Bagaimana hukum Tahlilan Menurut Imam Syafii?
Akhir-akhir ini kita sering mendengar kegiatan tahlil bersama, sehubungan dengan perginya orang penting di negara ini.
Kegiatan tahlilan marak dilakukan oleh sebagian orang yang ingin mendoakan agar amal ibadah yang bersangkutan diterima oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.
Saya tidak ingin berpolemik dengan membahas tentang si orang penting ini, tetapi ingin sekedar membagi yang saya baca, mengenai prosesi tahlilan tersebut. Benarkah amaliah ini benar-benar di syariatkan oleh agama ini? Dan benarkah bahwa imam Syafi’i yang diklaim sebagai madzab yang diikuti oleh sebahagian besar oleh umat Islam di negeri ini menganjurkannya atau justru MELARANGNYA?
Dalam sebuah kitab kecil, selamatan kematian atau yang biasa kita sebut tahlilan dibahas secara singkat dan padat, khususnya dari pandangan imam Syafi’i sendiri. Tujuannya adalah untuk meluruskan pemahaman yang keliru dari kegiatan ini.
Ternyata kegiatan tahlilan ini dari sejak jaman sahabat dianggap sebagai kegiatan meratap yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.
Dari Jabir bin Abdillah Al Bajaliy, ia berkata:”Kami (yakni para Sahabat semuanya) memandang/menganggap (yakni menurut mazhab kami para Sahabat) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap.”
Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah (no 1612) dengan derajat yang shahih.
Dan an niyahah/ meratap ini adalah perbuatan jahiliyyah yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam;
Diriwayatkan dalam sahih Muslim dari Abu Hurairah radiyallahu anhu. bahawa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Ada dua perkara yang masih dilakukan oleh manusia, yang kedua duanya merupakan bentuk kekufuran: mencela keturunan, dan meratapi orang mati”.
Pandangan Imam Syafii.
Nah, bagaimana dengan pandangan imam Syafii sendiri –yang katanya- mayoritas ummat Islam di Indonesia bermadzab dengannya, apakah ia sepakat dengan kebanyakan kaum muslimin ini atau justru beliau sendiri yang melarang kegiatan tahlilan ini?
Didalam kitab al Umm (I/318), telah berkata imam Syafii berkaitan dengan hal ini;
“Aku benci al ma’tam, yaitu berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbahrui kesedihan.”
Jadi, imam Syafii sendiri tidak suka dengan kegiatan tahlilan yang dilakukan sebagaimana yang banyak dilakukan oleh ummat Islam sendiri.
Membaca Al Qur’an untuk orang mati (menurut Imam Syafi’i).
Dalam Al Qur’an, di surat An Najm ayat 38 dan 39 disebutkan disana;
[53.38] (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,
[53.39] dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.
Berkaitan dengan hal ini maka Al Hafidh Ibnu Katsir menafsirkannya sebagai berikut;
“Yaitu, sebagaimana seseorang tidak akan memikul dosa orang lain, demikian juga seseorang tidak akan memperoleh ganjaran/pahala kecuali apa-apa yang telah ia usahakan untuk dirinya sendiri.
Dan dari ayat yang mulia ini, al Imam Asy Syafii bersama para ulama yang mengikutinya telah mengeluarkan suatu hukum: Bahwa Al Qur’an tidak akan sampai hadiah pahalanya kepada orang yang telah mati.
Karena bacaan tersebut bukan dari amal dan usaha mereka. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mensyariatkan umatnya (untuk menghadiahkan bacaan Qur’an kepada orang yang telah mati) dan tidak juga pernah menggemarkannya atau memberikan petunjuk kepada mereka dengan baik dengan nash (dalil yang tegas dan terang) dan tidak juga dengan isyarat (sampai-sampai dalil isyarat pun tidak ada).
Dan tidak pernah dinukil dari seorang pun Sahabat (bahwa mereka pernah mengirim bacaan Al Qur’an kepada orang yang telah mati).
Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentu para Sahabat telah mendahului kita mengamalkannya.
Dan dalam masalah peribadatan hanya terbatas kepada dalil tidak bileh dipalingkan dengan bermacam qiyas dan ra’yu (pikiran).”
Jadi, dari keterangan ibnu Katsir ini jelas bahwa perbuatan membaca Al Qur’an dengan tujuan pahalanya disampaikan kepada si mayit tidak akan sampai, dan demikianlah pandangan ulama besar yang dianut oleh sebahagian besar kaum muslimin di negeri ini.
Lantas, mengapa mereka berbeda dengan imam mereka sendiri?
Wallahu a’lam.
Rujukan: Hukum Tahlilan (Selamatan Kematian) Menurut Empat Madzab & Hukum Membaca al Qur’an untuk Mayit bersama Imam Syafii, karya ust. Abdul Hakim bin Amir Abdat.
reposting : http://thetrueideas.multiply.com/journal/item/1059







lebih baik menghindari semua ibadah yg tdk ada tuntunan dr Rosulullah, krn menurut beliau semua amal ibadah yg tdk ada tuntunan dr beliau maka tertolak.
