<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>&#34;Bisa Karena Terbiasa&#34;</title>
	<atom:link href="http://aslibumiayu.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aslibumiayu.wordpress.com</link>
	<description>Katakanlah: &#34;Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik&#34;.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 13:43:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='aslibumiayu.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>&#34;Bisa Karena Terbiasa&#34;</title>
		<link>http://aslibumiayu.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://aslibumiayu.wordpress.com/osd.xml" title="&#34;Bisa Karena Terbiasa&#34;" />
	<atom:link rel='hub' href='http://aslibumiayu.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Di Balik Perayaan Hari Kelahiran Nabi</title>
		<link>http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/01/26/di-balik-perayaan-hari-kelahiran-nabi/</link>
		<comments>http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/01/26/di-balik-perayaan-hari-kelahiran-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 19:32:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin blog</dc:creator>
				<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[bidah hasanah]]></category>
		<category><![CDATA[habib]]></category>
		<category><![CDATA[habib rayakan maulid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[muludan]]></category>
		<category><![CDATA[perayaan maulid]]></category>
		<category><![CDATA[rajaban]]></category>
		<category><![CDATA[semua bidah sesat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aslibumiayu.wordpress.com/?p=2106</guid>
		<description><![CDATA[Dan pada saat ummat Islam memasuki bulan Agung atau bulan Rabi’ul Awwal kelahiran manusia agung nan suci kembali terbayang, terkenanglah kita akan jasa-jasa beliau shalallahu &#8216;alaihi wasallam yang luar biasa. Ummat manusia menyambut gembira, dan mereka sangat amatlah patut untuk berbahagia, sebab yang diperingati adalah rahmat terbesar dari Allah Ta’ala yang dipersembahkan kepada segenap alam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aslibumiayu.wordpress.com&amp;blog=12546535&amp;post=2106&amp;subd=aslibumiayu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } -->Dan pada saat ummat Islam memasuki bulan Agung atau bulan Rabi’ul Awwal kelahiran manusia agung nan suci kembali terbayang, terkenanglah kita akan jasa-jasa beliau shalallahu &#8216;alaihi wasallam yang luar biasa. Ummat manusia menyambut gembira, dan mereka sangat amatlah patut untuk berbahagia, sebab yang diperingati adalah rahmat terbesar dari Allah Ta’ala yang dipersembahkan kepada segenap alam semesta.</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah dampak dari perayaan/peringatan yang hanya dilakukan setahun sekali. Hanya pada bulan itu saja kita ingat kepada Rasullullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam. Setelah bulan itu Rasullullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam kita lupakan dengan sepinya kembali Masjid-masjid/Surau-surau/Langgar-langgar.<span id="more-2106"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Padahal kalaulah kita mau selalu mengangungkan dan mengingat beliau, <span style="color:#0000ff;">maka seharusnya kita memakmurkan Masjid/Surau/Langgar setiap hari dengan mengkaji dan memperdalam isi dan kandungan Al-Qur&#8217;an/Hadist-hadits yang shahih </span><span style="color:#579d1c;">dengan pemahaman para sahabat.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Sehingga terciptanya generasi yang kaffah dalam menegakkan kebenaran Islam. <span style="color:#579d1c;">Bukan semata-mata acara seremonial, dengan menutup jalan, bahkan dengan arak-arakan yang menyusahkan pemakai jalan lain dan menghamburkan uang yang tidak sedikit,</span> sementara sebagian besar umat Islam Indonesia hidup berada dibawah kemiskinan.</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal Rasullullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam, hanyalah berkata bahwa Aku berpuasa pada hari kelahiranku. Bukankah beliau bisa mengumpulkan orang di Masjid untuk membuat kegiatan pada tanggal 12 Rabiul Awal dimaksud. Akan tetapi hanya shaum pada tiap hari Senin. Ini menandakan bahwa kita harus selalu mengingat amalan kita setiap saat, bukannya setahun sekali dengan jor-joran dan setelah itu hanya tinggal kenangan dan pada umumnya pada acara Maulidan tersebut yang terjadi bukannya kegiatan menjadi tuntunan, akan tetapi hanya sebagai tontonan belaka. Naudzubillahi Tsumma Naudzubillahi Min Dzalik.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan jelas acara merayakan Ulang Tahun <span style="color:#579d1c;">hanya mengikuti cara-cara Nasrani. </span></p>
<p style="text-align:justify;">Lihat saja sekarang Ceramah Agama dibarengi dengan acara nyanyian-nyanyian, walaupun katanya nyanyian itu berbau Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi dalam beberapa Hadist Rasullullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam menyebutkan bahwa Rasullullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam <span style="color:#0000ff;">melarang kita bernyanyi dalam bentuk apapun. </span></p>
<p style="text-align:justify;">Inilah bukti bahwa pengaruh Nasrani dan Hindu sudah melekat ditubuh umat Islam. Ditambah lagi banyaknya orang Islam yang tidak suka Islam, sehingga <span style="color:#0000ff;">walaupun kita di Indonesia ini mayoritas,</span> <span style="color:#5c8526;">akan tetapi bagaikan buih di Samudra</span> atau bagaikan bebek-bebek yang mudah diatur oleh penggembalanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan ketahuilah dalam Surah Al-Baqarah ayat 120 Allah subhanahu wata&#8217;ala berfirman :</p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:large;"><span style="font-family:Scheherazade;">وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)&#8221;. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. ( surat al baqarah : 120 )<br />
</span></span></p>
<p style="text-align:justify;">Tak akan suka orang Nasrani dan Yahudi hingga kita mengikuti cara-cara dan ajaran mereka. Mereka berkata kalian boleh menjalankan kegiatan keagamaan kalian tapi cara-caranya sepertiku.</p>
<p style="text-align:justify;">Semisal boleh buat acara pengajian, tapi ditambah nyanyian dan musik. <span style="color:#0000ff;">Boleh berjilbab,</span> tapi yang ketat dan dengan model-model yang merangsang (ala Selebriti).</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Boleh shalat,</span> tapi tonton dulu Siaran langsung berita-berita terbaik yang pada umumnya disiarkan langsung dan dipandu oleh penyiar-penyiar yang mengaku beragama Islam dan dihadiri pula oleh para tokoh yang bukan saja beragama Islam, akan tetapi sebagai tokoh di atas nama lembaga Islam (PERHATIKAN SAAT SESAAT SUDAH AZAN MAGHRIB, Diberbagai stasiun TV Full dengan siaran berita siaran langsung dan ada wawancara dengan tokoh Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan sesudah dikumandangkannya azan Subuh, masih ada Siaran Langsung Ceramah Subuh diberbagai Stasiun TV (apalagi di Bulan Ramadhan dengan berbagai Siaran Langsung yang dipandu dan dihadiri oleh orang yang mengaku beragama Islam).</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan pada siang hari Jum&#8217;at mereka buat film-film yang disukai para penonton <span style="color:#0000ff;">dengan tujuan agar kita tak berangkat ke Mesjid.</span> Dan banyak Stasiun TV yang juga buat film/sinetron pada saat Maghrib, sehingga <span style="color:#0000ff;">membuat kita lalai untuk melaksanakan Shalat. </span> Akan tetapi semua <span style="color:#0000ff;">tokoh-tokoh yang katanya berjuang atas nama Islam bungkam seribu bahasa. </span></p>
<p style="text-align:justify;">Agama hanya dijadikan <span style="color:#0000ff;">alat mencari uang dan kekuasaan.</span></p>
<p style="text-align:justify;">APALAGI ADA <span style="color:#ff0000;">KELOMPOK ISLAM LIBERAL</span> YANG BENAR-BENAR MERUSAK IMAN DAN AQIDAH, BAHKAN MERUSAK AKHLAK UMAT ISLAM DENGAN PENYIMPANGANNYA SECARA TERANG-TERANGAN KEPADA AL-QUR&#8217;AN DAN HADIST RASULLULLAH shalallahu &#8216;alaihi wasallam</p>
<p style="text-align:justify;">Inikah yang diajarkan Rasullullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam??</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti seseorang diperbolehkan menabuh rebana dihadapan Rasullullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam, dikarenakan nazarnya. Jika bukan karena nazar, maka Rasullullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam melarangnya, : seperti tertera dibawah ini, Bahkan ada suatu hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Abu Daud, dan Ahmad diceritakan, bahwa tatkala Raulullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam tiba dari sebuah peperangan, seorang budak wanita berkulit hitam datang menemui beliau membawa rebana sembari berkata, “Duhai Rasulullah, aku telah bernazar, jika Allah Ta’ala mengembalikan dirimu dalam keadaan selamat, aku akan menabuh rebana dan menyanyi dihadapanmu,” maka Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam menjawab, “Jika engkau telah bernazar, tunaikanlah nazarmu, Jika tidak, jangan.”.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan tentang ziarah kubur, yang kami tahu b<span style="color:#0000ff;">ahwa Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam hanya memperbolehkan perjalanan jauh (musafir) untuk mengunjungi 3 tempat, </span>yakni Masjidil Haram; Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan kami belum menemukan Hadist (baik yang dhaif apalagi yang shahih), menerangkan bahwa Rasullullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam pernah menyengaja berziarah ke kuburan Orangtua beliau, dan Sanak Keluarga lainnya, juga Siti Khadijah dan para Sahabat yang lebih dahulu wafat ketika Rasullullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam masih hidup.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan Khalifaturraasyidin juga tidak ada riwayatnya menyengaja bepergian untuk berziarah ke makam Rasullullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam.</p>
<p style="text-align:justify;">Misalkan Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu &#8216;anhu karena berada di Makkah lalu mengajak sahabat-sahabat lainnya untuk berziarah ke makam Rasul shalallahu &#8216;alaihi wasallam di Madinah. (JIKA ADA HADISTNYA DAN RIWAYATNYA MOHON KAMI DIBERITAHU).</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Anehnya dizaman kini </span><span style="color:#355e00;">berziarah itu berkali-kali,</span> <span style="color:#0000ff;">bahkan menjadi kewajiban setahun sekali. </span></p>
<p style="text-align:justify;">Dan mendatangi kuburan-kuburan tertentu seperti ke Cirebon, Tuban, Banten, Gersik, Mbah Priuk dan lain-lain untuk meminta barakah dan yang aneh-aneh lainnya dilestarikan dan <span style="color:#0000ff;">bahkan jadi ajang bisnis para Ustadz/ah dan sekelasnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Dan dibilang ini <span style="color:#0000ff;">sebagai tradisi yang Islami???</span></p>
<p style="text-align:justify;">Bukankah ini bid&#8217;ah <span style="color:#0000ff;">yang benar-benar sesat, </span>akan tetapi kata mereka <span style="color:#004a4a;">ini bid&#8217;ah hasanah</span> dengan berbagai dalil yang dhaif.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak ada tidak ada satu hadistpun dari Rasullullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam yang minta agar kuburannya diziarahi, akan tetapi ada beberapa orang yang dijuluki sebagai Ulama kita, sebelum ajal berpesan agar kuburannya untuk sering diziarahi oleh para murid-muridnya dan umat Islam lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Aneh bin aneh&#8230;</span></p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan para pelaku bid&#8217;ah ada yang mengadakan pengajian berhari-hari di rumah dan kuburan.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang jelas-jelas dalil Al-Qur&#8217;an dan Hadistnya kami belum pernah baca (JIKA ADA MOHON KAMI DIBERITAHU, MUNGKIN KAMI BELUM MENEMUKANNYA, maklum kami masih dalam taraf belajar).</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Dan menurut pendapat kami</span> pengajian dikuburan dan dirumah itu <span style="color:#0000ff;">hanyalah semata akal-akalan para Ustadz kala itu yang malas bekerja keras dikarenakan menganggap dirinya kaum Priyayi,</span> sehingga hadist yang berbunyi :</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">عن أنس رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال </span></span></span><span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">: (</span></span><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">العبد إذا وضع في قبره وتولي وذهب أصحابه، حتى إنه ليسمع قرع نعالهم، أتاه ملكان</span></span></span><span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">&#8230;.)</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Dari Anas </span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><em>radliyallaahu ‘anhu</em></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">, dari Nabi </span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"> bahwasannya beliau bersabda : “</span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><em>Seorang hamba (yang mati) baru saja diletakkan dikuburnya dan ditinggalkan oleh keluarganya, hingga ia ia mendengar langkah kaki sandal mereka (yang sedang beranjak pulang), yang kemudian dua orang malaikat mendatanginya…</em></span></span><span style="font-family:Verdana,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1338, Muslim no. 2870, Abu Dawud no. 3231, dan yang lainnya].</span></span></p>
<p style="text-align:justify;">Maka agar malaikat tak kunjung datang, <span style="color:#0000ff;">mayyit harus ditunggu dan dingajiin supaya dia dapat tuntunan dalam menjawab pertanyaan malaikat.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Dan untuk itu keluarga mayyit harus mengeluarkan dana untuk biaya dimaksud, maka selamatlah para kaum Priyayi yang malas bekerja itu untuk makan dan minumnya selama 40 hari, dengan harapan hari-hari berikutnya ada yang meninggal lagi, maka amanlah perut dan kantongnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan pada setiap saya melihat acara tersebut, sang Ustadz selalu berkata bahwa kegiatan pengajian, tahlil dan talqin ini bukti nyata seorang anak soleh yang berbakti pada Orangtuanya dengan menyebutkan berbagai dalil yang kita tak tahu keshahihannya sebagai alat rujukan untuk menyatakan itu sudah sesuai dengan ajaran dan tuntunanNya.</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal untuk acara tersebut, anak terpaksa menjual sebagian tanah peninggalan orangtuanya atau utang sana sini demi menjaga tradisi yang dibuat-buat oleh kaum bid&#8217;ah.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan tinggallah keluarga yang ditinggal kian terpuruk, padahal sudah seharusnya kewajiban kaum muslimin untuk melindungi para anak yatim.</p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi yang terjadi para Ustadz dan sejenisnya itu bergembira/berbahagia di atas penderitaan orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita ambil lagi sebagian dari kalimat :</p>
