Beranda > bidah > Semua Bidah itu Sesat, Tidak Ada Bidah Hasanah dan Bidah Sayyiah

Semua Bidah itu Sesat, Tidak Ada Bidah Hasanah dan Bidah Sayyiah


Mengkritisi Bidah Hasanah dan Bidah Sayyiah

sedikit-sedikit bidahSetiap bid’ah adalah tercela’. Inilah yang masih diragukan oleh sebagian orang. Ada yang mengatakan bahwa tidak semua bid’ah itu sesat, ada pula bid’ah yang baik (bid’ah hasanah). Untuk menjawab sedikit kerancuan ini, marilah kita menyimak berbagai dalil yang menjelaskan hal ini.

[Dalil dari As Sunnah]

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah matanya memerah, suaranya begitu keras, dan kelihatan begitu marah, seolah-olah beliau adalah seorang panglima yang meneriaki pasukan ‘Hati-hati dengan serangan musuh di waktu pagi dan waktu sore’. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jarak antara pengutusanku dan hari kiamat adalah bagaikan dua jari ini. [Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan jari tengah dan jari telunjuknya]. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)

Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,

وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i no. 1578. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani di Shohih wa Dho’if Sunan An Nasa’i)

Diriwayatkan dari Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari. Kemudian beliau mendatangi kami lalu memberi nasehat yang begitu menyentuh, yang membuat air mata ini bercucuran, dan membuat hati ini bergemetar (takut).” Lalu ada yang mengatakan,

يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا

Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasehat perpisahan. Lalu apa yang engkau akan wasiatkan pada kami?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kalian adalah budak Habsyi. Karena barangsiapa yang hidup di antara kalian setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, kalian wajib berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud dan Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)

[Dalil dari Perkataan Sahabat]

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

مَا أَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ إِلا أَحْدَثُوا فِيهِ بِدْعَةً، وَأَمَاتُوا فِيهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَى الْبِدَعُ، وَتَمُوتَ السُّنَنُ

Setiap tahun ada saja orang yang membuat bid’ah dan mematikan sunnah, sehingga yang hidup adalah bid’ah dan sunnah pun mati.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 10610. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya tsiqoh/terpercaya)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih)

Itulah berbagai dalil yang menyatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat.

KERANCUAN: ADA BID’AH HASANAH YANG TERPUJI ?

Inilah kerancuan yang sering didengung-dengungkan oleh sebagian orang bahwa tidak semua bid’ah itu sesat namun ada sebagian yang terpuji yaitu bid’ah hasanah.

Memang kami akui bahwa sebagian ulama ada yang mendefinisikan bid’ah (secara istilah) dengan mengatakan bahwa bid’ah itu ada yang tercela dan ada yang terpuji karena bid’ah menurut beliau-beliau adalah segala sesuatu yang tidak ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Imam Asy Syafi’i dari Harmalah bin Yahya. Beliau rahimahullah berkata,

الْبِدْعَة بِدْعَتَانِ : مَحْمُودَة وَمَذْمُومَة

“Bid’ah itu ada dua macam yaitu bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela.” (Lihat Hilyatul Awliya’, 9/113, Darul Kitab Al ‘Arobiy Beirut-Asy Syamilah dan lihat Fathul Bari, 20/330, Asy Syamilah)

Beliau rahimahullah berdalil dengan perkataan Umar bin Al Khothob tatkala mengumpulkan orang-orang untuk melaksanakan shalat Tarawih. Umar berkata,

نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” (HR. Bukhari no. 2010)

Pembagian bid’ah semacam ini membuat sebagian orang rancu dan salah paham. Akhirnya sebagian orang mengatakan bahwa bid’ah itu ada yang baik (bid’ah hasanah) dan ada yang tercela (bid’ah sayyi’ah). Sehingga untuk sebagian perkara bid’ah seperti merayakan maulid Nabi atau shalat nisfu Sya’ban yang tidak ada dalilnya atau pendalilannya kurang tepat, mereka membela bid’ah mereka ini dengan mengatakan ‘Ini kan bid’ah yang baik (bid’ah hasanah)’. Padahal kalau kita melihat kembali dalil-dalil yang telah disebutkan di atas baik dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun perkataan sahabat,  semua riwayat yang ada menunjukkan bahwa bid’ah itu tercela dan sesat. Oleh karena itu, perlu sekali pembaca sekalian mengetahui sedikit kerancuan ini dan jawabannya agar dapat mengetahui hakikat bid’ah yang sebenarnya.

SANGGAHAN TERHADAP KERANCUAN:

KETAHUILAH SEMUA BID’AH ITU SESAT

Perlu  diketahui bersama bahwa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamsesungguhnya sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama,pen)’, ‘setiap bid’ah adalah sesat’, dan ‘setiap kesesatan adalah di neraka’ serta peringatan beliau terhadap perkara yang diada-adakan dalam agama, semua ini adalah dalil tegas dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka tidak boleh seorang pun menolak kandungan makna berbagai hadits yang mencela setiap bid’ah. Barangsiapa menentang kandungan makna hadits tersebut maka dia adalah orang yang hina. (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/88, Ta’liq Dr. Nashir Abdul Karim Al ‘Aql)

Tidak boleh bagi seorang pun menolak sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersifat umum yang menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat, lalu mengatakan ‘tidak semua bid’ah itu sesat’. (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/93)

Perlu pembaca sekalian pahami bahwa lafazh ‘kullu’ (artinya : semua) pada hadits,

وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

setiap bid’ah adalah sesat”, dan hadits semacamnya dalam bahasa Arab dikenal dengan lafazh umum.

Asy Syatibhi mengatakan, “Para ulama memaknai hadits di atas sesuai dengan keumumannya, tidak boleh dibuat pengecualian sama sekali. Oleh karena itu, tidak ada dalam hadits tersebut yang menunjukkan ada bid’ah yang baik.” (Dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 91, Darul Ar Royah)

Inilah pula yang dipahami oleh para sahabat generasi terbaik umat ini. Mereka menganggap bahwa setiap bid’ah itu sesat walaupun sebagian orang menganggapnya baik. Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah)

Juga terdapat kisah yang telah masyhur dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ketika beliau melewati suatu masjid yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sedang duduk membentuk lingkaran. Mereka bertakbir, bertahlil, bertasbih dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Ibnu Mas’ud mengingkari mereka dengan mengatakan,

فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَىْءٌ ، وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِى نَفْسِى فِى يَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِىَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ، أَوْ مُفْتَتِحِى بَابِ ضَلاَلَةٍ.

Hitunglah dosa-dosa kalian. Aku adalah penjamin bahwa sedikit pun dari amalan kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad! Begitu cepat kebinasaan kalian! Mereka sahabat nabi kalian masih ada. Pakaian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga belum rusak. Bejananya pun belum pecah. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada dalam agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad? Ataukah kalian ingin membuka pintu kesesatan (bid’ah)?

قَالُوا : وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ. قَالَ : وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

Mereka menjawab, ”Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.

Ibnu Mas’ud berkata, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid)

Lihatlah kedua sahabat ini -yaitu Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud- memaknai bid’ah dengan keumumannya tanpa membedakan adanya bid’ah yang baik (hasanah) dan bid’ah yang jelek (sayyi’ah).

BERALASAN DENGAN SHALAT TARAWIH YANG DILAKUKAN OLEH UMAR

[Sanggahan pertama]

Adapun shalat tarawih (yang dihidupkan kembali oleh Umar) maka dia bukanlah bid’ah secara syar’i. Bahkan shalat tarawih adalah sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dilihat dari perkataan dan perbuatan beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat tarawih secara berjama’ah pada awal Ramadhan selama dua atau tiga malam. Beliau juga pernah shalat secara berjama’ah pada sepuluh hari terakhir selama beberapa kali. Jadi shalat tarawih bukanlah bid’ah secara syar’i. Sehingga yang dimaksudkan bid’ah dari perkataan Umar bahwa ‘sebaik-baik bid’ah adalah ini’ yaitu bid’ah secara bahasa dan bukan bid’ah secara syar’i. Bid’ah secara bahasa itu lebih umum (termasuk kebaikan dan kejelekan) karena mencakup segala yang ada contoh sebelumnya.

Perlu diperhatikan, apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan dianjurkan atau diwajibkannya suatu perbuatan setelah beliau wafat, atau menunjukkannya secara mutlak, namun hal ini tidak dilakukan kecuali setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat (maksudnya dilakukan oleh orang sesudah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), maka boleh kita menyebut hal-hal semacam ini sebagai bid’ah secara bahasa. Begitu pula agama Islam ini disebut dengan muhdats/bid’ah (sesuatu yang baru yang diada-adakan) –sebagaimana perkataan utusan Quraisy kepada raja An Najasiy mengenai orang-orang Muhajirin-. Namun yang dimaksudkan dengan muhdats/bid’ah di sini adalah muhdats secara bahasa karena setiap agama yang dibawa oleh para Rasul adalah agama baru.  (Disarikan dari Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/93-96)

[Sanggahan Kedua]

Baiklah kalau kita mau menerima perkataan Umar bahwa ada bid’ah yang baik. Maka kami sanggah bahwa perkataan sahabat jika menyelisihi hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa menjadi hujah (pembela). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat sedangkan Umar menyatakan bahwa ada bid’ah yang baik. Sikap yang tepat adalah kita tidak boleh mempertentangkan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perkataan sahabat. Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mencela bid’ah secara umum tetap harus didahulukan dari perkataan yang lainnya. (Faedah dari Iqtidho’ Shirotil Mustaqim)

[Sanggahan Ketiga]

Anggap saja kita katakan bahwa perbuatan Umar adalah pengkhususan dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersifat umum yang menyatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat. Jadi perbuatan Umar dengan mengerjakan shalat tarawih terus menerus adalah bid’ah yang baik (hasanah). Namun, ingat bahwa untuk menyatakan bahwa suatu amalan adalah bid’ah hasanah harus ada dalil lagi baik dari Al Qur’an, As Sunnah atau ijma’ kaum muslimin. Karena ingatlah –berdasarkan kaedah ushul fiqih- bahwa sesuatu yang tidak termasuk dalam pengkhususan dalil tetap kembali pada dalil yang bersifat umum.

Misalnya mengenai acara selamatan kematian. Jika kita ingin memasukkan amalan ini dalam bid’ah hasanah maka harus ada dalil dari Al Qur’an, As Sunnah atau ijma’. Kalau tidak ada dalil yang menunjukkan benarnya amalan ini, maka dikembalikan ke keumuman dalil bahwa setiap perkara yang diada-adakan dalam masalah agama (baca : setiap bid’ah) adalah sesat dan tertolak.

Namun yang lebih tepat, lafazh umum yang dimaksudkan dalam hadits ‘setiap bid’ah adalah sesat’ adalah termasuk lafazh umum yang tetap dalam keumumannya (‘aam baqiya ‘ala umumiyatihi) dan tidak memerlukan takhsis (pengkhususan). Inilah yang tepat berdasarkan berbagai hadits dan pemahaman sahabat mengenai bid’ah.

Lalu pantaskah kita orang-orang saat ini memakai istilah sebagaimana yang dipakai oleh sahabat Umar?

Ingatlah bahwa umat Islam saat ini tidaklah seperti umat Islam di zaman Umar radhiyallahu ‘anhu. Umat Islam saat ini tidak seperti umat Islam di generasi awal dahulu yang memahami maksud perkataan Umar. Maka tidak sepantasnya kita saat ini menggunakan istilah bid’ah (tanpa memahamkan apa bid’ah yang dimaksudkan) sehingga menimbulkan kerancuan di tengah-tengah umat. Jika memang kita mau menggunakan istilah bid’ah namun yang dimaksudkan adalah definisi secara bahasa, maka selayaknya kita menyebutkan maksud dari perkataan tersebut.

Misalnya HP ini termasuk bid’ah secara bahasa. Tidaklah boleh kita hanya menyebut bahwa HP ini termasuk bid’ah karena hal ini bisa menimbulkan kerancuan di tengah-tengah umat.

Kesimpulan : Berdasarkan berbagai dalil dari As Sunnah maupun perkataan sahabat, setiap bid’ah itu sesat. Tidak ada bid’ah yang baik (hasanah). Tidak tepat pula membagi bid’ah menjadi lima : wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram karena pembagian semacam ini dapat menimbulkan kerancuan di tengah-tengah umat.

Nantikan pembahasan selanjutnya, tentang hukum bid’ah dan beberapa pembelaan mengenai bid’ah. Semoga Allah mudahkan.

Silakan baca definisi bid’ah dalam tulisan sebelumnya di sini.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id, dipublish ulang oleh http://rumaysho.com

Selesai disusun di Desa Pangukan, Sleman

Saat Allah memberi nikmat hujan di siang hari, Kamis, 9 Syawal 1429 (bertepatan dengan 9 Oktober 2008)

Lihat juga nih, video durasi 7 menit yang mungkin bisa membuka cakrawala kita,.

  1. Young Zhidoel Queerom
    September 28, 2014 pukul 6:42 pm

    “Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Alquran, bacaan kamu dibandingkan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya, demikian pula shalat dan puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya.

    Mereka membaca Alquran dan mengiranya sebagai pembela mereka, padahal ia adalah hujjah yang menghancurkan alasan mereka.

    Shalat mereka tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari busurnya.” (HR. Abu Dawud)

    “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca (menghafal) al-Qur’ân, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap al-Qur’ân dan dia menjadi pembela Islam, dia terlepas dari al-Qur’ân, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya musyrik”.

    Aku (Hudzaifah) bertanya, “Wahai nabi Allâh, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik, penuduh atau yang dituduh?”.
    Beliau menjawab, “Penuduhnya”. (HR. Bukhâri dalam at-Târîkh, Abu Ya’la, Ibnu Hibbân dan al-Bazzâr. Disahihkan oleh Albani dalam ash-Shahîhah, no. 3201).

    Terimakasih sudah menukilkan hadits yang mulia,..
    tapi…

    Kenapa anda tidak menukilkan juga penjelasan dari kedua hadits tersebut??
    Apakah takut ketahuan tidak sejalan dengan keinginan anda tentang maksud hadits tersebut?

    Atau anda memang betul-betul tidak paham maksud dan penjelasan dari kedua hadits tersebut?
    Saya berprasangka baik mungkin anda tidak paham akan hadits tersebut,.
    Hadits diatas menjelaskan tentang sifat-sifat khawarij,

    Karena komentar anda, saya postingkan artikelnya,. silahkan baca disini

  2. Young Zhidoel Queerom
    September 28, 2014 pukul 6:21 pm

    kenapa kalian tak berdakwah saja di amerika latin,, yang 99% penduduknya kafir,,,

    Terimakasih, komentar yang sangat lucu,..
    Kita mendakwahkan salaf bukan di indonesia saja mas,. salah besar, di amerika juga banyak,. bahkan mereka mendakwahkan di jalan-jalan, demikian pula di eropa seperti jerman,. jadi salah anggapan anda,.

    rukun islam itu 5 rukun iman itu 6,, kalau mereka masih berpegang teguh pada kedua hal tersebut berarti mereka tetaplah muslim yang beriman,,

    Kepada orang kafir, kita mendakwahkan kepada islam, supaya masuk islam,
    Kepada orang islam kita mendakwahkan agar umat islam beribadah dengan tatacara yang betul-betul rasulullah ajarkan, bukan beramal dengan amalan yang dibuat-buat, jadi salah besar jika sudah memeluk islam lalu tidak mempelajari bagaimana sih ajaran islam tersebut? pelajari islam yang benar, dengan pemahaman yang benar,. itulah satu-satunya jalan keselamatan,

    Sehingga benar pula pemahamannya terhadap rukun iman dan rukun islam, bukan islam ikut-ikutan,.

    jadi yang berhak menilai agama seseorang hanyalah ALLAH SWT,, kalau memang kalian gigih menyebarkan islam mestinya kalian dakwah di benua amerika,,,,

    Betul mas,. dan perlu diingat, Allah sudah mengutus Rasulnya,. untuk apa? untuk mendakwahkan ketentuan Allah , syariat Allah,. agar kaum muslimin beribadah dengan syariat Allah tersebut, berdasarkan ketentuan Allah, sehingga Allah menerima amalan-amalan tersebut,.
    Bukan beribadah semau gue,. sekarepe dewe, .. ini adalah kesalahan besar,.

    Jadi tidak usah jauh-jauh berdakwah di amerika, wong musibahnya ada disini, umat islam disini tidak paham apa itu islam, sehingga beribadah sekarepe dewe, semau gue,.

    tau kenapa jazirah arab kacau balau,, karena otak mereka seperti kalian,,

    Kata siapa mas,.. emang jazirah arab yang mana, negara arab itu macem-macem, bahkan ada yang lebih parah dari indonesia,. contoh seperti di dubai, mesir, turki,. itu sama saja spt di indonesia, banyak yang melanggar aturan islam..

    tapi tidak begitu dengan saudi,. setiap waktu shalat tiba, pasar berhenti, kegiatan berhenti, semua laki2 pergi ke masjid untuk shalat,.. makanya ini menjadikan saudi satu2nya negara yang paling aman untuk saat ini, negara yang diberkahi Allah,.

  3. khalid mawardi
    Agustus 3, 2014 pukul 10:51 am

    Anda tau bagaimana asal muasalnya ada tahlilan?
    Dijaman para penyebar agama islam dinusantara(wali songo),para penduduknya jika ada sanak dan tetangga yang meninggal,mereka mengadakan judi,minum2 arak.dan itu adat.

    Dan adat tidak bisa dihilangkan,jika dihilangkan maka akan ada penolakan dan pergesekan.yang benar adalah Mengislamkan adat,budaya,kebiasaan yang tidak mencerminkan islam.maka tahlil adalah solusi dari para wali untuk menarik minat orang non muslim agar senang menjadi muslim.

    Terimakasih mas khalid, sebelumnya perlu anda ketahui, walisanga dari generasi siapa yang menyebarkan ritual tahlilan tersebut? sebab wali yang pertama kali justru menyatakan tahlilan itu adalah bidah, seperti sudah saya posting disini, silahkan dibaca

    Jika ada yang berdalih ritual tersebut lebih baik dari mabuk,judi, justru inilah kenapa setan malah lebih suka pada ritual tahlilan kematian daripada mabuk,judi,.
    Silahkan tanya kepada orang yang doyan mabuk,judi, apakah perbuatan mereka itu dosa? mereka akan mengakuinya, tapi tanya ke orang yang doyan ritual tahlilan, apakah perbuatan mereka itu dosa, maka pasti mereka akan marah, ibadah kok dibilang dosa,.. itulah bedanya, orang yang doyan mabuk,judi, masih mengakui bahwa yang dilakukannya adalah suatu dosa, sedangkan yang doyan ritual tahlilan boro-boro mengakui itu sebuah dosa, makanya iblis lebih menyukai orang yang melakukan amalan bidah daripada pelaku dosa maksiat selain bidah, silahkan baca postingannya disini

    Para wali hampir mengislamkan Nusantara,mnk anda juga menjadi muslim krn jasa Beliau2.
    Para penuduh bid’ah diindonesia skr ini,seperti anda,bisakah anda mengislamkan sisa rakyat nusantara yang belum menjadi islam?
    Itu kira2 hanya 2%.bisakah anda?

