Beranda > kisah mengharukan, kisah nyata > WASIAT TERAKHIR MANTAN DUKUN

WASIAT TERAKHIR MANTAN DUKUN


Ada kisah nyata yang bagus, saya nukilkan dari majalah al ma’arif, sebuah majalah kecil yang diterbitkan oleh pesantren yatim ibnu taimiyah bogor. Saya dapatkan majalah tersebut dari adik saya yang kebetulan sekolah disana. Kebetulan adik saya juga mengenal pelaku dan orang yang menceritakan cerita ini.  Berikut ini kisahnya….

Rustam sebenarnya ragu memberikan buku Risalah tentang Sihir dan Perdukunan itu kepada nenek. Apakah nenek mau membaca,memahami, dan kemudian mengamalkannya?

“Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk”, tiba-tiba Rustam teringat kalimat yang sering diulang-ulangnya tersebut di pesantren tempat ia menuntut ilmu.

Lalu kenapa aku ragu memberikan buku ini kepada dukun di kampungku ini? Rustam bertanya kepada dirinya sendiri.

Hingga suatu saat Rustam berkunjung ke rumah dukun di kampungnya dan berkata:

“Nek, kebetulan saya membawa buku tentang sihir dan dukun, kalau nenek mau , baca saja nek, kalau ada yang tidak mengerti nanti saya bantu,”

Akhirnya aku sodorkan buku itu kepada nenek (panggilan bagi dukun di daerah Ndori, Ende, Flores).

“Terima kasih nak Rustam,” jawab sang dukun.

Dukun kampung yang sudah berumur 65 tahun itupun menerima buku kecil tentang sihir dan perdukunan karya Syaikh Bin Baaz yang sengaja ia bawa dari bogor itu. Rustampun pamitan dan kembali ke rumahnya yang berjarak hanya ratusan meter. Sudah seminggu Rustam berada di kampungnya, Hoba Kua yang terletak di kecamatan Ndori Timur, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Pesantren Yatim Ibnu Taimiyah, tempat ia menuntut ilmu agama selama ini memberi kesempatan kepada santrinya untuk pulang kampung.

Alhamdulillah, musim liburan kenaikan kelas, juni 2006 ia mendapat giliran pulang kampung. Kini Rustam masih duduk di kelas satu I’dad Du’at (persiapan da’i) Pesantren Yatim Ibnu Taimiyah, Bogor Jawa Barat.

Siang itu selepas dzuhur, Rustam sengaja berkunjung ke rumah nenek. Ia berniat kuat mengajak bertobat nenek yang sudah menjadi “orang pintar” di kampungnya sejak puluhan tahun yang lalu itu. Sore hari, pukul 17:00 WIT, Abdullah anak laki-laki nenek mendatangi rumah Rustam,  katanya nenek ingin ngobrol lagi.

Berikut ini percakapan antaran Rustam dengan sang dukun:

Rustam : “Bagaimana bukunya Nek, sudah dibaca?”

Sang dukun  : “Bagus!”

Rustam : “Ada yang belum paham?”

Sang dukun : “Coba jelaskan hubungan antara ibadah yang dilakukan dengan pekerjaan selama ini saya menjadi dukun. Saya masih bingung, kenapa peribadatan kita ditolak bila menjadi dukun?”

Rustam :  “Nek, bukankah Rasulullah mengatakan, “Barangsiapa mendatangi dukun dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadapa apa yang diturunkan kepada Muhammad,  yang mendatangi dukun, kafir, apalagi dengan dukunnya sendiri ya?” seperti itulah nek”,

Sang dukun  : “Jadi apa yang harus saya lakukan sekarang

Rustam : “Begini nek, kan nenek rajin shalat setiap hari, juga ibadah yang lainnya. Agar tidak sia-sia peribadatannya, nenek  berhenti saja jadi dukun.”

