Beranda > Belajar Nasehat, ramadhan, Tarjih > Awal Puasa / Hari Raya Berbeda ? Muslim Wajib Mengikuti Pemerintah , bukan mengikuti ORMAS, wajib mengikuti anjuran nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam..

Awal Puasa / Hari Raya Berbeda ? Muslim Wajib Mengikuti Pemerintah , bukan mengikuti ORMAS, wajib mengikuti anjuran nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam..


Taat kepada pemerintah dalam perkara kebaikan. Inilah salah satu prinsip agama yang kini telah banyak dilupakan dan ditinggalkan umat. Yang kini banyak dilakukan justru berupaya mencari keburukan pemerintah sebanyak-banyaknya untuk kemudian disebarkan ke masyarakat. Akibat buruk dari ditinggalkannya prinsip ini sudah banyak kita rasakan. Satu diantaranya adalah munculnya perpecahan di kalangan umat Islam saat menentukan awal Ramadhan atau Hari Raya.

Bulan suci Ramadhan merupakan bulan istimewa bagi umat Islam. Hari-harinya diliputi suasana ibadah; shaum, shalat tarawih, bacaan Al-Qur`an, dan sebagainya. Sebuah fenomena yang tak didapati di bulan-bulan selainnya. Tak ayal, bila kedatangannya menjadi dambaan, dan kepergiannya meninggalkan kesan yang mendalam. Tak kalah istimewanya, ternyata bulan suci Ramadhan juga sebagai salah satu syi’ar kebersamaan umat Islam.

Secara bersama-sama mereka melakukan shaum Ramadhan; dengan menahan diri dari rasa lapar, dahaga dan dorongan hawa nafsu sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, serta mengisi malam-malamnya dengan shalat tarawih dan berbagai macam ibadah lainnya. Tak hanya kita umat Islam di Indonesia yang merasakannya. Bahkan seluruh umat Islam di penjuru dunia pun turut merasakan dan memilikinya.

Namun syi’ar kebersamaan itu kian hari semakin pudar, manakala elemen-elemen umat Islam di banyak negeri saling berlomba merumuskan keputusan yang berbeda dalam menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan.

Keputusan itu terkadang atas nama ormas, terkadang atas nama parpol, dan terkadang pula atas nama pribadi.

Masing-masing mengklaim, keputusannya yang paling benar.

Tak pelak, shaum Ramadhan yang merupakan syi’ar kebersamaan itu (kerap kali) diawali dan diakhiri dengan fenomena perpecahan di tubuh umat Islam sendiri. Tentunya, ini merupakan fenomena menyedihkan bagi siapa pun yang mengidamkan persatuan umat.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Mungkin anda akan berkata:

“Itu karena adanya perbedaan pendapat diantara elemen umat Islam, apakah awal masuk dan keluarnya bulan Ramadhan itu ditentukan oleh ru`yatul hilal (melihat hilal) ataukah dengan ilmu hisab?”.

Bisa juga anda mengatakan:

“Karena adanya perbedaan pendapat, apakah di dunia ini hanya berlaku satu mathla’ (tempat keluarnya hilal) ataukah masing-masing negeri mempunyai mathla’ sendiri-sendiri?”

Bila kita mau jujur soal penyebab pudarnya syi’ar kebersamaan itu, lepas adanya realita perbedaan pendapat di atas, utamanya disebabkan makin tenggelamnya salah satu prinsip penting agama Islam dari hati sanubari umat Islam. Prinsip itu adalah memuliakan dan menaati penguasa (pemerintah) umat Islam dalam hal yang ma’ruf (kebaikan).

Mungkin timbul tanda tanya:

“Apa hubungannya antara ketaatan terhadap penguasa dengan pelaksanaan shaum Ramadhan?”

Layak dicatat, hubungan antara keduanya sangat erat. Hal itu karena:

1. Shaum Ramadhan merupakan syi’ar kebersamaan umat Islam, dan suatu kebersamaan umat tidaklah mungkin terwujud tanpa adanya ketaatan terhadap penguasa.

2. Penentuan pelaksanaan shaum Ramadhan merupakan perkara yang ma’ruf (kebaikan) dan bukan kemaksiatan. Sehingga menaati penguasa dalam hal ini termasuk perkara yang diperintahkan dalam agama Islam. Terlebih ketika penentuannya setelah melalui sekian proses, dari pengerahan tim ru`yatul hilal di sejumlah titik di negerinya hingga digelarnya sidang-sidang istimewa.

3. Realita juga membuktikan, dengan menaati keputusan penguasa dalam hal pelaksanaan shaum Ramadhan dan penentuan hari raya `Idul Fithri, benar-benar tercipta suasana persatuan dan kebersamaan umat. Sebaliknya, ketika umat Islam berseberangan dengan penguasanya, perpecahan di tubuh mereka pun sangat mencolok. Maka dari itu, menaati penguasa dalam hal ini termasuk perkara yang diperintahkan dalam agama Islam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah. Barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah. Barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti telah menaatiku, dan barangsiapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menentangku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani berkata: “Di dalam hadits ini terdapat keterangan tentang kewajiban menaati para penguasa dalam perkara-perkara yang bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adalah untuk menjaga persatuan dan kebersamaan (umat Islam), karena di dalam perpecahan terdapat kerusakan.” (Fathul Bari, juz 13, hal. 120)

Mungkin ada yang bertanya,

“Adakah untaian fatwa dari para ulama seputar permasalahan ini?”

Maka jawabnya ada, sebagaimana berikut ini:

Fatwa Para Ulama Seputar Shaum Ramadhan Bersama Penguasa

Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata:

“Seseorang (hendaknya) bershaum bersama penguasa dan jamaah (mayoritas) umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.” Beliau juga berkata: “Tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama Al-Jama’ah.” (Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juz 25, hal. 117).

Al-Imam At-Tirmidzi berkata:

“Sebagian ahlul ilmi menafsirkan hadits ini hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu : “Shaum itu di hari kalian (umat Islam) bershaum, (waktu) berbuka adalah pada saat kalian berbuka, dan (waktu) berkurban/ Iedul Adha di hari kalian berkurban.” dengan ucapan (mereka): `Sesungguhnya shaum dan berbukanya itu (dilaksanakan) bersama Al-Jama’ah dan mayoritas umat Islam’.” (Tuhfatul Ahwadzi juz 2, hal. 37. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2, hal. 443).

Al-Imam Abul Hasan As-Sindi berkata:

“Yang jelas, makna hadits ini adalah bahwasanya perkara-perkara semacam ini (menentukan pelaksanaan shaum Ramadhan, berbuka puasa/Iedul Fithri dan Iedul Adha, -pen.) keputusannya bukanlah di tangan individu. Tidak ada hak bagi mereka untuk melakukannya sendiri-sendiri. Bahkan permasalahan semacam ini dikembalikan kepada penguasa dan mayoritas umat Islam. Dalam hal ini, setiap individu pun wajib untuk mengikuti penguasa dan mayoritas umat Islam. Maka dari itu, jika ada seseorang yang melihat hilal (bulan sabit) namun penguasa menolak persaksiannya, sudah sepatutnya untuk tidak dianggap persaksian tersebut dan wajib baginya untuk mengikuti mayoritas umat Islam dalam permasalahan itu.” (Hasyiyah `ala Ibni Majah, lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2, hal. 443).

Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkata:

“Dan selama belum (terwujud) bersatunya negeri-negeri Islam di atas satu mathla’ (dalam menentukan pelaksanaan shaum Ramadhan, -pen.), aku berpendapat bahwa setiap warga negara hendaknya melaksanakan shaum Ramadhan bersama negaranya (pemerintahnya) masing-masing dan tidak bercerai-berai dalam perkara ini, yakni shaum bersama pemerintah dan sebagian lainnya shaum bersama negara lain, baik mendahului pemerintahnya atau pun belakangan. Karena yang demikian itu dapat mempertajam perselisihan di tengah masyarakat muslim sendiri. Sebagaimana yang terjadi di sebagian negara Arab sejak beberapa tahun yang lalu. Wallahul Musta’an.” (Tamamul Minnah hal. 398). (Catatan : Beliau merupakan salah satu ulama yang berpendapat bahwasanya pelaksanaan shaum Ramadhan dan Idul Fithri di dunia ini hanya dengan satu mathla’ saja, sebagaimana yang beliau rinci dalam kitab Tamamul Minnah hal. 398. Walaupun demikian, beliau sangat getol mengajak umat Islam (saat ini) untuk melakukan shaum Ramadhan dan Iedul Fithri bersama penguasanya, sebagaimana perkataan beliau di atas).

Beliau rahimahumullah juga berkata:

“Inilah yang sesuai dengan syariat (Islam) yang toleran, yang diantara misinya adalah mempersatukan umat manusia, menyatukan barisan mereka serta menjauhkan mereka dari segala pendapat pribadi yang memicu perpecahan. Syariat ini tidak mengakui pendapat pribadi meski menurut yang bersangkutan benar dalam ibadah yang bersifat kebersamaan seperti; shaum, Ied, dan shalat berjamaah. Tidakkah engkau melihat bahwa sebagian shahabat radhiallahu ‘anhum shalat bermakmum di belakang shahabat lainnya, padahal sebagian mereka ada yang berpendapat bahwa menyentuh wanita, menyentuh kemaluan, dan keluarnya darah dari tubuh termasuk pembatal wudhu, sementara yang lainnya tidak berpendapat demikian?! Sebagian mereka ada yang shalat secara sempurna (4 rakaat) dalam safar dan diantara mereka pula ada yang mengqasharnya (2 rakaat). Namun perbedaan itu tidaklah menghalangi mereka untuk melakukan shalat berjamaah di belakang seorang imam (walaupun berbeda pendapat dengannya, -pen.) dan tetap berkeyakinan bahwa shalat tersebut sah. Hal itu karena adanya pengetahuan mereka bahwa bercerai-berai dalam urusan agama lebih buruk daripada sekedar berbeda pendapat. Bahkan sebagian mereka mendahulukan pendapat penguasa daripada pendapat pribadinya pada momen berkumpulnya manusia seperti di Mina. Hal itu semata-mata untuk menghindari kesudahan buruk (terjadinya perpecahan) bila dia tetap mempertahankan pendapatnya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud (1/307), bahwasanya Khalifah `Utsman bin `Affan radhiallahu ‘anhu shalat di Mina 4 rakaat (Zhuhur, `Ashar, dan Isya’ -pen). Maka shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengingkarinya seraya berkata: “Aku telah shalat (di Mina/hari-hari haji, -pen.) bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, `Umar dan di awal pemerintahan `Utsman 2 rakaat, dan setelah itu `Utsman shalat 4 rakaat. Kemudian terjadilah perbedaan diantara kalian (sebagian shalat 4 rakaat dan sebagian lagi 2 rakaat, -pen.), dan harapanku dari 4 rakaat shalat itu yang diterima adalah yang 2 rakaat darinya.”

