Beranda > Belajar Nasehat > Mau Tahu Tarif Ustadz-Ustadz Seleb?

Mau Tahu Tarif Ustadz-Ustadz Seleb?


BID’AH ITU MAHAL…SAYANG (BAG. 3)

mendadak ustadz(BONGKAR!…TARIF USTADZ SELEB/DA’I KONDANG)Tema pembahasan kali ini seputar tarif ustadz Seleb atau Da’i Kondang. Banyak fenomena yang terjadi di masyarakat kita ini berhubungan dengan mahalnya tarif seorang da’i kondang, walaupun ini menyangkut individu namun kondisi seperti ini membuat nama atau gelar seorang ustadz tercemar atau terbawa akibatnya.
Hal ini sangat jarang dibahas oleh sebagian orang karena masih terkesan aib, namun jika hal ini selalu ditutup-tutupi maka akan membawa dampak yang tidak baik juga untuk kita semua. Sudah banyak sejarah menceritakan tentang kisah-kisah teladan dari orang-orang shalih terdahulu, khususnya para Salafush Shalih ketika mereka berdakwah tanpa membutuhkan upah atau tarif yang mahal, bahkan sangat banyak dari mereka yang tidak mau dibayar atau ikhlas demi mencari Wajah Allah.

Maka itu, pada kesempatan kali ini, akan ana nukil beberapa komentar dari saudara-saudara kita mengenai mahalnya tarif untuk seorang Da’i Kondang atau Ustadz Seleb, yang membuktikan bahwa segala sesuatu yang jauh dari Sunnah (alias Bid’ah) maka mahal harganya. Berikut sebagian komentar-komentar mereka:- Ustadz Selebritis Mematok Tarif Rp.30Juta/15 Menit.
Komentar ust. Ahmad Sarwat, “Ramadhan kemarin ada panitia ceramah yang ngaku terus terang ke saya bahwa seharusnya yang diundang bukan saya, tapi ustadz X. Tapi gagal gak jadi diundang lantaran pihak manager gak mau turun lagi TARIF-nya dari angka 30 juta untuk ceramah 15 menit menjelang buka puasa. Akhirnya yang diundang saya yang bisa dikasih “syukron” doang,” terangnya.
(Sumber: http://www.fimadani.com/ahmad-sarwat-ustadz-selebritis-mematok-tarif-rp-30-juta-per-15-menit/)- Biaya mendatangkan ustadz (seleb) itu, bisa menghabiskan dana 90 jutaan!
Komentar Fulan : “…….dulu pernah menjadi bagian dari “dakwah jutawan” semacam ini, contohnya ingin mendatangkan seorang dai dari bandung, mungkin hampir 100 jutaan, alasannya sich mereka punya kantor, punya anak buah yang harus dibiayain, uang hotelnya (minta hotel yang bagus/mahal), dan saat kita minta datang sendiri atau paling tidak minimal dengan beberapa orang saja maka bagian agennya bilang tidak bisa karena harus datang dengan rombongan, karena tidak ada dananya maka yang begitu itu tidak jadi dilakukan.
Pernah denger juga cerita, jadi di kampus saya pernah mau datangi seorang ustadz. Bliau bersedia asal dibayar minimal 40 juta. Gilaaaa!!!”
(Sumber: http://thetrueideas.multiply.com/notes/item/1995?&show_interstitial=1&u=%2Fnotes%2Fitem)

- Tentang ustadz kondang yang tarifnya 15 juta/jam.
Bisa dilihat disini: http://twicsy.com/i/vNyX2

- Berapa honor ustadz seleb?
Komentar seseorang: “…honornya untuk setiap acara berbeda tetapi minimum sekarang 15 juta, ada yang bahkan memberikan ratusan juta rupiah, karena memang beliau tidak mau menetapkan tarif, jadi terserah yang memberi (yang memiliki acara) dan 5 juta setiap pertemuan untuk acara2 yang tampil secara rutin di televisi.”
(Sumber: http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20110216172553AALkzPf)

- Tarif ust. C**** sebesar Rp.10 juta!
Menurut pernyataan dari ibu Kenah,biaya atau tarif Ustadz C**** sebesar 10 juta rupiah.Kendati biaya itu cukup mahal untuk ukuran masyarakat yang berada di daerah pedesaan,ia tidak berkeberatan.Sejak dari awal memang sudah berencana untuk menghadirkan ceramah dari ustadz kondang itu.Tepat pukul 21.00 ustadz C**** datang dan langsung memulai ceramahnya di hadapan kurang lebih 1000 penonton yang sudah hadir memenuhi area halaman rumah ibu Kenah. Sekedar pertimbangan buat yang ingin mengundang beberapa ustadz kondang, Ibu Kenah sempat menanyakan tarif ustadz yang lainnya. Diantaranya Ustadz A* G** mempunyai tarif 8 juta rupiah, Ustadz J**** mempunyai tarif 11 juta.Itu adalah tarif untuk panggilan ke wilayah Cirebon.
(Sumber: http://cakrawalainterprize.com/2011/10/31/ustadz-cepot-seharga-10-juta/)

- Ustadz-ustadz Kapitalis?
Komentar ust. YM: “Dahulu ada Ustadz yang tarifnya mencapai 40 juta sekali ceramah. Sebenarnya bukan salah Ustadz itu 100% sih. Gara-gara persaingan antar televisi aja yang menyebabkan si Ustadz pasang tarif segede gitu… si Ustadz 40 juta itu asalnya cuma sebagai Penceramah di masjid Al Azhar. Rupanya ada Produser R*** (salah satu stasiun TV swasta) yang tertarik dengan ceramah sang Ustadz. Jadilah si Ustadz masuk televisi. Sekali dua kali tampil, ada S*** (salah satu stasiun TV swasta) yang juga tertarik buat mengundang Ustadz 40 juta ini. Entah ada setan apa, si Ustadz meluncurkan kata-kata: “Kalo mau munculin ane di televisi, ente berani bayar 15 juta nggak? Namanya juga persaingan bebas, S*** tanpa ba-bi-bu langsung “membajak” Ustadz berinisial KB ini. Sejak itulah KB menjadi Ustadz dengan honor tertinggi. Dari 15 juta beranjak ke 20 juta, dan sampai akhirnya bertarif 40 juta. Gokil! Memang sih, gaya bertausyiahnya keren, menyejukkan, dan segar. Memang juga sih, spot iklan di televisi akhirnya bisa menutup tarif Ustadz KB ini. Tapi wajar nggak sih Ustadz mengkomersilkan diri?