<p style="text-align:justify;">Dan hal yang saya paparkan diatas , yaitu tentang perbuatan Umar radhiyallahu &#8216;anhu membuat sholat tarawih berjama’ah, tidak dikatakan sebagai bid’ah,</p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:Scheherazade;"><span style="font-size:medium;">نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ</span></span></p>
<p><em>“Sebaik-baik bid’ah adalah ini.”</em> (HR. Bukhari no. 2010)</p>
<p style="text-align:justify;">Pembagian bid’ah semacam ini membuat sebagian orang rancu dan salah paham. Akhirnya sebagian orang mengatakan bahwa bid’ah itu ada yang baik (bid’ah hasanah) dan ada yang tercela (bid’ah sayyi’ah).</p>
<p style="text-align:justify;">Sehingga untuk sebagian perkara bid’ah seperti merayakan maulid Nabi atau shalat nisfu Sya’ban yang tidak ada dalilnya atau pendalilannya kurang tepat, mereka membela bid’ah mereka ini dengan mengatakan ‘Ini kan bid’ah yang baik (bid’ah hasanah)’.</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal kalau kita melihat kembali dalil-dalil yang telah disebutkan di atas baik dari sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> maupun perkataan sahabat,  semua riwayat yang ada menunjukkan bahwa bid’ah itu tercela dan sesat.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, perlu sekali pembaca sekalian mengetahui sedikit kerancuan ini dan jawabannya agar dapat mengetahui hakikat bid’ah yang sebenarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa ‘Umar bin Al Khaththab pernah menyatakan bahwa shalat tarawih yang dia hidupkan adalah “sebaik-baik bid’ah”? Dari perkataan beliau ini menurut mereka, ada bid’ah hasanah (yang baik).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sanggahan</strong>: Ingatlah para sahabat tidak mungkin melakukan bid’ah. Yang dimaksud dengan bid’ah dalam perkataan ‘Umar adalah bid’ah secara bahasa Arab yang berarti sesuatu yang baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika ada yang masih ngotot bahwa tidak semua bid’ah sesat, ada di sana bid’ah yang baik (hasanah), maka cukup kami katakan: Kalau ‘Umar menghidupkan shalat tarawih dan beliau katakan sebagai bid’ah, hal ini ada dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melaksanakan shalat tarawih di awal-awal Ramadhan. Namun karena takut amalan tersebut dianggap wajib, maka beliau tidak menunaikannya lagi. Jadi, intinya ‘Umar memiliki dasar dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang, apa maulid Nabi memiliki dasar dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana shalat tarawih yang dihidupkan oleh ‘Umar[?] Jawabannya tidak sama sekali. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah merayakan hari kelahirannya, begitu pula para sahabat, tabi’in, dan para imam madzhab tidak ada yang merayakannya. Sehingga maulid tidak bisa kita sebut bid’ah hasanah. Yang lebih tepat maulid adalah <em>bid’ah madzmumah</em> (tercela) sebagaimana yang dikatakan oleh Asy Syuqairiy dan Al Fakihaniy yang telah kami sebutkan dalam tulisan sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Wahai Saudaraku, setahu kita bahwa Rasullullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam juga sudah pernah menjadi Imam Shalat Tarawih, akan tetapi hanya 3 malam saja beliau lakukan. Dan selanjutnya di Imami oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu &#8216;anhu. Dengan alasan takut kalau shalat tarawih akan dianggap sebagai shalat yang diwajibkan. Ini berarti bahwa pada masa Rasullullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam hidup, shalat Tarawih sudah dilaksanakan berjama&#8217;ah. Dan ada riwayat dari Sahabat radhiyallahu &#8216;anhum :</p>
<p style="text-align:justify;">“Kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari. Kemudian beliau mendatangi kami lalu memberi nasehat yang begitu menyentuh, yang membuat air mata ini bercucuran, dan membuat hati ini bergemetar (takut).” Lalu ada yang mengatakan,</p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-family:Scheherazade;"><span style="font-size:large;">يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا</span></span></span></p>
<p>“Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasehat perpisahan. Lalu apa yang engkau akan wasiatkan pada kami?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-family:Scheherazade;"><span style="font-size:large;">أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ</span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;">“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kalian adalah budak Habsyi. Karena barangsiapa yang hidup di antara kalian setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, <span style="color:#0000ff;">kalian wajib berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin</span> yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud dan Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi dimana letak bid&#8217;ahnya shalat tarawih??</p>
<p style="text-align:justify;">Karena itu juga pernah dilakukan ketika Rasulullah hidup, terlebih lagi para sahabat sudah mendapat rekomendasi melalui haditsnya, “Oleh karena itu, <span style="color:#0000ff;">kalian wajib berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin</span> yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. “</p>
<p style="text-align:justify;">Ini namanya bukan bid&#8217;ah dikarenakan adanya pernyataan Rasullullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Wahai Saudaraku, jikalah kita bilang bahwa kita sangat cinta kepada Rasullullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam dan kita sangat menginginkan Surganya ALLAH, maka sudah barang tentu para Sahabat, Tabi&#8217;in, Tabit-Tabi&#8217;in, Imam yang empat serta Imam yang hidup dizaman mereka adalah orang yang sangat mencintai Allah dan orang-orang yang mentaati apa yang disampaikan oleh RasulNya, ketimbang kita ataupun para Ulama/Ustadz dan sejenisnya yang hidup jauh setelah zaman mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan apalagi para Sahabat yang hidup dizaman Rasullullah dan Khalifaturraasyidin sudah barang tentu akan banyak melakukan Ibadah dan kegiatan yang menurut mereka amat baik, dikarenakan Rasullullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam akan langsung mengomentari apakah yang mereka perbuat itu sudah sesuai ketentuan Allah dan RasulNya atau tidak. Dan banyak Hadist lahir merupakan kegiatan para Sahabat yang didiamkan, dikoreksi atau tidak diperbolehkan oleh Rasullullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam setelah mendapat petunjuk dari Allah ta&#8217;ala.</p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi para Ulama/Ustadz yang hidup setelah abad kelima Hijrahlah yang banyak memberi dalil dan ajaran-ajaran tambahan dalam bentuk bidah dengan diberi bungkus sebagai bid&#8217;ah hasanah.</p>
<p style="text-align:justify;">Dimana pada masa itu kejahilan dan kemunafikan serta berbagai paham sesat sudah kian merajalela dan pemerintah serta penguasa yang menjalankan dan berpedoman pada Al-Qur&#8217;an dan Hadist Rasullullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam kian langka, dimana kekuasaan dan uang sudah menjadi kiblat dalam kehidupan dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu timbullah berbagai pendapat untuk melaksanakan perintah agama secara instant dan gampang dengan pahala yang jumlahnya belipat-lipat sehingga <span style="color:#0000ff;">lahirlah berbagai fatwa ini baik dan itu baik. </span></p>
<p style="text-align:justify;">Padahal baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah dan RasulNya, sesuai dengan Firman Allah ta&#8217;ala dalam Surat Al-Kahfi ayat 103, 104 dan 105 yang intinya menyatakan ORANG MERUGI ADALAH ORANG YANG TELAH SIA-SIA BERBUAT BAIK MENURUT VERSINYA SENDIRI DAN PERBUATAN BAIK ITU TIDAK SESUAI AYAT-AYAT ALLAH SWT, SEHINGGA HAPUSLAH AMALAN MEREKA.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena banyak sekarang amalan-amalan kita yang tidak ketemu Hadist dan dasarnya di Al-Qur&#8217;an, kecuali semata-mata hanya ITU KAN BAIK, INI KAN BAIK.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang kita tahu, lebih gampang menyadarkan orang berbuat maksiat ketimbang orang berbuat bid&#8217;ah.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena orang yang berbuat maksiat, Dia begitu yakin bahwa yang dia buat adalah perbuatan salah, akan tetapi dia sudah keenakan mengerjakannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan orang yang berbuat BID&#8217;AH tidak menyadari perbuatannya itu salah, karena Ia hanya beralasan Inikan sudah dijalankan dari Ulama-ulama/Ustadz/Orangtua-orangtua kita terdahulu dan toh ini baik untuk nambahin pahala, sementara Nash Al-Qur&#8217;an dan Hadist tak ada yang mendukung.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian saja dulu dari Saya hamba yang dhaif, mudah-mudahan tanggapan ini dapat didiskusikan, sehingga kita benar-benar menjadi penghikut setia Rasullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam dan termasuk satu golongan (Ahlus Sunnah) yang terbebas dari kesesatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Menjadi orang yang mengikuti jalan hidup Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan sahabatnya (<em>salafush sholih</em>) inilah yang selamat dari neraka.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi</em> <em>wa sallam</em> bersabda yang artinya, “<em>Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan; satu golongan masuk surga, 70 golongan masuk neraka. Nashrani terpecah menjadi 72 golongan; satu golongan masuk surga, 71 golongan masuk neraka. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, umatku akan terpecah menjadi 73 golongan; satu golongan masuk surga dan 72 golongan masuk neraka. </em>Ada sahabat yang bertanya<em>,’Wahai Rasulullah! Siapa mereka yang masuk surga itu?’ </em>Beliau menjawab, ‘<em>Mereka adalah Al-Jama’ah</em>‘.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud, dishahihkan Syaikh Al Albani). Dalam riwayat lain para sahabat bertanya,’<em>Siapakah mereka wahai Rasulullah?</em>‘ Beliau menjawab,<em>‘Orang yang mengikuti jalan hidupku dan para sahabatku.</em>‘ (HR. Tirmidzi)</p>
<p style="text-align:justify;">Dan banyak golongan yang mengaku sebagai Ahlussunnah Waljama&#8217;ah, akan tetapi kurafat, syirik dan bid&#8217;ah masih dijalankan.</p>
<p style="text-align:justify;">Wallahu a&#8217;lam&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Mudah-mudahan bermanfaat</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber tulisan diambil dari komentar blog ini ( Hidayat ), dengan beberapa tambahan dan koreksi</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aslibumiayu.wordpress.com/2106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aslibumiayu.wordpress.com/2106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aslibumiayu.wordpress.com/2106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aslibumiayu.wordpress.com/2106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aslibumiayu.wordpress.com/2106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aslibumiayu.wordpress.com/2106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aslibumiayu.wordpress.com/2106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aslibumiayu.wordpress.com/2106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aslibumiayu.wordpress.com/2106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aslibumiayu.wordpress.com/2106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aslibumiayu.wordpress.com/2106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aslibumiayu.wordpress.com/2106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aslibumiayu.wordpress.com/2106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aslibumiayu.wordpress.com/2106/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aslibumiayu.wordpress.com&amp;blog=12546535&amp;post=2106&amp;subd=aslibumiayu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/01/26/di-balik-perayaan-hari-kelahiran-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">mufti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mentri Agama Tegaskan bahwa Syiah Bertentangan Dengan Islam</title>
		<link>http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/01/26/mentri-agama-tegaskan-bahwa-syiah-bertentangan-dengan-islam/</link>
		<comments>http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/01/26/mentri-agama-tegaskan-bahwa-syiah-bertentangan-dengan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 18:46:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin blog</dc:creator>
				<category><![CDATA[ahlul bait]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadinejad]]></category>
		<category><![CDATA[bahaya syiah]]></category>
		<category><![CDATA[hakekat syiah]]></category>
		<category><![CDATA[IJABI]]></category>
		<category><![CDATA[iran]]></category>
		<category><![CDATA[jalaludin rahmat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aslibumiayu.wordpress.com/?p=4143</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA&#8211;MICOM: Menteri Agama Suryadharma Ali menegaskan bahwa aliran Syiah bertentangan dengan ajaran Islam. Pernyataan tersebut berdasarkan keputusan Kementerian Agama dan MUI yang menyatakan bahwa Syiah bukanlah Islam. Suryadharma menjadikan beberapa keputusan dalam mengambil keputusan tersebut. Salah satunya adalah hasil Rakernas MUI pada 7 Maret 1984 di Jakarta yang merekomendasikan umat Islam Indonesia agar waspada terhadap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aslibumiayu.wordpress.com&amp;blog=12546535&amp;post=4143&amp;subd=aslibumiayu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">JAKARTA&#8211;MICOM: Menteri Agama Suryadharma Ali menegaskan bahwa aliran Syiah bertentangan dengan ajaran Islam. Pernyataan tersebut berdasarkan keputusan Kementerian Agama dan MUI yang menyatakan bahwa Syiah bukanlah Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Suryadharma menjadikan beberapa keputusan dalam mengambil keputusan tersebut. Salah satunya adalah hasil Rakernas MUI pada 7 Maret 1984 di Jakarta yang merekomendasikan umat Islam Indonesia agar waspada terhadap menyusupnya paham syiah dengan perbedaan pokok dari ajaran Ahli Sunna Waljamaah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kementerian Agama RI juga pernah mengeluarkan surat edaran no D/BA.01/4865/1983 pada 5 Desember 1983 tentang golongan syiah dan menyatakan bahwa syiah tidak sesuai dan bahkan  bertentang dengan ajaran islam.</p>
<p style="text-align:justify;">sumber: http://www.mediaindonesia.com/read/2012/01/25/293947/293/14/Menag-Tegaskan-Syiah-Bertentangan-dengan-Isla</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aslibumiayu.wordpress.com/4143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aslibumiayu.wordpress.com/4143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aslibumiayu.wordpress.com/4143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aslibumiayu.wordpress.com/4143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aslibumiayu.wordpress.com/4143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aslibumiayu.wordpress.com/4143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aslibumiayu.wordpress.com/4143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aslibumiayu.wordpress.com/4143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aslibumiayu.wordpress.com/4143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aslibumiayu.wordpress.com/4143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aslibumiayu.wordpress.com/4143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aslibumiayu.wordpress.com/4143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aslibumiayu.wordpress.com/4143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aslibumiayu.wordpress.com/4143/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aslibumiayu.wordpress.com&amp;blog=12546535&amp;post=4143&amp;subd=aslibumiayu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/01/26/mentri-agama-tegaskan-bahwa-syiah-bertentangan-dengan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">mufti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Maulidan Yuuk&#8230;</title>
