Beranda > shalat, shalat jamaah > Shalat Berjamaah Di Masjid Itu Bukan Ketika Jumatan Saja,Hukum Shalat 5 Waktu Berjamaah Di Masjid Bagi Laki-laki adalah Fardhu ‘Ain..

Shalat Berjamaah Di Masjid Itu Bukan Ketika Jumatan Saja,Hukum Shalat 5 Waktu Berjamaah Di Masjid Bagi Laki-laki adalah Fardhu ‘Ain..


Shalat-Berjamaah wajib bagi laki-lakiShalat Jama’ah 5 Waktu, Wajib ataukan Sunnah?

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ’ala Rosulillah wa ’ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Saudaraku, yang semoga diberi taufik oleh Allah Ta’ala. Saat ini kita lihat di mana masjid-masjid kaum muslimin tampak megah dan indah dengan berbagai hiasan dan aksesoris di dalamnya. Namun sangat-sangat disayangkan masjid-masjid tersebut sering kosong dari jama’ah.

Ini sungguh sangat mengherankan, kita kadang melihat masjid yang megah dan besar hanya dipenuhi satu shaf padahal jumlah kaum muslimin di sekitar masjid itu amat banyak. Oleh karena itu, sangat penting sekali untuk dijelaskan kepada saudara-saudara kita ini mengenai hukum shalat jama’ah.

Diakui bahwa dalam hal ini terdapat perselisihan dikalangan para pakar fiqih apakah shalat jama’ah itu fardhu ’ain (wajib bagi setiap muslim), sunnah, atau fardhu kifayah (jika sebagian sudah menunaikannya maka gugur kewajiban yang lain). Namun kami tegaskan bahwa dalam setiap masalah perselisihan agama yang ada hendaklah kita kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah telah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa’ [4] : 59). Itulah yang seharusnya dilakukan seorang muslim.

Dalil dari Al Qur’an

Allah Ta’ala menceritakan dalam firman-Nya mengenai shalat khouf (shalat dalam keadaan perang),

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka’at) , maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, shalatlah mereka denganmu.” (QS. An Nisa’ [4] : 102)

Dari ayat ini, Ibnul Qoyyim menjelaskan mengenai wajibnya shalat jama’ah:

”Allah memerintahkan untuk shalat dalam jama’ah [dan hukum asal perintah adalah wajib[1] yaitu Allah berfirman: (فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ), ”perintahkan segolongan dari mereka berdiri (shalat) bersamamu”]. Kemudian Allah mengulangi perintah-Nya lagi [dalam ayat (وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ), ”dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat,perintahkan mereka shalat bersamamu”]

Ini merupakan dalil bahwa shalat jama’ah hukumnya adalah fardhu ’ain karena dalam ayat ini Allah tidak menggugurkan perintah-Nya pada pasukan kedua setelah dilakukan oleh kelompok pertama. Dan seandainya shalat jama’ah itu sunnah, maka shalat ini tentu gugur karena ada udzur yaitu dalam keadaan takut. Seandainya pula shalat jama’ah itu fardhu kifayah maka sudah cukup dilakukan oleh kelompok pertama tadi. Maka dalam ayat ini, tegaslah bahwa shalat jama’ah hukumnya adalah fardhu ’ain dilihat dari tiga sisi: [1] Allah memerintahkan kepada kelompok pertama, [2] Selanjutnya diperintahkan pula pada kelompok kedua, [3] Tidak diberi keringanan untuk meninggalkannya meskipun dalam keadaan takut.”[2]

Begitu pula Allah Ta’ala berfirman,

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ (42) خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ (43)

Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera .” (QS. Al Qalam [68]: 42-43)

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menghukumi orang-orang tersebut pada hari kiamat. Mereka tatkala itu tidak bisa sujud karena ketika di dunia mereka diajak untuk bersujud (yaitu shalat jama’ah), mereka pun enggan. Jika memang seperti ini, maka ini menunjukkan bahwa memenuhi panggilan adzan adalah dengan mendatangi masjid yaitu dengan melaksanakan shalat jama’ah, bukan hanya melaksanakan shalat di rumah atau cuma shalat sendirian. Yang dimaksud dengan memenuhi panggilan adzan (dengan menghadiri shalat jama’ah di masjid), inilah yang ditafsirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits mengenai orang buta yang akan kami sebutkan nanti. [3]

