Beranda > Belajar Nasehat > Hukum Melafadzkan Niat (Usholli, Nawaitu …) Apakah Ada Ajarannya Dari Rasulullah?

Hukum Melafadzkan Niat (Usholli, Nawaitu …) Apakah Ada Ajarannya Dari Rasulullah?


hukum melafadzkan niatSahabat -Al Faruq- Umar bin Khaththab radhiyallahu ’anhu berkata,”Saya mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,’Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya’.” (HR. Bukhari & Muslim). Inilah hadits yang menunjukkan bahwa amal seseorang akan dibalas atau diterima tergantung dari niatnya.

Setiap Orang Pasti Berniat Tatkala Melakukan Amal

Niat adalah amalan hati dan hanya Allah Ta’ala yang mengetahuinya. Niat itu tempatnya di dalam hati dan bukanlah di lisan, hal ini berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama sebagaimana yang dinukil oleh Ahmad bin Abdul Harim Abul Abbas Al Haroni dalam Majmu’ Fatawanya.

Setiap orang yang melakukan suatu amalan pasti telah memiliki niat terlebih dahulu. Karena tidak mungkin orang yang berakal yang punya ikhtiar (pilihan) melakukan suatu amalan tanpa niat. Seandainya seseorang disodorkan air kemudian dia membasuh kedua tangan, berkumur-kumur hingga membasuh kaki, maka tidak masuk akal jika dia melakukan pekerjaan tersebut -yaitu berwudhu- tanpa niat. Sehingga sebagian ulama mengatakan,Seandainya Allah membebani kita suatu amalan tanpa niat, niscaya ini adalah pembebanan yang sulit dilakukan.”

Apabila setan membisikkan kepada seseorang yang selalu merasa was-was dalam shalatnya sehingga dia mengulangi shalatnya beberapa kali. Setan mengatakan kepadanya,”Hai manusia, kamu belum berniat”. Maka ingatlah,”Tidak mungkin seseorang mengerjakan suatu amalan tanpa niat. Tenangkanlah hatimu dan tinggalkanlah was-was seperti itu.”(Lihat Syarhul Mumthi, I/128 dan Al Fawa’id Dzahabiyyah, hal.12)

Melafadzkan Niat

Masyarakat kita sudah sangat akrab dengan melafalkan niat (maksudnya mengucapkan niat sambil bersuara keras atau lirih) untuk ibadah-ibadah tertentu. Karena demikianlah yang banyak diajarkan oleh ustadz-ustadz kita bahkan telah diajarkan di sekolah-sekolah sejak Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi. Contohnya adalah tatkala hendak shalat berniat Usholli fardhol Maghribi … atau pun tatkala hendak berwudhu berniat Nawaitu wudhu’a liraf’il hadatsi …’. Kalau kita melihat dari hadits di atas, memang sangat tepat kalau setiap amalan harus diawali niat terlebih dahulu. Namun apakah niat itu harus dilafalkan dengan suara keras atau lirih?!

Secara logika mungkin dapat kita jawab. Bayangkan berapa banyak niat yang harus kita hafal untuk mengerjakan shalat mulai dari shalat sunat sebelum shubuh, shalat fardhu shubuh, shalat sunnah dhuha, shalat sunnah sebelum dzuhur, dst. Sangat banyak sekali niat yang harus kita hafal karena harus dilafalkan. Karena ini pula banyak orang yang meninggalkan amalan karena tidak mengetahui niatnya atau karena lupa. Ini sungguh sangat menyusahkan kita. Padahal Nabi kita shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,Sesungguhnya agama itu mudah.” (HR. Bukhari)

Ingatlah setiap ibadah itu bersifat tauqifiyyah, sudah paketan dan baku. Artinya setiap ibadah yang dilakukan harus ada dalil dari Al Qur’an dan Hadits termasuk juga dalam masalah niat.

Setelah kita lihat dalam buku tuntunan shalat yang tersebar di masyarakat atau pun di sekolahan yang mencantumkan lafadz-lafadz niat shalat, wudhu, dan berbagai ibadah lainnya, tidaklah kita dapati mereka mencantumkan ayat atau riwayat hadits tentang niat tersebut. Tidak terdapat dalam buku-buku tersebut yang menyatakan bahwa lafadz niat ini adalah hadits riwayat Imam Bukhari dan sebagainya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan dalam kitab beliau Zaadul Ma’ad, I/201, ”Jika seseorang menunjukkan pada kami satu hadits saja dari Rasul dan para sahabat tentang perkara ini (mengucapkan niat), tentu kami akan menerimanya. Kami akan menerimanya dengan lapang dada. Karena tidak ada petunjuk yang lebih sempurna dari petunjuk Nabi dan sahabatnya. Dan tidak ada petunjuk yang patut diikuti kecuali petunjuk yang disampaikan oleh pemilik syari’at yaitu Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam.”  Dan sebelumnya beliau mengatakan mengenai petunjuk Nabi dalam shalat,”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak mendirikan shalat maka beliau mengucapkan : ‘Allahu Akbar’. Dan beliau tidak mengatakan satu lafadz pun sebelum takbir dan tidak pula melafadzkan niat sama sekali.”

Maka setiap orang yang menganjurkan mengucapkan niat wudhu, shalat, puasa, haji, dsb, maka silakan tunjukkan dalilnya. Jika memang ada dalil tentang niat tersebut, maka kami akan ikuti. Dan janganlah berbuat suatu perkara baru dalam agama ini yang tidak ada dasarnya dari Nabi. Karena Nabi kita shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,” Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada dasar dari kami, maka amalan tersebut tertolak. (HR. Muslim).

Dan janganlah selalu beralasan dengan mengatakan ’Niat kami  kan baik’, karena sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhuma mengatakan,”Betapa banyak orang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi, sanadnya shahih, lihat Ilmu Ushul Bida’, hal. 92)

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat wa shallallahu ’ala Muhammad wa ’ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Tulisan sederhana di masa Islam, diterbitkan oleh Buletin Dakwah At Tauhid

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://rumaysho.com

  1. Anonymous
    Agustus 13, 2014 pukul 3:35 pm

    ALHAMDULILLAH.may ALLAH SWT bless yourlife always, yaa akhi

    aamiin,

  2. Anonymous
    Juli 26, 2014 pukul 4:13 am

    saudara banyak-banyaklah baca kitab, jangan siring banyak baca buku tulis.

    Terimakasih,.
    Jika anda banyak membaca kitab, tolong datangkan satu dalil saja bahwa rasulullah melakukan hal tersebut, beserta lafadznya, haditsnya ada di kitab apa, riwayat siapa,.

    saya kasih hadiah mas,. saya tunggu ya,

  3. Dahyar Arifin Muhammad
    April 11, 2014 pukul 6:04 am

    Allah SWT tidak akan mematikan Rosulnya, kecuali telah sempurna Risalah yang disampaikan Nya.

    yang namanya SEMPURNA kalau ditambah-tambah ataupun dikurangi dia tidak jadi sempurna lagi!… …

    dengan berwudhu itulah niat kita untuk sholat karena tidak ada sholat tanpa berwudhu.

    Terimakasih mas Dahyar,.
    Dalam shalat, kita wajib menghadirkan dan menjaga niat kita dari awal takbiratul ihram hingga salam, niat wajib hadir dan dijaga,. bukan sebelum takbiratul ihram doang,.
    salah niat, maka shalat kita bisa rusak, tidak berpahala, bisa malah mendatangkan dosa, bahkan menyebabkan shalatnya tidak sah,.
    Dan wudhu bukan termasuk niat shalat, wudhu adalah syarat sah shalat, tidak sah shalat tanpa wudhu,.

  4. alftah
    Januari 9, 2014 pukul 3:30 pm

    assalamulaikum, numpang nanya apa sih artinya bid,ah,,,mohon jawabannya biar saya faham

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,
    silahkan baca link ini

  5. Lenggang Kangkung
    Oktober 25, 2013 pukul 9:19 am

    ====deleted====

    web rujukan anda kami hapus, karena memang tidak ada contohnya dari rasulullah, bahwa beliau mengucapkan ushally dst ketika mau takbiratul ihram,

    Sebab niat itu amalan hati, bukan amalan lisan,.

    • sutan
      November 13, 2013 pukul 3:29 am

      lafal niat bukan termasuk sholat..memang niat ada dalam hati..karena saya orang awam,maka untuk meluruskan niat dalam hati.. ya..membaca lafal itu..jangan saling menyalahkan atau merasa benar sendiri..semua ada dasarnya..dalamnya laut bisa diukur..dalam hati siapa tahu..terima kasih.

      Terimakasih,
      Niat shalat wajib kita jaga dari awal shalat hingga salam,
      Jadi niat shalat itu bukan perbuatan diawal shalat saja seperti ucapan ushally,dst,.
      Shalat kita bisa batal jika niat kita berubah ditengah shalat dan kita tidak berusaha menjaga niat shalat kita yaitu utk mengharapkan ridha allah semata, bukan utk yg lainnya,

      Makanya kualitas ibadah seseorang itu tergantung dari niatnya, dan niat adalah penentu terbesar kualitas ibadah sesorang, dan termasuk hal yang sangat berat menjaga keikhlasan niat ini,

      Jadi dalam kita melakukan shalat, dalam melakukan niatpun harus mengikuti contoh rasulullah, bukan modifikasi manusia seperti ucapan ushally dst,.

