Beranda > Belajar Nasehat, tahlilan > Bagaimana hukum Tahlilan Menurut Imam Syafii?

Bagaimana hukum Tahlilan Menurut Imam Syafii?


Akhir-akhir ini kita sering mendengar kegiatan tahlil bersama, sehubungan dengan perginya orang penting di negara ini.

Kegiatan tahlilan marak dilakukan oleh sebagian orang yang ingin mendoakan agar amal ibadah yang bersangkutan diterima oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Saya tidak ingin berpolemik dengan membahas tentang si orang penting ini, tetapi ingin sekedar membagi yang saya baca, mengenai prosesi tahlilan tersebut. Benarkah amaliah ini benar-benar di syariatkan oleh agama ini? Dan benarkah bahwa imam Syafi’i yang diklaim sebagai madzab yang diikuti oleh sebahagian besar oleh umat Islam di negeri ini menganjurkannya atau justru MELARANGNYA?

Dalam sebuah kitab kecil, selamatan kematian atau yang biasa kita sebut tahlilan dibahas secara singkat dan padat, khususnya dari pandangan imam Syafi’i sendiri. Tujuannya adalah untuk meluruskan pemahaman yang keliru dari kegiatan ini.

Ternyata kegiatan tahlilan ini dari sejak jaman sahabat dianggap sebagai kegiatan meratap yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

Dari Jabir bin Abdillah Al Bajaliy, ia berkata:”Kami  (yakni para Sahabat semuanya) memandang/menganggap (yakni menurut mazhab kami para Sahabat) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah (no 1612) dengan derajat yang shahih.

Dan an niyahah/ meratap ini  adalah perbuatan jahiliyyah yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam;

Diriwayatkan dalam sahih Muslim dari Abu Hurairah radiyallahu anhu. bahawa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam  bersabda:

“Ada dua perkara yang masih dilakukan oleh manusia, yang kedua duanya merupakan bentuk kekufuran: mencela keturunan, dan meratapi orang mati”.

Pandangan Imam Syafii.

Nah, bagaimana dengan pandangan imam Syafii sendiri –yang katanya- mayoritas ummat Islam di Indonesia bermadzab dengannya, apakah ia sepakat dengan kebanyakan kaum muslimin ini atau justru beliau sendiri yang melarang kegiatan tahlilan ini?

Didalam kitab al Umm (I/318), telah berkata imam Syafii berkaitan dengan hal ini;

“Aku benci al ma’tam, yaitu berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbahrui kesedihan.”

Jadi, imam Syafii sendiri tidak suka dengan kegiatan tahlilan yang dilakukan sebagaimana yang banyak dilakukan oleh ummat Islam sendiri.

Membaca Al Qur’an untuk orang mati (menurut Imam Syafi’i).

Dalam Al Qur’an, di surat An Najm ayat 38 dan 39 disebutkan disana;

[53.38] (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,

[53.39] dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.

Berkaitan dengan hal ini maka Al Hafidh Ibnu Katsir menafsirkannya sebagai berikut;

“Yaitu, sebagaimana seseorang tidak akan memikul dosa orang lain, demikian juga seseorang tidak akan memperoleh ganjaran/pahala kecuali apa-apa yang telah ia usahakan untuk dirinya sendiri.

Dan dari ayat yang mulia ini, al Imam Asy Syafii bersama para ulama yang mengikutinya telah mengeluarkan suatu hukum: Bahwa Al Qur’an tidak akan sampai hadiah pahalanya kepada orang yang telah mati.

Karena bacaan tersebut bukan dari amal dan usaha mereka. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mensyariatkan umatnya (untuk menghadiahkan bacaan Qur’an kepada orang yang telah mati) dan tidak juga pernah menggemarkannya atau memberikan petunjuk kepada mereka dengan baik dengan nash (dalil yang tegas dan terang) dan tidak juga dengan isyarat (sampai-sampai dalil isyarat pun tidak ada).

Dan tidak pernah dinukil dari seorang pun Sahabat (bahwa mereka pernah mengirim bacaan Al Qur’an kepada orang yang telah mati).

Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentu para Sahabat telah mendahului kita  mengamalkannya.

Dan dalam masalah peribadatan hanya terbatas kepada dalil tidak bileh dipalingkan dengan bermacam qiyas dan ra’yu (pikiran).”

Jadi, dari keterangan ibnu Katsir ini jelas bahwa perbuatan membaca Al Qur’an dengan tujuan pahalanya disampaikan kepada si mayit tidak akan sampai, dan demikianlah pandangan ulama besar yang dianut oleh sebahagian besar kaum muslimin di negeri ini.

Lantas, mengapa mereka berbeda dengan imam mereka sendiri?

Wallahu a’lam.

Rujukan: Hukum Tahlilan (Selamatan Kematian) Menurut Empat Madzab & Hukum Membaca al Qur’an untuk Mayit bersama Imam Syafii, karya ust. Abdul Hakim bin Amir Abdat.

reposting : http://thetrueideas.multiply.com/journal/item/1059

  1. Haider ali
    Mei 31, 2012 pada 4:27 am | #1

    lebih baik menghindari semua ibadah yg tdk ada tuntunan dr Rosulullah, krn menurut beliau semua amal ibadah yg tdk ada tuntunan dr beliau maka tertolak.

    Mhon ma’af jika salah..

    Betul sekali,..

  2. agus widodo
    Mei 26, 2012 pada 1:20 pm | #2

    “Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentulah para Shahabat telah mendahului kita mengamalkannya”

    BENARKAH INI KAIDAH BESAR SEHINGGA DIJADIKAN TOLOK UKUR HALAL HARAM DALAM AGAMA KITA ?

    Lebih mirip kaidahnya orang kafir ketika menolak al qur’an

    Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Kalau sekiranya dia (Al Qur’an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta yang lama”. (QS 46: 11)
    Dengan demikian dapat ditanyakan, apa pantas golongan yang menisbatkan diri pada SALAF membuat kaidah baru yang berawal dari ucapan kaum kafir untuk kemudian dijadikan kaidah haram halal ?

    Lebih mirip kaidahnya orang kafir ketika menolak al qur’an
    Penafsiran siapa mas???

    Kalau Sekiranya Perbuatan Itu Baik, Tentulah Para Shahabat Telah Mendahului Kita Mengamalkannya

    Penulis : Abdul Hakim bin Amir Abdat

    Penerbit : Darul Qolam

    Inilah sebuah risalah yang berbicara tentang sebagian dari kaidah-kaidah dalam agama yang sangat luas dan dalam sekali, yaitu:

    “Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentulah para shahabat telah mendahului kita mengamalkannya.”

    Peganglah kuat-kuat kaidah yang besar dan agung ini, sehingga engkau tidak akan mengerjakan sesuatupun ibadah yang tidak pernah diyakini dan diamalkan oleh para shahabat.

    Patutlah kaidah yang besar ini dihafal oleh setiap muslim untuk menghancurkan berbagai macam bid’ah yang orang sandarkan dan masukkan ke dalam agama Allah yang mulia ini, Al-Islam. Seperti perkataan yang sering kita dengar ketika dikatakan kepada mereka dan dibawakan nash Al-Qur’an dan Sunnah dan perkataan para ulama, bahwa keyakinan yang mereka yakini atau perbuatan yang mereka lakukan itu bid’ah, mereka menjawab dengan jawaban yang lebih lemah dari sarang laba-laba, yaitu:

    “Bukankah peringatan maulid, isra’ mi’raj, nuzul Qur’an, tahun baru hijriyah itu suatu perbuatan yang sangat baik yang di dalamnya terdapat peringatan dan pelajaran?.

    “Bukankah dzikir berjama’ah yang sekarang sedang marak-maraknya itu suatu perbuatan yang sangat baik dalam rangka mengajak manusia untuk kembali berdzikir mengingat Allah”

    Maka jawablah wahai Ahlus Sunnah dengan kaidah besar di atas yang patut ditulis dengan tinta emas! Katakan kepada mereka,

    “Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentulah para shahabat telah mendahului kita mengamalkannya. Karena tidak ada satupun amalan yang masuk ke dalam bagian ibadah yang tidak diamalkan oleh para shahabat radhiyallahu ‘anhum”
    Isi buku

    Setelah Muqaddimah, penulis memulai dengan menjawab pertanyaan, “Kenapakah kita wajib bermanhaj salaf, Ahlus Sunnah wal Jama’ah secara ilmu, amal dan da’wah?” sebagaimana menjadi nama bab yang pertama. Lalu pada bab-bab selanjutnya, penulis menjelaskan pengertian “sunnah” dan “hadits” dan beberapa hal yang berkaitan dengan keduanya.

    Selanjutnya, penulis mulai dengan kaidah ilmiah yang menjadi inti dari buku ini dan memaparkan syarah (penjelasan) kaidah tersebut secara panjang lebar. Lalu beliau menjelaskan keadilan para shahabat dan manhaj mereka yang merupakan pemisah antara sunnah dengan bid’ah.

    Pada bab berikutnya, penulis membawakan beberapa contoh secara ringkas tentang kesesatan yang menyalahi manhaj para sahabat. Hal ini yang memicu beliau untuk melanjutkan bab tersebut dengan menjelaskan akan kewajiban mengikuti manhaj sahabat.

    Setelah itu, penulis menerangkan tanda-tanda ahli bid’ah, menjelaskan dalil-dalil bahaya dan rusaknya bid’ah dan ahli bid’ah terhadap Islam dan kaum muslimin. Lalu yang terakhir, beliau menutup kitabnya yang sangat berharga ini dengan menjelaskan bahwa Islam ini telah sempurna.
    Kesimpulan

    Mengingat pembahasannya yang sistematis, hujjah yang sangat kuat dan penjelasan yang baik, maka kami sangat merekomendasikan buku ini bagi siapa saja yang mencari kebenaran di tengah-tengah berbagai macam aliran yang ada dalam Islam. Dan bagi yang sudah (merasa) menemukan jalan yang benar, kami sarankan juga untuk membaca buku ini, agar tumbuh kesadaran akan pentingnya, sehingga akhirnya dapat memegang erat-erat kaidah ini, amiin

    Sumber : Muslim.or.id

    Dengerin ceramahnya disini

  3. Mulya Andryanto
    Mei 25, 2012 pada 3:15 am | #3

    Assalamu’alaikum

    wa’alaikumussalamwarahmatullahi wabarakatuh

    mohon izin share

    silahkan,.

  4. anto
    Mei 25, 2012 pada 3:07 am | #4

    Assalamualaikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    waktu ana bekerja di Jeddah KSA Alhamdulillah Ana bisa ikut bimbingan belajar di Islamic center Jeddah KSA.dan sebelum ana akan kembali ke Tangerang ana sudah siap untuk bisa untuk mengamalkan sedikit ilmu yang ana dapatkan.

    Hidup di tengah masyarakat yang senang melakukan Bid’ah tidak mudah dan harus hati-hati agar tidak berselisih dengan mereka.ana tinggal di sebuah perumahan dan ada acara rutin yasinan + arisan bulan.anapun selalu menghadirinya walaupun ana hanya datang dan sekedar menyimak saja buku yasin tsb.

    tapi klo untuk acara 7 hari kematian dst ana akan berusaha untuk tidak menghadirinya ana hanya akan hadir pas hari kematian sampai 3 harinya untuk turut berbela sungkawa kepada Keluarganya tanpa mengikuti acara tahlilan tsb.

    mohon nasehat dan saran dari antum semua apakah yang ana lakukan ini salah.

    Silahkan anda tanyakan sendiri di kajian-kajian salaf yang ada di tangerang, insya Allah ada kajian rutin di tangerang,

    Anda juga bisa bertanya di sesi tanya jawab di radio rodja, 756 AM, insya Allah bisa didengar di tangerang, biar jawabannya lebih mengena, dan anda bisa bertanya dengan leluasa,

  5. Dadan khusnul latif
    Mei 22, 2012 pada 8:43 pm | #5

    Ana kutip’tata cara wudhu aja msh salah bgaimana tata cara shalat’ ana mau tau apa yg pernah antum lihat kesalahan wudhu dan shalat yg d krjakan org lain,+bgaimana tata cara wudhu+shalat yg benar menurut al-qur’an dan hadits.mohon penjelasan+kirim ke email ana..

    Tata cara wudhu nabi, dan tatacara shalat nabi, bisa dilihat di video yang ada disini

  6. Dadan khusnul latif
    Mei 22, 2012 pada 8:39 pm | #6

    Assalamu alaikum.kalo pengajian salaf d daerah cempaka putih jakpus d mana ya?+stiap hari apa?tolog infonya kirim ke email ane.kalo ada no tlvnya biar lbih rinci..jajakumullah khoiron katsiron

    silahkan menanyakan info kajian di jakarta di nomer informasi radio rodja di 021 8233661 , atau anda tinggalin nomer hp, insya Allah nanti dikasih tahu infonya

  7. agus widodo
    Mei 18, 2012 pada 10:11 pm | #7

    “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturrahim, …” (Muttafaqun ‘alaih, al-Bukhari 10/3…36 dan Muslim no. 85.)

    Islam yang kita anut sekarang berkembang di Indonesia. Bukan di Arab atau negara timur tengah lainya.. Indonesia bukanlah negara Islam. Indonesia adalah negara Pancasila dan UUD 1945. berIslam, bukan berarti tidak bolah mengamalakan Pancasila dan UUD 1945.

    Tahlilan adalah budaya asli bangsa Indonesia, dan hanya ada di Indonesia.

    Syariat islam yang Allah ciptakan bukanlah budaya, dan budaya bukanlah agama, tapi ada budaya-budaya yang tidak bertentangan dengan syariat Allah, insya Allah itu bisa bernilai ibadah

    Syariat Allah cocok untuk semua tempat, kalau budaya belum tentu cocok untuk semua tempat,

    Pantas dan baik untuk dilestarikan. Tahlilan adalah manifestasi dari Pasal 28 UUD 1945 yg berbunyi :
    ” kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”

    Acara Tahlilan sama sekali tidak akan mempengaruhi aqidah, sama seperti budaya MUDIK LEBARAN, ini juga budaya asli Indonesia. Rosululloh tidak pernah mengajarkan untuk mudik lebaran. Tapi kita boleh dan sah2 saja mengamalkanya. Begitupun dengan acara Tahlilan.

    Tahlilan memupuk tali silaturrahmi. Tahlilan mengajarkan kita arti dan filosofi Pancasila.

    PANCASILA
    1. Ketuhanan yang maha esa.
    : ini adalah isi dari makna dari kalimat Laa ilaha Ilallah. Tiada Tuhan selain Allah. dalam Tahlilan kalimat inilah yang paling banyak dibaca dan diucapkan oleh jamaah Tahlilan.

    2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
    : Para peserta Tahlilan bisa dipastikan berADAB. Pakaian yg dikenakan juga sopan dan beradab. Sifat dan tingkah lakunya pun santun dan beradab. Saling bertemu bersalaman dan senyuman. Tidak ada dalam acara tahlilan bertengkar ataupun baku hantam. Semua dalam situasi yang aman, damai dan tentram.