Dalil dari As Sunnah

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memperingatkan keras pria yang meninggalkan shalat jama’ah yaitu ingin membakar rumah mereka. Tentu saja hal ini menunjukkan bahwa shalat jama’ah adalah wajib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

والذي نفسي بيده لقد هممت أن آمر بحطب فيحطب ثم آمر بالصلاة فيؤذن لها ثم آمر رجلا فيؤم الناس ثم أخالف إلى رجال فأحرق عليهم بيوتهم

Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, ingin kiranya aku memerintahkan orang-orang untuk mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan mereka untuk menegakkan shalat yang telah dikumandangkan adzannya, lalu aku memerintahkan salah seorang untuk menjadi imam, lalu aku menuju orang-orang yang tidak mengikuti sholat jama’ah, kemudian aku bakar rumah-rumah mereka”. [4]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, seorang lelaki buta datang kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِى قَائِدٌ يَقُودُنِى إِلَى الْمَسْجِدِ. فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّىَ فِى بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ « هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ ». فَقَالَ نَعَمْ. قَالَ « فَأَجِبْ ».

Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki penunjuk jalan yang dapat mendampingi saya untuk mendatangi masjid.” Maka ia meminta keringanan kepada Rasulullah untuk tidak shalat berjama’ah dan agar diperbolehkan shalat di rumahnya. Kemudian Rasulullah memberikan keringanan kepadanya. Namun ketika lelaki itu hendak beranjak, Rasulullah memanggilnya lagi dan bertanya,“Apakah kamu mendengar adzan?” Ia menjawab,”Ya”. Rasulullah bersabda,”Penuhilah seruan (adzan) itu.[5]

Orang buta ini tidak dibolehkan shalat di rumah apabila dia mendengar adzan. Hal ini menunjukkan bahwa memenuhi panggilan adzan adalah dengan menghadiri shalat jama’ah. Hal ini ditegaskan kembali dalam hadits Ibnu Ummi Maktum. Dia berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْمَدِينَةَ كَثِيرَةُ الْهَوَامِّ وَالسِّبَاعِ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَتَسْمَعُ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ فَحَىَّ هَلاَ ».

“Wahai Rasulullah, di Madinah banyak sekali tanaman dan binatang buas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu mendengar seruan adzan hayya ‘alash sholah, hayya ‘alal falah? Jika iya, penuhilah seruan adzan tersebut”.” [6]

Lihatlah laki-laki tersebut memiliki beberapa udzur: [1] dia adalah seorang yang buta, [2] dia tidak punya teman sebagai penunjuk jalan untuk menemani, [3] banyak sekali tanaman, dan [4] banyak binatang buas. Namun karena dia mendengar adzan, dia tetap diwajibkan menghadiri shalat jama’ah. Walaupun punya berbagai macam udzur semacam ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkan dia untuk memenuhi panggilan adzan yaitu melaksanakan shalat jama’ah di masjid. Bagaimana dengan orang yang dalam keadaan tidak ada udzur sama sekali, masih diberi kenikmatan penglihatan dan sebagainya?!

Kesimpulan

Shalat jama’ah adalah wajib (fardhu ‘ain) sebagaimana hal ini adalah pendapat ‘Atho’ bin Abi Robbah, Al Hasan Al Bashri, Abu ‘Amr Al Awza’i, Abu Tsaur, Al Imam Ahmad (yang nampak dari pendapatnya) dan pendapat Imam Asy Syafi’i dalam Mukhtashor Al Muzanniy. Imam Asy Syafi’i mengatakan:

وأما الجماعة فلا ارخص في تركها إلا من عذر

Adapun shalat jama’ah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur.[7] Pendapat Imam Asy Syafi’i ini sangat berbeda dengan ulama-ulama Syafi’iyah.

