Beranda > Belajar Nasehat, tahlilan > Bagaimana hukum Tahlilan Menurut Imam Syafii?

Bagaimana hukum Tahlilan Menurut Imam Syafii?


Akhir-akhir ini kita sering mendengar kegiatan tahlil bersama, sehubungan dengan perginya orang penting di negara ini.

Kegiatan tahlilan marak dilakukan oleh sebagian orang yang ingin mendoakan agar amal ibadah yang bersangkutan diterima oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Saya tidak ingin berpolemik dengan membahas tentang si orang penting ini, tetapi ingin sekedar membagi yang saya baca, mengenai prosesi tahlilan tersebut. Benarkah amaliah ini benar-benar di syariatkan oleh agama ini? Dan benarkah bahwa imam Syafi’i yang diklaim sebagai madzab yang diikuti oleh sebahagian besar oleh umat Islam di negeri ini menganjurkannya atau justru MELARANGNYA?

Dalam sebuah kitab kecil, selamatan kematian atau yang biasa kita sebut tahlilan dibahas secara singkat dan padat, khususnya dari pandangan imam Syafi’i sendiri. Tujuannya adalah untuk meluruskan pemahaman yang keliru dari kegiatan ini.

Ternyata kegiatan tahlilan ini dari sejak jaman sahabat dianggap sebagai kegiatan meratap yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

Dari Jabir bin Abdillah Al Bajaliy, ia berkata:”Kami  (yakni para Sahabat semuanya) memandang/menganggap (yakni menurut mazhab kami para Sahabat) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah (no 1612) dengan derajat yang shahih.

Dan an niyahah/ meratap ini  adalah perbuatan jahiliyyah yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam;

Diriwayatkan dalam sahih Muslim dari Abu Hurairah radiyallahu anhu. bahawa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam  bersabda:

“Ada dua perkara yang masih dilakukan oleh manusia, yang kedua duanya merupakan bentuk kekufuran: mencela keturunan, dan meratapi orang mati”.

Pandangan Imam Syafii.

Nah, bagaimana dengan pandangan imam Syafii sendiri –yang katanya- mayoritas ummat Islam di Indonesia bermadzab dengannya, apakah ia sepakat dengan kebanyakan kaum muslimin ini atau justru beliau sendiri yang melarang kegiatan tahlilan ini?

Didalam kitab al Umm (I/318), telah berkata imam Syafii berkaitan dengan hal ini;

“Aku benci al ma’tam, yaitu berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbahrui kesedihan.”

Jadi, imam Syafii sendiri tidak suka dengan kegiatan tahlilan yang dilakukan sebagaimana yang banyak dilakukan oleh ummat Islam sendiri.

Membaca Al Qur’an untuk orang mati (menurut Imam Syafi’i).

Dalam Al Qur’an, di surat An Najm ayat 38 dan 39 disebutkan disana;

[53.38] (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,

[53.39] dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.

Berkaitan dengan hal ini maka Al Hafidh Ibnu Katsir menafsirkannya sebagai berikut;

“Yaitu, sebagaimana seseorang tidak akan memikul dosa orang lain, demikian juga seseorang tidak akan memperoleh ganjaran/pahala kecuali apa-apa yang telah ia usahakan untuk dirinya sendiri.

Dan dari ayat yang mulia ini, al Imam Asy Syafii bersama para ulama yang mengikutinya telah mengeluarkan suatu hukum: Bahwa Al Qur’an tidak akan sampai hadiah pahalanya kepada orang yang telah mati.

Karena bacaan tersebut bukan dari amal dan usaha mereka. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mensyariatkan umatnya (untuk menghadiahkan bacaan Qur’an kepada orang yang telah mati) dan tidak juga pernah menggemarkannya atau memberikan petunjuk kepada mereka dengan baik dengan nash (dalil yang tegas dan terang) dan tidak juga dengan isyarat (sampai-sampai dalil isyarat pun tidak ada).

Dan tidak pernah dinukil dari seorang pun Sahabat (bahwa mereka pernah mengirim bacaan Al Qur’an kepada orang yang telah mati).

Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentu para Sahabat telah mendahului kita  mengamalkannya.

Dan dalam masalah peribadatan hanya terbatas kepada dalil tidak bileh dipalingkan dengan bermacam qiyas dan ra’yu (pikiran).”

Jadi, dari keterangan ibnu Katsir ini jelas bahwa perbuatan membaca Al Qur’an dengan tujuan pahalanya disampaikan kepada si mayit tidak akan sampai, dan demikianlah pandangan ulama besar yang dianut oleh sebahagian besar kaum muslimin di negeri ini.

Lantas, mengapa mereka berbeda dengan imam mereka sendiri?

Wallahu a’lam.

Rujukan: Hukum Tahlilan (Selamatan Kematian) Menurut Empat Madzab & Hukum Membaca al Qur’an untuk Mayit bersama Imam Syafii, karya ust. Abdul Hakim bin Amir Abdat.

reposting : http://thetrueideas.multiply.com/journal/item/1059

About these ads
  1. faisal riza
    Maret 22, 2014 pukul 1:21 pm | #1

    salam bro…kalau aja imam syafi’i ada menyarankan kita tahlillan tolong anda bagikan saya hadisnya dari imam syafi’i..

    ataupon hadis2dari para ulama yang muktabar..

    Kita mengaku sebagai pengikut Imam syafi’i tapi disebaliknya kita tak tau apa sebenarnya dan macam mana cara Imam Syafi’i beribadah..

    dan kita hanya tau dari mulut2orang ataupun kepecyaan yg keturunan dari nenek moyang

    wa’alaikumussalam,.
    terimakasih bro,.
    saya juga lagi nunggu nih, minta sebutkan dalilnya, bahkan saya sudah posting tentang kuis tahlilan, caranya mudah, namun sampai saat ini belum ada yang mampu menjawabnya, silahkan lihat disini kuisnya

  2. ece
    Maret 22, 2014 pukul 9:20 am | #2

    ah..bpk penulis terhormat mah kan orang pintar tdk perlu di beritahu lagi.

    sudalah kang kalau ingin lebih jelas akang datangi aja guru besar2 pesantren mereka semua pada tahu tentang ilmu2 itu.

    msa kang bicara masalah hukum tapi tdk tahu ilmunya dan dasar2 ilmunya bagai mana kata dunia.

    sudah ah kang stop percuma panjang2 klu tdk ngerti mah kalau akang ngerti ilmu tadi semua akang pasti ngerti dan tahu dan tidak akan jawab kesana kemari ngalantur ceuk urang sunda mah moal nyambung koslet,ilmu matematika,fisika dll oge aya rumusna.

    komo Al-Qur’an kalam anu Maha hebat Jeung Hadits anu hebat bisa di buka jeung nyaho isina ku elmuna anu lengkap.

    tos ah mending bobodoran jeung akang mah dari pada ngabahas hukum..

    terima kasih tanks…hapunten juragan..

    hyu ah urang di ajar deui di pasantren tempat na elmu masih jauh pisan euy kana ngarti komo lamun ngahukuman hiji masalah mah.

    wah, si akang ece , ulah pundung atuh kang,.
    ari akang belajar ti pesantren, sok ikutan kuis tahlilan kang, patarosanana gampil, sok pasihkeun hiji hadits atanapi ayat nu ngajarkeun tahlilan, sok ngalungsur kadieu ningali kuisna , hadiahna lumayan ageng kang,.

  3. ece
    Maret 22, 2014 pukul 6:30 am | #3

    wah2..orang merasa hebat dan pintar lebih dari nabi dan rosul.yg terhormat2 haha..ha

    yang merasa pintar sendiri,bpk penulis yg merasa paling pintar,merasa wali,ajengan,kiyai,al mukarom dan merasa benar sendiri jangan mentafsirkan segala sesuatu segampang itu,menyalahkan begitu sj kita harus melihat dari berbagai sudut pandang hukum kita harus sadar bahwa kita tdk sempurna dan Allah memberikan ilmu pada semua hanya sedikit maka kita harus saling menunjang bukan sling salahkan

    Hatur nuhun kang ece, tos coment di blog abdi,.
    abdi sanes pinter sorangan kang ece, abdi jelma biasa, standar,. artikel di dieu oge artikel copasan ti web sanes, janten abdi sanes jelma pararinter,.

    Upami aya artikel nu sapertos rumangsa jalmi pang pinterna, atawa pinter sorangan,. abdi nyuwun hapunten,. eta artikel sanes artikel abdi, abdi cuma copas, nyampaikeun nu leres, sanes nganggap nu laen eta bodo,.

    baca dong Al-Quran dan Hadistnya dan ilmu syaranya yang mana ilmu syara terbagi menjadi menjadi 15:
    1.ilmu lughat 2.ilmu nahwu 3.ilmu sharaf 4.ilmu isyqaq 5.ilmu ma’ani 6.ilmu bayaan 7.ilmu badi 8.ilmu qira’at 9.ilmu Aqa’id 10.ushul Fiqih 11.ilmu Asbabun-Nuzul 12.ilmu Nasikh Mansukh 13.Ilmu Fiqih 14.Ilmu hadits 15.ilmu wahbi dan seseorang yg tdk memiliki ilmu2 tersebut dilarang mentafsirkan Al-Qur’an.

    nah kang ece, ilmu nu eta nte aya ti jaman rasul oge, rasul nte ngajarkeun ilmu lughat,ilmu nahwu,sharaf,isyqaq,ma’ani,dll,.. eta elmu saha nu ngajarkeun kang,. sok abdi hayang ngartos,.

    jangan sedikit2 salah bid’ah pdhl kita tdk tahu ilmunya dan tdk memahami ilmu nya jg picik jg syuudzon dulu pada orang lain padahal brg yang kita pakai aja bid’ah kelakuan kita haram.

    saha nu saetik-saetik nyarios bidah kang ece,. sok buktikeun,. copas didieu,. oh nya,. kang ece tos ngartos nte, naon teh nu disebat bidah, sok geura lungsur kadieu

    Oh nya kang ece, aya artikel nu ngajelaskeun bidah miturut logika, sok lungsur kadieu

    tlg bapak penulis yang terhormat kita bertafakur dulu pd diri kita sblm menyalahkan orang lain dan menjatuhkan hukum salah pd orang lain.

    emang bp sudah hafiz Qur’an dan seorang mufassir?

    berapa ratus ribu hadits dan sanadnya yang hapal di luar kepala?

    berapa puluh ilmu dan brp ribu/ ratus kitab sudah di hapal di luar kepala?bsa menytakan suatu hukum .

    maaf bp terhormat saya orang doip tapi saya pernah mendengar membaca melihat ada suatu kata:orang bisa selamat dg ilmunya bisa celaka dg ilmunya,org bisa selamat dg hartanya bisa celaka dg hartanya,org bisa celaka dengan ke bodohanya bisa selamat dg kebodohannya.

    Abdi sanes jelma pararinter kang, abdi sanes hafidz quran, hadits nu abdi hafal nte seuer,. mungkin kan ece luwih pinter tibanding abdi,.

    pemahaman bpk penulis ini sebenarnya orang sunah wal jamaah apakah salafi wahabi?

    wah kang ece, naon nu disebat salafi wahabi? abdi aya postingana, lungsur kadieu,. sok atuh,.

    punten psan ceuk orang sunda mah abdi kumawantun ngajawab sareung naros ka juragan penulis punten pisan abdi mah jalmi doip abdi Ece tea urang sunda anu jekrem he..he..!

    urang sunda nya, abdi oge bisa saetik-saetik ngomong sunda kang,… iye abdi aya ceramah basa sunda, sae kang, tonton di dieu nya,
    Judulna : MILIH ISLAM NU LERES

    Aya oge video laen kang, sae oge, sok geura tonton nya

    Judulna : KAUTAMAAN ELMU

  4. Jajang Juharsa
    Februari 17, 2014 pukul 6:40 am | #4

    Lieur saya mah ngabandungan nu adu regeng masalah tahlil jeung maca yasin , solusinya sudah jelas aya , ikuti we organisasi masing2.. yang Hanafi , yang Hambali ,yang Safi’i , yang Maliki , yang PERSIS , yang Muhammadiyah , yang apa apa lagi …

    haturnuhun kang jajang, tos komentar didieu,. muga-muga seuer nu manfaat,.
    nu wajib sanes miturutan madzhab,ormas, eta nte diparentah ku Allah, nu wajib miturutan dalil nu shahih kang, ngangge pemahaman nu shahih oge, sanes pemahaman batur,pemahaman ormas, atanapi pemahaman ajengan,kyai,habib, tapi WAJIB miturutan PEMAHAMAN PARA SAHABAT, generasi nu dibina langsung ku rasulullah, eta nu wajib dipiturutan,

    mereka punya landasan dan cara sendiri , yang tujuannya adalah beribadah kepada Alloh swt….

    Ajaran Islam iye milik Allah, Allah nu nyiptakeun, Allah oge nu netepkeun tatacara beribadah , tos lengkap,komplit, ulah ditambah atanapi dikurangkeun, Allah tos nyampaikeun ka manungsa sadayana, ngangge rasul nu Allah utus,
    Janten kang, ulah beragama ngangge landasan dan cara sendiri, emang saha nu gaduh agama iyeu? sanes urang kang, ajaran agama iyeu milik Allah, beribadahlah miturutan ketentuan dari Allah,. eta nu leureus kang,.

    Dan kepada rekan2 yg komentar , kok menyembunyikan identitasnya … nggak fair ah!

    Saya pesen ya , kata Alloh atau Allah , mohon menggunakan huruf kapital di awal kata Alloh nya……
    Atosan we darebatna….dari pada padugeng dugeng mah…..njih toch…heu heu…

    sumuhun kang, hatur nuhun atas masukanana,.

  5. ernata
    Februari 15, 2014 pukul 4:27 am | #5

    asli bumi ayu?…… bumiayunya dimana?

    iya, betul, panggonane seputaran sakalibels

  6. imam
    Januari 30, 2014 pukul 4:58 am | #6

    SAYA orang awam tapi saya menganggap bodoh penulis karena kebenaran adalah mutlak milik alllah, yang tahlil benar yang tidak mautahlil juga benar

    terimakasih mas imam, mudah-mudahan allah tunjuki anda jalan kebenaran,.
    kebenaran hanya milik Allah, betul sekali, dan Allah sudah menyampaikan semua kebenaran tersebut melalui Rasulullah, tidak ada yang tertinggal mas, semua sudah diajarkan, kita tinggal mengamalkan saja apa yang diajarkan oleh rasulullah, itulah hakekat mengikuti kebenaran, karena patokan kebenaran bukanlah kebenaran menurut kita, tapi kebenaran menurut Allah dan Rasulnya, apa sih ciri-ciri kebenaran tersebut? silahkan baca postingannya disini

    yang salah adalah yang menulis ini karena penulis mengharamkan punya landasan tapi yang melakukan tahlil pasti juga punya landasan kebenaran selain solat zakat haji ibadah membaca alquran adalah allah yang tau orang masuk surga adalah haknya allah bukan karena amalnya.

    Dan landasan yang benar adalah landasan yang diajarkan oleh rasulullah, bukan oleh kyai kita atau ustadz kita, namun tidak pernah dilakukan oleh rasulullah, apa kata guruku pasti benar? buat nambah wawasan, silahkan baca postingan ini

    diterimanya amal adalah hak allah ditolak juga hak allah.

    Ada syarat diterimanya amal, bagaiman agar amalan kita diterima oleh Allah, silahkan baca postingannya disini

    saya orang abangan tapi saya nilai anda orang medit anda pasti haramkan selamatan tapi halalkan sodakoh tapi anda pasti tidak pernah sodakoh itu lebih baik orang yang mau salamatan mau sodakoh dengan membuat makanan saya yakin anda belum pernah rasakan nasi gurih enak banget klau merasakan sekali pasti anda menghalalkan selamaytan

    sedakohhhh bro ojo medit

    Sebenarnya sopo sing medit mas, kenapa sodakoh kok nunggu ene wong mati, nganakna tahlilan kok disebut sodaqoh? kalau mau sedekah ya ngga mesti nunggu wong mati toh mas,. silahkan sedekah kapan saja, dan sedekah yg paling utama itu yg dilakukan sembunyi-sembunyi mas, ngga dipertontonkan, ngga seperti tahlilan dan selamatan, itu sedekah opo mas, lha wong mangan-mangan, sing mangan ya wong-wong sing diundang, dudu nggo wong sing ditinggal mati tok, malah prakteke yo ngrepotke sing ditinggal mati,.

    arep sodakoh atawa arep ngrepotke wong sing ditimpa musibah mas? tahlilan ikut butuh duit guede mas,.

  7. dedi
    Desember 30, 2013 pukul 3:42 pm | #7

    Assalamualaikum…

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    saya orang awam yang awam banget dan sedang belajar agama….
    saya senang membaca artikel ini…
    semua yg di jelaskan oleh admin saya setuju karena admin benar benar menukil dalil dari hadis sohih dan ayat alquran…
    saya suka dan salut dengan cara beribadah orang2 yg bermanhaj salafusalih…
    yakin admin juga bermanhaj salafusalih..
    salut buat anda semua…
    sayapun ingin seperti kalian beribadah dengan ilmu yg sesuai dengan hadis dan alquran..bukan beribadah sesuai dengan yg dilakukan orang tua atau nenek moyang kita….

    Mudah-mudahan Allah mudahkan anda tuk menempuh jalan salafus shalih

    TETAPI saya ingin meberikan sedikit masukan atau kritik buat admin___: “raihlah kami/mereka dengan kasih sayang dan santun (saya rasa cara dakwah yg seperti ini yg lebih jitu) contohnya adalah saya, saya seperti ini adalah hasil daripada pendakwah yg rendah hati dan santun,
    jangan sudutkan mereka atas kesalahnnya, janganlah berlaku sehingga admin dianggap membenci mereka,,,

    Terimakasih mas dedi,
    Saya tidak pernah menyudutkan kaum muslimin yang terjerumus dalam kebidahan secara person, tapi hanya kepada perbuatan bidahnya saja,
    Jika secara person, maka butuh ilmu, butuh dakwah dengan bijak,santun,
    Jika ada kata-kata saya dalam menanggapi komentar ada yang menyudutkan person “si komentator” silahkan coba anda copas disini,
    Memang terkadang tanggapan berupa tulisan itu terkesan saya membenci para pelaku bidah, mungkin ada persepsi seperti itu, yah, itulah keterbatasan tulisan, bisa disalah persepsikan,
    Saya kasihan sama pelaku kebidahan, saya doakan mudah-mudahan mereka mendapat hidayah,

    sering saya memposisikan diri berada ditengah tengah antara para manhaj salafussalih dan dan orang yg sering disebut pelaku bid’ah,

    memang ada yg salah diantara mereka,,,
    yg salafi terlihat tidak hanya membenci perbuatan bid’ahnya saja tetapi kepada personalnyapun sering terlihat menunjukan rasa tidak suka dan sering terlihat merasa “GUE LHO YG LEBIH BENAR DAN KALIAN ADALAH PELAKU BIDAH SESAT” karena mungkin menganggap “kita adalah berbeda…

    terimakasih mas dedi,
    Jangan anda kira orang yang bermanhaj salaf, cara ibadahnya mengikuti manhaj salaf (dia seorang salafi) lantas dia juga mengikuti akhlak salafi, dan ini banyak kita dapati, terutama orang-orang yang baru mengenal manhaj salaf, terkadang mereka suka petentang-petenteng, gampang mengumbar kata-kata bidah, bahkan menyikapi para pelaku bidah dengan sikap yg bukanlah dari akhlak salafus shalih, maka ini bukanlah kesalahan dari manhaj salaf/salafi, tapi itu kesalahan yang ada pada person salafi tersebut, dan yang seperti ini memang ada, dan saya tidak seperti itu, saya hidup membaur dengan masyarakat umum, tidak mencela/membenci masyarakat yg masih terjerumus dalam amalan bidah, mengasihani mereka, mendoakan mereka, berbuat baik dengan mereka,.

    sementara yg katanya pelaku bid’ah sering terlihat gengsi menerima argumen dari lawan debatnya meskipun dalam hati kecilnya mengakui argumen lawannya itu lebih masuk akal.

    kepada admin dan kepada semua yg membaca ini mohon maaf atas tulisan saya yg mungkin dapat menyinggung perasaan para pembaca semua….

    Ya, betul, makanya iblis itu lebih suka kepada pelaku bidah daripada pelaku maksiat, dan tobatnya ahli bidah itu lebih susah dibandingkan ahli maksiat, silahkan baca postingan disini

    saya hanyalah orang awam yg sedang belajar…

    saya adalah yg telah suka manhaj salafussalih…

    saya adalah yang sering memposisikan diri diantara mereka yg bermanhaj salafusalih dan yg katanya para pelaku bid’ah….

    Ini ada postingan bagi para pelaku bidah, sebagai terapi buat para pelaku bidah, bisa dibaca disini

    Seluruh kaum muslimin wajib mengikuti manhaj salaf, barangsiapa yang menyelisihi manhaj salaf maka akan tersesat, itu bukan kata saya, alquran yang mengatakannya, silahkan baca disini

    wassalam

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    • faisal riza
      Maret 22, 2014 pukul 1:32 pm | #8

      maaf mas imam..
      kalau aja betol mas imam cakap tahlil itu betul..tolong bagikan kan nas nya atau pon hadis dari rasulullah….

      yang BID”AH itu bukan nya AYAT2 ALLAH yg dibacakn diwaktu tahlillan TETAPI perbuatan manusianya yg BID”AH

  8. An Chino
    Desember 5, 2013 pukul 5:37 am | #9

    jadi sebenarnya tahlilan itu tidak sama sekali dianjurkan oleh agama islam.
    tapi kenapa sampai saat ini tahlilah itu menjadi seperti kewajiban dan apa ada hukum yang membolehkan tahlilan?
    karena pasti sebahagian ulama yang “membolehkan” tahlilan pasti mereka juga punya hukum dan mungkin dalil terhadap tahlilan tersebut.
    terimakasih.

    Terimakasih mas,
    sudah hal yang umum, jika kejelekan menyebar di suatu masyarakat, dan itu sudah membudaya, maka kejelekan tersebut tidak akan tampak sebagai kejelekan lagi, bahkan seperti ajaran yang seolah-olah jika ditinggalkan justru akan menjadi aneh, sebagaimana ritual TAHLILAN kematian yang TIDAK PERNAH dicontohkan dan diajarkan oleh Rasulullah, amalan bidah tersebut seolah-olah adalah amalan dalam islam yang hukumnya menjadi seperti wajib bagi orang-orang yang demen mengikuti amalan tersebut, padahal Rasulullah tidak pernah melakukannya,

    Apakah amalan tersebut ada dalilnya? Jika ada dalilnya, silahkan tunjukan disini, silahkan minta bantuan orang yang dianggap ulama, dan dapatkan hadiahnya, jika ada yang bisa mendatangkan SATU SAJA DALIL tentang ritual tahlilan kematian ini, silahkan ikuti KUIS TAHLILAN , klik link ini

  9. ardo
    November 28, 2013 pukul 10:24 am | #10

    ilmu yang sangat bermanfaat ini blog,,,

    komentar2 yang wah,mirip ama mutazilah,,,pake akal,ga pake dalil,pake dalil tapi pemahamannya salah…seng sabar…

    mari kita menjadi seorang muslim yang baik,bukan baik menurut orang2,tapi baik menurut Nabi Muhamad Shollallohualaihi wasalam,sahabat,tabi’in,tabi’ut tabiin,,,itulah sebaik2 manusia,,parasalafusolih telah mengajarkan kita bagaimana Rosululloh menjalankan dan mengajarkan kepada umatnya ibadah yang baik,rosululloh telah menyempurnakannya agama ini dan Rosululloh berpesan bahwasannya hal baru dalam ibadah itu bid’ah dan bid’ah itu sesat,kesesatan itu tempatnya dineraka,..kalo kita ngaku sebagai umat muslim ingat ituuuu…ingat pesan Rosululloh…kita umat muslim pegang itu,,

    tecnologi bukan bid’ah lho bro..ingat pesan nabi kita….

  10. Rizqi Eka Nanda
    Oktober 23, 2013 pukul 10:21 am | #11

    apakah benar bahwa bid’ah itu menyesatkan?
    selama bid’ah itu niatnya benar kenapa tidak boleh?

    Terimakasih mba Eka,
    Kita beriman kepada Rasulullah, beliau adalah utusan Allah, Perkataan Rasulullah semuanya benar, semua datang dari Allah, bukan dari pribadi rasulllah semata,

    Rasulullah mengatakan, semua bidah adalah sesat,
    Apakah kita akan menolak perkataan rasulullah tersebut dan mempertentangkannya dengan perkataan manusia selainnya?

    Niat yang baik saja tidak cukup mba, resikonya terlalu berbahaya, jika asal berniat baik, niscaya akan muncul beribu-ribu amalan yang tidak ada contohnya dari islam, tidak diajarkan oleh rasulullah, silahkan baca postingan ini mba, niat baik saja tidaklah cukup,

    Semua bidah adalah sesat, tidak ada bidah hasanah, sudah diposting tulisannya disini

  11. faisal riza
    Oktober 16, 2013 pukul 6:49 am | #12

    memang betul di alqur’an dan hadis tak ada yg melarang baca yasin DI MALAM JUMAT…

    tapi kita kan boleh menilai dgan ilmu kita…yang mana ada hadis nye tentang pembacaan ayat2 alquran di malam jumat,surah apa yang di anjuarkan oleh nabi..

    katanya kita umat NABI MUHAMMAD,tapi mengapa kita tak ikut sabda2nabi…..patut kah kita jadi umat nya????? kalau kita tak pernah mau ikut sabda2nya……( apabila anda berselisih pendapat kembali la anda kepada ALQUR’AN dan HADIS..) DAN BUKAN KEMBALI KE PADA 4 MAHZAB ATAU 4 IMAM…….

    Betul sekali mas faisal, kita disuruh kembali kepada alquran dan hadits,.
    Tidak ada satu ayat atau haditspun yang menyuruh kita untuk membaca yasin di malam jumat, justru yang ada adalah hadits yang menyuruh kita membaca surat alkahfi di malam jumat, atau dihari jumat,

    “Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470)
    postingannya sudah ada disini, silahkan dibaca

    katanya kita umat NABI MUHAMMAD,tapi mengapa kita tak ikut sabda2nabi…..patut kah kita jadi umat nya????? kalau kita tak pernah mau ikut sabda2nya…..

    Orang yang mengaku sebagai umat nabi muhammad begitu banyak, namun anehnya mereka tidak mau mengikuti anjuran nabi muhammad, bahkan mengamalkan amalan-amalan kreasi manusia, seperti yasinan malam jumat,
    Padahal Rasulullah mengatakan semua umatnya akan masuk surga, KECUALI YANG ENGGAN, siapakah orang yang ENGGAN MASUK SURGA? mau tahu jawabannya? silahkan baca disini

  12. wijaya
    Oktober 16, 2013 pukul 5:20 am | #13

    tahlil=La ilaaha illallah….jadi yg tdk setuju tahlil…tdk usah nyebut…parah lo

    Tahlil adalah dzikir yang paling agung,. kita disuruh berdzikir dengan kalimat tahlil ini, bahkan ketika ada orang muslim yang mau meninggal disuruh diajari ucapan tahlil ini, agar akhir hidupnya mengucapkan tahlil,
    Jadi bukan saya tidak setuju tahlil mas wijaya,. anda salah paham, mudah2an tidak parah salah pahamnya,

    Yang kita tidak setuju, bahkan Rasulullah juga tidak melakukkannya, itu adalah tahlilan yang berhubungan dengan hari kematian seseorang,. ini yang kita tidak setuju,.

    Mudah-mudahan bisa dipahami,

  13. faisal riza
    Oktober 14, 2013 pukul 1:13 pm | #14

    salam….berbeza bro..membace surah yg di khususkan pada hari tertentu atau pada malam hari…dengan membace surah di waktu menjadi imam…kalau memang kita memncintai dan menyayangi RASULLULLAH mesti kita akan ikut sunah nye..itu lah menurut pendapat saye yg maseh rendah lg dlam ilmu agama…

    Betul bro, jika kite nih, mencintai rasulullah, tentu kita ikuti apa yang diajarkan oleh rasulullah,
    Rasulullah ngga pernah yasinan di malam jumat, demikian pula para sahabat yang merupakan binaan langsung rasulullah, mereka tidak yasinan di malam jumat,. lha kok ada orang yang hidup jauh dari jaman rasulullah kok demen yasinan di malam jumat, kalau mereka ditanya apakah mereka mencintai rasulullah? pasti jawabnya cinta banget,. tapi nyatanya, kok melakukan hal-hal yang menyelisihi orang yang dicintainya,. gimane nih bro,. cintanye palsu kali yah?

    Sungguh lucu kali, yang dijadikan dalil seorang yang membaca surat tertentu di dalam shalat, lalu dijadikan dalil untuk yasinan di malam jumat, ya sama sekali tidak nyambung,. lha wong nyatanya kok yasinan jadi harga mati, nyatanya tidak ada tuh yang baca surat selain yasin di malam jumat bagi orang yang berdalil dengan perbuatan sahabat yang membaca surat tertentu dalam shalat, tidak ada yang baca surat albaqarah setiap malam jumat, atau surat ali imran, … tapi kok ya yasin saja, seolah-olah surat yang ada dalam alquran cuma surat yasin,

  14. awam
    Oktober 13, 2013 pukul 10:26 pm | #15

    Memang apa yang disyariatkan dibaca pada malam dan hari jum’at salah satu amal ibadahnya adalah membaca surat Al-Kahfi, namun demikian MENGENAI MEMBACA YASIN SETIAP JUM’AT, sebenarnya sudah jelas hukumnya.

    Diriwayatkan dari Anas bahwa ada seorang laki-laki dari Anshor yang menjadi imam di masjid Quba’. Setiap ia membaca surat selalu didahului dengan membaca Surat al-Ikhlas sampai selesai, baru kemudian membaca dengan surat lainnya, dan ia lakukan dalam setiap rakaatnya. Para sahabat yang lain merasa kurang senang dengan hal ini, lalu dihaturkan kepada Rasulullah Saw. Beliau bertanya: “Apa yang menyebabkan kamu membaca surat ini terus-menerus di setiap rakaat?”. Ia menjawab: “Saya senang dengan surat al-Ikhlas”. Nabi menjawab: “Cintamu kepada pada surat itu memasukkanmu ke dalam surga” (Shahih Al Bukhari Hadits No 774).

    Seperti yg di bilang bro admin sebelumnya bahwa:

    “Sunnah adalah Perintah rasulullah, baik Perbuatan rasulullah atau perkataan Rasulullah, juga persetujuan rasulullah terhadap perbuatan sahabatnya”

    Dan mengenai hadits di atas(Sahih Al Bukhari Hadits No 774), bahwasannya Al Hujjatul Islam Al Imam Ibnu Hajar Al Asqalani mensyarah hadits ini, beliau berkata:

    “HADITS INI ADALAH DALIL DIPERBOLEHKANNYA MEMILIH SURAT-SURAT TERTENTU DARI SEBAGIAN AL-QUR’AN(YANG IA SUKAI) BERDASARKAN KEMAUANNYA SENDIRI (UNTUK DI AMALKAN) DAN MEMPERBANYAK MEMBACANYA, DAN HAL SEPERTI INI TIDAKLAH DIANGGAP MENGABAIKAN SURAT YANG LAIN” (Fathul Bari bi Syarah Shahih Bukhari 3/150).

    Al Imam Ibn Hajar Al-Atsqalani didalam Fathul Baari bi syarah Shahih Bukhari memaknakan hadits ini menjadi dalil bahwa tidak merupakan hal yang salah bila seseorang memilih salah satu surat yang ia cintai untuk diamalkan.
    Maka hal itu tidak bisa dianggap membeda-beda kalamullah, tidak bisa demikian dikatakan oleh Imam Ibn Hajar Al Atsqalani. Sebab, kalau seandainya itu dianggap membeda – bedakan alqur’an pasti imam masjid quba sudah dilarang oleh Rasulullah.

    JADI DENGAN DEMIKIAN MEMBACA SALAH SATU SURAT TERTENTU DAN DIWAKTU TERTENTU TIDAKLAH BISA DIKATAKAN BID’AH, JUSTRU APABILA MELIHAT KETERANGAN Al Imam Ibnu Hajar Al Asqalani DIMANA HADIS TERSEBUT DIATAS BISA DIJADIKAN DALIL MAKA HAL TERSEBUT DIPERBOLEHKAN.

    Terimakasih mas bro, seumur-umur belum pernah saya mndengar para pelaku yasinan malam jumat membaca surat yasin dalam shalat mereka,. wong shalat wajib mereka juga kebanyakan yang dibaca surat-surat pendek, boro-boro baca surat yasin,.

    Dan lucu sekali anda mengaku orang awam, tapi bisa membawakan hadits-hadits, namun sungguh lucu, anda membawakan hadits tentang orang yang membaca surat tertentu dalam shalat, lalu anda jadikan dalil utk pembacaan yasin setiap malam jumat? tapi dibacanya bukan saat shalat,. ini sesuatu yang sangat menggelikan,

    Bahkan jika itu yang dijadikan dalil oleh orang awam seperti anda, tapi kenapa kok semuanya menggunakan surat yasin setiap malam jumat? kenapa tidak surat albaqarah, kan lumayan panjang tuh, pahalanya juga lebih besar, atau surat ali imran,

    Dan jika itu dalil yg jadi patokan, tentu banyak kaum muslimin yang membaca surat2 lain dengan dalil tsb, dan nyatanya kok cuma yasin? sungguh ini bukanlah cara memahami dalil dgn benar,

    Yang disunnahkan itu baca alquran berurutan, sehingga bisa khatam berkali-kali dalam setiap bulan, bukan surat yasin mulu setiap malam jumat, disamping hadits keutamaan surat yasin di malam jumat itu tdk ada yang shahih, ternyata rasulullah mengajarkan kepada kita setiapa malam jumat disuruh baca surat alkahfi, bukan YASINAN,

    Dan tidak ada satupun sahabat,tabiin,tabiut tabiin, atau imam yang 4, para ulama yang melakukan YASINAN malam jumat, kecuali kaum muslimin di indonesia dan sekitarnya,. LUCU YA? sebagaimana para pelaku ritual TAHLILAN KEMATIAN Juga pelakunya adalah orang indonesia dan sekitarnya,.

    Imam Syafii saja tidak melakukannya, padahal yang demen YASINAN dan TAHLILAN KEMATIAN ngakunya pengikut imam syafii,.. jan,.jan… lucu nemen yah,

    • awam
      Oktober 16, 2013 pukul 1:15 am | #16

      selamat idul adha bro admin, maaf telat sehari… ;)

      wahh, jawaban bro admin koq seperti itu… klo jawabannya seperti itu, saya jg bisa dong bertanya seperti ini:

      ADA NGGK KETERANGAN AL-QUR’AN ATAU HADITS YG NGELARANG SESEORANG BACA YASIN TIAP MALAM JUM”AT????

      ADA NGGK KETERANGAN DIMANA SAHABAT, TABI’IN, TABIUT-TABI’IN, DAN IMAM YG 4 NGELARANG BACA YASIN PADA MALEM JUM’AT????

      Terimakasih mas yudi, jangan betah lah jadi orang awam terus,
      Saya juga kasih pertanyaan nih,
      Ada Tidak ayat atau haditsnya tentang larangan kita SHALAT DENGAN BERBAHASA INDONESIA? tidak ada bukan? jika tidak ada ayat atau hadits yang melarangnya, apakah kita boleh shalat dengan berbahasa indonesia, contohnya lafadz Allahu akbar diganti dengan Allah maha besar,

      mas yudi, Ibadah itu nunggu dalil yang memerintahkan, bukan dalil yang melarang,
      Jika yang anda tanyakan dalil yang melarang, sungguh akan sangat banyak ibadah kreasi manusia, dan islam akan menjadi agama yang rusak, karena banyaknya amalan ibadah hasil kreasi manusia,

      Mbok kreatif itu dalam urusan dunia saja, bukan urusan ibadah yang merupakan hak Allah dalam pensyariaatanya itu dimodifikasi, atau bikin ritual-ritual sendiri,

      Silahkan mas yudi shalat dengan berbahasa indonesia, kan tidak ada ayat atau hadits yang melarangnya, BERANI??

      TAMBAHAN, adakah dalil yang melarang shalat maghrib 5 rakaat? jika tdk ada, apkh blh kita shsalat maghrib 5 rakaat? apakah sah shalatnya? walaupun kita mengerjakannya dgn senang hati, hanya berharap keridhaan Allah semataa, apakah ini boleh?
      Tentu jawabnya TIDAK BOLEH,. bukan minta dalil mana dalil yang melarangnya? sampai kiamat ya tidak akan menemukan dalilnya mas,.

      Ibadah itu nunggu dalil, jika ada dalil yang memerintahkan, maka kerjakan, jika tdk ada dalilnya, jangan buat-buat amalan sendiri,.

      • awam
        Oktober 16, 2013 pukul 11:53 pm | #17

        jgn salah bro admin ada dalil yg melarang kita shalat dg bahas ibu atau dalil yg melarang kita mengerjakan shalat melebihi apa yg dicontohkan oleh Rasulullah. klo nggk percaya silahkan cari d mang gugel … :)

        Shalat itu merupakan Sunnah Rasulullah dan merupakan ibadah tauqifi (dikerjakan sesuai dengan bentuk yang ditetapkan Allah Swt). baik gerakan, bahasa, dan bacaan..

        kembali k baca yasin…

        Sebelumnya saya minta maf bro admin, memang tak sulit meninggalkan amal perbuatan baik…

        Dibawah saya telah menguraikan beberapa dalil, dan Itu dalil kuat. Jika tetap ada yg mem-vonis sebagai bid’ah (sesat), Saya tak ingin debat kusir, jadi bila saya membaca yasin, maka dalil d atas sebelumnya merupakan beberapa rujukannya.. (lagian dr pd ngabisin waktu dg nonton tv atau nongkrong, kan lebih baik baca yasin)..

        Tolong sebutkan dalil tentang larangan shalat maghrib 5 rakaat, atau dalil larangan shalat dengan berbahasa indonesia, tolong dong bro, sebutkan, saya kasih hadiah tanah warisan saya deh, lumayan, bisa buat bikin dua rumah,

        Saya katakan, membaca yasin dan mengkhususkannya di malam jumat, dosanya lebih besar dari nonton tv, mabok,..
        Kenapa?
        Tanya ke orang mabok, apakah minum minuman yang memabukkan itu dosa? maka dia kan menjawab, ya, iya itu dosa,

        Tanya penggemar yasinan khusus malam jumat, apakah baca yasin di malam jumat itu dosa? .. maka akan dijawab, . ngawur saja ente, baca yasin kok dosa?…

        berhasil lah setan menggiring mereka ke dalam perbuatan bidah,
        Dan perbuatan bidah lebih dicintai iblis daripada maksiat,. baca postingannya disini

        Ini jangan dipahami berarti saya nyuruh anda mabok,.

  15. awam
    Oktober 10, 2013 pukul 5:06 am | #18

    Mas admin bilang: k

    “Jika amalan yang kita kerjakan itu bukanlah ajaran yang diajarkan oleh rasulullah, sesungguhnya kita sedang merusak islam itu sendiri,
    Dan tidak ada toleransi dalam hal ini, .. toleransi boleh, tapi jika kita toleransi dalam hal amalan2 bidah, maka ini adalah toleransi yang kebablasan.”

    “beda dengan yasinan,.. surat yasin mulu yg dibaca tiap malem jumat, ini bidahnya,.”

    Pertantaan saya, lalu bagai mana dg hadits ini:

    Diriwayatkan dari Anas bahwa ada seorang laki-laki dari Anshor yang menjadi imam di masjid Quba’. Setiap ia membaca surat selalu didahului dengan membaca Surat al-Ikhlas sampai selesai, baru kemudian membaca dengan surat lainnya, dan ia lakukan dalam setiap rakaatnya. Para sahabat yang lain merasa kurang senang dengan hal ini, lalu dihaturkan kepada Rasulullah Saw. Beliau bertanya: “Apa yang menyebabkan kamu membaca surat ini terus-menerus di setiap rakaat?”. Ia menjawab: “Saya senang dengan surat al-Ikhlas”. Nabi menjawab: “Cintamu kepada pada surat itu memasukkanmu ke dalam surga” (Shahih Al Bukhari Hadits No 774).

    Al Hujjatul Islam Al Imam Ibnu Hajar Al Asqalani mensyarah hadits ini, beliau berkata: “Hadis ini adalah dalil diperbolehkanny­a memilih surat2 tertentu dari sebagian al-Quran (yang iya sukai) berdasarkan kemauannya sendiri (untuk diamalkan) dan memperbanyak membacanya, dan hal seperti ini tidaklah dianggap mengabaikan surat yang lain (maksudnya hal itu tidak bisa dikatakan bahwa iya membeda2kan kalamullah Swt-red) ” (Fathul Bari bi Syarah Shahih Bukhari 3/150).

    Imam Masjid Quba ini bernama Kaltsum bin Hadam. Beliau ini memiliki kebiasaan yang unik. Setiap kali sholat ia selalu membaca surat Al Ikhlas, setiap sholat ia selalu membaca surat Al Fatihah, Al Ikhlas, baru surat lainnya. Al Ikhlas mesti ada pada setiap rakaatnya maka makmumnya protes kenapa setiap mengimami Al Ikhlas selalu dibaca baru surat lain?

    maka Imam berkata: “kalau kalian tidak ingin aku jadi imam aku pergi, kalau tidak orang lain yang jadi imam aku yang do’a”, maka para makmumnya cinta kepada imam ini, namun sebagian mengadukan pada Rasul Saw. “Ya Rasulullah ini bikin ajaran baru”, “apa?”, “setiap baca fatihah ia baca surat Al Ikhlas baru surat lain, kenapa Al Ikhlas yang ia dahulukan dibaca terus, beda apa Al Ikhlas dengan surat lain, kenapa harus Al Ikhlas terus baru surat lainnya yang dibaca”.

    Lalu Sang Imam dipanggil oleh Rasul Saw “kenapa kau membaca surat Al Ikhlas setiap setelah fatihah baru membaca surat lain?”,

    ia berkata “inniy uhibbuhaa” nggak ada jawaban apa–apa ya Rasulullah, aku ciinta dengan surat Al Ikhlas, aku tidak mau pisah dengan kalimat

    قُلْ هُوَالله أَحَدٌ

    maka Rasul Saw berkata “hubbuka iyyahaa adkhalakal jannah” (Cintamu kepada surat itu akan membuatmu) masuk ke dalam surga-Nya Allah.

    Berarti Imam Masjid Quba Kaltsum bin Hadam. yg memiliki kebiasaan unik dimana setiap kali sholat ia selalu membaca surat Al Ikhlas, termasuk ahli bid’ah dongs???? kenapa???
    KARENA SEPERTI YG MAS ADMIN BILANG: Beliau Kaltsum bin Hadam mengamalkan amalan yg tidak Rasulullah ajarkan, yaitu ketika shalat setelah membaca al Fatihaah selalu di dahului membaca surat al Ikhlas sebelum membaca surat yg lain dan itu tidak dicontohkan oleh Rasulullah, selain itu beliau Kaltsum bin Hamdan membaca mulu surah al Ikhlas di setiap shalatnta(kebayang baca Yasin seminggu sekali aje mas admin ud bilang bid’ah, apalagi baca al Ikhlas tiap soalat) hehehee….
    Lihat indahnya jawaban Rasulullah saw “hubbuka iyyahaa adkhalakal jannah” cintamu pada surat itu akan membuatmu masuk ke dalam surga. Jawaban beliau bukan “Kau ini bikin syariat baru?” “Kau dapat ajaran ini dari mana? apakah aku pernah mengajarkan begitu?” Ini bid’ah..!!” Nggak begitu.

    Al Imam Ibn Hajar Al-Atsqalani didalam Fathul Baari bi syarah Shahih Bukhari memaknakan hadits ini menjadi dalil bahwa tidak merupakan hal yang salah bila seseorang memilih salah satu surat yang ia cintai untuk diamalkan. Misalnya setiap malam jum’at membaca surat yaasin atau surat apapun yang iya sukai, terserah orang mau baca surat ini surat itu, ia khususkan surat itu, ia cintai surat itu”

    maka hal itu tidak bisa dianggap membeda2 kalamullah Swt, tidak bisa demikian dikatakan oleh Imam Ibn Hajar Al Atsqalani. Sebab kalau seandainya itu dianggap membeda – bedakan alqur’an pasti imam masjid quba sudah dilarang oleh Rasulullah Saw.

