Beranda > tahlilan > Ternyata Ritual Tahlilan 7hari,10,40,dan seterusnya Bukan Dari ajaran Agama Islam, tapi dari agama hindu,..

Ternyata Ritual Tahlilan 7hari,10,40,dan seterusnya Bukan Dari ajaran Agama Islam, tapi dari agama hindu,..


Bismillah

Sudah kita ketahui bersama bahwa sering kita lihat bahkan sering kita lakukan suatu ibadah dalam islam yaitu Tahlilan atau kirim doa atau Fatihah ke orang tua atau keluarga yg telah meninggal dunia.

Apakah kita sudah memeriksa atau meneliti asal muasal tahlilan tersebut?
Karena kita dalam beribadah harus mengikuti Ajaran yg telah dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam apabila tidak dicontohkan makan amal tersebut tidak diterima

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أحْدَثَ فيِ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيْهِ فَهُوَ رَدٌّ.
وفي رواية لمسلم: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Dari ‘Aisyah radliyallâhu ‘anha dia berkata, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengada-ada (memperbuat sesuatu yang baru) di dalam urusan kami ini (agama) sesuatu yang bukan bersumber padanya (tidak disyari’atkan), maka ia tertolak.” (HR.al-Bukhari)

Di dalam riwayat Imam Muslim dinyatakan, “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan termasuk urusan kami (agama), maka ia tertolak.”

Maka dari hadits diatas apabila suatu ibadah tidak didasari oleh Syariat islam maka amalnya tidak diterima

oleh karena itu Apakah Ibadah Tahlilan itu Berdasarkan dari Islam atau dari Agama Lain

silahkan di simak Videonya untuk mengetahui jawabannya

Download 
Nara Sumber: Ustadz Abdul Aziz (Mantan Pendeta Hindu)

Sumber Link: islamika.situsdownload.com

Publish: artikelassunnah.blogspot.com

  1. adam
    Mei 14, 2012 pada 1:39 am | #1

    Apakah do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh itu pahalanya akan sampai kepada orang mati? Dalam hal ini ada segolongan yang yang berkata bahwa do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh tidak sampai pahalanya kepada orang mati dengan alasan dalilnya, sebagai berikut:

    وَاَنْ لَيْسَ لِلْلاِءنْسنِ اِلاَّ مَاسَعَى

    “Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39)

    Juga hadits Nabi MUhammad SAW:

    اِذَامَاتَ ابْنُ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ

    “Apakah anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.”

    Mereka sepertinya, hanya secara letterlezk (harfiyah) memahami kedua dalil di atas, tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lain. Sehingga kesimpulan yang mereka ambil, do’a, bacaan Al-Qur’an, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang mati. Pemahaman itu bertentangan dengan banyak ayat dan hadits Rasulullah SAW beberapa di antaranya :

    وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلاِءخْوَنِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلاِءْيمن

    “Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)

    Dalam hal ini hubungan orang mu’min dengan orang mu’min tidak putus dari Dunia sampai Akherat.

    وَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنتِ

    “Dan mintalah engkau ampun (Muhammad) untuk dosamu dan dosa-dosa mu’min laki dan perempuan.” (QS Muhammad 47: 19)

    سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِى مَاتَتْ افَيَنْفَعُهَا اِنْ تَصَدَّقْتَ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ

    “Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi SAW; Ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah mati, apakah berguna bagi saya, seandainya saua bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; yaa berguna untuk ibumu.” (HR Abu Dawud).

    Dan masih banyak pula dalil-dalil yang memperkuat bahwa orang mati masih mendapat manfa’at do’a perbuatan orang lain. Ayat ke 39 Surat An-Najm di atas juga dapat diambil maksud, bahwa secara umum yang menjadi hak seseorang adalah apa yang ia kerjakan, sehingga seseorang tidak menyandarkan kepada perbuatan orang, tetapi tidak berarti menghilangkan perbuatan seseorang untuk orang lain.

    Di dalam Tafsir ath-Thobari jilid 9 juz 27 dijelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan tatkala Walid ibnu Mughirah masuk Islam diejek oleh orang musyrik, dan orang musyrik tadi berkata; “Kalau engkau kembali kepada agama kami dan memberi uang kepada kami, kami yang menanggung siksaanmu di akherat”.

    Maka Allah SWT menurunkan ayat di atas yang menunjukan bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain, bagi seseorang apa yang telah dikerjakan, bukan berarti menghilangkan pekerjaan seseorang untuk orang lain, seperti do’a kepada orang mati dan lain-lainnya.

    Dalam Tafsir ath-Thobari juga dijelaskan, dari sahabat ibnu Abbas; bahwa ayat tersebut telah di-mansukh atau digantikan hukumnya:

    عَنِ ابْنِى عَبَّاسٍ: قَوْلُهُ تَعَالى وَأَنْ لَيْسَ لِلاِءنْسنِ اِلاَّ مَا سَعَى فَأَنْزَلَ اللهُ بَعْدَ هذَا: وَالَّذِيْنَ أَمَنُوْاوَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِيَتُهُمْ بِاِءْيمنٍ أَلْحَقْنَابِهِمْ ذُرِيَتَهُمْ فَأَدْخَلَ اللهُ الأَبْنَاءَ بِصَلاَحِ اْلابَاءِاْلجَنَّةَ

    “Dari sahabat Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT Tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dikerjakan, kemudian Allah menurunkan ayat surat At-Thuur; 21. “dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, maka Allah memasukkan anak kecil ke surga karena kebaikan orang tua.”
    Syaekhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ Fatawa jilid 24, berkata: “Orang yang berkata bahwa do’a tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik, pahalanya tidak sampai kepada orang mati,” mereka itu ahli bid’ah, sebab para ulama’ telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfa’at dari do’a dan amal shaleh orang yang hidup.

    Dalil diatas tidak menunjukan ada ritual tahlilan khusus setelah meninggal dunia dihari ke 7,10,40, dstrsnya,..

  2. Hendy Norman
    Mei 14, 2012 pada 12:49 am | #2

    Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,

    Bagus dan menarik sekali tulisan ini. Sampai saya tulis komenta ini, insya Allah saya tetap tidak meyakini bahwa ada rujukan yang shahih mengenai tahlilan dan yasinan. Jazzakumullahi khairan katsira. Waktu ayahanda meninggal pun saya termasuk yang berada di posisi berseberangan (tidak setuju dilakukan tahlilan), namun karena ilmu saya masih rendah; saya tidak kuasa menolak. Apalagi pihak yang berinisiatif, justru bukan dari saya. Saya berucap terima kasih atas informasi dari penulis. Semoga amal ibadah penulis mendapat pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala berupa ampunan dan karunia lainnya. Amien.

    Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

  3. R. efik junaedi
    Mei 9, 2012 pada 11:43 am | #3

    Assalamualaikum…

    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Maaf ya sebelumna buat kaum muslimin wal muslimat saya mencoba berpendapat dlm hal ini. meski mungkin ilmu pengetahuan saya jauh dri kesempurnaan, tapi karena paparan ini terbuka dan mudah2xan minimal bisa saling bertukar pendapat maka saya coba sedikit berpendapat, setelah saya menyimak semua pendapat tsb diatas.

    Bukan kebaikan versi kita, seperti TAHLILAN, itu kan berisi tahlil, doa, bacaan alquran,.. itu baik menurut sebagian orang,..

    saya ambil permisalan gini pak ustadz,..

    Jika ada orang shalat maghrib 5 rakaat,.. apakah anda berani melarangnya? apakah sah shalat orang tersebut?
    Bukankah bacaan alqurannya jadi banyak, tadinya cuma tiga rakaat, akan tetapi ditambah jadi 2 rakaat lagi,..
    Bukankah sujud dan rukunya jadi lebih banyak,..
    Kalau anda melarangnya, apa alasan anda?

    Jika orang tersebut berkata kepada anda: ” kok anda melarang saya shalat?” apa jawab anda?

    Saya merasa permisalan ini tidak etis dan tidak pada kondisinya, karena sgt jauh menyimpang dari pokok permasalahan, dan jelas tidak mewakili apapun dari isi persoalan dri tahlil atau tahlilan tersebut. jika anda om pembuat blog ini menyampaikan pendapat berdasarkan sudut pandang anda sendiri maka jadinya begini…

    Mungkin anda menjawab, sebab shalat maghrib 5 rakaat tidak diajarkan oleh Rasulullah,..

    Bahkan jika ada orang sengaja shalat maghrib 5 rakaat, maka shalatnya tidaklah sah,

    Dengan cara yang sama saya katakan juga, ritual tahlilan berkaitan dengan kematian seseorang juga tidak diajarkan sama sekali oleh Rasulullah,… jadi amalan tersebut tidak akan diterima disisi Allah,

    Tahlil bisa kapan aja dilakukan, om pembuat blog ini benar, umumnya bahasa indonesia menyederhanakan ucapan berdasarkan kebiasaan, jdi tahlil dikatakan menjadi tahlilan, niatnya sama dan pengerjaannya pun bertujuan baik, om pembuat blog ini juga benar bahwa baik saja tidak cukup untuk dibenarkan, dlm hal ini om mengembalikan urusan ini kepada alqur’an dan hadist hingga menampilkan sbb:

    Dan apa-apa yang tidak datang dari rasulullah dalam hal perkara ibadah, maka itu dihukumi sebagai bidah, dan semua bidah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya dineraka,
    itu bukan saya yang mengatakan, baca sendiri nih haditsnya
    مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

    “Barangsiapa yang mengada-adakan suatu perkara dalam agama ini tanpa ada tuntunannya maka amalannya tersebut tertolak.” (HR. Bukhari Muslim)
    فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
    Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (as-Sunnah). Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.