Ustadz YM cerita lagi soal Ustadz lain. Kali ini inisialnya JK. Gw kenal dengan Ustadz JK, tapi sayang doi nggak kenal gw. Gw kenal karena JK ini dahulu sebelum ngetop jadi Ustadz, profesinya sebagai Model dan Bintang Sinetron. Dahulu kala hidupnya gawat. Mabok-mabokan, free seks, dan menjadi pengguna narkoba. Sampai suatu saat, doi sekarat dan mendapat hidayah buat kembali ke jalan yang benar. JK kemudian berubah jadi Ustadz. Awalnya mungkin nggak ada dalam benaknya mengkomersilkan diri. Tausyiahnya semata-mata buat Allah. Eh, lama kelamaan, matanya hijau juga ngeliat tarif. Apalagi doi udah menggabdikan diri melakukan syiar, sementara kebutuhan rumah tangga nggak bisa ditawar-tawar. Mana ada Manusia yang mau kelaparan? Nah, doi akhirnya memanfaatkan Ustadz buat mencari duit gila-gilaan dengan memasang tarif. Dua tahun lalu tarifnya mencapai 15 juta,” kata Ustadz YM. “Kalo sekarang ada yang ngundang dengan tarif 5 juta pun dikejar. Maklum, persaingan Ustadz gila-gilaan. Kalo sok pasang tarif tinggi, Ustadz itu bisa nggak makan.”

Ustadz YM sebenarnya menyayangkan temannya (maksudnya Ustadz JK) itu pasang tarif. Banyak cerita-cerita miring soal Ustadz JK ini. Salah satunya dari sebuah Institusi yang ingin mengundang doi. Oleh Management Ustadz JK, Institusi itu diwajibkan menyetor dana senilai 20 juta cash via transfer. Padahal waktu tausyiah Ustadz JK masih 3 bulan lagi.
“Nggak bisa DP dulu, Pak,” kata salah seorang Panitia dari Institusi tersebut, sebagaimana diceritakan oleh Ustadz YM.
“Nggak bisa!” Galak banget jawaban Mas-Mas dari Management Ustadz JK itu. “Ustadz JK itu schedule-nya penuh. Dia mau menyempatkan diri hadir di tausyiah Anda, eh kok Anda menawar gitu?”
Mas-Mas Management semakin marah ketika Panitia memutuskan mengganti Ustadz JK dengan Ustadz lain. “Anda udah berjanji buat mengundang Ustadz JK. Anda harus teransfer sekarang juga!” Idiiiiih, kok maksa gitu ya? Ya gitu deh kalo Ustadz udah berubah jadi Ustadz Kapitalis.

“Nggak heran kalo dengan jadi Ustadz cari uang jadi mudah,” cerita Ustadz YM lagi. “Tinggal bilang banyak-banyaklah bershodaqah atau amal jariah, Jamaah yang kaya raya itu pasti bakal ngasih duit.”

Percaya nggak, ada Ustadz yang dikasih mobil Jaguar, even Celica sama Jamaah-nya. Hah?! Sumpeh loe?! Iya, bener! Ustadz ini cari duit gampang banget. Saking mudahnya, cari 100 juta udah kayak cari 10 ribu perak. Hanya dengan tempo 1 tahun, Ustadz berinisial KK ini berhasil memiliki duit senilai 1,5 miliar. Memang sih terlalu kecil buat ukuran Pengusaha. Tapi buat Ustadz KK, ini jadi sebuah prestasi yang gemilang nan jaya. Sayang, semua sumbangan dimasukkan ke dalam rekening pribadi, bukan buat kesejahteraan Ummat. Memang sih, doi dapat jatah dari sumbangan itu, karena gara-gara doi, Jamaah mau bershadaqoh atau menyumbang. Tapi masa 50% duit buat pribadi? Bukan 2,5% atau kurang dari angka itu?

Bahkan Ustadz KK berhasil menipu salah satu pemilik stasiun televisi swasta nasional. Kata Ustadz YM, awal tipu menipu itu gara-gara Ustadz KK berhasil menjual diri. Ustadz KK bilang, Ummatnya banyak, jadi rugi kalo nggak menggontrak dirinya. Walhasil, Bos televisi swasta setuju. You know nilai kontrak si Ustadz KK itu, Bro? 2,5 miliar per tahun. Masa kontrak yang diminta di Ustadz lima tahun. Artinya, dalam lima tahun Ustadz itu berhasil mengantongi duit senilai 12,5 miliar. Wow?!
“Gara-gara rating si Ustadz jeblok, maka kontraknya cuma bertahan setahun,” jelas Ustadz YM. “Tapi lumayan kan setahun dapat 2,5 miliar?”

Kini, Ustadz-Ustadz Kapitalis masih merajelela. Sebenarnya, Ustadz kayak gini memang nggak bisa dipersalahkan 100%. Keadaan yang membentuk diri si Ustadz jadi Kapitalis. Persaingan antar stasiun televisi, kebutuhan rumah tangga yang gila-gilaan (apalagi kalo si Ustadz menganut aliran poligami), dan kita sendiri yang memberikan penghargaan terlalu “berlebihan” pada Ustadz (baca: mengkultuskan). Nggak ketinggalan pula, negara ini pun juga udah mengarah ke Negara Kapitalis. So, jangan salahkan kalo Ustadz-Ustadz berubah wujudnya. Sekali lagi, Ustadz juga Manusia bukan?
(Sumber: http://yesimmoslem.blogspot.com/2009/11/ustadz-kapitalis.html)

- Ustadz minta DP.
Komentar ust. Fulan: “Ummat: “Ustadz Ganteng, mohon maaf, berapa ya kami perlu ganti untuk transportasi?”Ustadz Ganteng: “Untuk administrasi aja ya, sediakan aja 30 juta, 10 juta dibayar di depan ke account saya. Oya, kalo nggak jadi DP nya angus ya..”
Percaya atau nggak percaya, fakta semacam ini ada. Begitulah suatu hari, ketua DKM salah satu masjid bilang ke saya. Saya jadi mikir “pantes aja mobil si Ustadz Ganteng Fortuner dll” hehe..
Saya pribadi juga seringkali ditanya, “Ustadz, maaf nih, administrasinya berapa yang harus kita siapkan?”Jawab saya “Saya nggak pernah minta bayaran untuk dakwah, berapapun yang panitia kasih akan saya terima, kalo nggak ada pun nggak papa, asal transportasi dan akomodasi ditanggung panitia”
Parahnya masa kini, banyak orang yang udah nggak malu menjadikan Ustadz dan Da’i sebagai profesi. Pekerjaan profesional. Karena itu layaknya seorang pembicara publik, mereka mematok tarif sekali pengajian. Kalo udah masuk TV apalagi, matoknya diatas 10 juta. Subhanallah.”
(Sumber: http://maf1453.com/felix/2011/10/19/saya-mau-shalat-asal-bayar-saya-10-juta/)