    Demikian mencintai atau membaca salah satu surat tertentu di waktu tertentu tidak bisa dilarang atau dikatakan bid’ah, justru hal itu sudah diperbolehkan oleh Sayyidina Muhammad Saw.

    Mereka yg mengingkari pendefinisian & kasifikasi bid’ah oleh para pewaris nabi dpt dipastikan memahami Quran & Sunnah secara Muthola’ah shafafi (otodidak), bermazhab dzahiriah, tanpa memperhatikan tata bahasa arab & ilmu alat, ushul fiqih, dll..

    Bid’ah bersifat taqlifi, bro admin..
    Seabrek contohnya, semisal shalat sunnah setelah wudhu versi sahabat bilal, membaca Quran dlm shalat versi Shbt abu bakar yg lirih, Shbt Umar yg keras, Shbt ammar yg mencampurkan ayat, shalat masbuq versi Shbt muadz, dll (pokok.a byk deh)
    That’s all about bid’ah, isn’t it?. Wallahu a’lam..

    Terimakasih mas, penjelasan yg sangat panjang,

    Apakah anda tahu, apa yang disebut sunnah?
    Sunnah adalah Perintah rasulullah, baik Perbuatan rasulullah atau perkataan Rasulullah, juga persetujuan rasulullah terhadap perbuatan sahabatnya,.

    Sangat banyak perbuatan para sahabat yang disetujui oleh rasulullah, hadits diatas hanya salah satunya, masih ada contoh lain sebagaimana yg anda sampaikan, misalkan perbuatan Sahabat Bilal melakukan shalat sehabis wudhu, Lafadz adzan dan iqamat,dll

    sedangkan apa yang dilakukan kaum muslimin sekarang ini, seperti mengkhususkan yasin setiap malam jumat, atau baca yasin utk org mati, tahlilan kematian, mana perbuatan sahabat yang seperti itu?

    Rasulullah memerintahkan kita utk mengikuti sunnah rasulullah dan sunnahnya para sahabat, maka jika kita melakukan amalan para sahabat, seperti amalan bilal yg shalat syukur wudhu, atau perbuatan sahabat lain yang mendapat persetujuan dari rasulullah, maka itu adalah bukan bidah,. tapi itu adalah sunnah ,.isn’t it? yes.. that’s not bidah,. but it’s sunnah,. are you know? he..he..he.. maaf bahasa inggris saya belepotan,.

    Ini saya kasih contoh lagi

    Sunnah ini tidak ditetapkan kesunahannya dari sekedar perkataan atau perbuatan saja namun hanya karena persetujuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana terjadi pada sahabat yang menyatakan setelah I’tidal dari ruku’ :

    رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

    Ketika selesai sholat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Siapakah yang mengucapkan hal itu?” Maka ia menjawab: “Saya wahai Rasulullah”, lalu beliau bersabda:

    رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلا

    “Aku melihat lebih dari tiga puluh malaikat bersegera menjadi yang pertama menulisnya”.

    Ini persetujuan dan anjuran dari beliau, sehingga perbuatannya adalah sunnah dari sisi ini dan boleh dikatakan bahwa sahabat itu telah membuat sunnah (contoh) perkataaannya ini ketika i’tidal setelah ruku’ dan ia sunnah hasanah yang diambil dari persetujuan Nabi. Persetujuan ini terputus dengan kematian beliau, kecuali yang telah beliau arahkan, maka ia tidak keluar dari makna iqrar (persetujuan) beliau.

    Baca artikel ini, bagus loh, biar tidak jadi orang awam lagi,

    Khusus untuk anda dan orang-orang semisalnya, saya postingkan artikel ini, silahkan baca ya,. klik disini

    • awam
      Oktober 10, 2013 pukul 8:15 pm | #19

      mantap bro admin….

      sedangkan apa yang dilakukan kaum muslimin sekarang ini, seperti mengkhususkan yasin setiap malam jumat, atau baca yasin utk org mati, tahlilan kematian, mana perbuatan sahabat yang seperti itu? daku baca yasin buat orang mati sama malem jumat juga bro admin… :)

      klo buat yg ud meninggal, membaca surat yasin merupakan ibadah dan doa yg sangat dianjurkan, ini beberapa keterangannya bro admin:

      Diriwayatkan oleh Ma’qil bin Yasar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda: Surat Yasin adalah jantung Al-Qur’an. Tidaklah seseorang membacanya dengan mengharap ridla Allah Swt, kecuali Allah Swt. akan mengampuni dosa-dosanya. Maka bacalah Surta Yasin atas orang-orang yang telah meninggal di antara kamu sekalian. (Musnad Ahmad ibn Hanbal, 1941)

      Imam al-Hafidz an-Nawawi rahimahullah. Didalam al-Adzkar beliau telah menyebutkan haditsnya sebagai berikut: Kami meriwayatkan didalam kitab Sunan Abi Daud dan Ibnu Majah, dari Ma’qil bin Yasar ash-Shahabi radliyallahu ‘anh, bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda : “bacalah oleh kalian Yasin untuk orang mati diantara kalian”.

      tuh katanya boleh baca yasin buat yg ud meninggal, gimana dong…???

      BACAKANLAH SURAT YASIN TERHADAP ORANG YANG AKAN MATI DI ANTARA KALIAN

      Pertanyaan
      Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Bagaimana maksud hadits : “ Bacakanlah surat Yasin terhadap orang yang akan mati di antara kalian”. ?

      Jawaban
      Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasaa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim, dari Ma’qal bin Yasir, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

      “Bacakanlah surat Yasin terhadap orang yang akan mati di antara kalian”.

      Lafadz hadits ini, di dalam riwayat Imam Ahmad (disebutkan).

      “Surat Yasin adalah hati (jantung) Al-Qur’an. Tidak ada seorang pun yang membacanya yang menginginkan Allah dan hari akhirat, kecuali dia akan diampuni dosanya. Dan bacakanlah surat itu terhadap orang yang mati di antara kailan’ [1]

      Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, sedangkan Yahya bin Al-Qaththan menjelaskan illatnya (cacatnya) berupa idhthirab (goncang), mauquf (sampai sahabat). Abu Utsman dan bapaknya yang disebutkan dalam sanadnya ini majhul (tidak diketahui) keadaannya.

      Ad-Daruquthni berkata : “Hadits ini sanadnya dhaif (lemah), matannya (isi haditsnya) majhul, dan dalam masalah ini, satupun tidak ada hadits yang shahih”.

      Berdasarkan keterangan ini, maka kami tidak perlu menjelaskan maksud hadits ini, karena hadits ini tidak shahih. Seandainya dianggap shahih, maka maksudnya adalah membacakan surat Yasin kepada orang yang sedang sekarat supaya ingat, dan supaya pada akhir masa hidupnya di dunia mendengar bacaan Al-Qur’an. (Maksud hadits ini), bukanlah membacakan surat Yasin kepada orang yang sudah nyata-nyata meninggal

      Ada sebagian orang yang membawa pengertian hadits ini kepada zhahirnya, sehingga mengatakan sunnahnya membacakan Al-Qur’an kepada orang yang sudah meninggal, karena (menurut mereka, red) tidak ada hal yang mengalihkan makna hadits ini dari makna zhahirnya.

      Kami bantah dengan perkataan, seandainya hadits ini sah dan maksudnya adalah benar demikian, maka tentu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukannya. Dan tentunya perbuatan Nabi sudah disampaikan kepada kita. Akan tetapi, hal itu tidak pernah ada sebagaimana penjelasan di atas. Ini menunjukkan, yang dimaksud dengan kata ‘mautakum’ dalam hadist ini (seandainya shahih) adalah orang-orang yang sedang mengalami sekarat yang terdapat dalam hadits riwayat Muslim dalam shahih-nya, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

      (“Tuntulah orang yang sekarat di antara kalian ‘Laa ilaha illallahu’). Sesungguhnya yang dimaksudkan adalah orang-orang yang sekarat, sebagaimana dalam kisah wafatnya Abu Thalib, paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

      Wabillahit-taufiq, washallahu ‘ala Nabiyinia Muhammad wa ‘alihi wa shahbihi ajmain.

      [Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta, 9/41-42]

      saya nukil dari sini : http://almanhaj.or.id/content/2399/slash/0/menyewa-qari-orang-yang-membaca-al-quran-bacakanlah-surat-yasin-untuk-orang-yang-akan-mati/

      trus klo malem jumat daku dapat beberapa keterangannya seperti ini:

      dari Tafsir Ibn Katsir: Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Yasin pada malam hari, maka pagi harinya ia diampuni oleh Allah. Barangsiapa yang membaca surat al-Dukhan, maka ia diampuni oleh Allah.” (HR Abu Ya’la).

      Menurut al-Hafizh Ibn Katsir, hadits ini sanad-nya jayyid (shahih). Komentar Ibn Katsir ini juga dikutip dan diakui oleh al-Imam al-Syaukani dalam tafsimya Fath al-Qadir, bahwa sanad hadits tersebut jayyid, alias shahih.

      Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mencari ridha Allah, maka Allah akan mengampuninya,” (HR. Ibn Hibban dalam Shahih-nya).

      Hadits ini dishahihkan oleh al-Imam Ibn Hibban dan diakui oleh al-Hafizhu Ibn Katsir dalam Tafsir-nya, al- Hafizh Jalahiddin al-Suyuthi dalam Tadrib al-Rawi, dan al- Imam al-Syaukani dalam tafsir Fath al-Qadir dan al-Fawaid al-Majmu’ah. tuh kan boleh

      .tuh kan boleh baca yasin malem-malem apa lagi malem jumat, kan malem jumat termasuk malam yg utama karena ikut pada hari jumatnya, gimana ???

      Terimakasih mas bro, belum baca postingan saya yang disini ya, silahkan baca bro, ternyata hadits2 tentang keutamaan surat yasin itu derajatnya ada yang lemah, juga palsu, baca dimari bro,

      Kalau ada hadits shahihnya, saya juga mau tuh mas bro ngamalin yasinan,.
      Ternyata yang dipraktekan dan disuruh oleh rasulullah pada malam jumat bukan baca yasin mas bro, tapi baca surat alkahfi, baca ulasannya disini

      • Asep Bahri
        April 17, 2014 pukul 1:24 am | #20

        Orang-orang bodoh tidakm pernah mau mengkaji tahu nya menyalahkan dan senang dalam ketidaktahuannya.pantas Islam dan kaum muslimin tidak maju-maju.Yang begini saja dibesar-besarin.Astaghfirullohal ‘adziim!

        TErimakasih kang Asep,.
        Kenapa kaum muslimin tidak maju-maju? karena banyak kaum muslimin yang tidak paham akan ajaran islam yang mereka amalkan sehari-hari,.
        Cara wudhu mereka, cara shalat mereka, itu praktek sehari-hari, banyak sekali yang diamalkan oleh kaum muslimin itu tidak sesuai tuntunan rasulullah,

        Kita patut beristighfar tentang hal ini, bukan beristighfar ketika ada orang yang berusaha menjelaskan penyimpangan ibadah kaum muslimin,. bukan terbalik kang,.

    • awam
      Oktober 10, 2013 pukul 9:03 pm | #21

      bro admin bilang:

      Sunnah adalah Perintah rasulullah, baik Perbuatan rasulullah atau perkataan Rasulullah, juga persetujuan rasulullah terhadap perbuatan sahabatnya,..

      Dalam shahih Bukhari dijelaskan:
      Dari Sa’ib ia berkata, “Saya mendengar dari Sa’ib bin Yazid, beliau berkata, “Sesungguhnya adzan di hari jumat pada asalnya ketika masa Rasulullah SAW, Abu Bakar RA dan Umar RA dilakukan ketika imam duduk di atas mimbar. Namun ketika masa Khalifah Utsman RA dan kaum muslimin sudah banyak, maka beliau memerintahkan agar diadakan adzan yang ketiga. Adzan tersebut dikumandangkan di atas Zaura’ (nama pasar). Maka tetaplah hal tersebut (sampai sekarang)”. ( Shahih al-Bukhari: 865)

      nah gimana itu bro admin??? bererti Utsman RA bid’ah dongs karena nambahin adzan sendiri, tanpa ada perintah dari Rasululloh, baik melalui perbuatan, perkataan, juga persetujuan Rasulullah..

      Terimakasih bro awam,. Apa yang dilakukan oleh Utsman, apalagi tidak ada sahabat yang menyelisihinya, itu termasuk sunnah rasul juga, berdasarkan perkataan Rasulullah,
      فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

      Karena siapa saja yang hidup sepeninggalku, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka tetaplah kalian pada sunnahku dan sunnah (tuntunan) para khulafa‘ur-rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpeganglah dengannya dan gigitlah dengan gigi-gigi geraham kalian, serta jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam Islam), karena segala yang baru tersebut adalah bid‘ah dan segala yang bid‘ah adalah kesesatan.“ (Shahih, HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan yang lain)

      Jadi apa yang dilakukan oleh utsman adalah termasuk sunnah rasul, jika kita mau malakukannya, boleh saja, tapi dengan cara yang dilakukan oleh utsman, yaitu adzan pertama dilakukan ditempat keramaian, sebelum masuk waktu dzuhur, tujuannya untuk mengingatkan manusia bahwa hari ini hari jumat, bukan adzan kesatu itu dilakukan dimasjid ketika sudah masuk waktu dzuhur, sebagaimana banyak kita saksikan di masjid2 di indonesia, itu tdk sesuai dgn adzan utsman, jg tdk sesuai dgn contoh rasulullah

      Penjelasan tentang adzan ketiga, itu adalah iqamat, berikut ini melengkapi penjelasan diatas, saya nukilkan dari sumber lain

      Perlu diketahui bahwa azan kedua sebelum shalat Jum’at adalah azan yang diterapkan oleh khulafaur rosyidin. Sehingga tidak perlu diingkari. Demikian nasehat guru kami, Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah. Azan pertama di hari Jum’at ini ditambahkan di masa ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, salah seorang khulafaur rosyidin. Terdapat dalam hadits As Saib bin Yazid radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

      كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوَّلُهُ إِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ ” قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ الزَّوْرَاءُ مَوْضِعٌ بِالسُّوقِ بِالْمَدِينَةِ

      “Dahulu azan pada hari Jum’at dilakukan di awal ketika imam di mimbar. Ini dilakukan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Namun di masa ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu karena saking banyaknya jama’ah, beliau menambahkan azan sampai tiga kali di Zawro’.” Abu ‘Abdillah berkata, “Zawro’ adalah salah satu tempat di pasar di Madinah.” (HR. Bukhari no. 912).

      Yang dimaksudkan azan sampai tiga kali di sini adalah karena di saat shalat Jum’at ada tiga kali azan. Azan pertama yang ditambahkan di masa ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu. Azan kedua adalah azan ketika khutbah. Azan ketiga adalah ketika iqomah. Iqomah disebut pula azan sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Abdullah bin Mughoffal Al Muzani, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ

      “Di antara dua azan terdapat shalat (sunnah)” (HR. Bukhari no. 624 dan Muslim no. 838).

      Jadi apa yang dilakukan oleh utsman itu bukan bidah mas bro, tapi itu adalah sunnah, jika kita mau melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh utsman, adzan pertama dilakukan di zaura (pasar) sebelum masuk waktu dzuhur, adzan kedua dilakukan di masjid setelah masuk dzuhur setelah khatib naik mimbar, dan adzan ketiga adalah iqamah, setelah khatib selesai berkhutbah, maka itu adalah mengikuti sunnah, insya allah berpahala,

      monggo mas bro, bandingkan dengan praktek adzan dua kali yang ada di indonesia, jauh berbeda dengan apa yg dilakukan utsman, atau yang dilakukan rasulullah,.

      mudah-mudahan bisa dipahami mas bro,. jazakallahu khairan,

      • Aswaja
        Oktober 19, 2013 pukul 12:05 pm | #22

        Awam,,, Adminnya bingung mencari dalil utk membantah hadits yg anda sampaikan, kasihan si Admin yg “…..” terjemahan dari goggle belum ada jadi ga’ bisa menanggapi komen anda,,, atau KEBENARAN TELAH NYATA DAN KESESATAN TELAH DIPATAHKAN,,, Insya Allaah kebenaran komen akan selalu di jaga Allaah swt, karena kaum Najd wahabi nyata2 telah sesat,,,

        He..he..he.. bingung? siapa yg bingung?
        Saya juga minta disebutkan hadits larangan shalat maghrib 5 rakaat, apakah ada? silahkan bantu orang awam ini mas aswaja, jika anda juga bisa menyampaikan dalil larangan shalat maghrib 5 rakaat, saya kasih hadiah tanah warisan, yg bisa utk bangun dua rumah , lumayan toh, silahkan sebutkan haditsnya,. Jika mas aswaja memang paham kebenaran, silahkan mas,.

  16. avatar
    Oktober 10, 2013 pukul 2:02 am | #23

    Saya orang amat bodoh mau bertanya kepada yang buat Blog ini
    ”apa hukum buat blog di internet menurut Imam Syafii”
    adakah pernah dilakukan di zaman Rasulullah”

    Terimakasih ,
    Hukumnya, sebagaimana hukum jualan bakso, bala-bala, rujak, gado-gado,naik mobil,naik pesawat,naik becak.
    Karena semua itu juga tidak ada dijaman rasulullah mas/mba,.

    • muslim
      November 16, 2013 pukul 3:53 pm | #24

      admin aja yang tolol…sdah ada perintah shlat maghrib 3 rakaat knpa hrus 5 rakaat

      Terimakasih, atas komentarnya yg bagus,
      Saya hanya menjawab pertanyaan orang yang gemar ritual tahlilan dengan dalih, Mana dalil yang melarang ritual tahlilan kematian?” maka saya kasih perumpamaan dengan shalat maghrib 5 rakaat dengan pertanyaan yang sama, “Mana dalil yang melarang shalat maghrib 5 rakaat? kan sama-sama tidak ada bukan, lalu, apakah dengan tidak ada dalil yang melarang itu berarti kita boleh melakukan shalat maghrib 5 rakaat?

      Ini jawaban buat penggemar ritual tahlilan kematian,.

      Perintah untuk membaca tahlil sudah jelas dari rasulullah, bahkan ini dzikir yg paling agung,
      Adapun tatacaranya seperti ritual tahlilan kematian, ini tidak pernah rasulullah ajarkan, sebagaimana shalat maghrib 5 rakaat juga tidak pernah rasulullah ajarkan,

      so… jadilah orang cerdas, bukan jadi orang dungu yang hanya ikut-ikutan saja tanpa mengetahui dalil,

  17. R. Nugraha Kusuma Wardhana
    Oktober 1, 2013 pukul 1:32 pm | #25

    Assalamu’alaikum. Sebelumnya Terima kasih kepada penulis, Alhamdulillah bertambah ilmu saya… Dan menanggapi tulisan anda, saya ingin bertanya bagaimana dengan makanan yang disajikan saat acara tahlilan?? Apakah hukumnya haram apabila kita memakannya? Atau boleh-boleh saja??

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,

    Terimakasih mas sudah komentar disini,
    Saya nukilkan dari web http://www.konsultasisyariah.com tentang hukum makanan atau sembelihan yang dihidangkan di acara tahlilan,
    Adapun hukum sembelihan yang disembelih hanya sekedar untuk dihidangkan pada acara tersebut (tahlilan) maka selama orang yang menyembelih masih muslim dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang mengeluarkan dia dari islam (seperti syirik besar) maka halal sembelihannya, jika disembelih dengan cara yang syar’i.
    selengkapnya baca disini mas,

  18. koser
    September 17, 2013 pukul 3:26 am | #26

    apakah hukumnya keluar 4 bulan, 40 hari, 3 hari yang sering dilakukan oleh jamaah tabligh ?

    Terimakasih mas,
    Itu adalah amalan bidah yg tidak ada contohnya dari rasulullah, dan itu merupakan amalan yg dibuat2 oleh pendiri JT ,
    Tentang penyimpangan Jamaah tablig sudah saya posting disini, silahkan dibaca,

  19. hamba allh
    Agustus 25, 2013 pukul 4:35 pm | #27

    percuma kalian pada berdebat, maaf, terutama yang punya blog,…
    sdah digariskan bahwa islam akn pecah jd bbrapa golongan,..
    lakukanlah apa yang jadi keyakinann dan sesuai dengan ilmu yng kamu pelajari
    diantra kalian terutama pemilik blog ini,…
    adakah yang sanggup mengatakn bhwa pandangan kalian ini yng pling bnar di sisi allah??
    kita sesama islam, alangkah baiknya jngan berselisih,…
    beljarlah islam seutuhnya,….
    bxk hal yang hrs dipelajari….

    Terimakasih,.
    Islam seutuhnya itu yang bagaimana dong, apakah islam yg sdh ditambah-tambah, seperti ritual tahlilan kematian ini?

    Atau islam yg diajarkan oleh rasulullah kepada para sahabatnya?
    Coba, ayo kita mengamalkan islam yg seutuhnya, yaitu islam yg diajarkan rasulullah kepada para sahabatnya,.. dan mereka tidak pernah sekalipun mengamalkan tahlilan kematian,..

    Ayo… kembali kepada islam yg seutuhnya, sebagaimana perkataan anda,.. yuuk…

  20. gusjan
    Agustus 21, 2013 pukul 1:42 pm | #28

    Nabi memiliki beberapa anak, yang anak laki2 semua meninggal sewaktu masih kecil. Anak-anak perempuan beliau ada 4 termasuk Fatimah, hidup sampai dewasa.
    Ketika Nabi masih hidup, putra-putri beliau yg meninggal tidak satupun di TAHLIL i, kl di do’akan sudah pasti, karena mendo’akan orang tua, mendo’akan anak, mendo’akan sesama muslim amalan yg sangat mulia.

    Ketika NABI wafat, tdk satu sahabatpun yg TAHLILAN untuk NABI,
    padahal ABU BAKAR adalah mertua NABI,
    UMAR bin KHOTOB mertua NABI,
    UTSMAN bin AFFAN menantu NABI 2 kali malahan,
    ALI bin ABI THOLIB menantu NABI.
    Apakah para sahabat BODOH….,
    Apakah para sahabat menganggap NABI hewan…. (menurut kalimat sdr sebelah)
    Apakah Utsman menantu yg durhaka.., mertua meninggal gk di TAHLIL kan…
    Apakah Ali bin Abi Tholib durhaka.., mertua meninggal gk di TAHLIL kan….
    Apakah mereka LUPA ada amalan yg sangat baik, yaitu TAHLIL an koq NABI wafat tdk di TAHLIL i..

    Semua Sahabat Nabi SAW yg jumlahnya RIBUAN, Tabi’in dan Tabiut Tabi’in yg jumlahnya jauh lebih banyak, ketika meninggal, tdk ada 1 pun yg meninggal kemudian di TAHLIL kan.

    cara mengurus jenazah sdh jelas caranya dalam ISLAM. Dari mentalqin sebelum meninggal, sampek meng kafani, memandikan, mengsholati, menguburkan dll. Bahkan di ajarkan melalui buku DIKTAT AGAMA ISLAM dr SD – Perguruan Tinggi.

    Saudaraku semua…, sesama MUSLIM…
    saya dulu suka TAHLIL an, tetapi sekarang tdk pernah sy lakukan. Tetapi sy tdk pernah mengatakan mereka yg tahlilan berati begini.. begitu dll. Para tetangga awalnya kaget, beberapa dr mereka berkata:” sak niki koq mboten nate ngrawuhi TAHLILAN Gus..”

    sy jawab dengan baik:”Kanjeng Nabi soho putro putrinipun sedo nggih mboten di TAHLILI, tapi di dongak ne, pas bar sholat, pas nganggur leyeh2, lan sakben wedal sak saget e…? Jenengan Tahlilan monggo…, sing penting ikhlas.., pun ngarep2 daharan e…”
    mereka menjawab: “nggih Gus…”.

    Terimakasih gus,. saya tanggapi jawaban njenengan, berarti yen melakukan perbuatan yang dianggap baik, asal ikhlas berarti dapet pahala? ngga juga gus, silahkan baca postingan ini, ngga cukup cuma niat baik semata, niat yg baik,caranya juga harus baik, bukan dengan cara yang diada-adakan,. monggo diwaca gus, nang kene

    sy pernah bincang-bincang dg kyai di kampung saya, sy tanya, apa sebenarnya hukum TAHLIL an..?
    Dia jawab Sunnah.., tdk wajib.

    tanggapan saya, njenengan sudah memaparkan diatas, dari Rasulullah hinggap para sahabat, tidak ada yg ditahlilkan, darimana dikatakan itu hukumnya sunnah? sungguh sangat menggelikan, dan memang demikian jawaban dari pengikut kebidahan, jawabannya sangat-sangat menggelikan, walaupun disampaikan oleh kyiainya, apalagi jawaban pengikut kyiai2 tsb, lebih menggelikan lagi,. jika itu hukumnya sunnah, tentu rasulullah atau para sahabat sudah melakukkannya, jika rasulullah dan para sahabat tidak melakukannya, ini berarti sunnahnya siapa? sunnahnya pak kyiai?

    sy tanya lagi, apakah sdh pernah disampaikan kepada msyarakat, bahwa TAHLILAN sunnah, tdk wajib…??
    dia jawab gk berani menyampaikan…, takut timbul masalah…

    Jika kyai menyampaikan kepada masyarakat bahwa tahlilan kematian itu sunnah, maka dia telah menyebarkan ajaran yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah, ini pasti akan menimbulkan masalah, bukan masalah di dunia saja, tapi masalah di akherat juga, penyebab kita diusir dari telaga rasulullah, bahkan didoakan oleh pengikutnya supaya orang spt itu dihukum dua kali lipat, karena telah menyesatkan para pengikutnya,

    setelah bincang2 lama, sy katakan.., Jenengan tetap TAHLIl an silahkan, tp cobak saja disampaikan hukum asli TAHLIL an…, sehingga nanti kita di akhirat tdk dianggap menyembunyikan ILMU, karena takut kehilangan anggota.., wibawa dll.

    Jika yang dimaksud hukum asli tahlilan kematian adalah sunnah, sungguh kyiai tersebut telah berdusta atas nama rasulullah, dan ancamannya di akherat sungguh mengerikan,

    Untuk para Kyai…, sy yg miskin ilmu ini, berharap besar pada Jenengan semua…., TAHLIL an silahkan kl menurut Jenengan itu baik, tp sholat santri harus dinomor satukan..

    Saya merasa geli juga, membaca anda mengaku miskin ilmu, tapi anjuran anda kepada pak kyiai itu seperti bertolak belakang dengan perkataan anda , bukan perkataan orang yang miskin ilmu, bahkan orang yang seolah-olah tahu bahwa hukum tahlilan kematian itu baik, asal diniatkan dengan ikhlas,.. ini perkataan yang tidak ada dasarnya, sebagaimana sudah saya postingkan disini

    sy sering kunjung2 ke MASJID yg ada pondoknya. tentu sebagai musafir saja, rata2 sholat jama’ah nya menyedihkan.
    shaf nya gk rapat, antar jama’ah berjauhan, dan Imam rata2 gk peduli.
    selama sy kunjung2 ke Masjid2 yg ada pondoknya, Imam datang langsung Takbir, gk peduli tentang shaf…

    Itu merupakan pemandangan umum kaum muslimin secara umum, bukan dipondok2 mereka saja, tapi mayoritas kaum muslimin di indonesia,.. sang imam memang sudah mengingatkan suruh merapatkan shaf, cuma imam tidak menjelaskan / tidak tahu seperti apa sih shaf yang rapat tersebut, silahkan baca disini postingan tentang merapatkan shaf,
    Apa kata imam syafii tentang meluruskan shaf ini, apakah kyiai yang mengaku pengikut imam syafii itu tidak mengetahuinya? baca disini ulasannya

    Untuk saudara2 salafi…, jangan terlalu keras dalam berpendapat…
    dari kenyataan yg sy liat, saudara2 salfi memang lebih konsisten.., terutama dalam sholat.., wabil khusus sholat jama’ah…
    tapi bukan berati kita meremehkan yg lain.., kita do’akan saja yg baik…
    siapa tau Alloh SWT memahamkan sudara2 kita kepada sunnah shahihah dengan lantaran Do’a kita….

    Siapa yang keras, siapa yang meremehkan amalan orang lain? tidak ada,
    Adapun perasaan mungkin dianggap keras, karena apa yang disampaikan orang yang mendakwahkan ajaran islam yang sesuai dengan ajaran rasulullah (manhaj salaf) itu berbenturan atau bertabrakan dengan kebiasaan kaum muslimin, atau kebiasaan pak kyiai, jadi ini dianggap keras, atau terlalu keras, ini hal yang wajar,. sehingga banyak yang terkaget-kaget, atau istilah jawanya, banyak yang RUNTAG, sebagaimana saya pernah mendengar teman saya yg sudah terbiasa ngisi pengajian di masyarakat merasa Runtag ketika mendengar memotong jenggot hukumnya haram, saya sih ketawa saja,. gitu aja kok runtag,

    Siapa yang meremehkan amalan orang lain,. mohon dibedakan antara menjelaskan kebidahan yg dilakukan kaum muslimin dengan menghukumi secara person, meremehkan amalan person2 yg mengamalkan kebidahan,.

    Jangan sampai dianggap meremehkan amalan orang lain ketika kita sedang menjelaskan amalan-amalan bidah,.

    demikian uneg2 saya, mohon maaf kl ada yg tdk berkenan…
    semoga Alloh membawa Ummat Islam ini kembali ke jaman kejayaan Islam di jaman Nabi…, jaman Sahabat.., Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in
    Amin ya Robbal Alamin

    tidak apa2 mas,.. jalan selamat hanya satu, tidak ada jalan lain selain jalannya para salafus shalih, mengikuti dan mengamalkan islam sesuai dengan pemahaman para sahabat,. silahkan baca postingannya disini

  21. Arga
    Juli 25, 2013 pukul 8:46 am | #29

    yang terpenting adalah menghormati satu sama lain, yang melaksanakan mohon jangan memaksa yang tidak mau melaksanakan, dan yang tidak melaksanakan juga jangan melarang untuk yang melaksanakan, sikap toleransi itu lebih baik,,ISLAM itu Indah,

    Terimakasih atas komentarnya,.
    Betul sekali, islam itu indah, jika kita mengamalkannya sesuai dengan ajaran yg betul-betul diajarkan oleh Rasulullah, bukan dengan amalan2 yang tidak diajarkan oleh Rasulullah,.

    Jika amalan yang kita kerjakan itu bukanlah ajaran yang diajarkan oleh rasulullah, sesungguhnya kita sedang merusak islam itu sendiri,
    Dan tidak ada toleransi dalam hal ini, .. toleransi boleh, tapi jika kita toleransi dalam hal amalan2 bidah, maka ini adalah toleransi yang kebablasan,

  22. absoluterevo
    Juli 14, 2013 pukul 1:25 am | #30

    Sorga dan neraka milik Alloh blm tentu seorang ustadz masuk surga maka dari itu jangan memponis seseorang kafir :mrgreen:

    Betul sekali, tidak boleh memvonis kafir kepada saudara kita sesama muslim,
    Saya juga tidak berani memvonis orang lain kafir, bahayanya bukan sepele,. buesarrr mas,.

  23. ibnu
    Juli 13, 2013 pukul 2:17 am | #31

    maaf y mas sy mau tnya,,adakah dalil yg shahih atau surat al-qur’an yg mengatakan bahwa yasinan,tahlilan,shalawatan atau apa lah istilahny yg tdk pernah di lakukan Baginda besa Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya..??

    mohon pencerahaannya…agar tidak terjadi bid’ah..terima kasih

    Terimakasih mas,
    Justru kalau ada dalilnya baik dari alquran atau hadits, berarti itu dikerjakan oleh rasulullah dan para sahabatnya,.jika tdk ada dalilnya berarti itu tdk dikerjakan oleh rasulullah, dan kita tidak usah melakukan amalan yg tidak dicontohkan oleh rasulullah

  24. santrikarbitan
    Juli 3, 2013 pukul 9:23 am | #32

    buat Admin karbitan: silahkan mati duluan, nanti saya kirimi tahlil di kuburan kamu, kalau gak nyampek silhkan komplen aku. OK

    terimakasih,..
    sory saja mas santri, saya ngga mau ditahlili jika mati, dan saya ngga rela anda mentahlili saya, baik dikuburan saya atau dimanapun,. ngga mau mas,.

    Mudah-mudahan Allah menunjuki anda agar mendapatkan hidayah

  25. Tombo Ati
    Juni 23, 2013 pukul 4:11 am | #33

    ahsan wa syukron, sungguh sangat bermanfaat.

  26. jusuf
    Juni 22, 2013 pukul 9:40 am | #34

    hehehe si admin, klo membaca tahlil boleh dan dianjurkan oleh Rosulullah, tapi kalo TAHLILan bid”ah katanya “karena walaupun membaca tahlil, silaturrahmi dianjurkanNya, tapi TATA CARANYA tidak pernah dicontohkanNya dan mengadopsi budaya Indonesia maka jadi Bid’ah” ……… kemudian disitir hadis “kalau semua bid”ah itu SeSat” kalo sesat ……. gimana kalo si admin dakwah dengan cara seperti ini (dakwah dianjurkan Rasulullah), tetapi TATACARANYA tidak seperti yg diajarkanNya yi menggunakan Internet (budaya dan gaya barat, ciptaan atau kepunyaan Kapir) ??? ……. klo memang KONSISTEN dg analogi tekstualnya dan tidak bermain kata2 …… bid’ah juga dong.

    Tahlil itu sunnah, tapi tahlilan itu bidah
    Yasin itu sunnah, tapi yasinan itu bidah
    shalawat itu sunnah, tapi shalawatan itu bidah,

    Puas??.. bukan tidak konsisten, itu sangat konsisten, Tahlil itu ajaran rasulullah, diajarkan lafadz kalimat tahlilnya, juga pelaksanaanya,.. beda dengan tahlilan, demikian juga yasin, itu salahsatu ayat alquran, kita disuruh membacanya, bahkan bukan yasin saja, tapi seluruh surat,bahkan dianjutrkan mengkhatamkannya,.. beda dengan yasinan,.. surat yasin mulu yg dibaca tiap malem jumat, ini bidahnya,.
    shalawat juga demikian, rasulullah dah ajarkan lafadznya, dan waktu2 mengucapkannya, bedda dengan shalawatan, yg dibaca shalawat buatan manusia, ada berjanji, nariyaha, badar, dll,.. itu semua bidah,.

    Ingan kang yusuf, bidah itu hanya dalam hal urusan agama, urusan ibadah, bukan urusan dunia seperti internet, hape,pesawat, mobil, dll,.. itu bukan termasuk bidah,. kalau itu semua termasuk bidah, itu sangat merepotkan kita, mungkin celana anda tidak pakai resleiting, karena itu juga bidah, ,

    • Bagas saputro aji
      Juni 26, 2013 pukul 1:30 am | #35

      masih ada suatu kerancuan di tengah-tengah masyarakat bahwa berbagai kemajuan teknologi saat ini seperti mobil, komputer, HP dan pesawat dianggap sebagai bid’ah yang tercela. Di antara mereka mengatakan, “Kalau memang bid’ah itu terlarang, kita seharusnya memakai unta saja sebagaimana di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

      Menurut kami, perkataan ini muncul karena tidak memahami bid’ah dengan benar.

      Perlu sekali ditegaskan bahwa yang dimaksudkan dengan bid’ah yang tercela sehingga membuat amalannya tertolak adalah bid’ah dalam agama dan bukanlah perkara baru dalam urusan dunia yang tidak ada contoh sebelumnya seperti komputer dan pesawat.

      Suatu kaedah yang perlu diketahui bahwa untuk perkara non ibadah (‘adat), hukum asalnya adalah tidak terlarang (mubah) sampai terdapat larangan. Hal inilah yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (sebagaimana dalamIqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/86) dan ulama lainnya.

      Asy Syatibi juga mengatakan, “Perkara non ibadah (‘adat) yang murni tidak ada unsur ibadah, maka dia bukanlah bid’ah. Namun jika perkara non ibadah tersebut dijadikan ibadah atau diposisikan sebagai ibadah, maka dia bisa termasuk dalam bid’ah.” (Al I’tishom, 1/348)

      Para pembaca dapat memperhatikan bahwa tatkala para sahabat ingin melakukan penyerbukan silang pada kurma –yang merupakan perkara duniawi-, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      إِذَا كَانَ شَىْءٌ مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكُمْ فَأَنْتُمْ أَعْلَمُ بِهِ فَإِذَا كَانَ مِنْ أَمْر دِينِكُمْ فَإِلَىَّ

      “Apabila itu adalah perkara dunia kalian, kalian tentu lebih mengetahuinya. Namun, apabila itu adalah perkara agama kalian, kembalikanlah padaku.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengomentari bahwa sanad hadits ini hasan)

      Kesimpulannya: Komputer, HP, pesawat, pabrik-pabrik kimia, berbagai macam kendaraan, dan teknologi informasi yang berkembang pesat saat ini, itu semua adalah perkara yang dibolehkan dan tidak termasuk dalam bid’ah yang tercela. Kalau mau kita katakan bid’ah, itu hanyalah bid’ah secara bahasa yaitu perkara baru yang belum ada contoh sebelumnya.

      Jazakallahu khairan atas tambahannya,. mudah2an paparan diatas semakin memperjelas kaum muslimin yg belum paham apa itu bidah,.

    • Bagas saputro aji
      Juni 26, 2013 pukul 1:38 am | #36

      jusuf :
      hehehe si admin, klo membaca tahlil boleh dan dianjurkan oleh Rosulullah, tapi kalo TAHLILan bid”ah katanya “karena walaupun membaca tahlil, silaturrahmi dianjurkanNya, tapi TATA CARANYA tidak pernah dicontohkanNya dan mengadopsi budaya Indonesia maka jadi Bid’ah” ……… kemudian disitir hadis “kalau semua bid”ah itu SeSat” kalo sesat ……. gimana kalo si admin dakwah dengan cara seperti ini (dakwah dianjurkan Rasulullah), tetapi TATACARANYA tidak seperti yg diajarkanNya yi menggunakan Internet (budaya dan gaya barat, ciptaan atau kepunyaan Kapir) ??? ……. klo memang KONSISTEN dg analogi tekstualnya dan tidak bermain kata2 …… bid’ah juga dong.

      Tahlil itu sunnah, tapi tahlilan itu bidah
      Yasin itu sunnah, tapi yasinan itu bidah
      shalawat itu sunnah, tapi shalawatan itu bidah,
      Puas??.. bukan tidak konsisten, itu sangat konsisten, Tahlil itu ajaran rasulullah, diajarkan lafadz kalimat tahlilnya, juga pelaksanaanya,.. beda dengan tahlilan, demikian juga yasin, itu salahsatu ayat alquran, kita disuruh membacanya, bahkan bukan yasin saja, tapi seluruh surat,bahkan dianjutrkan mengkhatamkannya,.. beda dengan yasinan,.. surat yasin mulu yg dibaca tiap malem jumat, ini bidahnya,.
      shalawat juga demikian, rasulullah dah ajarkan lafadznya, dan waktu2 mengucapkannya, bedda dengan shalawatan, yg dibaca shalawat buatan manusia, ada berjanji, nariyaha, badar, dll,.. itu semua bidah,.

      Ingan kang yusuf, bidah itu hanya dalam hal urusan agama, urusan ibadah, bukan urusan dunia seperti internet, hape,pesawat, mobil, dll,.. itu bukan termasuk bidah,. kalau itu semua termasuk bidah, itu sangat merepotkan kita, mungkin celana anda tidak pakai resleiting, karena itu juga bidah, ,

      masih ada suatu kerancuan di tengah-tengah masyarakat bahwa berbagai kemajuan teknologi saat ini seperti mobil, komputer, HP dan pesawat dianggap sebagai bid’ah yang tercela. Di antara mereka mengatakan, “Kalau memang bid’ah itu terlarang, kita seharusnya memakai unta saja sebagaimana di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

      Menurut kami, perkataan ini muncul karena tidak memahami bid’ah dengan benar.

      Perlu sekali ditegaskan bahwa yang dimaksudkan dengan bid’ah yang tercela sehingga membuat amalannya tertolak adalah bid’ah dalam agama dan bukanlah perkara baru dalam urusan dunia yang tidak ada contoh sebelumnya seperti komputer dan pesawat.

      Suatu kaedah yang perlu diketahui bahwa untuk perkara non ibadah (‘adat), hukum asalnya adalah tidak terlarang (mubah) sampai terdapat larangan. Hal inilah yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (sebagaimana dalamIqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/86) dan ulama lainnya.

      Asy Syatibi juga mengatakan, “Perkara non ibadah (‘adat) yang murni tidak ada unsur ibadah, maka dia bukanlah bid’ah. Namun jika perkara non ibadah tersebut dijadikan ibadah atau diposisikan sebagai ibadah, maka dia bisa termasuk dalam bid’ah.” (Al I’tishom, 1/348)

      Para pembaca dapat memperhatikan bahwa tatkala para sahabat ingin melakukan penyerbukan silang pada kurma –yang merupakan perkara duniawi-, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      إِذَا كَانَ شَىْءٌ مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكُمْ فَأَنْتُمْ أَعْلَمُ بِهِ فَإِذَا كَانَ مِنْ أَمْر دِينِكُمْ فَإِلَىَّ

      “Apabila itu adalah perkara dunia kalian, kalian tentu lebih mengetahuinya. Namun, apabila itu adalah perkara agama kalian, kembalikanlah padaku.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengomentari bahwa sanad hadits ini hasan)

      Kesimpulannya: Komputer, HP, pesawat, pabrik-pabrik kimia, berbagai macam kendaraan, dan teknologi informasi yang berkembang pesat saat ini, itu semua adalah perkara yang dibolehkan dan tidak termasuk dalam bid’ah yang tercela. Kalau mau kita katakan bid’ah, itu hanyalah bid’ah secara bahasa yaitu perkara baru yang belum ada contoh sebelumnya.

      Jazakallahu khairan atas tambahannya,. mudah2an paparan diatas semakin memperjelas kaum muslimin yg belum paham apa itu bidah,.

    • Pedro agustiawan
      Juni 26, 2013 pukul 11:48 am | #37

      tahlilan itu kan isim masdar dari fiil madhi hallala fiil mudore yuhallilu masdarnya tahlilan, ko, bid’ah, anda tidak memahami kalimat itu, sholawat bisa di baca sholawatan karna maf’ul beh, bisa sholawatun karna rofa’ misalnya jadi mubtada bisa shalawatin karena jar majrur, anda harus mengkaji ilmu nawu & shorof dulu sebelum menetukan hujum

      Waduh, jaman rasulullah, belum dikenal istilah masdar,ilmu nahwu shorof juga ga ada, jadi ga ada istilah jar majrur,,.
      gimana dong mas pedro, itu bidah dong?… Rasulullah ngga ngajarin shorof kok, anda berdalil dengan nahwu shorof,. piye toh mas,..mas,..

    • hero
      Juni 29, 2013 pukul 11:12 pm | #38

      Yg suka teriak bakso bakso bakso biasanya TUKANG BAKSO.. Yg suka teriak somay somay somay biasanya TUKANG SOMAY… Dan yg suka teriak bid’ah bid’ah bid’ah biasanya ??????

      Tak tambahin mas,.
      yang teriak copet,,, copet,… biasanya? TUKANG COPET?? bukannya yang dicopet?
      yang teriak maling.. maling,… apa itu? TUKANG MALING?? bukannya yg dimaling?
      jangang ngawur dong mas,… he..he..he..

      • kangmuh
        Agustus 8, 2013 pukul 12:13 pm | #39

        kang admin, saya suka jawaban anda. CERDAS sekali jawabnya.

        Alhamdulillah,.

