Beranda > kisah nyata > Kisah Taubat Sang Kyai

Kisah Taubat Sang Kyai


“Terus terang, sampai diusia +35 tahun saya ini termasuk Kyai Ahli Bid’ah yang tentunya doyan tawassul kepada mayat atau penghuni kubur, sering juga bertabarruk dengan kubur sang wali atau Kyai. Bahkan sering dipercaya untuk memimpin ziarah Wali Songo dan juga tempat-tempat yang dianggap keramat sekaligus menjadi imam tahlilan, ngalap berkah kubur, marhabanan atau baca barzanji, diba’an, maulidan, haul dan selamatan yang sudah berbau kesyirikan”

“Kita dulu enjoy saja melakukan kesyirikan, mungkin karena belum tahu pengertian tauhid yang sebenarnya” (Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 90)

“Kita biasa melakukan ziarah ngalap berkah sekaligus kirim pahala bacaan kepada penghuni kubur/mayit. Sebenarnya, hal tersebut atas dasar kebodohan kita. Bagaimana tidak, contohnya adalah saya sendiri di kala masih berumur 12 tahun sudah mulai melakukan ziarah ngalap berkah dan kirim pahala bacaan, dan waktu itu saya belum tahu ilmu sama sekali, yang ada hanya taklid buta. Saat itu saya hanya melihat banyak orang yang melakukan, dan bahkan banyak juga kyai yang mengamalkannya. Hingga saya menduga dan beranggapan bahwa hal itu adalah suatu kebenaran.” (Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 210)

Beliau adalah Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren “Rahmatullah”. Nama beliau tidak hanya dibicarakan oleh teman-teman dari Kediri saja, namun juga banyak diperbincangkan oleh teman-teman pengajian di Surabaya, Gresik, Malang dan Ponorogo.

Keberanian beliau dalam menantang arus budaya para kyai yang tidak sejalan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih yang telah berurat berakar dalam lingkungan pesantrennya, sikap penentangan beliau terhadap arus kyai itu bukan  berlandaskan apriori belaka, bukan pula didasari oleh rasa kebencian kepada suatu golongan, emosi atau dendam, namun merupakan Kehendak, Hidayah dan Taufiq dari Allah ta’ala.

Kyai Afrokhi hanya sekedar menyampaikan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mengatakan yang haq adalah haq dan yang batil adalah batil. namun, usaha beliau itu dianggap sebagai sebuah makar terhadap ajaran Nahdhatul Ulama (NU), sehingga beliau layak dikeluarkan dari keanggotaan NU secara sepihak tanpa mengklarifikasikan permasalahan itu kepada beliau.

Kyai Afrokhi tidak mengetahui adanya pemecatan dirinya dari keanggotaan NU. Beliau mengetahui hal itu dari para tetangga dan kerabatnya. Seandainya para Kyai, Gus dan Habib itu tidak hanya mengedepankan egonya, kemudian mereka mau bermusyawarah dan mau mendengarkan permasalahan ajaran agama ini, kemudian mempertanyakan kenapa beliau sampai berbuat demikian, beliau tentu bisa menjelaskan permasalahan agama ini dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih yang harus benar-benar diajarkan kepada para santri serta umat pada umumnya.

Seandainya para Kyai itu mau mengkaji kembali ajaran dan tradisi budaya yang berurat berakar yang telah dikritisi dan digugat oleh banyak pihak. Bukan hanya oleh Kyai Afrokhi sendiri, namun juga dari para ulama tanah haram juga telah menggugat dan mengkritisi penyakit kronis dalam aqidah NU yang telah mengakar mengurat kepada para santri dan masyarakat.

Jika mereka itu mau mendengarkan perkataan para ulama itu, tentunya penyakit-penyakit kronis yang ada dalam tubuh NU akan bisa terobati. Aqidah umatnya akan terselamatkan dari penyakit TBC (Tahayul, Bid’ah, Churofat).

