Ternyata Ritual Tahlilan 7hari,10,40,dan seterusnya Bukan Dari ajaran Agama Islam, tapi dari agama hindu,..
BismillahSudah kita ketahui bersama bahwa sering kita lihat bahkan sering kita lakukan suatu ibadah dalam islam yaitu Tahlilan atau kirim doa atau Fatihah ke orang tua atau keluarga yg telah meninggal dunia.
Apakah kita sudah memeriksa atau meneliti asal muasal tahlilan tersebut?
Karena kita dalam beribadah harus mengikuti Ajaran yg telah dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam apabila tidak dicontohkan makan amal tersebut tidak diterima
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam
وفي رواية لمسلم: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Dari ‘Aisyah radliyallâhu ‘anha dia berkata, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengada-ada (memperbuat sesuatu yang baru) di dalam urusan kami ini (agama) sesuatu yang bukan bersumber padanya (tidak disyari’atkan), maka ia tertolak.” (HR.al-Bukhari)
Di dalam riwayat Imam Muslim dinyatakan, “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan termasuk urusan kami (agama), maka ia tertolak.”
Maka dari hadits diatas apabila suatu ibadah tidak didasari oleh Syariat islam maka amalnya tidak diterima
oleh karena itu Apakah Ibadah Tahlilan itu Berdasarkan dari Islam atau dari Agama Lain
silahkan di simak Videonya untuk mengetahui jawabannya
Nara Sumber: Ustadz Abdul Aziz (Mantan Pendeta Hindu)
Sumber Link: islamika.situsdownload.com
Publish: artikelassunnah.blogspot.com







Apakah do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh itu pahalanya akan sampai kepada orang mati? Dalam hal ini ada segolongan yang yang berkata bahwa do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh tidak sampai pahalanya kepada orang mati dengan alasan dalilnya, sebagai berikut:
وَاَنْ لَيْسَ لِلْلاِءنْسنِ اِلاَّ مَاسَعَى
“Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39)
Juga hadits Nabi MUhammad SAW:
اِذَامَاتَ ابْنُ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ
“Apakah anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.”
Mereka sepertinya, hanya secara letterlezk (harfiyah) memahami kedua dalil di atas, tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lain. Sehingga kesimpulan yang mereka ambil, do’a, bacaan Al-Qur’an, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang mati. Pemahaman itu bertentangan dengan banyak ayat dan hadits Rasulullah SAW beberapa di antaranya :
وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلاِءخْوَنِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلاِءْيمن
“Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)
Dalam hal ini hubungan orang mu’min dengan orang mu’min tidak putus dari Dunia sampai Akherat.
وَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنتِ
“Dan mintalah engkau ampun (Muhammad) untuk dosamu dan dosa-dosa mu’min laki dan perempuan.” (QS Muhammad 47: 19)
سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِى مَاتَتْ افَيَنْفَعُهَا اِنْ تَصَدَّقْتَ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ
“Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi SAW; Ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah mati, apakah berguna bagi saya, seandainya saua bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; yaa berguna untuk ibumu.” (HR Abu Dawud).
Dan masih banyak pula dalil-dalil yang memperkuat bahwa orang mati masih mendapat manfa’at do’a perbuatan orang lain. Ayat ke 39 Surat An-Najm di atas juga dapat diambil maksud, bahwa secara umum yang menjadi hak seseorang adalah apa yang ia kerjakan, sehingga seseorang tidak menyandarkan kepada perbuatan orang, tetapi tidak berarti menghilangkan perbuatan seseorang untuk orang lain.
Di dalam Tafsir ath-Thobari jilid 9 juz 27 dijelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan tatkala Walid ibnu Mughirah masuk Islam diejek oleh orang musyrik, dan orang musyrik tadi berkata; “Kalau engkau kembali kepada agama kami dan memberi uang kepada kami, kami yang menanggung siksaanmu di akherat”.
Maka Allah SWT menurunkan ayat di atas yang menunjukan bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain, bagi seseorang apa yang telah dikerjakan, bukan berarti menghilangkan pekerjaan seseorang untuk orang lain, seperti do’a kepada orang mati dan lain-lainnya.
