Beranda > bantahan, Belajar Nasehat > Bantahan Terhadap Buku “MENITI KESEMPURNAAN IMAN”

Bantahan Terhadap Buku “MENITI KESEMPURNAAN IMAN”


Bantahan Terhadap Buku “MENITI KESEMPURNAAN IMAN” Karya Habib Munzir Al Musawa (BAG I: ISTIGHOTSAH)

Pendahuluan

Buku ‘Meniti Kesempurnaan Iman’ yang ditulis Habib Munzir al-Musawa adalah tulisan sanggahan terhadap karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz berjudul ‘Benteng Tauhid’. Banyak permasalahan tauhid yang dikritik oleh Habib Munzir terhadap buku Syaikh Bin Baz tersebut, namun sebenarnya kebenaran adalah apa yang disampaikan Syaikh Bin Baz rahimahullah. Silakan disimak penjelasan berikut ini yang akan menjabarkan kesalahan-kesalahan Habib Munzir dalam bukunya tersebut. Pada bagian ini yang disoroti adalah tentang istighotsah.

Istighotsah adalah permintaan tolong kepada sesuatu untuk suatu hal yang sangat mendesak. Syaikh Bin Baz menjelaskan manhaj Ahlussunnah sebagaimana yang dipahami para Sahabat Nabi, bahwa istighotsah tidak diperbolehkan ditujukan kepada orang-orang yang sudah meninggal.

 

Perbedaan Orang yang Hidup dengan Orang yang Mati

 

Habib Munzir menyanggah pendapat Syaikh Bin Baz yang menyatakan tidak boleh berdoa atau beristighotsah kepada orang yang sudah meninggal. Habib Munzir berpendapat bahwa tidak ada bedanya antara orang yang hidup maupun yang mati.

 

Habib Munzir menyatakan (pada halaman 4-5):

Istighatsah adalah memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya, untuk sebagian kelompok muslimin hal ini langsung di vonis syirik, namun vonis mereka itu hanyalah karena kedangkalan pemahamannya terhadap syariah islam, Pada hakekatnya memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya adalah hal yang diperbolehkan selama ia seorang Muslim, Mukmin, Shalih dan diyakini mempunyai manzilah di sisi Allah swt, tak pula terikat ia masih hidup atau telah wafat….

Pendapat Habib Munzir ini adalah pendapat yang salah. Jika kita simak perbuatan dan penjelasan para Sahabat Nabi berdasar atsar yang shahih, niscaya kita akan dapati bahwa mereka tidak pernah beristighotsah kepada orang-orang yang sudah meninggal, bahkan terhadap Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau telah wafat. Tidak ada Sahabat Nabi yang mendatangi kuburan Nabi untuk beristighotsah terhadap hal-hal yang mereka hadapi. Jika terdapat hadits-hadits yang menunjukkan para Sahabat beristighotsah kepada Nabi yang telah meninggal, maka itu adalah hadits-hadits yang lemah atau palsu.

 

Para Sahabat justru meminta tolong kepada orang sholih yang masih hidup untuk berdoa kepada Allah. Mereka juga ada yang berkesempatan berziarah ke makam Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam, namun yang dilakukan hanyalah mengucapkan salam, tidak berdoa di sisi kuburnya. Sebagian keturunan Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam ada yang melihat seseorang berdoa di makam Rasulullah, kemudian melarangnya. Beberapa atsar shohih yang menunjukkan hal itu di antaranya:

 

1. Umar bin alKhottob meminta kepada Abbas paman Nabi yang masih hidup untuk istisqo’ (berdoa agar Allah menurunkan hujan). Umar tidak mengajak kaum muslimin untuk beristighotsah kepada Rasulullah shollallaahu alaihi wasallam yang sudah wafat.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا

‘Dari Anas bin Malik bahwasanya Umar bin alKhottob –semoga Allah meridlainya- jika tertimpa kekeringan bersitisqo’ dengan Abbas bin Abdil Muththolib dan berkata: Ya Allah, sesungguhnya dulu kami bertawassul kepadaMu dengan Nabi kami kemudian engkau turunkan hujan, dan sesungguhnya kami (saat ini) bertawassul kepadaMu dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami’(H.R alBukhari hadits no 954 juz 4 halaman 99).

Dijelaskan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany dengan menukil penjelasan az-Zubair bin Bakkar, bahwa Abbas kemudian berdoa :

اللَّهُمَّ إِنَّهُ لَمْ يَنْزِل بَلَاء إِلَّا بِذَنْبٍ ، وَلَمْ يُكْشَف إِلَّا بِتَوْبَةٍ ، وَقَدْ تَوَجَّهَ الْقَوْم بِي إِلَيْك لِمَكَانِي مِنْ نَبِيّك ، وَهَذِهِ أَيْدِينَا إِلَيْك بِالذُّنُوبِ وَنَوَاصِينَا إِلَيْك بِالتَّوْبَةِ فَاسْقِنَا الْغَيْث

“ Ya Allah sesungguhnya tidaklah turun bala’ kecuali karena dosa, dan tidaklah disingkap (bala’ tersebut) kecuali dengan taubat. Dan sungguh kaum ini telah menghadapkan diri mereka kepadaMu denganku karena kedudukanku dari NabiMu, dan tangan-tangan kami itu (berlumur) dosa, sedangkan ubun-ubun kami menghadap (menuju) Engkau dengan taubat, maka turunkanlah hujan kepada kami” (Lihat Fathul Baari juz 3 halaman 443).

 

2. Mu’awiyah bin Abi Sufyan meminta kepada Yazid bin al-Awsad al Jurasyi untuk berdoa agar Allah menurunkan hujan

عن سليم بن عامر قال: خرج معاوية يستسقي، فلما قعد على المنبر، قال: أين يزيد بن الأسود ؟ فناداه الناس، فأقبل يتخطاهم. فأمره معاوية، فصعد المنبر، فقال معاوية: اللهم إنا نستشفع إليك بخيرنا وأفضلنا يزيد بن الاسود، يا يزيد، ارفع يديك إلى الله.فرفع يديه ورفع الناس فما كان بأوشك من أن ثارت سحابة كالترس، وهبت ريح، فسقينا حتى كاد الناس أن لا يبلغوا منازلهم

“ dari Sulaim bin ‘Amir beliau berkata : Mu’awiyah keluar untuk istisqa’, ketika telah naik ke atas mimbar beliau berkata : Mana Yazid bin al-Aswad ? Maka manusiapun memanggilnya, sehingga Yazid bin al-Aswad datang menghadap, maka Mu’awiyah memerintahkan kepadanya maka ia naik mimbar. Mu’awiyah berkata : Ya Allah sesungguhnya kami meminta syafaat kepadaMu dengan manusia yang terbaik dan paling utama di antara kami Yazid bin al-Aswad. Wahai Yazid, angkat tanganmu kepada Allah. Maka Yazid mengangkat tangannya (berdoa) dan manusiapun mengangkat tangannya (berdoa). Tidak berapa lama menjadi basahlah awan bagaikan at-tirs, dan angin bertiup kencang. Maka turunlah hujan kepada kami, sampai-sampai manusia hampir-hampir tidak bisa mencapai tempat tinggalnya” (Karomaatul Awliyaa’ karya Al-Laalikaa-i juz 1 halaman 191, juga disebutkan dalam Siyaar A’laamin Nubalaa’ karya al-Hafidz AdzDzahaby juz 4 halaman 137).

 

Kalau kita menyebutkan contoh dari Sahabat Mu’awiyah ini, akan ada yang mencibir : ‘kok pakai contoh Mu’awiyah?’ Kemudian dia akan mencela dan mencemooh Sahabat Nabi Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Demikian jauhnya umat dari bimbingan Ulama’ Ahlussunnah sehingga demikian mudah kaum muslimin termakan syubhat kaum syiah yang menjelek-jelekkan para Sahabat Nabi, termasuk Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

 

Maka pada kesempatan kali ini sedikit kami akan uraikan beberapa dalil yang menunjukkan keutamaan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Mu’awiyah bin Abi Sufyan adalah salah seorang sekertaris Nabi, penulis wahyu. Dalil yang menunjukkan bahwa Mu’awiyah adalah penulis wahyu yang mendampingi Nabi adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu Abbas bahwa Abu Sufyan meminta 3 hal kepada Nabi, di antaranya agar Nabi menjadikannya sebagai penulisnya dan Nabi menyanggupinya (Lihat Shahih Muslim pada Bab min Fadhaaili Abi Sufyan bin Harb radliyallahu ‘anhu’)

 

Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam berdoa untuk Mu’awiyah bin Abi Sufyan :

اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا وَاهْدِ بِهِ

“Ya Allah jadikanlah ia sebagai pemberi petunjuk yang mendapatkan petunjuk, dan berilah ia hidayah dengannya” (H.R atTirmidzi).

