGKAN OLEH RASULULLAH DALAM SETIAP HADISNYA

    betul, paling tidak kalau tidak dijelaskan oleh Rasulullah, ada banyak sahabat yang mengamalkannya,..

    tapi, lucunya….

    kenapa cuma di indonesia saja ya adanya,.. sama di negara sebelah, malasyia dan singapura,..

    Emang islam itu datang dari mana?

  83. Abu Nawas
    Juni 17, 2011 pukul 2:18 am

    Memangnya ada yang salah dengan Tradisi, ketika nilai-nilai Islami masuk ke dalamnya. Aneh orang orang sekarang kayaknya mereka sdh kebakaran jenggot kalau ada orang mau baca Yaasiiin Tahlil dan sebahagian dari ayat Quran pada saat seorang Muslim Meninggal dunia. Coba jika mereka menghabiskan energinya untuk menyadarkan saudara Seiman yang hari ini cuma ngumpul-ngumpul di gang sambil main gitar godain Cewek yang lewat. Mungkin itu jauh lebih baik energinya digunakan.
    saya Heran ini Islamisasi atau Arabisasi yang selalu digaungkan Mereka para wahabi………………….

    Bahkan, setan lebih suka kepada orang yang melakukan ritual bidah berupa tahlilan, yasinan, daripada mereka yang ngumpul di gang sambil main gitar,.

    Coba tanya ke mereka, apakah ngumpul2 di gang dan main gitar sambil godain cewek itu baik atau tidak?
    Mereka pasti menjawab, ini tidak baik,..dan seandainya mereka punya saudara atau anak, maka mereka tidak mau mereka berperilaku seperti mereka,..

    sekarang…

    Tanya orang yang tahlilan, yasinan,..
    apakah ini sebuah kejelekan?
    Mereka bakalan marah, kalau itu semua dianggap kejelekan,.. mereka menganggap itu semua adalah ibadah, untuk meraih kecintaan allah, padahal Allah semakin murka dengan ulah mereka,..

    Begitulah, para pelaku maksiat seperti perampok, pelacur, koruptor, maling, garong, mereka menyadari kalau perbuatan mereka itu salah,.. dan suatu saat ingit taubat, dan mereka tidak ingin ada keluarganya punya profesi seperti itu,..

    Kalau yg hobi tahlilan, yasinan,… sungguh mereka menganggap itu semua adalah ibadah, kebaikan, bahkan mereka mengajarkannya kepada orang2, kepada keluarga mereka,…

    sungguh setan telah membuat tipu daya terhadap mereka,..

    • iman
      Januari 1, 2014 pukul 6:48 pm

      wah hebat juga ini sudah jd rasul, malaikat, atau ……

      Ada kisah nih mengenai habib Usman Alm pemilik Pesantren Assalam Sasakgantung Bdg. Ketika belia sedang ngawuruk selalu didatangi oleh ustaz dr pesantren yg berdekatan yaitu yg di jln Pajagalan Bdg .

      Ustaz itu mau berdebat ttg tahlilan yg menurutnya bahwa amalan tahlilan itu tdk akan sampai kepada ahli kubur dan itu bid’ah. Singkat cerita akhirnya Yang mulia Habib Usman membawa ustaz itu ke komplek pemakaman yg didekatnya yang di karanganyar itu.

      Si ustaz itu dibawa ke sisi kuburan lalu oleh Pa Kiayi tiu kepalanya di dagorkeun kan taneuh kuburan. Apa yg terjadi. Ternyata breh teh kelihatan oleh ustaz tersebut keadaan dialam kubur dan sampainya doa orang yang tahlilan kpd ahli kubur dan berbahagia mereka. Sampai akhirnya si ustaz itu pingsan bakat ku reuwas.

      akhirnya lagi si ustaz itu percaya bahwa amalan tahlilan itu sampai maka jadilah ia sebagai seorang tukan tahlilan. Demikian guru saya meriwayatkan. Walloohu a’lam

      Wah, bagus sekali banyolan gurumu itu jang, he..he..he.. sudah melebihi nabi dan rasul,
      Kuburan bukan alam kubur jang, alam kubur tidak ada satu orangpun yang mengetahui, itu alam ghaib,
      Rasulullah ketika istrinya meninggal, tidak pernah ngadain tahlilan kematian,
      Rasulullah ketika anaknya meninggal, tidk pernah ngadain tahlilan kematian
      Rasulullah ketika para sahabatnya ada yang meninggal, tidak pernah ngadain tahlilan kematian,
      Rasulullah tidak membela ritual tahlilan kematian, boro-boro mbela, wong ngajarin juga tidak,
      Demikian pula Abu bakar,umar,utsman,ali,. mereka tidak ada satupun yang mengadakan tahlilan kematian,
      Tidak pula imam abu hanifah,malik,syafii,ahmad, mereka tidak ngadain tahlilan kematian,

      Lalu tahlilan kematian itu ikut tradisi siapa, ada dimana?
      Ternyata ritual tahlilan kematian itu asli buatan orang indonesia,. hebat kan, .. orang indonesia itu jago modifikasi kang, bukan mobil saja yang dimodifikasi, ajaran islam pun dimodifikasi,.

      Jika kang iman ngga percaya, silahkan datangkan satu dalil saja tentang ritual tahlilan kematian, ikuti kuisnya, dan dapatkan hadiahnya, lumayan besar kang hadiahna, sok geura ikutan,.. aya di dieu kang kuisna, mangga ikutan

  84. ratno
    Juni 3, 2011 pukul 2:05 pm

    bahwa kenduri di hari ke ….,….,…..adalah ajaran agama hindu yang tertulis di kitab wedha. sudah ada di web, bisa disearch di google.

    Apakah bisa dihukumi sebagai mencampurkan hindu dan islam?.

    Betul, bahkan ini pengakuan orang hindu sendiri, ada video orang hindu yang masuk islam, lalu ngejelasin semua itu,.. kok ini ajaran hindu ada di islam,..

    wajar mas,..

    Dulu kan indonesia kebanyakan penganut agama hindu dan budha, lalu datanglah orang yang mendakwahkan islam dengan cara yang salah, yaitu mencampurkan ajaran hindu ke dalam islam dengan tujuan supaya orang hindu itu masuk islam,… setelah masuk islam, eh… tidak dijelaskan bahwa itu tdk ada dalam islam,..

    Makanya, jika berdakwah tidak dengan cara berdakwahnya Rasulullah, maka hasilnya seperti ini,..

    Banyak tradisi yang bukan dari islam, lalu dianggap sebagai ajaran islam,…

    Jika mereka berdakwah sebagaimana dakwahnya Rasulullah , dakwahnya para sahabat, maka tidak seperti ini jadinya,..

    Sudah jelas, mana ajaran Rasulullah, mana yang bukan,…

  85. hasan
    Mei 27, 2011 pukul 7:02 am

    mas, ada banyak hadist tentang keutamaan surat al waqi’ah, namun hadist-hadist itu terdapat cacat pada sanadnya, hingga dinyatakan sbg hadist lemah. yang mau saya tanyakan, bukankah hadist lemah apabila diriwayatkan dari banyak jalan atau terdapat hadist lain yang menguatkannya, maka hal itu bisa membuatnya menjadi hadist yang boleh diterima?

    baca disini ya, http://fitrahfitri.wordpress.com/2009/04/07/surat-al-waqiah-memperbanyak-rizki/

    • Abdullah
      Juni 30, 2011 pukul 1:44 am

      hadist lemah tetap bisa di amalkan karena itu adalah ucapan nabi juga..Rasulullah SAW bersabda : “Sungguh dusta atasku tidak sama dengan dusta atas nama seseorang, barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku maka ia bersiap siap mengambil tempatnya di neraka” (Shahih Bukhari hadits no.1229),

      Abdullah, ngerti arti hadits lemah atau tidak ya abdallah?,..

      Namanya hadits lemah, ya itu bukan ucapan Rasulullah, kalau itu ucapan Rasulullah,itu namanya hadits shahih,.. lucu ya,..

      Hadits yg anda bawakan, itu ancaman bagi orang yang menyampaikan hadits lemah, ia diancam dengan berdusta atas nama Rasulullah,..
      Lucu sekali, memang betul, seandainya berbicara dengan orang yang ngga ngerti ilmunya, maka akan keluar keajaiban-keajaiban dunia,..

      Cobalah anda bayangkan, mereka yang melarang beramal dengan seluruh hadits dhoif berarti mereka melarang sebagian ucapan / sunnah Rasul saw, dan mendustakan ucapan Rasul saw.

      Lebih lucu lagi, ini komentar orang yang jahil murakkab, dungu lagi bodoh,..

      Ketahuilah, bahwa hukum hadits dan Ilmu hadits itu tak ada di zaman Rasulullah saw, ilmu hadits itu adalah bid’ah hasanah, baru ada sejak Tabi’in, mereka membuat syarat perawi hadits, mereka membuat kategori periwayat yang hilang dan tak di kenal, namun mereka sangat berhati hati karena mereka mengerti hukum, bila mereka salah walau satu huruf saja, mereka bisa menjebak ummat hingga akhir zaman dalam kekufuran, maka tak sembarang orang menjadi muhaddits, lain dengan anda ini….yang dengan ringan saja melecehkan hadits Rasulullah saw.

      mas, seandainya kita hidup di jaman Rasulullah, ia, betul,..
      Alquran dulu ngga ada titiknya, tidak ada harakatnya,..
      Tidak ada ilmu nahwu
      tidak ada ilmu sharaf
      tidak ada ilmu hadits,..

      kok anda lucu sekali, dulu tidak ada hadits, tapi yang anda bawakan kok hadits?

      Dan Allah akan menjaga alquran, juga hadits,..

      Sesungguhnya Allah menurunkan alquran dan alla pula yang akan menjaganya,..
      Allah akan menjaga alquran, dan juga hadits2, karena hadits2 juga itu hakekatnya dari Allah,..

      • Abdullah
        Juni 30, 2011 pukul 7:56 am

        Mengapa anda delete koment2 saya yang lain…anda memilah-milah koment…anda takut ya…kedustaan anda tercium juga…..siapa bilang hadits lemah itu bukan ucapan Rasulullah…belajar dari mana anda ini sok ngerti agama…

        kenapa di delete? karena ngga mutu sama sekali, menuh-menuhin saja,
        hak saya dong tuk ngelolosin komentar atau tidak, bukan takut,

        kalau komentar anda mengandung kebenaran, ya akan saya loloskan, kalau isinya sampah, ya saya masukin ke tong sampah lah,..

        jika diskusi dengan orang yg bodoh terhadap ilmu agama, yang akan keluar dari mulutnya adalah KEAJAIBAN-KEAJAIBAN DUNIA,…

        kok ada ucapan seperti ini : ….siapa bilang hadits lemah itu bukan ucapan Rasulullah…

        Ustadz atau guru antum yg paling bodoh saja mungkin tidak mengucapkan kata-kata seperti ini,..

      • Abdullah
        Juni 30, 2011 pukul 10:12 pm

        Sesungguhnya Allah Akan tetap menjaga Al Qur’an dan Hadits dari tangan-tangan jahil menjahilkan seperti ==deleted== ini…sampai jumpa nanti …..

        Betul mas, akan selalu ada kelompok yg akan menjaga quran dan sunnah ini, ini adalah yg disampaikan Rasulullah,.. dan janji Allah, bahwa Allah akan menjaga alquran dan sunnah ini,..

      • Tommi
        Juli 1, 2011 pukul 2:50 am

        mas Abdullah, dr kemarin2 saya perhatikan anda komen tp ngawur semua. Apa sih mas definisi hadits lemah/dhoif itu? dan apa saja macam2 hadits dhoif itu?

        Saya pengen tau nih soalnya kok anda mengatakan “karena itu adalah ucapan nabi juga”. Enak sekali anda berkata itu.

        Klo memang hadits dhoif adalah ucapan nabi juga, berarti percuma dong para ulama hadits semisal Imam Bukhori dan Muslim berusaha keras memisahkan hadits2 dhoif dari kitab2 shohihnya dan percuma jg para imam semisal Ibnu Abi Hatim merumuskan kriteria jarh wa ta’dil dalam kitabnya untuk memisahkan mana perawi tsiqoh mana perawi dhoif/matruk?

        Coba mas, anda buka buku ushul al hadits karya Prof. Syaikh Muhammad Ajaj Al Khattib, perhatikan penjelasan beliau mengenai ulama2 yg membolehkan beramal dengan hadits2 dhoif semisal Imam Nawawi, Ibnu Hajar Al Asqolani yaitu dengan syarat ada hadits shohih/hasan yg mendahuluinya atau dhoifnya bukan dhoif banget atau tertuduh hadits palsu. Adakah syarat2 itu diperhatikan oleh org2 skrg yg membolehkan beramal dengan hadits dhoif?

        Tidak ya akhi, bahkan saking tasahulnya (bermudah2an) mereka akhirnya mereka beramal dengan hadits palsu karena spt anda, mereka menyangka hadits dhoif/palsu itu adalah ucapan Rasulullah juga.

        Ini sungguh suatu kecelakaan yg besar bagi umat. Tidakkah anda perhatikan hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yg anda bawakan di awal komen anda itu?

        Berhati2lah akhi, sungguh masalah ini tidak bisa dibawa bermudah2an karena neraka ancamannya. Na’udzubillahi min dzalik.

        Jazakallahu khairan akhi, memang orang yg satu ini sungguh aneh, keminter kalau istilah basa jawanya,..
        Banyak komentarnya yg aneh-aneh bin ajaib yg ana masukan ke spam aja, ngga mutu,..

        Memang benar akh, jika diskusi dengan orang yang ngga ngerti masalah agama, maka yang akan keluar dari mulutnya adalah keajaiban-keajaiban dunia,..

      • Abdullah
        Juli 9, 2011 pukul 6:52 am

        apa…anda katakan guru saya paling bodoh….sungguh penghinaan ..masya Allah smoga Allah mengampunimu wahai wahabi.

        Amiin, mudah-mudahan Allah mengampuni orang-orang yang menjalankan sunnah, walaupun disebut sebagai wahabi,..

        Guru saya adalah Habib Munzir Almusawa lulusan dari Darulmustafa pimpinan Al Allamah Al Habib Umar bin Hafidh Tarim Hadramaut, Yaman. Anda katakan dia guru paling bodoh….

        Saya tidak mengatakan pak habib guru paling bodoh koq, baca yg jelas dong mas,..