Dalam Tafsir ath-Thobari juga dijelaskan, dari sahabat ibnu Abbas; bahwa ayat tersebut telah di-mansukh atau digantikan hukumnya:
عَنِ ابْنِى عَبَّاسٍ: قَوْلُهُ تَعَالى وَأَنْ لَيْسَ لِلاِءنْسنِ اِلاَّ مَا سَعَى فَأَنْزَلَ اللهُ بَعْدَ هذَا: وَالَّذِيْنَ أَمَنُوْاوَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِيَتُهُمْ بِاِءْيمنٍ أَلْحَقْنَابِهِمْ ذُرِيَتَهُمْ فَأَدْخَلَ اللهُ الأَبْنَاءَ بِصَلاَحِ اْلابَاءِاْلجَنَّةَ
“Dari sahabat Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT Tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dikerjakan, kemudian Allah menurunkan ayat surat At-Thuur; 21. “dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, maka Allah memasukkan anak kecil ke surga karena kebaikan orang tua.”
Syaekhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ Fatawa jilid 24, berkata: “Orang yang berkata bahwa do’a tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik, pahalanya tidak sampai kepada orang mati,” mereka itu ahli bid’ah, sebab para ulama’ telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfa’at dari do’a dan amal shaleh orang yang hidup.
Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,
Bagus dan menarik sekali tulisan ini. Sampai saya tulis komenta ini, insya Allah saya tetap tidak meyakini bahwa ada rujukan yang shahih mengenai tahlilan dan yasinan. Jazzakumullahi khairan katsira. Waktu ayahanda meninggal pun saya termasuk yang berada di posisi berseberangan (tidak setuju dilakukan tahlilan), namun karena ilmu saya masih rendah; saya tidak kuasa menolak. Apalagi pihak yang berinisiatif, justru bukan dari saya. Saya berucap terima kasih atas informasi dari penulis. Semoga amal ibadah penulis mendapat pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala berupa ampunan dan karunia lainnya. Amien.
Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
Assalamualaikum…
Maaf ya sebelumna buat kaum muslimin wal muslimat saya mencoba berpendapat dlm hal ini. meski mungkin ilmu pengetahuan saya jauh dri kesempurnaan, tapi karena paparan ini terbuka dan mudah2xan minimal bisa saling bertukar pendapat maka saya coba sedikit berpendapat, setelah saya menyimak semua pendapat tsb diatas.
Bukan kebaikan versi kita, seperti TAHLILAN, itu kan berisi tahlil, doa, bacaan alquran,.. itu baik menurut sebagian orang,..
saya ambil permisalan gini pak ustadz,..
Jika ada orang shalat maghrib 5 rakaat,.. apakah anda berani melarangnya? apakah sah shalat orang tersebut?
Bukankah bacaan alqurannya jadi banyak, tadinya cuma tiga rakaat, akan tetapi ditambah jadi 2 rakaat lagi,..
Bukankah sujud dan rukunya jadi lebih banyak,..
Kalau anda melarangnya, apa alasan anda?
Jika orang tersebut berkata kepada anda: ” kok anda melarang saya shalat?” apa jawab anda?
Saya merasa permisalan ini tidak etis dan tidak pada kondisinya, karena sgt jauh menyimpang dari pokok permasalahan, dan jelas tidak mewakili apapun dari isi persoalan dri tahlil atau tahlilan tersebut. jika anda om pembuat blog ini menyampaikan pendapat berdasarkan sudut pandang anda sendiri maka jadinya begini…
Mungkin anda menjawab, sebab shalat maghrib 5 rakaat tidak diajarkan oleh Rasulullah,..
