Beranda > Belajar Nasehat > Bank Konvensional Adalah Bank Riba, Bagaimanakah Hukum Bekerja Di Bank,Bagaimanakah Cara Menyalurkan Bunga Bank Agar Kita Tidak Memakan Uang Riba

Bank Konvensional Adalah Bank Riba, Bagaimanakah Hukum Bekerja Di Bank,Bagaimanakah Cara Menyalurkan Bunga Bank Agar Kita Tidak Memakan Uang Riba


bank ribaAda Apa Dengan Bank Konvensional?

Perekonomian adalah salah satu bidang yang diperhatikan oleh syari’at Islam dan diatur dengan undang-undang yang penuh dengan kebaikan dan bersih dari kedhaliman. Oleh karenanya, Allah mengharamkan riba yang menyimpan berbagai dampak negatif bagi umat manusia dan merusak perekonomian bangsa.

Sejarah dan fakta menjadi saksi nyata bahwa suatu perekonomian yang tidak dibangun di atas undang-undang Islam, maka kesudahannya adalah kesusahan dan kerugian. Bila anda ingin bukti sederhana, maka lihatlah kepada bank-bank konvensional yang ada di sekitar kita, bagaimana ia begitu megah bangunannya, tetapi keberkahan tiada terlihat darinya. Sungguh benar firman Allah:

يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah. (QS. Al-Baqoroh: 276)

Nah, di sinilah pentingnya bagi kita untuk mengetahui masalah Bank konvensional dan sejauh mana kesesuaiannya dengan hukum Islam karena pada zaman sekarang ini, Bank bagi kehidupan manusia hampir sulit dihindari.

DEFENISI BANK DAN SEJARAHNYA

Bank diambil dari bahasa Italia yang artinya meja. Konon penamaan itu disebabkan karena pekerjanya pada zaman dulu melakukan transaksi jual beli mata uang di tempat umum dengan duduk di atas meja. Kemudian modelnya terus berkembang sehingga berubah menjadi Bank yang sekarang banyak kita jumpai.

Bank didefenisikan sebagai suatu tempat untuk menyimpan harta manusia secara aman dan mengembalikan kepada pemiliknya ketika dibutuhkan. Pokok intinya adalah menerima tabungan dan memberikan pinjaman.

Bank yang pertama kali berdiri adalah di Bunduqiyyah, salah satu kota di Negara Italia pada tahun 1157 M. Kemudian terus mengalami perkembangan hingga perkembangan yang pesat sekali adalah pada abad ke-16, di mana pada tahun 1587 berdirilah di Negara Italia sebuah bank bernama Banco Della Pizza Dirialto dan berdiri juga pada tahun 1609 bank Amsterdam Belanda, kemudian berdiri bank-bank lainnya di Eropa. Sekitar tahun1898, Bank masuk ke Negara-negara Arab, di Mesir berdiri Bank Ahli Mishri dengan modal lima ratus ribu Junaih[1].

PEKERJAAN BANK

Seorang tidak bisa menghukumi sesuatu kecuali setelah mengetahui gambarannya dan pokok permasalahannya. Dari sinilah, penting bagi kita untuk mengetahui hakekat Bank agar kita bisa menimbangnya dengan kaca mata syari’at.

Pekerjaan Bank ada yang boleh dan ada yang haram, hal itu dapat kita gambarkan secara global sebagai berikut:

A. Pekerjaan Bank Yang Boleh

1. Transfer uang dari satu tempat ke tempat lain dengan ongkos pengiriman.

2. Menerbitkan kartu ATM untuk memudahkan pemiliknya ketika bepergian tanpa harus memberatkan diri dengan membawa uang di tas atau dompet.

3. Menyewakan lemari besi bagi orang yang ingin menaruh uang di situ.

4. Mempermudah hubungan dengan Negara-negara lain, di mana Bank banyak membantu para pedagang dalam mewakili penerimaan kwitansi pengiriman barang dan menyerahkan uang pembayarannya kepada penjual barang.

Pekerjaan-pekerjaan di atas dengan adanya ongkos pembayaran hukumnya adalah boleh dalam pandangan syari’at.

B. Pekerjaan Bank Yang Tidak Boleh

1. Menerima tabungan dengan imbalan bunga, lalu uang tabungan tersebut akan digunakan oleh Bank untuk memberikan pinjaman kepada manusia dengan bunga yang berlipat-lipat dari bunga yang diberikan kepada penabung.

2. Memberikan pinjaman uang kepada para pedagang dan selainnya dalam tempo waktu tertentu dengan syarat peminjam harus membayar lebih dari hutangnya dengan peresentase.

3. Membuat surat kuasa bagi para pedagang untuk meminjam kepada Bank tatkala mereka membutuhkan dengan jumlah uang yang disepakati oleh kedua belah pihak. Tetapi bunga di sini tidak dihitung kecuali setelah menerima pinjaman.[2]

BUNGA BANK ADALAH RIBA

Dengan gambaran di atas, maka nyatalah bagi kita bahwa kebanyakan pekerjaan Bank dibangun di atas riba yang hukumnya haram berdasarkan Al-Qur’an, hadits dan kesepakatan ulama Islam.