        Emang yang dipelajari pak habib apa disana?
        Rasulullah, para sahabat, thabi’in, dan para ulama, mereka tidak merayakan maulid nabi, kok bapak habib gemar sekali ngadain maulid,..
        Emangnya beda ya, apa yg dipelajari oleh bapak habib?

        Pimpinan Majlis Rasulullah….mas…kalo sudah begini…bahaya…sekali-kali mas main-main ke blognya Majlis Rasulullah biar lu… jangan sombong dengan ilmu anda.Wassalam

        pimpinan bukan majlis Rasulullah, wong ajaranya menyelisihi ajaran rasulullah,.

        Majlis rasulullah bukanlah majllis yg mengajarkan ajaran bidah, syirik,..

        Majlis Rasulullah adalah majlis yang mengajarkan quran dan sunnah menurut pemahaman para sahabat,..

        Ngga ada apa-apanya mas blognya,.. isinya ajaran-ajaran yang bukan berasal dari rasulullah, bahkan menyelisihinya,..

        Sudah sepantasnya kaum muslimin tidak usah membaca blognya, nanti jadi goblog terhadap sunnah, dan pinter mengerjakan bidah,..

  86. abu yazid
    April 28, 2011 pukul 8:22 am

    Alhamdulillah apa saya yang pertanyakan mendapat jawaban dari pengasuh blog ini.
    Baiklah akan saya jawab,,, hukum dasar semua ibadah adalah untuk mencari keridhaan Allah.

    Yang benar, hukum asal semua ibadah itu adalah haram, sebelum ada dalil yang memerintahkannya,
    Jadi untuk meraih ridha Allah, harus dengan apa yang diperintahkannya,… bukan dengan cara-cara sendiri, yang itu dianggap dapat mendekatkan diri kepada Allah,

    Ada yang bersifat wajib, sunat, mubah, harus dan lainnya. Mungkin saudara lebih tahu daripada saya.

    itu menurut ushul fiqih mas, tapi kalau ditinjau dari sisi akidah beda lagi,..

    Apa yang saudara tanyakan kepada saya, apakah amalan ini lebih baik dari amalan Rasulullah langsung saya jawab TIDAK. Siapapun orangnya tidak akan mampu menyamai apalagi melebihi amalan Rasulullah, karena bila ada orang yang mengaku sampai melebihi amalan Rasullullah berarti dia menganggap dirinya lebih baik dari Rasulullah. Mengenai anjuran untuk memperbanyak Tasbih, Tahmid, Takbir, Tahlil dan lainnya mungkin banyak kita temukan dalam hadits-hadits shahih, jadi tidak benar apabila amalan-amalan itu tidak mengikut kepada Rasulullah.
    Mungkin yang dimaksud dengan Rasulullah tidak pernah melakukan itu adalah kegiatan mengumpulkan orang-orang utk mengajak ber-tahlilan. Jujur saya juga tidak hafal hadits dan mungkin kurang mengerti banyak masalah khilafiyah,, tetapi saya pernah membaca riwayat bahwa Nabi pernah melewati sekumpulan orang-orang yang berzikir dan menyebutkan bahwa yang dilewati adalah kebun-kebun surga,, artinya Nabi tidak melarang orang berkumpul untuk melakukan zikir (tahlil).

    Darimana dzikir disana diartikan tahlil? bukan itu, majlis dzikir bukanlah majlis yang dilakukan dzikir-dzikir saja, majlis dzikir yang dimaksud adalah majlis ilmu, dimana disitu dijelaskan tentang kandungan alquran, kandungan hadits,.. bukankah ada firman Allah, Inna nahnu nazzalna dzikra wainna lahu la haafidzuun?? apa makna dzikra disini? apakah dzikir2 ? bukan…

    Sedangkan untuk ibadah yang wajib saya kira semua sudah tahu rukun dan syaratnya. Salah kalau saudara mengumpamakan dengan shalat wajib karena sholat wajib sudah ada aturan “baku” yang tidak bisa dilanggar, karena kalau dilanggar batal lah sholatnya. Termasuk tatacara ruku dan sujud apabila melebihi hitungan yang sudah diwajibkan maka juga batal sholatnya. Bukan memperbanyak ruku dan sujud tetapi memperbanyak rakaatnya apabila sholat sunat akan menambah pahala bagi yang mengerjakannya. Saya kira saudara lebih tahu itu.

    Dzikir juga sama mas, ada yang sudah ada aturan bakunya, dan ada yang terserah, itu dalam hal bilangan dan waktu,.. ada dzikir yang terikat dengan waktu dan bilangan, ada yang tidak,..
    Termasuk sebuah kesalahan, jika menganggap dzikir itu tidak ada aturan bakunya,..

    Trus yang diundang saya kira tidak ada kewajiban bahwa semua tamu itu mesti fakir miskin,, yang jelas orang-orang terdekat/tetangga sekalian menyambung silaturahmi sesama muslim. Dan saya kira tidak ada orang-orang yang main kartu setelahnya.

    fakta tidak semuanya tidak main kartu, apalagi kalau dikampung-kampung..

    Saya lebih senang dalam urusan ibadah menyebutnya, kita harus berilmu dulu baru beribadah, bukan nunggu dalil dulu baru beribadah. Misal kita mau sholat wajib nunggu dalil dulu baru beribadah, sudah tahu dalilnya apakah sholatnya dapat dikerjakan? Tidak kan? harus tahu dulu rukun, syarat, batal dan tatacara yang berhubungan dengan sholat itu. Disitulah kita disuruh untuk selalu menuntut ilmu sampai ke liang lahat.

    Mas, dalilnya sudah ada mas, tinggal mau atau tidak menggali dalil tersebut, dengan cara ya thalabul ilm, ngaji kitab para ulama,
    Nunggu dalil disini bukan berarti nunggu dalil sampai tahu, baru melakukan shalat,… tapi wajib belajar, agar bisa seperti shalat yang diajarkan oleh Rasulullah..

    Benar apa yang disampaikan oleh Imam Asy-Syatibi tentang definisi bid’ah. Tetapi mungkin yang saudara perlu tahu bahwa tidak selamanya bid’ah itu buruk/sesat. Ada juga bid’ah hasanah (baik) yang bahkan sampai “mendekati” derajat sunah.

    Cukuplah apa yang sering diulang-ulang oleh Rasulullah dalam setiap memulai kajian,
    setiap bidah adalah sesat, dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka…. apakah ketegasan Rasulullah ini kurang jelas??

    Kita harus ingat bahwa pengumpulan Alquran menjadi sebuah kitab adalah bid’ah yang menyelamatkan umat islam.

    Kata siapa pengumpulan Alquran adalah bidah?
    Jika itu bidah, ya,.. bidah secara bahasa, bukan secara istilah..
    Dan itu dilakukan oleh khulafaur rasyidin, dan mereka sudah mendapatkan rekomendasi oleh Rasulullah, jadi dari mana segi bidahnya??

    Seandainya tidak dikumpulkan niscaya kita umat islam sekarang tidak akan mengenal ayat ayat Allah. Sedangkan Nabi semasa beliau hidup tidak pernah untuk memerintahkan pengumpulan Alquran dalam satu kitab/mushaf.

    Pengumpulan alquran adalah ijma para shahabat, dan tidak akan mungkin mereka bersatu dalam kesesatan,..

    Kita juga harus ingat jasa-jasa para ulama yang mengumpulkan hadits-hadits dan menyusunnya kedalam tingkatan-tingkatan yang sudah disepakati para ulama ahli hadits. Semua itu adalah BID’AH,, saya yakin saudara mengetahuinya tetapi kenapa saudara tidak menyalahkan hal itu?? Karena saudara tahu bahwa itu bersifat hasanah, membawa kebaikan bagi seluruh umat islam.
    Memang dalam masyarakat kita masih banyak yang mengerjakan perbuatan bid’ah yang sepintas menjurus kepada kesesatan, tapi jangan dulu cepat-cepat divonis bahwa mereka itu sesat/syirik hanya karena perbuatan itu tidak ada dilakukan pada zaman Rasulullah.

    Sekali lagi, sesuatu itu ada lawannya,…. lawan dari wajib adalah tidak wajib, lawan dari sunnah adalah bidah,, dan lawan dari bidah hasanah???

    Maaf, bukan saya bermaksud menggurui karena saya tahu saudara lebih berilmu menilik isi dari blog ini. Hanya bermaksud sekedar memberikan “wacana” bahwa tidak selamanya bid’ah itu buruk/sesat.
    Makasih

    terima kasih telah menuliskan wacana anda disini,

    Dan Rasulullah mengatakan

    JAUHILAH PERKARA-PERKARA YANG BARU
    KARENA PERKARA-PERKARA YANG BARU ITU ADALAH SESAT
    DAN KESESATAN ITU TEMPATNYA DI NERAKA

    kita berlindung dari melakukan kebidahan…..

    • Ismell SePuluh JaNuari
      Juli 4, 2011 pukul 4:13 pm

      Penjelasan dari Hadist di atas adalah secara semantik (lafdzy), kata kullu dalam hadist di atas tidak bermakna keseluruhan Bid’ah (kulliyah) tapi Kullu yang bermakna sebagian dari keseluruhan (juz’iyah) saja, jadi tidak seluruh Bid’ah sesat karena ada juga yang hasanah.

      Memahami istilah bahasa arab itu tidak cukup kalau bermodalkan bahasa arab saja, tapi juga harus dari sisi syar’i, dan akidah yang benar,..

      sebagaimana komentar Imam Syafi’i dalam kitab (Fath Al-Barri)
      ” sesuatu yang di ada-adakan (dalam Agama) ada dua :
      – sesuatu yang di ada-adakan (dalam Agama) bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah, Perilaku Sahabat atau Ijma’ maka Haram.
      Adapun sesuatu yang di ada-adakan (dalam Agama) tidak menyalahi Al-Qur’an, Sunnah, Perilaku Sahabat atau Ijma’, maka sesuatu itu tidak tercela (baik)

      Apa yg disampaikan diatas adalah benar, dan kesimpulannya bahwa tidak ada bidah hasanah,.. semua bidah itu sesat, walaupun sebagian orang menganggapnya baik,

      Apakah yg disebut sebagai bidah hasanah, yg dilakukan oleh kaum muslimin di indonesia, seperti yasinan,tahlilan,maulidan,dll itu tidak menyalahi Al-Qur’an, Sunnah, Perilaku Sahabat atau Ijma’???

      tolong jawabannya,… jika berdalil dengan perkataan imam syafii diatas,..

    • Kahar Syahrim
      Juli 18, 2011 pukul 4:45 pm

      mungkin yang perlu kita ketahui supaya tidak ada perdebatan ialah : hablun minannas: mengerjakannya dengan tidak mengerjakan larangannya serta hablun minallah: mengerjakannya dengan sesuai petunjuknya(alquran dan al-hadits)

      artinya janganlah kita yakin baru mencari dalilnya malah sebaliknya carilah dalilnya baru kita yakin apa yang kita kerjakan
      wassalam

      Jazakallahu khairan katsiran..

  87. abu yazid
    April 26, 2011 pukul 2:17 am

    ” Kalau seandainya hukumnya Mubah, maka untuk apa dikerjakan, sebab ia tidak mempunyai nilai (tidak ada pahala dan dosa, kalau dikerjakan atau ditinggalkan). Sudah buang-buang uang dan buang-buang tenaga, tetapi tidak ada nilainya.”

    Maaf mas,, saya tidak sependapat dengan anda. Di dalam tahlilan kita biasa membaca ayat-ayat suci Al Qur’an disambung dengan surah-surah pendek, kita semua tahu bahwa membaca Al Qur’an pahalanya dihitung huruf per huruf dan dilipatgandakan pahalanya sesuai dengan keadaan waktu membaca,, lalu dimana alasan tidak ada nilainya??

    Betul mas, ada pertanyaan buat mas,. Apakah mas melakukan semua itu untuk mendapatkan ridha Allah?
    Apakah mas melakukan semua itu untuk mengharapkan pahala dari Allah, dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah?

    Perlu mas ketahui, Rasulullah tidak pernah melakukan apa yang mas kerjakan, atau menganjurkan umatnya untuk melakukan hal-hal diatas,

    Apakah mas bisa mendekatkan diri kepada Allah, meraih ridha Allah, dengan cara-cara yang mas lakukan?
    Apakah mas menganggap amalan mas itu lebih baik dari amalan Rasulullah?
    Rasulullah saja tidak mengamalkan amalan seperti yg mas lakukan?

    Mudah-mudahan dengan paparan saya diatas, mas bisa menilai sendiri, apa yang salah dalam ritual tahlilan,..

    Kita jg biasa membaca tasbih,, sedangkan membaca tasbih merupakan amalan yg dapat memberatkan pahala pada waktu ditimbang di akhirat nanti,,,lalu dimana alasan tidak ada nilainya??

    Baiklah mas, sekarang saya kasih perumpamaan lagi,
    Apa yang mas katakan, jika ada orang yang melakukan shalat magrib 6 rakaat,
    Alasan orang tersebut adalah, ingin meraih ridha Allah, kan tiap rakaat yang dibaca alquran juga, jadi bacaan alqurannya bisa lebih panjang, lebih banyak, apakah itu boleh? Ruku dan sujudnya lebih banyak juga, bukankah memperbanyak ruku dan sujud kepada Allah adalah kebaikan?
    Jika boleh, apa alasannya?
    Jika tidak boleh, apa alasannya?

    Biasa jg tamu-tamu yg datang dijamu dengan makan dan minum sehingga mereka pulang dengan keadaan kenyang dan puas. Bersedekah dengan makanan dan minuman jg menyenangkan hati sesama muslim bukankan perbuatan yang dianjurkan? lalu dimana alasan tidak ada nilainya??

    Mas, jujur saja mas, apakah yang dijamu dalam acara tahlilan itu orang-orang fakir miskin?
    Jika mas jujur, setelah selesai acara tahlilan, akan diteruskan terkadang dengan main kartu, belum lagi di acara tahlilan disajikan barang haram, seperti rokok,..