- Awas, Banyak Ustadz ‘Gadungan’ di Televisi.
Majelis Ulama Indonesia melihat banyak ulama yang tidak berkompeten dan berintegrasi tampil menjadi penceramah agama di televisi. “Harunysa kualitas dan validitas serta keteladanan juru dakwah diperhitungkan,” kata Wakil Ketua Tim Pemantau TV Ramadan 1431 H dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Imam Suhardjo di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Senin, 6 Agustus 2012.
(http://id.berita.yahoo.com/awas-banyak-ustadz-gadungan-di-televisi-013632157–ramadan2012.html)

- Adzan Disisipi Iklan dan Ustadz Melawak.
Banyak tayangan TV yang nggak ada gunanya, yang ditampilkan cuma ketawa ketiwi badut-badut TV tersebut. Bahkan tayangan adzan pun disisipi iklan, keterlaluan, serba komersil semua. Ustadz juga malah ikut-ikutan melawak, kacau deh. Berikut hasil pengawasan KPI tentang tayangan-tayangan TV tersebut. KPI menangkap dua fenomena yang berbeda dalam penayangan program Ramadhan di tahun ini. Hal ini diungkapkan dalam pengumuman hasil pantauan tayangan Ramadhan selama dua pekan, Senin (22/8). Fenomena yang pertama adalah adanya iklan dalam adzan dan fenomena ustad yang ikut bergabung dengan berbagai program lawak di televisi ketika sahur.
Berkenaan dengan hal tersebut, KPI sudah berbincang dengan Kementrian Agama dan meminta pertimbangan kepada MUI. “KPI tidak bisa memberikan sanksi terahadap penayangan adzan yang ada iklannya, karena memang tidak ada larangan iklan dalam simbol-simbol keagamaan. Kami hanya mampu menghimbau dan memberikan peringatan untuk segera diganti,” kata ketua KPI Dadang Rahmat Hidayat. Imam Suharjo dari MUI berkata, “Itu akan dapat mencederai peran mereka sebagai pendakwah. Penampilan ustad sebaiknya biasa saja tidak berlebihan dalam hal pakaian dan make up, dan jangan ikut melawak seperti pelawak dan jangan ikutan nyanyi seperi penyanyi,” ungkapnya.
(Sumber: Republika.co.id )

- Ustadz Harus Ganteng?
Komentar al akh Bayu Gawtama : “…Ustadz dan ustadzah ini, karena kegantengannya dan kecantikannya cepat meroket, melesat bak selebritis. Bahkan hampir tidak ada bedanya dengan selebritis, sebab ia pun kerap masuk dalam beragam acara infotainment yang sebelumnya menjadi hegemoni penuh para selebritis kita. Dan lantaran ingin memenuhi selera pasar pula, penampilan sang ustadz dan ustadzah pun dipermak layaknya seorang artis. Pakaiannya jadi trendsetter, banyak para jama’ah yang berupaya mengikuti semua gaya dan penampilannya, dari baju gamis, kacamata, jilbab, sampai sepatu.

Ustadz dan ustadzah pun jadi bintang iklan, cenderung dimanfaatkan oleh orang-orang yang mencari keuntungan dari popularitas keustadzannya. Mereka pikir, ustadz dan ustadzah kan punya pengikut, jama’ah, atau bahkan fans, jadi yang diincar itu bukan ustadznya, tapi yang berada di belakang ustadz itu. Kemudian, makin terkenallah ustadz dan ustadzah ini, diundang ceramah ke berbagai daerah dan kota seluruh Indonesia, sampai ke luar negeri. Kehadirannya disambut meriah, pakai tepuk tangan agar tambah ramai. Ustadz dielu-elukan, dan orang-orang pun berebut menyentuh tangannya untuk diciumi. Tidak peduli ustadznya masih muda, sedangkan yang mencium tangan muda itu adalah lelaki tua yang jalannya sudah membungkuk.

Permintaan ceramah pun semakin banyak, sehingga ustadz bisa memilih mana bayaran yang paling besar jika terdapat jadwal yang bentrok. Bahkan pada saatnya, sang ustadz melalui manajernya boleh mengajukan tarif tertentu kepada panitia penyelenggara atau tidak jadi sama sekali. Maklum, permintaan tinggi, harga juga bisa ditinggikan. Gigit jarilah para pengurus masjid di kampung-kampung, di desa-desa, dan di berbagai pelosok negeri yang nyata-nyata tidak sanggup menyediakan uang transpor dan akomodasi yang memadai saat harus mengundang ustadz kondang ini berceramah di masjidnya. Sebab, kelas ustadz ini memang bukan lagi di masjid-masjid kecil, di kampung-kampung becek, melainkan di masjid besar, dan hotel.

Coba hitung, selain tarif yang mahal, masih harus menyediakan tiket pesawat, akomodasi yang layak sekelas selebritis. Ujung-ujungnya, ustadz kampung lagi yang dipakai, selain bayarannya murah, tidak perlu tiket pesawat, hotel, dan bisa dijemput pakai motor. Meskipun seringkali yang disebut ustadz ‘kampung’ ini kualitasnya boleh jadi lebih bagus dari ustadz kondang dari kota. Baik kualitas materinya, juga integritas kepribadiannya. Sayangnya, jama’ah kita sudah silau oleh ketenaran sang ustadz kota.
(Sumber: http://kotasantri.com/pelangi/refleksi/2012/08/05/ustadz-harus-ganteng)

- Komentar al akh Jauhar Ridhoni Marzuq ( Mahasiswa Al Azhar Mesir & Kru QommunityRadio Kairo ):
“…Yang membuat saya resah adalah munculnya dai-dai selebritis yang jauh dari kualitas keulamaan. Bukan hanya kualitas keilmuan agamanya yang di bawah standar pas-pasan, tapi juga karena komersialisasi dakwah dan perangai buruk yang diperagakan. Sehingga hal itu bukan mendukung misi dakwahnya, tapi justru menghancurkan nilai-nilai Islam yang didakwahkan. Kondisi semacam ini tentu sangat berbahaya, karena bisa melahirkan sikap apatis bahkan kebencian terhadap agama.

Saya tak habis pikir bagaimana bisa seorang dai, ulama, ustadz, kiyai, atau apapun itu namanya, memasang tarif puluhan juta rupiah untuk setiap kali memberikan ceramah?! Jika bayaran yang diberikan kurang dari harga yang dipatok, sang dai tak mau memberikan ceramah. Belum lagi, dai tersebut juga seperti selebritis yang memiliki manajer, sehingga konsultasi keagamaan dan lain sebagainya harus melalui manajer tersebut. Dengan demikian, ikatan antara dai dengan umat seperti ikatan bisnisman dengan pelanggannya, bukan seperti ikatan antara orang tua dan anak, guru dan murid, atau bahkan antara Nabi Muhammad dan para sahabat. Dakwah kemudian bukan menjadi kewajiban atau amanah yang harus dijalankan dengan keikhlasan, tapi justru dijadikan alat untuk mendulang uang. Karunia Allah yang menjadikan mereka diterima masyarakat justru dimanfaatkan untuk mendulang popularitas. Mereka pun kemudian jadi artis dadakan.

