Beranda > akidah, Belajar Nasehat, maulid nabi > Di Balik Perayaan Hari Kelahiran Nabi

Di Balik Perayaan Hari Kelahiran Nabi

Dan pada saat ummat Islam memasuki bulan Agung atau bulan Rabi’ul Awwal kelahiran manusia agung nan suci kembali terbayang, terkenanglah kita akan jasa-jasa beliau shalallahu ‘alaihi wasallam yang luar biasa. Ummat manusia menyambut gembira, dan mereka sangat amatlah patut untuk berbahagia, sebab yang diperingati adalah rahmat terbesar dari Allah Ta’ala yang dipersembahkan kepada segenap alam semesta.

Inilah dampak dari perayaan/peringatan yang hanya dilakukan setahun sekali. Hanya pada bulan itu saja kita ingat kepada Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Setelah bulan itu Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam kita lupakan dengan sepinya kembali Masjid-masjid/Surau-surau/Langgar-langgar.

Padahal kalaulah kita mau selalu mengangungkan dan mengingat beliau, maka seharusnya kita memakmurkan Masjid/Surau/Langgar setiap hari dengan mengkaji dan memperdalam isi dan kandungan Al-Qur’an/Hadist-hadits yang shahih dengan pemahaman para sahabat.

Sehingga terciptanya generasi yang kaffah dalam menegakkan kebenaran Islam. Bukan semata-mata acara seremonial, dengan menutup jalan, bahkan dengan arak-arakan yang menyusahkan pemakai jalan lain dan menghamburkan uang yang tidak sedikit, sementara sebagian besar umat Islam Indonesia hidup berada dibawah kemiskinan.

Padahal Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam, hanyalah berkata bahwa Aku berpuasa pada hari kelahiranku. Bukankah beliau bisa mengumpulkan orang di Masjid untuk membuat kegiatan pada tanggal 12 Rabiul Awal dimaksud. Akan tetapi hanya shaum pada tiap hari Senin. Ini menandakan bahwa kita harus selalu mengingat amalan kita setiap saat, bukannya setahun sekali dengan jor-joran dan setelah itu hanya tinggal kenangan dan pada umumnya pada acara Maulidan tersebut yang terjadi bukannya kegiatan menjadi tuntunan, akan tetapi hanya sebagai tontonan belaka. Naudzubillahi Tsumma Naudzubillahi Min Dzalik.

Dan jelas acara merayakan Ulang Tahun hanya mengikuti cara-cara Nasrani.

Lihat saja sekarang Ceramah Agama dibarengi dengan acara nyanyian-nyanyian, walaupun katanya nyanyian itu berbau Islam.

Akan tetapi dalam beberapa Hadist Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam melarang kita bernyanyi dalam bentuk apapun.

Inilah bukti bahwa pengaruh Nasrani dan Hindu sudah melekat ditubuh umat Islam. Ditambah lagi banyaknya orang Islam yang tidak suka Islam, sehingga walaupun kita di Indonesia ini mayoritas, akan tetapi bagaikan buih di Samudra atau bagaikan bebek-bebek yang mudah diatur oleh penggembalanya.

Dan ketahuilah dalam Surah Al-Baqarah ayat 120 Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. ( surat al baqarah : 120 )

Tak akan suka orang Nasrani dan Yahudi hingga kita mengikuti cara-cara dan ajaran mereka. Mereka berkata kalian boleh menjalankan kegiatan keagamaan kalian tapi cara-caranya sepertiku.

Semisal boleh buat acara pengajian, tapi ditambah nyanyian dan musik. Boleh berjilbab, tapi yang ketat dan dengan model-model yang merangsang (ala Selebriti).

Boleh shalat, tapi tonton dulu Siaran langsung berita-berita terbaik yang pada umumnya disiarkan langsung dan dipandu oleh penyiar-penyiar yang mengaku beragama Islam dan dihadiri pula oleh para tokoh yang bukan saja beragama Islam, akan tetapi sebagai tokoh di atas nama lembaga Islam (PERHATIKAN SAAT SESAAT SUDAH AZAN MAGHRIB, Diberbagai stasiun TV Full dengan siaran berita siaran langsung dan ada wawancara dengan tokoh Islam.