Sehingga Kyai-kyai NU, habib, Gus serta asatidznya lebih dewasa jika ada orang yang mau dengan ikhlas menunjukkan kesesatan yang ada dalam ajaran NU dan yang telah banyak menyimpang dari tuntunan Rasulullah dan para sahabatnya. Maka, Insya Allah, NU khususnya dan para ‘alim NU pada umumnya akan menjadi barometer keagamaan dan keilmuan. ‘Alimnya yang berbasis kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih, yang sesuai dengan misi NU itu sendiri sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah, sehingga para ‘alim serta Kyai yang duduk pada kelembagaannya berhak menyandang predikat sebagai pewaris para Nabi.

Namun sayang, dakwah yang disampaikan oleh Kyai Afrokhi dipandang sebelah mata  oleh para Kyai NU setempat. Mereka juga meragukan keloyalan beliau terhadap ajaran NU. Dengan demikian, beliau harus menerima konsekuensi berupa pemecatan dari kepengurusan keanggotaannya sebagai a’wan NU Kandangan, Kediri, sekaligus dikucilkan dari lingkungan para kyai dan lingkungan pesantren. Mereka semua memboikot aktivitas dakwah Kyai Afrokhi.

Walaupun beliau mendapat perlakuan yang demikian, beliau tetap menyikapinya dengan ketenangan jiwa yang nampak terpancar dari dalam dirinya.

Siapakah yang berani menempuh jalan seperti jalan yang ditempuh oleh Kyai Afrokhi, yang penuh cobaan dan cobaan? Atau Kyai mana yang ingin senasib dengan beliau yang tiba-tiba dikucilkan oleh komunitasnya karena meninggalkan ajaran-ajaran tradisi yang tidak sesuai dengan syari’at Islam yang haq? Kalau bukan karena panggilan iman, kalau bukan karena pertolongan dari Allah niscaya kita tidak akan mampu.

Kyai Afrokhi adalah sosok yang kuat. Beliau menentang arus orang-orang yang bergelar sama dengan gelar beliau. yakni Kyai. Di saat banyak para Kyai yang bergelimang dalam kesyirikan, kebid’ahan dan tradisi-tradisi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang haq, di saat itulah beliau tersadar dan menantang arus yang ada. Itulah jalan hidup yang penuh cobaan dan ujian.

Bagi Kyai Afrokhi untuk apa kewibawaan dan penghormatan tersandang, harta melimpah serta jabatan terpikul, namun murka Allah dekat dengannya, dan Allah tidak akan menolongnya di hari tidak bermanfaat harta dan anak-anak. Beliau lebih memilih jalan keselamatan dengan meninggalkan tradisi yang selama ini beliau gandrungi.

Inilah fenomena kyai yang telah bertaubat kepada Allah dari ajaran-ajaran syirik, bid’ah dan kufur. Walaupun Kyai Afrokhi ditinggalkan oleh para kyai ahli bid’ah, jama’ah serta santri beliau, ketegaran dan ketenangan beliau dalam menghadapi realita hidup begitu nampak dalam perilakunya. Dengan tawadhu’ serta penuh tawakkal kepada Allah, beliau mampu mengatasi permasalahan hidup.

Pernyataan taubat Kyai Afrokhi:

“Untuk itulah buku ini saya susun sebagai koreksi total atas kekeliruan yang saya amalkan dan sekaligus merupakan permohonan maaf saya kepada warga Nahdhatul Ulama (NU) dimanapun berada yang merasa saya sesatkan dalam kebid’ahan Marhabanan, baca barzanji atau diba’an, maulidan, haul dan selamatan dari alif sampai ya` yang sudah berbau kesyirikan dan juga sebagai wujud pertaubatan saya. Semoga Allah senantiasa menerima taubat dan mengampuni segala dosa-dosa saya yang lalu (Amin ya robbal ‘alamin)”

(Dinukil dan diketik ulang dengan gubahan seperlunya dari buku “Buku Putih Kyai NU” oleh Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, Pendiri dan Pengasuh Ponpes Rohmatulloh-Kediri-, mantan A’wan Syuriah MWC NU Kandangan Kediri)

catatan: Note ini ditulis hanya semata-mata sebagai nasehat, bukan karena ada alasan sentimen atau kebencian terhadap sebuah kelompok. Silahkan nukil dan share serta pergunakan untuk kebutuhan dakwah ilalloh.