Sang dukun  : “Tapi saya jadi dukun bukan keinginan saya sendiri. Ini warisan dari bapak saya. Selain itu masyarakat sini masih pada datang minta tolong ke saya!” lanjut sang dukun

Rustam : “Ya nek, betul. Tapi kan bapak nenek dulu tidak tahu kalau dukun itu dilarang dalam islam. Sekarang nenek sudah tahu bagaimana hukumnya!”

Sang dukun  : “Kalau ada yang datang minta tolong bagaimana?”

Rustam : “Nenek bilang saja saya sudah taubat  dan tidak menjadi dukun lagi!”

Sang dukun  : “Kalau mereka memaksa?”

Rustam : “Nenek jelaskan lagi, Ingat nek, di akhirat nanti yang akan menyelamatkan kita dari neraka adalah diri kita sendiri, bukan orang-orang kampung sini. Kalau nenek tetap menjadi dukun dan nanti nenek di akhirat disiksa, apakah orang-orang kampung yang pernah mendatangi nenek bisa menolong?”

Tidak nek, setiap orang nanti sibuk dengan urusan mereka masing-masing!”

Sang dukun  : “Ya, nak Rustam, saya mengerti sekarang. Nenek ingin berhenti jadi dukun, tapi tidak tahu bagaimana caranya?”

Rustam : “Alhamdulillah, Subhanallah Nek, Yang penting sekarang nenek berhenti menjadi dukun dan banyak beristighfar”.

Sang dukun  : “Ya, nak  Rustam, terima kasih atas pemberitahuannya”.

Rustam : “Sama-sama nek, Nenek masih menyimpan jimat tidak?”

Sang dukun  : “Iya, masih ada, saya simpan baik-baik. Abdullah juga punya jimat!”

Rustam : “Gini nek, supaya bisa lebih tenang, jimat-jimat yang masih disimpan dengan baik itu kita bakar saja semuanya!”

Sang dukun  : “Nggak apa-apa dibakar?”

Rustam : “Nggak apa-apa , sekalian dipanggil Abdullahnya!”

Nenek segera memanggil Abdullah, anaknya yang masih duduk di kelas empat SD.

Sang dukun  : “Abdullah sini! Dengarkan baik-baik ya, sekarang bapak sudah tidak mau lagi menjadi dukun, sekarang ambil jimat yang disimpan oleh Abdullah!”

Sebentar kemudian Abdullah sudah kembali dengan menyerahkan beberapa kertas bertuliskan ayat-ayat Alquran dan diikat.

Setelah terkumpul semua, termasuk jimat-jimat nenek yang berupa bakaran ekor cicak, sapu ijuk yang diikat, serta rambut, akhirnya semua dibakar di tungku tanah dapur rumah nenek.

Diluar terdengar alunan adzan Maghrib. Akhirnya Rustam dan sang dukun yang baru saja bertaubat berjalan bersama menuju masjid kampung yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari rumah mantan dukun tersebut.

Pada suatu siang ketika Rustam sedang dirumahnya, Abdullah anak sang dukun mendatangi rumah Rustam,

“Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikumussalam, ada apa Abdullah?” , Rustam langsung bertanya.

“Kakak dipanggil bapak ke rumah,” jawab Abdullah.

Dengan penasaran Rustam bergegas menuju rumah nenek.

Sampai di rumah nenek, Rustam makin kaget karena di rumahnya sudah berkumpul tetangga-tetangga dekatnya.

“Ada apa pak, apa yang terjadi dengan nenek?” Rustam segera bertanya.

Tapi tidak ada seorangpun di antara kerumunan orang disitu yang menjawab. Semuanya diam.

Rustam bergegas menuju kamar tidur nenek. Tampak tubuhnya terkulai lemah di atas ranjang. Beberapa tetesan airmata sempat keluar dari kelopak matanya. Belum sempat bertanya sakit apa yang diderita nenek, dengan suara lemah dan gemetar ia berkata,

“Tolong panggilkan Abdullah dan Aminah”.

Setelah kedua anaknya itu datang, ia memegang tangan kedua anaknya tersebut.

“Nak Rustam, tolong jaga anak saya….”

