Beranda > Belajar Fikih, luruskan shaf, shalat, shalat jamaah > Apa Kata Imam Syafi’i tentang Meluruskan dan Merapatkan Shaf Shalat Berjama’ah? Kenapa sebagian besar orang yang mengikuti madzhab Imam Syafii tidak mau mengikuti anjuran imamnya?

Apa Kata Imam Syafi’i tentang Meluruskan dan Merapatkan Shaf Shalat Berjama’ah? Kenapa sebagian besar orang yang mengikuti madzhab Imam Syafii tidak mau mengikuti anjuran imamnya?


Islam di indonesia beraneka warna, tidak bersatu, apa penyebabnya? Jangankan dalam hal yang lain, dalam hal shalat berjamaah saja mereka tidak mau bersatu,

Dalam shalat berjamaah mereka tidak merapatkan barisan, akan tetapi bercerai berai, itulah kondisi kaum muslimin.

Padahal, meluruskan shaf bukanlah perkara yang sepele, perkara yang besar…

Apa Kata Imam Syafi’i tentang Meluruskan dan Merapatkan Shaf Shalat Berjama’ah?

… Ringkasan Buku …
http://buku-islam.blogspot.com

Judul     : Apa Kata Imam Syafi’i tentang Meluruskan dan Merapatkan Shaf Shalat Berjama’ah?
Penulis   : Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa
Muraja’ah : Abdul Hakim bin Amir Abdat
Penerbit  : Mu’awiyah bin Abi Sufyan
Cetakan   : Kedua – Juni 2011 M
Halaman   : 66

Apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i dalam hal meluruskan dan merapatkan shaf pada waktu shalat berjama’ah? Pertanyaan ini seharusnya terbesit dalam benak kaum muslimin yang mengaku bermazhab Imam Syafi’i. Dan jawabannya seharusnya benar-benar dilaksanakan juga.

Penulis buku saku ini, yaitu Ustadz Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa, telah merangkum jawabannya dalam sebuah buku yang gamblang, ringkas, to the point, dan mudah dipahami. Kemudian, pada ringkasan ini saya kutip sebagian kecil dari buku tersebut sebagai gambarannya. Yaitu dari bagian Hadits-Hadits Seputar
Masalah Shaf; Atsar Dari Para Shahabat dan Pernyataan Imam Syafii; dan dari bagian Kesimpulan dan Penutup.

[HADITS-HADITS SEPUTAR MASALAH SHAF]
——————————————–
(Hadits Ketiga)
Artinya: Dari Abu Mas’ud al Badri, ia berkata: Dahulu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam biasa mengusap bahu-bahu kami, ketika akan memulai shalat, seraya beliau bersabda: “Luruskan shafmu dan janganlah kamu berantakan dalam shaf; sehingga hal itu membuat hati kamu juga akan saling berselisih”. (Shahih: Muslim no. 432).

(Hadits Keempat)
Artinya: Dan dari Nu’man bin Basyir, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Hendaklah kamu benar-benar meluruskan shafmu, atau (kalau tidak; maka) Allah akan jadikan perselisihan di antaramu. (Muttafaq ‘Alaihi: Bukhari no. 717 dan Muslim no. 436).

[ATSAR DARI PARA SHAHABAT DAN PERNYATAAN IMAM SYAFII]
—————————————————–
Para Shahabat telah mengamalkan Sunnah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam di atas, dimana Imam Syafi’i telah menyatakan di dalam kitabnya al Umm (I: 223) bahwa ‘Utsman bin Affan berkata:

“Apabila Imam telah berdiri berkhutbah pada hari Jum’at, maka dengarkanlah dengan seksama dan diamlah, karena hukum orang yang dapat mendengarkan khutbah sama halnya dengan mereka yang tidak dapat mendengarkannya (yakni; sama-sama diperintah untuk diam dan mendengar). Bila dikumandangkan qamat, maka rapikanlah shaf (makmum), dan sejajarkanlah bahu-bahu mereka; karena lurus (dan rapatnya) shaf termasuk hal yang dapat menyempurnakan shalat”. (Diriwayatkan pula oleh Malik di Muwaththa’ no. 234).