Mhon ma’af jika salah..
“Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentulah para Shahabat telah mendahului kita mengamalkannya”
BENARKAH INI KAIDAH BESAR SEHINGGA DIJADIKAN TOLOK UKUR HALAL HARAM DALAM AGAMA KITA ?
Lebih mirip kaidahnya orang kafir ketika menolak al qur’an
Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Kalau sekiranya dia (Al Qur’an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta yang lama”. (QS 46: 11)
Dengan demikian dapat ditanyakan, apa pantas golongan yang menisbatkan diri pada SALAF membuat kaidah baru yang berawal dari ucapan kaum kafir untuk kemudian dijadikan kaidah haram halal ?
Assalamu’alaikum
mohon izin share
Assalamualaikum
waktu ana bekerja di Jeddah KSA Alhamdulillah Ana bisa ikut bimbingan belajar di Islamic center Jeddah KSA.dan sebelum ana akan kembali ke Tangerang ana sudah siap untuk bisa untuk mengamalkan sedikit ilmu yang ana dapatkan.
Hidup di tengah masyarakat yang senang melakukan Bid’ah tidak mudah dan harus hati-hati agar tidak berselisih dengan mereka.ana tinggal di sebuah perumahan dan ada acara rutin yasinan + arisan bulan.anapun selalu menghadirinya walaupun ana hanya datang dan sekedar menyimak saja buku yasin tsb.
tapi klo untuk acara 7 hari kematian dst ana akan berusaha untuk tidak menghadirinya ana hanya akan hadir pas hari kematian sampai 3 harinya untuk turut berbela sungkawa kepada Keluarganya tanpa mengikuti acara tahlilan tsb.
mohon nasehat dan saran dari antum semua apakah yang ana lakukan ini salah.
Ana kutip’tata cara wudhu aja msh salah bgaimana tata cara shalat’ ana mau tau apa yg pernah antum lihat kesalahan wudhu dan shalat yg d krjakan org lain,+bgaimana tata cara wudhu+shalat yg benar menurut al-qur’an dan hadits.mohon penjelasan+kirim ke email ana..
Assalamu alaikum.kalo pengajian salaf d daerah cempaka putih jakpus d mana ya?+stiap hari apa?tolog infonya kirim ke email ane.kalo ada no tlvnya biar lbih rinci..jajakumullah khoiron katsiron
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturrahim, …” (Muttafaqun ‘alaih, al-Bukhari 10/3…36 dan Muslim no. 85.)
Islam yang kita anut sekarang berkembang di Indonesia. Bukan di Arab atau negara timur tengah lainya.. Indonesia bukanlah negara Islam. Indonesia adalah negara Pancasila dan UUD 1945. berIslam, bukan berarti tidak bolah mengamalakan Pancasila dan UUD 1945.
Tahlilan adalah budaya asli bangsa Indonesia, dan hanya ada di Indonesia.
Pantas dan baik untuk dilestarikan. Tahlilan adalah manifestasi dari Pasal 28 UUD 1945 yg berbunyi :
” kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”
Acara Tahlilan sama sekali tidak akan mempengaruhi aqidah, sama seperti budaya MUDIK LEBARAN, ini juga budaya asli Indonesia. Rosululloh tidak pernah mengajarkan untuk mudik lebaran. Tapi kita boleh dan sah2 saja mengamalkanya. Begitupun dengan acara Tahlilan.
Tahlilan memupuk tali silaturrahmi. Tahlilan mengajarkan kita arti dan filosofi Pancasila.
PANCASILA
1. Ketuhanan yang maha esa.
: ini adalah isi dari makna dari kalimat Laa ilaha Ilallah. Tiada Tuhan selain Allah. dalam Tahlilan kalimat inilah yang paling banyak dibaca dan diucapkan oleh jamaah Tahlilan.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
: Para peserta Tahlilan bisa dipastikan berADAB. Pakaian yg dikenakan juga sopan dan beradab. Sifat dan tingkah lakunya pun santun dan beradab. Saling bertemu bersalaman dan senyuman. Tidak ada dalam acara tahlilan bertengkar ataupun baku hantam. Semua dalam situasi yang aman, damai dan tentram.
3. Persatuaan Indonesia
: Para peserta tahlilan sudah bisa dipastikan bersatu. Ukhuwah Islamiyahnya tampil. Tidak bercerai berai. Saling sambung silaturrahmi. Duduknya pun berdekatan dan sama rendah, bagaimanapun dan apapun strata sosialnya. Baik miskin atau kaya, pejabat atau rakyat, sipil maupun militer, semua sama. saling bersatu dalam kesatuan.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
: dalam acara Tahlilan pasti ada seorang pemimpin Tahlilan. Pemimpinya mempunyai sifat hikmah ( manfaat ) bagi sesamanya ( Tokoh Masyarakat setempat ) setempat, biasanya dipimpin leh Kiyai atau ustadz.. Dalam Tahlilanpun adalah perwakilan. Biasanya yang diundang satu rumah hanya diwakili satu orang, tidak seluruh keluarga diajak semua.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
: Ini sangat pas bila diartikan dalam acara tahlilan. Dalam acara Tahlilan diberlakukan sifat keadilan bagi seluruh rakyat Tahlilan. misalnya jatah makan sama, minumpun sama. Yang kaya dapat satu porsi, yang miskinpun satu porsi. Inilah keadilan. Setelah acara Tahlilan selesaipun masih mendapatkan bekal/ makanan untuk keluarga yang ada dirumah. sekali lagi porsinya sama. inilah Keadilan sosial.
