Beranda > Belajar Nasehat, khawarij > Mengapa Mudah Mengkafirkan Pemerintah?

Mengapa Mudah Mengkafirkan Pemerintah?


Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta ulil amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Hal itu adalah yang terbaik untuk kalian dan paling bagus dampaknya.” (QS. an-Nisaa’: 59)

Ayat yang mulia ini mengandung pelajaran:

  1. Terdapat perbedaan penafsiran mengenai makna ulil amri. Abu Hurairah radhiyallahu’anhu sebagaima diriwayatkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari dengan sanad sahih, beliau berkata, “Mereka -yaitu ulil amri- adalah para pemimpin/pemerintah.” Penafsiran serupa juga diriwayatkan dari Maimun bin Mihran dan yang lainnya. Sedangkan Jabir bin Abdullah berkata bahwa mereka itu adalah para ulama dan pemilik kebaikan. Mujahid, Atha’, al-Hasan, dan Abul Aliyah mengatakan bahwa yang dimaksud adalah para ulama. Mujahid juga mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah para sahabat. Pendapat yang dikuatkan oleh Imam asy-Syafi’i adalah pendapat pertama, yaitu maksud ulil amri adalah para pemimpin/pemerintah (lihat Fath al-Bari [8/106] pdf). Oleh sebab itu an-Nawawi rahimahullah membuat judul bab untuk hadits Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma mengenai tafsir ayat ini dengan judul ‘Kewajiban taat kepada pemerintah selama bukan dalam kemaksiatan dan diharamkannya hal itu dalam perbuatan maksiat’. Kemudian beliau menukilkan ijma’/konsensus para ulama tentang wajibnya hal itu (lihat Syarh Muslim [6/467]). Adapun pendapat yang dikuatkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa kandungan ayat ini mencakup kedua kelompok tersebut; yaitu ulama maupun umara/pemerintah. Dikarenakan kedua penafsiran ini sama-sama terbukti sahih dari para sahabat (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [2/235 dan 238] pdf)
  2. Wajibnya menaati pemerintah muslim selama bukan dalam rangka maksiat. Hal ini sebagaimana telah ditegaskan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau bersabda, “Wajib atasmu untuk mendengar dan taat, dalam kondisi susah maupun mudah, dalam keadaan semangat ataupun dalam keadaan tidak menyenangkan, atau bahkan ketika mereka itu lebih mengutamakan kepentingan diri mereka di atas kepentinganmu.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [6/469])
  3. Ketaatan kepada pemerintah muslim ini dibatasi dalam hal ketaatan/perkara ma’ruf saja, sedangkan dalam perkara maksiat maka tidak diperbolehkan. Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wajib atas setiap individu muslim untuk selalu mendengar dan patuh dalam apa yang dia sukai ataupun yang tidak disukainya, kecuali apabila dia diperintahkan untuk melakukan maksiat. Maka apabila dia diperintahkan untuk melakukan maksiat maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh patuh.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [6/470]). Demikian juga hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada ketaatan dalam rangka bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara ma’ruf.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [6/471])
  4. Kewajiban untuk mendengar dan taat kepada pemerintah muslim ini juga dibatasi selama tidak tampak dari mereka kekufuran yang nyata. Apabila mereka melakukan kekufuran yang nyata maka wajib untuk mengingkarinya dan menyampaikan kebenaran kepada mereka. Adapun memberontak atau memeranginya -sezalim atau sefasik apapun mereka- maka tidak boleh selama dia masih muslim/tidak kafir (lihat Syarh Muslim [6/472-473], Fath al-Bari [13/11]). Dalilnya adalah hadits Ubadah bin Shamit radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kecuali apabila kalian melihat kekafiran yang nyata dan kalian memiliki bukti kuat dari sisi Allah atas kesalahannya itu.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [6/473]). al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan ‘kalian memiliki bukti kuat dari sisi Allah atas kesalahannya itu’ adalah adanya dalil tegas dari ayat atau hadits sahih yang tidak menerima ta’wil. Konsekuensinya, tidak boleh memberontak kepada mereka apabila perbuatan mereka itu masih mengandung kemungkinan ta’wil.” (Fath al-Bari [13/10]). Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “… kecuali apabila kaum muslimin telah melihat kekafiran yang nyata yang mereka memiliki bukti kuat dari sisi Allah tentangnya, maka tidak mengapa melakukan pemberontakan kepada penguasa ini untuk menyingkirkannya dengan syarat apabila mereka mempunyai kemampuan yang memadai. Adapun apabila mereka tidak memiliki kemampuan itu maka janganlah mereka memberontak. Atau apabila terjadi pemberontakan maka -diduga kuat- akan timbul kerusakan yang lebih dominan, maka mereka tidak boleh memberontak demi memelihara kemaslahatan masyarakat luas. Hal ini berdasarkan kaidah syari’at yang telah disepakati menyatakan bahwa; ‘tidak boleh menghilangkan keburukan dengan sesuatu yang -menimbukkan akibat- lebih buruk dari keburukan semula, akan tetapi wajib menolak keburukan itu dengan sesuatu yang benar-benar bisa menyingkirkannya atau -minimal- meringankannya.’…” (al-Ma’lum Min Wajib al-’Alaqah baina al-Hakim wa al-Mahkum, hal. 9-10)
  5. Wajib bagi orang-orang yang mampu -dari kalangan ulama atau yang lainnya- untuk menasehati penguasa muslim yang melakukan penyimpangan dari hukum Allah dan Rasul-Nya. Namun hal itu -menasehati penguasa- dilakukan tanpa menyebarluaskan aib-aib mereka di muka umum. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Iyadh bin bin Ghunm radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa maka janganlah dia menampak hal itu secara terang-terangan/di muka umum, akan tetapi hendaknya dia memegang tangannya seraya menyendiri bersamanya -lalu menasehatinya secara sembunyi-. Apabila dia menerima nasehatnya maka itulah -yang diharapkan-, dan apabila dia tidak mau maka sesungguhnya dia telah menunaikan kewajiban dirinya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi ‘Ashim dengan sanad sahih, lihat al-Ma’lum, hal. 23, lihat juga perkataan asy-Syaukani dalam kitabnya as-Sail al-Jarar yang dikutip dalam kitab ini hal. 44).
  6. Wajibnya bersabar dalam menghadapi penguasa muslim yang zalim kepada rakyatnya. Dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan ada para pemimpin/penguasa setelahku yang mengikuti petunjuk bukan dengan petunjukku dan menjalankan sunnah namun bukan sunnahku. Dan akan ada di antara mereka orang-orang yang memiliki hati laksana hati syaitan yang bersemayam di dalam raga manusia.” Maka Hudzaifah pun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kulakukan jika aku menjumpainya?” Beliau menjawab, “Kamu harus tetap mendengar dan taat kepada pemimpin itu, walaupun punggungmu harus dipukul dan hartamu diambil. Tetaplah mendengar dan taat.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [6/480]). Dari Ummu Salamah radhiyallahu’anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan muncul para penguasa yang kalian mengenali mereka namun kalian mengingkari -kekeliruan mereka-. Barangsiapa yang mengetahuinya maka harus berlepas diri -dengan hatinya- dari kemungkaran itu. Dan barangsiapa yang mengingkarinya -minimal dengan hatinya, pent- maka dia akan selamat. Akan tetapi yang berdosa adalah orang yang meridhainya dan tetap menuruti kekeliruannya.” Mereka -para sahabat- bertanya, Apakah tidak sebaiknya kami memerangi mereka?. Maka beliau menjawab, “Jangan, selama mereka masih menjalankan sholat.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [6/485]). Faedah: an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Di dalam hadits ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa orang yang tidak mampu melenyapkan kemungkaran tidak berdosa semata-mata karena dia tinggal diam, akan tetapi yang berdosa adalah apabila dia meridhai kemungkaran itu atau tidak membencinya dengan hatinya, atau dia justru mengikuti kemungkarannya.” (Syarh Muslim [6/485])