Dahulu ‘Utsman (bin Affan yang bertindak sebagai khalifah dan sekaligus imam shalat pada saat itu) tidak memulai untuk bertakbir (memulai shalat), sehingga datang petugas-petugasnya yang telah ditugasi untuk merapihkan shaf, dan mereka telah melaporkan bahwa shaf selesai (dirapihkan dan) diluruskan, maka baru kemudian beliau bertakbir memulai shalatnya.

[KESIMPULAN DAN PENUTUP]
————————————
10. Diantara kesalahan yang sering dilakukan oleh kaum muslimin dalam hal ini adalah sebagai berikut:
- Mereka tidak meluruskan dan merapatkan shaf, dengan bahu, lutut dan mata kaki.
- Bahkan sebagian mereka tidak mau kalau kakinya ditempelkan dengan kaki yang ada di sebelahnya.
- Mereka biasa shalat di sejadah mereka masing-masing, tanpa mau merapatkan shaf dengan yang ada di sebelahnya.
- Keyakinan sebagian mereka bahwa satu makmum dengan lainnya harus berjarak kurang lebih 4 jari, padahal para shahabat justru merapatkan bahu dan kaki mereka dengan yang berada di sebelahnya.
- Imam biasanya hanya berkata: “Luruskan dan rapatkan shaf” atau “istawu, istawu” tanpa dia memperhatikan keadaan makmum; apakah benar-benar sudah lurus dan rapat atau belum?

[PERSONAL VIEW]
—————–
Dari penjelasan di buku ini kita dapat mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk merapatkan shaf shalat berjama’ah yang salah satu faedahnya adalah agar hati-hati kaum muslimin tidak berselish. Insya Allah akan menciptakan kecintaan diantara kaum muslimin. Dan inilah
salah satu jalan untuk persatuan umat Islam.

Semoga yang ringkas ini memberi manfaat yang besar.

Ringkasan ini dibuat oleh Chandra Abu Maryam
di Peunayong, Banda Aceh
14 Desember 2011 Pukul 22.24 WIB

About these ads
  1. ahmad faridi
    April 19, 2014 pukul 1:49 pm | #1

    trim!s atas penjelasan yg sesuai dgn pertanyannya.masalahnya pertanyaan saya yg kurang jelas .to the poin aja..
    pada rokaat pertama saya yaqin anda tidak melakukan gerakan untuk melurus/rapatkan shaf.karena usaha itu sdh dilakukan sebelum takbir..
    pada rokaat kedua ( setelah bangun dari sujud )_..” usaha / gerakan apa yg pertama kali anda lakukan ? .trim!s

    Terimakasih mas,.
    Menjaga rapat dan lurusnya shaf itu tidak ketika awal mau shalat saja mas, tapi dalam shalat tetap wajib dijaga lurus dan rapatnya shaf, yaitu ketika posisi berdiri,

    Jika dalam shalat ada shaf yang renggang, maka kita bergeser untuk menutup shaf yang renggang tersebut, dalam shalat berjamaah bisa saja terjadi, misalkan ada makmum yang batal, dia akan keluar dari barisan, maka kita boleh maju mengisi kekosongan shaf tsb,.

    Jadi setelah bangun dari sujudpun tetap wajib menjaga rapat dan lurusnya shaf tersebut, jika makmum di sebelah kita tidak lurus dan rapat, kita boleh memberikan dengan bahasa isyarat, atau kita menarik makmum tsb agar merapat,. ini boleh mas ahmad,.

    Mudah-mudahan jawaban saya bisa dipahami, jazakumullahu khairan,.

  2. ahmad faridi
    April 13, 2014 pukul 1:28 pm | #2

    saya setuju dgn rapat bahu ,tapi kalo merapatkan mata kaki itu sulit diterima akal logis.

    secara empiris saya lihat pada rokaat kedua orang sibuk ngatur kaki dan itu pasti tidak khusuk.
    secara anatomi tubuh ,dlm sholat bahu tidak berubah dlm segala posisi sedangkan kaki hanya ketika berdiri posisi tetap tdk bergeser.