Sekali lagi, Tahlilan atau istilah Tahlilan adalah budaya asli bangsa Indonesia. Budaya yang baik harus tetap dilestarikan. Jangan lagi ada klaim oleh bangsa lain.Dizaman sekarang ini, khususnya dikota2 besar yang mayoritas penduduknya super sibuk dan individual, maka dengan mengamalkan budaya Tahlilan diharapkan ada sedikit rasa kebersatuan ukhuwah Islamiyyah. Satu agama, satu negara, satu Indonesia.
kalu manaqib itu apa hukumnya
asalamualaikum
ane mau tanya nie bner gak maulid itu bidah?
dan kenapa para habib atu cucu rosullulah itu yang menyemangati maulid .
trimaksih
Awfan, ana mau tnya lagi nie..untuk kajian salaf di brebes itu dimana aja ya?
biar klo ana pulkam jadi bisa ada kegiatan..
sy aneh dengan mereka yang selalu ribut masalah bid’ah tak ada contoh dari rasululullah dll, ,
terimakasih telah berkomentar disini,
anda berani bilang gak imam syafei bapaknya bid’ah padahal amal beliau jauh bumi dan langit dengan anda.
…..renungkan
Assalamualaikum warohmatulloh..
syukron akh, atas info’a,jujur ana sudah tahu klo maulid, tahlilan,isra’ mi’raj itu tdk pernah ada pada zaman Rasul dan merupakan bid’ah yg dibuat oleh sekelompok golonganuntuk merusak syariat islam.
tp akh..
ketika ana menyampaikan hal ini kepada keluarga ana,ana malah dituduh telah terkena aliran sesat.
dan diancam akan di usir jika tdk melakukan hal2 tersebut.
Ana tdk mau jadi anak durhaka tp ana juga lebih takut dengan Azab ALLAH , lalu apa yang harus ana lakukan akh?
mohon beri ana nasihat
Jazakumullah khairan katsir..
sangat bermanfaat, jazakumullah khair..
oya ana mau tnya,apa akhi tau untuk kajian salaf di daerah jakarta, semenjak hijrah ke jakarta,ana jarang banget ikut kajian salaf..kalau akhi tau,tlong kasih info ya.
ditunggu info’nya..
Syukron katsir..
ana tinggal didaerah joglo – jakarta barat..
Wah iya tuh deket..
Jazakumullah khoiir,..
berapa banyak kyai dan ustad yang melakukan bid’ah di indonesia?
kalau berkumpul mendoakan,orang yang sudah meninggal berdosa dan memperbarui kesedihan,berarti kalau berdoa sendiri dalam sholat mendoakan orang yang sudah meninggal berarti bid’ah dan sama juga mengingat dan memperbarui kesedihan?
cuma bedanya sendirian dan satunya rame-rame,berarti mending dibiarkan saja ya,gak perlu di doakan?
kan klo tahlilan n yasinan juga membaca tahlil dan yasin yg merupakan jantung dari alquran?
mohon informasinya…..
Nabi bersabda yg dsmpaikn oleh para Ulama dan di jelaskan oleh para Ahlul ilmu..
tentang dialog antara Hudzaifah dan Nabi yg Mulia (Bukhori)..” …Akan datang suatu kaum, mereka memakai sunnah bukan dgn sunnahku, mereka memakai petunjuk bukan dgn petunjukku…” wal hal kesesatan yg ada telah disampakn oleh Nabi yg Mulia..
sungguh miris liat knyataan yg ada,, kita, keluarga kita, tetangga, kaum muslimin yg lain masih bnyak yg beramal jauh dari sunnah (tanpa ilmu),, hnya berdasarkn perasaan, ikut2an, dan hawa.. membahas masalah tanpa disiplin ilmu.. merendahkan para ulama,, menentang sunnah,, semoga Allah senantiasa memberi petunjuk dan ampunanNya..
padahal Islam dibangun atas dasar Ilmu,, dan melarang segala amal yg dilakukan tanpa dasar Ilmu.. ” dan janganlah kamu mengikuti apa yang engkau tidak memiliki ilmu/pengetahuan tentangnya..” (al israa : 36)
Kalau semua bid’ah sesat, kenapa ada bid’ah dun-yawiyah?
Nabipun melarang mengatakan munafiq pada sahabat yg masih melafadzkan laa ilaha illalloh,
kenapa kalian malah mengkafirkan umat islam seindonesia, malah sedunia yg melakukan maulid nabi?