Bahkan sesudah dikumandangkannya azan Subuh, masih ada Siaran Langsung Ceramah Subuh diberbagai Stasiun TV (apalagi di Bulan Ramadhan dengan berbagai Siaran Langsung yang dipandu dan dihadiri oleh orang yang mengaku beragama Islam).

Bahkan pada siang hari Jum’at mereka buat film-film yang disukai para penonton dengan tujuan agar kita tak berangkat ke Mesjid. Dan banyak Stasiun TV yang juga buat film/sinetron pada saat Maghrib, sehingga membuat kita lalai untuk melaksanakan Shalat. Akan tetapi semua tokoh-tokoh yang katanya berjuang atas nama Islam bungkam seribu bahasa.

Agama hanya dijadikan alat mencari uang dan kekuasaan.

APALAGI ADA KELOMPOK ISLAM LIBERAL YANG BENAR-BENAR MERUSAK IMAN DAN AQIDAH, BAHKAN MERUSAK AKHLAK UMAT ISLAM DENGAN PENYIMPANGANNYA SECARA TERANG-TERANGAN KEPADA AL-QUR’AN DAN HADIST RASULLULLAH shalallahu ‘alaihi wasallam

Inikah yang diajarkan Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam??

Seperti seseorang diperbolehkan menabuh rebana dihadapan Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam, dikarenakan nazarnya. Jika bukan karena nazar, maka Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam melarangnya, : seperti tertera dibawah ini, Bahkan ada suatu hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Abu Daud, dan Ahmad diceritakan, bahwa tatkala Raulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tiba dari sebuah peperangan, seorang budak wanita berkulit hitam datang menemui beliau membawa rebana sembari berkata, “Duhai Rasulullah, aku telah bernazar, jika Allah Ta’ala mengembalikan dirimu dalam keadaan selamat, aku akan menabuh rebana dan menyanyi dihadapanmu,” maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Jika engkau telah bernazar, tunaikanlah nazarmu, Jika tidak, jangan.”.

Dan tentang ziarah kubur, yang kami tahu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam hanya memperbolehkan perjalanan jauh (musafir) untuk mengunjungi 3 tempat, yakni Masjidil Haram; Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha.

Dan kami belum menemukan Hadist (baik yang dhaif apalagi yang shahih), menerangkan bahwa Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah menyengaja berziarah ke kuburan Orangtua beliau, dan Sanak Keluarga lainnya, juga Siti Khadijah dan para Sahabat yang lebih dahulu wafat ketika Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam masih hidup.

Bahkan Khalifaturraasyidin juga tidak ada riwayatnya menyengaja bepergian untuk berziarah ke makam Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Misalkan Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu karena berada di Makkah lalu mengajak sahabat-sahabat lainnya untuk berziarah ke makam Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam di Madinah. (JIKA ADA HADISTNYA DAN RIWAYATNYA MOHON KAMI DIBERITAHU).

Anehnya dizaman kini berziarah itu berkali-kali, bahkan menjadi kewajiban setahun sekali.

Dan mendatangi kuburan-kuburan tertentu seperti ke Cirebon, Tuban, Banten, Gersik, Mbah Priuk dan lain-lain untuk meminta barakah dan yang aneh-aneh lainnya dilestarikan dan bahkan jadi ajang bisnis para Ustadz/ah dan sekelasnya.

Dan dibilang ini sebagai tradisi yang Islami???

Bukankah ini bid’ah yang benar-benar sesat, akan tetapi kata mereka ini bid’ah hasanah dengan berbagai dalil yang dhaif.

Tidak ada tidak ada satu hadistpun dari Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang minta agar kuburannya diziarahi, akan tetapi ada beberapa orang yang dijuluki sebagai Ulama kita, sebelum ajal berpesan agar kuburannya untuk sering diziarahi oleh para murid-muridnya dan umat Islam lainnya.

Aneh bin aneh…

Bahkan para pelaku bid’ah ada yang mengadakan pengajian berhari-hari di rumah dan kuburan.

Yang jelas-jelas dalil Al-Qur’an dan Hadistnya kami belum pernah baca (JIKA ADA MOHON KAMI DIBERITAHU, MUNGKIN KAMI BELUM MENEMUKANNYA, maklum kami masih dalam taraf belajar).