    3. Persatuaan Indonesia
    : Para peserta tahlilan sudah bisa dipastikan bersatu. Ukhuwah Islamiyahnya tampil. Tidak bercerai berai. Saling sambung silaturrahmi. Duduknya pun berdekatan dan sama rendah, bagaimanapun dan apapun strata sosialnya. Baik miskin atau kaya, pejabat atau rakyat, sipil maupun militer, semua sama. saling bersatu dalam kesatuan.

    4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
    : dalam acara Tahlilan pasti ada seorang pemimpin Tahlilan. Pemimpinya mempunyai sifat hikmah ( manfaat ) bagi sesamanya ( Tokoh Masyarakat setempat ) setempat, biasanya dipimpin leh Kiyai atau ustadz.. Dalam Tahlilanpun adalah perwakilan. Biasanya yang diundang satu rumah hanya diwakili satu orang, tidak seluruh keluarga diajak semua.

    5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
    : Ini sangat pas bila diartikan dalam acara tahlilan. Dalam acara Tahlilan diberlakukan sifat keadilan bagi seluruh rakyat Tahlilan. misalnya jatah makan sama, minumpun sama. Yang kaya dapat satu porsi, yang miskinpun satu porsi. Inilah keadilan. Setelah acara Tahlilan selesaipun masih mendapatkan bekal/ makanan untuk keluarga yang ada dirumah. sekali lagi porsinya sama. inilah Keadilan sosial.

    Sekali lagi, Tahlilan atau istilah Tahlilan adalah budaya asli bangsa Indonesia. Budaya yang baik harus tetap dilestarikan. Jangan lagi ada klaim oleh bangsa lain.Dizaman sekarang ini, khususnya dikota2 besar yang mayoritas penduduknya super sibuk dan individual, maka dengan mengamalkan budaya Tahlilan diharapkan ada sedikit rasa kebersatuan ukhuwah Islamiyyah. Satu agama, satu negara, satu Indonesia.

    Agama islam bukanlah budaya
    Agama islam adalah syariat Allah , Allah yang menetapkan dan membuatnya.
    Jadi tatacara Ibadah haruslah mengikuti tatacara yang sudah Allah tetapkan, jangan ditambah-tambah dan dikurangi

    Budaya adalah buatan manusia, dan budaya bukanlah agama,
    Patokan apakah budaya itu benar atau salah, maka harus dicocokkan dengan syariat Allah itu sendiri,
    Bukan Syariat islam itu yang mengikuti budaya,

    Syariat Allah cocok di semua tempat, sedangkan budaya tidak,

    Budaya yang tidak menyelisihi ajaran Allah, bisa diterapkan, tapi bukan menganggap budaya tersebut bagian dari ajaran islam, tapi karena islam memang mengajarkan hal-hal yang itu ada dibudaya.

    Budaya yang menyelisih ajaran Allah, maka wajib kita tolak dan tinggalkan,

    Syariat Allah tidak ada bandingannya dengan hukum atau undang-undang buatan manusia.
    Membandingkan syariat Allah dengan undang-undang buatan manusia, ini adalah tindakan kurang beradab terhadap Allah sebagai pencipta Alam semesta ini,
    Dunia dan seisinya itu ciptaan Allah,.. Allah bukan hanya menciptakan negara indonesia saja,

    Undang-undang buatan manusia tidak akan ditanyakan Allah di alam kubur nanti

    Di alam kubur kita tidak akan ditanya tentang pancasila ada berapa,
    Di alam kubur akan ditanyakan tentang syariat Allah ,

    Dan budaya yang menyelisihi ajaran Allah, tidak akan pernah menjadi pemersatu umat islam, bahkan akan menjadikan islam tercerai berai, dan musuh-musuh islam mudah untuk menghancurkan islam,

    sebab pada hakekatnya, jika kaum muslimin melakukan amalan yang tidak ada contohnya dari rasulullah, itu sudah meringankan tugas orang kafir tuk menghancurkan islam, karena islam sudah dihancurkan oleh kaum muslimin itu sendiri, dengan cara menambah-nambahi ajaran islam yang mulia ini, orang kafir gembira dengan hal ini,

    Dan syariat islam sudah sempurna, tidak perlu ditambah atau dikurangi, dan tidak perlu mengambil syariat agama buatan manusia, kemudian dimasukan kedalam islam, lalu dianggap sebagai ajaran islam,. contohnya ya seperti tahlilan ini,

    Bacaan tahlil itu dari ajaran islam
    ritual harinya, sprti 10hari,40hari,100hari, dll itu dari ajaran hindu,
    Lalu digabunglah keduanya dengan sebutan ritual tahlilan,.
    Ini pada hakekatnya adalah pelecehan terhadap syariat Allah,.. bukan dosa kecil, tapi dosa besar

  8. ukat hidayat
    Mei 8, 2012 pada 2:27 am | #8

    kalu manaqib itu apa hukumnya

    apa arti manaqib itu? bagaimana ritual manaqib? apakah seperti haul atau perayaan hari kematian seseorang?
    Jika seperti itu, maka manaqib adalah perkara bidah , perbuatan yg menyelisihi ajaran Rasulullah, wajib untuk dijauhi

  9. ukat hidayat
    Mei 8, 2012 pada 2:23 am | #9

    asalamualaikum

    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    ane mau tanya nie bner gak maulid itu bidah?

    Betul sekali, itu adalah bidah, Rasulullah tidak pernah melakukannya, demikian juga abu bakar, umar,utsman, ali,.. bahkan imam syafii, imam bukhari,muslim, dan ulama-ulama ahlus sunnah tidak melakukannya sama sekali,

    dan kenapa para habib atu cucu rosullulah itu yang menyemangati maulid .

    ah, kata siapa para habib itu cucu rasulullah? mungkin hanya ngaku-ngaku saja,.. walaupun ada, anak cucu rasulullah itu bukanlah manusia yang ma’sum, terbebas dari kesalahan,..

    Jika benar sekalipun, habib itu cucu rasulullah, itu bukanlah pembenaran,.. hasan dan husain yang cucu rasulullah, yang mengalami hidupnya rasulullah aja tidak melakukan maulid nabi,.. apakah mereka kurang cinta kepada rasulullah??

    maulid nabi diadakan oleh orang-orang syiah, mereka yang pertama kali melakukannya,.. jadi maulid bukan dari islam,..

    sejarah maulid nabi, bisa dibaca disini

    trimaksih

  10. Khumaira
    April 20, 2012 pada 11:42 am | #10

    Awfan, ana mau tnya lagi nie..untuk kajian salaf di brebes itu dimana aja ya?
    biar klo ana pulkam jadi bisa ada kegiatan..

    untuk daerah brebes, silahkan buka di link ini infonya,

  11. h2R
    April 19, 2012 pada 12:06 pm | #11

    sy aneh dengan mereka yang selalu ribut masalah bid’ah tak ada contoh dari rasululullah dll, ,
    terimakasih telah berkomentar disini,

    Tahukah anda, Rasulullah setiap mau khutbah jumat, mewanti-wanti umatnya tentang bidah, dan beliau menyebutkan jika setiap bidah itu sesat, dan kesesatan itu tempatnya di neraka,.. kok anda merasa aneh?

    anda berani bilang gak imam syafei bapaknya bid’ah padahal amal beliau jauh bumi dan langit dengan anda.
    …..renungkan

    Imam syafii ulama ahlus sunnah yang sangat gigih dalam mendakwahkan sunnah, dan gigih memerangi kebidahan, kok dibilang bapaknya bidah? ngga salah mas? renungkan dong,..

  12. Khumaira
    April 16, 2012 pada 1:41 pm | #12

    Assalamualaikum warohmatulloh..

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    syukron akh, atas info’a,jujur ana sudah tahu klo maulid, tahlilan,isra’ mi’raj itu tdk pernah ada pada zaman Rasul dan merupakan bid’ah yg dibuat oleh sekelompok golonganuntuk merusak syariat islam.

    tp akh..
    ketika ana menyampaikan hal ini kepada keluarga ana,ana malah dituduh telah terkena aliran sesat.

    dan diancam akan di usir jika tdk melakukan hal2 tersebut.

    Ana tdk mau jadi anak durhaka tp ana juga lebih takut dengan Azab ALLAH , lalu apa yang harus ana lakukan akh?

    mohon beri ana nasihat

    Jazakumullah khairan katsir..

    Alhamdulillah atas nikmat dakwah salaf ini, ini perlu disyukuri,
    Tentang tradisi di masyarakat yang bertentangan dengan ajaran rasulullah yang mulia, itu merupakan kemaksiatan terhadap Allah dan Rasulullah, kita wajib mengingkarinya, cuma mengingkarinya harus dengan ilmu, atau dengan hikmah,.. bukan asal kita mengetahui itu sesat, lalu langsung kita terangkan bahwa hal itu sesat,.. lihat sikon,

    Masyarakat sudah turun temurun melakukan kemaksiatan yang dianggap sebagai ibadah, lalu kita setelah mengetahui dakwah salaf baru mengetahui kalau itu adalah kesesatan, maka sikap kita jangan langsung menyampaikannya kepada mereka,.. pasti mereka akan marah, tidak akan menerima, bahkan menganggap kita lah yang sesat,.. itu wajar mereka lakukan,..

    akan tetapi, kita mengingkari untuk diri sendiri dulu, sambil terus menunjukan akhlak yang mulia kepada mereka, setelah mengenal dakwah salaf ini, tunjukanlah akhlak yang baik, tata cara muamalah, ibadah yang diajarkan oleh manhaj salaf,.. tidak usah langsung mengajak atau mendakwahkan mereka dengan lisan kita,.. akan tetapi kita praktekan untuk diri kita sendiri dulu, .. hidayah itu milik Allah,

    Silahkan anda buka link ini, dan beli buku yang sangat bagus , 14 contoh hikmah dalam berdakwah,

    Berikut nukilan dari buku tersebut, yang ini kadang tidak diperhatikan oleh orang yang baru mengenal manhaj salaf ini, sehingga berakibat buruk bagi masyarakat atau keluarga terhadap dakwah salaf ini, mereka akan lari, dan menganggap kita telah membawa aliran baru yang sesat,

    RESENSI

    Buku ini adalah salah satu buah karya dari anak bangsa yang sekarang sedang menuntut ilmu di jurusan Aqidah, Program Pasca Sarjana (S2) Universitas Islam Madînah. Buku ini beliau beri judul ”14 Contoh Sikap Hikmah dalam Berdakwah”. Sebenarnya, buku ini adalah bab ke-10 dari satu rangkaian buku yang sedang beliau susun yang sedianya akan diberi judul ”Menjelaskan Sikap” (Sikap Yang Tepat dalam Menghadapi Problema di Barisan Ikhwah Salafiyyin di Indonesia.) Namun, berhubung beliau diminta untuk memberikan ceramah di Daurah pada bulan Juli 2007 dengan tema ”Hikmah dalam Berdakwah” di Yogya, dan diminta untuk menuliskan makalah, maka bab terakhir dari buku beliau ini akhirnya dipublikasikan terlebih dahulu.

    Penulis, dalam buku ini, mencermati perkembangan dakwah salafiyah di tanah air yang semakin ramai dan marak. Namun sayangnya, di sana sini masih saja ada sikap salah kaprah di dalam berdakwah yang menyebabkan dakwah salafiyah ini memiliki image yang buruk di tengah masyarakat. Dan kelemahan dakwah tersebut adalah disebabkan minimnya sikap hikmah para du’at dan penuntut ilmu salafiyah di dalam berdakwah, yang terkesan angker, bengis dan sadis.

    Di tengah carut marutnya sikap hikmah sebagian oknum yang menisbatkan diri kepada dakwah salafiyah ini, mendorong penulis untuk memberikan andil sebagai nasehat dan peringatan. Akhirnya, di tengah kesibukan beliau yang padat, beliau bersedia meluangkan waktunya dalam rangka untuk menunaikan kewajiban dan hak di dalam memberikan nasehat dan penjelasan akan sikap hikmah di dalam berdakwah beserta contoh praktisnya.

    Buku beliau ini terdiri dari 14 contoh aplikatif dan praktis sikap hikmah di dalam berdakwah, yaitu :

    1.Mengiringi ’aqîdah yang benar dengan akhlâq yang mulia.
    2.Berwajah ceria, menebarkan salam dan menunaikan hak-hak kaum muslimin walaupun mereka memiliki penyimpangan –selama metode hajr (boikot) belum layak untuk diterapkan-.
    3.Mengenal medan dakwah yang akan diterjuni.
    4.Berdakwah secara bertahap, dari yang paling penting lalu melangkah ke hal-hal penting lainnya.
    5.Mengutip perkataan ulama ahlus sunnah yang dikenal dan dihormati masyarakat, dan menghindari penyebutan nama-nama ulama ahlus sunnah yang masyarakat fobi dengannya.
    6.Berdakwah dan beramar ma’ruf serta nahi munkar secara lemah lembut.
    7.Menarik simpati orang yang ditokohkan atau memiliki kedudukan di tengah masyarakat.
    8.Memperhatikan generasi muda dan anak kecil tanpa mengesampingkan orang-orang yang telah lanjut usia.
    9.Menerapkan skala prioritas dalam mengingkari kemungkaran.
    10.Melandasi bantahan terhadap ahli bid’ah dengan ilmu dan dalil bukannya dengan cercaan dan makian.
    11.Tidak harus menyebutkan nama tokoh atau kelompok yang menyimpang ketika mentahdzîr.
    12.Memenuhi permintaan ahli bid’ah untuk mengisi ceramah atau kajian di tempat mereka selama tidak menimbulkan fitnah dan diharapkan mendatangkan maslahat.
    13.Mengikuti kebiasaan masyarakat setempat selama tidak melanggar syariat, seperti tidak tampil beda di dalam berpakaian, memakai celana atau sarung tepat di atas mata kaki, tidak harus di tengah betis, memakai jilbab selain warna hitam, boleh mengimami sholat di dalam mihrab, membaca basmalah secara jelas ketika menjadi imam, mengangkat tangan dan mengamini qunut subuh, dll.
    14.Bersabar dan tidak terburu-buru berharap bisa segera memetik buah dari dakwah.

    mudah-mudahan info ini bermanfaat, dan kita bisa bersikap yang benar terhadap masyarakat, dan keluarga, sehingga mereka tidak lari terhadap dakwah salaf ini,

    • Khumaira
      April 17, 2012 pada 1:41 pm | #13

      sangat bermanfaat, jazakumullah khair..
      oya ana mau tnya,apa akhi tau untuk kajian salaf di daerah jakarta, semenjak hijrah ke jakarta,ana jarang banget ikut kajian salaf..kalau akhi tau,tlong kasih info ya.
      ditunggu info’nya..
      Syukron katsir..

      Alhamdulillah dijakarta sangat banyak kajian salafi, hampir tiap hari ada kajian salaf di jakarta, silahkan simak radio rodja 756 AM ,biasanya diumumkan setiap pagi dan sore, atau bisa menelpon ke radio rodja di 823 3661 minta info kajian didekat tempat ukhti,

      bisa kasih tahu dimana tinggalnya sekarang, nanti ana kasih tahu tempat kajian yg dekat dengan ukhti di jakarta,

      • Khumaira
        April 18, 2012 pada 11:54 am | #14

        ana tinggal didaerah joglo – jakarta barat..

        kajian di joglo bisa hadir di masjid Nurul Iman,Jln Raya Pos Pengumben No. 21 , Srengseng Kembangan ,
        Coba saja minta info ke nomer ini : 0813 8068 5404 (abu nadya) atau 021 9498 7261 (Abu Rumaisa) silahkan sms ke nomer tersebut, minta info jadwal kajian rutin di masjid nurul iman.