اللَّهُمَّ عَلِّمْ مُعَاوِيَةَ الْكِتَابَ وَالْحِسَابَ وَقِهِ الْعَذَابَ

“ Ya Allah ajarkanlah kepada Mu’awiyah al-Kitab, perhitungan, dan lindungilah ia dari adzab” (H.R Ahmad).

Dua contoh perbuatan Sahabat Nabi di atas menunjukkan kedalaman ilmu mereka. Mereka tahu bahwa sebenarnya meminta kepada orang yang sudah meninggal adalah terlarang. Kalau tidak terlarang, niscaya mereka lebih memilih meminta langsung kepada Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam meski beliau telah meninggal.

 

Siapakah yang berani meragukan kecintaan dan pengagungan para Sahabat terhadap Nabi? Demikian besarnya pengagungan dan kecintaan tersebut, sampai – sampai para Sahabat merasa sangat tidak pantas jika mereka menjadi Imam sholat dalam keadaan Rasul menjadi makmum. Sungguh indah pelajaran yang bisa diambil dari hadits Muttafaqun ‘alaih dari Sahl bin Sa’ad as-Saa’idy ketika Rasulullah pergi ke Bani ‘Amr bin ‘Auf untuk mendamaikan perselisihan di sana. Pada saat sudah masuk waktu sholat dan Rasul belum datang, para Sahabat meminta Abu Bakar menjadi Imam. Abu Bakar pun maju menjadi Imam. Ketika Rasul datang dan masuk dalam shof, para Sahabat yang menjadi makmum memberi isyarat kepada Abu Bakar agar mundur dan memberikan peluang kepada Rasul untuk maju menjadi Imam. Ketika banyak Sahabat yang memberi isyarat dengan bunyi tepukan tangan, Abu Bakr menoleh dan beliau melihat Rasul ada pada shof. Rasul sebenarnya memerintahkan kepada Abu Bakr untuk tetap menjadi Imam, tapi Abu Bakar tidak mau. Beliau mundur, agar Rasul bisa maju menggantikannya sebagai Imam. Selepas sholat, Abu Bakr ditanya oleh Nabi : ‘Wahai Abu Bakar mengapa engkau tidak tetap saja di tempatmu (sebagai Imam) ketika aku perintahkan?’ Abu Bakar menjawab :

مَا كَانَ لِابْنِ أَبِي قُحَافَةَ أَنْ يُصَلِّيَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“ tidak sepantasnya bagi Ibnu Abi Quhaafah (Abu Bakr) untuk sholat di depan Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam” ( muttafaqun ‘alaih).

Sehingga, terbantahlah persangkaan orang yang mengatakan : Sesungguhnya para Sahabat tidaklah berdoa kepada Nabi setelah meninggalnya sekedar berpindah dari suatu hal yang utama menuju suatu hal yang boleh (tidak lebih utama). Bukankah tidak mengapa bagi Abu Bakr untuk menjadi Imam bagi Rasul karena beliau sendiri yang memerintahkan untuk tetap pada tempatnya? Tapi Abu Bakr merasa tidak pantas. Sebagaimana jika meminta doa dan beristighotsah kepada Nabi adalah disyariatkan meskipun beliau sudah meninggal, maka para Sahabat tidaklah akan berpindah meminta kepada orang lain yang masih hidup untuk berdoa, karena demikian mulyanya kedudukan Nabi bagi para Sahabatnya, mereka tidak merasa pantas mendahulukan orang lain dibandingkan Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam.

 

3. Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada Umar bin alKhottob dan para Sahabat yang lain agar jika bertemu dengan Uwais, hendaknya meminta kepadanya untuk memohonkan ampunan kepada Allah. Perintah Nabi ini dilaksanakan oleh Umar dengan berusaha bertemu langsung dengan Uwais dan meminta kepadanya untuk berdoa kepada Allah memohonkan ampunan. Tidak ada seorangpun dari Sahabat Nabi setelah itu sepeninggal Uwais yang memohon ampunan di dekat makam Uwais.

عَنْ أُسَيْرِ بْنِ جَابِرٍ قَالَ كَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ إِذَا أَتَى عَلَيْهِ أَمْدَادُ أَهْلِ الْيَمَنِ سَأَلَهُمْ أَفِيكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ حَتَّى أَتَى عَلَى أُوَيْسٍ فَقَالَ أَنْتَ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَكَانَ بِكَ بَرَصٌ فَبَرَأْتَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ لَكَ وَالِدَةٌ قَالَ نَعَمْ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَأْتِي عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ فَإِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ فَاسْتَغْفِرْ لِي فَاسْتَغْفَرَ لَهُ

Dari Usair bin Jabir ia berkata: Umar bin al-Khottob jika datang sepasukan dari Yaman akan berkata: ‘Apakah di antara kalian ada Uwais bin Amir’? (Demikian seterusnya) sampai datang Uwais. Beliau bertanya: Apakah engkau Uwais bin Amir? Ia menjawab: Ya. Umar bertanya: dari Murod, kemudian ke Qoron? Ia berkata: Ya. Umar bertanya: Apakah engkau dulu memiliki penyakit (semacam) kusta kemudian sembuh, kecuali sebesar dirham. Ia berkata: Ya. Umar bertanya: Apakah engkau memiliki ibu? Ia berkata: Ya. Umar berkata: Aku mendengar Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Akan datang kepada kalian Uwais bin Amir bersama sepasukan penduduk Yaman dari Murod kemudian Qoron, dulunya ia memiliki penyakit (semacam) kusta kemudian ia sembuh, kecuali sebesar dirham, ia memiliki ibu yang ia berbakti kepadanya. Kalau seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah perkenankan. Jika engkau bisa meminta agar ia memohon ampunan untukmu, lakukanlah. Maka (wahai Uwais) mohonkan ampun untukku. Kemudian (Uwais memohonkan ampunan untuk Umar). (H.R Muslim).

 

Dalam riwayat lain, Nabi memerintahkan dengan lafadz tidak khusus untuk Umar, namun untuk Sahabat-Sahabat lain secara umum, dengan Sabda: Nabi : “perintahkanlah dia agar beristighfar untuk kalian“

 

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ خَيْرَ التَّابِعِينَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ وَلَهُ وَالِدَةٌ وَكَانَ بِهِ بَيَاضٌ فَمُرُوهُ فَلْيَسْتَغْفِرْ لَكُمْ

Dari Umar bin al-Khottob beliau berkata : sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya sebaik-baik tabi’in adalah seorang laki-laki yang disebut Uwais, ia memiliki ibu dan ia memiliki tanda putih. Maka perintahkanlah dia agar beristighfar untuk kalian (H.R Muslim).

 

4. Ibnu Umar hanya mencukupkan mengucapkan salam saja kepada Nabi, Abu Bakr, dan Umar ketika berziarah ke makam mereka. Tidak lebih dari itu. Beliau tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk berdoa di dekat makam mereka.

أنه كان إذا قدم من سفر صلى ركعتين في مسجد النبي صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم ثم أتى القبر فقال : السلام عليك يا رسول الله ، السلام عليك يا أبا بكر ، السلام عليك يا أبه.

رواه مُسَدَّد ومحمد بن يحيى بن أبي عُمَر والبيهقي موقوفًا بسند صحيح

(إتحاف الخيرة المهرة 3- 259)

Bahwasanya beliau (Ibnu Umar) jika baru datang dari safar sholat 2 rokaat di masjid Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam kemudian mendatangi kuburan (Nabi) dan berkata: Assalaamu ‘alaika yaa Rasulallaah (semoga keselamatan untukmu wahai Rasulullah), assalaamu’alaika yaa Abaa Bakr (semoga keselamatan untukmu wahai Abu Bakr), assalaamu ‘alaika ya abih (semoga keselamatan untukmu wahai ayahku)(riwayat Musaddad dan Muhmammad bin Yahya bin Abi Umar dan al-Baihaqy secara mauquf, lihat Ittihaaf alkhoiroh alMahroh juz 3 halaman 259 karya Imam al-Bushiri, seorang ahlul hadits bermadzhab asy-Syafi’i).