Dan menurut pendapat kami pengajian dikuburan dan dirumah itu hanyalah semata akal-akalan para Ustadz kala itu yang malas bekerja keras dikarenakan menganggap dirinya kaum Priyayi, sehingga hadist yang berbunyi :

عن أنس رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : (العبد إذا وضع في قبره وتولي وذهب أصحابه، حتى إنه ليسمع قرع نعالهم، أتاه ملكان….)

Dari Anas radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya beliau bersabda : “Seorang hamba (yang mati) baru saja diletakkan dikuburnya dan ditinggalkan oleh keluarganya, hingga ia ia mendengar langkah kaki sandal mereka (yang sedang beranjak pulang), yang kemudian dua orang malaikat mendatanginya…” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1338, Muslim no. 2870, Abu Dawud no. 3231, dan yang lainnya].

Maka agar malaikat tak kunjung datang, mayyit harus ditunggu dan dingajiin supaya dia dapat tuntunan dalam menjawab pertanyaan malaikat.

Dan untuk itu keluarga mayyit harus mengeluarkan dana untuk biaya dimaksud, maka selamatlah para kaum Priyayi yang malas bekerja itu untuk makan dan minumnya selama 40 hari, dengan harapan hari-hari berikutnya ada yang meninggal lagi, maka amanlah perut dan kantongnya.

Dan pada setiap saya melihat acara tersebut, sang Ustadz selalu berkata bahwa kegiatan pengajian, tahlil dan talqin ini bukti nyata seorang anak soleh yang berbakti pada Orangtuanya dengan menyebutkan berbagai dalil yang kita tak tahu keshahihannya sebagai alat rujukan untuk menyatakan itu sudah sesuai dengan ajaran dan tuntunanNya.

Padahal untuk acara tersebut, anak terpaksa menjual sebagian tanah peninggalan orangtuanya atau utang sana sini demi menjaga tradisi yang dibuat-buat oleh kaum bid’ah.

Dan tinggallah keluarga yang ditinggal kian terpuruk, padahal sudah seharusnya kewajiban kaum muslimin untuk melindungi para anak yatim.

Akan tetapi yang terjadi para Ustadz dan sejenisnya itu bergembira/berbahagia di atas penderitaan orang lain.

Kita ambil lagi sebagian dari kalimat :

Dan hal yang saya paparkan diatas , yaitu tentang perbuatan Umar radhiyallahu ‘anhu membuat sholat tarawih berjama’ah, tidak dikatakan sebagai bid’ah,

نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

“Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” (HR. Bukhari no. 2010)

Pembagian bid’ah semacam ini membuat sebagian orang rancu dan salah paham. Akhirnya sebagian orang mengatakan bahwa bid’ah itu ada yang baik (bid’ah hasanah) dan ada yang tercela (bid’ah sayyi’ah).

Sehingga untuk sebagian perkara bid’ah seperti merayakan maulid Nabi atau shalat nisfu Sya’ban yang tidak ada dalilnya atau pendalilannya kurang tepat, mereka membela bid’ah mereka ini dengan mengatakan ‘Ini kan bid’ah yang baik (bid’ah hasanah)’.

Padahal kalau kita melihat kembali dalil-dalil yang telah disebutkan di atas baik dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun perkataan sahabat,  semua riwayat yang ada menunjukkan bahwa bid’ah itu tercela dan sesat.

Oleh karena itu, perlu sekali pembaca sekalian mengetahui sedikit kerancuan ini dan jawabannya agar dapat mengetahui hakikat bid’ah yang sebenarnya.

Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa ‘Umar bin Al Khaththab pernah menyatakan bahwa shalat tarawih yang dia hidupkan adalah “sebaik-baik bid’ah”? Dari perkataan beliau ini menurut mereka, ada bid’ah hasanah (yang baik).

Sanggahan: Ingatlah para sahabat tidak mungkin melakukan bid’ah. Yang dimaksud dengan bid’ah dalam perkataan ‘Umar adalah bid’ah secara bahasa Arab yang berarti sesuatu yang baru.