Mudah Mengkafirkan Pemerintah

Sebagian orang terjerumus dalam kesalahan dalam menyikapi penguasa muslim yang melakukan kekeliruan. Mereka menganggap demokrasi adalah haram, bahkan termasuk kemusyrikan. Karena di dalam konsep demokrasi rakyat menjadi sumber hukum dan kekuasaan ditentukan oleh mayoritas. Di satu sisi mereka telah benar yaitu mengingkari demokrasi yang hal itu termasuk dalam bentuk kekafiran dan kemusyrikan, penjelasan lebih lengkap bisa dibaca dalam kitab Tanwir azh-Zhulumat karya Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Imam -hafizhahullah-. Namun, di sisi lain mereka telah melakukan kekeliruan yang sangat besar yaitu serampangan dalam menjatuhkan vonis kafir kepada orang. Biasanya mereka berdalil dengan ayat (yang artinya), “Barangsiapa yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (QS. al-Ma’idah: 44). Anggaplah demikian, bahwa mereka -yaitu pemerintah- telah berhukum dengan selain hukum Allah -meskipun sebenarnya pernyataan ini harus dikaji lebih dalam-, namun ada satu hal penting yang perlu diingat -dan perkara inilah yang mereka lalaikan- bahwa tidak semua orang yang berhukum dengan selain hukum Allah itu dihukumi kafir! Mereka juga berdalih dengan ucapan para ulama yang menyatakan ’setiap orang yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah maka dia adalah thaghut’ (lihat al-Qaul al-Mufid [2/74]). Berdasarkan itulah mereka menyebut pemerintah negeri ini sebagai rezim thaghut dan kafir.Kemudian, sebagai imbas dari keyakinan tersebut mereka pun mencaci-maki penguasa dan menuduh orang-orang yang menyerukan ketaatan kepada penguasa sebagai kelompok penjilat -sebagaimana tuduhan itu juga ditujukan kepada saya-, bahkan mereka pun tidak segan-segan menggelari para ulama dengan julukan ulama salathin, alias kaki tangan pemerintah, Allahul musta’aan.