1. Dalil Al-Qur’an

وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS. Al-Baqoroh: 275)

Cukuplah bagi seorang muslim untuk membaca akhir surat Al-Baqoroh ayat 275-281, maka dia akan merinding akan dahsyatnya ancaman Allah kepada pelaku riba. Bacalah dan renungkanlah!!

2. Dalil hadits

عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.

Dari Jabir berkata: Rasulullah melaknat orang yang memakan riba, wakilnya, sekretarisnya dan saksinya. (HR. Muslim 4177)

3. Dalil Ijma’

  • Para ulama sepanjang zaman telah bersepakat tentang haramnya riba, barangsiapa membolehkannya maka dia kafir[3]. Bahkan, riba juga diharamkan dalam agama-agama sebelum Islam. Imam al-Mawardi berkata: “Allah tidak pernah membolehkan zina dan riba dalam syari’at manapun”.[4]
  • Kalau ada yang berkata: Kami sepakat dengan anda bahwa riba hukumnya adalah haram, tetapi apakah bunga Bank termasuk riba?! Kami jawab: Wahai saudaraku, janganlah engkau tertipu dengan perubahan nama. Demi Allah, kalau bunga Bank itu tidak dinamakan dengan riba, maka tidak ada riba di dunia ini, karena riba adalah semua tambahan yang disyaratkan atas pokok harta, inilah keadaan bunga bank konvensional itu.

Kami tidak ingin memperpanjang permasalahan ini. Cukuplah sebagai renungan bagi kita bahwa telah digelar berbagai seminar dan diskusi tentang masalah ini, semunya menegaskan kebulatan bahwa bunga Bank konvensional adalah riba yang diharamkan Allah[5]. Bahkan dalam muktamar pertama tentang perekonomian Islam yang digelar di Mekkah dan dihadiri oleh tiga ratus peserta yang terdiri dari ulama syari’at dan pakar ekonomi internasional, tidak ada satupun di antara mereka yang menyelisihi tentang haramnya bunga Bank.

Sebagai faedah, kami akan menyebutkan beberapa fatwa dan muktamar besar yang menyimpulkan haramnya bunga Bank:

  • Keputusan muktamar kedua Majma’ Buhuts Islamiyyah di Kairo pada bulan Muharram tahun 1385 H/Bulan Mei tahun 1965 M dan dihadiri oleh para peserta dari tiga puluh Negara.
  • Keputusan muktamar kedua Majma’ Fiqih Islami di Jeddah pada 10-16 Rabi’ Tsani 1406 H/22-28 Desember 1985 M.
  • Keputusan Majma’ Robithoh Alam Islami yang diselenggarakan di Mekkah hari sabtu 12 Rojab 1406 H sampai sabtu 19 Rojab 1406 H.
  • Keputusan muktamar kedua tentang ekonomi Islami di Kuwait pada tahun 1403 H/1983 M.
  • Keputusan Majma’ Fiqih Islam di India pada bulan Jumadi Ula 1410 H.[6]
  • Setelah menukil ijma’ ulama tentang masalah haramnya bunga bank, DR. Ali bin Ahmad As-Salus mengatakan:

“Dengan demikian, maka masalah bunga bank menjadi masalah haram yang jelas dan bukan lagi perkara yang samar, sehingga tidak ada ruang lagi untukperselisihan dan fatwa-fatwa pribadi”.[7]

Setelah konsensus ini, maka janganlah kita tertipu dengan berbagai syubhat (kerancuan) sebagian kalangan[8] yang berusaha untuk membolehkan riba Bank, apalagi para ulama telah bangkit untuk membedah syubhat-syubhat tersebut.[9]

BEKERJA DI BANK

Bila kita ketahui bahwa Bank adalah tempat riba yang diharamkan dalam Islam, maka bekerja di Bank hukumnya adalah haram, karena hal itu berarti membantu mereka dalam keharaman dan dosa, atau minimalnya adalah berarti dia ridho dengan kemunkaran yang dia lihat. Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.

(QS. Al-Maidah: 2)

Ayat ini merupakan kaidah umum tentang larangan tolong menolong di atas dosa dan kemaksiatan. Oleh karenanya, para ahli fiqih berdalil dengan ayat di atas tentang haramnya jual beli senjata pada saat fitnah, jual beli lilin untuk hari raya Nashoro dan sebagainya, karena semua itu termasuk tolong menolong di atas kebathilan.

Lebih jelas lagi, perhatikan bersamaku hadits berikut:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.