      • Khumaira
        April 19, 2012 pada 11:38 am | #15

        Wah iya tuh deket..

        Jazakumullah khoiir,..

  13. hamba allah
    April 7, 2012 pada 10:35 am | #16

    berapa banyak kyai dan ustad yang melakukan bid’ah di indonesia?

    kalau berkumpul mendoakan,orang yang sudah meninggal berdosa dan memperbarui kesedihan,berarti kalau berdoa sendiri dalam sholat mendoakan orang yang sudah meninggal berarti bid’ah dan sama juga mengingat dan memperbarui kesedihan?

    mengumpulkan orang untuk mendoakan orang yang sudah mati, itu menyelisihi ajaran Rasulullah,.. Rasulullah tidak pernah melakukannya,

    Berkumpul2 ditempat keluarga yang meninggal, ini juga tidak diajarkan oleh Rasulullah, ini menyelisihi ajaran rasulullah, apalagi berlanjut dengan ritual bebrapa hari setelahnya,.. dst..

    cuma bedanya sendirian dan satunya rame-rame,berarti mending dibiarkan saja ya,gak perlu di doakan?

    Berdoa bisa kapan saja, tidak harus diseremonialkan seperti acara tahlilan, bisa dilakukan ketika shalat sebelum salam, ketika sujud, … masih sangat banyak waktu tuk berdoa,..

    kan klo tahlilan n yasinan juga membaca tahlil dan yasin yg merupakan jantung dari alquran?
    mohon informasinya…..

    Yang jadi masalah bukan bacaan atau surat yasinnya, akan tetapi seremonialnya,.. contohnya kenapa malam jumat harus baca surat yasin? emangnya surat dalam alquran cuma yasin saja? kenapa tidak setiap malam saja membaca alqurannya, berurutan dari alfatihah hingga annas, jadi kan sering khatam alquran,
    saya orang awam yang sedang belajar

    Jika ada yang melakukan bacaan surat annaba’ ketika malam jumat, mungkin akan diingkari oleh orang yang yasinan setiap malam jumat,..jadi dianggap aneh oleh orang yang biasa mengamalkan yasinan,.. padahal yang disuruh oleh rasulullah adalam membaca surat alkafi, untuk lebih jelasnya, silahkan baca artikel disini:
    Keutamaan surat yasin, ini lho hadits-haditsnya,

    Surat apa sih yang dibaca ketika malam jum’at, baca disini
    Tentang Tahlilan, baca disini
    Niat baik saja tidaklah cukup, baca disini

  14. abunawas
    April 6, 2012 pada 4:18 am | #17

    Nabi bersabda yg dsmpaikn oleh para Ulama dan di jelaskan oleh para Ahlul ilmu..
    tentang dialog antara Hudzaifah dan Nabi yg Mulia (Bukhori)..” …Akan datang suatu kaum, mereka memakai sunnah bukan dgn sunnahku, mereka memakai petunjuk bukan dgn petunjukku…” wal hal kesesatan yg ada telah disampakn oleh Nabi yg Mulia..

    sungguh miris liat knyataan yg ada,, kita, keluarga kita, tetangga, kaum muslimin yg lain masih bnyak yg beramal jauh dari sunnah (tanpa ilmu),, hnya berdasarkn perasaan, ikut2an, dan hawa.. membahas masalah tanpa disiplin ilmu.. merendahkan para ulama,, menentang sunnah,, semoga Allah senantiasa memberi petunjuk dan ampunanNya..

    padahal Islam dibangun atas dasar Ilmu,, dan melarang segala amal yg dilakukan tanpa dasar Ilmu.. ” dan janganlah kamu mengikuti apa yang engkau tidak memiliki ilmu/pengetahuan tentangnya..” (al israa : 36)

    Sudah sunnatullah akh,.. dan ini juga salah satu bukti kenabian Rasulullah, jadi jaman yang seperti pasti akan ada, tinggal bagaimana kita menyikapinya, apakah kita menjadi orang-orang yang berada pada jalan Rasulullah dan para sahabatnya, ataukah kita menyelisihi mereka, mudah-mudahan Allah maenunjuki kaum muslimin tuk berada dibawah naungan Alquran dan Sunnah menurut pemahaman para sahabat

  15. Elvath
    April 4, 2012 pada 6:02 pm | #18

    Kalau semua bid’ah sesat, kenapa ada bid’ah dun-yawiyah?

    Yang mengatakan bid’ah dun-yawiyah itu siapa?

    Nabipun melarang mengatakan munafiq pada sahabat yg masih melafadzkan laa ilaha illalloh,

    kenapa kalian malah mengkafirkan umat islam seindonesia, malah sedunia yg melakukan maulid nabi?

    Mana buktinya kalau kami mengkafirkan umat islam se indonesia, tolong kasih tahu, berupa link artikel atau link ceramah,.. atau itu cuma bualan anda sendiri?

    Pdhal yg tdk merayakan maulid cuma saudi, apakah semua kafir? Weh weh weh… Hebat hebat hebat.

    jika di negeri asal islam saja ngga dikenal istilah maulid nabi, harusnya ini dah jadi jawaban yang ampuh, ngapain lagi kita ngadain acara yang itu bukan dari islam,… buang-buang waktu dan uang saja,.. sia-sia , dan pasti dapet dosa, karena itu termasuk hal baru dalam agama,

  16. irhanudin
    Maret 26, 2012 pada 2:43 am | #19

    gini aja mas pokoknya silahkan laksanakan keyakinanmu sendiri tapi juga jangan ganggu keyakinan kami yang semua juga ada dasarnya cuman masalahnya kalian yang gak suka tahlil menganggap dalil itu lemah.maka baiknya saling menghormati aja mas, wong semua itu yang tahu persis adalah Alloh kok.benar nggak mas?

    Tidak kah mereka sadar, anda sedang mengacak-acak ajaran Rasulullah?
    Mereka tidak menghormati ajaran-ajaran Rasulullah,

    Nah, kok ada pernyataan yang sangat lucu,
    “gini aja mas pokoknya silahkan laksanakan keyakinanmu sendiri tapi juga jangan ganggu keyakinan kami yang semua juga ada dasarnya

    Emang dasarnya siapa yg buat? Dari Rasulullah atau bukan mas?
    Emang anda mengikuti agama yang dibawa oleh Rasulullah atau bukan?

    Lha , kok kenapa mengamalkan ajaran2 yg bukan dari Rasulullah?? lucu ya?

    Saya suka tahlil, tapi ngga suka tahlilan,..
    Tahlil diajarkan oleh Rasulullah, kalau tahlilan itu warisan nenek moyang anda kali ya?

    Yang mengetahui kebenaran hanyalah Allah, dan Allah sudah mengutus Rasulullah untuk mengajarkannya, dan sudah diajarkan semuanya tanpa ada yang tertinggal sedikitpun, ini dalam urusan agama, bukan urusan dunia.

    Apa susahnya mas, mengikuti ajarannya Rasulullah saja? Bukankah anda mencintai Rasulullah? ikuti ajaran Rasulullah saja apa susahnya, kok maksa-maksain ajaran yg bukan dari rasulullah,..

    lucunya,… orang yang mengingatkan akan perbuatan tersebut, dan mengajak tuk mengamalkan ajaran2 rasulullah saja, dibilang tidak menghormati ajaran-ajaran yang tidak ada sumbernya??

    • udin
      Maret 27, 2012 pada 12:52 pm | #20

      berdasarkan pengalaman saya memang pelaku bid’ah itu susah sekali untuk bertobat karena mereka menganggap amalan itu adalah “BAIK”

      salah satu alasan mereka jika dikasih tahu yaitu diantaranya “kalo gitu berarti semua yang yasinan/ tahlilan sesat dong?

      Tidak sesat sih, tapi tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah, bertentangan dengan ajaran Rasulullah, ya eta-eta keneh

      kalo sesat kenapa kok selama ini gak ada pemberitahuan tentang ini? (maksudnya kenapa masalah ini tidak ada dijelaskan kepada mereka di acara2 TV umum?)

      Jika disebutkan di acara2 TV umum, nanti TVnya ngga laku mas, ngga bakal ditonton, malah mungkin di demo, dianggap tv pemecah belah umat, tv wahabi,.. maklum yg banyak nonton tv kan mereka2 juga, dan tv tidak mau menayangkan acara yang dapat mengurangi minat pemirsanya,. sehingga dicari pemateri yg bisa menarik pemirsa lebih banyak lagi,

      Dicarilah pemateri yg dakwahnya bisa bikin heboh,.. yah begitulah, orientasinya bukan mencapai keridhaan Allah, akan tetapi meraih pemirsa sebanyak2nya, memuaskan pemirsa, walaupun bertentangan dengan ajaran Rasulullah,.. begitu mas,.

      mohon penjelasan ustad untuk menjawab ini, jazakallah khairan

  17. yulisusilo
    Maret 22, 2012 pada 12:21 am | #21

    sampai skrg kebiasaan tahlil, 40 hr 100 hr kematian itu msh ada, sebenarnya yg hrs kita lakukan memperingati kematian keluarga kita itu bagaimana? Dan kl kita diundang tahlil oleh tetangga kita wajibkah kita memenuhi undangan itu? Syukron jazakamulloh khoir.

    Rasulullah meninggal , tidak ada sahabat yang merayakan 40 hari, 100 hari, dst
    Demikian juga di jaman Rasulullah, banyak sahabat2 rasulullah yang meninggal,tapi Rasulullah tidak melakukan selamatan 40 hari, 100,dst padahal banyak sahabat yg meninggal ketika Rasulullah masih hidup

    Abu bakar, umar, utsman, juga ali, ketika meninggal tidak ada yang merayakan 40 hari, 100hari, dst

    Imam syafii juga tidak merayakan 40 hari, 100 hari, dst

    kok yang ngaku pengikutnya imam syafii, melakukannya??

    ini ritual dari mana?

    selidik punya selidik, itu adalah ajaran dari hindu, ketika ada wali gadungan yang berdakwah kepada orang-orang hindu supaya masuk islam, maka diambilah ajaran hindu tersebut ttg perayaan hari-hari setelah kematian, lalu supaya “terkesan islami” digantilah bacaan-bacaannya,.. ini sebenarnya adalah pelecehan terhadap ajaran islam yang mulia, pencampuran antara yang hak dengan yang batil.
    Pencampuran antara syariat Allah, dengan budaya agama hindu bikinan manusia,.. innalillahi wa inna ilaihi raji’uun,…

    Wali Allah tidaklah mengajarkan sesuatu yang bukan dari Allah, lalu menisbatkan bahwa ajaran itu adalah ajaran Allah,..

    Wali Allah hanya mendakwahkan apa-apa yang memang berasal dari Rasulullah, yang diajarkan kepada para sahabatnya,… tidak akan mungkin kita bisa mempelajari islam, tanpa melalui perantara para sahabat,

    Tentang undangan acara tahlilan, sebaiknya tidak usah datang,.. bisa dikondisikan, misalkan anda pas perayaan ritual tahlilan tsb tidak ada dirumah, ada kegiatan diluar, atau apalah, yang penting anda tidak menghadiri kegiatan tsb, tentu dengan cara yang santun, tidak dengan cara yang kasar, buatlah alasan yang membuat mereka mengerti, dan jika diperlukan dan bisa membuat atau menyadarkan mereka, jelaskan saja tentang keyakinan kita tentang tahlilan,..

    Dan jawab juga, seandainya ritual tahlilan itu adalah ajaran Rasulullah, pasti saya dengan senang hati akan mengikutinya,

  18. fatkul hadi (@fath_234)
    Maret 21, 2012 pada 12:12 pm | #22

    Yang saya khawatirkan nanti sesama orang Islam saling mengucapkan “Lakum dinukum waliyadiin..” Astaghfirullah…

    biasanya kalimat itu diucapkan oleh orang yang ngga ngerti tafsir dari surat tsb,.. itu kalimat buat orang-orang kafir, bukan utk sesama muslim

  19. m rfidwan
    Maret 17, 2012 pada 12:40 am | #23

    Diskusinya diluruskan dong……..! masak membahas ritual tahlilan kematian 7hr,40hr,dst. Disanggah argumetasinya dengan tahlilan yg sebenarnya ( membaca tahlil yg memang bagian dari dzikir).

    Sudah jelas imam syafii tidak menyukai,membenci ngumpul-ngumpul ditempat keluarga yang ditimpa kematian,
    Apalagi membawa-bawa agama,
    Rasulullah sering mengalami kematian sahabatnya,.. tapi ngga pernah sekalipun mengadakan tahlilan, atau menyuruh sahabatnya tuk melakukan tahlilan,..

    tahlil, beda dengan tahlilan,
    yasin, beda dengan yasinan
    shalawat, beda dengan shalawatan,..

    kalau yang berakhiran “an” diatas, semuanya adalah bidah,.. dan kata RASULULLAH, semua bidah itu sesat,

    Apanya yg perlu diluruskan?

  20. yaya sunarya
    Maret 15, 2012 pada 6:20 pm | #24

    I LIKE THIS….

  21. habib_alummah
    Maret 15, 2012 pada 10:40 am | #25

    Assalamualaikum,

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    semoga Allah mengampuni hamba-hambanya!
    kasihan sekali umat ini, 1400 tahun setelah peninggalanmu ya Nabiku Muhammad SAW, kerjaannya hanya mempertahankan ego masing-masing tentang hadis-hadis dan sunnahmu, padahal semuanya darimu. seandainya saja kami dapat hidup di zamanmu, bahkan berjuang untuk dakwah denganmu, kami dapat melihat langsung sunnahmu, tanpa perlu sebuah penafsiran yang seringkali membuat umat bertengkar.

    Sungguh kasihan sekali orang-orang yang meakukan perbuatan bidah, nanti di akherat mereka akan diusir dari telaga rasulullah, sia-sia selama hidupnya mengamalkan amalan-amalan bidah,..

    apakah anda tidak merasa kasihan terhadap orang-orang tersebut? atau anda malah ikut mengamalkan amalan bidah tersebut,.. kalau iya, saya juga merasa kasihan kepada anda,.. tinggalkanlah perbuatan bidah itu,

    • yaya sunarya
      Maret 17, 2012 pada 11:17 am | #26

      wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. sungguh islam maha sempurna.
      AL QUR‘AN maha sempurna.
      Ajaran atau sunah-sunah beliau Rasullullah telah sempurna.
      tidak perlu di tambah atau dikurangi dengan hal-hal baru.
      SEMOGA PARA AHLUBID‘AH cepat di sadarkan dari perbuatan-perbuatan BID‘AHnya. amiin…..

    • Agus Widodo
      Mei 8, 2012 pada 9:59 pm | #27

      Kasihanilah dirimu sendiri….
      Ingin kembali hidup dijaman Rosulullah adalah mustahil.