    Mas, yang paling berjasa menyebarkan islam adalah PARA SAHABAT NABI, tanpa jasa para sahabat, mustahil walisanga mengenal islam, demikian pula anda, mustahil anda mengenal islam,.
    Makanya Rasulullah memerintahkan kita untuk mengikuti cara beragamanya para sahabat, mengikuti pemahaman para sahabat, bukan mengikuti walisanga,.
    Seluruh kaum muslimin wajib mengikuti pemahaman para sahabat, jika tidak mau mengikutinya, maka pasti akan tersesat, dalam hal ini termasuk cara mendakwahkan islam,. silahkan baca postinganya disini

    Kondisi masyarakat arab jauh lebih parah dari masyarakat di indonesia, lalu bagaimana rasulullah menyikapinya, mendakwahi masyarakat arab kala itu, apakah seperti cara wali yang memasukan budaya lokal kepada islam? Tidak mas,. justru islam datang untuk memberantas budaya lokal yang menyelisihi ajaran islam, apalagi budaya dari agama diluar islam, bagaimana islam menyikapi budaya, silahkan baca postingannya disini

    Menurut saya,tahlil bisa menjadi Bid’ah jika orang yang mengadakan tahlil beranggapan bahwa tahlil adalah wajib atau sunnah.tpi jika menganggap tahlil sebagai suatu adat,itu bukan Bid’ah.
    Saya yang mengamalkan Tahlil,tidak pernah menganggap tahlil itu suatu kewajiban atau sunnah,dan saya yakin hampir rakyat indonesia tau klau itu bkan kewajiban atau sunnah.Maka dari itu,sesungguhnya diatas segala galanya adalah ilmu pengetahuan kita tentang agama yang terpenting.ada kiasan,tidurnya orang yang berilmu seperti sholatnya orang yg tak berilmu (ilmu agama).
    Memang banyak orang yg menganggap tahlil itu wajib atau sunnah,itulah orang yang ilmu keagamaannya rendah..

    Saya tanya mas, anda mengamalkan tahlil mengharapkan pahala atau tidak?
    Jika anda mengamalkan tahlil bukan karena mengharapkan pahala, maka sungguh hal yang sangat aneh, melakukan amalan yang berhubungan dengan kematian, tapi tidak mengharapkan pahala,
    Tapi jika mengharapkan pahala, maka anda menganggap ritual tahlilan itu adalah sebuah ibadah,. jadi anda bertolak belakang dengan apa yang anda katakan, jika demikian,.

    Orang yang cerdas, akan mengamalkan suatu amalan jika dia sudah paham dalil yang memerintahkannya, tapi orang yang bodoh, dia akan mengamalkan tanpa dalil, hanya ikut-ikutan saja, ikut tradisi,.

    DAn ternyata tahlilan itu ada dalilnya, sudah saya posting dalil-dalil tentang tahlilan, silahkan lihat disini

    Rasulullah sendiri sering mengalami kematian keluarganya, istri yang dicintai, anaknya, juga sahabat-sahabatnya,. namun beliau tidak pernah melakukan ritual tahlilan, mungkin ada yang ngomong, kalau ngga ditahlili, seperti ngubur kucing saja, silahkan baca postingannya disini

    Terimakasih,maafkan saya jika ada kata2 yang menyinggung.sungguh maafkan saya..
    AllahuAkbar

    Tidak mengapa mas, saya berterimakasih atas komentar mas khalid mawardi, mudah-mudahan bermanfaat, jika anda tidak bisa mengambil manfaat, banyak pembaca yang bisa mengambil manfaat atas diskusi ini,
    ngga perlu meminta maaf, karena tidak ada kata-kata yang menyinggung bagi saya sih,.
    Mudah-mudahan tidak kapok membuka blog saya, terimakasih mas,.

  4. khalid mawardi
    Agustus 2, 2014 pukul 6:25 pm

    Bagaimana pendapat anda tentang perintah umar kepada abu bakar,yang menyuruhnya untuk membukukan Alquran?
    Sedangkan jawaban abu bakar adalah “bagaimana bisa aku melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rosulullah SAW?
    Tpi kemudian hal itu terlaksana,selesai dijaman ustman dan disetujui oleh ali.
    Terimakasih,

    Terimakasih khalid, sudah komentar disini, komentar yang bagus,.
    Betulkah pembukuan Alquran adalah bidah?
    Tunggu dulu….
    Rasulullah memerintahkan kita untuk mengikuti sunnah Rasulullah, dan sunnah khulafaur rasyidin,
    Siapa yang membukukan alquran? bukankah khulafaur rasyidin?
    Jadi pembukuan alquran bukanlah bidah, tapi sunnah..
    Sudah pernah saya posting ulasan tentang hal ini, silahkan baca dipostingan ini

    Semoga Allah selalu melindungi umat muslim didunia ini,Amin….

    Umat islam akan Allah jaga, akan Allah menangkan, jika umat islam tersebut mengamalkan islam sesuai dengan pemahaman yang benar, yaitu pemahaman para sahabat, sebab seluruh kaum muslimin WAJIB mengikuti pemahaman para sahabat, kalau tidak mau, maka akan tersesat, dan akan Allah jadikan musuh-musuh islam menguasai kaum muslimin, ibarat hidangan makanan yang diperebutkan di meja makan, kaum muslimin banyak, tapi ibarat buih, tidak punya kekuatan,. itu realita saat ini,.

    berpikirlah,.. segera kembali kepada pemahaman para sahabat, generasi yang dibina langsung oleh rasulullah, silahkan baca postingannya disini

  5. benk hattori
    Juli 24, 2014 pukul 9:09 pm

    Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam kitab Fath al-Bari menuliskan sebagai berikut:
    ﻭَﺍﻟﺘَّﺤْﻘِﻴْﻖُ ﺃَﻧَّﻬَﺎ ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻣِﻤَّﺎ ﺗَﻨْﺪَﺭِﺝُ ﺗَﺤْﺖَ ﻣُﺴْﺘَﺤْﺴَﻦٍ ﻓِﻲْ
    ﺍﻟﺸَّﺮْﻉِ ﻓَﻬِﻲَ ﺣَﺴَﻨَﺔٌ، ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻣِﻤَّﺎ ﺗَﻨْﺪَﺭِﺝُ ﺗَﺤْﺖَ ﻣُﺴْﺘَﻘْﺒَﺢٍ
    ﻓِﻲْ ﺍﻟﺸَّﺮْﻉِ ﻓَﻬِﻲَ ﻣُﺴْﺘَﻘْﺒَﺤَﺔٌ .
    “Cara mengetahui bid’ah yang hasanah dan sayyi-ah menurut tahqiq para ulama adalah bahwa jika perkara baru tersebut masuk dan tergolong kepada hal yang baik dalam syara’ berarti termasuk bid’ah hasanah, dan jika tergolong hal yang buruk dalam syara’ berarti termasuk bid’ah yang buruk” (Fath al-Bari, j. 4, hlm. 253).

    terimakasih benk hattori atas tambahannya, betul sekali,.
    harus tergolong baik dalam syara’ berarti bidah hasanah,. ini hakekatnya sama dengan sunnah itu sendiri, dan lawan dari sunnah adalah bidah, jadi bidah hasanah adalah sunnah, dan contohnya adalah shalat tarawih yang dilakukan oleh umar, mengumpulkan kaum muslimin utk shalat tarawih dgn satu imam, dan shalat tarawih sudah pernah dilakukan oleh rasulullah, kemudian karena takut diwajibkan kepada umatnya, maka rasulullah meninggalkan hal tsb,.. dan dimasa umar, umar menghidupkan sunnah tsb,. dan berkata,. inilah senikmat-nikmat bidah,.

    jadi bagi yang berpegang pada dalil bidah hasanah, sebutkan dong contoh yang seperti umar lakukan,.

  6. Anonymous
    Juli 18, 2014 pukul 1:13 pm

    Saya sangat kagum dengan admin blog ini, saya belajar banyak dari dialog kalian dan semakin saya membaca komentar2 kalian, semakin saya bisa lebih memahami tentang bid’ah dan sunnah

    terimakasih sudah berkomentar disini,. mudah2an bisa mengambil manfaat,.

  7. sari
    Juli 4, 2014 pukul 1:02 pm

    saya hidup di lingkungan masyarakat penuh bid’ah.

    saya sendiri ketika melihat kondisi keluarga yang malah ribut mencari uang untuk acara tahlilan ke 7 40 100dst hari bahkan sampai hutang di bank, saya langsung berfikir ” islam itu mudah ini malah mempersulit diri”.

    cukup mendoakan si mayid itu disetiap hari setiap selesai sholat. mungkin pelaku bid’ah khusunya tahlilan yang belum merasakan sendiri gimana susahnya mencari uang sampai berhutang2 kesana kemari untuk membeli makanan yang harus dipersiapkan untuk orang2 yang diundang tahlil,

    bayangkan sampai harus hutang cuma agar bisa melakukan tahlilan di hari ke 7 40 100 dst kalau tidak maka masyarakat akan mencela “kok tidak diadakan acara tahlilan ke 7 40 dan 100?

    wah berarti anda teroris ya? kan ajaran teroris yang berjenggot2 itu lho yang anti tahlilan -astaghfirulloh-”

    cukuplah hanya mengikuti apa yang rasulullah contohkan, bahkan masih buanyak ibadah2 sunnah yang rasul contohkan saja belum bisa kita lakukan semua, eh ini malah membuat aturan ibadah baru yang bagi anda pencetus tahlilan mungkin baik tapi bagi saya masyarakat sangat MERUGIKAN.

    tidak cuma tahlilan tapi juga ziarah kubur dikhususkan sbelum puasa, nanti pasti juga ada biaya untuk masak2, dll. tiap hari masjid penuh dengan acara bid’ah, hati ini sedikitpun sama sekali tidak tenang, dan dengan meninggalkan bid’ah itu lalu hanya mengfokuskan diri pada amalan2 wajib dan sunnah rasul baru hati ini tenang merasa hidup,

    mau di kata teroris hati ini tetap tenang,saya malah senang karena yang mencela memberi saya pahala gratis.

    terimakasih mba sari, sudah komentar disini,..
    sabar mba, masyarakat melakukan ritual tersebut karena mereka itu tidak tahu, bahwa amalan tersebut bukanlah amalan yang dicontohkan oleh rasulullah,.
    masyarakat melakukan itu semua karena tradisi turun temurun, karena mengikuti nenek moyang, padahal ajaran islam itu bukanlah mengikuti nenek moyang, tapi mengikuti dalil, mengikuti contoh rasulullah sebagai pembawa islam,

    bagaimana menyikapi masyarakat yang terjerumus dalam amalan2 yang tidak ada contohnya dari rasulullah? silahkan download ebook bagus, silahkan save as link ini

  8. Anonymous
    Juni 27, 2014 pukul 1:07 pm

    Waduh, panjang sekali jumlah komentarnya, saya hanya ingin berkata : Semoga Gusti Allah senantiasa memberikan rahmat-Nya kepada kita semua, Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan, selalu bisa mensyukuri nikmat Allah, selalu saling menyayangi sesama muslim, saling menghormati, semoga dijauhkan dari kebencian di hati kita. amin.

    Terimakasih, sudah komentar disini,.
    Salah satu bentuk kasih sayang seorang muslim adalah, tidak membiarkan saudaranya sesama muslim terjerumus ke dalam neraka akibat perbuatan BIDAH yang dilakukakannya,. mengingatkan kaum muslimin dari bahaya BIDAH adalah salah satu bentuk kasih sayang kepada sesama muslim,.

    tapi,…

    membiarkan kaum muslimin terus menerus melakukan kebidahan, maka ini adalah salah satu bentuk ketidakpedulian terhadap kaum muslimin,.. membiarkan saudaranya sesama muslim terjerumus kedalam kesesatan,.. tidak berkasih sayang kepada sesama muslim,.

    bukan malah sebaliknya, menuduh golongan yang mengingatkan akan bahaya bidah dianggap sebagai kelompok yang tidak berkasih sayang kepada sesama muslim,..

    Kita sayang sama saudara kita sesama muslim, sehingga kita mengingatkan kaum muslimin dari bahaya bidah,..

    bahkan…

    Rasulullah setiap mau memberikan nasehat, beliau memulai dengan perhatian beliau terhadap bahaya bidah ini, dengan membawakan khutbatul haajah, HATI-HATILAH TERHADAP PERKARA BARU, KARENA PERKARA BARU ITU ADALAH BIDAH,DAN SETIAP BIDAH ITU SESAT, DAN KESESATAN ITU TEMPATNYA DI NERAKA,..

    Tidakkah wanti-wanti rasulullah ini menjadi pelajaran??

  9. umar bakri
    Juni 11, 2014 pukul 10:07 am

    inilah jeleknya diskusi tulisan, capek bacanya jg nulisnya. pa lg kadag yg udh dijelasin harus diulang krn ada yng blm baca langsung komen.. bgt pula aku… maaf jk ud dibahas.

    1. perkataan umar amat jelas… dan tidak boleh diartikan makna lughawi, beliau saat mengatakan itu dlm kapasitasnya sebgai khulaaurrasidin, bukan sedang bersair, atau mengajar sastra…

    2. baca sejerah pembukuan Al-Quran, apa saat diusulkan lagsung diiyakan oleh yg lain?
    tdk……! krn para sahabat itu wara’, dan takut dgn bidah.. tp akhirnya disetujui setelah sampai kedalam hatiereka kebenaran… apa kalimat yg merela ucapkan…

    sekali lg ucapan mereka bukan sebagi penyair atau guru sasta bahasa yg boleh diaryikan skdar lughawi…

    beliau-beliau itu tidak layak dikatakan bernmain dgn syriat agama. tdk sprti org awam sekarang kalau udh ttlanjur ngatain bidah, berapa dalilpun gk akan ngaruh, krn dr awal bukan karena wara, tetapi krn kedengkian

    3. saya suka dgn alasan antum mengenai tarwih berjamaah, yg maknanya itu adalah sunnah karena telah dikatakan oleh khulafaurrasidin yg telah diakui oleh Nabi saw.

    bukankah dua adzan jumat itu juga oleh lhulafaurrasidin yg diakui nabi..

    apa bedanya dgn trwih berjamaah dan kunut subuh….

    ketiganya adalah sama sunnah khulafaurrasidin yg telah diakui nabi sblm beliau wafat…

    dgn demikan mengikuti khalifah yg 4 tdk ada yg bid’ah, tdk pula menyelisihi agama ini telah sempurna…

    justru pengkuan nabi adalah wujud kesempurnaan islam….

    Terimakasih mas umar, sudah berkomentar disini,.
    saya luruskan yang point terakhir yang no 3,. saya luruskan, ini perkataan anda :

    ===== 3. saya suka dgn alasan antum mengenai tarwih berjamaah, yg maknanya itu adalah sunnah karena telah dikatakan oleh khulafaurrasidin yg telah diakui oleh Nabi saw.=====

    Tarawih bukan bidah, karena di jaman rasulullah pun dikerjakan berjamaah, dan dengan satu imam, lalu rasulullah meninggalkan, karena wahyu masih turun, takut shalat tarawih akan diwajibkan kepada umatnya, makanya beliau tinggalkan,.

    setelah rasulullah wafat, maka wahyu sudah terputus,.. dan Umar menghidupkan lagi apa yang dulu rasulullah kerjakan,.. jadi umar tidak membuat hal-hal yang baru,

    ==== bukankah dua adzan jumat itu juga oleh lhulafaurrasidin yg diakui nabi.. ====

    Jika kita mau melakukan dua adzan jumat, maka lakukanlah seperti yg dikerjakan oleh Utsman bin affan, yaitu adzan pertama dilakukan ditempat keramaian, itu jauh sebelum masuk waktu dzuhur, gunanya untuk mengingatkan kaum muslimin bahwa hari itu hari jumat , dan adzan kedua dilakukan setelah khatib naik mimbar,..

    Jika kita melakukan seperti itu, maka itu bukanlah bidah, tapi itu merupakan sunnah, karena mengikuti perbuatan khulafaur rasyidin,

    Bandingkan dengan adzan dua kali di masjid2 yang ada di indonesia,.. adzan pertama dan kedua dilakukan di dalam masjid, setelah masuk waktu dzuhur, maka ini tidak ada contohnya, baik dari nabi atau khulafaur rasyidin, dan ini masuk kepada perbuatan bidah,.

    ====apa bedanya dgn trwih berjamaah dan kunut subuh….=====

    bedanya jauh mas,. tarawih berjamaah ada contohnya dari rasulullah, sementara qunut shubuh haditsnya lemah, dan lucunya yang terjadi di indonesia, ketika imam melakukan qunut shubuh, tapi kenapa yang dibaca adalah qunut witir??? ini kelucuan diatas kelucuan, karena memang tidak ada dalil yang shahih tentang qunut shubuh ini, hadits tentang qunut shubuh haditsnya lemah atau dhaif

    ketiganya adalah sama sunnah khulafaurrasidin yg telah diakui nabi sblm beliau wafat…

    dgn demikan mengikuti khalifah yg 4 tdk ada yg bid’ah, tdk pula menyelisihi agama ini telah sempurna…

    justru pengkuan nabi adalah wujud kesempurnaan islam….

    Mengikuti sunnah khulafaur rasyidin itu diperintahkan oleh rasulullah, dan itu bukan berarti islam belum sempurna,

  10. yusuf
    Februari 5, 2014 pukul 7:53 am

    yusuf :
    emangnya semua kejadian sebelum dan sesudah Rasulullah tiada, Rasul tahu ya….sampai2 semua kejadian yg akan datang sudah Rasul siapkan,bagaimana dengan Ulama warosatul anbia.

    berarti logika saya dari rosul ,sahabat,ulama secara singkatnya seperti itu, mohon dikoreksi kalau salah ,setahu saya bid’ah lawan sunnah,nah betul nggak,kalau sunnah itu ucapan,prilaku rosul yang berhubungan Ibadah kepada Allah SWT.

    nah ketika kita kesawah nyangkul tak pakai jubah tapi pakai baju ala jawa pakai blangkon , apa itu juga bidah, kalau bukan berarti yang pakai jubah juga bukan sunnah dong,

    terimakasih mas yusuf,
    betul sekali, jubah itu bukan sunnah yang diperintahkan oleh rasulullah, itu adalah sunnah jibliyah, karena rasulullah mengikuti pakaian setempat, namun ada aturannya, yaitu wajib tidak isbal, atau melewati mata kaki, sebab ini ada ancamannya,
    Jadi jika kita ingin mengikuti sunnah rasul dalam hal berpakaian, bisa saja kita memakai sarung,baju koko dan peci hitam, dan sarungnya tidak boleh melewati mata kaki, demikian pula jika memakai celana, tidak boleh melewati mata kaki, itu sunnahnya

    seperti sholawat saya pernah dengar” sesungguhNya Allah dan Malaikat Bersholawat kapada Nabi SAW”

    nah, kalau shalawat, itu wajib mengikuti contoh rasulullah, rasul sudah mengajarkan bagaimana tatacara bershalawat, jadi wajib mengikuti contoh rasulullah,

    menurut saya lagi,memanjangkan atau berjenggot itu sunnah jadi yang tak punya tak kebagian jenggot dong,

    saya luruskan, bukan memanjangkan jenggot mas, tapi membiarkan jenggot itu tumbuh, haram untuk memotongnya, itu yg sunnah, dan bagi yang ditakdirkan tidak tumbuh jenggot, ya tidak terkena kewajiban tersebut, tidak usah memaksakan diri dengan membeli obat penumbuh jenggot,.

    pakai jubah apakah sunnah yang tak pakai bid’ah,untungnya islam tidak turun di jawa ,kalau turun di jawa paling blangkon jadi sunnah. wassalam

    sudah dijelaskan diatas,. yang sunnah adalah mengikuti pakaian kaum setempat, selama tidak menyelisihi aturan islam, yaitu harus menutup aurat, dan tidak isbal bagi laki-laki, jadi contoh pakaian sunnah di jawa misalnya, ya pakai sarung tidak isbal (melewati mata kaki) pakai baju koko / batik (yg tidak ada gambar bernyawanya) , bisa pakai peci hitam , atau blangkon, itu jika blangkon bukan simbol agama non islam tentunya,.