Jika ada yang masih ngotot bahwa tidak semua bid’ah sesat, ada di sana bid’ah yang baik (hasanah), maka cukup kami katakan: Kalau ‘Umar menghidupkan shalat tarawih dan beliau katakan sebagai bid’ah, hal ini ada dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melaksanakan shalat tarawih di awal-awal Ramadhan. Namun karena takut amalan tersebut dianggap wajib, maka beliau tidak menunaikannya lagi. Jadi, intinya ‘Umar memiliki dasar dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sekarang, apa maulid Nabi memiliki dasar dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana shalat tarawih yang dihidupkan oleh ‘Umar[?] Jawabannya tidak sama sekali. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah merayakan hari kelahirannya, begitu pula para sahabat, tabi’in, dan para imam madzhab tidak ada yang merayakannya. Sehingga maulid tidak bisa kita sebut bid’ah hasanah. Yang lebih tepat maulid adalah bid’ah madzmumah (tercela) sebagaimana yang dikatakan oleh Asy Syuqairiy dan Al Fakihaniy yang telah kami sebutkan dalam tulisan sebelumnya.

Wahai Saudaraku, setahu kita bahwa Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam juga sudah pernah menjadi Imam Shalat Tarawih, akan tetapi hanya 3 malam saja beliau lakukan. Dan selanjutnya di Imami oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Dengan alasan takut kalau shalat tarawih akan dianggap sebagai shalat yang diwajibkan. Ini berarti bahwa pada masa Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam hidup, shalat Tarawih sudah dilaksanakan berjama’ah. Dan ada riwayat dari Sahabat radhiyallahu ‘anhum :

“Kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari. Kemudian beliau mendatangi kami lalu memberi nasehat yang begitu menyentuh, yang membuat air mata ini bercucuran, dan membuat hati ini bergemetar (takut).” Lalu ada yang mengatakan,

يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا

“Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasehat perpisahan. Lalu apa yang engkau akan wasiatkan pada kami?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kalian adalah budak Habsyi. Karena barangsiapa yang hidup di antara kalian setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, kalian wajib berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud dan Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)

Jadi dimana letak bid’ahnya shalat tarawih??

Karena itu juga pernah dilakukan ketika Rasulullah hidup, terlebih lagi para sahabat sudah mendapat rekomendasi melalui haditsnya, “Oleh karena itu, kalian wajib berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. “

Ini namanya bukan bid’ah dikarenakan adanya pernyataan Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam…

Wahai Saudaraku, jikalah kita bilang bahwa kita sangat cinta kepada Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan kita sangat menginginkan Surganya ALLAH, maka sudah barang tentu para Sahabat, Tabi’in, Tabit-Tabi’in, Imam yang empat serta Imam yang hidup dizaman mereka adalah orang yang sangat mencintai Allah dan orang-orang yang mentaati apa yang disampaikan oleh RasulNya, ketimbang kita ataupun para Ulama/Ustadz dan sejenisnya yang hidup jauh setelah zaman mereka.

Dan apalagi para Sahabat yang hidup dizaman Rasullullah dan Khalifaturraasyidin sudah barang tentu akan banyak melakukan Ibadah dan kegiatan yang menurut mereka amat baik, dikarenakan Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam akan langsung mengomentari apakah yang mereka perbuat itu sudah sesuai ketentuan Allah dan RasulNya atau tidak. Dan banyak Hadist lahir merupakan kegiatan para Sahabat yang didiamkan, dikoreksi atau tidak diperbolehkan oleh Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam setelah mendapat petunjuk dari Allah ta’ala.

Akan tetapi para Ulama/Ustadz yang hidup setelah abad kelima Hijrahlah yang banyak memberi dalil dan ajaran-ajaran tambahan dalam bentuk bidah dengan diberi bungkus sebagai bid’ah hasanah.

Dimana pada masa itu kejahilan dan kemunafikan serta berbagai paham sesat sudah kian merajalela dan pemerintah serta penguasa yang menjalankan dan berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadist Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam kian langka, dimana kekuasaan dan uang sudah menjadi kiblat dalam kehidupan dunia.