Maka untuk menjawab kerancuan ini -dengan memohon taufik dari Allah- berikut ini kami ringkaskan penjelasan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ketika menjelaskan isi Kitab at-Tauhid:

Yang dimaksud dengan berhukum dengan selain hukum Allah yang dihukumi kafir dan murtad -sehingga layak untuk disebut sebagai thaghut- adalah dalam tiga keadaan:

[1] Apabila dia meyakini bahwa berhukum dengan selain hukum Allah -yang bertentangan dengan hukum Allah- itu boleh, seperti contohnya: meyakini bahwa zina dan khamr itu halal.

[2] Apabila dia meyakini bahwa selain hukum Allah itu sama saja (sama baiknya) dengan hukum Allah.

[3] Apabila dia meyakini bahwa selain hukum Allah lebih bagus daripada hukum Allah.

Lalu, dia bisa dihukumi zalim -yang tidak sampai kafir- apabila dia masih meyakini hukum Allah lebih bagus dan wajib diterapkan namun karena kebenciannya kepada orang yang menjadi objek hukum maka dia pun menerapkan selain hukum Allah. Demikian juga ia dikatakan fasik -yang tidak kafir- apabila dia menggunakan selain hukum Allah dengan keyakinan bahwa hukum Allah yang benar, namun dia melakukan hal itu -berhukum dengan selain hukum Allah- karena faktor dorongan hawa nafsu, suap, nepotisme dsb. Kemudian beliau juga menjelaskan bahwa tindakan orang yang mengganti syari’at dengan undang-undang buatan manusia dapat dikategorikan sebagai bentuk kekafiran akbar -yang saya dengar dari ceramah Syaikh Abdul Aziz ar-Rays beliau telah rujuk dari pendapat ini sebelum wafatnya-. Meskipun demikian, orang yang memberlakukan undang-undang ini tidak serta merta dikafirkan. Seperti misalnya, apabila dia menyangka bahwa sistem yang diberlakukannya itu tidak bertentangan dengan Islam, atau dia menyangka bahwa hal itu termasuk urusan yang diserahkan oleh Islam kepada manusia, atau dia tidak mengetahui bahwa apa yang dilakukannya itu termasuk kekafiran (lihat al-Qaul al-Mufid [2/68-69 dan 71]).

Dengan menyimak keterangan beliau di atas jelaslah bagi kita bahwa tindakan sebagian orang yang dengan mudahnya mengkafirkan penguasa negeri ini -semoga Allah membimbing mereka- serta menjuluki mereka sebagai rezim thaghut adalah sebuah tindakan serampangan dan tidak dibangun di atas ilmu yang benar. Bahkan, kalau diteliti lebih jauh ternyata mereka itu telah terjangkiti virus pemikiran Khawarij gaya baru yang menebar kekacauan berkedok jihad, subhanallah.

Takfir, Bukan Masalah Ringan!

Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang mengkafirkan saudaranya maka sungguh tuduhannya itu akan kembali terarah kepada salah seorang di antara mereka berdua.” Dalam sebagian riwayat disebutkan, “Apabila sebagaimana apa yang dia katakan -maka dia tidak bersalah- akan tetapi apabila tidak sebagaimana yang dia tuduh maka tuduhan itu justru kembali kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [2/126-127] dan Shahih Bukhari, hal. 1254)

Maksud dari ‘tuduhan itu justru kembali kepadanya’ adalah sebagaimana yang diterangkan oleh al-’Aini rahimahullah, yaitu, “Apa yang diucapkannya justru terarah kepada dirinya sendiri, karena orang yang dia kafirkan ternyata benar imannya (tidak kafir).” Sehingga maknanya adalah kalau tuduhannya itu tidak terbukti kebenarannya maka sesungguhnya dia telah mengkafirkan dirinya sendiri (lihat ‘Umdat al-Qari [22/245] pdf)

Syaikh Dr. Nashir bin Abdul Karim al-’Aql berkata, “Takfir/penjatuhan vonis kafir adalah perkara yang diatur dalam hukum syari’at acuannya adalah al-Kitab dan as-Sunnah. Maka tidak boleh mengkafirkan seorang muslim karena ucapan atau perbuatannya selama dalil syari’at tidak menunjukkan atas kekafirannya. Dengan disebutkannya istilah hukum kafir -secara umum- atas suatu ucapan atau perbuatan itu tidak secara otomatis menunjukkan jatuhnya vonis kafir tersebut -secara khusus- kepada orang tertentu -yaitu pelakunya- kecuali apabila syarat-syarat -pengkafiran- itu sudah terpenuhi dan penghalang-penghalangnya tersingkirkan. Takfir merupakan hukum yang sangat berbahaya resikonya, oleh sebab itu wajib meneliti segalanya/tatsabbut dan berhati-hati di dalam menjatuhkan vonis kafir ini kepada seorang muslim.” (Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama’ah fil ‘Aqidah, hal. 19 pdf)

Berikut ini ada beberapa catatan penting seputar takfir yang semestinya diperhatikan:

