Beranda > ahlul bait, syiah, wahabi > DIALOG ASWAJA – SYIAH vs WAHABI tentang BID’AH HASANAH

DIALOG ASWAJA – SYIAH vs WAHABI tentang BID’AH HASANAH


Aswaja : Hari ini 12 rabiul awwal sungguh aku sangat bahagia loh….

Syiah
: Emang lu kenape?, kemarin-kemarin kurang bahagia?

Aswaja : Kagak gitu bro, hari ini gua ngerayain hari maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Gua sangat gembira dengan hari lahirnya nabi

Syi’ah
: Kalau gua …..gua sangat sedih pas hari 10 Muharram lalu….hik hik hik…jadi nangis gua ngingatnya…hik

Aswaja : Emang kenapa lu nangis??!

Syi’ah
: Soalnya hari itu hari terbunuhnya Husain bin Ali bin Abi Tholib, kami kerukunan warga syi’ah memperingati hari tersebut dengan hari ratapan. Bahkan sebagian kami sampai memukulkan pedang di tubuh kami sehingga mengeluarkan darah.

Aswaja : Loh…lu lu kok pada ngeri buanget sih…sampai acara melukai tubuh segala. Emang itu disyari’atkan?, setahu ku aswaja tidak melakukannya

Syi’ah : Jelas sangat disyari’atkan…., bukankah kalian keluarga aswaja juga sangat cinta kepada Husain?, apakah kalian tidak bersedih dengan terbunuhnya Husain secara tragis pada tanggal 10 Muharrom?

Aswaja : Iya ….kami jelas sangat cinta pada Husain…tapikan acara seperti yang kalian lakukan itu tidak ada syari’atnya??

Syi’ah : Justru sangat disyari’atkan sebagai bentuk bela sungkawa dan turut berduka cita atas kematian Husain. Sekali lagi…kalau kalian mengaku cinta kepada Husain mestinya lu lu pade semuanya juga ikut berpartisipasi meramaikan acara kami. Kalau kalian tidak ikut berpartisipasi maka pengakuan kalian mencintai Husain hanyalah OMONG KOSONG BELAKA !!!!

Aswaja : Kok bisa begitu???, Kan Para sahabat tidak pernah melakukannya?, kan Nabi tidak pernah menganjurkannya??, kan tidak pernah dilakukan oleh orang-orang sholeh terdahulu !!!

Syi’ah : Meskipun tidak pernah dicontohkan Nabi tapi kan yang penting baik?? Bisa menambah kecintaan kita kepada cucu Nabi yaitu Husain !!!. Loh kalian juga kenapa ngadain acara mauludan? Wong Nabi juga tidak pernah ngadain mauludan?

Aswaja : Memang sih…tapi kan itu baik sekali?, acara mauludan kan bisa menambahkan kecintaan kepada Nabi?

Syi’ah : Lah sama saja dengan kita-kita dong….wong kita juga ngadain acara ratapan pada 10 Muharrom kan juga menambahkan rasa cinta kepada Husain

Aswaja : Tapi cara kalian buruk, pake acara mukul-mukul badan segala?, sampai darah lagi?

Syi’ah : loh…buruk itu menurut lu…menurut gua sangat baik…justru dengan seperti itu semakin mendalam kecintaan kami kepada Husain…semakin kami merasakan derita yang dirasakan Husain dan keluarganya.

Loh kalian juga merayakan maulud Nabi, kan itu buruk, karena harus mengeluarkan biaya, kadang campur laki-laki perempuan, dll?

Aswaja : loh itu buruk menurut lu pade, tapi menurut kami justru itu sebagai indikasi dan barometer rasa kecintaan kepada kanjeng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syi’ah : Wah kita kagak usah ribut deh…kita ternyata sama loh….

Aswaja : Sama apaan?

Syi’ah : Banyak kesamaan kita :

-         Pertama : Acara mauludan dan acara ratapan 10 Muharam sama-sama tidak ada contohnya dari Nabi.

-         Kedua : Acara perayaan ini sama-sama dibangun karena rasa cinta kepada Nabi atau kepada Husain.

-         Ketiga : acara ini sama-sama mendatangkan kebaikan, meskipun kebaikannya sih bersifat relatif. Yang penting sih baik menurut masing-masing yang merayakannya.

Aswaja : Betul betul betul…tapi….tuh orang-orang wahabi ngatain acara-acara kita ini acara bid’ah??

Syi’ah
: Biarin aja mereka-mereka kaum wahabi…toh bid’ah kita kan bid’ah hasanah

Aswaja : Betul…betul…betul…ternyata kita sepakat dalam perkara yang sangat penting, yaitu semua perkara yang kita anggap baik (meskipun dianggap jelek oleh orang/pihak) lain, serta meskipun tidak pernah dilakukan dan dianjurkan oleh Nabi maka itu adalah bid’ah hasanah sangat dianjurkan.