-Abu Shofiyah Aqil Azizi- jazahullah khairan

Artikel www.muslim.or.id

  1. syam syamsuddin
    Juni 4, 2014 pukul 4:19 am

    belum pasti anda paling benar jangan sombong kang, sy hanya mengingatkan, sukron

    Terimakasih kang syam , sudah komentar disini,.

    siapa yang menyebutkan bahwa saya paling benar,. tolong nukilkan perkataan atau komentar saya yang seperti itu,.

    Jika ada komentar saya yang menyatakan bahwa sayalah yang paling benar, SAYA AKAN TUTUP BLOG INI SEKARANG JUGA,…

    Silahkan sebutkan kang, dimana saya mengatakannya, COPAS saja pernyataan saya tersebut,.

  2. andrei
    Januari 22, 2013 pukul 1:13 pm

    numpang tanya mas….klo shalat tarawih berjamaah hukum nya gimana ya?bid’ah atau bukan ya…karena setahu saya nabi tidak pernah melakukan ..pasca nabi wafat tidak ada yg melakukan/tidak ada riwayat nya ..baru ketika umar jadi khalifah baru diberlakukan…

    Terimakasih mas andrei,
    Shalat tarawih berjamaah sudah dilakukan, dan yang melakukan pertama kali adalah Rasulullah, kemudian rasulullah meninggalkannya, sebab ditakutkan shalat tarawih tersebut akan menjadi wajib, sebab wahyu masih turun, .. ini salah satu alasan rasulullah meninggalkannya, sebab rasulullah sangat sayang kepada umatnya,
    Adapun ketika rasulullah sudah meninggal, para sahabat melakukan shalat tarawih tidak dengan satu imam, tapi mereka dalam satu masjid mengadakan shalat tarawih dengan imam masing-masing,
    Jadi sepeninggal rasulullah, shalat tarawih masih ada, lalu umar berinisiatif untuk mengembalikan shalat tarawih seperti di jaman rasulullah, yaitu shalat tarawih dengan satu imam,

    Jadi apa yang dilakukan oleh umar bukanlah bidah, sebab rasulullah yg mengajarkan shalat tarawih dgn satu imam,
    Justru umar mengembalikan tatacara shalat tarawih sebagaimana rasulullah mengerjakannya,

    Dan apa yang dilakukan umar, tidak lantas menjadikan hukum shalat tarawih itu menjadi wajib, sebab wahyu sudah terputus, dan Rasulullah sudah meninggal, islam sudah sempurna,
    selengkapnya, mas andrei bisa membaca postingan tentang hal ini, silahkan mas baca disini

  3. aryo
    November 10, 2012 pukul 10:39 am

    terimakasih atas penjabarannya,,,
    mski blum mengerti smuanya, paling tidak sedikit dmi sedikit insyAllah sy ngerti,,,

    maaf kalo bnyk tanya,
    kalo tdk keberatan sy boleh minta pendapat anda tentang kelompok MtA(majelis tafsir Al Qur’an) Surakarta.?
    sesuai syariat kah atau hanya kepentingan kelompok untuk menciptakan tafsir2 baru,,,?

    maaf kalo pertanyaanya diluar topik,,

    Terimakasih mas aryo,
    MTA adalah salah satu jamaah pengajian yang menyampaikan penafsiran alquran bukan dengan pemahaman para sahabat, akan tetapi berdasarkan akal, sehingga seoalah-olah penafsirannya itu masuk akal,
    Majelis Tafsir al-Quran pun tidak mendasarkan pemahaman aqidahnya melalui nash-nash hadits, sehingga banyak persoalan aqidah yang diyakini secara keliru. Manhajnya dalam memahami Islam tidak sejalan dengan manhaj Salaf. Misalnya, keyakinan bahwa orang yang masuk neraka tidak akan masuk sorga. Mudah-mudahan pemahaman ini hanya karena ketidak mengertian, sehingga bila sudah mengerti akan berubah pemahamannya menjadi benar.
    Untuk selengkapnya, saya sudah postingkan tentang hal tersebut disini, silahkan dibaca