Bahkan jika ada orang sengaja shalat maghrib 5 rakaat, maka shalatnya tidaklah sah,
Dengan cara yang sama saya katakan juga, ritual tahlilan berkaitan dengan kematian seseorang juga tidak diajarkan sama sekali oleh Rasulullah,… jadi amalan tersebut tidak akan diterima disisi Allah,
Tahlil bisa kapan aja dilakukan, om pembuat blog ini benar, umumnya bahasa indonesia menyederhanakan ucapan berdasarkan kebiasaan, jdi tahlil dikatakan menjadi tahlilan, niatnya sama dan pengerjaannya pun bertujuan baik, om pembuat blog ini juga benar bahwa baik saja tidak cukup untuk dibenarkan, dlm hal ini om mengembalikan urusan ini kepada alqur’an dan hadist hingga menampilkan sbb:
Dan apa-apa yang tidak datang dari rasulullah dalam hal perkara ibadah, maka itu dihukumi sebagai bidah, dan semua bidah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya dineraka,
itu bukan saya yang mengatakan, baca sendiri nih haditsnya
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang mengada-adakan suatu perkara dalam agama ini tanpa ada tuntunannya maka amalannya tersebut tertolak.” (HR. Bukhari Muslim)
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (as-Sunnah). Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.
Jadi, yang mengatakan bidah itu sesat dan sesat itu di neraka bukan saya mas,.. itu Rasulullah sndiri,.. iqra…iqra…
itu jelas benar om… yg salah adalah penafsirannya yg tidak dilandasi bukti yg konkrit dan real. gak ada tertulis disitu tahlilan menjadi salah satu perkara yg menyimpang dari ajaran rasulloh dan para sahabatnya. Jika pada pengerjaannya tahlil itu seperti umat hindu jelas salah, tetapi jika saduran atau pengerjaannya berdasarkan niat ibadah dan isinya penuh nilai2x islami insya Allah menjadi berkah adanya. jadi tolong jangan melihat pada satu sisi aja menuturkan pendapat tanpa lebih jauh mendalami makna secara keseluruhan. mungkin contoh yg benarnya begini om:
Jika ada sekelompok/kaum islam yg mengerjakan tahlilan sama pengerjaannya dgn yg orang hindu lakukan, dri mulai niat, pengerjaan, dan isi bacaannya sama dgn bacaan orang hindu maka boleh dikatakan itulah yg sesat, bidah, dan yg celaka dikemudian hari sesuai hadist2x yg om paparkan diatas.
orang arab bilang tahlil, kita bilang tahlilan… kenapa c mesti jdi persoalan dan dikaitkan dgn pengerjaannya? om kan bilang diatas kita bisa tahlil kapan aja, saya bilang iya kita bisa tahlilan kapan aja.. apa itu saya salah? orang yg mengupayakan tahlil di 3.4, atau 7 hari setelah mayit dikubur mungkin bertujuan berusaha membantu mayit lewat doa banyak orang, karena terputus ibadah dan amalna setelah mati kecuali yg tiga yaitu, Sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya atau anak yang shalih yang mendo’akannya” hadist riwayat Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad. Insya Allah doa kluarga, sahabat dan kerabatnya disaat tahlilan itu di ijabah wallohu’alam…
“Apa yang kita takutkan belum tentu terjadi, tapi Sangat mungkun sesuatu itu terjadi jika terus kita pikirkan dan ucapkan So…. Pikirkanlah yang baik-baik saja karena sesungguhnya Allah itu mengikuti persangkaan hamba-Nya” *********************************************** Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman; ‘Aku mengikuti persangkaan hamba-Ku, dan Aku akan senantiasa bersama-Nya jika dia berdoa kepada-Ku.’.” (HR. Bukhari dan Muslim).
demikian om, terimakasih.
Intinya, baca kalimat Tahlil itu baik, datang dan menghibur keluarga mayit itu baik,
yang tidak baik itu Tahlilan alias baca Tahlil dengan tujuan memperingati 1- 7 hari, 30 hari dan 1000 hari kematian mayit karena tidak ada perintah Al Qur’an maupun Hadits untuk Tahlilan.
Para Wali sudah kehabisan akal meng Islamkan umat Hindu yang fanatik sehingga mau “mengalah” demi meng Islamkan mereka.
Lalu setelah sekian ratus tahun kita yang notabene keturunan Hindu Jawa masa lalu apa masih menuntut kepada keturunan Wali untuk terus melaksanakan ritual 7 hari, 30 hari dan 100 hari memperingati kematian mayit masih harus dilaksanakan ?