    Terimakasih mas ahmad faridi atas komentarnya, dan sudah mampir di blog ini,
    Perintah dari rasulullah, bukan untuk dicocok-cocokkan dengan akal atau secara empiris,
    Kewajiban kita yang sudah bersyahadat ” wa’asyhaduanna muhammadan rasulullah” anda tahu apa konsekwensi dari syahadat tersebut?? salah satu konsekwensinya adlah wajib membenarkan dan menerima semua yg datang dari rasulullah, lalu mengamalkannya,.

    demikian halnya dalam shalat, rasulullah sudah mengajarkannya, dalam hal ini adalah shalat berjamaah , khususnya meluruskan shaf, dan caranya adalah dengan merapatkan bahu dan mata kaki,.

    merapatkan bahu dan mata kaki ini hanya dalam posisi berdiri, sedangkan saat sujud berbeda, sebab rasulullah menyuruh merapatkan kaki kita, menegakkan kaki kita, sehingga saat sujud mata kaki kita nempel antara kaki kanan dan kaki kiri, bukan tetap rapat dengan jamaah di sebelah kita, silahkan anda baca tatacara shalat nabi, sudah ada postingannya disini , kalau mau dengan videonya bisa lihat postingan ini

    ketika sujud duduk kaki sdh bergeser dari posisi semula dan hal seperti ini bikin hati was was dan bertanya tanya pasti ada sesuatu yg dipaksakan sehingga tidak singkron antara dalil dan praktek..wallahu a’lam

    Jika anda sudah paham tatacara shalat dengan dalil-dalil yang datang dari rasulullah, maka akan hilang was-was tersebut,.
    karena was-was itu datangnya dari setan,.
    dan setan sangat mudah memasukan rasa was-was kepada orang yang tidak mau meluruskan shaf-shaf mereka, tidak mau merapatkan mata kaki mereka dengan jamaah di sebelahnya,

    Orang yang tidak mau merapatkan shaf, maka tempat yg lowong itu akan diisi oleh setan,
    Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wa Sallam telah bersabda:

    “Luruskanlah shaf-shafmu! Sejajarkan antara bahumu (dengan bahu saudaranya yang berada disamping kanan dan kiri), isilah bagian yang masih renggang, berlaku lembutlah terhadap tangan saudaramu (yang hendak mengisi kekosongan atau kelonggaran shaf), dan janganlah kamu biarkan kekosongan yang ada di shaf untuk diisi oleh setan. Dan barangsiapa yang menyambung shaf, pastilah Allah akan menyambungnya, sebaliknya barangsiapa yang memutuskan shaf; pastilah Allah akan memutuskannya.

    (Shahih. Abu Dawud no:666, dan telah dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, al Hakim, Nawawi dan al Albani. Lihat : Fat-hul Bari (II:447) dan Shahihut Targhib Wat Tarbib no:492).

    Kenapa umat islam tidak bersatu, mereka berpecah belah? ngga usah jauh-jauh mencari penyebabnya, kita bisa lihat dengan mata kepala sendiri, DALAM SHALAT SAJA MEREKA TIDAK MAU BERSATU,… benarlah sabda rasulullah,.

    أَقِيْمُوْا صُفُوْفَكُمْ فَوَاللهِ لَتُقِيْمَنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ

    “Luruskan shaf-shaf kalian. Dan demi Alloh, luruskanlah shaf-shaf kalian, atau jika tidak niscaya Alloh akan menjadikan hati kalian saling berseteru.” (Shahîh Sunan Abu Dâwud : 616)

    Baca postingan ini , awali persatuan dengan meluruskan shaf shalat kalian,. klik disini

  3. Cakmat Cilacap
    April 8, 2014 pukul 4:27 am | #3

    kebanyakan faham salafi di indo kan begitu kakinya ngangkang same 2 meter bahunya tidak di pikirin saya ngga habis pikir itu dapet elmu dari mana,..

    terimakasih cakmat,.
    itu termasuk kesalahan dalam merapatkan shaf, kaki melebar, sementara bahu tidak nempel,.
    patokan pertama dalam merapatkan shaf itu menempelkan bahu dahulu, baru merapatkan kaki,.

    misalkan ada katanya “salafi indonesia” kakinya melebar, itu kesalahan person tersebut,.