Dari Jabir berkata: Rasulullah melaknat orang yang memakan riba, wakilnya, sekretarisnya dan saksinya. (HR. Muslim 4177)

  • Imam Nawawi berkata: “Hadits ini jelas menunjukkan haramnya menjadi sekretaris untuk riba dan saksinya. Hadits ini juga menunjukkan haramnya membantu kebathilan”.[10]

Para ulama kita sekarang telah menegaskan tentang tidak bolehnya menjadi pegawai Bank, sekalipun hanya sebagai satpam. Kewajiban baginya adalah menghindari dari laknat Allah dan mencari pekerjaan lain yang halal, sesungguhnya Allah Maha luas rizkiNya.[11]

BOLEHKAH MENYIMPAN UANG DI BANK?

Pada asalnya menyimpan uang di Bank hukumnya tidak boleh karena hal itu termasuk membantu kelancaran perekonomian riba yang jelas hukumnya haram, sebab uang tersebut akan digunakan oleh Bank untuk memberikan pinjaman kepada orang lain dengan riba. Oleh karena itu, maka pada asalnya setiap muslim harus putus hubungan dan thalak tiga dengan Bank. Hanya saja, pada zaman sekarang terkadang seorang tidak bisa menghindari diri dari Bank, sehingga para ulama membolehkannya apabila dalam keadaan dharurat sekali dan tidak ada cara lain untuk menyimpan hartanya.

Dari sini, dapat kita katakan bahwa orang yang menyimpan uang di Bank tidak keluar dari dua keadaan:

Pertama: Orang yang ingin membungakan dan mengembangkan hartanya dengan jalan riba. Tidak ragu lagi bahwa orang ini telah terjatuh dalam keharaman dan terancam dengan peperangan Allah dan rasulNya. Lantas, siapakah yang menang jika berhadapan dengan Allah dan rasulNya?!

فَأْذَنُواْ بِحَرْبٍ مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ

Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. (QS. Al-Baqoroh: 279)

Kedua: Orang yang ingin menyimpan hartanya agar aman. Hal ini terbagi menjadi beberapa keadaan:

1. Apabila ada tempat lain atau bank Islam yang bersih dari riba untuk penyimpanan secara aman, maka tidak boleh dia menyimpan di bank konvensional karena tidak ada kebutuhan mendesak dan ada pengganti lainnya yang boleh.

2. Apabila tidak ada bank Islami yang bersih dari riba atau tempat aman lainnya padahal dia sangat khawatir bila harta tersebut akan dicuri atau lainnya, maka hukumnya adalah boleh karena dharurat. Hal ini berbeda-beda sesuai keadaan manusia. Artinya, tidak semua orang terdesak untuk menyimpan uangnya di Bank. Maka hendaknya seorang bertaqwa dan takut kepada Allah, janganlah dia meremehkan dengan alasan dharurat padahal tidak ada dharurat sama sekali sebagaimana banyak dilakukan oleh kebanyakan kaum muslimin.[12]

MEMANFAATKAN BUNGA BANK

Kalau kita katakan bahwa boleh menabung di Bank dalam kondisi dharurat, maka tentu saja akan muncul pertanyaan: Apa yang kita perbuat dengan bunga (baca: riba) yang diberikan Bank kepada tabungan kita?!

Kami katakan: Ada beberapa kemungkinan apa yang kita lakukan terhadapnya:

1. Mengambilnya dan memanfaatkannya seperti uang pokok.

2. Membiarkannya untuk Bank agar dimanfaatkan sesuka Bank.

3. Mengambilnya lalu merusaknya.

4. Mengambilnya lalu memberikannya kepada fakir miskin atau untuk keperluan umum bagi kemaslahatan kaum muslimin

5. Mengambilnya dan memberikannya kepada orang yang dizhalimi oleh Bank dengan riba.

Pendapat yang paling mendekati kebenaran -menurut kami- adalah pendapat keempat yaitu mengambilnya dan memberikannya kepada fakir miskin atau keperluan umum bukan dengan niat sedekah tetapi untuk membebaskan diri dari uang yang haram. Inilah pendapat yang dipilih oleh para ulama seperti Lajnah Daimah[13], al-Albani[14], Musthofa az-Zarqo dan lain sebagainya[15].

SOLUSI DAN SERUAN

  • Setelah keterangan singkat di atas maka sudah semestinya bagi kaum muslimin, khususnya kepada para pemimpin[16] untuk mengingkari bersama praktek riba yang berkembang di Bank dan berusaha untuk mendirikan Bank-Bank Islam yang bersih dari riba dan sesuai dengan undang-undang syari’at Islam yang mulia, atau memperbaiki bank-bank Islam yang sudah ada karena masih disinyalir oleh banyak kalangan belum bersih dari praktek riba dan belum memadai pelayanannya di semua penjuru kota.
  • Sungguh keji keji ucapan seorang bahwa tidak ada Bank kecuali dengan bunga dan tidak ada kekuatan ekonomi Islam kecuali dengan Bank[17]. Ini adalah kedustaan nyata, sebab sepanjang sejarah Islam berabad-abad lamanya, perekonomian mereka stabil tanpa Bank Riba.
  • Sekali lagi, kami menghimbau kepada para ulama, para pemimpin, para ahli ekonomi, para pedagang besar untuk berkumpul dan mendiskusikan masalah ini dengan harapan agar Bank-Bank Islam yang bersih dari kotoran riba akan banyak bermunculan di Negeri kita tercinta sehingga kita tidak lagi membutuhkan kepada bank-bank riba. Dan kewajiban bagi setiap muslim untuk bahu-membahu mendukung ide tersebut agar mereka selamat dari jeratan riba yang menyebabkan murka Allah.