  1. Pedoman dan tempat rujukan dalam hal takfir ini adalah Allah dan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam (yaitu al-Kitab dan as-Sunnah)
  2. Orang yang terbukti keislamannya dengan meyakinkan maka keislamannya itu tidak lenyap darinya kecuali dengan bukti yang meyakinkan pula
  3. Tidak setiap ucapan atau perbuatan -yang disebut oleh dalil sebagai bentuk kekafiran- menjadi kekafiran besar yang mengeluarkan dari agama. Sebab kekafiran itu ada dua macam: kufur asghar dan kufur akbar. Maka menerapkan hukum terhadap ucapan atau perbuatan tersebut hanya bisa dilakukan dengan mengikuti metode ulama Ahlus Sunnah dan aturan-aturan yang telah mereka terangkan
  4. Tidak boleh menjatuhkan hukum takfir kepada seorang muslim pun kecuali orang yang ditunjukkan dengan jelas dan gamblang mengenai kekafirannya oleh dalil al-Kitab dan as-Sunnah, sehingga dalam hal ini tidak cukup berlandaskan kepada syubhat/perkara yang masih samar ataupun sekedar zhann/dugaan
  5. Terkadang disebutkan di dalam al-Kitab ataupun as-Sunnah sesuatu yang dipahami bahwa ucapan, perbuatan, atau keyakinan tertentu sebagai kekafiran. Maka tidak boleh semata-mata berdasarkan hal itu kemudian dengan serta merta menjatuhkan vonis kafir kepada seseorang kecuali apabila telah ditegakkan hujjah kepadanya: yaitu dengan terpenuhinya syarat-syarat -dalam keadaan dia mengetahui, sengaja, dan atas dasar pilihannya sendiri- dan juga dengan hilangnya penghalang-penghalang -untuk dikafirkan- yaitu perkara-perkara yang menjadi lawan dari syarat-syarat tersebut (artinya; dia tidak jahil, dalam keadaan sadar, dan tidak terpaksa) (lihat lebih lengkap dalam Mujmal Masa’il al-Iman al-’Ilmiyah fi Ushul al-’Aqidah as-Salafiyah, hal. 17-18). Allahul musta’aan

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel www.muslim.or.id

  1. Rahmat Bangun
    Maret 29, 2013 pukul 1:47 pm

    iya ustadz benar sekali bahkan subhanallah walhamdulillah negara kita ini negara muslim terbesar di dunia,tapi lucunya di negara muslim terbesar di dunia ini malah hukum islam belum tegak.. :)

    Wah, terimakasih mas,.
    Kata siapa hukum islam tidak tegak di indonesia?
    Justru hukum2 islam yg besar2 tegak di indonesia,. apa syiar islam yg besar tersebut.. contoh, Adzan shalat, ada dimana2 , jika di negara kafir suara adzan tdk boleh terdengar keluar masjid,. di indonesia adzan bersaut2an terdengar, bahkan dengan bidah2nya,.
    Shalat berjamaah di masjid , shalat jumat, shalat idul fitri dan idul adha,..
    Puasa ramadhan, zakat, ibadah haji,. pemerintah ikut mengaturnya,.menetapkannya,..
    Cara nikah,, cara mengurusi jenazah, cara waris, semua cara islam,.

    apakah hal diatas itu bukan hukum islam?? hanya orang yg bodoh saja mungkin yg mengatakan semua hal tsb bukan hukum islam,.

    Jadi, janganlah kita berpikiran sempit, picik, hanya karena tidak mempraktekkan hukum potong tangan, rejam, lalu dikatakan negara ini tdk berhukum dgn hukum islam,..
    Syariat islam sudah tegak di indonesia, walaupun tdk seluruhnya, tapi sebagian besar sudah tegak,.

    mari ustadz persiapkan diri kita baik mental maupun kekuatan,siapkan senjata siapa tau kaum syiah menyerang kaum sunni di Indonesia,dari pada kita di bantai tanpa melakukan perlawanan kan lebih baik kita di bantai tapi melakukan perlawanan.. hehehe.. :)

    Mempersiapkan diri dari serangan musuh islam, itu wajib, tapi melakukan tindakan penyerangan, maka wajib dibawah pimpinan kepala negara, bukan bertindak sendiri2,.

    masalah orang yang suka memberontak dan mencaci maki ulil amri semoga Allah menunjukkan hidayahnya kepada mereka dan kita semua..

    amiin

    syukron.
    wassalaamu’alaikum warahmatullah..
    afwan,..

    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Apakah negara yg tidak berhukum dengan hukum islam itu lantas disebut negara kafir?? baca disini ulasannya

    • Rahmat Bangun
      Maret 31, 2013 pukul 10:51 pm

      terimakasih ustadz bagus sekali komentarnya :)
      hukum islam itu jangan setengah-setengah,apakah sesuatu hal itu akan menjadi baik jika di lakukan dengan setengah-setengah,islam kok setengah-setengah?kalo setengah-setengah tuh jadi banyak koruptor,pembunuh,pezina,perampok,maksiat,apa mereka bukan orang islam.biasanya yang melakukan hal yang setengah-setengah itu orang munafik hehe..