Kalau zaman dahulu tidak ada para Wali khususnya wali songo yang memperkenalkan Islam, kita yang hidup di zaman sekarang tidak akan menikmati Indahnya Islam.
Setuju sekali *_*b , menurut saya.
urutan perujukan itu dari Al-Qur’an dulu yang, kemudian Hadits Nabi salallah alaihi wasalam(yang shahih), baru kemudian kemudian para ulama
bukan dari Ulama dulu, baru kemudian Qur’an dan Hadits
saya kira Sunan Kalijaga adalah ulama paling ngeyel, niatnya bener untuk mengajak kepada Islam tapi caranya yang salah dengan mencampur adukkan Islam dengan Hindu dan Budaya Jawa.
Dan menurut saya lagi,
Islam itulah budaya. Islam yang bercampur dengan budaya lokal dan ajaran agama lain bukanlah Islam.
Wallahualam
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh……
Artikel disini mantap sekali….., ana suka membaca disini
dan ana juga baru mengenal manhaj ini yang sungguh indah…
mohon saran dari ustad untuk ana, bagaimana caranya agar bisa tetap istiqomah diatas jalan ini dan ana juga mohon izin untuk copast artikel2nya..
Jazakumullah kharian katsiran……
ana tinggal di Lampung, apakah ada info ustad2 kita (Ustd Abdul Hakim, Ustd Yazid dll) akan dauroh di Lampung?
Jazakallahu khairan
Ust. Abdul Aziz (yang mengaku mantan pendeta Hindu) tadi malam tanggal 16 November 2011, ia ditahan di Mapolres Kulonprogo Jogjakarta, setelah mengisi ceramah di Masjid Agung Wates Kulon Progo.
Apa betul seseorang dapat disebut telah beribadah kepada Alloh, jika memenuhi tiga syarat pokok yang harus di penuhi. 1. Beriman 2. Bersyairáh 3. Ikhlas, tolong jelaskan ?
Melakukan ibadah diluar tuntunan Rasulullah ibarat menuduh Rasulullah telah berdusta dan menyembunyikan risalah yang harus disampaikan pada umatnya. Biaya untuk mengadakan yasinan/tahlilan itu lebih baik disedekahkan pada orang-orang yang membutuhkan (itu kalau bukan dari hasil utangan).
Islam itu sudah sempurna dan mudah. Kenapa dipersulit?
kalau suruh menyebutkan dalilnya, ada banyak sekali. tetapi karena memang sudah beda pemahaman dan kuatnya doktrin masing- masing, maka mendingan gak usah lah saya sebutkan. yang jelas, baik sunni maupun salafi sama islamnya.
saya mau bertanya hukum bid,ah dalam ajaran islam terbagi dalm berapa hal …………………?
assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
sangatlah banyak saudara kita yang tak setuju apabila tahlilan dianggap satu amalan yang bid’ah dan menyesatkan bahkan mereka akan membalas dengan komentar yang keras
itu merupakan satu hal yg wajar yang boleh terjadi di negeri ini yg mayoritas ISLAM KETURUNAN tanpa landasan ilmu yaitu alqur’an dan hadits,MEREKA HANYA MELIHAT DAN MENIRU APA APA YANG DILAKUKAN OLEH ORANG TUA DAN KEBANYAKAN ORANG TERDAHULU.(smg ALLAH SWT memberikan hIdayah dan petunjuk bagi mereka amin)
ana juga dahulu rajin ikut tahlilan,karena menurut ana dahulu itu satu ibadah yang baik
tapi skrg ana jadi takut ..karna tidak diperintahkan dlm alqur’an dan hadits
dari kajian ana yg sangat sederhana :
- suatu hari teman dari teman ana mengeluh,ia tlp teman ana untuk pinjam duit Rp.1jt utk keperluan acara 40 hari orang tuanya yg baru meninggal,mereka tinggal di daerah pagar alam sum sel. ( bukankah ini merupakan beban yang berat bagi kelrga yang ditinggalkan? setelah mereka berpisah dengan orang tua mereka juga harus cari dana utk 1,3,7.40.100.1000 ? )
-bagi tetangga dan kerabat yang meninggal ; mereka merasa malu jika tak datang menghadiri acara sprt itu dan mereka mewajibkan datang,tetapi apakah mereka akan merasa malu jika saat berkumandang azan yang sudah wajib hukumnya bagi laki laki untuk shalat di mesjid mereka seakan tak dengar dan berlalu.. shalat berjamaah bagi laki laki wajib hukumnya dan itu jelas dalam alQur’an dan merupakan perintah ALLAH SWT
semoga bermanfaat
jazakumulloh khoir
acara tahlilan dan yasinan menurut saya bagus kok. susunan acaranya bagus dan sesuai perintah rasulullah. seperti membaca berbagai ayat Alqur’an, berdzikir, berdoa, bermusyawarah, silaturrahm, ramah tamah, ada sodaqohnya, ada kajian agama juga. itu semua disusun oleh ulama zaman dahulu supaya orang- orang tetap punya semangat beribadah.
