Beranda > Belajar Nasehat, Tanya Jawab > Apa Hukum Doa dan Dzikir secara Berjamaah?

Apa Hukum Doa dan Dzikir secara Berjamaah?


dzikir berjamaahBerikut ini saya nukilkan pertanyaan yang berkaitan dengan masalah doa dan dzikir secara berjamaah, berikut ini nukilannya:

Assalamu’alaikum ustadz semoga Allah memberkahimu.

Sekarang banyak sekali kaum muslimin berdo’a dan dzikir bersama baik itu untuk keluarganya, kaum muslimin bahkan untuk pemimpin, Adakah secara sunnah yang benar amalan-amalan tersebut, mohon dalil-dalilnya? Jazakallah.

(Abu Hanun)

Jawab:

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wa barakatuhu.

Berdoa bersama kalau yang dimaksud adalah satu orang berdoa sedangkan yang lain mengamini, maka ini ada 2 keadaan:
Pertama: Hal tersebut dilakukan pada amalan yang memang disyariatkan doa bersama, maka berdoa bersama dalam keadaan seperti ini disyariatkan seperti di dalam shalat Al-Istisqa’ (minta hujan), dan Qunut.

Kedua: Hal tersebut dilakukan pada amalan yang tidak ada dalilnya dilakukan doa bersama di dalamnya, seperti berdoa bersama setelah shalat fardhu, setelah majelis ilmu, setelah membaca Al-Quran dll, maka ini boleh jika dilakukan kadang-kadang dan tanpa kesengajaan, namun kalau dilakukan terus-menerus maka menjadi bid’ah.

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya:

يكره أن يجتمع القوم يدعون الله سبحانه وتعالى ويرفعون أيديهم؟

“Apakah diperbolehkan sekelompok orang berkumpul, berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dengan mengangkat tangan?”

Maka beliau mengatakan:

ما أكرهه للإخوان إذا لم يجتمعوا على عمد، إلا أن يكثروا

“Aku tidak melarangnya jika mereka tidak berkumpul dengan sengaja, kecuali kalau terlalu sering.” (Diriwayatkan oleh Al-Marwazy di dalam Masail Imam Ahmad bin Hambal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879)

Berkata Al-Marwazy:

وإنما معنى أن لا يكثروا: يقول: أن لا يتخذونها عادة حتى يعرفوا به

“Dan makna “jangan terlalu sering” adalah jangan menjadikannya sebagai kebiasaan, sehingga dikenal oleh manusia dengan amalan tersebut.” (Masail Imam Ahmad bin hambal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879).

Adapun dzikir bersama, dipimpin oleh seseorang kemudian yang lain mengikuti secara bersama-sama maka ini termasuk bid’ah, tidak ada dalilnya dan tidak diamalkan para salaf.

Bahkan mereka mengingkari dzikir dengan cara seperti ini, sebagaimana dalam kisah Abdullah bin Mas’ud ketika beliau mendatangi sekelompok orang di masjid yang sedang berdzikir secara berjamaah, maka beliau mengatakan:

مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ ؟ … وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتِكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صلى الله عليه وسلم مُتَوَافِرُونَ ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِي نَفْسِي فِي يَدِهِ ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ؟! أَوْ مُفْتَتِحُوا بَابَ ضَلاَلَةٍ ؟

“Apa yang kalian lakukan?!

Celaka kalian wahai ummat Muhammad, betapa cepatnya kebinasaan kalian, para sahabat nabi kalian masih banyak, dan ini pakaian beliau juga belum rusak, perkakas beliau juga belum pecah, demi Dzat yang jiwaku ada di tangannya, kalian ini berada dia atas agama yang lebih baik dari agama Muhammad, atau kalian sedang membuka pintu kesesatan?