Menurut Hanafiyyah –yang benar dari pendapat mereka- dan ini juga adalah pendapat mayoritas Malikiyah, juga pendapat Syafi’iyah bahwa shalat jama’ah 5 waktu adalah sunnah mu’akkad. Namun sunnah mu’akkad menurut Hanafiyyah adalah hampir mirip dengan wajib yaitu nantinya akan mendapat dosa. Dan ada sebagian mereka (Hanafiyyah) yang menegaskan bahwa hukum shalat jama’ah adalah wajib.

Lalu pendapat yang paling kuat dari Syaf’iyah, shalat jama’ah 5 waktu adalah fardhu kifayah. Pendapat ini juga adalah pendapat sebagian ulama Hanafiyah semacam Al Karkhiy dan Ath Thohawiy.

Namun sebagian Malikiyah, mereka memberi rincian. Shalat jama’ah menurut mereka adalah fardhu kifayah bagi suatu negeri. Jika di negeri tersebut tidak ada yang melaksanakan shalat jama’ah, maka mereka harus diperangi. Namun menurut mereka, hukum shalat jama’ah 5 waktu adalah sunnah di setiap masjid yang ada dan merupakan keutamaan bagi para pria.

Namun menurut Hanabilah, juga salah satu pendapat Hanafiyyah dan Syafi’iyyah bahwa shalat jama’ah adalah wajib, namun bukan syarat sah shalat.[8]

Itulah perselisihan ulama yang ada. Ada yang mengatakan shalat jama’ah 5 waktu adalah fardhu ‘ain, ada pula yang mengatakan fardhu kifayah, dan ada pula yang mengatakan sunnah mu’akkad. Namun, agar lebih-lebih hati-hati dan tidak sampai terjerumus dalam dosa, maka pendapat yang lebih tepat kita pilih sebagaimana dalil-dalil yang telah diutarakan di atas: shalat jama’ah 5 waktu adalah wajib, fardhu ‘ain.

Demikianlah penjelasan singkat mengenai hukum shalat berjama’ah di masjid dari Al Qur’an dan As Sunnah. Kami tegaskan bahwa untuk wanita, tidak diwajibkan bagi mereka untuk shalat jama’ah di masjid berdasarkan kesepakatan (ijma’) para ulama. [9]

Ya Allah dengan izin-Mu, berilah kami petunjuk kepada kebenaran atas semua perkara yang dipersilisihkan. Amin Ya Mujibbas Sa’ilin. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

****

Pangukan, Sleman, 6 Robi’ul Akhir 1430 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://rumaysho.com


[1] Hal ini berdasarkan kaedah dalam Ilmu Ushul Fiqih yaitu hukum asal perintah adalah wajib.

[2] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, hal. 110, Dar Al Imam Ahmad

[3] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 110

[4] HR. Bukhari dan Muslim. [Bukhari: 15-Kitab Al Jama’ah wal Imamah, 1-Bab Wajibnya Shalat Jama’ah. Muslim: 6-Kitab Al Masajid, 43-Bab Keutamaan Shalat Jama’ah dan Penjelasan Mengenai Hukuman Keras bagi Orang yang Meninggalkannya]

[5] HR. Muslim [Muslim: 6-Kitab Al Masajid, 44-Bab Wajib Mendatangi Masjid bagi Siapa Saja yang Mendengar Adzan]

[6] HR. Abu Daud [Abu Daud: 2-Kitab Ash Sholah, 47-Bab Peringatan Keras Karena Meninggalkan Shalat Jama’ah]. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[7] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 107

[8] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/165-167, Wizarotul Awqof wasy Syu’un Al Islamiyah-Al Kuwait

[9] Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1/508, Al Maktabah At Taufiqiyah

sumber: http://www.rumaysho.com/hukum-islam/18-shalat/2726-shalat-jamaah-5-waktu-wajib-ataukah-sunnah.pdf

Bonus :

Video untuk menggugah semangat anda untuk memenuhi panggilan adzan

About these ads
  1. AbuErzha
    Februari 7, 2013 pukul 6:05 am | #1

    untuk akh akhmad syazili coba antum baca link berikut ;bagaimana para Ulama berpendapat mengenai sholat diblakang ahlul bidaa :
    http://almanhaj.or.id/content/2026/slash/0/hukum-shalat-di-belakang-ahlul-bidah/

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    “Mereka shalat mengimami kalian. Apabila mereka benar, kalian dan mereka mendapatkan pahala. Apabila mereka keliru, kalian mendapat pahala sedangkan mereka mendapat dosa.” [HR. Al-Bukhari (no. 694) dan Ahmad (II/355, 537), dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.]

