Beranda > akidah, Belajar Akidah, Belajar Nasehat > Mengenal Ajaran Sufi, Ilmu Laduni,

Mengenal Ajaran Sufi, Ilmu Laduni,


bukti-kesesatan-sufiTasawuf merupakan gerakan berpola pikir filsafat klasik yang mengekor kepada para filosof dan ahli syair Romawi, India dan Persia. Namun, dalam hal ini, kita akan membatasi kajian masalah sufi dengan berkedok Islam.

Kedok Islam ini dikenakan sebagai upaya menutupi hakikatnya. Maka barangsiapa yang meneliti dan mengamati gerak-geriknya, niscaya akan berkesimpulan, bahwa sufi bukan Islam. Baik menyangkut aqidah, prilaku dan pendidikan.

MENGENAL BEBERAPA KEYAKINAN SUFI
Sesungguhnya para penguasa sufi telah berusaha memelihara keyakinan-keyakinan tasawuf, yakni, dengan merancukan dan menghapuskan ayat-ayat Al-Kitab Al-Karim.

Membolak-balik, serta merubah pemahaman Sunnah An-Nabawiyah yang telah suci. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menakdirkan untuk agama ini, orang-orang yang memperbaharui agama-Nya.

Yakni, dengan membersihkan Islam dari bermacam aqidah dan filsafat yang mengalir dalam benak manusia akibat pengaruh pola pikir keberhalaan.

Maka, diungkaplah borok-borok mereka, dipilah perkataan mereka serta diterangkan kebohongannya. Metoda merekapun dibuyarkan dengan menelaah kitab-kitab induk sufi. Berikut secara ringkas ditampilkan keyakinan-keyakinan mereka.

ILMU LADUNI
Istilah ini dikaitkan kepada firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala tentang nabi Khidir:

وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا﴿٦٥
“Artinya :…Dan Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”. [Al-Kahfi : 65].

Yang dimaksud dengan ayat diatas, menurut mereka, adalah disingkapnya alam ghaib bagi mereka. Caranya, dengan kasyaf (penyingkapan), tajliyat (penampakan) serta melakukan kontak langsung dengan Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam[1]. Mereka berdalil dengan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala.

وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴿٢٨٢

“Artinya : Dan bertaqwalah kepada Allah, maka Allah akan mengganjari kepada kalian semua”. [Al-Baqarah : 282].

Pemikiran ilmu laduni dipelopori oleh Hisyam Ibnu Al-Hakam (wafat 199H), seorang penganut Syi’ah yang mahir ilmu kalam. Ia berasal dari Kufah. [2]

Orang-orang sufi, dalam rangka merealisir ajarannya, menempuh beberapa jalan. Jalan terpenting itu, diantaranya :

[1] Menjauhkan diri dari menuntut ilmu syar’i. Dikatakan oleh Al-Junaid, seorang pentolan sufi, “Yang paling aku sukai pada seorang pemula, bila tak ingin berubah keadaannya, hendaknya jangan menyibukkan hatinya dengan tiga perkara berikut : mencari penghidupan, menimba ilmu (hadits) dan menikah. Dan yang lebih aku sukai lagi, pada penganut sufi, tidak membaca dan menulis. Karena hal itu hanya akan menyita perhatiannya”.[3]

Demikian pula yang dikatakan Abu Sulaiman Ad-Darani, “Jika seseorang menimba ilmu (hadits), bepergian untuk mencari penghidupan, atau menikah, sungguh ia telah condong kepada dunia”[.4]

[2] Menghancurkan sanad-sanad hadits dan menshahihkan hadits-hadits dha’if (lemah), munkar dan maudhu’ (palsu) dengan cara kasyaf. Sebagaimana dikatakan Abu Yazid Al-Busthami, “Kalian mengambil ilmu dari mayat ke mayat. Sedang kami mengambil ilmu dari yang Maha Hidup dan tidak pernah mati.

Hal itu seperti yang telah disampaikan para pemimpin kami : “Telah mengabarkan pada aku hatiku dari Rabbku”. Sedang kalian (maksudnya, kalangan Ahlu Al-hadits) mengatakan : “Telah mengabarkan kepada kami Fulan”. Padahal, bila ditanya dimana dia (si Fulan tersebut) ?.

Tentu akan dijawab : “Ia (Fulan, yakni yang meriwayatkan ilmu atau hadits tersebut) telah meninggal”. “(Kemudian) dari Fulan (lagi)”.

Padahal, bila ditanyakan dimana dia (Fulan tadi)? Tentu akan dijawab : “Ia telah meninggal”.[5]

Dikatakan pula oleh Ibnu Arabi, “Ulama Tulisan mengambil peninggalan dari salaf (orang-orang terdahulu) hingga hari kiamat. Itulah yang menjauhkan atau menjadikan timbulnya jarak antara nasab mereka.

Sedang para wali mengambil ilmu dari Allah (secara langsung -pent). Yakni, dengan cara Ia (Allah) mengilhamkan kedalam hati para wali”[6].

Dikatakan oleh Asy-Sya’rani, “Berkenan dengan hadits-hadits. Walaupun cacat menurut para ulama ilmu hadits, tapi tetap shahih menurut ulama ilmu kasyaf”.[7].

[3] Menganggap menimba ilmu (hadits) sebagai perbuatan aib dan merupakan jalan menuju kemaksiatan serta kesalahan. Ibnu Al-Jauzi menukil, bahwa ada seorang syaikh sufi melihat seorang murid membawa papan tulis (baca : buku), maka dikatakannya kepada murid tersebut :”Sembunyikan auratmu”.[8] Bahkan, mereka saling mewariskan sebagian pameo-pameo yang bertendensi menjauhkan peninggalan salaf, umpanya : Barang siapa gurunya kitab, maka salahnya lebih banyak dari benarnya.

Sanggahan terhadap pernyataan-pernyataan sebagaimana diungkap diatas :

Pertama.
Barangsiapa berkeyakinan, bahwa dengan kemampuannya dapat berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti keadaan nabi Khidir dengan nabi Musa, maka ia telah kafir berdasarkan ijma’ para ulama kaum muslimin. Karena, nabi Musa tidaklah diutus kepada nabi Khidir, dan tidak pula nabi Khidir diperintahkan untuk mengikuti nabi Musa.

Padahal Allah telah menjadikan masing-masing nabi mempunyai jalan dan minhaj yang berbeda-beda. Dan peristiwa yang demikian itu, berulang kali terjadi sebelum beliau diutus sebagai nabi. Seperti, sezamannya nabi Luth denga nabi Ibrahim, nabi Yahya dengan nabi Isa.