(Diriwayatkan oleh Ad-Darimy di dalam Sunannya no. 2o4, dan dishahihkan sanadnya oleh Syeikh Al-Al-Albany di dalam Ash-Shahihah 5/12)

Berkata Asy-Syathiby rahimahullahu:

فإذا ندب الشرع مثلا إلى ذكر الله فالتزم قوم الاجتماع عليه على لسان واحد وبصوت أو في وقت معلوم مخصوص عن سائر الأوقات ـ لم يكن في ندب الشرع ما يدل على هذا التخصيص الملتزم بل فيه ما يدل على خلافه لأن التزام الأمور غير اللازمة شرعا شأنها أن تفهم التشريع وخصوصا مع من يقتدى به في مجامع الناس كالمساجد

“Jika syariat telah menganjurkan untuk dzikrullah misalnya, kemudian sekelompok orang membiasakan diri mereka berkumpul untuknya (dzikrullah) dengan satu lisan dan satu suara,atau pada waktu tertentu yang khusus maka tidak ada di dalam anjuran syariat yang menunjukkan pengkhususan ini,justru di dalamnya ada hal yang menyelisihinya, karena membiasakan perkara yang tidak lazim secara syariat akan dipahami bahwa itu adalah syariat, khususnya kalau dihadiri oleh orang yang dijadikan teladan di tempat-tempat berkumpulnya manusia seperti masjid-masjid.” (Al-I’tisham 2/190)

Wallahu a’lam.

Ustadz Abdullah Roy, Lc.

Sumber: tanyajawabagamaislam.blogspot.com

dinukil ulang dari http://konsultasisyariah.com

  1. Zen Ahmad
    Februari 8, 2015 pukul 1:09 pm

    bismillahirrahmanirrahiim,,,,
    Dzikir bisa bermakna mengingat atau menyebut nama Allah,

    klo jenengan memaknai semua kalimat dzikir dalam beberapa hadits dengan AlQur’an itu adalah pendapat dan pemahaman jenengan

    tapi tentu ada ulama yang mempunyai pandangan kalau yang di sebut kalimat dzikir di beberapa hadits itu adalah menyebut atau mengingat jadi tentu itu juga pandangan dan pemahaman kami,

    Terimakasih zen ahmad, sudah komentar disini,.
    Dzikir itu adalah Ibadah, dan karena itu ibadah, maka wajib nunggu dalil yang memerintahkannya, jangan buat-buat dzikir sendiri, baik lafadznya, atau cara berdzikirnya,. silahkan anda baca disini, ibadah itu wajib nunggu dalil, klik disini

    Jadi ibadah itu bukan menurut ulama kami, atau menurut pandangan dan pemahaman kami, tapi wajib menurut perintah Allah dan Rasulnya

    maka tentu tidak di ragukan lagi dalam menyikapi dzikir bersama ini masuk dalam ikhtilaf.

    jadi kita harus arif dalam menyikapinya,,

    bukan masalah ikhtilaf, tapi iftiraq,. menyelisihi petunjuk rasulullah, dan sahabat pun pernah mengingkari dengan keras, ada orang yang pertama kali mengadakan dzikir berjamaah,. jadi anggapan yang keliru jika menganggap itu adalah ikhtilaf diantara ulama,

    saya sangat menghargai penjenengan karena cintanya kepada allah dan RasulNya panjenengan berusaha berhati-hati dalam menjaga kemurnian amalan panjenengan,,

    tapi tentu jangan gampang memvonis kalau dzikir bersama itu perbuatan sesat.

    Yang memvonis dzikir bersama itu sesat bukan saya, tapi ada sahabat yang mengingkari cara-cara dzikir berjamaah tersebut,.yaitu Abdullah bin Mas’ud, tidakkah anda membaca postingan diatas dengan seksama?

  2. Anonymous
    Februari 7, 2015 pukul 3:19 pm

    sebenarnya saya lagi bingung apakah yg membaca doa dg zikir salah menurut pandangan islam

    Jika membaca dzikir dan doa yang bukan ajaran dari rasulullah, lalu itu diritualkan, maka perbuatan orang tersebut adalah perbuatan tercela,. dan doa dan dzikirnya menjadi amalan bidah,.dan semua bidah itu sesat,.