  27. NasiGoreng
    Juni 21, 2013 pukul 4:00 pm | #40

    Aaaiiii…
    Yang sudah jelas2 wajib dan sunnah aja belum mampu kita kerjakan semua, npa harus repot ngerjain sesuatu yang masih belum jelas hukumnya….
    Bukankah itu merepotkan diri sendiri saja namanya?!

    betul… betul…betul… mudah2an laris nasi gorengnya,..

  28. gewol
    Juni 21, 2013 pukul 4:12 am | #41

    hoo oh yaee…, tapi tahlilan udah dari dulu ada mas sejak jaman wali songo, malah mungkin sejak jaman majapahit, abot ki aku ningalke..soalnya wis turun temurun.

    Terimakasih mas,.
    Kesyirikan juga sudah ada sejak dulu mas, turun temurun, bahkan sebelum jaman wali songo kesyirikan sudah menyebar di negeri ini,.
    Apakah kita akan mengikuti tradisi turun temurun tersebut,.

    Sebagai muslim yang cerdas, tentu kita tidak akan mengikuti tradisi turun temurun, tapi yg kit ikuti adalah dalil, baik dari alquran atau hadist,juga perbuatan para sahabat,.

    Mengikuti tradisi turun temurun tidak ada jaminan akan selamat, tapi mengikuti dalil, ada jaminan keselamatan,.. monggo,. tinggal pilih,..

  29. wisnu
    Juni 14, 2013 pukul 4:26 am | #42

    saya pernah didatangi seorang teman yang kebingungan karena tidak ada uang untuk tahlilan kematian keluarganya.. kemudian saya bertanya, ” apakah tahlilan itu wajib? ” lalu dia menjawab, ” di kampung kami hal tersebut sudah menjadi kebiasaan, saya takut keluarga saya jadi bahan omongan (dicemooh) orang sekampung pak..”

    Itulah salah satu musibah dari amalan yg tidak ada contohnya dari rasulullah, cara rasulullah begitu mudah, tidak memberatkan umatnya,.. namun cara cara menurut tradisi malah memberatkan umat islam itu sendiri, plus, tidak mendapatkan pahala, bahkan mendapatkan dosa,..
    Sayang bukan, sudah bersusah payah melakukan ritual tahlilan, bahkan dibelain utang kepada orang lain, tapi bukan pahala yang didapat, malah dapat dosa,.. sudah jatuh, tertimpa tangga pula,.. itu pepatahnya, bahkan sudah jatuh, tertimpa tangga,sudah tertimpa tangga, tertimpa tangga lagi,..

  30. Marwing
    Juni 6, 2013 pukul 5:31 am | #43

    kata “tahlilan “ memang didalam masa rosul tidak ada, tapi apa yang dibaca didalam tahlilan rosul mencontohkannya, nah inilah tuntunan, istilahnya memang belum ada, tapi isinya sudah dari dulu Rosul menyuruh kita mengerjakannya, itulah karena pandainya para ulama dalam menyusun suatu isitlah (tahlilan) kemudian mengumpulkan bacaan Al Qur’an, Dzikir, Tasbih, Tahmid, Tahlil, Shalawat dan bacaan lainnya. Dengan kata lain mengadakan acara Tahlilan dengan tujuan untuk memohon kepada Allah SWT., agar kerabat atau keluarga yang telah dipanggil kehadirat-Nya mendapatkan ampunan dan tempat yang layak disisi-Nya, serta berbahagia di alam kubur sana.

    lihatlah satu isinya, secara dzahir saja isi daripada tahlilan tersebut sangat baik, karena berisi bacaan-bacaan dari Al Qur’an dan surat-surat yang sudah terkenal tentang fadhilah atau keutamaan surat tersebut, contohnya surat alfatihah..

    Terimakasih bang Marwing,
    Saya kasih perumpamaan gini mas,. boleh tidak kita shalat maghrib , jumlah rakaatnya 3 rakaat, yang dibaca juga alquran, sama seperti shalat sebagaimana mestinya,.

    tapi kita melakukan shalat maghrib itu di siang hari, apakah itu boleh?
    Jika anda melarangnya, apa alasan anda? kan itu shalat, dan dalam shalat juga yg dibaca adalah ayat alquran, contohnya surat alfatihah, setelah shalat juga melakukan dzikir, ada kalimat tahlil juga,. dan INI TIDAK ADA LARANGAN DARI RASULULLAH YANG MENGATAKAN DILARANGNYA SHALAT MAGHRIB DI SIANG HARI,.
    Apa jawaban anda? dengan konsekwensi jawaban anda ditatas, maka orang yang shalat maghrib di siang hari berarti boleh ya? kalau tidak boleh, apa alasan anda?

    • Marwing
      Juni 6, 2013 pukul 6:05 am | #44

      Anda terlalu saklek memahami agama akhirnya seperti itu…..jangan dibanding-bandingkan amalan yang fardhu dgn sunnah dong.

      Anda paham apa arti sunnah? shalat 5 waktu adalah sunnah, demikian pula ibadah2 lain yang diajarkan oleh rasulullah, semuanya adalah sunnah, adapun hukumnya ada yang wajib, dan ada yg sunnah,

      Mungkin anda belum paham apa definisi sunnah, silahkan baca artikel ini agar anda paham apa itu sunnah,
      Bukankah umat islam disuruh berpegang kepada Alquran dan sunnah?
      Bukankah anda juga mengaku sebagai ahlussunnah? lalu apa artinya ahlus sunnah? apakah orang yang rajin mengamalkan sunnah?

      • kula
        Juni 21, 2013 pukul 3:32 pm | #45

        assalamu’alaikum, ane mau tanya.trs klo masalah tahlilan yasinan ziarah kubur maulidan itu termasuk’y gmn….

        Wa’alaikumussalam warahmatullah
        Terimakasih mas atas pertanyaannya,.
        Silahkan baca ulasan tentang yasinan dipostingan ini,
        dan baca ulasan tentang tahlilan dipostingan ini,
        Kedua amalan tersebut merupakan amalan yg tidak dicontohkan oleh rasulullah, alias amalan bidah dan yasinan termasuk bidah yang dianggap sunnah, silahkan baca ulasannya disini

        tonton juga video durasi 7 menit ini

  31. hilalnazmi
    Mei 28, 2013 pukul 5:52 pm | #46

    admin ini kurang ilmunya, perlu berlajar ah, intinya jangan sampai mengatakan ALLAH DI ATAS ARASY, artinya ALLAH bertempat dong, masa ALLAH bertempat? kalau bertempat punya wujud dong, gimanasih wujudNYA?

    Terimakasih mas komentarnya,.
    Tidak usah kita berbicara tentang wujud Allah, kita berbicara tentang wujud ciptaannya saja,
    saya contoh adalah AKAL,.
    saya tanya kepada anda, atau para pembaca sekalian:
    1. Apakah anda mempunyai AKAL?
    2. Jika anda mempunyai AKAL, bagaimanakah bentuk AKAL tersebut?
    3. Jika anda mempunyai AKAL, dimanakah letak AKAL tersebut?

    Silahkan anda cari, dan temukan bagaimana bentuk akal tersebut, dimana letaknya,.. apakah anda bisa?
    Lalu jika anda sendiri tidak mampu menceritakan bentuk akal, dan dimana letaknya,. apakah anda akan berkata, KALAU BEGITU KITA TIDAK PUNYA AKAL??

    AKAL saja yang melekat ditubuh kita, kita tidak bisa mengetahui bagaimana bentuknya, dimana letaknya, memikirkan bagaimana bentuknya saja kita tidak mampu, apalagi memikirkan ALLAH yang menciptakan alam semesta ini,..

    • sardjito wiwoho
      Juni 5, 2013 pukul 11:55 pm | #47

      hilal azmi ini keluar dari thema yan g dibahas

      Biarin saja pak, mudah-mudahan Allah berikan hidayah kepada saudara hilal azmi, dan menetapkan kita semua diatas alquran dan assunnah, amiin..

  32. Heru
    April 28, 2013 pukul 10:30 am | #48

    Shalat di masjid bagi laki-laki hukumnya wajib , bukan sunnah muakkadah,.
    Anda wajib shalat di masjid, entah itu masjid NU atau ormas lainnya, karena laki-laki itu wajib shalat 5 waktu secara berjamaah di masjid, bukan shalat di rumah.
    Dan carilah masjid yg tidak ada kuburan di dalamnya, karena shalat di masjid yg seperti itu maka tidak sah shalatnya
    Sebaliknya kalau wanita itu lebih baik shalat di rumah, pahalanya lebih besar daripada shalat jamaah di masjid,.
    Jadi jika ada laki-laki yg shalat di rumah tanpa udzur, maka ini menyerupai wanita

    MOHON MAAF SELAMA INI SAYA LEBIH BANYAK SHALAT DIRUMAH, MOHON DITUNJUKKAN HADIST MAUPUN AYAT2 ALQURAN YG MEWAJIBKAN SHALAT 5 WAKTU DI MASJID. TERIMAKASIH SEBELUMNYA KARENA INI SANGAT PENTING UNTUK SAYA KETAHUI, SEKALI LAGI TERIMAKASIH

    Terimakasih mas Heru, mudah-mudahan Allah memberikan semangat kepada anda untuk menjalankan ketaatan kepada Allah,

    Di antara dalil-dalil mereka adalah:

    1. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

    “Barangsiapa yang mendengar azan lalu tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali bila ada uzur.” (Hr. Abu Daud dan Ibnu Majah. Hadits ini dinilai shahih oleh Syekh al-Albani dalam Misykat al-Mashabih: 1077 dan Irwa’ al-Ghalil no. 551)

    2. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan dalam shahih al-Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ

    “Demi Zat yang jiwaku ada ditangan-Nya, sungguh aku ingin memerintahkan untuk mengumpulkan kayu bakar lalu terkumpul, kemudian memerintahkan untuk shalat dan dikumandangkan azan. Kemudian aku perintah seseorang untuk mengimami shalat, lalu aku pergi melihat orang-orang dan membakar rumah-rumah mereka.” (Hr. Bukhari)

    3. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim, yang berbunyi,

    أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ

    “Seorang lelaki buta menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak memiliki seorang penuntun yang bisa menuntunku berjalan ke mesjid.’ Kemudian ia memohon kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar diberikan keringanan sehingga dia boleh shalat di rumahnya, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkannya. Ketika orang tersebut berpaling pergi, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya dan berkata, ‘Apakah kamu mendengar azan shalat?’ Ia menjawab, ‘Iya.’ Beliau pun menyatakan, ‘Maka datangilah!’”

    Akan tetapi, pendapat yang rajih (kuat) dalam masalah ini adalah yang menyatakan wajib, namun bukan sebagai syarat sah shalat tersebut.

    Dijawab oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.

    Read more about apakah sholat di masjid wajib by http://www.konsultasisyariah.com

    Silahkan baca postingan ini juga mas,. KLIK DISINI

    Lihat dari dalil tersebut, apalagi peringatan rasulullah yg sangat keras, lihat hadits nmr 2, rasulullah akan membakar rumah-rumah yg ada laki-lakinya, tapi tidak mau shalat berjamaah di masjid,. lihat pula hadits nmr 3, seorang buta yg tidak mempunyai orang sebagai pemandu jalan ke masjid saja tidak ada udzur baginya agar tidak shalat di masjid,.

    Shalat kita di rumah, tetap sah, tapi kita berdosa tidak melakukan shalat tersebut secara berjamaah, belum lagi kita tdk mendapatkan manfaat dari shalat berjamaah,

  33. qusay
    April 17, 2013 pukul 6:12 pm | #49

    Assalamu’alaikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    berawal hanya dari kata “NAHWU” (Tata Bahasa), kalimat ini saya posting agar pemahaman kita dalam menafsirkan sebuah hadits tidak semena-mena.

    Dalam menafsirkan sebuah hadits…itu ada syarat2 nya admin ya…..ga bisa ditafsirkan seenak nya aja…. berikut syarat-syaratnya :
    Sehat Aqidah,
    Mampu mengendalikan hawa nafsu
    Menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran
    Menafsirkan Al-Quran dengan al-hadits
    Merujuk kepada perkataan shahabat
    Merujuk kepada perkataan tabi’inM
    enguasai bahasa arab, ilmu dan cabang-cabangnya
    Menguasai cabang-cabang ilmu yang terkait dengan ilmu tafsir
    Kita sering menyebutnya dengan ‘Ulumul Quran. Di antara cabang-cabangnya antara lain ilmu asbabunnuzul,
    ilmu nasakh-manskukh,
    ilmu tentang Mubayyan,
    dan seterusnya.
    Tidak pernah ada seorang mufassir yang kitab tafsirnya diakui oleh dunia Islam, kecuali mereka adalah pakar dalam semua ilmu tersebut. Dalam menafsirkan Al-Qur’an diperlukan keahlian dalam lima belas bidang ilmu”.
    Lughat (fitologi),
    Nahwu (tata bahasa).
    Sharaf (perubahan bentuk kata)
    Isytiqaq (akar kata)
    Ma’ani (susunan)
    Bayaan
    Badi’ Qira’at
    Aqa’id
    Ushul Fiqih
    Asbabun Nuzul
    Nasikh Mansukh
    Fiqih
    Hadits
    Wahbi
    serta Pemahaman yang Mendalam untuk llmu2 yang disebutkan di atas..,,, jadi tolong jangan ditafsirkan hadits menurut ilmu anda sendiri…
    sebagai penutup ” secuil ilmu yang sampai kepada kita hari ini adalah berkat para ulama yang mempunyai dan menguasai ilmu2 di atas,

    Jazakallahu khairan,..
    LEBIH SELAMAT, TINGGAL COPAS dari para ulama yang memiliki kapasitas akan hal itu, dan alhamdulillah dengan kecanggihan teknologi kita semakin dimudahkan untuk menukil penjelasan2 para ulama, jadi tdk perlu lagi menjelaskan menurut kemampuan kita yang sangat terbatas ,silahkan merujuk kepada pendapat generasi terbaik umat ini, kemudian penjelasan para ulama yeng mengikuti mereka dengan kebaikan,….

  34. pp
    April 8, 2013 pukul 8:04 pm | #50

    kalau kita masuk organisasi..ikuti peraturan oraganisasi itu…kalau kita sudah masuk islam…ikuti peraturannya…jangan membuat aturan sendiri (bidah)…kalau mau bikin aturan sendiri…silahkan bikin agama baru…paham….gitu aja repottttt

    betul sekali,..

  35. nanik
    April 8, 2013 pukul 5:32 pm | #51

    assalamu’alaikum….

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    semua prbuatan dilihat dari niatnya… Alloh SWT lah yang akan menilai semua perbuatan kita… Bukanlah kalian…. akal dan kemampuan kita tidak mampu mengartikan rahasia Alloh yang Maha Luas… Insyaalloh tahlilan yang di dasari niat untuk berdzikir dan memohonkan ampun untuk saudara kita sesama umat muslimin, jg bersedekah bagi sesama akan diridhoi Alloh SWT..

    Terimakasih mba nanik atas komentarnya,
    Niat yang baik tidaklah cukup, niat yang baik caranyapun harus baik, dan baik disini bukan baik menurut kita, tapi baik menurut Allah dan rasulnya,
    Seandainya ritual tahlilan kematian itu baik, maka rasulullah sudah melakukannya,.demikian pula para sahabat,. dan ternyata rasulullah dan para sahabatnya tidak melakukannya,. jadi ritual tahlilan kematian bukan suatu kebaikan, jadi wajib ditinggalkan,.

    saya kasih contoh, jika ada orang yang berniat mulia, ingin membangun masjid , ikhlas lillahita’ala, namun dia tidak punya uang untuk membangunnya, lalu dia merampok toko emas agar bisa mewujudkan niat mulianya tersebut,.. apakah seperti itu dibenarkan? kan niatnya sungguh mulia,..

    mba nanik, mudah2an Allah menunjuki saya, anda dan kaum muslimin semua,.. NIAT YG BAIK tidaklah cukup, kenapa? silahkan baca disini

    Wassalamu’alaikum…

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

  36. Al Banjary
    April 7, 2013 pukul 6:26 pm | #52

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Admin, Ikhwan dan Akhwat saya mohon maaf dan semoga Allah Ta’ala mengampuni saya.
    Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
    “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.
    Hadits ini diriwayatkan dari beberapa jalan.
    Insya Allah derajat Haditsnya Shahih.

    Saya ingin menuliskan sejarah pertamakali munculnya ritual tahlilan dalam rangka memperingati kematian sifulan pada hari ke 3, 7, 40, 100, 1000.

    Pertama muncul adalah di kota Tuban Jawa Timur oleh salah seorang wali (dari wali songo).
    Hal ini dilakukan karena sangat sulit mendakwahi masyarakat waktu itu yang masih beragama Hindu untuk masuk dan memamahi ajaran Islam, Maka Wali ini (maaf saya tidak berani menyebut namanya) berinisiatif memasukkan segi-segi ajaran Islam ke dalam acara ritual mereka agar mereka (Kaum Hindu) mau mengenal Islam.

    Hal ini ditentang oleh beberapa Wali yg lain seperti Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Ampel.
    Pertentangan ini sampai meluas dan terjadi pertumpahan darah yang menyebabkan gugurnya ribuan kaum muslimin yg menentang tata cara tahlilan spt yg disebut diatas. banyaknya kaum muslimin yg gugur waktu itu karena Pemerintahan jaman tsb mendukung pihak yg melakukan ritual kematian tsb.

    Dari sedikit cerita sejarah tadi, berarti ritual tahlilan atas kematian sifulan pada hari-hari tertentu tsb adalah dari agama Hindu.

    PR buat ikhwan dan akhwat untuk menelusuri isi sejarah tadi. Yang jelas isi sejarah ini, dg luas ditulis dalam buku sejarah yang tersimpan rapi dimusium sejarah di Belanda.

    Perintah Allah dalam Al Qur’an, kita diperintahkan untuk meneliti berita yg datang dari orang fasik, jangan sampai isi berita tadi menjadikan musibah bagi umat muslim.

    Ikhwan dan Akhwat,
    Fakta yang ada sekarang bahwa tahlilan atas kematian si fulan pd hari-hari tertentu banyak dilakukan oleh masyarakat di Jawa Timur, yang Semakin ke timur atau ke barat bagian Indonesia semakin banyak kaum muslimin yang tidak kenal namanya tahlilan atas kematian si fulan. Apalagi di negeri tetangga Malaysia, Brunai dan negeri lain yg mayoritas Muslim. Mereka tidak kenal namanya ritual tahlilan atas kematian si Fulan.

    Bukti bahwa memperingati kematian seseorang pada hari ke 3, 7, 40, 100, 1000 dari agama Hindu ada di kitab mereka yaitu “Kitab Weda”. Disitu Dijelaskan dg detail tatacara ritual atas kematian seseorang pada hari-hari tsb, termasuk tabur bunga, penyematan bunga melati pada mayit dll.

    Banyak ritual mereka (agama Hindu) yg oleh kaum muslimin juga melakukan, yg saya tidak tahu motivasinya apa, apakah dalam rangka ibadah atau apa, seperti nelon, mitoni, sepasar dll.

    Mungkin Ikhwan Akhwat bisa menelusuri lagi salah satu point hasil Muktamar Nahdatul Ulama pertama di Solo, mengenai pelarangan adanya tahlilan atas kematian fulan pada hari-hari tertentu tsb.

    Wallahu a’lam.
    Astaghfirullah wa ‘atubu ilaih.
    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    JAZAKALLAHU KHAIRAN,…

  37. ichan
    April 3, 2013 pukul 12:59 pm | #53

    dikutip dari pembahasan di atas:

    “Yaitu, sebagaimana seseorang tidak akan memikul dosa orang lain, demikian juga seseorang tidak akan memperoleh ganjaran/pahala kecuali apa-apa yang telah ia usahakan untuk dirinya sendiri.

    Dan dari ayat yang mulia ini, al Imam Asy Syafii bersama para ulama yang mengikutinya telah mengeluarkan suatu hukum: Bahwa Al Qur’an tidak akan sampai hadiah pahalanya kepada orang yang telah mati.

    Karena bacaan tersebut bukan dari amal dan usaha mereka. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mensyariatkan umatnya (untuk menghadiahkan bacaan Qur’an kepada orang yang telah mati) dan tidak juga pernah menggemarkannya atau memberikan petunjuk kepada mereka dengan baik dengan nash (dalil yang tegas dan terang) dan tidak juga dengan isyarat (sampai-sampai dalil isyarat pun tidak ada).

    Dan tidak pernah dinukil dari seorang pun Sahabat (bahwa mereka pernah mengirim bacaan Al Qur’an kepada orang yang telah mati).

    lalu bagaimana hukum mendoakan orang tua/ keluarga yang sudah meninggal? dilarang atau tidak? krn dr pembahasan di atas mengatakan bahwa tiap2 orang bertanggung jawab atas perbuatannya masing2…

    Mendoakan orang lain sesama muslim, ini dianjurkan, insya allah bermanfaat buat orang yang didoakan,
    Demikian pula mendoakan orangtua kita yang muslim yg sudah meninggal, ini adalah salah satu ciri anak shalih, mereka mendoakan orangtuanya, bukankah anak itu juga hasil usaha orangtua, bahkan jika orangtua ketika hidup mendidik anaknya dengan amal shalih, maka orgtua tsb akan mendapat pahala amal shalih yg dilakukan oleh sang anak,

  38. smkkesatuan069
    April 2, 2013 pukul 10:44 am | #54

    kalau kita diiartkan sesuatu yng mubazir ketika membacakan alqur’an untuk si mayit berarti apa pendapat anda ketika mendo’akan kaum mislimin dan muslimat di dalam sholat apakah itu sesuatu yg mubazir juga kalw mengacu pada pendapat artikel di atas mohonpenjelasannya.

    Terimakasih atas komentarnya,
    Mendoakan kaum muslimin, baik dalam shalat atau diluar shalat, itu ada anjurannya, itu suatu kebaikan,.

    • Ilham
      April 2, 2013 pukul 3:07 pm | #55

      Assalamu’alaikum Wr.Wb.

      Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

      Saya mau tanya bukankah menghadiahkan surat yasin untuk si mayit adalah suatu kebaikan bukankah itu adalah do’a apa bedanya ketika kita mendoakan kaum muslimin dan muslimat pada umumnya.

      Terimakasih mas ilham, mudah2an Allah menunjuki anda kepada kebaikan,
      Semua kebaikan yang bermanfaat bagi kita sudah diajarkan oleh rasulullah semuanya,. tidak ada yang terlewat,
      kebaikan itu standarnya adalah baik menurut Allah dan rasulnya, bukan baik menurut manusia atau kita,.
      Seandainya kita menganggap itu baik, sementara Allah tidak memerintahkan, rasulullah juga tidak mengajarkah hal demikian, maka secara tidk langsung kita telah mengklaim bahwa kita lebih mengetahui suatu kebaikan daripada rasulullah,. kenapa, rasulullah saja tidak melakukan hal tersebut, kok kita mengerjakan,

      Allah yg membuat syariat ini, Allah yang mmbuat alquran, masa Allah tidak tahu tentang kebaikan?
      Umat islam adalah umat yang beragama, beribadah berdasarkan tuntunan yang diajarkan oleh rasulullah, semuanya sdh diajarkan, kita tinggal mengikuti saja apa yg sdh diajarkan oleh rasulullah,

      Apa yg diajarkan rasulullah saja belum kita laksanakan semua, kok ya sempet2nya melakukan hal2 yg tdk ada contohnya dari rasulullah,. ini adalah salah satu tipu daya iblis,. makanya iblis lebih menyukai para pelaku bidah daripada pelaku maksiat,

  39. Abah Gobeds
    Maret 27, 2013 pukul 3:02 pm | #56

    mas admin, smoga Allah senantiasa memberikan kita kekuatan lahir n bathin, untuk tetap eksis mendakwahkan syariat yang benar sesuai tuntunan Quran dan Sunnah Rasulullah saw..

    Amiin… jazakallahu khairan

  40. Abdul ghoffur
    Maret 25, 2013 pukul 6:15 am | #57

    assalamualaikum..

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    saya ini bodo’ dalam hal agama jd mohon maaf kalau ada kesalahan dalam pemahaman saya ini,
    menurut sejarah sebagain besar anak/ keturunan rosululloh kebanyakan berumur pendek atau meninggalnya mendahului beliau,dan berapa banyak kisah sahabat yang meninggal pada saat perang ataupun tidak perang(mendahului rasulollah),

    tapi yang menjadi pertanyaan masak iya.. dari sekian banyak kematian/wafatnya anak & sahabat beliau,nabi kita muhammad salallahualaiwassalam tidak menberi contoh sekaliiii saja tentang tahlillan ini kalau memang hal ini dibenarkan,

    bahkan saat nabi kita meninggalpun tidak ada riwayat yang menceritakan bahwa sahabat itupun mengirim do’a,bacaaan alqur’ar/tahlilan untuk baginda nabi kita.

    lantas kita ini sebaiknya mencontoh/meniru siapa ?

    kalau pernyataan bodoh saya ini memmang salah,saya memohon ampun yang sebesar2nya kepada Allah,kepada antum sekalian saya mohon maaf.

    Terimakasih, pertanyaan yg sangat bagus, dan hendaknya kita sebagai umat islam, agama yg ilmiah, dalam beramal itu hendaknya bertanya, apakah amalan ini dicontohkan oleh rasulullah atau tdk,

    Bukankah sebagai umat islam, Rasulullah lah panutan kita dalam beramal?

    Pertanyaannya, ritual tahlilan kematian itu mengikuti ajaran siapa,

    Seandainya Rasulullah mengajarkannya, tentu para sahabat akan mengerjakannya, demikian pula para ulama ahlus sunnah, imam madzhab,..Nyatanya,.. mereka semua tdk melakukannya,.

    Mudah2an ini bisa menjadi bahan renungan kita semua, khususnya orang2 yg melakukan ritual tahlilan,.. jangan sampai ibadah kita akan menjadi bumerang bagi kita sendiri, karena kita mengerjakan amal ibadah yg tdk ada tuntunannya dari rasulullah

  41. siraja
    Maret 12, 2013 pukul 7:15 pm | #58

    tolong datang kan juga dalil yg melarang tahlil, maulid,atao amalan pa ja yg anda anggap bid ah sesat itu. q tunggu di 320d752b atau 085785699318

    Terimakasih mas siraja,
    sampai kiamatpun tidak akan kita temukan larangan tahlil, tahlil itu amalan dzikir yg paling utama,
    maksud anda dalil yg melarang ritual tahlilan kematian ya,.. ini juga tidak akan pernah kita dapatkan, walaupun anda mencari sampai akhir hayat anda,..

    sama saja saya katakan kepada anda, tolong tunjukkan dalil yg melarang shalat maghrib 5 rakaat,. apakah ada dalil yg melarangnya? jika tidak ada, apakah boleh shalat maghrib dikerjakan dengan 5 rakaat??

    Jika anda bisa mendatangkan dalil tentang ritual tahlilan, ada hadiahnya mas, dari hadiah iphone, hingga rumah,.. silahkan mas, mau ikutan?? silahkan baca disini, ikuti kuis berhadiah iphone atau rumah siap huni, caranya mudah, tolong datangkan satu dalil yg menyuruh kita melakukan ritual tahlilan kematian, dan dalil tersebut berasal dari rasulullah,.. baca disini kuisnya

    • Fajar
      Mei 13, 2013 pukul 4:20 pm | #59

      Subhaanallah jawaban yg sangat bagus dn Ilmiah…maju terus ust ttp istiqomah dlm dakwah nya..semoga Allah menjaga ust Aamiin..

      Amiin,.. jazakallahu khairan atas suport dan doanya,

    • ArezsElCapitan
      Juni 1, 2013 pukul 7:21 am | #60

      Wadduhh..kuis tahlilan? Hehehe..ada2 aja

      biar seru, jadi ada hadiahnya, dan sampai sekarang belum ada yang berhasil meraih hadiahnya,

  42. MrChaflien Mezoes
    Februari 28, 2013 pukul 12:32 pm | #61

    asalamualaikum,tolong penjelasannya Link berikut,,,, mana yang benar ya….

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,12-id,37270-lang,id-c,buku-t,Tahlilan+Yasinan+itu+Haram+-p,3-.phpx

    Sebenarnya NU sendiri sudah memutuskan jika ritual tahlilan itu bidah yang hina,. silahkan baca disini

    Jadi bantahan apapun yg dibuat oleh NU generasi setelahnya, itu menyalahi hasil muktamar NU yg sejalan dengan ajaran Rasulullah,

    Jadi mudah saja, ngga usah dianggep apa yg telah ditulis tersebut,.

    bisa dilihat di
    Buku “Masalah Keagamaan” Hasil Muktamar/ Munas Ulama NU ke I s/d XXX (yang terdiri dari 430 masalah) oleh KH. A. Aziz Masyhuri ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah dan Pengasuh Ponpes Al Aziziyyah Denanyar Jombang. Kata Pengantar Menteri Agama Republik Indonesia : H. Maftuh Basuni

  43. muslih irawan (@mus2sk)
    Februari 23, 2013 pukul 3:54 pm | #62

    assalamualaikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    saya pernah mendengar dari teman bahwa penghuni kubur itu mengetahui dan mendengar orang yang mengunjunginya, apakah itu benar dan adakah hadisnya mengenai ini.? terimakasih

    Terimakasih mas muslih
    Itu tidaklah benar, Allah sendiri menjelaskan dalam alquran bahwa orang yg sudah mati tidak bisa mendengar,Pada dasarnya bahwa orang yang telah meninggal dunia baik yang shalih atau yang tidak shalih, mereka tidak mendengar perkataan manusia, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    “Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu ; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang maha Mengetahui”. [QS. Fathir : 14]
    Begitu juga firmanNya Subhanahu wa Ta’ala.
    “Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar” [Fathir : 22]

    selengkapnya baca disini

  44. Aman FatHa (@AmanFatHa)
    Februari 15, 2013 pukul 2:13 pm | #63

    Alfatihah..
    Para hadirin pun membacanya. Lalu ustad itu memulai doanya. Hadirin mengaminkannya. Apa hukumnya? Ada dalilnya? Saya coba berikan pendapat di bawah ini.

    Itu yang ringkas. Lebih panjang lagi, ada yang baca sejumlah Surat Al-Quran yang disebut Fatihah Empat. Ada yang nambah dengan ayat kursi. Lebih panjang lagi, ya baca tahlil. Lalu berdoa. Apa hukumnya?

    Ada sebuah haids sahih riwayat Bukhari tentang 3 orang yang terkurung dalam goa. Lalu, masing-masing menyebutkan kebaikannya sebelum memohon dibukakan pintu goanya. Pintu goa itu pun terbuka hingga sempurna setelah yang ketiga melakukan hal yang sama.

    Dengan hadis ini, para ulama ijma’ boleh hukumnya bertawassul dengan amal kebaikan, amal saleh. Pertanyaannya sekarang, apakah aktivitas sebelum doa itu amal saleh? Apakah baca Alfatihah termasuk amal saleh? Apakah baca ayat-ayat, baca tahlil, tahmid, tasbih, tahmid, shalawat itu amal saleh?

    Silahkan baca penjelasan dari hadits tersebut, insya Allah anda akan paham tentang dibolehkannya bertawasul dengan amal shalih yang kita lakukan,

    Ingat ya, amal shalih, bukan membuat-buat amalan yang menurut kita itu shalih, seperti ritual tahlilan kematian yg tidak ada contohnya dari rasulullah

    Jika menurut admin itu amal saleh, lalu kenapa mereka yang melakukan tahlilan itu dianggap bid’ah sesat?

    Ritual tahlilan kematian bukan amal shalih, tapi amal thalih, karena tidak pernah diamalkan oleh rasulullah, atau sahabat atau para ulama ahlussunnah seperti imam yang 4, dll

    Setahu saya, tidak pernah ada satu pun ulama, kyai, ustad, yang mewajibkan tahlilan. Jadi dari mana bisa dianggap membuat syariat?! Kalau pun ia tradisi, maka statusnya sama dengan tradisi lainnya, yang dinamika sosialnya kurang lebih kenyataannya: ada yang tidak melaksanakan, lalu dianggap tidak wajar atau anggapan apa lah yang terjadi di masyarakat. Itu murni urusan sosial, tidak ada kaitannya dengan hukum agama.

    Ritual tahlilan itu urusan sosial? yang betul saja dong mas,.. kenapa pakai bacaan tahlil? jika ini urusan sosial, apakah ritual tahlil itu utk mendekatkan diri kepada allah atau tidak? ini sudah ranah syariat mas,. dan itu faktanya, coba saja jika anda tidak melakukan ritual tahlilan, pasti anda akan dicemooh oleh masyarakat yg biasa melakukannya,.. dan ini banyak terjadi,..

    Maka, saran saya, admin dan kawan-kawan Salafi/Wahabi lainnya, belajarlah dengan benar. Pahami dengan benar dan sungguh-sungguh. Jangan selalu samakan iltizam itu dengan hukum wajib terminologi syariat. “Kewajiban” istri membiayai anaknya adalah bermakna tanggung jawab dari sisi sosial, komitmen moralitas, bukan kewajiban terminologi syariat. Artinya, seandainya sang istri tidak membiayai, ia tidak berdosa, karena itu adalah kewajiban suami.

    Terima Kasih

    Hukum asal dari ibadah adalah haram, hingga ada dalil yang menyuruhnya,. kebalikan dengan urusan dunia, hukum asal boleh, hingga ada dalil yang melarangnya,..
    tolong datangkan dalil tentang ritual tahlilan ini, bahkan ada hadiah menarik jika anda bisa mendatangkan dalil yang shahih,. silahkan ikuti kuisnya, KUIS MENCARI DALIL SHAHIH BERHADIAH IPHONE , dan ada tambahan berhadiah 1000gram emas,. baca tulisannya

    • Abdul Sani Chan
      Februari 19, 2013 pukul 4:54 am | #64

      “Hukum Ibadah Haram, hingga ada dalil yg menyuruh nya”
      “hkum asal urusan dunia adalah boleh hingga ada dalil yang melarangnya”

      Saya orang awam ni mas, saya pengen nanya “apakah ada ayat dlm al qur’an atau hadist yang melarang baca tahlil, tahmid, tasbih, shalawat di rumah orang yg keluarga nya meninggal (takjiah).

      sebelumnya terimakasih

      Terimakasih mas ,.
      Untuk urusan ibadah, yang ditanyakan adalah dalil yang menyuruhnya, bukan dalil yang melarangnya,
      Jika yang ditanya adalah dalil yang melarangnya, niscaya ajaran islam ini akan rusak, semua orang akan beribadah sekehendak hatinya,
      contohnya, bisa saja ada orang yang melakukan shalat maghrib 7 rakaat, sebab tidak ada dalil yg melarang shalat maghrib 7 rakaat,

      Demikian juga tentang yg anda tanyakan, maka sampai kiamatpun tidak akan menemukan dalilnya, dalil yg melarang perbuatan diatas,.. justru yg ditanya adalah dalil yg menyuruh melakukan hal diatas, mana dalilnya yg shahih dari rasulullah

      • Pagarnusa Buaran Pkl
        Maret 9, 2013 pukul 5:16 pm | #65

        yah ibadah yang sdh ada ketentuan 2 yg jelas maka tdk tdk boleh dirubah atau ditambah spt sholat,,, sdg ibadah yg tdk ditentukan cara dan kaifiyahnya mk tdk ada larangan membuat kreasi… spt berdzikir , membaca al Qur’an ,asal membacanya dg aturan yg benar dan bukan ditempat2 yg tdk diperbolehkan maka bleh berdzikirnya atau membaca al qur’annya…

        Terimakasih mas,
        Pertanyaan buat anda, Islam sudah sempurna, Rasulullah sudah mengajarkan semuanya, bahkan tatacara ke WC saja sdh diajarkan,APAKAH ADA IBADAH YG TIDAK DITENTUKAN TATACARANYA DAN KAIFIYAHNYA?? tolong sebutkan contoh konkritnya

        misal spt ini adakah dalil yang menyuruh kita membaca al Qur’an di Bus, di teras rumah, di kebun?

        maka jelas tdk ada,,, apakah haram membaca Al Qur’an diteras rumah atau dikebun

        BISA MENJADI haram, jika berkeyakinan membacanya harus diteras rumah atau dikebun tertentu,atau di bus tertentu, meyakini dengan membaca diteras rumah atau kebun tertentu itu sebagai ibadah, sebagaimana orang2 yg melakukan membaca alquran surat tertentu di malam jumat saja (yg tidak ada dalil shahih yg menyuruhnya),.. ini berarti sudah menentukan tatacara sendiri yg tdk diajarkan oleh rasulullah

        contoh yg diajarkan oleh rasulullah ketika malam jumat atau hari jumat disunnahkan membaca surat alkahfi, tapi tidak ada perintahnya membaca yasin setiap malam jumat

  45. muslih irawan (@mus2sk)
    Februari 11, 2013 pukul 11:44 am | #66

    ASSALAMUALAIKUM

    WA’ALAIKUMUSSALAM WARAHMATULLAH

    mas saya mau tanya mengenai apa hukumnya pembacaan alqur’an di kuburan yang berniat mendo’akan si mayit?

    Kuburan bukanlah tempat untuk membaca alquran, ada larangan dari rasulullah membaca alquran di kuburan,
    Berdoa adalah amal ibadah, apalagi mendoakan kebaikan bagi si mayit, bisa dilakukan di mana saja, tidak mesti datang ke kuburannya, apalagi datang ke kuburan untuk berdoa, tapi kita melakukan kemaksiatan dengan cara membaca alquran di kuburan,..
    Niat yang baik, tentu dengan cara yang baik pula,. tidak semua niat yang baik itu berarti menghalalkan segala cara, termasuk berdoa sambil berbuat maksiat,..

    • muslih irawan (@mus2sk)
      Februari 12, 2013 pukul 11:26 am | #67

      terimakasih atas pencerahannya, tapi hanya untuk lebih memantapkan hati ini ,bolehkah saya minta ayat alqur’an atau hadis yang soheh yang menjelaskan tentang larangan membaca alqur’an di kuburan

      terimakasih mas,
      sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

      اجْعَلُوا مِنْ صَلاَتِكُمْ فِى بُيُوتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا

      “Jadikanlah shalat kalian di rumah kalian dan jangan jadikan rumah tersebut seperti kubur” (HR. Bukhari no. 432 dan Muslim no. 777).

      Hadits ini menunjukkan bahwa kubur bukanlah tempat untuk shalat dan juga bukan tempat untuk membaca Al Qur’an. Amalan yang disebutkan ini merupakan amalan khusus di masjid dan di rumah.

      Yang hendaknya dilakukan ketika ziarah kubur adalah memberi salam kepada penghuninya dan mendoakan kebaikan pada mereka

      dan satu lagi saya mau tanya shalat sunat apa saja yang ada petunjuknya dari Rasulullah
      terimakasih

      silahkan lihat dipostingan ini
      Mudah-mudahan bermanfaat, jazakumullahu khairan

      • nukme
        Februari 18, 2013 pukul 2:44 am | #68

        maaf mas…maksd dari hadis itu adalah menghidupkn rmh dengn bacaan alquran, rmh yg tdk ada ibadah dan bacaan al quran itu seperti kuburan, bukn hadist ttg larangn baca quran di kuburan,

        Ini menunjukkan maksud hadits diatas, rumah yang tidak dibacakan alquran itu seperti kuburan,KENAPA?? sebab di kuburan itu terlarang untuk baca quran, jadi yg layak utk tdk dibacakan alquran didalamnya itu adalah kuburan BUKAN RUMAH,.

  46. muslih irawan (@mus2sk)
    Februari 11, 2013 pukul 7:15 am | #69

    mantap nih mas admin.
    emang selama saya tinggal di tempat kampung halaman tidak pernah ada yang menerangkan mengenai tahlilan sehingga tahlilan tersebut seakan wajib di laksanakan.

    tapi saya selalu berpikir kenapa ko begitu repotnya orang yang di tinggalkan dalam hati selalu bertanya-tanya apa islam seberat ini? sehingga matipun harus pake uang banyak.

    bener mas, sudah mati pun masih repot, harus ngadain ritual tahlilan, dan bukan dana sedikit utk itu, padahal dana tsb bisa digunakan utk yg lain, mbayar hutang, menunaikan wasiat, dan hal2 yg bermanfaat buat si mayit

    saya kira hanya madorot yang di dpt jika adat ini di teruskan. seharusnya seluruh ulama di indonesia bermusyawarah apakah banyak manfaat. yang di hasilkan dari tahlilan ataukah sebaliknya malah madorot yang labih banyak di hasilkan.

    kalo menurut saya yang bukan ustadz ataupun santri. ritual ini ternyata banyak madorotnya ketimbang paedah.

    ya, betul sekali mas, bahkan menurut imam syafii berkumpul2 di rumah orang yg meninggal itu dicela, apalagi ditambah2 dgn ritual yang tidak ada contohnya dari rasulullah

    • ArezsElCapitan
      Juni 7, 2013 pukul 2:31 pm | #70

      Belum lagi nyetak buku yasinan..kasihan

  47. iwan
    Februari 7, 2013 pukul 8:25 am | #71

    Assalamu a’laikum warohmatullahi wabarakatuh.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

  48. Reza Anggara
    Januari 12, 2013 pukul 11:54 pm | #72

    alhamdulillah pikiran saya jadi makin terbuka
    dulu saya sekolah di sekolah yang didirikan oleh NU,saya diajarkan seperti shalawat nariyah,tahlilan,yasinan, untungnya saya berijtihad dan tidak taqlid buta sehingga menemukan kebenaran :)

    • Haristyana
      Januari 31, 2013 pukul 8:29 am | #73

      syukur alhamdulillah, tetap istiqomah dan semoga senantiasa diberikan kesabaran amiinn…

  49. Indra
    Desember 30, 2012 pukul 12:22 pm | #74

    Assalamualaikum wr wb

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    saya orang awam dan ingin belajar agama dg benar,dimana saya setuju dg yang disampaikan mas admin. Ada bbrp hal yang ingin saya tanyakan
    1. Apakah wirid yg sy baca stlh shlt,yg dtentukan 33X ato 100X itu bidah? Lalu apa yg hrs saya baca sebelum berdo’a agar do’a saya bisa terkabul?

    Terimakasih sebelumnya mas indra
    Setelah shalat fardhu hendaklah kita melakukan amalan-amalan dzikir yg diajarkan oleh rasulullah,
    Bagaimana cara dzikir setelah shalat yang diajarakan oleh rasulullah, silahkan bisa dibaca disini

    2. Saya tinggal dilingkungan yg biasa melakukan tahlilan,tahlil kematian atau tahlil rutin yg diadakan seminggu sekali di lingkungan Rt,dan juga tetangga seringkali mengadakan acara metri(neloni,mitoni,sepasar,dsb): jika saya tdk datang maka akan diantar berkat(nasi). Nasi ini boleh dimakan ato sebaiknya dibuang?

    Acara-acara tersebut adalah acara-acara kebidahan,
    Jika kita diberi makanan dari acara-acara tersebut, jika kita menolaknya bisa menimbulkan mafsadat, maka terima saja, dan jika kita tidak mau memakannya, kita bisa memberikannya kepada hewan peliharaan kita seperti ayam, makanan tersebut tidak haram, tapi halal, tapi sebagai bentuk kita tidak ridha terhadap acara tersebut, maka kita tidak memakannya, dan jika kita menolak makanan tsb akan timbul hal-hal yang tidak diinginkan maka jalan yang terbaik menerimanya dan tidak menolak atau membuang dengan sepengetahuan si pemberi,. dan jika kita buang itu mnjadi mubadzir, maka bisa kita berikan kepada hewan peliharaan kita,.

    3. Masjid ato musholla disekitar , maaf,adalah aliran NU apakah saya boleh menjadi jama’ah ato saya shlt sdr drmh?

    Shalat di masjid bagi laki-laki hukumnya wajib , bukan sunnah muakkadah,.
    Anda wajib shalat di masjid, entah itu masjid NU atau ormas lainnya, karena laki-laki itu wajib shalat 5 waktu secara berjamaah di masjid, bukan shalat di rumah.
    Dan carilah masjid yg tidak ada kuburan di dalamnya, karena shalat di masjid yg seperti itu maka tidak sah shalatnya
    Sebaliknya kalau wanita itu lebih baik shalat di rumah, pahalanya lebih besar daripada shalat jamaah di masjid,.
    Jadi jika ada laki-laki yg shalat di rumah tanpa udzur, maka ini menyerupai wanita,

    Trimakasih,

    sama-sama,.. oh iya, kalau boleh tahu anda tinggal dimana, barangkali saya bisa memberitahukan kepada anda tempat dimana anda bisa belajar tentang islam ini di daerah yg dekat dengan anda,

  50. rusdi
    Desember 29, 2012 pukul 11:29 pm | #75

    ouw jadi gitu ya, nabi kan gk prnah memberi contoh sholat di istiqlal, brarti orang sholat di istiqlal adlh bidah.