ada juga acaranya orang PKS yaitu LIQO setiap seminggu sekali. di dalam liqo ada baca qur’annya, ada diskusinya, bermusyawarah, silaturrahm, berdzikir juga, ada sodaqohnya dan makan- makannya. ada juga ritual yang lebih ngeri lagi yaitu MABIT (malam bina amal takwa) yang biasa dilakukan orang-orang muhamadiyah, tarbiyah, PKS, dll di tengah malam.
ada juga ritual pembacaan Al Ma’tsurot karangan Al Banna.
orang salafi juga saya kira melakukan pertemuan- pertemuan seperti itu. jadi apa yang kalian perdebatkan?? semua sudah jelas. semua memetik dari dalil- dalil yang jelas. berbagai dalil itu kemudian dikumpulkan menjadi satu acara yang banyak manfaatnya. saya sarankan bagi saudara- saudaraku semua seiman dan seislam. jangan bertengkar ya.. supaya kita kuat ukhuwahny.
@anis mujiono : smg Alloh Ta’ala selalu memberikan hidayah dan petunjuk-NYA kepada antum dan kita semua..
ana hanya menomentari sedikit komennya bung Anis mujiono..
di paragraph awal antum mengatakan : “acara tahlilan dan yasinan menurut saya bagus kok..” ana juga mo tanya nih coba antum sebutkan ‘ulama’ mana yg mengadakan ritual Tahlil-an/Yasin-an??jgn berdusta atas nama Ulama lhoo mas..:)
komentar saya : mas..perlu diingat agama Islam ini dibangun diatas Dalil yakni Al-Qur’an,As-sunnah serta Ijma para sahabat rohdiallohuanhuma..bukan perkataan saya,anda,admin,si fulan,si fulanah,kyai,ustadz,ustadzah,anjengan,guru-guru dsb. dan bukan prasangka-prasangka hati dan perasaan baik belaka karena agama Islam dibangun diatas ILMU.
Kalau semua orang berbicara Agama yg mulia ini berdasarkan perasaan,hawa nafsu tanpa melihat kaidah-kaidah serta syariat ibadah yg sudah ditetapkan Alloh Ta’ala melalui ROsululloh serta contoh dari para sahabat Rosululloh maka bersiap-siaplah akan kehancuran agama Islam yg mulia ini..lhoo kenapa?? karena umat Islam sudah MENYELISIHI ibadah yg sudah ditetapkan Alloh Ta’ala melalui Rosululloh..
fahami baik-baik..Agama Islam ini diturunkan oleh Alloh Ta’ala melalui Rosululloh dan umat ini hanya mengikuti apa2 yg sudah ditetapkan dan TIDAK membuat perkara-perkara BARU dalam ber-agama..mudah bukan..??tinggal mencontoh saja apa susahnya.. :)
ROsululloh telah mengisyaratkan akan datang keadaan ini:
“Sungguh-sungguh aku akan dapati salah seorang dari kalian bertelekan di atas dipan datang kepada sebuah perintah dari perintahku atau larangan dari laranganku lalu dia mangatakan: ‘Saya tdk tahu itu apa yg kami dapatkan dlm kitab Allah yg kami ikuti.’”{Shahih HR Ahmad Abu Dawud At Tirmidzi dari Abu Rafi’ dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dlm Shahihul Jami’ 7172)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya (I/231) berkata, “Sesungguhnya amal yang di terima harus memenuhi dua syarat. Pertama, ikhlas karena Allah. Kedua, benar dan sesuai syari’at. Jika dilakukan dengna ikhlas, tetapi tidak benar, maka tidak akan diterima”.