Namun ketika di Mina, shahabat Abdullah bin Mas’ud justru shalat 4 rakaat. Maka dikatakanlah kepada beliau:

“Engkau telah mengingkari `Utsman atas shalatnya yang 4 rakaat, (mengapa) kemudian engkau shalat 4 rakaat pula?!”

Abdullah bin Mas’ud berkata:

“Perselisihan itu jelek.”

Sanadnya shahih. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Ahmad (5/155) seperti riwayat di atas dari shahabat Abu Dzar radhiallahu ‘anhu.

Maka dari itu, hendaknya hadits dan atsar ini benar-benar dijadikan bahan renungan oleh orang-orang yang (hobi, -pen.) berpecah-belah dalam urusan shalat mereka serta tidak mau bermakmum kepada sebagian imam masjid, khususnya shalat witir di bulan Ramadhan dengan dalih beda madzhab. Demikian pula orang-orang yang bershaum dan berbuka sendiri, baik mendahului mayoritas kaum muslimin atau pun mengakhirkannya dengan dalih mengerti ilmu falaq, tanpa peduli harus berseberangan dengan mayoritas kaum muslimin. Hendaknya mereka semua mau merenungkan ilmu yang telah kami sampaikan ini. Dan semoga ini bisa menjadi obat bagi kebodohan dan kesombongan yang ada pada diri mereka. Dengan harapan agar mereka selalu dalam satu barisan bersama saudara-saudara mereka kaum muslimin, karena tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama Al-Jama’ah.” (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2, hal. 444-445)

Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu pernah ditanya:

“Jika awal masuknya bulan Ramadhan telah diumumkan di salah satu negeri Islam semisal kerajaan Saudi Arabia, namun di negeri kami belum diumumkan, bagaimanakah hukumnya? Apakah kami bershaum bersama kerajaan Saudi Arabia ataukah bershaum dan berbuka bersama penduduk negeri kami, manakala ada pengumuman? Demikian pula halnya dengan masuknya Iedul Fithri, apa yang harus kami lakukan bila terjadi perbedaan antara negeri kami dengan negeri yang lainnya? Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas engkau dengan kebaikan.”

Beliau menjawab:

“Setiap muslim hendaknya bershaum dan berbuka bersama (pemerintah) negerinya masing-masing. Hal itu berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Waktu shaum itu di hari kalian (umat Islam) bershaum, (waktu) berbuka adalah pada saat kalian berbuka, dan (waktu) berkurban/Iedul Adha di hari kalian berkurban.” Wabillahit taufiq. (Lihat Fatawa Ramadhan hal. 112)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu ditanya:

“Umat Islam di luar dunia Islam sering berselisih dalam menyikapi berbagai macam permasalahan seperti (penentuan) masuk dan keluarnya bulan Ramadhan, serta saling berebut jabatan di bidang dakwah. Fenomena ini terjadi setiap tahun. Hanya saja tingkat ketajamannya berbeda-beda tiap tahunnya. Penyebab utamanya adalah minimnya ilmu agama, mengikuti hawa nafsu dan terkadang fanatisme madzhab atau partai, tanpa mempedulikan rambu-rambu syariat Islam dan bimbingan para ulama yang kesohor akan ilmu dan wara’-nya. Maka, adakah sebuah nasehat yang kiranya bermanfaat dan dapat mencegah (terjadinya) sekian kejelekan? Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq dan penjagaan-Nya kepada engkau.”

Beliau berkata:

“Umat Islam wajib bersatu dan tidak boleh berpecah-belah dalam beragama. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dia telah mensyariatkan bagi kalian tentang agama, apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepadamu, Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu:’ Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah-belah tentangnya’.” (Asy-Syura: 13)

“Dan berpegang-teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Ali `Imran: 103)

“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah keterangan datang kepada mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih.” (Ali `Imran: 105)

Sehingga umat Islam wajib untuk menjadi umat yang satu dan tidak berpecah-belah dalam beragama. Hendaknya waktu shaum dan berbuka mereka satu, dengan mengikuti keputusan lembaga/departemen yang menangani urusan umat Islam dan tidak bercerai-berai (dalam masalah ini), walaupun harus lebih tertinggal dari shaum kerajaan Saudi Arabia atau negeri Islam lainnya.” (Fatawa Fi Ahkamish Shiyam, hal. 51-52).

Fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah Lil-Buhuts Al-`Ilmiyyah wal-Ifta`:

“Dan tidak mengapa bagi penduduk negeri manapun, jika tidak melihat hilal (bulan tsabit) di tempat tinggalnya pada malam ke-30, untuk mengambil hasil ru`yatul hilal dari tempat lain di negerinya. Jika umat Islam di negeri tersebut berbeda pendapat dalam hal penentuannya, maka yang harus diikuti adalah keputusan penguasa di negeri tersebut bila ia seorang muslim, karena (dengan mengikuti) keputusannya akan sirnalah perbedaan pendapat itu. Dan jika si penguasa bukan seorang muslim, maka hendaknya mengikuti keputusan majelis/departemen pusat yang membidangi urusan umat Islam di negeri tersebut. Hal ini semata-mata untuk menjaga kebersamaan umat Islam dalam menjalankan shaum Ramadhan dan shalat Id di negeri mereka. Wabillahit taufiq, washallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wasallam.” Pemberi fatwa: Asy-Syaikh Abdur Razzaq `Afifi, Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, dan Asy-Syaikh Abdullah bin Mani’. (Lihat Fatawa Ramadhan hal. 117)

Demikianlah beberapa fatwa para ulama terdahulu dan masa kini seputar kewajiban bershaum bersama penguasa dan mayoritas umat Islam di negerinya. Semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan ibrah bagi orang-orang yang mendambakan persatuan umat Islam.

Mungkin masih ada yang mengatakan bahwasanya kewajiban menaati penguasa dalam perkara semacam ini hanya berlaku untuk seorang penguasa yang adil. Adapun bila penguasanya dzalim atau seorang koruptor, tidak wajib taat kepadanya walaupun dalam perkara-perkara kebaikan dan bukan kemaksiatan, termasuk dalam hal penentuan masuk dan keluarnya bulan Ramadhan ini.

Satu hal yang perlu digarisbawahi dalam hal ini, jika umat dihadapkan pada polemik atau perbedaan pendapat, prinsip `berpegang teguh dan merujuk kepada Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam’ haruslah senantiasa dikedepankan. Sebagaimana bimbingan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kalam-Nya nan suci:

“Dan berpegang-teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Ali `Imran: 103)

Al-Imam Al-Qurthubi berkata:

“Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh dengan Kitab-Nya (Al-Qur`an) dan Sunnah Nabi-Nya, serta merujuk kepada keduanya di saat terjadi perselisihan. Sebagaimana Dia (juga) memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas Al-Qur`an dan As-Sunnah baik secara keyakinan atau pun amalan” (Tafsir Al-Qurthubi, 4/105)

Para pembaca yang mulia, bila anda telah siap untuk merujuk kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah maka simaklah bimbingan dari Al-Qur`an dan As-Sunnah berikut ini: Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan Ulil Amri diantara kalian.” (An-Nisa`: 59)

Al-Imam An-Nawawi berkata:

“Yang dimaksud dengan Ulil Amri adalah orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan untuk ditaati dari kalangan para penguasa dan pemimpin umat. Inilah pendapat mayoritas ulama terdahulu dan sekarang dari kalangan ahli tafsir dan fiqih serta yang lainnya.” (Syarh Shahih Muslim, juz 12, hal. 222)

Adapun baginda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau seringkali mengingatkan umatnya seputar permasalahan ini. Diantaranya dalam hadits-hadits beliau berikut ini:

1. Shahabat `Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu berkata:

“Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya kepadamu tentang ketaatan (terhadap penguasa) yang bertakwa. Yang kami tanyakan adalah ketaatan terhadap penguasa yang berbuat demikian dan demikian (ia sebutkan kejelekan-kejelekannya).” Maka Rasulullah bersabda: “Bertakwalah kalian kepada Allah, dengarlah dan taatilah (penguasa tersebut).” (HR. Ibnu Abi `Ashim dalam Kitab As-Sunnah, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah Fitakhrijis Sunnah, 2/494, no. 1064)

2. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Akan ada sepeninggalku nanti para imam/penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada diantara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan namun berbadan manusia.” Hudzaifah berkata: “Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya, maka dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman, 3/1476, no. 1847).

3. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Seburuk-buruk penguasa kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian mencaci mereka dan mereka pun mencaci kalian.” Lalu dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang (memberontak)?” Beliau bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Dan jika kalian melihat mereka mengerjakan perbuatan yang tidak kalian sukai, maka bencilah perbuatannya dan jangan mencabut/meninggalkan ketaatan (darinya).” (HR. Muslim, dari shahabat `Auf bin Malik, 3/1481, no. 1855)

Para ulama kita pun demikian adanya. Mereka (dengan latar belakang daerah, pengalaman dan generasi yang berbeda-beda) telah menyampaikan arahan dan bimbingannya yang amat berharga seputar permasalahan ini, sebagaimana berikut:

Shahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata:

“Urusan kaum muslimin tidaklah stabil tanpa adanya penguasa, yang baik atau yang jahat sekalipun.”

Orang-orang berkata:

“Wahai Amirul Mukminin, kalau penguasa yang baik kami bisa menerimanya, lalu bagaimana dengan yang jahat?”

Ali bin Abi Thalib berkata:

“Sesungguhnya (walaupun) penguasa itu jahat namun Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap memerankannya sebagai pengawas keamanan di jalan-jalan dan pemimpin dalam jihad” (Syu’abul Iman, karya Al-Imam Al-Baihaqi juz 13, hal.187, dinukil dari kitab Mu’amalatul Hukkam, karya Asy-Syaikh Abdus Salam bin Barjas hal. 57).

Al-Imam Ibnu Abil `Iz Al-Hanafi berkata:

“Adapun kewajiban menaati mereka (penguasa) tetaplah berlaku walaupun mereka berbuat jahat. Karena tidak menaati mereka dalam hal yang ma’ruf akan mengakibatkan kerusakan yang jauh lebih besar dari apa yang ada selama ini. Dan di dalam kesabaran terhadap kejahatan mereka itu terdapat ampunan dari dosa-dosa serta (mendatangkan) pahala yang berlipat.” (Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 368).