    Betul sekali mas, nabi tidak mencontohkan shalat di istiqlal, tapi nabi mencontohkan shalat di masjid, emangnya istiqlal itu bukan masjid ya mas rusdi, ada-ada saja mas rusdi ini,..

    Maaf ya, klo menafsirkan suatu dalil i2 jgn ditafsiri sesuai dg trjemahanya saja, tp harus dipahami scara kontekstual n ingat ilmu tafsir i2 tdk sempit, nabi jga gk prnah nyontohin sholat trawih brjamaah tp yg nyontohin i2 malah sahabat umar, i2 mnunjukkan bhwa prbuatan baik i2 tdk harus dicontohkn oleh nabi.

    Bukankah umar bin khattab itu adalah sahabat? bukankah tidak ada yang mengingkari perbuatan umar bin khattab?
    Kita disuruh oleh rasulullah , bahkan Allah memerintahkan utk mengikuti pemahaman para sahabat, silahkan baca surat attaubah ayat 100 , juga ancaman bagi orang yg tidak mau mengikutinya, baca annisa ayat 115
    Bahkan rasulullah memerintahkan kita tuk berpegang pada sunnah beliau dan sunnah khulafaur rasyidin, dan umar termasuk didalamnya,.
    Tidak ada yang salah mas,..

    justru praktek shalat tarawih di kebanyakan kaum muslimin malah tidak mengikuti contoh rasulullah, dan tidak juga sperti yang dilakukan umar, tapi mengikuti cara sendiri,.. buktinya,.. ya kita bisa melihat sendiri,.. shalat super kilat,bacaan super cepat,dan ada dzikir2 yang dibuat-buat,. ini ajaran siapa dong mas rusdi?

    Mksudx imam syafii, brkmpul dirumah si mayit bgian dari mratap adlh jikalau orang2 i2 brkmpul utk mnyesali kpergian si fulan, tp prlu anda ingat bhwa tahlilan hnyalah mndoakan bkn mratapi kprgian si fulan.

    Mas rusdi, dimana saya bisa menemukan bahwa maksud imam syafii itu adalah seperti itu, ada dikitab siapa, dan siapa yang menjelaskannya, apakah murid2nya imam syafii? tolong sebutkan rujukan anda

    Jadi skarg jlaskan pd q bhwa tahlilan i2 salah, apakah salah hnya krna tdk dicontohkn rosululloh, i2 adlh jwbn yg smpit.
    Jawaban yang sempit?

    Apakah ada yang terluput ajaran islam ini, sehingga rasulullah tidak mengajarkannya?
    Islam sudah sempurna mas , mau ke WC saja diajarkan tatacaranya, masa mengurus orang mati, mendoakan orang mati, atau misalkan ada ritual setelah kematian itu tdk rasul ajarkan??
    Seandainya itu baik, maka kita sudah keduluan para sahabat yg melakukkanya mas,.

    Ya jelas saja rosululloh tdk prnh tahlilan, lha wong budaya antara arab saudi n indonesia i2 beda, pakaianya smpai skarg jga beda.

    Memang islam itu diturunkan utk negeri arab saja, sehingga islam yg di arab dan di indonesia itu beda?? ini adalah pemahaman yg sempit mas,
    Islam diturunkan untuk semua manusia, bahkan untuk bangsa jin juga,
    Adapun budaya, baik budaya arab atau indonesia, itu wajib diselaraskan dengan ajaran islam, jika ada budaya arab atau indonesia yg tdk sejalan dengan islam, maka wajib ditinggalkan,.
    Bukan mencampur atau memasukan budaya lokal kedalam ajaran islam,.. dengan dalih tuk merekrut manusia agar masuk islam,.. apalagi mencomot ajaran agama lain ke dalam islam,. ini musibah,..

    Skrg apa alasanmu kok mngatakan tahlilan i2 musyrik, mana dalilnya.

    Sebelumnya dimana saya mengatakan tahlilan i2 musyrik, tolong buktikan dimana saya menuliskannya, copas saja bukti tsb,

    Adapun orang yang pertama kali membuat ritual tahlilan, atau ritual-ritual lain selain tahlilan, dan menganggapnya itu adalah ajaran yg bisa mendatangkan pahala dari Allah, berarti dia telah membuat syariat,.. padahal pembuat syariat adalah Allah,
    Allah lah satu-satunya yang mempunyai hak untuk membuat syariat ini, jadi orang yang telah membuat syariat-syariat baru, maka dia seolah-olah mensejajarkan dirinya dengan pembuat syariat ini,.. inilah sisi syiriknya,.. mudah2an anda paham,
    Siapapun tidak berhak membuat syariat setelah rasulullah meninggal, sebab islam sudah sempurna, tidak perlu ditambah, dan tidak perlu dikurangi,

    Lha wong orang tahlilan i2 tak prnh mnyekutukan alloh, bgitu jga orang ziarah kubur, asal lho tau, mreka i2 brdoa tetap kpd alloh n hnya mndoakan si mayit n yg mndoakan jga dpt brkah, berkah i2 adlh pahala yg bkan brasal dari si mayit, tp brkah i2 adlh hadiah pahala dari alloh karena orang yg brdoa telah mbaca kalimat thoyyibah n mau mendoakan sesama muslim, i2 lah yg dimksud berkah dari tahlilan n ziarah kubur. Jadi nglihat suatu masalah i2 jgn hnya dr satu prspektif saja, melainkan anda harus mngetahui seluk beluknya jga.

    mas rusdi,mudah-mudahan Allah menunjuki anda,
    mendoakan orang yang sudah mati, itu suatu kebaikan,.
    Tapi menetapkan suatu cara untuk mendoakan orang yang sudah mati, dimana cara itu tidak pernah dicontohkan oleh rasulullah, ini adalah suatu keburukan,.. bukan kebaikan, bahkan akan menjerumuskan pelakunya kedalam neraka,.. na’udzubillahi mindzalik,

    • Dicky S Anjar
      Januari 19, 2013 pukul 5:46 am | #76

      Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Aku meminta izin kepada Tuhanku untuk memohonkan ampun untuk ibuku maka Dia tak mengizinkanku, kemudian aku minta izin untuk menziarahi kuburnya maka Dia mengizinkan aku. (HR. Muslim 976, juga diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, An Nasa’I dan Ibnu Hibban, semuanya dari jalur Abu Hurairah)

      Terimakasih mas dicky, maksudnya apa mas dicky menyantumkan hadits diatas?
      Kenapa Rasul dilarang memohonkan ampun untuk ibunya, itu karena ibu rasulullah meninggal diatas agama nenek moyangnya , agama kesyirikan, dan kita dilarang memintakan ampun bagi keluarga atau manusia lain yg sdh meninggal yg tidak beragama islam,

    • ArezsElCapitan
      Juni 1, 2013 pukul 7:40 am | #77

      Ih ngeyel banget mas Rusdi..

      sabar mas… he..he..he..

  51. mursid m. linggengge
    Desember 29, 2012 pukul 7:36 pm | #78

    assalamu’aaikum warahmatullahi wabarakaatuh…
    subahanallah….
    lanjutkan trus dakwahmu ya saudaraq… smoga ALLAH SWT. senantiasa memberikan kekuatan dan kesabaran kpada kita smua dalam mendakwakan agama yg haq ini, agr spya
    kebenaran cepat menyebar keseruh jagat raya ini. amin yaa robbal alamin.

    Jazakallhu khairan.

  52. hamba
    Desember 27, 2012 pukul 9:42 am | #79

    Bagaimana pak,sy sering mendengar ceramah ,perbuatan /amal baik apa saja,kalo di niati ibadah,maka oleh alloh di catat sebagai amal ibadahdan mendapatkan pahala.

    Terimakasih atas komentarnya,
    Tidak semua perbuatan baik jika diniati ibadah itu berarti bernilai ibadah,
    contoh mudah saja,.. misalkan shalat,
    itu perbuatan baik,.. bolehkah kita shalat maghrib 5 rakaat?? ini kan kebaikan,
    jawabnya, tidak boleh, karena niat baik saja tidak cukup,.. syarat diterimanya amal ada 2 : 1. ikhlas 2. mengikuti contoh rasulullah,.. kedua syarat tsb haruslah ada, tidak boleh hilang salahsatunya,

    niat yang baik saja tidak cukup, ulasannya bisa dibaca disini

    • rusdi
      Desember 28, 2012 pukul 12:39 pm | #80

      Bagaimana anda ini masak sholat maghrib 5 rakaat dianggap baik, emang betul, smua perbuatan baik yg diniatkan ibadah atau dilakukan krna alloh maka akan mndapat pahala, tp anda jgn anggap bhwa sholat mahgrib 5 rakaat adlh baik, sholat i2 emang baik tp jika anda lakukan dg salah maka sholat jga trmasuk prbuatan jelek.

      bagus sekali jawabannya mas rusdi, shalat i2 emang baik tp jika anda lakukan dg salah maka sholat jga trmasuk prbuatan jelek,
      Nah, itu pula jawaban saya, tahlil itu bagus, tapi jika caranya itu salah, maka akan menjadi perbuatan yg jelek,..
      Mudah2an mereka yg melakukan tahlilan dgn cara yg salah, bisa berpikir,..

      Intinya, amalan yg baik, caranya juga harus baik, yaitu mengikuti contoh rasulullah,..

      Dalam hal tahlilan, rasulullah tidak pernah melakukan ritual tahlilan kematian,.. jadi…. silahkan ambil keputusan sendiri,.. mau melakukan tahlilan terus? kan itu tdk ada contohnya dari rasulullah,..

      • rusdi
        Desember 29, 2012 pukul 7:43 am | #81

        Klo saya boleh tau, emangnya tahlilan i2 salah apanya ?

        Tahlilan adlh mbaca kalimat toyyibah yg intinya mndoakan orang yg tlah mninggal maupun yg masih hidup,

        walaupun rosululloh gk prnah tahlilan scara langsung tp rosululloh prnah mndoakan suatu makam agar siksa orang yg dimakamkan i2 diringankan smpai pelepah kurma yg ditancapkan di makam i2 kering, n i2 adlh suatu tanda2 anjurn mndoakan sesama muslim bagi orang yg brpikir, apalagi doanya brsama orang bnyak, tntunya lbih diijabahi n yg mndoakan jga dpt pahala.

        Terimakasih mas rusdi,
        Rasulullah pernah mendoakan di suatu makam, yang mana beliau meletakkan pelepah kurma,.
        Seandainya itu suatu amalan yang baik, tentu para sahabatlah yang pertama kali melakukannya mas,.
        lihatlah abu bakar,umar,utsman,ali,.. mereka tidak melakukan apa yg rasulullah lakukan,.
        karena itu adalah kekhususan rasulullah,
        Darimana rasulullah tahu kalau penghuni kubur tsb sedang diadzab,lalu rasulullah meletakkan pelepah kurma?? ini adalah wahyu dari allah,
        Lalu kenapa para sahabat tidak melakukan hal demikian?
        Karena memang ini bukanlah amalan yang kita disuruh untuk melakukannya, bahkan rasulullah melakukannya hanya sekali, padahal sahabat yang meninggal di jaman rasulullah sangatlah banyak,..

        tapi tdk pernah kita dapati rasulullah melakukan hal tsb lagi, juga tdk kita dapati rasulullah tahlilan di hari ke 7,10, dst,..

        Seandainya perbuatan itu baik, tentu kita sudah keduluan oleh para sahabat dalam melakukan perbuatan tsb,

      • rusdi
        Desember 29, 2012 pukul 10:14 am | #82

        Gini lho mas, sbenarnya dalil utk mndoakan orang yg tlh mati i2 ada dan i2 shahih. Dan para sahabatpun tlah melakukanya walaupun namanya bkn tahlilan, yg namanya tahlilan i2 adlh representatif drpd amalan rosululloh utk mndoakan orang mati maupun yg hidup, sbnarnya sahabat jga mlakukan hal tsb cuma namanya bkn tahlilan, tp intinya tetap mendoakn orang yg pnya hajat khususnya n orang islam pd umumnya.

        Gini lho mas, siapa sih yang melarang mendoakan orang lain, baik yang sudah mati atau yang sudah meninggal?
        Rasulullah pun menganjurkan kita untuk mendoakan orang lain,
        Para sahabat juga melakukannya, jadi tidak ada larangan tuk mendoakan orang lain, walaupun orang lain tersebut masih kafir, kita boleh mendoakan agar mereka mendapat hidayah islam

        Jadi jika ingin mendoakan, silahkan saja,..

        Tapi kalau mendoakan itu dengan cara ritual tahlilan,… INI TIDAK ADA CONTOHNYA SAMA SEKALI,

        apakah kurang jelas ya? seandainya rasulullah mencontohkan hal tsb, saya juga mau melakukannya mas rusdi,.. ngga malu-malu lagi,.

        Jadi mnurut saya, tahlilan i2 tdk ada salahnya n tahlilan i2 tdk trmsuk meratap tp justru brkumpul utk brdoa bersama.

        Sekarang pertanyaannya, anda itu siapa?
        Imam syafii saja menganggap berkumpul2 ditempat keluarga yg terttimpa kematian adalah bagian dari meratap, lalu menurut anda itu bukan meratap??
        Emangnya ilmu anda dibanding ilmu imam syafii itu segimana? imam syafii hafal alquran, juga hafal ribuan hadits,.. nah anda??

        Ibadah itu dianggap baik bukan menurut kita atau anda mas,.
        Tapi baik itu menurut rasulullah, baik menurut kita belum tentu baik menurut rasulullah,.. tapi baik menurut rasulullah pasti baik bagi manusia seluruhnya,walaupun dipandang buruk oleh sebagian manusia,

  53. rusdi
    Desember 26, 2012 pukul 5:12 am | #83

    Klo smua bidah dianggap sesat, brarti kta brskolah, nonton tv, fb an,twitteran n buat blog sprti ini atau jga naik mobil ke masjid jg trmasuk orang2 yg sesat. Dasar pmikiran orang yg tak intelek, yg namanya bidah i2 jga ada yg baik sprti kta mnuntut ilmu disekolah yg mewah, kta mngunakan tknologi mutakhir asal tujuanya baik i2 namanya bidah hasanah.

    terimakasih sebelumnya mas rusdi

    Betul mas, itu semua bidah, masih banyak lagi, bala-bala bidah, rujak uleg bidah,kupat tahu bidah,karena rasulullah tidak pernah makan kupat tahu, pesawat juga bidah, karena rasulullah tidak pernah naik pesawat, silahkan mas baca disini ulasannya kenapa semua itu adalah bidah

  54. Ahmad Munawar
    Desember 25, 2012 pukul 7:41 am | #84

    Bid ah adalah dolalah, dan dolalah adalah sesat dan sesat tempatnya neraka…..

    terimakasih mas,
    Dan yang mengatakan seperti itu adalah rasulullah, bukan orang lain,
    Dan jika ada yg membagi bidah menjadi hasanah dan sayyiah, maka itu pembagian yg datang dari orang yang hidup jauh setelah rasulullah,

    tentu, tauladan kita adalah rasulullah, bukan orang tertentu, entah dia itu habib,ajengan,ustadz,jamaah atau ormas tertentu,

    • tahlil
      April 4, 2013 pukul 5:26 pm | #85

      Kullu bidatin Dolalah …

      Lapadz Kullu nya Kul Apa Yah..

      Menurut Pandangan ilmu nahwu itu bukan kul jami tapi kul majmuk. sbb klo kul jami semua bidah pasti dolalah, termasuk keramik mesjid pake kramik termasuk juga pake peci hitam termak bala2 dll apa lagi internetan..
      lantas klo semua dolalah knp anda msih asyik menerangkan dalil2 kesesatan di internet.?
      Apa salah ulama nahwu? trimksih

      Terimakasih mas tahlil, komentar yang bagus,
      Pertanyaan saya, kapankah ada ilmu nahwu ,sharaf,atau ilmu bahasa arab?
      Rasulullah tidak menjelaskan ajaran islam kepada para sahabat dengan ilmu nahwu,sharaf,.. karena itu ilmu tersebut tidak ada di jaman rasulullah,..

      berarti,…

      Nahwu, sharaf juga bidah dong mas??

      Dulu di jaman rasulullah, huruf ba,ta,tsa,nun, itu sama saja, karena jaman rasulullah huruf arab tidak ada titiknya, boro2 harakat,.

      Jika anda memaknai kullu itu tidak semua, bagaimana dengan dalil setiap yang memabukan itu haram, apakah ada juga yang memabukan itu tidak haram??

  55. edi
    November 30, 2012 pukul 6:39 am | #86

    setuju sama admin…………

  56. muadz royyan abdurahman
    November 29, 2012 pukul 9:39 am | #87

    saya sama sekali tidak mendukung bidah baik bidah apapun itu tapi kok disini ada yang nyebarin hadis palsu ya?yang berbunyi, “ikuti sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin” bukannya saat zaman rasulullah khulafaur rasyidin belum ada saat memilih khalifah aja masih bermusyawarah,nah soal pembukuan quran itu bukan bidah itu hanya sarana supaya kita lebih mudah baca quran.

    Terimakasih mas, sudah berkomentar disini,
    tentang hadits yg anda sebutkan artinya tsb bukanlah hadits palsu, itu hadits shahih,

    Kalau penulisan alquran itu dianggap bidah, maka apa jadinya kaum muslimin sekarang , tidak akan bisa membaca tulisa arab, sebab tulisan arab di jaman sahabat tidaklah menggunakan harakat dan titik, jadi hurup ba,ta,tsa,nun, itu sama saja, dan para sahabat bisa membacanya, itulah hebatnya para sahabat,..

    Oleh karena itu rasulullah menganjurkan kaum muslimin untuk mengikuti para sahabat, demikian juga Allah menyuruh demikian,sebagaimana tersebut dalam surat attaubah ayat 100

    • muadz royyan abdurahman
      Desember 8, 2012 pukul 10:53 am | #88

      ya tentang hadis itu saya pernah denger itu lemah(bukan palsu saya saya ragu-ragu soalnya) coba cari deh di internet dengan kata kunci “derajat hadis ikuti sunnahku dan khulafaur rasyidin)

      kalau mau nyari, silahkan buka http://www.yufid.com , lalu masukkan kata kunci tersebut, adik muadz juga bisa mencari artikel lainnya menggunakan mesin pencari tersebut, coba klik http://www.yufid.com

    • Muadz Royyan
      Desember 9, 2012 pukul 2:34 am | #89

      iya deh itu hadis shahih tapi apakah yang dimaksud khulafaur rasyidin yang anda maksud?bukankah saat itu khulafaur rasyidin belum ada? jangan panggil saya mas saya masih kelas 6 sd

      Terimakasih adik Muadz,
      Saat itu memang khulafaur rasyidin belum ada, karena rasulullah masih hidup, dan itu malah merupakan anjuran bagi umat sepeninggal rasulullah untuk mengikuti khulafaur rasyidin, sebab merekalah yang paling paham dengan ajaran2 rasululullah,
      Dan ini pula membuktikan tentang kenabian rasulullah, mengabarkan kunci keselamatan bagi umatnya, juga mengabarkan kejadian2 yang belum terjadi dimasa nabi muhammad, tapi bakal terjadi suatu saat kelak, sehingga beliau memberikan petunjuk supaya selamat dari keburukan-keburukan yang timbul di jaman tersebut,.

    • Muadz Royyan
      Desember 9, 2012 pukul 2:44 am | #90

      saya juga pernah denger katanya saat usman kepilih sebenarnya yang kepilih itu ali tapi karena ali tidak mau mengikuti sunnah khalifah terdahulu kalo begitu ali melanggar hadis nabi dong?

      Terimakasih, kisah diatas tidaklah benar, mungkin yang anda baca adalah buku yang ditulis oleh orang-orang syiah, yang lebih mengedepankan Ali dari sahabat lainnya, bahkan berkeyakinan bahwa yang diangkat sebagai nabi sebenarnya adalah Ali, dan malaikat jibril salah dalam menyampaikan wahyu, harusnya disampaikan kepada Ali, tapi disampaikan kepada rasulullah, jadi malaikat jibril salah dalam menyampaikan wahyu, ini adalah keyakinan orang-orang syiah,

      Padahal Ali sendiri pernah menghukum orang-orang syiah dengan cara membakarnya hidup-hidup, silahkan baca disini ulasannya

    • tahlil
      April 4, 2013 pukul 5:32 pm | #91

      kalo tdk mendukung bidah apapun sebaiknya internetannya lgsung berhenti dong

      terimakasih bang,
      Apakah Internet itu bidah?
      Betul bang, internet itu bidah, dan masih banyak lagi yang lain, hape bidah, becak, pesawat,mobil,sepeda,bala-bala,nasi goreng,jadi masih banyak lagi yang bidah,
      Apakah itu semua akan kita tinggalkan? temukan jawabannya di artikel ini, silahkan anda baca

  57. aaa
    November 20, 2012 pukul 7:24 am | #92

    Assalamu’alaikum.

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    Saya sekeluarga mukim dlm masyrkt penggemar ritual tahlilan. Awalnya saya ikut kesana-kesini dgn dalih “menghormati undangan”. Saya lahir dr klrga “Islam” (KTP !) di kota besar di Jawa, keluarga Jawa asli sejak nenek moyang, pernah di Jakarta (SD-SMA) dan kuliah di Yogya (UGM). Alhamdulillah jalan hidup saya semakin meningkat pemahaman keislamannya, meski ga pernah nyantri di pondok. (Ehm.., tp anak sulung saya prnh jd ketua IMM di salah satu PTN).

    Komunitas ritual tahlilan biasanya punya dalih “melestarikan tradisi” atw dikatakannya “sdh sejak dulu mbah2 saya juga melakukannya”. Bagi yg ga mau bergabung terkadang nerima “ancaman” klasik, a.l: “Resiko diserik tangga” (akan dibenci tetangga/msyrkt sekitar). Utk ini komentar saya adlh: “Luwih apik diserik tangga tinimbang diserik sing gawe tangga” (Lbh baik dibenci tetangga drpd dibenci oleh Yang Maha Pencipta). Saya jg dengar2 klu Quran itu isinya sbgian bsr ngebahas mslh sosial, dan sisanya ttg habluminallah.

    Terkadang percuma aja mnjlskan mslh2 bid’ah atw hal2 yg mubadzir,mereka umumnya mirip kaum pengeyel yg telah ditulikan dan dibutakan hatinya. Cape’ deh…!

    Bagi saya lbh baik “membenahi” diri pribadi sendiri (kuatkan iman !), sljutnya mengajak anak & istri, syukur bs nularkan ke tetangga dan sanak sdr lainnya.

    Alhamdulillah skrg keempat anak saya sdh bs memilih “jalan yg lurus”, smntra istri saya trkadang msh mdh trpengaruh lingkungan sktr dr kerabat klrgnya. (Saya tinggal sbg pndatang sdh 20an thn menempati rmh sndri di salah satu kota kecil di Jawa. Ngga bs bayangkan seandainya saya numpang di rmh mertua atw org lain dan jauh di rantau, sngt mungkin saya-istri-anak jd pengikut setia ritual tahlilan atw semacamnya…)

    Alhamdulillah,.. sekarang dakwah ahlussunnah juga sudah menyebar dimana-mana, bahkan via media radio dan internet,juga parabola,
    Alhamdulillah atas nikmat yg besar ini, boleh tahu,di daerah mana tinggalnya?

  58. eko adi utomo
    November 7, 2012 pukul 12:16 am | #93

    eko adi utomo :
    ASSALAMUALAIKUMM: kita ga usah mikir secara akal gimana ketika sunan kali jaga menjaga tongkat trus dia ga sholat,itu semua alloh hu allam,apakah kisah ashabul kahfi tidur 300 tahun apakah itu menyimpang?padahal dia tidak melakukan ibadah.dan bagaimana tentang anjing yang bersama ashabul kahfi?

    terimakasih mas eko, bagus komentarnya,
    Kalau ashabul kahfi riwayatnya jelas, Ayat alquran yang mengatakan, yang menceritakan adalah Allah, kalau sunan kalijaga, riwayatnya siapa mas, ada ngga buktinya, bukti sejarahnya, jangan mau dikibulin dong mas, kalau orang dulu waktu jaman belanda mungkin bisa dikibulin sama kolonial belanda, sekarang sudah jaman canggih mas, dan sangat berbeda sekali antara ashabul kahfi dgn sunan kali jaga,
    Kalau ashabul kahfi menyingkir dan masuk ke gua karena menyelamatkan diri karena mempertahankan kelurusan akidah mereka, kalau sunan kalijaga sih ngga ada kerjaan nungguin tongkat hingga bertahun-tahun,.. cape deeh,..

    tonton disini mas eko, siapa sih sunan kalijaga?

  59. Alfiyan
    Oktober 26, 2012 pukul 5:51 pm | #94

    Alyauma akmaltu lakum dinakum wa atmamtu alaikum ni’mati waroditu lakumul is lama dina

    “… Pada hari ini telah kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah kucukupkan nikmatKu kepadamu, dan telah Kuridhai Islam menjadi agamamu ….” (Al Maidah:3).

    Betul sekali, islam telah sempurna, masa tahlilan ketinggalan? Rasulullah saja tidak melakukan ritual tahlilan kematian, jadi apa yang tidk dilakukan rasulullah, bukanlah menjadi ritual agama islam,

  60. Gilang
    Oktober 23, 2012 pukul 5:56 pm | #95

    Asslamualaikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    saya pernah membaca dan mengkaji tentang sejarah masuknya islam ke indonesia, bahwa islam masuk dengan cara damai tanpa ada paksaan apa pun. sehingga para wali songo berfikir untuk bagaimana cara memasukan hal-hal islami terhadap agama yang saat itu di anut.

    telah kita ketahui bahwa rentang waktu masuknya hindu ke nusantara dengan masuknya islam ke nusantara sangat jauh, sehingga masyarakat saat itu sangat kental akan agama atau tradisi hindu.

    dari sini lah para walisongo memasukan ayat qur’an terhadap setiap upacara/ tradisi masyarakat saat itu dengan maksud untuk menarik perhatian masyarakat saat untuk memeluk agama islam. salah satunya yang sekarang ini di bahas yaitu tahlilan.

    awalnya mayarakat hindu percaya bahwa roh yang sudah meninggal itu tidak akan pergi dari rumahnya sampai 7 hari, wali songo melihat ini sebagai kesempatan untuk memperkenalkan agama islam kepada masyarakat saat itu. maka di masukan lah ayat-ayat quran pada upacara tersebut.

    menurut saya, ini lah salah satu penyimpangan tentang pemahaman tahlilan oleh masyarakat indonesia saat ini.

    Terimakasih mas gilang atas komentarnya,
    Sejarah walisanga, telah terjadi distorsi juga, sehingga menyebabkan kita juga kabur membaca sejarah tersebut, silahkan baca sejarah walisanga disini

    Tahlilan menurut walisanga, bisa dibaca disini

    Atau tonton / download video ceramah tentang kiprah sunan kalijaga dalam berdakwah, disitu ada penjelasannya yg jelas,tonton disini

  61. Oktober 14, 2012 pukul 2:48 pm | #96

    Akos :
    Makanya jangan memulai suatu ritual ibadah tanpa dasar dalil.
    Kalo sudah kepalang senang, alasan pembenar bisa dicari-cari.
    Yang sudah kepalang senang tahlilan 7, 40, 100 hari itupun berusaha membela kesenangannya dengan berbagai cara.
    Saran saya mulailah apapun ritual ibadah kita dengan tahu ilmunya, jangan ikut-ikutan. Selagi kecil sich boleh, tapi kalo udah gede kan bisa berfikir lebih baik.

    Jazakallahu khairan, betul kata anda, tahu ilmunya dulu, baru beribadah, jangan beribadah karena ikut2an

    “Jabir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang memulai perbuatan baik dalam Islam, maka ia akan memperoleh pahalanya serta pahala orang-orang yang melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang memulai perbuatan jelek dalam Islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.” (HR. Muslim [1017]).

    “Abdurrahman bin Abi Laila berkata: “Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bila seseorang datang terlambat beberapa rakaat mengikuti shalat berjamaah, maka orang-orang yang lebih dulu datang akan memberi isyarat kepadanya tentang rakaat yang telah dijalani, sehingga orang itu akan mengerjakan rakaat yang tertinggal itu terlebih dahulu, kemudian masuk ke dalam shalat berjamaah bersama mereka. Pada suatu hari Mu’adz bin Jabal datang terlambat, lalu orang-orang mengisyaratkan kepadanya tentang jumlah rakaat shalat yang telah dilaksanakan, akan tetapi Mu’adz langsung masuk dalam shalat berjamaah dan tidak menghiraukan isyarat mereka, namun setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selesai shalat, maka Mu’adz segera mengganti rakaat yang tertinggal itu. Ternyata setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selesai shalat, mereka melaporkan perbuatan Mu’adz bin Jabal yang berbeda dengan kebiasaan mereka. Lalu beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab: “Mu’adz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian.” Dalam riwayat Mu’adz bin Jabal, beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda; “Mu’adz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian. Begitulah cara shalat yang harus kalian kerjakan”. (HR. al-Imam Ahmad (5/233), Abu Dawud, Ibn Abi Syaibah dan lain-lain. Hadits ini dinilai shahih oleh al-Hafizh Ibn Daqiq al-’Id dan al-Hafizh Ibn Hazm al-Andalusi).

    “Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu anhu berkata: “Suatu ketika kami shalat bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ketika beliau bangun dari ruku’, beliau berkata: “sami’allahu liman hamidah”. Lalu seorang laki-laki di belakangnya berkata: “rabbana walakalhamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fiih”. Setelah selesai shalat, beliau bertanya: “Siapa yang membaca kalimat tadi?” Laki-laki itu menjawab: “Saya”. Beliau bersabda: “Aku telah melihat lebih 30 malaikat berebutan menulis pahalanya”. (HR. al-Bukhari [799]).

    inilah dasarnya jadi yg mengajarkan soal tahlilan jg org yg tahu ilmu dan dasarnya bukan asal2an.

    Terimakasih mas , sungguh tambahan dalil yang sangat bagus,
    Tidak kah mas jeli, ke 3 hadits tersebut terjadi ketika rasulullah hidup, dan Rasulullah yang mengatakan/menyetujuinya, berarti ini juga merupakan sunnah rasulullah, sebab perbuatan para sahabat yang disetujui oleh Rasulullah itu menjadi sunnah rasul yang boleh kita ikuti,
    Contoh lain juga ada mas, anda mungkin tahu kan, kalimat adzan dan iqamat, itu perbuatan siapa? apakah rasulullah yang mengajarkan? itu adalah dari mimpi seorang sahabat, lalu disampaikan kepada rasulullah, dan rasulullahpun menyetujuinya,..

    So yang kita tanyakan,.. apakah ritual tahlilan kematian ini juga pernah dilakukan oleh para sahabat, yang kemudian rasulullah menyetujuinya??
    TIDAK ada satupun sahabat yang melakukannya mas,.. itulah bedanya,

    maaf perhatikan ibadah diri masing2 gak perlu menilai ibadah org lain, hanya Allah yg berhak menilai bukan kita manusia.

    Ya, perhatikanlah, apakah ibadah kita sesuai dengan apa yang diajarkan oleh rasulullah kepada para sahabatnya atau tidak,
    Dan mengingatkan kaum muslimin agar beribadah dengan pemahaman para sahabat , itu bukanlah kita sedang menilai ibadah orang lain, justru kita merasa kasih sayang kepada orang lain, agar ibadah mereka diterima disisi Allah, bukan menjadi ibadah yang sia-sia, bahkan menjadi dosa yang akan dipikulnya kelak di akherat,.. begitu mas,..

  62. abu razka
    Oktober 8, 2012 pukul 10:50 am | #97

    tulisan yg bagus sekali hujjah yg jelas dan terang

  63. adi
    Oktober 6, 2012 pukul 2:32 pm | #98

    Mr.X :
    Dari cerita anda yg ini “selidik punya selidik, itu adalah ajaran dari hindu, ketika ada wali gadungan yang berdakwah kepada orang-orang hindu supaya masuk islam,…”
    Siapakah yg anda maksud dengan “wali gadungan” tersebut? Siapa namanya?

    Terimakasih mr.x atas komentarnya,.

    Diantaranya adalah sunan yg ga ada kerjaan nungguin tongkat hingga bertahun-tahun ngga shalat jumat,mungkin BAB dan kencing di Celana, gimana ceritanya hingga burungpun bersarang di kepalanya,bertelur dan beranak,.. apakah itu disebut wali? ngga shalat berjamaah 5 waktu, ngga shalat jumat,.. siapa wali gadungan tersebut?? masa ngga tahu?

    Mr.X :
    Dari cerita anda yg ini “selidik punya selidik, itu adalah ajaran dari hindu, ketika ada wali gadungan yang berdakwah kepada orang-orang hindu supaya masuk islam,…”
    Siapakah yg anda maksud dengan “wali gadungan” tersebut? Siapa namanya?

    Terimakasih mr.x atas komentarnya,.

    Diantaranya adalah sunan yg ga ada kerjaan nungguin tongkat hingga bertahun-tahun ngga shalat jumat,mungkin BAB dan kencing di Celana, gimana ceritanya hingga burungpun bersarang di kepalanya,bertelur dan beranak,.. apakah itu disebut wali? ngga shalat berjamaah 5 waktu, ngga shalat jumat,.. siapa wali gadungan tersebut?? masa ngga tahu?

    …Diantaranya adalah sunan yg ga ada kerjaan nungguin tongkat hingga bertahun-tahun ngga shalat jumat,mungkin BAB dan kencing di Celana, gimana ceritanya hingga burungpun bersarang di kepalanya,bertelur dan beranak,.. apakah itu disebut wali? ngga shalat berjamaah 5 waktu, ngga shalat jumat,..
    Umar bin Khattab sebelum masuk Islam adalah seorang pemabuk,membunuh anak sendiri dan berniat membunuh Nabi tapi setelah masuk Islam Beliau merupakan salah satu dari Khulafaur Rasyidin.

    Betul sekali mas adi,terimakasih atas komentarnya yang cukup bagus,
    Perlu mas adi ketahui,Umar bin khattab setelah masuk islam tidak lagi melakukan perbuatan tersebut, Tidak pula mencampur adukkan ajaran islam dengan ajaran diluar islam,
    Dan orang kafir setelah masuk islam, maka semua dosa yang sebelumnya dilakukan diampuni oleh Allah,

    Bangsa Rumawi adalah satu bangsa yang beragama Nasrani yang mempunyai Kitab Suci sedang Bangsa Persia adalah beragama Majusi, menyembah api dan berhala (musyrik). Ketika terjadi perang antara Roma melawan Persia dan tersiar berita kekalahan bangsa Rumawi oleh bangsa Persia, maka kaum musyrik Mekah menyambutnya dengan gembira karena berpihak kepada orang musyrikin Persia Sedang kaum muslimin berduka cita karenanya.

    Maksud dari pernyataan diatas apa mas, bisa dijelaskan, jadi saya bisa menanggapinya, bingung saya menghubungkannya

    Jika yg dimaksud adalah Sunan Kalijaga setidaknya beliau telah mendakwahkan Islam di Jawa pada masanya sehingga banyak masyarakat dr paham animisme dan agama lainya memeluk Islam dan menjadi mayoritas hingga sekarang…
    Diwilayah Indonesia timur paham animisme masih banyak berjalan dan Islam belum sampai ke mereka, cobalah…

    Justru itu, Dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya bukan seperti yang dilakukan oleh sunan jaga kali, mencampuradukkan ajaran hindu ke dalam ajaran islam yang mulia. Rasulullah saja tidak mau melakukannya, dulu dijaman rasulullah ada ajaran agama nasrani dan yahudi,serta majusi. Kesyirikan di mekah juga banyak, bahkan kaumnya menawarkan sesekali rasulullah beribadah dgn mereka, dan sesekali mereka beribadah dengan rasulullah, namun rasulullah menolaknya, silahkan baca tafsir surat Alkaafiruun.

    Justru dakwah rasulullah ingin menyampaikan ajaran islam, dan menghilangkan ajaran2 agama selain islam, sebab sejak diutusnya nabi muhammad, maka agama sebelum islam terhapus, apalagi agama hindu yg bikinan manusia,
    Tujuan diciptakannya Jin dan Manusia adalah untuk beribadah kepada Allah saja, tentu dengan syariat yang Allah tetapkan, bukan syariat bikinan manusia.

    Adapun yang dilakukan sunan jaga kali adalah penyimpangan dalam mendakwahkan islam, menyelisihi dakwah yang dilakukan oleh wali sanga sebelumnya,

    Silahkan mas adi membaca sejarah walisanga disini, sehingga mengetahui penyimpangan yang dilakukan oleh sunan jaga kali dan generasi setelahnya

    Mas Adi bisa juga membaca Pandangan Walisanga terhadap tahlilan disini

    • Edi Hermawan
      Desember 28, 2012 pukul 1:53 pm | #99

      assalamualaikum wr,wb…”

      Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

      mohon penjelasan dari antum,,..?
      saya pernah mendengan teman saya bilang kalo tahlilan itu menurut dia harus ,dia condong pada syeih” terdahulu yg suka melakukan ritual” tahlilan
      saya jawab”..tahlilan itu kan hanya budaya” org” indonesia,,,,
      dan saya tegas kan padanya kalau tahlilan itu meerupakan bagian dari niyahah (meratapi)
      ehh dia berbicara seakan tahlilan itu harus,,,padahal saya tidak mendengar sedikit pun hadits yg ia ucapkan,,,dia malah mengeluarkan hadits” yg tidak ada sangkut-paut nya dengan tahlilan,,

      pertanyaan nya,? kesalahan” yg ada pada tahlilan itu di makanan nya apa di bacaan tahlilan nya,,,?

      Terimakasih mas EDi
      Kesalahannya, tahlil adalah dzikir yang agung, kalau ritual tahlilan, yaitu pembacaan tahlil berhubungan dengan telah meninggalnya seseorang, ini tidak ada contohnya dari rasulullah,.. rasulullah tidak pernah melakukannya, demikian juga para sahabat, imam2 ahlussunnah seperti imam abu hanifah,imam malik,syafii,ahmad, beliau juga tidak melakukannya, bahkan imam syafii melarang berkumpul2 di rumah orang yang meninggal, sebab itu termasuk meratap,

      Jadi kesalahan intinya adalah tiak mengikuti contoh rasulullah,..

      Jika kita melakukan suatu amalan ibadah, namun tidak mengikuti contoh rasulullah, maka amalan ibadah kita tersebut bukan berbuah pahala, tapi berbuah dosa

  64. Akos
    Oktober 5, 2012 pukul 10:43 am | #100

    Makanya jangan memulai suatu ritual ibadah tanpa dasar dalil.

    Kalo sudah kepalang senang, alasan pembenar bisa dicari-cari.

    Yang sudah kepalang senang tahlilan 7, 40, 100 hari itupun berusaha membela kesenangannya dengan berbagai cara.

    Saran saya mulailah apapun ritual ibadah kita dengan tahu ilmunya, jangan ikut-ikutan. Selagi kecil sich boleh, tapi kalo udah gede kan bisa berfikir lebih baik.

    Jazakallahu khairan, betul kata anda, tahu ilmunya dulu, baru beribadah, jangan beribadah karena ikut2an

  65. Jibril Muhammad
    September 29, 2012 pukul 1:38 pm | #101

    Setiap ibadah pasti ada ketentuan dari syari’ (Allah SWT dan Rasul). Ketentuan ini meliputi 3 hal : nafsul ibadah (ibadah itu sendiri/kayfiyah), waktu, dan tempat, boleh jadi ketiganya, dua di antaranya, atau hanya salah satunya. Maka seorang muslim tidak boleh keluar dari 3 hal tersebut jika sudah ada ketentuan, sebaliknya boleh jika memang tidak ditentukan. Contoh, ibadah haji sudah ditentukan cara, waktu dan tempatnya. Maka seorang muslim tidak boleh melakukannya di luar ketentuan itu. Shalat wajib telah ditentukan cara dan waktunya, tidak dengan tempatnya. maka boleh memilih dikerjakan di tempat mana saja, kecuali di beberapa tempat yg dilarang, seperti di dekat kuburan. Tahlil, tidak ada ketentuan waktu dan tempat, maka boleh dilakukan di mana saja dan kapan saja, termasuk 40, 100, dan 1000 hari pasca kematian seseorang bahkan setiap hari sekalipun.

    Komentar yang bagus,.. tapi kontradiksi, anda mengatakan tahlil tidak ada ketentuan kapan pelaksanaanya, lalu bagaimana dgn yg 40, 100, dan 1000 hari pasca kematian seseorang?? ini adalah penentuan yang butuh kepada dalil dari rasulullah

    Mudah-mudahan anda paham dengan jawaban ini, mana yg dimaksud tidak menentukan, dan mana yang menentukan secara khusus, seperti berkaitan dgn hari kematian, itu adalah penentuan khusus,.. silahkan tahlil kapan saja,.. bukan ditentukan setelah kematian saja,

  66. wong biasa
    September 8, 2012 pukul 6:22 am | #102

    Tambahan…
    Saya pribadi juga ndak setuju dg budaya tahlilan yg sampai menghabiskan banyak uang dan berlebihan dengan suguhan makanan dan lain2, namun saya harap jangan Anda menyalahkan kirim doanya, karena Anda pasti tahu, bahwa manusia akan terputus amalnya saat meninggal, kecuali 3, diantaranya anak yg sholih. Lalu apa menurut Anda mendoakan orang tua yg meninggal tidak boleh atau salah jika dilakukan oleh anak sholeh?

    Terimakasih wong, telah berkomentar disini
    Kalau caranya dengan melakukan ritual tahlilan kematian, maka tidak akan diterima,

    Silahkan anda berdoa kapan saja untuk orang tua, utk kaum muslimin, tidak mesti melakukan ritual tersebut,.. Bahkan amalan shalih seorang anak tanpa dikirimkan ke orang tua tsb, otomatis orang tua akan mendapatkan pahala, jika amal tsb dinilai sebagai pahala, sebab kita tidak pernah tahu amalan mana yg itu dicatat sebagai pahala, kok ada yg pede bisa mengirim pahala, atau menghadiahkan pahala,.. emangnya tahu??

    • Saidilman
      September 9, 2012 pukul 2:27 am | #103

      Setujuuuuuu…..

  67. September 6, 2012 pukul 5:44 am | #104

    Assalamualaikum Wr.wb

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    boleh nanya gak pak?

    Silahkan,

    • fitriyatundiniyah
      September 7, 2012 pukul 3:15 am | #105

      pak,kan di tetangga saya ada yang merayakan walimatul ursy pas itu ada tetangga saya meninggal dunia bagaimana tuh pak, apa saya ikutan ngaji yasinnan apa saya ikut bergadang sambil maen kartu…!!!
      menurut bapak gimana?
      maaf pak, saya pakai nama adik saya

      Terimakasih atas pertanyaanya,..
      Yang paling bagus, tidak ikutan yasinan, dan tidak ikutan begadang sambil main kartu,
      Kedua perbuatan tersebut adalah tidak bermanfaat,.. sama saja begini, misalkan ditawarkan kepada anda, anda mau minum racun tikus atau minum racun serangga? tentu yg paling bagus ngga minum dua-duanya,.. kecuali jika sudah bosan hidup, dan itu bukan jalan terbaik, kedua-duanya sama dengan bunuh diri, dan bunuh diri adalah dosa,.