    Jadi, yang mengatakan bidah itu sesat dan sesat itu di neraka bukan saya mas,.. itu Rasulullah sndiri,.. iqra…iqra…

    itu jelas benar om… yg salah adalah penafsirannya yg tidak dilandasi bukti yg konkrit dan real. gak ada tertulis disitu tahlilan menjadi salah satu perkara yg menyimpang dari ajaran rasulloh dan para sahabatnya. Jika pada pengerjaannya tahlil itu seperti umat hindu jelas salah, tetapi jika saduran atau pengerjaannya berdasarkan niat ibadah dan isinya penuh nilai2x islami insya Allah menjadi berkah adanya. jadi tolong jangan melihat pada satu sisi aja menuturkan pendapat tanpa lebih jauh mendalami makna secara keseluruhan. mungkin contoh yg benarnya begini om:

    Jika ada sekelompok/kaum islam yg mengerjakan tahlilan sama pengerjaannya dgn yg orang hindu lakukan, dri mulai niat, pengerjaan, dan isi bacaannya sama dgn bacaan orang hindu maka boleh dikatakan itulah yg sesat, bidah, dan yg celaka dikemudian hari sesuai hadist2x yg om paparkan diatas.

    Yang menyerupai hindu adalah penetapan harinya, kenapa harus 7hari,10hari,40hari,dst, itu ada dikitab-kitab hindu, dan memang ritual itu sendiri dibuat oleh “wali” agar orang hindu tertarik kepada islam, bukankah rasulullah sudah mengajarkan tahlil, tatacaranyapun sdh rasulullah ajarkan, jangan membuat cara-cara sendiri,.. makanya saya contohkan dengan shalat maghrib 5 rakaat, walaupun khusyu sekali, dan ikhlas, mengharapkan pahala allah semata, maka amalan seperti itu tidak akan diterima, bahkan mendatangkan dosa,

    NIAT BAIK SEMATA TIDAKLAH CUKUP, caranya pun haruslah baik, sesuai dengan petunjuk rasulullah

    orang arab bilang tahlil, kita bilang tahlilan… kenapa c mesti jdi persoalan dan dikaitkan dgn pengerjaannya? om kan bilang diatas kita bisa tahlil kapan aja, saya bilang iya kita bisa tahlilan kapan aja.. apa itu saya salah? orang yg mengupayakan tahlil di 3.4, atau 7 hari setelah mayit dikubur mungkin bertujuan berusaha membantu mayit lewat doa banyak orang, karena terputus ibadah dan amalna setelah mati kecuali yg tiga yaitu, Sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya atau anak yang shalih yang mendo’akannya” hadist riwayat Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad. Insya Allah doa kluarga, sahabat dan kerabatnya disaat tahlilan itu di ijabah wallohu’alam…

    “Apa yang kita takutkan belum tentu terjadi, tapi Sangat mungkun sesuatu itu terjadi jika terus kita pikirkan dan ucapkan So…. Pikirkanlah yang baik-baik saja karena sesungguhnya Allah itu mengikuti persangkaan hamba-Nya” *********************************************** Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman; ‘Aku mengikuti persangkaan hamba-Ku, dan Aku akan senantiasa bersama-Nya jika dia berdoa kepada-Ku.’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    demikian om, terimakasih.

    Rasulullah ketika anaknya meninggal, tidak melakukan tahlilan 7hari,10hari,40hari, dstrsnya,. demikian juga ketika ada sahabat yang meninggal, rasulullah tidak melakukan ritual tahlilan, padahal rasulullah menyaksikan banyak dari para sahabatnya yang meninggal dunia,

    Abu bakar ketika rasulullah meninggal, tdk melakukan ritual tahlilan,
    Demikian juga umar,utsman ,ali, tidak pernah melakukan ritual tahlilan,
    Imam hanafi,Imam malik,Imam syafii,Imam ahmad, imam bukhari,muslim,dll tidak pernah melakukan ritual tahlilan ini, yg tentunya dengan pelaksanaan berhubungan dengan hari kematian seseorang,

    Sunan giri,sunan bonang,maulana malik ibrahim, tidak melakukannya, bahkan mereka mendakwahkan dakwah salaf,

    Mulai sunan kalijaga, yang aswaja (asli wajah jawa) mulailah islam dicampur aduk dengan budaya hindu, memasukan wayang,musik, dgn dalih agar umat hindu tertarik kedalam islam,.. ini tentu menyelisihi ajaran Rasulullah yang mendakwahkan dakwah tauhid, bukan mencampur adukan agama islam dengan ajaran kesyirikan,

  4. humanaja
    Mei 7, 2012 pada 3:20 am | #4

    Intinya, baca kalimat Tahlil itu baik, datang dan menghibur keluarga mayit itu baik,

    yang tidak baik itu Tahlilan alias baca Tahlil dengan tujuan memperingati 1- 7 hari, 30 hari dan 1000 hari kematian mayit karena tidak ada perintah Al Qur’an maupun Hadits untuk Tahlilan.

    Para Wali sudah kehabisan akal meng Islamkan umat Hindu yang fanatik sehingga mau “mengalah” demi meng Islamkan mereka.

    Para wali sebelum sunan jaga kali adalah para ulama salaf, yang mendakwahkan dakwah salaf, seperti sunan maulana malik ibrahim,sunan giri, sunan bonang,.. adapun setelah sunan ASWAJA, asli wajah jawa, yaitu sunan kalijaga dan generasi setelahnya, mereka mencampuradukan ajaran hindu kedalam islam, seperti sunan kalijaga yang memasukan wayang kedalam islam untuk berdakwah, padahal wayang adalah dari hindu,

    Lalu setelah sekian ratus tahun kita yang notabene keturunan Hindu Jawa masa lalu apa masih menuntut kepada keturunan Wali untuk terus melaksanakan ritual 7 hari, 30 hari dan 100 hari memperingati kematian mayit masih harus dilaksanakan ?

    Walisanga bukanlah panutan kita, panutan kita adalah Rasulullah,.. jika ada ajaran orang yang disebut wali tapi ajaranya tdk sesuai dengan ajaran rasulullah,.. maka wajib kita tinggalkan ajaran tsb,..

    • Agus Widodo
      Mei 12, 2012 pada 8:02 am | #5

      Kalau zaman dahulu tidak ada para Wali khususnya wali songo yang memperkenalkan Islam, kita yang hidup di zaman sekarang tidak akan menikmati Indahnya Islam.

      Kata siapa mas, wali yang dari negeri arab masih mendakwahkan islam yang benar, seperti maulana malik ibrahim,sunan giri,sunan bonang,.. mereka semua mendakwahkan islam yang benar,

      Mulai sunan aswaja (asli wajah jawa) seperti sunan kalijaga yang mencampuradukan ajaran hindu kedalam islam, mulailah islam jadi rusak,

    • boymin13687
      Mei 13, 2012 pada 4:13 am | #6

      Setuju sekali *_*b , menurut saya.
      urutan perujukan itu dari Al-Qur’an dulu yang, kemudian Hadits Nabi salallah alaihi wasalam(yang shahih), baru kemudian kemudian para ulama

      bukan dari Ulama dulu, baru kemudian Qur’an dan Hadits
      saya kira Sunan Kalijaga adalah ulama paling ngeyel, niatnya bener untuk mengajak kepada Islam tapi caranya yang salah dengan mencampur adukkan Islam dengan Hindu dan Budaya Jawa.

      Dan menurut saya lagi,
      Islam itulah budaya. Islam yang bercampur dengan budaya lokal dan ajaran agama lain bukanlah Islam.

      Islam bukanlah budaya,.. budaya itu buatan manusia, sedangkan Islam adalah syariat yang Allah buat, dan kewajiban manusia adalah menjalankan syariat yang telah Allah syariatkan,.

      sedangkan budaya itu adalah kreasi manusia, makanya tidak cocok disetiap tempat, berbeda halnya dengan islam,..cocok dimana saja berada,

      Wallahualam

  5. Abdulloh
    Maret 17, 2012 pada 2:23 am | #7

    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh……

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

    Artikel disini mantap sekali….., ana suka membaca disini
    dan ana juga baru mengenal manhaj ini yang sungguh indah…

    Alhamdulillah, sungguh nikmat yang paling besar adalah mengenal manhaj salaf ini, tidak ada nilainya jika ditukar dengan harta sepenuh dunia ini, dan kita berdoa, semoga semakin banyak kaum muslimin yang mengerti manhaj salaf ini, karena inilah satu-satunya jalan yang selamat dalam beragama, sebagaimana firman Allah dalam surat attaubah ayat 100 dan ada ancaman bagi kaum muslimin yang tidak mau mengikuti manhaj salaf ini, sebagaimana tercantum dalam surat annisa ayat 115 ,

    Manhaj salaf bukanlah ormas, bukanlah kelompok, ada pendirinya, ada anggaran dasar, atau ada keanggotaan,..
    Manhaj salaf adalah metode beragama, yaitu apa-apa yang diajarkan Rasulullah kepada para sahabatnya, dan Rasulullah sudah merekomendasi mereka dalam haditsnya, Rasulullah memerintahkan kita untuk mengikutinya dengan kebaikan,

    mohon saran dari ustad untuk ana, bagaimana caranya agar bisa tetap istiqomah diatas jalan ini dan ana juga mohon izin untuk copast artikel2nya..
    Jazakumullah kharian katsiran……