Al-Imam Al-Barbahari berkata:

“Ketahuilah bahwa kejahatan penguasa tidaklah menghapuskan kewajiban (menaati mereka, -pen.) yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan melalui lisan Nabi-Nya. Kejahatannya akan kembali kepada dirinya sendiri, sedangkan kebaikan-kebaikan yang engkau kerjakan bersamanya akan mendapat pahala yang sempurna insya Allah. Yakni kerjakanlah shalat berjamaah, shalat Jum’at dan jihad bersama mereka, dan juga berpartisipasilah bersamanya dalam semua jenis ketaatan (yang dipimpinnya).” (Thabaqat Al-Hanabilah karya Ibnu Abi Ya’la, 2/36, dinukil dari Qa’idah Mukhtasharah, hal. 14).

Al-Imam Ibnu Baththah Al-Ukbari berkata:

“Telah sepakat para ulama ahli fiqh, ilmu, dan ahli ibadah, dan juga dari kalangan Ubbad (ahli ibadah) dan Zuhhad (orang-orang zuhud) sejak generasi pertama umat ini hingga masa kita ini: bahwa shalat Jum’at, Idul Fitri dan Idul Adha, hari-hari Mina dan Arafah, jihad, haji, serta penyembelihan qurban dilakukan bersama penguasa, yang baik ataupun yang jahat.” (Al-Ibanah, hal. 276-281, dinukil dari Qa’idah Mukhtasharah hal. 16).

Al-Imam Al-Bukhari berkata:

“Aku telah bertemu dengan 1.000 orang lebih dari ulama Hijaz (Makkah dan Madinah), Kufah, Bashrah, Wasith, Baghdad, Syam dan Mesir.” Kemudian beliau berkata: “Aku tidak melihat adanya perbedaan diantara mereka tentang perkara berikut ini beliau lalu menyebutkan sekian perkara, diantaranya kewajiban menaati penguasa (dalam hal yang ma’ruf).” (Syarh Ushulil I’tiqad Al-Lalika`i, 1/194-197).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani berkata:

“Di dalam hadits ini (riwayat Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah di atas,-pen.) terdapat keterangan tentang kewajiban menaati para penguasa dalam perkara-perkara yang bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adalah untuk menjaga persatuan dan kebersamaan (umat Islam), karena di dalam perpecahan terdapat kerusakan.” (Fathul Bari, juz 13, hal. 120).

Para pembaca yang mulia, dari bahasan di atas dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwasanya:

1.Shaum Ramadhan merupakan syi’ar kebersamaan umat Islam yang harus dipelihara.

2.Syi’ar kebersamaan tersebut akan pudar manakala umat Islam di masing-masing negeri bercerai-berai dalam mengawali dan mengakhiri shaum Ramadhannya.

3.Ibadah yang bersifat kebersamaan semacam ini keputusannya berada di tangan penguasa umat Islam di masing-masing negeri, bukan di tangan individu.

4.Shaum Ramadhan bersama penguasa dan mayoritas umat Islam merupakan salah satu prinsip agama Islam yang dapat memperkokoh persatuan mereka, baik si penguasa tersebut seorang yang adil ataupun jahat. Karena kebersamaan umat tidaklah mungkin terwujud tanpa adanya ketaatan terhadap penguasa. Terlebih manakala ketentuannya itu melalui proses ru`yatul hilal di sejumlah titik negerinya dan sidang-sidang istimewa.

5.Realita membuktikan, bahwa dengan bershaum Ramadhan dan berhari-raya bersama penguasa (dan mayoritas umat Islam) benar-benar tercipta suasana persatuan dan kebersamaan umat. Sebaliknya ketika umat Islam berseberangan dengan penguasanya, suasana perpecahan di tubuh umat pun demikian mencolok. Yang demikian ini semakin menguatkan akan kewajiban bershaum Ramadhan dan berhari-raya bersama penguasa (dan mayoritas umat Islam).

Wallahu a’lam bish-shawab.

(Dikutip dari Dikutip dari majalah Asy Syariah, Vol.III/No.26/1427 H/2006, tulisan Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc, judul asli Shaum Ramadhan dan Hari Raya Bersama Penguasa, Syi’ar Kebersamaan Umat Islam.)

Semoga awal puasa dan hari raya Idul Fitri pada tahun ini bisa dilakukan secara serentak di tanah air.

About these ads
  1. salman
    September 23, 2012 pukul 10:49 am | #1

    kenapa tidak menggunakan hisab padahal Allah SWT menciptakan alam semesta menurut perhitungan dalam surat yunus ayat . nabi tidak menggunakan hisab karena nabi mengakui kaum nya adalah kaum tidak faham tentang masalah.

    kalau begitu kenapa antum shalat dengan menggunakan hisab(melihat jam)? padahal nabi kan shalat dengan melihat posisi matahari…dan kenapa pemerintah hanya merukyat pada waktu bulan ramadhan? … jika pemerintah itu konsisten seharusnya penandaan awal semua bulan qomariyah juga dengan rukyat.

    hisab hanya sebuah sarana dalam beribadah

    Terimakasih mas salman,
    jawabannya mudah, nabi saja tidak pernah melakukan hisab untuk memulai puasa,.
    Hisab bukanlah sarana yang diperintahkan oleh rasulullah,

    Jika hisab adalah ibadah, maka rasulullah sudah mencontohkannya, yg dicontohkan rasul adalah rukyatul hilal, jadi yg merupakan ibadah adalah sebagaimana contoh rasulullah, yaitu melihat hilal,.BUKAN HISAB,

    Terlepas siapapun pelakunya, apakah “ormas pengikut nabi muhammad” atau ormas atau kelompok lainya, cara yg benar adalah melihat hilal secara langsung,. dan keputusan final ada di tangan pemerintah, BUKAN DITANGAN ORMAS,

    Kenapa kita shalat tidak merukyat atau melihat matahari? karena tidak ada perintahnya, namun jika ada perintahnya Rasulullah setiap akan shalat itu selalu melihat matahari, maka kita akan lakukan,. dan nyatanya,.. tidak begitu rasulullah melakukannya,. berbeda dengan rasulullah memulai puasa ramadhan , beliau selalu melihat hilal,.

  2. pinter
    Agustus 22, 2012 pukul 11:00 am | #2

    setuju kata Adi. Lha wong yang penguasanya juga termasuk dalam golongan2, kebanyakan sih NU. Jelas lah yang pake hilal menag dan JADI KEPUTUSAN PEMERINTAH

    Kalau pemrintah pake metode hisab, admin mao ngikut pemerintah ga? wajib lho min hukumnya kaya penjabaran2 admin d atas :D

    Ya, ikut pemerintah, jika pemerintah salah dalam menentukan awal puasa, itu tanggungjawab pemerintah dihadapan Allah kelak, pemerintah akan mendapatkan dosa rakyat yang mengikuti keputusan tsb, sedangkan rakyat tidak berdosa, .. mudah bukan?

    • awal
      Agustus 24, 2012 pukul 4:29 am | #3

      Ya, ikut pemerintah, jika pemerintah salah dalam menentukan awal puasa, itu tanggungjawab pemerintah dihadapan Allah kelak, pemerintah akan mendapatkan dosa rakyat yang mengikuti keputusan tsb, sedangkan rakyat tidak berdosa, .. mudah bukan?
      ————–
      ini orang memang kacau pemahamannya, yg dipermasalahkan bukan salah atau benar pemerintah menentukan awal bulan hijrian (puasa/harai raya), yg jadi permasalahn jgn mutlak ada penyeragaman penentuan bulan hijriah, kan saya sdh bilang lihat lagi hadits dari kuraib (jarak damaskus dan madinah itu sekitar 1000 km atau seperti jarak jakarta-surabaya, di madinah aja g ngikutin kholifah di damaskus, anehnya dari sabang-merauke au dipaksain ngikutin pemerintah yg thoghut, pemerintah yg membiarkan tontonan TV penuh dgn tampilan aurat, sinetron yg ngajarin remaja pacaran, tp pemerintah diam saja, pemerintah thoghut juga melegalkan lokalisasi pelacuran dan tempat2 bar malam yg menjual miras di tempat2 tertentu).

      ah yang bener aja mas awal, di hadits kuraib mereka berpuasa menurut hilal ditempat tsb, bukan mengikuti madinah, lihat postingan saya tentang hadits kuraib disini

      nih dengerin…… depag itu berijtihad, dan ijtihad kalo benar dapat pahala dua dan kalo salah tetap dapat pahala satu (kan ada hadistnya), kecuali kalo depag kumpulan org2 yg ngasal ijtihadnya.

      Depag berijtihad itu karena memang depag bagian dari pemerintah, dan meman depag yang paling berhak menentukan, sebab depag itu adlah salah satu bagian dari pemerintahan yang menangani masalah keagamaan,
      Masa semua masalah presiden yang harus turun tangan?? yang bener aja mas,. tugas presiden sangat banyak mas, pak camat saja tugasnya banyak, apalagi setingkat presiden, mbok ya mikir mas, mas,..

      jadi pernyataan yg benar adh silahkan ikutin organisasi masing2 atau ikutin depag (depag bukan pemerintah, pemerintah itu pemimpin dan pemimpin layak dikutin dan depag bukan pemimpin)

      Benar menurut ente, karena anda ngga paham tentang hadits rasulullah tentang berpuasa bersama penguasa kaum muslimin, dalam hal ini pemerintah, bukan ormas,

      Kata siapa depag bukan pemerintah, depag itu wakil pemerintah mas,
      Paham arti DEPAG tidak mas,.. depag itu kan singkatan DEPARTEMEN AGAMA,
      Pemerintah itu membagi beberapa tugasnya kepada departemen-departemen,
      Gimana sih mas awal, kok depag dikatakan bukan pemerintah? itu wakil pemerintah mas,..
      Kalau ormas, nah itu diluar pemerintah, tidak memiliki hak untuk menentukan awal puasa kepada para anggotanya,
      Sebab anggota ormas adalah rakyat, jadi rakyat harus tunduk kepada pemerintah, demikian juga pengurus ormas, itu rakyat juga,..

      Mbok ya jangan lah menyerobot hak pemerintah dalam hal ini, sebesar apapun ormas tersebut, ormas tetaplah ormas, bukan pemerintah

      Demikian juga FPI , itu bukan lembaga pemerintah, mbok ya jangan lancang menindak sendiri tempat2 maksiat, itu sih salah satu bentuk maksiat FPI kepada pemerintah,.. salah kaprah, bener ora lumrah,

      Adapun jika pemerintah diam terhadap kemaksiatan yang ada, itu tanggung jawab pemerintah, kita sebagai rakyat tidak akan ditanya oleh Allah di padang masyar nanti, gimana penguasa kamu, kenapa tidak memberantas kemaksiatan,..

      Tapi bukan karena lantaran pemerintah diam thd kemaksiatan, atau mungkin malah melegalkan, lalu kita sebarkan hal tersebut kepada khalayak, ini sih salah satu kemungkaran kepada penguasa, kita akan ditanya tentang sikap kita tersebut,..