disusun oleh:

Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As Sidawi

DAFTAR REFERENSI

1. Al-Mu’amalat Al-Maliyah Al-Mu’ashiroh fil Fiqih Al-Islami karya DR. Muhammad Utsman Syubair, cet Dar Nafais, Yordania, cet keenam tahun 1427 H.

2. Al-Mu’amalat Al-Maliyah Al-Mu’ashiroh karya Sa’aduddin Muhammad Al-Kibbi, cet Maktab Islami, Bairut, cet pertama 1423 H.

3. Ar-Riba fil Mu’amalat Al-Mashrofiyyah Al-Mu’ashiroh karya DR. Abdullah bin Muhammad As-Saidi, cet Dar Thoibah, KSA, cet kedua 1421.

4. Qodhoya Fiqhiyyah Mu’ashiroh karya Muhammad Burhanuddin, cet Darul Qolam, Bairut, cet pertama 1408 H.

5. Fawaidul Bunuk Hiya Riba Al-Harrom karya DR. Yusuf al-Qorodhawi, cet Muassasah Ar-Risalah, Bairut, cet kedua tahun 1423 H.

6. Dan lain-lain.


[1] Al-Mashorif wa Buyutu Tamwil Islamiyyah karya Ghorib al-Jamaal hlm. 23, Al-Muamalat Al-Maliyah Al-Mu’ashiroh karya DR. Muhammad Utsman Syubair hlm. 252-253, Ar-Riba wal Mu’amalat Al-Mashrofiyyah karya Umar Al-Mutrik hlm. 309.

[2] Al-Bunuk Al-Islamiyyah Baina Nadhoriyyah wa Tathbiq hlm. 37-39 karya DR. Abdullah bin Ahmad ath-Thoyyar, Al-Mu’amalat Al-Maaliyah Al-Mu’ashiroh hlm. 253-254 karya Sa’aduddin Muhammad Al-Kibbi, Al-Jami’ fi Fiqhi Nawazil 1/92 karya Shalih bin Abdillah al-Humaid.

[3] Lihat Al-Ifshoh Ibnu Hubairah 1/326, Syarh Muslim an-Nawawi 4/93-94, Az-Zawajir Al-Haitsami 1/222, Al-Muqoddimat wal Mumahhidat Ibnu Rusyd 2/503.

[4] Al-Hawii Al-Kabir 5/74.

[5] Lihat kitab Syaikh DR. Yusuf Al-Qorodhowi yang berjudul “Fawaidul Bunuk Hiya Riba Al-Harom” (Bunga Bank Adalah Riba Yang Haram), cet kedua 1421 H, Muassasah Ar-Risalah, Bairut.

[6] Lihat teks-teks keputusan tersebut dalam Fawaid Bunuk Hiya Riba Muharrom hlm. 106-122 karya Yusuf Al-Qorodhowi

dan Fiqih Nawazil oleh al-Jizani 3/136-145.

[7] Al-Mu’amalat Al-Maliyah Al-Mu’ashiroh fi Dhoui Syari’ah Islamiyah hlm. 36, dinukil juga oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam risalah Ar-Riba hlm.31-32.

[8] Lihat kitab Al-Ashroniyyun hlm. 259-261 oleh Muhammad Hamid an-Nashir dan Manhaj Tasir Al-Mu’ashir hlm. 152-161 oleh Abdullah bin Ibrahim ath-Thowil.

[9] Lihat bantahan syubhat-syubhat masalah ini dalam Ar-Riba fil Mu’amalat Al-Mashrofiyyah Al-Mu’ashiroh karya DR. Abdullah bin Muhammad as-Saidi dan Taudhiful Amwal Bainal Masyru’ wal Mamnu’ oleh DR. Abdullah bin Muhammad ath-Thoyyar hlm. 64-75.

[10] Syarh Shohih Muslim 11/26.

[11] Lihat Fatawa Ulama Baladil Haram hlm. 1187-1193 kumpulan DR. Khalid al-Juraisi, Fatawa Al-Ahum wal Bunuk hlm. 53 kumpulan Abdurrahman asy-Syitri, Fatawa Lajnah Daimah 13/344 kumpulan Ahmad ad-Duwaisy.