WAHABI : Wahai akhi aswaja…tidakkah lu tahu bahwasanya mauludan itu mengakibatkan banyak kemudhorotan??!, diantaranya :

-         Pertama : Tanggal kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih diperselisihkan, akan tetapi hampir merupakan kesepakatan para ulama bahwasanya Nabi meninggal pada tanggal 12 Rabi’ul awwal. Oleh karenanya pada hekekatnya perayaan dan bersenang-senang pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal merupakan perayaan dan bersenang-senang dengan kematian Nabi

-         Kedua : Acara perayaan kelahiran Nabi pada hakekatnya tasyabbuh (meniru-niru) perayaan hari kelahiran Nabi Isa yang dilakukan oleh kaum Nashrani. Padahal Nabi bersabda مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum maka ia termasuk kaum tersebut”

-         Ketiga : Kelaziman dari diperbolehkannya merayakan hari kelahiran Nabi adalah diperbolehkan pula merayakan hari kelahiran Nabi-Nabi yang lain, diantaranya merayakan hari kelahiran Nabi Isa. Jika perkaranya demikian maka sangat dianjurkan bahkan disunnahkan bagi kaum muslimin untuk turut merayakan hari natal bersama kaum Nashrani

-         Keempat : Bukankah dalam perayaan maulid Nabi terkadang terdapat kemungkaran, seperti ikhtilat antara para wanita dan lelaki?, bahkan di sebagian Negara dilaksanakan acara joget dengan menggunakan music?, bahkan juga dalam sebagian acara maulid ada nilai khurofatnya dimana sebagian orang meyakini bahwa Nabi ikut hadir dalam acara tersebut, sehingga ada acara berdiri menyambut kedatangan Nabi. Bahkan dalam sebagian acara maulid dilantunkan syai’ir-sya’ir pujian kepada Nabi yang terkadang berlebih-lebihan dan mengandung unsur kesyirikan

-         Kelima : Acara perayaan maulid Nabi ini dijadikan sarana oleh para pelaku maksiat untuk menunjukkan kecintaan mereka kepada Nabi. Sehingga tidak jarang acara perayaan maulid Nabi didukung oleh para artis –yang suka membuka aurot mereka-, dan juga dihadiri oleh para pelaku maksiat. Karena mereka menemukan sarana untuk menunjukkan rasa cinta mereka kepada Nabi yang sesuai dengan selera mereka. Akhirnya sunnah-sunnah Nabi yang asli yang prakteknya merupakan bukti kecintaan yang hakiki kepada Nabipun ditinggalkan oleh mereka. Jika diadakan perayaan maulid Nabi di malam hari maka pada pagi harinya tatkala sholat subuh maka mesjidpun sepi. Hal ini mirip dengan perayaan isroo mi’rooj yang dilakukan dalam rangka mengingat kembali hikmah dari isroo mi’rooj Nabi adalah untuk menerima perintah sholat lima waktu. Akan tetapi kenyataannya betapa banyak orang yang melaksanakan perayaan isroo’ mi’rooj yang tidak mengagungkan sholat lima waktu, bahkan tidak sholat sama sekali. Demikian juga perayaan nuzuulul qur’an adalah untuk memperingati hari turunnya Al-Qur’aan akan tetapi kenyataannya betapa banyak orang yang semangat melakukan acara nuzulul qur’an ternyata tidak perhatian dengan Al-Qur’an, tidak berusaha menghapal Al-Qur’an, bahkan yang dihafalkan adalah lagu-lagu dan musik-musik yang merupakan seruling syaitan

-         Keenam : Kelaziman dari dibolehkannya perayaan maulid Nabi maka berarti dibolehkan juga perayaan-perayaan yang lain seperti perayaan isroo’ mi’rooj, perayaan nuzuulul qur’aan dan yang lainnya. Dan hal ini tentu akan membuka peluang untuk merayakan acara-acara yang lain, seperti perayaan hari perang badr, acara memperingati hari perang Uhud, perang Khondaq, acara memperingati Hijrohnya Nabi, acara memperingati hari Fathu Mekah, acara memperingati hari dibangunnya mesjid Quba, dan acara-acara peringatan yang lainnya. Hal ini tentu akan sangat menyibukkan kaum muslimin. (lihat kembali : http://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/92-semua-bidah-adalah-kesesatan)

Adapun anda akhi syi’ah tahukah anda bahwa perbuatan anda meratapi hari kematian Husain itu mengandung kemudhorotan, diantaranya :

-         Pertama : Hal ini bertentangan dengan al-quran dan hadits-hadits Nabi yang memerintahkan kita untuk bersabar tatkala menghadapi musibah dan menyerahkan semuanya kepada Allah.

-         Kedua : Juga bertentangan dengan hadits-hadits yang melarang merobek-robek baju dan menampar-nampar pipi tatkala terjadi musibah

-         Ketiga : Acara seperti ini bertentangan dengan sunnah Nabi yang menganjurkan kita untuk berpuasa pada tanggal 10 muharrom

-         Keempat : Metode seperti ini menjadikan kaum non muslim semakin benci dan antipati kepada Islam jika Islam modelnya seperti ini

Syi’ah & Aswaja (kompak) : Waaah itu buruk menurut kamu wahai bang wahabi…menurut kami kerukunan warga aswaja mauludan itu baik dan menurut syi’ah acara 10 muharrom itu baik

Wahabi : Kalau begitu yang menjadikan patokan untuk menentukan baik buruknya perkara siapa dong?. Bukankah aswaja memandang acara memukul-mukul tubuh pada 10 muharrom itu merupakan perkara yang buruk.