    Buat pegangan mas,.. hukum asal ibadah ini adalah haram, sebelum ada dalil yang memerintahkannya,
    Jadi, dalam urusan ibadah, nunggu dalil dulu, baru beramal, bukan beramal dulu, baru cari-cari dalil,..

    saya nukilkan pertanyaan berikut:
    Pertanyaan:

    Saya sering mendengar ustadz bicara tentang bid’ah. Apa sih definisi bid’ah dan contoh nyatanya di masyarakat sekarang?

    andiga putra

    Jawaban:

    Bismillah. Imam Asy-Syatibi dalam kitabnya, Al-I’tisham, memberikan definisi bid’ah, sebagai berikut,

    طريقة فيالدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله

    “Jalan dalam meniti kehidupan beragama, yang jalan itu merupakan sesuatu yang dibuat-buat dan menyerupai syariat, dan dia dilaksanakan dengan tujuan memperbanyak ibadah kepada Allah.”

    Contoh nyata bid’ah adalah tahlilan dan peringatan kematian. Jika ditilik dari definisi di atas maka perbuatan ini termasuk bid’ah, dari beberapa sisi:

    1. Tahlilan merupakan jalan dalam meniti agama. Karena itulah, acara ini dilakukan terus-menerus.
    2. Dibuat-buat; karena acara ini tidak memiliki landasan dalil.
    3. Menyerupai syariat; dalam acara ini ada aturan tertentu yang tidak boleh dilanggar, saperti: bacaan, urutan bacaan, dan rangkaian acara lainnya.
    4. Dilaksanakan untuk tujuan memperbanyak ibadah kepada Allah; semua orang yang mengikuti acara ini sepakat bahwa tujuannya adalah ibadah, mencari pahala.

    Jika memenuhi definisi di atas, berarti tahlilan dan acara kematian termasuk bid’ah. Untuk kasus bid’ah yang lain, Anda bisa menggunakan definisi dari Imam Asy-Syatibi di atas.

    Semoga bermanfaat.

    Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits, dari Dewan Pembina Konsultasi Syariah.
    Artikel http://www.KonsultasiSyariah.com

    • jhon ryan
      Mei 27, 2011 pukul 5:21 pm

      betul mas Abu Yazid semua Ayat-ayat Al-quran itu haq dari Allah, Al-ikhlas, Al-falaq,An-Nas, Al-fatihah dan seterusnya yang di bacakan di dalam ritual tahlilan itu haq punyanya Allah. tapi apakah pantas yang haq tu di campuradukan dengan yang batil.
      firman Allah: Janganlah kamu campurkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui.” (Surah al-Baqarah, ayat 41-42)
      Sabda Rasulullah SAW:”faman tasyabbah biqaumin fahuwa minhum” artinya barang siapa yang bertasabbuh(menyerupai) suatu kaum maka ia bagian darinya”. (hadits riwayat Imam Abu Daud)

      “Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. At-Tirmidzi).

      sedikit berbagi pengalaman,
      saya dulunya sama kaya mas abu Yazid suka tahlilan tapi saya selalu mencari Al-Haq ternyata dalil yang saya dapat tentang acara kematian bukan di Al-Quran dan Assunnah tapi adanya di kitab imannya umat hindu, mas Abu yazid boleh cek kalau mas benar-benar ingin mencari kebenaran karena kita semua sepakat kalau kebenaran itu satu datangnya dari Allah SWT, beda kalu mas Abu Yazid mau mencari pembenaran, karena pembenaran tu umumnya orang banyak.

      Mas Abu yazid saudaraku orang kafir sulit sekali masuk Islam tapi ada yang lebih sulit lagi mas yaitu mengislamkan orang islam di Negeri ini karena kebanyakan umat islam di negeri ini masih banyak mengadopsi ritual-ritual keyakinan nenek moyang kita. yang kita semua tau bahwa dulu nenek moyang kita itu dulunya beragama hindu. firman Allah:Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.{al-Baqarah 170}

      berikut saya nukilkan dalil- dalil tentang di larangnya bid’ah:

      “Pada hari ini Aku telah sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku untukmu, serta telah Aku ridlai Islam sebagai agamamu”(QS.V:3 Al-Maidah)
      1.Berkata Imam Malik bin Anas:”Siapa saja mengada-ada suatu bid’ah dalam islam serta memandangnya baik–sungguh ia telah mengira,menyangka bahwa Muhammad telah mengkhianati risalahnya, karena Allah telah berfirman:Pada hari ini, Aku telah sempurnakan untukmu agamamu…”,maka apa-apa yang saat itu(zaman Nabi) bukan agama, saat ini pun bukan agama.
      2.Dari Anas ra. Ia berkata:”Telah bersabda Rasulullah’Apabila ada sesuatu urusan duniamu, maka kamu lebih mengetahui. Dan apabila ada urusan agamamu, maka rujuklah padaku(HR.Ahmad). Jadi bukan rujuk kepada guru atau madzhab, tidak pula kepada tempat/akal dan perasaan ataupun tradisi nenek moyang, karena Allah telah berfirman:”Dan apa bila dikatakan kepada mereka,”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”,mereka menjawab,”(Tidak),tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari(perbuatan) nenek moyang kami”.”(Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun dan tidak mendapat petunjuk?”(QS.2:170 Al-Baqarah).

      PERINTAH AGAR BERPEGANG TEGUH KEPADA QUR’AN DAN SUNNAH
      “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah, dan taatlah kamu kepada Rasul dan pemimpin-pemimpin kamu, apabila kamu saling berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikan perkara itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu sebaik-baik dan sebagus-bagus akibat”.(QS.IV:59 An-Nisa).
      1.Dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata:”Sesungguhnya Rasulullah khotbah dihadapan orang-orang pada waktu haji wada. Beliau bersabda:”Sesungguhnya syetan telah berputus asa untuk disembah di negerimu, akan tetapi ia ridla untuk ditaati dalam hal-hal selain itu dari apa-apa yang kamu anggap sepele(bid’ah). Maka hati-hatilah kamu. Sesungguhnya aku telah meninggalkan suatu bagimu, jikalau kamu berpegang teguh dengannya, maka kamu tidak akan sesat selamanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya”.(HR Al-Hakim: At-Taghib I:60).
      2. Dari Abu Huraerah ra. Ia berkata:”Rasulullah bersabda:”Islam bermula asing, dan akan kembali asing sebagaimana semula. Maka beruntunglah mereka yang terasing. Dalam riwayat lain ditambahkan Rasulullah ditanya,siapakah mereka yg terasing itu, beliau menjawab:”Orang-orang yang tetap berbuat baik dikala moral manusia telah rusak”, dan dalam satu riwayat lain:”sesungguhnya Rasulullah ditanya tentang Al-Giurabaau, maka Rasul menjawab”Yaitu orang-orang yang menghidupkan apa yang orang lain matikan sunnahku”.(HR.Muslim).
      SEBUAH PERINGATAN BAGI PERBUATAN BID’AH
      1. Dari Jabir bin Abdillah ra, Ia berkata:”Adalah Rasulullah saw. Manakala khuthbah, merah kedua bola matanya, lantang suaranya–nampaknya marah–seolah-olah ia sedang menyiagakan pasukan tentara. Beliau bersabda:”Amma ba’du sesungguhnya sebaik-baik perkataan ialah Kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, sejelek-jelek urusan adalah perbuatan bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat”.(HR.Muslim).
      2.Dari Irbadl bin Saariyah ra. Ia berkata:”Bersabda Rasulullah:”Aku wasiatkan kepadamu agar taqwa terhadap Allah, patuh serta taat kepada pemimpin sekalipun dia orang habsyi. Sungguh siapa saja yang hidup di antaramu setelahku, akan meliiat bnyak sekali perselisihan. Hendaklah kamu pegang teguh sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk. berpegang teguhlah terhadapnya dan genggamlah sunnahku itu dengan gigi gerahammu. Hendaklah kamu berhati-hati terhadap perkara yg diada-adakan, karena setiap yg diada-adakan itu bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat”.(HR.Ahmad).
      3.Dari Abu Bakar Shiddiq ra. ia berkata:”Rasul bersabda bahwa iblis berkata:”Aku membinasakan manusia dengan dosa, mereka membinasakanku dengan istighfar. karena aku melihat hal itu, aku binasakan mereka dgn keinginan melakukan pekerjaan bidah, agar mereka mengira mereka mendapat petunjuk yg benar, maka akibatnya mereka tidak memohon ampun kepada Allah”.(HR.Ibnu Abi Ashim).
      4.Dari Sahl bin Sa’ad, ia berkata:Nabi bersabda”Aku mendahuluimu di sebuah telaga. Siapa yanh lewat pasti minum, siapa yg minum tidak haus selama-lamanya. Sungguh akan datang padaku satu kaum yg aku kenal mereka dan mereka kenal aku, kemudian dihalangi antara aku dengan mereka…maka aku berkata “Ya Allah mereka adalah umatku–kemudian dikatakan–engkau tidak tahu apa yg mereka ada-adakan setelahmu. Aku (nabi) berkata:”jauh! jauhlah bagi orang yg mengubah agama setelahku”.(HR.Bukhari).
      5.Dari Anas ia berkata:Rasulullah bersabda:”siapa yg menipu terhadap umatku maka baginya laknat Allah,malaikat dan semua manusia. Rasulullah ditanya:”Wahai Rasul apakah gisy itu? Beliau menjawab:”mengada-ada bid’ah dan mengamalkannya”.(HR.Daruquthni).
      6.Dari Aisyah ra. ia berkata: Rasulullah telah bersabda:”siapa yg mengada-ada dalam urusan kami (agama) yg tidak ada perintah dari kami, itu pasti ditolak”.(muttafaq alaih).
      7.Ibnu Abbas telah berkata:”Hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah, dan berlaku istiqamai. Ikutilah apa yg diperintahkan Allah dan Rasul, jangan mengada-ada”.

      PENGERTIAN BID’AH Bid’ah adalah urusan agama yg diada-adakan dalam agama, baik berupa aqidah,ibdah,atau cara ibadah yg tidak terjadi di zaman Rasulullah. keterangan: Dalam urusan ibadah pada dasarnya haram dikerjakan kecuali ada kterangan/dalil yg memerintahkan. Dalam urusan duniawi pada dasarnya boleh dan tidak terlarang, kecuali ada keterangan yg melarang.
      mengerjakan bid’ah itu berbahaya, sedangkan meninggalkan yg sunnah tidak ada sangsinya. maka andaikata ada suatu perbuatan ibadah yang masih di ragukan sunnahnya lebih baik ditinggalkan daripada dikerjakan yg khawatir akan jatuh pada perbuatan bid’ah.

    • jhon ryan
      Mei 27, 2011 pukul 5:34 pm

      mari sama-sama kita memohon kepada Allah “ya Allah sampaikanlah kepadaku dan saudara-saudaraku pemahaman tentang yang haq itu haq dan berikanlah kepada kami kemampuan untuk menegakannya. Ya Allah sampaikanlah kepadaku dan saudara-saudaraku pemahaman tentang yang batil itu batil dan berikanlah kepada kami kemampuan untuk meninggalkan dan memeranginya” amin

    • kang nasib
      Maret 30, 2012 pukul 7:44 pm

      Terima kasih kang telah berkomentar disini

      Dari dulu hingga sekarang khilafiyah terjadi di kalangan ulama’ salaf, namun beliau2 nya tidak saling hujjat menghujat/tdk saling mengkafirkan satu sama lainnya…..

      Betul sekali, khilafiyah banyak terjadi pada para ulama, akan tetapi bukan dalam perkara tahlilan, sebab tidak ada satupun para ulama salaf yang melakukan ritual tahlilan, tolong sebutkan para ulama salaf yang mereka khilaf dalam masalah ritual tahlilan,.. itu jika ada di kalangan ulama salaf yang khilaf dalam masalah ini, dan saya ngga tahu,, itu perkataan anda sendiri, atau nukil dari mana, ada di kitab apa yang mengatakan kalau ada ulama salaf yang khilaf dalam masalah ritual tahlilan ini,

      Islam yg ada di arab tdk dengan otomatis ada di indonesia…siapa yang menyebarkan?

      Tentunya Para wali(Wali 9)…dan beliau mengkondisikan islam dengan daerah di mana beliau menyebarkan…menanamkan aqidah melalui adat-adat mereka…memudahkan dalam mengenal islam…seperti halnya tahlil yg dulu di selingi dengan baca2 mantra, bakar2 kemenyan dikuburan oleh para sunan di rubah sedkit demi sedikit dengan bacaan2 kalimat toyibah dan bau minyak wangi serta bunga….hingga saat ini seperti yg kita lihat…Trus pertannyaan saya< Apakah para sunan itu Bid'ah???
      Perlu diketahui, islam sudah sempurna, tidak usah dimodifikasi, janganlah mencampurkan antara yang hak dengan yang batil.

      Apakah ajaran-ajaran hindu, namun diganti bacaannya saja, lantas otomatis menjadi amalan ibadah? sebagaimana anda katakan sendiri, itu adalah tetap kesyirikan, dengan dibungkus bacaan2 dari ajaran islam, ini adalah tindakan kebodohan, dan penghinaan terhadap ajaran islam yang mulia.

      jika mereka beranggapan mengganti bacaan itu menjadikan ritual tersebut itu menjadi ritual islami, maka itu sama saja dengan menginjak-injak syariat islam yang mulia, mencampur adukan antara yang hak dengan yang batil, maka bukan bernilai pahala, akan tetapi dosa, dan dosa orang yang mengajarkan ritual ini akan semakin bertumpuk-tumpuk seiring dengan banyaknya orang yang mengamalkannya,

      Ingin menarik orang hindu tuk masuk islam, bukanlah dengan mengambil ritual hindu kemudian diganti bacaannya dengan bacaan yang datang dari islam,

      Ingin menarik orang budha tuk masuk islam, bukanlah dengan mengambil ritual budha kemudian diganti bacaannya dengan bacaan yang datang dari islam,
      Perlu anda ketahui, islam sudah sempurna, tidak boleh ditambah dan dikurangi,

      sedangkan islam yang kita anut ini juga hasil penyebaran beliau2?..Berarti anda juga penganut bid'ah doong? Lakum Dinukum Waliyadinn…

      mas, itu ayat buat orang kafir , bukan ditujukan kepada kaum muslimin, jika ditujukan kpd kaum muslimin, berarti anda sendiri terjerumus kedalam perbuatan pengkafiran kepada kaum muslimin,.. piye toh mas?

      jangan kita menghujat yang suka tahlil…jgn mencemooh yang notabene di anggap Bid'ah atau bahkan mengkapirkan…mari kita pikirkan kekafiran kita sendiri dulu….