    Karena mengedepankan akal dalam menafsirkan alquran, maka tak heran JIL (jaringan islam liberal) menggaet MTA , radio JIL yaitu radio 68H jakarta merelay siaran radio MTA , ada apa ini, kalau tidak klop antara pemahaman JIL dgn MTA , Majlis Tafsir Akal, menafsirkan alquran dengan akal, sebagaimana JIL juga seperti itu,
    MTA termasuk diantara kelompok yg memiliki pemikiran inkarus sunnah, apa itu ingkarussunnah, silahkan baca disini

  4. aryo
    November 10, 2012 pukul 4:52 am

    saya mns biasa, bnyak kekurangan… saya baca artikel disini bukan karna alasan apa..apa.. melainkan ingin menjadi manusia yg lebih baik… alangkah baiknya anda menjawab sedikit pertanyaan ‘tadi’ agar saya yakin bahwa saya sedang bersama “orang2 yang benar”, terimakasih

    Terimakasih mas, pertanyaan yang mana yah? silahkan ditulis lagi pertanyaannya,

  5. tolongkautaubat
    November 8, 2012 pukul 3:09 am

    Selamat Pagi WAHABI…..

    maaf jika aku banyak salah…..

    Kami tak mau merasa baik…..

    TAPI TOLONG ANDA CEPAT TOBAT….please now

    jangan ajak lagi orang2 lain ke pemahaman anda yang sedikit itu……..

    TAUBAT lahhhh……….

    Jika orang yang beribadah kepada Allah tanpa menyekutukannya itu disebut WAHABI, maka saksikanlah, saya adalah WAHABI
    Jika orang yang beribadah Kepada Allah dengan sunnah-sunnahnya, dan menjauhi bidah itu disebut WAHABI, maka saksikanlah, saya adalah WAHABI
    Jika orang yang mengajak mengikuti contoh rasulullah dalam beribadah itu disebut WAHABI, maka saksikanlah, saya adalah WAHABI
    Jika orang yang mengingatkan bahayanya bidah dan mengajak kepada sunnah itu disebut WAHABI , maka saksikanlah, saya adalah WAHABI
    Lalu, apa yang harus saya taubati?
    Please…. tunjukanlah,.

  6. berjuang222
    November 7, 2012 pukul 4:13 pm

    ada orang meninggal ahli maulud, tapi jenazahnya sangat wangi……

    apa itu pertanda akan masuk meraka…..

    SUBHANALLAH………

    Kalau Rasulullah ketika meninggal apakah mengeluarkan aroma yang semerbak wangi gitu?
    Rasulullah saja tdk pernah melakukan maulid,
    Saya juga pernah jalan-jalan ketika malam hari, lalu lewat ditempat yang sepi, tiba-tiba sreng….. tercium aroma wangi, apa itu??
    Trus ada lagi orang yang jalan di pinggir komplek kuburan,. lalu tiba-tiba tercium aroma wangi, padahal biasanya tidak,.. malah tambah ketakutan tuh orang, kabur lari terbirit-birit,.. mungkin anda juga begitu,.

  7. fatah
    September 25, 2012 pukul 4:19 am

    Assalamualaikum.

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    sesungguhnya segala amal perbuatan adalah bergantung kepada niatnya.
    jika saudara-saudara seiman dan se islam kembali merenung dan mencoba mengkaji tanpa di ikuti rasa dendam, rasa benci dan rasa benar sendiri serta rasa lebih mengetahui dari yang lain, insyaallah mungkin apa yang menjadi kesimpulan akan berbeda, jika kita lihat kembali bacaan tahlil itu tersusun dari bacaan apa saja, kalimat-kalimat syirik kah?, menghujat nabi kah?, menghujat tuhan kah? atau menghujat orang2 mukmin????, sama sekali tidak ada bacaan-bacaan tersebut dalam tahlil, tetapi yang ada adalah bacaan-bacaan ayat-ayat Al-Quran, bacaan-bacaan yang mengesakan ALLAH, istighfar kepadanya, dan memuji namanya, lantas kenapa kita membenci seorang hamba yang berkumpul untuk membaca ayat2 sucinya, mengesakan tuhannya, memuji dan memohonkan ampun seluruh saudara seiman dan se islam nya.