Sesungguhnya para nabi tersebut dibangkitkan untuk kaumnya saja, sedangkan Muhammad shalallallahu ‘alaihi wa sallam dibangkitkan untuk seluruh manusia hingga hari kiamat. Telah bersabda Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Adalah para nabi diutus untuk kaumnya saja, sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia”. [Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim].

“Artinya : Tidak seorang pun dari umat ini yang mendengar tentangku, baik Yahudi atau Nashrani, kemudian tidak beriman kepadaku, melainkan akan dimasukkan ke neraka” [Hadits Shahih Riwayat Muslim I/93]

Aqidah semacam ini merupakan asasnya Islam, berdasarkan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Tidaklah engkau Kami utus kecuali untuk seluruh manusia, sebagai pemberi khabar gembira dan pemberi peringatan”. [Saba' : 28]

Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Katakanlah, wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua”. [Al-A'raf : 157]

Dan siapa saja yang ‘alim, baik jin maupun manusia, diperintahkan untuk mengikuti rasul yang ummi ini. Maka barangsiapa yang mengaku bahwa dengan kemampuannya dapat keluar dari minhaj dan petunjuk nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ke minhaj lainnya, walaupun minhaj Isa, Musa, Ibrahim, maka dia sesat dan menyesatkan. Telah bersabda Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Seandainya Musa turun, lalu kalian semua mengikutinya dan meninggalkan aku, maka sungguh sesatlah kalian. Aku adalah bagian kalian, dan kalian adalah bagian dari umat-umat yang ada”. [Riwayat Baihaqi dalam Syu'abu al-Iman, dan lihat pula dalam Irwa'al-Ghalil karangan Al-Bani hal. 1588]

Adapun keyakinan orang-orang sufi bahwa nabi Khidir masih tetap hidup, selalu berhubungan dengan mereka, mengajarkan kepada mereka ilmu yang diajarkan Allah kepadanya, seperti nama-nama Allah yang Agung, hal ini merupakan dusta dan mengada-ada. Karena menyelesihi Al-Qur’an secara nyata :

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ

“Artinya : Dan tidaklah kami jadikan seorang manusiapun sebelummu abadi”. [Al-Anbiya' : 34]

“Artinya : Tidak ada satu jiwapun yang bernafas pada hari ini yang datang dari zaman seratus tahun sebelumnya, sedangkan dia saat sekarang ini masih hidup”. [Hadits Riwayat Ahmad dan Tirmidzi dari Jabir]

Hadits-hadits yang menerangkan masih hidupnya nabi Khidir semuanya maudhu’ (palsu) menurut kesepakatan seluruh ulama hadits.[9]

Kedua.
Adapun hujjah mereka dengan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Dan bertaqwalah kepada Allah dan Allah akan mengajarimu (ilmu)”. [Al-Baqarah : 282]

Hal itu bukanlah hujjah, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan pemahaman ayat ini dan telah menentukan cara mencari ilmu yang disyari’atkan dan diwajibkan atas setiap muslim. Seperti sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Sesungguhnya ilmu itu (diperoleh) dengan cara belajar”. [Hadits Riwayat Daruquthni dalam Al-Ifrad wa al-Khatib dalam tarikhnya dari Abu Hurairah dan Abu Darda'. Lihat Silsilah Ash-Shahihah 342]

Kata innama (sesungguhnya) disini adalah untuk membatasi.

Ketiga.
Perihal pendapat mereka yang menyatakan, bahwa mencari ilmu dengan cara belajar adalah jalan yang memayahkan, terlalu bertele-tele, dianggap condong kepada dunia serta menyita perhatian dan kesungguhan (walaupun telah tinggi dalam menuntut ilmu tadi), tetap dianggap tidak sempurna. Kecuali, bila ditempuh dengan cara kasyaf dan ilham.

Berkenan dengan ilmu itu sendiri, termasuk tentunya dalam pengamalannya. Bahkan sebatas mencari ilmu semata. Berkata Ibnu Al-Jauzi, “Iblis menginginkan untuk menutup jalan tersebut dengan cara yang paling samar.

Memang jelas bahwa yang dimaksud adalah mengamalkannya bukan sebatas mencari ilmu saja. Namun, dalam hal ini para penipu itu telah menyembunyikan masalah pengamalannya. [10] Dan tidaklah kasyaf yang mereka dakwakan itu, kecuali hanya khayalan setan belaka.

“Artinya : Maukah Aku khabarkan kepada kalian tentang kepada siapa setan turun ? (Setan) turun kepada setiap pendusta dan suka berbuat dosa. Mereka menghadapkan pendengarannya itu (kepada setan), dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta”. [Asy-Syu'ara : 221-223]

“Artinya : Tidaklah kamu melihat bahwasanya Kami telah mengirim setan-setan itu kepada orang-orang kafir untuk menghusung mereka agar berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh ? Maka janganlah kamu tergesa-gesa memintakan siksaan bagi mereka, karena sesungguhnya Kami hanya menghitung (hari siksaan) itu untuk mereka dengan perhitungan yang teliti. Ingat ketika hari Kami mengumpulkan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabb yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat. Dan kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga”. [Maryam : 83-86]

Adapun pengakuan mereka, seperti pensyarah Al-Ushul katakan, bahwa kasyaf merupakan bagian dari iman yang benar. Dan maksud kasyaf adalah disingkapkannya sebagian yang tersembunyi, dan tidak tampak, mengetahui gerak-gerik jiwa dan niat serta kelemahan sebagian manusia. Kasyaf semacam inilah yang disebutkan dalam hadits syarif sebagai firasat seorang yang beriman. [11] Jadi bila ada perkataan mereka semacam ini : “Telah mengabarkan kepadaku hatiku dari Rabb-ku” tidak lain adalah perkataan khurafat.

Keempat.
Sebagian mereka mengakku dapat melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tidurnya, lalu mengajarkan kepadanya beberapa perkara dan memintanya untuk berbuat begini dan begitu.

Seperti, kata Ibnu Arabi, “Sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi. Aku melihatnya saat sepuluh akhir di bulan Muharram 627H, di Mahrusah, Damsyiq. Saat itu di tangan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa kitab. Maka sabdanya kepadaku, ‘Kitab ini adalah kitab Fushush Al-Hikam’. Ajarkan dan sebarkan kepada manusia agar bisa memetik manfa’at darinya.

Kemudian aku katakan, Aku dengar dan taat kepada Allah, Rasul-Nya serta ulil amri diantara kita sebagaimana yang engkau perintahkan. Maka, aku pun berusaha merealisasikan cita-cita dan aku murnikan niatku serta kubulatkan tekad untuk mengajarkan kitab ini sebagaimana diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. tanpa mengurangi dan menambahinya”.