    Smg Alloh Ta’ala selalu menjaga antum..

    Jazzamulullohu khayran

    Jazakumullahu khairan atas tambahannya,

  2. Akhmad Syazili
    Januari 31, 2013 pukul 3:17 am | #2

    di masjid dekat rmh sy imamnya bacaan Al Qur’annya pada gak benar, trus sholatnya cepat sekali kyk angkot mau kejar target setoran, jadi sy gak pernah khusyu’ sholat di masjid, disamping denger bacaan imamnya yg (maaf) masih jauh dari sempurna juga kecepatannya itu yg membuat sy gak pernah selesai bacaan baik saat ruku’, sujud, dll.

    Saya sdh pernah mencoba memberikan teguran dgn cara yg Insya ALLAH baik, tp malah dicuekin bahkan seperti ditertawakan, makanya skrg sy sholat di rmh aja, disamping lbh khusu’ sy jg bisa ngajarin anak sholat yg benar. Kalau ketemu imam yg memenuhi syarat pastilah saya akan sholat di tempat/masjid itu

    Terimakasih mas akhmad,.
    Teruslah berakhlak baik dengan mereka, bersabar dan menasehati dengan baik , sampai kapan, berapa tahun? tentu semampu kita, tidak ada batasnya dalam menasehati,
    jika didekat situ tdk ada masjid lain yang lebih baik, janganlah anda shalat dirumah, sebab itu adalah maksiat seorang laki-laki shalat dirumah tanpa udzur,
    Teruslah shalat di masjid tsb, ingat, jika shalat berjamaah jika imam berbuat salah, maka berdosa sang imam, tapi makmum tidak ikut berdosa,.. tapi jika seperti yg anda lakukan, anda menasehati sang imam, lalu dicuekin, lantas anda shalat di rumah, ini kurang benar,

    walaupun anda shalat khusyu dirumah, tapi anda berdosa karena tidak shalat berjamaah di masjid,. jadi sayang bukan??

    • akhmad syazili
      Februari 4, 2013 pukul 2:42 am | #3

      terima ksh atas balasannya, cuma sy bnr2 gak bisa khusyu klu imamnya seperti yg saya jelaskan sebelumnya, belum lg perkara2 bid’ahnya yg seabrek abrek diborong semua, sy mohon ampun kepada ALLAH yang maha bijaksana, skrg sy berfikir sederhana aja, biarlah mgkn sy berdosa karna sy sholat di rumah daripada saya tidak bs khusyu sholat dimasjid itu, malah kadang2 saat sedang sholat itu muncul rasa dongkol dengar bacaan Al Qur’an imamnya yg banyak salahnya. Sambil bertanya kepada admin, apakah khusyu itu harus ada atau kesampingkan saja, biarlah gak khusyu yg ptg sholat di masjid, apakah hrs begitu.

      Terimakasih pak,
      Sebenarnya bapak tidak usah mengambil pusing dengan apa yg dilakukan oleh imam yg ada didaerah andat tsb, karena sikap imam yg spti itu tidk membuat shalat anda tidak sah, dan anda tidak terkena dosa karena sikap imam yang salah,

      Adapun anda tidak shalat berjamaah karena alasan imam yg sperti itu, lalu anda memilih shalat dirumah,ini adalah kemungkaran yg anda lakukan, dan sampai kapankah dilakukannya?

      Amalan shalat kita, jika dilakukan bersama imam yang mengikuti sunnah, itu saja kita tidak tahu mana yang akan dinilai sebagai ibadah yg diterima pahalanya disisi allah,.. kok kita begitu pedenya “biarlah mgkn sy berdosa karna sy sholat di rumah daripada saya tidak bs khusyu sholat dimasjid itu, ” ini adalah sikap yang keliru pak,.. sebab yang kita lakukan jika seperti itu, ini adalah kemungkaran, kemaksiatan yg dilakukan terus menerus,

      jadi lebih selamat bapak kembali shalat berjamaah bersama mereka, sambil terus berdoa utk kebaikan imam tersebut, mudah2an saja Allah berikan hidayah.. sambil terus berbuat baik dengan imam tersebut,.. insya allah dengan akhlak yang baik,lambat laun si imam mudah2an mau menerima nasehat yang anda berikan,..

