Beranda > Belajar Akidah, Belajar Nasehat, tahlilan > TAHLILAN menurut Walisanga , Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Gunung Jati dan Sunan Giri

TAHLILAN menurut Walisanga , Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Gunung Jati dan Sunan Giri


Penjelasan Dari  WaliSongo Tentang Bid’ahnya Tahlilan

Segala puji bagi Allah, sholawat serta salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya. Do’a dan shodaqoh untuk sesama muslim yang telah meninggal menjadi ladang amal bagi kita yang masih di dunia ini sekaligus tambahan amal bagi yang telah berada di alam sana.

Sebagai agama yang mencerahkan dan mencerdaskan, Islam membimbing kita menyikapi sebuah kematian sesuai dengan hakekatnya yaitu amal shalih, tidak dengan hal-hal duniawi yang tidak berhubungan sama sekali dengan alam sana seperti kuburan yang megah, bekal kubur yang berharga, tangisan yang membahana, maupun pesta besar-besaran.

Bila diantara saudara kita menghadapi musibah kematian, hendaklah sanak saudara menjadi penghibur dan penguat kesabaran, sebagaimana Rasulullah memerintahkan membuatkan makanan bagi keluarga yang sedang terkena musibah tersebut, dalam hadits:

“Kirimkanlah makanan oleh kalian kepada keluarga Ja’far, karena mereka sedang tertimpa masalah yang menyesakkan”.(HR Abu Dawud (Sunan Aby Dawud, 3/195), al-Baihaqy (Sunan al-Kubra, 4/61), al-Daruquthny (Sunan al-Daruquthny, 2/78), al-Tirmidzi (Sunan al-Tirmidzi, 3/323), al- Hakim (al-Mustadrak, 1/527), dan Ibn Majah (Sunan Ibn Majah, 1/514)

Namun ironisnya kini, justru uang jutaan rupiah dihabiskan tiap malam untuk sebuah selamatan kematian yang harus ditanggung keluarga yang terkena musibah.

Padahal ketika Rasulullah ditanya shodaqoh terbaik yang akan dikirimkan kepada sang ibu yang telah meninggal, Beliau menjawab ‘air’.

Bayangkan betapa banyak orang yang mengambil manfaat dari sumur yang dibuat itu (menyediakan air bagi masyarakat indonesia yang melimpah air saja sangat berharga, apalagi di Arab yang beriklim gurun), awet dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir.

Rasulullah telah mengisyaratkan amal jariyah kita sebisa mungkin diprioritaskan untuk hal-hal yang produktif, bukan konsumtif; memberi kail, bukan memberi ikan; seandainya seorang pengemis diberi uang atau makanan, besok dia akan mengemis lagi; namun jika diberi kampak untuk mencari kayu, besok dia sudah bisa mandiri. Juga amal jariyah yang manfaatnya awet seperti menulis mushaf, membangun masjid, menanam pohon yang berbuah (reboisasi; reklamasi lahan kritis), membuat sumur/mengalirkan air (fasilitas umum, irigasi), mengajarkan ilmu, yang memang benar-benar sedang dibutuhkan masyarakat.

Bilamana tidak mampu secara pribadi, toh bisa dilakukan secara patungan. Seandainya dana umat Islam yang demikian besar untuk selamatan berupa makanan (bahkan banyak makanan yang akhirnya dibuang sia-sia; dimakan ayam; lainnya menjadi isyrof) dialihkan untuk memberi beasiswa kepada anak yatim atau kurang mampu agar bisa sekolah, membenahi madrasah/sekolah islam agar kualitasnya sebaik sekolah faforit (yang umumnya milik umat lain),atau menciptakan lapangan kerja dan memberi bekal ketrampilan bagi pengangguran, niscaya akan lebih bermanfaat. Namun shodaqoh tersebut bukan suatu keharusan, apalagi bila memang tidak mampu. Melakukannya menjadi keutamaan, bila tidak mau pun tidak boleh ada celaan.

Sebagian ulama menyatakan mengirimkan pahala tidak selamanya harus dalam bentuk materi, Imam Ahmad dan Ibnu Taimiyah berpendapat bacaan al- Qur’an dapat sampai sebagaimana puasa, nadzar, haji, dll; sedang Imam Syafi’i dan Imam Nawawi menyatakan bacaan al-Qur’an untuk si mayit tidak sampai karena tidak ada dalil yang memerintahkan hal tersebut, tidak dicontohkan Rasulullah dan para shahabat.