    dan kita bisa lihat aswaja bukan kakinya yg melebar, tapi sajadahnya gede-gedean,. sehingga shaf renggang sekali,

  4. Wahyuddin
    Februari 5, 2014 pukul 2:59 am | #4

    teman saya pernah diajakk gelut gara2 teman saya mepet kaki makmum lain, makmum tsb berusaha menjauh namun terus dipepet kaki teman saya, akhir’y marah2 dan ngajak gelut…!!!

    he..he..he.. terimakasih mas wahyudin,.
    Jika kita sudah berusaha merapatkan, dan makmum sebelah kita bergeser lagi, ya sdh, ngga usah dipepet terus,. maklumlah, namanya juga orang awam, mereka belum paham wajibnya merapatkan shaf,.

    Dan itulah gambaran kaum muslimin secara umum, mereka bercerai berai,. dalam shalat berjamaah saja mereka tidak mau bersatu, apalagi diluar shalat,. pelan-pelan saja mas,.. kita berdoa, mudah2an kaum muslimin mulai sadar akan kekeliruannya,. alhamdulillah sudah mulai banyak kok yang paham,.

  5. muhammad
    Februari 3, 2014 pukul 5:42 pm | #5

    merapatkan shaf mesti dimulai dengan merapatkan bahu baru kaki, yang salah kaprah kaki ngangkang melebihi lebar bahu sehingga gahu tidak bisa rapat,makanya pahami dulu haditsnya jangan asal ngangkang sampai injek kaki orang,ahkhirnya orang ga mau rapat.

    terimakasih sudah komentar disini,
    Betul sekali, cara merapatkan shaf adalah dengan merapatkan bahu terlebih dahulu, lalu merapatkan mata kaki dengan mata kaki, bukan dengan ujung jari kaki,
    Suatu kekeliruan jika yang dirapatkan adalah kakinya terlebih dahulu, sehingga bahu tidak rapat, kaki terlalu membuka lebar,
    Jazakumullahu khairan,.

  6. Ahmad Fauzi
    Desember 25, 2013 pukul 1:22 pm | #6

    Assalamualaikum.
    pak saya mau bertanya, bagaimana bila saya merapatkan kaki dengan seorang ma’mum, seorang ma’mum tersebut menjauhkan mata kakinya.
    sekian pertanyaan saya, mohon penjelasanya dan terimakasih,
    Wassalamualaikum. wr, wb

    Wa’alaikumussalam warahmatullahiwabarakatuh
    Jika kita sudah berusaha merapatkan shaf, lalu makmum disebelahnya bergeser terus, ya sudah jangan dipepet terus, nanti malah bukan seperti orang shalat, bahkan malah bisa menimbulkan kemarahan makmum tersebut,.

    Coba saja jika anda mampu, nasehati orang tersebut dgn lemah lembut, dengan santun, sampaikan anjuran rasulullah untuk merapatkan shaf dalam shalat, mereka tidak mau merapatkan shaf karena tidak paham bagaimana yg disebut shaf itu rapat, menurut orang awam ya sebagaimana yg kita lihat, bahkan terkadang mereka membawa sajadah yg besar, dimana makmum disebelahnya itu risih jika harus menginjak sajadah yg dibawanya,.jadi deh renggang shafnya,.

    terkadang imampun hanya formalitas saja menyeru rapatkan shaf, tapi tidak melihat bagaimana sikap makmum, sudah rapat atau belum, padahal tanggungjawab sang imam sangat besar, resikonya juga besar,.

  7. aden_bags
    November 26, 2013 pukul 10:29 am | #7

    assalamu’alaikum
    ijinkan saya orang yang awam agama meminta sebuah penjelasan. karena islam itu adalah agama terbuka dan selalu bermusyawarah :-)

    jika mengacu pada gambar yang anda rujuk di buku sakau yang anda buat, berarti anda tidak memikirkan kemaslahatan bagii seluruh umat,
    anda mengharuskan merapatkan sesuai bahu, lutut mata kaki,.
    yang saya tidak mengerti kan allah swt , menciptakan manusia itu dalam bentuk yang paling mulia , dan tidak rata semuanya
    maaf” kalo seandainya orang yang pendek ikut berjamaah sementara bahunya ta sejajar dengan kita,.
    bagai mana sikap kita?
    mohon penjelasannya

    terima kasih ata segala perhatiannya
    wassaamu’alaikum warohmatullohi wabarokatu