[12] Lihat Ar-Riba fil Mu’amalat Al-Mashrofiyyah Al-Mu’ashiroh 2/923-959 oleh DR. Abdullah bin Muhammad as-Sa’idi, Al-Mu’amalat Al-Maliyah Al-Mu’ashiroh hlm. 267 oleh Sa’aduddin Muhammad al-Kibbi, Qodhoya Fiqhiyyah Muashiroh hlm. 16-18 oleh Muhammad Burhanuddin, Mu’amalat Bunuk Al-Haditsah hlm. 49 oleh DR. Ali As-Salus, Fatawa Lajnah Daimah 13/346-351.

[13] Lajnah Daimah adalah lembaga fatwa di Saudi Arabia, diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, anggota: Abdullah al-Ghudayyan, Shalih al-Fauzan, Abdul Aziz Alu Syaikh, Bakr Abu Zaid. (Lihat Fatawa Lajnah Daimah 13/354).

[14] Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani pernah menulis surat kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz berisi pembahasan tentang uang riba yang disimpan di bank-bank. Beliau berkesimpulan bahwa uang-uang tersebut boleh untuk digunakan dalam kebaikan-kebaikan selain makan, minum dan pakaian. Dan digunakan dalam hal-hal yang akan habis seperti bensin, kayu baker, memperbaiki WC dan jalan umum serta mencetak kitab…Syaikh Ibnu Baz akhirnya menulis jawaban yang berisi bahwa beliau setuju dengan pendapatnya. (Al-Imam Al-Albani Durusun wa ‘Ibar hlm. 258 karya Syaikh DR. Abdul Aziz bin Muhammad as-Sadhan).

[15] Lihat Qodhoya Fiqhiyyah Mu’ashiroh hlm. 26-27 oleh Muhammad Burhanuddin, Al-Muamalat Al-Maliyah Al-Mua’shiroh hlm. 276-286 karya Sa’aduddin Muhammad al-Kibbi).

[16] Alangkah bagusnya ucapan Imam Al-Mawardi: “Adapun muamalat yang munkar seperti zina dan transaksi jual beli haram yang dilarang syari’at sekalipun kedua belah pihak saling setuju, apabila hal itu telah disepakati keharamannya, maka kewajiban bagi pemimpin untuk mengingkari dan melarangnya serta menghardiknya dengan hukuman yang sesuai dengan keadaan dan pelanggaran”. (Al-Ahkam As-Sulthoniyyah hlm. 406).

[17] Ini adalah ucapan penasehat ekonomi, Ibrahim bin Abdillah an-Nashir dalam kitabnya Mauqif Syari’ah Islamiyyah Minal Mashorif hlm. 1. Kitab ini telah diingkari secara keras oleh Majma’ Fiqih Islam dalam Muktamar di Mekkah hari Sabtu Shofar 1408 H, dan dibantah oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majalah Robithoh bulan Syawal 1407 H dan Syaikh Muhammad Rosyid al-Ghufaili dalam kitab Nutaful Ma’arif fir Roddi ‘ala Man Ajaza Riba Al-Mashorif, cet Darul Wathon.

sumber : http://pengusahamuslim.com/ada-apa-dengan-bank-konvensional

  1. Fikri Syaiful
    September 10, 2014 pukul 6:51 am

    Assalamu’alaikum warohmatullahi Wabarokaatuh..
    saya mau minta pendapatnya akhi, apakah benar bank Muamalat BERBEDA dengan bank syariah yang memiliki bank konvensional seperti bank syariah mandiri, BNI syariah, karena saya dan istri sedang mencari informasi KPR yang Shar’i, karena niat kami menghindari riba,
    jika ragu pun … inshaaAllah kami lebih memilih menghindari KPR,
    Jazzakallahu khairan katsiiro

    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,.
    Terimakasih Fikri, sudah komentar disini,.
    Sebagai bahan wawasan anda, silahkan baca :
    1. Transaksi di bank syariah ternyata riba berkedok syariah , silahkan klik disini
    2. Masih ada riba di bank syariah, silahkan klik disini
    3. Kisah nyata karyawan bank syariah yang memilih keluar dari tempat kerjanya, silahkan klik disini

  2. andi
    Agustus 17, 2014 pukul 2:53 am

    Anda sendiri mengatakan bahwa seseorang tidak berhak mengambil hukum jika ia tidak mengetahui sesuatu gambaran dari objek tsb.

    Sejauh mana anda mengetahui tentang bank konven?

    Apakah anda merasa anda cukup tahu dengan bank konven? Apakah anda tahu klo semua bisnis bank konven itu riba? Berarti anda blum bisa asal bicara dulu.

    Anda pikir semua produk bank konven itu riba?

    Anda jgn asal klo tak mrngerti, anda harus tahu, produk bank konvrn itu tidak semuanya riba.

    Sy setuju bunga itu riba, tapi tidak semua produk bank konven itu berbunga.