    Bergaulah dengan teman-teman yang lurus manhajnya, hadir di kajian-kajian ustadz-ustadz yang mendakwahkan dakwah salaf,
    Alhamdulillah dijaman ini sarana tuk mempelajari manhaj salaf sangat banyak, ada majalah,buku,radio,website,dan cd/dvd kajian.. dengan mudah kita bisa mendapatkannya,

    Boleh dikasih tahu, dimana anda tinggal/ biar saya kasih tahu tempat-tempat kajian salaf yang ada didekat daerah anda,

    silahkan copas saja artikel yg ada disini, mudah2an bermanfaat,
    Jazakallahu khairan

    • Abdulloh
      Maret 17, 2012 pada 6:31 am | #8

      ana tinggal di Lampung, apakah ada info ustad2 kita (Ustd Abdul Hakim, Ustd Yazid dll) akan dauroh di Lampung?
      Jazakallahu khairan

      Di lampung ada pesantren Salafi, dan ada radio rodja lampung, akan tetapi di lampung timur, anda bisa nyari info lewat sana, atau membeli majalah ASSUNNAH, lalu lihat kolom agen tuk lampung, silahkan hubungi nomor tersebut, dan tanyakan kajian yang dekat dengan tempat tinggal antum, jazakallahu khairan,..

  6. wong_Negaradaha
    Maret 16, 2012 pada 2:06 am | #9

    Ust. Abdul Aziz (yang mengaku mantan pendeta Hindu) tadi malam tanggal 16 November 2011, ia ditahan di Mapolres Kulonprogo Jogjakarta, setelah mengisi ceramah di Masjid Agung Wates Kulon Progo.

    info dari berita ya mas? sudah lihat videonya belum, yang ceramah dengan pimpinan pesantren yang sudah rujuk kepada pemahaman yang benar, yaitu mengikuti pemahaman para sahabat, bukan mengikuti pemahaman ormas, apapun nama ormas tersebut,

    Patokan kebenaran bukan ngikut ormas, wong abu bakar , umar , utsman, atau Ali, juga imam syafii,dan ulama-ulama ahlus sunnah ngga ada tuh yg ngikut ormas,.. apalagi ormas tersebut didirikan oleh orang indonesia jauh sekali dari jaman Rasulullah, mbok ya mikir mas,.. banser adanya tahun kapan ya? sengaja saya hapus,

    Silahkan lihat videone nang kene mas,..






  7. Ubiet Abdillah
    Maret 8, 2012 pada 10:06 am | #10

    Apa betul seseorang dapat disebut telah beribadah kepada Alloh, jika memenuhi tiga syarat pokok yang harus di penuhi. 1. Beriman 2. Bersyairáh 3. Ikhlas, tolong jelaskan ?

    Syarat diterimanya ibadah ada 2 :
    1. Ikhlas
    2. Mengikuti Contoh Rasulullah,
    Kedua hal tersebut harus ada, hilang salah satunya, maka tidak akan diterima amal ibadah yang dilakukannya,

  8. Toton
    Maret 6, 2012 pada 6:37 pm | #11

    Melakukan ibadah diluar tuntunan Rasulullah ibarat menuduh Rasulullah telah berdusta dan menyembunyikan risalah yang harus disampaikan pada umatnya. Biaya untuk mengadakan yasinan/tahlilan itu lebih baik disedekahkan pada orang-orang yang membutuhkan (itu kalau bukan dari hasil utangan).

    Islam itu sudah sempurna dan mudah. Kenapa dipersulit?

    iya, betul,.. seandainya saja para pelaku bidah itu mengetahui,.. islam sudah sempurna,..
    mudah-mudahan allah memberi petunjuk kepada pelaku kebidahan,.. dan menunjuki kita agar tetap istiqamah diatasa sunnah

  9. anis mujiono
    Maret 4, 2012 pada 2:35 pm | #12

    kalau suruh menyebutkan dalilnya, ada banyak sekali. tetapi karena memang sudah beda pemahaman dan kuatnya doktrin masing- masing, maka mendingan gak usah lah saya sebutkan. yang jelas, baik sunni maupun salafi sama islamnya.

    Salafi adalah sunni, tetapi yang ikut ormas sih perlu ditanyakan,
    Kalau salafi itu loyalnya kepada dalil yang shahi dari rasulullah, menurut pemahaman para sahabat, bukan loyal kepada ormas, karena tidak ada perintah tuk loyal pada ormas, walaupun ormas islam,.. sebab itu pada hakekatnya adalah mengkotak-kotakkan kaum muslimin itu sendiri, pemecah belah kaum muslimin,.. lihat saja, sesama ormas membanggakan ormas yang diikutinya,..

  10. nuharis
    Februari 29, 2012 pada 8:30 am | #13

    saya mau bertanya hukum bid,ah dalam ajaran islam terbagi dalm berapa hal …………………?

    terima kasih telah bertanya,.. yang membagi bidah menjadi bermacam-macam itu siapa ya?

    kata Rasulullah, setiap bidah itu sesat,.. mana yang lebih layak kita ambil? gunakanlah akal sehat kita tuk memilihnya,..

  11. wanca
    Februari 26, 2012 pada 9:54 pm | #14

    assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    sangatlah banyak saudara kita yang tak setuju apabila tahlilan dianggap satu amalan yang bid’ah dan menyesatkan bahkan mereka akan membalas dengan komentar yang keras

    itu merupakan satu hal yg wajar yang boleh terjadi di negeri ini yg mayoritas ISLAM KETURUNAN tanpa landasan ilmu yaitu alqur’an dan hadits,MEREKA HANYA MELIHAT DAN MENIRU APA APA YANG DILAKUKAN OLEH ORANG TUA DAN KEBANYAKAN ORANG TERDAHULU.(smg ALLAH SWT memberikan hIdayah dan petunjuk bagi mereka amin)

    ana juga dahulu rajin ikut tahlilan,karena menurut ana dahulu itu satu ibadah yang baik
    tapi skrg ana jadi takut ..karna tidak diperintahkan dlm alqur’an dan hadits
    dari kajian ana yg sangat sederhana :

    - suatu hari teman dari teman ana mengeluh,ia tlp teman ana untuk pinjam duit Rp.1jt utk keperluan acara 40 hari orang tuanya yg baru meninggal,mereka tinggal di daerah pagar alam sum sel. ( bukankah ini merupakan beban yang berat bagi kelrga yang ditinggalkan? setelah mereka berpisah dengan orang tua mereka juga harus cari dana utk 1,3,7.40.100.1000 ? )

    -bagi tetangga dan kerabat yang meninggal ; mereka merasa malu jika tak datang menghadiri acara sprt itu dan mereka mewajibkan datang,tetapi apakah mereka akan merasa malu jika saat berkumandang azan yang sudah wajib hukumnya bagi laki laki untuk shalat di mesjid mereka seakan tak dengar dan berlalu.. shalat berjamaah bagi laki laki wajib hukumnya dan itu jelas dalam alQur’an dan merupakan perintah ALLAH SWT

    semoga bermanfaat

    jazakumulloh khoir

  12. anis mujiono
    Februari 26, 2012 pada 3:21 pm | #15

    acara tahlilan dan yasinan menurut saya bagus kok. susunan acaranya bagus dan sesuai perintah rasulullah. seperti membaca berbagai ayat Alqur’an, berdzikir, berdoa, bermusyawarah, silaturrahm, ramah tamah, ada sodaqohnya, ada kajian agama juga. itu semua disusun oleh ulama zaman dahulu supaya orang- orang tetap punya semangat beribadah.

    semua pelaku bidah berniat untuk kebaikan, niat yang baik saja tidak cukup,

    Kenapa harus malam jumat yasinannya? mana perintah dari rasulullah, coba aja diganti malam jumat baca surat albaqarah, ditempat yang biasa malam jumat baca yasin, apa komentar mereka kira2?

    itu disusun oleh ulama jaman dulu, ulama siapa, kan yg biasa ngadain yasinan atau tahlilan ngakunya biasanya sih pengikut imam syafii,.. nah mana dong bukti kalau imam syafii ngadain tahlilan, yasinan, bukan menurut sunan kalijaga yang ga ada kerjaan nungguin tongkat, ngga mandi, ngga shalat jumat, karena nungguin tongkat hingga ada sarang burung di kepalanya,.

    ada juga acaranya orang PKS yaitu LIQO setiap seminggu sekali. di dalam liqo ada baca qur’annya, ada diskusinya, bermusyawarah, silaturrahm, berdzikir juga, ada sodaqohnya dan makan- makannya. ada juga ritual yang lebih ngeri lagi yaitu MABIT (malam bina amal takwa) yang biasa dilakukan orang-orang muhamadiyah, tarbiyah, PKS, dll di tengah malam.
    ada juga ritual pembacaan Al Ma’tsurot karangan Al Banna.

    mabit=malam bidah, kalau mabit di mina, itu baru yg sunnah

    Dulu juga sempat ikut liqa, sebelum mengenal dakwah salaf,.. alhamdulillah, setelah tahu, dan bnyk penyimpangan manhaj disana, saya ngga ikut lagi,.. dan banyak sekali kok mantan-mantan pks yang akhirnya rujuk ke salaf, dulunya membenci salaf dengan benci yg sangat, akhirnya rujuk ke salaf, dan menyesali perbuatannya dulu,.. yg dari nu jg banyak, bahkan salahsatunya jadi ustadz, padahal dulu sempat jadi tukang nuntun gusdur, mondok di tambak beras jombang,.. dari muhammadiyah jg banyk yg rujuk ke salaf, demikian jg dari persis, atau ldii, jamaah tablig, juga dari nii atau ikhwanul muslimin,..
    ada semua mas,.. dan kalau dah kenal manhaj salaf, ngga akan kemana2 lagi, dah tahu,, sekalipun ngga di salafi lagi, di hati kecilnya dia tahu, sebenarnya gimana sih manhaj salaf itu,. hanya karena peran hawa nafsunya yg lebih besar, sehingga mengambil sikap yg keliru,..

    orang salafi juga saya kira melakukan pertemuan- pertemuan seperti itu. jadi apa yang kalian perdebatkan?? semua sudah jelas. semua memetik dari dalil- dalil yang jelas. berbagai dalil itu kemudian dikumpulkan menjadi satu acara yang banyak manfaatnya. saya sarankan bagi saudara- saudaraku semua seiman dan seislam. jangan bertengkar ya.. supaya kita kuat ukhuwahny.