 

5. Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (cucu Ali bin Abi Tholib) melarang seorang berdoa di makam Nabi

عن علي بن الحسين أنه رأى رجلا يجئ إلى فرجة كانت عند قبر النبي صلى الله عليه وسلم فيدخل فيها فيدعو فقال ألا أحدثك بحديث سمعته من أبي عن جدي عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : (لا تتخذوا قبري عيدا ولا بيوتكم قبورا وصلوا علي فإن صلاتكم تبلغني حيثما كنتم(

“ dari ‘Ali bin Husain bahwasanya ia melihat seorang laki-laki mendatangi sebuah celah dekat kuburan Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam kemudian ia masuk ke dalamnya dan berdoa. Maka Ali bin Husain berkata: ‘Maukah anda aku sampaikan hadits yang aku dengar dari ayahku dari kakekku dari Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: ‘Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai ‘ied, dan jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan. Dan bersholawatlah kepadaku karena sholawat kalian akan sampai kepadaku di manapun kalian berada’ (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf-nya(2/268), dan Abdurrozzaq dalam mushonnaf-nya juz 3 halaman 577 hadits nomor 6726).

 

Hadits tersebut dihasankan oleh al-Hafidz As-Sakhowy (murid Ibnu Hajar al-‘Asqolaany). Silakan dilihat pada kitab al-Qoulul Badi’ fis Sholaati ‘ala habiibisy Syafii’ halaman 228.

 

Perlu dicermati bahwa Ali bin Husain bin Ali bin Abi Tholib adalah cucu Ali bin Abi Tholib dan tidak lain adalah cicit Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam. Beliau adalah keturunan langsung Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam.

 

Secara umum, alQur’an telah mengisyaratkan perbedaan keadaan orang yang hidup dengan orang yang mati:

وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ (19) وَلَا الظُّلُمَاتُ وَلَا النُّورُ (20) وَلَا الظِّلُّ وَلَا الْحَرُورُ (21) وَمَا يَسْتَوِي الْأَحْيَاءُ وَلَا الْأَمْوَاتُ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ (22)

Tidaklah sama antara orang buta dengan orang yang melihat(19) Tidak pula sama kegelapan dengan cahaya (20) Tidak pula naungan dengan sesuatu yang panas (21) Dan tidak sama antara orang yang hidup dengan orang yang mati. Sesungguhnya Allah memperdengarkan kepada orang –orang yang dikehendakiNya, dan tidaklah engkau mampu memperdengarkan kepada orang yang berada di (alam) kubur(22)(Q.S Fathir :19-22).

Jika kita simak tafsir alBaghowy (salah seorang Imam yang bermadzhab asy-Syafi’i) akan kita dapati penjelasan bahwa dalam ayat tersebut Allah mempermisalkan keadaan orang yang beriman dengan orang kafir seperti orang yang hidup dengan orang mati. Orang kafir tidak akan bermanfaat dakwah dan nasehat kepadanya, sebagaimana orang-orang yang telah dikubur tidak akan bisa menjawab (seruan).

 

Berdalil dengan Permintaan Syafaat kepada Nabi-Nabi Hari Kiamat

 

Habib Munzir juga menyanggah penjelasan Syaikh Bin Baz dengan dalil permintaan syafaat orang-orang pada hari kiamat ke para Nabi. Bermula dari Nabi Adam, kemudian Nuh, dan seterusnya hingga Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam.

 

Habib Munzir menyatakan (halaman 6-7):

 

Rasul saw memperbolehkan Istighatsah, sebagaimana hadits beliau saw: “Sungguh matahari mendekat di hari kiamat hingga keringat sampai setengah telinga, dan sementara mereka dalam keadaan itu mereka beristighatsah (memanggil nama untuk minta tolong) kepada Adam, lalu mereka beristighatsah kepada Musa, Isa, dan kesemuanya tak mampu berbuat apa apa, lalu mereka beristighatsah kepada Muhammad saw” (Shahih Bukhari hadits no.1405), juga banyak terdapat hadits serupa pada Shahih Muslim hadits No.194, shahih Bukhari hadits No.3162, 3182, 4435, dan banyak lagi hadist–hadits shahih yang Rasul saw menunjukkan ummat manusia beristighatsah pada para Nabi dan Rasul, bahkan Riwayat Shahih Bukhari dijelaskan bahwa mereka berkata pada Adam, Wahai Adam, sungguh engkau adalah ayah dari semua manusia.. dst.. dst…

Dan Adam as berkata: “Diriku..diriku.., pergilah pada selainku.., hingga akhirnya mereka berIstighatsah memanggil–manggil Muhammad saw, dan Nabi saw sendiri yg menceritakan ini, dan menunjukkan beliau tak mengharamkan Istighatsah.

 

Maka hadits ini jelas-jelas merupakan rujukan bagi istighatsah, bahwa Rasul saw menceritakan bahwa orang-orang beristighatsah kepada manusia, dan Rasul saw tidak mengatakannya syirik, namun jelaslah Istighatsah di hari kiamat ternyata hanya untuk Sayyidina Muhammad saw. (selesai perkataan Habib Munzir).

 

Pernyataan Habib Munzir di atas sebenarnya tidak tepat jika digunakan untuk menyanggah penjelasan Syaikh Bin Baz. Sebab, hadits tersebut adalah dalil bolehnya meminta tolong kepada seorang yang masih hidup yang hadir di dekat kita. Dalam hal ini Syaikh Bin Baz tidak mengingkari kebolehan meminta tolong atau beristighotsah kepada seorang yang masih hidup dan dipandang mampu untuk memberikan pertolongan saat itu.

 

Syaikh Bin Baz menyatakan:

 

Adapun meminta tolong kepada seseorang yang masih hidup serta hadir untuk melakukan seseuatu yang dalam batas kemampuannya, tidaklah termasuk perbuatan syirik. Akan tetapi itu merupakan hal–hal biasa yang boleh dilakukan sesama kaum muslimin, sebagaimana yang diabadikan Allah dalam kisah Nabi Musa.

“Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya” QS. Al Qashash : 15. (Selesai penjelasan Syaikh Bin Baz, dinukil dari buku yang sama halaman 1).

 

Hal yang dilakukan oleh orang-orang pada hari kiamat tersebut adalah mereka mendatangi Nabi-Nabi yang dipandang mampu memberikan syafaat, mendekatinya dan berbicara di hadapannya. Bukannya memanggil-manggil nama Nabi-Nabi tersebut dari kejauhan dan tidak terlihat atau Nabi itu berada di alam lain. Berbeda dengan seorang yang beristighotsah di makam Nabi, pada saat mereka di alam dunia, sedangkan Nabi-Nabi itu telah berada di alam barzakh. Jelas hal demikian tidak diperbolehkan. Telah lewat penjelasan tentang tidak diperbolehkannya hal tersebut sebagaimana para Sahabat Nabi tidak ada yang melakukannya. Juga telah dijelaskan di atas bahwa cucu Ali bin Abi Tholib sendiri mengingkari perbuatan seorang yang berdoa di sisi makam Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam.

 

Sehingga, Habib Munzir dalam hal ini telah menyanggah tulisan Syaikh Bin Baz dengan pendalilan yang tidak pada tempatnya.

 

Kesalahan dalam Berhujjah dengan Hadits yang Sangat Lemah

 

Habib Munzir menyatakan (halaman 7):

 

Demikian pula diriwayatkan bahwa dihadapan Ibn Abbas ra ada seorang yang keram kakinya, lalu berkata Ibn Abbas ra: “Sebut nama orang yang paling kau cintai..!”, maka berkata orang itu dengan suara keras.. : “Muhammad..!”, maka dalam sekejap hilanglah sakit keramnya (diriwayatkan oleh Imam Hakim, Ibn Sunniy, dan diriwayatkan oleh Imam Tabrani dengan sanad hasan) dan riwayat ini pun diriwayatkan oleh Imam Nawawi pada Al Adzkar.

 

Jelaslah sudah bahwa riwayat ini justru bukan mengatakan musyrik pada orang yang memanggil nama seseorang saat dalam keadaan tersulitkan, justru Ibn Abbas ra

 

yang mengajari hal ini (selesai perkataan Habib Munzir).