Bantahan Terhadap Pendapat Diatas Adalah Sebagai Berikut:

[1] Para Rasul tidak memerintahkan kemaksiatan apalagi kekufuran, seperti yang memenuhi kitab Fushush Al-Hikam. Seperti, mengkafirkan nabi Allah, Nuh (hal. 70-72), meyakini bahwa Fir’aun itu telah beriman (hal. 21), membenarkan pendirian Samiri dan perbuatannya dalam membuat patung (yang menimbulkan fitnah di kalangan bani Israil) hingga mengibadahinya (hal. 188).

[2] Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyuruh menyelisihi syari’at. Sesungguhnya, ada yang mengatakan bahwa setan menampakkan diri dalam bentuk nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan Ibnu Arabi. Padahal mustahil hal itu bisa terjadi. Dia (Ibnu Arabi) telah tertipu dan terperdaya. Walau ia mengatakan yang demikian itu dengan niat baik dan prasangka bersih. Tetapi yang demikian itu mustahil, karena setan tidak akan mampu menyerupai nabi. Maka, bagaimana hal itu bisa terjadi padahal Nabi yang ma’shum Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

“Artinya : Barangsiapa yang melihatku (dalam mimpinya) maka sesungguhnya akulah dia. Karena sesungguhnya setan tidak bisa menyerupaiku”. [Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi dari Abu Hurairah, mempunyai penguat yang sangat banyak, sebagiannya Shahih diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Lihat Shahih Al-Jami' dan ziyadahnya V/293]

Berdasarkan keterangan diatas, maka kita berkeyakinan bahwa Ibnu Arabi dan para pengikutnya adalah dajjal-dajjal Khurasan. Sedang perkataan-perkataan mereka dusta dan tidak mengandung kebenaran sama sekali.

Oleh
Salim Al-Hilali dan Ziyad Ad-Dabij

[Disadur dari kitab Al-Islam fi-Dha'u Al-Kitab wa As-Sunnah, cet.II, hal. 81-97. Dan dimuat di majalah As-Sunnah edisi 17/II/1416H-1996M, dengan judul Borok-Borok Sufi]
________
Foote Note.
[1]. Ihya ‘Ulummuddin, Al-Ghazali, I/19-20 dan III/26, cet. Istiqomah, Qahirah.
[2]. Minhaj As-Sunnah, Syaikh Islam Ibnu Taimiyah, hal. 226
[3]. Quwat Al-Qulub, III/35
[4]. Al-Futuhat Al-Makkiyah, Ibnu Arabi, I/37.
[5]. Al-Kawakib Ad-Durriyah, hal. 226 dan Al-Futuhat Al-Makkiyah, I/365.
[6]. Al-Kawakib Ad-Durriyah, hal. 246 dan Rasail, Ibnu Arabi, hal.4.
[7]. Al-Mizan, I/28.
[8]. Tablis Iblis, hal. 370.
[9]. Al-Manar Al-Munif, Ibnu Qayim Al-Jauziyah.
[10]. Shaid Al-Khaathir, Ibnu Jauzi, I/144-146.
[11]. Syarah Al-Ushul Al-Isyrin, hal 27. copyleft almanhaj.or.id

sumber: http://ibnuramadan.wordpress.com

  1. takdir
    Oktober 13, 2014 pukul 12:17 pm

    Janganlah kita menolak kebenaran jika sudah terbukti kebenarannya,tetangga sya banyak penganut sufi mereka sering berkata bahwa mereka pernah bertemu nabi khidir inilah keyakinan penganut sufi yg seolah2 selalu bertemu para nabi sya jga mempelajari cara beribadah mereka yg banyak menyimpang

    Padahal seandainya nabi khidir hidup di jaman nabi, maka nabi khidir wajib mengikuti ajaran nabi muhammad,. lha kok para sufi belajar dengan nabi khidir?? dikemanakan ya akal-akal mereka?

  2. Anonymous
    Oktober 11, 2014 pukul 7:44 am

    Bagaimana Cara Shalat Berjama’ah 2 Orang, Bersebelahan kah Atau Ma’mum Di Belakang.. Mohon jawaban nya…

    Jika cuma berdua, maka imam dan makmum sejajar, shaf rapat, mata kaki nempel dengan mata kaki, bahu dengan bahu, bukan makmum sedikit ke belakang sebagaimana sering kita lihat di masyarakat,

  3. Anonymous
    Oktober 11, 2014 pukul 6:28 am

    Bagaimana Cara Shalat Berjama’ah 2 Orang, Bersebelhan Kah Atau Ma’mum Di Belakang. Mohon Balasan nya

    sejajar dengan imam, rapat dengan imam, mata kaki nempel dengan mata kaki, bahu dengan bahu, jadi bukan si makmum sedikit ke belakang sebagaimana yang kita sering lihat, itu adalah salah,

  4. Riko Al Hanafi
    Juli 15, 2014 pukul 9:47 pm

    Salam damai buat mas admin kita yang amat pintar ini.
    sebetulnya saya tertawa geli membaca semua ulasan anda dan semua jawaban anda di komentar. saya tidak akan memberikan penjelasan tentang tasawuf dan sufi kepada anda walau saya seorang penganut sufi, karna sama saja memberikan sebongkah permata kepada seekor keledai, tidak paham ,tidak mengerti.

    wahai bung admin, anda itu sama seperti seseorang yang bercerita panjang lebar tentang cabe, tau bentuk, warna harga dan segala hal tentang cabe tapi tidak pernah makan cabe walau sekalipun. seperti itu hal anda sekarang. panjang lebar bekhotbah tentang sufi tapi tak pernah sekalipun belajar kepada seorang sufi ha..haaa.. persisi orang bodoh yang ingin mengetahui tentang sesutau tapi tidak bertanya kepada orang yang bersangkutan.

    pahamilah wahai admin. ilmu sufi itu adalah pengalaman langsung. ilmu yang harus di rasakan sendiri, tidak akan memahaminya kalau bukan ahlinya. saya liat referensi anda ada kitab ihya..

    hee.heee…cobalah anda baca dengan hati bersih, tapi anda cari cari sesuatu yang menurut anda salah, padahal anda tidak mengerti maksudnya, ibarat anda di beri seekor ayam tapi yang anda makan adalah tahinya lalu dagingnya anda buang.

    menjelaskan kebenaran kepada orang seperti anda sebetulnya sama saja dengan memberikan penjelasan kepada batu. di mana mana yang namanya penganut wahabi sama saja,bodoh dan rela di bodohi tapi merasa, cuma merasa saja paling paham agama.

    belajarlah tasawuf kepada orang tasawuf, pergilah anda menemui seorang guru sufi belajarlah kepadanya. jangan belajar kepda buku sampai kapanpun anda tidak akan paham.

    hilangkan doktrin yang di tanamkan wahabi kepada anda untuk sesaat. mudahmudahan anda mengerti wahai admin,. nah selamat belajar

    Terimakasih Riko Al Hanafi, komentar yang bagus dan panjang dari seorang sufi, begitu ya mas,. diawali dengan salam damai, bukan salam terbaik umat islam, mungkin ini salah satu buah dari anda belajar sufi juga,. salam damai dibalasnya apa mas? untung bukan salam dua jari,.