		<link>http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/01/26/maulidan-yuuk/</link>
		<comments>http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/01/26/maulidan-yuuk/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 04:40:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin blog</dc:creator>
				<category><![CDATA[bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[acara maulid]]></category>
		<category><![CDATA[adzikra]]></category>
		<category><![CDATA[arifin ilham]]></category>
		<category><![CDATA[habib mundzir]]></category>
		<category><![CDATA[habib mundzir munsawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aslibumiayu.wordpress.com/?p=3194</guid>
		<description><![CDATA[APA HUKUM MERAYAKAN MAULID NABI? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjawab: Pertama, malam kelahiran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui secara pasti kapan. Bahkan sebagian ulama masa kini menyimpulkan hasil penelitian mereka bahwa sesungguhnya malam kelahiran beliau adalah pada tanggal 9 Robi’ul Awwal dan bukan malam 12 Robi’ul Awwal. Oleh sebab itu maka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aslibumiayu.wordpress.com&amp;blog=12546535&amp;post=3194&amp;subd=aslibumiayu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="perayaan maulid" src="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2011/02/perayaan-maulid-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /><strong>APA HUKUM MERAYAKAN MAULID NABI?</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin<em> rahimahullah</em> menjawab:</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama, malam kelahiran Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak diketahui secara pasti kapan. Bahkan sebagian ulama masa kini menyimpulkan hasil penelitian mereka bahwa sesungguhnya malam kelahiran beliau adalah pada tanggal 9 Robi’ul Awwal dan bukan malam 12 Robi’ul Awwal. Oleh sebab itu maka menjadikan perayaan pada malam 12 Robi’ul Awwal tidak ada dasarnya dari sisi latar belakang historis.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua, dari sisi tinjauan syariat maka merayakannya pun tidak ada dasarnya. Karena apabila hal itu memang termasuk bagian syariat Allah maka tentunya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melakukannya atau beliau sampaikan kepada umatnya. Dan jika beliau pernah melakukannya atau menyampaikannya maka mestinya ajaran itu terus terjaga, sebab Allah ta’ala berfirman yang artinya, <em>“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran dan Kami lah yang menjaganya.”</em> (QS. Al-Hijr: 9)<span id="more-3194"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sehingga tatkala ternyata sedikit pun dari kemungkinan tersebut tidak ada yang terbukti maka dapat dimengerti bahwasanya hal itu memang bukan bagian dari ajaran agama Allah. Sebab kita tidaklah diperbolehkan beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara-cara seperti itu. Apabila Allah ta’ala telah menetapkan jalan untuk menuju kepada-Nya melalui jalan tertentu yaitu ajaran yang dibawa oleh Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> maka bagaimana mungkin kita diperbolehkan dalam status kita sebagai hamba yang biasa-biasa saja kemudian kita berani menggariskan suatu jalan sendiri menurut kemauan kita sendiri demi mengantarkan kita menuju Allah? Hal ini termasuk tindakan jahat dan pelecehan terhadap hak Allah ‘azza wa jalla tatkala kita berani membuat syariat di dalam agama-Nya dengan sesuatu ajaran yang bukan bagian darinya. Sebagaimana pula tindakan ini tergolong pendustaan terhadap firman Allah ‘azza wa jalla yang artinya,</p>
<p style="text-align:center;">الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku kepada kalian.”</em> (QS. Al-Maa’idah: 3)</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh sebab itu kami katakan bahwasanya apabila perayaan ini termasuk dari kesempurnaan agama maka pastilah dia ada dan diajarkan sebelum wafatnya Rasul <em>‘alaihish shalatu wa salam</em>. Dan jika dia bukan bagian dari kesempurnaan agama ini maka tentunya dia bukan termasuk ajaran agama karena Allah ta’ala berfirman yang artinya, <em>“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian.”</em> Barang siapa yang mengklaim acara maulid ini termasuk kesempurnaan agama dan ternyata ia terjadi setelah wafatnya Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> maka sesungguhnya ucapannya itu mengandung pendustaan terhadap ayat yang mulia ini. Dan tidaklah diragukan lagi kalau orang-orang yang merayakan kelahiran Rasul <em>‘alaihis shalatu was salam</em> hanya bermaksud mengagungkan Rasul <em>‘alaihis shalaatu was salaam</em>. Mereka ingin menampakkan kecintaan kepada beliau serta memompa semangat agar tumbuh perasaan cinta kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melalui diadakannya <a href="http:///">perayaan </a>ini. Dan itu semua termasuk perkara ibadah. Kecintaan kepada Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah ibadah. Bahkan tidaklah sempurna keimanan seseorang hingga dia menjadikan Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sebagai orang yang lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, anaknya, orang tuanya dan bahkan seluruh umat manusia. Demikian pula pengagungan Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> termasuk perkara ibadah. Begitu pula membangkitkan perasaan cinta kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga termasuk bagian dari agama karena di dalamnya terkandung kecenderungan kepada syariatnya. Apabila demikian maka merayakan maulid Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah serta untuk mengagungkan Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah suatu bentuk ibadah. Dan apabila hal itu termasuk perkara ibadah maka sesungguhnya tidak diperbolehkan sampai kapan pun menciptakan ajaran baru yang tidak ada sumbernya dari agama Allah. Oleh sebab itu merayakan maulid Nabi adalah bid’ah dan diharamkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian kami juga pernah mendengar bahwa di dalam perayaan ini ada kemungkaran-kemungkaran yang parah dan tidak dilegalkan oleh syariat, tidak juga oleh indera maupun akal sehat. Mereka bernyanyi-nyanyi dengan mendendangkan qasidah-qasidah yang di dalamnya terdapat ungkapan yang berlebih-lebihan (<a title="Hukum merayakan maulid nabi" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/apa-hukum-merayakan-maulid-nabi.html"><em>ghuluw</em></a>) terhadap Rasul <em>‘alaihish sholaatu was salaam</em> sampai-sampai mereka mengangkat beliau lebih agung daripada Allah -<em>wal ‘iyaadzu billaah</em>-. Dan kami juga pernah mendengar kebodohan sebagian orang yang ikut serta merayakan maulid ini yang apabila si pembaca kisah Nabi sudah mencapai kata-kata “telah lahir Al-Mushthafa” maka mereka pun serentak berdiri dan mereka mengatakan bahwa sesungguhnya ruh Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> hadir ketika itu maka kita berdiri demi mengagungkan ruh beliau. Ini adalah tindakan yang bodoh. Dan juga bukanlah termasuk tata krama yang baik berdiri ketika menyambut orang karena beliau tidak senang ada orang yang berdiri demi menyambutnya. Dan para sahabat beliau pun adalah orang-orang yang paling dalam cintanya kepada Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> serta kaum yang lebih hebat dalam mengagungkan beliau daripada kita. Mereka itu tidaklah berdiri tatkala menyambut beliau karena mereka tahu beliau membenci hal itu sementara beliau dalam keadaan benar-benar hidup. Lantas bagaimanakah lagi dengan sesuatu yang hanya sekedar khayalan semacam ini?</p>
<p style="text-align:justify;">Bid’ah ini -yaitu bid’ah Maulid- <strong>baru terjadi setelah berlalunya tiga kurun utama</strong>. Selain itu di dalamnya muncul berbagai kemungkaran ini yang merusak fondasi agama seseorang. Apalagi jika di dalam acara itu juga terjadi campur baur lelaki dan perempuan dan kemungkaran-kemungkaran lainnya. (Diterjemahkan Abu Muslih dari <em>Fatawa Arkanil Islam</em>, hal. 172-174).</p>
<p>***</p>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Penerjemah: Abu Mushlih Ari Wahyudi Artikel  <a title="Hukum merayakan maulid nabi" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/apa-hukum-merayakan-maulid-nabi.html">www.muslim.or.id</a></p>
<p>SIMAK Kajian Berikut Seputar Hukum Perayaan Maulid</p>
<p><a title="Hakikat Perayaan Maulid Nabi Ust Abu Yahya Badrussalam Lc" href="http://suaraquran.com/download/Hakikat%20Maulid%20Nabi_%20Ust%20Badrussalam%20Lc.mp3" target="_blank"><strong>Hakikat Perayaan Maulid Nabi Ust Abu Yahya Badrussalam Lc</strong></a></p>
<span style='text-align:left;display:block;'><p><object type='application/x-shockwave-flash' data='http://s0.wp.com/wp-content/plugins/audio-player/player.swf' width='500' height='24' id='audioplayer1'><param name='movie' value='http://s0.wp.com/wp-content/plugins/audio-player/player.swf' /><param name='FlashVars' value='&amp;bg=0xde43e9%20&amp;leftbg=0x357DCE&amp;lefticon=0xF2F2F2&amp;rightbg=0xff3361&amp;rightbghover=0xde43e9&amp;righticon=0x002ded&amp;righticonhover=0x46ff33&amp;text=0x357DCE&amp;slider=0xff3361&amp;track=0xFFFFFF&amp;border=0x46ff33&amp;loader=0xffff00%20&amp;width=500&amp;titles=Hakekat%20Perayaan%20Maulid%20Nabi%20&amp;artists=Ustadz%20Badrusalam&amp;soundFile=http%3A%2F%2Fsuaraquran.com%2Fdownload%2FHakikat%2520Maulid%2520Nabi_%2520Ust%2520Badrussalam%2520Lc.mp3%20' /><param name='quality' value='high' /><param name='menu' value='false' /><param name='bgcolor' value='#FFFFFF' /><param name='wmode' value='opaque' /></object></p></span>
<p><a title="Polemik Seputar Maulid Nabi Ust Abu Ubaidah Yusuf Sidawi" href="http://suaraquran.com/download/penyimpangan%20maulid%20Ust%20Abu%20Ubaidah%20Sidawi.mp3" target="_blank"><strong>Polemik Seputar Maulid Nabi Ust Abu Ubaidah Yusuf Sidawi</strong></a></p>
<span style='text-align:left;display:block;'><p><object type='application/x-shockwave-flash' data='http://s0.wp.com/wp-content/plugins/audio-player/player.swf' width='500' height='24' id='audioplayer1'><param name='movie' value='http://s0.wp.com/wp-content/plugins/audio-player/player.swf' /><param name='FlashVars' value='&amp;bg=0xde43e9%20&amp;leftbg=0x357DCE&amp;lefticon=0xF2F2F2&amp;rightbg=0xff3361&amp;rightbghover=0xde43e9&amp;righticon=0x002ded&amp;righticonhover=0x46ff33&amp;text=0x357DCE&amp;slider=0xff3361&amp;track=0xFFFFFF&amp;border=0x46ff33&amp;loader=0xffff00%20&amp;width=500&amp;titles=Polemik%20Seputar%20Maulid%20Nabi%20&amp;artists=Ustadz%20Abu%20Ubaidah%20Yusuf%20Assidawi&amp;soundFile=http%3A%2F%2Fsuaraquran.com%2Fdownload%2Fpenyimpangan%2520maulid%2520Ust%2520Abu%2520Ubaidah%2520Sidawi.mp3%20' /><param name='quality' value='high' /><param name='menu' value='false' /><param name='bgcolor' value='#FFFFFF' /><param name='wmode' value='opaque' /></object></p></span>
<p><a title="Hakikat Cinta Rosul Ust Abu Ahmad Zainal Abidin Lc" href="http://suaraquran.com/download/Zainal%20Abidin%20Syamsudin%20-%20Hakikat%20Cinta%20Rosullulloh%20SAW%20ED.mp3" target="_blank"><strong>Hakikat Cinta Rosul Ust Abu Ahmad Zainal Abidin Lc</strong></a></p>
<span style='text-align:left;display:block;'><p><object type='application/x-shockwave-flash' data='http://s0.wp.com/wp-content/plugins/audio-player/player.swf' width='500' height='24' id='audioplayer1'><param name='movie' value='http://s0.wp.com/wp-content/plugins/audio-player/player.swf' /><param name='FlashVars' value='&amp;bg=0xde43e9%20&amp;leftbg=0x357DCE&amp;lefticon=0xF2F2F2&amp;rightbg=0xff3361&amp;rightbghover=0xde43e9&amp;righticon=0x002ded&amp;righticonhover=0x46ff33&amp;text=0x357DCE&amp;slider=0xff3361&amp;track=0xFFFFFF&amp;border=0x46ff33&amp;loader=0xffff00%20&amp;width=500&amp;titles=Hakekat%20Cinta%20Rasulullah%20&amp;artists=Ustadz%20Abu%20Zainal%20Abidin&amp;soundFile=http%3A%2F%2Fsuaraquran.com%2Fdownload%2FZainal%2520Abidin%2520Syamsudin%2520-%2520Hakikat%2520Cinta%2520Rosullulloh%2520SAW%2520ED.mp3%20' /><param name='quality' value='high' /><param name='menu' value='false' /><param name='bgcolor' value='#FFFFFF' /><param name='wmode' value='opaque' /></object></p></span>
<p>sumber: http://suaraquran.com/audio-kajian-seputar-hukum-perayaan-maulid-bersama-asatidzah-ahlussunnah/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aslibumiayu.wordpress.com/3194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aslibumiayu.wordpress.com/3194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aslibumiayu.wordpress.com/3194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aslibumiayu.wordpress.com/3194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aslibumiayu.wordpress.com/3194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aslibumiayu.wordpress.com/3194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aslibumiayu.wordpress.com/3194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aslibumiayu.wordpress.com/3194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aslibumiayu.wordpress.com/3194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aslibumiayu.wordpress.com/3194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aslibumiayu.wordpress.com/3194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aslibumiayu.wordpress.com/3194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aslibumiayu.wordpress.com/3194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aslibumiayu.wordpress.com/3194/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aslibumiayu.wordpress.com&amp;blog=12546535&amp;post=3194&amp;subd=aslibumiayu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/01/26/maulidan-yuuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
<enclosure url="http://suaraquran.com/download/Hakikat%20Maulid%20Nabi_%20Ust%20Badrussalam%20Lc.mp3" length="8743536" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://suaraquran.com/download/penyimpangan%20maulid%20Ust%20Abu%20Ubaidah%20Sidawi.mp3" length="29253852" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://suaraquran.com/download/Zainal%20Abidin%20Syamsudin%20-%20Hakikat%20Cinta%20Rosullulloh%20SAW%20ED.mp3" length="15931822" type="audio/mpeg" />
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">mufti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2011/02/perayaan-maulid-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">perayaan maulid</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://suaraquran.com/download/Hakikat%20Maulid%20Nabi_%20Ust%20Badrussalam%20Lc.mp3" medium="audio">
			<media:player url="http://aslibumiayu.wordpress.com/wp-content/plugins/audio-player/player.swf?soundFile=http://suaraquran.com/download/Hakikat%20Maulid%20Nabi_%20Ust%20Badrussalam%20Lc.mp3 " />
		</media:content>

		<media:content url="http://suaraquran.com/download/penyimpangan%20maulid%20Ust%20Abu%20Ubaidah%20Sidawi.mp3" medium="audio">