Berbeda dengan ibadah yang wajib atau sunnah mu’akad seperti shalat, zakat, qurban, sholat jamaah, i’tikaf 10 akhir ramadhan, yang mana ada celaan bagi mereka yang meninggalkannya dalam keadaan mampu.

Akan tetapi di masyarakat kita selamatan kematian/tahlilan telah dianggap melebihi kewajiban- kewajiban agama.

Orang yang meninggalkannya dianggap lebih tercela daripada orang yang meninggalkan sholat, zakat, atau kewajiban agama yang lain.

Sehingga banyak yang akhirnya memaksakan diri karena takut akan sanksi sosial tersebut.

Mulai dari berhutang, menjual tanah, ternak atau barang berharga yang dimiliki, meskipun di antara keluarga terdapat anak yatim atau orang lemah.

Padahal di dalam al-Qur’an telah jelas terdapat arahan untuk memberikan perlindungan harta anak yatim; tidak memakan harta anak yatim secara dzalim, tetapi menjaga sampai ia dewasa (QS an-Nisa’: 2, 5, 10, QS al- An’am: 152, QS al-Isra’: 34) serta tidak membelanjakannya secara boros (QS an- Nisa’: 6)

Dibalik selamatan kematian tersebut sesungguhnya juga terkandung tipuan yang memperdayakan. Seorang yang tidak beribadah/menunaikan kewajiban agama selama hidupnya, dengan besarnya prosesi selamatan setelah kematiannya akan menganggap sudah cukup amalnya, bahkan untuk menebus kesalahan-kesalahannya.

Juga seorang anak yang tidak taat beribadahpun akan menganggap dengan menyelenggarakan selamatan, telah menunaikan kewajibannya berbakti/mendoakan orang tuanya.

Imam Syafi’i rahimahullah dalam kitab al-Umm berkata:

“…dan aku membenci al-ma’tam, yaitu proses berkumpul (di tempat keluarga mayat) walaupun tanpa tangisan, karena hal tersebut hanya akan menimbulkan bertambahnya kesedihan dan membutuhkan biaya, padahal beban kesedihan masih melekat.” (al-Umm (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1393) juz I, hal 279)

Namun ketika Islam datang ke tanah Jawa ini, menghadapi kuatnya adat istiadat yang telah mengakar. Masuk Islam tapi kehilangan selamatan-selamatan, beratnya seperti masyarakat Romawi disuruh masuk Nasrani tapi kehilangan perayaan kelahiran anak Dewa Matahari 25 Desember.

Dalam buku yang ditulis H Machrus Ali, mengutip naskah kuno tentang jawa yang tersimpan di musium Leiden, Sunan Ampel memperingatkan Sunan Kalijogo yang masih melestarikan selamatan tersebut:“Jangan ditiru perbuatan semacam itu karena termasuk bid’ah”. Sunan Kalijogo menjawab: “Biarlah nanti generasi setelah kita ketika Islam telah tertanam di hati masyarakat yang akan menghilangkan budaya tahlilan itu”.

Dalam buku Kisah dan Ajaran Wali Songo yang ditulis H. Lawrens Rasyidi dan diterbitkan Penerbit Terbit Terang Surabaya juga mengupas panjang lebar mengenai masalah ini. Dimana Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Gunungjati dan Sunan Muria (kaum abangan) berbeda pandangan mengenai adat istiadat dengan Sunan Ampel, Sunan Giri dan Sunan Drajat (kaum putihan).

Sunan Kalijaga mengusulkan agar adat istiadat lama seperti selamatan, bersaji, wayang dan gamelan dimasuki rasa keislaman.

Sunan Ampel berpandangan lain: “Apakah tidak mengkhawatirkannya di kemudian hari bahwa adat istiadat dan upacara lama itu nanti dianggap sebagai ajaran yang berasal dari agama Islam? Jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi bid’ah?” Sunan kudus menjawabnya bahwa ia mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari akan ada yang menyempurnakannya. (hal 41, 64)

Dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa, para Wali dibagi menjadi tiga wilayah garapan

Pembagian wilayah tersebut berdasarkan obyek dakwah yang dipengaruhi oleh agama yang masyarakat anut pada saat itu, yaitu Hindu dan Budha.