  68. mulwahadi
    Agustus 31, 2012 pukul 3:50 am | #106

    Assalamualaikum wr wb,

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    kalo kajian mengenai ajaran ahlussunah waljamaah di palembang di mana ya?terima kasih

    Silahkan lihat di link ini,
    Di link tersebut bisa dilihat juga kajian-kajian salaf untuk seluruh kota-kota di indonesia

    • mulwahadi
      Agustus 31, 2012 pukul 6:44 am | #107

      jazakumulloh khoir tad informasinya

  69. prima
    Agustus 28, 2012 pukul 2:22 am | #108

    lihat link bawah ini:

    Maaf, linknya saya ganti dengan yang ini, lebih bagus dan lebih bermanfaat, sama-sama dialog buya yahya,. silahkan lihat disini

    Silahkan dilihat dan dengarkan, banyak manfaatnya,

    • masnur
      Januari 28, 2013 pukul 8:45 am | #109

      kenapa yah point2 dari rekaman lengkap penjelasan dari salah satu fihak kog di hilangkan?
      apa maksudnya?
      kalau memang ingin kebenaran ya yang lengkap dong????

      yang mana ya? itu satu acara kok, gimana mau dihilangkan?? bukan pada acara sebelumnya, atau sesudahnya,. sebab acara sesudahnya ustadz toharo tidak hadir,
      pada acara tersebut terlihat sang buya tidak bisa mengeluarkan hujjah-hujjahnya,

  70. Husen kurnia
    Agustus 23, 2012 pukul 12:27 pm | #110

    Asalm wr wb.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Semoga anda yg menyukai tahlilan dan yg td, diampuni allah. Amin…

    yang suka tahlilan mudah-mudahan mendapatkan pahala, dan yg suka ritual tahlilan mudah-mudahan diberikan hidayah taufik sehingga meninggalkan ritual tsb

    Pa, kalau boleh saya bertanya, jika ada suami yg mengatakan pd istrinya: “talak 3 kau!”.

    Apakah jadi 1 atau tetap 3.

    apakah mengucapkannya dalam kondisi marah yang sangat,sehinnga tidak terkontrol ucapannya? atau bicaranya itu dalam kondisi sadar?
    Dan yang jelas,talak 3 itu jatuh sperti talak normal, yaitu talak 1 kali ,lalu rujuk, talak lagi lalu rujuk lagi, dan talak lagi,baru jatuh talak 3,
    tidak ada langsung jatuh talak 3,sementara blm pernah ada talak sebelumnya, wallahu a’lam

    (maaf kurang nyambung he.. he…)

    sambungin aja,..

  71. gemblung
    Agustus 22, 2012 pukul 7:44 pm | #111

    yang punya blog ini tipe goblok tapi keminter…

    kalau anda tipe apa dong,..

    • Saidilman
      September 9, 2012 pukul 2:20 am | #112

      …yang disampaikan mas atau mbak Gemblung sebagai cacian itu hal biasa…

      saat kita memberikan dakwah Islam yang lurus.. Hal tersebut tidak ada apa-apanya jika dibandingkan saat Rosulullah mengajarkan Ke-tauhidan (agama Allah ta’alla) kepada kaum kafir quraisy.

      Semoga Mas Gemblung senantiasa diberi petunjuk dan rahmat hidayah dari Allah ta’alla. Untuk yang mengasuh blog ini bersabarlah dalam mendakwahkan Ajaran Islam yang benar ini sesuai yang telah dituntunkan oleh Rosulullah Muhammad… Terima kasih..atas ilmunya…

      • musthofa
        Juni 18, 2013 pukul 3:24 pm | #113

        ya sudah jelas tho..! lha wong memberi nama sendiri aja “GEMBLUNG”, gila (bhs indonesianya). artinya. orang ini adalah orang gila yang keminter.! rosul aja menyuruh kita untuk memberi nama yang baik kok..!

        Mudah-mudahan wong gemblung kuwe sadar mas,..

  72. Fahrudin
    Agustus 21, 2012 pukul 4:26 am | #114

    I.1.2 Siapakah yang Pertama Memulai Bid’ah Hasanah Setelah Wafatnya Rasul SAW?
    Posted on 13/06/2011 by Malik| Leave a comment

    أَنَّ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: أَرْسَلَ إِلَيَّ أَبُو بَكْرٍ مَقْتَلَ أَهْلِ الْيَمَامَةِ فَإِذَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ عِنْدَهُ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِنَّ عُمَرَ أَتَانِي فَقَالَ إِنَّ الْقَتْلَ قَدْ اسْتَحَرَّ يَوْمَ الْيَمَامَةِ بِقُرَّاءِ الْقُرْآنِ وَإِنِّي أَخْشَى أَنْ يَسْتَحِرَّ الْقَتْلُ بِالْقُرَّاءِ بِالْمَوَاطِنِ فَيَذْهَبَ كَثِيرٌ مِنْ الْقُرْآنِ وَإِنِّي أَرَى أَنْ تَأْمُرَ بِجَمْعِ الْقُرْآنِ قُلْتُ لِعُمَرَ كَيْفَ تَفْعَلُ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُمَرُ هَذَا وَاللَّهِ خَيْرٌ فَلَمْ يَزَلْ عُمَرُ يُرَاجِعُنِي حَتَّى شَرَحَ اللَّهُ صَدْرِي لِذَلِكَ وَرَأَيْتُ فِي ذَلِكَ الَّذِي رَأَى عُمَرُ قَالَ زَيْدٌ قَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّكَ رَجُلٌ شَابٌّ عَاقِلٌ لَا نَتَّهِمُكَ وَقَدْ كُنْتَ تَكْتُبُ الْوَحْيَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَتَبَّعْ الْقُرْآنَ فَاجْمَعْهُ فَوَاللَّهِ لَوْ كَلَّفُونِي نَقْلَ جَبَلٍ مِنْ الْجِبَالِ مَا كَانَ أَثْقَلَ عَلَيَّ مِمَّا أَمَرَنِي بِهِ مِنْ جَمْعِ الْقُرْآنِ قُلْتُ كَيْفَ تَفْعَلُونَ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ هُوَ وَاللَّهِ خَيْرٌ فَلَمْ يَزَلْ أَبُو بَكْرٍ يُرَاجِعُنِي حَتَّى شَرَحَ اللَّهُ صَدْرِي لِلَّذِي شَرَحَ لَهُ صَدْرَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَتَتَبَّعْتُ الْقُرْآنَ أَجْمَعُهُ …

    “Bahwa Sungguh Zeyd bin Tsabit ra berkata : Abubakar ra mengutusku Ketika terjadi pembunuhan besar – besaran atas para sahabat (Ahlul Yamaamah), dan bersamanya Umar bin Khattab ra, berkata Abubakar : “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : “Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh Rasulullah..??, maka Umar berkata padaku bahwa “Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!” berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung – gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw??”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga ia pun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits No.4402 dan 6768).

    Jika sahabat yang melakukan suatu amalan, dan tidak ada sahabat lain yang mengingkari, maka itu merupakan ijma sahabat, dan ijma sahabat merupakan dalil yang boleh diikuti, bukan merupakan hal yang bidah,
    Sebab Rasulullah sendiri yang merekomendasi mereka dalam haditsnya, bahkan Allah juga menyatakan dalam ayat alquran, silahkan baca surat attaubah ayat 100 dan annisa ayat 115
    Kalau hadits yang menyatakan rekomendasi rasulullah utk berpegang teguh dengan sunnahnya, dan sunnah khulafa’ur rasyidin sesudah rasulullah ini haditsnya:

    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

    “Sesungguhnya sepeninggalku akan terjadi banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin. Peganglah ia erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian” (HR. Abu Daud 4607, Ibnu Majah 42, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud )

    Lihat, disini ada kata sunnah khulafa ar rasyidin.

    siapa khulafaur rasyidin? merekalah Abu bakar,umar,utsman dan ali,

    Pembukuan alquran di jaman abu bakar berarti bukan bidah, tapi sunnah,

    Lagian nama lain alquran juga adalah alkitaab , apa arti alkitab? alkitab adalah buku seperti mushaf, jadi bukan tulisan yang tercerai berai bukan dalam satu buku,..

    Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau bahkan tiap hari, tak ada dalil yang melarangnya, itu adalah Bid’ah Hasanah yang sudah diperbolehkan oleh Rasulullah saw,

    Kalau mau mencari dalil larangannya, maka sampai kiamatpun tidak akan menemukannya,

    Seandainya ini yang menjadi dalil,karena tidak ada yang melarangnya, niscaya agama islam ini akan menjadi rusak, sebab nanti akan sangat banyak orang yang bisa memodifikasi ajaran islam, sehingga dengan berjalannya waktu seolah2 ini adalah berasal dari islam,

    Contoh kecil saja, dengan dalil tidak ada larangan, maka ada orang yang mengerjakan shalat dengan bahasa indonesia, sebab ini lebih bisa dihayati dibandingkan dengan bahasa arab, apalagi kita orang indonesia,

    Jika orang yang shalat dengan bahasa indonesia tsb ditegur, dinasehati, dia akan menjawab, mana larangannya?
    adakah larangan shalat dengan bahasa indonesia??
    Saya mengerjakan shalat dengan bahasa indonesia bisa khusyu,bahkan bisa menangis,jadi lebih mendekatkan diri kepada Allah,
    Apa jawaban anda, jika ditanya seperti itu?? Anda tidak bisa menemukan dalil larangan shalat dengan berbahasa indonesia, apakah dengan begitu berarti rasulullah membolehkan shalat dengan berbahasa indonesia?

    justru kita perlu bertanya, ajaran muslimkah mereka yang melarang orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?,
    siapa yang alergi dengan suara Laa ilaaha illallah kalau bukan syaitan dan pengikutnya ?,
    siapa yang membatasi orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, muslimkah?,

    Dengan hal yang sama, jika ada orang yang menasehati orang yang shalat dengan bahasa indonesia, maka orang yang dinasehati itu akan menjawab,
    Orang yang melarang kita mengerjakan shalat berarti dia orang kafir,
    Orang yang melarang kita shalat dengan khusyu berarti dia orang munafik,
    Orang yang melarang kita shalat berarti dia musuh islam,
    dan hal-hal jelek lainnya,…

    semoga Allah memberi hidayah pada muslimin, tak ada larangan untuk menyebut Laa ilaaha illallah, tak pula ada larangan untuk melarang yang berdzikir pada hari ke 40, hari ke 100 atau kapanpun, pelarangan atas hal ini adalah kemungkaran yang nyata.
    Semoga Allah memberikan hidayah kepada kaum muslimin, sehingga mengamalkan ajaran islam ini dengan contoh-contoh yang diajarkan oleh Rasulullah , yang diamalkan oleh para sahabatnya,

    Rasulullah mengajarkan tahlil, tapi rasulullah tidak pernah melakukan ritual tahlilaan pada hari ke 40,100,1000 dan hari-hari khusus lainnya,
    Termasuk, rasulullah tidak pernah tahlilan setelah selesai shalat 5 waktu dengan tahlil sekian kali, sebagaimana banyak kita jumpai di indonesia,
    Bukan kita melarang tahlil,… tapi mbok ya cara mengerjakan tahlil itu seperti yang diajarkan rasulullah, bukan menurut ajaran kelompok, guru,ajengan,habib,atau orang-orang yang dianggap wali,
    Rasulullah lah panutan kita,

    sy mint penjelasan dr hadist ini sy dpt ini dr internet.

    Mudah-mudahan penjelasan diatas bisa membantu, dan bisa anda pahami, jika kurang paham, silahkan ditanyakan,..
    Mudah-mudahan Allah menunjuki kita semua diatas sunnah dengan pemahaman para sahabat

    • Abi
      Desember 29, 2012 pukul 10:46 am | #115

      asslamu ‘alaikum…mas admin.

      Wa’alaikumussalam warahmatullah

      emang Tahlilan itu yg salah apanya?

      Yang salah adalah tatacaranya yg tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah

      terus, Tahlilan yg benar seperti apa emangnya?

      Silahkan lihat saja video yang ini, dengarkan hingga selesai

  73. Fahrudin
    Agustus 21, 2012 pukul 4:08 am | #116

    Assalamualaikum,

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Saya mau tanya hadist ini shahih atau palsu

    Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw :

    مَنْ سَنَّ فِي اْلاِسْلامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

    “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikit pun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim Bab Zakat dan Bab Al ‘Ilm). Demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi).

    Hadits tsb shahih,

    Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Dhalalah.

    Salah besar hadits ini dijadikan sebagai bidah hasanah dan bidah dhalalah, bukankah hadits tsb ada di bab zakat? seharusnya bagi pengamal bidah hasanah membaca penjelasan dan penyebab adanya hadits ini, kalau belum membaca silahkan baca disini

    Malah hadits tersebut bisa menjadikan ancaman bagi para penyebar perbuatan bidah, yaitu “dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya”
    karena semua makna bidah secara istilah adalah hal2 baru dalam agama yg tidak ada perintahnya dari rasulullah

    Kalau contoh dalam hadits tsb adalah ttg seorang sahabat yang memberikan contoh menginfakkan hartanya kepada rasulullah,lalu diikuti oleh para sahabat lainnya, sehingga orang yang pertama kali infak tsb mendapatkan pahala orang-orang yang berinfak setelah itu,

    Dan infak bukanlah hal baru dalam islam yang tidak ada contohnya dari rasulullah, bahkan rasulullah orang yang paling gemar berinfak, itu ada ajarannya dari rasulullah, jadi misalkan dikatakan infak adalah perbuatan bidah, itu bidah secara bahasa, bukan secara istilah / syar’i ,

    Sebab jika maknanya adalah bidah secara istilah, maka rasulullah telah bersabda “semua bidah adalah sesat, dan setiap kesesatan ada di neraka”

  74. honey
    Agustus 17, 2012 pukul 2:22 pm | #117

    saya bangga di didik di lingkungan keluarga yg tdak pernah melaksanakan bidah.,
    alhhmdulliiiiiiilahh :)

  75. suga insuk
    Agustus 13, 2012 pukul 4:06 pm | #118

    Assalmualaikum.. Wr. wb.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    pak,apa hukumnya sholawat munjilah….?

    Rasulullah sudah mengajarkan tatacara shalawat, silahkan baca disini, selain shalawat tersebut bukanlah shalawat yang benar, wajib ditinggalkan.
    Semua shalawat yang diajarkan oleh rasulullah bisa diterapkan untuk bacaan shalawat ketika shalat,

  76. al-fakir
    Agustus 6, 2012 pukul 7:49 am | #119

    @admin :
    Anda tinggal di indonesia bukan di arab apabila kelompok anda merasa lebih baik dan merasa pengikut Nabi Saw silahkan namun tidak sedikit-dikit bid’ah. kami sendiri tidak keberatan sebagai aswaja dan tidak pernah mengusik bagaimana cara anda beribadah meskipun anda punya masjid selalu sepi bahkan kalah dengan puji-pujian daripada Gereja.

    Apa sih definisi aswaja tersebut? ASli WAjah JAwa? Apa arti sunnah? Apa Arti Ahlussunnah??
    Sungguh suatu ironi jika mengaku ahlussunnah, tapi banyak mengerjakan amalan bidah, bukan banyak mengerjakan yang ada sunnahnya dari rasulullah,..
    Itu sih klaim saja, mengaku-ngaku sebagai ahlussunnah,
    Masjid Rasulullah saja tidak ada puji-pujian , lha kok yang mengaku ahlussunnah mengikuti tradisi gereja-gereja dengan pujian-pujian?

    yang perlu anda pikirkan sekarang adalah diluar sana ada golongan Ahmadiyah yang nyata-nyata menyimpang dari ajaran Islam yang sesungguhnya itulah yang perlu anda perangi.

    Ya, kita bentengi kaum muslimin dengan ajaran yang benar, akidah yang benar, sehingga tidak mudah terasuki oleh pemikiran kelompok ahmadiyah, dengan akidah yang benar, tentu penyimpangan seperti ahmadiyah dgn mudah diketahui, dan dihindari

    kalaupun kami tahlilan itu hanya memanjatkan do’a dsb. kecuali apabila kami sholat menghadap ke Timur silahkan di perangi.

    Memanjatkan doa adalah ibadah, maka caranya pun haruslah mengikuti contoh rasulullah, bukan membuat cara-cara sendiri,..
    Mengaku sebagai ahlussunnah, kok amalanya bidah? lucu toh mas,..

    hal inilah ciri-ciri orang yang merasa pintar dan menurut nabi orang yang merasa pintar berarti semakin dangkal ilmu pengetahuannya. tolong kalau mengaji ilmu dengan Guru yang ahli dalam hal ilmu agama, jangan belajar sendri menafsir sendiri karena hal yang demikian Gurunya adalah Syaitan. ingat, saudara adalah orang indonesia bukan orang arab. apabila merasa sesuai dengan kebudayaan arab, silahkan tinggal di arab.

    Mas, nabi kalian orang indonesia atau orang arab?
    Agama islam itu diturunkan di indonesia atau di arab?
    Anda shalat apakah bacaannya bahasa indonesia, atau bahasa arab?
    Alquran yang anda baca, itu bahasa indonesia atau bahasa arab?

    demikian…wassalam

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    • Aku Hanya Hamba
      Oktober 1, 2012 pukul 5:27 pm | #120

      Mas Alfakir : diskusinya jgn provokatif dong..

      dikit2 minta diperangi, mari kepala dingin ungkapkan dalil anda baik nakqli dan aqli gitu mas..

      jgn pake klaim bahwa admin ngajinya gak pake guru yg mumpuni trs berkesimpulan gurunya syetan..

      ini kan judgment yg gak boleh kita lontarkan dalam kerangka ukhuwah, persaudaraan islam..

      mari diskusi yg ademm..

      thanks. Admin: lanjut dg cara2, kata2 yg baik bil hikmah…

      Jazakallahu khairan atas supportnya,.. insya Allah saya berusaha menjawab dan diskusi dgn kata2 yg bijak,

  77. miqdad
    Juli 27, 2012 pukul 8:07 am | #121

    assalamu alaikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    alhamdulillah sdkt demi sdkt saya mendapat ilmu. saya sering mengirimkan surat alfatihah kepada nabi dan semua orang yg saya kenal telah meninggal tp ternyata pahalanya tidak sampai.

    Jika surat alfatihah yang anda baca itu diajarkan oleh guru anda, maka tidak usah dihadiahkanpun guru anda akan mendapatkan pahala alfatihah yang anda baca, baik guru anda masih hidup atau sudah meninggal,

    lalu bagaimana dengan shalawat pada nabi, pa nabi mendapat pahala jg ya.

    Untuk shalawat yang kita baca, tanpa kita hadiahkan kepada rasulullah, itu mendapatkan pahala, sebab Allah mengutus malaikat khusus yang bertugas menyampaikan shalawat kita kepada rasulullah,ada hadits tentang itu,

    Berikut keutamaan shalawat
    Keutamaan Bershalawat Atas Nabi.

    *

    Dari Abu Hurairahzbahwa Rasul Allah Subhannahu wa Ta’ala bersabda,
    “Barang siapa bershalawat terhadapku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)

    *

    Dari Anas bin Malik Radhiallaahu anhu , bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda,
    “Barang siapa bershalawat atasku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali shalawat, menghapus darinya sepuluh keburukan, dan mengangkatnya sebanyak sepuluh derajat.” (HR Ahmad, an-Nasai dan di shahihkan oleh al-Albani).

    *

    Dari Abdullah bin Amr bin Ashz ia mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda,
    “Apabila kamu mendengarkan muadzin maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan, kemudian bershalawatlah kepadaku karena barang siapa yang bershalawat atasku sekali saja, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mintakanlah untukku al-Wasilah, sesungguhnya ia adalah kedudukan di Surga yang tidak layak kecuali hanya untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Dan aku berharap agar hamba tersebut adalah aku, barang siapa yang meminta kepada Allah al-Wasilah untukku, maka berhak atasnya syafaat.” (HR. Muslim)

    *

    Dari Abu Darda’zia berkata, “Telah bersabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam,
    “Perbanyaklah shalawat atasku pada Hari Jum’at karena ia disaksikan, dan para malaikat pun menyaksikan. Dan sungguh tidaklah seseorang bershalawat atasku, kecuali akan diperlihatkan kepadaku shalawatnya hingga ia selesai darinya.” Dia mengatakan,”Aku berkata, ”Dan juga setelah meninggal dunia? Nabi menjawab, ”Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi.”(HR Ibnu Majah dan al-Mundziri menyatakan jayyid)

    *

    Dari Aus bin Auszia berkata, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda,
    ”Termasuk hari-hari kalian yang utama adalah hari Jum’at, pada hari itu Adam diciptakan dan diwafatkan, pada hari itu ditiup sangkakala dan terjadi suara keras yang mematikan. Maka perbanyak-lah shalawat atasku pada hari itu, sesungguhnya shalawat kalian diperlihatkan kepadaku” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan oleh al-Albani)

    *

    Dari Abu Umamahzdia berkata, ”Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda,
    “Perbanyaklah shalawat kepadaku pada Hari Jum’at, karena shalawat dari umatku diperlihatkan pada tiap-tiap Hari Jum’at. Barang siapa yang lebih banyak shalawatnya kepadaku maka ia lebih dekat kedudukannya dariku.”(HR. al-Baihaqi dihasankan oleh al-Albani).

    *

    Dari Abu Hurairahzia berkata, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda,
    “Sungguh merugi seseorang yang disebutkan diriku disisinya namun tidak bershalawat atasku.” (HR. At-Tirmidzi, berkata al-Albani hasan shahih)

    *

    Dari Ibnu Abbaszberkata,”Telah bersabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam ,
    “Barang siapa melupakan (meninggalkan) shalawat terhadapku maka akan tersalah dari jalan surga.” (HR. Ibnu Majah dishahihkan oleh al-Albani dengan hadits lain)

    *

    Dari Husain Radhiallaahu anhu, dari Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda,
    “Orang bakhil adalah orang yang diriku disebut di sisinya namun tidak bersha-lawat kepadaku.” (HR. An-Nasai di sha-hihkan oleh al-Albani)

    *

    Dari Ubay bin Ka’ab ia berkata, ”Wahai Rasulullah, sungguh aku akan memperbanyak shalawat atasmu, maka seberapa banyak kujadikan do’aku untuk bershalawat kepadamu? Beliau menjawab, “Sekehendakmu” Dia bekata, “Aku mengatakan, “Apakah seperempatnya?” Beliau menjawab, “Terserah kamu, dan jika engkau menambah, maka itu lebih baik bagimu.” Aku berkata, ”Apakah separuhnya?” Rasul menjawab, ”Terserah kamu, dan jika kamu menambah, maka itu lebih baik bagimu.” Aku lalu berkata, “Apakah dua per tiganya?” Nabi menjawab, “Terserah kamu dan jika kamu menambahnya, maka itu lebih baik bagimu.” Aku berkata, ”Apakah aku bershalawat kepadamu sepanjang hariku.” Beliau bersabada, “Kini telah cukup keinginan dan kesungguhanmu dan Allah mengampuni dosa-dosamu.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, ia mengatakan hadits hasan shahih, dan al-Albani menyetujuinya).

    *

    Dari ‘Amir bin Rubai’ahzia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam berkhutbah dan bersabda,
    “Barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka malaikat senantiasa bershalawat kepadanya selagi ia masih bershalawat kepadaku. Maka seorang hamba boleh menyedikitkan atau memperbanyaknya.”

    *

    Dari Aliz ia berkata, “Setiap do’a terhalang, sehingga diucapkan shala-wat atas Muhammad dan keluarga Muhammad.”(riwayat ath-Thabrani dan dishahihkan oleh al-Albani dengan hadits yang lain)

    *

    Dari Umar bin Khaththabz secara mauquf, ”Sesungguhnya do’a terhenti di antara langit dan bumi, ia tidak naik sama sekali, sehingga disam-paikan shalawat kepada Nabimu Shallallaahu alaihi wa Salam .” (Riwayat at-Tirmidzi dishahihkan oleh al-Albani dengan hadits yang lain).

  78. muhadi
    Juli 23, 2012 pukul 8:48 am | #122

    assalamu’alaikum,

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    saya dah lama dengerin Rodja dan sering juga bertanya langsung, tapi hati masih bimbang karena katanya berguru itu harus ada sanadnya sampai Rosulullaah Sholallahu alaihi wasalam.

    Apa yang disampaikan oleh pemateri di radio rodja adalah apa-apa yang diajarkan rasulullah kepada para sahabatnya,.
    Yang disampaikan di radio rodja adalah ajaran islam menurut pemahaman para sahabat,
    Barangsiapa yang mendakwahkan islam, tapi tidak dengan pemahaman para sahabat, walaupun ngakunya bersanad, maka dia telah berdusta, dia mendakwahkan islam versi dirinya, atau versi guru-gurunya, bukan menurut pemahaman para sahabat,

    Sungguh kedustaan yang sangat besar, jika ada orang yang mengaku bersanad kepada rasulullah, tapi ajaranya menyelisihi ajaran rasulullah yang diajarkan kepada para sahabatnya,

    Siapa yang lebih dekat sanadnya kepada Rasulullah? Tentu para sahabat,

    Islam tidak akan sampai kepada kita tanpa melalui para sahabat,
    Maka sudah selayaknya, dan seharusnya, bahkan wajib kaum muslimin untuk mengamalkan islam menurut pemahaman para sahabat,
    Sebab itu satu-satunya jalan menuju keselamatan, menuji kecintaan dan keridhaan Allah,

    bolehkah saya amalkan yang saya pelajari dari Rodja?

    Ya, tentu saja, sangat boleh, ajak juga saudara2 anda tuk dengerin rodja, agar kita berislam tidak hanya taklid buta, tapi mengerti juga tentang ilmunya,

    mohon info kajian di PATI Jateng,

    Untuk infonya tidak tahu, coba saja simak radio BASS FM Salatiga,FM 93,2 mhz , insya Allah siaranya sampai pati,anda bisa bertanya disitu,

    Bisa juga anda membeli majalah ASSUNNAH, nanti di kolom agen daerah pati, anda hubungi saja nomer hape agen tersebut, insya Allah bisa membantu,

    • muhadi
      Juli 23, 2012 pukul 4:54 pm | #123

      terima kasih, jangan bosan-bosan bila saya sering konsultasi dengan, semoga Allah Subhanallahu wa ta’ala membalas yang lebih baik atas kebaikannya,

      amiin,.. jazakallahu khairan

      • muhadi
        Juli 24, 2012 pukul 6:46 am | #124

        mohon jawaban tentang pertanyaan saya kemaren tentang larangan duduk dan menginjak-injak kuburan.

        Larangan itu untuk duduk di kuburan,.. semua orang pasti tahu apa itu kuburan,.. bukan kita sedang menguburkan jenazah,
        Ketika kita menguburkan jenazah, janganlah kita malah menginjak atau menduduki kuburan-kuburan yang ada disekitarnya, atau sewaktu kita ziarah kubur, janganlah menginjak atau duduk diatas kuburan yang ada,.

        lalu bagaimana bila mengubur jenazah, kan harus diinjak-injak, mohon penjelasannya. jazakallahu khoiron

        Menginjak-injak tanah orang yang baru dikubur itu tidak sama dengan larangan yang ada dihadits diatas,bahkan itu termasuk kebaikan, supaya si mayit tidak mudah tergali kuburannya oleh binatang, dll , kalau tidak dgn diinjak2, tentu sangat susah kita menguburkannya,

      • muhadi
        Juli 24, 2012 pukul 7:44 am | #125

        begini ustadz, saya pernah ditanya ayah saya dan tetangga, karena saya pernah menyampaikan bahwa Rosulullah Sholallahu alaihi wasalam mengatakan, “Api membakar pakaianmu hingga membakar kulitmu itu lebih baik dari pada duduk di atas kuburan” dan juga larangan tentang menginjak-injak kuburan. kemudian lain hari saya ditanya sama mereka tentang mengubur jenazah kan harus diinjak-injak, kok dilarang. lalu pada saat itu saya jawab “itu lil hajjah, karena ada kemaslahatan, dan Rosulullah sendiri juga mengajarkan menginjak-injak tanah pada saat jenazah sedang di kubur. saya contohkan juga tentang larangan berbicara waktu sholat, namun ketika imam salah dalam bacaannya, ma’mum malah disuruh berbicara mengucapkan subhanallah. jadi larangan itu tidak berlaku lagi ketika ada kepentingan di sana dan ada contohnya dari rosulullah”. bagaimana dengan penjelasan saya kepada mereka? mohon tanggapannya.

        Ya, sudah cukup bagus jawabannya,

    • MUHADI
      Juli 31, 2012 pukul 5:31 am | #126

      USTADZ, ANAK KAKAK SAYA INI RENCANANYA MAU MONDOK DI GONTOR, GIMANA TENTANG MANHAJNYA? KALAU PONPES SALAF YANG DEKAT DARI PATI DI MANA YA?

      Disitu yang bagus adalah dalam segi bahasa, kalau manhaj, maka kurang, . ini berdasarkan para alumni gontor yang sekarang sudah menjadi ustadz-ustadz salafi, alangkah lebih baik memilih pesantren yang bermanhaj salaf, di dekat pati, mungkin bisa ke alirsyad tengaran, atau imam bukhari solo,

      • Agustus 29, 2012 pukul 4:54 am | #127

        assalamu’alaikum,

        Wa’alaikumussalam warahmatullah

        saya pernah mendengarkan audio mudzakaroh yang disenggarakan NU dengan mengundang ustadz zaenal abidin. ketika itu Sa’id Agil (NU) mengatakan bahwa ketika beliau sedang meneliti sebuah hadits, beliau kesulitan menemukan jalan-jalan hadits tersebut. kemudian Sa’id Agil datang kepada gurunya yang bernama Syeikh Yasin untuk meminta bantuan. Syeikh Yasin mengatakan bahwa “ya, nanti malam saya tak ketemu Rosulullaah Sholallaahu ‘alaihi wasalam, besok pagi kamu ke sini lagi”. betul, esok harinya Sa’id Agil datang lagi ke Syeikh Yasin, dan syeikh mengatakan, ” benar hadits yang kamu tanyakan shohih, benar-benar sabda Rosulullaah Sholallaahu ‘alaihi wasalam, sebab saya tadi malam telah ketemu langsung dan menanyakan kepada Rosulullaah Sholallaahu ‘alaihi wasalam”.

        Pertanyaan:
        1. Apakah benar, bahwa orang yang hidup setelah wafatnya Rosulullaah Sholallaahu ‘alaihi wasalam bisa ketemu langsung dan bisa bertanya tentang sesuatu?

        Para sahabat yang hidup sejaman dengan rasulullah, dibina langsung oleh Rasulullah, tidak didapati riwayat para sahabat bermimpi bertemu rasulullah, lalu terjadi dialog, padahal para sahabat orang yang paling mencintai rasulullah, tapi mereka tidak ada yang menceritakan pernah bermimpi bertemu rasulullah dalam mimpinya setelah rasulullah meninggal, apalagi orang yang jauh dari jaman beliau ,..
        Jadi apa yg disampaikan oleh pak said ttg gurunya tsb, itu karena gurunya tsb tidak mengikuti pemahaman para sahabat, tapi pemahaman sufi,.
        Dan di sufi hal2 tsb bukanlah suatu yang aneh, dan banyak sekali ritual2 mereka itu didapat dari mimpi guru2nya, atau mimpi dia sendiri,
        Padahal ajaran islam bukan didasarkan dari mimpi, dari dalil yang jelas,

        2. kalau memang bisa, lalu apa gunanya para muhaditsin seperti Bukhori, Muslim, Ahmad, Abu Dawut, tirmidzi, dll bersusah payah mengumpulkan jalan-jalan hadis, meneliti sanat, dll. langsung tanya aja sama Rosulullaah Sholallaahu ‘alaihi wasalam, kan beres.

        Imam yang 4 saja mereka meneliti hadits, para ulama berjalan berbulan2 untuk mencari satu hadits,
        apa yg disampaikan oleh pak said tsb bukanlah jalan yg benar, itu adalah bualan orang2 sufi,

        3. bagaimanakah tentang Aqidah yang semacam itu? jazakallaahu khoiron.

        Itu akidah yg sudah tercampur dengan ajaran sufi/tasawuf/ilmu kalam,
        Tentang sufi sudah saya posting disini

        Apa kata imam syafii tentang orang yang belajar tasawuf? baca disini

        Jazakumullahu khairan

  79. al faqir
    Juli 22, 2012 pukul 3:56 am | #128

    Yang perlu kita garis bawahi lagi, bahwa ajaran agama kita dalam merubah kemungkaran yang disepakati bahwa itu kemungkaran adalah dengan cara yang ramah dan nasehat yang baik. Tentu merubah kemungkaran yang masih dipertentangkan kemungkarannya juga harus lebih hati-hati dan bijaksana. Permasalahan yang masih menjadi khilafiyah (terjadi perbedaan pendapat) di antara para ulama, tidak seharusnya disikapi dengan bermusuhan dan percekcokan, APALAGI SALING MENYALAHKAN DAN MENGANGGAP SESAT Mereka yang menganggap dirinya paling benar dan menganggap akidahnya yang paling selamat, dan lainnya adalah sesat dan rusak, hendaklah ia berhati-hati karena jangan-jangan dirinya telah terancam kerusakan dan telah dihinggapi oleh teologi permusuhan.

    Wallahu a’lam bishshowab

    Tidak ada perselisihan dikalangan ulama tentang ritual tahlilan setelah kematian,.. karena ini tidak terjadi di kalangan mereka,.. yang merayakan ritual ini cuma di negara indonesia dan sekitaranya saja koq

    • Saidilman
      September 9, 2012 pukul 1:56 am | #129

      Maaf MAs Al Faqir, dari semua tulisan di atas saya sebagai pembaca tidak membaca dan merasakan ada yang dipersalahkan dan dg tulisan yang KASAR.

      Jika di baca seluruhnyam bahwa itu semua yang memerintahkan dan melarang adalah Quran dan Sunnah, Bukan Kita Pribadi disini.

      Coba kemana lagi kita akan merujuk dan mendapat tuntunan, Seluruhnya ada dalam AL QUran Dan SUnnah dengan pemahaman yang sesuai ajaran Rusulullah dan apa yang dikerjakan oleh para sahabat beliau.

      Mohon untuk dengan tenang dalam berkomentar dan perintah menuntut ilmu syari adalah perintah Rosullulah…

      Begitu mas Al FAqir menurut saya dan ini juga nasehat buat saya, Karena saya dahulu juga mungkin seperti anda, yang susah sekali meninggalkan amalan-amalan yang kurang sesuai syariat islam. Demikian terima kasih…

  80. al faqir
    Juli 19, 2012 pukul 8:33 am | #130

    Assalamu’alaikum warohmah wabarokatullah….

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    semoga Allah senantiasa mengampuni kita….
    bagaimana Anda bisa mengatakan Allah bersemayam di atas ‘Arsy,sedangkan ‘arsy itu ciptaan Allah…

    Sebelum menjawab pertanyaan anda, saya ingin bertanya, Apakah anda beriman kepada Allah?
    Jika anda menjawab IYA, saya akan bertanya lagi, apakah anda akan membenarkan semua yang dikatakan oleh Allah?
    Jika anda menjawab, TIDAK, berarti anda tidak beriman kepada Allah, pengakuan anda bahwa anda beriman kepada Allah adalah pengakuan yang dusta, tidak murni datang dari hati nurani anda, dengan penuh keyakinan dan keikhlasan,..

    Jika anda menjawab IYA , anda mengimani terhadap semua perkataan Allah, maka saya akan nukilkan apa yang dikatakan oleh Allah tentang Allah beristiwa diatas arsy

    Sifat istiwa’ adalah salah satu sifat Allah yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk diriNya dalam tujuh ayat Al-Quran, yaitu Surat Al-A’raf: 54, Yunus: 3, Ar-Ra’d: 2, Al-Furqan: 59, As-Sajdah: 4 dan Al-Hadid: 4, semuanya dengan lafazh:

    ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

    Artinya:

    “Kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).”

    Dan dalam Surat Thaha 5 dengan lafazh:

    الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

    Artinya:

    “Yang Maha Penyayang di atas ‘Arsy (singgasana) berada.”

    lalu di manakah Allah sebelum Dia menciptakan ‘Arsy?

    Dari Abu Razin berkata: Saya pernah bertanya: “Ya Rasulullah, dimana Allah sebelum menciptakan makhlukNya?” Nabi menjawab: “Dia berada di atas awan, tidak ada udara di bawahnya maupun di atasnya, tidak makhluk di sana, dan ArsyNya di atas air”. [HR. Tirmidzi (2108), Ibnu Majah (182), Ibnu Hibban (39 -Al-Mawarid), Ibnu Abi Ashim (1/271/612), Ahmad (4/11,12) dan Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (7/137). Lihat As-Shahihah 6/469)].

    jangan hanya baca di quran terjemah,karena maknanya tidak terperinci. dalam memahami ayat itu diperlukan ilmu nahwu shorof, tidak asal menafsirkan semau sendiri.

    Rasulullah menjelaskan Alquran kepada para sahabat, maka ikutilah pemahaman para sahabat dalam memahami alquran,
    Ilmu nahwu shorof tidak ada mba di jaman Rasulullah, tidak dikenal tuh ilmu tersebut, karena Rasulullah sendiri tidak bisa membaca dan menulis,
    Illmu nahwu sharaf ada di jaman Ali bin Abi thalib,.. ketika saat itu orang sudah mulai keliru dalam memahami bahasa arab,

    Jadi, jika memahami berdasarkan nahwu dan sharaf, maka anda akan menemukan banyak kebingungan, sebab banyak makna alquran yang dijelaskan melalui sunnah rasul, bukan dengan nahwu shorof,

    oya..kalau belajar juga jangan dari internet saja ya,,,copas sana, copas sini…belum tentu juga akurat. bahaya kalau tidak tahu dasar-dasarnya….apalagi zaman sekarang…iyaa kaaaan???

    Makanya kalau copas disertai rujukannya dari kitab-kitab para ulama, tidakkah anda melihat? jadi anda bisa merujuk langsung ke kitabnya,..
    Silahkan perhatikan lagi postingan yang ada disini, lihat catatan kakinya, atau link-link yang ada, insya Allah ilmiah, sudah difilter, ngga sembarangan copy paste, bisa dipertanggungjawabkan,..
    Alhamdulillah, sarana sekarang dipermudah,.. apa yang anda cari sangat mudah didapatkan,.
    Mau coba? silahkan aja anda buka web ini : http://www.yufid.com , lalu masukan kata kunci yang ingin anda cari,.. tinggal tekan ENTER , maka akan keluar link2 yg insya Allah valid,

    setelah saya melihat sekian banyak pemaparan dari blog Anda,,,ternyata saya dapat menyimpulkan………. yaaaa ga papa,,,al insanu mahalul khoto wan nisyan,,,kita memang lebih banyak LUPA daripada ELING nya. jangan cepat mengafirkan orang,,,malah kita sendiri gak dipikirkan….hmmmm,,,,

    Tolong dong, sebutin dimana saya mengkafirkan kaum muslimin? linknya atau kata-katanya,.. JIKA ADA, maka saya akan tobat dari hal tersebut, dan memposting taubat saya di halaman utama, dan saya lekatkan di blog ini,.
    Monggo, di goleti mas, mba,.. tak enteni,..
    Ojo mung ngarang opo meneh nuduh, yen aku gampang mengkafirkan,.. gede lho dosane, yen ora terbukti,

    “nalika ana wong dilokne nesu-nesu,,,dilem guyu-guyu,,kuwi nuduhke banget kurange ilmu lan imane”

    Aku ya ngguyu-ngguyu moco komentarmu sing ora kalah lucune,

    wassalamu’alaikum… :))

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Karena pertanyaan anda, saya postingkan artikel ini

    • Saidilman
      September 9, 2012 pukul 2:09 am | #131

      Maaf lagi mas AL Faqir, jika akan belajar maka miliki terlebih dahulu buku-buku Islam yang selalu memiliki rujukan pada Quran dan Hadist Shahih.

      MAs bisa juga mencoba membeli buku sari Al Quran dan Tafsirnya, krn disetiap turunya alquran itu biasanya dibarengi dengan periwayatan turunnya ayat tersebut.

      Dan Rosulullah mengajarkan setiap wahyu yang diturunkan kepada sahabat beserta penjelasan beliau (Rosulullah Muhammad) yang tersurat dalam Hadist-2 Shahih beliau.

      Termasuk saat ayat yang menerangkan dimanakah Allah Berada didalam tafsir selalu dibarengi dengan penjelasan-penjelasan Rosulullah dalam hadist beliau.

      Kemudian dalam memilih guru juga harus betul-betul guru yang memegang dan menjalankan Al QUran dan SUnnah secara Kafah…

      Demikian yang saya pahami.

      Jadi setiap jalan kita, Insya Allah selalu dibimbing di jalan yang lurus. Mohon maaf jika ada yg kurang berkenan…

      Nasehat ini sekaligus nasehat untuk saya….

    • Aku Hanya Hamba
      Oktober 1, 2012 pukul 5:56 pm | #132

      menurut saya komen al fakir ini lebih kepada menguji isi blog ini..

      tak ada kata mengkafirkan tapi anda mengatakan mengkafirkan, Anda mengatakan telah melihat sekian banyak pemaparan, tapi anda tidak memberikan dalil sedikitpun, tidak mengemukakan pemikiran dan pencerahan sedikitpun, Jika anda ingin menguji bukan disini tempatnya karena disini adalah ruang publik, jika ada yg kurang dari admin tunjukkan mana??

      anda hanya bertanya dan mempertanyakan kemudian mengklaim dan menuduh krang ilmulah, mengatakan kurang ilmu dan iman tak lebih dan tak kurang naudzubillah..

      Diskusi masalah tahlilan nyasar sampai ke ahmadiyah segala..

      mari kita dukung upaya2 menyadarkan sodara2 kita yg kurang ilmu dgn kasih sayang, kalau toh anda lebih banyak ilmu, lebih pintar, guru anda lebih mumpuni, silahkan tuntun kami-kami ini yg butuh cahaya bukan sekedar lilin..

      demi Allah, saya ingin tahu apa sih yg ada di hati anda, wahai sodaraku…

  81. dedi
    Juli 15, 2012 pukul 5:49 pm | #133

    pak, menurut bpk apakah bs orang yg sdh meninggal mendatangkan kebaikan(manfaat) bg yg hidup?

    orang yang sudah meninggal tidak bisa mendatangkan kebaikan bagi yang hidup, justru orang yang meninggal itu butuh doa dari orang-orang yang masih hidup,.. tentu dengan cara-cara yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, bukan dengan cara-cara sendiri yang itu semua tidak ada contohnya dari Rasulullah,

    • dedi
      Juli 18, 2012 pukul 11:31 pm | #134

      kalau orang yg meninggal tidak bs mendatangkan kebaikan bagi yg hidup.bagaimana dgn org yg sdh meninggal tetapi dia masih bs memberikan nafkah untuk keluarganya dan sampai sekarang masih bs di rasakan.padahal kl pake logika org2 yg masih hidup dan bekerjalah yg bs mendapatkan uang(gaji)>bagaimana mengenai ini pak,

      Itu kan hasil usaha dia sewaktu masih hidup, bukan setelah dia mati,.. bagaimana dia memberikan nafkah, untuk keluar dari kuburnya saja sudah susah,

      Justru orang yang meninggal itu butuh doa dari orang-orang yang masih hidup,

      Apakah orang yang sudah mati bisa kita mintain tolong?? ini maksudnya kalau si mayat itu tidak bisa memberikan manfaat setelah dia mati, .. bukan seperti pernyataan anda diatas, dimana si mayat setelah mati bisa memberikan nafkah,.. … akan tetapi jika terjadi seperti diatas, itu adalah karena usaha si mayat tersebut ketika masih hidup,.. bukan setelah matinya,..

      Ada beberapa hal yang bisa mendatangkan manfaat bagi si mayat yaitu:
      1.ilmu yang bermanfaat yang diajarkan ketika dia masih hidup
      2. Anak shalih yang mendoakan orang tuanya,
      3. Sedekah jariyah yg dilakukan si mayat ketika masih hidup,. yang akan terus mengalir pahalanya..