    jika ada sebagian umat yang membacanya dengan niat mengalab berkah dari kuburan, bukankah yang salah adalah niat pembaca nya bukan bacaannya, sudah seharusnya kita mengingatkan dan meluruskan niat itu, bukan menghapus seluruh bacaan tahlinya, karena sungguh bacaan dalam tahlil adalah alquran, istigfar dan sholawat kepada nabi muhammad saw, lantas sudah benarkah kita melarang membaca al quran, istigfar, dan sholawat, dengan dalih bahwa nabi tidak menyurunya membaca bersama-sama, lantas jika demikian apakah nabi juga melarangnya untuk di baca bersama-sama?????.

    saat ada keluarga yang meninggal dunia seorang hamba mencoba mengingat, memeringati kematian dan menjadikan kematian itu sebagai pelajaran dengan membaca ayat-ayat alquran, bertasbih, beristighfar, serta bersholawat di iringi dengan rasa ingat mati, lantas apakah ada cara yang lebih baik dari itu, untuk mengigat kematian,???, bukankah nabi juga memerintahkan kita untuk sering mengingat kematian dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya???.

    sungguh tidak ada kata yang pantas kita ucapkan dari awal kita di hidupkan sampai nanti kita di matikan dan di hidupkan kembali kecuali “Yaa Rob ampuni aku” maka janganlah kita merasa benar sendiri, karena percayalah apa yang kita tau, itu bukan hanya kita saja yang mengetahuinya. dan apa yang belum kita tau, itu mungkin sudah banyak orang yang memahaminya, jangan sampai kita terlihat bodoh karena berbicara tentang sesuatu yang kita belum tahu kepada mereka yang sudah lama memahaminya.

    Terimakasih telah memaparkan komentar anda yang cukup panjang lebar,
    Jawaban saya sangat singkat, beribadah, tidak cukup niat yang baik saja mas, caranyapun harus baik, yaitu mengikuti cara yang diajarkan oleh rasulullah,
    Yang dimasalahkan disini bukan apa yg dibaca, tapi pelaksanaan dari hal tersebut,..
    Silahkan baca disini, niat yang baik saja tidak cukup

    • Ari Budianto
      September 25, 2012 pukul 6:49 am

      @fatah : gmana kalo sholat subuh dibuat jd 4 raka’at…kan baik juga toh…malah kl sholat ndak ada unsur syirik dsb kan…tp kenapa ndak ada yg melakukannya ???

      Betul ya, yang dibaca juga ayat alquran, bukan yang lain,.. ruku dan sujudnya juga tambah banyak, apakah ruku dan sujud itu bukan ibadah?
      Ada yg berani ngga ya melakukan shalat shubuh 4 rakaat?

      • aryo
        November 9, 2012 pukul 8:29 am

        assalamualaykum.w2

        Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

        sbg ssama hambaAllah alangkah baiknya anda tidak mengambil contoh yg sudah baku,seperti masalah sholat….
        jika anda bertanya “kenapatidak ada yg melakukannya…?” jelas jawabanya bahwa amalan wajib sudah ada aturannya yg tak bisa di ubah… maaf itu pertanyaan yg konyol….
        kita bahas yg Sunah..
        spt berdo’a… do,a itu boleh kapan saja, dimana saja, dengan siapa, sendiri/bareng2…..
        masalahya dimana? pelaksanaan yg seperti apa yg anda maksud? apakah ‘cuma’ karena harinya ‘mirip’ dgn ajaran agama sebelah…? kalo cuma masalah hari rasanya jika baginda Nabi masih hidup insyaAllah Nabi takkan membesar-besarkannya seperti yang anda sampaikan….