      Mudah-mudahan Allah menunjuki kita semua ke jalan yang benar,

  3. awal
    Agustus 20, 2012 pukul 5:55 am | #4

    Apakah pemerintah indonesia sudah berhukum dengan hukum Allah atau belum? jawabnya.. SUDAH, bahkan sebagian besarnya sudah menerapkan, mau bukti?? ini buktinya:

    1. Adzan shalat 5 waktu, apakah itu hukum islam? Bagaimana penerapannya di indonesia, apakah pemerintah melarangnya? TIDAK, bahkan membolehkannya, bahkan menggunakan speaker sehingga suaranya terdengar jauh, tidak seperti di singapura,di jepang,jerman, dimana adzan dilarang suaranya keluar masjid , apakah adzan bukan hukum islam? hanya orang bodoh saja yg mengatakan adzan bukan hukum islam, bahkan adzan adalah syiar islam, Rasulullah saja jika ingin menyerang suatu negeri, maka beliau menunggu pagi hari, jika terdengar suara adzan, maka beliau urungkan penyerangan tersebut, karena negeri tersebut adalah negeri islam,..

    2. Shalat 5 waktu, apakah pemerintah melarangnya? TIDAK, bahkan memberikan fasilitas, shalat 5 waktu bebas dilakukan,masjid-masjid bebas dibangun,
    Apakah ini bukan hukum islam?? Hanya orang bodoh yang mengatakan ini bukan hukum islam,

    3. Puasa ramadhan,. apakah pemerintah indonesia melarang puasa? bahkan pemerintah membantu pelaksanaanya, penentuan hilal,..apakah ini bukan hukum islam? Hanya orang bodoh yang mengatakan ini bukan hukum islam,

    Demikian pula Zakat, Haji, pemerintah menyokongnya,.. ini semua hukum islam,

    4. Bagaimana cara nikah di indonesia, cara waris, apakah tdk menerapkan aturan islam? menerapkan,..

    Syariat islam yang besar-besar tegak di negeri ini, Alhamdulillah,

    Janganlah hanya karena pemerintah belum menegakkan hukum pidana secara islam, lalu menganggap pemerintah blm menerapkan syariat islam…

    sementara mengesampingkan syariat islam yang merupakan syiar islam terbesar, sdh ada di negeri ini,..

    Berbuat adil lah, dan jangan berpikir picik, melupakan penegakan syariat islam yang sudah ditegakkan oleh pemerintah indonesia hanya karena pemerintah belum menegakkan hukum pidana secara islam, tapi menggunakan hukum pidana buatan manusia,
    ————————————-
    maaf apakah anda lupa bahwa ada ayat:
    “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (al-Baqarah: 208)

    Berbuat adil lah, dan jangan berpikir picik, melupakan penegakan syariat islam yang sudah ditegakkan oleh pemerintah indonesia hanya karena pemerintah belum menegakkan hukum pidana islam,
    ———-

    sadarlah dan jangan gengsi untuk mengakui kesalahan anda, sunguh azab Allah itu pedih maka bertobatlah, kecuali anda memang benar2 agen yahudi.
    wallahu a’lam

    Menurut anda, negara islam dikatakan sebuah negara islam itu jika menerapkan hukum islam berapa persen?? harus 100 persen kah??
    Jika demikian, niscaya hanya khalifah khulafaur rasyidin saja dan beberapa setelahnya, setelah itu tidak ada,
    Tolong contohkan negara yang 100 persen menerapkan syariat islam,.

    Janganlah anda terpengaruh pemikiran khawarij, yg dengan mudah mengkafirkan negara-negera muslim,
    Janganlah anda terpengaruh pemikiran khawarij yang menafsirkan ayat alquran dengan hawa nafsunya, bukan dengan pemahaman para sahabat,

    • awal
      Agustus 24, 2012 pukul 4:33 am | #5

      anda memang jahat, komentar saya yg sangat ngena dihapus, andalah yg khowarij. bertobatlah…
      cukup sdh saya menasehati anda, krn anda memang jahat.
      semoga Allah mberi hidayah kepadamu.
      terima kash atas diskusinya

      sabar, yang komentar bukan anda saja,
      dan komentar diatas itu bukti siapa yang jahat, anda mengatakan “andalah yg khowarij” anda sudah berani memfonis, padahal resikonya berat akhi, jika fonis anda itu salah,maka akan kembali kepada yang memvonis,.. na’udzubillahi min dzalik

      Mudah2an jawaban2 saya bisa anda pahami, bukan anda salah tafsiri,

  4. awal
    Agustus 13, 2012 pukul 2:25 am | #6

    Rukyat lokal, Rukyat global atau Hilal
    Ada perbedaan pendapat mengenai penentuan awal bulan qomariyah, yang dampaknya umat islam dalam memulai puasa romadhon dan hari raya (idul fitri dan idul adha) berbeda.
    1. Metode rukyat lokal
    Metode ini contoh yang paling dikenal dipakai oleh Nahdhotul Ulama (NU). Berikut dali-dalilnya:

    Dari Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda:
    الشهر تسع وعشرون ليلة فلا تصوموا حتى تروه فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين
    ”Bulan itu ada 29 malam (hari). Janganlh kalian mulai berpuasa hingga melihat bulan. Apabila ia tertutup dari pandangan kalian, maka sempurnakanlah hitungan hari (dalam satu bulan) menjadi 30 hari” (HR. Al-Bukhari no. 1907).
    Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
    صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين
    “Berpuasalah jika kalian telah melihat bulan, dan berbukalah jika kalian melihatnya pula. Dan apabila bulan tertutup (awan) dari pandangan kalian, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari” (HR. Al-Bukhari no. 1909 dan Muslim no. 1081)
    Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته وانسكوا لها فإن غم عليكم فأكملوا ثلاثين فإن شهد شاهدان فصوموا وأفطروا
    “Berpuasalah jika kalian melihat bulan dan berbukalah jika kalian melihatnya pula, serta menyembelihlah (pada bulan Dzulhijjah) karena melihatnya. Jika bulan itu tertutup dari pandangan kalian, maka sempurnakanlah (bulan Sya’ban) menjadi 30 hari. Dan jika ada dua orang yang memberi kesaksian melihat bulan, maka berpuasalah dan berbukalah kalian” (HR. Nasa’i dalam Al-Mujtabaa no. 2116, Ahmad 4/321, dan Ad-Daruquthni 3/120 no. 2193; lafadh ini milik An-Nasa’i. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaaul-Ghalil no. 909).
    Bagi kalangan yang berpendapat mengenai bolehnya terjadi perbedaan mathla’ bahwa mazhab Syafi’i membolehkan terjadi perbedaan (setiap tempat boleh berbeda) awal dan akhir ramadhan sejauh ± 24 farsakh atau ± 120 km. Hal ini berdasarkan pada kisah Abdullah bin Abbas dimasa kekhilafahan Muawiyyah,
    Ada seorang Madinah bernama Kuraib, ia pergi ke Syam disuruh oleh seorang wanita bernama Ummul Fadl untuk menemui Muawiyyah di Syam (Sepeninggal Nabi saw dan khulafaur Rasyidin, pusat pemerintahan berpindah ke Syam). Waktu Kuraib berada di Syam terjadilah rukyatul hilal awal Ramadhan dan oleh khalifah malam itu diberlakukan sebagai awal Ramadhan, malam itu adalah malam jum’at. Sedangkan di Madinah permulaan Ramadhan jatuh pada malam sabtu, jadi berbeda satu hari. Saat itu belum ada alat penghubung yang cepat, yang ada hanya kuda dan unta yang jika menghubungkan berita antara Syam dan Madinah membutuhkan waktu berhari-hari. Pada akhir Ramadhan Kuraib sudah berada di Madinah dan bertemu dengan Abdullah bin Abbas seorang ’alim besar yang tidak asing lagi dikalangan para ’ulama. Kuraib menceritakan tentang awal Shaum Ramadhan di Syam yang seharusnya setelah genap 30 hari dari permulaan puasa di Syam hari Jum’at tersebut semua orang harus beridul fitri, termasuk orang-orang Madinah. Lalu Abdullah bin Abbas bertanya : “Kapan kamu melihat hilal?” Kuraib menjawab: “Malam Jum’at”. Abdullah bertanya lagi: “Kamu melihat sendiri?” Kuraib menjawab: “Ya, dan orang-orang banyak melihatnya, mereka melakukan puasa dan juga Muawiyyah berpuasa”. Lalu Abdullah bin Abbas berkata : “ Tetapi kami melihat hilal pada malam Sabtu, maka kami akan menyempurnakan bilangan puasa 30 hari atau 29 hari bila kami melihat hilal.” Lalu Kuraib bertanya: “Apa tidak cukup rukyatnya dan puasanya Muawiyyah kita pakai sebagai pedoman?” Abdullah bin Abbas menjawab: “Tidak… demikian itulah Rasulullah saw memerintahkan kepada kita.”
    Menurut mazhab Syafii, Ibnu Abbas RA yang mengikuti rukyat Madinah dan tidak mengikuti rukyat Syam, yaitu dengan perkataannya “‘Tidak, demikianlah Rasulullah SAW memerintahkan kita” menjadi dalil bahwa setiap negeri mempunyai rukyat sendiri-sendiri, dan rukyat suatu negeri tidak berlaku untuk negeri yang lain, li ikhtilaf mathali (karena ada perbedaan mathla’)
    Kritikan:
    .
    a. Sebagian ulama tidak sependapat dengan pandangan tersebut. Sebab perkataan Ibnu Abbas pada hadits di atas yang terkahir tersebut (‘Tidak, demikianlah Rasulullah SAW memerintahkan kita”), bukanlah hadits marfu’ (dari Nabi SAW), melainkan ijtihad pribadi dari Ibnu Abbas, radhiyallahu ‘anhu. Mazhab Syafi’i membolehkan berbeda mathla’ berdasarkan dari hasil ijtihad Abdullah bin Abbas, namun riwayat tersebut hanya sampai disitu saja, tidak dijelaskan bagaimana sikap dari seorang khalifah Muawiyyah pada saat itu, apakah mendiamkan saja atau menegur Abdullah bin Abbas. Jika ada sambungan dari riwayat tersebut, maka sambungan riwayat itu dapat menguatkan rukyat lokal.
    b. Rukyat menimbulkan masalah pelaksanaan puasa Arafah menjelang idul adha. Bisa terjadi di Makkah belum terjadi rukyat sementara di kawasan sebelah barat sudah, atau di Makkah sudah rukyat tetapi di kawasan sebelah timur belum. Sehingga bisa terjadi kawasan lain berbeda satu hari dengan Makkah dalam memasuki awal bulan Qamariah. Masalahnya, hal ini dapat menyebabkan kawasan ujung barat bumi tidak dapat melaksanakan puasa Arafah karena wukuf di Arafah jatuh bersamaan dengan hari Idul Adha di ujung barat itu. Kalau kawasan barat itu menunda masuk bulan Zulhijah demi menunggu Makkah padahal hilal sudah terpampang di ufuk mereka, ini akan membuat sistem kalender menjadi kacau balau.
    c. Umat islam tidak memiliki system penanggalan padahal umat lain (orang-orang kair) memikili system kalender yang dapat mengatur kehidupan mereka.
    d. Golongan metode Rukyat tidak konsisten dengan ijtihadnya, di sisi lain menolak metode hisab penentuan bulan qomariah, tapi di sisi lain menerima metode hisab dalam hal jadwal sholat
    e. Ada dalil yang menguatkan bahwa rukyat bersifat global, bukannya lokal:
    Suatu ketika orang-orang meragukan penampakan hilal Ramadhan sehingga tidak hendak salat tarawih atau puasa. Seorang Badwi datang kepada Rasulullah saw lalu berkata: sungguh saya telah melihat hilal (hilal ramadhan). Maka Rasulullah saw bertanya : Apakah engkau mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah? Badwi menjawab: ya. Rasulullah saw bertanya lagi: Apakah engkau mengakui bahwa Muhammad itu Rasulullah? Badwi menjawab: ya. Lalu Rasulullah bersabda: Hai Bilal, beritahulah orang-orang supaya mereka berpuasa.”(H.R Abi Dawud, Nasai, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
    Dari hadist di atas menjelaskan bahwa meskipun orang arab badui itu berasal dari tempat yang jauh namun rosul mengikuti pendapat orang arab badui tersebut bahwa ia telah melihat hilal.

