“Tidurlah sayang buah hatiku, kutemani engkau dalam dekapku. Bangunlah esok dengan senyummu, permata hati pemghibur kalbu. Tidurlah sayang buah hatiku, doa ibu menemanimu. Semoga Rahmat Allah menyertaimu. Bahagia dunia dan akhiratmu.”
Betapa teduh kalimat itu. Ungkapan sayang yang mengalir sejuk dari bibir seorang wanita yang berpredikat sebagai ibu. Harapan dan doa senantiasa mengalir dari lubuk hati yang paling dalam bagi si buah hati yang telah dikandungnya selama sembilan bulan lebih. Kebahagiaan buah hatinya adalah kebahagiaannya. Pun dengan penderitaan sang buah hati adalah penderitaannya. Tapi bagaimana bila sebuah musibah merenggut nyawa sang buah hati secara tiba-tiba? Inilah lukisan ketabahan seorang ibu dalam menghadapi takdir-Nya.
Dan ini hanyalah salah satu dari puluhan ribu kisah para ibu lain yang pernah mengalami musibah serupa namun tak sama.
Teruntuk para ibu, semoga Allah membalas semua kesabaranmu. Read more…
Like this:
Be the first to like this post.
Kisah ini saya dapat dari sahabatku yang bekerja di salah satu perusahaan asing. Disini saya kutipkan kisah nyata seorang gadis yang menginjak remaja atau kerennya jaman sekarang (ABG) yang sebelumnya tidak karuan tingkah lakunya, namun setelah sadar akan kekeliruannya dan sudah mengerti “HIKMAH MEMAKAI JILBAB” Allah Ta’ala memanggilnya.
Kisah nyata ini dari kawan saya bekerja. Kisah nyata ini semoga berguna bagi yang membacanya, terutama kaum Hawa, juga bagi yang punya istri, yang punya anak perempuan, adik perempuan, saudara perempuan, kakak perempuan, yang masih punya Ibu, yang punya keponakan perempuan…….. Read more…
Like this:
One blogger likes this post.
Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya.
Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat. Read more…
Like this:
Be the first to like this post.
Komentar Terakhir