      Tidak mustahil mengikuti ajaran rasulullah saja, tanpa menambah atau mengurangi

      Kasihanilah dirimu sendiri….
      Belum tentu diakherat nanti anda juga selamat.

      urusan nanti masuk surga atau neraka, itu hanya Allah yang tahu, tapi Allah sudah memberikan caranya, bagaimana caranya supaya bisa masuk surga, dan bagaimana caranya jika ingin masuk neraka,
      Dan Rasulullah sudah menjelaskan semuanya,.. tinggal kitanya mau atau tidak menjalankan ajaran Rasulullah tersebut,

      Rosulullah tidak akan bisa menjamin surga atau neraka seseorang.

      Rasulullah menjamin umatnya akan masuk surga, kecuali yang enggan,

      كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

      “Seluruh umatku akan masuk jannah, kecuali yang enggan.” Maka dikatakan: “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang menaatiku maka dia pasti masuk jannah, sedangkan barangsiapa yang mendurhakaiku maka sungguh dia telah enggan (masuk jannah).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari)

  22. sandalsangkuriang
    Maret 13, 2012 pada 11:00 pm | #28

    saya orang awam dan sedikit mengerti tentang hukum. Diskusi di atas sangat bagus, namun masalah tahlilan atau Tahlil itu tergantung pemahaman dari setiap ulama yang tentunya sudah sesuai dengan Alquan dan Assunnah, tidak mungkin para ulama mengijtihadkan sesuatu tanpa dasar yang kuat. Tahlilan hanyalah sebuah nama dari sekumpulnya orang dan isi dari kumpulan tersebut tidak lain hanyalah melantunkan ayat allah. itulah yang menjadi nilai syariatnya. sudah jelas dalil2 tentang kita dianjurkan untuk melantunkan ayat suci alquran. masalah wasilah kepada orang meninggal itu adanya perbedaan pendapat dari para ulama. maka perbedaan pemahamaan tentang memahami permasalan ini haruslah di sikapi dengan baik.

    Awal dari ritual seperti itu sebenarnya sudah ada sejak jaman sahabat, yaitu adanya sekelompok orang yang berdzikir dengan dipimpin oleh satu orang, menghitung dzikir dengan batu, lalu diingkari secara keras oleh sahabat, berikut haditsnya:
    حدثنا معاوية بن هشام قال : حدثنا سفيان عن سعيد الجُريريِّ عن أبي عثمان قال : كَتَبَ عَامِلٌ لِعُمَرِ بْنِ الْخَطَّابِ إِلَيْهِ : أَنَّ هَاهُنَا قَوْمًا يَجْتَمِعُوْنَ فَيَدْعُوْنَ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَلِلْأَمِيْرِ، فَكَتَبَ إِلَيْهِ عُمَرُ : أَقْبِلْ، وَأَقْبِلْ بِهِمْ مَعَكَ، فَأَقْبَلَ، وَقَالَ عُمَرُ لِلْبَوَّابِ : أَعِدَّ لِيْ سَوْطًا، فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَى عُمَرِ أَقْبَلَ عَلَى أَمِيْرِهِمْ ضَرْبًا بِالسَّوْطِ. فَقَالَ : يَا عُمَرُ ! إِنَّا لَسْنَا أُولَئِكَ الَّذِيْ – يَعْنِي أُولَئِكَ قَوْمٌ يَأتُونَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ.

    “Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin Hisyaam, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan bin Sa’id Al-Juriiriy, dari Abu ‘Utsmaan, ia berkata :
    “Seorang pembantu ‘Umar bin Al-Khaththaab melaporkan kepadanya (‘Umar) :
    Bahwasannya di sana, di suatu tempat, ada sekelompok orang yang berkumpul untuk mendoakan kebaikan kaum muslimin dan pemimpin mereka.

    Lalu ‘Umar menulis surat kepadanya yang isinya :
    “Temui mereka, bawalah mereka menghadap bersamamu kepadaku”.

    Maka ia pun menemui mereka.
    Lalu ‘Umar berkata kepada penjaga pintu : “Sediakan cambuk”.

    Ketika mereka masuk menemui ‘Umar, maka ‘Umar menyambut pemimpin mereka dengan cambukan.

    Orang tersebut berkata :

    “Wahai ‘Umar, sesungguhnya kami bukanlah mereka – yaitu kaum yang datang dari Timur” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 8/531 no. 26594 dan Ibnu Wadldlah dalam Al-Bida’ wan-Nahyu ‘anhaa hal. 19; dengan sanad hasan].

    أخبرنا الحكم بن المبارك، أنبأنا عمرو بن يحيى قال : سمعت أبي يحدث، عن أبيه قال : كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَبْلَ صَلَاةِ الغَدَاةِ، فَإِذَا خَرَجَ، مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَجَاءَنَا أَبُوْ مُوْسَى الْأَشْعَرِيُّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – فَقَالَ : أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ قُلْنَا : لَا، بَعْدُ. فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ، فَلَمَّا خَرَجَ، قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيْعًا، فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، إِنَّي رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ آنِفًا أَمْرًا أَنْكَرْتُهُ وَلَمْ أَرَ – وَالْحَمْدُ للهِ – إِلَّا خَيْرًا. قَالَ : فَمَا هُوَ ؟ فَقَالَ : إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ. قَالَ : رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوْسًا يَنْتَظِرُوْنَ الصَّلَاةَ فِي كُلِّ حَلَقَةٍ رَجُلٌ، وَفِيْ أَيْدِيْهِمْ حَصًا، فَيَقُوْلُ : كَبِّرُوا مِئَةً، فَيُكَبِّرُوْنَ مِئَةً، فَيَقُوْلُ : هَلِّلُوا مِئَةً، فَيُهَلِّلُونَ مِئَةً، فَيَقُولُ : سَبِّحُوا مِئَةً، فَيُسَبِّحُونَ مِئَةً. قَالَ : فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ ؟ قَالَ : مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ أَوِ انْتِظَارَ أَمْرِكَ. قَالَ : أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ، وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِهِم، ثَمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلَقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ، فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ : مَا هَذا الَّذِيْ أَرَاكُمْ تَصْنَعُوْنَ ؟ قَالُوا : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًا نَعُدَّ بِهِ التَّكْبِيْرَ والتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيْحَ. قَالَ : فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ، فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتكُمْ ! هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُوْنَ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ. قَالُوا : وَاللهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ. قَالَ : وَكَمْ مِنْ مُرِيْدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ تُصِيْبَهُ، إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، وَايْمُ اللهِ مَا أَدْرِيْ لَعَلَّ أَكْتَرَهُمْ مِنْكُمْ، ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ. فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ : رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ.

    “Telah memberi khabar kepada kami Al-Hakam bin Al-Mubaarak : Telah memberitakan kepada kami ‘Amru bin Yahya, ia berkata :

    Aku mendengar ayahku meriwayatkan hadits dari ayahnya, ia berkata :

    Sebelum shalat shubuh, kami biasa duduk di depan pintu ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu. Jika dia sudah keluar rumah, maka kami pun berjalan bersamanya menuju masjid. Tiba-tiba kami didatangi oleh Abu Musa Al-Asy’ariy radliyallaahu ‘anhu, seraya bertanya :

    “Apakah Abu ‘Abdirrahman (‘Abdullah bin Mas’ud) sudah keluar menemui kalian ?”.

    Kami menjawab :
    “Belum”.

    Lalu dia pun duduk bersama kami hingga ‘Abdullah bin Mas’ud keluar rumah. Setelah dia keluar, kami pun bangkit menemuinya. Abu Musa berkata :

    “Wahai Abu ‘Abdirrahman, tadi aku melihat kejadian yang aku ingkari di masjid, namun aku menganggap – segala puji bagi Allah – hal itu adalah baik”.

    Kata Ibnu Mas’ud :

    “Apakah itu ?”.

    Abu Musa menjawab :

    “Jika engkau berumur panjang, engkau akan mengetahui. Ada sekelompok orang di masjid, mereka duduk ber-halaqah sedang menunggu shalat. Setiap kelompok dipimpin oleh seseorang, sedang di tangan mereka terdapat kerikil.

    Lalu pimpinan halaqah tadi berkata :

    ‘Bertakbirlah seratus kali’, maka mereka pun bertakbir seratus kali. ‘Bertahlillah seratus kali’, maka mereka pun bertahlil seratus kali. ‘Bertasbihlah seratus kali’, maka mereka pun bertasbih seratus kali”.

    Ibnu Mas’ud bertanya :

    “Lalu apa yang engkau katakan kepada mereka ?”.

    Abu Musa menjawab :

    “Aku tidak berkata apa-apa hingga aku menunggu apa yang akan engkau katakan atau perintahkan”.

    Ibnu Mas’ud berkata :

    “Tidakkah engkau katakan kepada mereka agar mereka menghitung kesalahan mereka dan kamu jamin bahwa kebaikan mereka tidak akan disia-siakan”.

    Lalu Ibnu Mas’ud berlalu menuju masjid tersebut dan kami pun mengikuti di belakangnya hingga sampai di tempat itu. Ibnu Mas’ud bertanya kepada mereka :

    “Benda apa yang kalian pergunakan ini ?”.

    Mereka menjawab :

    “Kerikil wahai Abu ‘Abdirrahman. Kami bertakbir, bertahlil, dan bertasbih dengan mempergunakannya”.

    Ibnu Mas’ud berkata :

    “Hitunglah kesalahan-kesalahan kalian, aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sedikitpun. Celaka kalian wahai umat Muhammad ! Betapa cepat kebinasaan/penyimpangan yang kalian lakukan. Para shahabat Nabi kalian masih banyak yang hidup. Sementara baju beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga belum lagi usang, bejana beliau belum juga retak. Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya ! Apakah kalian merasa berada di atas agama yang lebih benar daripada agama Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ataukah kalian akan menjadi pembuka pintu kesesatan ?”.

    Mereka menjawab :

    “Wahai Abu ‘Abdirrahman, kami tidaklah menghendaki kecuali kebaikan”.

    Ibnu Mas’ud menjawab :

    “Betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan namun ia tidak mendapatkannya. Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada kami :

    ‘Akan ada segolongan orang yang membaca Al-Qur’an, namun apa yang dibacanya itu tidak melewati kerongkongannya’. Demi Allah, aku tidak tahu, boleh jadi kebanyakan dari mereka adalah sebagian di antara kalian”.

    ‘Amr bin Salamah berkata :

    “Kami melihat mayoritas diantara orang-orang yang ikut dalam halaqah itu adalah orang yang menyerang kami dalam Perang Nahrawaan yang bergabung bersama orang-orang Khawarij” [HR. Ad-Daarimi no. 210 dengan sanad jayyid; akan tetapi menjadi shahih dengan keseluruhan jalannya].[11]

    Sungguh indah atsar di atas !

    sangat pas dengan permasalahan yang sedang dibahas.

    Lihatlah ikhwah, betapa ‘Umar mengingkari dengan pengingkaran yang keras terhadap orang-orang yang berkumpul dan berdoa secara berjama’ah, padahal yang mereka lakukan adalah kebaikan – menurut prasangka mereka – yaitu mendoakan kaum muslimin dan pemimpinnya.

    Apa gerangan yang menyebabkan pengingkaran tersebut ?

    Tidak lain adalah cara yang mereka lakukan menyelisihi apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat.

    Dan yang lebih jelas lagi adalah atsar ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu.

    Apa yang diingkari oleh Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu ?

    Ia mengingkari keberadaan halaqah-halaqah dzikir jama’iy yang dikomandoi oleh seorang pimpinan dimana mereka menggunakan kerikil sebagai alat hitung.

    Alangkah samanya hari itu dengan hari ini. Ibnu Mas’ud tidaklah mengingkari lafadh tasbiih, tahmiid, tahliil, ataupun takbiir yang mereka ucapkan.

    Namun yang diingkari oleh Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu adalah cara yang mereka lakukan yang menyelisihi petunjuk Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya.

    Mereka membuat cara-cara baru yang tidak dikenal dalam Sunnah Nabi dan para shahabatnya.

    Tidakkah kita perhatikan alasan mereka ketika perbuatan mereka itu diingkari oleh Ibnu Mas’ud :

    “Wahai Abu ‘Abdirrahman, kami tidaklah menghendaki kecuali kebaikan”.

    Atas perkataan ini, Ibnu Mas’ud menjawab :

    “Betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan namun ia tidak mendapatkannya”.

    Jawaban ini mengandung makna yang sangat dalam, yaitu bahwa tidaklah setiap niat baik itu dapat diterima menurut syari’at apabila dilakukan dengan cara-cara yang menyelisihi syari’at.

    Tidak ternukil penyelisihan dari kalangan shahabat lain terhadap apa yang dilakukan ‘Umar bin Al-Khaththab dan ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhuma.

    Bisa jadi, apa yang dilakukan oleh kedua shahabat tadi merupakan ijma’ sukuti, sebagaimana dikenal dalam ilmu ushul fiqh. Konsekuensinya, pengingkaran terhadap satu amal secara ijma’, tidaklah mungkin menjadi sunnah selamanya.

    hal yang lebih penting sekarang teman2 lakukan bukan saling menyalahkan perkara yang tidak sesuai dengan pemahaman masing2, tapi lebih baik teman2 mendiskusikan hal yang lebih penting seperti ajaran2 yang jelas bertentangan dengan aqidah Islam yang banyak di negara kita. karena kalau di biarkan akan menjadi fitnah Islam.

    Betul sekali, kita tidak menyalahkan dengan pemahaman masing-masing, tapi kita hanya mengungkapkan kalau perbuatan tersebut tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah yang diamalkan oleh para sahabat, bukan menurut pemahaman masing-masing,.. ini perlu anda camkan,.. ingat, siapa sih generasi yang dibina langsung oleh Rasulullah? merekalah yang wajib kita ikuti, dan itu perintah Allah, juga perintah Rasulullah, agar kita mengikuti mereka, itulah jalan menuju kejayaan islam,

    Dengan mengikuti pemahaman para sahabat, islam kita akan menjadi benar, dan kejayaan islam akan diraih, sehingga Allah memenangkan agama ini diatas agama-agama yang lain, dan menjadikan orang kafir gentar kepada islam, bukan seperti kenyataan sekarang ini, umat islam dengan mudahnya diobok-obok oleh orang-orang kafir,

    Hal yang terpenting adalah, mengembalikan islam menurut pemahaman para sahabat,

    dan yang terakhir apapun yang terjadi sudahkan kita introspeksi diri tentang diri kita, keluarga kita, saudara2 kita dengan maraknya budaya yang berpakaian yang tidak sesuai dengan syariat Islam. sebelum menunjuk salah kepada orang lain, sudahkah kita menunjuk terhadap diri kita sendiri, keluarga, saudara2 kita.
    mudah2an bisa bermanfaat, saya hanyalah orang awam biasa yang sedikir hapalan hadist dan quran. wassalam

    Instropeksi memang perlu, dan itu wajib bagi kita instropeksi, apakah cara beragama kita sudah sesuai dengan pemahaman para sahabat?
    Apakah cara berakidah kita sudah sesuai dengan akidah para sahabat?
    Karena Rasulullah mengajarkan pertama kali adalah urusan akidah ini, apakah akidah kita sudah sesuai dengan akidah rasul yang beliau ajarkan langsung kepada para sahabat?