 

Kisah tentang seorang yang kram kakinya kemudian diminta untuk menyebut nama orang yang paling dicintai, dalam hal ini Habib Munzir berdalil dengan hadits yang sangat lemah. Hadits tersebut adalah:

 

وعن مجاهد قال: خدرت رِجْلُ رَجُلٍ عند ابن عباس رضي الله عنهما فقال له ابن عباس: اذكر أحب الناس إليك. فقال: محمد ( فذهب خدره، فأخرجه ابن السني في “عمل اليوم والليلة” (169)، وفي إسناده: غياث بن إبراهيم كذبوه. قال ابن معين: كذاب خبيث

Dari Mujahid ia berkata: Kaki seorang laki-laki kram ketika ia berada di sisi Ibnu Abbas, kemudian Ibnu Abbas berkata: Sebutlah (nama) orang yang paling kamu cintai. Kemudian orang itu berkata:’ Muhammad’. Maka sembuhlah orang itu dari kramnya. (Diriwayatkan oleh Ibnus Sunni dalam amalul yaum wallailah).

 

Hadits ini tidak bisa dijadikan sebagai hujjah, karena di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Ghoyyats bin Ibrohim. Ia adalah perawi yang pendusta. Imam Ahmad bin Hanbal berkata: Ghoyyats bin Ibrohim matrukul hadits, manusia (Ahlul hadits) meninggalkan hadits darinya. Yahya bin Ma’in berkata: “Pendusta tidak bisa dipercaya” (Lihat kitab al-Jarh wat Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim juz 7 halaman 57 no perawi 327). Sehingga tidak benar jika dikatakan bahwa sanad hadits tersebut hasan.

 

Berdalil dengan Kisah Tsunami Aceh

 

Habib Munzir menyatakan (halaman 7-8):

 

Kita bisa melihat kejadian Tsunami di aceh beberapa tahun yang silam, bagaimana air laut yang setinggi 30 meter dengan kecepatan 300km dan kekuatannya ratusan juta ton, mereka tak menyentuh masjid tua dan makam makam shalihin, hingga mereka yg lari ke makam shalihin selamat, inilah bukti bahwa Istighatsah dikehendaki oleh Allah swt, karena kalau tidak lalu mengapa Allah jadikan di makam–makam shalihin itu terdapat benteng yang tak terlihat membentengi air bah itu, yang itu sebagai isyarat Ilahi bahwa demikianlah Allah memuliakan tubuh yang taat pada Nya swt, tubuh tubuh tak bernyawa itu Allah jadikan benteng untuk mereka yang hidup.., tubuh yang tak bernyawa itu Allah jadikan sumber Rahmat dan perlindungan Nya swt kepada mereka–mereka yang berlindung dan lari ke makam mereka.

 

Kesimpulannya: mereka yang lari berlindung pada hamba–hamba Allah yang shalih mereka selamat, mereka yang lari ke masjid–masjid tua yang bekas tempat sujudnya orang–orang shalih maka mereka selamat, mereka yang lari dengan mobilnya tidak selamat, mereka yang lari mencari tim SAR tidak selamat. Pertanyaannya adalah: kenapa Allah jadikan makam sebagai perantara perlindungan-Nya swt? kenapa bukan orang yang hidup? kenapa bukan gunung? kenapa bukan perumahan?.

 

Jawabannya bahwa Allah mengajari penduduk bumi ini beristighatsah pada shalihin (selesai pernyataan Habib Munzir).

 

Dari penjelasan tersebut, Habib Munzir ingin mengajak pembaca berpikir dan mengambil pelajaran dari kisah di balik bencana Tsunami Aceh. Habib Munzir menyatakan: bagaimana air laut yang setinggi 30 meter dengan kecepatan 300 km dan kekuatannya ratusan juta ton, mereka tak menyentuh masjid tua dan makam makam shalihin, hingga mereka yg lari ke makam shalihin selamat, inilah bukti bahwa Istighatsah dikehendaki oleh Allah swt, karena kalau tidak lalu mengapa Allah jadikan di makam–makam shalihin itu terdapat benteng yang tak terlihat membentengi air bah itu.

 

Perlu diketahui bahwa pada saat bencana Tsunami Aceh yang lalu, terdapat beberapa masjid (bukan hanya satu) yang selamat saat bangunan sekelilingnya hancur. Yang lebih perlu dicermati lagi, bangunan-bangunan tempat ibadah yang selamat saat sekelilingnya hancur ternyata bukan hanya masjid. Tapi juga beberapa gereja dan kelenteng-kelenteng. Apakah dari fenomena ini kemudian akan diambil kesimpulan bahwa tempat-tempat ibadah yang lain tersebut juga diridlai oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’ala?

 

Perlu dipahami, bahwa keselamatan dari ancaman kematian bukanlah khusus untuk orang-orang yang beriman. Pada saat terjadi bencana Tsunami Aceh, sebagian orang-orang yang tidak beriman juga Allah beri kesempatan hidup. Bahkan, orang kafir yang kokoh dalam kekafirannya ada yang Allah selamatkan sebagai bentuk tipu daya dan istidraj dari Allah, kemudian ia mengira bahwa dengan sebab kekafiran tersebut ia terselamatkan. Sebaliknya, tidak sedikit orang-orang yang shalih dan beriman Allah takdirkan meninggal dengan sebab peristiwa itu.

 

Tidak sedikit pula orang yang Allah selamatkan di tempat-tempat yang bukan tempat ibadah. Ada yang selamat karena berpegangan dengan pohon kelapa, dan sebagainya.

 

Keselamatan dari kematian karena peristiwa tertentu bukanlah khusus untuk orang beriman saja. Bukankah dalam banyak pertempuran beberapa kali Nabi dan para Sahabat mengalami kekalahan. Tidak sedikit Sahabat Nabi yang Allah pilih sebagai syahid. Tidak sedikit pula dari orang musyrikin Quraisy yang berkali-kali ikut pertempuran namun terus Allah berikan kehidupan.

 

Hal-hal semacam itu bukanlah patokan untuk menilai apakah perbuatan itu syar’i atau tidak. Patokan utama bagi seorang muslim adalah dalil syar’i dari alquran dan hadits yang shahih dengan pemahaman para Sahabat Nabi. Jika seorang telah mengamalkan Sunnah Nabi dengan tepat dan niat yang ikhlas kemudian dengan sebab itu Allah berikan keselamatan, maka itulah yang bisa dijadikan ibroh (pelajaran). Namun, jika seseorang sedang melakukan perbuatan yang melanggar syariat Allah dengan kemaksiatan (baik itu kesyirikan, kebid’ahan, atau dosa-dosa lain), namun justru Allah beri keuntungan-keuntungan duniawi kepadanya, maka dikhawatirkan itu adalah istidraj.

 

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ

“Jika engkau melihat Allah memberikan (kenikmatan) dunia kepada seorang hamba karena kemaksiatannya, dalam hal-hal yang disenangi hamba tersebut. Ketahuilah sesungguhnya itu adalah istidraj (H.R Ahmad).

(Abu Utsman Kharisman)

sumber:

oleh Akhifillah Fandi Satia Engge pada 11 Oktober 2010 jam 9:07

About these ads
  1. jakatingkir
    Oktober 10, 2011 pukul 8:38 am | #1

    “Tidak ada hadits tentang istighatsah. jika ada maka haditsnya dha’if, karena tidak sesuai dengan keinginan nafsu wahabi. wahabi memang perusak syari’at yang tidak faham hakikat” dasar faham yang didirikan oleh orang yang lahir dari negeri tanduk setan.
    Ya Allah Hancurkan Wahabi dimana saja mereka berada.

    Tak kenal maka tak sayang,…
    Seandainya anda tahu, siapa yang dituduh wahabi, mungkin anda akan menyesal dengan penyesalan yang sangat,.. karena apa yang anda lontarkan adalah perkara yang besar…

    Betapa anda mencela, mendoakan keburukan kepada orang-orang yang mendakwahkan ajaran Rasulullah, dengan pemahaman para sahabat, dan anda tuduh dengan tuduhan wahabi….

    Dan orang yang seperti anda, yang membenci dan menuduh dengan sebutan wahabi, sangat banyak, dan kebanyakan karena kebodohan, karena ikut-ikutan saja, taklid buta..