Pertama: Wilayah Timur. Di wilayah bagian timur ini ditempati oleh lima orang wali, karena pengaruh hindu sangat dominan. Disamping itu pusat kekuasaan Hindu berada di wilayah Jawa bagian timur ini (Jawa Timur sekarang) Wilayah ini ditempati oleh lima wali, yaitu Syaikh Maulana Ibrahim (Sunan Demak), Raden Rahmat (Sunan Ampel), Raden Paku (Sunan Giri), Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), dan Raden Kasim (Sunan Drajat)

Kedua : Wilayah Tengah. Di wilayah Tengah ditempati oleh tiga orang Wali. Pengaruh Hindu tidak begitu dominan. Namun budaya Hindu sudah kuat. Wali yang ditugaskan di sini adalah : Raden Syahid (Sunan Kali Jaga), Raden Prawoto (Sunan Muria), Ja’far Shadiq (Sunan Kudus)

Ketiga : Wilayah Barat. Di wilayah ini meliputi Jawa bagian barat, ditempati oleh seorang wali, yaitu Sunan Gunung Jati alias Syarief Hidayatullah. Di wilayah barat pengaruh Hindu-Budha tidak dominan, karena di wilayah Tatar Sunda (Pasundan) penduduknya telah menjadi penganut agama asli sunda, antara lain kepercayaan “Sunda Wiwitan”

Dua Pendekatan dakwah para wali.

1. Pendekatan Sosial Budaya

2. Pendekatan aqidah Salaf

Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Gunung Jati dan terutama Sunan Giri berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan ajaran Islam secara murni, baik tentang aqidah maupun ibadah. Dan mereka menghindarkan diri dari bentuk singkretisme ajaran Hindu dan Budha.

Tetapi sebaliknya Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan Kalijaga mencoba menerima sisa-sisa ajaran Hindu dan Budha di dalam menyampaikan ajaran Islam. Sampai saat ini budaya itu masih ada di masyarakat kita, seperti sekatenan, ruwatan, shalawatan, tahlilan, upacara tujuh bulanan dll.

Pendekatan Sosial budaya dipelopori oleh Sunan Kalijaga, putra Tumenggung Wilwatika, Adipati Majapahit Tuban. Pendekatan sosial budaya yang dilakukan oleh aliran Tuban memang cukup efektif, misalnya Sunan Kalijaga menggunakan wayang kulit untuk menarik masyarakat jawa yang waktu itu sangat menyenangi wayang kulit.

Sebagai contoh dakwah Sunan kalijaga kepada Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit terakhir yang masih beragama Hindu, dapat dilihat di serat Darmogandul, yang antara lain bunyinya;

Punika sadar sarengat, tegese sarengat niki, yen sare wadine njegat; tarekat taren kang osteri; hakikat unggil kapti, kedah rujuk estri kakung, makripat ngentos wikan, sarak sarat laki rabi, ngaben aku kaidenna yayan rina” (itulah yang namanya sahadat syariat, artinya syariat ini, bila tidur kemaluannya tegak; sedangkan tarekat artinya meminta kepada istrinya; hakikat artinya menyatu padu , semua itu harus mendapat persetujuan suami istri; makrifat artinya mengenal ; jadilah sekarang hukum itu merupakan syarat bagi mereka yang ingin berumah tangga, sehingga bersenggama itu dapat dilaksanakan kapanpun juga).

Dengan cara dan sikap Sunan Kalijaga seperti tergambar di muka, maka ia satu-satunya Wali dari Sembilan Wali di Jawa yang dianggap benar-benar wali oleh golongan kejawen (Islam Kejawen/abangan), karena Sunan Kalijaga adalah satu-satunya wali yang berasal dari penduduk asli Jawa (pribumi).

[Sumber : Abdul Qadir Jailani , Peran Ulama dan Santri Dalam Perjuangan Politik Islam di Indonesia, hal. 22-23, Penerbit PT. Bina Ilmu dan Muhammad Umar Jiau al Haq, M.Ag, Syahadatain Syarat Utama Tegaknya Syariat Islam, hal. 51-54, Kata Pengantar Muhammad Arifin Ilham (Pimpinan Majlis Adz Zikra), Penerbit Bina Biladi Press.]