    Jika akidah sudah tertanam dengan baik, maka urusan yang lain akan dengan mudah dikerjakan, apalagi sekedar menutup aurat dengan benar,

    Mengungkapkan suatu ajaran yang itu tidak diajarkan oleh Rasulullah sama sekali, bukanlah berarti menyalah-nyalahkan orang-orang yang mengamalkan amalan tersebut,..

    Justru itulah bentuk kasih sayang kita kepada mereka, tidak ingin mereka terjatuh kedalam perbuatan bidah yang itu bisa menyengsarakan mereka kelak di akherat, jika mereka tidak taubat dari bidahnya,

    Orang-orang yang membiarkan mereka terus terjerumus kedalam perbuatan bidah, justru mereka itu tidak mempunyai rasa sayang kepada saudaranya, sehingga saudaranya tersebut terus dalam kebidahannya,

  23. anis mujiono
    Februari 25, 2012 pada 4:08 pm | #29

    saya mau meluruskan.
    1. tentang tahlilan menurut imam syafii.
    di dalam kitab- kitab syafi’iyyah seperti fathul mu’in dll. bahwa menyediakan makanan kematian hukumnya makruh tidak haram. walaupun makruh, makanan yang dikeluarkan menjadi sodaqoh yang pahalanyapun bisa memberi manfaat bagi mayat. jadi yang berlaku di masyarakat itu ada perkara yang dubenci juga ada benarnya yang bernilai pahala.
    imam syafii juga melakukan bertawassul dan menganjurkan kita agar bertawassul walapun dg orang- orang solih yang sudah meninggal. jangan dikira imam syafii melarangny. kalau ingin bukti silahkan hub 085865656438. nanti sy berikan syair-syair beliau yang menganjurkan untuk brtawasul.

    Telah berkata Imamnya para Ulama, mujtahid mutlak, lautan ilmu, pembela Sunnah. Al-Imam Asy-Syafi’iy di ktabnya ‘Al-Um” (I/318).

    “Aku benci al ma’tam yaitu berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan”[1]

    Perkataan imam kita diatas jelas sekali yang tidak bisa dita’wil atau ditafsirkan kepada arti dan makna lain kecuali bahwa beliau dengan tegas mengharamkan berkumpul-kumpul dirumah keluarga/ahli mayit. Ini baru berkumpul saja, bagaimana kalau disertai dengan apa yang kita namakan disini sebagai Tahlilan ?”

    untuk bukti tdk perlu nelpon ke anda, kita telah dicukupkan dengan tulisan-tulisan para ulama ahlussunnah, yg banyak, tinggal kita mau atau tidak menerima kebenaran tersebut, imam syafii saja sdh sangat tegas melarang kumpul-kumpul di tempat keluarga si mayat, blm sama ritual-ritualnya,

    Telah berkata Imam Ibnu Qudamah, di kitabnya Al Mughni (Juz 3 halaman 496-497 cetakan baru ditahqiq oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki ) :

    “Adapun ahli mayit membuatkan makanan untuk orang banyak maka itu satu hal yang dibenci ( haram ). Karena akan menambah kesusahan diatas musibah mereka dan menyibukkan mereka diatas kesibukan mereka [2] dan menyerupai perbuatan orang-orang jahiliyyah.

    Dan telah diriwayatkan bahwasannya Jarir pernah bertamu kepada Umar. Lalu Umar bertanya,.Apakah mayit kamu diratapi ?” Jawab Jarir, ” Tidak !” Umar bertanya lagi, ” Apakah mereka berkumpul di rumah ahli mayit dan mereka membuat makanan ? Jawab Jarir, ” Ya !” Berkata Umar, ” Itulah ratapan !”

    Telah berkata Syaikh Ahmad Abdurrahman Al Banna, di kitabnya : Fathurrabbani tartib musnad Imam Ahmad bin Hambal ( 8/95-96) :

    “Telah sepakat imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad) atas tidak disukainya ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak yang mana mereka berkumpul disitu berdalil dengan hadits Jarir bin Abdullah. Dan zhahirnya adalah HARAM karena meratapi mayit hukumnya haram, sedangkan para Shahabat telah memasukkannya (yakni berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit) bagian dari meratap dan dia itu (jelas) haram.

    Dan diantara faedah hadits Jarir ialah tidak diperbolehkannya berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit dengan alasan ta’ziyah /melayat sebagaimana dikerjakan orang sekarang ini.

    Telah berkata An Nawawi rahimahullah : Adapun duduk-duduk (dirumah ahli mayit ) dengan alasan untuk ta’ziyah telah dijelaskan oleh Imam Syafi’i dan pengarang kitab Al Muhadzdzab dan kawan-kawan semadzhab atas dibencinya (perbuatan tersebut)……..

    Kemudian Nawawi menjelaskan lagi, ” Telah berkata pengarang kitab Al Muhadzdzab : “Dibenci duduk-duduk (ditempat ahli mayit ) dengan alasan untuk ta’ziyah. Karena sesungguhnya yang demikian itu adalah muhdats (hal yang baru yang tidak ada keterangan dari Agama), sedang muhdats adalah ” Bid’ah.”

    Telah berkata Al Imam Asy Syairoziy, dikitabnya Muhadzdzab yang kemudian disyarahkan oleh Imam Nawawi dengan nama Al Majmu’ Syarah Muhadzdzab : “Tidak disukai /dibenci duduk-duduk (ditempat ahli mayit) dengan alasan untuk Ta’ziyah karena sesungguhnya yang demikian itu muhdats sedangkan muhdats adalah ” Bid’ah “.

    Dan Imam Nawawi menyetujuinya bahwa perbatan tersebut bid’ah. [Baca ; Al-Majmu’ syarah muhadzdzab juz. 5 halaman 305-306]

    Al Imam Ibnul Humam Al Hanafi, di kitabnya Fathul Qadir (2/142) dengan tegas dan terang menyatakan bahwa perbuatan tersebut adalah ” Bid’ah Yang Jelek”. Beliau berdalil dengan hadits Jarir yang beliau katakan shahih.

    Al Imam Ibnul Qayyim, di kitabnya Zaadul Ma’aad (I/527-528) menegaskan bahwa berkumpul-kumpul (dirumah ahli mayit) dengan alasan untuk ta’ziyah dan membacakan Qur’an untuk mayit adalah ” Bid’ah ” yang tidak ada petunjuknya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    Al Imam Asy Syaukani, dikitabnya Nailul Authar (4/148) menegaskan bahwa hal tersebut Menyalahi Sunnah.

    Berkata penulis kitab ‘Al-Fiqhul Islamiy” (2/549) : “Adapaun ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak maka hal tersebut dibenci dan Bid’ah yang tidak ada asalnya. Karena akan menambah musibah mereka dan menyibukkan mereka diatas kesibukan mereka dan menyerupai (tasyabbuh) perbuatan orang-orang jahiliyyah”.

    Al Imam Ahmad bin Hambal, ketika ditanya tentang masalah ini beliau menjawab : ” Dibuatkan makanan untuk mereka (ahli mayit ) dan tidaklah mereka (ahli mayit ) membuatkan makanan untuk para penta’ziyah.” [Masaa-il Imam Ahmad bin Hambal oleh Imam Abu Dawud hal. 139]

    Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, ” Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit dan mengirimnya kepada mereka. Akan tetapi tidak disukai mereka membuat makanan untuk para penta’ziyah. Demikian menurut madzhab Ahmad dan lain-lain.” [Al Ikhtiyaaraat Fiqhiyyah hal.93]

    Berkata Al Imam Al Ghazali, dikitabnya Al Wajiz Fighi Al Imam Asy Syafi’i (I/79), ” Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit.”

    • wong_Negaradaha
      Maret 15, 2012 pada 3:35 am | #30

      Sebagian orang telah mengutip dan memahaminya secara membabi buta terkait ucapan Imam asy-Syafi’ rahimahullah yang terdapat dalam kitab al-Umm berikut ini :

      وأكره المأتم، وهي الجماعة، وإن لم يكن لهم بكاء فإن ذلك يجدد الحزن، ويكلف المؤنة مع ما مضى فيه من الأثر
      “aku menghukumi makruh Ma’tam, dan yakni sebuah kelompok, dan walaupun tidak ada tangisan bagi mereka sebab sesungguhnya itu memperbaharui kesedihan dan membebani biayai beserta apa yang pernah terjadi”.

      Dari kutipan ini, sama sekali tidak ada ucapan Imam asy-Syafi’i yang mengharamkan tahlilan. Jadi, darimana isu-isu yang mengharamkan tahlilan dengan berdalil ucapan Imam asy-Syafi’i ? Mana ucapan Imam asy-Syafi’i yang mengharamkan mendo’akan muslim yang meninggal dunia, mana ucapan Imam asy-Syafi’i yang mengharamkan menghadiahkan bacaan al-Qur’an untuk muslim yang meninggal dunia, mana pula ucapan Imam asy-Syafi’i yang mengharamkan semua itu yang dilakukan dikediaman ahlul mayyit ? Jelas, ini salah satu bentuk untuk memecah belah umat Islam terutama untuk menghancurkan pondasi madzhab Syafi’i yang memang paling banyak di anut kaum Muslimin termasuk paling banyak di anut oleh Dzurriyah Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam.

      ngga usah nyari dikitab lain mas, ini lho, ada dikitabnya imam syafii sendiri,

      Didalam kitab al Umm (I/318), telah berkata imam Syafii berkaitan dengan hal ini;

      “Aku benci al ma’tam, yaitu berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbahrui kesedihan.”

      Jadi, imam Syafii sendiri tidak suka dengan kegiatan tahlilan yang dilakukan sebagaimana yang banyak dilakukan oleh ummat Islam sendiri.

      Baca ya, dikitabnya imam syafii sendiri, bukan dikitab lainnya, itu imam syafii sendiri yang mengatakan, sedangkan apa yg anda sampaikan, itu bukan perkataan imam syafii, makanya saya hapus,..

      Salam nggo wong-wong negaradaha,

      • wong_Negaradaha
        Maret 17, 2012 pada 1:05 am | #31

        mohon jelaskan per-kata menurut tata bahasa arab tulisan imam syafei berikut وأكره المأتم، وهي الجماعة، وإن لم يكن لهم بكاء فإن ذلك يجدد الحزن، ويكلف المؤنة
        مع ما مضى فيه من الأثر

        tolong sebutkan ada di kitab apa, halaman berapa, jgn nukil arabnya doang,.. itu bener tulisan imam syafii atau bukan?

    • wong_Negaradaha
      Maret 19, 2012 pada 1:00 am | #32

      moderator tulis :
      “Telah berkata Imamnya para Ulama, mujtahid mutlak, lautan ilmu, pembela Sunnah. Al-Imam Asy-Syafi’iy di ktabnya ‘Al-Um” (I/318).

      “Aku benci al ma’tam yaitu berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan”[1]”

      mohon jelaskan menurut tata bahasa arab (grammar) tulisan imam syafei tsb, saya bantu naskah tulisan asli (dlm bhs arab) asy-Syafi’ rahimahullah yang terdapat dalam kitab al-Umm berikut ini :

      وأكره المأتم، وهي الجماعة، وإن لم يكن لهم بكاء فإن ذلك يجدد الحزن، ويكلف المؤنة مع ما مضى فيه من الأثر

      tulisan diatas ada dikitab apa, halaman berapa, tolong sebutkan dong, jangan nukil arabnya saja, biar bisa dilihat betul ngga itu dari kitab al umm,

      seperti yang saya cantumkan, kan ada juz dan halamannya, sedangkan apa yg anda nukilkan, gak ada keterangan juz berapa halaman berapa, ada dikitab apa, .. monggo mas, cantumkan yg detail dong,

  24. IRWAN
    Februari 10, 2012 pada 10:56 am | #33

    “Yaitu, sebagaimana seseorang tidak akan memikul dosa orang lain, demikian juga seseorang tidak akan memperoleh ganjaran/pahala kecuali apa-apa yang telah ia usahakan untuk dirinya sendiri.”

    klo gni adanya, brrt kita percuma donk mendo’a_kan kedua orang tua.

    Beda lagi dengan anak mendoakan orangtuanya, jangankan doa orang tua kepada anak, pahala ibadah sang anakpun orang tua akan mendapatkannya, tanpa si anak menghadiahkan pahalanya, karena anak merupakan hasil usaha orang tuanya, jadi selaras dengan pernyataan “seseorang tidak akan memperoleh ganjaran/pahala kecuali apa-apa yang telah ia usahakan untuk dirinya sendiri”

    mendoa’kan acara pernikahan,dll
    toh ujung-ujungnya gk bakal di terima jg.

    Kalau mendoakan kaum muslimin, atau saudara kita , silahkan saja, ngga masalah,
    yang jadi masalah adalah melakukan ritual tertentu, yang itu dianggap sebagai ibadah, seperti contohnya ritual tahlilan, lalu baca alquran, dan dikirimkan pahala bacaannya buat si fulan, ini tidak ada contohnya dari rasulullah, atau disebutnya sebagai kebidahan,..

    mohon bimbingannya…~!!

    mudah-mudahan keterangan singkat diatas bisa memberikan sedikit pencerahan,.. untuk lebih luasnya, ya pelajarilah agama ini, menurut pemahaman generasi yang dibina langsung oleh Rasulullah, generasi tersebut adalah para sahabat,.. pelajarilah agama ini berdasarkan pemahaman para sahabat, insya allah semuanya akan jelas, tidak bingung lagi,.. dan kalau masih bingung, jangan sungkan tuk bertanya,.. karena obat kebodohan adalah bertanya,

    • basya
      Mei 11, 2012 pada 5:59 pm | #34

      anda itu tidak berfikir..
      kalau ritual tahlil anda angap bid’ah..
      terus bagaimana dengan ritual anak-anak yang berangkat sekolah setiap hari mencari ilmu dan libur di hari ahad atau jum’at..

      emang yang dilakukan itu ritual apa dihari tersebut?
      kurang banyak mas, ada ritual makan pagi, makan siang, makan malam,

      bidah disini adalah ritual ibadah mas,.. mengharapkan dengan perbuatannya bisa mendatangkan pahala, mendekatkan dirinya kepada Allah,

      itu juga tidak pernah dilakukan rosuluallah ataupun para sahabatnya..
      apakah itu juga bid’ah..???

      Baca dulu, apa itu definisi bidah,

      terus bagaimana dengan dakwah dengan artikel di internet..apakah dulu rosulullah dan para sahabatnya juga berdakwah dengan internet?komputer,laptop??
      apakah itu semua termasuk hal yang baru?
      sedangkan hal yang baru itu adalah bid’ah..
      tolong di jelaskan om?