    Mas Riko, anda tahu Imam Syafii kan, beliau adalah ulama ahlusunnah, beliau hidup, di jaman penulis kitab IHYA belum lahir,. beliau juga hidup jauuuuh sebelum Syaikh muhammad bin Abdul wahhab belum lahir, orangtuanya Syaikh Muhammad bin Abdul wahhab juga belum lahir,..

    Jadi saya tidak di doktrin oleh wahabi, atau merujuk kitab ihya,.. sudah ada Imam Syafii yang MENGHUKUM ORANG YANG BELAJAR TASAWUF, bagaimana imam syafii menghukum orang yang belajar sufi? diarak keliling kampung, sambil dipukul pakai pelepah kurma, mungkin jika anda hidup di jaman imam syafii, anda akan dihukum seperti itu,.imam syafii sangat membenci tasawuf/ilmu kalam silahkan lihat postingannya disini

    Mas Riko, mau tahu perkataan Imam Syafii tentang orang yang belajar tasawuf/ilmu kalam? mungkin perkataan ini amat menohok anda, tapi jangan salahkan saya, ini perkataan Imam Syafii, jika anda mau ngga setuju, mau marah, silahkan marah sama imam syafii, ini nukilan perkataan Imam syafii :
    Imam Asy-Syafii berkata: “Kalau seorang menganut ajaran tasawuf (tashawwuf) pada awal siang hari, tidak datang waktu zhuhur kepadanya melainkan engkau mendapatkan dia menjadi dungu.”
    Selengkpanya perkataan Imam syafii yang lainnya, silahkan anda baca di postingan ini

    Imam syafii terkena pemikiran WAHABI?… he..he..he.. mungkin akibat belajar tasawuf, sehingga ngomong seperti ini, Imam syafii lahir jauh sebelum muhammad bin abdul wahhab lahir,. atau mungkin anda belum paham apa itu wahabi, karena doktrin tasawuf? wah, ketinggalan kereta nih mas riko, silahkan baca disini, ternyata ada wahabi yang sesat juga mas, silahkan baca disini ulasannya

  5. abdillah
    Maret 7, 2014 pukul 5:43 pm

    Antara penulis dan pendebat sama

    terimakasih mas abdullah
    Iya, betul, sama-sama masih beragama islam, sama seperti anda ,

  6. Agus DS
    Juli 30, 2013 pukul 6:30 am

    Dari penjelasan tentang ajaran sufi di atas, mk mf, adakah perbedaan atwkh sm sj antara ajaran sufi dgn syiah tsb, y saudaraku?
    Mohn mf dn terima ksih ats penjelsnny, y saudaraku..
    Wassalaamu’alaikum.

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,
    sufi dan syiah ada kemiripan, dan mereka seperti saudara,. dimana ada sufi, disitu ada syiah, dimana ada syiah disitu ada sufi,
    Makanya tidak heran jika ada tokoh pimpinan ormas aswaja di indonesia yang getol membela syiah, dan syiahpun sudah merasuki ormas aswaja tersebut,.

    silahkan bisa lihat disini

  7. Yuga
    Maret 11, 2013 pukul 5:04 am

    merasa diri paling benar sedangkan yang lain salah..merasa paling tinggi sedangkan yang lain rendah..janganlah begitu wahai umat manusia.

    terimakasih mas yuga,.
    merasa diri paling benar tidak dibenarkan dalam islam,
    Adapun jika menyampaikan ajaran yg betul-betul diajarkan oleh rasulullah, dan bertentangan dengan tradisi yang ada dimasyarakat kita, bukan berarti orang yang menyampaikan hal tersebut dianggap orang yg merasa paling benar,. sangat berbeda, justru disini diuji syahadat anda, bukankah anda bersaksi bahwa rasulullah adalah utusan Allah?? ini syahadat umat islam lho,.. tapi…
    Mengapa anda menolak ajaran rasulullah, dan mengatakan kepada orang yang menjelaskan ttg ajaran yg rasulullah ajarkan itu sebagai orang yg merasa paling benar, karena berbeda dgn tradisi msyarakat??

    Apakah anda tidak percaya kepada apa yg disampaikan rasulullah, dan membela tradisi di masyarakat?? jadi, siapa sebenarnya yg merasa paling benar dalam hal ini??
    .janganlah begitu wahai umat manusia.

  8. Zuhdi Siy Remajaa Terakhir
    Januari 19, 2013 pukul 10:30 am

    SALAH BESAR JIKA MENGATAKAN SUFI SEBAB KEMUNDURAN ISLAM MALAH KAUM SUFILAH YANG BUAT INDONESIA MERDEKA…LIHAT WALISONGO..SEORANG WALI SUFINYA TERKENAL

    Terimakasih kang Zuhdi,
    Walisanga bukanlah sufi, silahkan baca sejarah walisanga disini

    Apakah sufi itu ajaran nabi? sudah pernah diposting artikelnya, silahkan baca disini

  9. dyon
    Oktober 19, 2012 pukul 1:59 pm

    maaf mas” smua nya, bkn kah rasulallah brkta, hndari prdebatan skli pun anda bnar. krna prdbtan akn mmnculkan perbedaan, dan mmicu prmushan.

    Terimakasih komentarnya mas dyon,
    Betul sekali, kita disuruh meninggalkan perdebatan, tapi bukan meninggalkan amar maruf nahi mungkar,
    Kita menjelaskan tentang ajaran yg betul2 diajarkan rasulullah,dan mengingatkan akan bahaya amalan2 yg tidak ada contohnya dari rasulullah, itu bukanlah perdebatan,

  10. Ahmad
    April 12, 2012 pukul 11:46 am

    ijtihad???? tidak ada satu katapun dalam AL-Qur’an sunnah, jawaban yang dangkal dari admin… siapa bilang sufi berkeyakinan begtu, tanyanya admin sama syekh google, Allah ada di mana?? jawab wahabi:Di Arsy,

    Bukan di arsy mas, tapi diatas arsy, itu Allah yang mengatakannya di dalam alquran, Al wahhab yang mengatakannya, Al wahhab adalah salah satu nama-nama Allah, jadi wahhabi adalah pengikut Allah,

    sufi:lalu sebelum ada Arsy, Allah di mana???? Wahabi: (mati kutu), sebanyak apapun fakta, tidak akan dapat menyangkal sesuatu yang di anggap benar,