			<media:player url="http://aslibumiayu.wordpress.com/wp-content/plugins/audio-player/player.swf?soundFile=http://suaraquran.com/download/penyimpangan%20maulid%20Ust%20Abu%20Ubaidah%20Sidawi.mp3 " />
		</media:content>

		<media:content url="http://suaraquran.com/download/Zainal%20Abidin%20Syamsudin%20-%20Hakikat%20Cinta%20Rosullulloh%20SAW%20ED.mp3" medium="audio">
			<media:player url="http://aslibumiayu.wordpress.com/wp-content/plugins/audio-player/player.swf?soundFile=http://suaraquran.com/download/Zainal%20Abidin%20Syamsudin%20-%20Hakikat%20Cinta%20Rosullulloh%20SAW%20ED.mp3 " />
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Akhir Kematian Seorang Pemuda&#8230;.</title>
		<link>http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/01/23/kisah-akhir-kematian-seorang-pemuda/</link>
		<comments>http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/01/23/kisah-akhir-kematian-seorang-pemuda/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 18:39:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin blog</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[akhir hidup pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[akibat maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[kisah pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[pemuda berzina]]></category>
		<category><![CDATA[pemuda di kapal]]></category>
		<category><![CDATA[pemuda maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[su'ul khatimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aslibumiayu.wordpress.com/?p=4135</guid>
		<description><![CDATA[Salah seorang pelaut mengisahkan kepadaku sebuah kisah yang pernah terjadi di kapal mereka. Ia berkata,”Kami berlayar di atas kapal mengitari berbagai negeri untuk mencari rizki. Pada sebuah perjalanan, kami ditemani oleh seorang pemuda yang shalih, tulus hatinya, baik budi pekertinya. Kami melihat pancaran ketakwaan yang memancar dari wajahnya, cahaya dan keceriaan tergambar pada kehidupannya. Kami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aslibumiayu.wordpress.com&amp;blog=12546535&amp;post=4135&amp;subd=aslibumiayu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Salah seorang pelaut mengisahkan kepadaku sebuah kisah yang pernah terjadi di kapal mereka. Ia berkata,”Kami berlayar di atas kapal mengitari berbagai negeri untuk mencari rizki. Pada sebuah perjalanan, kami ditemani oleh seorang pemuda yang shalih, tulus hatinya, baik budi pekertinya. Kami melihat pancaran ketakwaan yang memancar dari wajahnya, cahaya dan keceriaan tergambar pada kehidupannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami tidak melihatnya kecuali dalam keadaan wudhu, shalat, atau dalam keadaan memberikan nasihat dan arahan. Jika telah datang waktu shalat, dia adzan untuk kami dan shalat memimpin kami. Jika salah seorang di antara kami tertinggal atau terlambat dia menegur dan menasihatinya. Kami senantiasa dimanjakan dengan nasihat-nasihatnya sepanjang perjalanan kami.<span id="more-4135"></span></p>
<p style="text-align:justify;"> Lautpun mengantarkan kami menuju sebuah pulau dari kepulauan di India, kemudian kami pun berlabuh di sana. Sudah menjadi kebiasaan para pelaut, menjadikan hari-hari berikutnya sebagai untuk beristirahat, setelah penatnya perjalanan jauh. Mereka berjalan-jalan di pasar-pasar kota untuk membeli barang-barang asing yang mereka temukan sebagai oleh-oleh untuk keluarga dan sanak saudara. Kemudian mereka kembali ke kapal di malam hari.</p>
<p style="text-align:justify;">Di antara mereka ada beberapa orang yang terjerumus ke dalam kesesatan. Mereka pergi ke tempat-tempat permainan, mengumbar hawa nafsu ke tempat-tempat hina dan pelacuran. Sedangkan pemuda shalih tersebut sama sekali tidak turun dari kapal, bahkan dia menghabiskan hari-harinya untuk membenahi kapal dan apa saja yang dibutuhkan untuk diperbaiki. Demikian pula ia sibukkan dirinya dengan berdzikir, membaca al-Qur an dan shalat.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu ketika, saat pemuda tersebut sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba datanglah salah seorang awak kapal yang termasuk orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan melakukan segala perbuatan yang berseberangan dengan amal-amal shalih, dan berakhlak dengan akhlak yang rendah. Dia berbisik kepadanya seraya berkata,”Wahai sahabatku, kenapa engkau berdiam diri di kapal tidak menyertai kami? Kenapa engkau tidak turun hingga melihat dunia yang bukan duniamu? Kamu akan melihat apa-apa yang bisa menyenangkan hatimu, dan menggembirakan jiwamu! Aku tidak berkata kepadamu, mari menuju tempat-tempat pelacuran, tidak juga ke tempat-tempat kebinasaan dan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi marilah, lihatlah kepada tempat-tempat permainan ular, bagaimana bermain-main dengan ular, melihat kepada penunggang gajah, bagaimana dia menjadikan belalainya sebagai tangga kemudian dia naik dengan kedua kaki dan tangannya hingga mendirikannya di atas satu kaki. Lihatlah kepada orang yang berjalan di atas paku, orang yang mengunyah bara api seperti mengunyah huah-buahan, orang yang meminum air laut yang menyegarkannya seperti air tawar menyegarkannya. Wahai saudaraku turunlah, dan lihatlah manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka jiwa pemuda itupun tergerak rindu terhadap apa yang ia dengar. Maka dia berkata,”<em>Apakah yang kamu sebutkan memang di luar sana</em>?’ Maka berkatalah teman yang buruk tersebut: <em>‘Ya, turunlah, lihatlah apa yang bisa menyenangkanmu’.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Maka turunlah pemuda shailih tersebut bersama dengan temannya. Keduanya berjalan-jalan di pasar kota dan berbagai sudut jalan hingga masuk ke sebuah jalan kecil yang sempit. Keduanya sampai di penghujung jalan di depan sebuah rumah kecil. Temannya masuk ke dalam rumah tersebut dan meminta kepada pemuda tadi untuk menunggunya dan berkata,”<em>Sebentar lagi aku akan mendatangimu, tetapi kamu jangan mendekat ke rumah itu.” </em></p>
<p style="text-align:justify;">Duduklah pemuda tersebut jauh dari pintu. Dia habiskan waktunya membaca dan berdzikir. Tiba tiba, dia mendengar suara tawa keras terbahak-bahak, dan terbukalah pintu yang tadi dimasuki oleh temannya dan keluarlah seorang wanita yang telah melepaskan rasa malu dan menanggalkan akhlaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sang pemuda tergerak hatinya, diapun mendekat ke pintu dan memasang pendengarannya untuk mengetahui apa yang ada dalam rumah. Tiba-tiba dia mendengar suara yang lain, kemudian dia melihat dari celah-celah pintu, pandangan diikuti dengan pandangan yang lainnya, terus bergantian. Dia melihat sesuatu yang tidak biasa dan belum pernah ia lihat sebelumnya. Kemudian dia kembali ke tempatnya. Saat temannya keluar, pemuda tersebut segera menemuinya dan berkata: “<em>Apa ini?! Celaka kamu! Ini adalah perkara yang dimurkai Allah, dan tidak Dia ridhai.” </em>Temannya menghardik,‘<em>Diamlah, wahai orang buta, wahai orang yang dungu, ini bukan urusanmu.” </em></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian perawi kisah ini mengatakan: “Maka kamipun kembali ke kapal, di akhir-akhir malam. Sementara sang pemuda terjaga tidak bisa tidur sepanjang malam. Pikirannya sibuk mengurai apa yang telah dilihatnya. Panah setan telah menguasai hatinya, pemandangan tersebut telah menguasai batinnya. Belum lagi matahari terbit, fajar belum menyingsing tetapi pemuda menjadi orang pertama yang turun dan kapal, dalam benaknya tidak ada maksud lain kecuali hanya melihat-lihat, tidak ada keinginan lain kecuali hanya untuk melihat saja. Maka pergilah dia ke tempat tersebut, selesai melihat yang ini ia lanjutkan melihat yang itu dan begitu seterusnya melihat dari satu pemandangan ke pemandangan lainnya, hingga akhirnya ia berani membuka pintu dan menghabiskan waktunya di tempat tersebut. Hari berganti hari, sementara dirinya dalam keadaan demikian.</p>
<p style="text-align:justify;">Nahkoda kapal mencari-carinya, dan bertanya, ‘<em>Di mana muadzdzin (tukang adzan) kita? Di mana imam shalat kita? Di mana pemuda shalih tersebut?” </em>Tidak ada satu pelautpun yang menjawabnya. Sang nahkoda memerintahkan anak buahnya untuk berpencar mencarinya. Hingga sampailah kabar kepada sang nahkoda berita tentang pemuda shalih dari orang yang pergi menunjukkannya ke tempat maksiat tersebut. Sang nahkoda meminta orang itu menghadap, ia memaki dan memarahinya seraya berkata: <em>“Tidakkah kamu bertakwa kepada Allah, dan takut adzabnya? Segera pergi ke sana dan bawa Ia kemari!”. </em>Maka pergilah dia menuju pemuda tersebut, berulang kali, akan tetapi sia-sia. Orang tidak bisa membawa sang pemuda karena dia menolak dan tidak mau pulang bersama mereka. Maka tidak ada cara lain, pemimpin kapal akhimya mengutus beberapa orang untuk memaksanya kembali. Merekapun meringkusnya secara paksa, dan membawanya kembali pulang ke kapal,</p>
<p style="text-align:justify;">Perawi kisah ini melanjutkan,“Kapal tersebut berlayar kembali menuju ke negeri asalnya. Para pelaut kembali kepada pekerjaan mereka masing-masing, sementara sang pemuda berada di sisi kapal dalam keadaan menangis menyesali nasib, merintih-rintih hingga hampir putus urat nadinya karena kerasnya tangisan. Para awak kapal menghidangkan makanan untuknya, namun ia tidak mau memakannya. Selama beberapa hari demikianlah yang terjadi padanya. Kondisinya semakin memprihatinkan. Pada suatu malam, tangis dan rintihannya semakin menjadi-jadi, tidak ada satu orangpun dan awak kapal yang bisa tertidur. Maka nahkoda kapal mendatanginya dan berkata,</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Wahai pemuda, bertakwalah kepada Allah, ada apa denganmu? Sungguh rintihanmu itu mengganggu kami, kami tidak bisa tidur,  duhai engkau apa gerangan yang menjadikanmu berubah seperti ini?”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Pemuda itupun menjawab sambil menahan sakit,</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Tinggalkan aku sendirian, sungguh aku tidak mengetahui apa yang menimpaku.” </em>Maka berkatalah nahkoda tersebut,<em>‘Apa yang menimpamu?” </em></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian sang pemuda menyingkap pakaian dan auratnya, ternyata belatung-belatung tengah berjatuhan dari kemaluannya. Bukan main terkejutnya sang Nahkoda, tubuhnya gemetar ketakutan menyaksikan hal itu, ia berkata,”<em>A’udzubillahi min hadza </em>(Aku berlindung kepada Allah dari yang demikian).” Kemudian ia berdiri meninggalkan pemuda tersebut. Sesaat sebelum fajar, awak kapal terbangun oleh suara keras yang memanjang, mereka segera berlari berhamburan menuju ke sumber suara dan mereka mendapati pemuda tersebut telah meninggal dalam keadaan menggigit kayu kapal, awak kapal mengucapkan kalimat <em>istirja’ </em>(<em>innalillahi wa innailaihi raji’un) </em>dan berdo’a memohon kepada Allah khusnul khatimah bagi pemuda tensebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka jadilah kisah ini sebagai pelajaran bagi orang yang mengambil pelajaran. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah dan tidak ada benteng yang terbaik yang melindungi kita dari nafsu setan kecuali menjauhi fitnah dan tempat fitnah tersebut.(AR)*</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh : Ahmad Al-Qahthany</p>
<p style="text-align:justify;">***sumber bundel 6 Qiblati</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aslibumiayu.wordpress.com/4135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aslibumiayu.wordpress.com/4135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aslibumiayu.wordpress.com/4135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aslibumiayu.wordpress.com/4135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aslibumiayu.wordpress.com/4135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aslibumiayu.wordpress.com/4135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aslibumiayu.wordpress.com/4135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aslibumiayu.wordpress.com/4135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aslibumiayu.wordpress.com/4135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aslibumiayu.wordpress.com/4135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aslibumiayu.wordpress.com/4135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aslibumiayu.wordpress.com/4135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aslibumiayu.wordpress.com/4135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aslibumiayu.wordpress.com/4135/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aslibumiayu.wordpress.com&amp;blog=12546535&amp;post=4135&amp;subd=aslibumiayu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/01/23/kisah-akhir-kematian-seorang-pemuda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">mufti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Akhir Sebuah Kematian&#8230;&#8230; seperti apakah akhirnya?</title>
		<link>http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/01/23/akhir-sebuah-kematian-seperti-apakah-akhirnya/</link>
		<comments>http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/01/23/akhir-sebuah-kematian-seperti-apakah-akhirnya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 15:41:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin blog</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar bersih hati]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[akhir kematian]]></category>
		<category><![CDATA[dengerin musik]]></category>
		<category><![CDATA[husnul khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[kecelakaan mobil]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[nonton sinetron]]></category>
		<category><![CDATA[pemuda meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[su'ul khatimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aslibumiayu.wordpress.com/?p=4132</guid>
		<description><![CDATA[Yang Mana yang Akan Kita Pilih? Berikut ini adalah kisah yang diceritakan oleh dokter Khalid Al-Jubair. Pada Ramadhan 1418 H, setelah shalat shubuh, aku pergi ke jalan Malik Fahd untuk suatu keperluan. Sewaktu berjalan, tiba-tiba aku menemukan seorang pemuda berusia di bawah 20 tahun yang mobilnya terbalik. (Semoga Allah memeliahara kita, anak-anak kita, anak-anak anda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aslibumiayu.wordpress.com&amp;blog=12546535&amp;post=4132&amp;subd=aslibumiayu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Yang Mana yang Akan Kita Pilih?</p>
<p>Berikut ini adalah kisah yang diceritakan oleh dokter Khalid Al-Jubair.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada Ramadhan 1418 H, setelah shalat shubuh, aku pergi ke jalan Malik Fahd untuk suatu keperluan. Sewaktu berjalan, tiba-tiba aku menemukan seorang pemuda berusia di bawah 20 tahun yang mobilnya terbalik. (Semoga Allah memeliahara kita, anak-anak kita, anak-anak anda dan anak-anak umat Islam). Aku turun dari mobil dan menemukannya sudah tidak bernyawa.<span id="more-4132"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dan apa yang aku dengar? Aku mendengar alunan musik dari tape atau radio dalam mobil itu. Kenyataan yang sangat berbeda!</p>