    Kalau disalafi ngga ada mengkhususkan hari anu kajian, kalau selain hari anu berarti kurang afdhal, bebas saja,.. beda dengan yasinan,.. ada yang berani merubah yasinan bukan di hari malam jumat, misalkan yasinan ganti di malam minggu, … atau suratnya diganti, gimana kira-kira komentar penggemar yasinan, atau kyainya? kalau di salafi mah mau kajian hari apa saja terserah, yang penting ada keluangan waktu, bahkan dibeberapa kota tiap hari ada kajian,.. apalagi di radio, tiap hari berpuluh kajian ditempat yg berbeda,.. nah yasinan,.. malam jumat tok,..

    • abuerzha
      Februari 28, 2012 pada 4:11 am | #16

      @anis mujiono : smg Alloh Ta’ala selalu memberikan hidayah dan petunjuk-NYA kepada antum dan kita semua..
      ana hanya menomentari sedikit komennya bung Anis mujiono..
      di paragraph awal antum mengatakan : “acara tahlilan dan yasinan menurut saya bagus kok..” ana juga mo tanya nih coba antum sebutkan ‘ulama’ mana yg mengadakan ritual Tahlil-an/Yasin-an??jgn berdusta atas nama Ulama lhoo mas..:)

      komentar saya : mas..perlu diingat agama Islam ini dibangun diatas Dalil yakni Al-Qur’an,As-sunnah serta Ijma para sahabat rohdiallohuanhuma..bukan perkataan saya,anda,admin,si fulan,si fulanah,kyai,ustadz,ustadzah,anjengan,guru-guru dsb. dan bukan prasangka-prasangka hati dan perasaan baik belaka karena agama Islam dibangun diatas ILMU.
      Kalau semua orang berbicara Agama yg mulia ini berdasarkan perasaan,hawa nafsu tanpa melihat kaidah-kaidah serta syariat ibadah yg sudah ditetapkan Alloh Ta’ala melalui ROsululloh serta contoh dari para sahabat Rosululloh maka bersiap-siaplah akan kehancuran agama Islam yg mulia ini..lhoo kenapa?? karena umat Islam sudah MENYELISIHI ibadah yg sudah ditetapkan Alloh Ta’ala melalui Rosululloh..
      fahami baik-baik..Agama Islam ini diturunkan oleh Alloh Ta’ala melalui Rosululloh dan umat ini hanya mengikuti apa2 yg sudah ditetapkan dan TIDAK membuat perkara-perkara BARU dalam ber-agama..mudah bukan..??tinggal mencontoh saja apa susahnya.. :)

      ROsululloh telah mengisyaratkan akan datang keadaan ini:
      “Sungguh-sungguh aku akan dapati salah seorang dari kalian bertelekan di atas dipan datang kepada sebuah perintah dari perintahku atau larangan dari laranganku lalu dia mangatakan: ‘Saya tdk tahu itu apa yg kami dapatkan dlm kitab Allah yg kami ikuti.’”{Shahih HR Ahmad Abu Dawud At Tirmidzi dari Abu Rafi’ dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dlm Shahihul Jami’ 7172)

      Ibnu Katsir dalam tafsirnya (I/231) berkata, “Sesungguhnya amal yang di terima harus memenuhi dua syarat. Pertama, ikhlas karena Allah. Kedua, benar dan sesuai syari’at. Jika dilakukan dengna ikhlas, tetapi tidak benar, maka tidak akan diterima”.

      Pernyataan itu dikuatkan dan dijelaskan oleh Ibnu Ajlan, ia berkata, “Amal tidak dikatakan baik kecuali dengan tiga kriteria : takwa kepada Allah, niat baik dan tepat (sesuai sunnah)” [Jami Al-Ulum wal Hikam : 10]

      Dari ’Abdullah (bin Mas’ud) radliyallaahu ’anhu ia berkata : ”Sederhana dalam sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah” [Diriwayatkan oleh Ad-Darimi no. 223, Al-Laalikaiy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqad no. 14, 114, Al-Haakim 1/103, dan yang lainnya; sanad riwayat ini jayyid].

      Ibnu Mas’ud juga berkata :
      “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian akan mengadakan perkara baru dan akan diadakan perkara baru untuk kalian. Apabila kalian melihat perkara yang baru (muhdatsah), maka wajib bagi kalian untuk menetapi perkara yang pertama (yaitu apa yang dilakukan oleh para Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam beserta para shahabat radliyallaahu ‘anhum)”.

      Ibnu Mas’ud juga berkata :
      “Jauhilah oleh kalian perbuatan bid’ah, berlebih-lebihan, dan berdalam-dalam. Dan wajib atas kalian berpegang pada generasi yang terdahulu” [Thabaqaat Al-Hanaabilah 1/69,71].

      Semoga Alloh Ta’ala memudahkan kita dalam mempelajari agama Islam yg mulia ini dan selalu taat serta ittiba kpd Rosullloh dalam beribadah..

      smg bisa difahami..
      Allohuta’a ‘alam..

  13. laskar jihad return
    Februari 25, 2012 pada 5:00 pm | #17

    TAHLILAN , berasal dari bahasa arab , dgn tasrif nya HALLALA – YUHALLILU-TAHLILAN. TAHLILAN artinya mengucap : LA ILAHA ILLALLAH ( tdk ada tuhan kecuali Allah )..

    jika dikaitkan dgn judu; topik diatas :( Ternyata Tahlilan Bukan Dari ajaran Agama Islam, tapi dari agama hindu,..) saya hanya bisa ngakak , sebab si pembuat topik atau admin , tdk paham dgn topik nya sendiri ..

    Mas, siapa yg lebih ngerti bahasa arab? anda atau para sahabat? para sahabat ngga ada tuh ritual tahlilan setelah kematian,.. emang topik diatas itu arahnya kemana? kalau baca jgn sepotong-sepotong dong,.. ada ngga ritual tahlilan setelah kematian, terkait dgn hari? emang ritual tahlilan yg ada di indonesia dilakukan setiap ada kejadian apa? sebagaimana yasinan,..

    siapa kata rasul tdk mengajar kita agar sentiasa TAHLILAN ?

    mengucapkan tahlil, kapan saja , tdk terikat waktu,.. kalau tahlilan yg di indonesia, itu kan setelah kematian, berapa hari,.. dst,.. emang ini ajaran siapa? ya ada tuh di kitab-kitab hindu,.. kalau di ritual hindu yg dibaca mungkin mantra-mantra, lalu bacaan itu dirubah menjadi tahlil,..ini ya pelecehan terhadap tahlil itu sendiri,.. musibah,..

    Kalimat tahlil, itu ibadah yg agung,.. kalau tahlilan, ya kebanyakan cuma ada di indonesia, para pelakunya adalah ASWAJA (ASli WAjah JAwa)

    siapa kata sahabat nabi tdk TAHLILAN ?

    justru admin yg perlu di pertanyakan ttg iman dan islam nya ..

    admin : jgn di pliara bodohnya.. oke ??

    mending jadi orang bodoh, sehingga tdk membuat-buat ritual agama sendiri, mencukupkan diri dgn ajaran-ajaran yg betul-betul diajarkan oleh Rasulullah,.. daripada jadi orang pinter yang membuat-buat ajaran baru dalam islam, apalagi memasukan ritual-ritual dari agama lain ke dalam islam,.. ini musibah, inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun..

    Ada juga tahlil mas, di indonesia jadi tahlilan,
    Ada juga yasin mas, di indonesia jadi yasinan

    Kalau tahlilan kata anda dari bahasa arab, itu buat berkilah saja,.. wong di arab ngga dikenal istilah ritual tahlilan,.. Abu bakar tdk pernah merayakan ritual tahlilan, Umar, Utsman, Ali juga tdk melakukan ritual tahlilan,
    Imam syafii yg jadi tokoh oleh para pengikut imam syafii yg dalam hal ini sering melakukan ritual tahlilan,.. juga tdak melakukan ritual tahlilan,.. jadi ritual tahlilan itu ngikutin siapa?… eh ternyata ngikutin tradisi hindu, katanya supaya orang hindu tertarik kepada islam, dibuatlah ritual yg harinya spt ada di kitab hindu, cuma bacaannya dirubah, diisi tahlil,.. ini mah mencampuradukkan yg batil dgn yg hak,.. agama sdh sempurna mas, ngga perlu modifikasi,.. jgn buat-buat syariat baru dalam islam,.. islam sudah sempurna, ngga perlu ditambah dan dikurangi,..