Nasehat Sunan Bonang

Salah satu catatan menarik yang terdapat dalam dokumen “Het Book van Mbonang”[1] adalah peringatan dari sunan Mbonang kepada umat untuk selalu bersikap saling membantu dalam suasana cinta kasih, dan mencegah diri dari kesesatan dan bid’ah. Bunyinya sebagai berikut:

“Ee..mitraningsun! Karana sira iki apapasihana sami-saminira Islam lan mitranira kang asih ing sira lan anyegaha sira ing dalalah lan bid’ah“.

Artinya: “Wahai saudaraku! Karena kalian semua adalah sama-sama pemeluk Islam maka hendaklah saling mengasihi dengan saudaramu yang mengasihimu. Kalian semua hendaklah mencegah dari perbuatan sesat dan bid’ah.[2]

[1] Dokumen ini adalah sumber tentang walisongo yang dipercayai sebagai dokumen asli dan valid, yang tersimpan di Museum Leiden, Belanda. Dari dokumen ini telah dilakukan beberapa kajian oleh beberapa peneliti. Diantaranya thesis Dr. Bjo Schrieke tahun 1816, dan Thesis Dr. Jgh Gunning tahun 1881, Dr. Da Rinkers tahun 1910, dan Dr. Pj Zoetmulder Sj, tahun 1935.

[2] Dari info Abu Yahta Arif Mustaqim, pengedit buku Mantan Kiai NU Menggugat Tahlilan, Istighosahan dan Ziarah Para Wali hlm. 12-13.

About these ads
  1. marzuqi
    Maret 28, 2014 pukul 6:12 am | #1

    itu semua menurut kepercayaan masing2..

    ketidaktahuan dan rasa ingin tahu yang kurang membuat orang awan tambah bingung..

    musik menurut islam haram jika mengumbar aurot dan lantunanya mengundang syahwat..

    terimakasih mas marzuqi, sudah komentar disini,.
    tentang musik, berikut ini salah satu petikan hadits dari rasulullah,
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

    يكون في آخر الزمان خسف وقذف ومسخٌ. قيل : ومتى ذلك يا رسول الله ؟ قال : إذا ظهرَت المعازف والقَيناتُ

    “Di akhir zaman nanti akan ada (peristiwa) di mana orang-orang ditenggelamkan (kedalam bumi), dilempari batu dan dirubah rupanya”. Beliau ditanya : “Kapankah hal itu terjadi wahai Rasulullah?” Beliau menjawab : “Ketika alat-alat musik dan para penyanyi telah merajalela” (HR. Ibnu Majah dalam Sunannya)

    Postingan tentang haramnya musik sangat banyak di blog ini, silahkan baca disini

    Untuk postingan yang lebih banyak tentang musik, silahkan klik link ini

    jangan anggap tahlilan dri sisi bid’ahnya saja.. naik motor,mobil, apa juga tidak bid’ah ?? padahal jaman nabi masjid tidak di keramik apalagi marmer tpi sekarang ???
    kenapa ke masjid tidak naik unta saja kyak jaman nabi.pembukuan alQuran apa tidak bid’ah ??

    Ini termasuk salah paham tentang bidah, silahkan anda baca ulasan ini, agar anda paham mana yang digolongkan sebagai bidah, dan mana yang bukan, klik link ini

    Pergi haji naik pesawat itu bidah? silahkan baca ulasannya disini

    kalau smua di hukumi bid’ah sesat trus umat islam harus gimana ???

    Kata siapa semua dihukumi bidah? sebaiknya anda baca tulisan ini, apa sih yang masuk kedalam katagori bidah, klik link ini

  2. maknyus
    Desember 30, 2013 pukul 6:26 am | #2

    Asalamualaikum
    Susunan nada, pola nada, jenis penghasil nada dll dsb dst karena berbeda fregwensi, volume, dsb yang diatur secara harmoni koq haram sih… padahal itu universal, tercela sekali Islam kalau begitu jika mengharamkan musik (di luar isi syair). Karena berbeda dimensi mau dijelaskan dengan cara dan dalil apapun bagi saya gak masuk akal dan pembodohan umat yang luar biasa.