  6. faisal.alkaff
    Juli 12, 2013 pukul 4:40 am

    bagaimana lafaz niat bersedekah

    Tidak ada lafadz khusus dalam bersedekah,. niatkanlah untuk mengharapkan ridha Allah, mengharapkan surganya,.. bukan mengharap dunia,

  7. golek surgo
    Juni 30, 2013 pukul 4:21 pm

    Di atas ada komen berikut:
    Sebabnya adalah pemahamannya yang keliru dalam mengiterpretasikan perkataan Imam Syafi’i yakni redaksi sebagai berikut:”Jika seseorang berniat menunaikan ibadah haji atau umrah dianggap cukup sekalipun tidak dilafazkan.Tidak seperti shalat, tidak dianggap sah kecuali dengan AL NUTHQ (diartikan oleh Al Zubairi dengan melafazkan, sedangkan yang dimaksud dengan AL NUTHQ disini adalah takbir) [al Majmuu' II/43]
    An Nawawi (seorang ulama pembesar mazhab Syafi’i) berkata:”Beberapa rekan kami berkata:”Orang yang mengatakan hal itu telah keliru. Bukan itu yang dikehendaki oleh As Syafi’I dengan kata AL NUTHQ di dalam shalat, melainkan yang dimaksud dengan AL NUTHQ oleh beliau adalah takbir. [al Majmuu’ II/43; lihat juga al Ta’aalaim :syaikh Bakar Abu Zaid:100
    ======================
    Imam suyuthi hanya membantah pndapat orang yg mengatakan pelafalan niat hukumnya wajib. Namun beliau tidak membantah kesunahan pelafalan niat

    Terimakasih, mudah2an apa yang anda goleki tercapai, mudah2an Allah memudahkan anda utk meraih surganya

    Mana perkataan imam suyuthi?

    apakah yang ini?
    Imam As-Suyuthi (salah seorang imam madzhab Syafi’i) berkata, : “Juga
    termasuk perbuatan bid’ah, adalah was-was di dalam niat shalat. Perbuatan ini tidak dilakukan Rasululloh dan para sahabatnya. Mereka tidak mengucapkan niat ketika shalat, melainkan hanya takbir.”

    Tidak ada perkataan imam suyuthi yg menyatakan sunnah melafalkan niat,.

  8. suci
    Juni 3, 2013 pukul 6:49 am

    assalamualaikkum wr.wb

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    ea gini sholat niatnyah ada 2 ghimnh,,,???

    tidak ada lafadz niat shalat, niat merupakan perbuatan hati, jika kita mau shalat, ketika memulai shalat kita mengucapkan takbir , bukan membaca niat ushalli.. dst,.

    • suci
      Juni 4, 2013 pukul 6:06 am

      ya, tpi di suruh pacar

      Terimakasih mba,.
      Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Allah, apalagi pacar, dan perlu anda ketahui, pacaran adalah haram dalam islam,
      Pacaran adalah racun pernikahan, dia adalah kepalsuan, kedustaan, yang akan terbuka kedoknya ketika sudah menempuh jenjang pernikahan,
      Terbuka kedok-kedok selama pacaran, dan penyesalan kemudian..
      Tinggalkanlah pacar anda, putuskan hubungan anda, dan tidak ada gunanya pacaran,
      silahkan baca dampak dari pacaran, baca artikel ini

  9. Wira Wardhana
    Maret 24, 2013 pukul 4:14 am

    saya sangat suka dgn blog ini bung,karena dari sekian berbagai ilmu yg saya baca pada blog ini,maupun dari radio garuda dialog islam oleh Ust. Dedy Rahman ,ilmu ini sesuai dgn ajaran qur’an sunnah dan tidak melakukan hal yg bid’ah ..

    semoga kalian tetap semangatt berjuang menegakan ajaran Rasullulloh SAW dan Qur’an hadits ,hehe saya masi ingatt duluu ada guru aagama saya di sekolah kls 3 smp (skrg saya sudah kuliah hehe) guru sya mengatakan saya bhwa saya adalah muhammadyah karena saya tidak melakukan tahlilan dan niat tidak memakai sayyidina maupun usholi..

    dan saya menjwab guru saya bahwa saya bukan muhammadyah dan tidak ikut” organisasi apapun saya hnya mengikuti ajaran Rasulloh SAW,dan Qur’an Sunnah bhkan masalah mahzab pun saya bukan imam syafii ataupun hambali maupun maliki tapi mahzab saya adalah berpanutan terhadap Rasululloh SAW dan di situ saya menerang kan kepada gru saya dan guru saya heran dgn jawaban saya bilang bgtu dan akhir nya saya mendapatkan nilai jelek -_-

    sungguh orang sekarang sudah aneh kalo di kasih tau tentang ilmu yg benar mungkin karena bisa dan terbiasa kali ya mereka smuua itu hehe oh ya nomor sms nya waktu itu saya sms dan tidak terkirim apakah tidak aktif ?

    boleh kah saya minta nomor hp nya?

    dan apakah ada radio nya juga blog ini seperti radio dialog islam garuda FM atau Radio sonata .. terima kasih :) SMNGATTT meski tanda” kiamat sudah muncul jgn lupa menabung bekal tuk akhiratt hehe

    wah, terimakasih mas, pengalamannya seru juga,.
    nmr hape , silahkan sms saja ke nmr yg ada di blog, sudah hidup lagi, atau silahkan tinggalin nmr hape mas, nanti akan saya simpan buat database,
    Anda tinggal di bandung ya? bisa kok simak radio rodja bandung di AM 1476 khz, bisa dengerin kajian islam dan ngirim pertanyaan ke nmr radio tsb,
    anda bisa juga hadir di majlis taklim yg ada dikota bandung, bisa lihat disini lengkap dengan petanya

  10. hery sutrisno
    Maret 23, 2013 pukul 2:05 am

    assalamualaikum..

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    sebelum saya menjawab bolehkah sekirangnya sudara menjawab:

    terimakasih sebelumnya, mohon jika bertanya jangan langsung ngerendeng banyak sekali,

    1.apakah dengan melafazkan niat shalat saya tidak syah?sedangkan salah satu rukun shalat itu adalah dengan niat. jika saya melafazkanya pastinya dalam hati saya ikut melafazkanya.

    Agama ini milik Allah, dan dijelaskan oleh Rasulullah
    Apakah Rasulullah tidak mengajarkan tata cara shalat?? Jika anda jawab , tidak, maka anda telah berdusta, Rasulullah mengajarkan tatacara shalat dari takbir hingga salam,
    Apakah Rasulullah melafadzkan niat ketika shalat?? Jika anda menjawab IYA, maka anda telah berdusta, karena rasulullah tidak mengajarkan melafadzkan niat dalam shalat, karena niat itu perbuatan hati, dan kita wajib menghadirkan niat dari awal shalat hingga salam, kita wajib menjaga niat kita,.. jika niat itu cuma di awal shalat, itu bisa membuat shalat kita rusak,
    Nah, manakah cara yg akan kita ikuti, tata cara shalat rasulullah yg tdk melafadzkan niat, atau cara kita sendiri, atau cara masyarakat secara umum yg melafadzkan niat?
    Tolong anda jawab sendiri,. jika akal anda masih bisa digunakan utk berpikir jernih, menerima petunjuk rasulullah, dan membuang petunjuk yg tdk berasal dari rasulullah

    2.apkah sebelum shalat kalau saya membaca surah annas atau ayat daru surah albaqarah bisa menyebabkan shalat saya tidak syah?

    Jawabannya seperti jawaban soal no. 1, dan ada tambahan, shalat anda selama terpenuhi rukun2nya, itu sah, tapi anda berdosa, karena anda telah menambah2kan tatacara baru dalam shalat,.. sayang bukan, shalat tapi tdk dapet pahala, malah dapet dosa,.. anda mengerjakan shalat, dan pada saat bersamaan anda melakukan dosa,. na’udzubillahi min dzalik

    3.jika saya berniat dalam hati dan pada waktu yg sama saya melafazkanya apakah shalat saya tidak syah karena menurut sudara ianya addalah bidaah?sedangkan ada beberapa perlakukan yg di lakukan sahabat sehingga tida hadist untuknya melainkan ianya di diamkan.

    Mas hery,, perlu anda ketahui, perbuatan para sahabat yg didiamkan atau disetujui oleh rasulullah, itu termasuk sunnah rasul, jadi itu boleh dilakukan,. mau contoh?? anda tahu kan adzan dan iqamah? itu dari mana asalnya? itu dari mimpi seorang sahabat, lalu disampaikan kepada rasulullah, dan disetujui oleh rasulullah, lalu bilal mengumandangkan adzan dgn lafadz hasil mimpi sahabat tsb,.. jadi perbuatan sahabat rasulullah yg didiamkan oleh rasulullah, atau disetujui rasululla itu bukanlah bidah,

    4.apakah membahas ini adalah salah satu keutamaan untuk menegakan sunnah rasullulah? atau untuk memecah belahkan umat islam terutama kaum yg mengikuti sunnah denan maragui ijtihad dan khilafiah yg telah di tetapkan oleh jammah ulama?

    Anda pernah baca sejarah rasulullah kan,. dulu rasulullah dikenal sebagai alamin, akhlaknya bagus, dan kaumnya merasa senang dengannya,. tapi apa sikap kaumnya ketika rasululah mulai mendakwahkan islam, mendakwahkan sunnah, kaumnyapun memusuhinya, menganggapnya gila, memecah belah, dll..
    wajar, jika sekarangpun orang yg mendakwahkan dakwah rasul, sunnah rasul, akan mengalami hal yg sama, dituduh memecah belah, dll

    5.sudara seperti telah sampai pada tahap dalam pembuatan ijtihad. pertanyaan saya apakah ilmu hadist dan penguasaan alquran sudara telah cukup untuk membuat dan menentukan hukum sehingga sudara mempermasalahkan hal ini seperti ulama ulama yg menentukan ijtihad.?

    Tidak ada ijtihad dalam hal yg sdh jelas tuntunannya dari rasulullah,.. dan saya juga bukan mujtahid, saya hanya menukil dari ijtihad para ulama, bukan perkataan saya pribadi,..

    6. sekrang perbandinganya adalah 1:1000 dimana sudara 1 orang yg menentang ijtihad ini dan ada 1000 jamaah yg memegang kuat ijtihad ini, pertanyaan saya adalah bukanya islam itu berada di adlam jamaah ? apakah sudara yg paling benar? apakah buktinya bahwa sudara adalah yg paling benar pendapatnya dari pada 1000 jammah yg mempertahankan ijtihad ini?

    Islam adalah agama yg ilmiah, berdasarkan dalil yg jelas, shahih,..
    Jika sudah ada hadits shahih, maka tdak ada ijtihad ttg masalah yg sdh jelas,. walaupun ada 1000 penentangnya, atau berjuta, bahkan bermilyar penentang,.. dalil yg jelas dan shahih tetap wajib dipegang dgn kuat,
    Bukti itu benar adalah ada dalilnya, baik dari ayat alquran atau hadits yg shahih,. apa yg dilakukan oleh kebanyakan masyarakat bukanlah dalil mas,.

    malah ada peringatan dari Allah,.
    “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.” (Al-An’am: 116)

    7.hukum melafazkan niat adalah sunnah dan niat adalah wajib dalam shalat. pertanyaan saya kenapa sudara mempermasalahkan sesuatu yang jelas hukumnya adalah sunnah? sedangkan mempermasalahkan hal ini akan menimbukan keragukan terhadap ullama ulama .bukanya itu namanya perpecahan?