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
    Terimakasih kang aden,.
    Sebagaimana dalam hadits, kita disuruh merapatkan shaf dengan cara matakaki nempel dengan matakaki, bahu dengan bahu,

    Prakteknya mudah, pertama kita tempelkan mata kaki kita dengan makmum disebelahnya, lalu renggangan kaki itu sejajar dengan bahu kita, jadi kaki tidak membentang melebihi bahu kita,

    Adapun jika kita tidak sama tinggi, sehingga bahu kita tidak saling nempel, maka ini tidak mengapa, bukankah ada juga orang dewasa yang karena suatu hal ikut shalat dengan cara duduk bersila, mungkin karena tidak mampu berdiri, itu juga tidak bisa menempelkan mata kakinya, maka dalam hal ini hal diatas tidak bisa diterapkan, namun dia tetap wajib merapatkan shaf semampunya, dengan cara duduk bersila, tidak memberikan celah diantara shaf shalat, sehingga setan bisa masuk disela-selanya,.

    Bisa juga disebelah kita ada anak kecil yang ikut berjamaah, tentu bahu tidak nempel bukan, maka yang jadi patokan adalah mata kaki, bukan lutut,.

    Demikian, mudah2an jawaban ini bisa dipahami, terimakasih kang aden,.

  8. opie
    Oktober 1, 2013 pukul 3:50 pm | #8

    assalamu’alaikum ..

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    maaf menurut saya tidak seperti itu juga ,, rapat asal kita sejajar dan tidak terlalu renggang .

    kalo kita sibuk dengan kaki palah nanti shalat kita tidak khusuk ,,

    saya pernah mengalami dan saya tidak konsen saat shalat karena harus disibukan dengan kaki .. mohon maaf apabila pendapat saya salah ,, karena saya juga masih dalam tahap belajar .. saya mengambil kesimpulan dari guru ngaji saya ,, saat shalat sebaiknya kaki tidak usah terlalu melebar .. saya belum sempat bertanya alasannya tapi insyaAllah saya akan cari tahu alasannaya ,, sukron .. mohon maaf sebelum dan sesudahnya ..

    Terimakasih mba opie, sudah berkomentar disini,
    Yang jadi patokan atau panutan kita dalam berislam adalah rasulullah, bukan guru ngaji kita.
    Jika guru ngaji kita berpendapat atau mengajarkan sesuatu yg berseberangan dengan contoh rasulullah, maka buang pendapat guru kita, dan ambil apa yg diajarkan oleh rasulullah, contoh dalam hal ini adalah masalah rapatnya shaf,

    Rasulullah sudah menjelaskan yg disebut rapat itu mata kaki nempel dengan mata kaki, bahu dengan bahu, jangan ada celah, dan dirapatkan bukan dengan cara menekan, biasa saja. bukan pula kaki kita melebar, biasa, sejajar kaki kita dengan badan kita, jadi suatu kesalahan jika kita melebarkan kaki, jika kaki kita melebar tentu bahu kita tidak bisa menempel dengan orang disamping kita, bukankah demikian?

    Adapun anggapan bahwa kita tidak bisa khusyu jika shalat dengan menempelkan mata kaki, ini tidak benar, justru dengan merapatkan kaki akan mendatangkan kekhusyuan dalam shalat, adapun perasaan tdk khusyu ketika merapatkan shaf, ini karena kebiasaan kita shalat dgn tdk rapat, sehingga jika merapatkan shaf awal2 akan merasa risih,

    Seandainya anda tahu, dosa orang yg tdk merapatkan shaf, tentu anda akan merasa takut, jika shafnya tdk rapat, bahkan jika terlalu renggang, bisa jadi shalatnya tidak diterima

    Shalat yang khusyu hanya bisa dikerjakan jika kita shalat dengan cara shalat nabi, demikian pula shaf yg rapat, mustahil bisa shalat dgn khusyu jika shaf kita tdk rapat, sehingga setan bisa lewat diantara shaf tsb,