Pdhal yg tdk merayakan maulid cuma saudi, apakah semua kafir? Weh weh weh… Hebat hebat hebat.
gini aja mas pokoknya silahkan laksanakan keyakinanmu sendiri tapi juga jangan ganggu keyakinan kami yang semua juga ada dasarnya cuman masalahnya kalian yang gak suka tahlil menganggap dalil itu lemah.maka baiknya saling menghormati aja mas, wong semua itu yang tahu persis adalah Alloh kok.benar nggak mas?
berdasarkan pengalaman saya memang pelaku bid’ah itu susah sekali untuk bertobat karena mereka menganggap amalan itu adalah “BAIK”
salah satu alasan mereka jika dikasih tahu yaitu diantaranya “kalo gitu berarti semua yang yasinan/ tahlilan sesat dong?
kalo sesat kenapa kok selama ini gak ada pemberitahuan tentang ini? (maksudnya kenapa masalah ini tidak ada dijelaskan kepada mereka di acara2 TV umum?)
mohon penjelasan ustad untuk menjawab ini, jazakallah khairan
sampai skrg kebiasaan tahlil, 40 hr 100 hr kematian itu msh ada, sebenarnya yg hrs kita lakukan memperingati kematian keluarga kita itu bagaimana? Dan kl kita diundang tahlil oleh tetangga kita wajibkah kita memenuhi undangan itu? Syukron jazakamulloh khoir.
Yang saya khawatirkan nanti sesama orang Islam saling mengucapkan “Lakum dinukum waliyadiin..” Astaghfirullah…
Diskusinya diluruskan dong……..! masak membahas ritual tahlilan kematian 7hr,40hr,dst. Disanggah argumetasinya dengan tahlilan yg sebenarnya ( membaca tahlil yg memang bagian dari dzikir).
I LIKE THIS….
Assalamualaikum,
semoga Allah mengampuni hamba-hambanya!
kasihan sekali umat ini, 1400 tahun setelah peninggalanmu ya Nabiku Muhammad SAW, kerjaannya hanya mempertahankan ego masing-masing tentang hadis-hadis dan sunnahmu, padahal semuanya darimu. seandainya saja kami dapat hidup di zamanmu, bahkan berjuang untuk dakwah denganmu, kami dapat melihat langsung sunnahmu, tanpa perlu sebuah penafsiran yang seringkali membuat umat bertengkar.
wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. sungguh islam maha sempurna.
AL QUR‘AN maha sempurna.
Ajaran atau sunah-sunah beliau Rasullullah telah sempurna.
tidak perlu di tambah atau dikurangi dengan hal-hal baru.
SEMOGA PARA AHLUBID‘AH cepat di sadarkan dari perbuatan-perbuatan BID‘AHnya. amiin…..
Kasihanilah dirimu sendiri….
Ingin kembali hidup dijaman Rosulullah adalah mustahil.
Kasihanilah dirimu sendiri….
Belum tentu diakherat nanti anda juga selamat.
Rosulullah tidak akan bisa menjamin surga atau neraka seseorang.
saya orang awam dan sedikit mengerti tentang hukum. Diskusi di atas sangat bagus, namun masalah tahlilan atau Tahlil itu tergantung pemahaman dari setiap ulama yang tentunya sudah sesuai dengan Alquan dan Assunnah, tidak mungkin para ulama mengijtihadkan sesuatu tanpa dasar yang kuat. Tahlilan hanyalah sebuah nama dari sekumpulnya orang dan isi dari kumpulan tersebut tidak lain hanyalah melantunkan ayat allah. itulah yang menjadi nilai syariatnya. sudah jelas dalil2 tentang kita dianjurkan untuk melantunkan ayat suci alquran. masalah wasilah kepada orang meninggal itu adanya perbedaan pendapat dari para ulama. maka perbedaan pemahamaan tentang memahami permasalan ini haruslah di sikapi dengan baik.
hal yang lebih penting sekarang teman2 lakukan bukan saling menyalahkan perkara yang tidak sesuai dengan pemahaman masing2, tapi lebih baik teman2 mendiskusikan hal yang lebih penting seperti ajaran2 yang jelas bertentangan dengan aqidah Islam yang banyak di negara kita. karena kalau di biarkan akan menjadi fitnah Islam.
dan yang terakhir apapun yang terjadi sudahkan kita introspeksi diri tentang diri kita, keluarga kita, saudara2 kita dengan maraknya budaya yang berpakaian yang tidak sesuai dengan syariat Islam. sebelum menunjuk salah kepada orang lain, sudahkah kita menunjuk terhadap diri kita sendiri, keluarga, saudara2 kita.
mudah2an bisa bermanfaat, saya hanyalah orang awam biasa yang sedikir hapalan hadist dan quran. wassalam
Mengungkapkan suatu ajaran yang itu tidak diajarkan oleh Rasulullah sama sekali, bukanlah berarti menyalah-nyalahkan orang-orang yang mengamalkan amalan tersebut,..
saya mau meluruskan.