    • boymin13687
      Mei 13, 2012 pada 4:32 am | #18

      bukan masalah siapa yang bodoh dan siapa yang pinter…..

      Bukan pula Tahlil-nya(lafaz “Lailahailallah”) yang dipermasalahkan kang…. :p
      tapi rangkaian acara Tahlilan( dilakukan pada malam ke-1, 3, 7, 1,3,7.40.100.1000) setelah seseorang meninggal, itu yang menjadi masalah….

      soalnya Nabi tidak pernah mensyariatkan dan mengadakan acara Tahlilan, ketika putranya, Ibrahim meninggal dunia Rasulullah shalallah alaihi wasalam tidak mengadakan acara tahlilan untuknya,

      dan kalau ada hadits Shahih(shahih Bhukhari, Muslim, dst) yang menganjurkan untuk mengadakan acara Tahlilan…. saya sudah dari dulu mendukung acara Tahlilan…. :p

  14. afif
    Februari 25, 2012 pada 5:36 am | #19

    Amien… ada blog yg mengulas tradisi ritual tahlilan, yasinan dll. ane tidak mengomentari komen2 sebelumnya. Ana hanya bertanya istilah ‘ASWAJA’. Dalam kesempatan dan waktu ana sebelumnya pernah mendengar jika ASWAJA tsb kepanjangan dari Ahlu Sunnah WAl JAmaah… ?? Sementara di blog ini disampaikan ASli WAjah Jawa (ASWAJA juga…???) jadi dari mana dan dimana kedudukan dan hubungan kedua asal usul ASWAJA tersebut ? Terimakasih atas pencerahannya
    wassalam………….

    Alhamdulillah, terimakasih telah berkomentar disini,
    Mungkin antum atau orang lain ada yg bertanya, kok ada ASWAJA artinya bukan hanya Ahlussunnah Wal Jamaah, kenapa? ya, ini sekedar tuk membedakan mana ASwaja yg sesungguhnya, dan mana yg hanya mengaku-ngaku saja,

    Orang yg getol mengamalkan amalan tahlilan, yasinan, 7hari, dstrsnya, itu kebanyakan orang jawa, kebetulan dapet di facebook ada yg menyingkat spt itu, dan pas, jadi ASli WAjah JAwa,

    Kemudian jika kita ingatkan ttg kebidahannya, mereka ngeyel, dan tidak malu-malu mengerjakan kebidahannya, seperti bermuka tembok, dan ini bkn bermuka tembok lagi, tapi lebih keras dari tembok, jadi sprti bermuka baja, maka jadilah ASli WAjah waJA

    Sebenarnya ada satu lagi, dimana jika kita mengingatkan, ini tdk ada contohnya dari rasulullah, maka mereka menjawab, mereka mendapati nenek moyang mereka melakukannya,.. maka inipun mirip dengan orang-orang jahiliyah,.. jadi ini adalah warisan jahiliyah,. maka jadilah ASli WArisan JAhiliyah,

    itulah yg melatarbelakangi sebutan ASWAJA bagi pelaku kebidahan,..

    ASWAJA yg asli adalah orang-orang yg benar-benar mengamalkan sunnah-sunnah rsulullah, amalan-amalan yg betul-betul diajarkan oleh Rasulullah,.. bukan sekedar mengaku-ngaku sebagai aswaja saja,.. sehingga ada di indonesia ormas islma yg cukup besar,. jika tdk jadi pengikut ormas tersebut, bukanlah tmsk aswaja, aswaja sejati adalah yg mengikuti ormas tersebut,.. kasihan kalo spt ini,. Abu bakar bkn aswaja dong, karena waktu abu bakar hidup, blm ada tuh ormas tsb,..

  15. coolis noer
    Februari 16, 2012 pada 12:20 pm | #20

    Terimakasih telah berkomentar disini

    menurut saya, selama amal perbuatan itu hasanah, artinya tidak melanggar syar’i, dan diniatkan karena allah semata, maka amal tersebut berpahala.

    Kalau tidak melanggar syar’i, itu sih bukan bidah hasanah, tapi itu sunnah,.. ada dalilnya,

    Termasuk tahlilan, karena dalam tahlilan itu dibaca kalimat2 tayyibah dan bacaan alquran, selain itu juga dipanjatkan doa-doa untuk meminta keselamatan.

    Tahlil itu bagus, merupakan dzikir yg paling utama, kalau TAHLILAN itu jelek, termasuk melecehkan kalimat tahlil itu sendiri, Rasulullah tidak mengajarkan ritual tahlilan, demikian juga para sahabat, dan ulama-ulama ahlus sunnah setelahnya,.. ritual tahlilan dilakukan oleh ASWAJA (ASli WAjah JAwa) sebab ngga ada tuh ritual tahlilan di negeri asalnya islam,

    Walaupun tidak diajarkan oleh nabi, tetapi para ulamak dahulu mengmalkannya untuk kebaikan dan diniatkan hanya karena Allah semata.

    Semua kebaikan sudah diajarkan oleh Rasulullah,.. islam sudah sempurna, jangan ditambahi, jangan dikurangi,

    Niat yang baik, harus dengan cara yang baik, .. niat ikhlas semata tidaklah cukup, sebab syarat diterimanya ibadah ada 2, 1.ikhlas, 2. mengikuti contoh rasulullah, kedua syarat tsb harus ada,

    Jadi hal itu walaupun tidak diajarkan scr lgsung oleh Nabi, tetapi kebiasaan itu berfaedah dan berpahala yang akan berdosa jika kita melarang2nya. Dan soal diterima atau tidak, itu urusan Allah, wallahu a’lamu, yg tp terpenting adalah kita berusaha mengamalkan kebaikan untuk memohon ridho-Nya.

    Niat yang baik saja tidaklah cukup, baca ulasanya disini

    Setiap yg diada-adakan dalam ibadah adalah bidah, dan semua bidah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka, kita berlindung dari melakukan perbuatan bidah, mudah-mudahan Allah memberikan hidayah kepada kita…

  16. aank
    Februari 12, 2012 pada 2:24 am | #21

    ass.wr wb .

    (ini bukti apa ya, salam kok nulisnya spt ini?)

    inilah bukti bahwa seorang yang hanya bisa secuil berani memecah belah ummat dengan dagelannya yang konyol .

    ritual 3 ,7 hari dst adalah sebagai penggingat bagi kita akan kematian sekaligus mengingatkan kita agar selalu mendoakan almarhum agar selamat di alam kubur.

    Mendoakan orang yg sdh meninggal bisa kapan saja, islam mengajarkan bisa setiap saat, kok pelit amat sih, cuma di hari ke 3,7, dstrsnya,.. kenapa gak setiap saat?
    Dan setelah dilihat, ternyata hari ke 3,7, dstrsnya, itu ada dikitab agama hindu,.. Rasulullah saja ngga berdoa di hari ke 3,7, dst,.. Imam syafii juga tidak, emang ini adalah amalan ASWAJA (ASli WAjah JAwa)

    tahlilan adalah hal yang baik dan sebaiknya bapak(sy sebut bapak kana mungkn anda marah dibilang ustad karna itu mungkin pangglan ( ustd) bidah menurut bapak karna tdak ada di jaman rasulllah).

    Kalimat tahlil adalah kalimat yang mulia, dzikir yang paling agung,.. kalau TAHLILAN, itu adalah pelecehan terhadap kalimat tahlil yang agung tersebut,.. inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun..
    Sebagaimana surat Yasin, itu surat yang mulia, akan tetapi YASINAN, itu pelecehan terhadap surat yasin itu sendiri,.. emangnya quran cuma yasin aja,.. kenapa gak tiap hari dibaca, dari mulai surat alfatihah, besoknya albaqarah, besoknya ali imran, dst hingga surat annas,.. kan bisa khatam tuh alquran,.. ini ngga,.. YASIN mulu yang dibaca,..

    dan bagi saya lebih baik ada kotoran di wajah kita ketimbang hati kita yang kotor oleh hasut, dengki dan adu domba .

    TAHLILAN merupakan penyebab kotornya hati, karena itu merupakan perbuatan bidah,
    Dan sangat aneh jika ada orang yang berusaha mengembalikan ajaran islam yang asli sebagaimana yang rasulullah ajarkan, kok dibilang mengadu domba,..

    ini sunnatullah,..dulu rasulullah dijuluki al amin, stelah mendakwahkan dakwah tauhid, maka dijuluki oleh kaumnya dengan julukan majnun,…

    Apakah Rasulullah melakukan ritual tahlilan?
    Apakah Abu Bakar melakukannya?
    Apakah Umar,Utsman, Ali melakukannya?
    Apakah imam yang 4 melakukannya?
    Apakah imam bukhari,muslim, dan para ulama lainnya melakukannya?
    jawabanya mereka TIDAK MELAKUKANNYA,..
    Lalu ritual tahlilan itu ajaran siapa? tolong jawab ya?

    bapak yang terhormat mari kita lebih banyak bertaubat dan beribadah kepada Allah.karna bagaimanapun Allah telah berfirman agar kita berlomba dalam kebaikan.