    Emang sufi tahu, sebelum ada arsy Alah dimana? dari mana tahunya mas? kalau kita menjawab pertanyaan seperti itu, bukan mati kutu, sebab hal itu adalah masalah ghaib,hanya Allah yang tahu, kita hanya mengatakan apa yang Allah katakan di dalam alquran, bukan ngarang-ngarang sendiri,.. ngga seperti ajaran-ajaran sufi,

    wahabi juga mengancam nasionalisme:
    1)membabat budaya
    2)masyarakat jadi esklusif
    3)masih banyak lagi

    Mas, apa arti nasionalisme?
    Tidak ada tuh mas yang namanya nasionalisme, yang ada juga kita wajib membela islam dimanapun berada, bukan karena negaranya,.. kita membela negara indonesia dari penjajah bukanlah karena negaranya, akan tetapi agar kita bisa mengamalkan islam di negara indonesia, agar masyarakat bisa bahagia dunia dan akherat,

    Islam bukan agama budaya,.. jadi jika ada budaya yang bertentangan dengan ajaran islam, maka wajib kita tolak keberadaan budaya tersebut, apalagi budaya kesyirikan,.. ini penyebab orang kekal di neraka,

    Eklusif??? masa sih mas, kita aja berbaur dengan masyarakat,.. ngga eklusif tuh,

    • masjudin
      Januari 14, 2013 pukul 11:04 am

      Allah ada dimana2,,,kalo kita bilang Allah ada ars atau di atas ars,,,berati Allah membutuhkan tempat,,,,Allah tidak membutuhkan tempat,yang membutuhkan hanyalah makhluk,,,,,,,

      Terimakasih masjudin,
      Secara fitrah saja makhluk mengakui bahwa Allah ada diatas,. coba lihat ketika orang berdoa, kemanakah menengadahkan tangannya? kemana muka menghadapnya? Tanya anak kecil, dimana Allah, pasti akan menunjuk ke atas, bahkan sudah menjadi hal yang tidak aneh, jika ada orang yang mengatakan “kita serahkan saja sama yang diatas”

      Yang mengatakan Allah ada diatas arsy adalah Allah, dan yang mengatakan Allah ada dimana-mana bukanlah Allah, tapi datang dari keyakinan orang-orang yang sudah melenceng fitrahnya,

      Allah ada diatas arsy , tidak memerlukan ruang dan waktu, sebab ruang dan waktu adalah makhluk ciptaan Allah, dan Allah tidak butuh kepada makhluk, Allah bersemayam diatas arsy dan terpisah dari makhluknya ,

      Seandainya menurut anggapan anda “,kalo kita bilang Allah ada ars atau di atas ars,,,berati Allah membutuhkan tempat” ini karena anda telah menyerupakan Allah itu seperti makhluk, padahal Allah tidak serupa dgn makhluk, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupainya,

  11. muadz
    Maret 25, 2012 pukul 3:29 am

    sudah sudah ngak usah ribut,ikuti aja alquran dan hadist,kalau ajaran sufi atau apapun itu yang menyimpang dari keduanya nga usah diikutin. benar ngak……..?

    Ikuti Aja alquran dan hadits menurut pemahaman para sahabat, itu baru bener,..

    kalau tanya ke sufi, apa yg mereka ikutin, pasti jawabnya alquran dan hadits,
    tanya ldii, apa yg mereka ikutin? jawabnya alquran dan hadits
    tanya ahmadiyah, apa yg mereka ikutin? pasti jawabnya, alquran dan hadits,.

    kenapa mereka semuanya tersesat? apa penyebabnya?
    penyebabnya adalah karena mereka tidak memahami alquran dan hadits tersebut menurut pemahaman para sahabat,.. generasi yang dididik langsung oleh Rasulullah,

  12. salafi_Insyaf
    Maret 9, 2012 pukul 8:39 am

    Buya Hamka juga seorang sufi lihat :

    Emangnya kita disuruh mengikuti buya hamka ya kang?

    Kita disuruh mengikuti Rasulullah kang, bukan disuruh mengikuti ajaran orang lain,..

    Imam syafii aja menghukum keras orang-orang yang belajar sufi / tasawuf, kok yang ngakunya pengikut imam syafii kok demen ajaran tasawuf/ sufi ya??

    Dan betulkah buya hamka seorang sufi? ini lho perkataan buya hamka yang menjelaskan tentang menyimpangnya sufi/tasawuf
    Sungguh bijak ucapan buya HAMKA rahimahullah yang mengatakan,

    “Daripada gambaran yang saya kemukakan selayang pandang itu, dapatlah kita memahamkan bagaimana sangat perlunya pembersihan aqidah dari syirik, bid’ah dan ajaran tasawuf yang salah, yang telah menimpa negeri kami sejak beberapa zaman, dan perlunya kepada kemerdekaan pikiran dan memperbaharui paham tentang ajaran Islam sejati.” (Sejarah Perkembangan Pemurnian Ajaran Islam di Indonesia, penerbit Tintamas Djakarta, hal. 6-7. Buku ini dapat didownload di perpustakaanislam.com).

    • salafi_Insyaf
      Maret 10, 2012 pukul 1:59 am

      ngikut rasul apa nentang rasul ?, rasul sudah jelas melarang ghibah, apalagi mencela, apalagi fitnah koq dilakoni, mending ikut sumber yg sudah jelas ilmunya aja dan yang sudah diakui dunia islam seperti Buya Hamka, daripada sumber yg jelas asal usulnya ujung ujungnya jadi teroris deh

      rasul bilang semua bidah itu sesat,. nah lho,. ngikut siapa dong anda sendiri?

      ngerti arti ghibah ngga ya,. kok menjelaskan apa-apa yang tidak diajarkan rasulullah dibilangnya ghibah? lucu ya?

      Menjelaskan apa-apa yang tidak diajarkan Rasulullah kok dibilang teroris,. wah, ini lebih lucu lagi,..

      • salafi_Insyaf
        Maret 12, 2012 pukul 12:58 am

        darimana anda itu tahu dari rasul, padahal anda tidak pernah ketemu ?

        saya tanya balik kepada anda, apakah Alquran itu Rasulullah yang menyampaikannya?
        Apakah shalat itu diajarkan oleh Rasulullah?
        Darimana anda yakin kalau alquran itu Rasulullah yang menyampaikannya?
        Darimana anda tahu kalau shalat itu adalah ajaran Rasulullah?
        Kan anda tidak pernah bertemu Rasulullah?