    Inipun banyak terjadi, dan banyak dari mereka yang rujuk kepada pemahaman yg dituduh wahabi, merasakan penyesalan, dan menangisi perbuatan mereka sendiri, setelah mereka tahu, siapa kelompok yang dituduh wahabi itu,…

    baca disini, tentang apa itu wahabi yang dituduhkan kepada orang-orang yang mendakwahkan dakwah Rasulullah, dengan pemahaman salafus shalih..

  2. hasan
    Januari 16, 2011 pukul 12:17 pm | #2

    jadi apa yang dilakukan oleh bapak siperempuan itu tidak salah mas??

    Wallahu’alam,..

  3. hasan
    Januari 9, 2011 pukul 2:35 pm | #3

    subhanallah,, memang benar bahwa merekalah generasi terbaik dalam agama yang mulia ini,,

    masalah wali:
    tapi mas, apabila ada seorang lelaki yang hendak menikahi perempuan yang mereka berdua sama-sama suka, namun ayah si perempuan itu melarang anaknya, menikah dengan lelaki itu karena masalah harta. bolehkah si perempuan itu tetap dinikahi oleh dengan lelaki itu dengan jalan menggunakan wali hakim sedangkan ayah si perempuan itu tak menyetujui pernikahan itu??

    wanita yang nikah tanpa seijin walinya, maka nikahnya tidak sah, apalagi diceritakan nikahnya karena suka sama suka, berarti sudah ada pacaran dulu ya, sedangkan pacaran adalah terlarang dalam islam,
    Harusnya mencari pasangan itu adalah melihat agamanya, tidak melalui proses pacaran, karena dalam pacaran selain itu adalah perbuatan dosa, bisa menggelincirkan kedalam perzinaan, dalam pacaran sendiri terdapat kepalsuan2 yang dibuat2, pura2 sayang, berusaha sedapat mungkin utk menunjukkan yang baik-baik saja, dengan harapan bisa mendapatkan sesuatu yang di incar dalam pacaran tersebut,… dan tidak semua pacaran berakhir menuju pernikahan, banyak yang kandas, dan menyisakan kekecewaan,kesedihan,bahkan perasaan malu yang sangat sulit disembunyikan,…

    mas, yang dimaksud sekufu itu apa? dan apa ada bagian-bagiannya?

    Tentang arti sekufu bisa dibaca disini mas,

  4. hasan
    Januari 6, 2011 pukul 3:48 pm | #4

    tad,, antum pernah mampir ke ummati press,, sarangnya kaum nahdiyin,, saya lagi diskusi disana,, biasanya kalo saya jawab, tulisan saya langsung muncul tanpa ada tulisan dimoderasi,,tapi pas terakhir saya koment, malah ga ditampilin,, terus sekarang malah ga muncul sama sekali,, kenapa ya tad,,, ???

    Ya mungkin karena ngga benar menurut anggapan mereka, jadi ngga di approve,

    mas riri
    mau tanya dizaman nabi kata antum ga ada ma’na seperti ketiga tauhid itu sehingga antum bilang itru bid’ah,,,
    yakin???
    apa nabi ga pernah mengenal ma’na tauhid seperti tauhid rububiyah dll?? hati-hati lho mas,, masa di qur’an aja ada,, tapi menurut antum ga ada dizaman nabi

    mas hasan, memang di jaman Rasulullah itu tidak ada istilah seperti itu, kenapa?
    Karena Rasulullah yang menjelaskan langsung, dan para sahabat adalah generasi yang dididik langsung, dan Rasulullah adalah guru yang terbaik, sehingga apa yang disampaikan oleh Rasulullah bisa dengan mudah dipahami oleh para sahabat.
    Anda bayangkan saja, dulu ayat alquran itu tidak berharakat dan tidak ada tanda titiknya, jadi huruf ba,ta,tsa,nun, itu semua sama, tapi mereka bisa membedakannya, inilah kehebatan para sahabat,… ilmu tajwid , ilmu shorof,ilmu nahwu, jaman Rasulullah tidak ada, tidak ada istilah-istilah seperti itu, yang ada hanyalah praktek,… jadi sama dengan istilah pembagian tauhid, memang dijaman Rasulullah tidak ada, tapi prakteknya ada,..
    Jadi kenapa mas riri mengatakan itu adalah bidah? karena itu hanya ketidak tahuan mas riri tentang apa itu bidah, apa itu sunnah,… wallahu ‘alam..

    mas admin.. thalak tiga dalam sekali ucapan itu, jatuh atau cuma satu thalak saja? lalu apakah wali dalam nikah itu wajib atau sunnah ??

    Untuk permasalahan thalaq seperti itu, bisa mas baca sendiri disini

    Wali dalam pernikahan adalah wajib bagi wanita, karena tidak ada nikah tanpa wali, sedangkan untuk laki-laki tidak, laki-laki bisa menikah tanpa wali,…wallahu a’lam…
    Jadi wali itu adalah merupakan sunnah Rasulullah, dan hukumnya adalah wajib.

  5. riri
    Januari 3, 2011 pukul 8:26 am | #5

    baik dalam Al-qur`an maupun dizaman Nabi SAW tidak ada ma`na Tauhid seperti yang dipahami oleh Wahabi/Salafi , saya tegaskan jangankan pembagiannya, Ma`nanya pun tidak ada.

    jadi apa yang difahami sekte wahabi/salafi soal I`tiqod dengan tiga Tauhidnya adalah Bathil, dan Bid`ah Dolalah.

    Mas, di jaman nabi juga tidak ada ilmu tajwid
    Dijaman nabi juga tidak ada ilmu nahwu, sharaf
    Dijaman nabi tulisan arab itu tidak ada harakat dan titiknya,

    Mas berani mengatakan hal di atas sesat dan dolalah tidak??
    Kan sekarang alquran ada harakat dan titiknya,.. bidah dolalah tidak tuh??
    Kalau menurut salafi sih tidak tuh, karena itu memudahkan kaum muslimin tuk mempelajarinya,..

    Mas, di jaman nabi tidak ada thariqat-thariqat sufi seperti yang diajarkan gurumu, pak habib mundzir,.
    Jadi itu sesat dolalah mas, malahan itu banyak dijelaskan juga oleh para ulama tentang sesatnya tasawuf,… thariqat itu salah satu aliran dalam tasawuf lho mas,..

    mau tahu tentang salafi? baca disini

    Ingin tahu apa wahabi? Baca disini:
    Apa itu wahabi bag 1/
    Apa itu Wahabi bag 2
    Pengertian wahabi dan Siapa Syaikh Muhammad bin abdul wahhab itu
    Seputara kata wahabi 1
    Seputar kata wahabi 2
    Wahabi versus terorisme

    MUDAH-MUDAHAN BERMANFAAT….

    • Tommi
      Januari 5, 2011 pukul 2:31 am | #6

      Assalamu’alaikum

      wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

      Mas Riri ini kok lucu ya?

      Emang lucu-lucu mas, baru tahu ya?

      maulid Nabi jg ndak punya dasar2 didalam Al Qur’an maupun dizaman Nabi Shallallahu alaihi wasalam loh,
      Lalu anda dan teman2 anda yg sepemahaman menganggapnya bid’ah hasanah (???).

      Iya mas, bener tuh, maulid nabi ngga ada contohnya sama sekali dari nabi, tapi mereka gemar sekali ngadain maulid, gurunya yang pak habib ntu juga, lucu ya?

      Tetapi pembagian tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid ashma wa shifat malah anda anggap bid’ah dholalah padahal ia punya dasar yg banyaaaaaaak sekali yg membuat para ulama setelahnya membagi2 tauhid sebagai wasilah untuk mempermudah kita mengenal Allah Ta’ala
      Coba anda buka Al Qur’annya mas, ada banyak tuh ayat2nya yang dapat anda kaji,
      taqlidnya dikesampingkan dulu.
      Dan para ulama yg terpercaya tidak ada tuh yg mengingkari pembagian tauhid menjadi 3.
      Hanya sebagian kecil ulama2 saja yg punya hasad dan dengki kepada wahabi/salafi yg menganggap itu bid’ah dholalah kemudian mereka ditaqlidi secara buta oleh anda dan teman2 anda.

      Ya begitulah mas tommi, memang orang yang pada taklid sama guru-gurunya, apalagi gurunya adalah pak habib yang di betawi, keturunan rasul lagi, jadi ya begini jadinya,..lucu sekali,..
      kalau saya sih keturunan nabi, nabi adam, he..he..