      Anda membawakan dalil surat alkafirun buat siapa mas, mau tanggungjawab tidak, anda sedang melakukan perbuatan pengkafiran jika membawakan dalil diatas, mbok ya belajar toh mas,..

      semua itu adalah rahmat Alloh…

      Urusan dunia adalah rahmat Allah,.. tapi BIDAH adalah musibah, dan penyebab mendapat murka Allah,

      setiap hari kita sudah sering melakukan bid'ah(bercelana,memakai sandal jepit,naik motor/mobil,pake piring dan sendok yg semuanya tidak ada dijaman Nabi SAW)

      Sudah tahu makna bidah belum mas,.. kurang banyak mas, getuk goreng,mendoan tempe,cimol,bakso, mie ayam, semuanya bidah mas,.. ngga ada ceritanya Rasulullah makan mendoan tempe, atau sahabat naik becak,.. baca disini mas,

      ..Istaghfiru Innahu Huwal Ghofururrohiim……

      betul mas, sebab dosa bidah lebih besar daripada maksiat, silahkan baca disini

  88. Abu Hafizh
    April 16, 2011 pukul 8:17 am

    assalamu’alaikum.
    memang mengenai tahlilan ini telah begitu mewabah bagai virus yang mampu menutup akal sehat sebagian besar saudara-saudara kita. tidak hanya di jawa, bahkan di aceh pun tentang tahlilan ini (di aceh dikenal dengan nama shamadiyah), telah menjadi wahana paling membahayakan aqidah dan tata cara ibadah umat. saya pernah mengupas tahlilan ini dari sisi hadits, atsar sahabat, juga penjelasan tabi’in dan tabi’in, imam madzhab, sampai pada ulama-ulama kontemporer, tapi jawaban dan balasan yang saya dapat adalah ketika dialog tidak mencapai kesimpulan (karena saya diteriaki sesat, wahabi, bukan ahlus sunnah wal jamaah), saya dilempari batu, sepeda motor saya dirusak, bahkan keluarga saya diteror. tapi alhamdulillah, keluarga saya tetap mendukung, karena mereka tahu apa yang saya sampaikan adalah sesuatu yang haq, telah shahih dan sharih dari Allah dan Rasul-Nya serta sesuai dengan pemahaman salafush shalihin.
    jadi, bagi akhi fillah yang hendak berdakwah, siapkan diri untuk berjihad dan menghadapi resiko terburuk dengan dakwah sunnah yang kita sampaikan.

    Yah, begitulah akhi, tapi sebaiknya antum dakwah tentang tauhid dulu, kenalkan tauhid dengan penuh hikmah,.. mereka melakukan ritual-ritual tersebut karena kebodohan, karena taklid buta, tidak mengerti hakekat tauhid,..
    Jadi akh, dakwah itu perlu dengan hikmah,… jangan langsung kontra dengan lingkungan,.. segala sesuatunya dikonsultasikan dahulu dengan ustadz yg memahami ilmu syari dengan pemahaman sahabat, sehingga kita berdakwah di masyarakat bisa lebih diterima,.. tidak cukup modal semangat saja..

    Saya sendiri juga mengambil pelajaran dari kisah saya sendiri ketika awal2 mengenal dakwah salaf, padahal saya tidak menyuruh orang lain mengikuti saya, saya hanya mempraktekan untuk diri sendiri saja, kala itu saya shalat dengan menggerak-gerakan jari,.. lalu saya divonis sesat…

  89. Aswaja gokil
    Maret 25, 2011 pukul 1:36 pm

    Saya suka dgn cara pembahasannya…langsung dijawab per pertanyaan…..semoga ada yg sadar dari sebagian ahlul bid’ah ini ya mas….

    Jazakallahu khairan,… mudah-mudahan ada yang menyadarinya, amiin…

  90. hasan
    Maret 24, 2011 pukul 8:37 am

    mas,,, talfiq itu apa??? boleh apa tidak???

    talfiq adalah : memilih-milih mana yang dia suka berdasarkah hawa nafsu
    Diharamkan talfiq (memilih-milih pendapat yang lemah) atau mencari-cari pendapat yang ganjil, disebabkan karena kesalahan ulama dalam berijtihad

    terus ilmu hipnotis,,, apakah termasuk ilmu sihir??? haramkah kita mempelajarinya??

    hipnotis adalah termasuk sihir, jadi haram hukum mempelajarinya,.. untuk info lebih luas, bisa anda buka http://www.yufid.com , lalu masukan kata kunci “hipnotis”

    http://www.almanhaj.or.id/content/2545/slash/0

    satu lagi mas,, he, apakah wanita yang masih perawan itu apabila hendak dinikahkan perlu dimintai izinnya??? dan apakah jika ia menolak, ayahnya boleh memaksanya??

    Tidak ada hak bagi seorang ayah ataupun yang lain memaksa putrinya menikah dengan lelaki yang tidak disukainya, melainkan harus berdasarkan izin darinya, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihin wa sallam telah bersabda.

    “Artinya : Wanita janda tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai pendapat, dan wanita gadis tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai izin darinya”. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana izinnya ?” Beliau menjawab : “Ia diam” [Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]
    untuk lebih jelas, bisa baca link ini:

    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/08/tidak-boleh-seorang-ayah-menikahkan.html

    http://fitrahfitri.wordpress.com/2009/07/21/anak-perempuan-jangan-dipaksa-atas-pernikahan-yang-tidak-ia-suka/

    syukron mas.

    afwan…

  91. Tommi
    Maret 21, 2011 pukul 7:13 am

    Assalamu’alaikum,

    Bismillah.
    Sbnrnya jika dilihat dari redaksi do’a :
    “Wahai Allah Tuhan Pemilik Dakwah yang sempurna ini, dan shalat yang dijalankan ini, berilah Muhammad (saw) hak menjadi perantara dan limpahkan anugerah…(dst)”
    Dari apa yg saya pahami pada redaksi do’a ini, adalah kita meminta pada Allah Ta’ala syafa’at Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasalam sebab syafa’at itu murni hak Allah Ta’ala (QS Zumar : 44) yg diberikan pada para Nabi dan RasulNya, jg pada wali-waliNya, dan org2 yg dikehendakiNya, tentunya dengan izin dan karuniaNya Yang Maha Pengasih. Jadi, tidak tepat bila redaksi do’a tsb diklaim sbg tawassul thd Nabi Shallallahu alaihi wasalam, org2 banyak yg salah kaprah dengan do’a ini hanya karena adanya kata “al Wasilah”.

    Lalu apa makna Al Wasilah pada QS. Al Maidah : 35, berikut saya nukilkan pndpt para syaikh mufassir agar kita terhindar dari tafsiran syak wasangka yg dpt menyesatkan kita :
    1. Al Jalalain, “carilah “Al Wasilah” kepadaNya”, maknanya: “carilah amal ketaatan yang bisa mendekatkan diri kalian kepada Allah.” (Tafsir Jalalain surat Al Maidah: 35).
    2. Ibnu Katsir menukil tafsir dari Qatadah, “Carilah “Al Wasilah” kepadaNya”, tafsirnya: “mendekatkan diri kepadanya dengan melakukan ketaatan dan amal yang Dia ridhai.”
    Ibnu Katsir juga menukil tafsir dari Ibnu Abbas, Mujahid, Atha’, Abu Wail, Al Hasan Al Bashri, Qotadah, dan As-Sudi, bahwa yang dimaksud “Carilah Al Wasilah…” adalah mendekatkan diri. (Tafsir Ibn Katsir surat Al Maidah ayat 35).
    3. Ibnul Jauzi menyebutkan di antara tafsir yang lain untuk kalimat, “Carilah al Wasilah kepadaNya..” adalah carilah kecintaan dariNya. (Zaadul Masir, surat Al Maidah ayat 35).
    4. Sementara Al Baidhawi mengatakan bahwa yang dimaksud: “carilah al wasilah kepadaNya…” adalah mencari sesuatu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mendekatkan diri pada pahala yang Allah berikan dengan melakukan ketaatan dan meninggalkan maksiat.” (Tafsir Al Baidhawi “Anwarut Tanzil” untuk Al Maaidah ayat 35).

    Nah, smg jelas ya akhi panji, makna al wasilah pada ayat itu bukanlah kita disuruh untuk mengambil perantara, sangatlah jauh tafsiran antum dengan tafsiran para syaikh mufassir, akan tetapi al wasilah yg dapat mendekatkan diri kita pada Allah Ta’ala adalah dengan melakukan amalan2 shaleh dan keta’atan yg membuat Allah Ta’ala akan mencintai kita, bukan dengan bertawassul pada Nabi, tawassul pada kubur, tawassul pada para wali, ini hanya akan membuat Allah murka karena kita mengambil perantara. Ketahuilah akhi, Allah tidak butuh perantara loh karena Dia adalah Al Aziz.

    Semoga akhi panji lebih giat belajar agama lg dan jgn mengambil dari tafsiran org2 kebanyakan apalagi tafsiran pribadi. Coba liat tafsiran para ulama Robbani spt Ibnu Katsir, kan kitab tafsir terjemahannya jg sudah beredar.

    Wallahu a’lam bishowab.

    Jazakallahu khairan..

  92. panji
    Maret 18, 2011 pukul 1:33 pm

    tapi disana ada perkataan “berilah hak menjadi perantara”

    mas, dimana?? Lalu rasulullah itu sebaik-baik perantara sebagaimana komentar anda sebelumnya, itu penafsiran anda sendiri? atau penafsiran siapa mas?

    Agama jangan dipahami menurut pemahaman sendiri mas, bahaya… emang siapa yang punya agama ini?

  93. panji
    Maret 17, 2011 pukul 1:39 pm

    Sebenarnya Allah Swt memerintahkan kepada kita untuk mengambil perantara antara kita dengan Allah. ( Lihat QS. Al Maidah : 35 di atas ).

    mas panji, saya nukilkan
    Niat Baik Kaum Musyrikin

    Dalam berdoa kepada Allah, kita tidak perlu melalui perantara, karena hal itu termasuk perbuatan syirik.

    Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan mereka (kaum musyrikin) beribadah kepada selain Allah sesuatu yang tidak sanggup mendatangkan madharat dan manfaat untuk mereka. Dan mereka beralasan, ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah’” (QS. Yunus : 18).

    Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai penolong mengatakan, ‘Sesungguhnya kami tidak menyembah mereka, melainkan hanya supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya’ ” (QS. Az-Zumar : 3).

    Dalam dua ayat ini Allah menjelaskan kepada kita tentang alasan yang diajukan oleh kaum musyrikin untuk mendukung kesyirikan mereka. Mereka berkata bahwa mereka memiliki niat yang baik. Mereka hanya ingin menjadikan orang-orang shalih yang sudah meninggal sebagai perantara doa mereka kepada Allah.

    Mereka menganggap bahwa diri mereka penuh dengan dosa, sehingga tidak pantas untuk langsung berdoa kepada Allah.

    Sedangkan orang-orang shalih memiliki keutamaan di sisi Allah.

    Mereka ingin agar semakin dekat dengan Allah dengan perantaraan orang-orang shalih itu. Tidak ada yang mencela niat baik ini. Akan tetapi, lihatlah cara yang mereka tempuh. Mereka meminta syafaat kepada orang-orang yang sudah meninggal.

    Padahal Allah Ta’ala sudah menegaskan yang artinya, “Katakanlah, ‘Semua syafaat itu pada hakikatnya adalah milik Allah’ “ (QS. Az-Zumar : 44).

    Dan meminta kepada orang yang sudah meninggal adalah termasuk perbuatan syirik akbar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam.

    Oleh karena itu, niat baik kaum musyrikin ini tidak bermanfaat sama sekali karena cara yang mereka tempuh adalah kesyirikan, perbuatan yang merupakan penghinaan kepada Allah Ta’ala.

    Rasulullah saw adalah sebaik-baik perantara, dan beliau sendiri bersabda : “Barangsiapa yang mendengar adzan lalu menjawab dengan doa : “Wahai Allah Tuhan Pemilik Dakwah yang sempurna ini, dan shalat yang dijalankan ini, berilah Muhammad (saw) hak menjadi perantara dan limpahkan anugerah, dan bangkitkan untuknya Kedudukan yang terpuji sebagaimana yang telah kau janjikan padanya”. Maka halal baginya syafaatku” (Shahih Bukhari hadits no.589 dan hadits no.4442)

    Hadits ini jelas bahwa Rasul menunjukkan bahwa beliau tak melarang tawassul pada beliau saw, bahkan orang yang mendoakan hak tawassul untuk beliau sudah dijanjikan syafaat beliau dan hak untuk menjadi perantara ini tidak dibatasi oleh keadaan beliau, baik ketika masih hidup ataupun di saat wafatnya.

    Mas, hal diatas bukan tawasul kepada nabi mas, jauh sekali,… itu kan perintah Rasulullah tentang doa ketika mendengar adzan,..

    Boleh bertawasul ketika Rasulullah masih hidup,.. sebagaimana ada sahabat yang melakukan tawasul kepada pisik Rasulullah,..

    Jika kita menjalankan perintah Rasulullah,.. maka kita insya Allah akan mendapatkan syafaatnya…. jika kita melakukan kemaksiatan,menentang Rasulullah, diantaranya adalah sebagimana yang dilakukan dengan cara tawasul setelah matinya,. maka ini juga adalah perbuatan kemaksiatan,..

  94. hasan
    Maret 11, 2011 pukul 8:47 am

    syukron mas atas keterangannya
    mas,, kalo hkuman dari zina saya banyak temukan di buku-buku,, dan penjelasan para guru,, tapi kalo had memperkosa saya ga pernah menemukannya mas,, dan guru yang saya tanya pun beliau bilaang lum dapet keterangannya,,
    kalo menurut mas,, gimana?

    Fakta pemerkosaan yang terjadi, sebagian pelakunya adalah pacarnya sendiri,..
    Jadi seharusnya jalan-jalan yang menuju terjadinya pemerkosaan itu yang ditutup, seperti wanita muslim harus menggunakan jilbab yang syar’i, menundukkan pandangan, tidak berdua-duaan tanpa mahram, tidak menonton film-film cabul, sinetron-sinetron sekarang ini yang isinya rata-rata adalah pacaran,selingkuh, dan hal-hal porno lainnya,.

    terus terang, jika tidak mau dikatakan, banyak wanita-wanita sekarang, yang cara mengenakan pakaiannya seperti wanita-wanita yang siap diperkosa,..
    mudah-mudahan kita dijauhkan dari wanita-wanita seperti itu,..