        Jawaban anda saya tunggu,

      • salafi_Insyaf
        Maret 12, 2012 pukul 6:24 am

        berarti yang mengatakan sufi itu sesat bukan dari nabi, tapi dari guru wahabi salafi anda

        Gurunya wahabi salafi kan Rasulullah, lucu ya anda, mana jawabannya, saya tunggu, kok ngga dijawab?

      • Bang Ucok
        Maret 13, 2012 pukul 4:05 am

        bung moderator pertanyaan anda ke salafii insya sudah dijawab, mohon perhatikan tulisan dia Atas

        Belum dijawab, makanya komentar dari dia tdk akan saya loloskan selamanya,.. sebelum dia menjawab pertanyaan saya

      • Maret 13, 2012 pukul 4:15 am

        barangkali lupa pertanyaanya,ini lho:

        saya tanya balik kepada anda, apakah Alquran itu Rasulullah yang menyampaikannya?

        Apakah shalat itu diajarkan oleh Rasulullah?

        Darimana anda yakin kalau alquran itu Rasulullah yang menyampaikannya?

        Darimana anda tahu kalau shalat itu adalah ajaran Rasulullah?

        Kan anda tidak pernah bertemu Rasulullah?

        Jawaban anda saya tunggu,

      • Bang Ucok
        Maret 13, 2012 pukul 8:40 am

        salafi_insya bilang “berarti yang mengatakan sufi itu sesat bukan dari nabi, tapi dari guru wahabi salafi anda”, jika dibalik berarti dia mengerti/belajar islam juga dari gurunya, tapi bukan wahabi salafi, bukankah ini jawaban, agar diskusi ini tidak buntu, mohon tidak diblokir karena saya sedang tugas studi masalah seperti ini dari dosen, makasih

        ini lho pertanyaan saya, tolong tuh yg ngaku salafi insaf, jawab ya,

        barangkali lupa pertanyaanya,ini lho:

        saya tanya balik kepada anda, apakah Alquran itu Rasulullah yang menyampaikannya?

        Apakah shalat itu diajarkan oleh Rasulullah?

        Darimana anda yakin kalau alquran itu Rasulullah yang menyampaikannya?

        Darimana anda tahu kalau shalat itu adalah ajaran Rasulullah?

        Kan anda tidak pernah bertemu Rasulullah?

        Jawaban anda saya tunggu,

        Belum ada tuh jawabanya,.. sebab jawaban dia itu merupakan dasar buat saya tuk menjawab pertanyaan dia,

      • udin
        Maret 21, 2012 pukul 9:14 am

        @salafi_insyaf: gak bisa jawab ya mas??

    • ahmad
      Maret 13, 2012 pukul 6:46 am

      di zaman imam syafii blm ada istilah sufy mungkin maksud anda ilmu kalam/filsafat

      Kehancuran islam dimulai ketika diterjemahkannya kitab-kitab dari yunani kedalam bahasa arab, yang dikenal dengan istilah filsafat, tidak ada filsafat islam, proses penerjemahan kitab yunani ini didukung oleh penguasa islam saat itu, bahkan penguasa memberikan hadiah yang sangat besar kepada penerjemah-penerjemah kitab tersebut,.. inilah awal dari filsafat,..

    • wong_Negaradaha
      Maret 22, 2012 pukul 8:49 am

      imam syafei mencela tasawuf dari mana sumbernya ?, padahal beliau juga seorang sufi

      oh, mau tahu, ini lho mas,
      Imam Syafi’i rahimahullah berkata : “Seandainya seorang menjadi sufi (bertasawwuf) di pagi hari, niscaya sebelum datang waktu Zhuhur, engkau tidak dapati dirinya, kecuali menjadi orang bodoh”. (al-Manaqib lil Baihaqi 2/207)

      Imam syafii seorang sufi? darimana sumbernya perkataan itu? kalau diaku-aku seorang sufi oleh pengikutnya, itu beda perkara, wong ada yang ngomong kalau rasulullah juga katanya seorang sufi,.. innalillahi wa inna ilaihi raji’uun,.. berkata tanpa ilmu,.. sehingga keanehan yg timbul,

      silahkan baca postingan baru nih mas, menjawab pertanyaan anda, baca disini

  13. ahmad kadir
    Oktober 3, 2010 pukul 3:38 am

    bodoh anda
    klu tasawuf merupakan salah satu kemuduran dunia islam
    org kyk anda lh penyebab kemuduran dan runtuhnya islam
    byk baca buku anda

    Ada orang berkata, “Seluruh Imam Madzhab pada Akhirnya kembali kepada Sufi. Kecuali Wahabi..”

    jawaban:
    Saudaraku, kalau memang ajaran sufi dengan berbagai macam aliran tarekatnya adalah benar dan para imam madzhab mengikutinya apa alasan kami untuk tidak mengikuti kalian? Namun yang menjadi masalah adalah ajaran-ajaran sufi telah jelas terbukti penyimpangannya. Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah, dan para ulama yang lain telah memaparkan kepada kita tentang kesesatan ajaran mereka. Al-Qur’an dan As-Sunnah bagi orang sufi sekedar kata-kata yang bisa dipermainkan ke sana kemari. Allah ta’ala mengatakan bahwa Allah itu esa (Qul Huwallahu Ahad). Sementara orang-orang sufi mengatakan Allah menyatu dalam diri hamba-hambaNya, padahal hamba Allah itu banyak. Allah mengatakan bahwa diri-Nya tinggi berada di atas Arsy-Nya, sementara orang-orang sufi mengatakan Allah di mana-mana tapi juga tidak di mana-mana. Allahul musta’an, kalau memang boleh mengatakan demikian maka kita juga akan mengatakan “Semua Imam Madzhab pada akhirnya kembali kepada Wahabi. Kecuali sufi.” Allahu yahdik.

  14. Izhar Ilyas
    Juni 25, 2010 pukul 3:18 pm

    Sejatinya, tasawuf merupakan salah satu penyebab kemunduran dunia Islam.