<p style="text-align:justify;">Saudaraku, siapa diantara kita yang ingin meninggal dunia saat mengucapkan Laa ilaha illallah, mendengarkan Al-Qur’an atau dzikir?! Dan siapa diantara kita yang ingin mati saat mendengarkan nyanyian atau soundtrack sinetron atau artis sinetron?</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saudaraku, sebelum anda menyetel radio mobil anda yang menyiarkan lagu-lagu, hal-hal keji dan mungkar, ingatlah bahwa anda bisa mati dan perbuatan terakhir yang anda lakukan di dunia adalah mendengarkan lagu-lagu itu di mobil anda. Ingatlah bahwa anda bisa mati dalam perjalanan wisata anda.</p>
<p style="text-align:justify;">Saudaraku, ketika anda mendengarkan soundtrack film atau sinetron, ingatlah bahwa anda bisa mati saat itu juga.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">(dari buku kumpulan kisah-Kisah yang penuh pelajaran keimanan dan pelembut hati_Malam pertama Setelah itu Air Mata)<br />
______________________________</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana Engkau Menjalani Hidupmu, Demikianlah Kondisimu Tatkala Ajal Menjemputmu&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi shallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p style="text-align:justify;">يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi meninggalnya&#8221; (HR Muslim no 2878)</p>
<p style="text-align:justify;">Berkata Al-Munaawi, أَيْ يَمُوْتُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ وَيُبْعَثُ عَلَى ذَلِكَ</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Yaitu ia meninggal di atas kehidupan yang biasa ia jalani dan ia dibangkitkan di atas hal itu&#8221; (At-Taisiir bi Syarh Al-Jaami&#8217; As-Shogiir 2/859)</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Para pembaca yang budiman…</p>
<p style="text-align:justify;">kita semua tahu bahwasanya kematian datang tiba-tiba…</p>
<p style="text-align:justify;">tidak peduli dengan kondisi seorang hamba apakah dalam keadaan ketaatan kepada Allah atau dalam keadaan sedang bermaksiat…,</p>
<p style="text-align:justify;">apakah dalam keadaan sakit ataupun dalam keadaan sehat…</p>
<p style="text-align:justify;">semuanya terjadi tiba-tiba…</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Seorang penyair berkata :</p>
<p style="text-align:justify;">تَزَوَّدْ مِنَ التَّقْوَى فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِي*** إِذَا جَنَّ لَيْلٌ هَلْ تَعِيْشُ إِلَى الْفَجْرِ</p>
<p style="text-align:justify;">Berbekallah ketakwaan karena sesungguhnya engkau tidak tahu…</p>
<p style="text-align:justify;">Jika malam telah tiba apakah engkau masih bisa hidup hingga pagi hari</p>
<p style="text-align:justify;">وَكَمْ مِنْ صَحِيْحٍ مَاتَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ *** وَكَمْ مِنْ عَلِيْلٍ عَاشَ حِيْناً مِنَ الدَّهْرِ</p>
<p style="text-align:justify;">Betapa banyak orang yang sehat kemudian meninggal tanpa didahului sakit…</p>
<p style="text-align:justify;">Dan betapa banyak orang yang sakit yang masih bisa hidup beberapa lama</p>
<p style="text-align:justify;">فَكَمْ مِنْ فَتًى أَمْسَى وَأَصْبَحَ ضَاحِكًا *** وَقَدْ نُسِجَتْ أَكْفَانُهُ وَهُوَ لاَ يَدْرِِي</p>
<p style="text-align:justify;">Betapa banyak pemuda yang tertawa di pagi dan petang hari</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal kafan mereka sedang ditenun dalam keadaan mereka tidak sadar</p>
<p style="text-align:justify;">وَكَمْ مِنْ صِغَارٍ يُرْتَجَى طُوْلُ عُمْرِهِمْ *** وَقَدْ أُدْخِلَتْ أَجْسَامُهُمْ ظُلْمَةَ الْقَبْرِ</p>
<p style="text-align:justify;">Betapa banyak anak-anak yang diharapkan panjang umur…</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal tubuh mereka telah dimasukkan dalam kegelapan kuburan</p>
<p style="text-align:justify;">وَكَمْ مِنْ عَرُوْسٍ زَيَّنُوْهَا لِزَوْجِهَا *** وَقَدْ قُبِضَتْ أَرْوَاحُهُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ</p>
<p style="text-align:justify;">Betapa banyak mempelai wanita yang dirias untuk dipersembahkan kepada mempelai lelaki…</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal ruh mereka telah dicabut tatkala di malam lailatul qodar</p>
<p style="text-align:center;">Tentunya setiap kita berharap dianugrahi husnul khotimah…</p>
<p style="text-align:center;">ajal menjemput tatkala kita sedang beribadah kepada Allah…</p>
<p style="text-align:center;">tatkala bertaubat kepada Allah…</p>
<p style="text-align:center;">sedang ingat kepada Allah… ,</p>
<p style="text-align:center;">akan tetapi betapa banyak orang yang berharap meninggal dalam<br />
kondisi husnul khotimah akan tetapi kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya….</p>
<p style="text-align:center;">Suul khootimah…</p>
<p style="text-align:center;">maut menjemputnya tatkala ia sedang bermaksiat kepada Penciptanya dan Pencipta alam semesta ini…</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana mungkin seseorang meninggal dalam kondisi husnul Khotimah sementara hari-harinya ia penuhi dengan bermaksiat kepada Allah…</p>
<p style="text-align:justify;">hari-harinya ia penuhi tanpa menjaga pendengarannya…</p>
<p style="text-align:justify;">pandangannya ia umbar…</p>
<p style="text-align:justify;">hatinya dipenuhi dengan beragam penyakit hati…</p>
<p style="text-align:justify;">lisannya jauh dari berdzikir dan mengingat Allah…</p>
<p style="text-align:justify;">
Ingatlah para pembaca yang budiman…</p>
<p style="text-align:justify;">sesungguhnya seseorang akan dicabut nyawanya berdasarkan kehidupan yang biasa ia jalankan…</p>
<p>Dinukil dari <a href="http://www.firanda.com/" rel="nofollow nofollow" target="_blank">www.firanda.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aslibumiayu.wordpress.com/4132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aslibumiayu.wordpress.com/4132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aslibumiayu.wordpress.com/4132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aslibumiayu.wordpress.com/4132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aslibumiayu.wordpress.com/4132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aslibumiayu.wordpress.com/4132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aslibumiayu.wordpress.com/4132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aslibumiayu.wordpress.com/4132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aslibumiayu.wordpress.com/4132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aslibumiayu.wordpress.com/4132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aslibumiayu.wordpress.com/4132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aslibumiayu.wordpress.com/4132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aslibumiayu.wordpress.com/4132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aslibumiayu.wordpress.com/4132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aslibumiayu.wordpress.com&amp;blog=12546535&amp;post=4132&amp;subd=aslibumiayu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/01/23/akhir-sebuah-kematian-seperti-apakah-akhirnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">mufti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jadilah Perintis Sunnah Hasanah Bukan Bid’ah Hasanah!</title>
		<link>http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/01/18/jadilah-perintis-sunnah-hasanah-bukan-bidah-hasanah/</link>
		<comments>http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/01/18/jadilah-perintis-sunnah-hasanah-bukan-bidah-hasanah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 03:10:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin blog</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[bidah hasanah]]></category>
		<category><![CDATA[ritual bidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aslibumiayu.wordpress.com/?p=4129</guid>
		<description><![CDATA[Dari Jarir bin Abdillah, beliau berkata, كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَدْرِ النَّهَارِ فَجَاءَهُ قَوْمٌ حُفَاةٌ عُرَاةٌ مُجْتَابِي النِّمَارِ أَوْ الْعَبَاءِ مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ عَامَّتُهُمْ مِنْ مُضَرَ بَلْ كُلُّهُمْ مِنْ مُضَرَ فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَا رَأَى بِهِمْ مِنْ الْفَاقَةِ فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ فَأَمَرَ بِلَالًا فَأَذَّنَ وَأَقَامَ فَصَلَّى [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aslibumiayu.wordpress.com&amp;blog=12546535&amp;post=4129&amp;subd=aslibumiayu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari Jarir bin Abdillah, beliau berkata,</p>
<p style="text-align:right;">كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَدْرِ النَّهَارِ فَجَاءَهُ قَوْمٌ حُفَاةٌ عُرَاةٌ مُجْتَابِي النِّمَارِ أَوْ الْعَبَاءِ مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ عَامَّتُهُمْ مِنْ مُضَرَ بَلْ كُلُّهُمْ مِنْ مُضَرَ فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَا رَأَى بِهِمْ مِنْ الْفَاقَةِ فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ فَأَمَرَ بِلَالًا فَأَذَّنَ وَأَقَامَ فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ</p>
<p style="text-align:right;">يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ إِلَى آخِرِ الْآيَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا وَالْآيَةَ الَّتِي فِي الْحَشْرِ اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ</p>
<p style="text-align:right;">تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ مِنْ دِرْهَمِهِ مِنْ ثَوْبِهِ مِنْ صَاعِ بُرِّهِ مِنْ صَاعِ تَمْرِهِ حَتَّى قَالَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ قَالَ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا بَلْ قَدْ عَجَزَتْ قَالَ ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ حَتَّى رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَثِيَابٍ حَتَّى رَأَيْتُ وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَهَلَّلُ كَأَنَّهُ مُذْهَبَةٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ</p>
<p style="text-align:justify;">Kami bersama Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em> di pagi hari. Lalu datanglah satu kaum yang telanjang kaki dan telanjang dada berpakaian kulit domba yang sobek-sobek atau hanya mengenakan pakaian luar dengan menyandang pedang. Umumnya mereka dari kabilah <em>Mudhar</em> atau seluruhnya dari <em>Mudhar</em>, lalu wajah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berubah ketika melihat kefaqiran mereka. Beliau masuk kemudian keluar dan memerintahkan Bilal untuk adzan, lalu Bilal adzan dan iqamat, kemudian beliau shalat. Setelah shalat beliau berkhutbah seraya membaca ayat,<span id="more-4129"></span></p>
<p style="text-align:right;">يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”</em>. (QS. An Nisa: 1)</p>
<p>dan membaca ayat di surat Al Hasyr,</p>
<p style="text-align:right;">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسُُ مَّاقَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرُُ بِمَا تَعْمَلُونَ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”</em>. (QS. Al Hasyr:18) Telah bershodaqah seseorang dari dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, takaran sha’ kurmanya sampai beliau berkata walaupun separuh kurma.</p>
<p style="text-align:justify;">Jarir berkata, ‘Lalu seorang dari Anshar datang membawa sebanyak shurroh, hampir-hampir telapak tangannya tidak mampu memegangnya, bahkan tidak mampu’. Jarir berkata: ‘Kemudian berturut-turut orang memberi sampai aku melihat makanan dan pakaian seperti dua bukit, sampai aku melihat wajah Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersinar seperti emas, lalu Rasulullah bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Barang siapa yang membuat contoh dalam Islam contoh yang baik, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barang siapa yang mencontohkan contoh jelek dalam islam maka ia mendapat dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka</em>”.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Takhrij Hadits</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hadits ini dikeluarkan oleh : Imam Muslim dalam <em>Shahih Muslim</em> (7/103-104, dengan <em>Syarah An Nawawi</em>) dan (16/225-226), Ahmad dalam <em>Al Musnad </em>(4/357, 359, 361, 362), An Nasaa’i dalam <em>Al Mujtaba’</em> (5/75-76-77), Al Tirmidzi dalam <em>Al Jaami’</em> (5/42) no. 2675 dengan lafadz :</p>
<p style="text-align:right;">مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً ……… وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً</p>
<p>dan Ibnu Majah dalam <em>As Sunan </em>(1/74) no 203.</p>
<p><strong>Telaah Makna Hadits</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Perkataan : (مُجْتَابِي النِّمَارِ أَوْ الْعَبَاءِ) <em>An Nimar </em>dengan di-<em>kasrah</em>-kan huruf <em>Nun </em>adalah bentuk plural dari <em>Namirah </em>dengan di-<em>fathah</em>-kan. Ia bermakna baju dari kulit domba yang sobek. Sedangkan الْعَبَاء (<em>Al Abaa’</em>) dengan di-<em>mad</em>-kan dan di-<em>fathah</em>-kan huruf  <em>‘ain-</em>nya   عَبَاءة – عَبَاية . Sedangkan makna مُجْتَابِي النِّمَارِ  artinya sobek dan belas bagian tengahnya.</p>
<p>Perkataan: فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bermakna berubah.</p>
<p style="text-align:justify;">Perkataan :  فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ berisi anjuran mengumpulkan orang banyak untuk perkara penting dan menasehati serta memotivasi mereka untuk mencapai kemaslahatan mereka dan memperingati mereka dari perkara jelek.</p>
<p style="text-align:justify;">Perkataan beliau : يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ , sebab dibacanya ayat ini karena ia lebih pas dalam menganujurkan mereka bershodaqah dan karena berisi penegasan hak mereka sebagai saudara.</p>
<p style="text-align:justify;">Perkataan: رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَثِيَابٍ  , <em>Kaumain </em>dapat dibaca dengan <em>fathah </em>atau <em>dhammah </em>huruf <em>kaf</em>-nya. Bermakna tempat yang tinggi seperti bukit kecil.</p>
<p style="text-align:justify;">Perkataan : حَتَّى رَأَيْتُ وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَهَلَّلُ كَأَنَّهُ مُذْهَبَةٌ bermakna bersinar karena senang dan bahagia.</p>
<p style="text-align:justify;">Perkataan: مُذْهَبَةٌ para ulama membacanya dengan dua sisi,</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama: </strong>yang sudah masyhur dan dirojihkan Al Qaadhi dan Jumhur adalah مُذْهَبَةٌ dengan huruf <em>dzal</em>, <em>fathah </em>huruf <em>ha’</em> dan setelahnya <em>ba’.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua: </strong>مدْ هَنَةٌ dengan <em>dal </em>dan <em>dhamah ha’</em> dan setelahnya <em>nun</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Al Qadhi menjelaskan dalam <em>Masyaaqi Al Anwar (</em>1/172) dua sisi bacaan ini dalam tafsirnya:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama </strong>: maknanya perak keemasan, ini cocok untuk keindahan wajah dan sinarnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua</strong>: menyerupakannya dalam keindahan dan bersinarnya dengan <em>Al Mudzhabah </em>dari kulit dan bentuk pluralnya adalah <em>madzaahib</em>. <em>Al Mudzahab </em>ini adalah sesuatu yang digunakan bangsa Arab untuk mencelupkan kulit dan menjadikannya bergaris-garis keemasan, tampak sebagiannya bersambung dengan sebagian lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun sebab bahagianya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah senangnya beliau dengan bersegeranya kaum muslimin melaksanakan ketaatan kepada Allah, mengeluarkan hartanya karena Allah, melaksanakan perintah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, menutupi kebutuhan saudaranya yang membutuhkan, kasih sayang sesama kaum muslimin dan kerjasama mereka dalam kebaikan dan taqwa. Seorang sudah sepatutnya jika melihat hal seperti ini, untuk bahagia dan menampakan kebahagiannya dan senangnya karena apa yang telah dijelaskan tadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Perkataan : مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا , yang dimaksud sunnah dalam hadits ini adalah contoh teladan atau perilaku, bukan bermakna sunnah secara terminologi syar’i, sebagaimana dalam sabda beliau,</p>