Syi’ah
: Yaaa… masing-masing berjalan menurut perasaannya !!!

Wahabi : Kalau tidak ada yang menjadi patokan untuk menentukan kebaikan maka seluruh kelompok sesat dalam barisan kaum muslimin harus kita terima, karena setiap kelompok memandang baik bid’ah yang mereka ada-adakan. Thoriqoh At-Tijaaniyah, memandang thoriqoh merekalah yang terbaik…, toriqoh As-Syadziliyah Al-Qoodiriyah yang beribadah sambil joget juga memandang bid’ah mereka yang terbaik? (lihat : , wihdatul wujud memandang aqidah merekalah yang terbaik…, bahkan Ahmadiah memandang bid’ah mereka di atas kebaikan.

Terus kaum wahabi yang kalian anggap sesat juga memandang apa yang mereka dakwahkan (mengembalikan kaum muslimin kepada pemahaman para sahabat) adalah yang terbaik. Jika masing berhak menentukan penilaian baik maka semua kelompok dan sekte agama adalah baik. Padahal kelompok-kelompok tersebut saling berseteru. Maka membenarkan semua bid’ah hasanah mereka melazimkan berkumpulnya dua hal yang saling bertentangan…. Seperti berkumpulnya timur dan barat, utara dan selatan !!.

Bukankah Aswaja menganggap sikap syi’ah yang mengkafirkan para sahabat merupakan bid’ah yang buruk??!!

Aswaja : Yaa itu benar…mengkafirkan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan para sahabat adalah bid’ah yang buruk dan tercela..

Syi’ah
: Tunggu dulu akhi aswaja…itu sih menurutmu, adapun menurut kami kerukunan warga Syi’ah maka mengkafirkan para sahabat merupakan bid’ah hasanah, karena mengkafirkan para sahabat Nabi merupakan bentuk pembelaan dan kecintaan kepada Ahlul Bait, pembelaan kepada Ali bin Abi Tholib dan keturunannya yang berhak memegang tampuk kepemimpinan. Hanya saja Abu Bakar dan Umar tamak dan rakus terhadap kepemimpinan dan telah berkhianat terhadap washiat Rasulullah !!!.

Syi’ah : akhi aswaja…saya harap anda menghormati pendapat dan aqidah kami kerukunan warga syi’ah yang mengkafirkan para sahabat. Bukankah para pimpinan kalian juga toleransi dengan aqidah kami ini??. Jangankan toleransi terhadap kami warga syi’ah…bukankah para pemimpin kalian juga toleransi terhadap kaum nasharani yang merayakan hari kelahiran Tuhan mereka??, jangan lupa ini akhi aswaja !!!

Aswaja : iya..iyaa..betul..betul…hampir-hampir aku terhasut oleh tipuan si bang wahabi !!! salam sejahtera wahai akhi syi’ah.

Wahabi : Akhi aswaja…jangan lupa mereka warga syi’ah juga memiliki perayaan-perayaan yang lain, mereka juga merayakan hari meninggalnya ibu kita Aisyah radhiallahu ‘anhaa dengan menyatakan bahwa Aisyah seorang pezina…Aisyah masuk neraka…??  lihat : , apakah engkau tidak marah dengan sikap mereka itu??. Jangan lupa juga akhi aswaja…mereka kaum syiah juga merayakan hari meninggalnya Umar bin Al-Khottoob radhiallahu ‘anhu, mereka gembira dengan wafatnya Umar, bahkan mereka memuja-muja Abu Lu’lu’ yang telah membunuh Umar? (lihat : http://www.alserdaab.org/articles.aspx?article_no=732), apakah engkau sebagai anggota kerukunan warga aswaja masih menghormati pendapat syi’ah??

Aswaja : Wah…gua bingung jadinya…

Syi’ah
: Akhi Aswaja…jangan kau terpedaya dengan igauan bang wahabi…, perayaan-perayaan tersebut menurut kami adalah bid’ah hasanah. Ingatlah kesamaan kita banyak…ingat kita harus toleransi…ingat bahwa wahabi adalah musuh kita bersama !!!!

Aswaja : Ya..ya.. akhi syi’ah..bagaimanapun kita sama…dan banyak samanya…terutama dalam masalah bid’ah hasanah…. Syukron atas peringatannya….kita harus bersepakat untuk memusuhi wahabi…sekali lagi kita harus bersepakat. Jangan sampai kita termakan hasutan para wahabi !!!

Wahabi : Yaa sudah kalau begitu….semoga Allah memberi hidayah kepada kalian suatu hari. Aaamiiin

sumber: http://www.firanda.com

  1. September 26, 2012 pukul 6:40 am

    GERAKAN WAHABI WAJIB DI INGATKAN AGAR BERTOBAT :

    Jazakallahu khairan atas link videonya
    Ini video yang sangat bagus, silahkan lihat dan download buat mencerahkan kita semua

  2. iger
    Agustus 18, 2012 pukul 6:38 am

    kenapa banyak yg benci pada wahabi?

    sbenernya apa itu wahabi?

    ormas kah?
    golongan kah?
    kelompok kah?