Saat muncul di infotainment, bukan nilai-nilai agama atau pengalaman mereka belajar agama yang menjadi topik wawancara, melainkan tentang rumah baru, mobil baru, koleksi sepatu baru, sampai motor besar seharga ratusan juta rupiah. Bahkan kehidupan pribadi mereka pun diekspos seluas-luasnya. Lebih memprihatinkan lagi, sang dai tak malu-malu menonton bisokop berduaan dengan wanita yang bukan mahramnya di tengah sorotan kamera. Tentu tak ada salahnya jika seorang dai mempunyai banyak harta dan kaya raya, selama kekayaan itu tidak didapatkan dengan cara-cara yang haram, seperti korupsi, menipu mencuri, dan lain sebagainya. Kekayaan itu justru bisa dijadikan penunjang aktifitas dakwah, seperti yang dilakukan oleh Ibunda Khadijah Ra, Abu Bakar al-Shiddiq Ra, dan Utsman bin Affan Ra.. Tapi secara akal sehat yang paling dangkal pun, sungguh tidak layak bagi seorang dai atau ustadz yang mengajarkan nilai-nilai luruh agama untuk pamer harta, bahkan pamer kemesraan seperti layaknya artis sinetron di layar infotainment…”
(http://qommunityradio.net/2011/12/16/abu-yusuf-dan-potret-dai-selebritis/)

- Pertanyaan:
Assalamu’alaikum. Apakah da’i-da’i ataupun ustadz-ustadz yang memasang tarif tertentu untuk dakwah dianggap menjual ayat-ayat Allah -Subhanahu wa ta’ala-?

Jawaban:
Tidak diragukan lagi bahwa berdakwah kepada Allah -Subhanahu wa ta’ala- adalah termasuk amal yang paling mulia, yang paling agung pahalanya di sisi Allah -Subhanahu wa ta’ala-. Terutama jika pelakunya tidak mengambil balasan karenanya karena mencontoh para Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-. Allah -Subhanahu wa ta’ala- telah mengabarkan kepada kita tentang perkataan di antara mereka:

وَيَا قَوْمِ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالا إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى اللَّهِ

“Dan (Dia berkata): “Hai kaumku, Aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku, upahku hanyalah dari Allah” (QS. Huud: 29)

يَا قَوْمِ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي أَفَلا تَعْقِلُونَ

“Hai kaumku, Aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?” (QS. Huud: 51)

وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٠٩)

“Dan Aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.” (QS. Asy-Syu’ara`: 109)

Akan tetapi jika da’i tersebut benar-benar mencurahkan waktu dan tenaganya untuk dakwah, maka tidak mengapa dia mengambil upah darinya. Dan memungkinkan baginya untuk menentukan imbalan atas jasanya yang zhahir, seperti pembelian kitab, menyiapkan makalah, transportasi, akomodasi dan lain-lain, atau orang lain yang menentukan imbalannya. Yang demikian ini berdasarkan riwayat al-Bukhari dan lainnya, bahwa ada sekelompok dari sahabat Rasulullah r yang turun ke sebuah perkampungan dari perkampungan badui. Kemudian kepala kampung tersebut terpatuk ular, maka salah seorang sahabat membacakan atasnya al-Quran yang mulia, dan Allahpun menyembuhkannya. Kemudian mereka mengambil upah atas hal tersebut. Kemudian mereka mengabarkan kejadian ini kepada Rasulullah r, maka beliau bersabda kepada mereka:

« إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ »

“Sesungguhnya pahala yang paling berhak kalian ambil atasnya adalah Kitabullah.” (HR. Bukhari: 5296)

Sesungguhnya seorang da’i dan thalibul ilmi, jika diantara keduanya mengambil uang transport menuju daerah yang dia berdakwah di dalamnya, maka ia tidak tergolong mengambil upah karena dakwah atau mengajar, akan tetapi itu hanyalah bagian dari saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketaatan. Dan Allah -Subhanahu wa ta’ala- telah memerintahkan untuk saling menolong di atasnya. Allah -Subhanahu wa ta’ala- berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2)

Dan tidak boleh seorang da’i memberikan syarat upah yang besar di atas kemampuan panitia sebagai balasan dari muhadharah atau ceramahnya, terutama jika dia memiliki gaji bulanan yang aman baginya untuk hidup mulia. Aku nasihatkan untuk tidak mahal di dalam mengambil upah, dan ambillah yang masuk akal, sekalipun yang utama adalah sukarela, jika dia mampu. Wallahu a’lam. (AR)*
(Sumber: http://qiblati.com/)

Allah SUbhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا

Dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah. (QS al-Baqarah [2]: 41)

Rasulullah bersabda, ‘Bacalah Alquran dan niatkanlah hanya untuk Allah, sebelum datang sekelompok orang yang membaca Alquran lalu dia jadikan Alquran sebagai alat untuk meminta-minta harta.’ (H.R. Ahmad, dan lain-lain; sahih, sebagaimana dalam Shahih Al-Jami Ash-Shaghir, no. 1169)

Al-Minawi, dalam Faydh al-Qadîr, mengatakan, “Bencana bagi umatku (datang) dari ulama sû’, yaitu ulama yang dengan ilmunya bertujuan mencari kenikmatan dunia, meraih gengsi dan kedudukan. Setiap orang dari mereka adalah tawanan setan. Ia telah dibinasakan oleh hawa nafsunya dan dikuasai oleh kesengsaraannya. Siapa saja yang kondisinya demikian, maka bahayanya terhadap umat datang dari beberapa sisi. Dari sisi umat; mereka mengikuti ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatannya. Ia memperindah penguasa yang menzalimi manusia dan gampang mengeluarkan fatwa untuk penguasa. Pena dan lisannya mengeluarkan kebohongan dan kedustaan. Karena sombong, ia mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui.” [Al-Minawi, Faydh al-Qadîr, VI/369.]

Wallahu a’lam

Oleh Abu Fahd Negara Tauhid.

sumber : http://gizanherbal.wordpress.com/2012/08/08/bidah-itu-mahal-sayang-bag-3/

  1. Karnaen Nafed
    Agustus 5, 2014 pukul 2:59 am

    Para ustad cari makan di mesjid, apakah ini gelaja semakin tingginya angka pengangguran, sehingga menyampaikan ayat-ayat alquran pun dijadikan sebagai mata pencaharia, Dulu Rasulullah mempunyai status sosial yaitu sebagai pedagang disamping tugasnya menyampaikan wahyu Allah.