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,
    terimakasih maknyuss,…
    malalahnya bukan disitu, tapi rasulullah sudah mengingatkan akan haramnya musik, sebagaimana hadits ini:
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

    يكون في آخر الزمان خسف وقذف ومسخٌ. قيل : ومتى ذلك يا رسول الله ؟ قال : إذا ظهرَت المعازف والقَيناتُ

    “Di akhir zaman nanti akan ada (peristiwa) di mana orang-orang ditenggelamkan (kedalam bumi), dilempari batu dan dirubah rupanya”. Beliau ditanya : “Kapankah hal itu terjadi wahai Rasulullah?” Beliau menjawab : “Ketika alat-alat musik dan para penyanyi telah merajalela” (HR. Ibnu Majah dalam Sunannya)

    Selengkapnya bisa anda baca disini

    Banyak sekali artikel tentang haramnya musik, silahkan anda baca seluruh artikel tentang musik, silahkan klik link ini

    • marzuqi
      Maret 28, 2014 pukul 6:01 am | #3

      musik bisa haram jika mengumbar aurat dan nenimbulkan syahwat.

      terimakasih mas marzuqi,.
      walaupun yang bermain musik itu memakai jilbab besar plus cadar,.
      walaupun yang bermain musik itu bang haji,
      walaupun yang bermain musik itu pak ustadz,
      walaupun yang bermain musik itu pak habib,.
      walaupun yang bermain musik itu pak ajengan, wali,

      Tidak akan merubah hukum musik menjadi HALAL, tetap hukumnya HARAM,. sama seperti khamr, jika yang minum itu bang haji,pak ustadz,pak habib,atau ajengan dan wali, maka tidak akan merubah hukum haramnya khamr, karena dilihat siapa pelakunya,.

      jadi, hukum musik tetap haram, walaupun yang memainkannya tidak mengumbar aurat atau menebar syahwat,. silahkan baca ulasannya disini

  3. sandal jepit
    Agustus 17, 2013 pukul 4:27 pm | #4

    assalmu’alaikum
    mohon pencerahanya bpk,mas.sahbat muslimku

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    1.katanya mbah saya do’anya 40org itu sama mujarabnya dgn 1 waliyULLAH gmn nich benar nggak?

    saya tidak tahu mas, tidak pernah denger hadits yang seperti itu juga, silahkan anda baca apa itu wali allah, silahkan baca disini , bukan mereka yg bisa jalan diatas air, atau jalan di udara, baca saja ulasan apa itu wali Allah, baca disini

    2.katanya berjama’ah itu lbh baik dan berpahala 27 derajat,?

    Shalat 5 waktu berjamaah di masjid adalah wajib bagi laki-laki, betul ada keutamaan seperti itu, silahkan baca disini ulasannya

    3.kenapa mendoakan org meninggal katanya pahalanya ndak nyampek ya?

    Mendoakan orang yang sudah meninggal itu bisa dimana saja, insya Allah doanya itu bermanfaat bagi yg meninggal,
    Adapun ngirim pahala, dari mana kita tahu amalan kita itu dinilai sebagai pahala disisi Allah? kok PEDE banget, amalan kita saja kita tdk tahu apakah dinilai sebagai pahala di sisi Allah atau tidak, kok PEDE ya ngirim pahalanya ke orang yang sudah meninggal??

    Seorang ulama saja tidak ada yg berani, dan memastikan jika amalannya itu dinilai sebagai pahala di sisi Allah,.

    Tentang mengirim pahala, silahkan baca postingannya disini

    aku punya pengalaman religius mengenai tahlilan.saking seringnya diajak acara tahlilan 2 org tetanggaku awalnya beragama kristen akhirnya jadi mualaf.tlg pertnyaanku kasih pencerahan wassalam…

    Tentang tahlilan, silahkan baca postingannya disini

    ritual tahlilan berasal dari ajaran hindu, baca ulasannya disini

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

  4. Maulana Malik Ibrahim
    Februari 15, 2013 pukul 11:06 pm | #5

    Assalamu Alaikum.

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    Izin copas kk. Terimakasih.

    silahkan,.jazakumullahu khairan

  5. Syfa
    Desember 25, 2012 pukul 5:29 am | #6

    Kiyai mahrus ali = mantan kiyai nu bohongan/penipu/pendusta

    udah kebongkar semua

    kyiai mahrus ali yg di blog, itu ngga tahu, ngga jelas, apakah betul atau tidak, sebab banyak juga pemikiran yg diblog tsb yg rancu, seperti taubat dari pemahamannya yg dulu, dan mempelajari pemahaman salaf tanpa guru/bimbingan, jadi menimbulkan keanehan2 dalam pernyataan beliau, diantaranya mengharamkan apa yg allah haramkan,.