Pernyataan itu dikuatkan dan dijelaskan oleh Ibnu Ajlan, ia berkata, “Amal tidak dikatakan baik kecuali dengan tiga kriteria : takwa kepada Allah, niat baik dan tepat (sesuai sunnah)” [Jami Al-Ulum wal Hikam : 10]
Dari ’Abdullah (bin Mas’ud) radliyallaahu ’anhu ia berkata : ”Sederhana dalam sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah” [Diriwayatkan oleh Ad-Darimi no. 223, Al-Laalikaiy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqad no. 14, 114, Al-Haakim 1/103, dan yang lainnya; sanad riwayat ini jayyid].
Ibnu Mas’ud juga berkata :
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian akan mengadakan perkara baru dan akan diadakan perkara baru untuk kalian. Apabila kalian melihat perkara yang baru (muhdatsah), maka wajib bagi kalian untuk menetapi perkara yang pertama (yaitu apa yang dilakukan oleh para Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam beserta para shahabat radliyallaahu ‘anhum)”.
Ibnu Mas’ud juga berkata :
“Jauhilah oleh kalian perbuatan bid’ah, berlebih-lebihan, dan berdalam-dalam. Dan wajib atas kalian berpegang pada generasi yang terdahulu” [Thabaqaat Al-Hanaabilah 1/69,71].
Semoga Alloh Ta’ala memudahkan kita dalam mempelajari agama Islam yg mulia ini dan selalu taat serta ittiba kpd Rosullloh dalam beribadah..
smg bisa difahami..
Allohuta’a ‘alam..
TAHLILAN , berasal dari bahasa arab , dgn tasrif nya HALLALA – YUHALLILU-TAHLILAN. TAHLILAN artinya mengucap : LA ILAHA ILLALLAH ( tdk ada tuhan kecuali Allah )..
jika dikaitkan dgn judu; topik diatas :( Ternyata Tahlilan Bukan Dari ajaran Agama Islam, tapi dari agama hindu,..) saya hanya bisa ngakak , sebab si pembuat topik atau admin , tdk paham dgn topik nya sendiri ..
siapa kata rasul tdk mengajar kita agar sentiasa TAHLILAN ?
siapa kata sahabat nabi tdk TAHLILAN ?
justru admin yg perlu di pertanyakan ttg iman dan islam nya ..
admin : jgn di pliara bodohnya.. oke ??
bukan masalah siapa yang bodoh dan siapa yang pinter…..
Bukan pula Tahlil-nya(lafaz “Lailahailallah”) yang dipermasalahkan kang…. :p
tapi rangkaian acara Tahlilan( dilakukan pada malam ke-1, 3, 7, 1,3,7.40.100.1000) setelah seseorang meninggal, itu yang menjadi masalah….
soalnya Nabi tidak pernah mensyariatkan dan mengadakan acara Tahlilan, ketika putranya, Ibrahim meninggal dunia Rasulullah shalallah alaihi wasalam tidak mengadakan acara tahlilan untuknya,
dan kalau ada hadits Shahih(shahih Bhukhari, Muslim, dst) yang menganjurkan untuk mengadakan acara Tahlilan…. saya sudah dari dulu mendukung acara Tahlilan…. :p
Amien… ada blog yg mengulas tradisi ritual tahlilan, yasinan dll. ane tidak mengomentari komen2 sebelumnya. Ana hanya bertanya istilah ‘ASWAJA’. Dalam kesempatan dan waktu ana sebelumnya pernah mendengar jika ASWAJA tsb kepanjangan dari Ahlu Sunnah WAl JAmaah… ?? Sementara di blog ini disampaikan ASli WAjah Jawa (ASWAJA juga…???) jadi dari mana dan dimana kedudukan dan hubungan kedua asal usul ASWAJA tersebut ? Terimakasih atas pencerahannya
wassalam………….
menurut saya, selama amal perbuatan itu hasanah, artinya tidak melanggar syar’i, dan diniatkan karena allah semata, maka amal tersebut berpahala.