<p>عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ</p>
<p>dan sabdanya,</p>
<p>منْ رَغِبَ عَنْ سُنَتِيْ فَلَيْسَ مِنِّي.</p>
<p style="text-align:justify;">Konsekuensi hadits menunjukkan makna ini. Maksud saya, dengan konsekuensi hadits adalah sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="text-align:justify;">وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً ,</p>
<p style="text-align:justify;">karena Rasulullah telah mensifati <em>sunnah </em>dalam hadits ini dengan kejelekan, dan tidak ada <em>sunnah</em> jelek dalam Islam. Maka yang dimaksud <em>sunnah</em> di sini adalah makna bahasa (etimologi) bukan makna istilah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian kita sampaikan kepada orang yang menyelisihi kita,</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sungguh orang-orang itu telah memisah hal-hal yang sama </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>dan menyamakan hal-hal yang berbeda, </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Mencampur-adukkan yang baik dengan yang buruk, </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>yang berkualitas rendah dengan yang tinggi, </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>dan meletakkan tanah dalam adonan roti.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kata <em>Sunnah </em>ada dalam banyak <em>nash </em>bermakna yang jalan contoh teladan atau perilaku, sebagaimana hal itu ada dalama sabda Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="text-align:justify;">مَا منْ نَفْسٍ تُقْتَلٌُ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا وَذَلِكَ لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Tidak ada satu jiwa pun terbunuh secara zhalim kecuali anak adam pertama mendapatkan bagian dari darahnya, itu karena ia adalah orang pertama yang mencontohkan pembunuhan”</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan juga sabdanya,</p>
<p style="text-align:justify;">لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Sungguh kalian kelak akan mengekor perilaku orang-orang setelah kalian (yaitu orang musyrik)</em>”</p>
<p style="text-align:justify;">Dari hadits-hadits ini, seandainya kita mendebat orang-orang yang mencampuradukkan pemahaman sunnah yang telah diisyaratakan terdahulu, maka kami sampaikan kepada mereka konsekuensi pernyataan mereka tersebut. Yaitu sesungguhnya membunuh adalah <em>sunnah </em>dan meniru orang musyrik adalah <em>sunnah!</em> Tentu ini adalah pernyataan yang tidak akan disampaikan seorang yang berakal. Sehingga kalau begitu tidak mungkin kita pahami sabda beliau مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً  sebagai amalan baru yang diada-adakan secara langsung, karena sunnah itu baik atau jeleknya tidak diketahui kecuali dengan syariat. Hal itu karena menilai baik atau buruk merupakan kekhususan syari’at semata tidak ada celah bagi akal dalam hal ini. Inilah <em>madzhab ahlu sunnah wal jamaah</em></p>
<p style="text-align:justify;">Yang menilai baik dan buruk dengan akal hanya merupakan pendapat ahlul bid’ah, sehingga mengharuskan sunnah dalam hadits tersebut baik menurut syariat atau buruk menurut syariat. Hal ini tidak pas kecuali untuk seperti shadaqah yang disebutkan dan yang menyerupainya dari sunnah-sunnah yang disyariatkan. Sedangkan sunnah <em>sayyi’ah </em>(yang buruk) tetap difahami untuk kemaksiatan yang ditetapkan syari’at sebagai maksiat, seperti membunuh yang dijelaskan dalam hadits Ibnu Adam ketika Rasulullah bersabda: لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ , dan kepada kebidahan, karena sudah ada celaan dan larangannya dalam syari’at.</p>
<p style="text-align:justify;">Al Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam <em>Fathul Baari </em>(13/302): “Al Muhallab berkata: Bab ini menjelaskan larangan dan peringatan dari kesesatan dan menjauhi kebidahan dan perkara-perkara baru dalam agama serta larangan menyelisihi jalan kaum mukminin.”.</p>
<p style="text-align:justify;">Sisi peringatannya (<em>wajhu tahdzir</em>) adalah orang yang berbuat kebidahan terkadang meremehkannya karena kecilnya di awal dan tidak merasakan timbulnya kerusakan akibat amalan tersebut, yaitu mendapatkan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, walaupuan seandainya ia tidak mengamalkannya namun karena ia adalah orang yang merintisnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam An Nawawi berkata dalam <em>Shahih Muslim </em>(7/104), “Dalam hadits ini terdzpat anjuran memulai kebaikan (menjadi perintis kebaikan) dan mencontohkan contoh baik serta ada peringatan dari merintis kebatilan dan perkara jelek. Sebab ucapan beliau dalam hadits ini adalah pernyataan beliau sebelumnya:</p>
<p style="text-align:justify;">فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا بَلْ قَدْ عَجَزَتْ قَالَ ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ</p>
<p style="text-align:justify;">Ini merupakan keutamaan yang agung bagi perintis kebaikan dan orang yang membuka pintu kebaikan tersebut”.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Salah Paham Terhadap Hadits</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hadits ini dipahami salah ketika banyak orang awam berdalil dengan hadits ini dalam pembagian bid’ah menjadi bidah <em>hasanah</em>(baik)<em> </em>dan bidaha <em>sayyi’ah</em> (tercela). Sebagian ulama pun ikut-ikutan dalam hal ini. Akan jelas bagimu kesalahan cara berdalil ini sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak dari orang yang berdalil dengan hadits ini dalam pembagian bidah yang menyampaikan hadits sepotong-spotong dengan menampakkan kepadamu sebagian saja dan menyembunyikan yang lainnya, agar mendapatkan legalisasi dalam pembagian bidah tersebut, lalu mengklaim adanya bidah <em>hasanah</em>, ketika ia tidak menyebutkan obyek yang menyebabkan nabi menyatakan :</p>
<p style="text-align:justify;">مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً</p>
<p style="text-align:justify;">Kami telah menjelaskan di atas maksud dari <em>sunnah </em>disini adalah <em>sunnah</em> secara bahasa bukan secara syar’i</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh saya menuntut orang yang menentang kami dalam pendapat ini untuk menjawab pertanyaan: “Apakah ada dalam sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sunnah yang jelek?”. Walaupun beliau sendiri menyatakan dalam hadits ini: مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّة سَيِّئَةً . Jika kalian menjawab: “Ya, ada”, maka tidak perlu berdebat, karena dengan pernyataan jelek seorang dapat keluar dari agama tanpa disadari, karena hal ini sudah menjadi kepastian yang absolut dalam agama ini, yaitu sunnah itu adalah agama. Jika menjawab “Tidak” maka kita sampaikan kepadanya hadits ini yang ada padanya sifat sunnah dengan jelek agar mengakui bahwa lafadz sunnah disini adalah secara bahasa dan bukan istilah syari’at.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai-sampai hadits ini walaupun seandainya tidak ada pensifatan sunnah dengan jelek sekalipun, sudah cukup dengan lafadz yang menunjukkan pensifatan baik, yaitu مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً</p>
<p style="text-align:justify;">Karena hal itu adalah pensifatan yang salah dan tidak layak sama sekali, maknanya disana tentu ada <em>sunnah </em>yang tidak baik dari <em>sunnah</em>-<em>sunnah </em>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Ini dalil yang kuat menunjukkan bahwa lafadz tersebut secara bahasa, karena sudah dimaklumi <em>sunnah</em> itu adalah agama. Jika anda katakan, “Ini sunnah yang baik, maka anda sama saja dengan orang yang membagi sunnah menjadi dua, dan itu sesat, pada apa yang kamu ingin bersihkan”.<a href="http://muslim.or.id/manhaj/jadilah-perintis-sunnah-hasanah-bukan-bidah-hasanah.html#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Penulis (Usamah Al Qashash) berkata, “Sungguh salah paham terhadap hadits ini, membawa akibat buruk dan kerusakan. Kami telah mendengar banyak orang yang melakukan perkara bidah yang tidak ada dasarnya dalam syariat, ketika dingkari berdalil dengan hadits ini dan menyatakan: “Ini perkara baik dan tidak apa-apa”, padahal nabi menyatakan: مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً  .</p>
<p style="text-align:justify;">Kita sampaikan kepada mereka ini: Sesungguhnya sahabat yang memulai yang melakukan amalan shadaqah tidak melakukan sesuatu yang baru dalam syari’at. Shadaqah disyaria’tkan dan dianjurkan oleh Rabb alam semesta dalam Al Qur’an dan juga ada dalam sunnah yang tidak perlu lagi berdalil untuknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam khutbahnya tersebut menganjurkan para sahabatnya untuk bershadaqah, namun ketika mereka semua lambat dan tampak kesedihan pada wajah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em></em>, maka bangkit seorang Anshar dari mereka dan menyerahkan kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> satu <em>shurrah </em>shadaqah, dan dari sini berturut-turut orang menyerahkan shadaqahnya, sehingga perbuatan Anshar ini terpuji. Ia tidak berbuat bidah dalam shadaqah, karena shadaqah disyari’atkan. Maka dari mana mereka dapat menyatakan: “Di sana ada bidah <em>hasanah</em> bermakna istilah syar’i?”.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian seandainya makna hadits seperti yang telah mereka pahami ini, maka <em>sunnah </em>dalam hal ini kontradiktif, karena Rasulullah menganggap seluruh bid’ah adalah sesat. Oleh karenanya pemahaman mereka tersebut jelas tidak benar.</p>
<p style="text-align:justify;">Al Barkali berkata dalam <em>Al Thariqah Al Muhammadiyah </em>(1/128, dengan syarah Al Khaadimi), “Seandainya anda meneliti semua yang disampaikan padanya <em><a href="http://muslim.or.id/manhaj/jadilah-perintis-sunnah-hasanah-bukan-bidah-hasanah.html">bid’ah hasanah</a></em> dari jenis ibadah, maka tentu kamu mendapatinya diizinkan oleh syari’at baik secara isyarat atau dalil”.</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Masyhur Hasan Salman dalam komentarnya terhadap kitab <em>Al Baa’its ‘Ala Inkar Al Bida’ Wal Hawadits </em>hlm 87,“Dengan demikian keluar dari keumuman sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>: setiap bid’ah sesat, karena bidah dalam makna syar’i adalah tambahan atau pengurangan dalam agama tanpa izin syari’at baik perkataan dan perbuatan, jelas-jelas atau isyarat.</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap amalan yang tidak ada dasarnya dalam syari’at adalah bidah yang sesat, walaupun dilakukan oleh orang yang dianggap sebagai pemilik keutamaan atau yang terkenal sebagai <em>Syaikh</em>!! Karena perbuatan ulama dan ahli ibadah bukanlah hujjah selama tidak sesuai dengan syari’at.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita sampaikan kepada orang yang menganggap baik banyak kebidahan dan menjadikannya sebagai ajaran agama secara dusta dan bohong: sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>: مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً   tidak bermakna orang yang mencontohkan dalam agama yaitu dalam hukum dan <em>furu’-</em>nya serta <em>ushul</em>-nya, bukan! Ini merupakan kebodohan, namun maksudnya adalah orang yang mencontohkan dalam zaman dan naungan Islam yaitu pada zaman dan keberadaannya. Hal itu karena agama datang dan memperingatkan dari kerusakan dan keburukan serta mengajak berbuat kebaikan dan keshalihan, sehingga dalam naungan agama yang lurus menjadi sesuatu yang agung perbuatan mencontohkan padanya satu kejelekan. Tidak ada perbedan anatara kejelekan yang baru atau kejelekan yang sudah ada dahulu sebelum islam.<a href="http://muslim.or.id/manhaj/jadilah-perintis-sunnah-hasanah-bukan-bidah-hasanah.html#_ftn2">[2]</a>. (Sampai di sini nukilan dari <em>Al Israaq</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">Di samping itu, seandainya sahabat dari Anshar tersebut melakukan perbuatan lain selain shadaqah dan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyetujuinya maka perbuatan atau perkataan sahabat ini adalah <em>sunnah</em> setelah persetujuan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Sunnah ini tidak ditetapkan kesunahannya dari sekedar perkataan atau perbuatan saja namun hanya karena persetujuan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, sebagaimana terjadi pada sahabat yang menyatakan setelah I’tidal dari ruku’ :</p>
<p style="text-align:justify;">رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika selesai sholat, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em></em> berkata: “<em>Siapakah yang mengucapkan hal itu?</em>” Maka ia menjawab: “Saya wahai Rasulullah”, lalu beliau bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلا</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Aku melihat lebih dari tiga puluh malaikat bersegera menjadi yang pertama menulisnya</em>”.</p>
<p style="text-align:justify;">Ini persetujuan dan anjuran dari beliau, sehingga perbuatannya adalah sunnah dari sisi ini dan boleh dikatakan bahwa sahabat itu telah membuat <em>sunnah</em> (contoh) perkataaannya ini ketika <em>i’tidal </em>setelah ruku’ dan ia <em>sunnah hasanah </em>yang diambil dari persetujuan Nabi. Persetujuan ini terputus dengan kematian beliau, kecuali yang telah beliau arahkan, maka ia tidak keluar dari makna <em>iqrar</em> (persetujuan) beliau.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian orang yang mencoba mencari <em>nash </em>lain untuk melegalkan pendapatnya tentang pembagian ini, sehingga sebagiannya menyandarkan kepada pernyataan Umar dalam shalat tarawih: ‘<em>Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini</em>’</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam <em>Iqtidha Shirati Al Mustaqim </em>hlm 270, “Sebagian orang berpendapat kebidahan terbagi menjadi dua bagian; <em>hasanah</em> dan <em>qabihaah</em> (buruk) dengan dalil pernyataan Umar dalam shalat tarawih: “<em>Sebaik-baik bidah adalah ini</em>” dan dengan dalil dengan beberapa perkataan dan perbuatan yang terjadi setelah Rasulullah dan tidak dilarang; atau dia <em>hasanah</em> karena dalil-dalil yang menunjukkan hal itu dari <em>ijma’</em> atau qiyas. Terkadang orang yang tidak faham <em>ushul </em>ilmu memasukkan dalam hal ini kebiasaan banyak orang dalam berbagai ibadah dan sejenisnya, lalu menjadikan hal ini sebagai dalil yang menguatkan orang yang menganggap baik sebagian kebidahan. Ada kalanya menjadikan kebiasaannya dan kebiasaan orang yang dikenalnya sebagai <em>ijma’</em> walaupun tidak tahu pendapat seluruh kaum muslimin dalam hal tersebut. Atau terkadang enggan meninggalkan kebiasaannya seperti kondisi orang yang Allah nyatakan,</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Apabila dikatakan kepada mereka:”Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab:”Cukuplah untuk kami apa yang kamu dapati bapak-bapak kami mengerjakannya</em>“. (QS. Al Ma’idah: 104)</p>