    Niat hukumnya wajib dalam shalat, tapi melafadzkan niat hukumnya bidah, karena niat adalah perbuatan hati, bukan perbuatan lisan/mulut
    Mana dalil bahwa melafadzkan niat itu sunnah? mana dalilnya, baik dari ayat atau hadits yg shahih,
    Tidak ada satu ulama ahlussunnahpun yg melafadzkan niat dalam shalatnya, tunjukan, mana ulama yg melafadzkan niat,.
    Dan semua perbuatan manusia, apapun perbuatan itu, pasti dilakukan dengan niat,.. tidak ada satu perbuatanpun yg dilakukan ketika sadar, tapi dilakukan tanpa niat,. tanpa harus dilafadzkan, itu sudah otomatis,.
    Justru org yg melafadzkan niat dalam shalatnya, itu pada hakekatnya telah melakukan perpecahan, menyelisihi perbuatan yg dilakukan oleh rasulullah

    8.rasul sendiri yg mengatakan bahwa kitalah umat yg paling dia sayangi, sehingga syafaat masih terbuka. jika ada 1 atau 2 ibadah kita tidak sama seperti apa yg rasul lakukan, pertanyaan saya adalah apakah kita harus menyalakahkan ulama ulama slafuz sholeh terdahulu? sedangkan ada hadist yg mengatakan dimana isinya adlah bahwa umat umat serkagn akan menyalahkan umat terdahulu. apakah sudara adalah salah satunya?

    Mas hery, tidak ada satupun ulama salafus shalih yg melakukan shalat dgn melafadzkan niat, mereka melakukan shalat sebagaimana rasulullah ajarkan, sebab ada hadits yg menyuruh kita agar shalat sesuai dgn apa yg mereka lihat ketika rasulullah shalat,. dan rasulullah tdk pernah melafadzkan niat dalam shalatnya,

    9.terima kasih wassalam…apapun itu utamakan kesatuan..jauhkan perbedaan dan permasalahan yg tidak mengubah ketahuitan dan hukum usludin.

    sama-sama mas heri,
    Dengan mengikuti petunjuk rasulullah dalam beribadah, berakidah, dan bermuamalah, ini yg bisa menyatukan kaum muslimin,
    tapi seandainya kaum muslimin tdk mengikuti petunjuk rasulullah, bahkan mengambil petunjuk yg bukan berasal dari rasulullah, terjerumus kedalam kebidahan, maka yg timbul adalah perpecahan, bukan persatuan,.
    wa’alaikumussalam warahmatullah

  11. yayasan nur el hikam
    Februari 21, 2013 pukul 4:00 pm

    Bukn dri guru2 at ustadz ja..tpi memng dri pra imam2 dn ulama yg mu’tamad. Klo bca ushalli sesat..gmna imam Syafi’i dn imam Ahmad srta pra pngikut bliau yg jg pra imam dn ulama. Apkh bliau2 jg sesat ???

    terimakasih,
    Mau nanya, memangnya imam syafii dan imam ahmad membaca ushalli gitu? ada dikitab apa imam syafii dan imam ahmad mengajarkan hal tersebut? tolong dong dicantumkan dari kitab apa,.
    Panutan kita adalah rasulullah, bukan para ulama,. seandainya rasulullah mengajarkan bacaan ushalli, maka kita akan melakukannya, bukankah kita diperintahkan oleh rasulullah agar shalat seperti apa yg diajarkannya?

  12. BW Wahab
    September 7, 2012 pukul 8:36 am

    Beribadahlah seperti yang Allah SWT perintahkan, jangan dikurangi dan tak perlu memaksakan diri untuk melebihkan..

  13. ibnu Athoillah
    Agustus 15, 2011 pukul 5:00 pm

    mengapapa niat shalat tidak menggunakan lafaz nawaitu?

    Karena kita disuruh shalat seperti shalatnya Rasulullah,..

    Dan Rasulullah tidak pernah mengucapkan lafadz nawaitu atau ushaly,..

    Rasulullah memulai shalat dengan mengucapkan takbir,..

    Barangsiapa yg ingin shalatnya seperti shalat rasulullah, tentu akan mencontoh shalatnya rasulullah, bukan mencontoh shalatnya orang yang melafadzkan niat, yang itu ngga tahu siapa yang pertama kali melakukannya,..

  14. Filar Biru
    Maret 17, 2011 pukul 5:10 am

    Assalamualaikum…

    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

    Saya salah seorang yang apa bila mengerjakan sholat tidak melafazkan niat. Apabila waktu sholat tiba, maka saya sholat. Mudah dan tidak bertele2.

    Misal waktu sholat ashar tiba, maka saya segera sholat empat rakaat. ketika niat saya hendak mau sholat empat rakaat pada waktu ashar sudah masuk, maka ketika sudah terbetik di hati untuk mengerjakan sholat hal itu sudah cukup bagi Allah. Allah tidak membutuhkan lafaz segala macam, sebab Zat yang kita sembah adalah Zat Yang Maha Mengetahui.

    SALAM KENAL Sebelumnya.

    salam kenal kembali, terimakasih telah berkunjung…

  15. cupluk
    Maret 15, 2011 pukul 1:24 pm

    iya udah guyonnya mas…… jangan diteruskan lagi, masing-masing keyakinannya ajah ya mas…. diskusinya engga yambung………bung………bung………bung……….wies.
    yang pake usholi pake……yang engga mangga……….and monggo….wass

    Mas, memang ajaran islam ini yang punya siapa?
    Ajaran islam yang punya adalah Allah, kemudian disampaikan oleh Rasulullah..
    Jadi semua peribadatan, harus mengikuti cara-cara yang telah ditetapkan oleh Allah..
    Bukan buat cara-cara sendiri…

    Dalam urusan dunia,.. boleh berinofasi..
    Dalam urusan ibadah… wajib mengikuti apa yang telah disyariatkan oleh pembuat agama ini..

    Ushali.. adalah inofasi manusia,.. bukan ajaran dari Allah… tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah…

    Ibadah bukan dengan keyakinan masing-masing mas,.. memang agama ini yang punya masing-masing?

    Wajib mengikuti contoh Rasulullah,..

    Jika mengikuti keyakinan masing-masing, sungguh agama islam ini akan rusak,.. wallahu a’lam bis shawab..

    • Tommi
      Maret 16, 2011 pukul 6:44 am

      Assalamu’alaikum,

      Apakah org2 yg hendak berusaha mendakwahkan sunnah Nabinya dibilang sedang guyon?????

      Wallahi, mas cupluk, cobalah antum merenung sedikit, jika orgtua antum sedang mengajarkan Al Qur’an dan sunnah kepada antum, pantaskah antum bilang klo orgtua antum itu sedang guyon lalu kemudian antum timpali, “iya udah guyonnya pak bu…… jangan diteruskan lagi, masing-masing keyakinannya ajah ya….diskusinya engga nyambung………bung………bung………bung……….wies. yang pake Al Qur’an pake……yang engga mangga……….”

      Sejak kapan pula ibadah mengikuti keyakinan masing2, enak sekali ya. Agama yg diturunkan dari Allah Ta’ala melalui RasulNya dilaksanakan sesuai keyakinan masing2. Percuma dong Rasulullah diutus….

      Hehehe ajaib, zaman memang benar2 sudah terbalik. Org berdakwah dan mengirim nasehat untuk saudaranya sendiri, malah dibilang sedang guyon. Sunnah Rasulullah dibilang guyon. Wah wah wah wah….

      iya tuh mas, ngga tahu mas cupluk,…

  16. ali
    Februari 8, 2011 pukul 6:28 am

    Assalamu’alaikum…

    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Wahai sahabat, sy ini org awam, sdg berusaha memperbaiki shlt.

    Alhamdulillah, mudah-mudahan Allah memudahkan anda dalam memperbaiki shalat anda, untuk lebih jelas, bisa mengklik link ini

    Nah dlm mslh niat ini tlg di jelaskan maksud “niat adalah urusan hati” secara lebih detail lagi.

    Niat adalah apa-apa yang terbersit di dalam hati kita ketika akan melakukan suatu perbuatan,.. contohnya begini mas,.. misalkan sudah masuk waktu shalat dzuhur, mas kemudian mengambil wudhu tuk shalat dan mas berniat dengan wudhu itu untuk melakukan shalat, maka dalam hal ini mas sudah melakukan perbuatan yang disebut niat,..
    Dan perlu diketahui, mas juga harus selalu menghadirkan dan menjaga niat, dari awal shalat hingga salam,.. akan tetapi jika niat itu hanya ucapan ushaliy dan seterusnya,.. maka itu hanya diawal shalat saja kan dibacanya? jadi dari takbir sampai salam, kemana niat tersebut?? padahal niat harus selalu dihadirkan, dan dijaga sampai shalat kita selesai,..

    adapun stelh membaca diskusi diatas sy semakin paham akan kekeliruan selama ini ttg niat shlt. insya Allah sy akan ters mncari kebenaran pada sumber2 yg lain. sy selama ini masih pake niat/usholi..dst. tp setlh th skrg lg belajar untuk meninggalknnya. akan tetapi masih bingung ketika takbiraturihrom perlu melafadkan niat/terbersit dlm hati, seiring dengan mengucapkan takbiraturihraam. mhn dijelaskan terimakashi. smg Allah SWT memberikan petunjuk kdp kita semua

    Memang apa yang dialami mas, saya alami juga,.. karena pelajaran agama disekolah diajarkan seperti itu,.. sehingga kita tidak mau belajar lagi, apakah cara tersebut betul-betul diajarkan Rasulullah atau tidak,.. dan ternyata setelah tahu, maka semuanya saya tinggalkan,.. karena cara seperti itu tidak diajarkan sama sekali oleh Rasulullah,, dalam hadits yang dhaif sekalipun tidak ada,..

    Dan awal-awal meninggalkan hal itu memang susah, karena sudah terbiasa secara reflek,.. tapi itu di awal-awal saja,..setelah itu biasa saja, sudah terbiasa ketika mau shalat yang diucapkan adalah takbiratul ihram,, ucapan “Allahu akbar” buka ushally dstrsnya..