Termasuk tahlilan, karena dalam tahlilan itu dibaca kalimat2 tayyibah dan bacaan alquran, selain itu juga dipanjatkan doa-doa untuk meminta keselamatan.
Walaupun tidak diajarkan oleh nabi, tetapi para ulamak dahulu mengmalkannya untuk kebaikan dan diniatkan hanya karena Allah semata.
Jadi hal itu walaupun tidak diajarkan scr lgsung oleh Nabi, tetapi kebiasaan itu berfaedah dan berpahala yang akan berdosa jika kita melarang2nya. Dan soal diterima atau tidak, itu urusan Allah, wallahu a’lamu, yg tp terpenting adalah kita berusaha mengamalkan kebaikan untuk memohon ridho-Nya.
ass.wr wb .
inilah bukti bahwa seorang yang hanya bisa secuil berani memecah belah ummat dengan dagelannya yang konyol .
ritual 3 ,7 hari dst adalah sebagai penggingat bagi kita akan kematian sekaligus mengingatkan kita agar selalu mendoakan almarhum agar selamat di alam kubur.
tahlilan adalah hal yang baik dan sebaiknya bapak(sy sebut bapak kana mungkn anda marah dibilang ustad karna itu mungkin pangglan ( ustd) bidah menurut bapak karna tdak ada di jaman rasulllah).
dan bagi saya lebih baik ada kotoran di wajah kita ketimbang hati kita yang kotor oleh hasut, dengki dan adu domba .
bapak yang terhormat mari kita lebih banyak bertaubat dan beribadah kepada Allah.karna bagaimanapun Allah telah berfirman agar kita berlomba dalam kebaikan.
wassalam
Trm ksh banyak atas ilmunya.
jazakallahu khairan
Memang lebih mudah membuat insyaf pelaku maksiat bila dibanding menyadarkan para pelaku bid’ah, semoga kita selalu mendapat rahmat serta Hidayah allah untuk selalu dalam akidah yang lurus dalam agama ini. Amiien.
Mungkin anda membuat tulisan ini masih sebagai PENDETA HINDU ya ? seandainya anda benar-benar sekarang MENGAKU sebagai MUSLIM, PASTI dan PASTI anda tidak akan menyerang orang sesama Islam, paham gak ? kalo gak paham datanglah ke Pondok Pesantrenku…!
SAATNYA KITA BICARA UNTUNTUK MENGAJAK KEBAIKAN BUKAN MEMBUAT ORANG MENINGGALKAN KEBAIKAN YANG SUDAH DIKERJAKAN
1……poin poin yg anda ungkapkan dalam kitab ianatuttolibin….memang demikian . sy sependapat dgn anda…karna kitab tsb memang terbiasa bg sy di psntren2.menjadi rujukan dan sy pun dibesarkan dipesantren yg memperdalam kitab2 tsb
2……masalah mayoritas….maksud sy begini bagi jamaah NU…tahlilan itu amalan biasa…. hanya sebatas membaca wirid2.. doa2.. dan mendoakan orang yg tlah mati…………………..
trus anda katakan bid~ah…. hmm coba baca diulang-ulang spy anda termasuk orang2 yg beruntung…..iqro…iqro…iqro…..telaah apa yg salah dr tahlil….itu maksud sy ustad.
ketika nabi mau wafat…beliau berjiarah kekuburan…dan nabipun mendoakannya……apakah anda tau riwayat/hadis ini………………………………………???
terus ketika nabi berperang badar……..nabi berkata kepada orang2 yg dimasukkan kedalam sumur badar…..hmmm mengapa sampai nabi berkata kepada mayat2 yg ada didalam sumur tsb melainkan dia mendengar dan tau….ustad anda tau hadis yg mengatakan……bahwa ida mata ibnu adam inqotoa amaluhu….hmmm sy tdk bs menulis arab dgn benar disini….cobalah tengok makna hadis tsb…..ada doa ntuk yg tlah mati….