    ustadz2 yg bermanhaj salaf cukup banyak, dan mahrus ali itu bukan rujukan saya kok, kalau mau mantan santri NU ada tuh, ada ustadz zainal abidin, lulusan tambak beras jombang, pernah jadi tukang nuntun gusdur juga,. pernah dialog dgn pak said aqil munawar, lucu juga dialognya,. ada videonya, silahkan dicari saja,

  6. ababil
    November 28, 2012 pukul 3:43 pm | #7

    bismillah. pak izin copas ya?….

    silahkan

  7. bedeute
    Oktober 31, 2012 pukul 12:38 pm | #8

    Assalamualaikum Pak,

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    Terima kasih udah mengingatkan. Tapi entah mengapa, ajaran dari NU lah yang lebih pas terhadap saya.

    “Kebenaran itu diyakini, bukan dipaksakan”

    Kalau Abu Bakar ikut NU, Kalau Umar bin Khattab ikut NU, kalau Utsman, Ali juga ikut NU , atau Imam yang 4 seperti imam abu hanifah,malik,syafii,ahmad ikut NU juga,

    SAYA JUGA MAU IKUT NU mas, .. ngga malu-malu,..

    Kebenaran itu bukan dipaksakan, manusia hanya menyampaikan, rasulullah hanya menyampaikan, hidayah ada ditangan Allah,
    Jadi kebenaran yg wajib diyakini adalah kebenaran yg datang dari Rasulullah, lalu diamalkan oleh para sahabat, silahkan baca disini ulasannya

    Mudah-mudahan Anda bisa mengambil manfaat juga dari artikel tersebut, dan melek,.. nanti dikubur tdk akan ditanya, kamu dari islam mana? NU?…. ngga akan mas,.. wong NU itu berasal dari indonesia, kalau islam dari arab sono, dan NU kan baru ada tahun 1926 M , imam syafii aja ngga kenal dengan NU , bahkan beliau mengikuti pemahaman para sahabat, oleh karena itu semua kaum muslimin wajib mengikuti pemahaman sahabat, generasi yg dibina langsung oleh rasulullah

    • ArezsElCapitan
      Juni 2, 2013 pukul 1:41 pm | #9

      Hmmm..jika (Alm) Gus Dur bisa menjadi panutan dalam bersikap dan bertingkah laku, sayapun NU..tapi???

    • joni kaligis
      Februari 18, 2014 pukul 7:14 am | #10

      sahabat nabi yang mana anda ikuti..jangan2 sahabat nabi yang murtad seperti umar dn kawan2nya..gk semua sahabat nabi wajib kamu ikuti.

      terimakasih mas joni,
      Sahabat yang diikuti adalah semua sahabat, karena generasi sahabat merupakan generasi terbaik umat ini, Allah yang mengatakannya, Allah telah meridhai mereka, dan menjanjikan surga bagi mereka, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan,.( surat attaubah ayat 100)

      Tidak seperti orang-orang syiah yang mencela sahabat nabi, mereka menaruh kebencian kepada para sahabat, meragukan para sahabat, bahkan mencelanya, silahkan lihat disini ulasannya

  8. SAEFUL BREBES
    September 28, 2012 pukul 12:45 am | #11

    H.MAKHRUS ALI ITU SIAPA BRO,,,,,????,,,,APAKAH DIA SEORANG UALAMA BESAR, APAKAH DIA BERPENGALAMAN,?

    Dulunya adalah kyiai dari NU, kemudian rujuk kepada pemahaman para sahabat (salafi), banyak buku-buku karyanya yang membongkar akidah beliau sebelum mengerti pemahaman yang benar,

    • Dan Jogja
      Februari 18, 2013 pukul 9:52 am | #12

      Rujuk kepada pemahaman salafi namun kq malah banyak juga pemikiran yg rancu, seperti taubat dari pemahamannya yg dulu, dan mempelajari pemahaman salaf tanpa guru/bimbingan, jadi menimbulkan keanehan2 dalam pernyataan beliau, diantaranya mengharamkan apa yg allah haramkan,. ???

      Betul, ngga tahu juga saya, mungkin karena beliau tidak ada yang membimbing, sehingga ada pemikiran2nya yg aneh, itu yg ada di blog,.. dan banyak yg bingung juga, apakah di blog itu kyiai makhrus ali yg ngelola atau bukan,. wallahu a’lam,. jadi mempelajari manhaj salaf secara otodidak,.