    Sebaiknya anda baca, sejarah wahabi, siapa pencetus istilah wahhabi yang pertama kali, Adakah wahabi yang sesat, silahkan tinggal klik saja

  3. adit
    Juli 8, 2012 pukul 10:34 am

    مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

    Benarkah hadits ini bermakna “ Barangsiapa yang berbuat hal baru yang tidak ada perintahnya, maka ia tertolak “

    Simak pembahasannya di sini pakai ilmu (bukan pakai nafsu)…

    Ditinjau dari sisi ilmu lughah :

    – I’rab nahwunya :

    من : adalahah isim syart wa jazm mabniyyun ‘alas sukun fi mahalli raf’in mubtada’ wa khabaruhu aljumlatus syartiyyah ba’dahu.

    احدث : Fi’il madhi mabniyyun ‘alal fathah fii mahalli jazmin fi’lu syarth wal fa’il mustatir jawazan taqdiruhu huwa.

    في : Harfu jar

    امرنا : majrurun bi fii wa lamatu jarrihi alkasrah, wa naa dhomirun muttashil mabnyyyun ‘alas sukun fii mahlli jarring mudhoofun ilaihi

    هذا : isim isyarah mabniyyun alas sukun fi mahalli jarrin sifatun liamrin

    ما : isim mabniy fii mahhli nashbin maf’ul bih

    ليس : Fi’il madhi naqish yarfa’ul isma wa yanshbul khabar, wa ismuha dhamir mustatir jawazan taqdiruhu huwa

    منه : min harfu jarrin wa hu dhamir muttashil mabniyyun alad dhammi wahuwa littab’iidh

    فهو : al-faa jawab syart. Huwa dhamir muttashil mabniyyun alal fathah fi mahalli raf’in mubtada

    رد : khabar mubtada marfuu’un wa alamatu raf’ihi dhammatun dzhaahiratun fi aakhirihi. Wa umlatul mubtada wa khabaruhu fi mahalli jazmin jawabus syarth.

    Dari uraian sisi nahwunya maka bermakna :” Barangsiapa yang melakukan perkara baru dalam urusan kami yaitu urusan syare’at kami yang bukan termasuk darinya, tidak sesuai dengan al-Quran dan hadits, maka perkara baru itu ditolak “

    MAS adit yang pinter, lucu sekali, emangnya Rasulullah menjelaskan hadits tersebut seperti anda menjelaskan??
    Jaman Rasulullah tidak ada ilmu nahwu mas, ngga ada ini mubtada, ini khabar,
    Ilmu bahasa arab ada di jaman Ali bin Abi thalib,
    Jadi sangat lucu, anda mengatakan menjelaskan makna hadits dengan ilmu, bukan dengan nafsu,.. kok ada, hadits dijelaskan dengan ilmu nahwu, emang rasulullah ketika menjelaskan dalil tersebut seperti apa yg mas tulis ya?
    Jangan ngarang dong maas,.. itu namanya menjelaskan dengan nafsu, bukan dengan ilmu,

    Makna tsb sesuai dengan statement imam Syafi’i yang sudah masyhur :

    ما أُحدِثَ وخالف كتاباً أو سنة أو إجماعاً أو أثراً فهو البدعة الضالة، وما أُحْدِثَ من الخير ولم يخالف شيئاَ من ذلك فهو البدعة المحمودة

    “ Perkara baru yang menyalahi al-Quran, sunnah, ijma’ atau atsan maka itu adalah bid’ah dhalalah / sesat. Dan perkara baru yang baik yang tidak menyalahi dari itu semua adalah bid’ah mahmudah / baik “

    – Istidlal ayatnya (Pengambilan dalil dari Qurannya) :

    وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ

    “Dan Kami (Allah) jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya (Nabi ‘Isa) rasa santun dan kasih sayang, dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah” (Q.S. al-Hadid: 27)

    – Istidlal haditsnya (pengambilan dalil dari haditsnya) :

    مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

    “Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim)

    – Balaghoh :

    Dalam hadits tsb memiliki manthuq dan mafhumnya :

    Manthuqnya “ Siapa saja yang melakukan hal baru yang tidak bersumber dari syareat, maka dia tertolak “, misalnya shalat dengan bhsa Indonesia, mengingkari taqdir, mengakfir-kafirkan orang, bertafakkur dengan memandang wajah wanita cantik dll.

    Mafhumnya : “ Siapa saja yang melakukan hal baru yang bersumber dari syariat, maka itu diterima “ Contohnya sangat banhyak skali sprti pembukuan Al-Quran. Pentitikan al-Quran, maulid, tahlilan, khaul, shalat tarawih berjama’ah dll.
    Contohnya jangan pakai nafsu dong mas,

    Kalau maulid,ritual tahlilan,khaul, itu bertentangan dengan syariat mas, makanya wajib tidak kita terima,

    Berangkat dari pemahaman ini, sahabt Umar berkata saat mengkumpulkan orang-orang ungtuk melakukan sholat terawikh berjama’ah :

    نعمت البدعة هذه “ Inilah sebaik-baik bid’ah “

    Mas, kalau shalat tarawih itu pernah dilakukan oleh Rasulullah apa tidak?
    Apakah Rasulullah melakukan shalat tarawih secara berjamaah atau tidak?
    Apakah yang dilakukan oleh umar itu menyalahi apa yang dilakukan oleh rasulullah??
    Sama sekali tidak mas, berbeda dengan maulid,ritual tahlilan,atau khaul

    Rasulullah saja tidak pernah melakukan maulid, baik maulid dirinya, atau maulid anak dan cucunya,
    Rasulullah sering mengalami kematian para sahabat, tidak pernah kita dapati riwayat rasulullah melakukan ritual tahlilan 7hari,dst,..
    Jangan ilmu dong mas kalau memahami hadits,

    Dan juga berkata sahabat Abu Hurairah Ra :

    فَكَانَ خُبَيْبٌ أَوَّلَ مَنْ سَنَّ الصَّلاَةَ عِنْدَ الْقَتْلِ (رواه البخاريّ)

    “Khubaib adalah orang yang pertama kali merintis shalat ketika akan dibunuh”.