      Iya, bidah,
      Bala-bala bidah,bakso bidah,mie ayam bidah,becak bidah,sepeda bidah,internet bidah, apalagi ya??
      ada ulasannya disini,

    • rebs
      Mei 12, 2012 pada 5:58 pm | #35

      saya ingin menambahkan secara sederhana,,
      Perkara muamalah dan syariah terdapat perbedaan yaitu muamalah selalu menunggu larangan dan syariah menunggu perintah,,sebagai contoh sederhana adalah apakah ada larangan untuk membaca surah yasiin pada saat sujud? jelas tidak ada larangan tetapi apa itu diperintahkan/dicontohkan oleh rosululloh?

      salah ngasih contohnya , ada larangan rasulullah membaca alquran ketika ruku dan sujud

      harusnya contohnya, bolehkah kita shalat shubuh 4 rakaat, kan tidak ada larangannya,.. bukankah itu baik, bacaan alqurannya nambah, ruku dan sujudnya juga tambah banyak,

      Setiap amalan yg dilakukan dengan mengkhususkan waktu pengerjaannya harus dilandasi dengan dalil,,sebagai contoh tahlil, tahlil memang sebuah amalan sunnah tetapi jika ini dilakukan dengan mengkhususkan waktu pengerjaannya yaitu pada acara setelah kematian (tahlilan/pen) jelas tidak pernah dicontohkan oleh Rosululloh,
      jadi, perkara Dien tidak perlu ditambah atau dikurang karena tak ada satu amalan baik pun yg tertinggal atau belum diajarkan/dicontohkan oleh beliau, secara tidak sadar para ahlul bid’ah itu merasa lebih pintar dari Rosululloh atau mengganggap rosul itu bodoh karena tidak mengetahui adanya amalan baik sehingga tidak beliau ajarkan/contohkan…na’udzubillah

  25. sigit
    Februari 9, 2012 pada 2:03 pm | #36

    mereka penganut kata mbah2 ya …bertaubatlah saudaraku…

    ya, mudah-mudahan banyak kaum muslimin yg segera sadar, dan taubat dari mengikuti nenek moyang yg gak jelas,

  26. habib
    Januari 26, 2012 pada 5:09 am | #37

    ngomong jeung siamah kudu jeung bedog

    ulah jeung bedog atuh kang, eta teh sanes urang bageur & pinter
    masa bang habib teh kitu,. era atuh kang,..
    Rasulullah ngajarkeun ritual tahlilan nte kang?
    Abu Bakar ngamalkeun ritual tahlilan nte kang?
    Umar bin khattab ngamalkeun ritual tahlilan nte kang?
    Imam Syafii, Imam bukhari,muslim, lan seueur ulama ahlussunnah, aya nte nu ngayaukeun ritual tahlilan??
    Jawab atuh kang, ulah ku bedog jawabna,..
    Ari mereka sadayana ngayakeun ritual tahlilan, abdi oge rek tahlilan,.. nte nganggo era deui,.. hayu atuh kang tahlilan sareng abdi,..

    • yaya sunarya
      Maret 15, 2012 pada 6:17 pm | #38

      heeuh nya keras hate anjeun mah. singket namah al qur‘an jeung sunah2 nabi teh tos sampurna make2 rek di tambah kabid‘ah an. jalmi anu ngadamel bid‘ah sami sareng jalmi anu nganggap masih kurang sampurna ajaran rasulullah. mslh kamatian jeung kalahiran teu mungkin Rasulullah kalewat ngajarkeun adab2na. hatur nuhun. from. tijalmi anu nyari rido ALLAH

      leres kang, nuhun nya,..

    • rebs
      Mei 12, 2012 pada 6:00 pm | #39

      bedog tidak bisa membuktikan kebenaran kang

  27. abuerzha
    Januari 25, 2012 pada 4:49 am | #40

    @saya : Permasalahan sampai atau tidaknya pahala bacaan Al-Qur’an adalah permasalahan ijtihadiyah..

    silahkan mau ikut yg mana..

    kl antum baca tulisan diatas imam syafiie sendiri mengatakan bacaan Al-Qur’an tak akan sampai kpd si mayit dan inilah pendapat yg rojih..

    nah yg ajibnya ketika orang2 islam di INdonesia bangga dgn mazhab Syafiie malah melakukan pelanggaran thp ucapan Imamnya sendiri malah lucunya menukil pendapat dari musuh mereka yaitu ulama-ulama WAHABI.

    kalau mau main fair org2 yg mengaku bermazhab syafiie tidak melakukan TAHLILAN dong,betul tidak mas?

    Mas.. fahami baik2 titik permasalahannya adalah CARA nya ,krn ibadah itu terikat waktu dan cara spt:sholat,puasa,zakat,zikir2,sodakoh,infaq dsb semua sdh diatur waktu dan caranya dlm kitab2 fiqh.apakah tahlilan ada cara dan waktunya??

    apakah ada contoh dari Rosululloh dan para sahabatnya mengumpulkan orang2 pada acara kematian seseorang..??

    coba antum renungkan bila ada coba antum cari dalil atau atsar sahabat apakah Rosululloh melakukan hal tsb?

    dan rupanya kebanyakan pencinta tahlilan menggunakan qiyas2 bathil contoh: sodaqoh disamakan dgn tahlilan,mbaca al-quran disamakan dgn tahlilan,do’a disamakan tahlilan .dan hanya prasangka2an memurut hawa nafsu sendiri bahwa ini amalan yg baik.nah qiyas2 seperti inilah yg membuka pintu2 ke-bid’ahan..
    Diperbolehkan belum tentu dibenarkan mas..

    Mudah2an bisa di fahami
    Barokallohum fiik

    Jazakallahu khairan atas tanggapannya,..

    • saya
      Januari 25, 2012 pada 7:47 am | #41

      saya akan menangapi komentar anda apabila komentar saya ini di jawab dulu sama admin..

      kalau memang anda percaya allah bersemayam di atas arsy..
      bagaimana dengan ini :

      Dan Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku (Palestina), yang akan memberiku petunjuk.” (QS. al-Shaffat : 99).

      Maksudnya Ibrahim pergi ke suatu negeri untuk menyembah Allah dan berdakwah disana

      Satu contoh lagi, mudah-mudahan Allah memberi pemahaman dan petunjuk kepada anda dan kaum muslimin semuanya, jika ada seseorang yang berbuat maksiat, apa nasehat kita kepadanya? Jika ada yang mengatakan,
      “Bertaubatlah, kembalilah kepada Allah, agar kamu mendapat petunjuk,.. apakah ini maksudnya dia tahu dimana allah berada, lalu dia menuju kepadanya?

      Tentu ini penafsiran yang aneh sekali,.. dan sebenarnya orang yang bodoh sekalipun akan menegetahui maksud dari kembali kepada Allah,..

      Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. al-Hadid : 4)

      Ayat ini tidak menunjukkan bahwa dzat Allah Ta’ala berada di segala tempat. Karena jika demikian tentu konsekuensinya Allah juga berada di tempat-tempat kotor dan najis, selain itu jika Allah berada di segala tempat artinya Allah berbilang-bilang jumlahnya.

      Subhanallah, Maha Suci Allah dari semua itu.

      Maka yang benar, Allah Ta’ala Yang Maha Esa berada di atas Arsy namun dekat bersama hambanya. Jika kita mau memahami, sesungguhnya tidak ada yang bertentangan antara dua pernyataan tersebut.

      Karena kata ma’a (bersama) dalam ayat tersebut, bukanlah kebersamaan sebagaimana dekatnya makhluk dengan makhluk, karena Allah tidak serupa dengan makhluk. Dengan kata lain, jika dikatakan Allah bersama makhluk-Nya bukan berarti Allah menempel atau berada di sebelah makhluk-Nya apalagi bersatu dengan makhluk-Nya.

      Syaikh Muhammad Al-Utsaimin menjelaskan hal ini:

      “Allah bersama makhluk-Nya dalam arti mengetahui, berkuasa, mendengar, melihat, mengatur, menguasai dan makna-makna lain yang menyatakan ke-rububiyah-an Allah sambil bersemayam di atas Arsy di atas makhluk-Nya” (Qowaaidul Mutslaa, Bab Syubuhaat Wa Jawaabu ‘anha) .

      Ketika berada di dalam gua bersama Rasulullah karena dikejar kaum musyrikin, Abu Bakar radhiallahu’anhu merasa sedih sehingga Rasulullah membacakan ayat Qur’an, yang artinya:

      “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” (QS. Taubah: 40)

      Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini:

      “ ’Allah bersama kita’ yaitu dengan pertolongan-Nya, dengan bantuan-Nya dan kekuatan dari-Nya”. Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya:

      “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku qoriib (dekat). Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu” (QS. Al Baqarah: 186)

      Dalam ayat ini pun kata qoriib (dekat) tidak bisa kita bayangkan sebagaimana dekatnya makhluk dengan makhluk.

      Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini:

      “Sesungguhnya Allah Maha Menjaga dan Maha Mengetahui. Mengetahui yang samar dan tersembunyi. Mengetahui mata yang berkhianat dan hati yang ketakutan. Dan Allah juga dekat dengan hamba-Nya yang berdoa, sehingga Allah berfirman ‘Aku mengabulkan doa orang yang berdoa jika berdoa kepada-Ku’ ”.

      Kemudian dijelaskan pula: “Doa ada 2 macam, doa ibadah dan doa masalah.

      Dan kedekatan Allah ada 2 macam, dekatnya Allah dengan ilmu-Nya terhadap seluruh makhluk-Nya, dan dekatnya Allah kepada hambaNya yang berdoa untuk mengabulkan doanya” (Tafsir As Sa’di).

      Jadi, dekat di sini bukan berarti menempel atau bersebelahan dengan makhluk-Nya. Hal ini sebenarnya bisa dipahami dengan mudah.

      Dalam bahasa Indonesia pun, tatkala kita berkata ‘Budi dan Tono sangat dekat’, bukan berarti mereka berdua selalu bersama kemanapun perginya, dan bukan berarti rumah mereka bersebelahan.

      Ketika kita berjalan di malam hari, dan pada saat itu ada yang berkata:
      “kita berjalan bersama rembulan” …
      Apakah rembulan ikut berjalan disamping kita?

      • Januari 25, 2012 pada 9:20 am | #42

        Tambahan buat yg belum paham,

        Pertanyaan:

        Bagaimana pandangan hukum Islam terhadap jawaban sebagian orang, “Allah berada di mana-mana,” bila ia ditanya, “Dimanakah Allah?” Apakah jawaban seperti ini sepenuhnya benar?

        Jawaban:

        Jawaban seperti ini sepenuhnya batil! Apabila seorang ditanya, “Dimanakah Allah?” maka hendaklah ia menjawab, “Di langit,” seperti yang dikemukakan oleh seorang perempuan yang ditanya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dimanakah Allah?” Dia menjawab, “Di langit.”

        Adapun orang yang menjawab dengan kata-kata “Allah itu ada” maka jawaban ini sangat samar dan menyesatkan. Orang yang mengatakan bahwa Allah itu ada di mana-mana dengan pengertian bahwa dzat Allah ada di mana-mana, maka orang tersebut menjadi kafir karena ia telah mendustakan keterangan-keterangan agama, bahkan dalil-dalil wahyu dan akal serta fitrah. Allah berada di atas segala makhluk. Dia berada di atas semua langit, bersemayam di atas ‘Arsy. (Majmu’ Fataawa wa Rasaail, juz 1, hlm. 132–133, Syekh Ibnu Utsaimin)

        Sumber: Fatwa Kontemporer Ulama Besar Tanah Suci, Media Hidayah, cetakan 1 Tahun 2003.
        (Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi http://www.konsultasisyariah.com)

      • Januari 25, 2012 pada 9:26 am | #43

        Ini mas/mba, saya bawakan perkataan Syeikhul islam ibnu taimiyah tentang kebersamaan Allah,..

        Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:
        “Dzahir ayat ini menunjukkan bahwa makna ma’iyyah yang sesuai dengan konteksnya adalah memperhatikan, menyaksikan, menjaga, dan mengetahui tentang kalian.
        Inilah maksud perkataan salaf:
        ‘Bersama mereka dengan ilmuNya’. Dan ini adalah dzahir ayat dan hakikatnya (bukan ta’wil).

        (Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Juz V hal. 103)

        mudah-mudahan tidak bingung lagi mas/mba “saya”

      • saya
        Januari 25, 2012 pada 3:06 pm | #44

        kalau menurut anda ALLAH itu berada di Arsy, lalu sebelum adanya Arsy ALLAH itu berada dimana om?
        tolong di jelaskan.

        bukan menurut saya kalau Allah itu berada di atas Arsy, ingat, bukan di Arsy,

        Allah Ta’ala dalam Al Qur’anul Karim banyak sekali mensifati diri-Nya berada di atas Arsy yaitu di atas langit. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

        “Allah Yang Maha Pemurah bersemayam di atas Arsy” (QS. Thaha: 5)

        Ayat ini jelas dan tegas menerangkan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy. Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya:

        “Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang di langit (yaitu Allah) kalau Dia hendak menjungkir-balikkan bumi beserta kamu sekalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang” (QS. Al Mulk: 16)

        Juga ayat lain yang artinya:

        “Malaikat-malaikat dan Jibril naik kepada Rabb-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun” (QS. Al-Ma’arij: 4). Ayat pun ini menunjukkan ketinggian Allah.

        Apakah anda tidak percaya dengan perkataan Allah dalam Alquran?
        Apakah anda sadar mengatakan hal tersebut?

        Apa manfaatnya bagi anda menanyakan tentang dzat Allah, bagaimana dengan Allah, sedangkan Allah itu maha kuasa, dan akal kita tidak akan bisa tuk memikirkan dzat Allah, dan dalam hal ini ada larangan tuk memikirkan tentang dzat Allah,
        Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

        يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُوْلُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُوْلَ: مَنْ خَلَقَ اللهَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ وَلْيَنْتَهِ. – وَفِي لَفْظٍ: فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ -

        “Setan akan mendatangi salah seorang dari kalian lalu membisikkannya: ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ Sampai kemudian ia akan membisikkan: ‘Siapa yang menciptakan Allah?’ Jika dia sampai pada tingkatan itu maka hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah, dan berhenti.” (Shahih Al-Bukhari no. 3276 dan Shahih Muslim no. 134)

        Dan jika Allah tidak menjelaskan dimana Allah ketika Arsy belum diciptakan, maka kita tidak perlu bertanya tentang apa-apa yang tidak Allah jelaskan,..

        Allah saja tidak menjelaskan, lalu bagaimana kita sebagai manusia mengetahuinya?

        Terhadap berita yang Allah kabarkan saja banyak yang tidak mengetahuinya, lalu apa manfaatnya anda bertanya tentang sesuatu yang tidak dikabarkan oleh Allah?
        Takutlah kita kepada tipu daya setan tuk menggelincirkan kita ke dalam murka Allah,

        Sebagai bahan masukan buat anda, tentang apa itu Arsy Allah,
        وعن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : ((ما بين السماء القصوى والكرسي خمسمائة عام، وبين الكرسي والماء كذلك، والعرش فوق الماء، والله فوق العرش، ولا يخفى عليه شيء من أعمالكم)). رواه اللالكائي والبيهقي، بإسناد صحيح عنه
        “Dan dari ‘Abdullah bin Mas’uud radliyllaahu ‘anhu, ia berkata : ‘Jarak antara langit yang paling tinggi dengan kursi adalah limaratus tahun. Begitu juga jarak antara kursi dengan air. Dan ‘Arsy berada di atas air. Dan Allah berada di atas ‘Arsy, tidak ada sesuatupun tersembunyi atas-Nya dari amal-amal kalian’. Diriwayatkan oleh Al-Laalikaa’iy dan Al-Baihaqiy dengan sanad shahih darinya” [Al-‘Arsy, 2/129, tahqiq : Prof. Muhammad bin Khaliifah At-Tamiimiy)

    • yaya sunarya
      Maret 17, 2012 pada 11:04 am | #45

      yes…ana setuju sekali dengan pendapat antum….