  9. mas prazt
    September 9, 2012 pukul 12:19 am | #13

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    saya catat jawaban bapak soal koment diatas
    “Tidak bertentangan hal diatas, kalau doa untuk kaum muslimin, itu sebagaimana yang rasulullah lakukan, selama kaum muslimin itu bukan pelaku syirik akbar dan belum taubat ketika matinya, karena kita dilarang berdoa utk pelaku syirik akbar, sebagaimana Rasulullah juga dilarang untuk mendoakan, memintakan ampunan buat kedua orangtuanya,juga pamannya yang masih kafir, meninggal bukan diatas agama islam”
    yg ingin saya tanyakan..
    1. Apa yg dimaksud syirik akbar ?
    2. Ada berapa macam-macam syirik itu?
    Untuk kedua pertanyaan tersebut,silahkan baca disini
    3. adakah dosa syirik yg diampuni dan tidak diampuni Allah meskipun kita bertobat?

    Dosa Syirik hanya bisa diampuni dengan taubat nasuha (taubat dengan sebenar-benar taubat)
    Allah maha menerima taubat dari para hambanya yg bertaubat dengan taubat yang benar

    terima kasih sebelumnya,

    Sama-sama

    Wassalamu ‘alaikum warahmatullah

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

  10. Fajar Hari Prabowo
    September 8, 2012 pukul 5:20 am | #14

    Ada pelajaran yang bisa diambil, “Dakwah itu tujuannya untuk mengharap pahala, bukanlah untuk mencari sebanyak – banyaknya pengikut dengan menambahkan ajaran baru supaya lebih diterima masyarakat”

    Betul, dakwah untuk meraih keridhaan Allah, bukan untuk memperbanyak pengikut,
    Banyaknya pengikut tapi ajarannya tidak benar alias dicampur adukkan dgn tradisi/ritual agama lain, dgn dalih supaya mereka masuk islam, ini adalah masalah yg susah untuk diobati di kemudian hari, bahkan bisa timbul pergolakan sendiri,.. karena mereka menganggap itu adalah bagian dari islam,

  11. adrian
    Agustus 8, 2012 pukul 5:44 am | #15

    Assalamu ‘alaikum, pak..

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    Sblmnya saya sangat senang atas tulisan2 bapak di blog ini. Senang karena cara pemaparannya dapat diterima dengan akal sehat dan sangat ilmiah dari sumber terpercaya.

    Bapak, saya ingin bertanya: apakah mendoakan orang meninggal itu berguna? Sementara yg mendoakan itu bukan anaknya? Maksudnya berdoa akan diringankan siksa, diampuni dosa, dilapangkan kubur, dll..

    Mendoakan orang yang sudah meninggal bisa bermanfaat, silahkan anda mendoakan kebaikan untuk kaum muslimin, dimana saja, tidak harus orangtua anda, contohnya kita mendoakan orang-orang islam yang meninggal akibat dianiaya oleh orang kafir,akibat dibantai oleh orang syiah laknatullah, akibat terkena penyakit, dll, boleh,.. jadi tidak harus orang tua kita. itu jika doa yang anda tanyakan, Dan doa sendiri adalah ibadah, selain bermanfaat buat orang yg didoakan, anda pun mendapatkan pahala,

    Kalau orang tua kita, jika kita berbuat baik, orang tua akan mendapatkan pahala kebaikan kita, tanpa mengurangi pahala kita, karena anak adalah hasil usaha orangtua

    Saya sering membaca dan mendengar cerita/riwayat Rasulullah mendoakan orang yg sudah meninggal agar diringankan siksanya. Akan tetapi, saya juga sering mendengar (hadist atau ayat Alquran, saya lua mhn maaf) yg mengatakan: jika orang meninggal, terputus semua amalnya kecuali 3 hal: amal jariyah, ilmu bermanfaat, dan DOA ANAK SHOLEH. Nah, bagaimana jika yg mendoakan bukan anaknya? Atas jawabannya saya ucapkan trimakasih.