      • dedi
        Juli 20, 2012 pukul 2:44 am | #135

        saya setuju pak atas keterangannya,dengan adanya pensiun yg diterima oleh keluarga yg diterima setiap bulannya dan hasilnya itu bisa memberikan manfaat oleh orang lain seperti di sedekahkan,

        menurut bapak alloh mau memperlihatkan apa kepada kita semua tentang hal ini,tolong di jelaskan,makasih

        Maksud pertanyaannya? bingung memahami pertanyaannya, mohon diperjelas maksud dari pertanyaannya, terima kasih

  82. goswan
    Juli 11, 2012 pukul 11:00 am | #136

    yang diakui didunia ada bebrpa mazhab, ada maliki, hambali, safi’i, hanafi, para mazhab ini selalu ada perbedaan dlm tafsiran suatu hadis, tp msalah kecil yg diprselisihkn, dan org org skrng berpegang pd salah satu mazhab,, wajar saja sllu ada perselisihan, dan kita jg tdk ada kapasitas untk mnyalahkan para mazhab trsbut.. ya smoga kita benar smua mnurut pndangan allah,,

    Tidak ada kewajiban tuk mengikuti madzhab-madzhab tertentu,
    Yang wajib bagi kaum muslimin adalah mengikuti Rasulullah,

    Perkataan keempat imam madzhab, JIKA ADA HADITS SHAHIH, itulah madzhabku,

    Tidak ada perkataan dari keempat imam madzhab tersebut untuk mengikuti mereka,.. bahkan mereka menyuruh untuk mengikuti rasulullah, mengikuti hadits2 yg shahih,

  83. inspirasi800
    Juli 8, 2012 pukul 2:30 am | #137

    wah terma kasih infonya gan ,,,,,menambah pengetahuan saya

  84. anonim
    Juli 4, 2012 pukul 9:52 am | #138

    assalamu’alaikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    mw tanya ni,,
    klo shlat tarawih yg bner brp rokaat y?

    Mengenai masalah ini, diantara para ulama salaf terdapat perselisihan yang cukup banyak (variasinya) hingga mencapai belasan pendapat, sebagaimana di bawah ini.

    - Sebelas raka’at (8 + 3 Witir),riwayat Malik dan Said bin Manshur.

    - Tiga belas raka’at (2 raka’atringan + 8 + 3 Witir), riwayat Ibnu Nashr dan Ibnu Ishaq, atau (8 + 3 + 2),atau (8 + 5) menurut riwayat Muslim.

    - Sembilan belas raka’at (16 + 3).

    - Dua puluh satu raka’at (20 + 1),riwayat Abdurrazzaq.

    - Dua puluh tiga raka’at (20 + 3),riwayat Malik, Ibn Nashr dan Al Baihaqi. Demikian ini adalah madzhab Abu Hanifah,Syafi’i, Ats Tsauri, Ahmad, Abu Daud dan Ibnul Mubarak.

    - Dua puluh sembilan raka’at (28 +1).

    - Tiga puluh sembilan raka’at (36 +3), Madzhab Maliki, atau (38 + 1).

    - Empat puluh satu raka’at (38 +3), riwayat Ibn Nashr dari persaksian Shalih Mawla Al Tau’amah tentang shalatnya penduduk Madinah, atau (36 + 5) seperti dalam Al Mughni 2/167.

    - Empatpuluh sembilan raka’at (40 +9); 40 tanpa witir adalah riwayat dari Al Aswad Ibn Yazid.

    - Tiga puluh empat raka’at tanpa witir (di Basrah, Iraq).

    - Dua puluh empat raka’at tanpa witir (dart Said Ibn Jubair).

    - Enam belas raka’at tanpa witir.

    selengkapnya silahkan baca sendiri disini

    • Dody Yuniar
      Juli 15, 2012 pukul 8:00 am | #139

      Nah, tuh kan Tarawih juga macem2 rakaatnya…. jadi kesimpulannya???

      Selama itu tidak menyelisihi sunnah Rasulullah dan Sunnah khulafaurrassyidin, maka kita laksanakan,
      Sebagaimana perintah Rasulullah,
      Maka, hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khulafaur-rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Gigit (pegang erat) sunnah tersebut dengan gigi geraham. Tinggalkanlah hal-hal yang baru, karena setiap bid’ah adalah sesat” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 4607
      Selengkapnya lihat disini
      Kesimpulannya, ikutilah yang dikerjakan oleh Rasulullah, itu yang lebih utama, ngga usah bingung-bingung,..

  85. cah belajar
    Juli 1, 2012 pukul 3:46 am | #140

    assalamuaalaikum, saya bingung saya baca di blog ini dan blog itu kok saling bertentangan gimana?
    link nya ini
    http://ala-kull====deleted==

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    Tidak usah bingung, memang begitulah mereka akan berusaha untuk mengajak kaum muslimin kepada kebidahan, kepada kesyirikan,

    Alhamdulillah, semakin banyak kaum muslimin yang tersadarkan dari perbuatan bidah,termasuk perayaan maulid nabi,

    Mereka mengedepankan adanya fitnah wahabi,akan tetapi wahabi versi mereka ditujukan kepada kaum muslimin yang dengan gigih mendakwahkan dakwah Rasulullah,

    Jika anda belum tahu apa itu wahabi, dipostingan ini bisa anda lihat dan baca

    Jika anda belum tahu ttg acara maulid nabi, dipostingan ini anda bisa membacanya

    • d Pendi
      Juli 29, 2012 pukul 12:02 am | #141

      Jazakallah khairan admin, usaha anda, cara menjelaskan dari pertanyaan, walopun belum tentu bisa diterima oleh setiap penanya, tapi bagi sebagian lain insyaallah bagi ana sangat sangat memberikan kejelasan dengan dasar yg haq, selamat berdakwah semoga Allah ridho atas usaha anda yg tidak akan pernah rugi ini, wassalaamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

      Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

  86. ahmad adi
    Juni 21, 2012 pukul 12:37 pm | #142

    sy bisa minta info kajian salaf di surabaya

    Silahkan lihat disini, banyak pilihan tempatnya

  87. bagus arif kusnanto
    Juni 14, 2012 pukul 2:09 am | #143

    menurut saya artikel diatas tidak benar

    Emangnya anda siapa? Imam syafii hafal alquran 30 juzz di waktu kecil, kalau anda? apakah anda hafal juzz 30?

    Imam Syafii adalah ulama, kalau anda??

    • hartoko
      Juni 17, 2012 pukul 5:57 pm | #144

      untuk bagus arif k, perbanyaklah istighfar ! Anda tak pantas menganggap diri Anda lebih pintar dengan menyatakan “menurut saya artikel diatas tidak benar”

  88. Haider ali
    Mei 31, 2012 pukul 4:27 am | #145

    lebih baik menghindari semua ibadah yg tdk ada tuntunan dr Rosulullah, krn menurut beliau semua amal ibadah yg tdk ada tuntunan dr beliau maka tertolak.

    Mhon ma’af jika salah..

    Betul sekali,..

  89. agus widodo
    Mei 26, 2012 pukul 1:20 pm | #146

    “Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentulah para Shahabat telah mendahului kita mengamalkannya”

    BENARKAH INI KAIDAH BESAR SEHINGGA DIJADIKAN TOLOK UKUR HALAL HARAM DALAM AGAMA KITA ?

    Lebih mirip kaidahnya orang kafir ketika menolak al qur’an

    Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Kalau sekiranya dia (Al Qur’an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta yang lama”. (QS 46: 11)
    Dengan demikian dapat ditanyakan, apa pantas golongan yang menisbatkan diri pada SALAF membuat kaidah baru yang berawal dari ucapan kaum kafir untuk kemudian dijadikan kaidah haram halal ?

    Lebih mirip kaidahnya orang kafir ketika menolak al qur’an
    Penafsiran siapa mas???

    Kalau Sekiranya Perbuatan Itu Baik, Tentulah Para Shahabat Telah Mendahului Kita Mengamalkannya

    Penulis : Abdul Hakim bin Amir Abdat

    Penerbit : Darul Qolam

    Inilah sebuah risalah yang berbicara tentang sebagian dari kaidah-kaidah dalam agama yang sangat luas dan dalam sekali, yaitu:

    “Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentulah para shahabat telah mendahului kita mengamalkannya.”

    Peganglah kuat-kuat kaidah yang besar dan agung ini, sehingga engkau tidak akan mengerjakan sesuatupun ibadah yang tidak pernah diyakini dan diamalkan oleh para shahabat.

    Patutlah kaidah yang besar ini dihafal oleh setiap muslim untuk menghancurkan berbagai macam bid’ah yang orang sandarkan dan masukkan ke dalam agama Allah yang mulia ini, Al-Islam. Seperti perkataan yang sering kita dengar ketika dikatakan kepada mereka dan dibawakan nash Al-Qur’an dan Sunnah dan perkataan para ulama, bahwa keyakinan yang mereka yakini atau perbuatan yang mereka lakukan itu bid’ah, mereka menjawab dengan jawaban yang lebih lemah dari sarang laba-laba, yaitu:

    “Bukankah peringatan maulid, isra’ mi’raj, nuzul Qur’an, tahun baru hijriyah itu suatu perbuatan yang sangat baik yang di dalamnya terdapat peringatan dan pelajaran?.

    “Bukankah dzikir berjama’ah yang sekarang sedang marak-maraknya itu suatu perbuatan yang sangat baik dalam rangka mengajak manusia untuk kembali berdzikir mengingat Allah”

    Maka jawablah wahai Ahlus Sunnah dengan kaidah besar di atas yang patut ditulis dengan tinta emas! Katakan kepada mereka,

    “Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentulah para shahabat telah mendahului kita mengamalkannya. Karena tidak ada satupun amalan yang masuk ke dalam bagian ibadah yang tidak diamalkan oleh para shahabat radhiyallahu ‘anhum”
    Isi buku

    Setelah Muqaddimah, penulis memulai dengan menjawab pertanyaan, “Kenapakah kita wajib bermanhaj salaf, Ahlus Sunnah wal Jama’ah secara ilmu, amal dan da’wah?” sebagaimana menjadi nama bab yang pertama. Lalu pada bab-bab selanjutnya, penulis menjelaskan pengertian “sunnah” dan “hadits” dan beberapa hal yang berkaitan dengan keduanya.

    Selanjutnya, penulis mulai dengan kaidah ilmiah yang menjadi inti dari buku ini dan memaparkan syarah (penjelasan) kaidah tersebut secara panjang lebar. Lalu beliau menjelaskan keadilan para shahabat dan manhaj mereka yang merupakan pemisah antara sunnah dengan bid’ah.

    Pada bab berikutnya, penulis membawakan beberapa contoh secara ringkas tentang kesesatan yang menyalahi manhaj para sahabat. Hal ini yang memicu beliau untuk melanjutkan bab tersebut dengan menjelaskan akan kewajiban mengikuti manhaj sahabat.

    Setelah itu, penulis menerangkan tanda-tanda ahli bid’ah, menjelaskan dalil-dalil bahaya dan rusaknya bid’ah dan ahli bid’ah terhadap Islam dan kaum muslimin. Lalu yang terakhir, beliau menutup kitabnya yang sangat berharga ini dengan menjelaskan bahwa Islam ini telah sempurna.
    Kesimpulan

    Mengingat pembahasannya yang sistematis, hujjah yang sangat kuat dan penjelasan yang baik, maka kami sangat merekomendasikan buku ini bagi siapa saja yang mencari kebenaran di tengah-tengah berbagai macam aliran yang ada dalam Islam. Dan bagi yang sudah (merasa) menemukan jalan yang benar, kami sarankan juga untuk membaca buku ini, agar tumbuh kesadaran akan pentingnya, sehingga akhirnya dapat memegang erat-erat kaidah ini, amiin

    Sumber : Muslim.or.id

    Dengerin ceramahnya disini

  90. Mulya Andryanto
    Mei 25, 2012 pukul 3:15 am | #147

    Assalamu’alaikum

    wa’alaikumussalamwarahmatullahi wabarakatuh

    mohon izin share

    silahkan,.

  91. anto
    Mei 25, 2012 pukul 3:07 am | #148

    Assalamualaikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    waktu ana bekerja di Jeddah KSA Alhamdulillah Ana bisa ikut bimbingan belajar di Islamic center Jeddah KSA.dan sebelum ana akan kembali ke Tangerang ana sudah siap untuk bisa untuk mengamalkan sedikit ilmu yang ana dapatkan.

    Hidup di tengah masyarakat yang senang melakukan Bid’ah tidak mudah dan harus hati-hati agar tidak berselisih dengan mereka.ana tinggal di sebuah perumahan dan ada acara rutin yasinan + arisan bulan.anapun selalu menghadirinya walaupun ana hanya datang dan sekedar menyimak saja buku yasin tsb.

    tapi klo untuk acara 7 hari kematian dst ana akan berusaha untuk tidak menghadirinya ana hanya akan hadir pas hari kematian sampai 3 harinya untuk turut berbela sungkawa kepada Keluarganya tanpa mengikuti acara tahlilan tsb.

    mohon nasehat dan saran dari antum semua apakah yang ana lakukan ini salah.

    Silahkan anda tanyakan sendiri di kajian-kajian salaf yang ada di tangerang, insya Allah ada kajian rutin di tangerang,

    Anda juga bisa bertanya di sesi tanya jawab di radio rodja, 756 AM, insya Allah bisa didengar di tangerang, biar jawabannya lebih mengena, dan anda bisa bertanya dengan leluasa,

  92. Dadan khusnul latif
    Mei 22, 2012 pukul 8:43 pm | #149

    Ana kutip’tata cara wudhu aja msh salah bgaimana tata cara shalat’ ana mau tau apa yg pernah antum lihat kesalahan wudhu dan shalat yg d krjakan org lain,+bgaimana tata cara wudhu+shalat yg benar menurut al-qur’an dan hadits.mohon penjelasan+kirim ke email ana..

    Tata cara wudhu nabi, dan tatacara shalat nabi, bisa dilihat di video yang ada disini

  93. Dadan khusnul latif
    Mei 22, 2012 pukul 8:39 pm | #150

    Assalamu alaikum.kalo pengajian salaf d daerah cempaka putih jakpus d mana ya?+stiap hari apa?tolog infonya kirim ke email ane.kalo ada no tlvnya biar lbih rinci..jajakumullah khoiron katsiron

    silahkan menanyakan info kajian di jakarta di nomer informasi radio rodja di 021 8233661 , atau anda tinggalin nomer hp, insya Allah nanti dikasih tahu infonya

  94. agus widodo
    Mei 18, 2012 pukul 10:11 pm | #151

    “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturrahim, …” (Muttafaqun ‘alaih, al-Bukhari 10/3…36 dan Muslim no. 85.)

    Islam yang kita anut sekarang berkembang di Indonesia. Bukan di Arab atau negara timur tengah lainya.. Indonesia bukanlah negara Islam. Indonesia adalah negara Pancasila dan UUD 1945. berIslam, bukan berarti tidak bolah mengamalakan Pancasila dan UUD 1945.

    Tahlilan adalah budaya asli bangsa Indonesia, dan hanya ada di Indonesia.

    Syariat islam yang Allah ciptakan bukanlah budaya, dan budaya bukanlah agama, tapi ada budaya-budaya yang tidak bertentangan dengan syariat Allah, insya Allah itu bisa bernilai ibadah

    Syariat Allah cocok untuk semua tempat, kalau budaya belum tentu cocok untuk semua tempat,

    Pantas dan baik untuk dilestarikan. Tahlilan adalah manifestasi dari Pasal 28 UUD 1945 yg berbunyi :
    ” kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”

    Acara Tahlilan sama sekali tidak akan mempengaruhi aqidah, sama seperti budaya MUDIK LEBARAN, ini juga budaya asli Indonesia. Rosululloh tidak pernah mengajarkan untuk mudik lebaran. Tapi kita boleh dan sah2 saja mengamalkanya. Begitupun dengan acara Tahlilan.

    Tahlilan memupuk tali silaturrahmi. Tahlilan mengajarkan kita arti dan filosofi Pancasila.

    PANCASILA
    1. Ketuhanan yang maha esa.
    : ini adalah isi dari makna dari kalimat Laa ilaha Ilallah. Tiada Tuhan selain Allah. dalam Tahlilan kalimat inilah yang paling banyak dibaca dan diucapkan oleh jamaah Tahlilan.

    2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
    : Para peserta Tahlilan bisa dipastikan berADAB. Pakaian yg dikenakan juga sopan dan beradab. Sifat dan tingkah lakunya pun santun dan beradab. Saling bertemu bersalaman dan senyuman. Tidak ada dalam acara tahlilan bertengkar ataupun baku hantam. Semua dalam situasi yang aman, damai dan tentram.

    3. Persatuaan Indonesia
    : Para peserta tahlilan sudah bisa dipastikan bersatu. Ukhuwah Islamiyahnya tampil. Tidak bercerai berai. Saling sambung silaturrahmi. Duduknya pun berdekatan dan sama rendah, bagaimanapun dan apapun strata sosialnya. Baik miskin atau kaya, pejabat atau rakyat, sipil maupun militer, semua sama. saling bersatu dalam kesatuan.

    4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
    : dalam acara Tahlilan pasti ada seorang pemimpin Tahlilan. Pemimpinya mempunyai sifat hikmah ( manfaat ) bagi sesamanya ( Tokoh Masyarakat setempat ) setempat, biasanya dipimpin leh Kiyai atau ustadz.. Dalam Tahlilanpun adalah perwakilan. Biasanya yang diundang satu rumah hanya diwakili satu orang, tidak seluruh keluarga diajak semua.

    5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
    : Ini sangat pas bila diartikan dalam acara tahlilan. Dalam acara Tahlilan diberlakukan sifat keadilan bagi seluruh rakyat Tahlilan. misalnya jatah makan sama, minumpun sama. Yang kaya dapat satu porsi, yang miskinpun satu porsi. Inilah keadilan. Setelah acara Tahlilan selesaipun masih mendapatkan bekal/ makanan untuk keluarga yang ada dirumah. sekali lagi porsinya sama. inilah Keadilan sosial.

    Sekali lagi, Tahlilan atau istilah Tahlilan adalah budaya asli bangsa Indonesia. Budaya yang baik harus tetap dilestarikan. Jangan lagi ada klaim oleh bangsa lain.Dizaman sekarang ini, khususnya dikota2 besar yang mayoritas penduduknya super sibuk dan individual, maka dengan mengamalkan budaya Tahlilan diharapkan ada sedikit rasa kebersatuan ukhuwah Islamiyyah. Satu agama, satu negara, satu Indonesia.

    Agama islam bukanlah budaya
    Agama islam adalah syariat Allah , Allah yang menetapkan dan membuatnya.
    Jadi tatacara Ibadah haruslah mengikuti tatacara yang sudah Allah tetapkan, jangan ditambah-tambah dan dikurangi

    Budaya adalah buatan manusia, dan budaya bukanlah agama,
    Patokan apakah budaya itu benar atau salah, maka harus dicocokkan dengan syariat Allah itu sendiri,
    Bukan Syariat islam itu yang mengikuti budaya,

    Syariat Allah cocok di semua tempat, sedangkan budaya tidak,

    Budaya yang tidak menyelisihi ajaran Allah, bisa diterapkan, tapi bukan menganggap budaya tersebut bagian dari ajaran islam, tapi karena islam memang mengajarkan hal-hal yang itu ada dibudaya.

    Budaya yang menyelisih ajaran Allah, maka wajib kita tolak dan tinggalkan,

    Syariat Allah tidak ada bandingannya dengan hukum atau undang-undang buatan manusia.
    Membandingkan syariat Allah dengan undang-undang buatan manusia, ini adalah tindakan kurang beradab terhadap Allah sebagai pencipta Alam semesta ini,
    Dunia dan seisinya itu ciptaan Allah,.. Allah bukan hanya menciptakan negara indonesia saja,

    Undang-undang buatan manusia tidak akan ditanyakan Allah di alam kubur nanti

    Di alam kubur kita tidak akan ditanya tentang pancasila ada berapa,
    Di alam kubur akan ditanyakan tentang syariat Allah ,

    Dan budaya yang menyelisihi ajaran Allah, tidak akan pernah menjadi pemersatu umat islam, bahkan akan menjadikan islam tercerai berai, dan musuh-musuh islam mudah untuk menghancurkan islam,

    sebab pada hakekatnya, jika kaum muslimin melakukan amalan yang tidak ada contohnya dari rasulullah, itu sudah meringankan tugas orang kafir tuk menghancurkan islam, karena islam sudah dihancurkan oleh kaum muslimin itu sendiri, dengan cara menambah-nambahi ajaran islam yang mulia ini, orang kafir gembira dengan hal ini,

    Dan syariat islam sudah sempurna, tidak perlu ditambah atau dikurangi, dan tidak perlu mengambil syariat agama buatan manusia, kemudian dimasukan kedalam islam, lalu dianggap sebagai ajaran islam,. contohnya ya seperti tahlilan ini,

    Bacaan tahlil itu dari ajaran islam
    ritual harinya, sprti 10hari,40hari,100hari, dll itu dari ajaran hindu,
    Lalu digabunglah keduanya dengan sebutan ritual tahlilan,.
    Ini pada hakekatnya adalah pelecehan terhadap syariat Allah,.. bukan dosa kecil, tapi dosa besar

  95. ukat hidayat
    Mei 8, 2012 pukul 2:27 am | #152

    kalu manaqib itu apa hukumnya

    apa arti manaqib itu? bagaimana ritual manaqib? apakah seperti haul atau perayaan hari kematian seseorang?
    Jika seperti itu, maka manaqib adalah perkara bidah , perbuatan yg menyelisihi ajaran Rasulullah, wajib untuk dijauhi

  96. ukat hidayat
    Mei 8, 2012 pukul 2:23 am | #153

    asalamualaikum

    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    ane mau tanya nie bner gak maulid itu bidah?

    Betul sekali, itu adalah bidah, Rasulullah tidak pernah melakukannya, demikian juga abu bakar, umar,utsman, ali,.. bahkan imam syafii, imam bukhari,muslim, dan ulama-ulama ahlus sunnah tidak melakukannya sama sekali,

    dan kenapa para habib atu cucu rosullulah itu yang menyemangati maulid .

    ah, kata siapa para habib itu cucu rasulullah? mungkin hanya ngaku-ngaku saja,.. walaupun ada, anak cucu rasulullah itu bukanlah manusia yang ma’sum, terbebas dari kesalahan,..

    Jika benar sekalipun, habib itu cucu rasulullah, itu bukanlah pembenaran,.. hasan dan husain yang cucu rasulullah, yang mengalami hidupnya rasulullah aja tidak melakukan maulid nabi,.. apakah mereka kurang cinta kepada rasulullah??

    maulid nabi diadakan oleh orang-orang syiah, mereka yang pertama kali melakukannya,.. jadi maulid bukan dari islam,..

    sejarah maulid nabi, bisa dibaca disini

    trimaksih

    • taufik hudaya
      Juni 4, 2012 pukul 2:00 pm | #154

      bukannya bid’ah itu terbagi dua mas,hasanah dan dolalah,yg baik dan yang buruk,

      Rasulullah mengatakan semua bidah adalah sesat, lalu ada orang yang mengatakan bidah terbagi dua,..

      Mana yang kita ambil??

      Tentu perkataan Rasulullah yang kita ambil,

      • anto
        Juli 2, 2012 pukul 4:01 am | #155

        taufik hudaya :
        bukannya bid’ah itu terbagi dua mas,hasanah dan dolalah,yg baik dan yang buruk,

        Rasulullah mengatakan semua bidah adalah sesat, lalu ada orang yang mengatakan bidah terbagi dua,..
        Mana yang kita ambil??
        Tentu perkataan Rasulullah yang kita ambil,

        klo main internet, computer , listrik , hp , dsb itu bid’ah bukan , klo begitu al tsb sesat donk ??? kok kita masih melakukannya ?? disitu kan dijelaskan “semua” jadi semua hal-hal baru apaun itu bidah dunia maupun dalam agama sesat donk .gimana she ngga konsisten

        Masih konsisten mas, itu semua bidah, sudah diulas tuh, silahkan baca disini,

    • rembangpati
      Juni 20, 2012 pukul 3:17 pm | #156

      Assalamu alaikum

      Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

      mau tanya juga masalh bidah….ini tentang alquran , pada jaman Rosullulah , tulisan tulisan Alquran tidak terkumpul di suatu tempat.

      lalu setalah beliau wafat ,maka tulisan tulisan alquran itu di kumpulkan jadi satu oleh sahabt beliau menjadi mushaft alquran

      yang jadi pertanyaan, apakah karena tidak ada di jaman rosullulah maka mushaft alquran menjadi bidah ?…….

      Apakah pengumpulan alquran adalah bidah?
      Apakah Rasulullah tidak menyuruh mencatatnya?
      Apakah dicatatnya Alquran itu setelah Rasulullah wafat?
      Silahkan baca postingan ini

      Perlu diketahui juga, apa-apa yang dilakukan oleh para sahabat, dan tidak diingkari oleh sahabat lainnya, itu merupakan sunnah rasulullah, Bukan termasuk bidah, sebab para sahabat sudah mendapat rekomendasi dari Allah, juga dari Rasulullah,
      Silahkan baca surat attaubah ayat 100 , dan juga hadits rasulullah
      فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

      “Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rosyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal). Pegang teguhlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban. At Tirmidizi mengatakan hadits ini hasan shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat Shohih At Targhib wa At Tarhib no. 37)

      Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم Bersabda:

      خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

      “Sebaik-baik manusia adalah generasiku ( para sahabat ) kemudian generasi berikutnya (tabi’in) kemudian generasi berikutnya ( tabiu’t tabi’in )” (Hadits Bukhari & Muslim)

  97. Khumaira
    April 20, 2012 pukul 11:42 am | #157

    Awfan, ana mau tnya lagi nie..untuk kajian salaf di brebes itu dimana aja ya?
    biar klo ana pulkam jadi bisa ada kegiatan..

    untuk daerah brebes, silahkan buka di link ini infonya,

  98. h2R
    April 19, 2012 pukul 12:06 pm | #158

    sy aneh dengan mereka yang selalu ribut masalah bid’ah tak ada contoh dari rasululullah dll, ,
    terimakasih telah berkomentar disini,

    Tahukah anda, Rasulullah setiap mau khutbah jumat, mewanti-wanti umatnya tentang bidah, dan beliau menyebutkan jika setiap bidah itu sesat, dan kesesatan itu tempatnya di neraka,.. kok anda merasa aneh?

    anda berani bilang gak imam syafei bapaknya bid’ah padahal amal beliau jauh bumi dan langit dengan anda.
    …..renungkan

    Imam syafii ulama ahlus sunnah yang sangat gigih dalam mendakwahkan sunnah, dan gigih memerangi kebidahan, kok dibilang bapaknya bidah? ngga salah mas? renungkan dong,..

  99. Khumaira
    April 16, 2012 pukul 1:41 pm | #159

    Assalamualaikum warohmatulloh..

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    syukron akh, atas info’a,jujur ana sudah tahu klo maulid, tahlilan,isra’ mi’raj itu tdk pernah ada pada zaman Rasul dan merupakan bid’ah yg dibuat oleh sekelompok golonganuntuk merusak syariat islam.

    tp akh..
    ketika ana menyampaikan hal ini kepada keluarga ana,ana malah dituduh telah terkena aliran sesat.

    dan diancam akan di usir jika tdk melakukan hal2 tersebut.

    Ana tdk mau jadi anak durhaka tp ana juga lebih takut dengan Azab ALLAH , lalu apa yang harus ana lakukan akh?

    mohon beri ana nasihat

    Jazakumullah khairan katsir..

    Alhamdulillah atas nikmat dakwah salaf ini, ini perlu disyukuri,
    Tentang tradisi di masyarakat yang bertentangan dengan ajaran rasulullah yang mulia, itu merupakan kemaksiatan terhadap Allah dan Rasulullah, kita wajib mengingkarinya, cuma mengingkarinya harus dengan ilmu, atau dengan hikmah,.. bukan asal kita mengetahui itu sesat, lalu langsung kita terangkan bahwa hal itu sesat,.. lihat sikon,

    Masyarakat sudah turun temurun melakukan kemaksiatan yang dianggap sebagai ibadah, lalu kita setelah mengetahui dakwah salaf baru mengetahui kalau itu adalah kesesatan, maka sikap kita jangan langsung menyampaikannya kepada mereka,.. pasti mereka akan marah, tidak akan menerima, bahkan menganggap kita lah yang sesat,.. itu wajar mereka lakukan,..

    akan tetapi, kita mengingkari untuk diri sendiri dulu, sambil terus menunjukan akhlak yang mulia kepada mereka, setelah mengenal dakwah salaf ini, tunjukanlah akhlak yang baik, tata cara muamalah, ibadah yang diajarkan oleh manhaj salaf,.. tidak usah langsung mengajak atau mendakwahkan mereka dengan lisan kita,.. akan tetapi kita praktekan untuk diri kita sendiri dulu, .. hidayah itu milik Allah,

    Silahkan anda buka link ini, dan beli buku yang sangat bagus , 14 contoh hikmah dalam berdakwah,

    Berikut nukilan dari buku tersebut, yang ini kadang tidak diperhatikan oleh orang yang baru mengenal manhaj salaf ini, sehingga berakibat buruk bagi masyarakat atau keluarga terhadap dakwah salaf ini, mereka akan lari, dan menganggap kita telah membawa aliran baru yang sesat,

    RESENSI

    Buku ini adalah salah satu buah karya dari anak bangsa yang sekarang sedang menuntut ilmu di jurusan Aqidah, Program Pasca Sarjana (S2) Universitas Islam Madînah. Buku ini beliau beri judul ”14 Contoh Sikap Hikmah dalam Berdakwah”. Sebenarnya, buku ini adalah bab ke-10 dari satu rangkaian buku yang sedang beliau susun yang sedianya akan diberi judul ”Menjelaskan Sikap” (Sikap Yang Tepat dalam Menghadapi Problema di Barisan Ikhwah Salafiyyin di Indonesia.) Namun, berhubung beliau diminta untuk memberikan ceramah di Daurah pada bulan Juli 2007 dengan tema ”Hikmah dalam Berdakwah” di Yogya, dan diminta untuk menuliskan makalah, maka bab terakhir dari buku beliau ini akhirnya dipublikasikan terlebih dahulu.

    Penulis, dalam buku ini, mencermati perkembangan dakwah salafiyah di tanah air yang semakin ramai dan marak. Namun sayangnya, di sana sini masih saja ada sikap salah kaprah di dalam berdakwah yang menyebabkan dakwah salafiyah ini memiliki image yang buruk di tengah masyarakat. Dan kelemahan dakwah tersebut adalah disebabkan minimnya sikap hikmah para du’at dan penuntut ilmu salafiyah di dalam berdakwah, yang terkesan angker, bengis dan sadis.

    Di tengah carut marutnya sikap hikmah sebagian oknum yang menisbatkan diri kepada dakwah salafiyah ini, mendorong penulis untuk memberikan andil sebagai nasehat dan peringatan. Akhirnya, di tengah kesibukan beliau yang padat, beliau bersedia meluangkan waktunya dalam rangka untuk menunaikan kewajiban dan hak di dalam memberikan nasehat dan penjelasan akan sikap hikmah di dalam berdakwah beserta contoh praktisnya.

    Buku beliau ini terdiri dari 14 contoh aplikatif dan praktis sikap hikmah di dalam berdakwah, yaitu :

    1.Mengiringi ’aqîdah yang benar dengan akhlâq yang mulia.
    2.Berwajah ceria, menebarkan salam dan menunaikan hak-hak kaum muslimin walaupun mereka memiliki penyimpangan –selama metode hajr (boikot) belum layak untuk diterapkan-.
    3.Mengenal medan dakwah yang akan diterjuni.
    4.Berdakwah secara bertahap, dari yang paling penting lalu melangkah ke hal-hal penting lainnya.
    5.Mengutip perkataan ulama ahlus sunnah yang dikenal dan dihormati masyarakat, dan menghindari penyebutan nama-nama ulama ahlus sunnah yang masyarakat fobi dengannya.
    6.Berdakwah dan beramar ma’ruf serta nahi munkar secara lemah lembut.
    7.Menarik simpati orang yang ditokohkan atau memiliki kedudukan di tengah masyarakat.
    8.Memperhatikan generasi muda dan anak kecil tanpa mengesampingkan orang-orang yang telah lanjut usia.
    9.Menerapkan skala prioritas dalam mengingkari kemungkaran.
    10.Melandasi bantahan terhadap ahli bid’ah dengan ilmu dan dalil bukannya dengan cercaan dan makian.
    11.Tidak harus menyebutkan nama tokoh atau kelompok yang menyimpang ketika mentahdzîr.
    12.Memenuhi permintaan ahli bid’ah untuk mengisi ceramah atau kajian di tempat mereka selama tidak menimbulkan fitnah dan diharapkan mendatangkan maslahat.
    13.Mengikuti kebiasaan masyarakat setempat selama tidak melanggar syariat, seperti tidak tampil beda di dalam berpakaian, memakai celana atau sarung tepat di atas mata kaki, tidak harus di tengah betis, memakai jilbab selain warna hitam, boleh mengimami sholat di dalam mihrab, membaca basmalah secara jelas ketika menjadi imam, mengangkat tangan dan mengamini qunut subuh, dll.
    14.Bersabar dan tidak terburu-buru berharap bisa segera memetik buah dari dakwah.

    mudah-mudahan info ini bermanfaat, dan kita bisa bersikap yang benar terhadap masyarakat, dan keluarga, sehingga mereka tidak lari terhadap dakwah salaf ini,

    • Khumaira
      April 17, 2012 pukul 1:41 pm | #160

      sangat bermanfaat, jazakumullah khair..
      oya ana mau tnya,apa akhi tau untuk kajian salaf di daerah jakarta, semenjak hijrah ke jakarta,ana jarang banget ikut kajian salaf..kalau akhi tau,tlong kasih info ya.
      ditunggu info’nya..
      Syukron katsir..

      Alhamdulillah dijakarta sangat banyak kajian salafi, hampir tiap hari ada kajian salaf di jakarta, silahkan simak radio rodja 756 AM ,biasanya diumumkan setiap pagi dan sore, atau bisa menelpon ke radio rodja di 823 3661 minta info kajian didekat tempat ukhti,

      bisa kasih tahu dimana tinggalnya sekarang, nanti ana kasih tahu tempat kajian yg dekat dengan ukhti di jakarta,

      • Khumaira
        April 18, 2012 pukul 11:54 am | #161

        ana tinggal didaerah joglo – jakarta barat..

        kajian di joglo bisa hadir di masjid Nurul Iman,Jln Raya Pos Pengumben No. 21 , Srengseng Kembangan ,
        Coba saja minta info ke nomer ini : 0813 8068 5404 (abu nadya) atau 021 9498 7261 (Abu Rumaisa) silahkan sms ke nomer tersebut, minta info jadwal kajian rutin di masjid nurul iman.

      • Khumaira
        April 19, 2012 pukul 11:38 am | #162

        Wah iya tuh deket..

        Jazakumullah khoiir,..

  100. hamba allah
    April 7, 2012 pukul 10:35 am | #163

    berapa banyak kyai dan ustad yang melakukan bid’ah di indonesia?

    kalau berkumpul mendoakan,orang yang sudah meninggal berdosa dan memperbarui kesedihan,berarti kalau berdoa sendiri dalam sholat mendoakan orang yang sudah meninggal berarti bid’ah dan sama juga mengingat dan memperbarui kesedihan?

    mengumpulkan orang untuk mendoakan orang yang sudah mati, itu menyelisihi ajaran Rasulullah,.. Rasulullah tidak pernah melakukannya,

    Berkumpul2 ditempat keluarga yang meninggal, ini juga tidak diajarkan oleh Rasulullah, ini menyelisihi ajaran rasulullah, apalagi berlanjut dengan ritual bebrapa hari setelahnya,.. dst..

    cuma bedanya sendirian dan satunya rame-rame,berarti mending dibiarkan saja ya,gak perlu di doakan?

    Berdoa bisa kapan saja, tidak harus diseremonialkan seperti acara tahlilan, bisa dilakukan ketika shalat sebelum salam, ketika sujud, … masih sangat banyak waktu tuk berdoa,..

    kan klo tahlilan n yasinan juga membaca tahlil dan yasin yg merupakan jantung dari alquran?
    mohon informasinya…..

    Yang jadi masalah bukan bacaan atau surat yasinnya, akan tetapi seremonialnya,.. contohnya kenapa malam jumat harus baca surat yasin? emangnya surat dalam alquran cuma yasin saja? kenapa tidak setiap malam saja membaca alqurannya, berurutan dari alfatihah hingga annas, jadi kan sering khatam alquran,
    saya orang awam yang sedang belajar

    Jika ada yang melakukan bacaan surat annaba’ ketika malam jumat, mungkin akan diingkari oleh orang yang yasinan setiap malam jumat,..jadi dianggap aneh oleh orang yang biasa mengamalkan yasinan,.. padahal yang disuruh oleh rasulullah adalam membaca surat alkafi, untuk lebih jelasnya, silahkan baca artikel disini:
    Keutamaan surat yasin, ini lho hadits-haditsnya,

    Surat apa sih yang dibaca ketika malam jum’at, baca disini
    Tentang Tahlilan, baca disini
    Niat baik saja tidaklah cukup, baca disini

  101. abunawas
    April 6, 2012 pukul 4:18 am | #164

    Nabi bersabda yg dsmpaikn oleh para Ulama dan di jelaskan oleh para Ahlul ilmu..
    tentang dialog antara Hudzaifah dan Nabi yg Mulia (Bukhori)..” …Akan datang suatu kaum, mereka memakai sunnah bukan dgn sunnahku, mereka memakai petunjuk bukan dgn petunjukku…” wal hal kesesatan yg ada telah disampakn oleh Nabi yg Mulia..

    sungguh miris liat knyataan yg ada,, kita, keluarga kita, tetangga, kaum muslimin yg lain masih bnyak yg beramal jauh dari sunnah (tanpa ilmu),, hnya berdasarkn perasaan, ikut2an, dan hawa.. membahas masalah tanpa disiplin ilmu.. merendahkan para ulama,, menentang sunnah,, semoga Allah senantiasa memberi petunjuk dan ampunanNya..

    padahal Islam dibangun atas dasar Ilmu,, dan melarang segala amal yg dilakukan tanpa dasar Ilmu.. ” dan janganlah kamu mengikuti apa yang engkau tidak memiliki ilmu/pengetahuan tentangnya..” (al israa : 36)

    Sudah sunnatullah akh,.. dan ini juga salah satu bukti kenabian Rasulullah, jadi jaman yang seperti pasti akan ada, tinggal bagaimana kita menyikapinya, apakah kita menjadi orang-orang yang berada pada jalan Rasulullah dan para sahabatnya, ataukah kita menyelisihi mereka, mudah-mudahan Allah maenunjuki kaum muslimin tuk berada dibawah naungan Alquran dan Sunnah menurut pemahaman para sahabat

  102. Elvath
    April 4, 2012 pukul 6:02 pm | #165

    Kalau semua bid’ah sesat, kenapa ada bid’ah dun-yawiyah?

    Yang mengatakan bid’ah dun-yawiyah itu siapa?

    Nabipun melarang mengatakan munafiq pada sahabat yg masih melafadzkan laa ilaha illalloh,

    kenapa kalian malah mengkafirkan umat islam seindonesia, malah sedunia yg melakukan maulid nabi?

    Mana buktinya kalau kami mengkafirkan umat islam se indonesia, tolong kasih tahu, berupa link artikel atau link ceramah,.. atau itu cuma bualan anda sendiri?

    Pdhal yg tdk merayakan maulid cuma saudi, apakah semua kafir? Weh weh weh… Hebat hebat hebat.

    jika di negeri asal islam saja ngga dikenal istilah maulid nabi, harusnya ini dah jadi jawaban yang ampuh, ngapain lagi kita ngadain acara yang itu bukan dari islam,… buang-buang waktu dan uang saja,.. sia-sia , dan pasti dapet dosa, karena itu termasuk hal baru dalam agama,

  103. irhanudin
    Maret 26, 2012 pukul 2:43 am | #166

    gini aja mas pokoknya silahkan laksanakan keyakinanmu sendiri tapi juga jangan ganggu keyakinan kami yang semua juga ada dasarnya cuman masalahnya kalian yang gak suka tahlil menganggap dalil itu lemah.maka baiknya saling menghormati aja mas, wong semua itu yang tahu persis adalah Alloh kok.benar nggak mas?

    Tidak kah mereka sadar, anda sedang mengacak-acak ajaran Rasulullah?
    Mereka tidak menghormati ajaran-ajaran Rasulullah,

    Nah, kok ada pernyataan yang sangat lucu,
    “gini aja mas pokoknya silahkan laksanakan keyakinanmu sendiri tapi juga jangan ganggu keyakinan kami yang semua juga ada dasarnya

    Emang dasarnya siapa yg buat? Dari Rasulullah atau bukan mas?
    Emang anda mengikuti agama yang dibawa oleh Rasulullah atau bukan?

    Lha , kok kenapa mengamalkan ajaran2 yg bukan dari Rasulullah?? lucu ya?

    Saya suka tahlil, tapi ngga suka tahlilan,..
    Tahlil diajarkan oleh Rasulullah, kalau tahlilan itu warisan nenek moyang anda kali ya?

    Yang mengetahui kebenaran hanyalah Allah, dan Allah sudah mengutus Rasulullah untuk mengajarkannya, dan sudah diajarkan semuanya tanpa ada yang tertinggal sedikitpun, ini dalam urusan agama, bukan urusan dunia.

    Apa susahnya mas, mengikuti ajarannya Rasulullah saja? Bukankah anda mencintai Rasulullah? ikuti ajaran Rasulullah saja apa susahnya, kok maksa-maksain ajaran yg bukan dari rasulullah,..

    lucunya,… orang yang mengingatkan akan perbuatan tersebut, dan mengajak tuk mengamalkan ajaran2 rasulullah saja, dibilang tidak menghormati ajaran-ajaran yang tidak ada sumbernya??

    • udin
      Maret 27, 2012 pukul 12:52 pm | #167

      berdasarkan pengalaman saya memang pelaku bid’ah itu susah sekali untuk bertobat karena mereka menganggap amalan itu adalah “BAIK”

      salah satu alasan mereka jika dikasih tahu yaitu diantaranya “kalo gitu berarti semua yang yasinan/ tahlilan sesat dong?

      Tidak sesat sih, tapi tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah, bertentangan dengan ajaran Rasulullah, ya eta-eta keneh

      kalo sesat kenapa kok selama ini gak ada pemberitahuan tentang ini? (maksudnya kenapa masalah ini tidak ada dijelaskan kepada mereka di acara2 TV umum?)

      Jika disebutkan di acara2 TV umum, nanti TVnya ngga laku mas, ngga bakal ditonton, malah mungkin di demo, dianggap tv pemecah belah umat, tv wahabi,.. maklum yg banyak nonton tv kan mereka2 juga, dan tv tidak mau menayangkan acara yang dapat mengurangi minat pemirsanya,. sehingga dicari pemateri yg bisa menarik pemirsa lebih banyak lagi,

      Dicarilah pemateri yg dakwahnya bisa bikin heboh,.. yah begitulah, orientasinya bukan mencapai keridhaan Allah, akan tetapi meraih pemirsa sebanyak2nya, memuaskan pemirsa, walaupun bertentangan dengan ajaran Rasulullah,.. begitu mas,.

      mohon penjelasan ustad untuk menjawab ini, jazakallah khairan

    • asep
      Juni 6, 2012 pukul 7:18 am | #168

      Waduhhhh……aliran islam banyak bngeettttttttt….masing2 mengklaim aliranya paling bnrrr…..padahal c blom tau bnr gaknya…..haruuuhhhhh pusing ane

      baru tahu kalau islam itu warna-warni?
      jangan heran mas, justru seharusnya mas tahu, apa penyebab islam ini menjadi islam yang warna-warni, sebab islam asalnya adalah satu, murni, tidak warna-warni,

      kalau saya sih ngga heran, kenapa islam jadi warna-warni spt ini, ngga bingung mas, karena dah tahu penyebabnya, dan sdh tahu solusinya, supaya islam kembali menjadi islam sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah kepada para sahabat,

      Rasulullah sudah menggambarkan bahwa umatnya akan terpecah-pecah menjadi bergolongan-golongan,
      masing-masing golongan akan berbangga-bangga dengan apa yang ada padanya,

      namun rasulullah telah memberikan solusi dari masalah itu,..tinggal bagaimana kita, mau tidak melaksanakan solusi yang diajarkan oleh rasulullah, jika mau,maka akan selamat kita dari perpecahan tersebut,.. insya Allah

  104. yulisusilo
    Maret 22, 2012 pukul 12:21 am | #169

    sampai skrg kebiasaan tahlil, 40 hr 100 hr kematian itu msh ada, sebenarnya yg hrs kita lakukan memperingati kematian keluarga kita itu bagaimana? Dan kl kita diundang tahlil oleh tetangga kita wajibkah kita memenuhi undangan itu? Syukron jazakamulloh khoir.