  28. saya
    Januari 24, 2012 pada 3:47 pm | #46

    Diceritakan oleh Qutaibah bin Sa’id, diceritakan oleh Jarir, dari A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT mempunyai para malaikat yang banyak menjalankan keutamaan. Mereka mencari majelis-majelis zikir. Apabila mereka menemukan sebuah majelis yang didalamnya mengumandangkan zikir, maka mereka (para malaikat) duduk bersama mereka dan sebagian mereka (para malaikat) berkerumunan diantara sebagian mereka (manusia) dengan membentangkan sayap-sayapnya hingga memenuhi sesuatu diantara meraka dan langit dunia. Apabila mereka majelis zikir telah selesai, mereka (para malaikat) naik kembali kelangit. Allah SWT bertanya kepada mereka (malaikat) yang sebenarnya Dia lebih mengetahui dari mereka, “dari mana kalian datang ?” Mereka (para malaikat) menjawab : “Kami datang dari hamba-hambamu dibumi, mereka bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid dan memohon kepadaMu.” Allah SWT bertanya, “Mereka (manusia) minta apa kepadaKu ?” mereka menjawab : “Mereka memohon SurgaMu”. Allah SWT bertanya, “Apakah mereka (manusia) melihat SurgaKu ?” Mereka (malaikat) menjawab : “Tidak, wahai Tuhan Kami” Allah SWT bertanya, “Bagaimana jika mereka melihat SurgaKu ?” Mereka menjawab : “Mereka pasti minta perlindungan kepadaMu”. Allah SWT bertanya, “Dari apa mereka minta perlindungan kepadaKu ?” mereka menjawab : “Dari NerakaMu, wahai Tuhan kami.” Allah SWT bertanya, “Apakah mereka melihat NerakaKu ?” mereka menjawab :”Tidak”. Allah SWT bertanya : “Bagaimana jika mereka melihat nerakaKu?”. Mereka menjawab : “Mereka pasti akan minta ampunan padaMu.” Allah berfirman : “Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka minta dan Aku memberikan Pahala sebagaimana yang mereka minta.” Para malaikat berkata : “Wahai Tuhan, dalam kelompok itu ada fulan, seorang hamba yang berbuat dosa. Bahwasannya dia pergi, biasanya dia bersama mereka”. Allah SWT berfirman : “Baginya Aku telah ampuni, Mereka adalah satu kelompok, salah seorang anggotanya tidak bisa mencelakakan mereka”. (HR. Muslim, Baab Majaalis adz-Dzikr, juz 10), juga (HR. Bukhari, Baab Fadhl Allah Ta’ala, Juz 8 hal. 86-87

    Terimakasih atas nukilan haditsnya,
    Saya nukilkan bunyi hadits dan terjemahan yang benarnya, silahkan baca, dan baca juga faidah dari hadits tersebut:
    Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim :

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمِ بْنِ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا سُهَيْلٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّارَةً فُضُلًا يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ فَيَقُولُونَ جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِي الْأَرْضِ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيُهَلِّلُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيَسْأَلُونَكَ قَالَ وَمَاذَا يَسْأَلُونِي قَالُوا يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا لَا أَيْ رَبِّ قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا وَيَسْتَجِيرُونَكَ قَالَ وَمِمَّ يَسْتَجِيرُونَنِي قَالُوا مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا لَا قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا وَيَسْتَغْفِرُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا قَالَ فَيَقُولُونَ رَبِّ فِيهِمْ فُلَانٌ عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ قَالَ فَيَقُولُ وَلَهُ غَفَرْتُ هُمْ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

    Muhammad bin Hatim bin Maimun menuturkan kepada kami. Dia berkata; Bahz menuturkan kepada kami. Dia berkata; Wuhaib menuturkan kepada kami. Dia berkata; Suhail menuturkan kepada kami dari ayahnya dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala memiliki para malaikat khusus yang senantiasa berkeliling mencari di mana adanya majelis-majelis dzikir. Apabila mereka menemukan sebuah majelis yang padanya terdapat dzikir maka mereka pun duduk bersama orang-orang itu dan meliputi mereka satu sama lain dengan sayap-sayapnya sampai-sampai mereka memenuhi jarak antara orang-orang itu dengan langit terendah, kemudian apabila orang-orang itu telah bubar maka mereka pun naik menuju ke atas langit” Nabi berkata, “Maka Allah ‘azza wa jalla pun bertanya kepada mereka sedangkan Dia adalah yang paling mengetahui keadaan mereka, ‘Dari mana kalian datang?’. Para malaikat itu menjawab, ‘Kami datang dari sisi hamba-hamba-Mu yang ada di bumi. Mereka mensucikan-Mu (bertasbih), mengagungkan-Mu (bertakbir), mengucapkan tahlil, dan memuji-Mu (bertahmid), serta meminta (berdo’a) kepada-Mu.’ Lalu Allah bertanya, ‘Apa yang mereka minta kepada-Ku?’. Para malaikat itu menjawab, ‘Mereka meminta kepada-Mu surga-Mu.’ Allah bertanya, ‘Apakah mereka telah melihat surga-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Belum wahai Rabbku.’ Allah mengatakan, ‘Lalu bagaimana lagi jika mereka benar-benar telah melihat surga-Ku?’. Para malaikat itu berkata, ‘Mereka juga meminta perlindungan kepada-Mu.’ Allah bertanya, ‘Dari apakah mereka meminta perlindungan-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Mereka berlindung dari neraka-Mu, wahai Rabbku’. Maka Allah bertanya, ‘Apakah mereka pernah melihat neraka-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Belum, wahai Rabbku.’ Lalu Allah mengatakan, ‘Lalu bagaimanakah lagi jika mereka telah melihat neraka-Ku.’ Mereka mengatakan, ‘Mereka meminta ampunan kepada-Mu.’ Maka Allah mengatakan, ‘Sungguh Aku telah mengampuni mereka. Dan Aku telah berikan apa yang mereka minta dan Aku lindungi mereka dari apa yang mereka minta untuk berlindung darinya.’.” Nabi bersabda, “Para malaikat itu berkata, ‘Wahai Rabbku, di antara mereka ada si fulan, seorang hamba yang telah banyak melakukan dosa, sesungguhnya dia hanya lewat kemudian duduk bersama mereka.’.” Nabi mengatakan, “Maka Allah berfirman, ‘Dan kepadanya juga Aku akan ampuni. Orang-orang itu adalah sebuah kaum yang teman duduk mereka tidak akan binasa.’.” (HR. Muslim dalam Kitab ad-Dzikr wa ad-Du’a wa at-Taubah wa al-Istighfar, hadits no. 2689, lihat Syarh Muslim [8/284-285] cetakan Dar Ibn al-Haitsam)

    Hadits yang mulia ini memberikan banyak pelajaran penting bagi kita, di antaranya adalah :

    1. Hadits ini menunjukkan tentang keutamaan dzikir dan majelis dzikir serta duduk bersama orang-orang yang berdzikir (Syarh Nawawi [8/285])
    2. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan duduk bersama orang-orang soleh (Syarh Nawawi [8/285])
    3. Di dalamnya juga terkandung iman kepada para malaikat dan bahwasanya mereka itu adalah makhluk nyata bukan khayalan, dan malaikat tersebut memiliki sayap. Dan Allah tidak membutuhkan malaikat
    4. Hadits ini juga menunjukkan disyari’atkannya membuat majelis dzikir yang di dalamnya mereka mengingat Allah, memuji, dan mengagungkan-Nya, mensucikan dan memohon ampunan-Nya. Namun ini bukan berarti berdzikir secara berjama’ah yang banyak dikenal oleh orang pada jaman sekarang. Yang dimaksud adalah memperbanyak dzikir tersebut secara sendiri-sendiri di dalam majelis tersebut tanpa perlu dikomando. Hal ini berdasarkan atsar Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu yang mengingkari perbuatan orang-orang yang melakukan hal semacam itu. Dan hendaknya dzikir itu dengan suara yang pelan, tidak perlu dikeras-keraskan.
    5. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan bacaan tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir dibandingkan bacaan dzikir yang lain.
    6. Penetapan sifat Allah al-Kalam/berbicara demikian juga al-’Ilmu/mengetahui
    7. Disyari’atkannya berdoa kepada Allah agar masuk surga dan selamat dari neraka
    8. Di dalamnya juga terkandung dorongan untuk beramal saleh supaya masuk ke dalam surga
    9. Di dalamnya juga terkandung peringatan dan ancaman agar menjauhi amal-amal buruk aagar tidak terjerumus ke neraka
    10. Surga dipenuhi dengan kenikmatan sedangkan neraka dipenuhi dengan kesengsaraan
    11. Iman kepada surga dan neraka
    12. Hadits ini menunjukkan keutamaan beriman kepada perkara gaib
    13. Penetapan salah satu nama Allah yaitu Rabb
    14. Bolehnya menyeru Allah dengan lafazh Ya Rabbi (wahai Rabbku)
    15. Disyari’atkannya untuk meminta ampunan kepada Allah
    16. Hadits ini juga menunjukkan kemurahan Allah ta’ala
    17. Hadits ini menunjukkan bahwa Allah itu tinggi berada di atas langit
    18. Duduk di majelis ilmu merupakan sebab terampuninya dosa dan terkabulnya doa
    19. Dan faidah lainnya yang belum saya ketahui, wallahu a’lam.

    Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

    Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
    Artikel Muslim.Or.Id

    • saya
      Januari 25, 2012 pada 3:33 am | #47

      17. Hadits ini menunjukkan bahwa Allah itu tinggi berada di atas langit.
      menurut anda allah tu berada di atas langit?

      Saya balik nanya ke anda, jujur saja mas jawabnya,.. anda kalau berdoa kemana tangan anda mengarahnya? ke atas atau bukan ya?
      Kemana pandangan anda ketika meminta sambil menengadahkan tangannya?

      Emang langit ada berapa lapis mas? langit yang kelihatan itu adalah langit dunia, masih ada langit lagi diatasnya, langit berlapis 7, dan diatas langit ada arsy Allah, dan Allah bersemayam diatas arsy,

      dan saya mengimani apa yang disampaikan oleh Rasulullah melalui haditsnya yg shahih,.. apakah anda tidak percaya??

      • saya
        Januari 25, 2012 pada 3:35 am | #48

        menurut anda apakah boleh berkurban dengan kerbau atau kambing?

        saya bukan pembuat syariat, jadi ngga bisa anda bertanya kepada saya tentang bolehnya kurban dengan kambing atau kerbau,..

        saya nukilkan hadits dari Rasulullah, juga perkataan para ulama saja,

        Kurban dengan kambing, boleh, ini dalilnya:
        Seekor kambing cukup untuk qurban satu keluarga, dan pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga meskipun jumlahnya banyak atau bahkan yang sudah meninggal dunia. Sebagaimana hadits Abu Ayyub radhiyallahu’anhu yang mengatakan, ”Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.” (HR. Tirmidzi dan beliau menilainya shahih. Lihat Minhaajul Muslim, 264 dan 266).

        Kurban dengan kerbau? saya sampaikan pendapat tentang bolehnya kurban dengan kerbau,

        Para ulama’ menyamakan kerbau dengan sapi dalam berbagai hukum dan keduanya dianggap sebagai satu jenis (Mausu’ah Fiqhiyah Quwaithiyah 2/2975).

        Ada beberapa ulama yang secara tegas membolehkan berqurban dengan kerbau, dari kalangan Syafi’iyah (lih. Hasyiyah Al Bajirami) maupun dari Hanafiyah (lih. Al ‘Inayah Syarh Hidayah 14/192 dan Fathul Qodir 22/106).

        Mereka menganggap keduanya satu jenis. Jadi bisa kita katakan bahwa berkurban dengan kerbau, hukumnya sah. Wallahu a’lam.

        Apa maksud anda bertanya seperti ini?
        Apakah buat mengkiaskan antara tahlil dan tahlilan?? maaf jika salah dugaan saya,.. hanya menerka-nerka saja,.. karena anda berkomentar tidak nyambung, apa hubungannya tahlilan dengan kurban?

      • saya
        Januari 25, 2012 pada 5:52 am | #49

        kadang saya berdoa sambil bersujud,tidak melulu tangan menghadap keatas,,

        Perhatikanlah orang yang berdoa, atau orang yang berada dalam ketakutan, kemana ia akan menengadahkan tangannya untuk berdoa dan memohon pertolongan?

        Bahkan seseorang yang tidak belajar agama pun, karena fitrohnya, akan menengadahkan tangan dan pandangan ke atas langit untuk memohon kepada Allah Ta’ala, bukan ke kiri, ke kanan, ke bawah atau yang lain.

        Kaum muslimin wajib mengimani bahwa Allah bersemayam diatas arsy nya, sebagaimana dalam ayat alquran dan hadits,
        Orang yang mengingkari ayat-ayat tentang bersemayamnya Allah diatas arsy, bisa menyebabkan pelakunya keluar dari islam, karena berarti ia telah mengingkari ayat-ayat alquran itu sendiri, resikonya berat sekali,

        Dalil Sifat Istiwa’

        Sifat istiwa’ adalah salah satu sifat Allah yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk diriNya dalam tujuh ayat Al-Quran, yaitu Surat Al-A’raf: 54, Yunus: 3, Ar-Ra’d: 2, Al-Furqan: 59, As-Sajdah: 4 dan Al-Hadid: 4, semuanya dengan lafazh:

        ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

        Artinya:

        “Kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).”

        Dan dalam Surat Thaha 5 dengan lafazh:

        الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

        Artinya:

        “Yang Maha Penyayang di atas ‘Arsy (singgasana) berada.”

        Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam juga telah menetapkan sifat ini untuk Allah dalam beberapa hadits, diantaranya:

        1. Hadits Abu Hurairah rodiallahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda:

        لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ -فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ- إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي

        “Ketika Allah menciptakan makhluk (maksudnya menciptakan jenis makhluk), Dia menuliskan di kitab-Nya (Al-Lauh Al-Mahfuzh) – dan kitab itu bersama-Nya di atas ‘Arsy (singgasana) – : “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

        2. Hadits Abu Hurairah rodiallahu’anhu bahwa Nabi shollallahu’alaihiwasallam memegang tangannya (Abu Hurairah) dan berkata:

        يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، إِنَّ اللهَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرَضِيْنَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ، ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

        “Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi serta apa-apa yang ada diantara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).” (HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra, dishahihkan Al-Albani dalam Mukhtasharul ‘Uluw)

        3. Hadits Qatadah bin An-Nu’man rodiallahu’anhu bahwa ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda:

        لَمَّا فَرَغَ اللهُ مِنْ خَلْقِهِ اسْتَوَى عَلَى عَرْشِهِ.