    Jadi hukum pemerkosaan harus dilihat dari beberapa sisi, apakah pemerkosaan dilakukan suka sama suka? ini sih pada hakekatnya bukan pemerkosaan, tapi memang perbuatan zina, dan islam telah mengaturnya,..

    Dan jika pemerkosaan murni, tentu islam sudah mengaturnya juga, karena ini adalah salah satu tindak kejahatan,..

    Jarang sekali kasus pemerkosaan yang tidak ada pemicunya,.. pasti ada, sebagian besar dari pihak wanitanya, baik wanita itu sendiri, atau karena akibat wanita yang lainnya,… wallahu a’lam..

    • Maret 11, 2011 pukul 6:55 pm

      Hukuman bagi pemerkosa bisa dibaca dibawah ini:

      HUKUM ISLAM BAGI PELAKU ZINA (SEKS BEBAS)

      Penulis Asy-Syaikh Jamal Bin Abdurrahman Ismail dan dr.Ahmad Nida
      Sungguh Allah Subhaanahu wa ta’ala telah mengkhususkan hukuman dosa zina daripada hukuman-hukuman yang lainnya dengan tiga kekhususan, yaitu:

      Pertama, dibunuh dengan cara yang sangat keji jika pelakunya seorang yang telah menikah, dan terkadang dicambuk (hukuman ini bagi pelaku zina yang belum menikah), terkadang digabungkan antara dua hukuman kepada pelakunya, yaitu pada tubuhnya dengan cambukan dan pada hatinya dengan diasingkan dari negerinya selama satu tahun.

      Ada sebuah hadits dalam Shahihain bahwasanya datang seorang Arab gunung kepada Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam, lalu berkata:

      ” يَا رَسُوْلَ اللهِ! إِنَّ ابْنِى كَانَ عَسِيفًا ( أَجِيرًا ) عَلَى هَذَا، فَزَنَى بِامْرَأَتِهِ وَإِنِّيْ أُخْبِرْتُ أَنَّ عَلَى ابْنِى الرَّجْمَ، فَافْتَدَيْتُ مِنْهُ بِمِائَةٍ مِنَ الْغَنَمِ وَوَلِيدَةٍ ( جَارِيَةٍ )، فَسَأَلْتُ أَهْلَ الْعِلْمِ فَأَخْبَرُوْنِيْ أَنَّ عَلَى ابْنِى جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ، وَأَنَّ عَلَى امْرَأَةِ الرَّجُلِ الرَّجْمَ “

      “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya anak lelakiku bekerja kepada si fulan, lalu ia berzina dengan istrinya. Diberitakan kepadaku bahwa anak lelakiku harus dirajam. Maka aku membayar fidyah darinya dengan seratus ekor kambing dan seorang budak wanita. Kemudian, aku bertanya kepada ulama dan mereka memberitahukan kepadaku bahwa anak lelakiku harus dicambuk seratus kali dan diasingkan selama satu tahun. Adapun istri si fulan itu harus dirajam.“

      Lalu, Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda:

      ” وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لأَقْضِيَنَّ بَيْنَكُمَا بِكِتَابِ اللَّهِ، أَمَّا الْوَلِيدَةُ وَالْغَنَمُ رَدٌّ عَلَيْكَ، وَعَلَى ابْنِكَ جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ، وَاغْدُ يَا أُنَيْسُ إِلَى امْرَأَةِ هَذَا، فَإِنِ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا “

      “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh aku akan menetapkan hukum di antara kalian berdua dengan kitab Allah, ambillah kembali budak wanita dan kambing itu olehmu adapun anak lelakimu harus dicambuk seratus kali dan diasingkan selama satu tahun. Pergilah engkau wahai Unais kepada istri si fulan ini. Jika ia mengakui (perbuatannya), rajamlah ia.” (Lalu, ia pun pergi kepada wanita tersebut dan wanita itu pun mengakuinya. Maka Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam memerintahkan agar wanita tersebut dirajam, lalu dirajamlah ia).

      Kedua, Allah Subhaanahu wa ta’ala melarang para hamba-Nya dari kaum mukminin agar tidak mencegah tegaknya hukum Allah Subhaanahu wa ta’ala dalam agama-Nya atas dasar belas kasihan. Allah Subhaanahu wa ta’ala berfirman,

      وَلَا تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ

      ”Dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allahk dan hari akhirat. Dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nuur [24]: 2)

      Ketiga, Allah Subhaanahu wa ta’ala mewajibkan agar aib keduanya (para pelaku zina) ditampakkan. Tidak diragukan lagi bahwasanya Allah Subhaanahu wa ta’ala Satir (سَتِيْرٌ), yang Maha Mencintai ketertutupan dan ‘Afuw (عَفُوٌّ), yang Maha Mencintai ampunan. Akan tetapi, karena jelek dan kejinya perbuatan zina maka Allah Subhaanahu wa ta’ala mewajibkan perkara tersebut sebagai akibat dari perbuatan menggauli orang lain (yakni berzina). Allah Subhaanahu wa ta’ala pun memerintahkan agar hukuman ini dilaksanakan di tempat yang terlihat oleh kaum mukminin, tidak boleh dilakukan di tempat yang keduanya tidak terlihat oleh seorang pun. Hal ini (lebih mengena) untuk kemaslahatan hukum dan hikmah dari sebuah pelarangan,

      وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ

      ”Dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nuur [24]: 2)

      Adapun hukuman bagi pelaku zina yang sudah menikah diambil dari hukuman Allah Subhaanahu wa ta’ala atas kaum Luth, yaitu dengan dihujani (dilempari) batu. Hal ini dikarenakan persamaan zina dan liwat (homoseksual) dari segi kekejiannya. Maka kita berlindung kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala dari perkara tersebut.

      Kerasnya Derita Orang yang Dirajam Menunjukkan Akan Besarnya Dosa yang Diperbuat Olehnya

      Lihatlah (semoga Allah Subhaanahu wa ta’ala memberi kita petunjuk tentang keadaan orang yang menjadi perbincangan masyarakat dan menjadi perhatian mata mereka, setiap orang menyaksikannya baik yang mukim (penduduk setempat) maupun yang sedang safar, baik yang shalih maupun yang fajir (penuh dosa). Bahkan masing-masing orang yang hadir mengundi malapetaka yang menimpanya, lalu masing-masing dari mereka membawa batu-batu yang telah terkumpul dan melempari orang yang dirajam dengan batu-batu tersebut di satu tempat yang telah ditentukan.

      Kepala dan matanya yang telah melihat apa-apa yang diharamkan oleh Allah Subhaanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya `, dilempari…

      Hidungnya yang telah mencium bau parfum wanita pezina, dilempari…

      Dua bibirnya yang telah mencium pasangan mesumnya, dilempari…

      Badannya yang telah memeluknya dan merasakan nikmat pelukannya kepadanya, dilempari…

      Tangannya yang telah menyentuh, meraba, dan merasakan kenikmatan, dilempari…

      Sesungguhnya setiap anggota badan dan bagian-bagian tubuhnya yang telah merasakan kesenangan dan kenikmatan semuanya, dilempari…

      Aduhai…inilah yang terjadi sekarang, engkau dilempari dan diazab dengan siksa yang amat pedih. Dan dari setiap arah, engkau menerima lemparan batu tanpa lemah lembut, kasih sayang, rasa simpati, dan iba diri.

      Aduhai…inilah keadaan orang yang tidak merasa malu kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala . Dan sungguh sekarang warna pucat telah tampak, ia sangat malu untuk menatap manusia karena merasa amat hina. Demi Allah Subhaanahu wa ta’ala , ini adalah pemandangan yang sangat mengerikan. Setiap mata terbelalak melihatnya dan setiap hati menjadi berdebar karenanya. Sesungguhnya ini adalah bencana, siksaan, celaan, dan kehinaan.

      وَلَا تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ

      ”Dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah.” (QS. An-Nuur [24]: 2)

      Dan engkau, wahai orang yang dosamu ditutup oleh Allah Subhaanahu wa ta’ala …ajaklah bicara dirimu, katakanlah kepadanya:

      Wahai jiwa…tidakkah engkau merasa malu?

      Tidakkah engkau bisa tersipu?

      Dan apa yang akan engkau katakan kepada Rabb alam semesta?

      Wahai jiwa…hidupmu di atas bumi adalah haram. Makananmu, minumanmu, dan napasmu adalah haram atasmu.

      Wahai jiwa…sekarang engkau berada dalam hukuman yang menyakitkan, akan ditimpakan kepadamu hukuman mati dan engkau telah memasukinya.

      Maka jikalau engkau wahai jiwa…telah memasuki hukuman mati dan aibmu telah tampak, apa yang akan engkau perbuat di depan Dzat yang tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya?

      Sesungguhnya siksa terhadapmu akan ditangguhkan sampai hari di mana…

      Setiap aib-aib, kejelekan-kejelekan, dan kehinaan-kehinaan tampak di depan semua makhluk!
      dinukil dari website kaahil.wp

  95. hassan
    Maret 4, 2011 pukul 7:41 am

    mas,, apa ada hadist yang menyebutkan bahwa tidak sah shalat apabila kening kita terhalang oleh rambut saat sujud?
    Wa’alaikumus salam,

    Justru yang ada hadits larangan menyibak rambut ketika sujud,
    Dari Ibnu ‘Abbas berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Aku diperintah untuk bersujud (dalam riwayat lain; Kami diperintah untuk bersujud) dengan tujuh (7) anggota badan; yakni kening sekaligus hidung, dua tangan (dalam lafadhz lain; dua telapak tangan), dua lutut, jari-jari kedua kaki dan kami tidak boleh menyibak lengan baju dan rambut kepala.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al-Jama’ah)
    Jadi tidak usah menyibak rambut, dan shalat anda tetap sah

    Memang dalam shalat ada tujuh bagian anggota tubuh yang harus menyentuh tanah, yaitu [1] dahi termasuk hidung. [2,3] telapak tangan kanan dan kiri, [4,5] lutut kanan dan kiri, [6,7] ujung kaki kanan dan kiri.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ ، وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ
    “Aku diperintahkan bersujud dengan tujuh bagian anggota badan: [1] Dahi (termasuk juga hidung, beliau mengisyaratkan dengan tangannya), [2,3] telapak tangan kanan dan kiri, [4,5] lutut kanan dan kiri, dan [6,7] ujung kaki kanan dan kiri. ” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Sekarang pertanyaannya, lutut ketika shalat menyentuh tanah secara langsung ataukah tidak? atau tertutup kain?
    Maka sebagaimana lutut boleh ditutupi kain, maka jawaban yang sama pula untuk rambut yang menunupi dahi. Semoga paham.

    mas, apa ada hadist nabi tentang mengobati orang yang kemasukan syetan?

    Ada petunjuknya,itu disebutnya dengan merukyah,.. bacaan-bacaan rukyah bisa dipelajari,..
    bisa lihat disini:http://www.almanhaj.or.id/content/2691/slash/0
    Atau donlod ebooknya disini:http://salafiyunpad.files.wordpress.com/2008/01/terapi-pengobatan-dengan-ruqyah-syariyyah.pdf

  96. w0ngndes0
    Februari 12, 2011 pukul 1:14 pm

    jazakhumulloh khiran jaza’ sangat lengkap dan detil penjelasannya.
    afwan ana ijin copy kajiannya u/ post ke FB.

    Waiyyaka,.. silahkan,… mudah-mudahan banyak yang bisa mengambil manfaatnya..

  97. helmi eahyu zulfikar
    Januari 16, 2011 pukul 4:51 am

    mudah-mudahan artikel ini menjadi hidayah buat semuanya baik yang sudah meninggalkan utamanya yang masih melaksanakannya…….amien

    Mudah-mudahan semakin banyak kaum muslimin yang mengamalkan amalan-amalan yang betul-betul diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam..

  98. hasan
    Januari 6, 2011 pukul 3:36 pm

    mas,, masalah tahiyat,, mengacungkan jari telunjuk itu,, apakah saat kita membaca syahadat atau sejak awal kita duduk tahiyat,, tolong ditampilin juga dalilnya ya mas,,

    Berisyarat dengan jari dimulai sejak membaca doa tahiyat sampai akhir, bukan ketika membaca syahadat baru berisyarat dengan jari sebagaimana kebanyakan kaum muslimin melakukannya, hal itu perllu mendatangkan dalil, jika tidak ada dalilnya, maka tidak boleh mengerjakan yang seperti itu, berikut Penjelasannya:

    Meletakkan kedua tangan di atas lutut (atau di atas paha), tangan kanan menggenggam (atau membuat lingkaran antara jari tengah dan ibu jari), dan berisyarat dengan jari telunjuk tangan kanan dengan mengerak-gerakannya.

    عن بن عمر أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان إذا جلس في الصلاة وضع يديه على ركبتيه ورفع إصبعه اليمنى التي تلي الإبهام فدعا بها ويده اليسرى على ركبته اليسرى باسطها عليها

    Dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma : “Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila duduk dalam shalat, beliau meletakkan kedua (telapak) tangannya di atas kedua lututnya, dan beliau mengangkat jari (telunjuknya) yang kanan, maka beliaupun berdoa (bersamaan) dengan itu, dan (telapak) tangan kirinya terhampar di atas lututnya yang kiri” [HR. Muslim no. 580, At-Tirmidzi no. 294, Ibnu Majah no. 913, dan yang lainnya].

    Dalam riwayat lain dari Ibnu ‘Umar :

    كان إذا جلس في الصلاة وضع كفه اليمنى على فخذه اليمنى وقبض أصابعه كلها وأشار بإصبعه التي تلي الإبهام ووضع كفه اليسرى على فخذه اليسرى

    “Bahwasannya apabila beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam duduk (tasyahud) dalam shalat, maka beliau meletakkan telapak tangan kanannya di atas paha kanannya. Beliau menggenggam semua jari tangan kanannya dan berisyarat dengan jari telunjuk. Dan meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha kirinya” [HR. Muslim no. 580].