<p style="text-align:justify;">Alangkah banyak orang yang dikatakan memiliki ilmu atau banyak  ibadah berhujah dengan hujjah-hujjah yang keluar dari pokok ilmu yang diakui dalam agama ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga Allah memberi taufik.</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis: <a href="http://ustadzkholid.com/">Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</a></p>
<p style="text-align:justify;">Artikel <a href="http://muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/manhaj/jadilah-perintis-sunnah-hasanah-bukan-bidah-hasanah.html#_ftnref1">[1]</a> <em>Isyraq Al Syari’at Fil Hukmi ‘Ala Taqsimi Al Bid’ah,</em>hal. 20 karya Usaamah Al Qashaash.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/manhaj/jadilah-perintis-sunnah-hasanah-bukan-bidah-hasanah.html#_ftnref2">[2]</a> <em>Israq Al Asyari’at Fil Hukmi Ala Taqsimi Al Bid’ah</em>, hlm 29.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aslibumiayu.wordpress.com/4129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aslibumiayu.wordpress.com/4129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aslibumiayu.wordpress.com/4129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aslibumiayu.wordpress.com/4129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aslibumiayu.wordpress.com/4129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aslibumiayu.wordpress.com/4129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aslibumiayu.wordpress.com/4129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aslibumiayu.wordpress.com/4129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aslibumiayu.wordpress.com/4129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aslibumiayu.wordpress.com/4129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aslibumiayu.wordpress.com/4129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aslibumiayu.wordpress.com/4129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aslibumiayu.wordpress.com/4129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aslibumiayu.wordpress.com/4129/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aslibumiayu.wordpress.com&amp;blog=12546535&amp;post=4129&amp;subd=aslibumiayu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/01/18/jadilah-perintis-sunnah-hasanah-bukan-bidah-hasanah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">mufti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kenapa Saya Tidak Merayakan Maulid Nabi?</title>
		<link>http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/01/17/kenapa-saya-tidak-merayakan-maulid-nabi/</link>
		<comments>http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/01/17/kenapa-saya-tidak-merayakan-maulid-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 20:24:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin blog</dc:creator>
				<category><![CDATA[maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[dialog maulid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum maulid]]></category>
		<category><![CDATA[kelahiran Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[muludan]]></category>
		<category><![CDATA[rajaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aslibumiayu.wordpress.com/?p=3281</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد Abdullah: “Abdurrahman, kamu hadirkan ntar malam?” Abdurrahman: “Kemana? Ngapain?” Abdullah: “Lho kamu nggak dapat undangan peringatan Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?, penting lho …!ada ceramah ustadznya lagi…banyak faedahnya! Cuma [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aslibumiayu.wordpress.com&amp;blog=12546535&amp;post=3281&amp;subd=aslibumiayu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align:right;">بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد</h3>
<p><strong>Abdullah</strong>: “Abdurrahman, kamu hadirkan ntar malam?”</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Abdurrahman</strong>:<span style="color:#0000ff;"> “Kemana? Ngapain?”</span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abdullah</strong>: “Lho kamu nggak dapat undangan peringatan Maulid Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>?, penting lho …!ada ceramah ustadznya lagi…banyak faedahnya! Cuma sekali setahun koq, kesempatan emas, susah  dicari”.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Abdurrahman</strong>:<span style="color:#0000ff;"> “Saya dapat undangan, tapi saya fikir acara itu tidak boleh dikerjakan”.</span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abdullah</strong>: “Lho apa sebabnya?! kamu ini gimana sih…?! Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> sendirikan yang bersabda kalau hari Senin itu hari   kelahirannya…haditsnya diriwayatkan oleh Imam Muslim lagi, dari shahabat   Abu Qatadah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, beliau berkata: “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> pernah ditanya tentang  berpuasa pada hari Senin, lalu beliaupun menjawab:<span id="more-3281"></span></p>
<h3 style="text-align:right;">قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ</h3>
<p style="text-align:justify;">Artinya: <em>“Itu Adalah hari dimana aku dilahirkan dan hari aku diutus atau diturunkan kepadaku wahyu (pertama kali)</em>“, para ulama mengatakan dengan berdasarkan hadits ini boleh kita memperingatinya bahkan sangat dianjurkan!!”</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abdurrahman</strong>:<span style="color:#0000ff;"> “Saya  paha…m tapi ntar dulu! Kalau diurut-urut, menurut kamu siapa yang   paling paham tentang agama yang dibawa oleh Nabi  Muhammad <em>radhiyallahu ‘anhu</em> ini?”</span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abdullah</strong>: “Ya…Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> sendiri dong! lha wong beliau yang membawa dan diutus oleh Allah Ta’ala, kamu ini ada-ada aja pertanyaannya?!”</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Abdurrahman</strong>: <span style="color:#0000ff;">“Lalu siapa setelah beliau <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>?”</span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abdullah</strong>: “Hm…sepertinya para shahabat beliau radhiyallahu ‘anhum, karena mereka yang melihat wahyu itu turun kepada Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, mereka yang tahu sebab-sebab turunnya ayat-ayat Al Quran, tahu sebab-sebabnya muncul hadits ini dan itu. Emangnya kenapa sih?”</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abdurrahman</strong>: <span style="color:#0000ff;">“Na..h, kalo gitu saya nggak berani hadiri maulidan karena Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dan seluruh para shahabatnya <em>radhiyallahu ‘anhum</em> serta seluruh tabi’in dan tabi’ut tabi’in <em>rahimahumullah</em>,   yang mana mereka-mereka itu paling paham akan Islam ini nggak pernah   mengerjakannya, lalu saya mau ngikut siapa? Apalagi Allah Ta’ala pernah   berfirman dalam surat asy Syura ayat 21:</span></p>
<h3 style="text-align:right;">{أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ} [الشورى: 21]</h3>
<p style="text-align:justify;">Artinya: <em>“Apakah mereka mempu<span style="color:#0000ff;">nyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?</span></em><span style="color:#0000ff;">“. Saya juga nggak mau amalan saya di tolak gara-gara nggak ada contohnya dari Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dan para shahabatnya <em>radhiyallahu ‘anhum</em>, karena Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> pernah bersabda:</span></p>
<h3 style="text-align:right;">عن  عَائِشَةُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ  مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ  عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</h3>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “Dari Aisyah <em>radhiyallahu ‘a<span style="color:#0000ff;">nha</span></em><span style="color:#0000ff;">, beliau berkata: “Bahwa Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:<em> “Barangsiapa yang beramal suatu amalan yang bukan dari perkara kami maka ia tertolak</em>“.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Kemudian  acara  itukan seperti  ikut-ikutan orang nashrani, karena mereka juga  merayakan hari kelahiran  al Masih Isa Bin Maryam, padahal mengikuti  mereka dilarang oleh Nabi  Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam ki</span>tab shahihnya:</p>
<h3 style="text-align:right;">لَتَتَّبِعُنَّ  سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ  شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى  لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ  لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ  الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى  قَالَ فَمَنْ</h3>
<p style="text-align:justify;">Artinya: <em>“Sungguh kamu  benar-benar<span style="color:#0000ff;"> mengikuti orang sebelum kamu sejengkal demi jengkal dan  sehasta demi  hasta sampai-sampai jika mereka memasuki lubang biawak maka  sungguh  kalian akan mengikuti mereka</span></em><span style="color:#0000ff;">“, kami (para shahabat) berkata: “Wahai Rasulullah…apakah maksudnya orang-orang Yahudi Dan Nashrani?”, beliau menjawab: <em>“Siapa lagi (kalau bukan mereka)?”</em>.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Dan saya pernah membaca di dalam ki<span style="color:#0000ff;">tab <em>al ‘Ayad wa atsaruha ‘alal Muslimin</em> karya Doktor Sulaiman Bin Salim As Suhaimi, halaman 287, bahwasanya peringatan maulid Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> pertama kali terjadi dalam sejarah Islam, di akhir   abad keempat di   mesir pada saat berdirinya negara Fathimiyah, mereka ini orang-orang   syi’ah bhathiniyah, pada waktu itu ada enam peringatan hari kelahiran   (maulid), maulid Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, maulid Ali Bin Abi Thalib, maulid hasan dan Husein serta maulid Fathimah <em>radhiyallahu ‘anhum</em> juga maulid pemimpin pemerinta</span>h pada waktu itu. Makanya saya tidak berani menghadiri undangan tersebut.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abdullah</strong>:  “O..begitu  ya…saya baru dengar nih, tapi saya pernah baca di Sunan al  Baihaqi al  Kubra no hadits 7960, dari sahabat Anas Bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em> bahwasanya Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> mengaqiqahi diri beliau <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> setelah beliau diangkat menjadi nabi”. Padahal kakek beliau Abdul   Muthallib sudah mengaqiqahkan beliau pada hari ketujuh dari hari   kelahiran beliau, dan aqiqah nggak mungkin dua kali, maka   kemungkinan…apa yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> untuk menyatakan rasa syukur atas dilahirkannya beliau <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> “.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abdurrahman</strong>:<span style="color:#0000ff;"> “Lho kamu nggak tahu ya…hadits itu kan munkar?! Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> yang berkata gitu, bahkan Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> juga menghukuminya sebagai hadits yang bathil lalu Ibnu Hajar<em> rahimahullah</em> berkata hadits itu nggak benar. Coba kamu lihat di kitab <em>al ‘ayad </em>tadi”.</span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abdullah</strong>:  “Wah…kamu  koq jadi pinter sekarang…pasti kamu banyak baca!”. Tapi saya  pernah  diberitahu ustadz di pengajian bahwa diriwayatkan Abu Lahab  diringankan  azabnya di neraka karena di dunia ia  memerdekakan Tsuwaibah  (seorang  budak) ketika diberitahukan akan kelahiran  Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, lalu ia menyusui Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> pada waktu kecil”. Lalu kata beliau: “Kalau orang kafir saja   diringankan azabnya di neraka  disebabkan apa yang telah ia kerjakan   pada waktu diberitahukan akan  kelahiran Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>,   bagaimana kita yang beriman dan mengesakan Allah Ta’ala ?! pasti akan   lebih diberi ganjaran, pasti akan diberikan Allah surga-Nya”. Na…h  kalau  gitu gimana dong?! Saya mulai bingung nih?</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abdurrahman</strong>: <span style="color:#0000ff;">“Ngapain bingung…kata Ibnu Hajar di dalam fathul Bari riwayat ini mursal <em>diirsalkan</em> oleh ‘Urwah, lalu Tsuwaibah, riwayat yang benar adalah bahwa ia   dimerdekakan sebelum hijrah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hajar   di dalam kitab Fath Al Bari, kemudian, banyak sekali nash-nash yang   jelas bahwa pekerjaan orang-orang kafir terhapus, Allah Ta’ala   berfirman:</span></p>
<h3 style="text-align:right;">{ مَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ   أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ لَا   يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلَى شَيْءٍ ذَلِكَ هُوَ الضَّلَالُ   الْبَعِيدُ}</h3>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “<em>Perumpamaan orang-orang  yan<span style="color:#0000ff;">g kafir  kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu  yang ditiup  angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang.  mereka tidak  dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang Telah  mereka usahakan  (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang  jauh</span></em><span style="color:#0000ff;">“. Surat Ibrahim:18.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Dan Al Quran telah menjelaskan bahwa adzab or</span>ang-orang kafir tidak akan diringankan:</p>
<h3 style="text-align:right;">{وَالَّذِينَ  كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ  جَهَنَّمَ لَا يُقْضَى عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا  وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ  مِنْ عَذَابِهَا كَذَلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ }</h3>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “<em>Dan  orang-orang ka<span style="color:#0000ff;">fir  bagi mereka neraka jahannam. mereka tidak dibinasakan  sehingga mereka  mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya.  Demikianlah kami  membalas setiap orang yang sangat kafir</span></em><span style="color:#0000ff;">“. Surat Fathir:36</span></p>
<p>Apalagi Al Quran dengan jelas sekali telah menyebutkan Abu Lahab akan mendapatkan adzabnya di neraka:</p>
<h3 style="text-align:right;">{تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (2) سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (3)}</h3>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “<em>Binasalah  kedua ta<span style="color:#0000ff;">ngan  abu Lahab dan Sesungguhnya dia akan binasa”(1)”Tidaklah  berfaedah  kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan”(2)”Kelak  dia akan  masuk ke dalam api yang bergejolak</span></em><span style="color:#0000ff;">“(3). Surat al Masad:1-3</span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abdullah</strong>: “MasyaAllah, saya nggak ngira kamu sudah banyak sekali belajar, <strong>kalau   saya, jika ada ayat al Quran yang disebutkan dan tafsirannya   berdasarkan pemahaman para shahabat radhiyallahu ‘anhum maka saya nggak   berani mendahului al Quran walaupun satu centi!</strong> Tapi, <strong>Syeikh Muhammad Alawi al Maliki</strong> Ulama yang berdomisili di Mekkah, menyebutkan dalam kitabnya <em>haulal ihtifal bil maulid</em>:   kita kan harus bersyukur, gembira dengan kelahiran beliau karena  dengan  dilahirkannya beliau kita keluar dari kegelapan kepada cahaya”.  Allah  Ta’ala berfirman:</p>