  6. riri
    Januari 2, 2011 pukul 9:03 am | #7

    masalah bid’ah
    Bagaimana tentang membaca ayat-ayat alquran pada bulan ramadhan dari awal sampai khatam dihari-hari akhir bulan suci. Bidah hasanah atau dholalah?

    Tergantung cara ngajinya juga, bisa menjadi sunnah, bisa juga menjadi bidah…
    Banyak kok tatacara membaca alquran di bulan ramadhan yg itu termasuk bidah,
    Dan musibah yang melanda kaum muslimin, membaca allquran, atau menghatamkan alquran, hanya dibulan ramadhan saja…

    Jgn lupa tentang tafsir ayat “segala sesuatu akan binasa, kecuali wajah-Nya”. Bagaimana dgn tangan tuhan, kaki tuhan (kan menurut kelompok antum, tuhan punya kaki dan tangan secara zhahir) dsb apakah akan binasa?

    Allah mempunyai wajah, Apakah Allah akan binasa? baca firman Allah berikut ini:
    وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
    “Dan tetap kekal wajah Rabb-Mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Qs. Ar-Rahman: 27)

    Apakah Allah mempunyai tangan? Ya, betul, bacalah firman Allah berikut ini :
    قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْعَالِينَ
    “Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada (Adam) yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku.” (Qs. Shad: 75)

    Apakah Allah mempunyai kaki? ya, betul, bahkan nanti neraka tidak akan penuh sehingga Allah meletakkan kakinya, sebagaimana hadits
    yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Dan setiap kalian merasa bahwa Nerakan Jahannam penuh. Adapun Neraka Jahannam tidak akan penuh sampai Allah Subhanahu wata’ala meletakkan kedua kakinya hingga Neraka berkata, “Cukup, cukup, cukup” Ketika itu penuhlah Neraka dan sebagian darinya menyempit dan penuhlah dia.”

    Apa sikap kita dari apa yang telah Allah kabarkan untuk diri-Nya ini, maka sesuai kaidah, kita mengimani (menetapkan) sifat tersebut bagi Allah, dan tidak menyerupakan sifat-sifat tersebut dengan makhluk, serta tidak menanyakan bagaimana bentuk atau penggunaan dari sifat-sifat Allah tersebut, misalnya mempertanyakan bagaimana wajah Allah, atau membayangkan mata Allah seperti manusia atau membayangkan bagaimana Allah menggunakan kedua tangannya.

    Apakah wajah, kaki, dan tangan Allah akan hancur?? Tidak, kenapa???
    Kiamat adalah makhluk Allah, ciptaan Allah, bumi,langit dan alam semesta ini, semuanya ciptaan Allah,…
    Kok Allah bisa hancur dengan ciptaannya sendiri??
    Maha suci Allah dari hal yang semacam itu,..
    Neraka yang begitu dahsyat dan besarnya saja, tidak membuat kaki Allah hancur, padahal neraka penuh setelah Allah meletakkan kakinya ke dalam neraka,… Bukankah semua makhluk Allah itu tunduk terhadap perintahnya??
    Mudah-mudahan dengan penjelasan diatas membuat anda paham,
    Mudah-mudahan Allah menunjuki kepada kita semua untuk mendapatkan jalan yang benar,..

  7. ibnugazali
    Desember 31, 2010 pukul 6:16 am | #8

    Assalamu’alaikum,., ana menunggu bantahan bagian ke2 buku tersebut.,biar ana sebar ke temen2 ana yang sudah masuk kedalam majelis habib sesat munzir ini,.,terlebih buku dy yang laris bak kacang goreng ( memang bukunya kacangan,.bahkan lebih bagus kacang bisa kenyang)yaitu “KENALI AQIDAHMU”,.yang berisi syirik dan bid’ah,.mudah-mudahan buku itu ada yang membantahnya juga,.,biar kaum muslimin tidak tertipu kaum sufi sesat dan DAJJAL ini,.,wallahulmusta’an

    • Muhammad rahman
      Januari 1, 2011 pukul 3:11 pm | #9

      @ibnu ghazali,,,

      jadi kamu,,, melarang tawassul yang jelas telah ada dalilnya????

      Orang menyembah berhala juga ada dalilnya mas,..
      Orang menyembah kubur juga ada dalilnya mas,…
      Orang menyembah gurunya juga ada dalilnya,
      Cuma dalilnya bener atau tidak, itu masalahnya…

      Apakah Rasulullah mengajarkannya?

      Cukuplah dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah, jangan buat-buat sendiri ritual tawassul yang tidak ada contohnya dari Rasulullah, bahkan bertentangan dengan ajaran Rasulullah,…

      • jakatingkir
        Oktober 13, 2011 pukul 11:34 am | #10

        Nabi pernah bertawassul.

        Tolong sebutkan contoh kejadian nabi pernah bertawassul, ada dikitab apa, haditsnya riwayat siapa?..

        Shahabat Nabi juga bertawassul.

        Tolong sebutkan kejadian kalau sahabat itu bertawassul,

        Imam Ahmad juga bertawassul.

        Tolong sebutkan kalau imam ahmad pernah bertawassul,.. ada dikitab apa kabar tersebut tertulis?

        jika Tawassul itu tidak boleh maka coba tunjukkan dalilnya.

        Sebelum menjawab, saya ingin bertanya kepada anda, apakah tawassul itu?
        Tahukah anda, ada tawassul yang dibolehkan, ada yang diharamkan?

        Pertanyaan saya, mana dalil yang menyuruh untuk bertawassul seperti yang anda sebutkan, itu jika anda bisa memberi contoh tawassul yg dikerjakan oleh Rasulullah, shahabat, atau imam ahmad,..

      • jakatingkir
        Oktober 14, 2011 pukul 12:41 am | #11

        Tawwasulnya Rasulullah
        20324 – حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بن حَمَّادِ بن زُغْبَةَ، ثنا رَوْحُ بن صَلاحٍ، ثنا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، عَنْ عَاصِمٍ الأَحْوَلِ، عَنْ أَنَسِ بن مَالِكٍ، قَالَ: لَمَّا مَاتَتْ فَاطِمَةُ بنتُ أَسَدِ بن هَاشِمٍ أُمُّ عَلِيِّ بن أَبِي طَالِبٍ، دَخَلَ عَلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَلَسَ عِنْدَ رَأْسِهَا، فَقَالَ:رَحِمَكِ اللَّهُ يَا أُمِّي، كُنْتِ أُمِّي بَعْدَ أُمِّي، وتُشْبِعِينِي وتَعْرَيْنَ، وتُكْسِينِي، وتَمْنَعِينَ نَفْسَكِ طَيِّبًا، وتُطْعِمِينِي تُرِيدِينَ بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ وَالدَّارَ الآخِرَةَ، ثُمَّ أَمَرَ أَنْ تُغَسَّلَ ثَلاثًا، فَلَمَّا بَلَغَ الْمَاءُ الَّذِي فِيهِ الْكَافُورُ سَكَبَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ، ثُمَّ خَلَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَمِيصَهُ، فَأَلْبَسَهَا إِيَّاهُ وَكَفَّنَهَا بِبُرْدٍ فَوْقَهُ، ثُمَّ دَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُسَامَةَ بن زَيْدٍ، وَأَبَا أَيُّوبَ الأَنْصَارِيَّ، وَعُمَرَ بن الْخَطَّابِ، وَغُلامًا أَسْوَدَ يَحْفُرُونَ فَحَفَرُوا قَبْرَهَا، فَلَمَّا بَلَغُوا اللَّحْدَ حَفَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ، وَأَخْرَجَ تُرَابَهُ بِيَدِهِ، فَلَمَّا فَرَغَ دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَاضْطَجَعَ فِيهِ، ثُمَّ قَالَ:اللَّهُ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لا يَمُوتُ، اغْفِرْ لأُمِّي فَاطِمَةَ بنتِ أَسَدٍ، ولَقِّنْهَا حُجَّتَها، وَوَسِّعْ عَلَيْهَا مُدْخَلَهَا، بِحَقِّ نَبِيِّكَ وَالأَنْبِيَاءِ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِي، فَإِنَّكَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ وَكَبَّرَ عَلَيْهَا أَرْبَعًا، وأَدْخَلُوها اللَّحْدَ هُوَ وَالْعَبَّاسُ، وَأَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمْ .
        Lihat Kitab Ma’jam Kabir dan Ma’jam Awsath Imam Ath-Thabaraniy, Kitab Shahih Ibnu Hibban dan Mustadarak al-Hakim.