    ان وائل بن حجر الحضرمي قال : ……..فوضع كفه اليسرى على فخذه وركبته اليسرى وجعل حد مرفقه الأيمن على فخذه اليمنى ثم قبض بين أصابعه فحلق حلقة ثم رفع إصبعه فرأيته يحركها يدعو بها

    Bahwasannya Wail bin Hujr Al-Hadlrami radliyallaahu ‘anhu berkata : “…..Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha dan lututnya yang kiri pula, dan meletakkan ujung siku tangan kanannya di atas pahanya yang kanan dan beliau pun membuat lingkaran (dengan jari tengah dan ibu jarinya) dan beliau mengangkat jari (telunjuknya). Maka aku pun (yaitu Wail) melihat beliau menggerak-gerakkannya (jari telunjuk) sambil berdoa dengannya” [HR. Ahmad no. 18890; shahih]. [14]

    عن عبد الله بن الزبير قال : …..وأشار بإصبعه السبابة ووضع إبهامه على إصبعه الوسطى

    Dari Abdullah bin Zubair radliyallaahu ‘anhuma : “…..Dan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam berisyarat dengan jari telunjuknya dan meletakkan ibu jarinya di atas jari tengahnya” [HR. Muslim no. 579].

    عن وائل بن حجر قال : ……. ثم أشار بسبابته ووضع الإبهام على الوسطى حلق بها

    Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “…..Kemudian beliau shallallaau ‘alaihi wasallam berisyarat dengan jari telunjuknya dan meletakkan ibu jari di atas jari tengah dengan membuat lingkaran” [HR. ‘Abdurrazzaq no. 2522; shahih].

    Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukan hal itu pada setiap tasyahud, baik tasyahud awal maupun akhir.

    عن عبد الله بن الزبير قال كان رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم إذا جلس في الثنتين أو في الأربع يضع يديه على ركبتيه ثم أشار بأصبعه

    Dari ‘Abdullah bin Zubair radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : “Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila duduk di raka’at kedua atau di raka’at keempat, beliau meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya, kemudian berisyarat dengan jari (telunjuknya)” [HR. Nasa’i dalam As-Shughraa no. 1161; shahih].

    Tatacara menggerakkan jari bisa dilihat disini

    lalu masalah membaca fatihah dibelakang imam ketika imam membaca secara jahr,
    mana kah pendapat yang lebih kuat antara yang bilang wajib baca fatihah ketika imam baca surah atau tidak perlu membaca al-fatihah dibelakang imam apabila imam membacanya dengan jahr, cukup kita dengarkan saja bacaan imam?

    Bacaan imam sudah mencukupi, kewajiban makmum adalah mendengarkan bacaan imam, silahkan baca disini artikel selengkapnya

    syukron

    Afwan…

  99. Fanani
    Januari 5, 2011 pukul 9:56 am

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

    Salam kenal untuk rekan – rekan semuanya. Kalau saudara – saudara yang tidak setuju dengan tahlil, silahkan untuk tidak melakukan tahlilan.
    Akan tetapi, apa yang ada di tulisan ini, amat sangat tidak seimbang sekali.
    Coba disandingkan dengan tulisan di nu.or.id atau pesantrenvirtual.com atau gusmus.net. Rekan – rekan sekalian akan merasa sangat sejuk dengan tulisan2 itu daripada membaca tulisan lain yang kurang seimbang dalam menyajikannya.

    Anda ingin lebih sejuk lagi, bisa lho dengerin langsung audio dari santri yang dulu mondok di pesantren tambak beras jombang, kepunyaannya pamannya gusdur, dan beliau juga sempat menjadi tukang nuntun gusdur ketika di jombang,… dan untuk tahlilan, beliau menjadi santri yang terbaik dalam melakukan tahlilan, jadi hizbut tahlil, olih akeh berkate,… bisa didengarkan disini mas, monggo…

    http://audiodakwah.wordpress.com/2010/10/27/kronologis-mendapatkan-hidayah/

    http://audiodakwah.wordpress.com/2010/10/27/alumni-tambak-beras-dan-keluar-dari-nu/

    ditambah shalawat barjanji disini mas,

    http://audiodakwah.wordpress.com/2010/10/27/mau-tahu-arti-shalawat-nariyah/

    Pemilik blog ini malah terlihat terlalu fanatik dan di jaman Rasulullah juga dakwahnya tidak pake blog semacam ini.

    Saya hanya fanatik sama hadits yang shahih aja mas,… walaupun yang mengatakan tokoh ormas, pendiri ormas, atau keputusan ormas tertentu, jika menyalahi ajaran Rasulullah, ya saya tolak mas,..ini bukan fanatik namanya mas,… kalau fanatik itu justru percaya saja tanpa memperdulikan dalilnya, apakah shahih atau tidak, justru saya ittiba’ mas, mengikuti dalil yang shahih saja,… hendaknya mas mempelajari dulu, apa arti fanatik itu,..

    Oh iya, kalau dijaman Rasulullah ada internet, ada handphone, tentu itu bagus buat menunjang dakwah,
    Akan tetapi perlu dicatat dengan baik-baik mas, secanggih-canggihnya jaman kita, tidak akan pernah mengalahkan dakwah yang ada dijaman Rasulullah,… jaman para sahabat,…. kalau sekarang yang pinter adalah komputer, mampu menyimpan berjuta hadits, seluruh alquran, sehingga kalau kita memerlukan tinggal buka saja dengan cepat, kalau jaman Rasulullah, hadits dan alquran itu ada di hafalan2 mereka yang sungguh luar biasa, para sahabat sungguh kuat daya hafalnya, tidak memerlukan alat perekam, tidak ada bandingannya mas dibanding jaman sekarang yang sudah ada segala macam teknologi,…

    Kalau orang memahami agama secara fiqh saja, ya jadinya seperti ini, kaku dan keras yang bisa membuat umat manusia menjadi takut pada Islam. Kalau pemilik blog ini mempelajari sejarah, Insya Allah, saya yakin, pandangan tentang haramnya tahlilan pasti akan berubah 180 derajad.

    Banyak kaum muslimin yang tersadar dengan dakwah Rasulullah yang diajarkan kepada para sahabatnya, 3 generasi terbaik umat ini,… dan banyak kaum muslimin yang tersadarkan sehingga menjadi kaum muslimin yang mau mendalami agama ini, tidak hanya bergantung kepada tradisi masyarakat yang ada, kebudayaan,… ataupun mengikuti ormas-ormas islam tertentu,.. kaum muslimin bersatu diatas akidah yang satu, bukan atas organisasi yang satu,..walhamdulillah,..

    Justru, kalau anda mempelajari sejarah sampainya islam di indonesia, maka anda beserta orang-orang yang masih dapat menggunakan akal sehatnya, akan meninggalkan ritual-ritual tahlilan, bahkan ritual-ritual yang lainnya juga seperti maulid nabi, peringatan sekian hari meninggalnya seseorang,dan lain-lain, sebagaimana saudara-saudara anda yang dari nahdiyin yang akhirnya mendapat hidayah dakwah salafi, walhamdulillah,

    Sudahkah anda melihat dialog antara salafi dengan NU? yaitu dialog antara bpk said agil munawar dengan ustadz zainal abidin? Jika anda telah menonton vcdnya, maka jika anda mengetahui kebenaran, anda bisa mengambil keputusan sendiri,… kalau bagi saya pribadi setelah melihat vcd tersebut, ya doktornya aja seperti itu, ya gimana yang dibawah beliau,..

    Semoga hidayah Allah SWT segera sampai kepada rekan – rekan sekalian. Amin … Amin … Amin … Ya Rabbal Alamin.

    Semoga hidayah taufik diberikan kepada saya, juga rekan-rekan pembaca semua, juga yang menulis komentar ini, saudara Fanani,… amiin…

  100. dihyah
    Januari 3, 2011 pukul 12:56 pm

    “Tunjukin ke ane bhw para ahli sihir firaun bertaubat dg mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAAH”

    Jawab :
    Coba akhi lihat surat Al A’raaf : 120-122
    وَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ 120
    Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud
    قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ 121
    Mereka berkata: “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam
    رَبِّ مُوسَى وَهَارُونَ122
    “(yaitu) Tuhan Musa dan Harun.”

    “Bagaimana kalimat ajakan Musa kpd firaun?”

    Jawab : Lihat surat Thaha ayat 47
    فَأْتِيَاهُ فَقُولا إِنَّا رَسُولا رَبِّكَ فَأَرْسِلْ مَعَنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلا تُعَذِّبْهُمْ قَدْ جِئْنَاكَ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكَ وَالسَّلامُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى
    Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dan katakanlah: “Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.

    Apakah mengakui Rububiyah Allah Ta’ala brarti sudah menjalankan juga uluhiyah Allah Ta’ala??? Tidak ya akhi, contoh paling nyata adalah kaum musyrikin quraisy yg berulangkali Allah Ta’ala sebutkan di dalam Qur’an bahwa mereka mengakui yg menciptakan alam ini adalah Allah, tp mereka menolak untuk beribadah kepadanya. Andaikan ada seorang muallaf bersyahadat untuk masuk Islam, apakah dengan serta merta berarti ia sudah melaksanakan uluhiyah Allah??? Pikirkanlah saudaraku.

    Wallahu a’lam bishowab.

    Jazakallahu khairan akhi, mudah-mudahan bisa memberikan pencerahan bagi saya, juga bagi yang bertanya,..

  101. murid habib munzir
    Januari 3, 2011 pukul 9:30 am

    Memang banyak pemahaman saudara-saudara kita muslimin yang perlu diluruskan tentang tawassul, tawassul adalah berdoa kepada Allah dengan perantara amal shalih, orang shalih, malaikat, atau orang-orang mukmin.

    mas, baca yang ini mas, memang kata pak habib tawassul kepada orang shalih, malaikat dibolehkan??

    Dalam berdoa kepada Allah, kita tidak perlu melalui perantara, karena hal itu termasuk perbuatan syirik.

    Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan mereka (kaum musyrikin) beribadah kepada selain Allah sesuatu yang tidak sanggup mendatangkan madharat dan manfaat untuk mereka.

    Dan mereka beralasan, ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah’” (QS. Yunus : 18).

    Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai penolong mengatakan, ‘Sesungguhnya kami tidak menyembah mereka, melainkan hanya supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya’ ” (QS. Az-Zumar : 3).

    Dalam dua ayat ini Allah menjelaskan kepada kita tentang alasan yang diajukan oleh kaum musyrikin untuk mendukung kesyirikan mereka.

    Mereka berkata bahwa mereka memiliki niat yang baik.

    Mereka hanya ingin menjadikan orang-orang shalih yang sudah meninggal sebagai perantara doa mereka kepada Allah.

    Mereka menganggap bahwa diri mereka penuh dengan dosa, sehingga tidak pantas untuk langsung berdoa kepada Allah.

    Sedangkan orang-orang shalih memiliki keutamaan di sisi Allah.

    Mereka ingin agar semakin dekat dengan Allah dengan perantaraan orang-orang shalih itu.

    Tidak ada yang mencela niat baik ini.

    Akan tetapi, lihatlah cara yang mereka tempuh.

    Mereka meminta syafaat kepada orang-orang yang sudah meninggal.

    Padahal Allah Ta’ala sudah menegaskan yang artinya, “Katakanlah, ‘Semua syafaat itu pada hakikatnya adalah milik Allah’ “ (QS. Az-Zumar : 44).

    Dan meminta kepada orang yang sudah meninggal adalah termasuk perbuatan syirik akbar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam. Oleh karena itu, niat baik kaum musyrikin ini tidak bermanfaat sama sekali karena cara yang mereka tempuh adalah kesyirikan, perbuatan yang merupakan penghinaan kepada Allah Ta’ala.

    Tawassul merupakan hal yang sunnah, dan tak pernah ditentang oleh Rasul saw, tak pula oleh Ijma Sahabat radhiyallahuanhum, tak pula oleh Tabiin, dan bahkan para Ulama dan Imam-Imam besar Muhadditsin, mereka berdoa tanpa perantara atau dengan perantara, dan tak ada yang menentangnya, apalagi mengharamkannya, atau bahkan memusyrikkan orang yang mengamalkannya.

    Mas, tawassul yang seperti apa dulu, ada tawassul yang dibolehkan, dan ada tawassul yang terlarang, bahkan pelakunya termasuk melakukan perbuatan kesyirikan,..

    Tawassul, yang Terlarang dan yang Dibolehkan

    Tawassul atau mengambil perantara dalam beribadah kepada Allah dalam bentuk berdoa kepada orang yang sudah meninggal atau tidak hadir adalah bentuk kesyirikan.

    Namun, ada pula tawassul yang diperbolehkan, yaitu: (1) Menyebut nama-nama atau sifat-sifat Allah pada permulaan berdoa (dengan menyesuaikannya dengan permintaan yang dimohon, -ed) seperti mengatakan,”Yaa Ghafuur, ighfirlii” (“Wahai Yang Maha pengampun, ampunilah hamba”); (2) Meminta kepada orang shalih yang masih hidup dan bisa memahami permintaan agar mendoaakan kebaikan baginya, sebagaimana Khalifah Umar yang meminta tolong paman Nabi Al-’Abbas untuk berdo’a bagi kaum muslimin; (3) Menyebutkan amal shalih yang pernah dilakukannya sebagaimana kisah 3 orang yang terperangkap di dalam gua.

    Masih banyak hadits lain yang menjadi dalil tawassul adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Abu Nu’aim, Thabrani dan Ibn Hibban dalam shahihnya, bahwa ketika wafatnya Fathimah binti Asad (Bunda dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, dalam hadits itu disebutkan Rasul saw rebah/bersandar dikuburnya dan berdoa : Allah Yang Menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Hidup tak akan mati, ampunilah dosa Ibuku Fathimah binti Asad, dan bimbinglah hujjah nya (pertanyaan di kubur), dan luaskanlah atasnya kuburnya, Demi Nabi Mu dan Demi para Nabi sebelum ku, Sungguh Engkau Maha Pengasih dari semua pemilik sifat kasih sayang., jelas sudah dengan hadits ini pula bahwa Rasul saw bertawassul di kubur, kepada para Nabi yang telah wafat, untuk mendoakan Bibi beliau saw (Istri Abu Thalib).

    Mas, ada dimana hadits seperti itu mas, tolong sebutin dong rujukannya, trus tekt arabnya juga,

    Demikian pula tawassul Sayyidina Umar bin Khattab ra. Beliau berdoa meminta hujan kepada Allah : “Wahai Allah, kami telah bertawassul dengan Nabi kami (saw) dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawassul dengan Paman beliau (saw) yang melihat beliau (saw), maka turunkanlah hujan..”. maka hujanpun turun. (Shahih Bukhari hadits no.963 dan hadits yang sama pada Shahih Bukhari hadits no.3508). Umar bin Khattab ra melakukannya, para sahabat tak menentangnya, demikian pula para Imam-Imam besar itu tak satupun mengharamkannya, apalagi mengatakan musyrik bagi yang mengamalkannya, hanyalah pendapat sekte sesat ini yang memusyrikkan orang yang bertawassul, padahal Rasul saw sendiri bertawassul. Apakah mereka memusyrikkan Rasul saw ? Dan Sayyidina Umar bin Khattab ra bertawassul, apakah mereka memusyrikkan Umar ?, Naudzubillah dari pemahaman sesat ini.