    Tapi sekarang, di televisi kita lihat para ustad dan ustazah yang menyampaikan wahyu Allah dengan cara ngebodor, hebat gak? ini ustad atau pelawak.

    Demi uang amplop para ustad dan ustazah siap menjadi pelawak, tapi uang amplopnya halal gak ya, Kata imam mesjid istiqlal, uang amplop itu haram. gimana tuh… MUI dimana yaaa

    terimakasih Karnaen, sudah komentar disini,.
    Itulah fenomena akhir jaman, banyak orang yg tidak layak menjadi ustadz,dai, tapi di ustadzkan, asal bisa ngebodor,.. apalagi televisi itu yang dicari adalah RATING, sebab pengaruhnya pada iklan, ratusan juta uang yang diraih oleh stasiun tv didapatkan dari acara tsb,

  2. cikal
    Februari 4, 2014 pukul 9:23 pm

    Astagfirullohal adzim.. ampuni hamba2 mu yg khilaf dan berikanlah cahaya bagi yang sedang tersesat ya Alloh.. aamiin..

    Amiin,.

  3. adly
    November 29, 2013 pukul 12:28 pm

    Sudah menjadi sunnatullah,akan muncul di suatu masa dai2 yg mengajak ke pintu neraka

  4. يودهيستيره فيرمانسياه
    Juli 13, 2013 pukul 2:14 pm

    kalau memang begitu adanya ustadz2 diatas berarti dakwah nya ngga lagi murni karena syiar islam tapi lebih kepada materalistis jika begitu adanya biarlah mereka yang menanggung dosany kita hanya bisa memohon kepada Allah agar mereka disadarka dari sifat semacam itu, dan kita pun ngga boleh begitu saja termakan hal-ha yang belum pasti kebenarannya sebab sekarang persaingan itu adalah hal dimana orang akan saling menjatuhkan dengan berbagai cara,semoga Allah membuka kebenaran agar syiar islam bebas dari perilaku semacam itu

  5. Nyunyung Nafiah
    April 27, 2013 pukul 4:00 am

    astaghfirullahal’adziim..
    smoga ustadz2 yang melakukan apa yg dilansir di artikel Anda tsb mendapatkan hidayah Allah, semoga orang yang menulis artikel ini(Anda) juga mendapat hidayah Allah , semoga orang yang membaca artikel ini bisa mengambil nilai positifnya saja dan bisa introspeksi diri :)

  6. nuruddin al banj
    Maret 18, 2013 pukul 8:11 am

    Al mulk: Alam ya’tikum nadzir? Belumkah ada yang datang kepadamu memberi peringatan?
    Da’wah itu mendatangi bukan “didatangi” (baca:”diundang”) apalagi pake TV …
    Para Nabi itu dawah dengan mendatangi,begitu jg para sahabat..korban harta dan diri..
    Kl ada yg mengaku salafus soleh kemudian dawah lewat tv itu aneh sekali…kecuali mengajarkan ilmunya..(sy masih bs maklumi) tidak salah tp ANEH (ktnya Salafus soleh)
    perlu dipahami…Dawah itu artinya mengajak dan ini tugas umatnya Nabi SAW ,caranya ya hrs sama dengan Nabi dan sahabat …berkorban harta dan diri mendatangi umat.
    sementara,Mengajar tugasnya Ulama tidak semua org boleh berfatwa…
    Jangan mudah katakan itu bid’ah.. yang ini sesat…
    maaf antum ulama (pemilik web ini) bukan ???
    Al quran mengatakan : Innama yahksallaha min i’badihil u’lama
    “Sesungguhnya orang2 yang takut kepada Allah hanyalah dr kalangan orang berilmu”
    Jelas sekali antum bukan Ulama karena tidak ada rasa takut kepada Allah dgn memberi tuduhan2 palsu kepada orang lain (hary mukti , HTI,Tabligh…)
    Lembaga Ulama yang sah saja tidak berfatwa sesat kok antum (pemilik web ini) seenaknya saja mengatakan orang ini sesat, kelompok itu sesat …..
    Biasanya kalo ada org teriak sayur…ooh itu pasti tukang sayur….ada yang teriak ikan….ooh itu tukang ikan…kl ada yg teriak ini bidah,itu bidah,ini sesat,itu sesat….wah itu biasanya tukang atau Ahli bidah yang sesat sesungguhnya kali…
    Hati2 antum bicara…sesuaikan dengan kapasitas antum,kl bukan ulama jangan ksh jawaban yang neko2 dong….pis…ah

    terimakasih mas,.. lucu juga tanggapan anda,..

    saya tambahin nih,. kalau ada orang yang teriak : “maling.. maling… berarti dia itu malingnya?
    kalau ada yg teriak : “copet,… copet,… berarti dia copetnya?
    cape deh,.. rada konyol juga antum,..

    • regi
      Agustus 18, 2013 pukul 12:11 am

      nuruddin al banj rusak pemikirannya……….

  7. Chandra
    Maret 1, 2013 pukul 4:47 pm

    Ass Wr wb

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    saya cuma mau numpahin uneg2 :
    kenapa islam yang saya rasakan indah sekali ini harus dipermalukan oleh ahli bid’ah, didangkalkan dan “dimanusiakan” oleh jil dan sekarang dijual dg harga murah (ditukar dg dunia) oleh mereka yg seharusnya jadi benteng pertama dalam menjaga “martabat” islam.
    Ya Allah, masalah apa lagi yang akan dihadapi agamaMu?.