    2. Metode rukyat global

    Metode ini contoh yang paling dikenal dipakai oleh Hizbut tahrir Berikut dali-dalilnya:

    “Sahabat Abdullah bin Abbas berkata: Suatu ketika orang-orang meragukan penampakan hilal Ramadhan sehingga tidak hendak salat tarawih atau puasa. Seorang Badwi datang kepada Rasulullah saw lalu berkata: sungguh saya telah melihat hilal (hilal ramadhan). Maka Rasulullah saw bertanya : Apakah engkau mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah? Badwi menjawab: ya. Rasulullah saw bertanya lagi: Apakah engkau mengakui bahwa Muhammad itu Rasulullah? Badwi menjawab: ya. Lalu Rasulullah bersabda: Hai Bilal, beritahulah orang-orang supaya mereka berpuasa.”(H.R Abi Dawud, Nasai, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

    “Bahwa suatu rombongan (terdiri dari para pedagang yang berkendaraan onta yang mengarungi padang pasir) datang kepada Rasulullah saw seraya mereka memberikan kesaksian bahwa mereka kemarin telah melihat hilal, maka Rasulullah saw memerintahkan orang-orang untuk berbuka (beridul fitri) dan pada hari berikutnya supaya mereka pergi ke tempat shalat (untuk bershalat Id).” (H.R. Ahmad bin Hambal, Abu Dawud, Nasai, dan Ibnu Majah)

    Hilal Syawal tertutup mendung maka kami berpuasa keesokan harinya. Besoknya menjelang sore, datang beberapa musafir. Mereka bersaksi di hadapan Rasulullah bahwa mereka melihat hilal kemarin sore.Maka Rasulullah memerintahkan segera berbuka dan melaksanakan salat id keesokan harinya. ” ( Sunan Ibnu Majah /VIII/6 : 1642 )

    Pandangan rukyat global ini sejalan dengan pentarjihan Imam Syaukani dalam persoalan ikhtilaful mathali’ (perbedaan mathla’), di mana Imam Syaukani menguatkan pendapat jumhur dengan berkata :
    “Perintah yang terdapat dalam hadits Ibnu Umar [idza ra`iytumuuhu…] tidaklah dikhususkan untuk penduduk satu daerah secara terpisah, melainkan merupakan khithab (perintah/seruan) bagi siapa saja yang layak menerima khithab itu dari kaum muslimin. Maka beristidlal dengan hadits ini untuk mengharuskan pemberlakuan rukyat kepada penduduk negeri yang lain, adalah lebih kuat daripada beristidlal dengan hadits ini untuk tidak mengharuskannya. Sebabnya adalah jika penduduk suatu negeri telah melihat hilal, berarti kaum muslimin telah melihatnya, maka berlakulah rukyat bagi kaum muslimin apa yang berlaku bagi penduduk suatu negeri itu.”]
    Setelah mengutip tarjih Imam Syaukani di atas, Wahbah Az-Zuhaili pun menguatkan pemberlakuan rukyat global (pendapat jumhur) sebagai berikut :
    “Pendapat ini (yaitu pendapat jumhur) adalah lebih kuat (rajih) menurut saya, karena akan dapat menyatukan ibadah di antara kaum muslimin, dan akan dapat mencegah adanya perbedaan yang tidak dapat diterima lagi pada jaman kita sekarang. Dan juga dikarenakan kewajiban shaum terkait dengan rukyat, tanpa membeda-bedakan lagi negeri-negeri yang ada.”
    Kritikan:
    Rukyat di suatu kawasan, menurut teori ini, tidak dapat diberlakukan untuk di seluruh dunia karena,
    1. Ada riwayat yang menunjukkan dipakainya metode rukyat lokal dan bukannya rukyat global berdasarkan riwayat Kuraib yang ditakhrij oleh Imam Muslim, bahwa Ibnu Abbas yang tinggal di Madinah menolak berpegang pada rukyat penduduk Syam kendati telah diisbat oleh khalifah Mu’awiyah. Ibnu Abbas mengemukakan alasan, Hakadza Amarana Rasulullah (Begitulah Rasulullah menyuruh kami).hadits ini jadi pedoman metode rukkyat lokal.

    2, adanya perbedaan terbit dan terbenam Matahari di pelbagai kawasan di Bumi menyebabkan tidak mungkin seluruh permukaan Bumi disamaratakan sebagai satu matla’. sunnatullah tentang sistem perjalanan waktu di Bumi adalah bersifat setempat-setempat (lokal), tidak bersifat global. Waktu di Bumi mengalir dari timur ke barat sejalan dengan aliran siang dan malam. Kawasan di timur mengalami syuruq dan ghurub Matahari lebih dulu daripada kawasan di barat. Semakin jauh jarak barat-timur antar kedua kawasan, semakin besar beda waktu antara keduanya. Maka, orang yang melakukan perjalanan jauh, melepaskan diri kawasan tinggalnya, akan menghadapi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan beda waktu.
    Sekarang, mari kita buat ilustrasinya sebagaimana berikut ini:

    Kota Surabaya terletak pada 1120 45′ bujur Timur, dan kota New York pada 740 bujur Barat. Berarti, garis bujur kedua kota dipisahkan oleh jarak sebesar 1860 45′, dan berarti pula keduanya dipisahkan oleh beda waktu sebesar 12 jarn 27 menit. Jelasnya, ketika New york sudah mengalami ghurub Matahari pada hari Selasa, misalnya, surabaya masih mengalami suasana menjelang terbit Matahari hari Selasa. Ketika surabaya sendiri kemudian mengalami ghurub Matahari pada Selasa itu, New york sudah memasuki Rabu pagi.
    Sekarang kita andaikan bahwa hari Selasa itu tadi adalah tanggal 29 Ramadhan. Kalau pada petang hari Selasa itu New york mengalami rukyat hilal awal Syawal, kemudian berkat kecanggihan teknologi media informasi berita tentang rukyat itu dalam hitungan menit sudah bisa diterima di surabaya, maka di surabaya ketika itu masih Selasa pagi, dan kaum muslimin di sana baru memulai puasa untuk hari ke-29. Nah, apa yang harus dilakukan oleh muslimin Surabaya? Apakah harus berbuka sehingga jumlah hari puasa hanya 28 ataua terus melanjutkan puasa sedangkan hilal sudah Nampak?
    3. Metode hisab
    Metode ini contoh yang paling dikenal dipakai oleh Muhammdiyah Berikut dali-dalilnya:
    Pertama, semangat Al Qur’an adalah menggunakan hisab. Hal ini ada dalam ayat “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS 55:5). “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar” (QS 10:5). Ayat-ayat ini bukan sekedar menginformasikan bahwa matahari dan bulan beredar dengan hukum yang pasti sehingga dapat dihitung atau diprediksi, tetapi juga dorongan untuk menghitungnya karena banyak kegunaannya. Dalam QS Yunus (10) ayat 5 disebutkan bahwa kegunaannya untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.