    Diatas adalah tawassul kepada paman nabi, bukan kepada nabi yang sudah meninggal, ini dibolehkan,…tidak musyrik, siapa yang mengatakan tawassulnya umar melalui paman nabi ini merupakan kesyirikan?? tolong sebutkan dimana pernyataan itu, sebutkan link-linknya, jika anda tidak berdusta,….. na’udzubillah dari perbuatan menuduh orang lain dengan apa-apa yang tidak diucapkannya

    Mengenai pendapat sebagian dari mereka yang mengatakan bahwa tawassul hanya boleh pada orang yang masih hidup, maka entah dari mana pula mereka mengarang persyaratan tawassul itu, dan mereka mengatakan bahwa orang yang sudah mati tak akan dapat memberi manfaat lagi, pendapat yang jelas-jelas datang dari pemahaman yang sangat dangkal, dan pemikiran yang sangat buta terhadap kesucian tauhid.

    mas, anda ini lucu sekali, bukankah sudah mas contohkan perbuatan umar diatas???
    Kok anda seperti tidak membaca apa yang anda tuliskan?
    Umar bertawassul kepada paman nabi, dan paman nabi masih hidup,
    Kenapa umar tidak bertawassul kepada nabi yang sudah meninggal??
    Karena umar tahu, tawassul kepada orang mati itu dilarang oleh Rasulullah,
    Tidakkah anda berpikir??

    Jelas dan tanpa syak bahwa tak ada satu makhlukpun dapat memberi manfaat dan mudharrat terkecuali dengan izin Allah, lalu mereka mengatakan bahwa makhluk hidup bisa memberi manfaat, dan yang mati mustahil. Lalu di mana kesucian tauhid dalam keimanan mereka ? Tak ada perbedaan dari yang hidup dan yang mati dalam memberi manfaat kecuali dengan izin Allah, yang hidup tak akan mampu berbuat terkecuali dengan izin Allah, dan yang mati pun bukan mustahil memberi manfaat bila dikehendaki Allah. karena penafian kekuasaan Allah atas orang yang mati adalah kekufuran yang jelas.

    Mas, lucu sekali anda,.. tolong sebutkan contoh rasulullah atau para sahabat yang bertawassul kepada orang mati,. ..
    sebutkan rujukannya, dengan jelas, ada di kitab apa, hadits no. berapa, cantumin disini,.. juga derajat hadits tersebut,..
    Tidak akan pernah engkau dapati,…

    Ketahuilah bahwa tawassul bukanlah meminta kekuatan orang mati atau yang hidup, tetapi berperantara kepada keshalihan seseorang, atau kedekatan derajatnya kepada Allah swt, sesekali bukanlah manfaat dari manusia, tetapi dari Allah, yang telah memilih orang tersebut hingga ia menjadi shalih, hidup atau mati tak membedakan Kudrat Ilahi atau membatasi kemampuan Allah, karena ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah tetap abadi walau mereka telah wafat.

    Mas, yang ngakunya murid pak habib,…
    Tawassul kepada orang shalih, yang ia ada dihadapannya, itu diperbolehkan, akan tetapi tawassul kepada orang yang shalih, dan orang itu tidak ada di tempat, atau sudah meninggal, maka ini sesuatu yang terlarang, bahkan merupakan perbuatan kesyirikan,..
    Sungguh apa yang anda sampaikan ini mirip sekali seperti apa yang dilakukan oleh kaum musyrikin sebagaimana Allah ceritakan di dalam alquran,
    Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan mereka (kaum musyrikin) beribadah kepada selain Allah sesuatu yang tidak sanggup mendatangkan madharat dan manfaat untuk mereka.
    Dan mereka beralasan, ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah’” (QS. Yunus : 18).
    Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai penolong mengatakan, ‘Sesungguhnya kami tidak menyembah mereka, melainkan hanya supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya’ ” (QS. Az-Zumar : 3).

    Contoh lebih mudah, anda ingin melamar pekerjaan, atau mengemis, lalu anda mendatangi seorang saudagar kaya, dan kebetulan mendiang tetangga anda yang telah wafat adalah abdi setianya yang selalu dipuji oleh si saudagar, lalu anda saat melamar pekerjaan atau mungkin mengemis pada saudagar itu, anda berkata : “Berilah saya tuan (atau) terimalah lamaran saya tuan, saya mohon, saya adalah tetangga dekat fulan, nah bukankah ini mengambil manfaat dari orang yang telah mati? Bagaimana dengan pandangan bodoh yang mengatakan orang mati tak bisa memberi manfaat? Jelas-jelas saudagar akan sangat menghormati atau menerima lamaran pekerjaan anda, atau memberi anda uang lebih, karena anda menyebut nama orang yang ia cintai, walau sudah wafat, tapi kecintaan si saudagar akan terus selama saudagar itu masih hidup, pun seandainya ia tak memberi, namun harapan untuk dikabulkan akan lebih besar, lalu bagaimana dengan ar-Rahmaan ar-Rahiim, Yang Maha Pemurah dan Maha Menyantuni? Dan tetangga anda yang telah wafat tak bangkit dari kubur dan tak tahu menahu tentang lamaran anda pada si saudagar, NAMUN ANDA MENDAPAT MANFAAT BESAR DARI ORANG YANG TELAH WAFAT.

    Mas, pikirkanlah lagi,
    Allah itu disembah tidak memerlukan perantara, beda dengan orang yang mau melamar pekerjaan,
    Yang mengatakan seperti Allah langsung, kok anda berani menganalogikan seperti hal di atas, sungguh sangat lancang sekali,… apakah anda yang menganalogikan, atau guru anda, pak habib itu??
    Takutlah kepada Allah mas,…
    Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Berdoalah kepada-Ku, pasti akan Aku kabulkan” (QS. Al-Mu’min : 60).
    Tolong baca artikel ini

    Aduh…aduh… entah apa yang membuat pemikiran mereka sempit hingga tak mampu mengambil permisalan mudah seperti ini. Firman Allah : “MEREKA ITU TULI, BISU DAN BUTA DAN TAK MAU KEMBALI PADA KEBENARAN” (QS Albaqarah-18). Wahai Allah beri hidayah pada kaumku, sungguh mereka tak mengetahui.Wassalam.
    Mas, tolong baca artikel ini dengan seksama, baca disini http://aslibumiayu.wordpress.com/2011/01/03/apakah-allah-membutuhkan-perantara/

  102. riri
    Januari 3, 2011 pukul 8:49 am

    Tunjukin ke ane bhw para ahli sihir firaun bertaubat dg mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAAH. Bagaimana kalimat ajakan Musa kpd firaun?

    Saudaraku, ini ayat-ayatnya, alhamdulillah ada yang ngasih tahu, baca ya?

    Coba akhi lihat surat Al A’raaf : 120-122
    وَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ 120
    Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud
    قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ 121
    Mereka berkata: “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam
    رَبِّ مُوسَى وَهَارُونَ122
    “(yaitu) Tuhan Musa dan Harun.”

    “Bagaimana kalimat ajakan Musa kpd firaun?”

    Jawab : Lihat surat Thaha ayat 47
    فَأْتِيَاهُ فَقُولا إِنَّا رَسُولا رَبِّكَ فَأَرْسِلْ مَعَنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلا تُعَذِّبْهُمْ قَدْ جِئْنَاكَ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكَ وَالسَّلامُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى
    Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dan katakanlah: “Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.

    Apakah mengakui Rububiyah Allah Ta’ala brarti sudah menjalankan juga uluhiyah Allah Ta’ala??? Tidak ya akhi, contoh paling nyata adalah kaum musyrikin quraisy yg berulangkali Allah Ta’ala sebutkan di dalam Qur’an bahwa mereka mengakui yg menciptakan alam ini adalah Allah, tp mereka menolak untuk beribadah kepadanya. Andaikan ada seorang muallaf bersyahadat untuk masuk Islam, apakah dengan serta merta berarti ia sudah melaksanakan uluhiyah Allah??? Pikirkanlah saudaraku.

    Wallahu a’lam bishowab.

  103. haris
    Desember 31, 2010 pukul 2:42 pm

    Orang tawassul antum anggep batal tauhid uluhiyahnya, tinggal rububiyahnya.

    Jika kita telah mengenal tauhid uluhiyah dengan benar, tidak akan mungkin kita melakukan tawassul kepada hal-hal yang tidak dibenarkan oleh syariat yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
    Kalau tauhid rububiyah, kaum musyrikin quraisy pun mengakuinya, tatapi apakah mereka telah masuk ke dalam islam?? tidak sama sekali, bahkan Rasulullah tetap memerangi mereka,..

    Terus antum samain kondisi kami dg musyrikin yg dlm pandangan antum bertauhid rububiyah tetapi tdk tauhid uluhiyah.

    Justru bukan hanya itu, kondisi kaum musyrikin dalam hal rububiyah dan uluhiyah, mereka lebih mengetahui..
    Kenapa mereka menolak tauhid uluhiyah?? karena mereka mengetahui resikonya, dan itu yang mereka tidak mau,.. mereka tidak mau melakukan ibadah hanya untuk Allah saja,.. mereka menganggap aneh jika menyembah Allah saja,.. namun dalam hal rububiyah, mereka menerimanya,.. tersebut dalam ayat-ayat alquran tentang mereka mengakui kerububiyahan Allah, tapi itu semua tidak memasukannya ke dalam islam.

    Jadi tauhid uluhiyah itu otomatis akan menghadirkan tauhid rububiyah, sedangkan tauhid rububiyah itu belum tentu menyertakan tauhid uluhiyah,..

    Jadi bg antum mengakui tauhid rububiyah tdk serta merta mengakui tauhid uluhiyah.

    Tidak serta merta tauhid rububiyah itu berarti mengakui tauhid uluhiyah, contohnya kaum musyrikin quraisy, apakah mereka tidak mengakui tauhid rububiyah??? mereka mengakui, bahkan mungkin mereka lebih tahu konsekwensi dari tauhid tersebut daripada kebanyakan kaum muslimin yang masih awam,

    Padahal dg 2 ayat saja, sudah cukup untuk membathalkan pemahaman dmkn. Mengakui rububiyah Allah dg hati, lisan dan perbuatan, berarti juga mengakui uluhiyah Allah. Ga bisa dipisah2.

    Ayat yang mana? tolong sebutkan ayatnya, juga tafsir tentang ayat tersebut,..

    Tunjukin ke ane bhw para ahli sihir firaun bertaubat dg mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAAH. Bagaimana kalimat ajakan Musa kpd firaun?

    Semua Rasul diutus untuk mendakwahkan dakwah tauhid,… bukan yang lainnya… Dari nabi Nuh hingga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam,.. termasuk dalam hal ini nabi musa,….
    Beliau mengajak kepada firaun kepada tauhid, … demikian juga para ahli sihir firaun, setelah mereka menyaksikan mukjizat nabi Musa,… mereka beriman kepada Allah, sehingga mereka disiksa dan dibunuh oleh firaun karena keimanan mereka tersebut,…
    Apakah tidak cukup dengan disiksanya tukang sihir itu oleh firaun, karena beriman kepada apa yang dibawa oleh nabi Musa???
    Hanya orang yang berakallah yang bisa mengambil pelajaran,… wallahu’alam…

  104. tommi
    Desember 30, 2010 pukul 3:38 am

    Dari Sa’id bin Al-Musayyib (seorang Tabi’in yang mulia),
    Sungguh beliau melihat seorang yang melakukan sholat setelah terbit fajar lebih dari dua raka’at.
    Orang tersebut membanyakan ruku’ dan sujud pada kedua roka’at tersebut (padahal yang Sunnah melakukan Sholat Sunnat Fajar tidak lebih dari dua raka’at dengan ringan /bacaan suratnya pendek).

    Maka beliau melarangnya.

    Maka orang tersebut berkata: “ Wahai Abu Muhammad (Sa’id bin Al-Musayyib) ! Apakah Allah akan mengazabku karena Sholat?”,

    maka beliau berkata:”Tidak ! akan tetapi Allah akan mengazabmu atas penyelisihanmu terhadap sunnah.”

    Jazakallahu khairan atas hadits yang antum nukilkan, mudah-mudahan bisa memberi pencerahan kepada kaum muslimin yang masih mengamalkan ajaran yang tidak ada contohnya sama sekali dari Rasulullah,

  105. A. Rosyad
    Desember 27, 2010 pukul 4:24 pm

    Apakah Allah subhanahu wata’ala dan Rosul_NYa melarang kita untuk berdoa, baca yasin, Sholawat dan Alfatihah (tahlil) ? jawabnya : TIDAK .
    Mengapa Anda mengatakan Haram, apakah anda lebih hebat dari pada ALLAh subhanahu wata’ala dan Rosul_NYA.???

    Saya balik bertanya, siapa yang melarang kita untuk berdoa, baca yasin, Sholawat dan Alfatihah (tahlil) ?
    Dibaris manakah pernyataan saya melarang hal diatas??

    Biar lebih arif tlong pelajari ” bid ah menurut Faham ahlussunnah wal jamaah”
    biar kita tidak pernah salah presepsi…..

    Seharusnya anda lebih jeli lagi membacanya, jangan sepotong-sepotong,.. biar anda tidak salah persepsi,…

    Kita ambil sebuah contoh, Jika ada orang yang melakukan shalat maghrib 5 rakaat, kemudian ada orang yang melarang, lalu orang tersebut berdalih, kok anda melarang shalat maghrib?
    Bukankah Allah memerintahkan shalat maghrib??

    Apa kira-kira jawaban anda terhadap kasus diatas?
    Kira-kira apa jawabannya?
    Apakah anda akan membetulkan orang yang melarang shalat maghrib 5 rakaat, ataukah anda akan membela orang yang melakukan shalat maghrib 5 rakaat?