  3. Nur Kholis Mustofa Mustofa
    November 21, 2014 pukul 3:25 am

    Nabi muhammad menegur salah stu umatnya supaya tidak mengeraskan dzikirnya sesudah sahalat fardu pada saat itu di karnakan dalam keadaan menuju pertempuran,,,

    sebab jika di baca dengan keras maka semua rombongan beserta rasul bisa celaka saat itu karna,, bisa ketahuan musuh saat itu,,…

    tapi disaat di tempat aman di masjid sendiri berdikir dengan keras secara berjamaah nda papa,,,

    rasul ga melarang karna berdzikir itu memuji allah ….

    caba pahami setiap hadis itu di setiap keadaan dalm hadis tersebut,,,,.

    Terimakasih Nur kholis,
    Darimanakah penjelasan yang anda paparkan? dari hadits rasul atau dari logika anda sendiri??
    Jika dengan logika anda sendiri, maka sangat ngawur, sebab justru orang kafir itu sangat takut jika umat di jaman nabi muhammad bertakbir, justru jika itu logikanya, dalam pertempuran atau peperangan bukan takbir atau dzikirnya tidak boleh dikeraskan, justru akan dikeraskan untuk membuat orang-orang kafir itu takut, bukan malah sebaliknya,.

    Jadi logika anda sangat ngawur,. dan salah dalam memahami hadits juga ayat alquran yang menyuruh dzikir dengan suara pelan,.

    Ada juga penjelasan, dulu rasulullah berdzikir dengan suara keras, itu dalam rangka mengajarkan para sahabat lafadz dzikir-dzikirnya, namun setelah mereka hafal, maka mereka dzikir pelan, sendiri-sendiri,.

  4. aris
    Desember 20, 2010 pukul 12:09 pm

    “Tidaklah sekelompok orang berkumpul dan bardzikir menyebut Nama-nama Allah kecuali mereka dikelilingi oleh para Malaikat, diliputi rahmat, diturunkan kepada mereka ketenangan, dan Allah sebut mereka di kalangan para Malaikat yang mulia”. (HR. Muslim)

    Silahkan baca penjelasannya disini: https://aslibumiayu.wordpress.com/2010/12/20/mengkritisi-dzikir-berjamaah/

  5. gondrong
    Desember 19, 2010 pukul 2:52 pm

    kayaknya antum ini membenturkan hadist shohih ttg keutamaan berzikir hanya dengan atsar dari shahabat? hanya sebuah atsar yg riwayatnya dhoif pula???
    hm…sungguh….??

    mas gondrong, mudah-mudahan Allah memberikan petunjuknya kapada saya dan anda,
    Berikut saya nukilkan kesimpulan dari mengeraskan dzikir,

    Dzikir secara umum sunnahnya dilirihkan, sebagaimana firman-Nya: “Ingatlah Tuhanmu dalam dirimu dengan rendah hati, dan rasa takut, serta tanpa mengeraskan suara…” (al-A’rof: 205), kecuali bila ada dalil yang meng-khususkan dzikir tertentu untuk dikeraskan, seperti hadits di atas.

    Imam Syafi’i berpendapat, bahwa mengeraskan dzikir setelah jamaah sholat wajib lima waktu, tidak sesuai sunnah. Beliau mentakwil hadits di atas dengan mengatakan bahwa hal itu hanya dilakukan oleh Rosululloh -sholallallohu alaihi wasallam- untuk sementara waktu saja, karena tujuan mengajari para sahabatnya. Oleh karenanya beliau hanya membolehkan mengeraskan dzikir yang dibaca setelah jama’ah sholat wajib ketika ada tujuan itu, jika tidak ada tujuan itu, maka sunnahnya dilirihkan. Pendapat ini juga dipilih oleh Imam Nawawi dan Syeikh Albani -rohimahumulloh-.