1. tentang tahlilan menurut imam syafii.
di dalam kitab- kitab syafi’iyyah seperti fathul mu’in dll. bahwa menyediakan makanan kematian hukumnya makruh tidak haram. walaupun makruh, makanan yang dikeluarkan menjadi sodaqoh yang pahalanyapun bisa memberi manfaat bagi mayat. jadi yang berlaku di masyarakat itu ada perkara yang dubenci juga ada benarnya yang bernilai pahala.
imam syafii juga melakukan bertawassul dan menganjurkan kita agar bertawassul walapun dg orang- orang solih yang sudah meninggal. jangan dikira imam syafii melarangny. kalau ingin bukti silahkan hub 085865656438. nanti sy berikan syair-syair beliau yang menganjurkan untuk brtawasul.
Sebagian orang telah mengutip dan memahaminya secara membabi buta terkait ucapan Imam asy-Syafi’ rahimahullah yang terdapat dalam kitab al-Umm berikut ini :
وأكره المأتم، وهي الجماعة، وإن لم يكن لهم بكاء فإن ذلك يجدد الحزن، ويكلف المؤنة مع ما مضى فيه من الأثر
“aku menghukumi makruh Ma’tam, dan yakni sebuah kelompok, dan walaupun tidak ada tangisan bagi mereka sebab sesungguhnya itu memperbaharui kesedihan dan membebani biayai beserta apa yang pernah terjadi”.
Dari kutipan ini, sama sekali tidak ada ucapan Imam asy-Syafi’i yang mengharamkan tahlilan. Jadi, darimana isu-isu yang mengharamkan tahlilan dengan berdalil ucapan Imam asy-Syafi’i ? Mana ucapan Imam asy-Syafi’i yang mengharamkan mendo’akan muslim yang meninggal dunia, mana ucapan Imam asy-Syafi’i yang mengharamkan menghadiahkan bacaan al-Qur’an untuk muslim yang meninggal dunia, mana pula ucapan Imam asy-Syafi’i yang mengharamkan semua itu yang dilakukan dikediaman ahlul mayyit ? Jelas, ini salah satu bentuk untuk memecah belah umat Islam terutama untuk menghancurkan pondasi madzhab Syafi’i yang memang paling banyak di anut kaum Muslimin termasuk paling banyak di anut oleh Dzurriyah Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam.
mohon jelaskan per-kata menurut tata bahasa arab tulisan imam syafei berikut وأكره المأتم، وهي الجماعة، وإن لم يكن لهم بكاء فإن ذلك يجدد الحزن، ويكلف المؤنة
مع ما مضى فيه من الأثر
moderator tulis :
“Telah berkata Imamnya para Ulama, mujtahid mutlak, lautan ilmu, pembela Sunnah. Al-Imam Asy-Syafi’iy di ktabnya ‘Al-Um” (I/318).
“Aku benci al ma’tam yaitu berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan”[1]”
mohon jelaskan menurut tata bahasa arab (grammar) tulisan imam syafei tsb, saya bantu naskah tulisan asli (dlm bhs arab) asy-Syafi’ rahimahullah yang terdapat dalam kitab al-Umm berikut ini :
وأكره المأتم، وهي الجماعة، وإن لم يكن لهم بكاء فإن ذلك يجدد الحزن، ويكلف المؤنة مع ما مضى فيه من الأثر
“Yaitu, sebagaimana seseorang tidak akan memikul dosa orang lain, demikian juga seseorang tidak akan memperoleh ganjaran/pahala kecuali apa-apa yang telah ia usahakan untuk dirinya sendiri.”
klo gni adanya, brrt kita percuma donk mendo’a_kan kedua orang tua.
mendoa’kan acara pernikahan,dll
toh ujung-ujungnya gk bakal di terima jg.
mohon bimbingannya…~!!
anda itu tidak berfikir..
kalau ritual tahlil anda angap bid’ah..
terus bagaimana dengan ritual anak-anak yang berangkat sekolah setiap hari mencari ilmu dan libur di hari ahad atau jum’at..
itu juga tidak pernah dilakukan rosuluallah ataupun para sahabatnya..
apakah itu juga bid’ah..???
terus bagaimana dengan dakwah dengan artikel di internet..apakah dulu rosulullah dan para sahabatnya juga berdakwah dengan internet?komputer,laptop??
apakah itu semua termasuk hal yang baru?
sedangkan hal yang baru itu adalah bid’ah..
tolong di jelaskan om?
saya ingin menambahkan secara sederhana,,
Perkara muamalah dan syariah terdapat perbedaan yaitu muamalah selalu menunggu larangan dan syariah menunggu perintah,,sebagai contoh sederhana adalah apakah ada larangan untuk membaca surah yasiin pada saat sujud? jelas tidak ada larangan tetapi apa itu diperintahkan/dicontohkan oleh rosululloh?