    Tentu jawabannya, orang yang melakukan shalat maghrib 5 rakaat itu telah menyalahi ajaran Rasulullah, karena Rasulullah tidak mencontohkan shalat magrib dengan jumlah 5 rakaat,

    Demikian juga tentang berdoa, baca yasin, Sholawat dan Alfatihah (tahlil) , jika tata cara membacanya tidak mengikuti ajaran Rasulullah, maka ini merupakan sebuah kemungkaran, bukan ibadah, bahkan akan mendapatkan dosa pelakunya,. seperti berdoa kepada kuburan, membaca alquran di kuburan, baca yasin setelah kematian, baca tahlil atau alfatihah setelah kematian, di 7hari, dst… ini semua menyelisihi ajaran Rasulullah yang mulia,..

  106. Fahmi
    Desember 23, 2010 pukul 4:52 am

    Saya suka dengan artkel anda,

    Alhamdulillah, Jazakallahu khairan,..

  107. mahmud
    Desember 15, 2010 pukul 2:18 pm

    tad bukannya tahlilan itu mendo’akan mayit dan megirim hadiah pahala pada mayit,,, apa itu juga ga boleh

    jika tahlil itu ucapan laa ilaaha illallah, maka itu adalah dzikir yang agung, akan tetapi jika tahlilan,maka ini adalah sebuah ritual yang mungkin didalamnya ada ucapan tahlil, akan tetapi dilaksanakan tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah, sehingga amalan tersebut menyelisihi ajaran Rasulullah yang mulia. Jadi tahlilan seperti itu bukanlah mendatangkan pahala, bahkan amalan tersebut tidak diterima, dan pelakunya akan mendapatkan dosa, karena ritual tersebut merupakan perbuatan bidah,..

    Mengirim pahala bagi mayit, saya nukilkan pendapat para ulama:
    Adapun mempuasakan si mayit, shalat sunnah diniatkan untuknya dan membacakan Al Qur’an untuknya, permasalahan ini terdapat perselisihan di antara para ulama.

    Pendapat pertama: amalan-amalan tadi bermanfaat untuk mayit. Inilah pendapat Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah, sebagian ulama Syafi’iyah dan selainnya.

    Pendapat kedua: pahala amalan tersebut tidak sampai kepada mayit. Inilah pendapat yang masyhur dari madzhab Imam Malik dan Imam Asy Syafi’i.
    Anehnya orang-orang yang gemar mengirim pahala kepada si mayit kebanyakan ngakunya pengikut madzhab Imam Syafi’i, padahal Imam Syafi’i berpendapat bahwa pahala bacaan itu tidak sampai kepada si mayat, agak lucu sekali memang kebanyakan orang-orang yang ngaku madzhabnya imam syafi’i, tetapi menyelisihi pendapat Imam Syafii sendiri,..

    Jadi yang mengatakan tidak boleh itu bukan saya, Akan tetapi Rasulullah tidak pernah memerintahkan hal seperti diatas, para sahabat juga tidak melakukannya, padahal mereka dibina oleh Rasulullah secara langsung,

    • mahmud
      Desember 16, 2010 pukul 2:56 pm

      jadi menurut ustad hadiah pahala itu boleh ga

      Al-Hafizh Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat:
      “Artinya : Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh (pahala) selain apa yang diusahakannya.” [An-Najm: 53]

      Beliau berkata:
      “Sebagaimana dosa seseorang tidak dapat dipindahkan kepada orang lain, maka demikian pula ganjaran seseo-rang (tidak dapat dipindahkan/dikirimkan) kepada orang lain, melainkan didapat dari hasil usahanya sendiri. Dari ayat ini Imam asy-Syafi’i dan orang yang mengikuti beliau ber-istinbat (mengambil dalil) bahwasanya pahala bacaan al-Qur’an tidak sampai kepada si mayyit dan tidak dapat dihadiahkan kepada si mayyit, karena yang demikian bukanlah amal dan usaha mereka.

      Tentang (mengirimkan pahala bacaan kepada mayyit) tidak pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam me-nyunnahkan ummatnya, tidak pernah mengajarkan ke-pada mereka dengan satu nash yang sah dan tidak pula ada seorang Shahabatpun yang melakukan demikian. Seandainya masalah membaca al-Qur-an di pemakaman dan menghadiahkan pahala bacaannya baik, semestinya merekalah yang lebih dulu mengerjakan perbuatan yang baik itu. Tentang bab amal-amal Qurbah (amal ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah) hanya diboleh-kan berdasarkan nash (dalil/contoh) dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak boleh memakai qiyas atau pendapat.”

      Periksa: Tafsir Ibni Katsir (VI/33), cet. Darus Salam dan Ahkaamul Janaa-iz (hal. 220), cet. Maktabah al-Ma’arif.

      Apa yang telah disebutkan oleh Ibnu Katsir dari Imam asy-Syafi’i itu merupakan pendapat sebagian besar ulama dan juga pendapatnya Imam Hanafi, sebagaimana dinukil oleh az-Zubaidi dalam Syarah Ihya’ ‘Ulumuddin (X/369).

      Lihat Ahkaamul Janaa-iz (hal. 220), cet. maktabah al-Ma’arif th. 1412 H.

      Allah berfirman tentang al-Qur’-an:

      “Artinya : Supaya ia (al-Qur-an) memberi peringatan kepada orang yang HIDUP…” [Yaasiin: 70]

      Artinya : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur-an ataukah hati mereka terkunci.” [Muhammad: 24]

      Yang wajib juga diperhatikan oleh seorang Muslim adalah, tidak boleh beribadah di sisi kubur dengan melakukan shalat, berdo’a, menyembelih binatang, bernadzar atau membaca al-Qur-an dan ibadah lainnya. Tidak ada satupun keterangan yang sah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya bahwa mereka melakukan ibadah di sisi kubur. Bahkan, ancaman yang keraslah bagi orang yang beribadah di sisi kubur orang yang shalih, apakah dia wali atau Nabi, terlebih lagi dia bukan seorang yang shalih.

      Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam keras terhadap orang yang menjadikan kubur sebagai tempat ibadah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

      “Artinya : Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani (karena) mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai tempat ibadah.”

      Tidak ada satu pun kuburan di muka bumi ini yang mengandung keramat dan barakah, sehingga orang yang sengaja menuju kesana untuk mencari keramat dan ba-rakah, mereka telah jatuh dalam perbuatan bid’ah dan syirik. Dalam Islam, tidak dibenarkan sengaja mengada-kan safar (perjalanan) ziarah (dengan tujuan ibadah) ke kubur-kubur tertentu, seperti, kuburan wali, kyai, habib dan lainnya dengan niat mencari keramat dan barakah dan mengadakan ibadah di sana. Hal ini dilarang dan tidak dibenarkan dalam Islam, karena perbuatan ini adalah bid’ah dan sarana yang menjurus kepada kesyirikan.

      Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
      “Artinya : Tidak boleh mengadakan safar (perjalanan dengan tuju-an beribadah) kecuali ketiga masjid, yaitu Masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha.”

      Adapun adab ziarah kubur, kaum Muslimin dianjur-kan ziarah ke pemakaman kaum Muslimin dengan me-ngucapkan salam dan mendo’akan agar dosa-dosa mereka diampuni dan diberikan rahmat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
      Wallaahu a’lam bish shawab.

      [Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]

  108. muhammad
    Desember 12, 2010 pukul 10:36 am

    tad kalo tahlilannya ga pake hidangan makanan boleh ga

    Tetap nggak boleh, yang dilarang itu bukan karena ada hidangannya, justru intinya itu adalah cara-cara tahlilan yang tidak pernah dicontohkan sama sekali oleh Rasulullah, atau para sahabat,… jadi bukan karena hidangannya saja,.. wallahu’alam…

  109. ali
    Desember 2, 2010 pukul 2:25 pm

    mas,, kalo masalah tawassul ada artikelnya ga???

    Alhamdulillah, atas komentar mas, saya nukilkan apa yang dicari oleh anda mas, bisa dilihat disini, baru sedikit, nanti Insya Allah akan ditambah,…
    Jazakallahu khairan telah berkunjung…

  110. doni
    November 27, 2010 pukul 3:57 pm

    tadz, boleh nanya masalah lafazh niat ga

    Alhamdulillah, sudah saya postingkan tentang masalah ini, mudah-mudahan bisa bermanfaat buat anda, dan kaum muslimin lainnya,..
    Jazakallahu khairan atas pertanyaan anda yang sangat berharga ini,..
    Bisa dilihat disini

  111. FANDO
    November 18, 2010 pukul 6:10 pm

    Alhamdulillah…
    lama saya cari penjelasan tentang masalah ini, sebetulnya saya sudah tau dari kecil akan tetapi apabila ditanya belom bisa menjawab dengan komplit.
    InsyAllah artikel anda akan lebih berguna utk saya, dan semuanya.
    Amin…

    Mudah-mudahan semakin banyak yang mengamalkan ajaran yang berdasarkan dalil yang shahih datang dari Rasulullah, bukan sekedar ikut-ikutan kepada tradisi masyarakat, atau tradisi ustadznya, gurunya, kyainya,… yang ternyata semuanya itu bertentangan dengan perintah Rasulullah,…

    Sudah saatnya menjai pemeluk islam yang ilmiyah, tidak sekedar taklid buta,…

  112. marselo salas
    November 14, 2010 pukul 12:46 pm

    selagi kegiatan itu baik saya kira no probleem.. tahlil ??? baik…
    yah kalau anda pengine mati mung dikurug lemah tok ya wiss jangan di ikutii,, tapi kalop pengin di doakan ya alhamdulillah.. hidup tahlillan..

    mas, jika tahlil itu adalah ucapan laa ilaaha illallah, itu adalah baik, itu dzikir yang paling utama, dan besar pahalanya disisi Allah, tapi perlu di ingat, itu jika dilakukan sesuai dengan contoh Rasulullah,

    sedangkan jika “tahlilan” yaitu ritual ngumpul-ngumpul lalu mengucapkan kalimat tahlil bersama-sama, dalam moment-moment tertentu, ini adalah sama sekali bukan ajaran islam, bukan ajaran Rasulullah, lalu ajaran siapa?
    itu ajaran yang dibuat oleh orang-orang yang bodoh terhadap ajaran Rasulullah yang mulia,…
    Wong ajaran-ajaran Rasulullah saja belum kita laksanakan semua, kok sempat-sempatnya mengamalkan ajaran yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah,….

    kenapa itu terjadi??
    karena kebanyakan umat islam tidak mau mendalami agama ini,
    mereka mencukupkan dengan pendidikan yang didapat di TK.SD, atau sekolah setelahnya, juga kondisi lingkungan masyarakat yang memang melakukan amalan yang tidak ada contohnya,
    berislam dengan ajaran nenek moyang, dengan adat kebiasaan, bukan dengan ajaran yang benar-benar Rasulullah ajarkan,..

    orang yang tahlilan, hanyalah bermodal taklid kepada kyiai atau gurunya saja,… bukan berdasarkan dalil yang shahih dari Rasulullah..
    dan mungkin yang lebih aneh, hanya di indonesia aja yang ada ritual tahlilan ini…. wallahu’alam..

  113. Akh.Sunarto
    November 13, 2010 pukul 3:50 am

    Assalamualaikum,wr wb
    Akhi Maulana Mufti,salam ta’aruf dari ana di tangerang-Banten.bumiayu dengan slawi tidak terlalu jauh tentunya,bila dibandingan dengan tangerang yang ditempuh kurang lebih 7-8 jam.Tapi Akhi membuatnya lebih dekat dengan blognya.Tentunya, ana menukil dari ucapan imam syafii “Siapa yang kenal sejarah berpotensi meningkatkan kesadarannya”,sadar bahwa ana masih dha’if dalam thalabil ilmi blog akhi memberikan isi dan warna bagi yang dahaga ilmu – ilmu syar’i.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
    salam ta’aruf juga akhi sunarto,
    kenapa saya beri nama aslibumiayu, bukan karena saya panatik, atau mencintai daerah kelahiran, bukan itu maksudnya, karena tidak ada ajaran dalam islam ini untuk mencintai daerah kelahiran, atau cinta suku bangsa, atau cinta tanah air, namun nama itu hanyalah agar mudah dikenal dan gampang dicari,..
    Salah satu pendorong saja, dan sekedar apa yah istilahnya, cara gampangnya adalah ada juga ternyata orang bumiayu yang membuat blog di dunia maya ini, yang berbeda dengan blog2 lainnya…

    Saya mencintai daerah yang mana disitu bisa menimba ilmu,bisa menambah wawasan agama yang hak ini, dengan pemahaman para sahabat, jadi saya tidak mencintai daerah karena itu daerah kelahiran saya,.. namun saya tentu merasa senang sekali jika di daerah saya banyak tempat2 tuk menimba ilmu syar’i yang benar, sesuai dengan pengamalan para sahabat,dan salah satu contoh ulama yang sangat gencar mendakwahkan dakwah rasulullah menurut pemahaman para sahabat di antaranya adalah Imam Syafi’i ..

    Dan blog ana, tidaklah ada apa2nya dibandingkan dengan blog2 ikhwah yang lainnya, karena saya hanya menukil saja dari blog dan website mereka,…

  114. TBM Abu Bakar Ash-Shiddiq Dampyak Tegal
    November 11, 2010 pukul 5:38 am

    Na’am. Itulah pentingnya dakwah Islam secara Murni

  115. TBM Abu Bakar Ash-Shiddiq Dampyak Tegal
    November 11, 2010 pukul 5:36 am

    Syukron, Ilmunya. Semoga kita bisa mengambil faedahnya.

  116. November 7, 2010 pukul 2:52 am

    Really interesting idea for me . Will you post some more ? coz i want to follow ur twitter or facebook

    Insya Allah, I will post more articles

  117. Na'im
    Oktober 23, 2010 pukul 3:35 am

    Namun ana tasa’um/pesimis kaum asya’iroh meresapi ini.
    Sebab selimut mereka bukan lagi keikhlasan dalam ber’ilmu dan mengamalkan, tapi Ego.
    Yaa Asy’ariyyin, afalaa ta’qiluun..

    Hidayah ada ditangan Allah, barangkali saja ada yang terbuka hatinya setelah membaca artikel ini, siapa tahu….

  118. Sang Penjelajah Malam
    Oktober 23, 2010 pukul 3:32 am

    Panjang banget artikelnya

    Memang perlu penjelasan panjang, kan biar komplit, plit…. biar tidak dikira nyatut sana nyatut sini….

    Biar jelas juga,… bacanya pelan-pelan ya,…

  1. No trackbacks yet.

Silahkan tulis komentar anda,.. surel diisi dgn email, nama diisi dengan nama anda ,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.518 pengikut lainnya.