    Tidak bertentangan hal diatas, kalau doa untuk kaum muslimin, itu sebagaimana yang rasulullah lakukan, selama kaum muslimin itu bukan pelaku syirik akbar dan belum taubat ketika matinya, karena kita dilarang berdoa utk pelaku syirik akbar, sebagaimana Rasulullah juga dilarang untuk mendoakan, memintakan ampunan buat kedua orangtuanya,juga pamannya yang masih kafir, meninggal bukan diatas agama islam

    ttg 3 hal tersebut itu adalah amalan org yg sudah meninggal tersebut, jadi walaupun orang tsb sudah meninggal, maka amalan tersebut akan terus mengalirkan pahala, yaitu amal jariyah,jika org tsb misalkan menyumbang utk bangun masjid, maka selama masjid itu digunakan utk ibadah, orang tsb akan kebagian pahalanya terus menerus,walaupun org tsb sudah meninggal

    ilmu yang bermanfaat yang diajarkan kepda orang lain,sehingga ketika dia meninggal,maka dia akan terus mendapatkan pahala orang yg masih hidup yang beramal dgn ilmu yg diajarkan olehnya, jika org tsb mengajarkan kpd orang lain lagi,maka pahalanya bertambah terus, demikian seterusnya,..
    Misalkan org tsb mengajarkan kepada satu orang mislkan baca alquran, lalu orang yang diajarkan itu mengajarkan kepada 10 orang, demikian seterusnya, maka orang yg pertama kali mengajarkan itu akan mendapatkan pahala yg sangat banyak, seiring dengan banyaknya org yang mengamalkan perbuatan kebaikan tsb, jadi pahala yg tidak akan terputus,.. bahkan semakin lama semakin bertambah banyak,..

    Hal ini berlaku juga bagi orng yang mengajarkan kejelekan atau perbuatan bidah,.. maka jika dia mengajarkan kebidahan kepda satu orang, lalu orang yg diajarkan itu mengajarkan kepda org lain, maka orang yang pertama akan mendapatkan dosa yang bertumpuk-tumpuk,.. semakin lama semakin buruk,.. itulah seharusnya para pelaku kebidahan itu ngeri memikirkan akibat yang akan diterimanya, jika malakukan dan mengajarkan amalan bidah,.. itu jika mereka mau berfikir sehat,..

    Tentang doa anak yg shalih maksdnya, jika orang tua tsb mendidik anak-anaknya, atau menyekolahkan anaknya di sekolah yang diajarkan akidah yang benar, maka jika orang tua tersebut meninggal, maka anaknya akan mendoakan kedua orang tuanya,.. sebab hanya anak yang shalihlah yang akan mendoakan kedua orangtuanya,..

    Jika orgtua membiarkan anaknya sehingga menjadi anak yang durhaka, anak yang bejad, maka tidak akan mungkin anak seperti itu mendoakan kedua orang tuanya,.. bahkan mungkin semasa hidupnya akan membuat murka orangtuanya, bahkan ada juga sang anak menganiaya orangtuanya,

    Wassalamu ‘alaikum warahmatullah

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    • arwam kurniawan
      Februari 14, 2013 pukul 5:38 am | #16

      Asalamualaikum..

      Wa’alaikumussalam warahmatullah

      Yang saya pertanyakan,menurut anda sunan kalijaga melakukan suatu bid’ah??
      Mohon di terangkan,
      Trimakasih.

      Terimakasih mas, sebelum menjawab pertanyaan tersebut, sudahkah anda mengetahui sejarah walisanga? jika belum silahkan baca disini
      Tentang sejarah sunan kalijaga anda bisa lihat disini, dan dengar penjelasan ustadz tentang hal ini, ada videonya , silahkan lihat disini

      Jika sebagaiman yg kita baca sejarah sunan kalijaga yg tidak ada kerjaan menungguin tongkat dipinggir kali, hingga ada sarang burung di kepalanya, atau tongkatnya menjadi serumpun bambu, tentu ini sudah keluar dari ajaran islam, bisa dibayangkan berapa tahun tidak shalat, tidak mandi, nah EE dan kencingnya juga mungkin di celana? .. he..he..he.. maaf, mungkin ada yg tersinggung dgn kata2 ini,.. dipikir secara akal sehat saja,. bagaimana pula shalat jumatnya,.. Rasulullah saja tidak pernah melakukan hal bodoh seperti itu,

      apalagi katanya sunan kalijaga berdakwah dengan musik, padahal dalam islam musik hukumnya adalah haram,

      Walaikumsalam

      Wa’alaikumussalam warahmatullah

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.264 pengikut lainnya.