    Dan tanamkanlah dalam hati mas,.. jika saya mengerjakan tatacara shalat yang tidak diajarkan Rasulullah, maka amalan saya tertolak, bukan dapat pahala, akan tetapi mendapat dosa, karena itu perbuatan bidah…

    Dan cara shalat yang harus kita lakukan adalah cara yang diajarkan Rasulullah sebagaimana dalam hadits yang artinya ” shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat tata cara shalatku”

    Alhamdulillah sudah saya posting tatacara shalat disini : http://aslibumiayu.wordpress.com/2011/01/06/petunjuk-praktis-hukum-dan-tatacara-shalat-beserta-dalil-dalilnya/

  17. adit
    Desember 5, 2010 pukul 7:43 am

    Hehehe
    Itu niat pak.

    mas, mana dalilnya itu niat?

    Talbiyah itu Labbaykalloohumma labbayk, Labbayka laa syariika laka labbayk, Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, Laa syariika lak.

    Membaca talbiyah adalah salah satu sunnah-sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah,
    Sebagaimana perintah Rasulullah, ambillah dariku manasik haji kalian, nah talbiyah termasuk salahsatu ajaran yang ada dalam manasik haji Rasulullah,
    sedangkan melafadzkan niatnya mana? mas tahu arti dari talbiyah diatas apa tdk sih?

    Adapun talbiyah yg dimaksud dalam hadits adalah niat hajji dan umrah sekaligus (qiran). Hadits tersebut menjadi dalil bolehnya hajji qiran.

    Nah, mana dalilnya nabi melafadzkan niat haji dan umrah sekaligus, inget yah mana lafadznya bahwa rasulullah melafadzkan niat untuk haji qiran,… tolong tunjukkan, hadits riwayat siapa..

    Adapun melafazhkan niat shalat itu adalah dg sirr, bukan dg jahr. Cukup di dengar sendiri. Bolehnya melafazhkan niat shalat itu dg jalan qiyas. Dan qiyas ini adalah ijtihad. Siapa yg menolak qiyas berarti menolak ijtihad.

    Rasulullah tidak pernah mencontohkan melafadzkan niat shalat, baik jarh ataupun sirr, ..
    Dan ijtihad bisa salah, bisa benar,
    Dan tidak ada ijtihad dalam hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Rasulullah,
    Hukum asal dari ibadah adalah haram dilakukan sebelum ada dalil yang memerintahkannya, dan tidak kita dapati hadits yang menerangkan tentang melafadzkan niat ini,… Ijtihad boleh ditolak, apalagi menyelisihi Syariat Rasulullah,.. dan Syariat Rasulullah wajib kita terima.. Jika menolak syariat Rasulullah berarti terkena ancaman hadits Rasulullah tentang orang-orang yang menolak sunnah-sunnah Rasulullah,..

    Ayat tersebut adalah dalil diterimanya ijma’. Nah, jumhur ulama telah bersepakat bahwa melafazhkan niat shalat adalah sunnah. Barangsiapa yg mengatakan bahwa melafazhkan niat itu haram, maka ia keluar dari jumhur. Apakah ulama2 Maliki keluar dari Jumhur? tidak. Mereka membolehkan melafazhkan niat. Mereka tak mengharamkannya.

    Jumhur ulama mana mas?
    Janganlah anda menjadi salah satu para pendusta yang mengatasnamakan ulama,
    Tapi itu lebih ringan, daripada anda menjadi salahsatu pendusta yang berdusta atas nama Rasulullah,
    Mas, tolong sebutkan jumhur ulamanya siapa? Imam yang 4 saja tidak menyatakan demikian, kok anda berani mengatakan jumhur ulama telah bersepakat??

    Letak niat memang di hati, dan itulah yg wajib. Niat bukan di lisan. Barangsiapa mengatakan bahwa niat itu di lisan, berarti dia bodoh dari agama. Adapun lisan itu bukanlah tempat berniat, tetapi melafazhkan niat, dan ini sunnah, tidak wajib.

    Letak niat memang dihati, dan jika dilisan itu bukanlah niat, bukankah sebelum melafadkan pasti ada niat untuk melafadzkan?
    Dan tidak ada contoh sama sekali jika niat itu dilafadzkan, dan amalan tersebut ditolak disisi Allah, bahkan mendatangkan murka Allah, karena tidak ada contohnya sama sekali dari Rasulullah

  18. muhammad hasan
    Desember 4, 2010 pukul 12:39 pm

    semangat terus mas dalam memurnikan sunnah ya..!!!!

    Ya, wajib bagi kaum muslimin untuk semangat dalam memurnikan sunnah ini dengan cara terus belajar tentang sunnah-sunnah Rasulullah yang telah banyak dilupakan oleh kaum muslimin sendiri, sehingga mereka terjerumus kedalam kebidahan, tanpa disadari,..

  19. muhammad hasan
    Desember 2, 2010 pukul 2:16 pm

    assalamu’alaikum..
    maaf nih,, boleh ikutan diskusi masalah melafazhkan niat kan??
    ni ane copas buat orang-orang yang seneng banget melafazhkan niat waktu mau shalat,,

    Masalah Niat dalam ucapan Imam Syafii rh

    Lafadz niat sangat masyhur dinisbatkan kepada mazhab Syafi’i, hal ini karena Abu Abdillah Al Zubairi yang masih termasuk dalam ulama mazhab Syafi’I telah menyangka bahwa Imam Asy Syafi’i rahimahullah telah mewajibkan untuk melafazkan niat ketika shalat.

    Sebabnya adalah pemahamannya yang keliru dalam mengiterpretasikan perkataan Imam Syafi’i yakni redaksi sebagai berikut:”Jika seseorang berniat menunaikan ibadah haji atau umrah dianggap cukup sekalipun tidak dilafazkan.Tidak seperti shalat, tidak dianggap sah kecuali dengan AL NUTHQ (diartikan oleh Al Zubairi dengan melafazkan, sedangkan yang dimaksud dengan AL NUTHQ disini adalah takbir) [al Majmuu' II/43]

    An Nawawi (seorang ulama pembesar mazhab Syafi’i) berkata:”Beberapa rekan kami berkata:”Orang yang mengatakan hal itu telah keliru. Bukan itu yang dikehendaki oleh As Syafi’I dengan kata AL NUTHQ di dalam shalat, melainkan yang dimaksud dengan AL NUTHQ oleh beliau adalah takbir. [al Majmuu' II/43; lihat juga al Ta'aalaim :syaikh Bakar Abu Zaid:100]

    Ibn Abi Izz Al Hanafi berkata :”Tidak ada seorang ulamapun dari imam 4
    (mazhab), tidak juga Imam Syafi’i atau yang lainnya yang mensyaratkan lafaz niat.Menurut kesepakatan mereka, niat itu tempatnya dihati.Hanya saja sebagian ulama belakangan mewajibkan seseorang melafazkan niatnya dalam shalat.Dan pendapat ini dinisbatkan sebagai mazhab Syafi’i. Imam An Nawawi rahimahullahu berkata :”Itu tidak benar” (Al Itbaa’ :62)

    Ibn Qoyyim berkata :”Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam jika hendak
    mengerjakan shalat,maka dia mengucapkan Allahu Akbar.dan beliau tidak
    mengucapkan lafaz apapun sebelum itu dan tidak pernah melafazkan niat sama sekali.Beliau juga tidak mengucapkan :

    “ushali lillah shalaata kadzaa mustaqbilal qiblah arba’a raka’at imaaman aw ma’muuman (artinya :aku berniat mengerjakan shalat ini dan itu karena Allah,menghadap kiblat sebanyak 4 raka’at sebagai imam atau makmum).

    Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam tidak pernah mengatakan adaa’aa atau qadhaa’an (artinya melakukannya secara tepat waktu atau qadha’). Dan tidak pernah juga menyebutkan kefardhuan waktu shalat. Semua itu adalah bid’ah yang tidak ada sumbernya dari seorangpun baik dengan
    sanad yang sahih,dhaif,musnad (bersambung sanadnya), ataupun mursal (ada perawi yang gugur dalam sanadnya).Bahkan tidak juga dinukil dari seorang sahabat nabi,para tabi’in dan imam 4 (mazhab).

    Pendapat ini muncul akibat sebagian ulama belakangan yang terkecoh atau salah dalam memahami perkataan Imam Syafi’I radhiallahu anhu didalam masalah shalat.Redaksinya sebagai berikut:
    “Sesungguhnya shalat tidak sama dengan puasa.Tidak ada seorangpun yang akan memasuki shalat kecuali dengan DZIKIR.”
    Kata dzikir disini dikira pe-lafaz-an niat oleh orang yang shalat.Padahal yang dimaksud oleh Imam Syafi’i dengan kata dzikir disini adalah TAKBIRATUL IHRAM. Bagaimana mungkin Imam Syafi’I mensunahkan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam,tidak juga oleh para khulafa’nya, dan para sahahabatnya. Demikianlah jalan hidup dan petunjuk yang mereka ajarkan, jika memang ada seseorang membawa berita satu huruf saja yang berasal dari beliau, maka kita akan menerimanya karena tidak ada petunjuk yang
    lebih sempurna dari petunjuk mereka dan tidak ada sunnah kecuali yang diambil dari Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam [Zaadul Ma'aad I/201;Ighatsatul Lahfaan I/136-139;I'laamul Muwaqqi'iin II/371;Tuhfatul Maulud :93]

    Syaikh Abul Hasan Musthafa bin Ismail Sulaiman al-Mishri [2] berkata :
    “Perbuatan seperti ini tidak benar. Tidak ada dalil dari Qur’an dan Sunnah,
    tidak pula dari ijma’ dan qiyas jali (qiyas yang jelas dan benar) untuk
    perbuatan tersebut sebab tempat niat adalah di dalam hati. Adapun anjuran Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghadirkan niat di dalam segala amalan, yaitu hadist beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya seluruh amal shaleh hanya diterima dengan niat yang ikhlas dan bagi setiap orang mendapatkan sesuai yang ia niatkan.”