    Kedua, jika spirit Qur’an adalah hisab mengapa Rasulullah Saw menggunakan rukyat? Menurut Rasyid Ridha dan Mustafa AzZarqa, perintah melakukan rukyat adalah perintah ber-ilat (beralasan). Ilat perintah rukyat adalah karena ummat zaman Nabi saw adalah ummat yang ummi, tidak kenal baca tulis dan tidak memungkinkan melakukan hisab. Ini ditegaskan oleh Rasulullah Saw dalam hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim,“Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Yakni kadang-kadang dua puluh sembilan hari dan kadang-kadang tiga puluh hari”.
    Dalam kaidah fiqhiyah, hukum berlaku menurut ada atau tidak adanya ilat. Jika ada ilat, yaitu kondisi ummi sehingga tidak ada yang dapat melakukan hisab, maka berlaku perintah rukyat. Sedangkan jika ilat tidak ada (sudah ada ahli hisab), maka perintah rukyat tidak berlaku lagi. Yusuf Al Qaradawi menyebut bahwa rukyat bukan tujuan pada dirinya, melainkan hanyalah sarana. Muhammad Syakir, ahli hadits dari Mesir yang oleh Al Qaradawi disebut seorang salafi murni, menegaskan bahwa menggunakan hisab untuk menentukan bulan Qamariah adalah wajib dalam semua keadaan, kecuali di tempat di mana tidak ada orang mengetahui hisab.
    Dalam kaidah fiqhiyah, hukum berlaku menurut ada atau tidak adanya illat. Jika ada illat, yaitu kondisi ummi sehingga tidak ada yang dapat melakukan hisab, maka berlaku perintah rukyat.Sedangkan jika ilat tidak ada (sudah ada ahli hisab), maka perintah rukyat tidak berlaku lagi.
    hal ini sebagaimana rosul mencontohkan sholat qiyamul romadhon berjamaah dalam 1 bulan hanya sekitar 3x, hal ini dikarenakan rosul khawatir shalat ini akan dianggap wajib oleh umat islam, namun ketika di zaman kholifah umar karena sudah tidak ada lagi illat kekhawatiran tersebut, maka umar melaksanakan sholat qiyamul romadhon I bulan penuh. Ada juga contoh lain rosul seringkali sahabt menulis hadits dikarenakan khawatir bercampur dengan ayat-ayat al qur’an, maka ketika kekahawatiran itu sudah tidak ada setelah wafatnya rosul hadist boleh ditulis bahkan dikumpulkan dalam bentk mushaf.
    KRITIKAN:
    Ada beberapa faktor yang dianggap metode hisab menyelisihi sunnah, diantaranya adalah:
    1. Dengan metode hisab, seseorang bisa saja memperkirakan dan menghitung tanggal 1 Ramadhan atau 1 Syawwal jauh sebelum mereka menemui Ramadhan atau Syawwal. Bahkan dengan metode hisab seseorang bisa saja menghitung tanggal 1 Ramadhan 20 tahun ke depan.
    2. Menentukan 1 Ramadhan dan 1 Syawwal telah diajarkan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam. Semoderen apapun perhitungan hisab, seakurat apapun, tapi syari’at tetaplah syari’at. Dan yang benar adalah harus mengikuti syari’at yang di bawa oleh Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam yaitu menentukan bulan qomariah dengan melihat hilal.
    Mana yang harus dipilih???
    Karena puasa dan hari raya adalah menyangkut ibadah jama’i, maka ada sebuah kaidah “Amrul Imam Yarfa’ul Khilaf “ (Keputusan Amir/Pemerintah mengangkat perselisihan).
    Ada sebuah pendapat yang disampaikan oleh Syaikh Al Albani:
    “Inilah yang sesuai dengan syari’at yang mudah ini (yaitu : berpuasa dan berhari raya ‘Iedul-Fithri bersama masyarakat/orang banyak – tidak menyendiri) yang diantara tujuan-tujuannya adalah menyatukan umat dan menyamakan barisan-barisan mereka, serta menjauhkan mereka dari segala sesuatu yang dapat mencerai-beraikan persatuan mereka dari pemikiran-pemikiran individualistis, sehingga syari’at tidaklah memihak kepada pemikiran seseorang – walaupun benar dari sudut pandang dirinya – dalam peribadatan yang bersifat jama’i seperti puasa, hari raya, dan shalat berjama’ah. Tidaklah Anda pernah melihat bahwa para shahabat radliyallaahu ‘anhum, mereka sebagiannya shalat di belakang lainnya dalam keadaan di antara mereka ada yang menilai bahwa menyentuh wanita, kemaluan, atau keluarnya darah termasuk pembatal-pembatal wudlu. Sebagian mereka ada yang shalat secara sempurna di waktu safar, dan sebagian lagi ada yang mengqasharnya ? Kendatipun demikian, perselisihan mereka dengan yang lainnya tidaklah menjadi penghalang bagi mereka untuk berkumpul (bersatu) di dalam masalah shalat di belakang imam yang tunggal, sehingga mereka tidak berpecah karenanya. Hal itu karena pengetahuan mereka bahwa perpecahan dalam agama lebih jelek dari sekedar perbedaan sebagian pendapat. Bahkan sampai pada tingkatan dimana sebagian mereka tidak menghiraukan suatu pendapat yang menyelisihi pendapat imam besar di lingkup yang lebih besar seperti ketika di Mina, hingga mendorongnya untuk meninggalkan pendapat pribadi secara mutlak dalam lingkup tersebut, demi menjauhi akibat buruk yang akan ditimbulkan karena beramal dari hasil pemikirannya (yang menyelisihi imam)”.
    Maka diriwayatkan oleh Abu Dawud 1/307 (sebuah contoh yang sangat baik dalam masalah ini) :”Bahwasannya ‘Utsman radliyallaahu ‘anhu shalat di Mina empat raka’at, maka berkatalah Abdullah bin Mas’ud dalam rangka mengingkari perbuatannya : “Aku shalat (ketika safar) bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dua raka’at, bersama Abu Bakar dua raka’at, dan bersama ‘Umar dua raka’at, dan bersama ‘Utsman di awal pemerintahannya, kemudian beliau melakukannya dengan sempurna (empat raka’at – tidak diqashar), kemudian kalian berselisih, dan aku ingin sekiranya empat raka’at itu tetap menjadi dua raka’at (sebagaimana dilakukan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam) Akan tetapi kemudian Ibnu Mas’ud shalat empat raka’at. Maka ditanyakan kepadanya : Engkau telah mencela perbuatan ‘Utsman, namun engkau sendiri shalat empat raka’at ?”. Maka beliau menjawab : “Perselisihan itu jelek”.
    Ada juga ayat yang memerintahkan agar taat kepada amir/pemimpin.
    “wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rosul dan ulil amri di antara kalian” (An nisa :59).
    Makna Ulil Amri:
    ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan, dari Ibnu ‘Abbas bahwa, “Wa uulil amri minkum” (Dan Ulil Amri di antara kamu), maknanya adalah ahli fiqh dan ahli agama. Sedangkan menurut Mujahid, ‘Atha, Al-Hasan Bashri dan Abul ‘Aliyah-begitu pula Ibnu Qayyim Al-Jauziyah-, bermakna ulama. Ibnu Katsir menambahkan, “Yang jelas bahwa Ulil Amri itu umum mencakup setiap pemegang urusan, baik umara maupun ulama.”
    Tentu ulil amri yang dimaksud adalah yang berpegang teguh pada Al qur’an dan sunnah.
    Mari kita tengok dulu apakah pengusa di negeri-negeri muslim adalah penguasa yang berhukum dengan hukum islam?? Kebanyakan mereka adalah penyembah thoghut. Jika mereka tidak berhukum islam, maka bukan pemimpin seperti ini yang harus ditaati. Jadi untuk masa sekarang boleh untuk tidak mengikuti penguasa tersebut. Kembalikan pada ijtihad masing-masing dan umat islam tetap saling menghormati dan menjaga persatuan meskipun ada perbedaan ijtihad.
    Wallahu’alam.
    Sumber:
    http://alatsari.wordpress.com/2008/09/18/menentukan-awal-bulan-qomariyah-dengan-rukyatul-hilal-bukan-hisab/
    http://hizbut-tahrir.or.id/2008/11/29/penentuan-awal-bulan-kamariah-persepektif-hizbut-tahrir-indonesia/
    http://alkhilafah.blogdetik.com/2011/08/30/rukyat-internasional-dan-khilafah-tidak-logis/
    http://ibnufatih.wordpress.com/2009/08/18/rukyatul-hilal-mengawali-dan-mengakhiri-ramadhan/
    http://alvinburhani.wordpress.com/2011/07/16/hisab-atau-rukyat/
    http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-329-detail-mengapa-muhammadiyah-memakai-hisab-.html

    TIDAK AKAN ADA PERBEDAAN JIKA MENGIKUTI ANJURAN RASULULLAH,
    YAITU, KEPUTUSAN FINAL ADA DI PENGUASA/PEMERINTAH, bukan MASING-MASING ORMAS MEMUTUSKAN SENDIRI,. karena hak tersebut ada ditangan penguasa,..

    BAHKAN, PENGUASA BOLEH MEMAKSA RAKYATNYA UNTUK BERPUASA DI HARI YANG DIPUTUSKAN OLEH PEMERINTAH, DEMIKIAN JUGA DALAM BERHARI RAYA.

    Mudah bukan? Apa yang diajarkan oleh Rasulullah sangat mudah, dan bisa mempersatukan kaum muslimin,..

    Tapi jika berkelompok-kelompok, berormas-ormas,. niscaya perpecahan yang timbul,… ITU FAKTANYA,..

    • tami
      Agustus 22, 2012 pukul 10:50 am | #7

      Saya suka pemaparan Bung Awal secara mendetail masing cara. ini memberikan orang ‘ALASAN’ kenapa yang ini kenapa yg itu. Jadi orang punya pilihan. Jadi orang cerdas kenapa nabi mengajarkan ini dan itu. Jadi benar kewajiban manusia menuntut ilmu supaya ilmu pengetahuan berkembang biar orang bisa naik haji pake pesawat (meskipun pesawat itu buatan orang nonislam yang MAU BELAJAR DAN BERKEMBANG sehingga orang Indonesia berhaji ga pake onta (omaigat, mati di jalan ontanya)

      Cerdas!!! Bukan cuma menyerang metode yang lain dan ngebagus-bagusin metode sendiri. Itu baru ADIL :D

      Harus dibedakan mas tami, melihat hilal secara langsung dengan mata telanjang tanpa bantuan alat,itu adalah cara yang diajarkan oleh Rasulullah, itu adalah tuntunan syar’i , jadi tidak bisa digantikan dengan yang lainnya, dengan kecanggihan teknologi,atau dgn hisab,

      Sedangkan berhaji dengan onta atau dengan kapal laut,jalan kaki,atau dengan pesawat, itu bukan urusan ibadah, bukan tuntunan, rasulullah hanya mensyaratkan bagi yang mampu. Sarana untuk menuju ke mekkah utk melakukan ibadah haji tentu berbeda-beda, sesuai dengan perkembangan jaman, dan sarana-sarana tersebut bukanlah urusan ibadah,tapi itu urusan dunia, sedangkan rasulullah bersabda, “kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian”

      Btw, kenapa kita harus ngikutin pemerintah apapun yang mereka minta dan bisa dengan paksaan? Yang di pemerintahan kan banyakan penjahatnya yang membodohi rakyat, hihii

      Mengikuti keputusan pemerintah dalam penentuan awal puasa, ini anjuran rasulullah mas,..
      Rasulullah tidak mensyaratkan penguasanya itu adalah penguasa yang baik saja, tidak ada persyaratan tsb,
      Jika anda berdalih pemerintah banyak penjahatnya,.. yah, pemerintah itu cerminan rakyatnya,. siapa yg pilih mereka?? pemerintah bnyk penjahatnya, tentu di rakyatnya lebih banyak lagi penjahatnya,..

      Tidak akan mungkin allah memberikan pemimpin yang baik,sementara rakyatnya bobrok, jadi yang terbaik koreksi diri, dan kita perbaiki rakyat kita agar beriman dan bertakwa,… menggonta-ganti tampuk kepemimpinan bukanlah solusi, buktinya,. toh sudah berkali-kali gonta-ganti pemimpin, toh masih belum tambah baik,..

      Lagian, diskusi tentang penentuan 1 ramadhan dan 1 syawal oleh pemerintah dan yang akhirnya akan menjadi keputusan pemerintah kan dihadiri banyak orang dari masing2 golongan dg mmbawa metodnya masing2 : ada orang NU, Muhamadiyah, dll dll… dan yg menang adalah yang paling banyak perwakilannya di kemenag atau MUI, ooopz!