    Betul sekali kata ustadz aank,
    kita lebih banyak bertaubat dan beribadah kepada Allah,
    Tentu cara beribadah kita juga wajib seperti yang diajarkan oleh Rasulullah,.. bukan beribadah dengan cara-cara baru, modifikasi sendiri,.. sebagaimana ritual tahlilan, yasinan, dan an an yg lainnya,..
    Karena semua itu bukan mendatangkan ridha Allah, akan tetapi mendatangkan murka Allah,..

    Bukankah sebagaimana kata ustadz aank “karna bagaimanapun Allah telah berfirman agar kita berlomba dalam kebaikan”

    Nah kebaikan itu bukan menurut versi kita pak ustadz, tapi kebaikan menurut Allah,..
    Apa kebaikan menurut Allah,.. Allah yang membuat syariat ibadah ini, dan Rasulullah sudah menyampaikannya seluruhnya,
    Kita tinggal melaksanakan sesuai perintah Rasulullah, jangan ditambah, jangan dikurangi,.. apa adanya saja,..
    Itulah kebaikan,..

    Bukan kebaikan versi kita, seperti TAHLILAN, itu kan berisi tahlil, doa, bacaan alquran,.. itu baik menurut sebagian orang,..

    saya ambil permisalan gini pak ustadz,..

    Jika ada orang shalat maghrib 5 rakaat,.. apakah anda berani melarangnya? apakah sah shalat orang tersebut?
    Bukankah bacaan alqurannya jadi banyak, tadinya cuma tiga rakaat, akan tetapi ditambah jadi 2 rakaat lagi,..
    Bukankah sujud dan rukunya jadi lebih banyak,..
    Kalau anda melarangnya, apa alasan anda?

    Jika orang tersebut berkata kepada anda: ” kok anda melarang saya shalat?” apa jawab anda?

    Mudah-mudahan Allah menunjuki kita kepada pemahaman islam yang benar, pemahaman para sahabat yang merupakan generasi yang dibina langsung oleh Rasulullah,

    wassalam

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

  17. M Isa Bharata
    Februari 6, 2012 pada 5:56 am | #22

    Trm ksh banyak atas ilmunya.

  18. Januari 30, 2012 pada 6:58 am | #23

    jazakallahu khairan

    Memang lebih mudah membuat insyaf pelaku maksiat bila dibanding menyadarkan para pelaku bid’ah, semoga kita selalu mendapat rahmat serta Hidayah allah untuk selalu dalam akidah yang lurus dalam agama ini. Amiien.

  19. AGUS SYAHRUL ADIB
    Januari 22, 2012 pada 8:15 am | #24

    Mungkin anda membuat tulisan ini masih sebagai PENDETA HINDU ya ? seandainya anda benar-benar sekarang MENGAKU sebagai MUSLIM, PASTI dan PASTI anda tidak akan menyerang orang sesama Islam, paham gak ? kalo gak paham datanglah ke Pondok Pesantrenku…!

    Terimakasih atas komentarnya,
    Bukan saya yang ngarang sendiri, tapi setelah melihat video mantan pendeta hindu yang masuk islam, lalu menjelaskan tentang ritual kematian, yang itu tertera di kitab agama hindu dan budha,..

    harusnya bukan kemarahan yang timbul, justru bertrimakasih, telah ada yang mengingatkan, mantan pendeta menjelaskan dari kitab hindunya, bahkan disebutkan kitab-kitabnya,..

    Seandainya anda yang mengaku islam, trus ada pesantren juga, tolong tunjukin, mana dalil dari islam tentang ritual kematian 3 hari, 7, 10, 40, dan seterusnya,.. tolong ada di kitab apa, hadits riwayat siapa,..

    Jika ada seorang muslim yang ngasih tahu, ada kotoran di wajahmu, apakah anda marah? apakah anda menuduh seorang muslim itu telah menyerang diri anda? tentu ini anggapan yang naif,..

  20. RIZAL
    Januari 14, 2012 pada 4:19 pm | #25

    SAATNYA KITA BICARA UNTUNTUK MENGAJAK KEBAIKAN BUKAN MEMBUAT ORANG MENINGGALKAN KEBAIKAN YANG SUDAH DIKERJAKAN

    Jazakallahu khairan,
    Betul kata anda, kita mengajak kepada kebaikan, dengan mengamalkan tahlil yang diajarkan Rasulullah, dan meninggalkan keburukan dari tahlilan yang bukan diajarkan oleh Rasulullah, tapi diadopsi dari ajaran hindu dan budha, hanya saja ditambahi dengan bacaan-bacaan tahlil,… jadi dianggapnya seolah-olah itu ajaran islam, bisa mendekatkan diri dengan ritual tahlilan tersebut, padahal pada hakekatnya pelaku tahlilan semakin jauh dari ajaran islam ini, dan setanpun gembira melihat orang-orang yang melakukan ritual tahlilan ini,.. kenpa? karena pelaku bidah tahlilan ini lebih disukai setan daripada pelaku kemaksiatan,..

    Nama, tidaklah merubah hakekat,..

  21. jaelan..
    Januari 14, 2012 pada 5:17 am | #26

    Jazakallahu khairan atas tanggapannya,

    1……poin poin yg anda ungkapkan dalam kitab ianatuttolibin….memang demikian . sy sependapat dgn anda…karna kitab tsb memang terbiasa bg sy di psntren2.menjadi rujukan dan sy pun dibesarkan dipesantren yg memperdalam kitab2 tsb

    Ilmu itu untuk diamalkan, bukan untuk dikoleksi,.. jika anda sudah mengetahui, lalu kenapa tidak diamalkan apa yang telah anda ketahui dari tahlilan,.. dikitab tersebut juga dijelaskan,.. bahkan muktamar NU sendiri memutuskan bahwa acara tahlilan adalah makruh, apakah anda tidak tahu?
    Jangan menganggap, lah wong makruh ini, ngga apa-apa dikerjakan jg,… hati-hati,.. setan itu pinter dalam menggoda manusia,.. pertama kali mungkin diajak tuk ngerjain yang makruh-makruh dulu,.. hingga suatu saat, dia akan diseret tuk mengerjakan yg haram,.

    2……masalah mayoritas….maksud sy begini bagi jamaah NU…tahlilan itu amalan biasa…. hanya sebatas membaca wirid2.. doa2.. dan mendoakan orang yg tlah mati…………………..
    trus anda katakan bid~ah…. hmm coba baca diulang-ulang spy anda termasuk orang2 yg beruntung…..iqro…iqro…iqro…..telaah apa yg salah dr tahlil….itu maksud sy ustad.

    Kalimat tahlil bukan bidah, yang bidah adalah tahlilannya, Rasulullah tidak melakukannya, padahal banyak sahabat yang meninggal ketika Rasulullah masih hidup, beilau tidak melakukan tahlilan,
    Abu bakar juga tidak melakukan tahlilan ketika Rasulullah meninggal,
    coba baca diulang-ulang spy anda termasuk orang2 yg beruntung…..iqro…iqro…iqro.. adakah hadits dari rasulullah tentang ritual tahlilan ini?

    saya tanya kepada anda, Apakah ritual tahlilan yang dilakukan oleh orang NU itu suatu perkara ibadah atau bukan?
    Jika itu perkara ibadah, maka hak pensyariatan ibadah itu hanya milik Allah, maka jika itu ibadah, ada perintahnya dari Allah,
    Jika tidak ada dalilnya, lalu menyeru tuk mengerjakan amalan tahlilan tersebut, maka sama saja telah mensejajarkan diri dengan allah selaku pembuat syariat ibadah ini,.. innalillahi wa inna ilaihi raji’uun..

    ketika nabi mau wafat…beliau berjiarah kekuburan…dan nabipun mendoakannya……apakah anda tau riwayat/hadis ini………………………………………???

    Nabi berziarah kubur dengan membaca doa ketika mau masuk pekuburan, itu yang dibaca nabi,
    Hubungannya dengan tahlilan? ngga nyambung, tahlilan dilakukan dimana, Rasulullah ziarah kubur juga dimana,
    Rasulullah membaca doa ketika mau ke pekuburan, kalau tahlilan dilakukan dirumah, berkaitan dengan hari kematian,..
    Kok nabi ziarah kubur dan mendoakan ahli kubur dari kalangan kaum muslimin, diqiaskan dengan tahlilan, ya ini sangat jauh sekali, ini qias yang batil, jika anda melakukan apa yang dikerjakan nabi ketika ziarah kubur, itu anda mencocoki sunnah, jika melakukan ritual tahlilan, ya itu menyelisihi sunnah Rasul

    terus ketika nabi berperang badar……..nabi berkata kepada orang2 yg dimasukkan kedalam sumur badar…..hmmm mengapa sampai nabi berkata kepada mayat2 yg ada didalam sumur tsb melainkan dia mendengar dan tau….ustad anda tau hadis yg mengatakan……bahwa ida mata ibnu adam inqotoa amaluhu….hmmm sy tdk bs menulis arab dgn benar disini….cobalah tengok makna hadis tsb…..ada doa ntuk yg tlah mati….
    anda keukeuh pendapat anda yg benar…saya pun begitu…keukeuh dgn pendapat sy…
    Apa hubungannya dengan ritual tahlilan kejadian diatas?