    Seandainya ada perasaan khusyu ketika kita shalat dgn tidak merapatkan shaf, pada hakekatnya itu bukanlah khusyu, tapi perasaan khusyu yg dihembuskan oleh setan, bukan khusyu yg sebenarnya, bagaimana mungkin kita shalat khusyu dgn mengindahkan anjuran rasulullah utk merapatkan shaf,

  9. james
    September 20, 2013 pukul 1:54 am | #9

    yang dimaksud rapat di sini yaitu tidak ada celah untuk orang lewat situ

    terimakasih mas james,
    Rapat disini adalah mata kaki nempel dengan mata kaki, bahu dengan bahu, jadi betul-betul rapat, namun tidak menekan,jadi tetap nyantai,

  10. azi124
    Agustus 15, 2013 pukul 2:30 pm | #10

    Bnyk di antara saudara2 kita yg mengaku berfaham ahlussunnah waljama’ah,dlm praktek ibadah mereka sehari2 yg saya perhatikan, mereka nggak memperhatikan sunnah rosul yg satu ini. Semoga ini bisa menjadi bahan muhasabah bagi kita semua. Aamiin….3x.

    Ya, betul sekali, banyak yang ngaku sebagai pengikut imam syafii, namun prakteknya, berseberangan dengan apa yang diajarkan oleh imam syafii,.
    Ada yang mengaku sebagai muhammadiyah ( pengikut nabi muhammad ) namun kita lihat praktek ibadahnya, akidahnya, terkadang menyelisihi ajaran nabi muhammad,.

    Pengakuan bukanlah sebagai jaminan, tapi lihat realisasi dari pengakuannya,.

  11. Ahmad Rosyidi
    Juli 18, 2013 pukul 6:34 am | #11

    Apa ancamannya tidak meluruskan shaf sholat, ancaman di dunia dan ancaman di akhirat?
    tq Rosyid Banyuwangi

    Tidak meluruskan shaf akan menyebabkan perselisihan hati

    Dari Abû Mas’ûd Radhiyallâhu ‘anhu beliau berkata : Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

    اسْتَوُوْا وَلاَ تَخْتَلِفُوْا فَتَخْتَلِفُوْا قُلُوْبَكُمْ

    “Luruskanlah shaf dan janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan hati kalian akan berselisih.” (HR Muslim : 432)

    Bagaimana persatuan kaum muslimin bisa terwujud, dalam shalat saja tidak mau bersatu, dengan merapatkan shaf
    أَقِيْمُوْا صُفُوْفَكُمْ فَوَاللهِ لَتُقِيْمَنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ

    “Luruskan shaf-shaf kalian. Dan demi Alloh, luruskanlah shaf-shaf kalian, atau jika tidak niscaya Alloh akan menjadikan hati kalian saling berseteru.” (Shahîh Sunan Abu Dâwud : 616)

  12. fadly
    Juli 17, 2013 pukul 7:19 am | #12

    assalamu alaikum wr. wb.

    bagaimana klo sy sdh merapatkan shof kemudian orng yg di samping sy tidak mengikut?
    bahkan membuat shof baru, setelah di tegur malah ttp bgt…

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Kalau kita sudah berusaha merapatkan shaf, lalu disebelah kita tdk mau, bahkan terus bergeser,atau malah membuat shaf baru, ya sudah, tdk usah dipaksa,.. maklum lah, namanya juga orang awam,. yg penting kita sdh berusaha, jika kita sdh tahu kalau merapatkan shaf malah membuat dia bergeser terus,. tdk usah dilakukan lagi,

    Jika anda bisa menyampaikan dgn lemah lembut, ttg pentingnya merapatkan shaf, itu lebih baik, jika tdk mampu, ya sudah,. anda tetap bersikap baik, dan tdk usah memaksakan diri mengejar geser shaf terus, malah akan kurang kondusif nantinya,