anda keukeuh pendapat anda yg benar…saya pun begitu…keukeuh dgn pendapat sy…
Apa hubungannya dengan ritual tahlilan kejadian diatas?
klo begitu…..jamaah NU sesat dong ustad….hmmm…sy NU jg…tp klo kita liat pendapat2 ulama dlm kitab maktabah syamillah…itu semua khilafiyah alias beda pendapat….baca…baca…dan sering membaca kitab harus bisa mencernanya
tapi alangkah baiknya ustad tdk mengatakan bahwa hal tsb sesat..karna mayoritas negara ini NU….. mereka terbiasa dlm hal tsb. sy kira justru klo kita sering baca2 kitab2 karangan ulama…sperti kaol2 madhab dan ulama2nya tdk demikian ustad…………
SY rasa ustad blm memahami mslh tahlilan tsb…secara mendalam…
tahlilan dlm NU bukan suatu ibadah yg rutin dan suatu keharusan baginya..tapi hanya sekedar ibadah biasa yg isinya berdikir thdp alloh membaca solawat salam thdp nabi.. berdoa bagi dirinya…dan mendoakan orang yg tlah mati ….. klo ada yg meminta minta thdp yg mati maka itu memang sesuatu yg dilarang dlm agama dan bkn termasuk dlm tahlilan tsb…..sekian wassalam semoga ustad bersikap dewasa..dan dewasa dlm berpendapat..
hmm~ menarik. bisaa diambil pelajaran dan ajaran.
maksudnya?????
mang lafadz apa yg ada di dalam tahlil?
cba dch lihat dulu sistematikanya. sebenarnya didalamnya itu ada kandungan apa?
di dalamnya itu ayat al quran, dan dzikir2 lain. seperti Lailaha illallah, istighfat, dll.
dan dzikir2 semacam itu pun merupakan perintah dari allah. juga amalan yg di dawamkan oleh rosul. “Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub”. dan itu secara ekspisit di perintahkan dalam al quran.
lalu, menurut pean yg tidak di ajarkan oleh rosul itu yg mana?
memang pada masa nabi tahlilan secara konseptual belum ada, tapi apakah lafadz-lafadz didalamnya tidak di amalkan oleh nabi?
cba sejenak kita renungkan, makna apa yang ada di dalam bacaan tahlil itu. selagi ia mengandung doa-doa yang baik, dan sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah. menurut saya sah-sah saja. terlepas dari aspek historis adanya kajian ini.
meskipun dalam satu agama, tak dapat dipungkiri kita mempunyai pandangan-pandangan yang berbeda. dan itu tak menjadi soal.
hujjah kami, dzikir dan amalan-amalan sunnah lainnya kami lakukan untuk membantu kita agar lebih khusyuk dalam beribadah.
Yahh tinggal kita lah yang bersikap, kalau menjalankan Islam berdasarkan syahadatain ya kita tinggalkan yang tidak diajarkan Rasululloh. Apapun alasannya, SEKARANG
betapa bijaksananya para wali dan ulama zaman dulu. mereka mengajarkan islam tanpa menyakiti perasaan masyarakat hindu. orang- orang hindu tidak hanya berbondong- bondong masuk islam, bahkan acara- acara hindu juga berhasil diislamkan seperti acara tahlilan yang sering kami lakukan.
sebelum diislamkan namanya bukanlah tahlilan. nama tahlilan adalah pemberian para ulama karna terdapat bacaan laailaahaillallaah. jadi, acara tahlilan jelas sesuai syareat, bukan bersumber dari hindu. Tapi justru hindulah yang masuk dan menjadi islam (agama rahmatan lil’aalamiin).
semoga bermanfaat.
dan janganlah karna perbedaan kita saling bermusuhan.
masing- masing punya dalil dan pemahaman sendiri- sendiri. terkadang yang satu belum tahu dalil yang digunakan oleh yang lainnya.
“Barangsiapa yang ingin dimudahkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahim.” (Muttafaqun ‘alaih, dari hadits Anas bin Malik. Al-Bukhari 10/348, Muslim 2557, dan Abu Daud 1693)
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturrahim, …” (Muttafaqun ‘alaih, al-Bukhari 10/336 dan Muslim no. 85.)