Lalu timbullah berbagai pendapat untuk melaksanakan perintah agama secara instant dan gampang dengan pahala yang jumlahnya belipat-lipat sehingga lahirlah berbagai fatwa ini baik dan itu baik.

Padahal baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah dan RasulNya, sesuai dengan Firman Allah ta’ala dalam Surat Al-Kahfi ayat 103, 104 dan 105 yang intinya menyatakan ORANG MERUGI ADALAH ORANG YANG TELAH SIA-SIA BERBUAT BAIK MENURUT VERSINYA SENDIRI DAN PERBUATAN BAIK ITU TIDAK SESUAI AYAT-AYAT ALLAH SWT, SEHINGGA HAPUSLAH AMALAN MEREKA.

Karena banyak sekarang amalan-amalan kita yang tidak ketemu Hadist dan dasarnya di Al-Qur’an, kecuali semata-mata hanya ITU KAN BAIK, INI KAN BAIK.

Yang kita tahu, lebih gampang menyadarkan orang berbuat maksiat ketimbang orang berbuat bid’ah.

Karena orang yang berbuat maksiat, Dia begitu yakin bahwa yang dia buat adalah perbuatan salah, akan tetapi dia sudah keenakan mengerjakannya.

Dan orang yang berbuat BID’AH tidak menyadari perbuatannya itu salah, karena Ia hanya beralasan Inikan sudah dijalankan dari Ulama-ulama/Ustadz/Orangtua-orangtua kita terdahulu dan toh ini baik untuk nambahin pahala, sementara Nash Al-Qur’an dan Hadist tak ada yang mendukung.

Demikian saja dulu dari Saya hamba yang dhaif, mudah-mudahan tanggapan ini dapat didiskusikan, sehingga kita benar-benar menjadi penghikut setia Rasullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan termasuk satu golongan (Ahlus Sunnah) yang terbebas dari kesesatan.

Menjadi orang yang mengikuti jalan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya (salafush sholih) inilah yang selamat dari neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan; satu golongan masuk surga, 70 golongan masuk neraka. Nashrani terpecah menjadi 72 golongan; satu golongan masuk surga, 71 golongan masuk neraka. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, umatku akan terpecah menjadi 73 golongan; satu golongan masuk surga dan 72 golongan masuk neraka. Ada sahabat yang bertanya,’Wahai Rasulullah! Siapa mereka yang masuk surga itu?’ Beliau menjawab, ‘Mereka adalah Al-Jama’ah‘.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud, dishahihkan Syaikh Al Albani). Dalam riwayat lain para sahabat bertanya,’Siapakah mereka wahai Rasulullah?‘ Beliau menjawab,‘Orang yang mengikuti jalan hidupku dan para sahabatku.‘ (HR. Tirmidzi)

Dan banyak golongan yang mengaku sebagai Ahlussunnah Waljama’ah, akan tetapi kurafat, syirik dan bid’ah masih dijalankan.

Wallahu a’lam…

Mudah-mudahan bermanfaat

Sumber tulisan diambil dari komentar blog ini ( Hidayat ), dengan beberapa tambahan dan koreksi

  1. Yoyok
    Januari 19, 2012 pukul 11:09 pm | #1

    Assalamualaikum WR Wb,

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Kalau toh peringatan Maulid Nabi diisi dengan ceramah agama di masjid, ini menandakan bahwa umat sekarang mendengarkan ceramah hanya pada acara itu saja. padahal “ngaji: tau mencari ilmu itu harus dilakukan setiap saat.

    Sebenarnya bukan isi dari peringatan maulid itu yang lebih pokok sih, tapi ritual tahunannya, trus dihubung-hubungkan dengan kematian Rasulullah, jadilah ritual tersebut seperti hari raya,
    kalau mau ngaji sih tinggal buat aja acara pengajian, terlepas dari hari meninggalnya rasulullah atau siapapun,

    Satu yang pingin saya dapatkan ustad, tolong jelaskan mengenai Barzanji, asal muasal dan artinya. Kata orang ada isinya yang menyesatkan.

    Tentang barzanji, silahkan baca disini

    Atau bisa baca disini
    Atau dengarkan audionya disini

    Syukron, Wassalamualaikum wr.wb

    Afwan, wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 54 pengikut lainnya.