    (HR. al-Bukhari dalam kitab al-Maghazi, Ibn Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf)ز

    Jika semua perkara baru itu buruk, maka sahabat2 tsb tidak akan berkata demikian.

    Emang yang dilakukan para sahabat itu perbuatan yang tidak ada contohnya?
    Para sahabat adalah generasi yang telah direkomendasi oleh Allah, dipilih oleh Allah untuk menemani Rasulullah,
    Semua yang dilakukan oleh para sahabat, dan tidak ada pengingkaran dari sahabat lainnya, maka itu menjadi sunnah , bukan merupakan bidah, contohnya banyak,
    Anda tahu adzan dan iqamat? apakah itu Rasulullah yang mengajarkan?
    Bukan, tapi dari mimpi sahabat, yang kemudian disampaikan kepada Rasulullah, dan Rasulullah menyetujuinya,. maka jadilah adzan dan iqamat,..

    Nah sekarang kita cermati makna hadits di atas dari pihak lain…… :

    مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

    Hadits ini mereka artikan :

    Pertama : “ Barangsiapa yang berbuat hal baru dalam agama, maka ia tertolak “

    Jika mreka mngartikan demikian, maka mereka sengaja membuang kalimat MAA LAITSA MINHU-nya (Yang bersumber darinya). Maka haditsnya menjadi : مَنْ
    أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا ُ فَهُوَ رَدٌّ

    Kedua : “ Barangsiapa yang berbuat hal baru yang tidak ada perintahnya, maka ia tertolak “

    Jika merka mngartikan seperti itu, berarti merka dengan sengaja telah merubah makna hadits MAA LAITSA MINHU-nya MENJADI MAA LAITSA MA-MUURAN BIHI (Yang tidak ada perintahnya). Maka haditsnya menjadi :
    مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا ليَْسَ مَأمُوْراً بهِ فَهُوَ رَدٌّ

    hadits kok diuatak atik dengan ilmu nahwu,..
    Mas, ilmu nahwu itu dipelajari tuk mempelajari hadits, bukan ilmu nahwu tuk mengakal-akali hadits,

    Sungguh ini sebuah distorsi dalam makna hadits dan sebuah pengelabuan pada umat muslim.

    Kasihan sekali anda telah terdistorsi oleh pemahaman anda yang keliru,

    Jika mereka menentang dan berdalih : “ Bukankah Rasul Saw telah memuthlakkan bahwa semua bid’ah adalah sesat, ini dalilnya :

    وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ (رواه أبو داود

    Maka kita jawab : Hadits tsb adalah ‘Aam Makhsus (lafadznya umum namun dibatasi) dgn bukti banyak dalil yang menjelaskannya sprti hadits 2 sahabat di atas. Maksud hadits tsb adalah setiap perkara baru yang brtentangan dgn al-quran dan hadits.

    Tolong sebutkan dong contoh perkara baru yang anda maksud bukan dengan hadits yg ‘Aam,, contohnya apa?

    Perhatikan hadits riwayat imam Bukhori berikut :

    أشار سيدنا عمر ابن الخطاب رضي الله عنه على سيدنا أبو بكر الصديق رضي الله عنه بجمع القرآن في صحف حين كثر القتل بين الصحابة في وقعة اليمامة فتوقف أبو بكر وقال:” كيف نفعل شيئا لم يفعله رسول الله صلى الله عليه وسلم؟”

    فقال له عمر:” هو والله خير.” فلم يزل عمر يراجعه حتى شرح الله صدره له وبعث إلى زيد ابن ثابت رضي الله عنه فكلفه بتتبع القرآن وجمعه قال زيد:” فوالله لو كلفوني نقل جبل من الجبال ما كان أثقل علي مما كلفني به من جمع القرآن.” قال زيد:” كيف تفعلون شيئا لم يفعله رسول الله صلى الله عليه وسلم.” قال:” هو والله خير” فلم يزل أبو بكر يراجعني حتى شرح الله صدري للذي شرح له صدر أبي بكر وعمر رضي الله عنهما .

    “ Umar bin Khothtob member isayarat kpd Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf ktika melihat banyak sahabat penghafal quran telah gugur dalam perang yamamah. Tapi Abu Bakar diam dan berkata “ Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasul Saw ?” MaKA Umar menjawab “ Demi Allah itu suatu hal yang baik “. Beliau selalu mengulangi hal itu hingga Allah melapangkan dadanya. Kmudian Abu bakar memrintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan Al-Quran, maka Zaid berkata “ Demi Allah aku telah terbebani untuk memindah gunjung ke satu gunung lainnya, bagaimana aku melakukan suatu hal yang Rasul Saw tdiak melakukannya ?” maka Abu bakar mnjawab “ Demi Allah itu suatu hal yang baik “. Abu bakar trus mngulangi hal itu hingga Allah melapangkan dadaku sbgaimana Allah telah melapangkan dada Umar dan Abu Bakar “.