    Memang seperti itu, bahkan Imam Syafi’i rahimahullah memberikan hukuman yang keras kepada orang yang belajar tasawuf ini…

    • Mhd Al Husyairi
      September 8, 2014 pukul 9:53 pm

      PENJELASAN TENTANG UCAPAN IMAM SYAFI’I YG SERING DI POTONG DAN DI SALAH GUNAKAN OLEH WAHABI UNTUK MENYUDUTKAN SUFI
      Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullahu meriwayatkan dengan sanadnya sampai Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu: “Jika seorang belajar tasawuf di pagi hari, sebelum datang waktu dhuhur engkau akan dapati dia menjadi orang dungu.”
      Perkataan Al Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu tersebut bersumber dari Manaqib Al Imam As Syafi’i yang ditulis oleh Imam Al Baihaqi.
      Di dalam kitab itu, Imam As Syafi’i menyatakan, “Kalau seandainya seorang laki-laki mengamalkan tashawuf di awal siang, maka tidak tidak sampai kepadanya dhuhur kecuali ia menjadi kekurangan akal.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)
      Beliau juga menyatakan,”Aku tidak mengetahui seorang sufi yang berakal, kecuali ia seorang Muslim yang khawwas.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)
      Beberapa pihak secara tergesa-gesa menyimpulkan dari perkataan di atas bahwa Imam As Syafi’i mencela seluruh penganut sufi. Padahal tidaklah demikian, Imam As Syafi’i hanya mencela mereka yang menisbatkan kepada tasawuf namun tidak benar-benar menjalankan ajarannya tersebut.
      Dalam hal ini, Imam Al Baihaqi menjelaskan,”Dan sesungguhnya yang dituju dengan perkataan itu adalah siapa yang masuk kepada ajaran sufi namun mencukupkan diri dengan sebutan daripada kandungannya, dan tulisan daripada hakikatnya, dan ia meninggalkan usaha dan membebankan kesusahannya kepada kaum Muslim, ia tidak perduli terhadap mereka serta tidak mengindahkan hak-hak mereka, dan tidak menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah, sebagaimana beliau sifatkan di kesempatan lain.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/208)
      Jelas, dari penjelasan Imam Al Baihaqi di atas, yang dicela Imam As Syafi’i adalah para sufi yang hanya sebatas pengakuan dan tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya.
      Imam As Syafi’i juga menyatakan,”Seorang sufi tidak menjadi sufi hingga ada pada dirinya 4 perkara, malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)
      Imam Al Baihaqi menjelaskan maksud perkataan Imam As Syafi’i tersebut,”Sesungguhnya yang beliau ingin cela adalah siapa dari mereka yang memiliki sifat ini. Adapun siapa yang bersih kesufiannya dengan benar-benar tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla, dan menggunakan adab syari’ah dalam muamalahnya kepada Allah Azza wa Jalla dalam beribadah serta mummalah mereka dengan manusia dalam pergaulan, maka telah dikisahkan dari beliau (Imam As Syafi’i) bahwa beliau bergaul dengan mereka dan mengambil (ilmu) dari mereka.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)
      Kemudian Imam Al Baihaqi menyebutkan satu riwayat, bahwa Imam As Syafi’i pernah mengatakan,”Aku telah bersahabat dengan para sufi selama sepuluh tahun, aku tidak memperoleh dari mereka kecuali dua huruf ini,”Waktu adalah pedang” dan “Termasuk kemaksuman, engkau tidak mampu” (maknanya, sesungguhnya manusia lebih cenderung berbuat dosa, namun Allah menghalangi, maka manusia tidak mampu melakukannya, hingga terhindar dari maksiat).
      Jelas, bahwa Imam Al Baihaqi memahami bahwa Imam As Syafi’i mengambil manfaat dari para sufi tersebut. Dan beliau menilai bahwa Imam As Syafi’i mengeluarkan pernyataan di atas karena perilaku mereka yang mengatasnamakan sufi namun Imam As Syafi’i menyaksikan dari mereka hal yang membuat beliau tidak suka. (lihat, Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)
      Bahkan di satu kesempatan, Imam As Syafi’I memuji salah satu ulama ahli qira’ah dari kalangan sufi. Ismail bin At Thayyan Ar Razi pernah menyatakan,”Aku tiba di Makkah dan bertemu dengan As Syafi’i. Ia mengatakan,’Apakah engkau tahu Musa Ar Razi? Tidak datang kepada kami dari arah timur yang lebih pandai tentang Al Qur`an darinya.’Maka aku berkata,’Wahai Abu Abdillah sebutkan ciri-cirinya’. Ia berkata,’Berumur 30 hingga 50 tahun datang dari Ar Ray’. Lalu ia menyebut cirri-cirinya, dan saya tahu bahwa yang dimaksud adalah Abu Imran As Shufi. Maka saya mengatakan,’Aku mengetahunya, ia adalah Abu Imran As Shufi. As Syafi’i mengatakan,’Dia adalah dia.’” (Adab As Syafi’i wa Manaqibuhu, hal. 164)
      Walhasil, Imam As Syafi’I disamping mencela sebagian penganut sufi beliau juga memberikan pujian kepada sufi lainnya. Dan Imam Al Baihaqi menilai bahwa celaan itu ditujukan kepada mereka yang menjadi sufi hanya dengan sebutan tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya dan Imam As Syafi’i juga berinteraksi dan mengambil manfaat dari kelompok ini.
      Bahkan Imam As Syafi’i menasehatkan kita untuk menjalankan perkara syariat sebagaimana yang mereka sampaikan dalam kitab fiqih sekaligus menjalankan tasawuf untuk mencapai muslim yang baik, muslim yang sholeh, muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang Ihsan
      Imam Syafi’i ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]
      Begitupula dengan nasehat Imam Malik ~rahimahullah bahwa menjalankan tasawuf agar manusia tidak rusak dan menjadi manusia berakhlak baik
      Imam Malik ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fiqih (perkara syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia, hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar” .
      Berikut adalah pendapat para ulama terdahulu yang sholeh tentang tasawuf.
      Imam Nawawi Rahimahullah berkata :
      أصول طريق التصوف خمسة: تقوى الله في السر والعلانية. اتباع السنة في الأقوال والأفعال. الإِعراض عن الخلق في الإِقبال والإِدبار. الرضى عن الله في القليل والكثير.الرجوع إِلى الله في السراء والضراء.
      “ Pokok-pokok metode ajaran tasawwuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka “. (Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawwuf halaman : 20, Imam Nawawi)