    Bukan kalimat tahlil yang dimasalahkan, tapi ritual tahlilannya,.. mendoakan kaum muslimin bisa kapan saja, tidak mesti seperti ritual tahlilan, ada 3 hari, 7, 10 , 40,.100, dll,.. itu darimana sumbernya?
    Ingat mas, ibadah yang agung seperti ucapan kalimat tahlil, jika ditempatkan tidak pada tempatnya, maka itu pada hakekatnya pelecehan terhadap amalan tersebut,.. tidak mendatangkan pahala, bahkan mendatangkan dosa,..

    Dan apa-apa yang tidak datang dari rasulullah dalam hal perkara ibadah, maka itu dihukumi sebagai bidah, dan semua bidah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya dineraka,
    itu bukan saya yang mengatakan, baca sendiri nih haditsnya
    مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

    “Barangsiapa yang mengada-adakan suatu perkara dalam agama ini tanpa ada tuntunannya maka amalannya tersebut tertolak.” (HR. Bukhari Muslim)
    فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
    Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (as-Sunnah). Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.

    Jadi, yang mengatakan bidah itu sesat dan sesat itu di neraka bukan saya mas,.. itu Rasulullah sndiri,.. iqra…iqra…

    Maaf, kalau komentar jangan kebanyakan, biar bisa langsung ditanggapin, jadi diskusinya bisa enak, cukup segini dulu, sisanya saya hapus,

  22. jaelan..
    Januari 13, 2012 pada 5:59 am | #27

    klo begitu…..jamaah NU sesat dong ustad….hmmm…sy NU jg…tp klo kita liat pendapat2 ulama dlm kitab maktabah syamillah…itu semua khilafiyah alias beda pendapat….baca…baca…dan sering membaca kitab harus bisa mencernanya
    tapi alangkah baiknya ustad tdk mengatakan bahwa hal tsb sesat..karna mayoritas negara ini NU….. mereka terbiasa dlm hal tsb. sy kira justru klo kita sering baca2 kitab2 karangan ulama…sperti kaol2 madhab dan ulama2nya tdk demikian ustad…………
    SY rasa ustad blm memahami mslh tahlilan tsb…secara mendalam…
    tahlilan dlm NU bukan suatu ibadah yg rutin dan suatu keharusan baginya..tapi hanya sekedar ibadah biasa yg isinya berdikir thdp alloh membaca solawat salam thdp nabi.. berdoa bagi dirinya…dan mendoakan orang yg tlah mati ….. klo ada yg meminta minta thdp yg mati maka itu memang sesuatu yg dilarang dlm agama dan bkn termasuk dlm tahlilan tsb…..sekian wassalam semoga ustad bersikap dewasa..dan dewasa dlm berpendapat..

    Terimakasih telah berkomentar disini,
    Menanggapi komentar anda,seperti “klo begitu…..jamaah NU sesat dong ustad….hmmm…sy NU jg…tp klo kita liat pendapat2 ulama dlm kitab maktabah syamillah…itu semua khilafiyah alias beda pendapat….baca…baca…dan sering membaca kitab harus bisa mencernanya
    tapi alangkah baiknya ustad tdk mengatakan bahwa hal tsb sesat..karna mayoritas negara ini NU….. mereka terbiasa dlm hal tsb.”
    Saya tidak pernah menilai NU itu sesat, tidak ada, dan itu pernyataan anda sendiri,
    Perlu anda ketahui juga, ajaran yang diada-adakan, dan dinisbatkan itu adalah ajaran islam padahal rasulullah tidak pernah mengajarkannya, maka itu semua adalah bidah,… dan Rasulullah mengatakan, semua bidah adalah sesat, dan kesesatan tempatnya di neraka,… , jika ada yang mengerjakan perbuatan tersebut, maka terkena ancaman yang dikatakan oleh Rasulullah tersebut,.. dan hendaknya kita takut terkena kedalam ancaman ini,..

    sekali lagi, saya tidak memponis NU itu sesat,.. karena itu bukanlah kapasitas saya,..

    Lihat juga dalam kitab rujukan ulama NU,
    Terjemahan kalimat yang telah digaris bawahi atau ditulis tebal di atas, di dalam Kitab I’anatut Thalibin yang sdh diposting disini:

    1. Ya, apa yang dikerjakan orang, yaitu berkumpul di rumah keluarga mayit dan dihidangkannya makanan untuk itu, adalah termasuk Bid’ah Mungkar, yang bagi orang yang melarangnya akan diberi pahala.

    2. Dan apa yang telah menjadi kebiasaan, ahli mayit membuat makanan untuk orang-orang yang diundang datang padanya, adalah Bid’ah yang dibenci.

    3. Dan tidak diragukan lagi bahwa melarang orang-orang untuk melakukan Bid’ah Mungkarah itu (Haulan/Tahlilan : red) adalah menghidupkan Sunnah, mematikan Bid’ah, membuka banyak pintu kebaikan, dan menutup banyak pintu keburukan.

    4. Dan dibenci bagi para tamu memakan makanan keluarga mayit, karena telah disyari’atkan tentang keburukannya, dan perkara itu adalah Bid’ah. Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad yang Shahih, dari Jarir ibnu Abdullah, berkata : “Kami menganggap berkumpulnya manusia di rumah keluarga mayit dan dihidangkan makanan , adalah termasuk Niyahah”

    5. Dan dibenci menyelenggarakan makanan pada hari pertama, ketiga, dan sesudah seminggu dst.

    Jumlah mayoritas, bukanlah menunjukan itu berarti kebenaran, karena memang kondisi kaum muslimin di indonesia, mereka sudah jauh dari agamanya, sehingga tidak mengerti ajaran islam yang sesungguhnya yang diajarkan oleh Rasulullah, malah kok sempat-sempatnya mengamalkan ajaran yang tidak diajarkan oleh Rasulullah sama sekali,..

    Jika ritual tahlilan itu bagus dan dianjurkan, tentu kita telah keduluan oleh para sahabat dalam mengamalkannya,.. karena merekalah yang paling getol dalam beribadah, paling rakus terhadap kebaikan, sebab mereka didikan Rasulullah langsung, dan merupakan 3 generasi yang telah direkomendasikan untuk diikuti,.. lihat surat attaubah ayat 100 dan annisa ayat 115

    anda mengatakan begini : tapi hanya sekedar ibadah biasa yg isinya berdikir thdp alloh membaca solawat salam thdp nabi.. berdoa bagi dirinya…dan mendoakan orang yg tlah mati …..

    Perlu anda ketahui, ibadah itu hak Allah dalam pensyariaatannya,.
    dan merupakan sudah satu paket, kita tinggal melaksanakannya saja,
    Jika amalan tersebut merupakan ibadah, maka tolong tunjukanlah mana dalil perintah amalan tersebut,.

    Jika tidak ada dalilnya, maka itu bukanlah suatu ibadah,.. dan perlu anda ketahui, hukum asal ibadah adalah haram, sebelum ada dalil yang menyuruhnya,..

    Jadi, jika ritual tahlilan itu tidak ada perintahnya, maka para pelakunya sedang melakukan perbuatan yang diharamkan oleh Allah,
    sehingga perbuatan tersebut bukan mendatangkan pahala, justru mendatangkan dosa,

    Mudah-mudahan Allah menunjuki kita ke jalan yang benar, dan menunjuki kaum muslimin agar mengenal agama mereka, sehingga kejayaan islam akan bisa terealisasi,
    Menyadari akan mulianya mengamalkan sunnah Rasulullah, dan memahami bahayanya mengamalkan kebidahan,

  23. jucki
    Januari 8, 2012 pada 3:57 am | #28

    hmm~ menarik. bisaa diambil pelajaran dan ajaran.

    jazakallahu khairan telah sudi ninggalin komentar, dan membaca blog sederhana ini, mudah-mudahan bisa bermanfaat..

  24. fitri
    Januari 8, 2012 pada 1:15 am | #29

    maksudnya?????
    mang lafadz apa yg ada di dalam tahlil?
    cba dch lihat dulu sistematikanya. sebenarnya didalamnya itu ada kandungan apa?
    di dalamnya itu ayat al quran, dan dzikir2 lain. seperti Lailaha illallah, istighfat, dll.
    dan dzikir2 semacam itu pun merupakan perintah dari allah. juga amalan yg di dawamkan oleh rosul. “Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub”. dan itu secara ekspisit di perintahkan dalam al quran.
    lalu, menurut pean yg tidak di ajarkan oleh rosul itu yg mana?

    Jazakillahu khairan, telah sudi meninggalkan komentar disini, mudah-mudahan bisa saling berbagi ilmu,
    Lafadz “laa ilaaha illallah” adalah dzikir yang paling agung, kandungannya sangat bagus, dan bukan itu masalahnya. Tahlil boleh, dan sangat dianjurkan. akan tetapi yang jadi masalah adalah jika ritual tahlil itu dikaitkan dengan acara kematian, itu tidaklah diajarkan oleh Rasulullah, ini yang menjadikan amalan tersebut menjadi tercela, bahkan membawa pelakunya terancam neraka, innalillahi wa inna ilaihi raji’uun…

    Dzikir dengan cara ritual tahlilan, bukan menyebabkan hati menjadi lembut, bahkan menjadikan hati semakin keras,..