    Jika anda penasaran dan ingin tahu, silahkan hub sy untuk diskusi, kecuali jika anda merasa sangat pintar…

    rhyo.v.v@gmail.com

    Silahkan anda kemukakan yang tidak riba tersebut, bagaimana sistemnya, diskusi disini

  3. helmi susanto
    Agustus 12, 2014 pukul 1:43 am

    ketika saya mencoba beralih ke bank syariah yaitu bank mandiri syariah ketika dijelaskan oleh petugas customer service maka ada 2 niatan akad yaitu murabaah dan makalah…

    dan itu di pantau / dinaungin oleh aturan dari MUI…

    apabila lembaga sudah menyatakan dinaungin oleh MUI apakah saya juga harus curiga terhadap lembaga tersebut?

    Terimakasih mas helmi, sudah komentar disini,.
    Kebenaran itu bukan MUI patokannya, tapi dalil, apalagi menyangkut masalah RIBA dalilnya sudah jelas,jadi MUI bukanlah patokannya,
    Sama seperti hukum Jilbab itu wajib bagi wanita muslimah, walapun MUI tidak mengeluarkan fatwa atau mengeluarkan, itu tidak berpengaruh terhadap dalil dan hukum jilbab,

    Apalagi kita ketahui juga, ada fatwa2 MUI yang tidak sejalan dengan dalil,

    Yang wajib kita ikuti adalah dalil yang shahih, dengan pemahaman yang benar pula,.jika ada fatwa MUI yang sejalan dengan dalil, maka kita ikuti, namun bukan niat mengikuti fatwa MUI, tapi niatkanlah karena mengikuti dalil, dan jika ada fatwa MUI yang tidak sejalan dengan dalil, maka kita tetap berpegang kepada dalil,

    Jadi bukan curiga kepada lembaga tersebut, tapi sikap kita adalah mempelajari ajaran islam ini, sehingga paham dalil yang benar,dengan pemahaman yang benar,. jika kita paham dalil yang benar, ada fatwa MUI atau ngga ada, itu ngga ada pengaruhnya bagi kita,.

    Karena MUI itu adalah lembaga pemerintah, jika ada fatwa MUI yang tidak sejalan dengan dalil, maka tidak usah digunakan fatwa tersebut, dan tidak usah mencurigai MUI.

  4. riko
    Januari 11, 2014 pukul 1:33 am

    Perbedaan mendasar pada Bank Konvensional dan Bank Syariah adalah pada akad dan tujuan penggunaan dananya.

    Pada Bank Syariah akad yang digunakan adalah akad murabahah dan wakalah dengan kata lain Bank mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang modal kerja atau investasi dan tidak diperbolehkan untuk dikonsomsi dengan kata lain Bank menjual barang kepada nasabah sesuai dengan akad yang telah disepakati.

    Sedangkan pada prakteknya tujuan penggunaan dana ini seringkali disalahgunakan bahkan diluar ketentuan akad pembiayaan, karena mau tidak mau kedua pihak saling membutuhkan.

    Dan masih banyak hal lain yang walaupun terkesan sepele tapi tetap saja mendekati riba, belum lagi sebagian Bank Syariah di Indonesia dengan produk Kredit angsuran berjangkanya menerapkan sistem pembayaran flat sinuitas dimana pokok dan margin yang dibayar setiap bulannya tidaklah sama, margin lebih besar dibandingkan pokok untuk angsuran awal, ditambah lagi pinalti untuk nasabah yang mengajukan pelunasan.

    Tak tanggung-tanggung biasanya pihak Bank menetapkan tiga kali angsuran untuk pelunasan kredit sebelum selesai jangka waktu ditambah dengan sisa pokok

    Terimakasih mas riko atas tambahannya,

  5. riko
    Januari 11, 2014 pukul 1:05 am

    Keberadaan Bank Syariah yang sedang digalakkan hanyalah sebagai kedok untuk memulihkan nama Bank, padahal sebenarnya semua proses yang dilaksanakan tetap saja mengacu kepada Bank Konvensional.

    terimakasih mas riko, tentang bank syariah yang ada di indonesia, dalam prakteknya masih melakukan transaksi riba, silahkan baca disini postingannya

    Kisah nyata salah satu pegawai bank yang memilih keluar dari bank syariah, silahkan baca disini

    • andi
      Agustus 17, 2014 pukul 3:04 am

      Bank konven sama bank syariah tetap beda, bagi yang melihatnya sama tanda masih belum mengerti akan maksud riba.

      Anda (admin) melihat hal ini tidak harus hanya berujuk pada dalil al-Qur’an dan as-Sunnah, karna bank konven itu kontenporer, jika permasalahkan bank konven tak ada masalah lain selain riba, tapi admin harus tahu bahwa tidak semua usaha bank konven itu dari bunga.