      Mempersiapkan diri dari serangan musuh islam, itu wajib, tapi melakukan tindakan penyerangan, maka wajib dibawah pimpinan kepala negara, bukan bertindak sendiri2,.

      benar sekali ustadz tapi kalo pemimpinnya seorang pluralisme tidak akan ada jihad,kecuali kita mempersiapkan diri kita sendiri dari serangan musuh,jangan sampai kejadian poso ambon dll terjadi kembali,meraka di bantai tapi tidak bisa melawan..

      masalah khawarij na’udzubillahimindzalik ustadz,jangan sampai seperti mereka..

      Jika ada pembantaian dalam suatu negara , dan penguasa tidak mengatasinya, itu tanggung jawab penguasa dihadapan Allah kelak,.kita tidak boleh bergerak sendiri tanpa seiji penguasa,. beda lagi urusannya jika kita sendiri di serang, maka boleh membela diri,.

      Perlu diingat pula, pemimpin itu cerminan dari rakyatnya,. pemimpin akan baik jika rakyatnya baik, dan pemimpin akan jelek jika rakyatnya juga jelek,. tidak paham ajaran agama yg benar, maka pimpinan yg dipilihpun tdk jauh dari sifa rakyatnya,.

  2. Rahmat Bangun
    Maret 24, 2013 pukul 3:43 am

    bagaimana sikap kita APABILA,MISALKAN lho ini pemimpin kita seorang pluralisme?
    dan bagaimana sikap kita seharusnya terhadap kaum kafir dan murtadin menurut ajaran Rasulullah..?

    sikap kita, kita wajib taat kepada penguasa tersebut, dan tidak wajib mentaati kemaksiatan yg diperintahkan oleh pemimpin tsb,
    Sikap kepada orang kafir, kita wajib menaruh kebencian, berlepas diri kepada org kafir,.. benci, bukan berarti memusuhi,. memerangi mereka, bukan itu, tapi tdk boleh ada di hati kita rasa cinta kepada mereka,. tapi doakanlah mereka agar mndapat hidayah dan masuk ke dalam islam,. berbuat baiklah agar hati mereka melunak dan menerima islam,

    sikap terhadap murtadin, nasehatilah dgn cara yg baik, dan jika tetap murtad, maka berlaku sebagaimana org kafir, bahkan jika ada hukum islam, org murtad jika tdk mau bertobat, maka dihukum bunuh, dan yg melakukan adalah penguasa islam, bukan perorangan

    • Rahmat Bangun
      Maret 26, 2013 pukul 10:31 am

      bukankah seorang muslim di larang untuk mendoakan orang musyrik?

      terimakasih mas rahmat,
      Dilihat dulu mas, apakah orang musyrik itu masih hidup atau sudah mati, jika masih hidup, kita doakan agar mendapatkan hidayah, agar bertaubat,. tapi kalau sudah mati, kita tdk boleh mendoakan memintakan ampun kepada allah,. hubungannya dengan penguasa yg dzalim, kita doakan kebaikan utk penguasa,.

      • Rahmat Bangun
        Maret 27, 2013 pukul 10:12 am

        oo jadi begitu,kembali lagi kepada pemimpin okelah kita katakan saya tidak mencaci maki pemimpin pada umum dan saya tidak melakukan pemberontakkan saya ingin menanyakan bukankah hukum dan peraturan di indonesia adalh sesuatu yang haram?
        jadi mengapa kita taat kepada pemimpin jika hukumnya saja sudah haram?kan kita dilarang untuk melakukan sesuatu hal yang haram..

        yang saya takutkan adalah ketika pemimpin seperti sekarang terlalu banyak toleransi sehingga tidak menutup kemungkinan agama-agama sesat berkembang pesat di negri ini,contoh syiah di indonesia bukankah sudah banyak berkembang,nanti kalau tiba-tiba mereka membantai keluarga dan saudara kita gimana ustadz?
        afwan lho soalnya saya masih awam dengan hal ini saya cuma tidak ingin salah langkah..

        Mas rahmat, Indonesia adalah negara islam,
        Apa ciri2 negara islam?
        Syiar2 Islam yg besar2 tegak di indonesia ini, contoh Adzan, kita bisa mendengar adzan berkumandang dimana2, tidak seperti di negeri singapura,jepang dll yg adzan tdk boleh terdengar hingga keluar masjid suaranya

        Apakah negara yg tdk berhukum dengan hukum islam itu lantas disebut dengan negara kafir? baca ulasannya disini

        Hati-hati dengan pemahaman khawarij,…

  3. akimbo
    September 6, 2012 pukul 3:20 am

    apakah web VOA.juga termasuk web khawarij?

    Kalau melihat isi postingannya menjurus ke arah pemahaman khawarij, tidak usah membuka web tsb, juga web arrahmah.com , banyak kaum muslimin yg tertipu,..

  4. ana
    Agustus 28, 2012 pukul 3:19 am

    ” Kita tidak ridha terhadap demokrasi, itu pertama,
    Adapun jika pemimpin sudah terpilih, terserah apapun caranya,baik cara yang sesuai dengan ajaran islam, atau cara yang tidak sesuai dengan ajaran islam, maka kita wajb taat kepada pemimpin terpilih ”

    dari kutipan tulisan antum ini ada hal yg ingin saya sampaikan :
    1. jika sesuatu itu sudah tidak sesuai dengan ALLAH SWT DAN RASULNYA mengapa musti wajib untuk mengikutinya.
    2. mohon antum beritahukan kepada kami para pembaca bahwa ada dalil kewajiban untuk taat kepada pemimpin terpilih walopun pemimpin tersebut adalah orang non muslim dan terpilihnya tidak sesuai dengan AL QURAN DAN SUNAH RASUL (terpilihnya dengan cara cara bathil dan haram).