    Coba perhatikan ucapan Umar dan Abu Bakar “ Demi Allah ini suatu hal yang baik “, ini menunjukkan bahwasanya Nabi Saw tidak melakukan semua hal yang baik, sehingga merka mngatakan Rasul Saw tidak pernah melakukannya, namun bukan berarti itu buruk.

    Semua perbuatan para sahabat, yang itu tidak ada pengingkaran oleh sahabat lainnya, maka ini adalah ijma para sahabat,
    Dan ijma para sahabat, ini adalah sunnah, bukan perkara baru, karena rasulullah sendiri yang memerintahkan, pegang sunnahku, dan sunnah khulafa’ur rasyidin setelahku,..
    Ya ngga bertentangan lah mas,. apa yang dilakukan abu bakar adalah termasuk sunnah, bukan bidah

    Jika merka mengatakan sahabat Abdullah bin Umar telah berkata :

    كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة

    “ Setiap bid’ah itu sesat walaupun orang-orang menganggapnya baik “

    Maka kita jawab :

    Itu memang benar, maksudnya adalah segala bid’ah tercela itu sesat walaupun orang-orang menganggapnya baik. Contohnhya bertaqarrub pd Allah dengan mndengarkan lagu dangdutan..

    Mas adit yang pinter, ngasih contohnya salah jauh,
    Nyanyian sudah jelas haram, bukan bidah lagi, hadits tentang nyanyian sudah jelas, ayat alquran juga ada,
    Jadi jika bertaqarrub dengan dangdutan ya jelas bukan bidah, tapi perbuatan maksiat, haram,
    Akan tetapi bidah lebih berbahaya daripada maksiat, dan setan lebih demen kepada pelaku bidah, daripada pelaku maksiat,

    Jika sahabat Abdullah bin Umar memuthlakkan bahwa semua bid’ah itu sesat tanpa trkecuali walaupun orang2 mengangaapnya baik, lalu kenapa juga beliau pernah berkata :

    بدعة ونعمت البدعة “ Itu bid’ah dan sebaik-baik bid’ah “

    Saat beliau ditanya tentang shalat dhuha. Lebih lengkapnya :

    عن الأعرج قال : سألت ابن عمر عن صلاة الضحى فقال:” بدعة ونعمت البدعة

    “ Dari A’raj berkata “ Aku bertanya kepada Ibnu Umar tentang sholat dhuha, maka beliau menjawab “ Itu bid’ah dan sebaik-baik bid’ah “.

    Apakah pantas seorang sahabat sprti Abdullah bin Umar tidak konsisten dalam ucapannya alias pllin-plan ?? sungguh sangat jauh dr hal itu

    Ada dimana mas perkataan ibnu umar tersebut, tlg dong kasih rujukannya,

    KESIMPULAN :
    – Cara membedakan bid’ah dhalalah dan bid’ah hasanah adalah :

    والتمييز بين الحسنة والسيئة بموافقة أصول الشرع وعدمها

    “ Dengan sesuai atau tidaknya dengan pokok-pokok syari’at “.

    SAYA MINTA CONTOH MAS, contoh perbuatan bidah dhalalah itu seperti apa? contoh konkritnya,sebutkan contoh perbuatannya, pengin tahu nih mas,

    – Orang yang mengartikan hadits :

    مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

    Dengan : “ Barangsiapa yang melakuakn hal baru maka itu tertolak “ atau “ Brangsiapa yang melakukan hal baru tanpa ada perintahnya maka ia tertolak “.

    Orang yang mengartikan seperti itu, berarti ia telah berbuat bid’ah dhalalah / sesat, akrena tidak ada dasarnya sama sekali baik dari Al-Quran, hadits maupun atsarnya..Dan telah sengaja merubah makna hadits Nabi Saw tersebut..dan kita tahu apa sangksi bagi orang yang telah berdusta atas nama Nabi Saw..Naudzu billahi min dzaalik..

    Siapa yang merubah makna hadits, jika anda memahami seperti apa yang anda tuliskan, andalah yang telah merubah makna hadits,
    Tidakkah anda takut dengan ancaman rasulullah?
    Jika anda merubah makna hadits, dan menganggap Rasulullah menyampaikan sebagaimana yg anda pahami, dan ternyata rasulullah tidaklah menyampaikan seperti yg anda pahami, maka anda telah berdusta atas nama rasulullah, dan ini ancamannya berat loh mas,
    مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

    ”Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka”. (HR. Bukhari & Muslim)

    Kita berlindung kepada Allah dari berkata dusta atas nama rasulullah

    Justru saya bertanya, apa yang anda jelaskan, siapa rujukan anda?
    Kok aneh sekali cara memahami hadits?
    Silahkan jika ingin mudah memahami tentang apa itu bidah, baca link ini

    Semoga bermanfaat bagi yang ingin mencari kebenaran dan bagi yang ingin mencari pembenaran silakan membantah dengan ilmu… Wallahu a’lam

    Apakah anda sudah membantah dengan ilmu?
    Ilmu nahwu ya??