      Al-Allamah al-Hafidz Ibnu Hajar al-Haitami berkata :
      إياك أن تنتقد على السادة الصوفية : وينبغي للإنسان حيثُ أمكنه عدم الانتقاد على السادة الصوفية نفعنا الله بمعارفهم، وأفاض علينا بواسطة مَحبتَّنا لهم ما أفاض على خواصِّهم، ونظمنا في سلك أتباعهم، ومَنَّ علينا بسوابغ عوارفهم، أنْ يُسَلِّم لهم أحوالهم ما وجد لهم محملاً صحيحاً يُخْرِجهم عن ارتكاب المحرم، وقد شاهدنا من بالغ في الانتقاد عليهم، مع نوع تصعب فابتلاه الله بالانحطاط عن مرتبته وأزال عنه عوائد لطفه وأسرار حضرته، ثم أذاقه الهوان والذلِّة وردَّه إلى أسفل سافلين وابتلاه بكل علَّة ومحنة، فنعوذ بك اللهم من هذه القواصم المُرْهِقات والبواتر المهلكات، ونسألك أن تنظمنا في سلكهم القوي المتين، وأن تَمنَّ علينا بما مَننتَ عليهم حتى نكون من العارفين والأئمة المجتهدين إنك على كل شيء قدير وبالإجابة جدير.
      “ Berhati-hatilah kamu dari menentang para ulama shufi. Dan sebaiknya bagi manusia sebisa mungkin untuk tidak menentang para ulama shufi, semoga Allah member manfaat kpeada kita dengan ma’rifat-ma’rifat mereka dan melimpahkan apa yang Allah limpahkan kepada orang-orang khususnya dengan perantara kecintaan kami pada mereka, menetapkan kita pada jalan pengikut mereka dan mencurahkan kita curahan-curahan ilmu ma’rifat mereka. Hendaknya manusia menyerahkan apa yang mereka lihat dari keadaan para ulama shufi dengan kemungkinan-kemungkinan baik yang dapat mengeluarkan mereka dari melakukan perbuatan haram.
      Kami sungguh telah menyaksikan orang yang sangat menentang ulama shufi, mereka para penentang itu mendapatkan ujian dari Allah dengan pencabutan derajatnya, dan Allah menghilangkan curahan kelembutan-Nya dan rahasia-rahasia kehadiran-Nya. Kemudian Allah menimpakan para penentang itu dengan kehinaan dan kerendahan dan mengembalikan mereka pada derajat terendah. Allah telah menguji mereka dengan semua penyakit dan cobaan . Maka kami berlindung kepada-Mu ya Allah dari hantaman-hantaman yang kami tidak sanggup menahannya dan dari tuduhan-tuduhan yang membinasakan. Dan kami memohon agar Engkau menetapi kami jalan mereka yang kuat, dan Engkau anugerahkan kami apa yang telah Engkau anugerahkan pada mereka sehingga kami menjadi orang yang mengenal Allah dan imam yang mujtahid, sesungguhnya Engkau maha Mampu atas segala sesuatu dan maha layak untuk mengabulkan permohonan “. (Al-Fatawa Al-Haditsiyyah : 113, karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami)
      Al-Imam Al-Hafidz Abu Nu’aim Al-Ashfihani berkata :
      أما بعد أحسن الله توفيقك فقد استعنت بالله عز وجل وأجبتك الى ما ابتغيت من جمع كتاب يتضمن أسامي جماعة وبعض أحاديثهم وكلامهم من أعلام المتحققين من المتصوفة وأئمتهم وترتيب طبقاتهم من النساك من قرن الصحابة والتابعين وتابعيهم ومن بعدهم ممن عرف الأدلة والحقائق وباشر الأحوال والطرائق وساكن الرياض والحدائق وفارق العوارض والعلائق وتبرأ من المتنطعين والمتعمقين ومن أهل الدعاوى من المتسوفين ومن الكسالى والمتثبطين المتشبهين بهم في اللباس والمقال والمخالفين لهم في العقيدة والفعال وذلك لما بلغك من بسط لساننا ولسان أهل الفقه والآثار في كل القطر والأمصار في المنتسبين إليهم من الفسقة الفجار والمباحية والحلولية الكفار وليس ما حل بالكذبة من الوقيعة والإنكار بقادح في منقبة البررة الأخيار وواضع من درجة الصفوة الأبرار بل في إظهار البراءة من الكذابين , والنكير على الخونة الباطلين نزاهة للصادقين ورفعة للمتحققين ولو لم نكشف عن مخازي المبطلين ومساويهم ديانة , للزمنا إبانتها وإشاعتها حمية وصيانة , إذ لأسلافنا في التصوف العلم المنشور والصيت والذكر المشهور
      “ Selanjutnya, semoga Allah memperbagus taufiqmu, maka sungguh aku telah memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dan menjawabmu atas apa yang engkau mau dari pengumpulan kitab yang mengandung nama-nama kelompok dan sebagian hadits dan ucapan mereka dari ulama hakikat dari orang-orang ahli tasawwuf, para imam dari mereka, penertiban tingkatan mereka dari orang-orang ahli ibadah sejak zaman sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in dan setelahnya dari orang yang memahami dalil dan hakikat. Menjalankan hal ihwal serta thariqah, bertempat di taman (ketenangan) dan meninggalkan ketergantungan. Berlepas dari orang-orang yang berlebihan dan orang-orang yang mengaku-ngaku, orang-orang yang berandai-andai dan dari orang-orang yang malas yang menyerupai mereka di dalam pakaian dan ucapan dan bertentangan pada mereka di dalam aqidah dan perbuatan. Demikian itu ketika sampai padamu dari pemaparan lisan kami dan lisan ulama fiqih dan hadits di setiap daerah dan masa tentang orang-orang yang menisabatkan diri pada mereka adalah orang-orang fasiq, fajir, suka mudah berkata mubah dan halal lagi kufur. Bukanlah menghalalkan dengan kedustaan, umpatan dan pengingkaran dengan celaan di dalam manaqib orang-orang baik pilihan dan perendahan dari derajat orang-orang suci lagi baik, akan tetapi di dalam menampakkan pelepasan diri dari orang-orang pendusta dan pengingkaran atas orang-orang pengkhianat, bathil sebagai penyucian bagi orang-orang jujur dan keluhuran bagi orang-orang ahli hakikat. Seandainya kami tidak menyingkap kehinaan dan keburukan orang-orang yang mengingkari tasawwuf itu sebagai bagian dari agama, maka kami pasti akan menjelaskan dan mengupasnya sebagai penjagaan, karena salaf kami di dalam ilmu tasawwuf memiliki ilmu yang sudah tersebar dan nama yang masyhur “. (Muqoddimah Hilyah Al-Awliya, karya imam Al-Ashfihani)

      Terimakasih, komentar yang panjang, tapi anda tidak paham sejarah sufi, sehingga mengatakan ahlu sufah itu sebagai sufi,.. ini sangat lucu,.
      Yang kedua, jika ucapan imam syafii tentang sufi itu seperti penjelasan yg anda paparkan, kenapa imam syafii MENGHUKUM ORANG YANG BELAJAR SUFI dengan mengaraknya diatas unta dan dipukuli? silahkan baca disini, bagaimana imam syafii menghukum orang yang belajar sufi,sebab sufi mulai gencar di jaman imam syafii, awal mulanya ketika buku-buku dari yunani diterjemahkan ke dalam bahasa arab di jaman pemerintahan Harun Alrasyid silahkan klik link ini

  1. No trackbacks yet.

Silahkan tulis komentar anda,.. surel diisi dgn email, nama diisi dengan nama anda ,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.569 pengikut lainnya.