    Saya ambilkan gambaran begini, anda tentu tahu kan bacaan-bacaan dalam shalat, semua yang dibaca adalah doa dan ayat-ayat quran, apakah anda berani ketika shalat maghrib 3 rakaat ditambah menjadi 5 rakaat?
    bukankah yang dibaca adalah doa dan ayat-ayat alquran?
    Bukankah dengan rakaat bertambah, jadi semakin banyak bacaan alquran dan doa yang dibaca?
    Apakah jika kita shalat maghrib 5 rakaat itu menyalahi ajaran Rasulullah?
    Apakah jika anda melarang orang yang shalat maghrib 5 rakaat berarti anda dalam posisi yang benar,
    Lalu jika orang yang dilarang tersebut menjawab, kok anda melarang saya shalat maghrib, bukankah itu perintah Allah,.. apa kira-kira jawaban anda?

    Mungkin anda menjawab, sebab shalat maghrib 5 rakaat tidak diajarkan oleh Rasulullah,..

    Bahkan jika ada orang sengaja shalat maghrib 5 rakaat, maka shalatnya tidaklah sah,

    Dengan cara yang sama saya katakan juga, ritual tahlilan berkaitan dengan kematian seseorang juga tidak diajarkan sama sekali oleh Rasulullah,… jadi amalan tersebut tidak akan diterima disisi Allah,

    mudah-mudahan bisa dimengerti dari pertanyaan anda, menurut pean yg tidak di ajarkan oleh rosul itu yg mana?

  25. fitri
    Januari 8, 2012 pada 1:00 am | #30

    memang pada masa nabi tahlilan secara konseptual belum ada, tapi apakah lafadz-lafadz didalamnya tidak di amalkan oleh nabi?

    cba sejenak kita renungkan, makna apa yang ada di dalam bacaan tahlil itu. selagi ia mengandung doa-doa yang baik, dan sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah. menurut saya sah-sah saja. terlepas dari aspek historis adanya kajian ini.

    meskipun dalam satu agama, tak dapat dipungkiri kita mempunyai pandangan-pandangan yang berbeda. dan itu tak menjadi soal.

    hujjah kami, dzikir dan amalan-amalan sunnah lainnya kami lakukan untuk membantu kita agar lebih khusyuk dalam beribadah.

    Terimakasih telah meninggalkan komentar disini,
    Sebelumnya apakah anda sudah yakin bahwa islam sudah sempurna?
    Apakah anda yakin jika Rasulullah sudah mengajarkan semua ajaran islam ini?
    Apakah ada yang luput dari Rasulullah, sehingga kita perlu membuat tatacara pelaksanaan ibadah yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah?
    Allah berfirman dalam surat almaidah ayat 3 bahwa islam sudah sempurna, apakah anda sudah memahami ayat tersebut,
    Tatacara ke WC saja sudah rasulullah ajarkan, apalagi yang lebih besar dari itu,.

    Semua yang mendekatkan ke surga sudah rasulullah ajarkan,..
    Semua yang menjauhkan dari neraka juga sudah rasulullah ajarkan,..

    Jika kita mencintai rasulullah, kerjakanlah apa-apa yang diajarkan oleh Rasulullah, bukan dengan cara-cara sendiri,.. contohnya, kalimat tahlil diajarkan oleh rasulullah,. akan tetapi tatacara tahlilan yang berkaitan dengan ritual kematian, ini tidak pernah diajarkan oleh rasulullah sama sekali,

    Mana kira-kira yang akan kita amalkan?

    Suatu amalan yang agung, yang diajarkan oleh Rasulullah, jika dalam pelaksanaan ibadah tersebut menyelisihi tatacara yang diajarkan oleh Rasulullah, maka amalan tersebut tidak akan mendatangkan manfaat sama sekali, bahkan membawa kerusakan bagi pelakunya, dan kerusakan bagi agama islam itu sendiri,.. mudah-mudahan kita dijauhkan dari hal tersebut,..

  26. YOYOK
    Januari 3, 2012 pada 10:32 pm | #31

    Yahh tinggal kita lah yang bersikap, kalau menjalankan Islam berdasarkan syahadatain ya kita tinggalkan yang tidak diajarkan Rasululloh. Apapun alasannya, SEKARANG

    Terima kasih telah sudi berkomentar dan membaca blog ini,
    Betul mas,.. yang diajarkan Rasulullah saja belum kita laksanakan semua, kok sempet-sempetnya menjalankan apa yang tidak diajarkan Rasulullah ya… buang-buang tenaga dan waktu saja, dah gitu dapet dosa lagi,.. na’udzubillahi min dzalik..

  27. anis mujiopno
    Januari 2, 2012 pada 2:56 pm | #32

    Terimakasih telah sudi ninggalin komentar disini,

    betapa bijaksananya para wali dan ulama zaman dulu. mereka mengajarkan islam tanpa menyakiti perasaan masyarakat hindu. orang- orang hindu tidak hanya berbondong- bondong masuk islam, bahkan acara- acara hindu juga berhasil diislamkan seperti acara tahlilan yang sering kami lakukan.

    Itulah akibat tidak memahami islam berdasarkan pemahaman para sahabat, sehingga para wali tersebut mencampuradukkan ajaran hindu agar seolah-olah bernuansa islam,..

    justru ini bukanlah tindakan bijaksana,.. bahkan rasulullah tidak melakukan cara-cara tersebut tuk merekrut orang kafir quraisy agar memeluk islam,..

    Rasulullah mengajak kaum quraisy tuk masuk islam, dan meninggalkan agama mereka secara total, Rasulullah tidak memasukan tradisi agama kaum quraisy kedalam islam, dengan dalih supaya mereka masuk islam,

    Bahkan kaum quraisy menawarkan tuk menyembah secara bergantian, sesekali menyembah Allah, dan sesekali menyembah berhala, akan tetapi Rasulullah menolaknya,.. baca surat alkaafiruun dan artinya

    Apakah para wali itu lebih bijak daripada Rasulullah?? sangat aneh jika ada orang islam yang berpemahaman seperti ini,.

    sebelum diislamkan namanya bukanlah tahlilan. nama tahlilan adalah pemberian para ulama karna terdapat bacaan laailaahaillallaah. jadi, acara tahlilan jelas sesuai syareat, bukan bersumber dari hindu. Tapi justru hindulah yang masuk dan menjadi islam (agama rahmatan lil’aalamiin).
    semoga bermanfaat.

    kalimat tahlil adalah kalimat yang agung, mulia, dzikir yang paling utama, kalau tahlilan, maka ini menjadi pelecehan terhadap kalimat tahlil tersebut,
    Kenapa Abu Bakar yg mendampingi RAsulullah ngga pernah melakukan ritual tahlilan?
    Apakah Umar,Utsman, Ali juga melakukan ritual tahlilan?
    Apakah Imam Syafii,Imam Bukhari,Muslim, melakukan ritual tahlilan?
    Apakah para wali itu lebih baik dari Rasulullah dan para sahabatnya?

    Islam sudah sempurna, jangankan masalah tahdzir,. mau EE aja dah diajarkan mas,.. ngga perlu ritual-ritual tambahan atau modifikasi para wali, atau modifikasi sendiri,
    Memang banyak ya orang indonesia yg jago modifikasi,.. kalau motor dimodifikasi mungkin masalahnhya ngga terlalu besar,.. nah ini agama dimodifikasi,.. tanggungjawabnya itu lho,.. Allah akan mintai pertanggungjawabannya,..

    Janganlah kita mencampuradukan antara yang hak dengan yang batil , dan kita tidak boleh mengikutinya, terlepas siapa pencetusnya,.. apakah wali,guru kita,ajengan,kyai, Gus,..

    dan janganlah karna perbedaan kita saling bermusuhan.

    Menjelaskan penyimpangan atau penambahan/pengurangan dalam ajaran agama islam, bukanlah mengajak bermusuhan, akan tetapi demi terjaganya ajaran islam yang murni, tidak ditambah-tambahi, atau dikurang-kurangi,

    masing- masing punya dalil dan pemahaman sendiri- sendiri. terkadang yang satu belum tahu dalil yang digunakan oleh yang lainnya.

    Kalau gitu, mudah sekali solusinya,.. tunjukan mana dalil anda, dalil yang betul-betul shahih dari Rasulullah, bukan dalil buatan wali-wali anda, kyai anda, atau ajengan anda,.. itu sih bukan dalil,..

    yang namanya dalil adalah, apa yg dikatakan Allah, apa yang dikatakan Rasulullah, dan apa yang dikatakan oleh para sahabat,.. karena para sahabatlah yang menjadi binaan langsung rasulullah,..

    Kalau ada dalil yang shahih tentang tahlilan,.. saya juga mau tuh tahlilan,.. dan pasti para sahabat sudah mendahului kita mengamalkannya,..

    • Agus Widodo
      Mei 9, 2012 pada 9:18 am | #33

      “Barangsiapa yang ingin dimudahkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahim.” (Muttafaqun ‘alaih, dari hadits Anas bin Malik. Al-Bukhari 10/348, Muslim 2557, dan Abu Daud 1693)

      “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturrahim, …” (Muttafaqun ‘alaih, al-Bukhari 10/336 dan Muslim no. 85.)

      ini dalil tuk anjuran silaturahim dan memuliakan tamu, ngga ada hubungannya dengan ritual tahlilan,.

      Kalau ini dijadikan tuk ritual tahlilan, tentu kita mendapatkan atsar atau kabar para sahabat melakukannya, karena sahabat yg dibina langsung oleh rasulullah, maka mustahil rasulullah tdk menjelaskannya,.. dan diketahui oleh orang belakangan, lebih lucunya lagi, cuma di indonesia,..

      ini bukan dalil bolehnya ritual tahlilan 7hari,10,40, dst..

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 85 pengikut lainnya.