    Rasulullah meninggal , tidak ada sahabat yang merayakan 40 hari, 100 hari, dst
    Demikian juga di jaman Rasulullah, banyak sahabat2 rasulullah yang meninggal,tapi Rasulullah tidak melakukan selamatan 40 hari, 100,dst padahal banyak sahabat yg meninggal ketika Rasulullah masih hidup

    Abu bakar, umar, utsman, juga ali, ketika meninggal tidak ada yang merayakan 40 hari, 100hari, dst

    Imam syafii juga tidak merayakan 40 hari, 100 hari, dst

    kok yang ngaku pengikutnya imam syafii, melakukannya??

    ini ritual dari mana?

    selidik punya selidik, itu adalah ajaran dari hindu, ketika ada wali gadungan yang berdakwah kepada orang-orang hindu supaya masuk islam, maka diambilah ajaran hindu tersebut ttg perayaan hari-hari setelah kematian, lalu supaya “terkesan islami” digantilah bacaan-bacaannya,.. ini sebenarnya adalah pelecehan terhadap ajaran islam yang mulia, pencampuran antara yang hak dengan yang batil.
    Pencampuran antara syariat Allah, dengan budaya agama hindu bikinan manusia,.. innalillahi wa inna ilaihi raji’uun,…

    Wali Allah tidaklah mengajarkan sesuatu yang bukan dari Allah, lalu menisbatkan bahwa ajaran itu adalah ajaran Allah,..

    Wali Allah hanya mendakwahkan apa-apa yang memang berasal dari Rasulullah, yang diajarkan kepada para sahabatnya,… tidak akan mungkin kita bisa mempelajari islam, tanpa melalui perantara para sahabat,

    Tentang undangan acara tahlilan, sebaiknya tidak usah datang,.. bisa dikondisikan, misalkan anda pas perayaan ritual tahlilan tsb tidak ada dirumah, ada kegiatan diluar, atau apalah, yang penting anda tidak menghadiri kegiatan tsb, tentu dengan cara yang santun, tidak dengan cara yang kasar, buatlah alasan yang membuat mereka mengerti, dan jika diperlukan dan bisa membuat atau menyadarkan mereka, jelaskan saja tentang keyakinan kita tentang tahlilan,..

    Dan jawab juga, seandainya ritual tahlilan itu adalah ajaran Rasulullah, pasti saya dengan senang hati akan mengikutinya,

    • wii
      Juni 18, 2012 pukul 5:46 am | #170

      siapa wali gadungan itu???????????

      Contohnya orang yang mengaku wali, tapi mengajarkan kebidahan, kesyirikan,..

      • sani
        Juli 5, 2012 pukul 4:11 pm | #171

        siapakah yang anda maksud wali gadungan?????!!!!!

        Wali gadungan adalah seseorang yang mengaku sebagai wali, atau dianggap wali oleh pengikut/penggemarnya,akan tetapi yang diajarkan itu bukanlah ajaran2 Rasulullah, akan tetapi ajaran-ajaran yg tidak ada contohnya dari Rasulullah,istilahnya bidah, bahkan ada yang mengajarkan kesyirikan,..
        Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun..

        Mudah-mudahan Allah menunjuki kaum muslimin agar menyadari dari kekeliruannya mengikuti wali gadungan

    • Mr.X
      September 23, 2012 pukul 1:01 am | #172

      Dari cerita anda yg ini “selidik punya selidik, itu adalah ajaran dari hindu, ketika ada wali gadungan yang berdakwah kepada orang-orang hindu supaya masuk islam,…”
      Siapakah yg anda maksud dengan “wali gadungan” tersebut? Siapa namanya?

      Terimakasih mr.x atas komentarnya,.

      Diantaranya adalah sunan yg ga ada kerjaan nungguin tongkat hingga bertahun-tahun ngga shalat jumat,mungkin BAB dan kencing di Celana, gimana ceritanya hingga burungpun bersarang di kepalanya,bertelur dan beranak,.. apakah itu disebut wali? ngga shalat berjamaah 5 waktu, ngga shalat jumat,.. siapa wali gadungan tersebut?? masa ngga tahu?

  105. fatkul hadi (@fath_234)
    Maret 21, 2012 pukul 12:12 pm | #173

    Yang saya khawatirkan nanti sesama orang Islam saling mengucapkan “Lakum dinukum waliyadiin..” Astaghfirullah…

    biasanya kalimat itu diucapkan oleh orang yang ngga ngerti tafsir dari surat tsb,.. itu kalimat buat orang-orang kafir, bukan utk sesama muslim

  106. m rfidwan
    Maret 17, 2012 pukul 12:40 am | #174

    Diskusinya diluruskan dong……..! masak membahas ritual tahlilan kematian 7hr,40hr,dst. Disanggah argumetasinya dengan tahlilan yg sebenarnya ( membaca tahlil yg memang bagian dari dzikir).

    Sudah jelas imam syafii tidak menyukai,membenci ngumpul-ngumpul ditempat keluarga yang ditimpa kematian,
    Apalagi membawa-bawa agama,
    Rasulullah sering mengalami kematian sahabatnya,.. tapi ngga pernah sekalipun mengadakan tahlilan, atau menyuruh sahabatnya tuk melakukan tahlilan,..

    tahlil, beda dengan tahlilan,
    yasin, beda dengan yasinan
    shalawat, beda dengan shalawatan,..

    kalau yang berakhiran “an” diatas, semuanya adalah bidah,.. dan kata RASULULLAH, semua bidah itu sesat,

    Apanya yg perlu diluruskan?

  107. yaya sunarya
    Maret 15, 2012 pukul 6:20 pm | #175

    I LIKE THIS….

  108. habib_alummah
    Maret 15, 2012 pukul 10:40 am | #176

    Assalamualaikum,

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    semoga Allah mengampuni hamba-hambanya!
    kasihan sekali umat ini, 1400 tahun setelah peninggalanmu ya Nabiku Muhammad SAW, kerjaannya hanya mempertahankan ego masing-masing tentang hadis-hadis dan sunnahmu, padahal semuanya darimu. seandainya saja kami dapat hidup di zamanmu, bahkan berjuang untuk dakwah denganmu, kami dapat melihat langsung sunnahmu, tanpa perlu sebuah penafsiran yang seringkali membuat umat bertengkar.

    Sungguh kasihan sekali orang-orang yang meakukan perbuatan bidah, nanti di akherat mereka akan diusir dari telaga rasulullah, sia-sia selama hidupnya mengamalkan amalan-amalan bidah,..

    apakah anda tidak merasa kasihan terhadap orang-orang tersebut? atau anda malah ikut mengamalkan amalan bidah tersebut,.. kalau iya, saya juga merasa kasihan kepada anda,.. tinggalkanlah perbuatan bidah itu,

    • yaya sunarya
      Maret 17, 2012 pukul 11:17 am | #177

      wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. sungguh islam maha sempurna.
      AL QUR‘AN maha sempurna.
      Ajaran atau sunah-sunah beliau Rasullullah telah sempurna.
      tidak perlu di tambah atau dikurangi dengan hal-hal baru.
      SEMOGA PARA AHLUBID‘AH cepat di sadarkan dari perbuatan-perbuatan BID‘AHnya. amiin…..

    • Agus Widodo
      Mei 8, 2012 pukul 9:59 pm | #178

      Kasihanilah dirimu sendiri….
      Ingin kembali hidup dijaman Rosulullah adalah mustahil.

      Tidak mustahil mengikuti ajaran rasulullah saja, tanpa menambah atau mengurangi

      Kasihanilah dirimu sendiri….
      Belum tentu diakherat nanti anda juga selamat.

      urusan nanti masuk surga atau neraka, itu hanya Allah yang tahu, tapi Allah sudah memberikan caranya, bagaimana caranya supaya bisa masuk surga, dan bagaimana caranya jika ingin masuk neraka,
      Dan Rasulullah sudah menjelaskan semuanya,.. tinggal kitanya mau atau tidak menjalankan ajaran Rasulullah tersebut,

      Rosulullah tidak akan bisa menjamin surga atau neraka seseorang.

      Rasulullah menjamin umatnya akan masuk surga, kecuali yang enggan,

      كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

      “Seluruh umatku akan masuk jannah, kecuali yang enggan.” Maka dikatakan: “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang menaatiku maka dia pasti masuk jannah, sedangkan barangsiapa yang mendurhakaiku maka sungguh dia telah enggan (masuk jannah).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari)

  109. sandalsangkuriang
    Maret 13, 2012 pukul 11:00 pm | #179

    saya orang awam dan sedikit mengerti tentang hukum. Diskusi di atas sangat bagus, namun masalah tahlilan atau Tahlil itu tergantung pemahaman dari setiap ulama yang tentunya sudah sesuai dengan Alquan dan Assunnah, tidak mungkin para ulama mengijtihadkan sesuatu tanpa dasar yang kuat. Tahlilan hanyalah sebuah nama dari sekumpulnya orang dan isi dari kumpulan tersebut tidak lain hanyalah melantunkan ayat allah. itulah yang menjadi nilai syariatnya. sudah jelas dalil2 tentang kita dianjurkan untuk melantunkan ayat suci alquran. masalah wasilah kepada orang meninggal itu adanya perbedaan pendapat dari para ulama. maka perbedaan pemahamaan tentang memahami permasalan ini haruslah di sikapi dengan baik.

    Awal dari ritual seperti itu sebenarnya sudah ada sejak jaman sahabat, yaitu adanya sekelompok orang yang berdzikir dengan dipimpin oleh satu orang, menghitung dzikir dengan batu, lalu diingkari secara keras oleh sahabat, berikut haditsnya:
    حدثنا معاوية بن هشام قال : حدثنا سفيان عن سعيد الجُريريِّ عن أبي عثمان قال : كَتَبَ عَامِلٌ لِعُمَرِ بْنِ الْخَطَّابِ إِلَيْهِ : أَنَّ هَاهُنَا قَوْمًا يَجْتَمِعُوْنَ فَيَدْعُوْنَ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَلِلْأَمِيْرِ، فَكَتَبَ إِلَيْهِ عُمَرُ : أَقْبِلْ، وَأَقْبِلْ بِهِمْ مَعَكَ، فَأَقْبَلَ، وَقَالَ عُمَرُ لِلْبَوَّابِ : أَعِدَّ لِيْ سَوْطًا، فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَى عُمَرِ أَقْبَلَ عَلَى أَمِيْرِهِمْ ضَرْبًا بِالسَّوْطِ. فَقَالَ : يَا عُمَرُ ! إِنَّا لَسْنَا أُولَئِكَ الَّذِيْ – يَعْنِي أُولَئِكَ قَوْمٌ يَأتُونَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ.

    “Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin Hisyaam, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan bin Sa’id Al-Juriiriy, dari Abu ‘Utsmaan, ia berkata :
    “Seorang pembantu ‘Umar bin Al-Khaththaab melaporkan kepadanya (‘Umar) :
    Bahwasannya di sana, di suatu tempat, ada sekelompok orang yang berkumpul untuk mendoakan kebaikan kaum muslimin dan pemimpin mereka.

    Lalu ‘Umar menulis surat kepadanya yang isinya :
    “Temui mereka, bawalah mereka menghadap bersamamu kepadaku”.

    Maka ia pun menemui mereka.
    Lalu ‘Umar berkata kepada penjaga pintu : “Sediakan cambuk”.

    Ketika mereka masuk menemui ‘Umar, maka ‘Umar menyambut pemimpin mereka dengan cambukan.

    Orang tersebut berkata :

    “Wahai ‘Umar, sesungguhnya kami bukanlah mereka – yaitu kaum yang datang dari Timur” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 8/531 no. 26594 dan Ibnu Wadldlah dalam Al-Bida’ wan-Nahyu ‘anhaa hal. 19; dengan sanad hasan].

    أخبرنا الحكم بن المبارك، أنبأنا عمرو بن يحيى قال : سمعت أبي يحدث، عن أبيه قال : كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَبْلَ صَلَاةِ الغَدَاةِ، فَإِذَا خَرَجَ، مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَجَاءَنَا أَبُوْ مُوْسَى الْأَشْعَرِيُّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – فَقَالَ : أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ قُلْنَا : لَا، بَعْدُ. فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ، فَلَمَّا خَرَجَ، قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيْعًا، فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، إِنَّي رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ آنِفًا أَمْرًا أَنْكَرْتُهُ وَلَمْ أَرَ – وَالْحَمْدُ للهِ – إِلَّا خَيْرًا. قَالَ : فَمَا هُوَ ؟ فَقَالَ : إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ. قَالَ : رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوْسًا يَنْتَظِرُوْنَ الصَّلَاةَ فِي كُلِّ حَلَقَةٍ رَجُلٌ، وَفِيْ أَيْدِيْهِمْ حَصًا، فَيَقُوْلُ : كَبِّرُوا مِئَةً، فَيُكَبِّرُوْنَ مِئَةً، فَيَقُوْلُ : هَلِّلُوا مِئَةً، فَيُهَلِّلُونَ مِئَةً، فَيَقُولُ : سَبِّحُوا مِئَةً، فَيُسَبِّحُونَ مِئَةً. قَالَ : فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ ؟ قَالَ : مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ أَوِ انْتِظَارَ أَمْرِكَ. قَالَ : أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ، وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِهِم، ثَمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلَقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ، فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ : مَا هَذا الَّذِيْ أَرَاكُمْ تَصْنَعُوْنَ ؟ قَالُوا : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًا نَعُدَّ بِهِ التَّكْبِيْرَ والتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيْحَ. قَالَ : فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ، فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتكُمْ ! هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُوْنَ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ. قَالُوا : وَاللهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ. قَالَ : وَكَمْ مِنْ مُرِيْدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ تُصِيْبَهُ، إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، وَايْمُ اللهِ مَا أَدْرِيْ لَعَلَّ أَكْتَرَهُمْ مِنْكُمْ، ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ. فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ : رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ.

    “Telah memberi khabar kepada kami Al-Hakam bin Al-Mubaarak : Telah memberitakan kepada kami ‘Amru bin Yahya, ia berkata :

    Aku mendengar ayahku meriwayatkan hadits dari ayahnya, ia berkata :

    Sebelum shalat shubuh, kami biasa duduk di depan pintu ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu. Jika dia sudah keluar rumah, maka kami pun berjalan bersamanya menuju masjid. Tiba-tiba kami didatangi oleh Abu Musa Al-Asy’ariy radliyallaahu ‘anhu, seraya bertanya :

    “Apakah Abu ‘Abdirrahman (‘Abdullah bin Mas’ud) sudah keluar menemui kalian ?”.

    Kami menjawab :
    “Belum”.

    Lalu dia pun duduk bersama kami hingga ‘Abdullah bin Mas’ud keluar rumah. Setelah dia keluar, kami pun bangkit menemuinya. Abu Musa berkata :

    “Wahai Abu ‘Abdirrahman, tadi aku melihat kejadian yang aku ingkari di masjid, namun aku menganggap – segala puji bagi Allah – hal itu adalah baik”.

    Kata Ibnu Mas’ud :

    “Apakah itu ?”.

    Abu Musa menjawab :

    “Jika engkau berumur panjang, engkau akan mengetahui. Ada sekelompok orang di masjid, mereka duduk ber-halaqah sedang menunggu shalat. Setiap kelompok dipimpin oleh seseorang, sedang di tangan mereka terdapat kerikil.

    Lalu pimpinan halaqah tadi berkata :

    ‘Bertakbirlah seratus kali’, maka mereka pun bertakbir seratus kali. ‘Bertahlillah seratus kali’, maka mereka pun bertahlil seratus kali. ‘Bertasbihlah seratus kali’, maka mereka pun bertasbih seratus kali”.

    Ibnu Mas’ud bertanya :

    “Lalu apa yang engkau katakan kepada mereka ?”.

    Abu Musa menjawab :

    “Aku tidak berkata apa-apa hingga aku menunggu apa yang akan engkau katakan atau perintahkan”.

    Ibnu Mas’ud berkata :

    “Tidakkah engkau katakan kepada mereka agar mereka menghitung kesalahan mereka dan kamu jamin bahwa kebaikan mereka tidak akan disia-siakan”.

    Lalu Ibnu Mas’ud berlalu menuju masjid tersebut dan kami pun mengikuti di belakangnya hingga sampai di tempat itu. Ibnu Mas’ud bertanya kepada mereka :

    “Benda apa yang kalian pergunakan ini ?”.

    Mereka menjawab :

    “Kerikil wahai Abu ‘Abdirrahman. Kami bertakbir, bertahlil, dan bertasbih dengan mempergunakannya”.

    Ibnu Mas’ud berkata :

    “Hitunglah kesalahan-kesalahan kalian, aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sedikitpun. Celaka kalian wahai umat Muhammad ! Betapa cepat kebinasaan/penyimpangan yang kalian lakukan. Para shahabat Nabi kalian masih banyak yang hidup. Sementara baju beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga belum lagi usang, bejana beliau belum juga retak. Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya ! Apakah kalian merasa berada di atas agama yang lebih benar daripada agama Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ataukah kalian akan menjadi pembuka pintu kesesatan ?”.

    Mereka menjawab :

    “Wahai Abu ‘Abdirrahman, kami tidaklah menghendaki kecuali kebaikan”.

    Ibnu Mas’ud menjawab :

    “Betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan namun ia tidak mendapatkannya. Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada kami :

    ‘Akan ada segolongan orang yang membaca Al-Qur’an, namun apa yang dibacanya itu tidak melewati kerongkongannya’. Demi Allah, aku tidak tahu, boleh jadi kebanyakan dari mereka adalah sebagian di antara kalian”.

    ‘Amr bin Salamah berkata :

    “Kami melihat mayoritas diantara orang-orang yang ikut dalam halaqah itu adalah orang yang menyerang kami dalam Perang Nahrawaan yang bergabung bersama orang-orang Khawarij” [HR. Ad-Daarimi no. 210 dengan sanad jayyid; akan tetapi menjadi shahih dengan keseluruhan jalannya].[11]

    Sungguh indah atsar di atas !

    sangat pas dengan permasalahan yang sedang dibahas.

    Lihatlah ikhwah, betapa ‘Umar mengingkari dengan pengingkaran yang keras terhadap orang-orang yang berkumpul dan berdoa secara berjama’ah, padahal yang mereka lakukan adalah kebaikan – menurut prasangka mereka – yaitu mendoakan kaum muslimin dan pemimpinnya.

    Apa gerangan yang menyebabkan pengingkaran tersebut ?

    Tidak lain adalah cara yang mereka lakukan menyelisihi apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat.

    Dan yang lebih jelas lagi adalah atsar ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu.

    Apa yang diingkari oleh Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu ?

    Ia mengingkari keberadaan halaqah-halaqah dzikir jama’iy yang dikomandoi oleh seorang pimpinan dimana mereka menggunakan kerikil sebagai alat hitung.

    Alangkah samanya hari itu dengan hari ini. Ibnu Mas’ud tidaklah mengingkari lafadh tasbiih, tahmiid, tahliil, ataupun takbiir yang mereka ucapkan.

    Namun yang diingkari oleh Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu adalah cara yang mereka lakukan yang menyelisihi petunjuk Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya.

    Mereka membuat cara-cara baru yang tidak dikenal dalam Sunnah Nabi dan para shahabatnya.

    Tidakkah kita perhatikan alasan mereka ketika perbuatan mereka itu diingkari oleh Ibnu Mas’ud :

    “Wahai Abu ‘Abdirrahman, kami tidaklah menghendaki kecuali kebaikan”.

    Atas perkataan ini, Ibnu Mas’ud menjawab :

    “Betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan namun ia tidak mendapatkannya”.

    Jawaban ini mengandung makna yang sangat dalam, yaitu bahwa tidaklah setiap niat baik itu dapat diterima menurut syari’at apabila dilakukan dengan cara-cara yang menyelisihi syari’at.

    Tidak ternukil penyelisihan dari kalangan shahabat lain terhadap apa yang dilakukan ‘Umar bin Al-Khaththab dan ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhuma.

    Bisa jadi, apa yang dilakukan oleh kedua shahabat tadi merupakan ijma’ sukuti, sebagaimana dikenal dalam ilmu ushul fiqh. Konsekuensinya, pengingkaran terhadap satu amal secara ijma’, tidaklah mungkin menjadi sunnah selamanya.

    hal yang lebih penting sekarang teman2 lakukan bukan saling menyalahkan perkara yang tidak sesuai dengan pemahaman masing2, tapi lebih baik teman2 mendiskusikan hal yang lebih penting seperti ajaran2 yang jelas bertentangan dengan aqidah Islam yang banyak di negara kita. karena kalau di biarkan akan menjadi fitnah Islam.

    Betul sekali, kita tidak menyalahkan dengan pemahaman masing-masing, tapi kita hanya mengungkapkan kalau perbuatan tersebut tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah yang diamalkan oleh para sahabat, bukan menurut pemahaman masing-masing,.. ini perlu anda camkan,.. ingat, siapa sih generasi yang dibina langsung oleh Rasulullah? merekalah yang wajib kita ikuti, dan itu perintah Allah, juga perintah Rasulullah, agar kita mengikuti mereka, itulah jalan menuju kejayaan islam,

    Dengan mengikuti pemahaman para sahabat, islam kita akan menjadi benar, dan kejayaan islam akan diraih, sehingga Allah memenangkan agama ini diatas agama-agama yang lain, dan menjadikan orang kafir gentar kepada islam, bukan seperti kenyataan sekarang ini, umat islam dengan mudahnya diobok-obok oleh orang-orang kafir,

    Hal yang terpenting adalah, mengembalikan islam menurut pemahaman para sahabat,

    dan yang terakhir apapun yang terjadi sudahkan kita introspeksi diri tentang diri kita, keluarga kita, saudara2 kita dengan maraknya budaya yang berpakaian yang tidak sesuai dengan syariat Islam. sebelum menunjuk salah kepada orang lain, sudahkah kita menunjuk terhadap diri kita sendiri, keluarga, saudara2 kita.
    mudah2an bisa bermanfaat, saya hanyalah orang awam biasa yang sedikir hapalan hadist dan quran. wassalam

    Instropeksi memang perlu, dan itu wajib bagi kita instropeksi, apakah cara beragama kita sudah sesuai dengan pemahaman para sahabat?
    Apakah cara berakidah kita sudah sesuai dengan akidah para sahabat?
    Karena Rasulullah mengajarkan pertama kali adalah urusan akidah ini, apakah akidah kita sudah sesuai dengan akidah rasul yang beliau ajarkan langsung kepada para sahabat?

    Jika akidah sudah tertanam dengan baik, maka urusan yang lain akan dengan mudah dikerjakan, apalagi sekedar menutup aurat dengan benar,

    Mengungkapkan suatu ajaran yang itu tidak diajarkan oleh Rasulullah sama sekali, bukanlah berarti menyalah-nyalahkan orang-orang yang mengamalkan amalan tersebut,..

    Justru itulah bentuk kasih sayang kita kepada mereka, tidak ingin mereka terjatuh kedalam perbuatan bidah yang itu bisa menyengsarakan mereka kelak di akherat, jika mereka tidak taubat dari bidahnya,

    Orang-orang yang membiarkan mereka terus terjerumus kedalam perbuatan bidah, justru mereka itu tidak mempunyai rasa sayang kepada saudaranya, sehingga saudaranya tersebut terus dalam kebidahannya,

  110. anis mujiono
    Februari 25, 2012 pukul 4:08 pm | #180

    saya mau meluruskan.
    1. tentang tahlilan menurut imam syafii.
    di dalam kitab- kitab syafi’iyyah seperti fathul mu’in dll. bahwa menyediakan makanan kematian hukumnya makruh tidak haram. walaupun makruh, makanan yang dikeluarkan menjadi sodaqoh yang pahalanyapun bisa memberi manfaat bagi mayat. jadi yang berlaku di masyarakat itu ada perkara yang dubenci juga ada benarnya yang bernilai pahala.
    imam syafii juga melakukan bertawassul dan menganjurkan kita agar bertawassul walapun dg orang- orang solih yang sudah meninggal. jangan dikira imam syafii melarangny. kalau ingin bukti silahkan hub 085865656438. nanti sy berikan syair-syair beliau yang menganjurkan untuk brtawasul.

    Telah berkata Imamnya para Ulama, mujtahid mutlak, lautan ilmu, pembela Sunnah. Al-Imam Asy-Syafi’iy di ktabnya ‘Al-Um” (I/318).

    “Aku benci al ma’tam yaitu berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan”[1]

    Perkataan imam kita diatas jelas sekali yang tidak bisa dita’wil atau ditafsirkan kepada arti dan makna lain kecuali bahwa beliau dengan tegas mengharamkan berkumpul-kumpul dirumah keluarga/ahli mayit. Ini baru berkumpul saja, bagaimana kalau disertai dengan apa yang kita namakan disini sebagai Tahlilan ?”

    untuk bukti tdk perlu nelpon ke anda, kita telah dicukupkan dengan tulisan-tulisan para ulama ahlussunnah, yg banyak, tinggal kita mau atau tidak menerima kebenaran tersebut, imam syafii saja sdh sangat tegas melarang kumpul-kumpul di tempat keluarga si mayat, blm sama ritual-ritualnya,

    Telah berkata Imam Ibnu Qudamah, di kitabnya Al Mughni (Juz 3 halaman 496-497 cetakan baru ditahqiq oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki ) :

    “Adapun ahli mayit membuatkan makanan untuk orang banyak maka itu satu hal yang dibenci ( haram ). Karena akan menambah kesusahan diatas musibah mereka dan menyibukkan mereka diatas kesibukan mereka [2] dan menyerupai perbuatan orang-orang jahiliyyah.

    Dan telah diriwayatkan bahwasannya Jarir pernah bertamu kepada Umar. Lalu Umar bertanya,.Apakah mayit kamu diratapi ?” Jawab Jarir, ” Tidak !” Umar bertanya lagi, ” Apakah mereka berkumpul di rumah ahli mayit dan mereka membuat makanan ? Jawab Jarir, ” Ya !” Berkata Umar, ” Itulah ratapan !”

    Telah berkata Syaikh Ahmad Abdurrahman Al Banna, di kitabnya : Fathurrabbani tartib musnad Imam Ahmad bin Hambal ( 8/95-96) :

    “Telah sepakat imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad) atas tidak disukainya ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak yang mana mereka berkumpul disitu berdalil dengan hadits Jarir bin Abdullah. Dan zhahirnya adalah HARAM karena meratapi mayit hukumnya haram, sedangkan para Shahabat telah memasukkannya (yakni berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit) bagian dari meratap dan dia itu (jelas) haram.

    Dan diantara faedah hadits Jarir ialah tidak diperbolehkannya berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit dengan alasan ta’ziyah /melayat sebagaimana dikerjakan orang sekarang ini.

    Telah berkata An Nawawi rahimahullah : Adapun duduk-duduk (dirumah ahli mayit ) dengan alasan untuk ta’ziyah telah dijelaskan oleh Imam Syafi’i dan pengarang kitab Al Muhadzdzab dan kawan-kawan semadzhab atas dibencinya (perbuatan tersebut)……..

    Kemudian Nawawi menjelaskan lagi, ” Telah berkata pengarang kitab Al Muhadzdzab : “Dibenci duduk-duduk (ditempat ahli mayit ) dengan alasan untuk ta’ziyah. Karena sesungguhnya yang demikian itu adalah muhdats (hal yang baru yang tidak ada keterangan dari Agama), sedang muhdats adalah ” Bid’ah.”

    Telah berkata Al Imam Asy Syairoziy, dikitabnya Muhadzdzab yang kemudian disyarahkan oleh Imam Nawawi dengan nama Al Majmu’ Syarah Muhadzdzab : “Tidak disukai /dibenci duduk-duduk (ditempat ahli mayit) dengan alasan untuk Ta’ziyah karena sesungguhnya yang demikian itu muhdats sedangkan muhdats adalah ” Bid’ah “.

    Dan Imam Nawawi menyetujuinya bahwa perbatan tersebut bid’ah. [Baca ; Al-Majmu’ syarah muhadzdzab juz. 5 halaman 305-306]

    Al Imam Ibnul Humam Al Hanafi, di kitabnya Fathul Qadir (2/142) dengan tegas dan terang menyatakan bahwa perbuatan tersebut adalah ” Bid’ah Yang Jelek”. Beliau berdalil dengan hadits Jarir yang beliau katakan shahih.

    Al Imam Ibnul Qayyim, di kitabnya Zaadul Ma’aad (I/527-528) menegaskan bahwa berkumpul-kumpul (dirumah ahli mayit) dengan alasan untuk ta’ziyah dan membacakan Qur’an untuk mayit adalah ” Bid’ah ” yang tidak ada petunjuknya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    Al Imam Asy Syaukani, dikitabnya Nailul Authar (4/148) menegaskan bahwa hal tersebut Menyalahi Sunnah.

    Berkata penulis kitab ‘Al-Fiqhul Islamiy” (2/549) : “Adapaun ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak maka hal tersebut dibenci dan Bid’ah yang tidak ada asalnya. Karena akan menambah musibah mereka dan menyibukkan mereka diatas kesibukan mereka dan menyerupai (tasyabbuh) perbuatan orang-orang jahiliyyah”.

    Al Imam Ahmad bin Hambal, ketika ditanya tentang masalah ini beliau menjawab : ” Dibuatkan makanan untuk mereka (ahli mayit ) dan tidaklah mereka (ahli mayit ) membuatkan makanan untuk para penta’ziyah.” [Masaa-il Imam Ahmad bin Hambal oleh Imam Abu Dawud hal. 139]

    Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, ” Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit dan mengirimnya kepada mereka. Akan tetapi tidak disukai mereka membuat makanan untuk para penta’ziyah. Demikian menurut madzhab Ahmad dan lain-lain.” [Al Ikhtiyaaraat Fiqhiyyah hal.93]

    Berkata Al Imam Al Ghazali, dikitabnya Al Wajiz Fighi Al Imam Asy Syafi’i (I/79), ” Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit.”

    • wong_Negaradaha
      Maret 15, 2012 pukul 3:35 am | #181

      Sebagian orang telah mengutip dan memahaminya secara membabi buta terkait ucapan Imam asy-Syafi’ rahimahullah yang terdapat dalam kitab al-Umm berikut ini :

      وأكره المأتم، وهي الجماعة، وإن لم يكن لهم بكاء فإن ذلك يجدد الحزن، ويكلف المؤنة مع ما مضى فيه من الأثر
      “aku menghukumi makruh Ma’tam, dan yakni sebuah kelompok, dan walaupun tidak ada tangisan bagi mereka sebab sesungguhnya itu memperbaharui kesedihan dan membebani biayai beserta apa yang pernah terjadi”.

      Dari kutipan ini, sama sekali tidak ada ucapan Imam asy-Syafi’i yang mengharamkan tahlilan. Jadi, darimana isu-isu yang mengharamkan tahlilan dengan berdalil ucapan Imam asy-Syafi’i ? Mana ucapan Imam asy-Syafi’i yang mengharamkan mendo’akan muslim yang meninggal dunia, mana ucapan Imam asy-Syafi’i yang mengharamkan menghadiahkan bacaan al-Qur’an untuk muslim yang meninggal dunia, mana pula ucapan Imam asy-Syafi’i yang mengharamkan semua itu yang dilakukan dikediaman ahlul mayyit ? Jelas, ini salah satu bentuk untuk memecah belah umat Islam terutama untuk menghancurkan pondasi madzhab Syafi’i yang memang paling banyak di anut kaum Muslimin termasuk paling banyak di anut oleh Dzurriyah Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam.

      ngga usah nyari dikitab lain mas, ini lho, ada dikitabnya imam syafii sendiri,

      Didalam kitab al Umm (I/318), telah berkata imam Syafii berkaitan dengan hal ini;

      “Aku benci al ma’tam, yaitu berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbahrui kesedihan.”

      Jadi, imam Syafii sendiri tidak suka dengan kegiatan tahlilan yang dilakukan sebagaimana yang banyak dilakukan oleh ummat Islam sendiri.

      Baca ya, dikitabnya imam syafii sendiri, bukan dikitab lainnya, itu imam syafii sendiri yang mengatakan, sedangkan apa yg anda sampaikan, itu bukan perkataan imam syafii, makanya saya hapus,..

      Salam nggo wong-wong negaradaha,

      • wong_Negaradaha
        Maret 17, 2012 pukul 1:05 am | #182

        mohon jelaskan per-kata menurut tata bahasa arab tulisan imam syafei berikut وأكره المأتم، وهي الجماعة، وإن لم يكن لهم بكاء فإن ذلك يجدد الحزن، ويكلف المؤنة
        مع ما مضى فيه من الأثر

        tolong sebutkan ada di kitab apa, halaman berapa, jgn nukil arabnya doang,.. itu bener tulisan imam syafii atau bukan?

    • wong_Negaradaha
      Maret 19, 2012 pukul 1:00 am | #183

      moderator tulis :
      “Telah berkata Imamnya para Ulama, mujtahid mutlak, lautan ilmu, pembela Sunnah. Al-Imam Asy-Syafi’iy di ktabnya ‘Al-Um” (I/318).

      “Aku benci al ma’tam yaitu berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan”[1]”

      mohon jelaskan menurut tata bahasa arab (grammar) tulisan imam syafei tsb, saya bantu naskah tulisan asli (dlm bhs arab) asy-Syafi’ rahimahullah yang terdapat dalam kitab al-Umm berikut ini :

      وأكره المأتم، وهي الجماعة، وإن لم يكن لهم بكاء فإن ذلك يجدد الحزن، ويكلف المؤنة مع ما مضى فيه من الأثر

      tulisan diatas ada dikitab apa, halaman berapa, tolong sebutkan dong, jangan nukil arabnya saja, biar bisa dilihat betul ngga itu dari kitab al umm,

      seperti yang saya cantumkan, kan ada juz dan halamannya, sedangkan apa yg anda nukilkan, gak ada keterangan juz berapa halaman berapa, ada dikitab apa, .. monggo mas, cantumkan yg detail dong,

  111. IRWAN
    Februari 10, 2012 pukul 10:56 am | #184

    “Yaitu, sebagaimana seseorang tidak akan memikul dosa orang lain, demikian juga seseorang tidak akan memperoleh ganjaran/pahala kecuali apa-apa yang telah ia usahakan untuk dirinya sendiri.”

    klo gni adanya, brrt kita percuma donk mendo’a_kan kedua orang tua.

    Beda lagi dengan anak mendoakan orangtuanya, jangankan doa orang tua kepada anak, pahala ibadah sang anakpun orang tua akan mendapatkannya, tanpa si anak menghadiahkan pahalanya, karena anak merupakan hasil usaha orang tuanya, jadi selaras dengan pernyataan “seseorang tidak akan memperoleh ganjaran/pahala kecuali apa-apa yang telah ia usahakan untuk dirinya sendiri”

    mendoa’kan acara pernikahan,dll
    toh ujung-ujungnya gk bakal di terima jg.

    Kalau mendoakan kaum muslimin, atau saudara kita , silahkan saja, ngga masalah,
    yang jadi masalah adalah melakukan ritual tertentu, yang itu dianggap sebagai ibadah, seperti contohnya ritual tahlilan, lalu baca alquran, dan dikirimkan pahala bacaannya buat si fulan, ini tidak ada contohnya dari rasulullah, atau disebutnya sebagai kebidahan,..

    mohon bimbingannya…~!!

    mudah-mudahan keterangan singkat diatas bisa memberikan sedikit pencerahan,.. untuk lebih luasnya, ya pelajarilah agama ini, menurut pemahaman generasi yang dibina langsung oleh Rasulullah, generasi tersebut adalah para sahabat,.. pelajarilah agama ini berdasarkan pemahaman para sahabat, insya allah semuanya akan jelas, tidak bingung lagi,.. dan kalau masih bingung, jangan sungkan tuk bertanya,.. karena obat kebodohan adalah bertanya,

    • basya
      Mei 11, 2012 pukul 5:59 pm | #185

      anda itu tidak berfikir..
      kalau ritual tahlil anda angap bid’ah..
      terus bagaimana dengan ritual anak-anak yang berangkat sekolah setiap hari mencari ilmu dan libur di hari ahad atau jum’at..

      emang yang dilakukan itu ritual apa dihari tersebut?
      kurang banyak mas, ada ritual makan pagi, makan siang, makan malam,

      bidah disini adalah ritual ibadah mas,.. mengharapkan dengan perbuatannya bisa mendatangkan pahala, mendekatkan dirinya kepada Allah,

      itu juga tidak pernah dilakukan rosuluallah ataupun para sahabatnya..
      apakah itu juga bid’ah..???

      Baca dulu, apa itu definisi bidah,

      terus bagaimana dengan dakwah dengan artikel di internet..apakah dulu rosulullah dan para sahabatnya juga berdakwah dengan internet?komputer,laptop??
      apakah itu semua termasuk hal yang baru?
      sedangkan hal yang baru itu adalah bid’ah..
      tolong di jelaskan om?

      Iya, bidah,
      Bala-bala bidah,bakso bidah,mie ayam bidah,becak bidah,sepeda bidah,internet bidah, apalagi ya??
      ada ulasannya disini,

    • rebs
      Mei 12, 2012 pukul 5:58 pm | #186

      saya ingin menambahkan secara sederhana,,
      Perkara muamalah dan syariah terdapat perbedaan yaitu muamalah selalu menunggu larangan dan syariah menunggu perintah,,sebagai contoh sederhana adalah apakah ada larangan untuk membaca surah yasiin pada saat sujud? jelas tidak ada larangan tetapi apa itu diperintahkan/dicontohkan oleh rosululloh?

      salah ngasih contohnya , ada larangan rasulullah membaca alquran ketika ruku dan sujud

      harusnya contohnya, bolehkah kita shalat shubuh 4 rakaat, kan tidak ada larangannya,.. bukankah itu baik, bacaan alqurannya nambah, ruku dan sujudnya juga tambah banyak,

      Setiap amalan yg dilakukan dengan mengkhususkan waktu pengerjaannya harus dilandasi dengan dalil,,sebagai contoh tahlil, tahlil memang sebuah amalan sunnah tetapi jika ini dilakukan dengan mengkhususkan waktu pengerjaannya yaitu pada acara setelah kematian (tahlilan/pen) jelas tidak pernah dicontohkan oleh Rosululloh,
      jadi, perkara Dien tidak perlu ditambah atau dikurang karena tak ada satu amalan baik pun yg tertinggal atau belum diajarkan/dicontohkan oleh beliau, secara tidak sadar para ahlul bid’ah itu merasa lebih pintar dari Rosululloh atau mengganggap rosul itu bodoh karena tidak mengetahui adanya amalan baik sehingga tidak beliau ajarkan/contohkan…na’udzubillah

  112. sigit
    Februari 9, 2012 pukul 2:03 pm | #187

    mereka penganut kata mbah2 ya …bertaubatlah saudaraku…

    ya, mudah-mudahan banyak kaum muslimin yg segera sadar, dan taubat dari mengikuti nenek moyang yg gak jelas,

  113. habib
    Januari 26, 2012 pukul 5:09 am | #188

    ngomong jeung siamah kudu jeung bedog

    ulah jeung bedog atuh kang, eta teh sanes urang bageur & pinter
    masa bang habib teh kitu,. era atuh kang,..
    Rasulullah ngajarkeun ritual tahlilan nte kang?
    Abu Bakar ngamalkeun ritual tahlilan nte kang?
    Umar bin khattab ngamalkeun ritual tahlilan nte kang?
    Imam Syafii, Imam bukhari,muslim, lan seueur ulama ahlussunnah, aya nte nu ngayaukeun ritual tahlilan??
    Jawab atuh kang, ulah ku bedog jawabna,..
    Ari mereka sadayana ngayakeun ritual tahlilan, abdi oge rek tahlilan,.. nte nganggo era deui,.. hayu atuh kang tahlilan sareng abdi,..

    • yaya sunarya
      Maret 15, 2012 pukul 6:17 pm | #189

      heeuh nya keras hate anjeun mah. singket namah al qur‘an jeung sunah2 nabi teh tos sampurna make2 rek di tambah kabid‘ah an. jalmi anu ngadamel bid‘ah sami sareng jalmi anu nganggap masih kurang sampurna ajaran rasulullah. mslh kamatian jeung kalahiran teu mungkin Rasulullah kalewat ngajarkeun adab2na. hatur nuhun. from. tijalmi anu nyari rido ALLAH

      leres kang, nuhun nya,..

      • Rica Hanifa
        Juni 9, 2012 pukul 9:54 am | #190

        Shahih eeuy…. syukur abdi teh dipasihan hidayah dina Manhaj Salaf. kanggo admin hatur nuhun ilmu na manfaat pisan, komentar sareng isina memuaskan.

        Alhamdulillah, nikmat manhaj salaf ini adalah nikmat yang tidak ternilai, hidayah itu amatnlah mahal,

    • rebs
      Mei 12, 2012 pukul 6:00 pm | #191

      bedog tidak bisa membuktikan kebenaran kang

    • Rahmat Bangun
      April 18, 2013 pukul 12:55 pm | #192

      pak ustadz,saya juga pernah mendapatkan orang yang seperti habib pas ustadz :D..
      kalo di terangkan soal bid’ah malah jawabane ngoten niku,bedog di gawa-gawa :D
      kita senasib ustadz :D

  114. abuerzha
    Januari 25, 2012 pukul 4:49 am | #193

    @saya : Permasalahan sampai atau tidaknya pahala bacaan Al-Qur’an adalah permasalahan ijtihadiyah..

    silahkan mau ikut yg mana..

    kl antum baca tulisan diatas imam syafiie sendiri mengatakan bacaan Al-Qur’an tak akan sampai kpd si mayit dan inilah pendapat yg rojih..

    nah yg ajibnya ketika orang2 islam di INdonesia bangga dgn mazhab Syafiie malah melakukan pelanggaran thp ucapan Imamnya sendiri malah lucunya menukil pendapat dari musuh mereka yaitu ulama-ulama WAHABI.

    kalau mau main fair org2 yg mengaku bermazhab syafiie tidak melakukan TAHLILAN dong,betul tidak mas?

    Mas.. fahami baik2 titik permasalahannya adalah CARA nya ,krn ibadah itu terikat waktu dan cara spt:sholat,puasa,zakat,zikir2,sodakoh,infaq dsb semua sdh diatur waktu dan caranya dlm kitab2 fiqh.apakah tahlilan ada cara dan waktunya??

    apakah ada contoh dari Rosululloh dan para sahabatnya mengumpulkan orang2 pada acara kematian seseorang..??

    coba antum renungkan bila ada coba antum cari dalil atau atsar sahabat apakah Rosululloh melakukan hal tsb?

    dan rupanya kebanyakan pencinta tahlilan menggunakan qiyas2 bathil contoh: sodaqoh disamakan dgn tahlilan,mbaca al-quran disamakan dgn tahlilan,do’a disamakan tahlilan .dan hanya prasangka2an memurut hawa nafsu sendiri bahwa ini amalan yg baik.nah qiyas2 seperti inilah yg membuka pintu2 ke-bid’ahan..
    Diperbolehkan belum tentu dibenarkan mas..

    Mudah2an bisa di fahami
    Barokallohum fiik

    Jazakallahu khairan atas tanggapannya,..

    • saya
      Januari 25, 2012 pukul 7:47 am | #194

      saya akan menangapi komentar anda apabila komentar saya ini di jawab dulu sama admin..

      kalau memang anda percaya allah bersemayam di atas arsy..
      bagaimana dengan ini :

      Dan Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku (Palestina), yang akan memberiku petunjuk.” (QS. al-Shaffat : 99).