      Saya berfikir kenapa dulu para sahabat pergi ke masjid utk sholat berjamaah, itu karna imamnya lagsg nabi kita, atau org2 yg terpilih setelah nabi wafat, tidak seperti skrg asal pakai sorban, asal sdh tua, atau sdh haji, gak tau ilmunya bagaimana, pede aja maju jadi imam, mohon tanggapan

      Sahabat shalat ke masjid, bukan karena imamnya adalah rasulullah, tapi shalat berjamaah itu hukumnya wajib dilakukan dimasjid bagi laki-laki, bukan ketika shalat jumat saja, tapi seharusnya 5 waktu itu seperti shalat jumat, yaitu berjamaah , silahkan dibaca disini penjelasan tentang hal tersebut,

      • akhmad syazili
        Februari 6, 2013 pukul 4:02 am | #4

        sukron atas tanggapannya, tp sy msh blm bs nerima klu dipimpin atau ‘diimami’ org jahil dan ahlul bid’ah.
        Klu admin mengatakan “Amalan sholat kita,jika dilakukan bersama imam yang mengikuti sunnah,itu saja kita tdk tahu mana yg akan dinilai sebagai ibadah yg diterima pahalanya disisi ALLAH”.
        kalau begitu apalagi yg tidak mengikuti sunnah kan???? sdh pasti tdk bakalan diterima ibadahnya klu perkara2 bid’ah diborong semua.

        Maksudnya bukan seperti yang antum pahami,
        Seorang ulama ahlussunnah saja tidak mengetahui, mana amalannya yang dinilai sebagai pahala disisi Allah,.. Perhatikan, bukan amalannya bidah atau sunnah, kalau ulama yang gigih mendakwahkan dakwah sunnah, tidak mungkin dia mengajarkan atau melakukan kebidahan,..
        sosok ulama yg seperti itu saja tidak mengetahui, dan seandainya ada satu saja amalannya yg dinilai sebagai pahala yg diterima disisi Allah, dia sungguh bahagia,..

        mudah-mudahan bisa dipahami,. begini saja perumpamaannya, ada seorang yang mengerjakan shalat, semua shalatnya dikerjakan sesuai sunnah rasulullah,.. apakah shalat tersebut dinilai sebagai pahala yang diterima disisi Allah? tidak ada yang tahu, kita hanya berusaha beramal sesuai dengan yang dicontohkan oleh rasulullah,

        mungkin dengan perumpamaan begini pak, jika seseorang atau kita melakukan amalan ibadah yang sesuai sunnah, kita tidak mengetahui apakah amalan ibadah kita itu dicatat sebagai pahala disisi Allah atau tidak,.. kita tidak tahu,.
        Tapi jika kita melakukan perbuatan dosa, pasti perbuatan kita itu dicatat sebagai dosa,. begitu gambaranya jadi jika kita melakukan amalan yg sesuai sunnah, tidak otomatis amalan kita itu dicatat sebagai pahala disisi Allah, kalau perbuatan dosa, pasti itu dicatat sebagai dosa,.

        dalam hal ini, meniggalkan shalat berjamaah di masjid, dan shalat sendiri di rumah merupakan perbuatan dosa,.. shalat anda dirumah sah, tapi anda berdosa dalam hal ini,.. sayang bukan?