<h3 style="text-align:right;">{قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ}</h3>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “<em>Katakanlah:  “Dengan  kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka  bergembira.  kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa  yang mereka  kumpulkan</em>“. Surat  Yunus:58.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan yang dimaksudkan  Rahmat Allah di  dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi  wasallam,  sebagaimana firman Allah Ta’ala :</p>
<h3 style="text-align:right;">{وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ} [الأنبياء: 107]</h3>
<p style="text-align:justify;">Artinya: <em>“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam</em>“. Surat al Anbiya-’:107</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abdurrahman</strong>:<span style="color:#0000ff;"> “Hm..gitu  ya, tapi yang saya ketahui maksud keutaaman Allah did ala  rahmat  disini adalah agama Islam sebagaimana pendapat shahabat Abu Sa’id  al  Khudri dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma di dalam tafsir <em>al Jami’ li ahkamil qur’an</em> karya Imam Al Qurthubi ulama Islam abad ke 7 Hijriyah, dan juga Ibnul   Qayyim, ulama Islam Abad ke 9 Hijriyah mengatakan di dalam kitabnya <em>ijtima’ul juyusy al Islamiyah</em> : “Dan telah sepakat perkataan para salaf bahwa keutamaan Allah dan Rahmat-Nya adalah Islam dan Sunnah,</span></p>
<p style="text-align:justify;">lalu kamu<span style="color:#0000ff;"> tau nggak, aku pernah membaca di kitab <em>Shahih Sirah An Nabawiyah</em> karya Albani <em>rahimahullah </em>ulama   hadits dari Yordania, beliau memberikan catatan kaki disana, beliau   berkata: “Aku berkata: “Adapun tanggal hari kelahiran beliau   shallallallahu ‘alaihi wasallam, telah disebutkan Ibnu Katsir tentangnya   dan tentang bulannya beberapa pendapat di dalam kitab aslinya (as  Sirah  An Nabawiyyah), dan seluruhnya <em>mu’allaqah</em> –tanpa  pertalian  periwayatan-  jika ditinjau dari sisi kaiedah ilmu hadits,  kecuali  pendapat yang mengatakan bahwa: sesungguhnya ia (hari kelahiran  beliau  shallallahu ‘alaihi wasallam) pada tanggal 8 dari bulan Rabi’ul  Awal,  karena hal ini diriwayatkan oleh Imam Malik dan yang lainnya  dengan  sanad yang shahih dari Muhammad Bin Jubair Bin Muth’im, dan ia  merupakan  seorang tabi’i yang terkemuka oleh sebab itulah para ahli  sejarah  membenarkan pendapat ini dan menyandarkan dengan riwayat ini,  dan al  Hafidz al Kabir Muhammad Bin Musa al Khawarizmi memastikannya  serta Abul  Khaththab merajihkannya, sedangkan jumhur berpendapat bahwa  tanggal 12  dari bulan Rabi’ul Awal”, demikian kata Al Albani, sedangkan  kalau kita  baca kitab <em>Siyar ‘Alamin Nubala-’</em>, maka sungguh kita akan dapatkan Imam Adz Dzahabi menyebutkan beberapa riwayat tentang hari kelahiran Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Tetapi  anehnya, para ahli sejarah Islam  seperti Ibnu Katsir, al Waqidy, Ibnu  Sa’ad, Imam Adz Dzahabi sepakat  bahwa wafatnya Nabi Muhammad shallallahu  ‘alaihi wasallam pada hari  Senin tanggal 12 Rabi’ul Awal”.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abdullah:</strong> “Ente koq malah ngomong sejarah…kepanjangan….dari tadi maksudnya apa…?!”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abdurrahman:</strong> <span style="color:#0000ff;">“Maksud  saya… para ahli sejarah dan ulama hadits tidak bersepakat akan  hari  kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, meskipun  jumhur  berpendapat tanggal 12 Rabi’ul Awal. Tapi para Ahli sejarah  dan  ulama  hadits bersepakat akan kematian beliau shallallahu ‘alaihi  wasallam  tanggal 12 Rabi’ul Awal…, oleh karena itu saya bingung kepada  orang  yang berkumpul pada tanggal 12 Rabi’ul Awal apakah mereka itu  gembira  dengan kelahiran beliau atau dengan wafatnya beliau shallallahu  ‘alaihi  wasallam?!?”.</span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Abdullah</strong>: “O..gitu ya…jadi ustadz tadi salah dong…?!”</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Abdurrahman</strong>:<span style="color:#0000ff;"> “Setiap manusia punya kesalahan…”</span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abdullah</strong>:<span style="color:#000000;"> “Iya ya…tapi ntar kita disana nggak ngelakuin maksiat koq, malah kita ntar membaca shalawat baca sejarah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>. Jadi dengan memperingati maulidnya kita bershalawat, ngajak orang shalawatan kan bagus…?!</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abdurrahman</strong>: <span style="color:#0000ff;">“Wah kalau gitu malam lainnya kita nggak shalawatan dan baca sejarah beliau <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dong! Padahal membaca shalawat itukan sangat dianjurkan kapan dan dimana saja, Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda dari hadits Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> di dalam  kitab sh</span>ahih Muslim:</p>
<h3 style="text-align:right;">مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا</h3>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “<em>Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali maka Allah akan memberikan kepadanya rahmat sepuluh kali</em>“.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan kita sebagai seorang muslim diperintahkan untuk memperbanyak membaca shalawat pada hari jum’at:</p>
<h3 style="text-align:right;">عَنْ  أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ النَّبِيِّ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَالَ إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ  أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ  آدَمُ عَلَيْهِ السَّلَام  وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ  الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا  عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ  مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ … رواه  النسائي</h3>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “<em>Dari <span style="color:#0000ff;">Aus Bin Aus </span></em><span style="color:#0000ff;"><em>t</em><em>, dari Nabi Muhammad </em><em>r</em><em> beliau bersabda: “Sesungguhnya salah satu hari yang paling utama bagi   kalian adalah hari Jum’at, di dalamnya diciptakan Adam alaihis salam, di   dalamnya di wafatkan, di dalamnya peniupan (sangsakala) dan di  dalamnya  akan terjadi kematian (pada hari kiamat) maka perbanyaklah  membaca  shalawat atasku sesungguhnya shalawat kalian akan disampaikan  kepadaku</em>…hadits riwayat Imam Nasai.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Sungguh aneh kalau ada seseorang yang ngaku cinta Nabi <em>shallallahu ‘alaih wasallam</em> bershalawat hanya pada hari kelahirannya, dikemanakan 364 harinya?! Keberadaan peringatan maulid Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> sebagai cara untuk mengenang Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>,   sehingga kita bershalawat kepada beliau pada hari itu. Ini cocok bagi   orang yang kalau lagi mau masuk masjid tidak bershalawat, setelah   mendengar adzan tidak  bershalawat, ketika berdoa tidak bershalawat,   ketika shalat jenazah tidak bershalawat, ketika disebutkan nama beliau   tidak bershalawat dan banyak lagi tempat-tempat yang mana dianjurkan   kita bershalawat kepada beliau <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>,   sedangkan kita seorang muslim setiap tempat dan waktu yang saya sebutkan   diatas selalu bershalawat, tidak  mengkhususkannya pada saat maulid   saja, kita nggak mau dibilang orang yang pelit medit kikir, sebagaimana   sabda Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:</span></p>
<h3 style="text-align:right;">الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ</h3>
<p>Artinya: “<em>Orang yang kikir adalah orang yang disebutkan kepadanya namaku lalu ia tidak bershalwat kepadaku</em>“.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abdullah</strong>: “Tapi seluruh ulama dan kaum muslimin kan memperingati maulid ini, hampir seluruh dunia lho…dan shahabat Abdullah Bin Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em> mengatakan: “Sesuatu yang dianggap oleh kaum muslim itu baik maka hal itu merupakan baik disisi Allah?!?”.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abdurrahman</strong>:<span style="color:#0000ff;"> “Sepertinya pernyataan itu kurang valid, karena disana banyak ulama dan   sebagian kaum muslim tidak memperingatinya termasuk saya, jadi sensus   itu nggak benar,</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">kemudian kalau perayaan ini tidak pernah dikerjakan oleh para shahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em> dan tabi’in serta tabi’ut tabi’in <em>rahimahumullah</em> bagaimana disebut pekerajaan itu baik?!? Dan kata para ulama <em>rahimahumullah</em>, maksud “kaum muslim” di perkataan Abdullah Bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhum tadi adalah: para shahabat radhiyallahu ‘anhum”.</span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abdullah</strong>: “Hm…gitu yaa…saya paham sekarang, tapi ntar kita dibilang nggak cinta sama Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, karena tidak menghadiri peringatan maulid Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>???”</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abdurrahman</strong>:<span style="color:#0000ff;"> “Abdullah…Abdullah, orang yang ngaku cinta kepada Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>,   harus mentaati segala perintahnya, menjauhi segala larangannya,   berjalan diatas jalannya, dan tidak boleh beribadah kecuali sesuai   petunjuknya… itu yang namanya cinta hakiki Abdullah…! Kalau ngaku cinta   jangan bikin-bikin ibadah baru dong…!coba perhatikan firman Allah surat   Ali Imran ayat 31:</span></p>
<h3 style="text-align:right;">{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ   فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ   وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ}</h3>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Artinya: “<em>Katakanlah: “Jika kamu   (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan   mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang</em>“.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Di  dalam ayat ini Allah menjadikan taat  dan patuh tanda akan kecintaan  itu, dan dengannya kita bisa mengetahui  yang benar-benar cinta dan yang  hanya ngaku-ngaku aja. Sedangkan coba  perhatikan ibadah-ibadah baru yang  tidak pernah ada di zaman Nabi  shallallahu ‘alaihi wasallam, para  shahabatnya, bahkan tabi’in, apa  hasilnya:</span></p>
<h3 style="text-align:right;">أن رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ. رواه مسلم</h3>
<p style="text-align:justify;">Artinya: “<em>Bahwa Rasulullah </em><em> </em><em> bersabda: “Barangsiapa yang beramal bukan atas dari perkara kami maka amalannya tertolak</em>“. Haditsnya di Shahih Muslim. Orang arab berkata:</p>
<h3 style="text-align:right;">و الدعاوي مالم يقيموا عليها           بينات فأهلها أدعياء</h3>
<p><em>“Dan pengakuan tanpa ada bukti-bukti maka mereka itu hanya ngaku-ngaku</em>“</p>
<p>Sungguh indah perkataan  syeikhul Islam di dalam Majmu’ Fatwa:</p>
<h3 style="text-align:right;">فَالْحَذَرَ  الْحَذَرَ أَيُّهَا الرَّجُلُ  مِنْ أَنْ تَكْرَهَ شَيْئًا مِمَّا جَاءَ  بِهِ الرَّسُولُ صَلَّى اللَّهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ تَرُدَّهُ  لِأَجْلِ هَوَاك أَوْ انْتِصَارًا  لِمَذْهَبِك أَوْ لِشَيْخِك أَوْ  لِأَجْلِ اشْتِغَالِك بِالشَّهَوَاتِ  أَوْ بِالدُّنْيَا فَإِنَّ اللَّهَ  لَمْ يُوجِبْ عَلَى أَحَدٍ طَاعَةَ  أَحَدٍ إلَّا طَاعَةَ رَسُولِهِ  وَالْأَخْذَ بِمَا جَاءَ بِهِ بِحَيْثُ  لَوْ خَالَفَ الْعَبْدُ جَمِيعَ  الْخَلْقِ وَاتَّبَعَ الرَّسُولَ مَا  سَأَلَهُ اللَّهُ عَنْ مُخَالَفَةِ  أَحَدٍ فَإِنَّ مَنْ يُطِيعُ أَوْ  يُطَاعُ إنَّمَا يُطَاعُ تَبَعًا  لِلرَّسُولِ وَإِلَّا لَوْ أَمَرَ  بِخِلَافِ مَا أَمَرَ بِهِ الرَّسُولُ  مَا أُطِيعَ . فَاعْلَمْ ذَلِكَ  وَاسْمَعْ وَأَطِعْ وَاتَّبِعْ وَلَا  تَبْتَدِعْ . تَكُنْ أَبْتَرَ  مَرْدُودًا عَلَيْك عَمَلُك بَلْ لَا خَيْرَ  فِي عَمَلٍ أَبْتَرَ مِنْ  الِاتِّبَاعِ وَلَا خَيْرَ فِي عَامِلِهِ  وَاَللَّهُ أَعْلَمُ . مجموع  الفتاوى (16/ 528)</h3>
<p style="text-align:justify;">“Be<span style="color:#0000ff;">rhati-hatilah…wahai manusia …dari membenci apapun yang dibawa oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>,   atau menolaknya disebabkan oleh hawa nafsumu, atau menolaknya karena   pembelaan terhadap madzhab dan gurumu, atau karena kesibukanmu dengan   syahwat dunia. Karena sesungguhnya Allah tidak mewajibkan atas seseorang   untuk ta’at kepada seorang makhluk, kecuali keta’atan kepada Rasul-Nya   dan mengambil apapun yang dibawa olehnya, <strong>yang mana jikalau   seorang hamba menyelisihi seluruh makhluk tetapi ia mengikuti   Rasulullah, maka Allah tidak akan menanyakan kepadanya tentang ketidak   ta’atannya kepada seorang manusiapun</strong>. Karena sesungguhnya   barangsiapa yang ta’at atau dita’ati, sesungguhnya hanya dita’ati karena   pengikutannya kepada Rasulullah, dan jikalau ia memerintahkan sesuatu   yang bertentangan dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah ia tidak akan   dita’ati. Maka ketauhilah akan hal itu, dengarkan, ta’ati dan ikutilah   serta janganlah membuat sesuatu yang baru, maka amalanmu akan tertolak,   kembali kepadamu. Dan tiada kebaikan apapun di dalam sebuah amalan  yang  tidak mengikuti sunnah</span> dan tidak ada kebaikan apapun bagi  pelakunya. <em>Wallahu ‘alam</em>. (lihat Majmu’ Fatawa, 2/465)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Abdullah</strong>: “Waah, jazakumullah khairan ya… kaya’nya aku nggak ikut juga ah!”.</p>
<p>Ditulis oleh <a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150112438256585&amp;id=1168938597">Ahmad Zainuddin</a></p>
<p>Ahad, 10 Rab’iul Awwal 1432H</p>
<p>Dammam KSA</p>
<p>sumber : http://abangdani.wordpress.com/2011/02/14/dialog-12-rabiul-awwal-kenapa-saya-tidak-merayakan-maulid-nabi/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aslibumiayu.wordpress.com/3281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aslibumiayu.wordpress.com/3281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aslibumiayu.wordpress.com/3281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aslibumiayu.wordpress.com/3281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aslibumiayu.wordpress.com/3281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aslibumiayu.wordpress.com/3281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aslibumiayu.wordpress.com/3281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aslibumiayu.wordpress.com/3281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aslibumiayu.wordpress.com/3281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aslibumiayu.wordpress.com/3281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aslibumiayu.wordpress.com/3281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aslibumiayu.wordpress.com/3281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aslibumiayu.wordpress.com/3281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aslibumiayu.wordpress.com/3281/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aslibumiayu.wordpress.com&amp;blog=12546535&amp;post=3281&amp;subd=aslibumiayu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/01/17/kenapa-saya-tidak-merayakan-maulid-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">mufti</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