    Bahkan Ibnu Baththol, sebagaimana dinukil oleh Imam nawawi mengatakan, bahwa para ulama madzhab yang diikuti dan yang lainnya sepakat dengan pendapat tidak disunnahkannya mengangkat suara ketika dzikir dan takbir setelah sholat wajib.

    selengkapnya baca disini: https://aslibumiayu.wordpress.com/2010/12/19/mengeraskan-dzikir-setelah-shalat-jamaah/

  6. as sunni
    Desember 19, 2010 pukul 2:20 pm

    Dzikir Berjama’ah Setelah Shalat Dengan Suara Keras

    as sunni, semoga Allah merahmati saya dan anda,
    Baca ulasannya yang lebih luas disini: https://aslibumiayu.wordpress.com/2010/12/19/mengeraskan-dzikir-setelah-shalat-jamaah/

  7. as sunni
    Desember 18, 2010 pukul 2:28 pm

    Berkumpul di suatu tempat untuk berdzikir bersama hukumnya adalah sunnah dan merupakan jalan untuk mendapatkan pahala dari Allah, jika memang tidak dibarengi dengan perkara-perkara yang diharamkan. Hadits-hadits yang menunjukkan kesunnahan tentang ini sangat banyak, di antaranya: (Lihat an-Nawawi, Riyadl ash-Shalihin, hal. 470-473)وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ (رواه مسلم)

    لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالَى إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِيْنَ
    “Tidaklah sekelompok orang berkumpul dan bardzikir menyebut Nama-nama Allah kecuali mereka dikelilingi oleh para Malaikat, diliputi rahmat, diturunkan kepada mereka ketenangan, dan Allah sebut mereka di kalangan para Malaikat yang mulia”. (HR. Muslim)

    Mas, maksud hadits diatas bukan kumpul-kumpul dzikir berjama’ah mas,
    Tolong sebutkan ulama yang menjelaskan hadits diatas adalah dzikir berjama’ah,…tidak akan pernah didapati di kitab-kitab para ulama ahlussunnah,
    Maksud hadits diatas adalah berkumpul untuk thalabul ilm, mendengarkan hadits dan alquran serta penjelasannya, mengkaji ilmu-ilmu islam,… bukan dzikir berjama’ah..
    Ingat, Alquran itu disebut juga sebagai adzikr, lihat firman allah, ” sesungguhnya kami yang menurunkan “adzikra” dan kamilah yang akan menjaganya,… adzikra disini adalah alquran,
    ada lagi, ayat ” tanyakanlah kepada “ahlu dzikri” jika kamu tidak mengetahui,… ahlu dzikri disini adalah orang yang faham terhadap alquran, bukan ahlu dzikri itu adalah orang yang kerjaannya dzikir berjama’ah…

    2. al-Imam Muslim dan al-Imam at-Tirmidzi meriwayatkan:
    أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَليهِ وَسَلّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَقَالَ: مَا يُجْلِسُكُمْ ؟ قَالُوْا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ وَنَحْمَدُهُ، فَقَالَ: إِنَّهُ أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ فَأَخْبَرَنِيْ أَنَّ اللهَ يُبَاهِيْ بِكُمْ الْمَلاَئِكَةَ (أخرجه مسلم والترمذيّ)

    “Suatu ketika Rasulullah keluar melihat sekelompok sahabat yang sedang duduk bersama, lalu Rasulullah bertanya: Apa yang membuat kalian duduk bersama di sini? Mereka menjawab: Kami duduk berdzikir kepada Allah dan memuji-Nya, kemudian Rasulullah bersabda: “Sungguh Aku didatangi oleh Jibril dan ia memberitahukan kepadaku bahwa Allah membanggakan kalian di kalangan para Malaikat”. (HR. Muslim dan at-Tirmidzi)

    Mas, para sahabat tidak melakukan dzikir berjama’ah mas, tolong dong baca penjelasan ulama ahlus sunnah tentang hadits diatas, bukan mencomot hadits, tanpa dijelaskan penjelasan para ulama,..
    Para sahabat berdzikir masing-masing, dan membicarakan masalah agama, mereka mengkaji agama ini, sehingga datang waktu isya, kemudian Rasulullah mendatangi mereka dan bertanya kepada para sahabat,
    Hadits diatas bukanlah dalil tentang amalan dzikir bersama,… lucu sekali mas as sunni ini,

    3. Dalam hadits lain Rasulullah bersabda:
    مَا مِنْ قَوْمٍ اجْتَمَعُوْا يَذْكُرُوْنَ اللهَ لاَ يُرِيْدُوْنَ بِذَلِكَ إِلاَّ وَجْهَهُ تَعَالَى إِلاَّ نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ قُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ (أخرجه الطّبَرانِيّ)