    Terimakasih mas chandra
    Itulah tanda-tanda akhir jaman mas chandra, tidak usah heran, Rasulullah jauh-jauh hari sudah mengabarkannya, bahwa nanti di akhir jaman akan muncul manusia2 seperti itu,.
    Orang berbicara tentang agama islam tanpa ilmu,.
    Berikut hadits rasulullah:

    “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang menipu, orang yang dusta dianggap jujur, orang yang jujur dianggap dusta, orang yang suka berkhianat diberikan amanah, dan orang yang amanah dianggap pengkhianat, dan akan berbicara Ruwaibidlah”. Dikatakan: “Apa itu Ruwaibidlah ?” Ia berkata: “Orang bodoh berbicara dalam perkara yang berhubungan dengan keumuman manusia”. (HR Ibnu Majah dan lainnya)

    Sesungguhnya kalian hidup di zaman yang ulamanya banyak dan penceramahnya sedikit, sedikit yang minta-minta dan banyak yang memberi, beramal pada waktu itu lebih baik dari berilmu. Dan akan datang suatu zaman yang ulamanya sedikit dan penceramahnya banyak, peminta-minta banyak dan yang memberi sedikit, berilmu pada waktu itu lebih baik dari beramal”. (HR Ath Thabrani dalam mu’jam kabirnya)

    Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang menipu, orang yang dusta dianggap jujur, orang yang jujur dianggap dusta, orang yang suka berkhianat diberikan amanah, dan orang yang amanah dianggap pengkhianat, dan akan berbicara Ruwaibidlah”. Dikatakan: “Apa itu Ruwaibidlah ?” Ia berkata: “Orang bodoh berbicara dalam perkara yang berhubungan dengan keumuman manusia”. (HR Ibnu Majah dan lainnya)

    Diantara tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu, tersebarnya kebodohan, arak diminum, dan zina menjadi tampak”. (HR Bukhari dan Muslim)

    Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan diwafatkannya para ulama, sehingga apabila ulama tidak tersisa lagi, orang-orang akan mengambil pemimpin-pemimpin (agama) yang bodoh, mereka ditanyai lalu berfatwa dengan tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan”. (HR Bukhari dan Muslim)

    Jadi, jangan bingung lagi mas,.. kewajiban kita sekarang, mempelajari islam dengan pemahaman para sahabat, sehingga kita tidak tertipu dengan dakwah2 yg disampaikan oleh orang-orang yang seperti anda sebutkan,..

  8. h y
    Februari 17, 2013 pukul 3:18 am

    Hampir semua acara di TV mempertuhankan “rating”. Menurut seorang teman yang banyak tahu dunia TV mengatakan bahwa setiap stasiun TV bisa memonitor berapa banyak pemirsa yang menonton acara yang sedang ditayangkan.

    Oleh karena itu mari kita lakukan : matikan TV bila acaranya tidak sesuai dengan hati nurani dan fikiran sehat kita. Bila semakin banyak ummat yang sadar akan hal itu tentu penonton akan semakin berkurang dan acaranya tidak laku alias ratingnya makin menurun.

    Semoga stasiun TV kita di tanah air akan lebih berorientasi kepada kwalitas, termasuk juga materi dan penyajian ceramah agama. Amin ya Rabbal ‘alamin

    Amiin,.. alhamdulillah di indonesia sdh ada siaran televisi yang 100 persen bermanfaat, silahkan simak rodja tv atau insan tv via parabola,
    bisa juga dilihat via streaming, untuk streaming ada http://www.yufid.tv , http://www.rodja.tv , http://www.insantv.com , http://www.ahsan.tv

  9. h y
    Februari 17, 2013 pukul 2:40 am

    Ada seorang Ustadz yang biasa berceramah di sebuah radio dakwah menceritakan pengalaman beliau sewaktu diminta untuk berceramah di stasiun TV.

    Stasiun TV hanya mau menampilkan beliau bila mengikuti pola / format bahkan materi yang sudah di setting oleh pihak TV.

    Sementara beliau mempunyai metoda tersendiri dalam penyampaian dakwah yang beliau anggap baik dan tepat. Pada akhirnya tidak tercapai kesepakatan sehingga beliau urung tampil di TV.

    Pak Ustadz tersebut dalam penyampaian dakwahnya memang jauh dari sekedar mengundang canda dan tawa pemirsa, lebih banyak mengajak ummat untuk berpikir dan merenung sebagaimana yang banyak diperintahkan dalam kitab suci Al Quran dan Sunnah Nabi SAW.

    yah, begitulah televisi umum,.. bukan mengharap keridhaan Allah, tapi bagaimana menarik pemirsa, tentu dengan tayangan2 yg merusak moral bangsa ini, tidak jauh dari ghibah,pornografi,hiburan syetan(musik),dan berita2 yg membuat masyarakat resah,.. 99 persen acara televisi umum itu tdk bermanfaat,.

  10. leelo
    Februari 11, 2013 pukul 4:20 am

    ijin copas & share ya, akh..
    tentu saja akan saya cantumkan sumbernya.
    terima kasih

    Silahkan, tidak usah mencantumkan sumber dari blog saya juga tidak apa-apa, asal sumber dari artikel tsb yang ada dipostingan dibiarkan apa adanya, karena saya juga copas dari sana,
    jazakallahu khairan

  11. M. S. Rosyidi
    Februari 10, 2013 pukul 2:41 pm

    Duh…
    Pernah sih lihat, kebetulan menyebutkan qaidah fiqhiyyah, eh bacanya saja tidak benar, menerapkannya lebih parah…

    Bagaimana dengan masalah2 yang perlu pemikiran mendalam…

    Semoga kita semua diberi hidayah-Nya dan maghfirah-Nya

  12. Hamba Allah
    Februari 10, 2013 pukul 1:20 pm

    Dahulu ulama kita bagaikan Matahari menyinari ummat tanpa bayaran
    sekarang ada sebahagian ulama bagaikan listrik dibayar baru mau menyinari ummat.

    Tidak ada ulama yang minta bayaran,.. kalau yang ngaku-ngaku sebagai ulama, mungkin saja,
    Ulama adalah orang yang takut kepada Allah,. mereka menyebarkan ajaran rasulullah dengan ikhlas hanya mengharapkan keridhaan Allah, bukan mengharapkan materi dari murid2nya, atau dari kaum muslimin,.. mereka tidak mau dibayar, karena tidaklah sebanding bayaran manusia semahal apapun dengan ganjaran yang Allah berikan,.
    Berbeda dengan orang yang mengaku sebagai ulama, atau sebagai ustadz dengan bayaran yg heboh,..

  13. saiful
    Februari 8, 2013 pukul 3:08 am

    Innalillah wainna ilaihi rajiun..

    semoga kita terjau dari fitnah dunia…

    berharap amal yang tetapi terpleset karena kemilau harta…

    para ulama salaf dahulu berdakwah juga bekerja bahkan tidak jarang mereka sendiri membiayai muridnya atau bersedekah….

    rumah-rumah mereka tidak seperti istana…

    bahkan sangat sederhana dan sederhana lagi…

    serta selalu mengingatkan akan bahaya riya..

    semoga kita terlindung dari penyakit riya dan gila harta

  14. supriman
    Februari 7, 2013 pukul 8:14 am

    Kalo ada ustadz Ahlussunnah yg diundang salah satu TV gimana? Mau gak yach? Kira2 dibayar gak ?

    ngga perlu mbayar mas, gratis,.. bahkan dulu pernah ada ustadz kita yg ngisi di tv, malah kita yg mbayar ke tv tsb,. jadi boro2 dibayar, malah ngeluarin duit agar bisa tampil di tv,. alhamdulillah kita sudah punya tv sendiri, ada rodja tv, insan tv, wesal tv,. bisa disimak via parabola

  15. Hanafi Yusuf
    Februari 5, 2013 pukul 9:38 am

    Budhi Santoso P :
    Dong ora wong Tegal ya Purwokerto atau Cilacap kyeh…
    ^_^

    Salah kabeh, aslibumiayu koh,..kaya aran blog ge,

    hihi brebesan ya ana

    esih wong bumiayu asli kang,.