    Terimakasih atas komentarnya, Jazakallahu khairan, ini pertanyaan yg sangat bagus akhi,
    jawaban dari hal diatas, silahkan baca dengan baik dan teliti, dan jangan tergesa-gesa, agar jawaban tsb bisa bermanfaat buat anda dan pembaca semuanya,

    Renungkanlah hadits berikut yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan seakan-akan adalah nasehat terakhir beliau. Dari Abu Najih, Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan menjadikan air mata berlinang”. Kami (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan adalah nasihat dari orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِىٌّ

    “Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak) dari Habasyah” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

    Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab, sebagian ulama menyebutkan bahwa penyebutan budak Habasyah dalam hadits di atas adalah cuma permisalan saja, namun sebenarnya tidak mungkin seorang budak menjadi pemimpin (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 120). Artinya, meskipun seorang budak jadi pemimpin, maka kita tetap taat.

    Hadits yang menyebutkan penguasa zholim tetap wajib ditaati adalah hadits berikut ini.

    يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ ». قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ ».

    “Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “

    Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”

    Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka” (HR. Muslim no. 1847).

    Lihatlah bukankah yang disebutkan dalam hadits ini adalah pemimpin yang zholim? Sampai ia menyiksa rakyatnya sendiri, sampai memukul dan mengambil harta, ini jelas zholim. Namun lihatlah apa kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka”.

    Subhanallah … Ternyata prinsip yang satu ini sering tidak diindahkan oleh kaum muslimin.

    Lihatlah prinsip yang diajarkan oleh Ahlus Sunnah sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ahmad berikut ini,

    والسمع والطاعة للأئمة وأمير المؤمنين البر والفاجر

    “Mendengar dan taatlah kepada penguasa dan amirul mukminin (pemimpin orang mukmin), baik mereka adalah pemimpin yang baik, maupun pemimpin yang fajir (pelaku maksiat yang zholim)” (Ushulus Sunnah, Imam Ahmad).

    Namun ketaatan kepada penguasa tidaklah mutlak, tidak harus taat selamanya. Mentaati mereka bersifat muqoyyad, yaitu hanya taat dalam yang ma’ruf, bukan perkara maksiat (Nasehat berharga yang kami simpulkan dari perkataan Syaikh ‘Ubaid Al Jabiri hafizhohullah dalam dauroh kitab Ushulus Sunnah di Riyadh KSA, 1-5 Jumadal Ula 1433).

    Kita dapat memahami hal di atas dari ayat,

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

    “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (QS. An Nisa’: 59). Para ulama menerangkan bahwa kata ulil amri (penguasa) dalam ayat ini tidak diulang dengan kata “أَطِيعُوا” (taatilah). Ini menunjukkan bahwa ketaatan pada penguasa itu ada selama bersesuaian dengan ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya.

    Juga dalam hadits disebutkan,

    لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ

    “Tidak ada kewajiban ta’at dalam rangka bermaksiat (kepada Allah). Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (bukan maksiat)” (HR. Bukhari no. 7257).

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

    عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ ، فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

    “Seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat” (HR. Bukhari no. 7144).

    ‘Ali bin Abi Tholib pernah berkata,

    إنَّ الناسَ لا يُصلحهم إلاَّ إمامٌ بَرٌّ أو فاجر ، إنْ كان فاجراً عبدَ المؤمنُ فيه ربَّه ، وحمل الفاجر فيها إلى أجله

    “Manusia tidaklah akan menjadi baik melainkan di bawah penguasa yang baik maupun fajir (zholim). Jika penguasa tersebut zholim, selama masih beriman, maka kezholimannya adalah urusan dia dengan Rabbnya” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya, 15: 328).

    Mudah2an bisa menjawab kedua pertanyaan anda wahai akhi,.. jazakallahu khairan

  5. ana
    Agustus 27, 2012 pukul 6:40 am

    Assalamualaikum wr. wb.

    Wa’alakumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    ana mo nanya gimana klo hasil demokrasi itu menghasilkan pemimpin bukan muslim..padahal di indonesia ini banyak kaum muslim, karena kaum muslim menganggap demokrasi itu di ingkari jadi para pemilihnya banyak dari kaum kafir kaum muslim tidak ikut memilih…jadi terpilihlah pemimpinya orang kafir…gimana menurut ilmu yg sudah antum pelajari…

    Kita tidak ridha terhadap demokrasi, itu pertama,
    Adapun jika pemimpin sudah terpilih, terserah apapun caranya,baik cara yang sesuai dengan ajaran islam, atau cara yang tidak sesuai dengan ajaran islam, maka kita wajb taat kepada pemimpin terpilih,