Setiap amalan yg dilakukan dengan mengkhususkan waktu pengerjaannya harus dilandasi dengan dalil,,sebagai contoh tahlil, tahlil memang sebuah amalan sunnah tetapi jika ini dilakukan dengan mengkhususkan waktu pengerjaannya yaitu pada acara setelah kematian (tahlilan/pen) jelas tidak pernah dicontohkan oleh Rosululloh,
jadi, perkara Dien tidak perlu ditambah atau dikurang karena tak ada satu amalan baik pun yg tertinggal atau belum diajarkan/dicontohkan oleh beliau, secara tidak sadar para ahlul bid’ah itu merasa lebih pintar dari Rosululloh atau mengganggap rosul itu bodoh karena tidak mengetahui adanya amalan baik sehingga tidak beliau ajarkan/contohkan…na’udzubillah
mereka penganut kata mbah2 ya …bertaubatlah saudaraku…
ngomong jeung siamah kudu jeung bedog
heeuh nya keras hate anjeun mah. singket namah al qur‘an jeung sunah2 nabi teh tos sampurna make2 rek di tambah kabid‘ah an. jalmi anu ngadamel bid‘ah sami sareng jalmi anu nganggap masih kurang sampurna ajaran rasulullah. mslh kamatian jeung kalahiran teu mungkin Rasulullah kalewat ngajarkeun adab2na. hatur nuhun. from. tijalmi anu nyari rido ALLAH
bedog tidak bisa membuktikan kebenaran kang
@saya : Permasalahan sampai atau tidaknya pahala bacaan Al-Qur’an adalah permasalahan ijtihadiyah..
silahkan mau ikut yg mana..
kl antum baca tulisan diatas imam syafiie sendiri mengatakan bacaan Al-Qur’an tak akan sampai kpd si mayit dan inilah pendapat yg rojih..
nah yg ajibnya ketika orang2 islam di INdonesia bangga dgn mazhab Syafiie malah melakukan pelanggaran thp ucapan Imamnya sendiri malah lucunya menukil pendapat dari musuh mereka yaitu ulama-ulama WAHABI.
kalau mau main fair org2 yg mengaku bermazhab syafiie tidak melakukan TAHLILAN dong,betul tidak mas?
Mas.. fahami baik2 titik permasalahannya adalah CARA nya ,krn ibadah itu terikat waktu dan cara spt:sholat,puasa,zakat,zikir2,sodakoh,infaq dsb semua sdh diatur waktu dan caranya dlm kitab2 fiqh.apakah tahlilan ada cara dan waktunya??
apakah ada contoh dari Rosululloh dan para sahabatnya mengumpulkan orang2 pada acara kematian seseorang..??
coba antum renungkan bila ada coba antum cari dalil atau atsar sahabat apakah Rosululloh melakukan hal tsb?
dan rupanya kebanyakan pencinta tahlilan menggunakan qiyas2 bathil contoh: sodaqoh disamakan dgn tahlilan,mbaca al-quran disamakan dgn tahlilan,do’a disamakan tahlilan .dan hanya prasangka2an memurut hawa nafsu sendiri bahwa ini amalan yg baik.nah qiyas2 seperti inilah yg membuka pintu2 ke-bid’ahan..
Diperbolehkan belum tentu dibenarkan mas..
Mudah2an bisa di fahami
Barokallohum fiik
saya akan menangapi komentar anda apabila komentar saya ini di jawab dulu sama admin..
kalau memang anda percaya allah bersemayam di atas arsy..
bagaimana dengan ini :
Dan Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku (Palestina), yang akan memberiku petunjuk.” (QS. al-Shaffat : 99).
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. al-Hadid : 4)
Tambahan buat yg belum paham,
Pertanyaan:
Bagaimana pandangan hukum Islam terhadap jawaban sebagian orang, “Allah berada di mana-mana,” bila ia ditanya, “Dimanakah Allah?” Apakah jawaban seperti ini sepenuhnya benar?
Jawaban:
Jawaban seperti ini sepenuhnya batil! Apabila seorang ditanya, “Dimanakah Allah?” maka hendaklah ia menjawab, “Di langit,” seperti yang dikemukakan oleh seorang perempuan yang ditanya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dimanakah Allah?” Dia menjawab, “Di langit.”
Adapun orang yang menjawab dengan kata-kata “Allah itu ada” maka jawaban ini sangat samar dan menyesatkan. Orang yang mengatakan bahwa Allah itu ada di mana-mana dengan pengertian bahwa dzat Allah ada di mana-mana, maka orang tersebut menjadi kafir karena ia telah mendustakan keterangan-keterangan agama, bahkan dalil-dalil wahyu dan akal serta fitrah. Allah berada di atas segala makhluk. Dia berada di atas semua langit, bersemayam di atas ‘Arsy. (Majmu’ Fataawa wa Rasaail, juz 1, hlm. 132–133, Syekh Ibnu Utsaimin)
Sumber: Fatwa Kontemporer Ulama Besar Tanah Suci, Media Hidayah, cetakan 1 Tahun 2003.
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi http://www.konsultasisyariah.com)
Ini mas/mba, saya bawakan perkataan Syeikhul islam ibnu taimiyah tentang kebersamaan Allah,..
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:
“Dzahir ayat ini menunjukkan bahwa makna ma’iyyah yang sesuai dengan konteksnya adalah memperhatikan, menyaksikan, menjaga, dan mengetahui tentang kalian.