    Rasulullah memakai jubah, karena di kaumnya juga masyarakat memakai jubah,
    Dan jika kita memakai jubah di lingkungan masyarakat yang tidak mengenal jubah, maka kita sudah terjatuh dalam perbuatan dosa, yaitu memakai pakaian syuhrah (ketenaran)

    buat wawasan, APAKAH DEFINISI SUNNAH? silahkan baca disini

  11. Aries Muhammad
    Januari 15, 2014 pukul 11:23 am

    Tambahan :

    Katakanlah: ‘Aku bukanlah yang membuat bid’ah (hal baru) di antara rasul-rasul’.” (QS. Al Ahqaf [46])

    seperti juga telah disinggung dalam ayat di atas, bahwa Rosul (Muhammad) disitu tidak membawa hal baru (bertentangan) dgn apa yang telah dibawah (hal yg sudah ada) oleh Rosul-rosul Allah sebelumnya. Artinya Hal yang baru (bi’dah) disitu hanya berkaitan dgn “HAL YG SUDAH ADA” bukan Hal “BELUM ADA”

    Wasalam

    wa’alaikumussalam warahmatullah

    Jangan memahami bidah dari segi bahasa saja mas aries,.
    Jika menafsirkan alquran hanya dari arti bahasa saja, maka akan tersesat,. silahkan rujuk kepada tafsirnya, apa tafsir dari ayat diatas,. ayat diatas tidak berbicara masalah bidah,. jangan disambung-sambungkan dong,.

    Mau tahu apa arti bidah? silahkan baca postingan ini

    Dialog tentang bidah hasanah, LUCU HABIS BRO… silahkan baca disini

    Baca ulasan ini dulu sebelum anda berbuat bidah, silahkan meluncur kesini

  12. Aries Muhammad
    Januari 15, 2014 pukul 10:44 am

    Aslkm, Wr. Wb

    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Disatu sisi sy sepakat bahwa semua Bi’dah itu adalah Sesat dan semua yg sesat tempatnya di Neraka dan itu artinya tdk ada istilah Bi’dah yg khasanah (sebaik2nya Bi’dah)

    Cuman satu yg luput dari pengamatan kita yaitu kita harus melihat lebih dalam lagi makna “bahwa semua Bi’dah itu adalah Haram”. Maksud sy adalah kalau kita kaitkan antara Bi’dah yaitu sebagai sesuatu yg baru yg “haram” maka kita harus melihatnya bahwa “sesuatu yg baru disitu” (bi’dah) adalah sesuatu yg telah (ada) dan telah diatur dalam Al-Quran atau Hadist Nabi secara pasti (jelas) akan sebuah perkara dalam agama yg bertentangan apa yg telah di atur dalam Al-Quran atau Hadist Nabi tersebut. Artinya Kenapa semua sesuatu yang baru (bi’dah) dikatakan haram karena hal baru tersebut bertentangan dgn apa yg telah di tetapkan oleh Al-Quran dan Hadist.

    Nah, ini kontradiksi dengan perkataan anda sendiri, atau anda belum paham apa sih definisi bidah, dan anda membawakan definisi yang aneh, sebagaimana ungkapan anda diatas,. itu penjelasan dari siapa? penjelasan anda sendiri atau ada ulama yang berpendapat seperti anda? siapa ulama tersebut, dalam kitab apa,.
    saya sudah memposting definisi bidah, silahkan anda membacanya disini</a

    Contoh, Anjing itu Najis kemudian ada yg berpendapat bahwa anjing itu tdk najis maka itulah yg dikatakan Bi’dah, karena mengada-adakan hal yg baru yg bertentangan dgn apa yg telah ditetapkan sebelumnya.

    Nah, contoh yang anda sebutkan tidak pas, anjing sudah jelas ada penjelasan dari sunnah ttg najis dan haram, jika ada yang mengatakan itu tidak najis atau itu halal, berarti dia melawan sunnah, ingkarussunnah, bukan bidah lagi, dia terjatuh dalam bidah, dan mengingkari atau menyelisihi hadits/sunnah

    Jadi Intinya Bi’dah itu hanya berbicara atau berkaitan pada sesuatu hal yg “SUDAH ADA” aturannya atau telah di atur atau telah ditetapkan oleh Al-Quran dan Hadist yg kemudian dirubah (Bi’dah). Perubahan itulah yg dimaksud adalah “hal yg baru” yang secara pasti bertentangan dgn aturan sebelumnya makanya dikatakan “Semua Bi’dah itu adalah Haram”

    Sekali lagi, itu penjelasan dari mana, ulama siapa yang menjelaskan demikian, apakah itu pendapat anda pribadi? jika itu pendapat pribadi, maka pertanyaannya, siapa anda? imam abu hanifah,imam malik, syafii,ahmad saja tidak memahami seperti itu,. dan saya belum pernah tahu ada ulama ahlusunnah yang berpendapat seperti itu,. tolong sebutkan siapa yang berpendapat demikian, atau memahami bidah dgn pemahaman seperti itu,

    Bi’dah (hal baru) tidak berkaitan dengan suatu hal yg “BELUM ADA” kemudian diadakan, karena kalau kita katakan bahwa semua hal yg baru (bi’dah) itu adalah haram termasuk sesuatu yg belum ada juga itu adalah haram, maka makna pengharaman disitu akan menjadi tidak bermakna dan tidak jelas dan bahkan kita akan “tersesat”.

    Justru pemahaman sperti yg anda ungkapkan itu yg bikin rancu, kontradiksi, dan pemahaman yang menyesatkan,.

    Contoh dalam kasus Bank, Bank adalah sesuatu hal yg baru yg tdk ada di zaman Nabi meskipun kita memberinya lebel “Bank Syariah” tetap hal tersebut adalah haram karena merupakan bi’dah yg tdk pernah di ajarkan oleh Nabi, namun secara Akal sehat hal tersebut adalah memiliki faedah yg begitu besar.

    Tentang bank, apapun namanya, itu bukan dengan masalah nama ada embel-embel syariah, tapi bagaimana transaksinya, apakah ada riba disana, dan islam sudah jelas menjelaskan ttg riba, hanya saja pelaku perbankan tidak paham, tentang bank syariah, sudah saya posting disini, silahkan baca, nama syariah bukan jaminan bank tsb bebas riba, nyatanya malah kadang lebih parah dari bank konvensional dalam beberapa hal, baca disini

    Contoh, dulunya Al-Quran ditulis di pelepah kayu ataupun Tulang sekarang kita telah membaca Al-quran melalu HP, ini juga adalah Bi’dah karena merupakan hal baru yg dulunya tdk ada kemudian di ada-adakan.

    Betul, dulu di pelepah atau tulang, itu juga sarana, dan itu menjadikan dalil bahwa alquran sudah ditulis sejak jaman rasulullah, bukan masalah sarana utk menulisnya,. kemudian di jaman khulafaur rasyidin dijadikan menjadi satu mushaf saja, tidak ditulis di pelepah atau tulang lagi,. dan itu semua bukanlah bidah,. sebab apa yg dilakukan oleh khulafaur rasyidin itu adalah sunnah rasul juga, sebab khulafaur rasyidin sudah mendapat rekomendasi dari rasulullah,.

    Jadi menurut sy harus kita perjelas dan menarik garis lurus bahwa “Bi’dah (hal baru) Hanya berkaitan dgn sesuatu yg telah ada dan Bi’dah (sesuatu yg baru) tidak berkaitan dgn sesuatu yg belum ada”. Bi’dah hanya bisa dikatakan Bi’dah ketika sesuatu hal baru itu bertentangan dgn Al-Quran dan Hadist Nabi.

    Mohon baca lagi definisi bidah, silahkan buka linknya diatas, sudah saya berikan,.
    Semua bidah pasti menyelisihi alquran atau hadits, tidak ada bidah yang sejalan dengan alquran atau hadits, ini jika bidah secara syar’i, berbeda jika bidah secara bahasa, sebagaimana perkataan umar bin khattab,.

    Sebagai PR atau pertanyaan buat anda, sebutkan SATU SAJA PERBUATAN BIDAH YANG TIDAK BERTENTANGAN DENGAN ALQURAN DAN HADITS, monggo, silahkan anda sebutkan,. saya tunggu,..

    Wasalam,

    wa’alaikumussalam warahmatullah

  13. Muh.Sulaiman
    Januari 5, 2014 pukul 4:29 am

    yang pasti kita ikuti saja apa yg di perintahkan Allah dan rasul nya
    kalau ada dalil bid’ah itu sesat ya berarti sesat,jangan dilakukan
    wallahu a’lam

  14. Dadang
    Desember 5, 2013 pukul 11:03 am

    untuk masalah tahlilan,maulid dan lain sebagainya saya setuju itu merupakan bid`ah tapi mengenai hisab itu perlu di telaah dengan cermat, di dalam alqur`an pun Allah telah menjelaskan tentang perhitungan bulan, yang di permasalahkan sekarang adalah baginda nabi tidak pernah menentukan awal atau akhir puasa dengan hisab, makanya hisab di katakan bid`ah.

    Terimakasih pak Dadang atas komentarnya,
    Sama sebagaimana tahlilan, maulid, dan bidah-bidah yang lainnya,
    Menggunakan metode hisab utk penentuan awal ramadhan dan syawal, ini adalah bidah juga, karena rasulullah tidak pernah menggunakan hisab untuk menentukan awal puasa dan awal berbuka, silahkan lihat dan baca disini ulasannya, klik link ini

    sekarang saya mau tanya di jaman nabi bagaimana mereka mengetahui bahwa telah masuk bulan baru sehingga mereka telah siap2 untuk melihat hilal seperti yang kita lakukan sekarang.

    Kenapa kita tidak melakukan diawal bulan utk melihat hilal? karena rasulullah memerintahkan kita tidak seperti itu, tapi hanya utk menentukan awal ramadhan atau syawal, seandainya rasulullah memerintahkan kita setiap awal bulan utk melihat hilal, maka kita sebagai umat muhammad tentu akan melakukannya,

    menurut pendapat saya.. di jaman nabi fenomena alam tidaklah seperti di jaman sekarang sehingga tidak menyulitkan pandangan untuk meliihat hilal, maka dari itu ilmu hisab tidaklah di pakai, kalaupun hisab dikatkan bid`ah berarti saat melakukan shalat pun kita sudah melakukan bid`ah karena melakukan shalat berdasarkan waktu dari perhitungan hisab, jam sekian waktu shalat subuh, jam sekian waktunya shalat dzuhur dan sterusnya. mohon pencerahannya

    Ya, itu kan menurut pendapat anda kan,
    Agama islam ini milik Allah, demikian pula syariat yang ada didalamnya, itu Allah yang menetapkan dan mensyariatkannya, dan semua sudah dijelaskan kepada manusia melalui Rasulnya, dan perlu anda ingat, semua syariat islam itu mudah, tidak ada yang memberatkan manusia, tidak ada satupun syariat Allah yang memberatkan manusia,

    Contoh dalam hal ini masalah melihat hilal, itu tidak memerlukan teropong yang super canggih, atau biaya yang super mahal, namun cukup dengan mata telanjang, dan disini sudah diberi kemudahan, jika hilal tidak terlihat atau tertutup awan, maka genapkan bulan tsb menjadi 30 hari, jadi sangat simpel dan mudah bukan? kita tidak perlu berapa derajat, atau hitungan hisab ,.

    Adapun tentang waktu shalat,maka rasulullah sudah menjelaskan pula, dan dalam hal ini malah ada isyarat tidak mengapa menggunakan hisab, yaitu tatkala rasulullah ditanya tentang cara menentukan waktu shalat ketika di masa datangnya dajjal, yang mana satu hari lamanya tidak seperti satu hari, namun ada satu hari kadarnya sama dengan setahun,sebulan,seminggu, demikian nukilan terjemahan hadits yg ada di shahih muslim :

    Kami berkata: “Ya Rasulullah, berapa lama masa tinggalnya di atas dunia?” Beliau bersabda: “40 hari. Satu hari bagaikan satu tahun, satu hari bagaikan satu bulan, dan satu hari bagaikan satu minggu dan selain itu harinya sama dengan hari biasa.” Kami mengatakan: “Ya Rasulullah, bagaimana kalau satu hari bagaikan satu tahun, apakah cukup bagi kita untuk melaksanakan shalat satu hari?” Rasulullah bersabda: “Tidak, tetapi ukurlah kadarnya.”

    Maka melihat dalil diatas, itu salah satu isyarat bahwa boleh melakukan shalat dengan waktu menggunakan perhitungan / hisab.

    Mudah-mudahan bisa dipahami,

  15. amri
    November 25, 2013 pukul 4:49 pm

    setelah membaca semua pndapat jemaah muslim diatas,byk skali pndpt yg msh blm dimengerti, sprti mtor,Hp,dll. yg itukan sdh jelas bkn amalan.

    yg disebut bid’ah itu adalah amalan2 yang tdk ada dijaman Nabi dan para sahabatnya itulah yg disbt bid’ah entah itu amalan apa aja,bkn begitu pak. marhaban anak itu sdh ada blm dijaman Nabi dan para sahabatnya

    Terimakasih mas amri, betul sekali, bidah itu hanya pada amalan ibadah, bukan sarana penunjangnya, atau urusan dunia seperti mobil,hape,dll, sebaiknya baca postingan yang ini, agar jelas apakah mobil,hape,dll itu adalah bidah atau bukan, silahkan meluncur kesini

    • amri
      November 26, 2013 pukul 2:15 pm

      trima ksh pak, sekali lg sy mau bertanda ” marhaban menyambut kelahiran anak itu termasuk bid’ah bkn,” trus gimna caranya untk menolak undangan tauziah,padahal itu tetangga sebelah rumah, sy msh blm bs meninggalkan hablum minnanas. apakah sy sdh termasuk ahli bid’ah. tlg sy pak ustad sy bingung menjelaskan kpd saudara2,temn,ttnga,

      Apa yang kita ketahui dari penyimpangan yg dilakukan oleh masyarakat, paling tidak untuk diri kita saja dahulu,sebab untuk mendakwahkan kepada orang lain membutuhkan ilmu,

      Paling tidak, kita tidak ikut-ikutan tradisi2 seperti marhaban menyambut kelahiran anak, sebab itu tidak diajarkan oleh rasulullah

      Berhubungan baik dengan manusia itu dianjurkan, namun janganlah karena beranggapan itu habluminallah, tapi dilakukan dengan cara-cara yang tidak Allah ridhai,

      • amri
        November 27, 2013 pukul 3:56 pm

        jd apa yg sy lakukan slama ini salah,apakah sholat jum’at 2x azan apakah itu termasuk bid’ah.apakah do’a bersama stelah sholat berjemaah itu trmasuk bid,ah.

        Jika kita sudah terlanjur melakukan perbuatan bidah, maka kewajiban kita adalah bertaubat dari hal tersebut, menyesal telah melakukan kebidahan, bertekad untuk tidak lagi melakukan perbuatan bidah tersebut, dan meninggalkan perbuatan tersebut, tidak ada taubat yg tidak diampuni dengan cara taubat nasuha,

        trus gmna cara menolak undangan dr orang marhaba,sdgkan Rosul bersabda datanglah dan makan lah ditmpt orang yg mengajak untuk hadir, saya msh bingung…..
        tlg jelasnya

        Mendatangi undangan makan, itu adalah wajib, jika kita tidak ada udzur, tidak ada halangan yang sesuai syar’i ,
        Kita tidak mendatangi acara-acara makan-makan dalam rangka acara bidah, ini adalah kebaikan, namun hendaknya kita menolaknyapun dengan cara-cara yang santun, kita tetap berbuat baik kepada tetangga kita, kita berbuat baik dalam hal muamalah dgn tetangga, adapun dengan ritual bidah yg dilakukan oleh tetangga kita, maka kita tidak usah ikut berpartisipasi didalamnya,.

        Contoh kasus yg berbeda, jika kita diundang walimah pernikahan, ini adalah wajib mendatangi, jika tdk ada udzur, namun jika ditempat walimah tsb ada kemaksiatan, seperti musik, biduanita yg buka aurat, kita tdk boleh mendatangi walimah tsb,. karena disana ada maksiat,

        Tahu kan anda, kenapa tdk boleh, itu karena ada kemaksiatan disana, jika kita ridha kepada kemaksiatan, maka adzab Allah bisa saja menimpa di tempat tersebut,. semua perbuatan bidah adalah maksiat, dan tidak semua maksiat adalah bidah,.

        Makanya perbuatan bidah lebih dicintai iblis, daripada perbuatan maksiat,

  16. safruddin i
    Agustus 21, 2013 pukul 9:04 am

    makan dau ubi tidak ada dalilnya jadi termasuk sesat

    Betul mas, masih banyak yang lain, makan bala-bala juga bidah mas, makan pisang goreng juga bidah,makan karedok juga bidah, makan siomay juga,. naik pesawat juga, naik becak juga bidah,.
    Tapi apakah termasuk bidah yang sesat? baca dulu yang ini mas,.

  17. Rifqi Thefi Fauzi
    Juli 16, 2013 pukul 9:45 am

    ya sudah pak admin…pemahamanmu pemahamanmu dan pemahamanku pemahamanku,,
    saya hanya ingin memberi tahu bahwa Wahabbi / Ibnu Taimiyyah itu dicap SESAT oleh para ulama yang se-zaman dengannya,,

    dan saya mengikuti para ulama, karena ilmu mereka tinggi,,

    Nuhun atuh kang, komentarna sae,
    Kang Rifqi kenal kitab tafsir Ibnu Katsir nte kang? Ari bade ngadownload kitab tafsir ibnu katsir, monggo atuh kang, download didieue,. gratis kang, sok geura download,dibaca dan dipelajari, sesat nte kitab tafsir tersebut?
    Ulah kaget kang, ari penulis tafsir ibnu katsir, eta teh muridna Ibnu Taimiyah,. muridna oge cerdas, masa guruna sesat,. lieur atuh kang,.

    Saha atuh ulama nu nyesatkeun Ibnu Taimiyah, sok sebatkeun didieu atuh kang,. abdi ge penging tahu nih,.. punten, basa sundana pabalatak kiye, maklum, abdi oge lami tinggal ti bandung.. janten ngarti sunda,

    Maulid Nabi pula di adakan dan DISETUJUI oleh semua ulama se-zaman dengan pencetusnya,,

    Tolong sebutkan ulama yang menyetujui maulid nabi,. monggo kang,. dan siapa pencetus maulid ini, tolong sebutkan,. saya tunggu ya?

    jika Anda keras kepala,,
    pikirkanlah, bahwa judul posting Anda sudah menyinggung kami,,

    Oh, si akang tersinggung nya,.. ini kang, saya kasih haditsnya, yang mengatakan setiap bidah itu sesat adalah Rasulullah, apakah si akang masih tersinggung juga, atau malah sadar,. mudah2an sadar ya kang,.

    أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

    “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)

    Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,

    وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

    “Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i no. 1578. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani di Shohih wa Dho’if Sunan An Nasa’i)

    saya tidak berkata: “Tarawih 11 raka’at itu sesat”, karena saya mengerti bahwa pemahaman mereka tentang sholat tarawih adalah 8 raka’at dengan 3 witr,,

    sekarang golongan Anda berkata: “Tarawih 23 bid’ah”, mana rasa menghormati sesama muslim ? … jika orang2 islam seperti ini terus mana bisa bersatu seperti dulu ?!

    Kata siapa kang, tarawih 23 rakaat itu bidah? ulah ngawur dong kang, yang bidah itu yang shalatnya 23 rakaat tapi shalatnya ngebut kang, baca suratnya boro2 tartil, shalat tarawih super kilat, silahkan baca postingannya disini kang, dibaca ya,

    Shalat tarawih 23 rakaat bukan bidah mas. dimana ada yg mengatakan itu bidah? baca postingan ini mas,. monggo,..

    maulid bid’ah, tawassul bid’ah, ziarah bid’ah, dzikir bid’ah, shalawat bid’ah, sayyidina bid’ah,,
    terserah pemahaman Anda, yang penting kita satu aqidah, tiada ilah selain Allah dan muhammad adalah utusan-Nya,,

    Satu akidah gimana mas,. paham tidak apa itu akidah? jika anda se akidah, ngga mungkin anda mengamalkan amalan bidah,

    Ini lho yang mengatakan bidah itu ada dua, siapa beliau, beliau adalah Imam syafii,.
    Apakah Imam syafii melakukan maulid? tawassul kepada orang mati, ngalap berkah di kuburan? berdzikir yg tidak dicontohkan oleh rasulullah? mengamalkan shalawat yg tidak ada contohnya dari rasulullah? TIDAK PERNAH MAS,.
    Era atuh kang ka imam syafii,. buktikeun ari akang teh satu akidah,. sok,. ulah ngaku2 doang,.

    sekarang apabila kami mengamalkan amalan diatas, lalu kami mempersekutukan Allah dan menyimpang dari ajaran Rasul seperti Syi’ah, baru di gugat pak,,

    ieu mah sa’aqidah keneh meni paguntreng, dasar teu boga ka era…

    bumi akang ti mana kang , ngke ngaji akidah, ari bumina ti bandung, abdi pasihkeun jadwal pangaosan ti bandung,. sok geura sebatkeun bumi akang,.. diantos kang,..

    • Abah
      Juli 18, 2013 pukul 9:17 am

      eleh eleh, kumaha atuh eta…
      hehee.
      kang rifki, logikanya jelas banget, Nabi Muhammad SAW, para sahabat bahkan imam yg 4 pun kagak pake acara maulidan, tahlilan, yasinan dan yg bid’ah2 lainnya.
      sok, coba,?!, dari mana atuh eta ajaran???

      Sabar atuh abah, diantos jawaban kang rifki,.

      ari abah bumina timana? hoyong ngaos nte? ngke abdi pasihkeun jadwal pangaosan nu caket bumi abah,

  18. Rifqi Thefi Fauzi
    Juli 14, 2013 pukul 11:37 am

    PUISI UNTUK “mu”

    Aku pergi tahlil, kau bilang itu amalan jahil
    Aku baca shalawat burdah, kau bilang itu bid’ah
    Lalu aku harus bagaimana ?

    Aku tawasul dengan baik, kau bilang aku musyrik
    Aku ikut majlis zikir, kau bilang aku kafir
    Lalu aku harus bagaimana ?

    Aku shalat pakai niat, kau bilang aku sesat,
    Aku adakan maulid, kau bilang tak ada dalil yang valid
    Lalu aku harus bagaimana ?

    Aku ziarah, kau bilang aku ngalap berkah
    Aku slametan, kau bilang aku pemuja setan
    Lalu aku harus bagaimana ?

    Aku datangi yasinan, kau bilang itu tak membawa kebaikan
    Aku ikut tarekat sufi, malah kau suruh aku menjauhi

    Baiklah…baiklah….
    Aku ikut kalian saja :
    Kan kupakai celana cingkrang, agar kau senang
    Kan kupanjangkan jenggot, agar dikira berbobot
    Kan kuhitamkan jidad, agar dikira ahli ijtihad
    Aku akan sering menghujat siapapun, biar dikira hebat
    Aku akan sering mencela, biar dikira mulia….

    Ya sudahlah…..

    Terimakasih untuk puisinya GUS MUS,.
    Ini jawaban buat dirimu,..

    Jawaban :

    Nabi mengajari ber-tahlil, tahmid, tasbih yang syar’i, tapi engkau buat tahlilan

    Nabi telah mengajarkan sholawat dan keutamaannya, tapi engkau membuat sholawat burdah dan Bid’ah

    Para sahabat bertawassul saat Nabi hidup saja, tapi engkau bertawassul kepada orang mati

    Para sahabat melarang dzikir secara berjamaah tapi engkau membiasakannya Nabi dan para sahabat tidak pernah melafadzkan niat tapi engkau melakukannya.

    Nabi dan para sahabat tidak merayakan maulid nabi, tapi engkau merayakannya

    Ziarah untuk mengingat kematian, tapi engkau buat untuk bertawassul

    Allah turunkan 114 Surat Alquran agar dipelajari, tapi kamu mengkhususkan yasin sebagai acara rutin

    Nabi berwasiat agar berpegang terhadap sunnahnya, para sahabatnya tapi kamu buat ajaran yang menyelisihinya

    Tidak isbal, memelihara jenggot bukan kemauan kita, bukan pula tradisi arab, tapi sunnah Nabi hitamnya jidat bukan kemauan, bukan pula sunnah, tapi murni alamiah

    Kini yang menghampirimu adalah orang yang memberi nasehat, bukan pencela maupun penghujat

    Jika engkau rela dirimu tetap begini, ya sudah lah aku pasrah atas kejahilanmu, maka lakukanlah semaumu

    Dinukil dari Group AL-FIRQAH AN-NAJIYAH (Jalan Golongan yang Selamat)

    Sumber Artikel: http://nhawadaa-chan.blogspot.com/2013/04/menjawab-puisi-mustofa-bisri-gus-mus.html#ixzz2Z49GiCcO

    • Firdaus
      Juli 16, 2013 pukul 2:34 pm

      haha … setuju tuh buat balesan dari kang admin… hehe

    • Abi
      Juli 17, 2013 pukul 2:40 am

      Balasannya mantap.
      SKAK MAT

      bukan skak mat yang saya sukai dan inginkan, tapi mudah2an hidayah taufik Allah berikan kepada kang rifki,. sehingga beliau mengenal hakekat kebenaran tersebut,.

      Sungguh nikmat yg tiada taranya mengenal hakekat kebenaran ini,. tidak sebanding dengan harta sepenuh bumi,.

    • rikha
      Agustus 21, 2013 pukul 2:20 pm

      maaf ya mas/kang rifqi,dulu saya sependapat denganmu tapi sekarang saya benci pendapatmu itu…saya juga bs dikatakan mantan aktifis bid’ah mas…tp alhamdulillah Allah telah membukakan pintu hati saya dan msh memberi saya kesempatan bertaubat..

      gini lho mas,orang hindu aja banyak yang masuk islam karena mereka keberatan dengan acara2 yang mereka (orang hindu) wajibkan seperti slametan,3hari,7hari,mendak setelah meninggal,dll..

      para muallaf ini sadar dan menilai Islam adlh agama yg plg benar,agama yg sempurna,tidak memberatkan siapapun dan agama yang masuk akal…

      tapi anehnya kenapa yang orang islam malah ikut2an ajaran mereka (orang hindu)???

      yang diajarkan di Al-Quran dan sunnah aja banyak yg belum diamalkan kok malah mengamalkan ajaran agama lain…

      Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un…

    • nur ridha
      Agustus 23, 2013 pukul 4:27 am

      benar sekali balasan dari mas admin….setuju sekali…

  19. Rifqi Thefi Fauzi
    Juli 12, 2013 pukul 2:19 pm

    Kalau bid’ah hasanah itu penjelasan dari rasulullah atau bukan mas?? he..he..he..janganlah menafsirkan hadist dengan sendiri :)

    mana berani saya menafsirkan hadits sendiri, saya belum punya ilmu nya…

    ulama-lah yang menafsirkan hadits tersebut, saya harap admin membaca kitab2 ulama2 terdahulu seperti karangan Imam Syafi’i, Maliki, Hambali, Hanafi, Ghozali, Nawawi…

    sepertinya Anda pengikut faham Wahabbi ?!

    Kalau bidah hasanah itu ada penjelasannya dari rasulullah, tolong sebutkan dong, jika betul, saya juga mau tuh ngikutin bidah hasanah, tolong bantu sebutkan yah, barangkali saya memang belum tahu, silahkan kasih tahu yaa, saya tunggu,

  20. benni novendra alandlasy
    Juli 3, 2013 pukul 3:17 pm

    curhat AKH….

    keluarag sy adalah penggemar tahlilan kelas ka2p

    waktu kkek sy wafat kamipun melaksanaakan tahlilan apa yang kami dapati setelah hari ke 7????

    – pertengkaran antar anggota keluarga soal dana tahlilan
    – capek begadang nungguin tenda dan alat2
    -capek ngelayani tamu
    – anggota yang nyumbang akhirnya saling ungkit pemberian
    – capek mengembalikan alat2 yang dipakai untuk tahlilan
    – dan masih banyak lg yg lainnya

    bukankah seharusnya kami sbg keluarga duka semestinya mendapat istirahat yang lebih?

    agar kesedihan kami sedikit hilang?

    bukankah seharusnya kami dihibur oleh orang2 yang bertakziah? tapi kenapa justru kami yang menghibur mereka

    bukankah seharusnya mereka menolong kami?

    tapi kenapa justru kami yang menolong untuk makanan mereka?

    setelah saya berilmu sungguh apa yang telah kami lakukan TERTOLAK

    yang pasti orang berdo’a itu harus ikhlas apakah semua yang datang itu ikhlas? atau sungkan? atau bahkan mereka berfikir jikalau bukan tetangga niscaya saya tidak akan hadir di acara ini, bukaankah ini menunjukkan ketidak ikhlasan mereka?

    wassalam dari saudaramu yang jauh di sumatera

    Mudah-mudahan masih ada kaum muslimin yang mau mengambil pelajaran,.
    Wa’alaikumussalam warahmatullah

  21. Juni 13, 2013 pukul 10:01 am

    Seru membaca perdebatan admin dan Roma Hermawan.
    tapi dari situ saya kok cenderung lebih masuk akal penjelasan admin.

    1. Nabi Muhammad SAW tidak melaksanakan ritual tahlilan.
    2. Para sahabat pun tidak.
    3. Tidak ada dalil yg memerintahkan ritual di 7, 10, 100 dll, karena setau saya itu ritual kematian di agama hindu. (kita islam apa hindu?) dalil : “Barangsiapa mengamalkan sesuatu dalam agama kami, yang bukan berasal darinya; maka amalan tersebut tertolak”
    sangat jelas!!
    4. Tentang dalil yg melarang ritual tahlilan, ya saya pikir ga bakal ada deh, karena acara ini kan setau saya cara dakwah sunan kali jaga, sedangkan wali ini kan hidupnya jauh setelah Nabi Muhammad SAW.

    itu kalo menurut saya pribadi, kalo ada yg mau menyangkal pemikiran saya diatas mohon di benarkan ya. maaf jika ada yang tersinggung…

    Terimakasih kang dimas atas kesimpulannya,..

  22. Juni 10, 2013 pukul 3:07 pm

    Orang yang menganggap tahlilan itu baik, sama saja dengan menghina rosululloh…
    1. tidak ada dalilnya
    2. menyesatkan banyak orang
    3. menganggap bahwa rosululloh itu bodoh, karena hal baik seperti ini saja rosul tidak tau (bukan maksud saya menghina rosul)
    4. kalo memang rosul tau bahwa ini perbuatan baik, berarti rosul bukanlah seorang yang tabligh (menyampaikan), karena tidak ada dalil quran atw hadits shohih pun yang menyampaikan tentang tahlilan

    kalo memang tidak ada contoh dari rosul, mengapa repot2 orang berbondong2 tahlilan ke rumah si mayit.. bukannya jadi berkah bagi si mayit, malah jadi susah & madarat,
    sedangkan kita dilarang menyusahkan keluarga si mayyit (haram)
    apalagi yang lebih mirisnya, setiap orang yg pulang dari tahlilan, pasti selalu bawa cangkedong (bingkisan) dari keluarga si mayit.. bukankah itu menyusahkan keluarga mayit..?
    coba fikir lagi buat yang suka tahlilan..

    maaf apabila menyinggung… sudah fakta mass…

    Terimakasih , mudah2an para pengikut ritual ini bisa memahaminya, lebih jelasnya, tonton saja video durasi 7 menit ini,

  23. Mei 31, 2013 pukul 2:50 am

    Shidiq :
    bang roma bang roma, hehee…
    gini deh, jawab pertanyaan saya tp bukan dg pertanyaan yaa…
    sebelumnya disini saya bicara tentang ritual Tahlilan 7,10 hari dll, bukan bacaan tahlil, pahami ya…
    1. orang ritual tahlilan menganggap ibadah bukan??
    2. nabi Muhammad melakukannya gak atw bahkan mengajarkanyya??
    3. ritual 7 hari 10 hari kematian dll, itu ajaran agama mana yaa??
    kok melu melu loh, think about it!!
    di jawab nggih….

    Ngga perlu dijawab mas,.. he..he.. he.. ini landasan tentang ritual tahlilan 7 hari, 10 hari, dst,. ada disini ternyata,.

    hee sblmnya maaf nih mas admin, pertanyaan diatas itu mksd saya ditujukan bwt bang roma hermawan, alhamdulillah saya sudah sdikit paham asal muasal bidah tsb, smoga bang roma bisa baca dan paham dr link yg di kasih mas admin.
    Amiin.

    Maksud jawaban saya juga buat bang Roma, ngga usah dijawab pertanyaan tersebut, sudah ada landasan ritual tahlilan 7 hari,10 hari, dst,. tidak ada dalil dari alquran dan sunnah rasul, eh,.. landasannya ada di link yang saya berikan tersebut,.. begitu mas Shidiq, , so ngga perlu minta maaf, wong jawaban saya bukan ditujukan buat njenengan,.. tapi buat bang roma,.

  24. Roma Hermawan
    Mei 29, 2013 pukul 12:20 am

    Assalamu’alaikum wr.wb

    Wa’alaikumussalam warahmatullahiwabarakatuh

    Pak admin rada curang nich!
    Komentar yg bisa anda batah anda pajang trs, sementara komentar yg tdk bisa anda bantah di hapus semua.
    pak admin ini maunya bener menurut anda sendiri aja, yg lain di tutup-tutupi.
    Tak apalah…

    terimakasih, apakah anda tidak membaca komentar saya yg terakhir, silahkan datangkan satu dalil saja ttg ritual tahlilan di hari ke 7,10,40.dst,.. silahkan minta tolong kepada siapa saja, atau pimpinan pesantren mana saja,.. jika anda bisa mendatangkan dalil tersebut, silahkan komentar lagi, tapi jika tdk bisa, tdk usah komentar lagi,. .. jadi bukan saya yg curang, dan itu hak saya utk meloloskan atau tidak komentar yang masuk,

    Biar jelas semua bidah itu sesat atau tdk silakan kunjungi

    http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-5-makna-setiap-bid’ah-adalah-sesat.html

    Nah, dalam hal ini anda betul,. saya tunggu dalilnya ttg ritual tahlilan 7,10,40hari dst,.

    Wassalamu’alaikum wr.wb

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

  25. Roma Hermawan
    Mei 21, 2013 pukul 9:09 am

    Assalamualaikum wr.wb

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    pak admin yg di rahmati ALLAH,
    Saya ini orang awam dalam masalah sprt ini, klw sy lihat dari tulisan bapak kelihatan berputar-putar bikin kliyengan menurut saya, inti tulisan bpk adalah mencela org2 membaca tahlil secara berjamaah/atau mendoakan org meninggal scr berjamaah, skrg sy pengen tau, bedanya bid’ah scr bhs dngn bid’ah yang bpk maksud tu apa? Bukankah itu sama2 bernama bid’ah, bukankan setiap bid’ah itu sesat tanpa pengecualian?

    Oh, anda merasa pusing ya, mungkin karena artikelnya terlalu panjang yah, mohon maaf jika ini membuat anda kliyengan,. padahal yg dicantumkan disitu adalah perkataan rasulullah, yang mengatakan semua bidah itu sesat itu juga rasulullah, bukan saya, jadi jika dikatakan saya yang mencela, ini tidak benar, saya hanya menukilkan perkataan rasulullah saja,.

    oh iya, utk lebih jelasnya, biar anda tidak kliyengan lagi, silahkan tonton dan dengarkan video singkat berdurasi 7 menit ini

    Terus saya minta pak ustadz jelasin hubungan antara Alqur’an, hadist, qiyas & ijma’,

    Hubungannya, Alquran tidak akan bertentangan dengan hadits yang shahih, demikian pula hadits yang shahih tidak akan bertentangan dengan alquran,
    Ijma disini adalah ijma para sahabat, generasi yang dibina oleh rasulullah, bukan ijma ulama belakangan,
    Tidak ada ijtihad dan qias dalam hal yang sudah jelas, yang sudah baku ada penjelasannya dari alquran dan hadits yg shahih,

    kemudian jaelaskan dan hubungkan dengan hukum bid’ah
    yg saya tau bid’ah itu artinya cuma satu, sesuatu yg tidak pernah di kerjakan/di contohkan Rosulullah s.a.w.
    Bpk ustadz naik Motor?
    Apa Rosulullah s.a.w pernah naik motor?

    Pengertian bidah diatas kurang tepat, yaitu sesuatu yg tidak pernah dikerjakan atau dicontohkan oleh rasulullah dalam perkara ibadaah, bukan perkara dunia,.
    contoh yg anda sebutkan seperti motor, itu bukan urusan ibadah, itu urusan dunia, masih banyak yg lainnya seperti mobil,pesawat,hape,internet, dan lain-lain, itu semua tidak bidah, karena itu urusan dunia,. beda halnya misalkan TAHLILAN dihari ke 7,10,40,dst,.. itu urusan ibadah, dan rasulullah tidak pernah mencontohkannya,.
    misalkan ada yang berkata, itu kan tahlil, kalimat laa ilaaha illallah,. mendoakan mayit,.. kita kembalikan lagi kepada ajaran rasulullah,. apakah rasulullah mengerjakan yg seperti itu atau tidak? beliau tahlilan di hari ke 7,10, dst,.. apakah rasulullah tidak paham kalimat tahlil, mendoakan mayit? tentu ini pendapat yang nyeleneh,.