    Aneh jadinya,..

    mas, anda yakin tidak kalau islam itu sudah sempurna?
    Tidak perlu ditambah, dan tidak perlu dikurangi,.. jika anda yakin, maka urusan selesai,
    Jika anda tidak yakin, baca ayat ini
    اَلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam itu Jadi agama bagimu.” (QS. al-Maidah: 3)

    Mas, anda yakin tidak, kalau rasulullah sudah mengajarkan semua ajaran islam ini?
    Kalau anda yakin, maka urusan selesai, tidak ada bidah, tdk ada ajaran baru, krn semua telah dijelaskan,
    Jika anda tidak percaya, silahkan baca hadits ini
    تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ

    “Aku tinggalkan kalian dalam suatu keadaan terang-benderang, siangnya seperti malamnya. Tidak ada yang berpaling dari keadaan tersebut kecuali ia pasti celaka.” (HR. Ahmad)

    Juga sabdanya,

    مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقّرِبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُتَاعِدُ عَنِ النَّارِ إِلاَّ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

    “Tidaklah ada sesuatu yang mendekatkan diri kepada surga dan menjauhkan dari neraka melainkan telah dijelaskan kepada kalian.” (HR. Thabrani)

    Sahabat Abu Dzar al-Ghifari berkata:

    تَرَكَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ إِلاَّ وَهُوَ يَذْكُرُ لَنَا عِلْمًا

    “Rasulullah wafat meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burung pun yang terbang di udara melainkan beliau telah mengajarkan ilmunya kepada kami.” (HR. Thabrani)

    Setiap bid’ah adalah kesesatan, setiap bid’ah membawa pelakunya kepada perbuatan dosa, perbuatan kesesatan dan menodai syariat islam yang mulia dan sempurna ini. Bukankah sesuatu yang sempurna jika ditambah atau dikurangi akan merusak kesempurnaannya? Bukankah sebuah bola yang sudah bulat sempurna jika kita tambahi atau kurangi malah akan merusak keindahannya??

    Perbuatan bid’ah adalah kesesatan walaupun orang-orang menganggap perbuatan tersebut adalah kebaikan, sebagaimana perkataan sahabat Abdullah Ibnu Umar,

    كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

    “Setiap bid’ah adalah kesesatan meskipun manusia menganggap perbuatan tersebut adalah kebaikan.”

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

    “Barangsiapa yang mengada-adakan suatu perkara dalam agama ini tanpa ada tuntunannya maka amalannya tersebut tertolak.” (HR. Bukhari Muslim)

    Juga dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

    “Setiap bid’ah adalah kesesatn.” (HR. Tirmidzi)

    Faedah

    Bid’ah yang tercela dalam islam adalah perbuatan bid’ah dalam syariat islam, yaitu melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan dengan alasan ibadah padahal tidak ada dalil atas hal tersebut atau dalil yang menjadi sandarannya adalah hadits yang lemah, tidak bisa dijadikan sebagai sandaran hukum. Sehingga apabila ada seseorang melakukan suatu perbuatan yang baru akan tetapi tidak dalam rangka beribadah kepada Allah ta’ala maka perbuatan tersebut bukanlah disebut sebagai bid’ah yang tercela akan tetapi disebut bid’ah secara bahasa, dan perbuatan tersebut boleh.

    Misalnya seseorang ingin melaksanakan puasa khusus pada hari selasa saja tanpa hari lainnya, sedangkan puasa adalah ibadah, ia melaksanakan puasa tersebut tanpa ada contohnya dari Rasulullah dan para sahabatnya, maka puasa yang ia lakukan adalah bid’ah yang diharamkan oleh islam. Adapun jika seseorang melakukan perbuatan yang berkaitan dengan dunia seperti membuat kendaraan tipe baru yang belum ada contoh sebelumnya, atau membuat kebiasaan baru, maraton setiap hari Rabu pagi dan seterusnya maka tidak diragukan lagi bahwa perbuatan-perbuatan tersebut adalah boleh.

    Semoga bermanfaat…

    selengkapnya baca disini

  4. anis mujiono
    Februari 23, 2012 pukul 2:23 pm

    wah…wah… membaca dialog di atas agaknya wahabilah yang lebih santun, lebih berwibawa, lebih benar, dll. padahal setahuku wahabi itu terkenal golongan yang:
    1. sangat ekstrim
    2. ganas dan bringas
    3. teroris di negara republik indonesia dan berbagai negara lainnya
    4. perusak kesatuan dan kerukunan ummat manusia
    5. pencemar nama ISLAM
    6. memahami agama hanya tekstual saja berdasarkan akal saja yang cenderung sebab akibat, alias syariat saja. tidak mau thoriqoh dan hakikat
    7. menyempitkan ajaran Islam yang sangat luas.
    8. berani mengkafirkan dan menganggap ahli bid’ah golongan lain.
    9. dll.

    sudahlah wahai smua sahabatku seiman dan seislam. marilah kita rukun. jangan saling mengkafirkan. lbh baik kita berdakwah sesuai keyakinan kita sndiri- sndiri. marilah kita bersatu untuk menghalau ancaman- ancaman yang merugikan islam. seperti kristenisasi, pengaruh yahudi, merosotnya agama saudara- saudara kita yang terpengaruh budaya orang kafir, dll.