    Maksudnya bukan melafalkan niat dengan lisan kita, baik dengan melirihkan ataupun mengeraskannya. Tidak ada satu riwayat pun yang dinukil dari beliau bahwa beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam melafalkan niat ketika hendak shalat dan berpuasa. Tidak pernah beliau mengucapkan : “Sengaja aku berpuasa di bulan ramadhan pada tahun ini secara sempurna tanpa kekurangan…” dan mengulang-ngulanginya setiap malam ketika bersahur atau setelah shalat tarawih. Demikian pula dalam ibadah zakat dan lainnya.

    Untuk lebih jelasnya, baiklah kita coba simak uraian pendapat para ulama
    salaf, sebagai orang-orang yg mengerti dan paham ttg sunnah dan perkataan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam serta mereka adalah para mufassirin (penafsir) makna ayat qur’an maupun hadist, mengenai LAFADZ NIAT (makna lafadz niat ini secara umum meliputi niat sholat, puasa, zakat, haji, dan ibadah lainnya).

    B. HAKEKAT NIAT
    Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata dalam kitab Majmu’atur Rasaaili Kubra I/243 : Tempatnya niat itu di hati tanpa (pengucapan) lisan berdasar
    kesepakatan para imam Muslimin dalam semua ibadah : bersuci (thaharah),
    shalat, zakat, puasa, haji membebaskan budak (tawanan) serta berjihad dan yang lainnya. Meskipun lisannya mengucapkan berbeda dengan apa yang ia niatkan dalam hati, maka teranggap dengan apa yang ia niatkan dalam hati bukan apa yang ia lafadzkan. Walaupun ia mengucapkan dengan lisannya bersama niat, dan niat itu belum sampai ke dalam hatinya, hal ini belum mencukupi menurut kesepakatan para imam Muslimin. Maka sesungguhnya niat itu adalah jenis tujuan dan kehendak yang tetap.

    Sehubungan dengan masalah niat, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan didalam kitab ‘Ighasatul Lahfan’ bahwa : “Niat artinya ialah menyengaja dan bermaksud sungguh-sungguh untuk melakukan sesuatu. Dan tempatnya ialah didalam hati, dan tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan lisan. Dari itu tidak pernah diberitakan dari Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam, begitu juga para sahabat, mengenai lafadz niat ini.” [3]

    Sedangkan hakikat niat itu sendiri BUKANLAH UCAPAN ‘NAWAITU’ (saya
    berniat).Ia adalah dorongan hati seiring dengan futuh (pembukaan
    terhadapnya),tetapi kadang-kdang juga sulit. Barangsiapa hatinya dipenuhi
    dengan urusan dien,akan mendapatkan kemudahan dalam menghadirkan niat untuk berbuat baik.Sebab ketika hati telah condong kepada pangkal kebaikan, ia pun akan terdorong untuk cabang-cabang kebaikan. Barangsiapa hatinya dipenuhi dengan kecenderungan kepada gemerlap dunia, akan mendapatkan kesulitan besar untuk menghadirkannya. Bahkan dalam mengerjakan yang wajib sekalipun. Untuk menghadirkannya ia harus bersusah payah. [4]

    Dan Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani sendiri telah menjabarkan dgn panjang untuk penjelasan hadist “innamal ‘amalu binniyyati” dalam kitabnya “Fathul Baari bi Syarh al-Bukhari” (kitab yg menjelaskan tentang sanad & syarh dari hadist-hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari), diantaranya yg bisa diambil adalah :

    “Amal perbuatan adalah tergantung niatnya, dengan demikian kita dapat (dgn sendirinya) membedakan apakah niat sholat atau bukan, sholat fardhu atau sunnah, dhuhur atau ashar, di qashar atau tidak, dan seterusnya. Dan apakah masih perlu ditegaskan (kembali) jumlah rakaat sholat yang akan dikerjakan ? …Tapi pendapat yg kuat menyatakan tidak perlu lagi menjelaskan jumlah bilangan rakaatnya, seperti seorang musafir yg berniat melakukan sholat qashar, ia tidak perlu (lagi) menegaskan bhw jumlah rakaatnya adalah dua, karena itu merupakan suatu hal yg pasti bahwa jumlah rakaat qashar adalah dua !”

    Dan beliau juga menjelaskan makna niat dari perkataan Imam Baidhawi : “Niat adalah dorongan hati untuk melakukan sesuatu dgn tujuan, baik mendatangkan manfaat atau menolak mudharat, sedangkan syariat adalah sesuatu yg membawa kpd perbuatan yg diridhai Alloh dan mengamalkan segala perintah-Nya.” [5]

    1. MASALAH BACAAN NIAT DALAM SHOLAT
    Masalah malafadzkan bacaan niat dalam sholat ini, tidak ada satu orang perawi hadist pun dari 6 orang imam (Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Tirmidzi, dan Ibnu Majah) yang memuat dalam Kuttubus Sittah, termasuk Imam Ahmad dalam kitab “Musnad Ahmad” dan al-Hakim dalam kitab “Mustadrak”, yang meriwayatkan tentang bacaan niat sholat begini dan begitu, dan seterusnya dengan bermacam-macam bacaan / lafadz sesuai dgn masing-masing jenis sholat.

    Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata dalam kitab ‘Zaadul Ma’ad’ :
    “Sesungguhnya Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallambila berdiri untuk
    bersholat, beliau berdiri dengan tegak ke arah kiblat disertai khusyu’ lalu
    bertakbir’Allohu Akbar’, tanpa suatu ucapan lain atau melafadzkan niat
    usholli lillahi, shalat ini dan itu, mustaqbilal qiblati arbaah rakaat
    imaaman atau makmuman, juga tidak mengucap adhaan atau qadhaan, atau fardhu atau sebagainya.” [6]

    Kemudian beliau menambahkan : “Tidak mengucapkan apapun sebelumnya atau melafadkan niatnya dan tidak pula hal tersebut dianjurkan oleh para tabi’in atau imam para madzhab.”
    Imam Ahmad bin Hambal mengomentari masalah niat dalam sholat dengan berkata : “Ini (melafadzkan niat usholli) adalah sepuluh macam bid’ah, tidak ada yang meriwayatkan dengan sanad shahih atau dhoif, musnad atau mursal, bahkan tidak ada seorang dari sahabatnya atau dari pada tabi’in yang mengerjakannya.” [7]

    Imam An-Nawawi (salah satu imam madzhab Syafi’i) mengatakan di
    dalam ‘Raudhatu ‘th-Thalibin’ I/224, Al-Maktab Al-Islami : “Niat adalah
    maksud. Orang yang shalat hendaklah menghadirkan di dalam ingatannya dzat shalat itu sendiri dan sifat-sifatnya yang wajib ia lakukan, seperti
    Zhuhriyah dan Fardhiyah dan lain-lain. Kemudian, ia memasukkan pengetahuan-pengetahuan ini secara sengaja dan menghubungkan dengan awal takbir.” [8]

    Muhammad Nashruddin Al-Albani
    Niat ,yaitu : menyengaja untuk shalat menghambakan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, serta menguatkannya dalam hati sekaligus. Dan tidaklah disebutkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula dari salah seorang sahabatnya bahwa niat itu dilafadzkan atau mengucapkan : “Usholli fardhu … rak’

    Muhammad Nashruddin Al-Albani
    Niat ,yaitu : menyengaja untuk shalat menghambakan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, serta menguatkannya dalam hati sekaligus. Dan tidaklah disebutkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula dari salah seorang sahabatnya bahwa niat itu dilafadzkan atau mengucapkan : “Usholli fardhu … rak’ah Lillahi Ta’ala” atau ucapan sejenisnya.

    Berkata : “Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam membuka sholat dengan kata-kata’Allohu Akbar’ (HR. Muslim dan Ibnu Majah). Di dalam hadist ini terdapat sebuah isyarat bahwasannya ia belum pernah membuka sholat dengan ucapan seperti yang mereka ucapkan ‘Nawaitu an usholli…’ (aku berniat sholat).

    Bahkan telah disepakati bahwa hal ini adalah bid’ah. Dan mereka hanya
    berselisih apakah bid’ah seperti itu baik atau buruk. Sedangkan kami
    mengatakan bahwa setiap bid’ah di dalam ibadah itu adalah merupakan suatu kesesatan.berdasarkan sabda Nabi Shalallahu alaihi wa sallam :”Setiap bid’ah adalah sesat dan setiap sesat neraka tempatnya.” [8]

    Dishahihkan pula oleh Sayyid Sabiq dalam ‘Fiqqus Sunnah’ bahwa : “Dan
    ungkapan-ungkapan yang dibuat-buat dan diucapkan pada permulaan bersuci dan sholat ini, telah dijadikan oleh syaitan sebagai arena pertarungan bagi orang-orang yang diliputi was-was, yang menahan dan menyiksa mereka dalam lingkaran tersebut, dan menuntut mereka untuk menyempurnakannya. Maka anda lihat masing-masing mereka mengulang-ulanginya dan bersusah payah untuk melafadzkannya,
    pada hal demikian itu sama sekali tidak termasuk dalam upacara sholat.” [9]

    Al-Qadhi Jamaludin Abu Rabi Sulaiman bin Umar As-Syafi’I (seorang pembesar ulama mazhab Syafi’i), ia berkata : “Mengeraskan dan membaca niat bagi makmum tidak termasuk sunnah, bahkan makruh. Jika hal itu menimbulkan gangguan (membuat bising) kepada jama’ah sholat, maka hukumnya haram.
    Barangsiapa yang mengatakan bahwa mengeraskan niat adalah sunnah, maka ia keliru. Haram baginya dan lainnya berbicara dalam agama Alloh subhanahu wa ta’ala tanpa didasari ilmu. [Al A’lam 3/194 [10]

    Syaikh ‘Alauddin Al ‘Athhor , belau berkata : meninggikan (niat) suara hingga menimbulkan kebisingan / gangguan kepada jam’ah sholat adalah haram secara ijma’, apabila tidak demikian (tidak menimbulkan gangguan) maka bid’ah yang keji.Jika dimaksudkan dalam melafadzkan niat itu riya’ , adalah haram dari 2 sisi yakni dosa besar dari dosa-dosa besar.

