Beranda > ahlul bait, syiah > PROFESI LAIN DARI WANITA SYIAH IRAN SELAIN DIMUT’AH (EMANSISAPI ALA SYIAH – FULL PICS!)

PROFESI LAIN DARI WANITA SYIAH IRAN SELAIN DIMUT’AH (EMANSISAPI ALA SYIAH – FULL PICS!)

  1. Harsono Peace
    Desember 25, 2013 pukul 4:13 am

    zina,pelacuran itu dosa dilarang oleh Al Qur’an dan Al Hadis.
    Nikah Mut’ah diharamkan oleh Nabi Saw sampai kiamat..
    Nikah mut’ah itu enak bagi laki-laki tapi beban berat bagi perempuan yang masih normal aqidah dan akhlakya.
    Nikah mut’ah jembatan menuju penyakit kelamin,virus hiv aids,better tidak zina dan tidak nikah mut’ah.

    Nikah mut’ah bagi wanita syiah sih enak juga mungkin, bisa berpetualang dgn banyak laki-laki, berpahala lagi,
    Wanita yg masih sehat akalnya tentu merasa jijik,

  2. lahmy
    Mei 17, 2013 pukul 11:59 am

    nikah mut’ah bukan pelecehan. nikah mut’ah itu dilakukan apabila kedua pihak suda saling merelahkan. dlm alQURAN BERKATA SEPERTI ITU.
    lebih terhina mana wanita yang berhubungan badan tampa nikah dengan wanita mut’ah
    bukanya allah melaknat bagi penzina

    tolong sebutkan dalam surat apa ayat berapa,

    nikah mutah sama dengan zina, sama dengan pelacuran, bahkan lebih buruk dari pelacuran,.

    MUTAH adalah ZINA BERKEDOK NIKAH,

    • evers
      November 14, 2013 pukul 12:44 pm

      kl hanya karena saling merelakan sama aja kayak orang transaksi di lokalisasi. saya rela bayar segini, ya udah deh saya rela dibayar segitu. deal? dealll….!!!! sama kan???

      Betul, sama saja sperti transaksi dengan pelacur, tapi mutah lebih jelek lagi,

  3. Joel H
    Mei 3, 2012 pukul 9:10 am

    Bapak Pengasuh Blog yang dirahmati Allah,

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Saya memiliki beberapa pertanyaan seputar mut’ah.

    1. Jika mut’ah = zina, apakah artinya Allah SWT pernah menghalalkan zina kemudian Rasul SAW melarangnya seperti ada dalam hadits?

    ini ayat yang mendasari mut’ah, dan ayat yang membatalkannya,
    1). Apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan: “Mut’ah pada awal Islam ialah mut’ah wanita. Seseorang datang di suatu negeri dengan membawa dagangannya, sedangkan dia tidak mempunyai orang yang bisa menjaganya dan mengumpulkan barang perniagaannya kepadanya, lalu dia menikahi seorang wanita hingga waktu yang diperlukannya untuk menyelesaikan hajatnya. Kala itu ayat al-Qur-an (yang) dibaca (dan berlaku adalah firman Allah):

    “Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna).” [An-Nisaa’: 24]

    Hingga turun ayat:

    “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan; saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusuimu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang ada dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum bercampur dengan isteri-mu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki. (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atasmu. Dan dihalalkan bagimu selain yang demikian, (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini, bukan untuk berzina…” [An-Nisaa’: 23-24]

    Kemudian mut’ah ditinggalkan, dan (ditetapkan) nikah permanen. Jika mau, dia boleh menceraikannya, dan jika suka, dia tetap menjadikannya sebagai isteri. Keduanya saling mewarisi, dan keduanya tidak mempunyai wewenang apa pun dalam perkara itu.”
    HR. At-Tirmidzi (no. 1121) kitab an-Nikaah, dan di dalamnya terdapat Musa bin ‘Ubaidah, ia dha’if, dan perawi-perawi lainnya tsiqah. Lihat ‘Aunul Ma’buud (V/58).

    2. Saya juga membaca hadis yang menyatakan bahwa sahabat Umar RA mengharamkan mut’ah, bukan Rasul SAW. Siapa yang sebetulnya mengharamkannya?

    Jawabannya ada diartikel dibawah ini,

    3. Jika Rasul SAW yang mengharamkannya, padahal mut’ah itu ada dalam al-Quran dan tidak pernah ada ayat yang me-nasakh nya, apakah benar hadis Rasulullah dapat dijadikan dalil untuk membatalkan ayat?

    Tidak ada Dalil yang shahih yang bertentangan dengan Alquran
    Ada ayat yang membatalkannya, dah ditulis diatas,

    Terima kasih.
    Berikut ini jawaban untuk 3 pertanyaan diatas,

    Pada awal tegaknya agama Islam nikah mut’ah diperbolehkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam beberapa sabdanya, di antaranya hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu dan Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemui kami kemudian mengizinkan kami untuk melakukan nikah mut’ah.” (HR. Muslim)

    Al-Imam Al-Muzani rahimahullah berkata: “Telah sah bahwa nikah mut’ah dulu pernah diperbolehkan pada awal-awal Islam. Kemudian datang hadits-hadits yang shahih bahwa nikah tersebut tidak diperbolehkan lagi. Kesepakatan ulama telah menyatakan keharaman nikah tersebut.” (Syarh Shahih Muslim hadits no. 1404 karya An-Nawawi)

    Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai manusia! Sesungguhnya aku dulu pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Namun sekarang Allah ‘azza wa jalla telah mengharamkan nikah tersebut sampai hari kiamat.” (HR. Muslim)

    Adapun nikah mut’ah yang pernah dilakukan beberapa sahabat di zaman kekhalifahan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dan Umar radhiyallahu ‘anhu, maka hal itu disebabkan mereka belum mendengar berita tentang diharamkannya nikah mut’ah selama-lamanya. (Syarh Shahih Muslim hadits no. 1405 karya An-Nawawi)

    Wassalam,
    Joel H.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

  4. Yusuf
    April 18, 2012 pukul 12:14 pm

    Kasihan sekali wanita syi’ah. Mereka tak beda seperti pelacur. Mut’ah = Zina

  5. Eka Andreadi
    April 7, 2012 pukul 6:32 am

    Jadi menurut anda, kaum wanita sebaiknya diperlakukan bagaimana ?

    wanita jangan ikut syiah, belajar agama yang benar, jadi bisa tahu gimana harus bersikap,

    Tinggal di rumah di sangkar madu ?

    Kawin mut’ah adalah pelecehan terhadap wanita. Hampir sama levelnya dengan pemaksaan untuk di poligami.

    kawin mut’ah bukan pelecehan lagi, tapi penghinaan terhadap wanita,.. sebab perlakuan dalam mut’ah, wanita itu dianggap sebagai pelacur bayaran,.. beda dengan poligami,
    Poligami itu untuk memuliakan wanita,dan itu berpahala, kalau mut’ah tuk melecehkan dan memperbudak wanita, menghinakannya, dan padanya terkumpul dosa-dosa yang hina,

  1. No trackbacks yet.

Silahkan tulis komentar anda,.. surel diisi dgn email, nama diisi dengan nama anda ,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.515 pengikut lainnya.