Selesai mengucapkan kata-kata tersebut, tubuh nenek terkulai lemas dan matanya terpejam untuk selamanya.

Rupanya  kata-kata nenek barusan yang menyuruh aku menjaga kedua anaknya yang masih kecil tersebut menjadi kata-kata terakhir sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.

(Rustam Jewa , Ndori Timur , Ende, NTT )

  1. ayash
    Agustus 26, 2014 pukul 12:56 pm

    bang admin,
    sy pernah membaca hadits tentang membunuh cicak!
    apa benar hadits nya shahih?
    soal ny sy masih ragu,!
    mohon penjelasan ny bang admin!
    jazakumullahu khairan….

    Spesial untuk anda dan pembaca sekalian,.. Membunuh cicak,. ada pahalanya, sudah saya posting disini

    Jazakumullahu khairan

  2. coek
    April 24, 2011 pukul 11:00 pm

    Sang dukun : “Kalau ada yang datang minta tolong bagaimana?”
    Rustam : “Nenek bilang saja saya sudah taubat dan tidak menjadi dukun lagi!”

    Kenapa Rustam melarang Sang dukun menolong sesama ????????????

    Karena Rasulullah melarang kita mendatangi dukun, untuk bertanya saja akibatnya shalat kita tidak diterima selama 40 hari,sebagaimana hadits Rasulullah yang artinya :
    Barangsiapa mendatangi peramal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari”. [Hadits Riwayat Muslim no, 2230, kitab As-Salam, dan Ahmad no. 22711]

    Jika bertanya saja resikonya shalatnya tidak diterima selama 40 hari, bagaimana jika meminta tolong kepada dukun? ini lebih besar lagi dosanya,..

    Jadi apa yang dilakukan Rustam merupakan perbuatan terpuji, menolong sang dukun untuk tidak melakukan praktek perdukunannya, yang itu merupakan dosa besar,

    Bagi orang yang bertanya kepada dukun saja dosanya begitu besar, apalagi bagi dukun itu sendiri, lebih besar lagi, makanya Rustam menyuruh sang dukun untuk tidak menolong orang yang datang kepadanya dengan praktek perdukunannya,..

    Jika sang dukun menolong bukan dengan ilmu perdukunannya yang selama ini digelutinya, itu sih ngga masalah, tetapi yang dilakukan Rustam adalah menyuruh sang dukun untuk tidak menolong orang yang meminta pertolongannya dengan kapasitas dia sebagai dukun, yang selama ini memang sang dukun melakukannya,..

    Mudah-mudahan semakin banyak dukun yang bertaubat dari praktek perdukunannya,…

  3. hamsi
    Januari 16, 2011 pukul 12:47 pm

    Assalamualikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Salam jumpa sekalian perkenalan yang awal ini semoga Allah ta’ala melindungi kita sekalian di dalam berkarya, saya jadinya penasaran dukun yang dimaksud sayangnya anda tidak menyebut namanya, kalau memang saudara paham tentang itu semua tolong di sampaikan kepada orang” kita di Ndori bahwa praktek sebagai Dukun itu dilarang oleh agama Islam sehingga mereka menjalankan sesuai syariat yang telah di wahyukan oleh Allah ta’ala.

    (mantan dukun tsb sudah meninggal, tidakkah anda membaca kisah diatas?)

    Alhamdulillah, sudah ada yang mulai menyampaikan,mendakwahkan ilmu yang didapatkan di pesantren, untuk menyadarkan kaum muslimin dari kesyirikan, diantaranya adalah yang dilakukan para dukun,.. apalagi yang mendakwahkan adalah dari daerah asal sendiri, insya Allah masyarakat lebih menerima, mudah-mudahan semakin banyak masyarakat yang menyadari akan bahaya kesyirikan..

    Wassalam

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

  1. No trackbacks yet.

Silahkan tulis komentar anda,.. surel diisi dgn email, nama diisi dengan nama anda ,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.566 pengikut lainnya.