      Terserah, gimana pengambilan keputusannya, toh penguasa juga yang mutusin, mau dihadiri oleh ormas atau tidak, yang penting pemerintah yg mutusin,. karena itu hak mereka, terlepas penguasa itu baik atau bejad,..

      gimana tuh klo d medan udah keliatan hilal tapi d bogor belum? soalnya bogor kota hujan, banyak awan… faktor cuaca

      Kan penguasa yg mutusin, gimana nih sih gan,.. misalkan di medan sdh terlihat dibogor belum, lalu pemerintah indonesia sdh mutusin karen di medan sudah terlihat, ya bogor ikutlah,. bukankah bogor bagian negeri indonesia? bukan bogor saja,tapi seluruh kota di wilayah indonesia ikut keputusan pemerintah ini

      Gimana kalau di daerah yang sama ada orang yg mengaku melihat hilal, sedangkan yg lain bilang belum padahal keduanya bersumpah atas nama Allah mereka benar. Mungkin aja salah satu matanya burem, faktor fisiologis?

      Jika ada orang yang melihat hilal, dia yakin, lalu melapor kepada penguasa, tapi persaksiannya ditolak, maka dia boleh berpuasa sendiri,tapi tidak boleh mengumumkan kepada orang lain agar orang lain ikut berpuasa, ini fatwa ulama ketika ditanya ttg hal spt itu,

      Namun ketika di Mina, shahabat Abdullah bin Mas’ud justru shalat 4 rakaat. Maka dikatakanlah kepada beliau:
      “Engkau telah mengingkari `Utsman atas shalatnya yang 4 rakaat, (mengapa) kemudian engkau shalat 4 rakaat pula?!”
      Abdullah bin Mas’ud berkata:
      “Perselisihan itu jelek.”
      Sanadnya shahih. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Ahmad (5/155) seperti riwayat di atas dari shahabat Abu Dzar radhiallahu ‘anhu.

      Baca juga keterangan hadits tsb, waktu itu ustman bin affan sebagai penguasa, beliau shalat di mina 4 rakaat, padahal rasulullah,abu bakar,umar, shalat di mina 2 rakaat, demikian juga yg dipahami abdullah bin mas’ud,
      sehingga para sahabat yg lain bertanya, kenapa engkau juga shalat 4 rakaat bersama utsman selaku khalifah kala itu?
      maka jawab abdullah bin mas’ud spt itu,
      Tidak mau menyelisihi penguasa, atau membeberkan hal yang sepertinya menyelisihi kebiasaan rasulullah shalat di mina 2 rakaat,
      Ini hubungannya adalah menyikapi atau beradab terhadap penguasa, begitu mas,

      Gimana kalau sesama pengguna metode hilal aja berselisih karna faktor cuaca atau panca indera misalnya?

      Mau berselisih atau tidak dalam prosesnya, yang penting hasil final tetap penguasa yang memutuskan,..

      bukankah lebih baik memakai metode yang mutlak misalnya hasil dari ilmu pengetahuan berdasarkan perintah Allah untuk menuntut ilmu biar umat pada pinter?

      Lebih baik menurut siapa? menurut manusia sekarang, atau menurut rasulullah?
      Seandainya itu baik, tentu rasululullah sudah melakukannya, dengan hisab,

      Kalau saja pemerintah pakai metode hisab, Jadinya ga ada perselisihan karena semua punya hasil hitung yang sama sehingga kita bisa berlebaran bersama,

      Perselisihan akan tetap ada,selama tidak menggunakan apa yang rasulullah ajarkan, buktinya dari jaman Rasulullah hingga seluruh ulama ahlussunnah, tidak ada perselisihan dalam hal penentuan awal puasa ini, dan mereka tidak pernah menggunakan hisab,

      perselisihan baru ada ketika ada kelompok yang mulai menggunakan hisab tuk penentuan awal puasa ini,.. jadi yg menjadi sumber masalah adalah orang-orang yang menggunakan hisab secara mutlak buat patokan,.. dengan dalih, gerhana matahari/bulan aja bisa ditebak secara tepat dengan hisab, apalagi cuma munculnya hilal,..,.. ini sih logika manusia,.. sedangkan ajaran rasulullah itu bukan logika, itu wahyu Allah, ada hikmah dibalik semua anjuran rasulullah

      sesuai :

      Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
      “Seseorang (hendaknya) bershaum bersama penguasa dan jamaah (mayoritas) umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.” Beliau juga berkata: “Tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama Al-Jama’ah.” (Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juz 25, hal. 117).

      waduh mas, apa arti jamaah di situ? perkataan imam ahmad itu bersama penguasa,.. catet ya,

      sedangkan yang kedua, arti jamaah adalah jamaah para sahabat,dan orang-orang yang mengikutinya,.. dan para sahabat tidak ada yang menggunakan hisab, tapi menggunakan rukyatul hilal

      Bisa terjadi persatuan ga ya kalau pemerintah pakai metode hisab trus diikutin sama masyarakat sehingga lebarannya sama-sama? Kalau masalahnya ditekankan pada keputusan pemerintah lho ya, KEPUTUSAN pemerintah itu sesuai sama METODE apa yang ‘menang’ dan akhirnya dipakai

      Betul, mau metode apapun, jika itu pemerintah yang melakukannya, maka wajib diikuti,
      Praktek selama ini, pemerintah menggunakan rukyatul hilal, walhamdulilllah,
      seandainya pemerintah menggunakan hisab, maka pemerintah telah salah dalam hal ini, dan dosanya rakyat tidak ikut menanggungnya, …. jadi resikonya berat jadi penguasa,..

      dan jika ormas yang memutuskan,.. ya lebih berat lagi , mengambil alih hak penguasa, mbok ya para pengurus ormas sadar diri, inget lho, dosanya bukan enteng,.. berat,.. apalagi ini menyangkut urusan jutaan manusia,.. harusnya mereka sadar, bukan mempertahankan ego ormasnya,

  5. Desie ana
    Agustus 11, 2012 pukul 7:41 am | #8

    Pemerintah sudah berhukum kepada Hukum Alloh SWT blum?? Kita ketahui bahwa pemerintah saat ini tidak menjalankan syariat Islam secara kaffah. Apakah pemerintah sudah bisa disebut Ulil Amri? Demokrasi sudah menjadi dasar negara, bukan Al Quran ataupun Sunnah. Bukankah itu yang namanya toghut? dan Bukankah kita harus kafir kepada toghut?

    sebagaimana firman-Nya ta’ala:

    وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

    “Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang rasul bagi setiap umat (untuk menyerukan): “Beribadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah thaghut”. (QS. An Nahl: 36)

    Orang yang beribadah kepada Allah ta’ala akan tetapi dia tidak menjauhi thaghut maka dia belum mengamalkan kandungan makna Laa ilaaha illalaah, karena keduanya adalah rukun kalimat tauhid itu, yang bila salah satunya tidak terpenuhi maka syahadat Laa ilaaha illallaah yang dia ucapkan adalah tidak sah, dan bila syahadatnya tidak sah maka keislamannya tidak sah, sebagaimana firman Allah ta’ala:

    فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

    “Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut. dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 256)

    Sedangkan di antara thaghut yang harus dijauhi dan kafir kepadanya adalah hukum atau Undang-undang buatan dan para tuhan jadi-jadian yang membuat hukum tersebut, sebagaimana firman Allah ta’ala:

    أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا

    “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu, dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisaa’: 60)

    Apakah pemerintah indonesia sudah berhukum dengan hukum Allah atau belum? jawabnya.. SUDAH, bahkan sebagian besarnya sudah menerapkan, mau bukti?? ini buktinya:

    1. Adzan shalat 5 waktu, apakah itu hukum islam? Bagaimana penerapannya di indonesia, apakah pemerintah melarangnya? TIDAK, bahkan membolehkannya, bahkan menggunakan speaker sehingga suaranya terdengar jauh, tidak seperti di singapura,di jepang,jerman, dimana adzan dilarang suaranya keluar masjid , apakah adzan bukan hukum islam? hanya orang bodoh saja yg mengatakan adzan bukan hukum islam, bahkan adzan adalah syiar islam, Rasulullah saja jika ingin menyerang suatu negeri, maka beliau menunggu pagi hari, jika terdengar suara adzan, maka beliau urungkan penyerangan tersebut, karena negeri tersebut adalah negeri islam,..

    2. Shalat 5 waktu, apakah pemerintah melarangnya? TIDAK, bahkan memberikan fasilitas, shalat 5 waktu bebas dilakukan,masjid-masjid bebas dibangun,
    Apakah ini bukan hukum islam?? Hanya orang bodoh yang mengatakan ini bukan hukum islam,

    3. Puasa ramadhan,. apakah pemerintah indonesia melarang puasa? bahkan pemerintah membantu pelaksanaanya, penentuan hilal,..apakah ini bukan hukum islam? Hanya orang bodoh yang mengatakan ini bukan hukum islam,

    Demikian pula Zakat, Haji, pemerintah menyokongnya,.. ini semua hukum islam,

    4. Bagaimana cara nikah di indonesia, cara waris, apakah tdk menerapkan aturan islam? menerapkan,..

    Syariat islam yang besar-besar tegak di negeri ini, Alhamdulillah,

    Janganlah hanya karena pemerintah belum menegakkan hukum pidana secara islam, lalu menganggap pemerintah blm menerapkan syariat islam…

    sementara mengesampingkan syariat islam yang merupakan syiar islam terbesar, sdh ada di negeri ini,..

    Berbuat adil lah, dan jangan berpikir picik, melupakan penegakan syariat islam yang sudah ditegakkan oleh pemerintah indonesia hanya karena pemerintah belum menegakkan hukum pidana secara islam, tapi menggunakan hukum pidana buatan manusia,

    Pertanyaan buat anda,
    Tuduhan anda kepada pemerintah, bahwa pemerintah belum berhukum dengan hukum islam, dengan disebutkan dalil-dalilnya,.. itu hukum siapa yang anda pakai??
    Apakah ada contohnya dari Rasulullah, atau para sahabat, dan juga para ulama ahlussunnah??

    Kalau tidak ada contoh dari mereka, hukum apa yang sedang anda pakai?
    Menuduh pemerintah tidak berhukum dengan hukum islam, anda sendiri berhukum dengan hukum manusia, menuduh pemerintah dgn tuduhan seperti itu,

    Itu adalah cara-cara yang dilakukan oleh orang-orang khawarij, bukan orang-orang yang mengikuti anjuran rasulullah,

    Mudah-mudahan anda diberi hidayah oleh allah, dan dijauhkan dari pemikiran orang-orang khawarij ini,.