        oh, ini yg belum dijawab ya?
        Perlu mas aryo ketahui, semua amalan baik amalan wajib atau sunnah sudah ada peraturan bakunya,kita tdk bisa memodifikasi ajaran-ajaran islam, baik yang wajib atau yang sunnah,
        Contoh dalam hal ini tentang berdoa, berdoa bisa kapan saja, dimana saja,
        Nah, ada juga yang tidak dicontohkan oleh rasulullah, ada doa yang dilakukan bersama-sama, ada yg tidak,
        Nah contoh, praktek di masyarakat, sesudah shalat fardu, imam memimpin doa, dan diaminkan oleh makmum, .. Rasulullah tidak pernah melakukannya, jadi hal seperti ini butuh dalil, karena doa adalah ibadah, dan ibadah butuh dalil yang memerintahkannya,.. Rasulullah setiap sehabis shalat 5 waktu tidak berdoa, tapi berdzikir, sesudah berdzikir beliau tidak berdoa, apalagi doa secara bersama-sama

        pertanyaan besar buat anda, apakah anda berani menjamin dan bersumpah bahwa do,a yg dipanjatkan pd acara syukuran, tahlilan, yasinan, maulidan dll itu bakal tidak sampai/ dgn kata lain SIA-SIA begitu…….??

        Maaf pak, saya nukilkan apa yang disampaikan oleh imam syafii,
        Pengingkaran Imam As-Syafi’i terhadap perkara-perkara yang dianggap bid’ah hasanah

        Para imam madzhab syafiiyah telah menukil perkataan yang masyhuur dari Imam As-Syafii, yaitu perkataan beliau;

        مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَّعَ

        “Barangsiapa yang menganggap baik (suatu perkara) maka dia telah membuat syari’at”

        (Perkataan Imam As-Syafi’i ini dinukil oleh para Imam madzhab As-Syafi’i, diantaranya Al-Gozaali dalam kitabnya Al-Mustashfa, demikian juga As-Subki dalam Al-Asybaah wa An-Nadzooir, Al-Aaamidi dalam Al-Ihkaam, dan juga dinukil oleh Ibnu Hazm dalam Al-Ihkaam fi Ushuul Al-Qur’aan, dan Ibnu Qudaamah dalam Roudhotun Naadzir)

        Oleh karenanya barangsiapa yang menganggap baik suatu ibadah yang tidak dicontohkan oleh Nabi maka pada hakikatnya ia telah menjadikan ibadah tersebut syari’at yang baru.

        Selengkapnya, utk hal2 diatas, sudah saya postingkan disini, silahkan dibaca

        maaf gak ada maksud membela suatu organisasi/kelompok, murni uneg-uneg dari saya, mohon ditanggapi dgn bijak..
        terimakasih sebelumnya

        Mdh-mudahan penjelasan diatas dan di link yg saya berikan, bisa menjawab uneg-uneg anda, dan anda juga tidak mau kan jika kita sudah beribadah dgn susah payah, cape, tapi amalan kita tdk bernilai ibadah disisi allah, bahkan itu dinilai sebagai dosa,. na’udzubillahi min dzalik

        wassalam.w2

        Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

  8. Nanang Pamungkas
    Juli 18, 2012 pukul 10:45 am

    assalamu’alaikum warohmatulloh..

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    kalau disuruh tahlilan sm orang tua gimana hukumnya? soalnya mau nolak juga susah..apa yg hrs sy lkukan?

    Orangtua kita banyak yg tdk tahu bagaimana hukum ritual tahlilan ini,..oleh karena itu sikap kita, berakhlaklah yang baik kepada orangtua, tidak usah menjelaskan tentang ritual tahlilan ini, kecuali jika kondisi memungkinkan, dan tidak menyinggung perasaan mereka,..

    Kita hidup di lingkungan yang mengenal jika ritual tahlilan itu amalan yang baik, makanya kita jangan membeberkan ttg kesesatan ritual tsb, sementara ilmu kita masih pas-pasan,.. bisa2 kita sendiri yg dicap sesat,..

    Oleh karena itu, paling tidak pengetahuan ini utk diri kita dahulu,. dan jika anda disuruh oleh org tua tuk ikut ritual tahlilan di tempat lain/rmh tetangga, bilang saja , iya, saya akan pergi,.. dan perginya tdk usah disebutkan pergi kemana, jadi menggunakan bahasa tauriyah,.. . sehingga anda bisa pergi, kemana saja,.