        Tawassul Shahabat
        770 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ التُّسْتَرِيُّ حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ الْمُوَفَّقِ أَبُو الْجَهْمِ حَدَّثَنَا فُضَيْلُ بْنُ مَرْزُوقٍ عَنْ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ إِلَى الصَّلَاةِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِحَقِّ السَّائِلِينَ عَلَيْكَ وَأَسْأَلُكَ بِحَقِّ مَمْشَايَ هَذَا فَإِنِّي لَمْ أَخْرُجْ أَشَرًا وَلَا بَطَرًا وَلَا رِيَاءً وَلَا سُمْعَةً وَخَرَجْتُ اتِّقَاءَ سُخْطِكَ وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِكَ فَأَسْأَلُكَ أَنْ تُعِيذَنِي مِنْ النَّارِ وَأَنْ تَغْفِرَ لِي ذُنُوبِي إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ أَقْبَلَ اللَّهُ عَلَيْهِ بِوَجْهِهِ وَاسْتَغْفَرَ لَهُ سَبْعُونَ أَلْفِ مَلَكٍ (سنن أبن ماجه)
        Lihat Kitab Sunan Ibnu Maajah

        tolong artinya disebutkan dong, biar pembaca juga tahu, dan tolong cantumkan pula halaman dan nomer haditsnya,.. bukan menukil arabnya saja,.. biar saya juga tahu, bagaimana anda menyampaikan arti dari kedua riwayat tersebut,..

    • jakatingkir
      Oktober 12, 2011 pukul 3:52 pm | #12

      Yang suka mengkafirkan adalah kafir. yang suka memusyrikkan adalah musyrik.
      Bertawassul kok musyrik????

      Mas, tawassul ada yang syirik, ada yang tidak, bahkan ada tawassul yang menjerumuskan pelakunya kedalam syirik akbar, sehingga bisa mengeluarkan dirinya dari agama islam ini,.. apakah anda sudah tahu??

      apa wahabi tidak tahu definisi musyrik???

      Apakah anda mengetahui apa itu definisi wahabi?

      wahabi memang bodoh, bertawassul disamakan dengan menyembah. bahkan di kampung saya ada wahabi memusyrikkan orang yang mencium Ka’bah atau Hajar Aswad?

      Mencium ka’bah? tidak ada contohnya mas, kalau mencium hajar aswad, itu ada contohnya,.. tapi bukan untuk bertawassul kepada ka’bah atau hajar aswad mas,.. jika ada orang yang berkeyakinan bahwa ka’bah atau hajar aswad itu mengandung kekuatan, dan bisa membuat kehidupan kita bahagia atau sengsara, maka ini bisa terjerumus kedalam kesyirikan mas,.. hati-hati…

      wah bagaimana yaa jika seseorang mencium Istrinya? apa jadi musyrik juga. jika Yaa .. maka kasihanlah istri-istri wahabi karena tak pernah dicium suaminya.

      Justru Rasulullah kalau mau pergi shalat, beliau mencium istrinya mas,.. kita juga sebaiknya mencontoh Rasulullah mas,..

      Jadi berbahagialah jika menjadi istri orang-orang yang dituduh sebagai wahabi,.. tiap hari dicium oleh suaminya,.. ketika mau berangkat shalat ke masjid,… kan enak tuh mas,… jangan salah prasangka dulu mas,…

  8. abu sunni
    Desember 7, 2010 pukul 6:59 am | #13

    Berikut ini adalah sanad Habib Munzir bin Fuad al-Musawa kepada Imam Bukhari

    deleted

    Bukanlah sanad yang lebih utama, tapi sejauh mana dia mengamalkan ajaran Rasulullah yang shahih,
    Jika ngakunya sanadnya bertemu sampai imam bukhari, tapi amalannya tidak seperti yang diajarkan Rasulullah, ya sama saja, tidak terpakai,
    Jika itu diumpakan perawi hadits, jika kelakuannya seperti itu, bisa dituduh rawi yang tidak tsiqah, dhaif, rawi pendusta, atau rawi yang mungkar,
    Jadi bersambungnya sanad bukanlah hal yang utama, jika amalannya tidak mencocoki apa yang diajarkan Rasulullah kepada para sahabatnya…

    • Tommi
      Desember 8, 2010 pukul 1:27 am | #14

      Apa gunanya sanad keilmuan jika ilmu yg diajarkan tidak sesuai dengan hadits dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasalam yg shahih? Ini sama saja halnya dengan mengklaim hafal 300rb hadits tp tidak bisa membedakan mana yg shahih, mana dhoif, mana maudhu’. Akibatnya ibadahnya jd tercampur2.

      Bagi saya, andaikan yg mengajar agama saya adalah seorg budak habsyi, jika yg diajarkan sesuai dengan Al Qur’an dan sunnah2 as-shohihah dengan pemahaman salafus sholih, saya akan terima ajarannya.

      Betul mas, mending gitu, daripada yang ngajar habib , ngaku sanadnya bersambung ke imam bukhari, tapi yang diajarkan tidak lah sesuai dengan apa yang Rasulullah ajarkan,

    • jakatingkir
      Oktober 14, 2011 pukul 12:46 am | #15

      Jika yang ilmunya bersandar kepada sanad masih diragukan amalanannya… wah..wah…bagaimana yang beramal dengan ilmu yang tidak bersanad. darimana ia tahu keabsahan ilmunya.

      Apa sih yang dimaksud sanad mas? ngerti ngga?

      baca nih wasiat umar bin khattab, yang jauh lebih utama dari orang yang ngaku punya sanad,siapapun orangnya,

      -Pada tahun 14H pada peristiwa penaklukan wilayah Irak dan wilayah timur (periode III) setelah di angkatnya Sa’ad bin Abi Waqqash menjadi panglima tertinggi untuk wilayah Irak.-

      Umar berwasiat kepada Sa’ad dan berkata,

      “Janganlah engkau merasa bangga dengan kedudukanmu sebagai keponakan Rasulullah dan sekaligus sebagai sahabatnya. Sesungguhnya Allah tidak akan menghapus kejelekan dengan kejelekan, tetapi Dia akan menghapus kejelekan dengan kebaikan.

      Sesungguhnya tidak ada manfaatnya berbangga dengan keturunan (nasab) di sisi Allah kecuali dengan kepatuhan yang tulus kepadaNya.

      Seluruh manusia baik yang berasal dari keturunan mulia maupun dari keturunan yang hina hakikatnya sama dalam pandangan Allah.

      Mereka semua adalah hamba Allah dan Allah Rabb mereka.

      Tingkat mereka berbeda-beda sesuai dengan kemaafan yang diberikan Allah padanya dan sedikit banyaknya ketaatan mereka kepada Allah.

      Lihatlah seluruh perkara yang telah diperbuat Rasulullah shalallahu’alai hi wa sallam sejak dia di utus hingga berpisah dengan kita, kemudian ikuti jejaknya karena sesungguhnya itulah kebaikan yang hakiki.

      Inilah nasihatku padamu dan jika engkau menolaknya dan membencinya maka amalanmu akan gugur sia-sia dan engkau menjadi orang yang merugi.”

      -Tartib wa Tahdzib kitab al-Bidayah wan Nihayah. Penulis, Ibnu Katsir rahimahullah-

      smoga bermanfaat

      Apalah artinya mengaku sanadnya bersambung kepada Rasulullah, akan tetapi apa yang diajarkannya malah menyelisihi ajaran Rasulullah….

  9. abunuralif
    November 22, 2010 pukul 5:39 pm | #16

    Jazakalloh khair… itulah manhaj salaf,sangat susah untuk di bantah dalilnya karena semuanya berasal dari hujjah yang shahih…

    Adapun penentangnya,hanya berkelit mengalihkan kepada hal lain yang seolah-olah bijak dan baik,padahal hanya tipuan belaka…

    Betul akh, para pengagum sang habib hanya pake argumen basi, and lucu… dan super taklidnya itu lho yang bikin kita nggak habis pikir….