    Adalah benar mengingkari orang yang mengatakan bahwa melafadzkan niat itu dari sunnah. Membenarkan (niat dengan lafadz) adalah kekeliruan, dan menisbahkan keyakinan demikian pada agama ini adalah kekufuran!!….dst. lih. Majmu ArRosail al Kubro 1/254 [10]

    Abu Abdillah Muhammad bin Qasim at-Tunisi al-Maliki, ia berkata : “Niat
    termasuk amalan hati. Maka mengeraskannya adalah bid’ah dan perbuatan itu juga menganggu orang lain.”[1]

    Imam Abu Dawud pernah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal, : “Apakah seorang yang hendak shalat ada membaca sesuatu sebelum takbir ?” Beliau menjawab, “Tidak ada !” [1]

    Imam As-Suyuthi (salah seorang imam madzhab Syafi’i) berkata, : “Juga
    termasuk perbuatan bid’ah, adalah was-was di dalam niat shalat. Perbuatan ini tidak dilakukan Rasululloh dan para sahabatnya. Mereka tidak mengucapkan niat ketika shalat, melainkan hanya takbir.”

    Imam Asy-SYAFI’I berkata : “Was-was dalam niat shalat termasuk kejahilan tentang syariat atau kebodohan akal.”

    Ibnu Jauzy berkata : “Diantara tipu daya iblis adalah menipu mereka dalam niat shalat. Diantara mereka ada yang berkata, ‘Sengaja aku shalat ini dan ini,’ kemudian ia mengulanginya lagi karena ia mengira niatnya telah batal, padahal niatnya tidak gugur walaupun ia melafalkan apa yang tidak dimaksudkannya.”

    Bagus mas, tapi tidak dicantumin darimana ngambil sumbernya ya, tadinya mau saya posting aja nih, ditaruh di komentar terlalu panjang, cuma nggak ada sumber rujukannya,… lain kali tolong cantumin alamat pengambilannya , biar terjaga amanat ilmiahnya, atau ini tulisan mas sendiri?

    • Dedy S
      Oktober 29, 2013 pukul 5:01 pm

      Bagus Mas artikelnya, ini perlu dibukukan dan disebar keseluruh pelosok tanah air, semoga ajaran dalam agama ini terjaga kemurniannya dari ahlul bid`ah. namun benar apa kata admin, agar tetap terjaga keilmiahannya mohon dilengkapi dan cantumkan sumbernya, ada beberapa paragraf yang belum ada sumbernya (mungkin lupa). Mudah-mudahan orang-orang yang selalu konsisten memurnikan ajaran agama ini diberi kekuatan dan ditambahkan Ilmunya.

      Salam Kenal Mas,

      Terimakasih mas Dedy,
      Tentang lafadz ushally memang tidak ada rujukannya dari rasulullah, adapun hadits2 yg dipaparkan diatas, atau pembahasan selain ushally,itu ada rujukannya, dan penulis artikel ini bukan saya, saya cuma menukil, ada sumber nukilannya dibawah postingan tsb,silahkan rujuk ke sana, dan tanyakan sendiri kepada ustadz yang menulis tulisan tsb,
      Jazakallahu khairan,

  20. adit
    November 30, 2010 pukul 12:17 pm

    و حَدَّثَنَا سُرَيْجُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ بَكْرٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُلَبِّي بِالْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ جَمِيعًا قَالَ بَكْرٌ فَحَدَّثْتُ بِذَلِكَ ابْنَ عُمَرَ فَقَالَ لَبَّى بِالْحَجِّ وَحْدَهُ فَلَقِيتُ أَنَسًا فَحَدَّثْتُهُ بِقَوْلِ ابْنِ عُمَرَ فَقَالَ أَنَسٌ مَا تَعُدُّونَنَا إِلَّا صِبْيَانًا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَبَّيْكَ عُمْرَةً وَحَجًّا

    Dan Telah meceritakan kepada kami Suraij bin Yunus Telah menceritakan kepada kami Husyaim Telah menceritakan kepada kami Humaid dari Bakr dari Anas radliallahu ‘anhu, ia berkata; Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca talbiyah (memulai ihram) untuk haji dan umrah sekaligus. Bakr berkata; Lalu saya menceritakan hal itu kepada Ibnu Umar, maka ia pun berkata, Beliau membaca talbiyah (memulai ihram) hanya untuk haji saja. Kemudian aku menemui Anas dan menceritakan ungkapan Ibnu Umar, maka Anas pun berkata, Kalian tidaklah menganggap kami, kecuali masih kecil (saat itu). Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca: LABBAIKA UMRATAN WA HAJJAN (Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu untuk umrah sekaligus hajji). (HR. Muslim).

    Hadits ini menunjukan bahwa Rasulullah saw melafazhkan niat di waktu beliau melakukan umrah dan hajji. Ini namanya lafazh niat hajji qiran. Imam Ibnu Hajar mengatakan bahwa Usholli ini diqiyaskan kepada hajji.

    Betul saudaraku, ini juga dicontohkan oleh Rasulullah, jadi ibadah itu dasarnya adalah menunggu dalil yang memerintahkannya, maka jika ada orang yang berhaji tapi tidak mengeraskan talbiyah, bukan niat yah, ini adalah talbiyah.. itu termasuk dzikir dalam ibadah haji, jadi tidak ada niat yang dilafadzkan seperti saya berniat ibadah haji …dst…
    Bukankah adap perintah dari Rasulullah, “Ambillah dariku cara manasik haji kalian”
    Ini adalah perintah Rasulullah agar kita berhaji sebagaimana Rasulullah berhaji,
    Rasulullah mengeraskan talbiyah, maka kitapun ikut sebagaimana Rasulullah mengerjakannya.
    Jika kita tidak mengeraskan talbiyah, maka kita telah menyelisihi tatacara haji yang Rasulullah ajarkan…

    حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ وَبِشْرُ بْنُ بَكْرٍ التِّنِّيسِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي يَحْيَى قَالَ حَدَّثَنِي عِكْرِمَةُ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ إِنَّهُ سَمِعَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَادِي الْعَقِيقِ يَقُولُ أَتَانِي اللَّيْلَةَ آتٍ مِنْ رَبِّي فَقَالَ صَلِّ فِي هَذَا الْوَادِي الْمُبَارَكِ وَقُلْ عُمْرَةً فِي حَجَّةٍ

    Telah menceritakan kepada kami Al Humaidiy telah menceritakan kepada kami Al Walid dan Bisyir bin Bakar At-Tinnisiy keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Al Awza’iy berkata, telah menceritakan kepada saya Yahya berkata, telah menceritakan kepada saya ‘Ikrimah bahwa dia mendengar Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata, bahwa dia mendengar ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata; Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berada di lembah Al ‘Aqiq: Malaikat yag diutus oleh Rabbku datang kepadaku dan berkata: Shalatlah di lembah yang penuh barakah ini dan katakanlah: Aku berniat melaksanakan ‘umrah dalam ‘ibadah hajji ini. (HR. Bukhari)

    Lafazh “Ushalli” yang berarti “Aku shalat” atau “Sengaja aku shalat” mirip dengan lafazh “Sengaja aku umrah dan hajji”. Dan itulah lafazh niat. Niat adalah menyengaja sesuatu perbuatan, dan letaknya di hati. Adapun melafazhkan niat adalah mengucapkan niat dengan lisan yang dapat membantu hati berniat untuk menyengaja suatu perbuatan.

    Hadits diatas sama sekali bukan dalil tentang pelafadzan niat umrah, tidak ada sama sekali..

    Apakah melafadzkan niat di mulut itu bagian dari ibadah?
    Apakah dengan melafadzkan di mulut itu kita berharap pahala?
    Lalu jika kita tidak berharap pada ibadah melafadzkan itu, atau kita menganggap itu bukan suatu ibadah, berarti kita telah melakukan perbuatan yang sia-sia….
    maka sebaiknya perbuatan yang sia-sia ini sudah sangat layak untuk ditinggalkan, karena tidak ada manfaatnya, dan tidak mendatangkan pahala, malah mendatangkan dosa..

    Ingat, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah

    Tidak ada hadits atau riwayat yang mengabarkan bahwa rasulullah melafadzkan niat untuk beribadah haji,shalat,wudhu, puasa, sebagaimana yang kita dapati di indonesia ini,..

    Dan perbuatan ini menyelisihi ajaran Rasulullah…

    Diriwayatkan dari Jabir ra, beliau berkata : “Aku pernah shalat idul adha bersama Rasulullah saw. Maka ketika beliau hendak pulang dibawakanlah kepada beliau seekor kambing lalu beliau menyembelihnya sambil berkata : ” Bismillahi Allahu Akbar (dengan Asma Allah, Allah Mahabesar), Ya Allah, inilah kurban dariku dan dari orang-orang yang tidak sempat berkurban di antara ummatku.” (HR Ahmad, Abu dawud dan Turmudzi)

    Hadits ini menunjukan bahwa Rasulullah mengucapkan niat dengan lisan atau talafuzh binniyah ketika beliau menyembelih qurban.

    Ini juga ada contoh dari Rasulullah,bagaimana tatacara menyembelih hewan qurban, tapi tidak ada riwayat
    saya berniat kurban ,…dan seterusnya,
    Dan itu diucapkan oleh yang menyembelih hewan kurban, yang merupakan bagian dari dzikir ketika akan menyembelih binatang qurban..
    Jadi harus dibedakan antara dzikir dan melafadzkan niat.

    Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda, ”Tidaklah lurus iman seseorang sampai lurus hatinya. Dan tidaklah lurus hati seseorang sampai lurus lisannya.” (HR Ahmad)

    Berkata Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj II/12: “Dan disunnahkan melafadzkan apa yang diniatkan sesaat menjelang takbir agar supaya lisan dapat menolong hati dan juga untuk keluar dari khilaf orang yang mewajibkannya walaupun (pendapat yang mewajibkan ini) adalah syadz yakni menyimpang. Kesunahan ini juga karena qiyas terhadap adanya pelafazhan dalam niat hajji.”

    Berkata Imam Ramli dalam Nihayatul Muhtaj Jilid I/437 : “Dan disunnahkan melafazhkan apa yang diniatkan sesaat menjelang takbir agar supaya lisan menolong hati dan karena pelafazhan itu dapat menjauhkan dari was-was dan juga untuk keluar dari khilaf orang yang mewajibkannya.”

    DR. Wahbah Zuhaili dalam kitab Al-Fiqhul Islam I/767 : “Disunnahkan melafazhkan niat menurut jumhur selain madzhab Maliki.”