  9. dody
    Juli 17, 2012 pukul 4:53 am

    dahulu…

    Arab pra Islam juga menyembah Allah, jika ditanya siapa yang menciptakan langit dan bumi mereka menjawab “Allah!”

    tetapi mereka juga menyembah dan ngarap berkah kepada Latta Uzza dan Mannat….

    sekarang Indonesia merdeka juga menyembah Allah tetapi juga menyembah dan mengarap berkah kuburan wali, nyi roro kidul,

    dan parahnya berani nambah-nambahi ajaran Islam,

    dahulu nabi Muhammad dikucilkan, difitnah, dan dicaci maki, sekarang para pendakwah yang ingin memurnikan Islam juga di fitnah, dikucilkan dan dicaci dimaki,

    so yang tuli bukan telinganya, yang buta bukan matanya tapi hatinya….

    moga Allah memudahkan siapa saja untuk menerima hidayahNya….

    buat yang lagi dikucilkan jangan bersedih, la tahjan, Rasulullah pun dulu digitukan juga…..

    kaum jahiliyah dahulu, jika mereka sedang tertimpa musibah, mereka akan memurnikah ibadah hanya untuk Allah, akan tetapi ketika mereka lapang, maka mereka menyembah kembali berhala-berhala mereka,..

    Orang-orang yang mengaku sebagai pemeluk islam sekarang , ketika tertimpa musibah saja mereka menyekutukan Allah, meminta kepada jin,kepada penunggu gunung, kepada kuburan,.. gimana ketika sedang lapangnya,..

    Jadi kondisi sekarang terkadang lebih parah ,..

    Sudah sunnatullah, orang-orang yang mendakwahkan dakwah rasulullah, dakwah tauhid, maka mereka akan dibenci, akan dikucilkan, dan diperolok-olokkan, sebagaimana dulu rasulullah yang mendapat gelar al amin saja diperlakukan seperti itu oleh sebagian kaumnya,

  10. aries muhammad
    Juni 5, 2012 pukul 1:57 am

    orang yang seneng bidah nantinya mati , orang yang tidak suka bidah ya mati …warga NU nantinya meninggal warga selain NU ya meninggal, yang benar adalah Muhammad SAW dan yang maha benar adalah Allah SWT

    Dan Allah sudah menjelaskan syariat ini melalui Rasulullah,
    Rasulullah sudah menyampaikan semua risalah yang dibawanya,..
    Islam sudah sempurna,..

    Maka nanti ketika mati, Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada kita,..
    Apa yang kita ikuti, apakah ajaran Rasulullah, ataukah ajaran-ajaran yang ditambah-tambahkan oleh manusia?
    Apakah kita tidak takut, ketika sudah mati, kita tidak bisa balik lagi ke dunia,.. tidak ada kesempatan lagi,..

    Makanya, Beramallah sesuai dengan petunjuk rasulullah, jangan beramal dengan amalan-amalan bidah,

  11. rebs
    Mei 11, 2012 pukul 5:27 pm

    Alhamdulliah…akhirnya al Haq akan mengalahkan kebathilan…terus terang dari kecil saya mengaji dan diajarkan hala2 seperti itu (TBC) tp ketika hati saya mulai ragu saya mencari kebenaran kesana kemari,mendatangi para ustadz tp tak kunjung mendapati jawaban dari kegamangan dalam hati, suatu ketika saya penasaran dengan ajaran “wahabi” dan disinilah saya menemukan smua jawaban secara jelas dan tuntas…tanpa keraguan sedikitpun dengan jalannya para salafush sholih…barokallohufikum

  12. alfa wanasabani
    September 24, 2011 pukul 3:31 pm

    alah podo wae… ujung2 e yo tonjok-tonjokan.. uwislah podo wae pingin uripe kok, salam sekang wong benda

    tonjok-tonjokan karo sopo mas,.. salam maning, ibune aku ya sering ngisi sayuran maring pondok nang benda mas,… salam kenal ya,..

  13. wong hebat
    September 22, 2011 pukul 1:47 pm

    kurang hebat nya orang islam adalah membuat masalah dengan sesama orang islam.

    orang hebat adalah, orang yang berani rujuk dari kesalahan, menuju kebenaran, dan memberikan penjelasan tentang perkara-perkara yg salah yang dahulu diajarkannya,… agar tidak semakin banyak orang yang tersesat karenanya,..