      Admin juga harus tahu bahwa sistem kredit bank.konven itu sudah tidak kayak dulu, sekarang untuk menghindari riba, sistem kredit bank Konven (BK) sudah mempunyai akad, hal ini menghalalkan kredit tsb (dengan beberapa syarat), admnin sebelum memberikan pendapat, tolong dipelajari lagi. Jika ingin diskusi silahkan hub sy, rhyo.v.v@gmail.com

      TErimakasih Andi, sudah komentar disini,.
      jangankan bank konvensional, bank syariahpun belum lepas dari praktek riba, sudah saya posting disini

      Juga disini

  6. cynthia dewi
    Oktober 29, 2013 pukul 12:44 am

    penjelasan bank konvensional nya ada ga? buat tugas sekolah nih……. bagi info nya, terimakasih.

    Terimakasih mba,
    Penjelasan bank konvensional? ya bank konvensional adalah sarana riba, orang yang bekerja disitu memanen dosa riba, dan dosa riba itu bukan dosa kecil lho, silahkan baca postingannya disini, BAHAYA RIBA,. dosanya bagaikan menzinai ibu sendiri,. ngeri kan? baca disini

  7. farid
    Juni 18, 2013 pukul 9:52 am

    jadi sebaiknya sebagi seorang muslim yg taat dmn kan sebaiknya kita menyimpan harta kita ?

    Terimakasih mas farid,
    Dimana menyimpan harta kita, jika itu bisa disimpan di rumah, maka simpan dirumah saja, namun jika itu malah membahayakan,
    BOLEHKAH MENYIMPAN UANG DI BANK?

    Pada asalnya menyimpan uang di Bank hukumnya tidak boleh karena hal itu termasuk membantu kelancaran perekonomian riba yang jelas hukumnya haram, sebab uang tersebut akan digunakan oleh Bank untuk memberikan pinjaman kepada orang lain dengan riba. Oleh karena itu, maka pada asalnya setiap muslim harus putus hubungan dan thalak tiga dengan Bank. Hanya saja, pada zaman sekarang terkadang seorang tidak bisa menghindari diri dari Bank, sehingga para ulama membolehkannya apabila dalam keadaan dharurat sekali dan tidak ada cara lain untuk menyimpan hartanya.

    dan bagaimana hukumnya bekerja di bank bila kita kesulitan mencari pekerjaan selain tmpt kita bekerja sekarang, apalagi faktor usia yg sdh tidak mendukung untuk beralih pekerjaan ?

    Pekerjaan yang halal masih sangat banyak, dan kita juga bisa menyaksikan sendiri orang bekerja bukan di bank diusia yg tua, bahkan sangat tua,.
    Hendaklah kita takut dengan ancaman Allah tentang dosa riba, bahwa sekecil2nya dosa riba itu seperti kita berzina dengan ibu kita sendiri,. silahkan dibaca postingan tentang dosa riba itu lebih buruk dari zina, baca disini

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

    “Pada malam Isra’ aku mendatangi kaum yang perutnya seperti rumah. Di dalamnya terdapat banyak ular yang bisa dilihat dari luar perut mereka. Lalu aku bertanya, ‘Siapakah mereka itu, Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Mereka adalah para pemakan harta riba.’” (Al-Musnad, 2/363 dan Ibnu Majah, 2273)

    bagaimana cara yg tepat keluar darilingkaran riba itu

    cara yang tepat ya keluar dari lingkaran riba tersebut,.. mumpung nyawa masih dibadan,

  8. Abdullah
    April 5, 2013 pukul 1:17 pm

    Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Sebelumnya maaf, saya pernah membaca bahwa bekerja di bank yang benar-benar syariah itu halal (tidak mengapa). Benarkah demikian??

    Terimakasih mas abdullah,.
    Dalam praktek nyata di bank syariah, masih banyak melakukan praktek riba, bahkan ada pengalaman langsung orang yang bekerja di bank syariah, dan beliau memilih keluar dari bank tersebut, di bank yg syariah saja seperti itu, apalagi bank non syariah, tentu lebih-lebih lagi, silahkan baca disini kisah karyawan bank syariah yang memilih keluar setelah melihat kejanggalan2 di bank syariah tsb,

    Masih ada RIBA di Bank Syariah, baca ulasannya disini

    Dan yang saya ingin tanyakan adalah,

    Bagaimana hukumnya jika seseorang bekerja di Bank yang didalamnya tidak membuka jasa tabungan? Artinya, tidak ada praktek riba di dalamnya.

    Contohnya Bank Central di Indonesia, yaitu Bank Indonesia.

    Dan posisi disana pun merupakan posisi dengan grade yang paling bawah, yaitu hanya sebagai ‘tukang’ angkat peti berisikan uang, lalu menyimpannya di gudang.

    Mohon penjelasannya
    Jazakallahu khair.

    Berikut ini pertanyaan yang mungkin senada,

    Halalkah Bekerja Sebagai Pengawas Bank?

    Pertanyaan:
    Assalamu‘alaikum

    Saya bekerja di bank sentral di negeri ini dan ditugaskan sebagai pengawas dan pemeriksa bank. Apakah menurut syariah pekerjaan saya ini dapat digolongkan sebagai saksi riba??? Halalkah pekerjaan saya?? Halalkah gaji saya?