    Adapun menurut madzhab Maliki diterangkan dalam kitab yang sama jilid I/214 bahwa : “Yang utama adalah tidak melafazhkan niat kecuali bagi orang-orang yang berpenyakit was-was, maka disunnahkan baginya agar hilang daripadanya keragu-raguan.”

    Madzhab Maliki membolehkan pelafazhan niat dan tidak mengharamkannya. Dan bahkan menyunnahkannya bagi mereka yang suka mendapatkan keragu-raguan dalam shalat mengenai niat mereka.

    Menurut shohibul Mughniy, lafazh dari apa-apa yang diniatkan itu adalah demi penguat niat saja. (Al Mughniy Juz 1 hal 278) Demikian pula dijelaskan pada Syarh Imam Al Baijuri Juz’ 1 halaman 217 bahwa lafazh niat bukan wajib, ia hanyalah untuk membantu saja.

    Jadi, melafazhkan niat itu adalah boleh dan sunnah, karena apa-apa yang membantu ibadah adalah berpahala. Melafazhkan niat tidaklah wajib. Melafazhkan niat ketika berqurban boleh jahr hingga terdengar orang lain, boleh sir seperti membaca surat Al-Fatihah di dalam sholat Zhuhur. Adapun niat sholat dilafazhkan secara sir dan bukanlah jahr. Karena jika dilafazhkan secara jahr, ia dapat mengganggu orang di sebelahnya.

    Sunnah itu adalah apa yang dikerjakan oleh Rasulullah, dan juga dilaksanakan oleh para sahabat,… dan tidak kita dapati Rasulullah atau para sahabat melakukan amalan ini. Jadi anggapan melafadzkan niat itu adalah sunnah dan boleh diamalkan adalah anggapan yang batil, jauh dari kebenaran..

    Maka selesai masalah melafazhkan niat ini tanpa ada yang membid’ahkannya dari jumhur ulama.

    Syaikh Salim al-Hilali mengatakan, “Letak niat adalah hati bukan lisan dan hal ini merupakan kesepakatan seluruh ulama serta berlaku untuk seluruh ibadah baik bersuci, shalat, zakat, puasa, haji memerdekakan budak, berjihad dan lain-lain.” (Bahjatun Nadzirin, 1/32).

    Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu`min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. [QS. An-Nisa: 115]

    Rasulullah tidak pernah melafadzkan niat dalam shalatnya, jadi orang-orang yang melafadzkan niat di dalam shalat berarti telah menentang Rasulullah sesudah jelas kebenaran baginya

    Nash di atas menjelaskan bahwa mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mu`min adalah haram, dan mengikuti jalannya orang-orang mu`min adalah wajib. Jika jama’ah orang-orang mu`min berkata, ”Ini halal,” kemudian ada orang yang mengatakan terhadap hal tersebut sebagai haram, berarti ia tidak mengikuti jalannya orang-orang mu`min.

    Perlu anda ketahui, maksud mengikuti jalan orang-orang mukmin disini adalah para sahabat nabi,.
    Ayat ini turun ketika mereka masih hidup, bukan kaum mukmin sekarang,
    Sedangkan para sahabat tidak ada riwayat tentang pelafadzan niat ini,

    Wallahu a’lam.

    Lebih detailnya, anda bisa baca disini , alhamdulillah sudah saya posting.
    Baca juga artikel ini buat menambah wawasan anda.
    Jazakallahu khairan atas komentarnya. Mudah-mudahan Allah memberi petunjuk kepada kita semuanya.

  21. Tommi
    November 30, 2010 pukul 3:07 am

    Setahu saya, di kitab Al-Umm, Imam Syafi’i hanya menulis, “tidak sah sholat bila tidak didahului dengan dzikir…”. Beliau sama sekali tidak menyuruh menjahrkan niat.
    Dan, Nabi Shallallahu alaihi wasalam memulai sholatnya dengan takbiratul ihram, sama sekali tidak ada beliau menyuruh menjahr lafazh niat (usholli dsb).

    Yg jadi pertanyaan, mungkinkah Imam Syafi’i yg bergelar nashirus sunnah memerintahkan yg tidak diperintahkan oleh Nabi???

    Terjadi salah faham dalam memahami perkataan Imam Syafi’i oleh pengikutnya. Adapun yang dimaksud “dzikir” disini bukanlah melafadzkan niat, akan tetapi ucapan Takbir “Allahu Akbar”
    Itu yang di perintahkan oleh Imam Syafii, dan ini sejalan dengan hadit Rasulullah.

    Berikut saya nukilkan perkataan Imam Nawawi dalam Al Majmu’ syarah Al Muhadzdzab (3/243) : ” Telah berkata para sahabat kami, yang mengatakan ini (melafazkan niat) telah keliru, karena maksud Imam Syafi’i dengan melafalkan dalam shalat bukan ini, tetapi maksudnya Takbir.”

    Dan berkata Jamaluddin Abu Rabi’ Sulaiman bin Umar yang bermadzhab Syafi’i mengatakan, “Mengucapkan niat dengan suara keras dan juga membaca al-fatihah atau surat dengan suara keras dibelakang Imam bukanlah termasuk sunnah Nabi bahkan hukumnya makruh. Jika dengan perbuatan tersebut jamaah shalat yang lain terganggu maka hukumnya berubah menjadi haram. Barang siapa yang menyatakan bahwa mengucapkan niat dengan bersuara keras adalah dianjurkan maka orang tersebut sudah keliru karena siapapun dilarang untuk berkata-kata tentang agama Allah ini tanpa ilmu.” (al-A’lam, 3/194)

    Nah, skrg saya persilahkan kepada saudara2 saya yg bermadzhab Syafi’i untuk sejenak meninggalkan perkataan kyainya, ustadznya maupun kepada yg masih beristihsan (beranggapan baik) bahwa melafazkan niat itu baik. Renungkanlah bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi dan itu adalah jalan yg lurus yg tidak akan menceraiberaikan kita (QS Al An’am : 153). Cobalah teliti kembali hadits2 Nabi mengenai sholat, adakah beliau menyuruh melafazkan niat?

    Sesungguhnya saya ingin bertanya sedikit pada yg mensyari’atkan menjahr niat, tolong dong kasih tau ke saya bagaimana niat sholat gerhana, sholat jenazah, sholat gho’ib, bagaimana niat puasa daud, niat puasa asyuro’, niat puasa arafah, niat puasa syawal, niat puasa senin kamis. Kenapa kalian klo bersedekah kok tidak menjahrkan niat padahal sedekah jg kan termasuk ibadah? Tolong dijawab ya saudaraku bagi kalian yg mengetahui.

    Melafadzkan niat adalah termasuk mempersulit diri kita dalam beribadah, mengundang timbulnya was-was syetan,… dan ini sama sekali tidak ada contohnya dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

    Wong sunnah-sunnah Rasulullah yang ada aja masih banyak yang belum kita amalkan, kok bisa-bisanya mengamalkan apa-apa yang tidak ada contohnya dari Rasulullah,…

  22. adit
    November 29, 2010 pukul 2:29 pm

    Melafazhkan niat shalat itu bid’ah. Tak ada contohnya dari Rasul. Tetapi, apakah ia hasanah?

    Selama ia mengandung kebaikan, misalnya ia membantu seseorang utk lebih fokus (dan bukan utk mengajari Allah), maka ia baik, hasanah.

    Tidak semua yang baik menurut pandangan manusia itu berarti baik menurut Allah dan Rasulnya, silahkan anda baca postingan yang saya nukilkan disini

    Ingat, kami ini bermadzhab Syafi’i.

    Imam Syafi’i membagi bid’ah kepada mahmudah dan madzmumah.
    Dikitab apakah Imam Syafi’i membagi bid’ah itu kepada mahmudah dan madzmumah?

    Banyak sekali orang yang mengaku bermadzhab kepada Imam Syafi’i, tapi banyak sekali bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Imam Syafi’i rahimahullah

    Imam Syafi’i sendir mengatakan, jika ada pendapatku yang menyelisihi hadits yang shahih, maka buanglah pendapatku, dan ambillah hadits yang shahih tersebut

    Perkataan Imam Syafii lagi, jika ada hadits shahih, itulah madzhabku

    Imam Ibnu Hajar membagi bid’ah kepada 5 hukum, begitu pula dg Imam Nawawi.

    Dimana para ulama tersebut membagi seperti itu, tolong sebutkan dikitab apa, juzz berapa, halaman berapa

    Ingat, para ulama diatas menulis kitab-kitab, dan pendapatnya tertulis dikitab-kitab mereka, atau kitab-kitab muridnya..

    Kami bukan taqlid kepada Nashiruddin yg mengatakan bahwa perkara yg baru itu semuanya haram, sesat dsb.

    Kami tidak taklid kepada Syaikh Nashiruddin albany
    Yang mengatakan semua perkara yang baru itu adalah bid’ah itu Rasulullah

    Yang mengatakan semua bidah itu sesat itu adalah Rasulullah,
    Lalu siapa lagi yang lebih layak untuk kita ikuti selain dari Rasulullah??

    Layakkah perkataan Rasulullah seperti hadits berikut ini kemudian di bantah dengan tulisan ulama yang jauh dari masa Rasulullah?
    Padahal sudah jelas hadits dari Rasulullah yang berbunyi:
    فَإِذاَ نَهَْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوْهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوْا ِمنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
    “Apabila aku melarang sesuatu, tinggalkanlah. Dan apabila aku memerintahkan kepada sesuatu, lakukanlah semampu kamu”. (HR Bukhari dan Muslim)
    مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
    “Barang siapayang beramal dengan suatu amal yang tidak diperintahkan oleh kami maka amal tersebut tertolak.” (HR Muslim)
    إِنَّ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ
    “Sesungguhnya Allah menghalangi taubat dari pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya.” (HR Thabrany dan disahihkan oleh syeikh Al Bani)
    لَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا
    “Semoga Allah melaknat orang yang melindungi orang yang mengada-ada (kebid’ahan)”.(HR Muslim)

    Alhamdulillah, karena komentar anda, saya nukilkan artikel yang bagus tentang masalah bidah ini, bisa dibaca disini.

    Dan saya minta maaf, tidak mencantumkan apa yang anda bawakan disini, karena apa yang datang dari Rasulullah, lebih baik dari semua yang anda bawakan tersebut.