  14. Taufiq
    Maret 14, 2011 pukul 2:26 pm

    Oya mw tnya nih….
    Slametan, berzanji, dkk itu sebenarnya brasal drimana sih…??? (kalo agan tau)

    Slametan,berzanji, dkk itu bukan berasal dari Rasulullah,.. bahkan apa yang ada dalam hal-hal tersebut bertentangan dengan ajaran Rasulullah,.. apalagi yang terkandung di dalam barzanji, kata-katanya berisi kata yang penuh dengan kesyirikan, padahal dosa syirik tidak akan diampuni oleh Allah, kecuali jika pelakunya bertaubat… kitab berzanji adalah salah satu kitab yang wajib dijauhi oleh kaum muslimin,..

    Bisa dilihat disini,apa itu barzanji

    Trus pa cma NU doang yg nglakuin acra tsb???Kebetulan lingkungan sya NU, trus sya kira bdya tsb tak hanya dilakukan oleh NU doang (maksudnya: seluruh organisasi sprt NU di seluruh dataran pulau jawa)

    Budaya itu dilakukan oleh orang-orang yang kurang mendalami ajaran Rasulullah, sehingga memasukan budaya-budaya lokal kedalam islam,.. sehingga dengan berlalunya waktu, hal itu dianggap seolah-olah dari islam,.. padahal islam berlepas diri dari semua itu,.. dan tidak mendatangkan sedikitpun pahala jika mengamalkannya,.. bahkan mendapatkan dosa… na’udzubillahi min dzalik…

  15. nyek nyobe
    Oktober 3, 2010 pukul 12:37 am

    emhhhhhh propaganda wahaby….

    Ada kisah nyata yang menarik, kenapa sih orang NU benci sekali sama wahabi??
    Saya dengar dari ceramah ust zainal abidin,Lc , kebetulan beliau lulusan pondok pesantren Tambak Beras , Jombang … yang punya adalah pamannya Gusdur,
    Dibuku fikih mereka, dihalaman belakang, ada catatan penting, yang ini merupakan doktrin bagi santri yang belajar disana, apa isi catatan itu??
    Berikut ini kira-kira isinya:
    1. hati-hati dengan Ibnu Taimiyah, karena beliau adalah khawarij
    2. hati-hati dengan Ibnul Qayim, karena beliau adalah rafidhah
    3. hati-hati dengan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, karena beliau adalah wahabi..
    Makanya orang-orang lulusan pesantren NU atau kebanyakan tokoh-tokoh NU tersebut sangat anti dengan tokoh-tokoh yang disebut diatas,
    Sehingga jika ada orang yang pergi haji, sebelumnya juga sudah diwanti-wanti, awas, saudi itu negeri wahabi,…
    mudah2an saja banyak dari saudara kita dari NU yang menyadari kekeliruan doktrin diatas, sehingga bisa kembali ke jalan yang benar…

  16. ayeck
    September 27, 2010 pukul 7:42 am

    anda boleh berbeda, tapi jangan menjelek-jelekkan yang lain

    siapa yang menjelek-jelekkan orang lain??
    Menunjukkan sebuah kebenaran, menjelaskan perbuatan atau amalan yang dikerjakan oleh seseorang, atau sekelompok organisasi, atau tokoh-tokoh tertentu yang ternyata itu disandarkan kepada Rasulullah, tetapi pada kenyataannya Rasulullah tidaklah mengajarkannya…. Apakah ini disebut sebagai menjelek-jelekkan orang lain??

    Seharusnya kita berterima kasih kepada orang-orang yang dengan gigih menjelaskan apa-apa yang diajarkan oleh Rasulullah… bukan malah menuduh dengan tuduhan-tuduhan yang jelek kepada orang tersebut…

    Dengan ilmu, kebenaran akan terungkap juga..
    Dengan kejahilan… kebodohan… kesesatan akan terpelihara…

    Mudah-mudahan kita dijauhkan dari kejahilan..

  1. No trackbacks yet.

Silahkan tulis komentar anda,.. surel diisi dgn email, nama diisi dengan nama anda ,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.406 pengikut lainnya.