  16. Ummu Umar
    Januari 4, 2013 pukul 6:31 am

    Assalamualaikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    afwan mau tanya sebenarnya ustadz ceramah itu pake tarif atau sesuai kemampuan yang ngundang?tolong dijawab ya.karena ada masjid dekat rumah ana gak ada kajian rutin syang banget.pengen undang ustadz takut….

    Tidak ada tarif secara khusus,
    Tapi melihat waktu luangnya sang ustadz, biasanya jadwal ngisinya sudah terlalu padat,
    Anda tinggal di daerah mana?

  17. Taufiqur Rahman
    Desember 17, 2012 pukul 6:12 am

    Ini salah satu ghibah yang dibolehkan dalam Islam,karena memasang tarif dalam da’wah tidak dibenarkan dan juga dalam tulisan tersebut diatas hanya memakai inisial nama,bukan nama langsung yang dibicarakan. Hal yang ditulis diatas perlu diketahui ummat…Syukron

  18. H.bambang s poerwantono.
    November 19, 2012 pukul 4:14 am

    Sekarang nampaknya mudah sekali mendapat status ” USTADZ ” dan ” ULAMA ” tidak ada seleksi dari MUI, dgn modal sediki hafal/tahu hadist, mengerti tafsir ayat2 tertentu, dan bisa melawak, teriak2 yg tdk ada kaitannya dgn dakwah……tampil di TV…sudah bisa bergelar ” Ustadz “……terus teraNg, kalau saya menilai isi ceramahnya hanya tidak bermakna dan tidak ber bobot, lebih baik dakwah ulama2 di kampung / pemuka agama yg tidak menetapkan tarip, mengerti dan dapat menterjemahkan isi kitab kuning……

    Terimakasih pak haji,
    Memang inilah tanda-tanda hari kiamat, sebagaimana kata rasulullah, akan banyak tukang ceramah, tapi tidak berilmu,.

  19. awam say
    November 10, 2012 pukul 4:17 am

    KALOW USTAD JADI SELEBRITIS ITU BUKAN HUSNUL HOTIMAH TAPI SU’UL HOTIMAH CONTOH SEPERTI…………SEMOGA ALLAH MENYADARKANNYA TAPI KALOW GAK SADAR SADAR SEMOGA ALLAH MENGADZABNYA INNA ROBIKA LASADID.
    TAPI KALO SELEBRITI JADI USTAD NAH INI BARU HUSNUL HOTIMAH CONTO SEPERTI HARY MUKTI BELIAU JADI USTAD DAN MENINGGALKAN GEMERLAPNYA DUNIA SLEB
    SEMOGA ALLAH MENGANGKAT DERAJATNYA DAN MEMULYAKANNYA..AMIIN
    ………………WALLAHUA’LAM BISSHAWAB……………………

    Terimakasih mas awam atas komentarnya,
    Perlu anda ketahui, Yg mengetahui seseorang itu khusnul khatimah atau suul khatimah hanyalah Allah, dan kita tidak bisa memastikan atau memvonisnya, seperti apa yg anda katakan,
    Bahkan untuk artis seperti hary mukti, kasihan sekali beliau ikut kelompok HTI ,ibarat pepatah, keluar dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya… apa itu HTI , silahkan baca disini

    • Nafis
      Februari 13, 2013 pukul 3:10 am

      benar dikatakan Admin USTAD JADI SELEBRITIS tidak semuanya begitu kelakuan, tidak semudah kita mengatakan suul khatimah, begitu juga kelompok HTI, Hanya Allah yang tau… wallahuallam….

      HTI jelas Sesat,demikian juga LDII,Jamaah tablig,ahmadiyah,syiah,. tapi jika kita menetapkan akhir kehidupan person-personnya, ini hal yg ghaib, kita tidak tahu, barangkali saja person tersebut taubat dari pemahaman sesatnya tersebut, rujuk kepada pemahaman sahabat diakhir hidupnya, demikian juga para artis atau selebritis,.. banyak kok artis2 yg taubat dari profesi artisnya, lalu meninggalkan dunia penuh maksiat tersebut,

  20. aisyah
    Agustus 28, 2012 pukul 5:15 am

    kuingin bercerita pl krn ini pembahasan tentang agama islam.

    sekarang syiah merajalela diindonesia(didesaku madura)dan pengikutnya kebanyakan orang miskin dan orang tak faham(bs anda lht wajah 2mrk) ini terjadi salah satu penyebabnya tak ada ulama yg berdaqwah.

    dan alhasil kebanyakan yg namanya kyai,pdhl fakta mrk kyai bkn krn ilmunya melainkan krn keturunannya dan yg terjadi bid ah rutin ,riba sdh umum dlll jauh dr syariat islam.

    selain kejahilan yg ada pd diri mrk tak ada daqwah yg mengajarkan mrk bagaimana islam sahih dan alhasil syiah pun ada wujudnya didesaku,,,,,,,,

    ALLAHUAKBAR MUSUH NYATA SDH ADA DIDEPAN MATA

  21. Fajar Hari Prabowo
    Agustus 23, 2012 pukul 10:33 am

    Televisi hanya menghadirkan ceramah yang bisa diterima masyarakat luas “supaya laku dan TV untung”. Kalau ceramah yang ilmiah (yang biasanya kontra dengan kebiasaan masyarakat kita), agak kurang bisa diterima dan pihak TV cenderung rugi. mohon koreksi kalau ada salah.

    Ya berdakwah mengikuti setingan televisi untuk maraih pemirsa sebanyak-banyaknya, ngejar rating,..

  22. didi
    Agustus 22, 2012 pukul 5:01 am

    pantesan umatnya ga pada tambah pinter. bungeng tuwo, mlebu kuping tengen metu kuping kiwo.. lawong yg ngajarin pada kurang ihlas.. ilmunya jadi ga berkah kan..

    Tujuannya saja bukan mendakwahi, tapi nyari income,..

  23. Nuril
    Agustus 21, 2012 pukul 3:39 am

    Tahun 2011, masjid dekat rumah saya mengundang ustadz Yusuf Mansur. Ketika panitia menanyakan soal biaya, manajemennya hanya menjawab “Tolong sediakan sound system yang baik dan jamaah yang banyak”. Sama sekali tidak menyinggung soal uang. Alhamdulillah jamaah banyak sekali.