Inilah maksud perkataan salaf:
‘Bersama mereka dengan ilmuNya’. Dan ini adalah dzahir ayat dan hakikatnya (bukan ta’wil).
(Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Juz V hal. 103)
mudah-mudahan tidak bingung lagi mas/mba “saya”
kalau menurut anda ALLAH itu berada di Arsy, lalu sebelum adanya Arsy ALLAH itu berada dimana om?
tolong di jelaskan.
yes…ana setuju sekali dengan pendapat antum….
Diceritakan oleh Qutaibah bin Sa’id, diceritakan oleh Jarir, dari A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT mempunyai para malaikat yang banyak menjalankan keutamaan. Mereka mencari majelis-majelis zikir. Apabila mereka menemukan sebuah majelis yang didalamnya mengumandangkan zikir, maka mereka (para malaikat) duduk bersama mereka dan sebagian mereka (para malaikat) berkerumunan diantara sebagian mereka (manusia) dengan membentangkan sayap-sayapnya hingga memenuhi sesuatu diantara meraka dan langit dunia. Apabila mereka majelis zikir telah selesai, mereka (para malaikat) naik kembali kelangit. Allah SWT bertanya kepada mereka (malaikat) yang sebenarnya Dia lebih mengetahui dari mereka, “dari mana kalian datang ?” Mereka (para malaikat) menjawab : “Kami datang dari hamba-hambamu dibumi, mereka bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid dan memohon kepadaMu.” Allah SWT bertanya, “Mereka (manusia) minta apa kepadaKu ?” mereka menjawab : “Mereka memohon SurgaMu”. Allah SWT bertanya, “Apakah mereka (manusia) melihat SurgaKu ?” Mereka (malaikat) menjawab : “Tidak, wahai Tuhan Kami” Allah SWT bertanya, “Bagaimana jika mereka melihat SurgaKu ?” Mereka menjawab : “Mereka pasti minta perlindungan kepadaMu”. Allah SWT bertanya, “Dari apa mereka minta perlindungan kepadaKu ?” mereka menjawab : “Dari NerakaMu, wahai Tuhan kami.” Allah SWT bertanya, “Apakah mereka melihat NerakaKu ?” mereka menjawab :”Tidak”. Allah SWT bertanya : “Bagaimana jika mereka melihat nerakaKu?”. Mereka menjawab : “Mereka pasti akan minta ampunan padaMu.” Allah berfirman : “Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka minta dan Aku memberikan Pahala sebagaimana yang mereka minta.” Para malaikat berkata : “Wahai Tuhan, dalam kelompok itu ada fulan, seorang hamba yang berbuat dosa. Bahwasannya dia pergi, biasanya dia bersama mereka”. Allah SWT berfirman : “Baginya Aku telah ampuni, Mereka adalah satu kelompok, salah seorang anggotanya tidak bisa mencelakakan mereka”. (HR. Muslim, Baab Majaalis adz-Dzikr, juz 10), juga (HR. Bukhari, Baab Fadhl Allah Ta’ala, Juz 8 hal. 86-87
17. Hadits ini menunjukkan bahwa Allah itu tinggi berada di atas langit.
menurut anda allah tu berada di atas langit?
menurut anda apakah boleh berkurban dengan kerbau atau kambing?
kadang saya berdoa sambil bersujud,tidak melulu tangan menghadap keatas,,
kalau memang anda percaya allah bersemayam di atas arsy..
bagaimana dengan ini :
Dan Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku (Palestina), yang akan memberiku petunjuk.” (QS. al-Shaffat : 99).
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. al-Hadid : 4)
Apakah do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh itu pahalanya akan sampai kepada orang mati? Dalam hal ini ada segolongan yang yang berkata bahwa do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh tidak sampai pahalanya kepada orang mati dengan alasan dalilnya, sebagai berikut:
وَاَنْ لَيْسَ لِلْلاِءنْسنِ اِلاَّ مَاسَعَى
“Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39)
Juga hadits Nabi MUhammad SAW:
اِذَامَاتَ ابْنُ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ
“Apakah anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.”
Mereka sepertinya, hanya secara letterlezk (harfiyah) memahami kedua dalil di atas, tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lain. Sehingga kesimpulan yang mereka ambil, do’a, bacaan Al-Qur’an, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang mati. Pemahaman itu bertentangan dengan banyak ayat dan hadits Rasulullah SAW beberapa di antaranya :
وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلاِءخْوَنِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلاِءْيمن
“Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)
Dalam hal ini hubungan orang mu’min dengan orang mu’min tidak putus dari Dunia sampai Akherat.
وَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنتِ
“Dan mintalah engkau ampun (Muhammad) untuk dosamu dan dosa-dosa mu’min laki dan perempuan.” (QS Muhammad 47: 19)
سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِى مَاتَتْ افَيَنْفَعُهَا اِنْ تَصَدَّقْتَ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ
“Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi SAW; Ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah mati, apakah berguna bagi saya, seandainya saua bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; yaa berguna untuk ibumu.” (HR Abu Dawud).