  13. Satria Agung Muniaga
    Juni 26, 2013 pukul 1:50 pm | #13

    awalnya emang risih, tapi ksini2 jadi kebiasaan, walau terkadang masih susah untuk rapat ketemu mata kaki, karena posisi normal berdiri lagi solat pasti kaki agak serong ke kanan (kaki kanan0 dan ke kiri (kaki kiri), jadi kemungkinan yg bisa rapat hanya jari kelingking kita sama jari kelingking makmum sebelah,bukan mata kaki, dan rapat bahu jg jarang banget terjadi, padahal sy sangat ingin mengharapkan keadaan itu slalu,,, :(

    Kita berusaha merapatkan saja mas,. mudah2an dengan bertambahnya pemahaman kaum muslimin tentang wajibnya merapatkan shaf dalam shalat berjamaah, maka dengan sendirinya mereka akan melakukan sunnah yg sudah banyak ditinggalkan ini,. amiin,.

  14. Faiz An-Nuur
    Mei 23, 2013 pukul 3:20 am | #14

    Sangat bermanfaat..
    Sungguh nyaman dan Indahnya beribadah sesuai dengan tuntunan nabi kita Shallallohu ‘alaihi wasallam

    betul, tinggal mengikuti saja, tidak ditambah atau dikurangi,..Sunnah rasulullah itu indah,

    • anas
      Juni 11, 2013 pukul 3:22 pm | #15

      Bagai mana dengan contoh Rosullulloh pada saat sujud kelihatan putih ketiaknya bisakah kalo rapat begitu,

      Terimakasih mas anas,
      Rasulullah shalat seperti itu apakah terlihat dari samping? bukankah terlihat dari belakang? jadi bisa saja mas, tangan tidak membentang terlalu lebar sehingga mengganggu jamaah lain disebelah kita,.

      Dan rasulullah kan sebagai imam, tidak ada jamaah disamping beliau, kita jika sedang shalat sendiri bisa juga, namun ketika shalat berjamaah, tentu menjaga kenyamanan jamaah disebelah kita juga,.

  15. ulum aljanjany
    Februari 9, 2013 pukul 5:47 pm | #16

    tdk perlu rapat bgt kali tad
    skiranya bertolak dgn khusyuan sseorang ktk solat, ya,,,jgn dipaksain rapat, benar ga tad?

    terimakasih,.
    khusyu itu adalah dgn mengikuti tatacara yg diajarkan oleh rasulullah, bukan berdasarkan perasaan,.
    rasulullah ketika memimpin shalat berjamaah, beliau meluruskan dan merapatkan,.. matakaki dgn matakaki,bahu dengan bahu,.tidak memberikan celah sedikitpun utk setan bisa masuk, tentu tidak dgn menekan sekali sehingga berdesak-desakkan,. biasa saja,

    Org yang tidak mau merapatkan shaf atau menempelkan matakaki dgn makmum sebelahnya, dia tidak akan khusyu dalam shalatnya, sebab dia menyelisihi ajaran rasulullah, dan sdh digambarkan oleh rasulullah ada org yang tidak mau meluruskan shafnya, sehingga jika diluruskan dia seperti kuda liar, tidak mau meluruskan shaf,

    pengalaman saya sendiri, gara-gara meluruskan shaf, kaki saya diinjek,.. .. miris melihat kaum muslimin sekarang ini,.

    Bagaimana mau bersatu umat islam ini, bersatu dalam shaf shalat saja tidak mau , silahkan lihat artikel ini

  16. maruf
    Januari 30, 2013 pukul 3:58 am | #17

    bagaimana bila shaf solat bersebelahan dengan orang yang tinggi dan pendek termasuk anak kecil?

    Terimakasih mas maruf,
    shaf shalat tetap wajib lurus, dan patokan lurusnya adalah mata kaki sejajar dengan mata kaki, dan menempelkan mata kaki kita dengan mata kaki sebelahnya, tidak usah sungkan, tapi jangan menekan, sehingga tetap nyaman dalam melakukan shalat, mungkin diawal2 akan terasa aneh, atau mungkin anda akan mengalami kaki anda akan diinjak oleh sebelah anda, atau sebelah anda bergeser terus tidak mau dirapatkan mata kakinya,
    jadi tidak ada masalah, mau anak kecil atau dewasa, tinggi atau pendek, bisa meluruskan shaf dgn merapatkan mata kaki,

    lalu bagaimana shaf makmum masbuk yang tidak ada shaf baris akhir, dimulai darimana? kanan kiri atau tengah

    Dimulai dari tengah deretan sebelah kanan imam, bukan dari sebelah kiri atau kanan

  17. Dr. Abdurrahim Yapono
    November 21, 2012 pukul 12:17 pm | #18

    Ada tiga standar sahnya shaf Nabi, yaitu:
    (1) Istiwa (lurus),
    (2). at-tarash (rapat) yaitu tumit dgn tumit siku dengan siku, dan
    (3) ‘itidal (tegak).