    Berita terakhir yg saya dengar, ust yusuf sedang belajar tentang pemahaman islam yang benar, yaitu islam menurut pemahaman para sahabat/salafus shalih
    Sebab berdakwah untuk mencari uang,apalagi minta dibayar dengan tarif tertentu, dalam islam hukumnya haram,

    Dakwah itu bukan profesi untuk mencari uang, tapi untuk meraih pahala dari Allah, untuk menunjuki manusia ke jalan yang benar,
    Menunjuki satu orang saja ke jalan hidayah, itu lebih baik dari harta yang paling berharga di muka bumi ini,… apalagi cuma sekedar uang ratusan juta, ngga ada apa-apanya,..

    • santoso
      November 15, 2013 pukul 1:08 am

      mas mau nanya memang kalau ustad ceramah trus minta duit itu haram ya kalau itu haram kenapa para ustad yang sejatinya penerus nabi tetap malakukannya apa mereka tidak takut sama allah….

      Mencari duit dengan cara dakwah adalah haram hukumnya, tidak akan mendapatkan balasan di akherat, bahkan akan mendapatkan siksa, itu jika tujuan berdakwah untuk mencari kesenangan dunia, bayaran tinggi,

      Kenapa ada penceramah yang seperti itu? karena mereka mungkin belum membaca hukumnya mencari nafkah dengan cara dakwah, apalagi banyak juga yg ceramahnya diselingi dengan yg diharamkan seperti musik dan lagu,

  24. Alif Hayah
    Agustus 19, 2012 pukul 2:13 pm

    Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Memang sangat mungkin hal ini terjadi, namun yang saya ketahui bahwa sebagian besar mereka memiliki “manajemen” yang membantu menata waktu, tema, akomodasi dan lain-lain, sehingga penentuan tarif juga sudah ditentukan oleh manajemen tadi.
    Apakah dengan ini kemudian kita bisa menafikan kemungkinan keikhlasan dari para da’i? apakah para da’i ini telah mengajarkan kesesatan atau minimal tidak dibutuhkan? jika tidak dibutuhkan, toh mereka juga laris manis, apakah itu off air atau on air? Lalu di mana batas sesorang dapat disebut telah “memiliki ilmu yang cukup”? apakah hal itu akan kita nilai secara subyektif?

    fantastis,..

    Seandainya topik ini lebih banyak mengandung ghibah atau tajassus yang dilarang agama, mungkin lebih baik disimpan sebagai arsip pribadi saja.
    Saya rasa, lebih baik mendakwahkan kebenaran dan kebaikan tanpa mencoreng dan menyakiti “pihak” lain yang secara fithri dilahirkan berbeda. Lalu serahkan pada Hidayah Allah subhanahu wa ta’ala untuk “menyelesaikannya”.
    ‘Afwan.

    ini juga telah mencoreng dakwah islam, dengan tarif yang fantastisnya,

    تقبّل الله مِنّا ومنكم وجعلنا وإيّاكم من العا ئِدين والفائِزين, آمين

    تقبّل الله مِنّا ومنكم وجعلنا وإيّاكم من العا ئِدين والفائِزين, آمين

    Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

  25. izzuddin al-karimi
    Agustus 11, 2012 pukul 10:11 pm

    INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROOJI’UN

  26. Islam Biasa Saja
    Agustus 11, 2012 pukul 5:34 pm

    Selama yang keluar dari mulutnya adalah alquran, kenapa tidak? tentu saja jika mampu,

    Ya belum tentu juga, jika pemahamannya rusak, tidak memiliki ilmu yang cukup, maka kerusakan yang akan timbul,.. apalagi berdakwah buat profesi mencari dunia, ini adalah hal yang diharamkan,..

  27. ikhsan
    Agustus 11, 2012 pukul 11:42 am

    Katakanlah: Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 34:47)

  28. Agustus 10, 2012 pukul 5:44 am

    Saya sependapat dengan saudara,bahkan sebenarnya masih ada tarif yang lebih extrim daripada itu.

    Tidak seperti da’i masalalu,sampai rela mempertaruhkan nyawa dalam setiap ceramahnya.

  29. yottabaca
    Agustus 10, 2012 pukul 2:59 am

    wah, mahal juga ya :D

  30. Khumaira
    Agustus 9, 2012 pukul 2:55 pm

    Assalamu’alaykum warohmatulloh..

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    izin share ya, syukron

    silahkan, afwan..

  31. Utbah Ibn Ghazwan
    Agustus 9, 2012 pukul 10:54 am

    Astaghfirullah………

  32. dian
    Agustus 9, 2012 pukul 9:33 am

    Semoga Dibukakan pintu hatinya para ustad2 kita ya Amin

    Semoga para ustadz yang nyeleneh itu diberi hidayah oleh Allah, sehingga taubat dari pemahamannya yang nyeleneh, amiin..

  33. Maskur
    Agustus 9, 2012 pukul 9:26 am

    Assalamu alaikum kang…

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    Kit mbiyen nyong be ora respek koh

    Iyo kang, miris bae, kok ustadz taripe jan,.. larange nemen,..

    • tyo
      Agustus 9, 2012 pukul 1:05 pm

      Pada bae kang, ora respek babar pisan

      • Budhi Santoso P
        Agustus 16, 2012 pukul 4:21 am

        Dong ora wong Tegal ya Purwokerto atau Cilacap kyeh…

        ^_^

        Salah kabeh, aslibumiayu koh,..kaya aran blog ge,

  34. adee
    Agustus 9, 2012 pukul 5:14 am

    Astagfirullah…. spertinya memang benar ustadz sudah sangat dikultuskan sekarang

  35. Diyen sumare
    Agustus 9, 2012 pukul 4:22 am

    “SUBHANALLAH…!

  36. myrna
    Agustus 9, 2012 pukul 2:06 am

    Akan datang suatu zaman dimana ayat2 Allah akan diperjual belikan (Hadis Muslim) kini zaman tersebut telah datang..wahai kaum muslimin ber-hati2lah…lebih baik kita baca Al Qur’an dan tafsirnya daripada mendengar tausiyah dari ustad2 yang beceramah bukan karena Allah tapi karena tarif.

  37. Anthana
    Agustus 9, 2012 pukul 2:01 am

    Astaghfirullah….

  38. Wina Winiarti Wahyudin
    Agustus 9, 2012 pukul 1:57 am

    mudah2an ini gak termasuk ngomongin orang. aamiin

  1. No trackbacks yet.

Silahkan tulis komentar anda,.. surel diisi dgn email, nama diisi dengan nama anda ,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.453 pengikut lainnya.