    Jika urusan dunia seperti motor anda masukan ke dalam bidah, maka anda akan berat menjalani islam ini, Rasulullah tidak makan nasi goreng, tidak makan sayur asem, tidak makan bala-bala, tidak makan es krim, dan lain-lain,. jadi banyak bidah yg harus dijauhi?? ini kan hanya memberatkan diri sendiri, mungkin kita juga kesulitan dalam memakai baju, karena baju rasulullah tidak seperti kita,.
    JADI PERLU ANDA PAHAMI, BIDAH ITU TERBATAS DALAM HAL IBADAH SAJA,.
    contoh, jika ada orang yang melakukan shalat maghrib 5 rakaat, apakah itu boleh? jawabnya tidak boleh, jika orang tersebut berkata, anda melarang saya shalat?? .. apa jawab kita? jawabnya mudah, itu tidak dicontohkan oleh rasulullah,. MUDAH BUKAN? mudah2an tdk bikin KLIYENGAN lagi,

    Bid’ah ya bid’ah, klw pak Ustadz meyakini bid’ah adalah sesat, ya sesat, kalau bid’ah tidak boleh di bagi bagus dan sesat.
    Mohon ma’af jikalau krang sopan, wallahu a’lam, fonis baik dan buruk hanya Allah yg menetukan, dalami terus barangkali masih ada yg terlewat sebelum menyebarkanya, kita cuma manusia biasa, sangat jauh dari sempurna

    sebenarnya ulasan postingan saya itu untuk membantah orang-orang yang beranggapan bahwa bidah itu ada dua, yaitu BIDAH HASANAH DAN BIDAH SAYYIAH,. padahal dalam islam, bahkan rasulullah yang mengatakan, SEMUA BIDAH ITU SESAT,.. begitu kang,.. mudah-mudahan tidak kliyengan lagi,. dan mudah-mudahan Allah mudahkan anda untuk memahami islam dengan pemahaman para sahabat,sebab kemuliaan islam hanya bisa ditempuh dengan cara ini, baca ulasannya disini

    wassalamua’alaiku wr.wb

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    • Roma Hermawan
      Mei 22, 2013 pukul 8:46 am

      Assalamualaikum wr.wb,

      Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

      Okelah kalau begitu, lanjut lagi, berarti pandangan anda tentang tahlilan itu cuma sebatas itu, yg munkin di karnakan ketidak sukaan aja.
      Siapa yg bilang kalimah Laaila haillallah itu utk mendoakan mayit?
      Yg nyeleneh siapa hayo?

      Itu kan alasan orang yang melakukan tahlilan, kan tahlil itu mengucapkan dzikir Laa ilaaha illallah, dan berisi acara mendoakan si mayit,..
      ingat, TAHLIL berbeda dgn TAHLILAN , kalau TAHLIL Itu diajarkan oleh rasulullah, sedangkan TAHLILAN Itu bukan ajaran rasulullah, itu adalah modifikasi manusia yang hidup jauh dari jaman rasulullah, bahkan di mekah dan madinah tidak dikenal adanya ritual TAHLILAN Ini, padahal islam berasal dari sana,.

      jadi , pertanyaannya saya tanyakan lagi kepada anda, jadi, siapa yang nyeleneh hayo?? yg melakukan ritual tahlilan tersebut, atau yang melarang?

      Trs ada hari ke 7, ke 10, dst anda tau dari mana?
      Trs pasukan Rosulullah ketika perang selalau meneriakkan kalimah tersebut, trs anda sudah merasa merdeka dan tak ada lagi perang? Sehingga sdh tak perlu lagi dengan kalimah trsbt.

      Nah, pertanyaannya saya balik kepada anda, atau orang-orang yg melakukan ritual tersebut, dgn ketentuan hari spt yg disebutkan, setelah kematian seseorang
      Mana dalil yang mendasari mereka atau anda melakukan di hari ke 7,10, dst??
      Rasulullah tidak melakukan hal tsb, demikian pula para sahabat, juga imam yang empat,. Lucu sekali bukan?
      Kalau rasulullah tidak melakukannya, maka kenapa kita kok repot2 melakukannya?

      Apakah pasukan rasulullah melakukan seperti di atas? di hari ke 7,10 dst?? TIDAK , sama sekali tidak pernah melakukan hal tsb

      Rosulullah s.a.w pernah menyuruh sahabat utk memberi uang kepada org yg keluarganya meninggal dan menghiburnya agar tidak terlarut dalam kesedihan, anda pasti lbh faham maksudnya, kalaupun ada yg mengartikan lain tentang tahlilan trsbt bukan tugas anda tuk mencela, tapi seharusnya meluruskanya, apa anda pikir yg tau hadist tentang bid’ah cuma anda tok?

      Nah, postingan saya tentang tahlilan itu dalam rangka meluruskan, bukan mencela, adapun jika postingan tersebut berseberangan dengan pecinta atau penggandrung tahlilan, janganlah itu dianggap sebagai celaan, lha wong rasulullah saja tidak melakukannya,.

      Seandainya Rasulullah melakukan hal tersebut, catat nih mas, SAYA JUGA AKAN MELAKUKAN RITUAL TAHLILAN, BAIK DI HARI KE 7,10, DST.. faham?

      para pelaku tahlilan atau tokoh2nya, jika mereka paham dalil tentang tahlilan, maka mereka tidak akan melakukaanya, lha wong ngga ada dalilnya tentang perintah tahlilan , silahkan SEBUTKAN DALIL TENTANG TAHLILAN, ngga usah banyak-banyak mas, SATU saja, sebutkan, dan anda akan mendapatkan hadiah, silahkan baca KUIS TAHLILAN DISINI, hadiahnya seru lho,

      Trs apa yg melakukan tahlilan cuma 5 sampai 10 glintir orang? Mungkin juga jauh lebih banyak di banding yg tidak, termasuk anda, Apa anda pikir mereka tidak punya dasar yg kuat? Apa anda pikir di banding mereka semua cuma anda yg paling mengerti hadist? Ingat, jika tidak hati2, anda bisa menjadi salah satu penyulut perseteruan dalam Islam.

      Dasar kebenaran itu bukan dikerjakan oleh banyak atau sedikit orang mas,.
      Seandainya seluruh umat islam se pulau jawa melakukan ritual tahlilan di hari ke 7,10 dst, itu tidak menjadikan amalan tersebut menjadi kebaikan dihadapan Allah, sebab amalan tersebut tidak ada ajarannya dari Rasulullah,.
      Tolong tunjukan dalilnya satu saja, dan silahkan anda minta hadiah apa saja, akan saya berikan, silahkan minta tolong kepada guru anda, ustadz anda, ajengan anda, habib anda, atau pimpinan pondok pesantren paling top,. silahkan,… datangkan dalil tentang tahlilan di hari ke 7,10, dst,.. monggo mas,.

      Sebenarnya yang menjadi penyulut perpecahan di tubuh umat islam itu para pelaku amalan yg tidak ada contohnya dari rasulullah, atau dari orang yg berusaha meluruskannya? .. kok terbalik-balik kaya gini mas,..

      Cari tau dulu, pelajari dulu, pahami dulu barangkali ada yg masih terlewatkan sehingga tdk tersambung dengan benar sebelum anda menyebarkanya, karana manusia sangatlah jauh dari kesempurnaan.

      Cari dalil dulu, baru amalkan, bukan amalkan dulu baru cari dalil,.. itulah islam,. ada dalil, baru kerjakan, jika tidak ada dalil, ngapain dikerjakan? hukum asal ibadah itu adalah haram dikerjakan hingga ada dalil yg menyuruhnya,. DAN ISLAM SUDAH SEMPURNA,. tidak ada amalan yang terluput, Rasulullah sudah mengajarkan seluruhnya,. lalu jika tahlilan di hari ke 7,10 dst,. rasulullah tidak ajarkan, itu berarti ajaran siapa?… silahkan anda berpikir,.

      Wassalamu’alaikum wr.wb

      Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

      • Shidiq
        Mei 30, 2013 pukul 3:57 am

        aku gemes’e…
        kenapa orang yang mengutip sabda dan ajaran Nabi MUhammad SAW justru di cela, di anggap penyulut perpecahan islam dll, tetapi mereka lebih menerima ritual ajaran agama lain ex: ritual kematian atau diganti oleh mereka menjadi ritual tahlilan ( inget ritual tahlilan bukan bacaan TAHLIL).

        coba kalian berani gak cela sabda Nabi MUhammad SAW langsung!!!!
        ibadah kok di buat buat, semua bidah itu sesat. inget SEMUA!!!!!
        ITU NABI YG BILANG.

        TErimakasih mas, tidak usah gemes,.. sabar ae,..
        Insya Allah dengan seiringnya ilmu yang masuk kepada mereka yang belum paham, mudah2an semakin banyak kaum muslimin yang menyadari tentang pentingnya beramal dengan amalan yang betul-betul diajarkan oleh rasulullah kepada para sahabatnya,..

        Bukan islam turunan, atau islam tradisi,. Alhamdulillah, semakin banyak kaum muslimin yang beribadah dengan amalan ibadah yg betul-betul dicontohkan oleh rasulullah, menjalankan sunnah, dan meninggalkan bidah,.

  26. Juwana
    April 28, 2013 pukul 3:11 am

    Sesama beragama Islam, yang sama-sama berikrar “Tidak ada tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad Utusan Allah”, gampang sekali Anda-anda menjust-sesat dan secara tidak langsung Anda mengkafirkan sesama muslim. Na’udhubillahimindzalik.

    Padahal menganggap sesama muslim kafir, bila itu tidak benar, akan kembali pada yang mengucapkan kekafiran itu. Berhati-hatilah dalam berucap.

    Sebagai orang beriman, segala hal yang kita lakukan harusnya dikerjakan karena Allah SWT.

    Lihatlah Surah At-Taubah ayat 122, disitu dianjurkan untuk mendalami agama, LIYATAFAQQOHU FIDDIIN, disini fi’il mudhori’, bukan fi’il madhi. Dan fiddin di sini adalah Agama, Islam tidak hanya membahas tentang ibadah tetapi semuuuaanya.

    Kalau kata Anda di atas Al-Quran dijelaskan oleh Al-Quran sendiri. Bagaimana mungkin cara membaca Al-Qur’an diajarkan di dalam Al-Qur’an. Membaca Qur’an ini ibadah bukan? Penemuan titik dan harokat bukan pada zaman khulafaurosyidin, meliankan pada zaman dinasti ummayyah, itupun sesudah berjalan 40 tahunan. apa lagi ilmu tajwid, lebih jauh lagi dari masa Nabi, salah baca quran bisa beda arti lhooo. Ini adalah ibadahnya para ulama’ dengan mencurahkan ilmu yang dimiliki untuk kemaslahatan Ummat. Anda jangan membatasi ibadah.

    Anda mengatakan sesuatu yang baru baik qouli maupun fi’li yang berkaitan dengan ibadah itu bid’ah. Tapi in-konsisten dengan kasus di atas.

    Terlalu mempermasalahkan Furu’iah sehingga melahirkan perpecahan dalam tubuh Islam. Orang kafir sudah sangat maju dengan teknologinya. Anda malah sibuk mengkafirkan sesama muslim.

    Kelihatannya intelek tapi malah menghambat persatuan dan kemajuan Islam. Contoh dong para ahli fiqih, yang saling menghormati dalam perbedaan praktek ibadah. Dasar ya, pengennya Islam pecah atau gimana??? Aku melihatnya kelompok kalian emang parasit ditengah Indahnya Islam. Sebaiknya anda berfikir bagaimana Mengislamkan Indonesia, bukannya mengkafirkan sesamanya.

    kalu Anda bilang semua Bid’ah itu sesat. ya sudah, Anda juga termasuk didalamnya, cuma Anda enggak mau mengakui karna sudah kepepet dan banyaklah alasan yang itu alat lah, urusan duniawi lah. mana ada berkaitan Al-Qur’an urusan duniawi tok, Al-Qur’an ini Firman Allah, Kalau urusan dengan Allah, Vertikal, ya urusan ibadah.

    Mana bilang mustahil Islam bisa bersatu lagi,,,, Memang gawat di atas gawat kalian ini.

    Terimakasih mas,.
    yang mengatakan seperti ini : semua Bid’ah itu sesat itu adalah RASULULLAH, bukan saya, lalu apakah berarti Rasulullah itu sesat?

    lalu siapa yg mengkafirkan sesama kaum muslimin? Kaum muslimin ada yg tersesat juga mas, makanya ada kaum muslimin yang diadzab di neraka,.. contoh, mencuri, apakah mencuri itu perbuatan sesat atau bukan? adakah kaum muslimin yang jadi pencuri? banyak.. Apakah berzina itu perbuatan sesat? IYA, dan apakah ada kaum muslimin yg berzina? banyak,..

    Apakah jika kita menjelaskan tentang bahaya mencuri, bahaya berzina, berarti kita telah menganggap kaum muslimin kafir? .. demikian pula, apa masalahnya jika kita menjelaskan tentang bidah itu semuanya sesat,.

  27. febri aji
    Maret 24, 2013 pukul 7:43 am

    sebenarnya, satu hal yang paling saya harapkan adalah BERSATUnya seluruh umat islam di Indonesia.
    tapi setelah melihat berbagai hal (termasuk ini), saya rasa itu tidak akan mungkin terjadi.
    terima kasih atas tanggapan anda, sebelumnya saya minta maaf jika saya berlaku tidak sopan.
    wassalamu’alaikum wr wb

    TErimakasih mas febri,
    Mustahil akan terjadi persatuan, jika umat islam tidak mengikuti anjuran rasulullah, yaitu berpegang dengan pemahaman para sahabat, sebagaimana Allah sebutkan dalam surat attaubah ayat 100
    Jika terjadi persatuan pun, itu persatuan yg semu, sebab hati mereka terpecah belah, akidah mereka rusak, bukan akidah yg satu,
    hanya satu jalan menuju kejayaan islam, jalan itu tdk bercabang2,. Rasulullah sudah menggambarkannya dengan cara membuat satu garis lurus, dan beliau juga mmbuat garis2 yg banyak disampingnya,. kita disuruh mengikuti jalan yg lurus tersebut,. apa jalan lurus tersebut, baca disini mas,

    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

  28. febri aji
    Maret 22, 2013 pukul 2:00 pm

    assalamualaikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    saya ini ABG, mau tanya. kalo maulid nabi itu haram, kenapa pemerintah tidak mengeluarkan hukum maulid nabi itu haram ?

    terimakasih,
    Tidak usah mencontohkan maulid nabi, contoh yg sudah jelas keharamannya, pelacuran haram, minuman keras haram, tapi tidak ada keputusan resminya, demikian juga contoh lain, wanita muslimah wajib memakai jilbab ketika keluar rumah, tapi tidak ada peraturan resminya dari negara, shalat 5 waktu adalah wajib bagi kaum muslimin, tapi tdk ada aturan resminya dari negara,

    Ini terjadi karena jauhnya kaum muslimin dari pemahaman islam yg benar, demikian pula para pelaksana negara
    Mudah2an jika para pelaksana pemerintahan ini paham tentang aturan2 islam yg benar, maka kedepannya bisa lebih baik,

    • febri aji
      Maret 24, 2013 pukul 2:54 am

      berarti maksud anda para pelaksana pemerintah tidak paham ajaran islami yang benar ?

      Ya, betul sekali, sebab islam yg sampai ke indonesia ini dibawakan juga oleh org sufi yang merupakan pelarian dari timur tengah, juga sufi dari gujarat,

      lalu anda merasa ajaran anda itu benar ?

      Apakah jika saya menukilkan ajaran2 yg benar2 diajarkan oleh rasulullah , lantas ajaran tersebut ternyata berseberangan dengan amalan masyarakat atau amalan anda, lalu anda mengatakan hal diatas, menganggap saya yg paling benar?
      Sebenarnya jawabannya mudah, dan jika anda menggunakan akal sehat anda, maka anda sendiri bisa menilai, mana yg benar, dan mana yg salah,

    • Rahmat Bangun
      Mei 28, 2013 pukul 12:26 pm

      tambahan lagi ini karena belum tegaknya syariat islam di indonesia jadi ya begini hehehe..

      Betulkah syariat islam belum tegak di indonesia?
      Apa sih syariat islam itu, apakah syariat islam itu cuma hukum hudud, potong tangan, rejam?

      Apakah adzan setiap masuk waktu shalat bukan syariat islam? itu syariat islam, bahkan merupakan syiar islam, dan salah satu tanda bahwa negara tersebut adalah negara islam,
      Apakah Puasa ramadhan bukan syariat islam? itu syariat islam, dan negarapun membantu pelaksanaannya,. ini syariat islam yang besar,
      Apakah shalat jumat bukan syariat islam? itu syariat islam, dan banyak sekali kita jumpai masjid2 di seantero penjuru indonesia malaksanakan shalat jumat,.
      Apakah ibadah haji bukan syariat islam? itu syariat islam, dan negara ini pun membantu pelaksanaannya,.
      Apakah tatacara nikah dalam islam itu bukan syariat islam? itu syariat islam, dan di indoenesia mempraktekannya,.

      Ternyata banyak sekali syariat islam telah tegak di indonesia, bahkan syariat islam yang besar2, bukan sekedar hukum potong tangan, dll..

      Jadi, perluaslah cakrawala anda tentang apa itu syariat islam,. bukan melihat syariat islam dalam pandangan yg sempit, pandangan yg picik,..

      intinya, syariat islam sudah tegak di indonesia, walaupun tidak semua,.. tapi syariat yg besar2 sudah tegak di indonesia,.

      • Rahmat Bangun
        Mei 29, 2013 pukul 2:22 pm

        hehehe syukron..

        he..he..he.. afwan,..

  29. makmur suhada
    Maret 18, 2013 pukul 5:17 pm

    Assalmualaikm

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    trima kasih atas ilmu yg sudah di berikan kami mudah-mudahan bisa menambah dan menjadi manfaat buat kami. jazakumullahu khairan…..

    Jazakumullahu khairan

  30. Rifqi Thefi Fauzi
    Maret 2, 2013 pukul 4:03 am

    satu lagi…
    jika bid’ah itu benar – benar sesat, kita di Indonesia yang ingin berangkat haji haruskah naik unta ke makkah dan berjalan kaki ?

    terimakasih mas Rifqi, pertanyaan yang sangat bagus,.
    sepertinya anda belum membaca artikel tentang bidahnya pesawat ya,.. silahkan lihat disini mas,. betul sekali, pesawat itu bidah,

    karena itu, bid’ah hasanah…janganlah menafsirkan hadist dengan sendiri :)

    Kalau bid’ah hasanah itu penjelasan dari rasulullah atau bukan mas?? he..he..he..janganlah menafsirkan hadist dengan sendiri :)

    Silahkan lihat video durasi singkat, cuma 7 menit, buat pencerahan kepada kita semua,.

    • Maret 7, 2013 pukul 4:20 am

      Barokallahu fiik

  31. Rifqi Thefi Fauzi
    Maret 2, 2013 pukul 3:58 am

    Jika tiap bid’ah adalah sesat (dhalalah) berarti:

    1. ketika adzan dengan speaker itu bid’ah, karena adzan pada zaman Rasulullah s.a.w. adzan tidak dengan speaker dan mic.

    Jika adzannya ada tambahan shalawat sebelumnya, YA itu bidah, walaupun tidak pakai MIC dan speaker, speaker dan mic adalah alat utk mengeraskan adzan,. sarana saja, bukan sebagai syarat sahnya adzan itu hrs pakai mic,. sebagaimana wudhu, apakah harus pakai kran air sebagai tempat ngocornya air?? ini sebagai sarana saja utk memudahkan kita dalam beribadah

    2. ketika sholat menggunakan celana panjang, karena pada zaman Rasulullah s.a.w. menggunakan gamis.