    Tentang bahaya khawarij, silahkan baca disini

    Karakter pemikiran khawarij , baca disini

    Contoh website orang-orang yang terpengaruh pemikiran khawarij, bisa dibuka disini

  6. Ciek Duo
    Agustus 8, 2012 pukul 6:35 am | #9

    Berarti Ormas yang mengatakan Puasa tidak sama dengan Pemerintah sama juga tidak mengikuti perintah Rasul dong, Mis Ormas kedua terbesar di Indonesia yaitu Muhamadiyah ? Jadi Muhamdiyah salah dong ?

    ya, betul, Muhammadiyah salah dalam hal ini, sebab menentukan kapan mulai puasa, atau kapan berhari raya, itu hak penguasa, bukan hak ormas,

    makanya nama itu tidak merubah hakekat,
    Muhammadiyah sejati artinya pengikut nabi muhammad,
    Kalau muhammadiyah di indonesia artinya pengikut ormas muhammadiyah,.. bukankah begitu faktanya,..
    Banyak sekali fatwa ormas ini yang tidak ada contohnya dari Rasulullah, menyelisihi ajaran rasulullah,
    Padahal pendiri muhammadiyah ini bertujuan untuk mendakwahkan islam yang murni, yaitu quran dan sunnah menurut pemahaman sahabat,

    Lihatlah KH Ahmad Dahlan, beliau mempraktekan sunnah Rasulullah, contohnya memelihara jenggot,.. lihat pengurus ormas muhammadiyah sekarang,.. banyakan jenggotnya dicukur habis, padahal mencukur jenggot haram hukumnya dalam islam,

    Silahkan baca Manhaj DAKWAH MUHAMMADIYAH

  7. iwan_setiawan
    Juli 30, 2012 pukul 3:03 pm | #10

    hadist tentang : muslim wajib mengikuti pemerintah, walaupun pemerintah sekuler/ jahat, atau tidak berdasarkan syariat islam atau tidak berpedoman pada Al-Quran dan Hadist Nabi…. apakah hadist itu sahih..? jangan main-main loo dengan hadist, apakah hadist itu sahih ataukah palsu..? perlu dikaji ulang. Yang terpenting acuan kita adalah Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW.

    Shahih, siapa yang bermain-main dengan hadits? banyak contoh dari pengamalan dari hadits tersebut, ketika jaman sahabat masih hidup, pemimpin mereka adalah hajjaj bin yusuf. Pemimpin ini banyak membunuhi para ulama, apakah sahabat menentang penguasa tersebut? apakah membunuhi para ulama itu adalah hukum Allah? para sahabat tetap bersabar,

    Di jaman imam ahmad, dibawah pemimpin khalifah almakmun, dimana pemimpin ini mewajibkan rakyatnya untuk meyakini alquran adalah makhluk, apakah ini hukum islam? bukan, malah pelakunya bisa kafir, jika meyakini alquran adalah makhluk,

    Imam ahmad tetap bersabar, walaupun banyak teman-temannya disiksa, bahkan dibunuh,..

  8. abuerzha
    Juli 23, 2012 pukul 2:50 am | #11

    Persis dengan apa yg ana alami ketika berdialog seputar demonstrasi thp pemerintah.

    Ketika ana bawakan sabda Rosululloh akan wajibnya taat dan mendengar kpd pemerintah selama mereka masih menegakkan sholat..

    mereka dgn angkuh mengatakan ‘Itu namanya pembodohan umat mas..!!”

    Masya Alloh hadist yg mulia yg keluar dari mulut seorang Rosul sampai dibilang pembodohan umat??!!

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah. Barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah. Barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti telah menaatiku, dan barangsiapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menentangku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

    Persis seperti komentar dari saudara kita Ibnu Azzam ..

    semoga Alloh Ta’ala menghapus dosa-dosa kita serta menunjuki kita kejalan yang lurus..amiien..

    Allahuta’ala ‘alam..

    Mudah-mudahan kaum muslimin sadar, tidak lancang terhadap hadits rasulullah, tidak mendahului rasulullah dalam bersikap, dan menjunjung tinggi hadits-hadits rasulullah,

  9. Andhika
    Juli 22, 2012 pukul 4:34 pm | #12

    Kalo saya ngikutin yang pasti2 aja bos,… biar pemerintah ato ormas Kalu memang bisa mengambil keputusan secara cepat, tepat dan akurat yo tak ikuti,…. tapi utuk puasa tahun ini dengan penuh kesadaran saya mengikuti kata hati saya….. tanggal 20 Juli 2012 saya puasa TITIK. ( nggak usah dikomentari,…. itu keyakinan saya )

    Anda orang islam kan,
    Siapa nabi anda, Rasulullah bukan,
    Rasulullah menyuruh kita untuk memulai berpuasa atau berhari raya itu bersama pemerintah,
    mana yang akan anda ikuti?

    Mengikuti anjuran rasulullah, jelas jaminan kebenarannya,
    Mengikuti hati nurani,.. ngga ada jaminan kebenarannya,..
    resiko tanggung sendiri,..

    Apakah anda yakin kalau Rasulullah itu nabimu?
    Lalu anda tidak meyakini anjuran nabimu?

    ya, lucu atau ngga lucu??

    • abuerzha
      Juli 24, 2012 pukul 2:05 am | #13

      To Andhika..smg Alloh Ta’ala selalu memberikan petunjuk jalan yg lurus kpd kita semua

      sampean ini sopo tho??mo ibadah kok pake esmosi..ga mau terima dalil..Ibadah itu BUKAN APA KATA HATI SAYA mas..ibadah itu SELARAS tidak dengan Dalil (Al-Quran dan Sunnah) lhaa sampeyan sopo??nabi??rosul??
      masa beli barang aja maunya KW1..giliran ibadah KW5..hehehe..gmn tho??
      sudah jelas-jelas yg ngikuti nabi itu selamat mas..mas mo ikut siapa??ormas??pipmpinan ormas??
      coba simak sabda Rosululloh:
      “Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah. Barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah. Barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti telah menaatiku, dan barangsiapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menentangku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

      atau jgn sampai kita termasuk umat yg enggan masuk surga.lihat sabda Rosululloh..renungi baik-baik:
      “Setiap ummatku akan masuk surga kecuali yang enggan. (Lalu) dikatakan kepada beliau: ‘Siapa yang enggan itu wahai Rasulullah?’ Maka beliau menjawab: ‘Barangsiapa mentaati aku ia pasti masuk surga, dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka berarti ia enggan (masuk surga).” [Shahih Bukhari: 7280]

      gimana???mo pilih mana??

      Islam adalah agama ILMU..jadi banyak2lah ber-tjholabul ilmi…duduklah dikajian2..banyak2lah bertanya kpd orang2 alim dan sholeh yg faham ILMU agama..

      Allohta’ala ‘alam

    • Adi
      Agustus 9, 2012 pukul 7:15 am | #14

      Kan biasanya pemerintah (menag) orang NU coba gantian non NU, jadi biar adil misal orang Muhammadiyah mungkin keputusannya lain. Soalnya ini sepertinya perang gengsi. Soalnya di negara lain misal Arab juga tanggal 20, apa Arab salah dalam menentukan puasa. Kalau di Arab sudah melihat apa salah kalau ikut puasa. kan selisih 4 jam, masak selisih 4 jam jadi mundur sehari (24 jam)

      Masalah penentuan ini bukan berdasarkan kontur bumi, akan tetapi terlihat atau tidak nya hilal, dan yang memutuskan adalah pemerintah/penguasa setempat, bukan ormas,..
      Silahkan ormas menyampaikan masukannya, akan tetapi keputusan final tetap ada di tangan penguasa,
      Dan penguasa berhak untuk menolak kesaksian para ormas, atau menerima kesaksian mereka,
      Bahkan jika diperlukan pemerintah berhak memaksa rakyatnya untuk mengikuti penentuan hilal yang dilakukan oleh pemerintah, untuk menjaga persatuan kaum muslimin, tidak berselisih dalam memulai puasa dan berhari raya,

      Semua itu terlepas pemerintahnya itu baik atau rusak,

      Petunjuk Rasulullah sangat jelas dan mudah dalam penentuan awal puasa dan awal berbuka(berhari raya) tinggal kitanya saja, mau melaksanakan anjuran rasulullah atau tidak,

  10. sutrisno
    Juli 21, 2012 pukul 7:52 pm | #15

    setuju

  11. Ibnu Azzam
    Juli 21, 2012 pukul 2:19 pm | #17

    pemerintah yang mana dulu bos! sekarang pemerintah indonesia gak wajib diikuti semua pada munafik, rusak! jd gak halal diikuti. TITIK!

    Mana dalil yang menyuruh kita tidak boleh mentaati pemerintah yang munafik,rusak,.. tolong datankan dalilnya mas, TITIK,..

    aqidah dan keyakinan bukan wilayahnya toleransi apalagi pake perasaan, status kalimat klasik “demi silaturrahmi” , ” demi kebersamaan” “demi persatuan” demi bla bla bla” antum yakin amalkan persoalan ibdah diterima atau tidak itu hak ALLAH. TITIK

    Apakah sikap antum ini sesuai dengan anjuran rasulullah dalam menyikapi penguasa?
    Tidakkah anda membaca hadits ini,

    يَا رَسُوْلَ اللهِ! لاَ نَسْأَلُكَ عَنْ طَاعَةِ مَنِ اتَّقَى، وَلَكِنْ مَنْ فَعَلَ وَفَعَلَ- فَذَكَرَ الشَّرَّ- فَقَالَ: اتَّقُوا اللهَ وَاسْمَعُوا وَأَطِيْعُوا

    “Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya kepadamu tentang ketaatan (terhadap penguasa) yang bertakwa. Yang kami tanyakan adalah ketaatan terhadap penguasa yang berbuat demikian dan demikian (ia sebutkan kejelekan-kejelekannya).” Maka Rasulullah bersabda: “Bertakwalah kalian kepada Allah, dengarlah dan taatilah (penguasa tersebut).” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitab As-Sunnah, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah Fitakhrijis Sunnah, 2/494, no. 1064)

    يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ، لاَيَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ، وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ، وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ، قُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنِ فِيْ جُثْمَانِ إِنْسٍ. قَالَ (حُذَيْفَةُ): قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلأَمِيْرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ!

    “Akan ada sepeninggalku nanti para imam/penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada diantara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan namun berbadan manusia.” Hudzaifah berkata: “Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya, maka dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman, 3/1476, no. 1847)

    شِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهُ! أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ: لاَ، مَا أَقَامُوا فِيْكُمُ الصَّلاَةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُوْنَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

    “Seburuk-buruk penguasa kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian mencaci mereka dan mereka pun mencaci kalian.” Lalu dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang (memberontak)?” Beliau bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Dan jika kalian melihat mereka mengerjakan perbuatan yang tidak kalian sukai, maka bencilah perbuatannya dan jangan mencabut/meninggalkan ketaatan (darinya).” (HR. Muslim, dari shahabat ‘Auf bin Malik, 3/1481, no. 1855)

    Siapa panutan antum kalau bukan rasulullah?
    Lihat bagaimana anjuran rasulullah terhadap penguasa yang buruk,.. apakah sejalan dengan pendapat antum?
    Jika tidak sejalan dengan anggapan antum, mana yang diambil, anggapan antum, atau anjuran rasulullah? TITIK,..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.263 pengikut lainnya.