    Semua ada hadis2nya. “Ya ibadallah, istawu, wa’tadilu, watarashu” Wahai hamba-hamba Allah luruskan shaf, berdiri tegak, rapatkan (seperti gelang-gelang yang saling mengait – tunit dgn tunit, siku dgn siku).”

    Dan banyak lagi hadis2 nabi tetanng hal ini. Sama2 hamba ALlah saja kok masa ga mau menempelkan tumit dgn tumit..

    “Sesungguhnya shaf yg bolong ditengahnya ada setan berbentuk anak kambing yg bertugas merenggangkan tumit dgn tumit, siku dgn siku agar shaf tidak sah../ Artinya setan itu ikut campur dalam semua urusan manusia menggodanya sampai ke aturan shaf shalat,,

    Jazakallahu khairan pak Dr. Abdurrahmim atas tambahan komentarnya, bagus…

  18. abu. Sholah
    November 10, 2012 pukul 3:36 am | #19

    Rosululloh berkata luruskan shofmu, ada hadits lain memerintahkan untuk lurus dan rapatkan shofmu !!!! saya setuju itu tapi lurus dan rapat yang bagaimana ini yang perlu di kaji ———— urgen dari perintah rosul itu lurus dan rapat kita tahu bagaimana lurus dan rapat itu masak rapet saja gak tahu….tapi jangan membuat model baru dengan lurus dan rapat menurut model sendiri, akhirnya sholat hanya sibuk ngatur kaki lupa dengan Allah SWT …………….kakinya mengganggu orang lain,,,mengganggu konsentrasi orang sholat

    Terimakasih sekali akhi atas tanggapannya,
    Maksud lurus dan rapat adalah, mata kaki nempel dengan mata kaki, dan bahu dengan bahu, tidak menekan, biasa saja, jadi tidak mengganggu makmum disebelahnya,
    Insya Allah akan terasa nyaman, sebagai motivasi, silahkan baca artikel ini

  19. kiswanto
    Oktober 22, 2012 pukul 11:36 am | #20

    wah.. bagus sekali…
    saya juga selalu merasa “risih” jika tidak ada yang mau merapatkan shafnya dengan saya..
    akhirnya saya berfikir “apa karena tubuh saya bau?” dan pemikiran2 lainnya..
    maka benarlah hadist yang anda sampaikan bahwa “hati kita akan berselisih jika tidak merapatkan shaf”..
    saya juga sering bertanya dalam hati..
    “ikhwan2 ini, kenapa gak mau meyentuh saudara-seimannya yg muhrim?
    tapi kalau sama akhwat yang bukan muhrim,, mereka saling bersentuhan..”
    tapi gak pernah saya sampaikan, karena saya juga selalu merasa ibadahku gak lebih baik dari orang lain…
    terima kasih,, karena dengan membaca ini pengetahuan saya bertambah..
    ^_^

  20. Ramdhan
    September 16, 2012 pukul 12:56 am | #21

    Assalamualaikum,

    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    kalo saya baca haditsnya,itu memerintahkan agar kita meluruskan shaf,tph tidak ada kata untk merapatkan,..gmana itu,

    Terimakasih atas komentarnya yg cukup bagus,. anda bisa baca disini penjelasan tersebut, ada perintah untuk merapatkan shaf

  21. restava
    Agustus 27, 2012 pukul 1:22 pm | #22

    Bagus sekali, Saudaraku. Terima kasih.

  22. arista suroso
    Juni 16, 2012 pukul 1:57 am | #23

    jazakomuloh khoiron…atas kiriman artikel …

    Jazakumullahu khairan

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.271 pengikut lainnya.