    Apa yang anda katakan, itu adalah tuduhan, jadi sebenarnya, siapa sih yg mudah menuduh sembarangan? tunjukanlah bukti-buktinya, baik berupa link, atau tindakan nyata,.. silahkan jika anda bisa membuktikannya, saya tunggu,..

    Kasihan sekali , tak kenal, maka tak sayang,… semua tuduhan diatas, semuanya dusta belaka,.. dan diucapkan oleh orang yang tidak mengerti apa itu orang-orang yang dituduh wahabi,

    sebenarnya bukan anda saja yang mengatakan seperti itu,. wajar, anda mengatakan seperti itu, sebagaimana itu dilakukan oleh banyak orang-orang yang belum mengetahui hakekat apa itu yg dituduh wahabi,.. sehingga setelah mereka tahu, mereka rujuk, ikut pemahaman salaf, dan menangis menyesali perbuatannya dulu, mencela,mengejek, menghina orang-orang yang berusaha mengamalkan ajaran islam menurut pemahaman para sahabat,

    mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk dan hidayah kepada anda,

    Orang barat saja tahu tuh, kalau salafi itu ngga bakalan jadi teroris

    Tak kenal, maka tak sayang

    Kegagalan dalam membedakan wahabi

    • September 26, 2012 pukul 6:34 am

      kami tidak menuduh tapi buku ini adalah salah satu BUKTINYA

      Diatas adalah contoh kebodohan pak habib tentang siapa sih ahlussunnah? masa yg disebut ahlussunnah adalah asyariyah?? sungguh sangat lucu pak habib ini,
      Dan pak habib ceramah di radio syiah, radio rasil, semakin klop saja,..

      Artikel buat menjawab kelucuan pak habib bisa dibaca disini

  5. maghrib
    Februari 16, 2012 pukul 5:29 pm

    assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh ya akhi aslibumiayu….

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    ana suka ini dialog imaginer. ana dulu juga pernah merayakan maulid di sekolah. tapi sekarang tdk lagi karena guru ngaji ana melarang, ana dah ngerti dan taubat.

    tapi ini masalah bakal panjang.apalagi ana pernah denger ceramah ,kalo ada orang yang melarang maulid itu adalah teroris aqidah. ana sampe kaget. astaghfirullahalazdim. itu ulama tega banget ngomongnya diatas mimbar mesjid lagi.

    Buat nambah pengetahuan, silahkan baca sendiri sejarah maulid nabi disini

    ana ingin tanya nih..apakah benar kaum wahabi punya catatan sejarah yang buruk…di saudi arabia..

    mereka menghancurkan makam2x para pejuang badar,meratakannya dgn tanah,menghancurkan rumah rosullullah hingga tinggal puing 2x aja..

    meratakan makam para pejuang perang baqi..dll

    menurut ana kita harus bersabar dan toleransi bersikap lemah lembut kpd sesama islam ASWAJA ..semoga mereka sadar akan kekeliruannya selama ini ..

    saya tunggu jawabannya terimakasih atas tanggapannya

    Berita seperti itu biasanya digembar-gemborkan oleh orang-orang syiah rafidhah, dan diaminkan oleh ASWAJA(ASli WAjah JAwa) yang memang membenci dakwah salaf ini,

    berikut saya nukilkan pertanyaan dan jawaban dari blog ini

    pertanyaan: ustdz apa benar kuburan para sahabt dihancurkan olh penerintah saudi? yng skrng difitnahkan oleh org syi’ah kpd salafy ? syukron

    Jawaban :
    Benar-benar Aneh tapi nyata…

    sejak kapan syi’ah perhatian dengan kuburan para sahabat?

    Bukankah mereka yg mengkafirkan, mencaci, dan melaknati para sahabat?

    Kok ujug-ujug menuduh salafiyyin menghancurkan kuburan para sahabat?

    Itulah maling teriak maling…

    Pemerintah Saudi tidak menghancurkan kuburan, tapi menghancurkan kubah-kubah dan bangunan yg dibangun di atas kuburan, dan itu berdasarkan dalil qot’i yg diriwayatkan oleh Imam Muslim dlm Shahihnya dari ALI BIN ABI THALIB (imam yg dianggap ma’shum oleh syi’ah).

    Beliau berkata kpd Abul Hayyaj al Asadi (yg menjabat sbg kepala polisi beliau): “Maukah kamu kuutus dengan misi yg pernah diembankan oleh Rasulullah kepadaku?”. “Janganlah kau sisakan sebuah patung pun melainkan kamu musnahkan, dan jangan biarkan sebuah kuburan pun yg ditinggikan melainkan kamu ratakan dengan tanah”.

    Jadi, pemerintah Saudi justru berbuat amal shalih ketika meratakan kuburan-kuburan yg ada di Baqi’ (madinah) dan Ma’la (mekkah) dengan tanah, dan mengembalikannya seperti sedia kala. Faham?

  1. No trackbacks yet.

Silahkan tulis komentar anda,.. surel diisi dgn email, nama diisi dengan nama anda ,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.558 pengikut lainnya.