    Perlu anda ketahui pula, pemimpin itu cerminan dari rakyatnya,.. memang betul , islam di indonesia adalah terbesar di dunia, tapi perlu anda ketahui pula, orang-orang islam yang mengetahui ajaran islam dengan tidak benar, itu juga terbesar di seluruh dunia.
    Jumlah umat islam yang tidak shalat, mungkin terbesar pula di dunia,
    Shalat 5 waktu, itu wajib dikerjakan di masjid secara berjamaah, ini wajib bagi laki-laki muslim, silahkan anda lihat sendiri, bagaimana kondisi masjid2 kaum muslimin, ramai berjamaahnya hanya 1 pekan sekali,.. harusnya 5 waktu itu sama seperti shalat jumatnya,

    Dengan kondisi kaum muslimin seperti ini kita mimpi untuk menegakkan syariat islam?? mimpi kali ye??
    Apakah antum tahu, dalam syariat islam, apa hukuman bagi laki-laki muslim yg tidak shalat dimasjid 5 waktu secara berjamaah??
    Rasulullah sangat keras dalam hal ini, beliau ingin menggantikan imam bagi dirinya, lalu beliau ingin keluar sambil bawa kayu bakar, lalu ingin membakar rumah-rumah yang laki-lakinya tidak shalat jamaah ke masjid,.

    Orang yang tidak mau shalat dalam islam hukumannya adalah penggal kepala, jika ini diterapkan di indonesia, kira2 gimana akhi? ada jutaan kepala yang dipenggal,..

    makanya akhi, kewajiban kita adalah mendidik kaum muslimin agar mengenal agamanya,.. bukan memperjuangkan syariat islam atau khilafah,
    Sebab dengan kita mendidik kaum muslimin agar mengenal agamanya, maka dengan sendirinya syariat islam bisa tegak, walaupun kita tdk mengusahakannya,..

    o iya satu lagi pertanyaan ana..mengapa antum tidak menyuarakan supaya indonesia ini jadi negara islam…jadi syariat islam bisa dilaksanakan semaksimal mungkin….tidak setengah setengah seperti sekarang ini…bukankah dengan syariat islam yg di ajarkan rasulullah kita di indonesia sebagai kaum muslim terbesar/mayoritas bisa melindungi bukan saja kaum muslim tapi juga kaum non muslim…

    Sebelum menjawab pertanyaan antum,saya tanya antum, apa sih syariat islam terbesar dalam agama islam?? Jika antum bisa menjawab pertanyaan ana, maka akan ana jawab pertanyaan antum ini

    maaf satu lagi..gimana klo keputusan pemerintah itu berbeda dengan keputusan kebanyakan negara negara islam di dunia ..misalkan besok negara negara islam lainnya menentukan idul fitri, tapi negara kita menentukan idul fitri lusa…padahal kan haram hukum nya jika berpuasa pada saat idul fitri…(mungkin keputusan itu diambil karena suatu pemaksaan gengsi dari ormas terbesar di indonesia, karena merasa ormas terbesar jadi harus di ikuti pemerintah walopun keliru)

    Kita wajib mengikuti keputusan pemerintah setempat, dalam hal ini pemerintah indonesia, misalkan gini aja, malasyia idhul fitri sekarang, tapi negara indonesia besok, ya kita ikuti pemerintah indonesia,

    Jika pemerintah keliru dalam menentukan idhul fitri, itu tanggungjawab pemerintah dosanya, menanggung dosa seluruh rakyatnya, berat bukan? sedangkan rakyat tidak berdosa mengikuti putusan pemerintahnya, gitu aja kok repot,.. terserah apapun alasan pemerintah dalam menentukan putusan tsb, apakah menggunakan hilal atau hisab,karena tekanan ormas atau bukan,. no problem bagi rakyat sih, enak bukan menjadi rakyat?

    Jazakumullahu khairan atas komentar antum yg bagus ini

    wasalamualaikum wr wb.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

  6. juhaiman
    Agustus 22, 2012 pukul 11:45 pm

    ada banner diatas…….. arrahmah.com…VOA Islam.com web khawarij …. hati hati dengan statetmen diatas , kalau ternyata salah bukankah menjadi FITNAH ,,,, Apakah anda yakin 100 % mereka adalah kaum khawarij ?????
    Bukankan lebih baik diam kalau kita tidak meyakini sesuatu , bukankah itu lebih selamat ??.
    Saya yakin pemahaman anda tentang kaum khawarij … kaum yang menjadi anjing neraka kelak …( wah menjadi penghuni neraka saja sudah menjadi suatu kesialan .. apa lagi menjadi anjing neraka ??? ).

    perlu diketahui, itu bukan vonis kepada orang perorangnya,
    waspada terhadap website yang mengusung pemikiran khawarij, sudah diposting disini

  7. ibnu barz
    Maret 22, 2012 pukul 12:50 pm

    Oh gitu !qt dibolehkn memakai cr apapun pokoknya klu jd pemimpin qt hrs taati?