      Maksudnya Ibrahim pergi ke suatu negeri untuk menyembah Allah dan berdakwah disana

      Satu contoh lagi, mudah-mudahan Allah memberi pemahaman dan petunjuk kepada anda dan kaum muslimin semuanya, jika ada seseorang yang berbuat maksiat, apa nasehat kita kepadanya? Jika ada yang mengatakan,
      “Bertaubatlah, kembalilah kepada Allah, agar kamu mendapat petunjuk,.. apakah ini maksudnya dia tahu dimana allah berada, lalu dia menuju kepadanya?

      Tentu ini penafsiran yang aneh sekali,.. dan sebenarnya orang yang bodoh sekalipun akan menegetahui maksud dari kembali kepada Allah,..

      Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. al-Hadid : 4)

      Ayat ini tidak menunjukkan bahwa dzat Allah Ta’ala berada di segala tempat. Karena jika demikian tentu konsekuensinya Allah juga berada di tempat-tempat kotor dan najis, selain itu jika Allah berada di segala tempat artinya Allah berbilang-bilang jumlahnya.

      Subhanallah, Maha Suci Allah dari semua itu.

      Maka yang benar, Allah Ta’ala Yang Maha Esa berada di atas Arsy namun dekat bersama hambanya. Jika kita mau memahami, sesungguhnya tidak ada yang bertentangan antara dua pernyataan tersebut.

      Karena kata ma’a (bersama) dalam ayat tersebut, bukanlah kebersamaan sebagaimana dekatnya makhluk dengan makhluk, karena Allah tidak serupa dengan makhluk. Dengan kata lain, jika dikatakan Allah bersama makhluk-Nya bukan berarti Allah menempel atau berada di sebelah makhluk-Nya apalagi bersatu dengan makhluk-Nya.

      Syaikh Muhammad Al-Utsaimin menjelaskan hal ini:

      “Allah bersama makhluk-Nya dalam arti mengetahui, berkuasa, mendengar, melihat, mengatur, menguasai dan makna-makna lain yang menyatakan ke-rububiyah-an Allah sambil bersemayam di atas Arsy di atas makhluk-Nya” (Qowaaidul Mutslaa, Bab Syubuhaat Wa Jawaabu ‘anha) .

      Ketika berada di dalam gua bersama Rasulullah karena dikejar kaum musyrikin, Abu Bakar radhiallahu’anhu merasa sedih sehingga Rasulullah membacakan ayat Qur’an, yang artinya:

      “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” (QS. Taubah: 40)

      Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini:

      “ ’Allah bersama kita’ yaitu dengan pertolongan-Nya, dengan bantuan-Nya dan kekuatan dari-Nya”. Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya:

      “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku qoriib (dekat). Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu” (QS. Al Baqarah: 186)

      Dalam ayat ini pun kata qoriib (dekat) tidak bisa kita bayangkan sebagaimana dekatnya makhluk dengan makhluk.

      Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini:

      “Sesungguhnya Allah Maha Menjaga dan Maha Mengetahui. Mengetahui yang samar dan tersembunyi. Mengetahui mata yang berkhianat dan hati yang ketakutan. Dan Allah juga dekat dengan hamba-Nya yang berdoa, sehingga Allah berfirman ‘Aku mengabulkan doa orang yang berdoa jika berdoa kepada-Ku’ ”.

      Kemudian dijelaskan pula: “Doa ada 2 macam, doa ibadah dan doa masalah.

      Dan kedekatan Allah ada 2 macam, dekatnya Allah dengan ilmu-Nya terhadap seluruh makhluk-Nya, dan dekatnya Allah kepada hambaNya yang berdoa untuk mengabulkan doanya” (Tafsir As Sa’di).

      Jadi, dekat di sini bukan berarti menempel atau bersebelahan dengan makhluk-Nya. Hal ini sebenarnya bisa dipahami dengan mudah.

      Dalam bahasa Indonesia pun, tatkala kita berkata ‘Budi dan Tono sangat dekat’, bukan berarti mereka berdua selalu bersama kemanapun perginya, dan bukan berarti rumah mereka bersebelahan.

      Ketika kita berjalan di malam hari, dan pada saat itu ada yang berkata:
      “kita berjalan bersama rembulan” …
      Apakah rembulan ikut berjalan disamping kita?

      • Januari 25, 2012 pukul 9:20 am | #195

        Tambahan buat yg belum paham,

        Pertanyaan:

        Bagaimana pandangan hukum Islam terhadap jawaban sebagian orang, “Allah berada di mana-mana,” bila ia ditanya, “Dimanakah Allah?” Apakah jawaban seperti ini sepenuhnya benar?

        Jawaban:

        Jawaban seperti ini sepenuhnya batil! Apabila seorang ditanya, “Dimanakah Allah?” maka hendaklah ia menjawab, “Di langit,” seperti yang dikemukakan oleh seorang perempuan yang ditanya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dimanakah Allah?” Dia menjawab, “Di langit.”

        Adapun orang yang menjawab dengan kata-kata “Allah itu ada” maka jawaban ini sangat samar dan menyesatkan. Orang yang mengatakan bahwa Allah itu ada di mana-mana dengan pengertian bahwa dzat Allah ada di mana-mana, maka orang tersebut menjadi kafir karena ia telah mendustakan keterangan-keterangan agama, bahkan dalil-dalil wahyu dan akal serta fitrah. Allah berada di atas segala makhluk. Dia berada di atas semua langit, bersemayam di atas ‘Arsy. (Majmu’ Fataawa wa Rasaail, juz 1, hlm. 132–133, Syekh Ibnu Utsaimin)

        Sumber: Fatwa Kontemporer Ulama Besar Tanah Suci, Media Hidayah, cetakan 1 Tahun 2003.
        (Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi http://www.konsultasisyariah.com)

      • Januari 25, 2012 pukul 9:26 am | #196

        Ini mas/mba, saya bawakan perkataan Syeikhul islam ibnu taimiyah tentang kebersamaan Allah,..

        Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:
        “Dzahir ayat ini menunjukkan bahwa makna ma’iyyah yang sesuai dengan konteksnya adalah memperhatikan, menyaksikan, menjaga, dan mengetahui tentang kalian.
        Inilah maksud perkataan salaf:
        ‘Bersama mereka dengan ilmuNya’. Dan ini adalah dzahir ayat dan hakikatnya (bukan ta’wil).

        (Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Juz V hal. 103)

        mudah-mudahan tidak bingung lagi mas/mba “saya”

      • saya
        Januari 25, 2012 pukul 3:06 pm | #197

        kalau menurut anda ALLAH itu berada di Arsy, lalu sebelum adanya Arsy ALLAH itu berada dimana om?
        tolong di jelaskan.

        bukan menurut saya kalau Allah itu berada di atas Arsy, ingat, bukan di Arsy,

        Allah Ta’ala dalam Al Qur’anul Karim banyak sekali mensifati diri-Nya berada di atas Arsy yaitu di atas langit. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

        “Allah Yang Maha Pemurah bersemayam di atas Arsy” (QS. Thaha: 5)

        Ayat ini jelas dan tegas menerangkan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy. Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya:

        “Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang di langit (yaitu Allah) kalau Dia hendak menjungkir-balikkan bumi beserta kamu sekalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang” (QS. Al Mulk: 16)

        Juga ayat lain yang artinya:

        “Malaikat-malaikat dan Jibril naik kepada Rabb-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun” (QS. Al-Ma’arij: 4). Ayat pun ini menunjukkan ketinggian Allah.

        Apakah anda tidak percaya dengan perkataan Allah dalam Alquran?
        Apakah anda sadar mengatakan hal tersebut?

        Apa manfaatnya bagi anda menanyakan tentang dzat Allah, bagaimana dengan Allah, sedangkan Allah itu maha kuasa, dan akal kita tidak akan bisa tuk memikirkan dzat Allah, dan dalam hal ini ada larangan tuk memikirkan tentang dzat Allah,
        Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

        يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُوْلُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُوْلَ: مَنْ خَلَقَ اللهَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ وَلْيَنْتَهِ. – وَفِي لَفْظٍ: فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ -

        “Setan akan mendatangi salah seorang dari kalian lalu membisikkannya: ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ Sampai kemudian ia akan membisikkan: ‘Siapa yang menciptakan Allah?’ Jika dia sampai pada tingkatan itu maka hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah, dan berhenti.” (Shahih Al-Bukhari no. 3276 dan Shahih Muslim no. 134)

        Dan jika Allah tidak menjelaskan dimana Allah ketika Arsy belum diciptakan, maka kita tidak perlu bertanya tentang apa-apa yang tidak Allah jelaskan,..

        Allah saja tidak menjelaskan, lalu bagaimana kita sebagai manusia mengetahuinya?

        Terhadap berita yang Allah kabarkan saja banyak yang tidak mengetahuinya, lalu apa manfaatnya anda bertanya tentang sesuatu yang tidak dikabarkan oleh Allah?
        Takutlah kita kepada tipu daya setan tuk menggelincirkan kita ke dalam murka Allah,

        Sebagai bahan masukan buat anda, tentang apa itu Arsy Allah,
        وعن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : ((ما بين السماء القصوى والكرسي خمسمائة عام، وبين الكرسي والماء كذلك، والعرش فوق الماء، والله فوق العرش، ولا يخفى عليه شيء من أعمالكم)). رواه اللالكائي والبيهقي، بإسناد صحيح عنه
        “Dan dari ‘Abdullah bin Mas’uud radliyllaahu ‘anhu, ia berkata : ‘Jarak antara langit yang paling tinggi dengan kursi adalah limaratus tahun. Begitu juga jarak antara kursi dengan air. Dan ‘Arsy berada di atas air. Dan Allah berada di atas ‘Arsy, tidak ada sesuatupun tersembunyi atas-Nya dari amal-amal kalian’. Diriwayatkan oleh Al-Laalikaa’iy dan Al-Baihaqiy dengan sanad shahih darinya” [Al-‘Arsy, 2/129, tahqiq : Prof. Muhammad bin Khaliifah At-Tamiimiy)

    • yaya sunarya
      Maret 17, 2012 pukul 11:04 am | #198

      yes…ana setuju sekali dengan pendapat antum….

  115. saya
    Januari 24, 2012 pukul 3:47 pm | #199

    Diceritakan oleh Qutaibah bin Sa’id, diceritakan oleh Jarir, dari A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT mempunyai para malaikat yang banyak menjalankan keutamaan. Mereka mencari majelis-majelis zikir. Apabila mereka menemukan sebuah majelis yang didalamnya mengumandangkan zikir, maka mereka (para malaikat) duduk bersama mereka dan sebagian mereka (para malaikat) berkerumunan diantara sebagian mereka (manusia) dengan membentangkan sayap-sayapnya hingga memenuhi sesuatu diantara meraka dan langit dunia. Apabila mereka majelis zikir telah selesai, mereka (para malaikat) naik kembali kelangit. Allah SWT bertanya kepada mereka (malaikat) yang sebenarnya Dia lebih mengetahui dari mereka, “dari mana kalian datang ?” Mereka (para malaikat) menjawab : “Kami datang dari hamba-hambamu dibumi, mereka bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid dan memohon kepadaMu.” Allah SWT bertanya, “Mereka (manusia) minta apa kepadaKu ?” mereka menjawab : “Mereka memohon SurgaMu”. Allah SWT bertanya, “Apakah mereka (manusia) melihat SurgaKu ?” Mereka (malaikat) menjawab : “Tidak, wahai Tuhan Kami” Allah SWT bertanya, “Bagaimana jika mereka melihat SurgaKu ?” Mereka menjawab : “Mereka pasti minta perlindungan kepadaMu”. Allah SWT bertanya, “Dari apa mereka minta perlindungan kepadaKu ?” mereka menjawab : “Dari NerakaMu, wahai Tuhan kami.” Allah SWT bertanya, “Apakah mereka melihat NerakaKu ?” mereka menjawab :”Tidak”. Allah SWT bertanya : “Bagaimana jika mereka melihat nerakaKu?”. Mereka menjawab : “Mereka pasti akan minta ampunan padaMu.” Allah berfirman : “Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka minta dan Aku memberikan Pahala sebagaimana yang mereka minta.” Para malaikat berkata : “Wahai Tuhan, dalam kelompok itu ada fulan, seorang hamba yang berbuat dosa. Bahwasannya dia pergi, biasanya dia bersama mereka”. Allah SWT berfirman : “Baginya Aku telah ampuni, Mereka adalah satu kelompok, salah seorang anggotanya tidak bisa mencelakakan mereka”. (HR. Muslim, Baab Majaalis adz-Dzikr, juz 10), juga (HR. Bukhari, Baab Fadhl Allah Ta’ala, Juz 8 hal. 86-87

    Terimakasih atas nukilan haditsnya,
    Saya nukilkan bunyi hadits dan terjemahan yang benarnya, silahkan baca, dan baca juga faidah dari hadits tersebut:
    Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim :

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمِ بْنِ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا سُهَيْلٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّارَةً فُضُلًا يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ فَيَقُولُونَ جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِي الْأَرْضِ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيُهَلِّلُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيَسْأَلُونَكَ قَالَ وَمَاذَا يَسْأَلُونِي قَالُوا يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا لَا أَيْ رَبِّ قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا وَيَسْتَجِيرُونَكَ قَالَ وَمِمَّ يَسْتَجِيرُونَنِي قَالُوا مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا لَا قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا وَيَسْتَغْفِرُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا قَالَ فَيَقُولُونَ رَبِّ فِيهِمْ فُلَانٌ عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ قَالَ فَيَقُولُ وَلَهُ غَفَرْتُ هُمْ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

    Muhammad bin Hatim bin Maimun menuturkan kepada kami. Dia berkata; Bahz menuturkan kepada kami. Dia berkata; Wuhaib menuturkan kepada kami. Dia berkata; Suhail menuturkan kepada kami dari ayahnya dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala memiliki para malaikat khusus yang senantiasa berkeliling mencari di mana adanya majelis-majelis dzikir. Apabila mereka menemukan sebuah majelis yang padanya terdapat dzikir maka mereka pun duduk bersama orang-orang itu dan meliputi mereka satu sama lain dengan sayap-sayapnya sampai-sampai mereka memenuhi jarak antara orang-orang itu dengan langit terendah, kemudian apabila orang-orang itu telah bubar maka mereka pun naik menuju ke atas langit” Nabi berkata, “Maka Allah ‘azza wa jalla pun bertanya kepada mereka sedangkan Dia adalah yang paling mengetahui keadaan mereka, ‘Dari mana kalian datang?’. Para malaikat itu menjawab, ‘Kami datang dari sisi hamba-hamba-Mu yang ada di bumi. Mereka mensucikan-Mu (bertasbih), mengagungkan-Mu (bertakbir), mengucapkan tahlil, dan memuji-Mu (bertahmid), serta meminta (berdo’a) kepada-Mu.’ Lalu Allah bertanya, ‘Apa yang mereka minta kepada-Ku?’. Para malaikat itu menjawab, ‘Mereka meminta kepada-Mu surga-Mu.’ Allah bertanya, ‘Apakah mereka telah melihat surga-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Belum wahai Rabbku.’ Allah mengatakan, ‘Lalu bagaimana lagi jika mereka benar-benar telah melihat surga-Ku?’. Para malaikat itu berkata, ‘Mereka juga meminta perlindungan kepada-Mu.’ Allah bertanya, ‘Dari apakah mereka meminta perlindungan-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Mereka berlindung dari neraka-Mu, wahai Rabbku’. Maka Allah bertanya, ‘Apakah mereka pernah melihat neraka-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Belum, wahai Rabbku.’ Lalu Allah mengatakan, ‘Lalu bagaimanakah lagi jika mereka telah melihat neraka-Ku.’ Mereka mengatakan, ‘Mereka meminta ampunan kepada-Mu.’ Maka Allah mengatakan, ‘Sungguh Aku telah mengampuni mereka. Dan Aku telah berikan apa yang mereka minta dan Aku lindungi mereka dari apa yang mereka minta untuk berlindung darinya.’.” Nabi bersabda, “Para malaikat itu berkata, ‘Wahai Rabbku, di antara mereka ada si fulan, seorang hamba yang telah banyak melakukan dosa, sesungguhnya dia hanya lewat kemudian duduk bersama mereka.’.” Nabi mengatakan, “Maka Allah berfirman, ‘Dan kepadanya juga Aku akan ampuni. Orang-orang itu adalah sebuah kaum yang teman duduk mereka tidak akan binasa.’.” (HR. Muslim dalam Kitab ad-Dzikr wa ad-Du’a wa at-Taubah wa al-Istighfar, hadits no. 2689, lihat Syarh Muslim [8/284-285] cetakan Dar Ibn al-Haitsam)

    Hadits yang mulia ini memberikan banyak pelajaran penting bagi kita, di antaranya adalah :

    1. Hadits ini menunjukkan tentang keutamaan dzikir dan majelis dzikir serta duduk bersama orang-orang yang berdzikir (Syarh Nawawi [8/285])
    2. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan duduk bersama orang-orang soleh (Syarh Nawawi [8/285])
    3. Di dalamnya juga terkandung iman kepada para malaikat dan bahwasanya mereka itu adalah makhluk nyata bukan khayalan, dan malaikat tersebut memiliki sayap. Dan Allah tidak membutuhkan malaikat
    4. Hadits ini juga menunjukkan disyari’atkannya membuat majelis dzikir yang di dalamnya mereka mengingat Allah, memuji, dan mengagungkan-Nya, mensucikan dan memohon ampunan-Nya. Namun ini bukan berarti berdzikir secara berjama’ah yang banyak dikenal oleh orang pada jaman sekarang. Yang dimaksud adalah memperbanyak dzikir tersebut secara sendiri-sendiri di dalam majelis tersebut tanpa perlu dikomando. Hal ini berdasarkan atsar Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu yang mengingkari perbuatan orang-orang yang melakukan hal semacam itu. Dan hendaknya dzikir itu dengan suara yang pelan, tidak perlu dikeras-keraskan.
    5. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan bacaan tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir dibandingkan bacaan dzikir yang lain.
    6. Penetapan sifat Allah al-Kalam/berbicara demikian juga al-’Ilmu/mengetahui
    7. Disyari’atkannya berdoa kepada Allah agar masuk surga dan selamat dari neraka
    8. Di dalamnya juga terkandung dorongan untuk beramal saleh supaya masuk ke dalam surga
    9. Di dalamnya juga terkandung peringatan dan ancaman agar menjauhi amal-amal buruk aagar tidak terjerumus ke neraka
    10. Surga dipenuhi dengan kenikmatan sedangkan neraka dipenuhi dengan kesengsaraan
    11. Iman kepada surga dan neraka
    12. Hadits ini menunjukkan keutamaan beriman kepada perkara gaib
    13. Penetapan salah satu nama Allah yaitu Rabb
    14. Bolehnya menyeru Allah dengan lafazh Ya Rabbi (wahai Rabbku)
    15. Disyari’atkannya untuk meminta ampunan kepada Allah
    16. Hadits ini juga menunjukkan kemurahan Allah ta’ala
    17. Hadits ini menunjukkan bahwa Allah itu tinggi berada di atas langit
    18. Duduk di majelis ilmu merupakan sebab terampuninya dosa dan terkabulnya doa
    19. Dan faidah lainnya yang belum saya ketahui, wallahu a’lam.

    Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

    Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
    Artikel Muslim.Or.Id

    • saya
      Januari 25, 2012 pukul 3:33 am | #200

      17. Hadits ini menunjukkan bahwa Allah itu tinggi berada di atas langit.
      menurut anda allah tu berada di atas langit?

      Saya balik nanya ke anda, jujur saja mas jawabnya,.. anda kalau berdoa kemana tangan anda mengarahnya? ke atas atau bukan ya?
      Kemana pandangan anda ketika meminta sambil menengadahkan tangannya?

      Emang langit ada berapa lapis mas? langit yang kelihatan itu adalah langit dunia, masih ada langit lagi diatasnya, langit berlapis 7, dan diatas langit ada arsy Allah, dan Allah bersemayam diatas arsy,

      dan saya mengimani apa yang disampaikan oleh Rasulullah melalui haditsnya yg shahih,.. apakah anda tidak percaya??

      • saya
        Januari 25, 2012 pukul 3:35 am | #201

        menurut anda apakah boleh berkurban dengan kerbau atau kambing?

        saya bukan pembuat syariat, jadi ngga bisa anda bertanya kepada saya tentang bolehnya kurban dengan kambing atau kerbau,..

        saya nukilkan hadits dari Rasulullah, juga perkataan para ulama saja,

        Kurban dengan kambing, boleh, ini dalilnya:
        Seekor kambing cukup untuk qurban satu keluarga, dan pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga meskipun jumlahnya banyak atau bahkan yang sudah meninggal dunia. Sebagaimana hadits Abu Ayyub radhiyallahu’anhu yang mengatakan, ”Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.” (HR. Tirmidzi dan beliau menilainya shahih. Lihat Minhaajul Muslim, 264 dan 266).

        Kurban dengan kerbau? saya sampaikan pendapat tentang bolehnya kurban dengan kerbau,

        Para ulama’ menyamakan kerbau dengan sapi dalam berbagai hukum dan keduanya dianggap sebagai satu jenis (Mausu’ah Fiqhiyah Quwaithiyah 2/2975).

        Ada beberapa ulama yang secara tegas membolehkan berqurban dengan kerbau, dari kalangan Syafi’iyah (lih. Hasyiyah Al Bajirami) maupun dari Hanafiyah (lih. Al ‘Inayah Syarh Hidayah 14/192 dan Fathul Qodir 22/106).

        Mereka menganggap keduanya satu jenis. Jadi bisa kita katakan bahwa berkurban dengan kerbau, hukumnya sah. Wallahu a’lam.

        Apa maksud anda bertanya seperti ini?
        Apakah buat mengkiaskan antara tahlil dan tahlilan?? maaf jika salah dugaan saya,.. hanya menerka-nerka saja,.. karena anda berkomentar tidak nyambung, apa hubungannya tahlilan dengan kurban?

      • saya
        Januari 25, 2012 pukul 5:52 am | #202

        kadang saya berdoa sambil bersujud,tidak melulu tangan menghadap keatas,,

        Perhatikanlah orang yang berdoa, atau orang yang berada dalam ketakutan, kemana ia akan menengadahkan tangannya untuk berdoa dan memohon pertolongan?

        Bahkan seseorang yang tidak belajar agama pun, karena fitrohnya, akan menengadahkan tangan dan pandangan ke atas langit untuk memohon kepada Allah Ta’ala, bukan ke kiri, ke kanan, ke bawah atau yang lain.

        Kaum muslimin wajib mengimani bahwa Allah bersemayam diatas arsy nya, sebagaimana dalam ayat alquran dan hadits,
        Orang yang mengingkari ayat-ayat tentang bersemayamnya Allah diatas arsy, bisa menyebabkan pelakunya keluar dari islam, karena berarti ia telah mengingkari ayat-ayat alquran itu sendiri, resikonya berat sekali,

        Dalil Sifat Istiwa’

        Sifat istiwa’ adalah salah satu sifat Allah yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk diriNya dalam tujuh ayat Al-Quran, yaitu Surat Al-A’raf: 54, Yunus: 3, Ar-Ra’d: 2, Al-Furqan: 59, As-Sajdah: 4 dan Al-Hadid: 4, semuanya dengan lafazh:

        ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

        Artinya:

        “Kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).”

        Dan dalam Surat Thaha 5 dengan lafazh:

        الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

        Artinya:

        “Yang Maha Penyayang di atas ‘Arsy (singgasana) berada.”

        Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam juga telah menetapkan sifat ini untuk Allah dalam beberapa hadits, diantaranya:

        1. Hadits Abu Hurairah rodiallahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda:

        لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ -فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ- إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي

        “Ketika Allah menciptakan makhluk (maksudnya menciptakan jenis makhluk), Dia menuliskan di kitab-Nya (Al-Lauh Al-Mahfuzh) – dan kitab itu bersama-Nya di atas ‘Arsy (singgasana) – : “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

        2. Hadits Abu Hurairah rodiallahu’anhu bahwa Nabi shollallahu’alaihiwasallam memegang tangannya (Abu Hurairah) dan berkata:

        يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، إِنَّ اللهَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرَضِيْنَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ، ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

        “Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi serta apa-apa yang ada diantara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).” (HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra, dishahihkan Al-Albani dalam Mukhtasharul ‘Uluw)

        3. Hadits Qatadah bin An-Nu’man rodiallahu’anhu bahwa ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda:

        لَمَّا فَرَغَ اللهُ مِنْ خَلْقِهِ اسْتَوَى عَلَى عَرْشِهِ.

        “Ketika Allah selesai mencipta, Dia berada di atas ‘Arsy singgasana-Nya.” (Diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam As-Sunnah, dishahihkan oleh Ibnul Qayyim dan Adz-Dzahabi berkata: Para perawinya tsiqah)

        kalau memang anda percaya allah bersemayam di atas arsy..
        bagaimana dengan ini :

        Dan Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku (Palestina), yang akan memberiku petunjuk.” (QS. al-Shaffat : 99).

        Maksudnya Ibrahim pergi ke suatu negeri untuk menyembah Allah dan berdakwah disana

        Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. al-Hadid : 4)

        Ayat ini tidak menunjukkan bahwa dzat Allah Ta’ala berada di segala tempat. Karena jika demikian tentu konsekuensinya Allah juga berada di tempat-tempat kotor dan najis, selain itu jika Allah berada di segala tempat artinya Allah berbilang-bilang jumlahnya.

        Subhanallah, Maha Suci Allah dari semua itu.

        Maka yang benar, Allah Ta’ala Yang Maha Esa berada di atas Arsy namun dekat bersama hambanya. Jika kita mau memahami, sesungguhnya tidak ada yang bertentangan antara dua pernyataan tersebut.

        Karena kata ma’a (bersama) dalam ayat tersebut, bukanlah kebersamaan sebagaimana dekatnya makhluk dengan makhluk, karena Allah tidak serupa dengan makhluk. Dengan kata lain, jika dikatakan Allah bersama makhluk-Nya bukan berarti Allah menempel atau berada di sebelah makhluk-Nya apalagi bersatu dengan makhluk-Nya.

        Syaikh Muhammad Al-Utsaimin menjelaskan hal ini:

        “Allah bersama makhluk-Nya dalam arti mengetahui, berkuasa, mendengar, melihat, mengatur, menguasai dan makna-makna lain yang menyatakan ke-rububiyah-an Allah sambil bersemayam di atas Arsy di atas makhluk-Nya” (Qowaaidul Mutslaa, Bab Syubuhaat Wa Jawaabu ‘anha) .

        Ketika berada di dalam gua bersama Rasulullah karena dikejar kaum musyrikin, Abu Bakar radhiallahu’anhu merasa sedih sehingga Rasulullah membacakan ayat Qur’an, yang artinya:

        “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” (QS. Taubah: 40)

        Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini:

        “ ’Allah bersama kita’ yaitu dengan pertolongan-Nya, dengan bantuan-Nya dan kekuatan dari-Nya”. Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya:

        “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku qoriib (dekat). Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu” (QS. Al Baqarah: 186)

        Dalam ayat ini pun kata qoriib (dekat) tidak bisa kita bayangkan sebagaimana dekatnya makhluk dengan makhluk.

        Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini:

        “Sesungguhnya Allah Maha Menjaga dan Maha Mengetahui. Mengetahui yang samar dan tersembunyi. Mengetahui mata yang berkhianat dan hati yang ketakutan. Dan Allah juga dekat dengan hamba-Nya yang berdoa, sehingga Allah berfirman ‘Aku mengabulkan doa orang yang berdoa jika berdoa kepada-Ku’ ”.

        Kemudian dijelaskan pula: “Doa ada 2 macam, doa ibadah dan doa masalah.

        Dan kedekatan Allah ada 2 macam, dekatnya Allah dengan ilmu-Nya terhadap seluruh makhluk-Nya, dan dekatnya Allah kepada hambaNya yang berdoa untuk mengabulkan doanya” (Tafsir As Sa’di).

        Jadi, dekat di sini bukan berarti menempel atau bersebelahan dengan makhluk-Nya. Hal ini sebenarnya bisa dipahami dengan mudah.

        Dalam bahasa Indonesia pun, tatkala kita berkata ‘Budi dan Tono sangat dekat’, bukan berarti mereka berdua selalu bersama kemanapun perginya, dan bukan berarti rumah mereka bersebelahan.

        Ketika kita berjalan di malam hari, dan pada saat itu ada yang berkata:
        “kita berjalan bersama rembulan” …
        Apakah rembulan ikut berjalan disamping kita?

  116. saya
    Januari 24, 2012 pukul 8:19 am | #203

    Apakah do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh itu pahalanya akan sampai kepada orang mati? Dalam hal ini ada segolongan yang yang berkata bahwa do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh tidak sampai pahalanya kepada orang mati dengan alasan dalilnya, sebagai berikut:

    وَاَنْ لَيْسَ لِلْلاِءنْسنِ اِلاَّ مَاسَعَى

    “Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39)

    Juga hadits Nabi MUhammad SAW:

    اِذَامَاتَ ابْنُ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ

    “Apakah anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.”

    Mereka sepertinya, hanya secara letterlezk (harfiyah) memahami kedua dalil di atas, tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lain. Sehingga kesimpulan yang mereka ambil, do’a, bacaan Al-Qur’an, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang mati. Pemahaman itu bertentangan dengan banyak ayat dan hadits Rasulullah SAW beberapa di antaranya :

    وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلاِءخْوَنِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلاِءْيمن

    “Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)

    Dalam hal ini hubungan orang mu’min dengan orang mu’min tidak putus dari Dunia sampai Akherat.

    وَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنتِ

    “Dan mintalah engkau ampun (Muhammad) untuk dosamu dan dosa-dosa mu’min laki dan perempuan.” (QS Muhammad 47: 19)

    سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِى مَاتَتْ افَيَنْفَعُهَا اِنْ تَصَدَّقْتَ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ

    “Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi SAW; Ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah mati, apakah berguna bagi saya, seandainya saua bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; yaa berguna untuk ibumu.” (HR Abu Dawud).

    Dan masih banyak pula dalil-dalil yang memperkuat bahwa orang mati masih mendapat manfa’at do’a perbuatan orang lain. Ayat ke 39 Surat An-Najm di atas juga dapat diambil maksud, bahwa secara umum yang menjadi hak seseorang adalah apa yang ia kerjakan, sehingga seseorang tidak menyandarkan kepada perbuatan orang, tetapi tidak berarti menghilangkan perbuatan seseorang untuk orang lain.

    Di dalam Tafsir ath-Thobari jilid 9 juz 27 dijelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan tatkala Walid ibnu Mughirah masuk Islam diejek oleh orang musyrik, dan orang musyrik tadi berkata; “Kalau engkau kembali kepada agama kami dan memberi uang kepada kami, kami yang menanggung siksaanmu di akherat”.

    Maka Allah SWT menurunkan ayat di atas yang menunjukan bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain, bagi seseorang apa yang telah dikerjakan, bukan berarti menghilangkan pekerjaan seseorang untuk orang lain, seperti do’a kepada orang mati dan lain-lainnya.

    Dalam Tafsir ath-Thobari juga dijelaskan, dari sahabat ibnu Abbas; bahwa ayat tersebut telah di-mansukh atau digantikan hukumnya:

    عَنِ ابْنِى عَبَّاسٍ: قَوْلُهُ تَعَالى وَأَنْ لَيْسَ لِلاِءنْسنِ اِلاَّ مَا سَعَى فَأَنْزَلَ اللهُ بَعْدَ هذَا: وَالَّذِيْنَ أَمَنُوْاوَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِيَتُهُمْ بِاِءْيمنٍ أَلْحَقْنَابِهِمْ ذُرِيَتَهُمْ فَأَدْخَلَ اللهُ الأَبْنَاءَ بِصَلاَحِ اْلابَاءِاْلجَنَّةَ

    “Dari sahabat Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT Tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dikerjakan, kemudian Allah menurunkan ayat surat At-Thuur; 21. “dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, maka Allah memasukkan anak kecil ke surga karena kebaikan orang tua.”

    Syaekhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ Fatawa jilid 24, berkata: “Orang yang berkata bahwa do’a tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik, pahalanya tidak sampai kepada orang mati,” mereka itu ahli bid’ah, sebab para ulama’ telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfa’at dari do’a dan amal shaleh orang yang hidup.

    Terimakasih telah menukilkan dalil-dalil baik dari ayat alquran ataupun hadits-hadits Rasulullah, juga fatwa ulama,..

    Hendaknya baca pula penjelasan para ulama dalam hal ini, bukan penafsiran sendiri,..

    Jika anda jeli dan teliti, dari paparan diatas tidak ada sama sekali satu dalilpun yang menunjukan adanya ritual tahlilan kematian,..

    • wong_Negaradaha
      Maret 22, 2012 pukul 1:47 am | #204

      jika doa tidak bisa sampai ke ahli mayit, untuk apa doa allahumma’g fir lahu warham…….dst, dan kalo gitu orang mati gak usah dishalatin aja

      Kata siapa doa ngga sampai kepada mayat? kita mendoakan kaum muslimin kapan saja, insya Allah bermanfaat buat simayat, selama mayat tersebut bukan pelaku kesyirikan yang menyebabkan keluar dari islam,

      • oza
        April 6, 2012 pukul 11:45 pm | #205

        membaca jawaban admin pada point ini , menyadarkan diri ini bahwa pikiran dan ilmu atau pemahaman manusia adalah terbatas.

        Betul, dan janganlah mengamalkan suatu amalan itu menurut pikiran kita, atau hawa nafsu kita, tapi mengikuti dalil, dan Rasulullah sudah menjelaskannnya kepada para sahabat, jadi kita tinggal mengikuti mereka, amal ibadah itu nunggu dalil, baru kerjakan, bukan kerjakan dulu, baru nyari-nyari dalil,

        Bersyukurlah orang yang diberi ilmu dan pemahamannnya. dan bersyukurlah orang yang telah mempelajari bahasa arab dengan baik dan benar dan hati-hatilah dalam membaca buku. terimakasih

        Membaca buku boleh, tapi harus dengan bimbingan ustadz yang berakidah benar,sesuai dengan pemahaman para sahabat, agar jalan kita tidak tersesat,

  117. walid
    Januari 23, 2012 pukul 5:59 am | #206

    Anti tahlil itu biasanya mazhab wahabi

    bukan anti tahlil mas, tapi anti tahlilan

    wahabi seneng sama tahlil kok, tapi gak seneng “tahlilan”

    “tahlilan ” itu biasanya dilakukan oleh ASWAJA (ASli WAjah JAwa)

    • abuerzha
      Januari 24, 2012 pukul 2:51 am | #207

      @walid:Rasulullah dan para sahabat radhiyallaahuanhum tidak pernah dan tidak mengajarkan ritual ‘TAHLILAN’ (Tahlian lhhoo bukan mbaca Tahlil)
      berarti Rasulullah beserta shahabat ‘WAHABI’ ya mas.. :) nah lhoo..
      wah bangganya ana menjadi WAHABI krn ternyata WAHABI mengikuti dan mencontoh ibadahnya Rasulullah dan para shahabat.. :)
      ayolah mas..katanya cinta Rasul kok malah ibadahnya menyelisihi ibadahnya kanjeng Rasul juga para shahabat radhiyallahuanhum..

      Jika yg dikata-katain wahabi itu orang yang beribadah sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah kepada para sahabatnya,…saya juga bangga jika dikata-katain sebagai wahabi,

      • arie
        April 6, 2012 pukul 2:23 pm | #208

        Assalamu a’laikum warohmatullahi wabarakatuh.

        Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

        saya mau nanya pak ustadz, begini…saya dari kecil hidup dalam lingkungan kalangan Muhammadiyah, dari sekian banyak blog-blog seperti http://muslim.or.id http://firanda.com dan lain lain,

        belum lagi radio radio dakwah seperti radio rodja, salah satu nara sumbernya ada ustadz Zainal Abidin.

        nah dari sini saya banyak mendapat ilmu tentang Aqidah, yang jadi pertanyaan saya, kenapa dakwah beliau beliau para ustadz salaf banyak persamaan dalam ajaran di ormas Muhammadiyah…? seperti, tahlilan, maulid Nabi shalallahu a’laihi Wasalm, Isra’ Mi’raj, tawasul ke kuburan, zdikir betjamaah dan lain lain, ke semua itu di lingkungan saya tidak ada acara seperti itu.

        Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad dahlan tujuannya untuk mendakwahkan dakwah salaf, karena beliau tergerak dengan gerakan dakwah syaikh muhammmad bin abdul wahhab, KH Ahmad Dahlan ingin mengajarkan islam menurut pemahaman para sahabat, bukan untuk mengikuti ormas muhammadiyah,.. setelah KH Ahmad Dahlan meninggal, dan pergeseran2 terus terjadi, maka seperti yang sekarang kita lihat, seolah2 ormas muhammadiyah menjadi patokan kebenaran, … semua harus sesuati dengan HPT (himpunan putusan tarjih) bukan Alquran dan Sunnah menurut pemahaman para sahabat yang dipakai,

        Jadilah Muhammadiyah sejati, yaitu mengamalkan islam menurut pemahaman para sahabat, bukan menurut kebijakan ormas,

        apakah ustadz di ormas Muhammadiyah adalah dari salaf juga..?

        Ada kok tokoh2 muhammadiyah yang berakidah salaf, intinya sih, jika ada kebijakan ormas yang sesuai dengan alquran dan sunnah menurut pemahaman para sahabat, itu kita ambil, dan jika kebijakan ormas tersebut menyalahi atau menyelisihi alquran dan sunnah menurut pemahaman para sahabat, maka kita tolak,.. terlepas apapun ormasnya, ..
        Manhaj salaf bukanlah ormas, akan tetapi cara beragama, dan semua kaum muslimin wajib bermanhaj salaf, mengikuti dan mengamalkan islam menurut pemahaman para sahabat,.. silahkan baca surat attaubah ayat 100

        Ancaman bagi yang tidak mau mengikutinya, silahkan baca surat annisa ayat 115 ,

        oh ya pak ustadz, di mana saya bisa mendapatkan nomor telefon para uastadz Salaf seperti ustad Zainal Abidin atau yabg lainnya, agar saya bisa bertanya dan bisa memperdalam agama saya.

        bagi saya ustadz salaf sudah memberi keteduhan dalam kehidupan saya. baik cara penyampaian maupun nash nash yang dipakai sangat shahih dan ilmiah.

        Ya, pasti, sebab islam ini agama yang indah, jika dipahami dengan pemahaman para sahabat,.. dan nikmat terbesar dalam hidup ini, mengenal dakwah menurut pemahaman para sahabat, sebab ini adalah jalan menuju kebahagiaan di akherat kelak,

        mohon kalau ada nomornya kirim ke email saya

        Anda tinggal dimana? barangkali nanti bisa saya kasih tahu ustadz yang dekat dengan anda, atau tempat-tempat kajian islam yang dekat dengan tempat tinggal anda,

        Jazakallhu khairan.

        waiyyaka

        Saya juga dulu gede di muhammadiyah, dan kenal salaf tahun 2000an,

        Banyak kaum muslimin yang sudah berislam puluhan tahun dan kenal salaf di usia tuanya, serasa baru mengenal islam,.. tatacara wudhu aja salah, apalagi tatacara shalat,.. karena dulu islamnya ya ikut2an saja dengan lingkungan yang ada,.. begini kondisi kaum muslimin di indonesia, berislam mengikuti tradisi,… bukan mengikuti dalil yang shahih dengan pemahaman para sahabat,

        Baca juga BAGAIMANA MANHAJ MUHAMMADIYAH

    • abdul arifin
      Agustus 31, 2012 pukul 7:03 am | #209

      terus apa hukumnya tahlilan yang dilakukan orang NU menurut anda

      Terimakasih atas komentarnya,,

      Siapapun orangnya, apapun nama ormasnya, jika amalan ibadahnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah, maka amalan tersebut tertolak,

      Bukankah yang menjadi tauladan kita adalah Rasulullah? Bukan tokoh tertentu, Kyiai,Ajengan,Habib,Ormas,atau kelompok tertentu,. sebab tidak ada jaminan jika kita mengikuti mereka,.. tapi jaminan kebenaran hanya jika kita mengikuti rasulullah,.

      Apa yang diperintahkan oleh ormas,kyiai,habib, atau kelompok tertentu, jika itu tidak menyelisihi ajaran rasulullah, maka boleh dikerjakan, tapi niatnya itu bukan karena mengikuti anjuran tokoh atau ormas tersebut, tapi niatnya adalah karena mentaati Allah dan rasulnya,..

      • m.ferik adiyanta.
        November 24, 2012 pukul 4:13 pm | #210

        A: heh, ngapain kamu mendoakan istriku orang yang sudah meninggal, percuma … gak bakalan nyampek !
        B: Yang penting kan baik, apa mau istri bapak saya doakan yang jelek-jelek ?
        A: jangan-jangan, doakan yang baik-baik aja…
        B: Makanya jangan asal bicara pak ! Urusan ditrima atau enggak, itu allah yang ngatur, yang penting kita udah berusaha mengharapkan kebaikan untuknya dialam sana …
        Meskipun toh ga ditrima, berati kita sama aja mendoakan diri kita sendiri apabila sudah mati nanti…
        So, nyantai aja pak, semuanya akan kembali pada kita pada akhirnya…
        A: oh iya-iya… berati ga pa pa donk mendoakan orang mati ?
        B: ga papa lah, yang penting kita ikhlas…
        Justru orang yang ga pernah mendoakan yang matilah yang nanti akan kesulitan dapet ampunan dari_Nya…
        Karena mereka hanya peduli dengan dirinya yang masih hidup, dan mereka membiarkan orang yang sudah meninggal menanggung tanggung jawabnya sendiri, iya kalo dia buruk semasa hidupnya, kalo dia sering melakukan kebaikan pada diri kita ? Dan kita tak sempet untuk membalasnya ?…
        Maka sebagai rasa bersalah dan kepedulian kita terhadapnya, doalah yang hanya dapat kita perbuat, meskipun allah sudah mencatat segala amalnya, setidaknya do’a tersebut untuk meringankan siksanya.
        A: Trimakasih atas nasihatnya ya ???!
        B: sama-sama pak, jangan lupa untuk tidak ragu mendoakan seseorang, baik yang masih hidup atau yang udah meninggal, karena itu akan kembali pada yang mendoakan dan akan berpengaruh pada hidup dan mati orang yang telah menyempatkan dirinya untuk mendoakan sesema, assalmualaikum !
        A: waalikum salam…

        Wah, dialog yang bagus mas,
        Kalau saya yg ditanya, saya jawabnya gampang mas,
        Terimakasih anda telah mendoakan istri saya, tapi saya minta jangan mendoakan di hari ke 7,10,40,100 dan seterusnya,.
        Apalagi dengar ritual-ritual yg tdk ada contoh dari rasulullah, seperti tahlilan dihari ke 7,10,40,100 dan seterusnya,
        Mas, saya minta doakanlah setiap hari, disaat sujud anda, setiap shalat 5 waktu, setiap habis shalat tahajjud anda,
        Saya sangat berterimakasih, karena orang mati itu butuh doa mas,

        Tapi jangan kirimi istri saya yg sudah mati itu surat alfatihah, atau surat yasin, atau surat yang lainnya,
        Kenapa? Karena Rasulullah juga tidak pernah mengirimkan surat alfatihah kepada orang yang sudah mati, tidak pernah ngirim surat yasin atau surat lainnya kepada orang mati,. tidak pernah pula membaca quran di kuburan, jadi saya minta anda tidak melakukan hal tersebut untuk istri saya,

        Kalau mau mendoakan orang yang sudah mati jangan pelit-pelit dong mas,.. masa cuma di hari ke 7,10,40,100 dan seterusnya,..
        Setiap saat doakan, sebab itu bisa bermanfaat untuk anda juga mas,

        Jadi terimakasih atas niat baik anda, cuma saya nasehatkan, niat yang baik,caranyapun harus baik dan mengikuti contoh rasulullah, jangan buat cara-cara sendiri,..

        mungkin si B akan berkata:
        OOHHH begitu ya , saya baru tahu, terimakasih mas atas ilmunya, saya akan mendoakan setiap saat, tidak pelit lagi, ternyata niat baik itu tidaklah cukup ya,.
        terimakasih mas, saya akan beritahukan temen-temen saya yang masih demen melakukan sprti yg saya lakukan,.. saya mau tobat dah, ..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.271 pengikut lainnya.