        Klu mendoakan insya ALLAH akan sy lakukan utk para imam itu semoga mendapat hidayah, mgkn admin sdh berada di lingkungan yg menjalankan sunnah makanya “enak”… atau mungkin admin bisa terus menerus dipimpin sholat oleh imam yg bodoh dan ahlul bid’ah, tp maaf…. itu tdk berlaku bagi saya, mohon tanggapan…

        saya paham dengan kondisi yang bapak alami, bukan ditempat bapak saja, sangat banyak kaum muslimin yg menjadi imam yg tidak mengerti tatacara menjadi imam yang baik,.. belum kalau kita melihat barisan jamaah kaum muslimin,.. sungguh miris,..

        tanggapannya diatas pak,. bersabar, berakhlak baik, sehingga mudah2an dengan berjalannya waktu, imam tersebut mau belajar , dan bisa mengimami shalat sesuai sunnah rasul,. karena tanggung jawab imam ini sangat berat,..

        jika makmum salah dalam mengerjakan shalat, maka imam berdosa dan ditambah dosa para makmumnya,. tapi jika imam mengimami shalat sesuai sunnah rasul, maka pahala bagi imam, dan imam mendapat pahala dari makmum yg ikut shalat bersamanya,..

        Jadi posisi makmum disini lebih ringan pak, dan kewajiban makmum adalah mengikuti imam, dan tidak akan dimintai pertanggungjawaban ttg kesalahan yg dilakukan imam dalam shalat berjamaah, apalagi anda sendiri sudah berusaha memberikan masukan/nasehat,

        jadi, shalatlah bersama mereka,.. jangan shalat dirumah,..

      • akhmad syazili
        Februari 7, 2013 pukul 4:03 am | #5

        satu lg admin mohon masukannya, seperti yg sy sebutkan sebelumnya kalau saya tdk bs khusyu’ dipimpin imam yg seperti sy ceritakan itu dan lbh khusyu’ klu sholat sendiri atau berjamaah di rmh.
        Yg jd pertanyaan sy, apakah berdosa org yg sholatnya tidak khusyu’ karna dongkol dengar bacaan Al Quranul karim yg dibacakan imam yg tdk sesuai dgn ilmu bacaan yg bnr dan juga karna kecepatan imamnya yg luar biasa itu.
        Walaupun harus sy akui juga msh jauh dr kesempurnaan khusyu klu sholat di rmh, tp klu sholat dimasjid dgn imam yg seperti itu sama sekali hampir tdk ada khusyu;’nya, sukron….

        Tidak mungkin, mustahil shalat bisa khusyu dengan melakukan perbuatan dosa,.
        Apa sih definisi khusyu?
        Apakah shalat dengan tenang dan lama, atau apa,
        Khusyu bisa timbul tentu diatas ilmu, dari tatacara wudhu harus sesuai dgn yang diajarkan oleh rasulullah, demikian juga tatacara shalatnya harus seuai contoh shalat yg diajarkan oleh rasulullah,.
        Demikian pula tentunya dengan cara shalat berjamaahnya,

        Jika kita shalat sendiri di rumah, maka kita akan kehilangan keutamaan shalat berjamaah di masjid,
        Langkah kita menuju masjid, satu langkah menghapus dosa, satu langkah mengangkat derajat,.. ini tdk kita dapatkan,
        Lalu ketika kita didalam masjid menunggu iqamat, maka malaikat mendoakan kita, agar kita diampuni dosanya,..
        dan banyak lagi keutamaan ketika kita di masjid untuk shalat berjamaah,.. apakah anda mau kehilangan keutamaan2 ini,.. tentu tidak bukan?

        belum lagi ditambah, kita berdosa dengan melakukan shalat dirumah, walaupun shalatnya sah, dan mungkin menurut perasaan kita shalat kita menjadi lebih khusyu,..

        ingat, khusyu itu bukan berdasarkan perasaan, apalagi dengan cara yg menyelisihi petunjuk rasulullah,.. ditakutkan perasaan khusyu itu bukan datang sebab amalan kita, tapi setan yg menghembuskan perasaan seperti khusyu kpd kita,.. dan kita semakin terjerumus pada perangkap setan tsb,.

  3. Filledeseulepluie
    Agustus 23, 2010 pukul 8:41 am | #6

    masih inget kagak?
    saya? ntu yang dulu pernah nongol di chat via YM? saya yang ngotot banget mau kenalan sama istri yang punya blog??
    dan? subnanalloh! nemu blog ini di muslimface.com
    salute!

    inget…
    permaisuri biarin nggak usah kenal dunia luar lah,… sudah punya surga dirumah sendiri,
    Alhamdulillah, mudah-mudahan bisa memberikan manfaat yang banyak….
    jangan komentar saja…. oke?..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.264 pengikut lainnya.