    Di tempat kami bekerja juga terdapat pinjaman untuk pegawai dengan sistem bunga dan tanpa bunga. Apakah saya juga dapat dikategorikan saksi riba juga, dikarenakan saya mengetahui transaksi tersebut dan tidak dapat mencegahnya. Haruskah saya meninggalkan pekerjaan saya? Mohon penjelasan dan dalil-dalilnya.
    Jazakallah khairan katsira

    Wassalamu‘alaikum

    Dari: Abu Angga

    Jawaban:
    Wassalamu’alaikum
    Saudara Abu Angga semoga Allah merahmati saudara dan keluarga.

    Bekerja di bank sentral atau lainnya sama saja yaitu andil dalam praktik riba, minimal bisa disamakan dengan saksi atau juru tulis praktik riba.

    Saya sarankan untuk segera memohon petunjuk kepada Allah agar bisa segera mendapatkan pekerjaan lain yang nyata-nyata halal.
    Semoga semua urusan Anda dimudahkan

    Wassalamu’alaikum

    Dijawab oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A. (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
    Artikel http://www.KonsultasiSyariah.com

  9. denia
    Maret 29, 2013 pukul 4:42 am

    Alhamdulillah..tidak jadi diterima di bank konvensional krena maslah jilbab jg..:)Alloh pasti punya rencana yang lebih indah

    Alhamdulillah,.
    perlu diketahui pula, dosa riba itu lebih besar dari dosa zina,. jadi jangan merasa hebat dengan kerja di bank, kelihatannya saja terhormat,pakaian nencis, dll.. tapi tidak melihat bagaimana pandangan islam kerja di bank ribawi

    DOSA RIBA LEBIH BESAR DARI ZINA

  10. eva
    Maret 3, 2013 pukul 1:26 am

    Bagus sekali artikelnya…Jazakumullah Khair

  11. heryanta
    Februari 14, 2013 pukul 4:06 am

    Difinisi dan pengertian riba sudah jelas dan tegas seperti yang sudah di tulis.
    Dalam prakteknya bagaimana?
    Dahulu kala ada cerita tentang rentenir, semua orang sudah tahu.
    Nah rentenir pelakunya adalah per-orangan, semua keuntungannya adalah miliknya sendiri.

    Yang jadi pertanyaan adalah,
    1. bagaimana dengan lembaga perbankan yang ada sekarang dengan label syari’ah dan tetetk bengeknya, disana ada pemilik nya yang orang per orang secara bersama-sama, ya tentu hasilnya dinikmati dan di timbun oleh orang-orang yang bersekutu didalamnya.

    Terimakasih mas,.
    Label syari’ah tidak otomatis praktek bank tersebut berarti sesuai dengan syar’i, masih ada praktek-praktek riba yang dilakukan oleh bank syariah, jadi nama bukanlah patokan mas,. silahkan baca praktek-praktek bank syariah yg ada di indonesia, bisa dibaca disini

    2. Ada lagi lembaga perbankan yang berlabel syari’ah ada juga koperasi dan lainnya termasuk yang dikatakan konvensional, akan tetapi kepemilikan disana tidak mutlak orang-perorang tapi ada sebuah lembaga yang nota bene mengurusi keumatan, masyarakan, rakyat.
    dari kedua praktek tersebut mana yang mengarah ke RIBA. Jangan dibilang ikrarnya, karena ikrar hanya untuk pembungkus saja prakteknya justru bunga kwadrat karena uang yang dipinjamkan kepada nasabah juga hasil pinjaman dari bank yang lebih gede

    Kedua-duanya masih melakukan riba, embel-embel syariah hanyalah nama, walaupun ada beberapa transaksi yang sudah tidak mengandung riba,
    bahkan ada juga transaksi yang merupakan akal-akalan, sprti transaksi membeli rumah via KPR Bank syariah,
    Silahkan baca pula kisah seorang pegawai bank syariah yg keluar dari bank syariah karena melihat penyimpangan-penyimpangan di dalamnya yg tidak sesuai syariah,. silahkan baca disini

    Baca pula , HUKUM BEKERJA DI BANK

    DOSA RIBA lebih besar dari ZINA,
    masihkah ingin bekerja di bank? ternyata dosanya itu lebih besar dari PEZINA , BACA DISINI !

  12. Fajar
    Februari 7, 2013 pukul 10:53 am

    Kalau bekerta jadi tentara. terus nembak teroris itu dosa atau tidak? Soalnya saya mau jadi tentara (masih 13 tahun sih..) kalau udah gede..

    Kalau itu tugas dari negara, dan yg ditembak itu adalah betul teroris, maka itu tidak berdosa,. dan teroris yg tidak mau bertaubat itu memang layak dihukum mati,. silahkan lihat postingannya disini

  1. No trackbacks yet.

Silahkan tulis komentar anda,.. surel diisi dgn email, nama diisi dengan nama anda ,

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.514 pengikut lainnya.