    Siapa yang membolehkan cara apapun tuk mengangkat pemimpin?
    Bukankah anda menanyakan sikap terhadap pemimpin yang terpilih, kita tidak meridhai cara-cara yang tidak syari dalam mengangkat penguasa, akan tetapi terhadap pemimpin yang sudah terpilih, maka kewajiban kaum muslimin adalah mentaatinya dalam hal perkara yg bukan maksiat,

    Contoh nyata, dalam islam, tidak boleh mengangkat pemimpin dari kalangan wanita,” akan tetapi jika sudah menjadi pemimpin, maka kewajiban kita tetap taat, bukan memberontak,
    bukan kita meridhai wanita sebagai pemimpin, karena ada larangan dari rasulullah tentang tidak bolehnya wanita menjadi pemimpin bagi laki-laki,.. ini perlu di camkan, jgn ambil kesimpulan sendiri, berarti boleh dong mengangkat wanita jadi pemimpin,.. bukan itu,.. kita bersikap, bagaimana jika pemimpin itu sudah terpilih,.. entah dengan cara syari atau tidak syari,…..
    BUKAN MENGANJURKAN CARA-CARA YANG TIDAK SYARI UNTUK MENGANGKAT PEMIMPIN,..

    berarti agama tdk mengajarkn cara memilih pemimpin dong?bg mana tentang tafsir ayat”athiulloha waathiurrosul waulil amri minkum”mnrut tafsir ibnu katsir ttg ulilamri minkum adl “orng 2 yg diangkat jadi pemimpin adl orng yg taat kpd alloh dn rosulnya”.
    Sedangkan menurut antum mengarah pada makna Ulil Amri Minhum: yang berarti ‘pemimpin yang diangkat dari mereka –maksudnya bukan dari kalangan orang-orang islam yang taat kepada Allah dan rosulnya.– Ini jelas bertentangan dengan apa yg dikehendaki oleh ayat.

    Semua yg terjadi saat ini, sudah rasulullah gambarkan jauh-jauh hari mas,.. tidakkah anda baca hadits,

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan ada para pemimpin/penguasa setelahku yang mengikuti petunjuk bukan dengan petunjukku dan menjalankan sunnah namun bukan sunnahku. Dan akan ada di antara mereka orang-orang yang memiliki hati laksana hati syaitan yang bersemayam di dalam raga manusia.” Maka Hudzaifah pun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kulakukan jika aku menjumpainya?” Beliau menjawab, “Kamu harus tetap mendengar dan taat kepada pemimpin itu, walaupun punggungmu harus dipukul dan hartamu diambil. Tetaplah mendengar dan taat.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [6/480]).

    Dari Ummu Salamah radhiyallahu’anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan muncul para penguasa yang kalian mengenali mereka namun kalian mengingkari -kekeliruan mereka-. Barangsiapa yang mengetahuinya maka harus berlepas diri -dengan hatinya- dari kemungkaran itu. Dan barangsiapa yang mengingkarinya -minimal dengan hatinya, pent- maka dia akan selamat. Akan tetapi yang berdosa adalah orang yang meridhainya dan tetap menuruti kekeliruannya.” Mereka -para sahabat- bertanya, “Apakah tidak sebaiknya kami memerangi mereka?”. Maka beliau menjawab, “Jangan, selama mereka masih menjalankan sholat.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [6/485]).

    Faedah: an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Di dalam hadits ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa orang yang tidak mampu melenyapkan kemungkaran tidak berdosa semata-mata karena dia tinggal diam, akan tetapi yang berdosa adalah apabila dia meridhai kemungkaran itu atau tidak membencinya dengan hatinya, atau dia justru mengikuti kemungkarannya.” (Syarh Muslim [6/485])

  8. ibnu barz
    Maret 10, 2012 pukul 10:25 am

    mau nanya?
    knpa ustadz salafy .mengatakan demokrasi adalah kesyirikan krn demokrasi menganggap bhw kebenaran berasal dr suara terbanyak dg kta lain “suara rakyat adl suara tuhan,”tp knapa kok hasil demokrasi diterima sbg pmimpin yg syah?

    dg dalil klu kta menolaknya akn menimbulkn krusakn yg lebih bsar!pdhal tdk ada kerusakn yg lebih besar dr pd kekafiran!jazakallohu khoir

    Kita mengingkari demokrasi, sebab itu bukan dari islam,bahkan sudah diingkari di negeri asal demokrasi tersebut, silahkan baca postingannya disini

    Sedangkan perintah Rasulullah untuk taat kepada penguasa yang terpilih, terlepas bagaimana cara pemilihan penguasa tersebut, sebab Rasulullah melarang untuk memberontak atau melawan terhadap penguasa,

    Secara kasarnya, misalkan ada pemerintah yang terpilih dengan cara kudeta, padahal kudeta adalah hal yang diharamkan di dalam islam, maka sikap kita terhadap pemerintah yang terpilih adalah wajib mentaatinya, selama bukan disuruh melakukan kemaksiatan terhadap Allah,

    Jadi bukan berarti mendukung kudeta, sebab kudeta perbuatan yang diharamkan

    Kewajiban untuk taat kepada pemerintah dalam hal yang bukan maksiat, silahkan baca disini

  1. No trackbacks yet.

Silahkan tulis komentar anda,.. surel diisi dgn email, nama diisi dengan nama anda ,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.515 pengikut lainnya.