Dan masih banyak pula dalil-dalil yang memperkuat bahwa orang mati masih mendapat manfa’at do’a perbuatan orang lain. Ayat ke 39 Surat An-Najm di atas juga dapat diambil maksud, bahwa secara umum yang menjadi hak seseorang adalah apa yang ia kerjakan, sehingga seseorang tidak menyandarkan kepada perbuatan orang, tetapi tidak berarti menghilangkan perbuatan seseorang untuk orang lain.
Di dalam Tafsir ath-Thobari jilid 9 juz 27 dijelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan tatkala Walid ibnu Mughirah masuk Islam diejek oleh orang musyrik, dan orang musyrik tadi berkata; “Kalau engkau kembali kepada agama kami dan memberi uang kepada kami, kami yang menanggung siksaanmu di akherat”.
Maka Allah SWT menurunkan ayat di atas yang menunjukan bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain, bagi seseorang apa yang telah dikerjakan, bukan berarti menghilangkan pekerjaan seseorang untuk orang lain, seperti do’a kepada orang mati dan lain-lainnya.
Dalam Tafsir ath-Thobari juga dijelaskan, dari sahabat ibnu Abbas; bahwa ayat tersebut telah di-mansukh atau digantikan hukumnya:
عَنِ ابْنِى عَبَّاسٍ: قَوْلُهُ تَعَالى وَأَنْ لَيْسَ لِلاِءنْسنِ اِلاَّ مَا سَعَى فَأَنْزَلَ اللهُ بَعْدَ هذَا: وَالَّذِيْنَ أَمَنُوْاوَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِيَتُهُمْ بِاِءْيمنٍ أَلْحَقْنَابِهِمْ ذُرِيَتَهُمْ فَأَدْخَلَ اللهُ الأَبْنَاءَ بِصَلاَحِ اْلابَاءِاْلجَنَّةَ
“Dari sahabat Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT Tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dikerjakan, kemudian Allah menurunkan ayat surat At-Thuur; 21. “dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, maka Allah memasukkan anak kecil ke surga karena kebaikan orang tua.”
Syaekhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ Fatawa jilid 24, berkata: “Orang yang berkata bahwa do’a tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik, pahalanya tidak sampai kepada orang mati,” mereka itu ahli bid’ah, sebab para ulama’ telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfa’at dari do’a dan amal shaleh orang yang hidup.
jika doa tidak bisa sampai ke ahli mayit, untuk apa doa allahumma’g fir lahu warham…….dst, dan kalo gitu orang mati gak usah dishalatin aja
membaca jawaban admin pada point ini , menyadarkan diri ini bahwa pikiran dan ilmu atau pemahaman manusia adalah terbatas.
Bersyukurlah orang yang diberi ilmu dan pemahamannnya. dan bersyukurlah orang yang telah mempelajari bahasa arab dengan baik dan benar dan hati-hatilah dalam membaca buku. terimakasih
Anti tahlil itu biasanya mazhab wahabi
@walid:Rasulullah dan para sahabat radhiyallaahuanhum tidak pernah dan tidak mengajarkan ritual ‘TAHLILAN’ (Tahlian lhhoo bukan mbaca Tahlil)
berarti Rasulullah beserta shahabat ‘WAHABI’ ya mas.. :) nah lhoo..
wah bangganya ana menjadi WAHABI krn ternyata WAHABI mengikuti dan mencontoh ibadahnya Rasulullah dan para shahabat.. :)
ayolah mas..katanya cinta Rasul kok malah ibadahnya menyelisihi ibadahnya kanjeng Rasul juga para shahabat radhiyallahuanhum..
Assalamu a’laikum warohmatullahi wabarakatuh.
saya mau nanya pak ustadz, begini…saya dari kecil hidup dalam lingkungan kalangan Muhammadiyah, dari sekian banyak blog-blog seperti http://muslim.or.id http://firanda.com dan lain lain,
belum lagi radio radio dakwah seperti radio rodja, salah satu nara sumbernya ada ustadz Zainal Abidin.
nah dari sini saya banyak mendapat ilmu tentang Aqidah, yang jadi pertanyaan saya, kenapa dakwah beliau beliau para ustadz salaf banyak persamaan dalam ajaran di ormas Muhammadiyah…? seperti, tahlilan, maulid Nabi shalallahu a’laihi Wasalm, Isra’ Mi’raj, tawasul ke kuburan, zdikir betjamaah dan lain lain, ke semua itu di lingkungan saya tidak ada acara seperti itu.
apakah ustadz di ormas Muhammadiyah adalah dari salaf juga..?
oh ya pak ustadz, di mana saya bisa mendapatkan nomor telefon para uastadz Salaf seperti ustad Zainal Abidin atau yabg lainnya, agar saya bisa bertanya dan bisa memperdalam agama saya.
bagi saya ustadz salaf sudah memberi keteduhan dalam kehidupan saya. baik cara penyampaian maupun nash nash yang dipakai sangat shahih dan ilmiah.
mohon kalau ada nomornya kirim ke email saya
Jazakallhu khairan.