    Pakaian yg digunakan oleh rasulullah , tidak ada kewajiban bagi kita untuk memakainya, sebab rasulullah tidak memerintahkannya,. yang diperintahkan adalah memakai pakaian diatas mata kaki bagi laki2, ini ada perintahnya, dan dalam hal ini pakaian dikembalikan kepada umumnya masyarakat,.. dulu di arab kebanyakan memakai gamis atau jubah, maka rasulullah pun memakainya, tapi rasulullah tidak isbal ( memakai pakaian yg melewati mata kaki)

    3. penyusunan mushaf al-Quran oleh Ustman bin Affan (Khulafaur Rashidin), karena pada zaman Rasulullah s.a.w. kebanyakan ayat al-Quran dihafal.

    Kenapa? karena di jaman rasulullah wahyu masih turun, jadi rasulullah tidak membukukannya,. bukankah kata lain dari alquran adalah alkitab?? apa arti alkitab mas?? apakah berupa lembaran-lembaran??

    sedangkan rasulullah memerintahkan kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah khulafaur rasyidin,.. nah, siapa yg membukukan alquran? bukankah termasuk khulafaur rasyidin? maka apa yg mereka lakukan bukanlah suatu kesalahan, bahkan termasuk sunnah rasulullah juga, karena rasulullah yg merekomendasi agar kita mengikuti sunnah khulafaur rasyidin,

    4. dakwah melalui internet, karena pada zaman Rasulullah s.a.w. berdakwah face-to-face.

    Internet hanya sarana dakwah saja, sebagaimana radio,televisi, dulu juga jaman rasulullah mereka berdakwah tidak bawa kitab, blm ada shahih bukhari,muslim, dll , apakah salah?

    5. pelafaldzan tulisan arab (fathah, kasroh, dhomah, dll), karena pada zaman Rasulullah s.a.w. tulisan arab beda dengan yang sekarang.

    Tulisan arab jaman rasulullah tidak ada titiknya mas, jadi huruf ta,tsa,ba,nun, itu sama semua,. kebayang deh kalau di jaman sekarang,.. para shahabat itu pinter mas,. kita bukanlah para sahabat, alhamdulillah di jaman Ali bin abi thalib tulisan arab diberikan harakat,titik, sehingga ini memudahkan kaum muslimin setelahnya untuk membaca dan mempelajarinya,.

    Rasulullah juga tidak mengajarkan nahwu,sharaf, karena tidak ada mas, apakah ini bidah juga?? tentu tidak mas, ini sebagai sarana saja,

    6. masjid menggunakan keramik, karena pada zaman Rasulullah s.a.w. masjid tanpa alas keramik.

    Mungin anda perlu mempelajari dulu, apa definisi bidah,. bidah itu terbatas pada ibadah saja mas,.. bukan sarana ibadah dimasukkan ke dalam bidah, urusan dunia tidak masuk ke dalam bidah, silahkan baca disini tentang apa itu bidah

    dapatkah kita kembali seperti zaman Rasulullah s.a.w., sedangkan kita mengikuti perkembangan zaman ?

    Jalan satu-satunya agar islam kembali jaya adalah dengan cara mengikuti cara berdakwahnya rasulullah, mendakwahkan islam dengan pemahaman generasi yg dibina langsung oleh rasulullah, yaitu pemahaman para sahabat,. itulah satu-satunya jalan keselamatan dan kejayaan islam,. dan Islam sangat cocok di semua jaman, Islam tidak akan pernah ketinggalan jaman, Justru pemahaman Islam yang benarlah satu-satunya solusi di jaman seperti sekarang ini, bukan merubah atau menambah-nambah ajaran islam itu sendiri,.

    penamaan masjid contoh: Masjid Persis al-Hikmah
    tidakkah itu bid’ah ?

    SEkali lagi, bangunan masjid itu sarana ibadah, mau dinamain atau tidak , itu semua tdk berpengaruh kepada ibadah kita,. asal masjid itu sesuai syar’i, tidak ada kuburan didalamnya , bukan masjid dhirar,. apanya yg bidah? apakah masjid itu bentuknya juga harus seperti masjid nabawi yg dibangun oleh rasulullah??

    tapi menurut al-Imamusy Syafi’i, bid’ah dibagi menjadi 2 karena pertimbangan dan penafsiran beliau…

    Betul, menurut imam syafii, tapi sudahkah anda membaca penjelasan imam syafii ttg yg beliau maksud tersebut? baca dulu dong mas, jangan cuma menyebut imam syafii membagi bidah menjadi dua, bidah hasanah dan bidah dhalalah,. tapi tidak paham maksud imam syafii tersebut, lalu menafsirkan sendiri yang dimaksud bidah hasanah itu adalah ini, dan yg dhalalah adalah itu,.. padahal maksud imam syafii bukanlah demikian,.

    jika menafsirkan suatu dalil, Anda harus mempunyai 15 ilmu (nahwu, shorof, dll), jangan menafsirkan sendiri, karena menafsirkan sendiri akan membawa hawa nafsu.

    Nah lho,… tidak ada ceritanya mas, menafsirkan dalil dgn ilmu nahwu, shorof,.. karena ilmu tersebut tidak ada di jaman nabi,.
    cara menafsirkan alquran adalah, 1. Alquran ditafsirkan dengan alquran 2. Alquran ditafsirkan dengan sunnah rasulullah 3. Alquran ditafsirkan dengan parkataan para sahabat,.
    Dan Alhmdulullah, buku tafsir yg sesuai dengan pemahaman para sahabat sdh ada, sdh dibukukan, contoh tafsir ibnu katsir,

    betul kata anda, jangan menafsirkan sendiri,. sebab bisa terjerumus kedalam hawa nafsu, tinggal baca saja apa yg ditafsirkan oleh para sahabat, generasi yg dibina langsung oleh rasulullah,. apa susahnya?

    sekian, semoga kita termasuk ahlus sunnah wal jama’ah…’amiin

    Amiin,.. dan ahlussunnah bukanlah pengakuan atau klaim belaka,.
    Dari katanya saja Ahlu Sunnah ,.. tidak mungkin ahlu sunnah kok melakukan amalan-amalannya adalah amalan yg bidah , jadi ahlu bidah dong,.. jadi pengakuannya adalah omdo saja, omong kosong,. jika ingin jadi ahlussunnah, pelajarilah sunnah ini, bukan malah menolak sunnah-sunnah yg shahih dari rasulullah, dan mengamalkan praktek2 kebidahan,.. sebagaimana banyak dilakukan oleh sekelompok orang/ormas yg mengaku sebagai ASWAJA , ironis deh,..

    Tonton nih video bagus, durasi 7 menit, mudah2an Allah memberikan hidayah kepada kita semua,

    • Shidiq
      Mei 30, 2013 pukul 3:35 am

      mas Rifqi sebaiknya baca dulu dan pahami tulisan di atas, biar ga bertanya hal hal yg sudah di jelaskan di atas, baca juga diskusi pada komentar2 yg sudah ada, biar admin gak mengulang2 jawaban…
      terima kasih.

      admin semangat terus yaa……..

      Jazakallahu khairan atas suportnya,.

    • Saifullah Al Maslul
      Juli 29, 2014 pukul 6:01 pm

      mohon maaf mas Rifqi Thefi Fauzi sepertinya link-link yang diberikan admin tidak pernah mas rifqi buka,

      “saya jadi gregetan baca pertanyaan dan pernyataan yang mas rifqi tulis” hehehehe

      masa harus saya yang awam ini yang ikut memperjelas kalau bid’ah sesuatu yang baru itu menyangkut masalah ibadah bukan masalah duniawi,

      kan Nabi Muhammad juga sudah bilang kalo masalah dunia kalianlah yang lebih mengerti urusan kalian tapi kalau masalah ibadah, syari’at dsb kita-kita ini bergantung kepada Nabi Muhammad SAW
      syukron…

      Terimakasih mas Saiful,
      he..he..he.. ngga usah ikut geregetan mas,. namanya juga belum tahu, atau mungkin sudah tahu, tapi ingin memberikan pelajaran kepada yang belum tahu, sehingga memberikan komentar seperti itu, jadilah diskusi yang menarik dan mudah dipahami,

      Jazakumullahu khairan mas saiful atas tambahan komentarnya,.

  32. ahmad
    Januari 25, 2013 pukul 12:37 pm

    Tegak kan sunah, matikan bid,ah. Teruz berjuang akhi

  33. mittrand
    Januari 22, 2013 pukul 7:43 am

    salut sama roy, ketika manusia disuruh menggunakan akal (selagi dalam koridor aqidah) maka roy betul-betul bertafakur dan berdiskusi…. baguslah kalo umat muslimin seperti roy … tapi akhirnya memang hidayah Alloh yang berperan … bravo untuk kawan-kawan ikhwah yang suka berdiskusi

    Dan kita hanya menyampaikan, hidayah Allah yang memberi,kita tidak bisa memaksa orang lain tuk mengikuti kebenaran yg kita sampaikan,

  34. rheyvana
    Januari 17, 2013 pukul 11:11 am

    makasih akhy inpone

    sami-sami,..

  35. mamat
    Januari 16, 2013 pukul 9:38 am

    contohnya bid’ah sesat terus masuk neraka itu pa saja ya mas aku g tau ,,,,,,? tolong di balas ya aku biar tau

    Bidah itu adalah amalan2 ibadah yang tidak dicontohkan oleh rasulullah, contohnya ya sangat banyak,
    tidak terlalu penting mempelajari contoh perbuatan bidah, pelajarilah sunnah-sunnah yg diajarkan oleh rasulullah, maka dengan sendirinya akan mengetahui bidah-bidah yang ada di masyarakat, dan kita wajib menjauhi perbuatan bidah, karena bidah membuat kita sengsara di dunia dan akherat

  36. Roy-Kun Manzokuu Shite
    Januari 12, 2013 pukul 7:47 am

    tahlil untuk kel kita yg meninggal, diba’an, dll termasuk bid’ah sesat juga donk

    Betul sekali mas,

    • mamat
      Januari 17, 2013 pukul 5:19 am

      saya minta contohnya mas,,,,,,,, yang yang namanya bid’ah banyak terjadi di masyarakat itu?

      Banyak sekali mas, kalau mau tahu silahkan beli buku yang berjudul “Risalah Bidah” yang ditulis oleh ustadz Abdul Hakim Abdat , disitu disebutkan banyak sekali contohnya, silahkan beli saja di toko buku, anda tinggal dimana? biar nanti saya kasih tahu toko buku yang dekat dengan tempat anda, barangkali saya tahu

    • Roma Hermawan
      Mei 23, 2013 pukul 9:53 am

      Di bagian mana sesatnya tahlilan?
      Kalimah “laaila haillallah” kah
      atau do’a “ya Allah ampunilah dosa2 hamba, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat yg telah mendahului kami, ampunilah dosa si fulan bin fulan, dan tegarkanlah hati yg di tinggalkannya”
      apaka contoh di atas merupakan Bid’ah sesat?
      Anda tau arti kalimah tahlil di atas? Apa org berdo’a cuma hrs di masjid? Apa org mengagungkan asma Allah harus hanya pada wkt shalat saja?
      Sungguh anda memang org yg bnr2 hebat
      kalau di tempat sy yg tidak ikut tahlilan mereka anggap sbg ijtihat/kehati-hatian, krn mereka kurang yakin dngn hal trsbt, klw yg ikut tahlilan mereka anggap sbg ihtiar dalam memohon pengampunan diri dan org lain kpd Allah.

      Dibagian mana salahnya?
      Saya tanya gini mas,. jika kita shalat maghrib 5 rakaat, itu salah atau tidak?
      Lalu apa salahnya? kan jumlah rakaatnya juga tambah banyak, yang dibaca adalah alquran, bacaannya jadi tambah banyak, ruku dan sujudnya juga tambah banyak,. apa jawaban anda , beranikah anda mengatakan shalat maghrib 5 rakaat itu benar?
      Jawaban anda, itu untuk menjawab kebingungan anda tentang dimana salahnya ritual tahlilan 7,10 hari dst,
      Apakah shalat maghrib 5 rakaat itu bidah sesat? kan tidak ada dalil yang melarang shalat maghrib 5 rakaat,. silahkan anda jawab, saya tunggu jawaban anda,.

      • Roma Hermawan
        Mei 25, 2013 pukul 4:04 am

        Waduh!!!
        Jawaban anda juga sudah ngaco, kalau shalat emang sudah baku, cuma org gendeng aja yg melakukan shalat maghrib 5 roka’at.

        Kenapa gendeng mas? anda melarang orang shalat??? kan orang tersebut melakukan shalat, kok dilarang?

        Mungkin orang yg shalat maghrib 5 rakaat tersebut berkata kepada anda,.. ANDA MELARANG SAYA SHALAT? .. bukankah yg dibacakan adalah alquran? yg dibaca doa ruku, doa sujud, bahkan bacaannya itu tambah banyak.. bukankah itu bagus??

        Apa jawabannya mas?

        Skrg sy juga mau tanya sama anda tentang larangan orang berdo’a dan mengagungkan asma Allah. Jangan jangan org mau shalat jum’at anda anggap sesat lantaran ketika di tanya anda mau kemana? Jawabnya “sy mau jum’atan” bukan “sy mau shalat jum’at”
        Yg di pikiran anda cuma hari ke 7, ke 10 dst, padahal tu sama sekali tak ada kaitanya dengan yg namanya tahlilan.

        pertanyaan anda saya pending dulu jawabannya, nunggu anda jawab pertanyaan saya dulu, biar diskusi kita berjalan,. karena jawaban anda yg akan buat menjawab pertanyaan anda,. mudah sekali, sengaja tidak saya jawab sekarang,.

      • Roma Hermawan
        Mei 25, 2013 pukul 4:14 pm

        Pak ustadz yg terhormat, jawabanya juga sy pending, skrg sy mau tanya dulu juga sama pak ustadz, kira2 ada ndak ya org islam yg shalat maghribnya 5 roka’at?
        Kemudian hubungan org shlat wajib 5 waktu sama tahlilan apa?
        Ok, ane kasih tau dikit ya pak ustadz, shalat itu emang sdh jelas rukun2nya, bahkan ketika shalat keluar satu kata/gerakan yg tidak ada hubunganya sm shalat trsbt maka gugurlah shalat trsbt, mungkin klw istilah anda shalatnya sesat.

        jawaban anda utk menjawab pertanyaan anda,.
        Hubungannya ada, antara shalat maghrib 5 rakaat,. dgn tahlilan dihari ke 7, 10, dst,.
        ini jawaban anda :
        shalat itu emang sdh jelas rukun2nya, bahkan ketika shalat keluar satu kata/gerakan yg tidak ada hubunganya sm shalat trsbt maka gugurlah shalat trsbt, mungkin klw istilah anda shalatnya sesat.

        Maka saya pun berkata, kalau tahlilan di hari ke 7,10,dst ,. itu ajaran siapa?
        Taruhlah sekarang shalat maghrib tetap 3 rakaat, tapi dilakukan tidak di waktu maghrib, tapi dikerjakan di waktu dzuhur, bukankah ini menyimpang juga?

        sama juga saya katakan,. kenapa tahlilan kok dilakukan dihari ke 7,10,dst setelah meninggalnya seseorang, ini ajaran siapa?
        Rasulullah ketika khadijah meninggal, beliau tidak tahlilan di hari ke 7,10,dst,..
        Demikian pula ketika anaknya rasulullah meninggal, beliau juga tdk melakukan hal tsb,
        Ketika Rasulullah meninggal, para sahabat tidak melakukan hal tsb,.
        Ketika Imam malik meninggal, imam syafii juga tidak melakukan hal tsb,.

        lalu,… ajaran siapa ritual tahlilan di hari ke 7,10,dst??

        Apakah AMALAN YANG TIDAK DIKERJAKAN OLEH RASULULLAH, lalu dikerjakan oleh orang yang hidup jauh sekali dari jaman rasulullah, itu lebih baik?
        Seandainya itu baik, para sahabat sudah lebih dahulu melakukannya,.

        Skrg, stlh salam, kita mau dzikir, mau do’a apa aja trsrh kita, sah2 aja, demikian juga org tahlilan, klw wkt shalat stlh baca Alfatihah trs tiba2 tahlilan lha anda bisa ngomong sesat, malahan sy dukung.
        Demikian pak ustadz, sy rasa anda bukan org bodoh yg tdk tau/ tdk nyambung sama pembicaraan org.
        Pak ustadz yg terhormat, anda mau bicara ngetan ngulon ngalor ngidul juga ujung2nya sama aja, mencari kelemahan org lain agar anda bisa mengesahkan utk di CAP SESAT oleh Anda.

        Sebenarnya yg bicara ngalor ngidul itu siapa ya, he..he..
        Ibadah itu nunggu dalil, bukan ibadah dulu baru cari-cari dalil,.
        Kalau ritual tahlilan di hari ke 7,10 dst ada dalilnya, saya akan melakukannya mas,. akan saya posting di blog ini,.

        Ane kasih lg
        perbuatan, tingkah laku apapun manusia selama itu baik tidak akan sedikitpun bertentangan Alqur’an dan hadist, karena Alqur’an adalah tuntunan seluruh kebaikan, tak secuilpun kebaikan yg tertinggal oleh Alqur’an meskipun org trsbt sama skali tdk bisa membaca ataupun mengartikanya, sebaliknya, org yg fasih membaca Alqur’an dan hafal semua hadist, bisa jadi perbuatan org trsbut mlh bertentangan dngn Alqur’an dan Hadist itu sendiri.
        Semoga bukan anda orangnya.

        Justru saya tanya kepada anda, mana dalil ritual tahlilan di hari ke 7,10 , dst, dalil dari alquran dan hadits,. jika anda berhasil membawakan dalil tersebut, jika saya nanti punya mobil, saya akan hadiahkan kepada anda, silahkan anda tinggalkan alamat anda, atau nomer hape anda, nanti saya sms,.

        Baik itu bukan menurut kita, atau menurut manusia,.
        Agama ini milik Allah,.
        Allah yang membuat syariat ini,
        Dan Allah wajib diibadahi berdasarkan ketetapan2 ygn allah buat,dan tatacara yg allah tetapkan, dan semuanya sdh disampaikan oleh rasulullah,. ISLAM SUDAH SEMPURNA,
        Dan Allah hanya menerima amalan2 yg allah tetapkan, bukan amalan hasil rekayasa manusia.

        BAIK MENURUT KITA, BUKAN BERARTI BAIK MENURUT ALLAH,.
        Tapi baik menurut Allah pasti baik bagi manusia, walaupun terlihat seolah2 buruk dihadapan manusia,.

      • Roma Hermawan
        Mei 26, 2013 pukul 1:09 am

        anda ini memprotes ritual tahlilan di hari ke 7, ke 10 atau ke berapalah, atau memaksa org supaya menjalankan ritual tahlilan hari ke 7 dst, anda lihat koment sy di atas.
        Pak ustadz yg terhormat, klw anda posting di sini utk ngomong ngalor ngidul nuding org tahlilan SESAT sama sekali tak ada gunanya, jika anda bener2 mau menegakkan islam, silakan anda masuk kepada org yg melaksanakan tahlilan, anda cermati, jika memang bnr2 anda anggap sesat silakan anda jelaskan kpd mereka, itu jika anda punya cukup nyali.
        Yg anda lakukan skrg ini sama aja dengan anda makan bangkai saudara anda sendiri, tau kan maksud sy?
        Ane kasih tau pak Ustadz, yg tahlilan di hari ke 7, ke 40 dst mungkin memang ada, tapi tdk di jdikan sbg acuan atau patokan apalagi keharusan, itu cm skdr istilah, tahlilan bisa di lakukan kpn sj. Trs ada istilah ngirim do’a, itu istilah org2 yg sudah sepuh yg memang pemahamanya dari dulu cm sebatas itu, namun demikian org trsbt tdk bisa di bilang sesat, ane kasih contoh lg, anda makan pada jam 8, jam 12 siang dan jam 8 sore, menurut anda itu kewajiban atau karna terbiasa? Trs apa hal tersebut bisa di bilang suatu kesalahan?
        Kembali lg ke soal tahlilan, kalau shalat memang sudah menjadi perintah langsung dari Allah, dan sudah di tentukan waktu dan dsbnya, tapi Rosulullah tidak pernah membatasi umatnya utk berdo’a dan mengagungkan asma Allah, sambil jalan, sambil tidur, sambil bekerja.
        Sy tunggu lg jawaban anda.