  23. Maskur®
    November 28, 2010 pukul 1:25 pm

    iya benar sekali, dulu sering jadi alasan tidak mengenrjakan ibadah tertentu, karena tidak tahu niatnya

    Sesungguhnya Allah yang paling tahu apa yang diniatkan seseorang dalam beribadah itu,

    Dan Ibadah yang sesuai contoh Rasulullah saja yang diterima oleh Allah,

    Sedangkan melafadzkan niat seperti ushalli…dst itu tidak ada contohnya dari Rasulullah,

    Saya dulu juga melakukannya, kenapa?
    Karena belum tahu, karena dalam buku-buku pelajaran agama kita demikian,
    Sudah merupakan kewajiban umat islam untuk mempelajari agama islam ini, sehingga mengetahui hukum-hukum islam yang sudah dilupakan kebanyakan kaum muslimin…

    Alhamdulillah sekarang saya mulai mengenal banyak sekali tentang hukum-hukum islam yang benar-benar diajarkan oleh Rasulullah, sehingga kita bisa beribadah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam…

  24. ari
    November 28, 2010 pukul 12:02 pm

    mas,, Lafazh niat seperti sekarang adalah susunan yg mempermudah saja. Anda mau buat susunan yg lain juga boleh, yg penting membantu niat sewaktu takbiratul ihram.Lagi pula, ga ada larangan melafazhkan niat sebelum takbiratul ihram, yg terlarang itu adalah bicara yg bukan bacaan sholat di dalam sholat.

    Mas, yang ada juga, mana dalil yang menyuruh kita untuk melakukan hal seperti itu, bukan mana dalil yang melarangnya,.. dalam urusan ibadah, itu nunggu dalil yang menyuruhnya, tapi dalam urusan dunia kebalikannya, nunggu dalil yang melarangnya… begitu mas,…

    Mau melafazhkan niat atau tidak, sholatnya tetap sah selama niatnya ketika takbiratul ihram itu benar.

    Shalatnya sah, tapi bukan mendatangkan pahala, tapi mendatangkan dosa, karena shalat harus sesuai contoh rasulullah, sebagaimana sabdanya, “shalatlah kalian sebagaimana kamu lihat aku shalat”
    Tidakkah mas dapat mengambil pelajaran dari hadits diatas?

    Mana yang mas pilih, shalat dengan membaca ushalliy, atau niat lainnya dengan cara mengucapkannya dengan lisan, tapi berakibat mendapat dosa,
    Ataukah shalat dengan cara mengucapkan takbir tanpa mengucapkan niat, tapi itu mendapatkan pahala,.. silahkan pilih sendiri…

    Mas, memang agama ini siapa yang membuat ajarannya?
    Dan kita disuruh beribadah itu siapa panutan kita?
    Bukankah mas beriman kepada Allah?
    Bukankah mas beriman kepada Rasulullah?

    Allah memerintahkan kita sebagai umat islam sesuai dengan tuntunan Rasulullah,
    Jika kita beribadah kepada Allah, tidak sesuai tuntunan Rasulullah, maka amal ibadah kita tidak akan diterima,

    Rasulullah tidak pernah mengajarkan tata cara shalat seperti itu, dengan melafadzkan niat,
    Rasulullah memulai niat dengan bacaan takbir, Allahu Akbar..
    Bukan dengan ushalliy… dst…

    Hanya saja, melafazhkan niat itu pada faktanya memang membantu hati untuk fokus kok…

    Sebelum shalat boleh minum air ga?
    Sebelum shalat boleh ngobrol ga?

    Boleh sekali, tidak ada larangan untuk itu, dan ngobrol itu bukan urusan ibadah, sebab itu dilakukan sebelum shalat,

    Kalo ngobrol yg dpt mengganggu ibadah aj boleh, apalagi melafazhkan niat, boleh banget, karena membantu ibadah.

    Nah, kalau melafadzkan niat itu sudah termasuk rangkaian ibadah, karena ini dikait-kaitkan dengan ibadah shalat, jika tidak melafadzkannya seolah2 ada yang kurang, untuk hal ini, maka butuh dalil sebagai perintah untuk melafadzkan niat, … dan dalilnya tidak ada, karena tidak ada contohnya dari Rasulullah, dan termasuk bentuk penyelisihan terhadap ajaran Rasulullah,…

    Mas ari, semoga Allah memberi pemahaman yang benar kepada anda,
    Hukum asal ibadah adalah terlarang, sebelum ada dalil yang memerintahkannya,
    Kebalikan dari hal diatas, hukum asal urusan dunia, itu boleh sebelum ada dalil yang melarangnya…

    Jadi ibadah itu, harus ada dalil yang memerintahkannya, baru dikerjakan, sebelum ada dalilnya, tidak boleh kita mengerjakannya,.

    Dan melafadzkan niat, tidak ada contohnya sama sekali dari Rasulullah..

    Apakah yang datang dari Rasulullah itu tidak mencukupi bagi anda?
    Kok mau-maunya mengambil apa yang bukan ajaran Rasulullah…

    Apakah ada sesuatu yang lebih baik dari apa yang dicontohkan oleh Rasulullah?

    Dan Niat itu adalah amalan hati, bukan amalan mulut, jika anda melafadzkan di mulut, tapi tidak ada niat dalam hati anda, maka shalatnya tidak sah,

    Kita berjalan menuju masjid untuk melakukan shalat, itu sudah termasuk niat shalat, kita melakukan wudhu ketika akan shalat, itu juga sudah termasuk niat shalat, karena niat itu adalah keyakinan di dalam hati, merupakan perbuatan hati, bukan perbuatan lisan,..

    Saya kasih contoh, ada seorang yang shalat dengan mengucapkan ushalli…dst, tapi dalam hatinya dia meniatkan untuk tidak shalat karena Allah, maka orang ini shalatnya tidak sah, bahkan berdosa,…

    • Andi Susanto
      Desember 19, 2012 pukul 1:26 pm

      melafadz niat itu bkn kewajiban, tp bagi kami adlah ke sunnah an karena hal tsb membantu dlm berniat. Melafadz niat adalah untuk membedakan antara menyegaja niat dgn kebiasaan. Contoh: antara orang mau itikaf di masjid dgn orang numpang istirahat.
      kalo misal orang mau wudhu sudah otomatis berniat, maka sudah barang tentu niat bkn menjadi rukun wudhu. Kenapa niat termasuk rukun wudhu?
      apakah niat kita sudah benar/keteguhan niat kita seperti Kanjeng Nabi saw? Kalo iya, silahkan tdk usah di lafadz niat tersebut.

      Jika ada pendapat melafadz niat adalah perbuatan bid’ah yg buruk karena hal itu menambah nambahi rukun sholat, bkn kah sholat itu dimulai dgn takbiratul ihram? Sedangkan melafadz itu dilakukan sblm takbiratul ihram?

      Oh ya, sy ada pertanyan, di jawab Ok ga di jawab jg tidak masalah bagi saya. Kalo membaca usholli sblm sholat dilarang,lalu membaca koran sblm sholat bagemana hukumnya?

      Terimakasih mas Andi Susanto,
      Perlu anda ketahui, niat wajib hadir dari awal shalat hingga salam, jika niat ini dilafadzkan, bagaimana cara melafadzkannya, karena niat ini wajib dihadirkan dari awal shalat hingga salam,
      Jika kita merubah niat kita ditengah-tengah shalat, misalkan kita berniat membatalkan shalat, atau berniat membaguskan shalat kita karena kita merasa diperhatikan oleh orang lain ketika kita shalat,.. maka .. jika kita tidak mengembalikan lagi niat kita lillahi ta’ala, maka shalat kita bisa batal,

      Jika niat itu dilafadzkan, maka ini sangat menyusahkan orang yang shalat, sebab niat wajib dihadirkan dari awal hingga salam,

      Pertanyaan lagi,.. adakah orang yang bisa melakukan suatu pekerjaan tanpa niat?? TIDAK ADA YANG BISA , sema orang melakukan amalan apapun pasti dengan niat, sebab niat itu otomatis menyertai suatu pekerjaan, kecuali orang yang sedang mengigau, atau orang yang bergerak secara reflek,

      Rasulullah shalat tidak membaca ushalli,
      Abu Bakar, Umar,Utsman,Alid mereka shalat tdk membaca ushalli,
      Imam abu hanifah,malik,syafii,ahmad, mereka shalat juga tdk membaca ushalli,
      Imam bukhari,muslim, dan ulama2 ahlussunnah lainnya juga tdk membaca ushalli ketika shalat,

      Mereka saja tdk membacanya, kok kita membuat2 ajaran sendiri ?? Siapakah tauladan kita?
      Apakah cara shalat yg kita lakukan itu lebih baik dari cara yg diajarkan oleh rasulullah??

      • ayu
        Juli 31, 2014 pukul 2:39 am

        Min mau tanya, aku kalo sholat ataupun wudhu susah sekali baca bismillah dalam hati diulang2 trs gitu atu sulit baca dalem hati sampe nangis gara2 sulit baca bismillah.
        Ini gimana solusinyanya? Mohon jawabannya. Terima kasih:)

        Terimakasih ayu,. sudah komentar disini,.
        Membaca bismillah itu saat mau wudhu, dan tidak diucapkan dihati, tapi di mulut, mudah sekali, anak TK aja bisa,. dibaca 1x saja,.

        Perlu anda ketahui, yang disebut niat itu adalah apa yang terbetik di dalam hati, semua perbuatan kita dalam kondisi sadar, otomatis niat sudah ada, kita mau mengedipkan mata saja pasti sudah terbetik dalam hati kita, kita akan mengedipkan mata,.

        Anda menulis komentar disini, perhurufnya itu otomatis ada niat, bukan karena tidak sengaja, ketika menulis huruf a,b,c,d, dan seterusnya, pasti sudah tergambar dalam hati anda, jadi ga perlu ngomong di mulut atau dihati, saya mau nulis a,b,c,d , dst, ngga begitu kan?

        Jadi itu semua mudah,..

        Ketika anda mau berwudhu, ketika anda melangkah menuju ke tempat wudhu, itu sudah ada niat, anda mau wudhu kan, bukan mau yang lain, atau mau iseng,dll.. itu berarti sdh ada niat,.

  1. No trackbacks yet.

Silahkan tulis komentar anda,.. surel diisi dgn email, nama diisi dengan nama anda ,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.504 pengikut lainnya.