Beranda > Belajar Nasehat, bidah > Apa Definisi Ibadah Mahdhah dan Ghaira Mahdhah? Banyak Yang Salah Memahami Istilah Ini

Apa Definisi Ibadah Mahdhah dan Ghaira Mahdhah? Banyak Yang Salah Memahami Istilah Ini


Dua Kaidah Penting Terkait Amal

Perbuatan manusia, secara umum, bisa kita bagi menjadi dua kategori:jadikan gerak dan diammu bernilai ibadah

Pertama: Ibadah mahdhah, alias “murni ibadah”. Inilah perbuatan yang dilakukan manusia dengan motivasi pokok: mendapatkan manfaat di akhirat, misalnya: salat, puasa ramadan, dan lain-lain.

Kedua: Ibadah ghair mahdhah atau “perkara non-ibadah”. Inilah segala hal yang dilakukan oleh manusia dengan motivasi pokok: mendapatkan manfaat duniawi, misalnya: jual beli, sewa-menyewa, dan lain-lain.

Masing-masing dari dua jenis tindakan manusia ini memiliki kaidah mendasar yang perlu diketahui oleh setiap muslim.

Untuk ibadah mahdhah, pada dasarnya, kita dilarang untuk melakukannya, kecuali jika terdapat dalil yang menunjukkan bahwa hal tersebut dituntunkan. Sehingga, siapa saja yang mengajak kita untuk melakukan suatu ibadah maka kita menuntutnya untuk membawakan bukti nyata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkannya.

Landasan kaidah ini adalah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عن عَائِشَةُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ  مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ  أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Dari Bunda Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang melakukan amal ibadah yang tidak kami ajarkan, maka amal ibadah tersebut adalah amal ibadah yang tertolak.” (HR. Muslim, no. 4590)

Hadits ini jelas menunjukkan terlarangnya melakukan amal ibadah yang tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga, tidak semua perkara yang dikatakan oleh orang-orang sebagai ibadah boleh kita telan mentah-mentah, namun kita perlu bersikap selektif. Jika memang ibadah semacam itu dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mari kita menjalankannya dengan penuh semangat. Akan tetapi, jika ternyata ibadah semacam itu tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka hendaknya–dengan penuh kelapangan dada–kita tinggalkan hal tersebut, meski hal tersebut adalah peninggalan leluhur yang sangat kita hormati atau pendapat kiai yang sangat kita kagumi.

Sebaliknya, dalam masalah non-ibadah, pada dasarnya, semua yang dilakukan manusia itu boleh dilakukan kecuali jika terdapat dalil yang melarangnya.

Sehingga, siapa saja yang melarang kita untuk melakukan perbuatan yang masuk dalam kategori non-ibadah maka kita menuntut dia untuk mendatangkan bukti bahwa ajaran Islam memang melarang untuk melakukannya.

Landasan kaidah ini adalah firman Allah,

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

Dialah yang menciptakan, untuk kalian semua, segala sesuatu yang ada di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah:29)

Jika Allah menciptakan semua yang ada di muka bumi ini untuk kita, maka pada dasarnya, kita  (manusia) diperbolehkan untuk mengolah semua hal yang ada di muka bumi untuk kepentingan kita, kecuali pengolahan yang dilarang oleh Allah sendiri.

Tidak ada satu pun permasalahan muamalah yang keluar dari kaidah ini–yaitu, dari hukum mubah berubah menjadi haram–kecuali karena ada hal terlarang di dalamnya, yang intinya adalah adanya pihak yang terzalimi, misalnya: karena di dalamnya terdapat praktik riba, adanya penipuan, dan adanya gharar (gambling) karena terdapat hal-hal yang tidak transparan. Pokok ketiga hal ini adalah: adanya pihak-pihak yang terzalimi.

Intinya, perkara muamalah yang diharamkan itu dilarang karena beberapa sebab. Sebab paling utama yang menyebabkan haramnya sebuah transaksi di bidang muamalah ada tiga:

1. Riba, dengan berbagai bentuknya.

2. Gharar.

3. Penipuan.

Rincian tentang tiga hal di atas akan kita bahas di kesempatan yang akan datang.

oleh: Ust. Aris Munandar, S.S., M.PI.
Artikel www.PengusahaMuslim.com

  1. Denmaz
    Desember 3, 2013 pukul 1:33 pm

    Mohon maaf, hanya ingin menggarisbawahi kalimat —“jika ternyata ibadah semacam itu tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka hendaknya–dengan penuh kelapangan dada–kita tinggalkan hal tersebut…dst”—-

    Bagaimana dengan hadits berikut :
    “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikit pun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim Bab Zakat dan Bab Al ‘Ilm). Demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi).

    Mohon penjelasan.

    Terimakasih mas, penjelasan dari hal diatas sudah ada dalam postingan ini, Jadilah Perintis Sunnah Hasanah, bukan Bidah Hasanah, silahkan dibaca disini

    Seharusnya hadits tersebut membuat takut para perintis bidah, karena bidah adalah hal baru yang buruk dalam islam, dengan konsekwensi sebagaimana hadits diatas, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya”

    Sedangkan maksud hal baru yang baik dalam islam dalam hadits diatas, lihat bagaimana kronologis hadits tsb, adakah perkara yang disebutkan oleh rasulullah itu perkara baru yang jelek? perkara yang disebutkan itu adalah shadaqah yang dilakukan oleh seorang sahabat, lalu diikuti oleh para sahabat yang lainnya, ini bukan perkara yang jelek dan baru sebenarnya, karena shadaqah itu diajarkan oleh rasulullah, silahkan baca selengkapnya di link yang diatas

  2. isadanislam
    Mei 4, 2013 pukul 2:04 am

    asskww

    Wa’alaikumussalam warahmatullah
    mohon nanti dalam menulis salam jangan disingkat lagi, sebagaimana anda mengucapkan salam tdk disingkat,

    kalau adat gimana akhi?

    Adat jika tidak bertentangan dengan syariat islam / sunnah-sunnah rasulullah, maka tidak apa-apa, jika bertentangan dengan syariat islam, maka adat wajib ditinggalkan, jadi yg menjadi patokan adalah syariat islam, dan adat wajib mengikuti syariat islam, bukan syariat yg mengikuti adat, atau adat dimasukkan ke dalam ajaran islam,.

    silahkan baca disini tentang adat/budaya, sudah saya posting, baca disini

    wasskww

  3. ana_ubaidah@ymail.com
    Maret 6, 2013 pukul 7:52 am

    makasih….

  1. No trackbacks yet.

Silahkan tulis komentar anda,.. surel diisi dgn email, nama diisi dengan nama anda ,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.586 pengikut lainnya.