        Tidak keharusan??????? pernah ada gitu tahlilan di hari ke 3, hari ke 21, dll,

        MASALAHNYA, rasulullah TIDAK PERNAH melakukan tahlilan setelah kematian,.. baik di hari apapun,..

        SILAHKAN ANDA DATANGKAN DALIL SATU SAJA, TENTANG RITUAL TAHLILAN SETELAH KEMATIAN ,

        jika anda tidak sanggup, silahkan minta tolong pimpinan pesantren yg paling terkenal, suruh datangkan dalil tersebut,.
        Jika anda tidak bisa, tidak usah komentar lagi,.

        Dan kalau anda bisa mendatangkan dalil tersebut, ingat janji saya, jika saya punya mobil, akan saya hadiahkan buat anda,..

      • Mei 30, 2013 pukul 3:02 am

        bang roma bang roma, hehee…
        gini deh, jawab pertanyaan saya tp bukan dg pertanyaan yaa…
        sebelumnya disini saya bicara tentang ritual Tahlilan 7,10 hari dll, bukan bacaan tahlil, pahami ya…
        1. orang ritual tahlilan menganggap ibadah bukan??
        2. nabi Muhammad melakukannya gak atw bahkan mengajarkanyya??
        3. ritual 7 hari 10 hari kematian dll, itu ajaran agama mana yaa??
        kok melu melu loh, think about it!!

        di jawab nggih….

        Ngga perlu dijawab mas,.. he..he.. he.. ini landasan tentang ritual tahlilan 7 hari, 10 hari, dst,. ada disini ternyata,.

  37. Roy-Kun Manzokuu Shite
    Januari 12, 2013 pukul 6:31 am

    oke, jadi klo bid’ah itu sesat ngapain posting” disini juga, maen” internet, dolo di arab gak ada beras, ngapain skrng makan pke nasi ? ngapain skrng yg nulis artikel ini pake maen” handphone, di rumah lihat tivi sgala. klo semua BID’AH ITU SESAT, SEMUA ITU GK USAH DI LAKUIN ! Kanjeng nabi Muhammad SAW gak pernah ngelakuin itu semua, klo kita melakukan sesuatu yg tidak di lakukan kanjeng nabi (bid’ah) dalam segi positif, apa itu di sebut SESAT ? kyk yg buat artikel ini kan juga bagi ilmu, jadi yg buat artikel ini juga SESAT wlpun niat baik untuk membagi ilmu? kan yg nama nya internet itu BID’AH !! yaa wahabi berpikirlah sebelum bertindak. Bid’ah hasanah (terpuji) tetap hidup, dan sunnah tetap akan hidup, karna mereka beda PENGERTIAN. mana ada sunnah mati, itu udah anjuran kanjeng nabi.

    Terimakasih mas Roy,
    Bidah itu hanya terbatas pada urusan ibadah saja mas, bukan dalam urusan dunia seperti internet,mobil,pesawat,hape,
    Jadi semua yang disebutin diatas itu bukanlah urusan dunia, buktinya, jika ada orang yang mau beli mobil, atau mau naik mobil, tanya ke orang tersebut, apakah beli mobil itu apa motivasinya? apakah ingin masuk surga? berbeda dengan para pelaku bidah, tanya orang yang mengadakan yasinan,tahlilan atau maulid, apa yang diharapkan oleh mereka? pasti ingin mendapatkan kecintaan Allah, ingin mendapatkan ridha allah melalui ritual mereka, bukankah demikian?? inilah bedanya antara urusan dunia dan ibadah, kalau urusan ibadah pasti ingin mengharapkan ridha Allah, ingin mendapatkan surga,

    Sebagai pencerahan untuk anda, silahkan baca link ini

    • Roy-Kun Manzokuu Shite
      Januari 12, 2013 pukul 6:45 am

      assmualaikum.

      Wa’alaikumussalam warahmatullah

      maaf tolong di jelaskan se jelas” nya, saya ABG yg baru dengar istilah dari telinga ke telinga. jadi setiap perkataan atau artikel” orang yg menurut saya itu terpecaya dan masuk akal saya anggap BENAR, jadi klo ada yg menidak benari itu jadi rada penasaran kyk gini.

      Terimakasih mas, tidak usah bingung,
      Apalagi anda masih ABG , silahkan pelajari agama ini, ajaran islam dengan pemahaman para sahabat,
      Silahkan baca dampak perbuatan bidah, ngeri lho mas
      Definisi bidah, perhatikan mas, baca dengan teliti dan jangan terburu-buru
      Jika ada yang menganggap baik perbuatan bidah, berarti dia mencap seolah-olah islam belum sempurna

  38. Syah Agung Hardiyanto
    November 3, 2012 pukul 2:51 pm

    pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Syaikh Al Utasaimin rahimahullah, Syaikh Bin Baz rahimahullah perihal PENGGUNAAN HISAB sebagai alat bantu?
    Bukankah mereka TIDAK MEMPERBOLEHKAN MENGGUNAKAN HISAB sebagai alat bantu Rukyat?

    Terimakasih mas Agung, komentar yg bagus,
    Oh iya, mana tulisan pernyataan tersebut?
    Tidakkah anda membaca perihal PENGGUNAAN HISAB sebagai alat bantu?
    Tolong perhatikan, tidak ada pertentangan dan pernyataan bolehnya hisab, tapi sekedar alat bantu rukyat, bukan penentuan secara mutlak, hilal bisa ditentukan jauh-jauh hari, bahkan sekarangpun bisa, dgn metode hisab, Ini menyelisih sunnah rasulullah, dimana beliau tdk menggunakan hisab secara mutlak, tapi tetap rukyatul hilal secara langsung, itu yg mutlak sebagai penentu

    sudah jelas bahwa DEPAG sudah membuat ancar ancar ketetapan itu jauh jauh hari sebelum RUKYAT!
    Jadi sekali lagi pada dasarnya Metode Ingkarul Rukyat di bawah 2 derajat itu adalah ILMU HISAB!
    Kesimpulannya:
    Kalau mau mengikuti penafsiran awal dan akhir puasa adalah “MELIHAT” (dalam arti melihat dengan mata) hilal maka siapa pun yg berpuasa mengikuti Depag atau persyarikatan Muhammadiyyah maka kedua duanya sama saja mengikuti kebid’ahan

    Ya, jelas sekali mas, hisab buat alat bantu untuk menghitung kapan kira2 dilakukan rukyatul hilal secara langsung, itulah fungsi hisab, bukan sebagai penentu mutlak, penentu mutlak adalah rukyatul hilal dengan mata telanjang,
    Bukankan DEPAG melakukan rukyatul hilal,lalu mengadakan sidang itsbat?
    Apalagi DEPAG adalah wakil dari pemerintah, dan pemerintahlah yang paling berhak menentukan hasil rukyatul hilal ini, bukan ORMAS, walaupun itu ORMAS YANG PALING BESAR DI INDONESIA,.. sebab penentuan hasil rukyatul hilal bukanlah hak ormas, tapi itu hak penguasa,
    Jadi yang terjerumus kedalam kebidahan adalah ormas yang menerapkan hisab secara mutlak, dan merebut hak penguasa dalam penentuan rukyatul hilal,
    Sebesar apapun ormas tersebut, walaupun menggunakan nama nabi ormas tersebut,.. tapi dalam prakteknya tdk sperti namanya, pengikut nabi muhammad,.. malah menggunakan petunjuk yg berasal bukan dari nabi muhammad,.. inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun..

    Pertanyaan terakhir sebagai bahan renungan saja:

    MUNGKINKAH ALLAH MENSYARIATKAN SESUATU YG BERTENTANGAN DENGAN SUNATULLAH SENDIRI?
    Sudah jelas bahwa tanda tanda alam (sunatullah), dalam hal ini kemunculan bulan purnama, menunjukkan bahwa yang benar adalah perhitungan wujudul hilal, dan sudah jelas pula bahwa penetapan depag nggak sesuai dengan fkata alamiah yg merupakan sunnatullah.

    Tidak ada syariat Allah yang bertentangan dengan sunnatullah,
    Dan jika apa yang dilakukan oleh Depag itu keliru, itu adalah tanggungjawab penguasa kepada Allah , bukan tanggungjawab ormas atau rakyatnya,
    Tapi jik ormas yang melakukan dan memutuskan dan tidak menghiraukan fatwa penguasa, maka ormas tersebut telah salah, merebut hak penguasa, dan menyelisihi anjuran rasulullah,

    Silahkan direnungkan sendiri!

    Silahkan renungkan tanggapan saya

    Metode Rukyat digunakan karena Rasul tidak menghendaki KESULITAN bagi umatnya ketika itu, pada masa sekarang metode Rukyat justru menimbulkan banyak masalah!

    sungguh terbalik pernyataan anda,Rukyatul hilal metode yang paling mudah, sehingga orang badui pedalaman pun bisa melakukannya, bahkan rasulullah yang memerintahkannya,
    Hati-hati dengan pernyataan anda, apakah anda menganggap apa yang dilakukan ormas itu lebih baik dari apa yang diperintahkan oleh rasulullah?
    Siapa yang mempermasalahkan rukyatul hilal? imam yang 4 saja tdk mempermasalahkan,.. justru ormas inilah yg bikin masalah,.. jadi, mana yang menyelisihi ajaran rasulullah dalam hal ini?
    RENUNGKANLAH TANGGAPAN SAYA,.. jika anda masih bisa menggunakan pikiran anda yg jernih,

    Keyakinan yang aku pegang adalah NGGAK MUNGKIN ALLAH DAN RASUL-NYA MENGAJARKAN SESUATU YANG BERTENTANGAN DENGAN SUNATULLAH!

    NGGAK MUNGKIN PULA RASUL MENGAJARKAN BAHWA UMATNYA BUKAN MENJADI UMAT YG CERDAS DAN BERILMU!

    Gerhana yg ratusan tahun ke depan bisa dihitung dengan akurasi dan presisi yg sangat mendekati fakta, masak menghitung posisi bulan nggak bisa diprediksi?

    Ini juga merupakan ujian bagi seorang muslim, lebih mengedepankan dalil dari rasulullah, atau mengedepankan akal?
    Betul gerhana matahari bisa dihitung, dan dijaman rasulullahpun bisa, orang arab adalah orang yang ahli perbintangan, tapi rasulullah tdk memerintahkan menggunakan hisab,
    Bahkan rasulullah sangat mampu meminta agar malaikat melihat hilal, apakah sdh terlihat atau belum,. tapi itu tdk rasulullah lakukan,.

    Syariat islam itu memudahkan, bukan menyulitkan!

    Betul, dan rukyatul hilal sangat mudah, siapa saja bisa melakukan, beda dengan hisab, harus mengerti cara menghitung, beda dengan rukyatul hilal,..

    Susahlah kalau beragama nggak pakai ilmu pengetahuan

    Ilmu pengetahuan secanggih apapun tidak boleh mendahului dalil, tidak boleh mengutamakan ilmu pengetahuan diatas ilmu agama/dalil yg shahih,
    Justru dalil yang shahih itu yg lebih diutamakan daripada ilmu pengetahuan,..

    Kalau metode seperti itu anda terapkan di belahan bumi tertentu, bisa bisa orang2 di daerah dekat kutub, di wilayah wilayah sub tropis akan sholat dhuhur terus berminggu minggu karena matahari nggak tenggelam tenggelam atau isya terus berminggu minggu karena matahari nggak muncul!

    Ini adalah bukti kebodohan terhadap agama dan dalil-dalil yang shahih, sehingga tidak mengetahui bagaimana jika kita tinggal di daerah yang mungkin malam terus, atau siang terus, atau waktunya tidak normal sperti di indonesia, silahkan baca postingannya disini mas, agar anda tahu, dan lebih mengedepankan dalil diatas ilmu pengetahuan,.

    setelah mengkaji seluruh dalilnya yang ada di Al-quran dan Al-hadits, coba ngaji fakta alamnya, coba ngaji sunatullah yang terjadi di alam ciptaanNya, lalu cari titik temu antara keduanya dan jangan pertentangkan antara keduany karena keduanya adalah ciptananNya !!!!!!!,

    Siapa yang mempertentangkan,.. mas agung yang baik, apakah anda pernah membaca atau mendengar kalau abu bakar,umar,utsman, ali, mereka menggunakan hisab secara mutlak untuk penentuan hilal?? jika pernah ada dimana ,di kitab apa,
    Pernahkan anda membaca jika imam abu hanifah,imam malik,imam syafii,imam ahmad, mereka mengguanak hisab secara dalam menentukan hilal?
    Atau mungkin imam bukhari,muslim, dan banyak lagi ulama ahlussunnah, apakah mereka menggunakan hisab mutlak untuk menentukan hilal?

    Lalu, jika mereka saja yang sangat paham ilmu agama ini tidak menggunakan hisab mutlak untuk penentuan hilal ini, lalu kita yang jauh dari jaman kejayaan islam malah menggunakan hisab mutlak untuk penentuan hilal?? dengan dalih majunya ilmu pengetahuan,.. inikah gambaran kemajuan islam, ataukah kemunduran islam, mendahulukan ilmu pengetahuan di atas dalil,.. disini musibahnya mas,..

    Dari dulu tidak ada yang mempermasalahkan rukyatul hilal, tapi setelah muncul ormas ini,.. masalah baru muncul, dipakailah hisab,.. jadi siapa disini yang keliru? para sahabat dan para ulama, atau ormas ini?

  39. edi hermawan
    Oktober 28, 2012 pukul 8:13 am

    “assalamualaikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    saya setuju…..
    lalu apa yg pantas untuk sebutan alat” teknologi yg kini di pakai
    dalam acara dakwah islamiyyah,,,,dan apakah di perboleh kan
    menggunakan nya,,,”

    mohon penjelasan nya,,dari antum..?

    Terimakasih mas edi , sudah berkomentar disini, mudah2an bisa berbagi manfaat,
    teknologi yg ada sekarang ini, ini bukanlah urusan ibadah, tapi urusan dunia, yang mana Rasulullah sendiri bersabda :
    “Kamu lebih mengetahui tentang berbagai urusan duniamu”. [Hadits ini terdapat dalam Shahih Muslim (1366)]

    Jadi benda-benda yang disebutkan diatas itu adalah urusan dunia yang merupakan hasil kemajuan peradaban manusia secara umum dan pengembangan teknologi seiring dengan berjalannya waktu, yang mana orang kafir juga menggunakannya, dan tidak ada kaitannya dengan agama secara langsung.

    Sesuatu yang berhubungan dengan masalah duniawi, itu bukanlah bid’ah yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
    Jadi , silahkan mau buat mikrofon masjid, pesawat buat pergi haji, software dll,

    Akan tetapi yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallaam larang di sini adalah segala macam perkara baru dalam bentuk amalan/keyakinan agama dan syari’at, entah itu amalan-amalan (Fi’liyah) maupun Ucapan (Qouliyah) baik mengurangi atau menambahkan.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    ”Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu amalan dalam urusan agama yang bukan datang dari kami (Allah dan Rasul-Nya), maka tertolaklah amalnya itu”. (SHAHIH, riwayat Muslim Juz 5,133)

    dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
    “Dan jauhilah olehmu hal-hal (ciptaan) yang baru (dalam agama). Maka sesungguhnya setiap hal (ciptaan) baru (dalam agama) itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR Abu daud dan At-Tirmidzi, dia berkata Hadits hasan shahih).

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
    “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, patuh dan taat walaupun dipimpin budak Habasyi, karena siapa yang masih hidup dari kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah pada Khulafaur Rasyidin yang memberi petunjuk berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan waspadalah terhadap perkara-perkara yang baru (yang diada-adakan) kepada hal-hal yang baru itu adalah kebid’ahan dan setiap kebid’ahan adalah kesesatan”. [SHAHIH. HR.Abu Dawud (4608), At-Tirmidziy (2676) dan Ibnu Majah (44,43),Al-Hakim (1/97)]

    Urusan dunia, itu tergantung penggunaannya, jika itu bisa membantu dalam rangka beribadah kepada Allah, yaitu pelaksanaan ibadah tersebut, tanpa menambah dan mengurangi ritual agama yang sudah diajarkan oleh Rasulullah, maka itu semua bisa bernilai ibadah,
    Demikian juga sebaliknya, jika berakibat buruk, maka urusan agama itu bisa bernilai buruk, bahkan dosa,

    kbenaran dri allah dan rosul nya,,,jikalau mmang ad kslahan
    dri ucpan atau perbuatan.kembalinya ke kitab dan sunnah,.”

    Betul, kebenaran itu dari Allah dan rasulnya, dan jika ada perselisihan diantara manusia, maka kembalikan kepada alquran dan sunnah, dan yang paling penting, Alquran dan Sunnah dipahami dengan pemahaman para sahabat, bukan pemahaman kita atau kelompok tertentu selain para sahabat,

    Mudah-mudahan penjelasan diatas bisa dipahami, dan untuk meluaskan jawaban diatas, silahkan lihat postingan ini

  40. An nisa
    Oktober 24, 2012 pukul 4:15 am

    Sy setuju

  41. arief attamimi
    Oktober 6, 2012 pukul 2:59 pm

    Rasulallah saw bersabda: ‘Barangsiapa yang didalam Islam merintis jalan kebajikan ia memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mengerjakannya sesudah dia tanpa dikurangi sedikit pun juga. Barangsiapa yang didalam Islam merintis jalan kejahatan ia memikul dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya sesudah dia tanpa dikurangi sedikit pun juga’ (Shohih Muslim V11 hal.61… Shahih Muslim hadits no.1017,

    Terimakasih mas arif atas komentarnya,
    Berikut bunyi hadits dan penjelasannya

    مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

    “Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim no 1016)

    Yang dimaksud Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً “Barang siapa yang merintis sunnah hasanah/baik” adalah mendahului dalam mengamalkan sunnah yang telah valid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bukan membuat/merekayasa/berkreasi dalam membuat suatu ibadah yang baru. Hal ini sangat jelas dari beberapa sisi:

    PERTAMA : Kronologi dari hadits tersebut menunjukkan akan hal itu.

    Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu berkata,

    كنا في صَدْرِ النَّهَارِ عِنْدَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – فَجَاءهُ قَومٌ عُرَاةٌ مُجْتَابي النِّمَار أَوْ العَبَاء ، مُتَقَلِّدِي السُّيُوف ، عَامَّتُهُمْ من مضر بَلْ كُلُّهُمْ مِنْ مُضَرَ ، فَتَمَعَّرَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – لما رَأَى بِهِمْ مِنَ الفَاقَة، فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ ، فَأَمَرَ بِلالاً فَأَذَّنَ وَأَقَامَ ، فصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ ، فَقَالَ : { يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ } إِلَى آخر الآية : { إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً } ، والآية الأُخْرَى التي في آخر الحَشْرِ : { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ } تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ، مِنْ دِرهمِهِ، مِنْ ثَوبِهِ ، مِنْ صَاعِ بُرِّهِ ، مِنْ صَاعِ تَمْرِهِ – حَتَّى قَالَ – وَلَوْ بِشقِّ تَمرَةٍ )) فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعجَزُ عَنهَا، بَلْ قَدْ عَجَزَتْ، ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ حَتَّى رَأيْتُ كَومَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَثِيَابٍ ، حَتَّى رَأيْتُ وَجْهَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – يَتَهَلَّلُ كَأنَّهُ مُذْهَبَةٌ. فَقَالَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم -: ((مَنْ سَنَّ في الإسلامِ سنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أجْرُهَا، وَأجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ،مِنْ غَيرِ أنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورهمْ شَيءٌ، وَمَنْ سَنَّ في الإسْلامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيهِ وِزْرُهَا ، وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ ، مِنْ غَيرِ أنْ يَنْقُصَ مِنْ أوْزَارِهمْ شَيءٌ ))

    “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal siang, lalu datanglah sekelompok orang yang setengah telanjang dalam kondisi pakaian dari bulu domba yang bergaris-garis dan robek, sambil membawa pedang. Mayoritas mereka dari suku Mudhor, bahkan seluruhnya dari Mudhor. Maka tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kondisi mereka yang miskin, berubahlah raut wajah Nabi. Nabipun masuk dan keluar, lalu memerintahkan Bilal untuk adzan dan iqomat, lalu beliapun sholat, lalu berdiri berkhutbah. Beliau berkata, “Wahai manusia, bertakwalah kepada Rob kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa” hingga akhir ayat tersebut “Sesungguhnya Allah Maha Mengawasi kalian”. Lalu membaca ayat yang lain di akhir surat al-Hasyr “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaknya sebuah jiwa melihat apa yang telah ia kerjakan untuk esok hari”.

    Hendaknya seseorang mensedekahkan dari dinarnya, atau dari dirhamnya, dari bajunya, dari gandumnya, dari kormanya…-hingga Nabi berkata- meskipun bersedekah dengan sepenggal butir korma”

    Lalu datanglah seorang lelaki dari kaum anshor dengan membawa sebuah kantong yang hampir-hampir tangannya tidak kuat untuk mengangkat kantong tersebut, bahkan memang tidak kuat. Lalu setelah itu orang-orangpun ikut bersedekah, hingga aku melihat dua kantong besar makanan dan pakaian, hingga aku melihat wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersinar berseri-seri. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

    “Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun” (HR Muslim)

    Dari kisah di atas jelas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliaulah yang memotivasi para sahabat untuk bersedekah. Lalu sahabat anshor lah yang pertama kali bersedekah, lalu diikuti oleh para sahabat yang lain. Lalu setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً “Barang siapa yang merintis sunnah hasanah/baik”.

    Dari kronologi ini jelas bahwa yang dimaksud dengan sunnah hasanah adalah sunnah yang valid dari Nabi, dalam kasus ini adalah sedekah yang dimotivasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    lebih lengkapnya mas arief bisa membaca disini

  42. mulwahadi
    Agustus 31, 2012 pukul 8:06 am

    Assalamualaikum,

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    Saya punya temen anak pengajian tapi dia agak emosi kalo di terangkan bahwa Maulid Nabi, Tahlilan, dzikir berjamaah itu salah satu bid’ah dan dia menerangkan kepada saya jangan terpengaruh sama hal hal yang merusak umat terus dia bilang Bid’ah itu tidak berbahaya bagaimana tanggapan antum tentang pernyataan ini..

    Mas muwahadi, dakwah itu butuh kepada ilmu, tidak sembarangan, apa yg kita dapatkan tidak boleh langsung kita amalkan untuk orang lain, tapi untuk diri sendiri saja dahulu,
    Apalagi jika ternyata amalan yang mau kita dakwahkan ternyata di masyarakat sudah seperti amalan yang sunnah,padahal itu amalan bidah,. ini tentu lebih berhati-hati lagi, tidak boleh sembarangan, sebab ini bisa berakibat buruk bagi dakwah itu sendiri.

    Contoh tentang maulid,yasinan,tahlilan, itu jangan kita langsung dakwah kepada orang2 yg hobi hal2 tsb,.. paling tidak untuk diri kita dahulu, kecuali jika anda melihat org yang akan anda beritahu tsb sepertinya lebih menerima dalil dari Rasulullah, semangat dalam mengamalkan hadits2 rasulullah yg shahih, boleh saja anda sampaikan, tapi tentunya dengan ilmu,.. itu jika anda sudah memilikinya,..

    Jangan sampai niat kita ingin mendakwahkan sunnah, tapi malah membuat orang lari dari sunnah, bahkan mencelanya, malahan menuduh kitalah yg sesat, yg ngga bener,..

    Jadi nasehat saya, belajar dahulu, dan amalkan untuk diri sendiri, tidak usah menyampaikan kepada orang lain jika dirasa akan timbul mudharat, karena kebiasaan masyarakat yg sdh menahun mengamalkan amalan bidah, berakhlak baiklah sama mereka,..tunjukkan setelah mengenal dakwah yang hak ini, anda bertambah bagus akhlaknya, bukan malah jadi mudah mensesatkan amalan2 mereka,..

    wassalamualaikum wr wb..jazakuloh khoir

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, jazakumullahu khair

    • mulwahadi
      Agustus 31, 2012 pukul 9:40 am

      terima kasih jawabannya pak,, mudah2an mendewasakan saya dalam mengamalkan ajaran sesuai syariat Nabi Muhammad SAW dan para sahabat2 beliau..
      Satu lagi pertanyaan saya, saya pernah membaca buku tentang diharamkannya musik penulisnya ustad Yazid Abdul Qadir Jawas kalo nggak salah..

      nah kalo musik itu haram bagaimana dengan H. Rhoma Irama, Ustad Jefrie Al bukhori, atau opick tujuan mereka kan mensyiarkan agama Islam lewat musik??

      Musik dalam islam hukumnya haram, silahkan baca postingannya disini, banyak hadits tentang haramnya musik, bahkan dalam ayat alquran juga ada,

      Jika kita sudah mengetahui keharaman sesuatu, baik itu musik atau yang lainnya , maka mudah bagi kita,.. Rasulullah tauladan kita, beliau telah mengharamkan musik,.. maka orang yang melakukannya terlepas siapapun orangnya, baik itu Kyiai, Ajengan,habib, atau tokoh tertentu yang malakukannya, maka hukumnya tetap diharamkan,..

      Ingat, tauladan atau panutan kita adalah Rasulullah, bukan bang haji rhoma irama,ust jefri, atau opick,..

      Bahaya nyanyian dan musik, silahkan baca disini

      Dibalik merdunya nyanyian, baca disini

    • An nisa
      Oktober 24, 2012 pukul 4:14 am

      Sy setuju

  43. lukman
    Agustus 17, 2012 pukul 2:53 pm

    1. Apakah penyusunan mushaf Al-Quran juga termasuk bidah karena di zaman rasul masih hidup hal itu belum ada?

    Bukan, alquran disebut juga alkitab, apa arti alkitab??
    Tentang penulisan alquran sudah ada dari jaman rasulullah, silahkan baca disini

    2. Apakah menentukan awal puasa dengan ilmu hisab (ilmu falak) juga termasuk bidah

    Ya, jika hisab dijadikan dalil mutlak untuk penentuan ini, adapun jika hisab hanya dijadikan patokan utk melihat hilal,maka itu tdk apa-apa, jadi penentuan akhir tetap dgn melihat hilal,
    Seandainya hisab itu baik, tentu rasulullah sudah menggunakannya, tentu para sahabat duluan yg mengamalkannya lebih dulu dari kita,
    Imam yang 4 saja tdk menggunakan hisab, hisab baru dipakai jauh sekali dari jaman rasulullah, bahkan mungkin di indonesia saja, tolong kalau anda bisa memberitahu, siapa ulama yang menerapkan hisab dalam penentuan puasa ini, tdk dgn rukyatul hilal,..

  44. Roma Hermawan
    Juni 5, 2013 pukul 5:01 pm

    Pak Admin yg terhormat, Tahlilan adalah merupakan majelis dzikir, hanya setan saja yg takut dan tdk menyukainya.
    Satu pertanyaan yg belum anda jawab, dan tolong di jawab
    Adakah waktu-waktu tertentu yang di haramkan seseorang berzikir dan berdoa kpd Allah S.W.T? Jika ada tolong sebutkan dan jelaskan.

    Terimakasih mas, kalau ibadah itu dalilnya bukan larangan mas, tapi perintah, contoh shalat puasa,zakat,haji, itu semua dalil perintah, bukan dalil larangang, sebab hukum asal ibadah adalah haram, terlarang sebelum ada dalil yang memerintahkannya,.
    Makanya kewajiban org yg tahlilan setelah kematian di hari ke 7,10, dst, wajib mendatangkan dalil tentang perintah tahlilan tsb, bukan dalil tentang dzikir dgn kalimat tahlil, silahkan mas, datangkan satu dalil saja, ada hadiah menarik buat anda, bahkan ada yang menawarkan hadiah SEBUAH RUMAH SIAP HUNI, bagi yg bisa mendatangkan satu dalil saja, silahkan ikuti KUIS TAHLILAN disini, silahkan dibaca ketentuannya disini

    Oh iya bang Roma, jika anda berdalil dengan dalil diharamkannya berdzikir di waktu2 tertentu, saya tanya kepada anda, bolehkah kita shalat maghrib diwaktu siang hari, atau shalat dzuhur di malam hari? kan itu tidak ada dalil yang melarangnya, tidak ada dalil Allah mengharamkan shalat dzuhur atau maghrib dikerjakan diwaktu tersebut, yang ada dalil Allah menyuruh shalat pada waktunya, atau kita tambah rakaat shalat maghrib menjadi 5 rakaat, .. kan bertambahnya rakaat itu mungkin dianggap baik oleh manusia, karena menunjukan kecintaan kita kepada Allah sehingga menambah jumlah rakaatnya, kurang mantep kalau cuma 3 rakaat,. begitu boleh ngga bang??

    Kemudian masalah bidah, coba anda perhatikan

    قد قال رسول الله (صلى الله عليه و سلم ) لبلال بن الحرث رضي الله عنه: يا بلال من أحيا سنة من سنتي قد أميتت من بعدي، كان له من الاجر مثل من عمل بها، لا ينقص من أجورهم شيئا.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Bilal bin al Harts, “Wahai Bilal, siapa saja yang menghidupkan salah satu sunahku yang telah mati sepeninggalku maka baginya pahala semisal dengan pahala semua orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka.

    Nah, itu dalil yang sangat jelas bang, kita menghidupkan sunnah yang tidak dikerjakan lagi , dan itu pula yg dilakukan umar sepeninggal rasulullah, menghidupkan shalat tarawih berjamaah dengan satu imam, itu salah satu contohnya bang, tapi aneh, para penggandrung amalan bidah malah berdalil dengan perbuatan umar bin khattab dalam melakukan amalan bidah mereka,.. lucu ya?

    ومن ابتدع بدعة ضلالة لا يرضاها الله ورسوله، كان عليه مثل من عمل بها، لا ينقص من أوزارهم شيئا.

    Sebaliknya siapa saja yang membuat bid’ah yang sesat yang tidak diridhai oleh Allah dan rasul-Nya maka dia akan menanggung dosa semisal dosa semua orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun”.

    coba anda perhatikan kalimat
    “siapa saja yang membuat bid`ah yang sesat yang tidak di ridhai Allah dan rasul-Nya maka dia akan menanggung dosa”
    Barangkali anak kecilpun tau arti dari kalimat tersebut, jika tidak ada bid`ah hasanah maka kalimatnya akan cukup seperti ini “siapa saja yang membuat bid`ah maka dia akan menanggung dosa”

    Nah, harusnya dalil diatas membuat para pelaku bidah, apalagi pelopornya itu merasa takut dan ngeri melihat ancaman rasulullah dalam dalil tersebut, yaitu “maka dia akan menanggung dosa semisal dosa semua orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun”.
    Ngeri toh bang,..

    Silahkan baca bang, dampak dari bidah, ngeri lho bang, silahkan baca disini

    jika keseluruhan bid`ah itu sesat maka kalimatnya cukup “BID`AH” dan bukan “BID`AH YANG SESAT” jika ada bid`ah yang sesat maka sudah pasti ada bid`ah yang tidak sesat
    Sedangkan yg di maksud Rosulullah S.A.W semua bid`ah adalah sesat adalah perbuatan tercela yg tidak akan mungkin Rosulullah mencontohkannya.

    Nah, tuh pinter bang, bidah yang sesat itu adalah perbuatan tercela yg tidak akan mungkin Rasulullah mencontohkannya,.
    Apakah tahlil itu tercela?? mungkin itu pertanyaan anda, bukan tahlilnya yang tercela, tapi orang yang salah dalam melakukan amalan tahlil tersebut,. sebagaimana jika ada orang shalat maghrib dikerjakan di waktu siang hari, walaupun dengan jumlah rakaat yang sama, yaitu 3 rakaat, dengan tatacara shalat yang diajarkan oleh rasulullah dari takbir hingga salam, apakah shalat maghribnya diterima??
    Silahkan jawab sendiri bang,.. demikian pula dengan tahlilan,.
    Apakah rasulullah melakukan tahlil setelah kematian, dihari ke 7,10, dst??

    Kalau ada dalilnya, saya juga mau tahlilan bang, akan saya posting diblog saya anjuran melakukan tahlilan setelah kematian,.. silahkan bang datangkan dalilnya, satu saja tidak usah banyak-banyak..

    Amalan yang sangat terpuji, bisa mencelakakan pelakunya jika dilakukan tidak sesuai contoh yang diajarkan rasulullah, bahkan dengan amalan tersebut penyebab kita dihalangi dari taubat, diusir dari telaga rasulullah,. bahkan menjadikan amalan yg kita lakukan dengan susah payah tidak bernilai disisi Allah,.. mau bang?

    HENDAKNYA PARA PELAKU BIDAH TAKUT DENGAN ANCAMAN RASULULLAH,
    pelaku bid’ah terhalangi untuk bertaubat selama dia terus menerus dalam bid’ahnya. Oleh karena itu, ditakutkan dia akan mengalami su’ul khotimah

    Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    إِنَ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ

    “Allah betul-betul akan menghalangi setiap pelaku bid’ah untuk bertaubat sampai dia meninggalkan bid’ahnya.” (HR. Thabrani. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 54)

    SILAHKAN LIHAT DAN DENGARKAN NASEHAT DALAM VIDEO DURASI 7 MENIT INI,. bagus bang,

  45. Roma Hermawan
    Juni 6, 2013 pukul 4:55 pm

    Hehehe… ok, kalau anda tak bisa menjelaskan waktu-waktu yg di larang untuk berdo`a, sekarang saya balik pertanyaannya, kapan waktunya seseorang di perbolehkan untuk berdoa dan berzikir di luar shalat 5 waktu?

    Jika ada yang meniatkan menghatamkan bacaan Alqur`an setiap 10 hari 30 juz apa itu bid`ah sesat juga lantaran tidak ada dalil yang memerintahkan menghatamkan bacaan Alqur`an setiap 10 hari 30 juz?

    Berdoa kapan saja, dimana saja, tidak dikait2kan dengan hari kematian seseorang, tidak di hari ke 7,10,dst,. KOK MAU DOA SAJA PELIT? doakanlah setiap hari, dalam shalat kita, bukan dengan ritual2 yg tidak jelas contohnya dari rasulullah,

    Alasan anda mengatakan tahlilan sesat adalah karna anda menganggap tahlilan itu bid`ah, karena anda hanya menganggap tidak ada bid`ah hasanah dan bid`ah sayyi`ah, yg ada hanya bid`ah sesat saja.
    “siapa saja yang membuat bid`ah yang sesat yang tidak di ridhai Allah dan rasul-Nya maka dia akan menanggung dosa”
    Kalimat di atas menunjukkan bahwa ada bid`ah lain selain bid`ah yang sesat,
    Jika tidak ada bid`ah hasanah maka kalimatnya akan cukup seperti ini “siapa saja yang membuat bid`ah maka dia akan menanggung dosa”

    Kalau ada contohnya dari rasulullah bukan bidah namanya toh mas,.. seperti apa yg dilakukan umar bin khattab menghidupkan shalat tarawih berjamaah dengan satu imam, kan itu diajarkan oleh rasulullah, sementara dijaman umar kaum muslimin shalat tarawih berpencar-pencar, bukan satu imam,

    Kemudian anda juga kurang tepat dalam mengartikan perkataan imam Syafi`i, beliau mengatakan melarang berkumpul-kumpul di tempat keluarga si mayyit bukan mengatakan melarang orang mengadakan majlis zikir di tempat keluarga si mayyit.

    Bukan kumpul2nya saja yg dipermasalahkan, kumpul2 saja ditempat keluarga si mayit dibenci, apalagi ditambah ada ritual2 lain dalam kumpul-kumpul tersebut, ini lebih buruk lagi

    o iya pak, sy sempat baca tulisan anda menjawab salah satu komentar dengan mengatakan orang yang tidak ikut tahlilan di cemo`oh oleh orang2 yg tahlilan, itu fitnah namanya, apa bukan justru sebaliknya? contohnya tak usah jauh-jauh, yaitu anda sendiri.

    Silahkan dicopas disini dong mas, mana saya mencela pelaku bidah tahlilan ini, kalau saya mencela semua perbuatan bidah, IYA , betul,.. TAPI kalau saya mencela para pelaku secara person, maka, tunjukanlah bukti anda, COPAS SAJA pernyataan saya tersebut,.

    sama saja saya mengatakan begini mas, saya membenci perbuatan orang islam yang tidak mengerjakan shalat, saya mencela perbuatan orang islam yang suka bermaksiat,. apakah itu sama dengan saya membenci ORANGNYA? tolong dipahami,. jangan pakai logika ngawur,.seperti kata2 anda diatas,

  46. Roma Hermawan
    Juni 6, 2013 pukul 5:13 pm

    Oiya pak, bukannya saya sdah kasih dalilnya di atas?
    Jika niat seseorang mencari borok maka sudah pasti yg di perhatikan hanya yg di anggap borok saja, yg lain tak ada urusan yg penting boroknya, iya ndak pak?

    Oh itu dalilnya yah, sekarang saya tanya mas, para sahabat tentu paling tahu dari kita bukan tentang dalil diatas?
    NAH, sekarang bagiamana praktek para sahabat tentang dalil diatas? apakah mereka melakukan ritual tahlilan di hari ke 7,10, dst???
    Kalau mereka saja yang lebih tahu, bahkan mendengar langsung dari rasulullah tidak melakukan ritual tahlilan di hari ke 7,10 dst,. lalu kenapa anda atau sebagian kaum muslimin di indonesia dan sekitarnya melakukan ritual tahlilan tsb?? LHA KOK LUCU sih mas,.

  47. amin
    Juli 14, 2013 pukul 6:46 am

    bang roma mdh2an sdh mendaptkan hidayah dr dialog yg sangt alot tsb, krn beliau sdh diberikan jalan termdh dgn blog ini.. amiin

    Amiin,..

  1. No trackbacks yet.

Silahkan tulis komentar anda,.. surel diisi dgn email, nama diisi dengan nama anda ,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.557 pengikut lainnya.