    Kalau taklid sama hadits yang shahih dari Rasulullah sih bagus,… kalau taklidnya sama orang biasa seperti sang habib…. siapa yang menjamin ya?..

    • Abu Ashroff AlQadiri
      Desember 29, 2010 pukul 3:08 pm | #17

      Masya ALLAH bagus sekali komentar kamu. Saya lihat sendiri bagaimana pelajar-pelajar Indonesia seperti kamu di Universiti di Singapura. Mengajak orang pada fahaman yang mengata semua orang masuk neraka, dia sahaja masuk syurga. Macam seolah-olah kamu sahaja yang benar dan tulen. Semua sudah di cop salah. Wali Songo yang sudah menyebarkan Islam dahulu pun salah. Mereka dituduh membawa ajaran sesat. Syaikh Abdul Qadir AlJailani sesat, semua ulama-ulama muktabar salah. Fahaman kamu saja yang berlandaskan Al Quran dan As SUnnah. Yang lain tidah. Ish…APa nak jadi, Semoga kamu semua ini diberi petunjuk oleh ALLAH berkat syafaat Rasulullah SAW. AMin

      Wajib berittiba’ kepada manhaj salaf terutamanya dari kalangan para sahabat kerana mereka golongan yang sangat berwibawa. Terkenal dengan kehebatan sahsiah, kebaikan budi-pekerti, kemuliaan akhlak dan Allah menganugerahkan mereka dengan kesempurnaan iman yang tidak dapat ditandingi oleh sekalian manusia.

      Mereka telah berjaya memperjuangkan syariat, menghidupkan, mempertahankan dan menjaganya dari dicabuli oleh bid’ah atau kerosakan hawa nafsu. Mereka mengetahui sebab-sebab turunnya wahyu dan melaksanakan semua dalil-dalil mengikut kenyataan. Ayat-ayat turun pada asalnya tertuju kepada mereka sebelum ditujukan kepada orang-orang lain yang lahir kemudian sesudah mereka. Mereka asas (untuk merujuk) kefasihan (kesahihan Bahasa Arab) dan penjelasannya kerana wahyu turun menggunakan bahasa (lisan) mereka.

      Rasulullah secara langsung terus menjelaskan segala masalah atau kemusykilan yang menimpa mereka. Allah Azza wa-Jalla berkali-kali memuji di dalam firmanNya dan merahmati mereka serta orang-orang yang berittiba’ (mengikut jalan) manhaj mereka. Ditinggikan darjat sesiapa yang mengikut mereka lantaran ketinggian darjat mereka[1]. Dan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda:

      عَنْ اَبِيْ سَعِيْدِ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهَ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ تَسُبُّوْا اَصْحَابِيْ ، فَلَوْ اَنَّ اَحَدكُمْ اَنْفَقَ مِثْلَ اُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ اَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ.

      “Janganlah kamu mencerca para sahabat, seandainya salah seorang dari kamu berinfaq sebesar gunung Uhud, tidaklah ia mencapai ganjarannya satu mud (ukuran gandum sebanyak dua telapak tangan) makanan yang disedekahkan oleh salah seorang dari mereka dan bahkan tidak pula mencapai setengah mudnya”.[2]

      Silahkan tuan baca selanjutnya disini

      Silahkan tuan hadiri kajiannya disingapura, bisa dilihat disini jadwalnya,
      Bersama ustadz Rasulu bin Dahri

  10. Abu Ashroff Al qadiri
    November 7, 2010 pukul 11:05 am | #18

    Assalamu’alaikum Wr Wb

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

    Daripada pembacaan saya, nampak sah lah fahaman Wahabi sentiasa membawa pepecahan Umat. Perkara yang sudah dibincang oleh ulama-ulama muktabar sentiasa di pertikaikan. Seolah-olah, kamu semua yang betul dan yang lain salah. Kamu saja yang tahu siapa ke syurga atau keneraka. Siapa tak ikut manhaj kamu dilabel sebagai sesat, syirik, kafir. Apa nak jadi dengan kamu semua. Minta petunjuk ALLAH. Jangan sewenang-wenang mengatakan yang kamu sahaja yang benar.

    Saudaraku, siapakah yang mengatakan bahwa saya saja yang benar?

    Apakah ulama-ulama muktabar ini semua tak gunakan Quran dan Hadith? Kamu sahaja yang pakai Quran dan Hadith.

    Saudaraku, apakah orang yang mengaku memiliki nabi baru setelah nabi terakhir yaitu Rasulullah, juga tidak menggunakan Quran dan Hadits? mereka menggunakan quran dan hadits juga , lalu, apakah orang yang mengatakan bahwa alquran kita itu telah berubah, trus malaikat jibril salah menyampaikan wahyu, harusnya kepada Ali, tapi disampaikan kepada Rasulullah, apakah mereka tidak menggunakan quran dan hadits? mereka semua ngakunya menggunakan quran hadits,… lalu kenapa mereka menyimpang? lalu apa bedanya dengan kita? apakah kita sama dengan mereka, karena sama-sama menggunakan quran dan hadits??
    Tentu kita berbeda wahai saudaraku,… berarti quran dan hadits saja tidak cukup, harus ada tambahannya, apa itu? yaitu berdasarkan pemahaman para sahabat,… bukan pemahaman masing-masing..

    Dengan nama ALLAH, berhentilah perkara yang sia-sia ini. Dripada bermujadalah perkara-perkara yang sudah ada nasnya, lebih baik fikir bagaimana nak menyelamatkan umat. Dah tentu, Habib Munzir dan Habib Umar gurunya, telah banyak sumbanganya terhadap umat.

    Mengatakan yang benar itu benar, adalah merupakan kewajiban,… mengatakan bahwa apa yang disampaikan tokoh tertentu, baik itu habib, kyiai, ajengan,… yang ternyata apa yang disampaikan oleh mereka itu bertentangan dengan sunnah Rasulullah,… ini bukanlah perkara yang sia-sia… ini adalah dalam rangka menyampaikan nas-nas kepada umat,… menyelamatkan umat dari tokoh-tokoh penyesat umat, terlepas siapapun orangnya….

    Yang kamu, banyak memecah belah kan umat. Kebanyakan fahaman teroris sumbernya dari fahaman seperti kamu.

    Sebenarnya, siapa sesungguhnya yang memecah umat?
    Tidakkah saudara membaca bagaimana sejarah Rasulullah berdakwah?
    Rasulullah berdakwah dengan dakwah tauhid, menyembah hanya kepada Allah saja, sehingga orang-orang quraisy yang menyembah berhala itu terpecah, ada yang ikut Rasulullah, ada yang ikut agama nenek moyang mereka,… Apakah Rasulullah memecah belah umat??
    Demikian juga orang-orang yang dituduh sebagai wahabi, mereka mendakwahkan tauhid, dakwah Rasulullah, kemudian banyak manusia yang akhirnya mengetahui ajaran yang benar, lalu serta merta orang-orang yang disebut wahabi ini dikatakan memecah belah umat?

    Sekian. Wassalam

    Jazakallahu khairan telah meninggalkan komentar,
    Ada link dari ustadz yang tinggal di singapore, dan berbahasa melayu,mungkin saudara bisa membacanya lebih jauh lagi, untuk mengenal cara beragama yang benar, mengikuti pemahaman para sahabat,
    Saudara bisa nukilannya disini:
    Wajib berittiba’ kepada manhaj salaf terutamanya dari kalangan para sahabat kerana mereka golongan yang sangat berwibawa. Terkenal dengan kehebatan sahsiah, kebaikan budi-pekerti, kemuliaan akhlak dan Allah menganugerahkan mereka dengan kesempurnaan iman yang tidak dapat ditandingi oleh sekalian manusia.

    Mereka telah berjaya memperjuangkan syariat, menghidupkan, mempertahankan dan menjaganya dari dicabuli oleh bid’ah atau kerosakan hawa nafsu. Mereka mengetahui sebab-sebab turunnya wahyu dan melaksanakan semua dalil-dalil mengikut kenyataan. Ayat-ayat turun pada asalnya tertuju kepada mereka sebelum ditujukan kepada orang-orang lain yang lahir kemudian sesudah mereka. Mereka asas (untuk merujuk) kefasihan (kesahihan Bahasa Arab) dan penjelasannya kerana wahyu turun menggunakan bahasa (lisan) mereka.

    selengkapnya dan ada audio nya DISINI

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.263 pengikut lainnya.