        “Ketika Allah selesai mencipta, Dia berada di atas ‘Arsy singgasana-Nya.” (Diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam As-Sunnah, dishahihkan oleh Ibnul Qayyim dan Adz-Dzahabi berkata: Para perawinya tsiqah)

        kalau memang anda percaya allah bersemayam di atas arsy..
        bagaimana dengan ini :

        Dan Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku (Palestina), yang akan memberiku petunjuk.” (QS. al-Shaffat : 99).

        Maksudnya Ibrahim pergi ke suatu negeri untuk menyembah Allah dan berdakwah disana

        Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. al-Hadid : 4)

        Ayat ini tidak menunjukkan bahwa dzat Allah Ta’ala berada di segala tempat. Karena jika demikian tentu konsekuensinya Allah juga berada di tempat-tempat kotor dan najis, selain itu jika Allah berada di segala tempat artinya Allah berbilang-bilang jumlahnya.

        Subhanallah, Maha Suci Allah dari semua itu.

        Maka yang benar, Allah Ta’ala Yang Maha Esa berada di atas Arsy namun dekat bersama hambanya. Jika kita mau memahami, sesungguhnya tidak ada yang bertentangan antara dua pernyataan tersebut.

        Karena kata ma’a (bersama) dalam ayat tersebut, bukanlah kebersamaan sebagaimana dekatnya makhluk dengan makhluk, karena Allah tidak serupa dengan makhluk. Dengan kata lain, jika dikatakan Allah bersama makhluk-Nya bukan berarti Allah menempel atau berada di sebelah makhluk-Nya apalagi bersatu dengan makhluk-Nya.

        Syaikh Muhammad Al-Utsaimin menjelaskan hal ini:

        “Allah bersama makhluk-Nya dalam arti mengetahui, berkuasa, mendengar, melihat, mengatur, menguasai dan makna-makna lain yang menyatakan ke-rububiyah-an Allah sambil bersemayam di atas Arsy di atas makhluk-Nya” (Qowaaidul Mutslaa, Bab Syubuhaat Wa Jawaabu ‘anha) .

        Ketika berada di dalam gua bersama Rasulullah karena dikejar kaum musyrikin, Abu Bakar radhiallahu’anhu merasa sedih sehingga Rasulullah membacakan ayat Qur’an, yang artinya:

        “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” (QS. Taubah: 40)

        Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini:

        “ ’Allah bersama kita’ yaitu dengan pertolongan-Nya, dengan bantuan-Nya dan kekuatan dari-Nya”. Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya:

        “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku qoriib (dekat). Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu” (QS. Al Baqarah: 186)

        Dalam ayat ini pun kata qoriib (dekat) tidak bisa kita bayangkan sebagaimana dekatnya makhluk dengan makhluk.

        Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini:

        “Sesungguhnya Allah Maha Menjaga dan Maha Mengetahui. Mengetahui yang samar dan tersembunyi. Mengetahui mata yang berkhianat dan hati yang ketakutan. Dan Allah juga dekat dengan hamba-Nya yang berdoa, sehingga Allah berfirman ‘Aku mengabulkan doa orang yang berdoa jika berdoa kepada-Ku’ ”.

        Kemudian dijelaskan pula: “Doa ada 2 macam, doa ibadah dan doa masalah.

        Dan kedekatan Allah ada 2 macam, dekatnya Allah dengan ilmu-Nya terhadap seluruh makhluk-Nya, dan dekatnya Allah kepada hambaNya yang berdoa untuk mengabulkan doanya” (Tafsir As Sa’di).

        Jadi, dekat di sini bukan berarti menempel atau bersebelahan dengan makhluk-Nya. Hal ini sebenarnya bisa dipahami dengan mudah.

        Dalam bahasa Indonesia pun, tatkala kita berkata ‘Budi dan Tono sangat dekat’, bukan berarti mereka berdua selalu bersama kemanapun perginya, dan bukan berarti rumah mereka bersebelahan.

        Ketika kita berjalan di malam hari, dan pada saat itu ada yang berkata:
        “kita berjalan bersama rembulan” …
        Apakah rembulan ikut berjalan disamping kita?

  29. saya
    Januari 24, 2012 pada 8:19 am | #50

    Apakah do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh itu pahalanya akan sampai kepada orang mati? Dalam hal ini ada segolongan yang yang berkata bahwa do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh tidak sampai pahalanya kepada orang mati dengan alasan dalilnya, sebagai berikut:

    وَاَنْ لَيْسَ لِلْلاِءنْسنِ اِلاَّ مَاسَعَى

    “Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39)

    Juga hadits Nabi MUhammad SAW:

    اِذَامَاتَ ابْنُ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ

    “Apakah anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.”

    Mereka sepertinya, hanya secara letterlezk (harfiyah) memahami kedua dalil di atas, tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lain. Sehingga kesimpulan yang mereka ambil, do’a, bacaan Al-Qur’an, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang mati. Pemahaman itu bertentangan dengan banyak ayat dan hadits Rasulullah SAW beberapa di antaranya :

    وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلاِءخْوَنِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلاِءْيمن

    “Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)

    Dalam hal ini hubungan orang mu’min dengan orang mu’min tidak putus dari Dunia sampai Akherat.

    وَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنتِ

    “Dan mintalah engkau ampun (Muhammad) untuk dosamu dan dosa-dosa mu’min laki dan perempuan.” (QS Muhammad 47: 19)

    سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِى مَاتَتْ افَيَنْفَعُهَا اِنْ تَصَدَّقْتَ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ

    “Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi SAW; Ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah mati, apakah berguna bagi saya, seandainya saua bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; yaa berguna untuk ibumu.” (HR Abu Dawud).

    Dan masih banyak pula dalil-dalil yang memperkuat bahwa orang mati masih mendapat manfa’at do’a perbuatan orang lain. Ayat ke 39 Surat An-Najm di atas juga dapat diambil maksud, bahwa secara umum yang menjadi hak seseorang adalah apa yang ia kerjakan, sehingga seseorang tidak menyandarkan kepada perbuatan orang, tetapi tidak berarti menghilangkan perbuatan seseorang untuk orang lain.

    Di dalam Tafsir ath-Thobari jilid 9 juz 27 dijelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan tatkala Walid ibnu Mughirah masuk Islam diejek oleh orang musyrik, dan orang musyrik tadi berkata; “Kalau engkau kembali kepada agama kami dan memberi uang kepada kami, kami yang menanggung siksaanmu di akherat”.

    Maka Allah SWT menurunkan ayat di atas yang menunjukan bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain, bagi seseorang apa yang telah dikerjakan, bukan berarti menghilangkan pekerjaan seseorang untuk orang lain, seperti do’a kepada orang mati dan lain-lainnya.

    Dalam Tafsir ath-Thobari juga dijelaskan, dari sahabat ibnu Abbas; bahwa ayat tersebut telah di-mansukh atau digantikan hukumnya:

    عَنِ ابْنِى عَبَّاسٍ: قَوْلُهُ تَعَالى وَأَنْ لَيْسَ لِلاِءنْسنِ اِلاَّ مَا سَعَى فَأَنْزَلَ اللهُ بَعْدَ هذَا: وَالَّذِيْنَ أَمَنُوْاوَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِيَتُهُمْ بِاِءْيمنٍ أَلْحَقْنَابِهِمْ ذُرِيَتَهُمْ فَأَدْخَلَ اللهُ الأَبْنَاءَ بِصَلاَحِ اْلابَاءِاْلجَنَّةَ

    “Dari sahabat Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT Tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dikerjakan, kemudian Allah menurunkan ayat surat At-Thuur; 21. “dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, maka Allah memasukkan anak kecil ke surga karena kebaikan orang tua.”

    Syaekhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ Fatawa jilid 24, berkata: “Orang yang berkata bahwa do’a tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik, pahalanya tidak sampai kepada orang mati,” mereka itu ahli bid’ah, sebab para ulama’ telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfa’at dari do’a dan amal shaleh orang yang hidup.

    Terimakasih telah menukilkan dalil-dalil baik dari ayat alquran ataupun hadits-hadits Rasulullah, juga fatwa ulama,..

    Hendaknya baca pula penjelasan para ulama dalam hal ini, bukan penafsiran sendiri,..

    Jika anda jeli dan teliti, dari paparan diatas tidak ada sama sekali satu dalilpun yang menunjukan adanya ritual tahlilan kematian,..

    • wong_Negaradaha
      Maret 22, 2012 pada 1:47 am | #51

      jika doa tidak bisa sampai ke ahli mayit, untuk apa doa allahumma’g fir lahu warham…….dst, dan kalo gitu orang mati gak usah dishalatin aja

      Kata siapa doa ngga sampai kepada mayat? kita mendoakan kaum muslimin kapan saja, insya Allah bermanfaat buat simayat, selama mayat tersebut bukan pelaku kesyirikan yang menyebabkan keluar dari islam,

      • oza
        April 6, 2012 pada 11:45 pm | #52

        membaca jawaban admin pada point ini , menyadarkan diri ini bahwa pikiran dan ilmu atau pemahaman manusia adalah terbatas.

        Betul, dan janganlah mengamalkan suatu amalan itu menurut pikiran kita, atau hawa nafsu kita, tapi mengikuti dalil, dan Rasulullah sudah menjelaskannnya kepada para sahabat, jadi kita tinggal mengikuti mereka, amal ibadah itu nunggu dalil, baru kerjakan, bukan kerjakan dulu, baru nyari-nyari dalil,

        Bersyukurlah orang yang diberi ilmu dan pemahamannnya. dan bersyukurlah orang yang telah mempelajari bahasa arab dengan baik dan benar dan hati-hatilah dalam membaca buku. terimakasih

        Membaca buku boleh, tapi harus dengan bimbingan ustadz yang berakidah benar,sesuai dengan pemahaman para sahabat, agar jalan kita tidak tersesat,

  30. walid
    Januari 23, 2012 pada 5:59 am | #53

    Anti tahlil itu biasanya mazhab wahabi

    bukan anti tahlil mas, tapi anti tahlilan

    wahabi seneng sama tahlil kok, tapi gak seneng “tahlilan”

    “tahlilan ” itu biasanya dilakukan oleh ASWAJA (ASli WAjah JAwa)

    • abuerzha
      Januari 24, 2012 pada 2:51 am | #54

      @walid:Rasulullah dan para sahabat radhiyallaahuanhum tidak pernah dan tidak mengajarkan ritual ‘TAHLILAN’ (Tahlian lhhoo bukan mbaca Tahlil)
      berarti Rasulullah beserta shahabat ‘WAHABI’ ya mas.. :) nah lhoo..
      wah bangganya ana menjadi WAHABI krn ternyata WAHABI mengikuti dan mencontoh ibadahnya Rasulullah dan para shahabat.. :)
      ayolah mas..katanya cinta Rasul kok malah ibadahnya menyelisihi ibadahnya kanjeng Rasul juga para shahabat radhiyallahuanhum..

      Jika yg dikata-katain wahabi itu orang yang beribadah sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah kepada para sahabatnya,…saya juga bangga jika dikata-katain sebagai wahabi,

      • arie
        April 6, 2012 pada 2:23 pm | #55

        Assalamu a’laikum warohmatullahi wabarakatuh.

        Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

        saya mau nanya pak ustadz, begini…saya dari kecil hidup dalam lingkungan kalangan Muhammadiyah, dari sekian banyak blog-blog seperti http://muslim.or.id http://firanda.com dan lain lain,

        belum lagi radio radio dakwah seperti radio rodja, salah satu nara sumbernya ada ustadz Zainal Abidin.

        nah dari sini saya banyak mendapat ilmu tentang Aqidah, yang jadi pertanyaan saya, kenapa dakwah beliau beliau para ustadz salaf banyak persamaan dalam ajaran di ormas Muhammadiyah…? seperti, tahlilan, maulid Nabi shalallahu a’laihi Wasalm, Isra’ Mi’raj, tawasul ke kuburan, zdikir betjamaah dan lain lain, ke semua itu di lingkungan saya tidak ada acara seperti itu.

        Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad dahlan tujuannya untuk mendakwahkan dakwah salaf, karena beliau tergerak dengan gerakan dakwah syaikh muhammmad bin abdul wahhab, KH Ahmad Dahlan ingin mengajarkan islam menurut pemahaman para sahabat, bukan untuk mengikuti ormas muhammadiyah,.. setelah KH Ahmad Dahlan meninggal, dan pergeseran2 terus terjadi, maka seperti yang sekarang kita lihat, seolah2 ormas muhammadiyah menjadi patokan kebenaran, … semua harus sesuati dengan HPT (himpunan putusan tarjih) bukan Alquran dan Sunnah menurut pemahaman para sahabat yang dipakai,

        Jadilah Muhammadiyah sejati, yaitu mengamalkan islam menurut pemahaman para sahabat, bukan menurut kebijakan ormas,

        apakah ustadz di ormas Muhammadiyah adalah dari salaf juga..?

        Ada kok tokoh2 muhammadiyah yang berakidah salaf, intinya sih, jika ada kebijakan ormas yang sesuai dengan alquran dan sunnah menurut pemahaman para sahabat, itu kita ambil, dan jika kebijakan ormas tersebut menyalahi atau menyelisihi alquran dan sunnah menurut pemahaman para sahabat, maka kita tolak,.. terlepas apapun ormasnya, ..
        Manhaj salaf bukanlah ormas, akan tetapi cara beragama, dan semua kaum muslimin wajib bermanhaj salaf, mengikuti dan mengamalkan islam menurut pemahaman para sahabat,.. silahkan baca surat attaubah ayat 100

        Ancaman bagi yang tidak mau mengikutinya, silahkan baca surat annisa ayat 115 ,

        oh ya pak ustadz, di mana saya bisa mendapatkan nomor telefon para uastadz Salaf seperti ustad Zainal Abidin atau yabg lainnya, agar saya bisa bertanya dan bisa memperdalam agama saya.

        bagi saya ustadz salaf sudah memberi keteduhan dalam kehidupan saya. baik cara penyampaian maupun nash nash yang dipakai sangat shahih dan ilmiah.

        Ya, pasti, sebab islam ini agama yang indah, jika dipahami dengan pemahaman para sahabat,.. dan nikmat terbesar dalam hidup ini, mengenal dakwah menurut pemahaman para sahabat, sebab ini adalah jalan menuju kebahagiaan di akherat kelak,

        mohon kalau ada nomornya kirim ke email saya

        Anda tinggal dimana? barangkali nanti bisa saya kasih tahu ustadz yang dekat dengan anda, atau tempat-tempat kajian islam yang dekat dengan tempat tinggal anda,

        Jazakallhu khairan.

        waiyyaka

        Saya juga dulu gede di muhammadiyah, dan kenal salaf tahun 2000an,

        Banyak kaum muslimin yang sudah berislam puluhan tahun dan kenal salaf di usia tuanya, serasa baru mengenal islam,.. tatacara wudhu aja salah, apalagi tatacara shalat,.. karena dulu islamnya ya ikut2an saja dengan lingkungan yang ada,.. begini kondisi kaum muslimin di indonesia, berislam mengikuti tradisi,… bukan mengikuti dalil yang shahih dengan pemahaman para sahabat,

        Baca juga BAGAIMANA MANHAJ MUHAMMADIYAH

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 85 pengikut lainnya.