    “Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk berdzikir, dan mereka tidak berharap dengan itu kecuali untuk mendapat ridla Allah maka Malaikat menyeru dari langit: Berdirilah kalian dalam keadaan sudah terampuni dosa-dosa kalian”. (HR. ath-Thabarani)

    Penjelasannya sama dengan yang diatas, bukanlah dalil tuk dzikir berjama’ah, tapi itu adalah dalil tentang dzikir secara umum, atau duduk untuk mempelajari ilmu agama, sehingga ketika mereka selesai dan berdiri, maka mereka diampuni dosa-dosanya,

    Sedangkan dalil yang menunjukkan kesunnahan mengeraskan suara dalam berdzikir secara umum, di antaranya adalah hadits Qudsi: Rasulullah bersabda:
    يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ، فَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِيْ، وَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ (متّفق عليه)

    “Allah berfirman: “Aku Maha kuasa untuk berbuat seperti harapan hambaku terhadap-Ku”, dan Aku senantiasa menjaganya dan memberikan taufiq serta pertolongan terhadapnya jika ia menyebut nama-Ku. Jika ia menyebutku dengan lirih maka Aku akan memberinya pahala dan rahmat secara sembunyi-sembunyi, dan jika ia menyebut-Ku secara berjama’ah atau dengan suara keras maka Aku akan menyebutnya di kalangan para Malaikat yang mulia”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

    Makna “Aku Maha kuasa untuk berbuat seperti harapan hambaku terhadap-Ku” artinya; Jika hamba tersebut berharap untuk diampuni maka akan Aku (Allah) ampuni dosanya. Jika ia mengira taubatnya akan Aku terima maka Aku akan menerima taubatnya. Jika ia berharap akan Aku kabulkan doanya maka akan Aku kabulkan. Dan jika ia mengira Aku mencukupi kebutuhannya maka akan Aku cukupi kebutuhan yang dimintanya. Penjelasan ini seperti tuturkan oleh al-Qadli ‘Iyadl al-Maliki.

    Hadits diatas tidak ada anjuran berdzikir secara keras, perhatikan penjelasan imam syafii:
    Berkata Imam Asy-Syafi’i dalam kitab Al-Umm bahwasanya Nabi Shallallahu
    ‘alaihi wa sallam mengeraskan suaranya ketika berdzikir adalah untuk mengajari orang-orang yang belum bisa melakukannya. Dan jika amalan tersebut untuk hanya pengajaran maka biasanya tidak dilakukan secara terus menerus.

    Banyak sekali hadits-hadits shahih yang melarang berdzikir dengan suara yang keras, sebagaimana hadits Abu Musa Al-Asy’ari yang terdapat dalam Shahihain yang menceritakan perjalanan para shahabat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Musa berkata : Jika kami menuruni lembah maka kami bertasbih dan jika kami mendaki tempat yang tinggi maka kami bertakbir. Dan kamipun mengeraskan suara-suara dzikir kami. Maka berkata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya : Wahai sekalian manusia, berlaku baiklah kepada diri kalian sendiri. Sesungguhnya yang kalian seru itu tidaklah tuli dan tidak pula ghaib. Sesunguhnya kalian berdo’a kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, yang lebih dekat dengan kalian daripada leher tunggangan kalian sendiri”.

    Kejadian ini berlangsung di padang pasir yang tidak mungkin mengganggu siapapun. Lalu bagaimana pendapatmu, jika mengeraskan suara dzikir itu berlangsung dalam masjid yang tentu mengganggu orang yang sedang membaca Al-Qur’an, orang yang ‘masbuq’ dan lain-lain. Jadi dengan alasan mengganggu orang lain inilah kita dilarang mengeraskan suara dzikir.

    Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya : Wahai sekalian manusia, masing-masing kalian bermunajat (berbisik-bisik) kepada Rabb kalian, maka janganlah sebagian kalian men-jahar-kan bacaannya dengan mengganggu sebagian yang lain.

  1. No trackbacks yet.

silahkan komentar jika kurang jelas atau ada yang ingin ditanyakan..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.051 pengikut lainnya.